BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan nasional pada umumnya dilakukan sebagai peningkatan mutu
kehidupan bagi seluruh kehidupan masyarakat, pada era globalisasi ini kesehatan masyarakat
dapat dikatagorikan sebagai hal yang dipriritaskan karena untuk menjadikan bangsa
Indonesia yang mulai maju dimulai dari kesehatan masyarakat sehat reproduktif.
Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan yang baik bagi masyarakat perlu adanya
peningkatan mutu pelayanan yang berawal dari rumah sakit. Peningkatan mutu pelayanan
kesehatan harus ditunjang dengan adanya sarana yang memadai seperti penyelenggaraan
rekam medis yang baik di setiap sarana pelayanan kesehatan.
Rumah sakit adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan jasa pelayanan kesehatan
meliputi pelayanan promotif, prefentif, kuratif dan rehabilitative yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, gawat darurat, dan tersediannya fasilitas – fasilitas yang
mendukung.
Pasien yang datang ke rumah sakit pada umumnya ingin mendapatkan pelayanan kesehatan
yang maksimal, pelayanan yang maksimal yang dimaksud seperti mendapatkan pelayanan
kesehatan yang maksimal, pelayanan maksimal yang dimaksud seperti mendapatkan tindakan
medis seperti sesuai dengan yang dibutuhkan, mendapatkan fasilitas yang mendukung
kesembuhan pasien, mengeluarkan biaya yang sesuai dengan tindakan dan pelayanan yang
diberikan rumah sakit kepada pasien.
Penyelenggaraan rekam medis dimulai pada saat pasien datang ke tempat registrasi, pasien
memberikan keterangan tentang nomor rekam medis pasien untuk melakukan pendaftaran
1
agar mendapatkan pelayanan kesehatan, dan bagi pasien baru memberikan keterangan
identitas pasien secara lengkap agar petugas mudah dalam memberikan nomor rekam medis
baru.
Setiap pasien yang datang ke rumah sakit hanya mendapatkan satu nomor rekam medis yang
dipergunakan seumur hidup sebagai petunjuk untuk memudahkan petugas medis atau dokter
untuk melakukan diagnosis dan tindakan medis yang dilihat dari perjalanan penyakit pasien
pada saat pertama kali datang ke pelayanan kesehatan.
Berdasarkan observasi ini dilakukan di Rumah Sakit Medika Permata Hijau (RSMPH) yang
terletak di Jalan Raya Kebayoran Lama No 64 Jakarta Barat 11560. Rumah Sakit ini dikelola
oleh group Kesehatan terbesar di Asia yaitu KPJ Healthcare Berhard Rumah Sakit Medika
Permata Hijau merupakan rumah sakit swasta dengan tipe C. Rumah Sakit Medika Permata
Hijau telah memiliki fasilitas 92 tempat tidur. Dengan rata – rata jumlah kunjungan pasien
250 per hari yang terdiri dari pasien baru 52 pasien dan pasien lama 198 pasien serta pasien
rawat inap 19 orang perhari dengan fasilitas sebanyak 23 poliklinik. Jumlah tenaga rekam
medis 8 orang yaitu 1 orang koordinator rekam medis, 2 orang koding rawat inap dan
assembling, 1 orang koding rawat jalan, 2 orang pelaporan internal. 1 orang distribusi dan 1
orang penyimpanan rekam medis. Dan jumlah petugas pendafataran terdiri dari 6 orang, 3
orang petugas pendaftaran rawat inap, 1 orang petugas pendaftaran rawat jalan. 1 orang kasir
rawat inap dan 1 orang kasir rawat jalan dan 1 orang kasir rawat inap.
Dari hasil pengamatan awal di Rumah Sakit Medika Permata Hijau pada bulan Desember
2013 ditemukan nomor rekam medis lebih dari satu yang berjumlah 60 dari kunjungan pasien
baru rawat jalan bulan desember 2013 yang berjumlah 4138.
2
Dari Hasil penelitian di Rumah Sakit Medika Permata Hijau, pada kegiatan pendafatran
pasien, sistem komputerisasi yang digunakan di Rumah Sakit Medika Permata Hijau masih
manual, belum optimal. Sehingga saat pasien tidak membawa kartu berobat, petugas
pendafataran mengalami kendala dalam pencarian data base pasientersebut, dikarenakan
sistem komputerisasi yang masih manual membuat petugas harus mengecek satu persatu data
pasien dan diurutkan sesuai dengan kronologis pasien, dan pada saat pencarian data base
pasien terkadang petugas tidak menemukan data pasien secara lengkap, oleh sebab itu ketika
tidak ditemukannya data pasien dan kurang telitinya petugas dalam melakukan pencarian
data, maka petugas memberikan nomor baru kepada pasien. Hal ini akan berdampak pada
riwayat kesehatan pasien tidak berkesinambungan, misalnya seperti alergi obat. Karena
pasien mempunyai dua berkas rekam medis maka riwayat kesehatan pasien tidak runut dari
awal sampai akhir. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis ingin mengetahui
kejadian penomoran rekam medis lebih dari satu di Rumah Sakit Medika Permata Hijau yang
terjadi pada bulan Juni 2014.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah penelitian adalah
”Bagaimana terjadinya penomoran rekam medis lebih dari satu di Rumah Sakit Medika
Permata Hijau?
1.3 Pembatasan Masalah
Agar permasalahan yang ada dapat diatasi sebaik – baiknya dalam pembahasan tidak
menyimpang dari permasalahan yang ada, maka penulis membatasi permasalahan hanya
pada penomoran rekam medis lebih dari satu
3
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan umum :
Mendapatkan gambaran tentang kejadian penomoran rekam medis lebih dari satu di
Rumah Sakit Medika Permata Hijau
1.4.2 Tujuan khusus :
1.4.2.1 Mengidentifikasi SPO Pendaftaran Pasien
1.4.2.2 Mengidentifikasi Penomoran rekam medis lebih dari satu
1.4.2.3 Mengidentifikasi faktor – faktor penyebab penomoran rekam medis lebih dari satu
1.5
Manfaat Penelitian
1.5.1
Bagi Rumah Sakit
Dapat sebagai masukan dalam upaya peningkatan mutu pelayanan terutama pada upaya
peningkatan mutu pelayanan terutama pada pelayanan rekam medis khususnya pada
bagaian pendafataran dalam memberikan setiap nomor rekam medis kepada pasien lama
agar tidak terjadi penomoran rekam lebih dari satu.
