1019 PENERAPAN TEKNIK CRI

advertisement
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
PENERAPAN TEKNIK CRI TERMODIFIKASI UNTUK MENGIDENTIFIKASI
MISKONSESPSI SISWA
Applying Modified CRI Technique to Identifies Students’ Misconceptions
Dian Aprilyani1, Susriyati Mahanal2, Lia Yuliati3
1)
Pendidikan Dasar IPA, Fakultas MIPA, Pascasarjana Universitas Negeri Malang,
[email protected]
2)
Pendidikan Biologi, Fakultas MIPA, Pascasarjana Universitas Negeri Malang,
[email protected]
3)
Pendidikan Fisika, Fakultas MIPA, Pascasarjana Universitas Negeri Malang,
[email protected]
Jl. Surabaya No. 6 Malang
Abstrak
Miskonsepsi adalah penafsiran tentang suatu obyek yang berbeda dengan para ahli.
Miskonsepsi sering menghambat efektifitas pembelajaran dan mempengaruhi
pembelajaran berikutnya sehingga menyebabkan miskonsepsi berantai pada konsep-konsep
selanjutnya. Salah satu cara untuk mengidentifikasi miskonsepsi adalah dengan teknik CRI
termodifikasi. Dalam menjawab suatu pertanyaan, teknik ini mengharuskan siswa untuk
menuliskan alasan selain tingkat keyakinannya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada konsep sistem peredaran darah. Responden
adalah 21 orang siswa kelas VIII SMP yang pada awal semester genap sudah menerima
materi sistem peredaran darah manusia. Responden adalah siswa yang memiliki nilai
dibawah KKM. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang masuk dalam kategori
miskonsepsi lebih besar daripada kategori lainnya, yaitu sebesar 79.05%. Persentase ratarata siswa paham konsep sebesar 15.26%, siswa tidak paham konsep sebesar 5,71%, dan
tidak ditemukan siswa dalam kategori paham konsep tetapi tidak yakin dengan
jawabannya. Miskonsepsi terjadi pada semua topik atau konsep, namun miskonsepsi
tertinggi terjadi pada topik atau konsep jantung. Penyebab miskonsepsi pada penelitian ini
adalah siswa, metode pembelajaran dan guru. Kendala yang dihadapi selama penelitian
adalah budaya siswa Indonesia yang tidak terbiasa untuk memberikan alasan sehingga
wawancara setelah survey diperlukan untuk memperjelas sejauh mana miskonsepsi
sebenarnya yang dialami siswa.
Kata kunci: miskonsepsi, peredaran darah, cri termodifikasi, alasan, wawancara
Abstract
Misconception is an interpretation of an object that different than the experts.
Misconceptions often hinder the effectiveness of learning and influence subsequent
learning, furthermore causing a chain misconceptions on the further concepts. One way to
identify misconceptions is by engineering a modified CRI. In answering a question, this
technique requires the students to write down the reasons besides their confidence level.
The aims of this study is to identify of students‘ misconceptions on the concept of the
circulatory system. Respondents are all of students who have grade below the KKM which
contain of 21 students from class VIII junior high school at the beginning of the semester
already received materials of the human circulatory system. The results showed of students
who fall into the category of misconceptions is greater than the other categories, which
amounted to 79.05%, 15.26% of students understand the concept, 5.71% of students do not
understand of the concept, and is not found in the category of students understand the
concept but not sure of the answer. Misconceptions occur on all concepts, but the highest
misconceptions on the concept of heart. The cause of misconceptions in this study were
1019
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
students, teaching methods and teacher. Getting the actual information about the
misconceptions experienced by students becomes constrained due to the culture of
Indonesian students who are not accustomed to give a reason. Therefore, the interview
after the survey is needed to clarify the extent to which misconceptions experienced by
students.
Key words: misconception, circulatory system, modified cri, reason, interview
PENDAHULUAN
Sistem peredaran darah dibelajarkan di SMP/MTs kelas VIII pada kurikulum 2006.
