ECONOMIC FOR BUSINESS

advertisement
ECONOMIC FOR BUSINESS (II)
Matrikulasi Program Pasca Sarjana
Magister Manajemen
Universitas Komputer Indonesia TA 2011-2012
a. Goverment Role in The Economy
• Kebijakan Makroekonomi :
1.Kebijakan Fiskal
2.Kebijakan Moneter
3.Kebijakan Segi Penawaran
Kegiatan Perekonomian 2 Sektor
Pelaku Ekonomi :
• Rumah Tangga Produksi
• Rumah Tangga Konsumsi
Kegiatan perekonomian 2 Sektor
Gaji, upah, sewa, bunga
RTP
RTK
Tabungan
Investasi
Konsumsi Rumah Tangga
Investor
Kredit
Bank
Keseimbangan Pendapatan nasional
• Komponen pengeluaran agregat dalam perekonomian 2 sektor
terdiri dari : Pengeluaran konsumsi dan Pengeluaran investasi.
• Komponen Permintaan agregat atau sama dengan Pendapatan
Nasional (Y) terdiri dari : Konsumsi Rumah Tangga (C),
Permintaan Investasi Perusahaan (I)
• Oleh karena itu Keseimbangan pendapatan nasional tercapai
jika :
Y=C+I
atau
I =S
Dimana :
Y = Pendapatan Nasional
C = Fungsi Konsumsi Rumah Tangga
S = Fungsi Tabungan
I = Investasi
Fungsi Konsumsi
C = a + bY
Fungsi Tabungan
S = -a + (1-b)Y
Dimana :
a = Konsumsi masyarakat pada saat pendapatan = 0
b = Kecenderungan mengkonsumsi marginal (Marginal
Propesity to Consume = MPC)
1-b = Kecenderungan Menabung Marginal (Marginal
Propensity to Saving = MPS)
MPC = ΔC
ΔY
MPS = ΔS
ΔY
Contoh Kasus
• Pada perekonomian suatu negara dapat diketahui nilai
pendapatan disposible RTK, nilai konsumsi masyarakat,
dan tabungan masyarakat sbb:
Dalam Triliun Rp
Pendapatan Disposeble
(Yd)
Konsumsi B & J
(C)
0
30
120
120
240
210
360
300
480
390
600
480
720
570
840
660
960
750
1080
840
1200
930
Tabungan
(S)
-30
• Jika nilai investasi sebesar 120 triliun.
Tentukan :
1. Fungsi Konsumsi dan fungsi tabungan
2. Nilai pendapatan nasional pada
keseimbangan.
3. Gambarkan kurva keseimbangan
pendapatan nasional
Pendapatan Disposeble
Konsumsi
Tabungan
MPC
MPS
Yd
C
S
ΔC/ΔYd
ΔS/ΔYd
0
30
-30
120
120
0
0.75
0.25
240
210
30
0.75
0.25
360
300
60
0.75
0.25
480
390
90
0.75
0.25
600
480
120
0.75
0.25
720
570
150
0.75
0.25
840
660
180
0.75
0.25
960
750
210
0.75
0.25
1080
840
240
0.75
0.25
1200
930
270
0.75
0.25
• Fungsi Konsumsi C = a + bY
C = 30 + 0,75Y
• Fungsi Tabungan S = -a + (1-b)Y
S = -30 + (1- 0,75)Y
S = -30 + 0,25Y
• Keseimbangan Pendapatan Nasional
Y=C+I
Y = 30 + 0,75Y + 120
Y = 150 + 0,75Y
Y-0,75Y = 150
Y = 150 = Rp.600 Triliun
0,25
Kurva Fungsi Konsumsi
C
Y=C
240
C
210
120
30
0
120
240
Yd