1.5.2
Bagi Penulis
1.5.2.1
Menerapkan keilmuan yang telah dipelajari di bidang Rekam Medis
1.5.2.2
Menamabah wawasan pengetahuan serta pengalaman tentang sistem penomoran
yang baik Rumah Sakit
1.5.3
Bagi Mahasiswa
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan kemudian dapat menuangkan pada praktek
professional
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kerangka Teori
2.1.1 Pengertian Rekam Medis
a. Rekam Medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas
pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain kepada pasien pada
sarana pelayanan kesehatan (SK Men PAN no.135/tahun2002)1.
b. Pengertian Rekam Medis Menurut Edna K.Huffman adalah “The medical record
today is a complication of pertinent life and health history, including past and present
illness and treatment, written by the health profecional contributing that patient
care”2.
c. Menurut American Health Information Management Association (AHIMA) Rekam
medis berisikan semua informasi mengenai pasien, penyakit, dan pengobatan dan
masukan di dalam direkam medis dalam urutan masa pelayanan atau perawatan yang
terjadi. Rekaman secara kronologis ini membenarkan diagnosa dan pengobatan serta
hasilnya. Rekam medis dibuat bagi setiap pasien dalam fasilitas kesehatan dan seksi
– seksinya. Semua formulir yang dihasilkan disatukan dalam satu kesatuan3.
1
Kementrian kesehatan. 2007. Nomor :377/ MENKES/SKIII/2007. Standar Profesi Perekam Medis dan Informasi
Kesehatan. (Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia), Hal 7
2
Edna K. Huffman, Health Information Management, Edisi 10 (illois : PRC, 1994), Hal 28
3
Lily widjaya, Pengelolaan Sistem Rekam Medis 1, modul 1 A, (Jakarta, Universitas Esa Unggul 2010) hal 4
5
2.1.2 Tujuan Rekam Medis
Tujuan dibuatnya rekam medis adalah untuk menunjang tercapainya tertib
administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Tanpa dukungan suatu sistem pengelolaan rekam medis baik dan benar tertib
administrasi di rumah sakit tidak akan berhasil sebagaimana yang diharapkan.
Sedangkan tertib administrasi merupakan salah satu faktor yang menentukan upaya
pelayanan kesehatan di rumah sakit4.
Tujuan utama (primer) Rekam Kesehatan terbagi dalam 5 (lima) kepentingan yaitu
untuk :
a. Pasien, rekam kesehatan merupakan alat bukti utama yang mampu membenarkan
adanya pasien dengan identitas yang jelas dan telah mendapatkan berbagai
pemeriksaan dan pengobatan di sarana pelayanan kesehatan dengan segala hasil
serta konsekuensinya biayanya.
b. Pelayanan pasien, rekam kesehatan mendokumentasikan pelayanan yang
diberikan oleh tenaga kesehatan, penunjang medis dan tenaga lain yang bekerja
dalam berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan demikian rekam medis
membantu pengambilan keputusan tentang terapi, tindakan, dan penentuan
diagnosis pasien.
c. Manajemen pelayanan, rekam kesehatan yang lengkap memuat segala aktivitas
yang terjadi
dalam
menganalisis berbagai
manajemen pelayanan
digunakan
dalam
penyakit, menyusun pedoman praktik, serta untuk
mengevaluasi mutu pelayanan yang diberikan.
4
sehingga
Ery, suristianto, Etika Profesi & Informasi Kesehatan, (Jakarta, 2009) hal 6
6
d. Menunjang pelayanan, rekam kesehatan yang rinci akan mampu menjelaskan
aktivitas yang berkaitan dengan penanganan sumber – sumber yang ada pada
organisasi pelayanan di rumah sakit, menganalisis kecenderungan yang terjadi
dan mengkomunikasikan informasi di anatar klinik yang berbeda.
e. Pembiayaan, rekam kesehatan yang akurat mencatat segala pemberian pelayanan
kesehatan yang diterima pasien. Informasi ini menentukan besarnya pembayaran
yang harus dibayar, baik secara tunai atau melalui asuransi5.
2.1.3 Kegunaan Rekam Medis
Secara umum kegunaan rekam medis sebagai berikut :
a. Patient Care Management
1) Mencatat keadaan penyakit dan pengobatan pada suatu jangka waktu
tertentu.
2) Komunikasi anatar dokter dan pemberian pelayanan kesehatan lain.
3) Memberi informasi kepada pemberian pelayanan kesehatan untuk
pelayanan kesehatan berikutnya.
b. Quality Review adalah untuk mengevaluasi pelayanan yang tepat dan
adequate.
c. Financial Rembuirsement adalah untuk menagih biaya pelayanan kesehatan
oleh pasien atau institusi.
d. Legal Affairs adalah memberikan data untuk melindungi kepentingan pasien,
dokter dan institusi pelayanan kesehatan
5
Gemala R. Hatta. Pedoman manajemen informasi kesehatan di sarana pelayanan kesehatan (penerbit universitas
Indonesia, 2008) hal 78 - 79
7
e. Education adalah memberikan studi kasus yang aktual untuk pendidikan
profesi kesehatan.
f. Research adalah untuk memberikan data dalam mengembangkan pengetahuan
medis
g. Public Health adalah mengidentifikasi penyakit yang ada, dapat menjadikan
dasar bagi peningkatan kesehatan nasional/ dunia.
h. Planning dan Marketting adalah untuk identifikasi data – data penting untuk
menyeleksi dan mempromosikan pelayanan dari fasilitas yang ada
2.1.4 Kegiatan Pokok Tempat Pendaftaran Rawat Jalan
Pelayanan rawat jalan (ambulatory service) adalah salah satu bentuk dari
pelayanan kedok teran. Secara sederhana yang dimaksud dengan pelayanan rawat
jalan adalah pelayanan kedokteran yang disediakan untuk pasien tidak dalam
bentuk rawat inap (hospitalization) (fersta, 1989)6. Maka kegiatan pokok di
tempat pendafataran rawat jalan yang tersedia harus minimal melakukan kegiatan
seperti di bawah ini :
a. Pasien mendaftar ke Tempat Pendaftaran Rawat Jalan (TPP RJ)
b. Apabila Pasien baru : Pasien mengisi pendaftaran form pasien baru yang telah
disediakan.
c. Apabila Pasien Lama (pasien yang pernah berobat sebelumnya) pasien
menyerahakn kartu pasien (kartu berobat) kepada petugas di TPP RJ
d. Di TPP
6
DR. DR.azwar, Pengantar administrasi kesehatan (Jakarta, oktober 1980) hal 75
8
1) Untuk pasien baru, petugas TPP (tempat pendaftaran) Rawat Jalan terlebih
dahulu menginput identitas social dan untuk pasien lama petugas
menginput antara lain :
a) Nama pasien
b) Nomor Rekam Medis
c) Nomor Registrasi
d) Poliklinik yang dituju
e) Keluhan yang dialami
2) Petugas TPP membuat kartu berobat (kartu pasien) untuk diberikan kepada
pasien baru yang harus dibawa apbila pasien tersebut berobat ulang.