Tersusun atas beberapa konsep yaitu darah, jantung pembuluh darah dan gangguan pada
sistem peredaran darah manusia. Sistem peredaran darah merupakan salah satu materi
dalam pembelajaran IPAyang dirasa cukup sulit untuk dipahami dan membingungkan
siswa (Kurt et al, 2013). Kesulitan tersebut antara lain dalam hal membedakan konsep
peredaran darah besar dan kecil (Alkhawaldeh, 2007; Yip, 1998), fungsi jantung dan
pembuluh darah (Michael et al, 2002), diameter pembuluh darah dan tekanan darah (Yip,
1998) serta peredaran darah terbuka dan tertutup (Mintzes, 1984). Kesulitan dalam
memahami suatu materi menyebabkan konsep yang dimiliki siswa seringkali berbeda
dengan yang dimaksud oleh para ilmuwan. Konsep siswa yang berbeda dengan konsep
ilmuwan disebut dengan istilah alternative concept (Arnaudin et al, 1985) atau
miskonsepsi (Yesilyurt, 2012).
Penyebab miskonsepsi bermacam-macam. Menurut Suparno (2005), miskonsepsi
disebabkan oleh siswa itu sendiri, guru, buku teks dan metode pembelajaran, serta
kesulitan siswa dalam memahami konsep. Dalam konteks biologi, kesulitan berasal dari
istilah asing biologi yang belum dapat diterima dan dikuasai siswa, serta kerumitan dari
suatu konsep yang dikarenakan oleh kompleksitas informasi atau ciri yang membentuk
konsep tersebut (NTSA, 2013).
Miskonsepsi bersifat relatif permanen dalam pikiran siswa dan sulit untuk
diluruskan (Masjkur, 1995). Siswa yang mengalami miskonsepsi seringkali terganggu
dalam memahami suatu konsep ilmiah yang lebih kompleks pada pembelajaran beriktnya
(Cho et al, 1985). Berpengaruh terhadap penerimaan konsep-konsep baru pada
pembelajaran selanjutnya. Apabila dibiarkan dapat menyebabkan miskonsepsi berantai
pada siswa. Menghambat keberhasilan pembelajaran di kelas dan berakhir dengan tidak
tercapainya kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang merupakan indikator pencapaian
hasil belajar siswa.
Berdasarkan nilai hasil ulangan harian pada materi sistem peredaran darah kelas
VIII D di SMPN 1 Bululawang, ditemukan bahwa 62% atau sekitar 21 siswa dengan nilai
di bawah KKM (<75) dan 38% atau sekitar 13 siswa dengan nilai sama dengan KKM atau
lebih sedikit (75-78). Belum tercapainya KKM merupakan salah satu indikator bahwa hasil
belajar siswa masih rendah. Adanya miskonsepsi pada materi sistem peredaran darah
manusia, menyebabkan siswa kesulitan dalam menjawab soal ulagan harian yang diberikan
guru untuk mengukur hasil belajar siswa. Analisis terhadap pemahaman siswa perlu
dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pembelajaran perbaikan. Analisis
dapat dilakukan dengan meakukan identifikasi miskonsepsi yang dialami siswa.
1020
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
Identifikasi miskonsepsi secara umum dilakukan dengan menggunakan tes tulis dan
pilihan ganda (Kubiatko et al., 2007)); tes tulis dan wawancara (Costu et al., 2012),
maupun tes diagnostic two-tier (Chandrasegaran et al., 2007). Identifikasi miskonsespsi
dengan meminta keyakinan atau kepercayaan siswa atas pilihan jawabannya
dikembangkan oleh Hasan et al (1999). Identifikasi ini dikenal dengan istilah Certainty of
Response Index atau CRI. Teknik CRI didasarkan pada enam skala keyakinan siswa antara
0-5. Skala 0 apabila siswa sepenuhnya hanya menebak jawaban; skala 1 apabila siswa
hampir menebak; skala 2 apabila siswa tidak yakin; skala 3 apabila siswa merasa yakin;
skala 4 apabila siswa hampir yakin; dan sakala 5 apabila siswa sangat yakin dengan
jawabannya. Teknik ini membagi siswa kedalam tiga kategori yaitu siswa yang paham
konsep, miskonsepsi dan tidak paham konsep. Adapun kriteria penggolongan kedalam
katergori tersebut seperti pada Tabel 1 dibawah.
