uts-smj

advertisement
Nama : Mur Ifatul Miskiyah
Rombel: 02 (Dua)
NIM
No.hp : 08975624408
: 3401413093
Kehidupan Spiritual dan Kararkteristik Masyarakat Jawa Islam
di desa Glagahwaru, Kabupaten Kudus
A. Pengantar
1. Latar belakang
Alam pikir orang jawa merumuskan kehidupan manusia berada pada dua
kosmos (alam) yaitu; makrikosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos merupakan
sikap dan pandangan hidup orang Jawa terhadap alam semesta yang mengandung
kekuatan supranatural dan mengandung hal-hal yang misterius. Sedangkan
mikrokosmaos adalah sikap dan pandangann hidup orang Jawa terhadap alam
semesta (Yana: 17). Dalam alam makrokosmos tersebut menurut orang Jawa
pusat dari alam semesta adalah Tuhan. Dari pandangan tersebut dapat dikatakan
bahwa masyarakat Jawa adalah masyarakat yang reliagius. Hal ini dapat dilihat
dari sejarah kebidupan masyarakat Jawa yang telah mengenal adanya Tuhan atau
sesuatu yang memiliki kekuatan besar di atas manusia. Jauh sebelum agama
Hindu-Budha masuk sebagai kepercayaan orang Jawa, masyarakat Jawa telah
mengenal sebuah keyakinan animisme dan dinamisme yang disebut sebagai
Kejawen.
Sebagai suku bangsa yang dikenal sebagai suku bangsa yang toleran,
masyarakat Jawa mudah untuk menerima agama yang datang dan disesuaikan
dengan kepercayaan yang telah dipegang. Hal ini terbukti dengan datangnya
agama Hindu-Budha yang masuk sebagai agama orang Jawa. Dari kepercayaan
Hindhu-Budha tidak begitu banyak merubah sistem kepercayaan Kejawen sebagai
agama asli orang Jawa. Sekitar abad ke-7 Islam mulai masuk ke Jawa, disini Islam
juga disambut dengan terbuka oleh masyarakat Jawa. Dalam penyebarannya Islam
selalu disandingkan dengan budaya-budaya Jawa juga agama Kejawennya yang
telah terpengaruh oleh agama Hindu-Budha, sehingga masyarakat Jawa secara
terbuka mau menerimanya. Namun, tidak semua masyarakat Jawa memiliki
keterbukaan yang sama terhadap agama yang masuk, sehingga terdapat
kelompok-kelompok masyarakat berdasarkan kepercayaannya.

2. Tujuan
Untuk membantu pembaca dalam mengetahui dan memahami bagaiamana
struktur masyarakat jawa derdasarkan kepercayaan yang dianut dan
pengaruhnya terhadap sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.


Untuk mengetahui dan memahami bagaimana karakteristik orang Jawa
Islam di desa Glagahwaru kabupaten Kudus.
Untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester matakuliah Struktur
Masyarakat Jawa.
3. Hal menarik dalam tulisan
Agama orang Jawa secara formal adalah Islam, secara spesifik agama
orang Jawa tidak murni Islam sebagaimana mestinya. Dalam penelitian Geertz di
Mojokuto, masyarakat Jawa dibedakan menjadi tiga golongan yaitu Abangan,
Santri, dan Priyayi. Namun masyarakat pada desa Glagahwaru memiliki
perbedaan dengan tiga golongan seperti yang dikekukakan oleh Geertz. Ketiga
perdedaan tersebut berada pada bidang agama, strata sosial, dan pekerjaan. Selain
itu terdapat karakteristik orang jawa islam yang diadopsi dari budaya Jawa dan
diakulturasi dan diasimlasikan dengan ajaran Islam.
B. Pembahasan
1. Spiritualitas masyarakat jawa di desa Glagahwaru
Masyarakat jawa yang tinggal di desa Glagahwaru, kecamatan Undaan,
kabupaten Kudus memiliki agama resmi yaitu Islam. Dapat dipastikan bahwa
100% penduduk desa Glagahwaru beragama Islam, data tersebut didapat dari
catatan desa pada tahun 2013. Masyarakat desa Glagahwaru terkenal dengan
masyarakat religius, taat beragama, dan memiliki nilai norma yang tinggi. namun
tidak semua masyarakat desa Glagahwaru memiliki sifat tersebut, banyak diantara
mereka yang tidak sepenuhnya taat pada agama Islam. Secara garis besar
masyarakat Jawa di desa Glagahwaru dapat dimasukkan dalam tiga golongan
masyarakat jawa menurut Geertz yaitu; Abangan, Santri, dan Priyayi.