Kurva Fungsi Tabungan
S
S
30
120
-30
240
Yd
Kurva Keseimbangan Pendapatan Nasional
Y
E
C+I
600
C
150
120
30
0
120
600
Y
Kegiatan perekonomian 3 Sektor
Gaji, upah, sewa, bunga
Pemerintah
Pajak
Gaji & Upah
RTP
RTK
Pengeluaran
Pemerintah
Pajak
Pribadi
Tabungan
Investasi
Konsumsi Rumah Tangga
Investor
Kredit
Bank
Rumah Tangga Produksi (Perusahaan)
• Perusahaan membutuhkan Faktor-faktor produksi
dari masyarakat (6 M).
• Perusahaan melakukan pembayaran dengan
memberikan kompensasi kepada RTK atas
penggunaan faktor produksi berupa gaji, upah,
bunga, sewa.
• Perusahaan juga melakukan pembayaran kepada
Pemerintah berupa pajak atas penghasilan yang
diperoleh.
• Perusahaan mencari tambahan modal dari investor
termasuk memperoleh pinjaman kredit dari Bank/
LKBB.
Rumah Tangga Konsumsi (RTK)
• Masyarakat menyumbangkan faktor-faktor produksi
baik kepada RTP maupun kepada pemerintah.
• Atas penggunaan faktor-faktor produksi, masyarakat
memperoleh pendapatan dari 2 sumber yaitu dari
RTP dan pemerintah.
• RTK mengalokasikan pendapatan untuk :
- Mengkonsumsi barang dan jasa (C)
- Membayar pajak (T)
- Menyimpan di bank/ LKBB (S)
Pemerintah
• Pemerintah membutuhkan faktor-faktor produksi
dari RTK.
• Pemerintah mengeluarkan kebijakan fiskal untuk
mengatur bidang perpajakan. Pajak merupakan
pendapatan pemerintah yang memiliki kontribusi
besar dalam pendanaan pembangunan.
• Pemerintah menerima pendapatan pajak dari sektor
RTP dan RTK. Penerimaan tersebut digunakan untuk
membayar gaji dan upah pegawai serta membeli
barang dan jasa.
Keseimbangan Pendapatan nasional
• Komponen pengeluaran agregat setelah adanya interpensi
sektor pemerintah dalam perekonomian terdiri dari :
Pengeluaran konsumsi, Pengeluaran Pemerintah, dan
Pengeluaran investasi.
• Komponen Permintaan agregat atau sama dengan Pendapatan
Nasional (Y) terdiri dari : Konsumsi Rumah Tangga (C),
Permintaan Investasi Perusahaan (I), dan Pengeluaran
Pemerintah (G).
• Oleh karena itu Keseimbangan pendapatan nasional tercapai
jika :
atau
Y=C+I+G
atau
I+G=S+T
Dimana :
Y = Pendapatan Nasional
C = Fungsi Konsumsi Rumah Tangga
S = Fungsi Tabungan
I = Investasi
G = Pengeluaran Pemerintah
Fungsi Konsumsi & Fungsi Tabungan
a.
Pajak Tetap (T), akan mengubah konsumsi pada saat Y = 0
C = - bT + a + bY
b.
S = - (1-b)T -a + (1-b)Y
Pajak Proporsional (t), akan mengurangi MPC dan MPS
C = a + b(1-t)Y
S = -a + (1-b)(1-t)Y
Jenis-Jenis Pajak