3) Untuk pasien baru, petugas TPP RJ akan menyiapkan berkas rekam medis
pasien baru
4) Bagi pasien kunjungan ulang atau pasien lama, harus memperlihatkan
kartu berobat kepada petugas penerimaan pasien.
Selanjutnya petugas akan menyiapkan berkas Rekam Medis pasien lama
tersebut
5) Apabila pasien lupa membawa kartu berobat maka berkas Rekam Medis
pasien lama dapat ditemukan dengan mengetahui nomor Rekam Medis
pasien melalui pencarian KIUP atau pada Rumah Sakit yang telah
menggunakan sistem komputerisasi dengan mudah nomor pasien dapat
dicari melalui pencarian pada data base
e. Berkas Rekam Medis pasien dikirim ke poliklinik oleh petugas Rekam Medis
yang telah diberi kewenangan untuk membawa berkas Rekam Medis.
9
f. Petugas poliklinik mencatat pada buku registrasi pasien rawat jalan poliklinik
antara lain : tanggal kunjungan, nama pasien, nomor rekam medis, jenis
kunjungan, tindakan atau pelayanan yang telah diberikan
g. Dokter pemeriksa mencatat riwayat penyakit, hasil pemeriksaan, diagnosis,
terapi yang ada relevansinya dengan penyakitnya pada kartu atau lembar
Rekam Medis (catatan dokter poliklinik)
h. Petugas poliklinik (perawat/bidan) membuat laporan atau rekapitulasi harian
pasien rawat jalan.
i. Setelah pemberian pelayanan kesehatan di poliklinik selesai dilaksanakan,
petugas poliklinik mengirimkan seluruh berkas Rekam Medis pasien rawat
j. jalan berikut rekapitulasi harian pasien rawat jalan, ke Instalasi Rekam Medis
paling lambat 1 jam sebelum berakhir jam kerja.
k. Petugas Instalasi Rekam Medis memeriksa kelengkapan pengisian Rekam
Medis dan untuk yang belum lengkap segera diupayakan kelengkapannya
l. Petugas instalasi rekam medis mengolah Rekam Medis yang sudah lengkap,
dimasukkan ke dalam kartu indeks penyakit, kartu indeks operasi dan
sebagainya sesuai dengan penyakitnya
m. Berkas Rekam Medis pasien disimpan berdasarkan nomor rekam medisnya7.
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI “ Petunjuk teknis penyelenggaraan rekam medis
/medical record rumah sakit” (Jakarta : 2006) hal 37 - 38
7
10
2.1.5 Sistem penamaan
Sistem penamaan pada dasarnya untuk memberikan identitas kepada seorang
pasien serta untuk membedakan antara pasien satu dengan pasien yang lainnya,
sehingga memudahkan dalam proses pemberi pelayanan kesehatan kepada pasien
yang datang berobat ke rumah sakit.
Tata cara penulisan nama pasien di Rumah Sakit meliputi antara lain :
a. Nama pasien sendiri yang terdiri dari satu suku kata atau lebih
b. Penulisan nama sesuai dengan KTP/SIM/PASPOR yang sendiri masih berlaku
c. Untuk keseragaman penulisan nama pasien digunakan ejaan yang baru yang
disempurnakan dengan menggunakan huruf cetak
d. Tidak diperkenankan adanya pencantuman file atau jabatan atau gelar
e. Perkataan tuan, saudara, bapak, tidak dicantumkan dalam penulisan nama
pasien
f. Apabila pasien berkewarganegaraan asing maka penulisan namanya harus
disesuaikan dengan paspor yang berlaku di Indonesia
g. Bila seorang bayi lahir hingga saat pulang belum mempunyai nama, maka
penulisan namanya adalah bayi Ny xxx
Adapun cara adalah sebagai berikut8:
1) Cara penulisan nama pasien
: MUHAMMAD RIZKY
Nama pada KTP/SIM
: MUHAMMAD RIZKY
Pada KIUP data dasar pasien
: MUHAMMAD RIZKY
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI “Petunjuk teknis penyelenggaraan rekam
medis/medical record rumah sakit” (Jakarta : 2006) hal 22
8
11
2) Cara penulisan nama pasien bayi
:
Nama ibu
: ROSITA DEWI
Nama bayi
: By.Ny. ROSITA DEWI
Pada KIUP/data dasar bayi
: By.Ny. ROSITA DEWI
2.1.6 Sistem penomoran
“ Sistem penomoran umumnya dilakukan berdasarkan penomoran Rekam Medis
pasien. Ada 3 jenis pemberian nomor Rekam Medis pasien berdasarkan nomor
masuk9:”
a. Pemberian nomor cara Seri (Seri Numbering System)
Setiap pasien mendapat nomor baru setiap kunjungan ke Rumah Sakit. Semua
nomor yang diberikan kepada pasien itu harus dicatat KIUP sedangkan Rekam
Medis nya di simpan diberbagai tempat sesuai dengan nomor yang telah
diberikan.
b. Pemberian nomor cara Unit (Unit Numbering System)
Setiap pasien yang berkunjung hanya diberikan satu (1) nomor Rekam Medis
baik untuk kunjungan rawat jalan maupun rawat inap. Pada saat pasien datang
pertama kali ke Rumah Sakit diberikan 1 nomor yang akan dipakai selamanya
untuk kunjungan berikutnya, sehingga Rekam Medis si pasien hanya
tersimpan dalam satu berkas dibawah satu nomor
c. Pemberian nomor cara Seri-Unit (Serial – Unit Numbering System)
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI “Petunjuk teknis penyelenggaraan rekam
medis/medical record rumah sakit” (Jakarta : 2006) hal 29
9
12
Pemberian nomor dengan cara seri – unit ini merupakan gabungan sistem seri
dan unit. Setiap pasien berkunjung ke Rumah Sakit, kepadanya diberikan satu
nomor baru, tetapi Rekam Medisnya yang terdahulu digabungkan dan
disimpan di Rekam Medis dengan nomor yang paling baru, sehingga
berkasnya tetap 1 unit. Pada saat berkas Rekam Medis yang lama di ambil dan
dipindahkan tempatnya ke nomor yang baru maka tempatnya yang lama
diambil dan dipindahkan tempatnya yang lama itu diberi tanda dengan tanda
petunjuk (outguide) yang menunjukkan kemana berkas Rekam Medis itu di
gunakan/dipindahkan. Tanda petunjuk ini sebagai pengganti berkas Rekam
Medis yang dipindahkan. Hal ini sangat membantu ketertiban sistem
penyimpanan.
