Sejarah ilmu Komunikasi

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era globalisasi ini, seiring dengan perkembangan teknologi yang terus meningkat
maka kebutuhan komunikasi pun ikut meningkat dan menjadi salah satu cabang
aspek yang tidak dapat di pisahkan. Guna meninjau aspek tersbut maka kita
mencoba untuk membuat sebuah karya tulis ilmiah yang berkenaan dengan
komunikasi. Dalam tulisan ilmiah ini kami akan membahas beberapa segi
komunikasi, di mulai dari sejarah ilmu komunikasi, perkembangan ilmu komunikasi,
hubungan ilmu komunikasi dengan bidang keilmuan lainnya, serta tokoh-tokoh yang
berperan penting dalam ilmu komunikasi.
Disamping itu kami menyusun makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata
kuliah pengantar ilmu komunikasi, yang ditugaskan oleh ibu dosen. selain itu
penyusunan makalah ini juga bertujuan untuk lebih memahami bagaimana sejarah
perkembangan ilmu komunikasi
1.2
Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah perkembangan Ilmu Komunikasi?
2. Bagaimana Hubungan Ilmu Komunikasi dengan Ilmu lainnya?
3. Siapa
komunikasi?
saja
tokoh-tokoh yang berperan
dalam Perkembangan
Ilmu
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1
Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi
Pengetahuan bukan merupakan ilmu. Terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi bagi
suatu pengetahuan yang kredibel, atau memenuhi syarat-syarat ilmiah antara lain harus
bersifat empiris, verivikatif, non-normatif, transmissible, general, dan explanotory. Di
samping itu ilmu juga harus menekankan aspek ontologi, epistomologi, dan aksiologi. Ia
harus bersifat ilmiah, sistematis, mempunyai metode, objek kajian, lokus, dan fokus
tertentu Dalam kaitannya dengan pemahaman ilmu di atas, ilmu komunikasi sering
mendapatkan keraguan dalam keberadaan dan keeksistensiannya sebagai ilmu di
tengah kemajuan teknologi informasi saat ini. Hal ini mungkin salah satunya disebabkan
perkembangan historis komunikasi menjadi sebuah ilmu melalui tahapan dimensi waktu
yang terlalu jauh (berdasarkan pemahaman catatan sejarah perkembangan ilmu
komunikasi di daratan Amerika).
Perkembangan komunikasi sebagai ilmu selalu dikaitkan dengan aktifitas retorika yang
terjadi di zaman Yunani kuno, sehingga menimbulkan pemahaman bagi pemikir-pemikir
barat bahwa perkembangan komunikasi pada zaman itu mengalami masa kegelapan
(dark ages) karena tidak berkembang di zaman Romawi kuno. Dan baru mulai dicatat
perkembangannya pada masa ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg (1457).
Sehingga masalah yang muncul adalah, rentang waktu antara perkembangan ilmu
komunikasi yang awalnya dikenal retorika pada masa Yunani kuno, sampai pada
pencatatan sejarah komunikasi pada masa pemikiran tokoh-tokoh pada abad 19,
sangat jauh. Sehingga sejarah perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri terputus kirakira 1400 tahun. Padahal menurut catatan lain, sebenarnya aktifitas retorika yang
dilakukan pada zaman Yunani kuno juga dilanjutkan perkembangan aktifitasnya pada
zaman pertengahan (masa persebaran agama). Sehingga menimbulkan asumsi bahwa
perkembangan komunikasi itu menjadi sebuah ilmu tidak pernah terputus, artinya tidak
ada mata rantai sejarah yang hilang pada perkembangan komunikasi. Makalah ini ingin
mengangkat zaman persebaran agama yang berlangsung antara rentang waktu
tersebut (zaman pertengahan) menjadi bagian dari perkembangan ilmu komunikasi.
Sehingga zaman pertengahan menjadi jembatan alur perkembangan komunikasi dari
zaman yunani kuno ke zaman renaissance, modern, dan kontemporer.