Pajak Regresif, sistem pajak yang prosentase
pungutan pajaknya menurun apabila
pendapatan yang dikenakan pajak jumlahnya
semakin besar.
 Pajak Proporsional, prosentase pajak yang
nilainya tetap pada berbagai tingkat
pendapatan. Contoh : PPN
 Pajak Progresif, prosentase pajak yang
jumlahnya semakin meningkat karena
meningkatnya pendapatan
b. Kebijakan Fiskal



a.
b.



Pemerintah menggunakan anggaran unuk mengendalikan
dan mencatat masalah-masalah fiskalnya.
Anggaran, menunjukkan rencana pengeluaran programprogram pemerintah dan penerimaan yang akan diterima dari
sistem perpajakan pada periode tertentu.
Anggaran, terdiri dari :
Program Pengeluaran : pendidikan, kesejahteraan,
pembangunan sarana umum, dll.
Sumber Pajak : Pajak penghasilan perorangan, pajak
penjualan, PBB, dll.
Surplus anggaran terjadi jika penerimaan pajak dan
pendapata lainnya lebih besar dari pengeluaran pemerintah .
Defisit anggaran terjadi jika pengeluaran pemerintah
melebihi penerimaan pajak.
Anggaran Berimbang terjadi jika pengeluaran sama
besarnya dengan penerimaan.
Kebijakan Fiskal, Defisit, dan Hutang
Output
Kebijakan
Fiskal &
Hutang
Permintaan
Agregat
Interaksi
AD & AS
Persediaan
Modal
Penawaran
Agregat
Kesempatan
Kerja
Harga
&
Inflasi
Studi Kasus :
• Presiden Bush tahun 1992 mengajukan anggaran fiskal
dimana jumlah penerimaan $1.165 milyar dan
pengeluaran $ 1.446 milyar. Berarti defisit yang
direncanakan senilai $ 281 milyar.
• Dalam kondisi anggaran defisit itu maka pemerintah
harus meminjam dana masyarakat untuk membayar
tagihannya, maka pemerintah menerbitkan obligasi.
• Hutang pemerintah (Goverment Debt/ Public Debt)
terdiri dari akumulasi pinjaman yang dilakukan oleh
pemerintah. Jadi total hutang sama dengan total nilai
dollar obligasi yang dimiliki masyarakat (rumah tangga,
bank, perusahaan, orang asing, dan LKBB).
Penyusunan Kebijakan Fiskal

a.
b.
c.
d.


Kebijakan Fiskal, adalah proses pembentukan kebijakan di
bidang perpajakan dan pengeluaran masyarakat dalam upaya
:
Menekan fluktuasi siklus bisnis,
Menjaga pertumbuhan ekonomi
Meningkatkan penggunaan tenaga kerja yang tinggi,
Menekan laju inflasi yang tinggi
Analisis Multiplier dari Keynes meyakini bahwa kebijakan
fiskal merupakan alat untuk menjaga stabilitas bisnis.
Jika terjadi Unemployment maka pemerintah akan
meningkatkan pengeluaran dan mengurangi pajak. Jika
terjadi Inflation maka pemerintah akan melakukan
penghematan pengeluaran dan meningkatkan pajak.
a. Stabilisator Otomatis
 Sistem
fiskal modern memiliki alat
stabilisator otomatis yang melekat
sehingga dengan jika terjadi resesi
sendirinya akan dengan sendirinya mulai
mengatasi penurunan ekonomi.
 Instrumen Stabilisator :
1. Perubahan penerimaan pajak otomatis.
2. Tunjangan Pengangguran, kesejahteraan,
dan tunjangan lainnya
Perubahan Penerimaan Pajak

Sistem perpajakan memperoleh kontribusi terbesar
dari pajak penghasilan pribadi dan badan yang
bersifat progresif.
 Jika output menurun, berarti pendapatan RTK dan
RTP akan mengalami penurunan sehingga secara
otomatis pajak akan mengalami penurunan.
 Pada masa inflasi, peningkatan penerimaan pajak
akan menurunkan pendapatan perorangan, menekan
pengeluaran untuk konsumsi, mengurangi permintaan
agregat, dan memperlambat kenaikan harga dan
upah.
 Dalam perekonomian saat ini, lebih otomatis dimana
penerimaan pajak cenderung meningkat di masa
inflasi dan mengalami penurunan dimasa resesi.
Tunjangan Pengangguran, Kesejahteraan,
dan Tunjangan Lain


Negara-negara maju memiliki sistem
pembayaran tunjangan untuk menambah
pendapatan masyarakatnya.
Tunjangan yang paling mendominasi
yaitu tunjangan pengangguran (UI =
Unemployment Insurance). Tunjangan ini
memompa dana kedalam atau keluar
sistem perekonomian dengan cara
berputar kembali, serta berfungsi sebagai
stabilisator.
b.


