2 - UIGM | Login Student

advertisement
KEDUDUKAN DAN KEWENANGAN DAN TINDAKAN
HUKUM PEMERINTAH
A. Definisi Wewenang (authority) secara umum
Adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu. Wewenang
merupakan hasil delegasi atau pelimpahan wewenang dari atasan ke bawahan
dalam suatu organisasi. Menurut Prajudi:1988, wewenang adalah kekuasaan untuk
melakukan sesuatu tindak hukum publik. Misalnya, menandatangani, menerbitkan
surat-surat izin dari seorang pejabat atas nama menteri1.
Dua pandangan yang saling berlawanan tentang sumber wewenang, yaitu:
1. Teori formal (pandangan klasik)
Wewenang merupakan anugerah, ada karena seseorang diberi atau dilimpahi
hal tersebut. Beranggapan bahwa wewenang berasal dari tingkat masyarakat yang
tinggi. Jadi pandangan ini menelusuri sumber tertinggi dari wewenang ke atas
sampai sumber terakhir, dimana untuk organisasi perusahaan adalah pemilik atau
pemegang saham.
2.Teori penerimaan
Wewenang timbul hanya jika dapat diterima oleh kelompok atau individu
kepada siapa wewenang tersebut dijalankan. Pandangan ini menyatakan kunci
dasar wewenang oleh yang dipengaruhi (influence) bukan yang mempengaruhi
(influencer). Jadi, wewenang tergantung pada penerima (receiver), yang
memutuskan untuk menerima atau menolak.
Dalam KBBI disebutkan wewenang adalah hak dan kekuasaan untuk
bertindak, kekuasaan untuk membuat keputusan, memerintah, dan melimpahkan
tanggung jawab kepada orang lain.2
Kekuasaan sering dicampur adukkan dengan wewenang, padahal
1
Dikutip dari Prajudi Atmosudirjo, Hukum Administrasi Negara, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988
halaman 76
2
Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka,
1
keduanya berbeda. Bila wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu, maka
kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan hak tersebut.
Kekuasaan
adalah
kemampuan
untuk
mempengaruhi
individu,
kelompok, keputusan atau kejadian. Wewenang tanpa kekuasaan atau kekuasaan
tanpa wewenang akan menyebabkan konflik dalam organisasi.
Menurut Uwes Fathoni3 Kewenangan adalah kekuasaan yang mendapatkan
keabsahan atau legitimasi
Kewenangan adalah hak moral untuk membuat dan melaksanakan keputusan
politik
Sebuah bangsa atau negara mempunyai tujuan. Kegiatan untuk mencapai tujuan
disebut tugas. Hak moral untuk melakukan kegiatan mencapai tujuan disebut
kewenangan Tugas dan kewenangan untuk mencapai tujuan masyarakat atau
negara disebut fungsi
Sumber kewenangan
1. Tradisi – keluarga atau darah biru
2. Kekuatan sakral seperti Tuhan, Dewa dan wahyu seperti kerajaan
3. Kualitas pribadi seperti atlit, artis
4. Peraturan perundang-undangan yang mengatur prosedur dan syarat menjadi
pemimpin
5. Instrumental yaitu kekayaan dan keahlian iptek
Tipe kewenangan
1. Kewenangan prosedural yaitu berasal dari peraturan perundang-undangan
2. Kewenangan substansial yaitu berasal dari tradisi, kekuatan sakral, kualitas