Pembahasan
Telah disinggung di atas bahwa fenomena komunikasi berkembang dan tercatat
kembali pada awal ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg (1457). Padahal, pada
abad-abad sebelumnya, aktifitas komunikasi sudah berkembang cukup pesat yang
berlangsung di zaman pertengahan (persebaran agama). Mungkin masa ketika
diketemukannya mesin cetak itu sendiri terjadi di zaman renaissance, dimana
pemikiran-pemikiran ilmuwan telah bebas dari dogma-dogma agama. Sehingga mereka
tidak menyinggung masa persebaran agama sebagai bagian dari sejarah
perkembangan komunikasi itu sendiri. Rentang waktu antara tahun 500 SM (masamasa pemikiran retorika di Yunani kuno) sampai pada penemuan mesin cetak (1457 M)
merupakan abad-abad dimana terdapat proses perkembangan komunikasi yang dalam
hal ini berbentuk ajaran dan keyakinan suatau agama (yang tentu pula tidak dapat
dipungkiri bahwa dalam aktifitas persebaran ajaran agama, retorika dan bentuk
komunikasi lainnya cenderung berperan besar dalam mengubah keyakinan seseorang).
Sehingga tidak menyalahi aturan kalau makalah ini mencoba mengangkat masa
penyebaran agama dan ajaran-ajaran bijak yang berlangsung antara rentang waktu
tersebut dijadikan sebagai bagian dari mata rantai sejarah yang hilang dari
perkembangan ilmu komunikasi itu.
Komunikasi di dunia Islam pun sebenarnya telah mengalami perkembangan yang
cukup signifikan. Sama seperti fenomena komunnikasi yang terjadi di zaman Isa Al
Masih, komunikasi Islam pun lebih berorientasi pada sistem dakwah yang berusaha
mengubah atau mempengaruhi alam pikiran seseorang untuk mengikuti syariat Islam.
Peradaban umat Islam dalam kaitannya dengan perkembangan komunikasi telah
mencatatkan sejarah yang cukup menakjubkan. Pada masa bani Umayah misalnya,
telah ditemukannya suatu cara pengamatan astronomi pada abad 7 M, 8 abad sebelum
Galileo Galilei dan Copernicus. Perhubungan antara Timur dan Barat selama perang
Salib (1100-1300 M ) sangat penting untuk perkembangan komunikasi ilmu
pengetahuan di Eropah. Karena pada waktu ekspansi, Arab telah mengambil alih
kebudayaan Byzantium, Persia, dan Spanyol, sehingga tingkat kebudayaan Islam jauh
lebih tinggi dari pada kebudayaan Eropah (Brower, 1982;41). Universitas Bagdad,
Damsyik, Beirut, dan Kairo menyimpan dan memberikan warisan ilmiah dari India,
Persia, Yunani, dan Byzantium, sehingga Eropah menerima warisan filsafat Yunani
melalui orang Arab yang terlebih dahulu mempelajarinya. Karena bangsa Arab telah
menterjemahkan karya-karya fisuf termasyur seperti Plato, Hipokrates dan Aristoteles.
Sekitar abad ke-14 pada zaman dinasti Yuan (1260-1368), pengaruh Islam ditandai
dengan peneliti di bidang astronomi pertama yang mendirikan observatorium, yaitu
Jamal Al-Din.
Perkembangan komunikasi dalam Islam yang lebih bersifat dakwah tadi tidak lepas dari
kaitannya sebagai bagian dari bentuk komunikasi, karena dalam bahasa arab, dakwah
berarti seruan, panggilan, atau ajakan. Menurut Salahuddin Sanusi, yang didefinisikan
oleh Al Ustadz Bahiyul Khuli dalam bukunya yang berjudul Tadzkiratud Du’at, dakwah
ialah suatu komunikasi yang ditimbulkan dari interaksi antar individu maupun kelompok
manusia yang bertujuan memindahkan umat dari suatu situasi yang negatif (zaman
jahiliyah) ke situasi yang positif. Pada zaman nabi Muhammad SAW (570 M-632 M),
penyebaran Islam berlangsung dalam waktu yang relatif singkat (8-9 M). Muhammad
melakukan dakwahnya ke Mekah pada tahun 610 M. Dalam tempo 25 tahun,
Muhammad beserta pengikutnya (yang disebut sebagai Muslim), mengambil alih
kekuasaan di kawasan Arab, dan Islam kemudian berkembang dengan sangat
pesatnya. Pada sekitar tahun 650 M, Arab, seluruh daerah timur tengah, serta Mesir
dikendalikan oleh orang-orang Islam, dan pada tahun 700 M, Islam mendominasi area
besar mulai dari daratan China dan India di timur sampai Afrika Utara dan Spanyol di
barat. Cepatnya perkembangan Islam bisa jadi merupakan dampak dari penggunaan
dakwah-dakwah yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam, seperti; dakwah yang berisi
tentang jihad fisabilillah, yaitu jaminan untuk masuk surga bagi mereka yang mati dalam
usahanya untuk memperjuangkan Islam. Artinya terdapat bentuk komunikasi yang
efektif sehingga dapat mempengaruhi keyakinan jutaan umat dalam waktu yang sangat
singkat.