2.1.7 Sumber Nomor
Satu rumah sakit biasanya membuat satu “bank nomor” yang akan menentukan
nomor tertinggi yang tersimpan dan akan kelar secara otomatis apabila ada pasien
baru yang mendaftar. Hampir seluruh rumah sakit, menggunakan nomor yang
dimulai dari 000001 sampai dengan 999999 yang merupakan sumber (patokan)
dalam pemberian nomor yang dapat berjalan sampai bertahun – bertahun.
Nomor – nomor tersusun dan terimpan secara otomatis dalam komputer secara
otomatis, tempat dimana nomor rekam medis disimpan dan pengontrolan
dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana penggunaan nomor dan
13
tanggung jawab pendistribusian nomor rekam medis diberikan kepada satu orang
petugas10.
2.1.8 Indeks utama Pasien menurut Edna K. Huffman
“Suatu kunci untuk mengetahui posisi pasien dalam daftar dan satu lagi yang
penting adalah sebagai alat menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan secara
tradisional daftar induk pasien digunakan untuk membantu mempersiapkan kartu
indeks utama pasien yang dapat dan berobat dan membantu menggunakan fasilitas
pelayanan kesehatan11”.
Indeks utama pasien menurut IFHIRO
“Sebuah daftar atau permanen yang berisi nama – nama dari semua yang pernah
datang atau berobat di rumah sakit atau klinik. IUP merupakan kunci untuk
melakukan pencarian lokasi dari sebuah rekam medis pasien dengan pertimbangan
sesuatu barang atau sarana atau alat yang sangat penting dalam penyelenggaraan
rekam medis di klinik atau pusat kesehatan”12.
a. Elemen dari indeks utama pasien :
1) Indeks yang dibutuhkan oleh rumah sakit untuk mengidentifikasi pasien
saat mendaftar (misalnya, nomor rekam medis)
2) Nama pasien : Nama lengkap dan nama sah dari pasien, termasuk inisial,
sebutan akhir (misalnya, junior,IV) dan juga awal an (misalnya, Pastor
Dokter
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI “Petunjuk teknis penyelenggaraan rekam
medis/medical record rumah sakit” (Jakarta : 2006) hal 20
11
Edna K.Huffman Medical Record Management, Ninth Edition Illionis : Physician Record Company, Berwyn,
1990, hal 383
12
International Federation of Health Record (IFHIRO) Learning for medical record practice, package one unit 1,2,3
tahun 1992
10
14
3) Tanggal Lahir : Tanggal lahir pasien. Meliputi tanggal, bulan, tahun.
Tahun kelahiran sebaiknya dicatat lengkap (4 digit), bukan hanya 2 angka
terakhirnya saja.
4) Catatan Tanggal lahir (qualifier) : Catatan penegasan yang menyatakan
bahwa tanggal lahir pasien merupakan tanggal sebenarnya atau hanya
perkiraan (estimasi). Catatan ini akan (misalnya berbunyi “actual”,
estimasi )
5) Jenis kelamin (gender) : Jenis kelamin pasien (misalnya laki – laki,
perempuan tidak diketahui atau tidak dapat diidentifikasikan)
6) Suku bangsa (rasa tau etnik) : Suku bangsa pasien
7) Alamat : Catatan alamat atau lokasi tempat tinggal pasien, pencatatan
alamat ini harus lengkap meliputi nama jalan nomor (rumah atau
apartemen) kota, provinsi, kode pos, Negara dan juga jenis tempat tinggal
(tempat tinggal tetap atau permanent atau hanya alamat surat
8) Alias atau nama lain : nama lain yang dimiliki dan dikenal sebagai sebutan
dari pasien tersebut selain nama aslinya
9) Nomor identitas penduduk : Nomor identifikasi personal yang diterbitkan
oleh pemerintah (misalnya KTP di Indonesia atau SSN di Amerika)
10) Kode identitas fasilitas pelayanan kesehatan Nomor identitas dari fasilitas
pelayanan kesehatan yang dituju oleh pasien. The Health Care Financing
Administration (HCFA) telah mengembangkan sistem kode penomoran
yang berlaku universal untuk setiap jenis fasilitas pelayanan kesehatan.
15
Hala yang sama juga telah dikembangkan oleh the American Hospital
Association (AHA)
11) Tanggal kunjungan (masuk) Tanggal kunjungan pasien. Setiap kunjungan
dicatat secara lengkap tanggal, bulan dan tahunnya
12) Jenis kunjungan Katagori dari jenis kunjungan, misalnya IGD, URI, URJ,
Home care, layanan elektronik (e-mail, internet, telemedicine) dan
sebagainya.
13) Disposisi pasien, disposisi saat pasien pulang atau keluar dari perawatan,
misalnya pulang ke rumah, dikirim ke RS khusus, pulang dengan
pemantauan kunjungan rumah, pulang paksa, meninggal, dikirim ke RS
lain, atau disposisi lainnya sesuai jenis dari IUPnya.
b. Tujuan dari indeks utama pasien :
Untuk menunjang kelancaran dalam melayani kesehatan yang efektif dan
efisien.
c. Manfaat dari indeks utama pasien :
“Untuk menyiapkan data identitas pasien setiap kali pasien datang berobat
atau berkunjung ke rumah sakit dan sebagai kunci utama untuk menemukan
kembali berkas rekam medis pasien yang tidak membawa kartu berobat”
16
2.2 Kerangka Berfikir
Pasien
mendaftar di
loket
pendaftaran
Petugas
pendaftaran
melakukan
pencarian pada
data base pasien
Data base pasien
lengkap dan
pencarian mudah
dan otomatis
Nomor Rekam
Medis ditemukan
sesuai dengan
identitas pasien
17
2.3 Kerangka Konsep
Untuk mendapatkan output yaitu mendapatkan gambaran tentang penomoran rekam medis
unit dari input yaitu rekam medis, SDM (Petugas registrasi pendaftaran), SPO Penerimaan
pasien baru dan lama, Kebijakan Pemberian Penomoran, KIUP. Data yang di dapat tersebut
dari hasil wawancara langsung dengan petugas rekam medis dan petugas pendaftaran rawat
jalan dan rawat inap.