pribadi dan instrumental
Jakarta, 2007
3
Dikutip dari materi perkuliahan Ilmu Politik oleh Uwes Fathoni, M.Ag dosen di Fidkom UIN
SGD Bandung
2
Setiap masyarakat pasti memakai kedua tipe kewenangan ini hanya yang satu
dijadikan sebagai yang utama dan yang lain sebagai pelengkap
Peralihan kewenangan
a. Turun temurun – keturunan atau keluarga
b. Pemilihan – langsung atau perwakilan
c. Paksaan – revolusi, kudeta atau ancaman kekerasan.
Sikap terhadap kewenangan
1) Menerima
2) Mempertanyakan (skeptis)
3) Menolak
4) Kombinasi
Sedangkan Intervensi menurut KBBI adalah campur tangan dalam perselisihan
antara dua pihak (orang, golongan, negara, dan sebagainya)4.
B. Kedudukan Pemerintah dalam Hukum
Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa pemerintah di samping
melaksanakan aktivitas dalam bidang hukum publik, juga sering terlibat dalam
lapangan keperdataan. Dalam pergaulan hukum, pemerintah sering tampil dengan
dengan dua kepala, sebagai wakil dari jabatan yang tunduk pada hukum publik
dan wakil dari badan hukum yang tunduk pada hukum privat.
Dalam perspektif hukum publik, negara adalah organisasi jabatan.
Menurut Logeman (Dalam bentuk kenyataan sosialnya, negara adalah organisasi
yang berkenan dengan berbagai fungsi. Pengertian fungsi adalah lingkungan
kerja yang terperinci dalam hubungannya secara keseluruhan. Fungsi-fungsi ini
dinamakan jabatan. Negara adalah organisasi jabatan). (Jabatan adalah suatu
lembaga dengan lingkup pekerjaan sendiri yang dibentuk untuk waktu lama dan
kepadanya diberikan tugas dan wewenang).
Menurut Bagir Manan, Jabatan adalah lingkungan pekerjaan tetap yang
4
Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke tiga, Departemen Pendidikan Nasional,
balai Pustaka, Jakarta, 2007
3
berisi fungsi-fungsi tertentu yang secara keseluruhan mencerminkan tujuan dan
tata kerja suatu organisasi. Jabatan itu bersifat tetap, sementara pemegang jabatan
dapat berganti-ganti, sebagai contoh, jabatan presiden, wakil presiden, menteri,
gubernur dan lain-lain, relatif bersifat tetap, sementara pemegang jabatan atau
pejabatnya sudah berganti-ganti.
Hukum private dan bahan hukum publik. Menurut Chidir Ali, ada tiga
kriteria untuk menentukan status badan hukum publik yaitu
1) dilihat dari pendirinya, badan hukum itu diadakan dengan konstruksi
hukum publik yang didirikan oleh penguasa dengan undang-undang atau
peraturan-peraturan lainnya :
2) lingkungan kerjanya, yaitu melaksanakan perbuatan-perbuatan publik,
3) badan hukum itu diberi wewenang publik seperti membuat keputusan,
ketetapan atau peraturan yang mengikat umum.
1.
Kedudukan Pemerintah dalam Hukum Publik
Indroharto menyebutkan bahwa lembaga-lembaga hukum publik itu
memiliki kedudukan yang mandiri dalam statusnya sebagai badan hukum
(perdata). Lembaga-lembaga hukum publik tersebut merupakan badan hukum
perdata dan melalui organ-organnya (Badan atau Jabatan TUN) menurut peraturan