komunikasi di awali dengan adanya perintah dari Allah kepada Nabi Muhammad untuk
memberikan peringatan (dalam hal ini berdakwah) kepada umnat manusia untuk
percaya kepada Allah. Awalnya komunikasi itu dilakukan secara diam-diam lalu
dilanjutkan secara terbuka seiring dari wahyu berikutnya yang memerintahkan Nabi
untuk berdakwah secara terang-terangan (Q.S Al-Hijr;94-95).
Dalam media tulisan, sebenarnya telah dirintis oleh Rasulullah, yaitu ketika beliau
mengirimkan surat yang isinya ajakan untuk memeluk Islam kepada para raja di
Eropah. Sebagai contoh, nabi pernah mengirimkan surat dakwah kepada raja Hiraqla
(raja di Roma Timur) yang bernama Hirakles, raja Habsyi yang bernama Najsyi, dan
lain-lain. Dalam setiap suratnya, selalu dibubuhi stempel yang terbuat dari perak yang
berukirkan tulisan “Muhammadurrasulullah”. Dengan contoh ini, maka Rasulullah telah
merintis sistem jurnalistik dalam melakukan komunikasi Islam sebagai bentuk dakwah.
Dalam perkembangannya, komunikasi telah sedemikian maju, contoh lain dalam hal
diskusi yang merupakan bagian dari bentuk komunikasi kelompok. Dalam berdakwah,
Rasulullah selalu melakukan komunikasi sebagai dakwah dengan metode yang tepat
dan apabila dicermati akan sangat relevan dengan metode diskusi saat ini. Dalam
dakwahnya, diskusi yang dilakukan pasti didasari hal-hal berikut: alasannya kuat
(hujjah), tutr kata yang arif dan bijak (uslub), dan adab sopan santun yang baik. Kembali
hubungannya de ngan pers sebagai bagian dari komunikasi, Islam telah merintis
perkembangan komunikasi itu sendiri, sekali lagi dalam bentuk dakwah. Misalnya turun
temurunnya hadits-hadits nabi dan sunnah Rasul. Sejarah telah mengungkapkan
kepada kita bahwa perkembangan dan kecemerlangan ajaran Islam telah menerobos
cakrawala abad dan zaman sera melewati negara-negara dan benua. Ini berkat para
jurnalis-jurnalis Islam seperti Syafi’i ’(yang mazhabnya mayoritas diadaptasi umat
muslim Indonesia), Malik Ahmad Hambali, Hanafi, Abu Dawud, dan sebagainya yang
tulisannya dalam bidang hukum fiqih. Bidang filsafat seperti Al Kindi, Al Farabi, Ibnu
Sina, Imam Ghazali, Jamaludin Al afgani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid
Ridla, dan lain-lain. Bidang kedokteran, Ibnu Sina telah menulis buku yang berisi
aturan-aturan dalam ilmu kedokteran yang banyak diadaptasi oleh ilmuwan-ilmuwan
dalam bidang kedokteran dewasa ini. Dari uraian ini, dapat dikatakan bahwa
sebenarnya peradaban Islam (dalam kaitannya sebagai jembatan penghubung sejarah
komunikasi) telah melanjutkan atau mewariskan komunikasi dari ajaran-ajaran Yunani
yang telah disinggung di atas, untuk kemudian baru diadaptasi oleh bangsa Eropa dan
seterusnya Amerika (sebagai dampak dari intellectual migration dari daratan Eropah ke
utara benua Amerika pada masa Hitler).
2.1.1 Perkembangan Ilmu Komunikasi di Beberapa Negara
1. Perkembangan di Eropa.
Suratkabar sebagai studi ilmiah mulai menarik perhatian pada tahun 1884. studi tentang
pers muncul dengan nama Zaitungskunde di Universitas Bazel (swiss, dan delapan
tahun kemudian (1892) muncul juga di Universitas Leipzig di Jerman. Kehadiran
pengetahuan persuratkabaran ini semakin menarik perhatian ilmuwan. Pakar sosiologi,
Max Weber, pada Konggres Sosiologi (1910) mengusulkan agar sosiologi pers
dimasukkan sebagai proyek pengkajian sosiologi di samping sosiologi organisasi.