1) Abangan, yaitu golongan masyarkat jawa yang tidak taat beragama dan
syari’at islam, dan cenderung melakukan hal-hal yang masih berbau
Hindu-Budha. Pada masyarakat desa Glagahwaru, kelompok ini hanya
sebagian kecil dari jumlah masyarakat, biasanya mereka yang masih
keturunan dari dukun. Masyarakat kelompok ini tidak sepenuhnya
meninggalkan syari’at islam, pada saat-saat tertentu merelaka menjalankan
syari’at islam seperti pada saat hari raya Idul fitri, seluruh mayarakat
berkumpul dalam mushola dan masjid untuk meramaikan dan
mengumandangkan takbir pada malam hari. Pada pagi hari seluruh kaum
laki-laki dari semua usia berbondong-bondong ke masjid untuk
menjalankan sholat Id bersama, walupun dalam kesehariaannya ia jarang
bahkan tidak pernah sholat. Dalam kehidupan sehari-hari golongan ini
dalam melakukan aktivias selalu diakitkan dengan hal-hal supranatural
yang masih berbau Hindu-Budha. Misalnya dalam pengasuhan bayi yang
baru lahir, dalam rumah yang terdapat bayi harus menaruh sepotong kayu
yang digaris selang-seling dengan menggunakan angus dan batu kapur.
Hal tersebut dilakukan untuk melindungi bayi dari gangguan roh-roh jahat
sehingga bayi akan tetap tenang dan tidak menangis.
2) Santri, yaitu golongan masyarakat Jawa yang taat beragama dan syari’at
Islam. Pada masyarakat desa Glagahwaru golongan ini dibedakan menjadi
dua yaitu Kiai dan orang awam. Kiai adalah mereka yang taat beragama
dan memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai ajaran agama Islam.
Sedangkan orang awam adalah mereka yang taat beragama atas ajaran dan
pengaruh dari Kiai.
3) Priyayi, yaitu golongan masyarakat Jawa bangsawan, atau pegawai
pemerintah seperti aparat desa, dan PNS dan kaum intelektual. Intelektual
disini yang memiliki pengetahuan mengenai ilmu umum.
Namun agak berbeda dengan Geertz, perbedaan tersebut yaitu pertama
dalam bidang kepercayaan, masyarkat desa Glagahwaru dapat masuk dalam
golongan ini, karenaa masyaraktnya masih tradisional sehingga ilmu kejawennya
masih kental dan melekat kuat dal diri masysrakat. Baik abangan, santri maupun
priyayi, mereka masih menjalankan ritual-ritual kejawen seperti yang dilakukan
pada acara nikahan, sunatan, kematian, dll. Hanya saja pada golongan santri dan
priyayi tidak dilakukan begitu kaku seperti yang dilakukan oleh golongan
Abangan. Jika abangan dan priyayi dalam Geertz sama dalam bidang
kepercayaan, pada masyarakat desa Glagahwaru golongan priyayi lebih
menggabungkan dua kepercayaan antara Islam kejawen dengan Islam puritan.
Pada golongan Santri, agama Islam yang dianut juga tidak murni Islam puritan,
mereka juga menyandingkan ajaran Islam dengan budaya-budaya lokal. Misalnya
dalam acara sedekah bumi, jika pada mayarakat kejawen sedeakah bumi dengan
membawa sajen dengan membacakan mantra-mantra jawa yang ditujukan untuk
roh-roh halus, nenek moyang dll, maka disini sesaji yang dibawa akan dibacakan
kalimat-kalimat thoyibah seperti tahlil dan do’a kepada Allah. Disini golongan
Santri yang akan memimpin do’a dan masyarakat lainnya yang akan mengamini.
Disini yang ikut serta bukan hanya golongan santri, namun seluruh golongan
masyarakat.
Kedua, dalam bidang pekerjaan. Sebagai daerah yang agraris hampir
seluruh mayarakat desa Glagahwaru berprofesi sebagai petani, jikalaupun
memiliki profesi lain itu hanya sebagai sampingan atau sebaliknya. Hal ini tentu
berbeda dengan pandangan Geertz yang mengatakan bahwa santri berprofesi
sebagai pedagang, abangan sebagai petani, dan priyayi dalam pemerintahan. Pada
mayarakat desa galagahwaru semua golongan tersebut berprofesi sebagia petani.
Jikalupun memiliki profesi lain maka itu hanya akan menjadi sampinagn saja,
misalnya Bapak Nur hasyim, ia adalah seorang Kiai yang berprofesi sebagai
petani, istrinya sebagai pedagang Buah dari hasil kebunnya, namun yang
dijadikan profesi utama adalah petani. Begitu juga dengan bapak Solikin, ia
adalah seorang kepala dusun, namun ia juga berprofesi sebagi petani karena gaji
dari jabatannya adalah bengkok sawah.
Ketiga dalam strata sosial, pada masyarakat desa Glagahwaru strata sosial
yang paling tinggi adalah golongan Santri. Hal ini tentu berbeda dengan
pandangan Geertz bahwa yang berada pada golongna tertinggi adalah priyayi.
Masyarakat desa glagahwaru akan lebih mengghormati golongan Santri, selain
dianggap sebagai ornag yang memiliki pengetahuan juga dianggap sebagai
“pemimpin umat” sehingga santri memiliki dua posisi penting dalam masyarakat.