Tabel 1. Ketentuan Membedakan Siswa Paham Konsep, Miskonsepsi, dan Tidak Paham
Konsep Berdasarkan Kompinasi antara Jawaban Benar atau Salah dan Tingi atau
Rendahnya CRI
Jawaban
Benar
CRI Rendah (< 2,5)
Hanya menebak
Tidak Paham Konsep
Salah
Tidak Paham Konsep
(Sumber: Hasan et al, 1999)
CRI Tinggi (>2,5)
Paham Konsep
Miskonsepsi
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menggunakan teknik CRI untuk
mengidentifikasi atau menganalisis miskonsepsi siswa. Diantaranya identifikasi
miskonsepsi siswa SMAN se-Kota Tangerang Selatan pada materi fotosintesis dan
respirasi tumbuhan (Mustakim et al., 2014); identifikasi miskonsepsi siswa kelas XI
SMAN 8 Tangerang Selatan pada konsep sel (Mahardika, 2014) dan identifikasi
miskonsepsi pada konsep-konsep Fisika (Tayubi, 2005). Namun, karakter siswa Indonesia
yang cenderung tidak yakin atas jawaban yang dipilihnya menjadikannya memiliki skala
CRI rendah. Meskipun jawaban benar, jika skala CRI rendah, maka siswa tersebut masuk
dalam kategori miskonsepsi.
Metode identifikasi miskonsepsi siswa dengan meminta alasan terbuka siswa selain
jawaban dan skala CRI dikembangkan oleh Hakim et al (2012). Selanjutnya, teknik ini
disebut dengan teknik CRI termodifikasi. Penggunaan teknik ini diharapkan dapat
mengidentifikasi miskonsepsi siswa dengan lebih baik. Karena selain meminta tingkat
keyakinan siswa dalam memilih jawaban, teknik ini juga meminta siswa untuk
memberikan alasan atas pilihannya. Taknik ini mengelompokkan siswa ke dalam empat
kategori yaitu siswa paham konsep, paham konsep tetapi tidak yakin dengan jawabannya,
miskonsepsi dan tidak paham konsep. Siswa dengan jawaban dan alasan benar tetapi
memiliki CRI rendah masuk dapat dikategori ke dalam siswa paham konsep tetapi tidak
begitu yakin dengan alasan jawabannya. Beberapa penelitian yang telah dilakukan
menggunakan teknik CRI untuk mengidentifikasi atau menganalisis miskonsepsi siswa.
1021
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
Diantaranya untuk menganalisis konsep dan miskonsepsi biologi pada siswa SMP se-kota
Sumbawa Besar (Maesyaroh et al, 2012), untuk mengidentifikasi miskonsepsi materi
metabolit primer dan sekunder (Hakim et al, 2012), dan untuk menganalisis miskonsepsi
materi kesetimbangan kimia siswa SMA (Yumiati, 2015). Adapun kriteria dalam
mengkategorikan siswa menurut CRI termodifikasi seperti pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Kriteria untuk Membedakan Siswa yang Paham konsep, Miskonsepsi dan Tidak
Paham Konsep dengan Teknik CRI Termodifikasi
Pilihan Alasan Nilai
Jawaban
CRI
Benar
Benar
˃ 2,5
Benar
Benar
˂ 2,5
Benar
Salah
˃ 2,5
Benar
Salah
˂ 2,5
Salah
Benar
˃ 2,5
Salah
Benar
˂ 2,5
Salah
Salah
˃ 2,5
Salah
Salah
˂ 2,5
(Sumber: Hakim et al., 2012)
Kategori
Paham Konsep
Paham Konsep tapi tidak yakin dengan jawabannya
Miskonsepsi
Tidak Paham Konsep
Miskonsepsi
Tidak Paham Konsep
Miskonsepsi
Tidak Paham Konsep
Berdasarkan uaraian tersebut di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasi miskonsepsi apa saja yang dialami siswa kelas VIII di SMPN 1
Bululawang pada materi sistem peredaran darah manusia.