Weber pun telah meletakkan dasar-dasar ilmiah bagi pengkajian pers sebagai studi
akademik. Sepuluh tahuan kemudian pakar sosiologi lainnya, Ferdinant Tonnies,
mengkaji sifat pendapat umum dalam masyarakat massa. Dalam hubungan antara pers
dan pendapat umum itulah kemudian yang menaikkan gengsi suratkabar menjadi ilmu
dengan nama Zaitungswissenschaft (ilmu suratkabar) pada tahun 1925. dengan
demikian persuartkabaran tidak tidak lagi dipandang sebagai keterampilan belaka
(Zaitungskunde), melainkan telah tumbuh sebagai suatu disiplin ilmu.
Munculnya radio dan film pada awal abad ke-20 membuka pengkajian baru yang lebih
luas daripada suratkabar. Demikian pula dengan berkembangnya kajian mengenai
pendapat umum dan kajian retorika, semakin meluaskan disiplin ilmu ini, sehingga tidak
dapat lagi ditampung dalam oleh Zaitungswissenschaft. Untuk itu pada tahun 1930
Walter Hagemann mengusulkan dan memperkenalkan nama Publizistik sebagai suatu
disiplin ilmu yang mencakup bukan saja suratkabar, tetapi juga radio, film, retorika, dan
pendapat umum. Menurut Hagemann, Publisistik adalah ilmu tentang isi kesadaran
yang umum dan aktual.
Dalam perkembangan selanjutnya Publisistik semakin mendapat pengakuan sebagai
salah-satu disiplin ilmu dalam ilmu sosial. Obyek penelitiannya bukan lagi suratkabar
melainkan offentiche aussage (pernyataan umum). Kemudian Emil Dofivat menyebut
publisistik sebagai segala upaya menggerakkan dan membimbing tingkah laku
khalayak secara rohaniah. Dengan demikian publisistik diakui sebagai suatu kekuatan
yang dapat mengendalikan tingkah-laku manusia dan mewarnai perkembangan
sejarahnya.
2. Perkembangan di Amerika.
Ilmu komunikasi massa berkembang di Amerika Serikat melalui jurnalistik. Sebagai
sutau keterampilan mengenai suratkabar, jurnalistik, sudah mulai dikenal sejak tahun
1970. Namun sebagai pengetahuan yang diajarkan di universitas, barulah mulai dirintis
oleh Robert Leo di Washington College pada tahun 1870. pada waktu ini jurnalistik
belum mendapat penghargaan ilmuwan, karena diajarkan hanyalah hal-hal yang
bersifat teknis. Namun setelah Bleyer memasukkan Jurnalistik sebagai minor program
Ilmu Sosial di Universitas Wisconsin tahun 1930-an, mulailah jurnalistik berkembang
sebagai suatu disiplin ilmu. Hal ini lebih berkembang lagi setelah Perang Dunia II,
karena semakin pakar dari disiplin sosiologi, politik dan psikologi yang melakukan
pengkajian berbagai aspek dari suratkabar, radio, film dan televisi. Pada masa ini para
pakar tersebut semakin merasa bahwa jurnalistik tidak lagi mampu menampung
berbagai pengkajian yang telah mereka lakukan, sehingga perlu memberi nama yang
lebih sesuai yaitu ilmu Komunikasi Massa, sehingga obyek kajiannya tidak hanya
mengenai suratkabar, melainkan mencakup juga radio, film dan televisi. Keempat
media itu disebut media massa. Tokoh-tokoh utama dalam periode ini antara lain
Harold D. Laswell, Carl I. Hovland, Paul Lazarsfeld dan Ithiel de Sola Pool. Dasar ilmiah
ilmu ini semakin kokoh, dan metodoginya semakin disempurnakan.
Perkembangan ke arah lahirnya ilmu komunikasi dimulai tahun 1950-an. Para ilmuwan
sosiologi, politik, dan komunikasi massa mengembangkan studi mengenai
pembangunan, terutama ditujukan pada negara-negara yang baru merdeka setelah
Perang Dunia II. Hal ini dimaksudkan untuk membantu negara-negara tersebut
melakukan pembangunan dan perubahan berencana terutama di bidang ekonomi,
sosial dan politik. Berkembangnya studi tentang pembangunan ini seperti sosiologi
pembangunan, ekonomi pembangunan, pembangunan politik, dan komunikasi
pembangunan, menimbulkan kesadaran bagi para ilmuwan tersebut bahwa ilmu
komunikasi massa, dirasa semakin tidak mampu menampung kegiatan ini, sehingga
perlu diperluas menjadi ilmu komunikasi saja (massanya dihilangkan). Dengan
demikian kajiannya tidak hanya menyangkut media massa saja, tetapi sudah mencakup
komunikasi sosial seperti penyuluhan, ceramah dan retorika. Hal ini lebih diperkuat lagi
oleh berbagai studi yang menemukan bahwa yang lebih berperan dalan proses
perubahan dalam masyarakat terutama dalam penyebaran gagasan baru dan teknologi
baru , justru bukan media massa, melainkan komunikasi tatap muka (persona).