Apabila data yang di dapat dari input lalu diproses rekam medis, SDM (Petugas registrasi
pendaftaran), SPO Penerimaan pasien baru dan lama, Kebijakan Pemberian Penomoran,
KIUP. Berdasarkan mendapatkan gambaran penomoran rekam medis unit
BAGAN KERANGKA KONSEP
INPUT
a) Rekam Medis
b) Sdm (petugas
registrasi
pendaftaran
c) SPO
Penerimaan
pasien baru
dan lama
d) Kebijakan
Rekam Medis
e) KIUP
PROSES
1. Mengidentifikasi
SPO Pendaftaran
pasien
2. Mengidentifikasi
pemberian
penomoran
rekam medis
lebih dari Satu
3. Mengidentifikasi
Faktor – faktor
penyebab
terjadinya
penomoran
rekam medis
lebih dari satu
18
OUTPUT
Mendapatlam
gambaran
tentang
penomoran unit
rekam medis
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Mengingat keterbatasan waktu, maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada topik “
Tinjauan Terhadap Kejadian Penomoran Rekam Medis Lebih dari satu di Rumah Sakit
Medika Permata Hijau
3.2 Tempat dan waktu Penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan Pada Unit Kerja Rekam Medis dan di Bagian Pendaftaran Pasien
Rumah Sakit Medika Permata Hijau.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Medika Permata Hijau Jakarta Barat
pada bulan Juni 2014
3.3 Metode Penelitian
Pada metode penelitian yang digunakan Karya Tulis Ilmiah ini menggunakan metode
deskriptif. Pembuktian yang didapat dari wawancara dan observasi di Rumah Sakit Medika
Permata Hijau
Populasi dan sampel
19
Populasi adalah kunjungan pasien baru rawat jalan pada bulan Juni yang berjumlah 4.630
Sampel adalah Penomoran rekam medis lebih dari satu yang terjadi pada bulan Juni 2014
3.4 Fokus Penelitian
Fokus penilitian hanya difokuskan pada penomoran rekam medis lebih dari satu di
Rumah Sakit Medika Permata Hijau Jakarta Barat
3.5 Alat dan Tekhnik Pengumpulan Data
3.5 1 Definisi Konseptual
a. Rekam Medis adalah fakta yang berkaitan dengan keadaan pasien, riwayat penyakit dan
penggolongan masa lalu serta saat ini yang tertulis oleh profesi kesehatan yang
memberikan pelayanan kepada pasien tersebut
b. SDM adalah tenaga kemampuan terpadu dari daya piker dan daya fisik yang dimiliki
individu perilaku dan sifat ditemukan oleh keturunan dan lingkungannya
c. SPO adalah acuan standar yang diterapkan rumah sakit yang harus ditaati
d. Kebijakan adalah peraturan tata cara yang telah ditetapkan rumah sakit
e. KIUP adalah sebuah daftar atau permanen yang berisi nama – nama dari semua yang
pernah datang atau berobat di rumah sakit dan klinik
3.5.2 Definisi Operasional
a. Rekam Medis : Sistem komputerisasi rekam medis pasien masih menggunakan sistem
manual
20
b. SDM (petugas registrasi : sumber daya manusia yang ada di rumah sakit bagian
administrasi yang bertugas melakukan registrasi dan yang bertugas memberikan nomor
baru kepada pasien baru
c. SPO penerimaan pasien baru : standar yang dipakai
sebagai petunjuk tata cara
penerimaan pasien yang datang ke Rumah Sakit
d. Kebijakan yang ditetapkan rumah sakit dalam pemberian nomor kepada pasien
e. KIUP yang ada di dalam komputer sebagai alat untuk melihat mengecek data pasien
sesuai dengan data kronologis pasien
f. SPO pendaftaran pasien : standar yang dipakai sebagai petunjuk tata cara penerimaan
pasien yang baru pertama kali datang ke Rumah Sakit
g. Mengidentifikasi kejadian pemberian penomoran rekam medis lebih dari satu yang ada
di Rumah Sakit : yaitu melihat data kejadian angka penomoran rekam medis lebih dari
satu yang ada di Rumah Sakit
h. Faktor – faktor penyebab terjadinya pemberian penomoran rekam medis lebih dari satu :
penyebab yang terjadi yang mengakibatkan terjadinya nomor rekam medis lebih dari
satu di Rumah Sakit
3.6 Kisi – kisi Instrument
3.6.1
Observasi
Melakukan Pengamatan secara langsung di tempat pendaftaran pasien rawat jalan
dan rawat inap
21
3.6.2 Wawancara ini dilakukan baik secara lisan yang diajukan kepada Kepala Rekam
Medis dan staf petugas rekam medis
3.7 Instrument pengumpulan data :
3.7.1
Daftar pertanyaan
Daftar pertanyaan digunakan sebagai pedoman untuk melakukan wawancara atau
Tanya jawab dengan petugas rekam medis dan petugas pendaftaran pasien
3.8 Teknik dan Analisa Data
Teknik mengidentifikasi jumlah kejadian penomoran rekam medis lebih dari satu yaitu
dengan melihat buku salah nomor yang ada di bagian unit Rekam Medis Rumah Sakit
Medika Permata Hijau, Buku salah nomor ini berguna untuk melihat berapa jumlah
penomoran lebih dari satu yang terjadi setiap bulannya
22
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Rumah Sakit Medika Permata Hijau
4.1.1 Sejarah Singkat Rumah Sakit Medika Permata Hijau
Rumah sakit Medika Permata Hijau Terletak di Jalan Raya Kebayoran
Lama No. 64 Permata Hijau Jakarta Barat, dengan areal tanah seluas 350.000 m2 dan
luas bangunan 6.025 m2 yang berada pada daerah padat penduduk dan padat lalu
lintas. Rumah Sakit Medika Permata Hijau merupakan rumah sakit dengan type C+
dan dikelola oleh tim manajemen yang bertaraf Internasional dan juga merupakan
rumah sakit spesialis yang menawarkan pelayanan kesehatan yang luas serta
menyediakan pelayanan kesehatan baik instalasi gawat darurat, rawat inap dan rawat
jalan dan medical check up.