METODE PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian pendahuluan. Penelitian
menggunakan metode deskriptif, dan untuk memperoleh data dilakukan survey terhadap
sejumlah responden. Responden berjumlah 21 siswa kelas VIII D di SMPN 1 Bululawang.
Pemilihan responden dilakukan dengan alasan siswa tersebut sudah pernah menerima
materi sistem peredaran darah manusia di awal semester genap dan memiliki nilai ulangan
harian materi sistem peredaran darah manusia di bawah KKM yang ditetapkan sekolah.
Penelitian dilakukan pada semester genap tahun pelajarn 2015-2016 tepatnya pada bulan
Pebruari minggu ke-4. Penelitian bertempat di SMPN 1 Bululawang.
Teknik pengumpulan data berupa tes tertulis. Instrument tes berupa 5 soal tes
pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban disertai dengan alasan dan skala CRI. Jawaban
menyediakan pilihan-pilihan jawaban pengecoh yang mengindikasikan miskonsepsi siswa.
Penyusunan soal merujuk pada indikator SKL mata pelajaran IPA kelas VIII kurikulum
SMP/MTs 2006. Soal diadaptasi dari soal ulangan kenaikan kelas yang disusun oleh
MGMP IPA Kabupaten Malang. Adapun indikator soal tes seperti pada Tabel 3.
Analisis data didasarkan pada hasil tes siswa dengan CRI termodifikasi. Sebagai
langkah awal, dilakukan koreksi atas jawaban dan alasan siswa. Dilanjutkan dengan
menentukan skala CRI siswa, tinggi (> 2,5) ataukah rendah (< 2,5). Kombinasi antara
1022
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
jawaban, alasan terbuka siswa dan skala CRI digunakan untuk mengelompokkan siswa ke
dalam kategori paham konsep (PK), paham konsep tetapi tidak yakin (PKTY), miskonsepsi
(M), dan tidak paham konsep (TPK). Jumlah kelompok siswa pada masing-masing
kategori kemudian dipersentasekan dengan rumus:
P=
(Sumber: Yumiati, 2015)
Keterangan:
P = persentase siswa PK; PKTY; M; atau TPK
x = jumlah siswa yang mengalami PK; PKTY; M; atau TPK
JT = jumlah total siswa
Selanjutnya, persentase siswa direkapitulasi dalam diagram batang untuk mengetahui
perbandingan antar kategori pada setiap butir soal yang diujikan.
Tabel 3. Indikator Soal Tes
Topik
Darah
Nomor
1
Jantung
Pembuluh darah
4
2
Peredaran darah
3
Gangguan pada
sistem peredaran
darah manusia
5
Indikator
Menunjukkan karakteristik eritrosit, leukosit dan
trombosit berdasarkan jumlah tiap mm, bentuk, ada
tidaknya inti sel dan fungsinya.
Menunjukkan bagian jantung yang kaya oksigen
Menunjukkan karakteristik pembuluh nadi/arteri
dengan pembuluh balik/vena berdasarkan arah
alirannya, dinding, jumlah katup, denyutan dan
letaknya
Menunjukkan urut-urutan peredaran darah besar
dengan tepat
Mencocokkan nama penyakit dan hubungannya
dengan pembuluh darah atau darah
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Analisi hasil tes siswa pada materi sistem peredaran darah manusia dengan CRI
termodifikasi menunjukkan bahwa rata-rata siswa mengalami miskonsepsi pada semua
topik yang diujikan. Persentase jawaban siswa pada ketiga kategori seperti pada Tabel 4.
Sementara itu gambaran perbandingan persentase siswa yang paham konsep, miskonsepsi
dan tidak paham konsep untuk masing-masing soal seperti pada Gambar 1.