Tokoh utama yang telah membawa ilmu komunikasi massa menjadi ilmu komunikasi
adalah Wilbur Schramm. Ia adalah seorang sarjana bahasa Inggris yang tertarik kepada
kajian komunikasi, karena memimpin sebuah University Press. Schramm yang
kemudian memimpin Departemen Komunikasi Massa di Universitas Iowa, dan
memimpin penelitian komunikasi di Stanford dan East West Center. Tokoh lainnya
adalah Daniel Lerner, dan Everet M. Rogers.
3. Perkembangan di Indonesia.
Kajian ilmu komunikasi di tanah air dimulai dengan nama Publisistik, dengan dibukanya
jurusab Publisistik di Fakultas Sosial dan Politik di Universitas gajah mada pada tahun
1950. Juga di Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat di Universitas
Indonesia pada tahun 1959. Demikian juga pada tahun 1960 di Universitas Pajajaran
Bandung dibuka Fakultas Jurnalistik dan Publisistik. Melalui proses yang panjang
lahirlah Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 107/82 tahun 1982. Keppres ini
membawa penyeragaman nama disiplin ilmu ini menjadi ilmu komunikasi.
Beberapa tokoh yang telah berjasa memasukkan ilmu komunikasi ke Indonesia dan
kemudian mengembangkannya di Universitas antara lain: Drs. Marbangun, Sundoro,
Prof. Sujono Hadinoto, Adinegoro, dan Prof. Dr. Mustopo. Pada tahun 1960-an, deretan
tokoh ini bertambah lagi dengan datangnya dua orang pakar dalam bidang kajian ilmu
komunikasi, yaitu Dr. Phil. Astrid S. Susdanto dari Jerman Barat (1964); dan Dr. M. Alwi
Dahlan (beliau secara langsung diajar oleh Wilbur Schramm) dari Amerika Serikat
(1967).
2.1.2 Obyek Kajian Ilmu Komunikasi.
Berangkat dari paparan di atas, obyek studi ilmu komunikasi dengan sendirinya bukan
hanya surat kabar (ilmu pers/jurnalistik), bukan pula hanya media massa (ilmu
komunikasi massa), atau pernyataan umum (publisistik) melainkan komunikasi atau
pernyataan antar manusia.
Harold D. Laswell (1948) dengan paradigmanya ”Who says what in which channel to
whom with what effect” menyatakan bahwa obyek kajian komunikasi berupa:

Analisis sumber (komunikator)

Analisis isi (pesan)

Analisis media (saluran)

Analisis khalayak (komunikan)

Analisis efek (dampak).
Lebih mendalam, Garbner (1976) dalam Studies In Mass Comunication, The Anneberg
School Of Communications, meyakini bahwa obyek kajian ilmu komunikasi meliputi:
Seseorang (komunikator dan komunikan); Persepsi; Reaksi (efek dan efektivitas);
Situasi (politik, ekonomi, dan lain-lain); Sarana (media, saluran dan fasilitas); Material
(administrasi); Bentuk (struktur, gaya dan pola); Konteks; Isi (makna pesan);
danKonsekuensi ((perubahan menyeluruh).
2.2
Hubungan Ilmu Komunikasi dengan Ilmu Lain
Sebelum berdiri sendiri sebagai suatu disiplin dalam kelompok sosial, maka sesuai latar
belakang sejarahnya, embrio ilmu komunikasi dipelajari sebagai bagian dari sosiologi di
Jerman dan tercakup dalam departemen bahasa Inggris di Amerika. Sudah menjadi
nasib bahwa ilmu ini dikembangkan dan diperjuangkan oleh pakar dari disiplin lain,
bahkan dasar-dasarnya sebagai kajian ilmiah dan metodologinya berasal dari berbagai
disiplin ilmu.