Maksud “pemimpin umat” adalah sebagai contoh tauladan, penyelesai masalah,
pengambil keputusan dan mmbrikan pengajaran ilmu pengetahuan. Sedngkan
priyayi hanya sebagai pemimpin secara formal dan hanya membantu dalam
administrasi pemerintahan.
2. Karakteristik masyarakat Jawa Islam di desa Glagahwaru
Pada umumnya, masyarakat jawa yang beragama Islam memiliki prinsipprinsip yang diadopsi dari ajaran Islam dan budaya jawa. Tidak jauh berbeda pula
dengan masyarakat jawa islam di desa Glagahwaru, mereka juga memiliki
prinsip-prinsip tersebut. Berikut adalahh beberapa prinsip hidup orang jawa islam:
a) Prasojdo, yaitu sederhana dalam berpikir, dalam berbicara dan berperilaku.
Mayarakat memiliki prinsip hidup sederhana dan tidak menyombongkan
diri dalam seruluh aspek kehidupan, ketika berbicara mereka hanya
membicarakan hal penting dan bermnfaat. Sederhana dalam berfikir yang
dimaksudkan adalah mereka tidak memikirkan hal-hal yang dirasa riber
dan ruwet, mereka akan melakukan apa yang dirasa benar dan tidak
berfikir terlalu panjang akan hal tersebut.
b) Ora neko-neko: selalu mentaati nilai dan norma agama yang berkaku
dalam masyarakat. Masyarakat desa Glagahwaru tidak akan berbuat
macam-macam (yang melanggar nilai dan norma) atau hal-hal yang
dianggap aneh oleh masyarakat. Mereka hanya melakukan hal yang telah
menjadi kebiasaan dan hal yang dianggap baik selama ini. Seperti
masyarakat Jawa umumnya jika telah merasa nyaman pada suatu posisi,
mereka enggap untuk bergerak dan melakukan perubahan atau hal yang
berbeda dari kebiasaan. jika terdapat hal-hal baru yang masuk maka akan
dilihat dulu apakah sesuai dengan mereka atau tidak, jika sesuai mereka
akan menerimanya dengan terbuka. ora neko-noko disini juga dapat
diartikan sebagai hidup yang apa adanya tidak menuntut lebih, mereka
tetap mensyukuri apa yang diterima.
c)
Ora golek-molo: tidak membuat masalah, tetapi mencari
solusi atas permasalahan yang dihadapi. Mayarakat jawa yang tidak mau
riber dan ruwet, sederhana dalam berfikir dan menjunjjung tinggi nilai
kebersamaan dan kerukunan selalu menjahui masalah. Masyarakat akan
berusaha semaksimal mungkin untuk idak memiliki masalah, jika terdapat
masalah mereka harus segera menyelesaikannya dan selama itu pula
mereka harus merahasiakan masalah tersebut dari orang lain. Masalah bagi
orang Jawa merupakan suatu hal yang hina yang dapat merusak hubunagn
dalam suatu masyarakat, sehingga orang Jawa harus menghindarinya.
Disini ora goleh molo juga dapat dihubungkan dengan sikap ora nekoneko dimana masyarakat dilarang berduat yang aneh-aneh agar tidak
tertimpa masalah. Hal ini juga terkit dengan sikap orang Jawa tradisional
yang enggan bergerak dari kebiasaan dan posisi nyamannya.
Tidak semua masyarakat tidak memegang teguh dan menjalankan prinsipprinsip tersebut, terdapat beberapa kelompok yang mengingkari prinsip-prinsip
tersebut. Walupun demikian prinsip-prinsip tersebut adalah prinsip ideal
masyarakat jawa yang selalu dijunjung tinggi. jika terjadi sebuah penyimpangan
dalam prinsip-prinsip tersebut hukuman yang berlaku adalah hukum an sosial
seperti hujatan, hinaan, gosip, bahkan pengucilan.
Dari prinsip-prinsip tersebut diharapkan akan menumbuhkan sebuah
kepribadian sebagai berikut:
a) Andhap asor (rendah hati)
b) Penuh welas asih (bersimpati dan empati kepada orang lain)
c) Gemi, nastiti, ati-ati (berhati-hati dalam bertintak)
d) Hidup tekun dan sungguh-sungguh
e) Cerdas dan menata hidup yang baik
f) Hati-hati, ingat miskin pada waktu kaya, ingat sakit pada waktu sehat
C. Simpulan
Masyarakat Jawa islam di desa Glagahwaru dapat digolongkan menurut
Geertz, yaitu Abangan, Santri, dan Priyayi. Namun agak berbeda dengan Geertz,
masyarakat desa Glagahwaru yang berada pada posisi paling tinggi adalah
golongan Santri, semua profesi pada ketiga golongan adalah petani dan agama
yang dianut hampir sama dari pengaruh Kejawen namun santri tidak begitu kaku
dan diartikan hanya ditujukan kepada Allah. Semua prinsip hidup juga ditujukan
agar dapat selamat dunia akhirat.
Daftar pustaka
MH, Yana. Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa.Yogyakarta.Bintang
cemerlang.2012
Download