1023
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
Tabel 4. Persentase Siswa Paham Konsep, Miskonsepsi, dan
Materi Sistem Peredaran darah Manusia
Persentase
Paham Paham Konsep Miskonsepsi Tidak
Nomer
Konsep Tidak Yakin
Paham
Soal
PK
PKTY
M
Konsep
TPK
1
9.52
85.71
4.76
2
9.52
90.48
0.00
3
28.57
71.43
0.00
4
0.00
76.19
23.81
5
28.57
71.43
0.00
Rata-rata 15.24
0.00
79.05
5.71
Tidak Paham Konsep pada
Total
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
Tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata miskonsepsi siswa paling tinggi
dibandingkan kategori lain dengan persentase 79.05%. Siswa paham konsep dengan
persentase 15.24%; siswa tidak paham konsep dengan persentase 5.71% dan tidak
ditemukan siswa paham konsep tetapi tidak yakin, Miskonsepsi terbesar berturut-turut
terjadi pada topik jantung (90,48%), darah (85,71%), peredaran darah (76,19%), serta
pembuluh darah dan gangguan pada sistem peredaran darah (masing-masing 71,43%).
Siswa paham konsep tertinggi pada topik pembuluh darah dan gangguan pada sistem
peredaran darah (masing-masing 28.57%), paling sedikit pada topik jantung dan darah
(masing-masing 9.52%). Siswa tidak paham konsep paling banyak terjadi pada topik
peredaran darah (23.81%), disusul kemudian pada topik darah (4.76%) dan tidak
ditemukan pada topik jantung, pembuluh darah dan gangguan pada sistem peredaran darah.
Pada semua topik tidak ditemukan siswa yang paham konsep tetapi tidak yakin dengan
jawabannya. Sementara itu berdasarkan grafik pada Gambar 1 diketahui bahwa semua
butir soal memiliki persentase miskonsepsi yang tinggi (diatas 70%) dibandingkan dengan
kategori yang lain.
Gambar 1. Perbandingan Persentase Siswa Paham Konsep, Miskonsepsi, dan Tidak
Paham Konsep pada Materi Sistem Peredaran darah Manusia
1024
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
Pembahasan
Indikator butir soal nomor 1 adalah menunjukkan karakteristik eritrosit, leukosit
dan trombosit berdasarkan jumlah tiap mm, bentuk, ada tidaknya inti sel dan fungsinya.
Tingginga miskonsepsi siswa pada soal nomor 1 terjadi karena siswa kurang memahami
struktur dan fungsi dari sel darah merah, sel darah putih maupun keping darah. Ketika soal
meminta untuk menunjukkan karakteristik dari sel darah merah diantara karakteritik sel
darah yang lain, siswa merasa bingung. Ditandai dengan banyak siswa yang memberikan
alasan salah dan skala CRI rendah meskipun jawabannya benar. Hal serupa juga terjadi
pada soal nomor 2 dengan indikator menunjukkan karakteristik pembuluh nadi/arteri
dengan pembuluh balik/vena berdasarkan arah alirannya, dinding, jumlah katup, denyutan
dan letaknya. Rendahnya pemahaman siswa tentang karakteristik, struktur dan fungsi
pembuluh arteri maupun vena mengakibatkan siswa kebingungan menentukan karakteristik
mana yang sesuai dengan pembuluh arteri dan vena. Temuan ini sesuai dengan Cho et al
(1995) yang menyatakan bahwa adanya miskonsepsi dapat mengakibatkan kesulitan bagi
siswa untuk memahami konsep yang lebih kompleks dalam pembelajaran seperti
karakteristik sel-sel darah dan pembuluh darah.
Indikator butir soal nomor 3 adalah menunjukkan urut-urutan peredaran darah besar
dengan tepat. Tingginya miskonsepsi terjadi pada soal nomor 3 dikarena siswa yakin
dengan jawabannya, padahal alasan yang diberikanny salah. Ditandai dengan skala CRI
yang tinggi (> 2.5). Minimnya pemahaman siswa tentang organ-organ yang berperan
dalam sistem peredaran darah menyebabkan siswa tidak dapat membedakan organ satu
dengan lainnya sehingga siswa bingung menentukan urutan peredaran darah kecil.
Peredaran darah merupakan salah satu topik rumit dalam sistem peredaran darah manusia.
Kerumitan tersebut dikarenakan oleh kompleksitas informasi atau ciri yang membentuk
konsep tersebut (NTSA, 2013), dalam hal ini urutan peredaran darah besar dan kecil.