Sejak awal hingga kini, memang banyak ilmuwan dari berbagai disiplin telah
memberikan sumbangan kepada ilmu komunikasi. Antara lain Harold D. Lasswell (ilmu
Politik), Max Weber, Daniel Lehner, Everet M. Rogers (Sosiologi), Carl I. Hovland, Paul
Lazarsfeld (Psikologi), Wilburn Schramm (Bahasa), Shannon dan Weaver (Matematika
dan Teknik). Keterlibatan berbagai disiplin ilmu dalam membesarkan ilmu komunikasi
ini dimaknai oleh Fisher (1986) bahwa ilmu komunikasi mencakup semua dan bersifat
sangat eklektif (menggabungkan berbagai bidan
2.2.1 HUBUNGAN SOSIOLOGI DENGAN KOMUNIKASI
Kalau kita perhatikan hubungan sosiologi dengan komunikasi sangat erat sekali
keterkaitannya. Bayangkan saja jika dalam ilmu sosiologi tidak mengenal adanya ilmu
komunikasi pasti akan mempersulit laju perkembangan suatu perubahan yang kita
inginkan. Jadi secara tidak langsung hubungan komunikasi dengan sosiologi sangat
besar keterkaitannya, jika dalam sosiologi tidak ada komunikasi maka akan
memperlambat laju perubahan' dan jika dalam komunikasi tidak menggunakan kaidahkaidah sosiologi maka di dalam komunikasi bisa dapat terjadilah suatu konflik.
Yang saya maksud di sini begini: dalam sosiologi sebelum terjadinya sebuah
komunikasi terlebih dahulu harus ada atau terjadinya kontak sosial setelah terjadinya
kontak sosial baru terciptalah komunikasi (di sinilah letak hubungannya). Nah setelah
terjadi sebuah komunikasi secara otomatis terciptalah sebuah interaksi antar individu
karena adanya interaksi antar individu maka munculah ide-ide baru atau gagasangagasan baru. Dengan munculnya ide-ide baru dan gagasan-hgagasan baru secara
otomatis akan timbual perubahan di dalam masyarakat tersebut atas ide-ide dan
gagasan baru tadi. Dan ide-ide atau gagasan tersebut bisa berupa perubahan pola
kebudayaan, pola perekonomian, pola kemasyarakatan dan lain sebagainya.
Jadi intinya Hubungan sosiologi dengan komunikasi itu sangat terkait erat dan saling
menopang terutama bagi kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sosiologi di sini
berperan sebagai alat atau cara penerapan tingkah laku sebelum terjadinya komunikasi
antar individu, individu dan masyarakat, masyarakat dengan masyarakat. Dan
komunikasi di sini berperan sebagai Trik atau cara menaklukkan lawan (masyarakat)
karena dengan adanya sebuah komunikasi maka sekeras apapun masyarakat tersebut
dapat di taklukan dengan komunikasi.
2.2.2 ANTROPOLOGI SEBAGAI LANDASAN ILMU KOMUNIKASI
Antropologi dikatakan sebagai salah satu akar atau landasan lahirnya ilmu komunikasi.
Seiring dengan perkembangan antropolgi tersebutlah akhirnya para ahli budaya melihat
jika dalam budaya juga sangat tergantung pada komunikasi. Hal inilah yang kemudian
dikaji mengenai proses dari komunikasi tersebut sehingga lahirlah ilmu komunikasi dari
antroplogi. Namun untuk lebih jelasnya mengenai keterkaitan tersebut sebaiknya kita
terlebih dahulu melihat menganai antopologi dan komunikasi itu sendiri.
Kebudayaan adalah komunikasi simbolis, simbolisme
kelompok, pengetahuan, sikap, nilai, dan motif. Makna dari
dan disebarluaskan dalam masyarakat melalui institusi.
(1994), kebudayaan itu meliputi semua aspek kehidupan
itu adalah keterampilan
simbol-simbol itu dipelajari
Menurut Levo-Henriksson
kita setiap hari, terutama
pandangan hidup – apapun bentuknya – baik itu mitos maupun sistem nilai dalam
masyarakat. Ross (1986,hlm 155) melihat kebudayaan sebagai sistem gaya hidup dan
ia merupakan faktor utama (common domitor) bagi pembentukan gaya hidup (Alo
Liliweri, 2003,8-9.