perundang-undangan yang bersangkutan dapat melakukan perbuatan/tindakan
hukum perdata.
Meskipun organ atau jabatan pemerintahan dapat melakukan perbuatan
hukum perdata, mewakili badan hukum induknya, hal yang terpenting dalam
konteks hukum administrasi adalah mengetahui organ atau jabatan pemerintahan
dalam melakukan perbuatan hukum yang bersifat publik.
P. Nicolai dan kawan-kawan menyebutkan beberapa ciri atau karakteristik
yang terdapat pada jabatan atau organ pemerintahan yaitu sebagai berikut.
1)
Organ pemerintahan menjalankan wewenang atas nama dan tanggungjawab
sendiri, yang dalam pengertian modern, diletakkan sebagaiertanggungjawaban
politik dan kepegawaian atau tanggungjawab pemerintah sendiri di hadapan
Hakim. Organ pemerintah adalah pemikul kewajiban tanggungjawab.
2)
Pelaksanaan wewenang dalam rangka menjaga dan mempertahankan norma
hukum administrasi, organ pemerintahan dapat bertindak sebagai pihak
tergugat dalam proses peradilan, yaitu dalam hal ada keberatan, banding, atau
4
perlawanan.
3)
Di samping sebagai pihak tergugat, organ pemerintahan juga dapat tampil
menjadi pihak yang tidak puas, artinya sebagai penggugat.
4)
Pada prinsipnya organ pemerintahan tidak memiliki harta kekayaan sendiri.
Organ pemerintahan merupakan bagian (alat) dari badan hukum menurut
hukum privat dengan harta kekayaannya. Jabatan bupati atau wali kota adalah
organ-organ dari badan umum “kabupaten”.
Berdasarkan aturan hukum, badan hukum inilah yang dapat memiliki
harta kekayaan, bukan organ pemerintahannya. Oleh karena itu, jika ada putusan
hakim yang berupa denda atau uang paksa (dwangsom) yang dibebankan kepada
organ pemerintah atau hukuman ganti kerugian dari kerusakan, kewajiban
membayar dan ganti kerugian itu dibebankan kepada hukum (sebagai pemegang
harta kekayaan).
Pihak yang menjalankan hak dan kewajiban yang didukung oleh jabatan
ialah pejabat. Jabatan adalah lingkungan pekerjaan tetap, sementara pejabat dapat
berganti-ganti. Antara jabatan dengan pejabat memiliki hubungan yang erat,
namun di antara keduanya sebenarnya memiliki kedudukan hukum yang berbeda
atau terpisah dan diatur dengan hukum yang berbeda. Jabatan diatur oleh hukum
tata negara dan hukum administrasi, sedangkan pejabat diatur dan tunduk pada
hukum kepegawaian.
2.
Macam-macam Jabatan Pemerintahan
Ruang lingkup kegiatan administrasi negara atau pemerintahan itu sangat
luas dan beragam. Keluasan dan keragaman kegiatan administrasi negara ini
sering sejalan dengan dinamika perkembangan masyarakat yang menuntut
pengaturan dan keterlibatan administrasi negara.
Berdasarkan kenyataan ini, Indroharto menyebutkan bahwa ukuran untuk dapat
disebut badan atau pejabat TUN merupakan fungsi yang dilaksanakan, bukan
nama sehari-hari, bukan pula kedudukan strukturalnya dalam salah satu
lingkungan kekuasaan dalam negara.
Selanjutnya Indroharto mengelompokkan organ pemerintahan atau tata usaha
negara itu diantaranya :