Untuk dapat memahaminya dengan baik, terlebih dahulu siswa harus memahami struktur,
karakteristik, fungsi darah, jantung dan pembuluh darah. Dibutuhkan metode dan sumber
belajar yang sesuai dengan tingkatan berpikir sehingga suatu topik ataupun konsep dapat
dipahami siswa. Metode pembelajaran yang tidak tepat dapat berperan sebagai penyebab
miskonsepsi (Suparno, 2005). Hal serupa terjadi pada soal nomor 5 dengan indikator
mencocokkan nama penyakit dan hubungannya dengan pembuluh darah atau darah. Untuk
dapat memahami macam gangguan pada sistem peredaran darah, siswa harus memahami
organ-organ yang berperan dan proses peredaran darah itu sendiri. Sebagian besar siswa
menjawab dan memberi alasan yang salah, tetapi skala CRI nya tinggi. Namun, adanya
siswa paham konsep menunjukkan bahwa sebenarnya metode yang diterapkan guru dalam
pembelajaran sudah sesuai. Banyaknya siswa yang miskonsepsi meskipun metode
pembelajaran sudah sesuai kemungkinan disebabkan oleh siswa itu sendiri, yang diperoleh
siswa sebelum mengikuti pembelajaran di kelas. Miskonsepsi tersebut bersifat relatif
permanen dalam pikiran siswa dan sulit untuk diluruskan (Masjkur, 1995)
Miskonsepsi siswa yang tinggi juga terjadi pada butir soal nomor 4 dengan
indocator menunjukkan bagian jantung yang kaya O2. Seperti soal nomor 3 dan 5, pada
soal ini banyak siswa yang salah dalam memberikan jawaban maupun alasan, akan tetapi
skala CRI nya tinggi sehingga masuk dalam kategori miskonsepsi. Tingginya skala CRI
menunjukkan bahwa siswa yakin akan jawaban dan alasan yang diberikannya.
1025
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
Kemungkinan penyebab miskonsepsi adalah guru (Suparno, 2005). Latar belakang guru
IPA kelas VIII D yang bukan berasal dari pendidikan biologi menyebabkannya kesulitan
untuk menerapkan metode yang sesuai dengan materi ataupun topik.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa persentase
rata-rata siswa yang masuk dalam kategori miskonsepsi pada sistem peredaran darah
manusia lebih besar daripada kategori lainnya, yaitu sebesar 79.05%. Persentase rata-rata
siswa paham konsep sebesar 15.26%, siswa tidak paham konsep sebesar 5,71%, dan tidak
ditemukan siswa dalam kategori paham konsep tetapi tidak yakin dengan jawabannya.
Miskonsepsi terjadi pada semua topik atau konsep, namun miskonsepsi tertinggi terjadi
pada topik atau konsep jantung. Penyebab miskonsepsi pada penelitian ini adalah siswa,
metode pembelajaran dan guru.
Saran
Berdasarkan pada pelaksanaan penelitian dan proses analisis data, beberapa saran
diajukan peneliti. Pertama, untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang benar-benar dialami
siswa, tidak cukup hanya menganalisis alasan dan skala CRI siswa. Diperlukan metode lain
untuk menggali pemahaman siswa, misalnya dengan melakukan wawancara terhadap siswa
yang mengalami miskonsepsi. Kedua, perlu dilakukan penelitian serupa untuk
mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada materi lain, mengingat besarnya dampak
miskonsepsi pada pembelajaran berikutnya. Ketiga, sebagai pendidik perlu untuk
mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi. Langkah ini diambil
sebagai upaya untuk meminimalkan miskonsepsi yang disebabkan oleh guru dan metode
pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Alkhawaldeh, S.A. 2007. Facilitating conceptual change in ninth grade students‘
understanding of human circulatory sistem concepts. Research Science Technology.
Education. 25 (3):371-385.
Arnaudin, M.W. & Mintzes, J.J. 1985. Students‘ alternative conceptions of the human
circulatory sistem: A cross age study. Science Education. 69(5):721-733.
Campbell, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V.
& Jackson, R. B. 2008. Biologi. Pearson Education Inc.