Rumah Sakit Medika Permata Hijau merupakan rumah sakit swasta yang masuk dalam
kelompok atau jaringan Kumpulan Pengobatan Johor (KPJ Malaysia, dibawah
konsultan manajemen PT Khidmat Perawatan Jasa Medika Malaysia. Rumah Sakit
Medika Permata Hijau beroperasi sejak 1 Desember 1995 yang sebelumnya bernama
Rumah Sakit Medika Ananda dan pada tanggal 11 November 1996 mendapat izin dari
Dinas Kesehatan DKI Jakarta No 914 mengganti nama menjadi Rumah Sakit Medika
Permata Hijau. Kemudian pada tanggal 21 April 1999 mendapat izin pelayanan medis
dari Direktorat Jenderal Pelayanan Medis Departemen Kesehatan RI dengan SK
23
Nomor : HK.00.06.3.5.1866. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
: YM.00.03.2.2.1255 tanggal 4 februari 2008, Rumah Sakit Medika Permata Hijau
telah mendapatkan pengakuan Akreditasi Penuh Tingkat Dasar terhadap 12 pelayanan
meliputi :
1) Bidang Manajemen dan Administrasi
2) Pelayanan Rekam Medis
3) Pelayanan Medis
4) Pelayanan Keperawatan
5) Pelayanan Instalasi Gawat Darurat
6) Pelayanan Farmasi
7) K3
8) Radiologi
9) Laboratorium
10) Kamar Operasi
11) Pengendalian Infeksi
12) Perinatal Resiko Tinggi
Saat ini Rumah Sakit Medika Permata Hijau memiliki 23 poliklinik yang terdiri
dari beberapa poliklinik spesialis dan poliklinik umum. Rata – rata kunjungan
rawat jalan dalam sehari 250 pasien dan kunjungan rawat inap 10 pasien.
Mempunyai tempat tidur yang tersedia saat ini berjumlah 92 tempat tidur. Dengan
indicator Rumah Sakit tahun 2013 yaitu BOR 51,04%, ALOS 3,04 hari, BTO 5
kali dan TOI 3,02 hari, Sarana fisik yang dimiliki Rumah Sakit Medika Permata
Hijau terdiri dari 5 lantai dalam satu gedung.
24
4.1.2 Fasilitas dan Pelayanan Rumah Sakit Medika Permata Hijau
Saat ini Rumah Sakit Medika Permata Hijau memiliki 23 poliklinik yang terdiri
dari beberapa poliklinik spesialis dan poliklinik umum
Mempunyai 92 kapasitas tempat tidur yang tersedia saat ini yaitu :
a. Pelayanan Unit Gawat Darurat 24 jam
b. Pelayanan Rawat inap terdiri dari Kelas VVIP, VIP, I, II, Maternity, Pediatric, ICI,
dan Ruang Bayi
Sarana fisik yang dimiliki di Rumah Sakit Medika Permata Hijau saat ini terdiri dari
5 lantai dalam satu gedung. Jenis pelayanan yang terdapat di rumah sakit ini terdiri
dari :
a. Pelayanan Spesialis meliputi :
1) Spesialis Anak (Pedictrian)
2) Kebidanan dan kandungan (Obstetri dan Gynekology)
3) Penyakit Dalam (Internist)
4) Penyakit Dalam Konsultant Gastro- Endoskopi- Hepatomegali
5) Paru (Pulmonologist)
6) Jantung
7) Mata Syaraf (Neuropathy)
8) Kulit dan Kelamin (Dermatologist)
9) THT (Trachea, Ear, Nose)
10) Bedah Umum
11) Bedah Syaraf
25
12) Bedah Urologi
13) Bedah Tumor
14) Bedah Plastik
15) Bedah Anak
16) Gigi
17) Gizi Dewasa
18) Bedah Thorax Kardio
19) Poliklinik Umum
Pelayanan Penunjang Meliputi :
1) Radiologi (CT Scan, Fisiotherapy, Xray, USG, EKG)
2) Laboratorium Klinik dan Patologi Anastesi
3) Fisiotherapy
4) Farmasi
5) Hemodialisa
6) Medical Check – Up
7) EKG dan Treadmil test
8) Spirometri
9) Antar Jemput Ambulance
Selain jenis pelayanan di atas untuk memberikan kepuasan bagi pengguna jasa
pelayanan di atas untuk memberikan kepuasan bagi pengguna jasa pelayanan,
Rumah Sakit Medika Permata Hijau juga menyediakan Pelayanan 24 jam berupa
:
a. Program Khusus : Medical check up khusus TKI dan perusahaan, One day
care Caesar Operation.
26
b. Pelayanan 24 Jam : Unit Gawat Darurat, Instalasi Farmasi, Laboratorium,
Rontgen Ambulance dan on call service
4.1.3 Visi, Misi dan Motto Rekam Medis Rumah Sakit Medika Permata Hijau
a. ”Rekam Medis Rumah Sakit Medika Permata Hijau, berkomitmen menjadi yang
terbaik”.
b. Misi “ Rekam Medis Rumah Sakit Medika Permata Hijau, berkomitmen memberikan
pelayanan
rekam
medis
yang
cepat,
tepat,
akurat,
inovatif,
dedukatif,
berkesinambungan dengan didukung tenaga yang professional dan tenaga yang
canggih
c. Motto “Pelayanan yang cepat, tepat, akurat, efektif, dan efisien”
4.1.4
Sistem Pada Bagian Pendaftaran
Sistem yang digunakan pada bagian pendaftaran Rumah Sakit Medika Permata
Hijau adalah sistem komputerisasi akan tetapi di dalam komputerisasi sistemnya
masih manual. Sistem komputerisasi diterapkan sejak tahun 2009 sistem basis data
pasien dinamakan (SIRSMARS) Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit. Sistem
ini memudahkan dan mempercepat kerja petugas pendaftaran untuk melakukan input
pasien pada master pasien.