Instansi-instansi resmi pemerintah yang berada di bawah presiden sebagai
kepala eksekutif.
5

Instansi-instansi dalam lingkungan negara diluar lingkungan kekuasaan
eksekutif yang berdasarkan peraturan perundang-undangan melaksanakan
urusan pemerintahan.

Badan-badan hukum perdata yang didirikan oleh pemerintah dengan maksud
untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.

Instansi-instansi yang merupakan kerja sama antara pihak pemerintah dengan
pihak swasta yang melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.

Lembaga-lembaga hukum swasta yang berdasarkan peraturan perundangundangan dan sistem perizinan melaksanakan tugas pemerintahan.
Dalam literatur hukum administrasi, badan hukum keperdataan dapat
dikategorikan sebagai administrasi negara dengan syarat-syarat sebagai berikut :

Badan-badan itu dibentuk oleh organisasi publik.

Badan-badan tersebut menjalankan fungsi pemerintahan

Peraturan perundang-undangan secara tegas memberikan kewenangan untuk
menyelenggarakan
urusan pemerintahan dan
dalam kondisi
tertentu
berwenang menerapkan sanksi administratif. H.D. Van Wijk menyebutnya
sebagai pihak swasta sebagai pemerintah (particuleren als overheid).
3.
Kedudukan Pemerintah dalam Hukum Privat
Badan hukum adalah (kumpulan orang yaitu semua yang didalam
kehidupan masyarakat (dengan beberapa perkecualian) sesuai dengan ketentuan
undang-undang dapat bertindak sebagaimana manusia, yang memiliki hak-hak
dan kewenangan-kewenangan, seperti kumpulan orang (dalam suatu badan
hukum), perseroan terbatas, perusahaan perkapalan, perhimpunan (sukarela) dan
sebagainya.
Dalam kepustakaan hukum dikenal ada beberapa unsur dari badan hukum yaitu :
1.
Perkumpulan orang (organisasi yang teratur)
2.
Dapat melakukan perbuatan hukum dalam hubungan-hubungan hukum.
3.
Adanya harta kekayaan yang terpisah
4.
Mempunyai kepentingan sendiri
5.
Mempunyai pengurus
6.
Mempunyai tujuan tertentu
7.
Mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban
8.
Dapat digugat atau menggugat di depan pengadilan
6
Bila berdasarkan hukum publik negara, provinsi dan kabupaten adalah
organisasi jabatan atau kumpulan dari organ-organ kenegaraan dan pemerintahan,
maka berdasarkan hukum perdata negara, provinsi dan kabupaten adalah
kumpulan dari badan-badan hukum yang tindakan hukumnya dijalankan oleh
pemerintah.
Ketika pemerintah bertindak dalam lapangan keperdataan dan tunduk pada
peraturan hukum perdata, pemerintah bertindak sebagai wakil dari badan hukum,
bukan wakil dari jabatan. Sebagai wakil dari badan hukum.
Keberadaan pemerintah yang secara teroritis memiliki dua fungsi, yaitu
sebagai wakil dari jabatan dan badan hukum, yang masing-masing diatur dan
tunduk pada hukum yang berbeda, hukum publik dan hukum privat.
7
C. Kewenangan Pemerintah
1) Asas Legalitas dan Wewenang Pemerintah
Asas legalitas merupakan salah satu prinsip utama yang dijadikan sebagai
dasar dalam setiap penyelenggaraan pemerintah dan kenegaraan di setiap negara
hukum terutama bagi negara-negara hukum dalam sistem kontinental. Dengan
kata lain, asas legalitas dalam gagasan negara hukum liberal memiliki kedudukan
sentral,atau sebagai suatu fundamen dari negara hukum.
Asas legalitas berkaitan erat dengan gagasan demokrasi dan gagasan
negara hukum. Gagasan demokrasi menuntut setiap bentuk undang-undang dan
berbagai keptusan mendapatkan persetujuan dari wakil rakyat dan sebanyak
mungkin memerhatikan kepentingan rakyat.
Gagasan
negara
hukum
menuntut
agar
penyelenggaraan
urusan
kenegaraan dan pemerintahan harus didasarkan pada undang-undang dan