Peradaban Romawi dan Yunani menjadi dasar bagi antropologi terutama yang
berkaitan dengan maslah estetika, etika, metafisika, logam dan sejarah. Mempelajari
antropologi dapat dilihat dari segi sejarah harus didasarkan pada orientasi humanistic,
sejarah dan ilmu alam, karena perbedaan kondisi iklim dan keadaan permukaan tanah
akan membawa peradaban keaadaan fisik, karakteristik dan konstitusi suatu
masyarakat yang berbeda (Hipocrates 1962: 135). Memformulasikan tradisi filosofis dan
tradisi
keilmuan
akan
memberikan
proposisi-proposisi
sebagai
berikut;
1. Segala sesuatu itu mempunyai sebuah bentuk yang menentukan maksud dari bentuk
tersebut
2. Semua hal yang ada dalam suatu Negara akan mengalami perubahan secara terus
menerus; perubahan tersebut akan berkisar antara integrasi dan disintegrasi
3. Setiap bentuk merupakan sebuah struktur yang setiap bagiannya tersusun secara
berbeda-beda tergantung dari kepentingannya
4. Desain setiap bagian memberikan sumbangan pada keseluruhan sistem sosial
melalui aktualisasi
5. Dalam setiap sistem terjadi penyaringan untuk membuat keseimbangan dalam setiap
bagian sistem.
6. Perubahan yang terjadi pada salah satu bagian system akan menganggu aktivitas
dan akan mengakibatkan ketidak harmonisan dalam sistem tersebut.
7. Perubahan secara besar-besaran merupakan hasil modifikasi internal dari suatu
bagian yang sedang diperluas dan kemudian dikontrol dengan membangun kembali
harmosisasi dalam sistem.
Budaya sebagai konsep sentral. Linton (1945:32) memberikan definisi budaya secara
spesifik, yaitu, budaya merupakan konfigurasi dari prilaku manusia dari elemen-elemen
yang ditransformasikan oleh anggota masyarakat. Budaya secara umum telah dianggap
sebagai milik manusia, dan digunakan sebagai alat komunikasi sosial di mana
didalamnya terdapat proses peniruan. Selanjutnya konsep budaya telah menuntun para
pakar etnologi Amerika dan Jerman kedalam suatu bentuk teoritik. Setelah RadcliffeBrown (1965:5) para ilmuan antropologi sosial Prancis dan Inggris cenderung untuk
membedakan konsep budaya dan sosial dan cenderung membatasi kedua konsep
tersebut pada cara belajar berfikir, merasa, dan bertindak, yang merupakan dari proses
sosial.
Setiap praktik komunikasi pada dasarnya adalah suatu representasi budaya, atau
tepatnya suatu peta atas suatu relitas (budaya) yang sangat rumit. Komunikasi dan
budaya adalah dua entitas tak terpisahkan, sebagaimana dikatakan Edward T. Hall,
“budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Begitu kita mulai berbicara
tentang komunikasi, tak terhindarkan, kita pun berbicara tentang budaya (Deddy
Mulyana, 2004 :14).
Gatewood menjawab bahwa kebudayaan yang meliputi seluruh kemanusian itu sangat
banyak, dan hal tersebut meliputi seluruh periode waktu dan tempat. Artinya kalau
komunikasi itu merupakan bentuk, metode, teknik, proses sosial dari kehidupan
manusia yang membudaya, maka komunikasi adalah sarana bagi transmisi kebudayan,
oleh karena itu kebudayaan itu sendiri merupakan komunikasi. Berdasarkan pendapat
Gatewood itu kita akan berhadapan dengan pernyataan klasik tentang hubungan antara
komunikasi dengan kebudayaa, apakah komunikasi dalam kebudayaan atau
kebudayaan ada dalam komunikasi? ada satu jawaban netral yang disampaikan oleh
Smith (1976) bahwa; “komunikasi dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan”. Dalam
tema atau bagian uraian tentang kebudayaan dan komunikasi, sekurangnya-kurangnya
ada dua jawaban: pertama, dalam kebudayaan ada sistem dan dinamika yang
mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi, dan kedua, hanya dengan
komunikasi maka pertukaran simbol-simbol dapat dilakukan dan kebuadayaan hanya
akan eksis jika ada komunikasi (Alo Leliweri, 2004, 21).
2.2.3 Psikologi dan Komunikasi
Psikologi dan komunikasi sebenarnya merupakan dua kajian ilmu yang berbeda.
Psikologi mempelajari tentang karakteristik dan kejiwaan manusia, sedangkan
komunikasi mempelajari proses penyampaian informasi antar manusia. Baik
mahasiswa psikologi maupun komunikasi pasti mendapatkan mata kuliah psikologi
komunikasi, terutama pada semester-semester awal. Ada hubungan apa diantara
psikologi dan komunikasi? Mengapa kedua ilmu tersebut selalu dikaitkan? Ikuti terus
tulisan ini
Percaya atau tidak, ilmu komunikasi sebenarnya dikembangkan oleh para ahli psikologi.