a.
b.
c.
d.
Kebijakan Stabilisasi Diskresioner
Kebijakan Fiskal Diskresioner adalah kebijakan
pemerintah dimana pemerintah mengubah tarif
pajak atau program-program pengeluaran.
Kebijakan stabilisasi diskresioner umumnya
melewati lembaga legislatif untuk mengubah
struktur dan sistem fiskal. Kebijakan stabilisasi
diskresioner dilaksanakan melalui :
proyek pemerintah,
program permodalan,
proyek padat karya,
perubahan tarif pajak.
Tujuan Kebijakan Fiskal Diskresioner


Mengurangi gerak naik turun tingkat kegiatan
ekonomi dari waktu ke waktu.
Menciptakan tk. Kegiatan ekonomi yang
mencapai Full Employment, Low Inflation, High
Economic Growth
Langkah Kebijakan Diskresioner :
-
-
Menjaga agar pendapatan dan pengeluaran
pemerintah tetap seimbang.
Mengatasi laju inflasi
Langkah-langkah Kebijakan Fiskal Diskresioner

1.
2.
3.

1.
2.
3.
Menjaga keseimbangan antara pendapatan dan
pengeluaran pemerintah dalam rangka mengurangi
pengangguran dan meningkatkan pengeluaran agregat.
Menaikkan pengeluaran tetapi tidak merubah kebijakan
pajak.
Menaikkan pengeluaran dan mengurangi pajak
Menaikkan pengeluaran dan pajak untuk menjaga
keseimbangan pendapatan dan pengeluaran
Mengatasi Masalah Inflasi
Mengurangi pengeluaran
Menaikkan pungutan pajak
Mengurangi pengeluaran dan menaikkan pajak
DEFISIT FISKAL

1.
2.
3.
Persepsi Klasik tentang Keuangan Negara
(Groover Cleveland, Woodrow Wilson, Mc
Kinley, dan Herbert Hoover) :
Keuangan negara (public finance) merupakan
aplikasi dari keuangan rumah tangga.
Anggaran harus diseimbangkan setiap tahun
pada tingkat yang rendah dan kebijakan
pengaluaran yang hati-hati dan hanya untuk
tujuan tertentu.
Hutang pemerintah merupakan beban yang
harus ditanggung oleh seluruh warga negara.
Konsekuensi Ekonomi dari Kebijakan Defisit

Defisit dan hutang pemerintah merupakan masalah
makroekonomi yang paling mempengaruhi
perekonomian.
 Hutang pemerintah : merupakan nilai akumulasi dana
yang dipinjam pemerintah untuk membiayai defisit
masa lalu. Hutang pemerintah ini sebagian besar
dalam bentuk surat berharga dengan bunga jangka
pendek, seperti surat tagihan yang dikeluarkan oleh
perbendaharaan negara.
 Hutang pemerintah memiliki hubungan dengan defisit
anggaran. Peningkatan Goverment Debt sama
dengan Defisiyt Anggaran.
 Sebagian besar hutang pemerintah berasal dari bank
dan LKBB.
Kebijakan Moneter


1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kebijakan Moneter merupakan langkah-langkah pemerintah yang
dilaksanakan oleh Bank Sentral (Bank Indonesia) untuk
mempengaruhi penawaran uang dalam perekonomian atau
mengubah tingkat bunga dengan maksud mempengaruhi
pengeluaran agregat sehinnga berpengaruh terhadap Jumlah
uang beredar.
Dalam menetapkan kebijakan moneter, Bank sentral secara
langsung menggunakan instrumen-instrumen kebijakan moneter
yang terdiri dari :
Open Market Operation,
Legal Reserve Requirement
Legal Lending Limit
Discount rate
Lending rate & Saving Rate
Moral Suassion
Mekanisme Kebijakan Moneter
- Open Market Operation
- Legal Reserve Requirement
- Legal Lending Limit
- Discount Rate
- Moral Suassion
Instrumen Kebijakan
- Harga Stabil
Jumlah Uang
Beredar
- Pertumbuhan GNP
- Tk. Pengangguran
rendah
Sasaran Antara
Tujuan Akhir
Operasi Pasar Terbuka