memberikan jaminan terhadap hak-hak dasar rakyat. Asas legalitas menjadi dasar
legitimasi tindakan pemerintahan dan jaminan perlindungan dari hak-hak rakyat.
Penerapan asas legalitas, menurut Indroharto akan menunjang berlakunya
kepastian hukum dan kesamaan perlakuan. Kesamaan perlakuan terjadi karena
setiap orang yang berada dalam situasi seperti yang ditentukan dalam ketentuan
undang-undang itu berhak dan berkewajiban untuk berbuat seperti apa yang
ditentukan dalam undang-undang tersebut. Kepastian hukum akan terjadi karena
suatu peraturan dapat membuat semua tindakan yang akan dilakukan pemerintah
itu dapat diramalkan atau diperkirakan lebih dahulu (asas legalitas dimaksudkan
untuk memberikan jaminan kedudukan hukum warga negara terhadap
pemerintah).
2) Wewenang Pemerintahan
Kewenangan memiliki keduudkan penting dalam kajian hukum tata negara
dan hukum administrasi. Menurut Bagir Manan, wewenang dalam bahasa hukum
tidak sama dengan kekuasaan (macht). Kekuasaan hanya menggambarkan hak
untuk berbuat atau tidak berbuat. Dalam hukum, wewenang sekaligus berarti hak
dan kewajiban (rechten en plichten). Dalam negara hukum, wewenang
pemerintahan itu berasal dari peraturan perundang-undangan yangberlaku.
8
3) Sumber dan Cara Memperoleh Wewenang Pemerintahan
Kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah bersumbar pada tiga hal,
atribusi, delegasi, dan mandat. Atribusi ialah pemberian kewenangan oleh
pembuat undang-undang sendiri kepada suatu organ pemerintahan baik yang
sudah ada maupun yang baru sama sekali. Menurut Indroharto, legislator yang
kompeten untuk memberikan atribusi wewenang itu dibedakan antara :
Yang berkedudukan sebagai original legislator; di negara kita di tingkat
pusat adalah MPR sebagai pembantuk konstitusi (konstituante) dan DPR bersamasama Pemerintah sebagai yang melahirkan suatu undang-undang, dan di tingkat
daerah adalah DPRD dan Pemerintah Daerah yang melahirkan Peraturan Daerah;
Yang bertindak sebagai delegated legislator : seperti Presiden yang
berdasarkan pada suatu ketentuan undang-undang mengeluarkan Peraturan
Pemerintah dimana diciptakan wewenang-wewenang pemerintahan kepada Badan
atau Jabatan TUN tertentu.
Sedangkan yang dimaksud delegasi adalah penyerahan wewenang yang
dipunyai oleh organ pemerintahan kepada organ yang lain. Dalam delegasi
mengandung suatu penyerahan, yaitu apa yang semula kewenangan si A, untuk
selanjutnya menjadi kewenangan si B. Kewenangan yang telah diberikan oleh
pemberi delegasi selanjutnya menjadi tanggung jawab penerima wewenang.
Adapun pada mandat, di situ tidak terjadi suatu pemberian wewenang baru
maupun pelimpahan wewenang dari Badan atau Pejabat TUN yang satu kepada
yang lain. Tanggung jawab kewenangan atas dasar mandat masih tetap pada
pemberi mandat, tidak beralih kepada penerima mandat.
Dalam kajian Hukum Administrasi Negara, mengetahui sumber dan cara
memperoleh wewenang organ pemerintahan ini penting, karena dengan
pertanggungjawaban hukum dalam penggunaan wewenang tersebut, seiring
dengan salah satu prinsip dalam negara hukum.
D. Tindakan Pemerintahan
1. Pengertian Tindakan Pemerintahan dalam Negara Hukum
Dalam melakukan aktifitasnya, pemerintah melakukan dua macam tindakan,
tindakan biasa dan tindakan hukum . Dalam kajian hukum, yang terpenting untuk
dikemukakan adalah tindakan dalam kategori kedua. Tindakan hukum
9
pemerintahan adalah tindakan yang dilakukan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara dalam rangka melaksanakan urusan pemerintahan. Tindakan pemerintahan
memiliki beberapa unsur yaitu sebagai berikut :