Sistem manual digunakan hanya untuk keadaan darurat apabila komputer sedang ada
gangguan atau mati lampu. Petugas menginput data pasien di dalam sebuah buku
27
pendaftaran, lalu untuk kartu berobatnya menggunakan kartu berobat warna abu –
abu (kartu sehat Rumah Sakit) yang berisikan nama dan nomor rekam medis
4.1.5
Jumlah Petugas Pendaftaran dan Pembagian Shift
Jumlah petugas pendaftaran yang ada di Rumah Sakit Medika Permata Hijau ada
6 orang. 1 orang petugas pendaftaran rawat jalan, 3 orang petugas pendaftaran rawat
inap, 1 orang kasir rawat jalan, dan 1 orang kasir rawat inap. :
Shift dibagi ke dalam tiga shift, yaitu :
-
Shift pagi jam 07.00 – 14.00 WIB
-
Shift siang 14.00 – 21.00 WIB
-
Shift malam jam 21.00 – 07.00 WIB
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Standar Prosedur Operasional pendaftaran pasien
Standar Prosedur Operasional pendaftaran pasien baru yang ditetapkan di
Rumah Sakit Medika Permata Hijau :
4.2.1.1 Pendaftaaran pasien baru :
a. Pasien baru memberikan data identitas yang berupa KTP atau wawancara dengan
petugas
b. Data identitas diinput oleh petugas TPP komputer dimulai dengan nomor urut
terakhir dan diprint out pada formulir Data pasien dengan menggunakan printer.
28
c. Mencetak formulir data pasien rangkap 2 yaitu : warna putih dan pink
d. Menggabungkan formulir data pasien dengan formulir lembar klinik
e. Petugas TPP memesan untuk diprintkan Data Identitas pasien untuk mencetak kartu
pada mesin cetak dan menyerahkan pada pasien,
f. Mencetak kwitansi pembayaran rangkap 3 (warna putih untuk pasien, warna biru
untuk dokter, warna kuning arsip kasir)
g. Rekam Medis pasien / tembusan ke 2 kwitansi warna biru dikirim ke poliklinik yang
diinginkan Pasien oleh petugas P2D
h. Menulis data identitas pada Kartu Indeks
4.2.1.2 Pendaftaran pasien lama
a) Melaksanakan registrasi pendaftaran jika ada pasien lama dengan mengentri
nomor pasien di komputer
b) Pasien melakukan pembayaran sesuai tarif poliklinik yang diinginkan. Kasir
menerima uang dan mencetak kwitansi rangkap 3
c) Petugas TP2RK meminta rekam medis pasien ke petugas P2D dengan
menyerahkan kwitansi rangkap kedua
d) Petugas P2D mencatat nomor rekam medis dan nama pasien pada buku
penyerahan record
e) Mencatat nomor rekam medis dan nama pasien pada blanko bon pinjam yang
telah disediakan pada tracer
29
f) Mengambil rekam medis pasien di rak dan mengganti dengan tracer dan
satukan kwitansi rangkap kedua dengan rekam medis
g) Petugas P2D mengantar rekam medis ke poliklinik
4.2.2 Mengidentifikasi Penomoran Rekam Medis Lebih Dari Satu
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Unit Rekam Medis diketahui
bahwa kebijakan sistem penomoran rekam medis di Rumah Sakit Medika Permata
Hijau yaitu :
Sistem pemberian nomor pasien yang digunakan di Rumah Sakit Medika Permata Hijau
adalah Unit Numbering Sistem (sistem penomoran unit) yaitu memberikan satu unit
nomor rekam medis kepada setiap pasien baik rawat jalan maupun rawat inap pada
waktu pertama kali berkunjung ke rumah sakit. Nomor rekam medis pasien tersebut
tidak akan diserahkan kepada orang lain jika pasien yang bersangkutan tidak pernah
berobat lagi atau sudah meninggal dan akan disimpan sampai batas inaktif rekam medis.
Sumber nomor berasal dari Bank Nomor yang telah ditentukan dengan nomor yang
tertinggi 99-99-99 (6 digit) dan nomor yang terendah adalah 00-00-01 yang merupakan
sumber nomor. Nomor – nomor disusun dalam satu buku induk atau register.
30
Tabel 4.2
Tabel Penomoran Rekam Medis Lebih Dari Satu Bulan Juni 2014
Nomor Rekam
Lebih Dari Satu
80
Medis Kunjungan pasien baru
4.630
Persentase
1,73 %
4.2.3 Faktor – faktor penyebab Terjadinya Pemberian Penomoran Lebih Dari Satu
Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas pendaftaran rawat jalan dan
rawat inap diketahui bahwa faktor – faktor penyebab terjadinya penomoran rekam
medis lebih dari satu di Rumah Sakit Medika Permata Hijau, yaitu :
a) Untuk melakukan pendaftaran di Rumah Sakit Medika Permata Hijau saat ini
sudah komputerisasi. Sistem komputerisasi baru diterapkan pada tahun 2009 akan
tetapi sistem yang ada di dalam komputer masih manual, sehingga data pasien
harus diurutkan satu persatu sesuai dengan kronologis pasien.
b) Latar belakang pendidikan petugas pendaftaran di Rumah Sakit Medika Permata
Hijau belum lulusan D3 Kesehatan atau D3 Rekam Medis serta belum pernah
mengadakan pelatihan tentang Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.
c) Jumlah petugas pendaftaran yang ada di Rumah Sakit Medika Permata Hijau
adalah 3 orang petugas rawat inap, 1 orang petugas rawat jalan dan 1 orang
petugas kasir rawat jalan dan 1 orang kasir rawat inap
d) Di dalam SPO yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Medika Permata Hijau
terdapat tata cara pemberian penomoran pasien secara unit, namun di dalam
pelaksanaanya, petugas melakukan tugasnya tidak sesuai dengan SPO
31
e) Kurang teliti petugas dalam melakukan pendaftaran pasien, petugas terkadang
terburu – buru dikarenakan pasien tidak sabar menunggu di tempat pendaftaran
yang tidak mendukung serta tidak ada nomor antrian pasien untuk mendaftar
32
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Mengidentifikasi SPO Pendaftaran Pasien
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara diketahui petugas pendaftaran melakukan
tugasnya sesuai dengan SPO yang ditetapkan Rumah Sakit. Kekurangan dari SPO tersebut
adalah apa saja langkah – langkah yang harus dilakukan petugas apabila pasien tidak
membawa kartu berobat dan data pasien tersebut tidak ditemukan di dalam komputer.
Karena belum adanya kebijakan tersebut petugas lebih mementingkan hal yang harus
dilakukannya untuk melakukan pencarian data pasien, akan tetapi petugas mengalami
kendala dalam melakukan pencarian data base pasien, dikarenakan sistem data base pasien
yang masih menggunakan sistem manual, maka pencarian data pasien harus diurutkan satu
persatu.