Instrumen yang paling sering digunakan adalah
kebijakan operasi pasar terbuka (Open Market
Operation).
Bank Sentral (Bank Indonesia) melakukan operasi pasar
terbuka dengan mekanisme jual beli surat berharga di
pasar terbuka.
Bank Indonesia biasanya menerbitkan Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) untuk diperjualbelikan secara umum
kepada masyarakat.
Pada saat JUB banyak maka Bank Indonesia akan
menarik uang dari peredaran dengan jalan menjual SBI
kepada masyarakat dengan rate yang cukup tinggi untu
menarik minat masyarakat membeli SBI.
Sebaliknya pada saat JUB menurun maka bank akan
menambah JUB dengan membeli kembali SBI yang telah
beredar dan dimiliki masyarakat.
Batas Maksimum Pemberian Kredit




Bank Indonesia membuat peraturan yang harus
dilaksanakan oleh perbankan tentang Batas Maksimum
Pemberian Kredit (Legal Lending Limit) kepada nasabah.
Kebijakan BMPK ini merupakan instrumen kebijakan
moneter yang dapat mempengaruhi jumlah uang beredar.
Ketetapan terbaru tahun 2003, perbankan nasional hanya
boleh memberikan kredit kepada seorang nasabah yang
tidak terkait dengan bank maksimal 20% dari modal
sedangkan bagi nasabah yang terkait dengan bank
(pemegang saham dan keluarga) maksimal 10% dari modal
bank.
Jika Bank Indonesia akan mengurangi Jumlah uang beredar
maka Batas maksimum pemberian kredit prosentasenya
dikurangi. Sebaliknya jika jumlah uang beredar akan
ditambah maka prosentase BMPK ditambah.
Cadangan Wajib Minimum


Dalam rangka mengatur jumlah uang beredar, Bank
Indonesia menetapkan kebijakan Giro Wajib Minimum
kepada perbankan nasional.
Giro Wajib Minimum adalah cadangan dana yang wajib
disimpan oleh bank di Bank Indonesia minimal sebesar
5% dari total dana pihak ketiga (dana masyarakat)
GWM =
Giro pada BI
x 100%
Total Dana Pihak ketiga
Tk. Diskonto



Kebijakan diskonto adalah kebijakan pemberian
pinjaman oleh bank sentral kepada bank-bank
yang mengalami kekurangan/ kesulitan dana.
Apabila bank sentral merasa bahwa pertumbuhan
jumlah uang beredar terlalu rendah dan perlu di
pacu, maka bank sentral akan menurunka tingkat
diskonto yaitu penurunan suku bunga yang
dibebankan kepada pinjaman bank.
Sebaliknya jika bank sentral akan menarik uang
beredar maka bank sentral akan menetapkan tk
diskonto yang tinggi kepada perbankan.
Tk. Bunga Kredit dan Tingkat Bunga Simpanan


Tk. Bunga kredit dan tk. Bunga simpanan
merupakan salah satu instrumen
kebijakan moneter yang dapat digunakan
untu mempengaruhi jumlah uang
beredar.
Jika pemerintah akan mengurangi jumlah
uang beredar maka dikondisikan
perbankan untuk menawarkan tk. Bunga
yang tinggi kepada nasabah. Sebaliknya
jika akan menambah uang beredar maka
bank dapat menawarkan tingkat bunga
yang rendah kepada nasabah.
Pendekatan secara Moral


Pendekatan atau anjuran secara moral
dari pejabat yang berwenang untuk
mempengaruhi masyarakat agar
bersama-sama mengantisipasi inflasi
merupakan salah satu instrumen
kebijakan moneter.
Pada masa krisi moneter anjuran moral
ini cukup mempengaruhi masyarakat
untuk bersama-sama menekan laju
peredaran uang dan laju inflasi.
Download