Perbuatan tersebut dilaksanakan dalam rangka menjalankan fungsi
pemerintahan

Perbuatan itu dilakukan oleh aparat Pemerintah dalam kedudukannya
sebagai Penguasa maupun sebagai alat perlengkapan pemerintahan
dengan prakarsa dan tanggung jawab sendiri;

Perbuatan tersebut dimaksudkan sebagai sarana untuk menimbulkan akibat
hukum di bidang hukum administrasi;

Perbuatan yang bersangkutan dilakukan dalam rangka pemeliharaan
kepentingan negara dan rakyat.
Dalam negara hukum, setiap tindakan pemerintahan harus berdasarkan atas
hukum, karena dalam negara negara terdapat prinsip asas legalitas. Asas ini
menentukan bahwa tanpa adanya dasar wewenang yang diberikan oleh suatu
peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka segala macam aparat
pemerintah tidak akan memiliki wewenang yang dapat mempengaruhi atau
mengubah keadaan atau posisi hukum warga masyarakatnya. Asas legalitas
menurut Sjachran Basah, berarti upaya mewujudkan duet integral secara harmonis
antara paham kedaulatan hukum dan paham kedaulatan rakyat berdasarkan prinsip
monodualistis selaku pilar-pilar, yang sifat hakikatnya konstitutif.
Meskipun demikian, tidak selalu setiap tindakan pemerintahan tersedia peraturan
peraundang-undangan yang mengaturnya. Dapat terjadi, dalam kondisi tertentu
terutama ketika pemerintah harus bertindak cepat untuk menyelesaikan persoalan
konkret dalam masyarakat, peraturan perundang-undangannya belum tersedia.
Dalam kondisi seperti ini, kepada pemerintah diberikan kebebasan bertindak
Diskresi (discresionare power) yaitu melalui freies Ermessen, yang diartikan
sebagai salah satu sarana yang memberikan ruang bergerak bagi pejabat atau
badan-badan administrasi negara untuk melakukan tindakan tanpa harus terikat
sepenuhnya pada undang-undang.
10
Freies Ermessen ini menimbulkan implikasi dalam bidang legislasi bagi
pemerintah, yaitu lahirnya hak inisiatif untuk membuat peraturan perundangundangan yang sederajat dengan UU tanpa persetujuan DPR, hak delegasi untuk
membuat peraturan yang derajatnya di bawah UU, dan droit function atau
kewenangan menafsirkan sendiri aturan-aturan yang masih bersifat enunsiatif.
Menurut Bagir Manan, kewenangan pemerintah untuk membentuk
peraturan perundang-undangan karena beberapa alasan yaitu; Pertama, paham
pembagian kekuasaan menekankan pada perbedaan fungsi daripada pemisahan
organ, karena itu fungsi pembentukan peraturan tidak harus terpisah dari fungsi
penyelenggaraan pemerintahan; Kedua, dalam negara kesejahteraan pemerintah
membutuhkan instrumen hukum untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum;
Ketiga, untuk menunjang perubahan masyarakat yang cepat, mendorong
administrasi negara berperan lebih besar dalam pembentukan peraturan
perundang-undangan.
Freies Ermessen merupakan konsekuensi logis dari konsepsi welfare state, akan
tetapi dalam kerangka negara hukum, freies Ermessen ini tidak dapat digunakan
tanpa batas. Atas dasar itu, Sjachran Basah mengemukakan unsur-unsur freies
Ermessen dalam suatu negara hukum yaitu sebagai berikut :

Ditujukan untuk menjalankan tugas-tugas servis publik;

Merupakan sikap tindak yang aktif dari administrasi negara;

Sikap tindak itu dimungkinkan oleh hukum;

Sikap tindak itu diambil atas inisiatif sendiri;

Sikap tindak itu dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
penting yang timbul secara tiba-tiba;