5.2 Mengidentifikasi Pemberian Penomoran Rekam Medis Lebih dari satu
Pemberian penomoran rekam medis lebih dari satu terjadi karena sistem komputerisasi yang
belum optimal sehingga menyebabkan petugas mengalami kendala dalam pencarian data
pasien. Petugas harus mengurutkan satu persatu data pasien yang ingin berobat. Hal tersebut
menjadikan kendala karena menyulitkan petugas apabila pasien tersebut tidak membawa
kartu berobat. Dari data kunjungan pasien baru rawat jalan pada bulan juni 2014 yang
berjumlah 4.630.
33
5.3 Faktor – faktor Penyebab Pemberian Penomoran Rekam Medis Lebih dari satu
a. Untuk melakukan pendaftaran di Rumah Sakit Medika Permata Hijau sistem yang
digunakan masih manual. Oleh karena itu petugas sering mengalami kendala dalam
pencarian data pasien dikarenakan datanya tidak berurutan.
Kurang sabarnya pasien untuk mengantri pada saat pencarian secara manual
dikarenakan di dalam sistem komputerisasi datanya tidak berurutan dan terkadang
datanya tidak ditemukan, sehingga menyebabkan petugas memberikan nomor baru
kepada pasien tersebut
Dari sistem komputerisasi yang tidak maksimal, saat pasien lupa membawa kartu
berobat sehingga mengakibatkan kesulitan petugas dalam mencari data pasien, karena
datanya tidak berurutan dan terkadang datanya tidak ditemukan di dalam komputer,
sehingga menyebabkan petugas memberikan nomor rekam medis baru.
Menurut juknis 2006 “ Apabila pasien lupa membawa kartu berobat maka berkas
Rekam Medis pasien lama dapat ditemukan dengan mengetahui nomor Rekam Medis
pasien yang telah menggunakan sistem komputerisasi dengan mudah nomor pasien
dapat dicari melalui pencarian pada data base”.
b. Petugas pendaftaran di Rumah Sakit Medika Permata Hijau kurang memahami dalam
melakukan pendaftaran pasien, dikarenakan latar belakang pendidikan petugas
pendaftaran di Rumah Sakit Medika Permata Hijau belum lulusan D3 Kesehatan atau
D3 Rekam Medis, serta belum pernah mengadakan pelatihan tentang Rekam Medis dan
Informasi Kesehatan. Oleh karena itu petugas kurang paham tentang pencarian data
pasien yang lupa membawa kartu berobat.
34
Menurut standar profesi perekam medis dan informasi kesehatan nomor
377/MENKES/SKII/2007” Manajemen Rekam Medis dan Informasi Kesehatan standar
kompetensi yang ditetapkan adalah Perekam Medis mampu mengelola rekam medis dan
informasi kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan medis, administrasi dan
kebutuhan informasi kesehatan sebagai bahan pengambilan keputusan di bidang
kesehatan”.
c.
Keterbatasan jumlah petugas pendaftaran yang hanya ada 6 orang yang terdiri dari 3
orang petugas rawat inap dalam satu shift dan 1 petugas rawat jalan, serta 1 kasir rawat
jalan dan 1 kasir rawat inap, petugas rawat inap pekerjaannya merangkap membantu
petugas pendaftaran rawat jalan. Dari keterbatasan petugas pendaftaran yang hanya ada
4 orang dan semuanya merangkap maka pekerjaan yang dilakukan tidak efektif karena
tidak berfokus pada satu bagian. Petugas pendaftaran dalam melakukan pendaftaran
pasien, terkadang terburu – buru dikarenakan pasien tidak sabar menunggu karena di
tempat pendaftaran tidak mendukung dan tidak ada antrian untuk pasien mendaftar
35
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
6.1.1 Standar Prosedur Operasional yang telah ditetapkan harus ditaati oleh petugas.
Akan tetapi kekurangan dari SPO tersebut tidak ada kebijakan tentang apa
saja langkah – langkah yang harus dilakukan petugas apabila pasien tidak
membawa kartu berobat dan data pasien tersebut tidak ditemukan di dalam
komputer.
6.1.2 Identifikasi penomoran rekam medis lebih dari satu ditemukan pada bulan Juni
2014 ditemukan 80 rekam medis dari jumlah kunjungan pasien baru 4.630
6.1.3 Faktor – faktor penyebab terjadinya penomoran rekam medis lebih dari satu
a) Sistem komputerisasi yang dijalankan belum maksimal sebab sistemnya
masih manual, karena data pasien tersusun secara kronologis dan
terkadang tidak ditemukannya data pasien di dalam komputer, sehingga
menyebabkan petugas pendaftaran akan memberikan nomor rekam
medis baru
b) Petugas pendaftaran di Rumah Sakit Medika Permata Hijau kurang
memahami dalam melakukan pendaftaran pasien. Karena latar belakang
pendidikan petugas belum D3 Rekam Medis dan belum D3 Kesehatan,
Serta belum pernah mengadakan pelatihan tentang Rekam Medis dan
Informasi Kesehatan. Oleh karena itu petugas kurang paham tentang
cara pendaftaran yang baik dan benar.
36
c) Keterbatasan jumlah petugas pendaftaran di tempat pendaftaran yang
hanya ada 6 orang yang terdiri dari 3 petugas rawat jalan, 1 petugas
rawat inap, 1 kasir rawat jalan, 1 kasir rawat inap.
d) Kurang teliti petugas pendaftaran dalam melakukan pendaftaran pasien,
petugas terkadang terburu – buru dikarenakan pasien tidak sabar
menunggu. Serta tempat pendaftaran yang tidak mendukung dan tidak
ada nomor antrian untuk pasien yang mendaftar
6.2 Saran
a) Adanya penambahan SPO untuk pasien yang tidak membawa kartu berobat
dan apabila data pasien tidak ditemukan di dalam komputer
b) Seharusnya petugas pendaftaran melaksanakan tugasnya sesuai dengan
acuan yang telah ditetapkan rumah sakit agar, tidak terjadi lagi pemberian
penomoran rekam medis lebih dari satu
c)
Apabila petugas tidak menemukan data pasien tersebut di dalam komputer
sebaiknya langsung di tanyakan ke P2D agar petugas di tempat tersebut
yang akan mencari secara manual yaitu dengan melihat KIUP
d) Perlu pengembangan sistem komputerisasi untuk pencarian data pasien
secara otomatis
37
38
Download