Chandrasegaran, A.L., Tregust, D.F. & Mocerino, M. 2007. The Development of a Twotier Multiple-choice Diagnostic Instrumen for Evaluating Secondary School
Students‘ Ability to DesCRI be and Explain Chemical Reactions Using Multiple
Levels of Representation. Chemestry Education Research and Practice. 8(3): 293307.
Cho, H., Kahlae, J. & Nordland, F. 1985. An investigation of high school biology text
books as sources of misconceptions and difficulties in genetics and some
suggestions for teaching genetics. Science Education. 69: 707-719.
1026
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
Costu, B., Ayas, A. & Niaz, M. 2010. Promoting Conceptual Change in First Year
Students‘ Understanding of Evaporation. Chemistry Educaion Research and
Practice. 11: 5-16.
Hakim, A., Liliasari, & Kadarohman, A. 2012. Student Concept Understanding of Natural
Products Chemistry in Primary and Secondary Metabolites Using the Data
Collecting Technique of Modified CRI. International Online Journal of
Educational Sciences. 4(3):544-553.
Hasan, S., Bagayoko, D. & Kelley, E.L. 1999. Misconceptions and The Certainty of
Response Index (CRI). Physical Education. 34(5):294-299.
Kubiatko, M. & Prokop, P. 2007. Puppils‘ Misconception About Mammals. Jurnal of
Baltic Science Education. 6 (1): 5-14.
Masjkur, K. 1995. Konflik Kognitif: Strategi Alternatif untuk Meluruskan Kesalahan
Konsep dalam Belajar Fisika. Pidato Lektorat Disajikan pada Sidang Senat FMIPA
IKIP Malang.
Mahardika, R. 2014. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Menggunakan Certainty of Response
Index (CRI) dan Wawancara Diagnosis pada Konsep Sel. Skripsi tidak diterbitkan.
Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Michael, J. A., Wenderoth, M.P., Model, H. I., Cliff, W., Horwitz, B. & McHale, P. 2002.
Undergraduates‘ understanding of cardiovascular phenomena. Advances in
Physiology Education. 26(2): 72-84.
Mintzes, J. J. 1984. Naïve theories in biology: Children‘s concepts of the human body.
Scholar Scientic Mathemathic. 84 (7): 548-555.
Mustakiqim, T.A., Zulfiani, & Herianti, Y. 2014. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Dengan
Menggunakan Metode Certainty of Response Index (CRI) Pada Konsep
Fotosintesis Dan Respirasi Tumbuhan. Edusains. VI (02):147-152.
National Science Teachers Association. 2013. Buku Pedoman Guru Biologi Edisi ke-4.
Jakarta Barat: PT. Indeks
Ozgur, S. 2013. The persistence of misconceptions about the human blood circulatory
sistem among students in different grade levels. Int. J. Environ. Science Education.
8(2):255-268.
Prokop, P. & Fančovičová, J. 2006. Students‘ ideas about the human body: Do they really
draw what they know? J. Baltic Science Education. 2 (10): 86-95.
Suparno, P. 2013. Miskonsepsi dan Perubahan Konsep Pendidikan Fisika. Jakarta:
Gramedia.
Tayubi, Y.R. 2005. Identifikasi Miskonsepsi pada Konsep-konsep Fisika Menggunakan
Certainty of Response Index (CRI), Mimbar Pendidikan No. 3/VVIV/2005.
Tekkaya, C. 2002. Misconceptions as Barier to Understanding Biology. Hacettepe
universities Egitim fakulties Dergesi. 23: 259-266.
Yesilyurt, S & Gul, S. 2012. Secondary School Students‘ Misconceptions About the
―Transportation and Circulatory Systems‖ Unit. Journal of Theoretical Educational
Science. 5 (1): 17-48.
Yip, D. Y. 1998. Teachers' Misconceptions of The Circulatory System. Journal
of Biological Education. 32 (3): 207-215.
1027
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
Yumiati. 2015. Analisis Miskonsepsi dengan Teknik Certainty of Response Index (CRI)
Termodifikasi pada Materi Kesetimbangan Kimia Siswa SMA dan Upaya
Perbaikannya Menggunakan Strategi Konflik Kognitif. Tesis tidak diterbitkan.
Malang: PPS UM
1028
Download