Sikap tindak itu dapat dipertanggung jawab baik secara moral kepada
Tuhan Yang Maha Esa maupun secara hukum. Tindakan hukum adalah
tindakan yang dimaksudkan untuk menciptakan hak dan kewajiban.
Tindakan hukum administrasi merupakan suatu pernyataan kehendak yang
muncul dari organ administrasi dalam keadaan khusus, dimaksudkan
11
untuk menimbulkan akibat hukum dalam bidang hukum administrasi.
Rechtshandeling atau tindakan hukum
1.
Unsur-unsur Tindakan Hukum Pemerintahan
Unsur-unsur tindakan hukum pemerintahan sebagai berikut :
1.
Perbuatan itu dilakukan oleh aparat pemerintah dalam kedudukannya sebagai
penguasa maupun sebagai alat perlengkapan pemerintahan dengan prakarsa
dan tanggungjawab sendiri.
2.
Perbuatan
tersebut
dilaksanakan
dalam
rangka
menjalankan
fungsi
pemerintahan.
3.
Perbuatan tersebut dimaksudkan sebagai sarana untuk menimbulkan akibat
hukum di bidang hukum administrasi.
4.
Perbuatan yang bersangkutan dilakukan dalam rangka pemeliharaan
kepentingan negara dan rakyat.
2.
Macam-macam Tindakan Hukum Pemerintahan
Secara teorities, cara untuk menentukan apakah tindakan pemerintahan itu
diatur oleh hukum privat atau hukum publik adalah dengan melihat kedudukan
pemerintah dalam menjalankan tindakan tersebut. Jika pemerintah bertindak
dalam kualitasnya sebagai pemerintah, hanya hukum publiklah yang berlaku. Jika
pemerintah bertindak tidak dalam kualitas pemerintah, hukum privatlah yang
berlaku.
3.
Karakteristik Tindakan Hukum Pemerintahan
Tindakan hukum pemerintahan itu pada dasarnya bersifat sepihak, pihak
yang diserahi kewajiban untuk mengatur dan menyelenggarakan kepentingan
umum di mana dalam rangka melaksanakan kewajiban ini kepada pemerintah
diberikan wewenang membuat peraturan perundang-undangan, kemudian dikenal
adanya tindakan hukum dua pihak atau lebih, ini hanya menyangkut mengenai
cara-cara merealisasikan tindakan hukum tersebut. Diatas disebutkan bahwa
tindakan hukum dua pihak diatur dengan peraturan bersama. E. Utrecht
menyebutkan beberapa cara pelaksanaan urusan pemerintahan yaitu :
o
Yang bertindak ialah administrasi negara sendiri
o
Hubungan istimewa
o
Konsesi atau berdasarkan izin
o
Subsidi pemerintah
12
o
Kekuasaan memerintah
KESIMPULAN
Pada dasarnya segala kekuasaan memiliki kewenangan untuk berbuat atau
tidak berbuat. Usaha dan upaya untuk meminimalisasi kerusakan sistemik
perlunya dipertegas standar operasional prosedur guna mencegah penyalahgunaan
wewenang dan jabatan dalam memutuskan atau menetukan suatu kebijakan yang
menyangkut kehidupan orang banyak. kewenangan pemerintah (dalam melakukan
perbuatan dibidang publik, didalamnya diatur mengenai dari mana, dengan cara
apa, dan bagaimana pemerintah menggunakan kewenangannya;penggunaan
kewenangan ini dituangkan dalam bentuk instrument hukum sehingga diatur pula
tentang pembuatan dan penggunaan instrument hukum. dalam menjalankan
kekuasaan.
Menggunakan wewenang harus diwujudkan atas dasar harmonisasi dengan
peraturan perundang-undang yang berlaku. Gagasan negara hukum menuntut agar
penyelenggaraan urusan kenegaraan dan pemerintahan harus didasarkan pada
undang-undang dan memberikan jaminan terhadap hak-hak dasar rakyat. Asas
legalitas menjadi dasar legitimasi tindakan pemerintahan dan jaminan
perlindungan dari hak-hak rakyat.
Penerapan asas legalitas, menurut Indroharto akan menunjang berlakunya
kepastian hukum dan kesamaan perlakuan. Kesamaan perlakuan terjadi karena
setiap orang yang berada dalam situasi seperti yang ditentukan dalam ketentuan
undang-undang itu berhak dan berkewajiban untuk berbuat seperti apa yang
ditentukan dalam undang-undang tersebut.
13
DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta:
Balai Pustaka, 2007
Fathoni, Uwes, Materi Perkuliahan Ilmu Politik, Bandung, Fidkom, 2006
Atmosudirjo, Prajudi, Hukum Administrasi Negara. Jakarta: Ghalia Indonesia,
1988
www. Scribd. Com diakses pada hari Senin tanggal 7 Maret 2011
14
Download