Kurt Lewin, Paul Lazarsfeld, dan Carl I. Hovland merupakan para ahli psikologi yang
kemudian mengembangkan ilmu komunikasi. Tak heran kan jika banyak definisi-definisi
komunikasi yang terpengaruhi oleh unsur psikologi. Misalnya definisi Hovland, Janis,
dan Kelly yang menyebutkan bahwa “Komunikasi ada sebuah proses dimana
seseorang mengirimkan pesan (biasanya ucapan) untuk merubah kebiasaan orang lain
(pendengar)”. Dengan kata lain, komunikasi dapat merubah karakteristik, kebiasaan,
kejiwaan, bahkan perasaan orang lain lho
Pernah dengar kalimat ini, psikologi mempengaruhi komunikasi dan komunikasi
mempengaruhi psikologi? Kalimat tersebut pasti udah ga asing lagi di telinga para
mahasiswa komunikasi dan psikologi. Well, kita baha satu-satu ya .
Psikologi mempengaruhi komunikasi tentunya dapat kita pahami dengan mudah.
Kondisi seseorang yang sedang senang, sedih, atau marah pastinya akan
mempengaruhi tindakan komunikasinya. Gak mungkin kan orang yang sedang marah
bisa tersenyum bahagia apalagi tertawa gembira, nanti malah disebut orang gila. Begitu
juga dengan orang yang cenderung pendiam, pemarah, atau cerewet, kegiatan
komunikasinya pasti berbeda-beda. Orang yang pendiam akan cenderung menutup diri
dan jarang berbicara, orang pemarah akan terkesan ketus saat berbicara, dan orang
yang cerewet akan senang berbicara tentang apapun, kapanpun, kepada siapapun,
bahkan tentang hal yang gak penting sekalipun.
Komunikasi mempengaruhi psikologi dapat kita lihat pada kasus Genie di California
pada tahun 1970. Sejak kecil, Genie hampir tidak pernah berkomunikasi. Sepanjang
hari ia diikat oleh ayahnya di sebuah kursi dan tidak pernah diajak berbicara. Tiap kali
Genie menangis, maka si ayah akan memukulinya. Sepanjang hidup, Genie hampir
tidak pernah berbicara dan mendengar orang lain bercakap-cakap. Jangankan untuk
mengutarakan perasaan, untuk mengerti perkataan orang lainpun ia tidak mampu.
Akibatnya Genie tumbuh menjadi seseorang yang autis dan mengalami gangguan
kejiwaan. Dari kasus Genie dapat kita lihat, bahwa komunikasi adalah sesuatu yang
sangat penting dalam perkembangan kepribadian manusia. Baik ataupun buruk
komunikasi yang dilakukan seseorang akan mempengaruhi sisi psikologisnya.
Sekarang terlihat kan hubungan antara komunikasi dengan psikologi? Kedua bidang
ilmu tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Karakter kita akan mempengaruhi
kegiatan komunikasi yang kita lakukan, begitu juga sebaliknya. Jadi, yuk kita
berkomunikasi! Katakan perasaanmu dan bentuk kepribadianmu
2.2.4 Ilmu Politik dan Komunikasi
Istilah politik telah lama dikenal. Bahkan beberapa ahli yang menyatakan bahwa politik
sama tuanya dengan peradaban manusia. Aristoteles juga pernah menyatakan bahwa
manusia adalah zoon politicon atau makhluk yang berpolitik. Kata kunci penting dalam
kajian politik adalah kekuasaan. Dapat dikatakan bahwa unsur utama dalam
pembahasan politik adalah apa dan bagaimana manusia mengelola kekuasaan.
Perspektif dasar dalam pembahasan tentang politik adalah usaha untuk mendapatkan,
memanfaatkan, mendistribusikan, mengimplementasikan dan mempertahankan
kekuasaan kepada manusia yang lain. Politik adalah siapa memperoleh apa, kapan dan
bagaimana kekuasaan itu sendiri (mengutip Lasswell). Politik adalah proses dan
aktivitas sosial manusia untuk mengatur tindakan manusia.
Ilmu politik adalah kajian sistematik, metodis dan rasional yang ingin memahami dan
menjelaskan proses-kegiatan serta tindakan individu atau kelompok dalam
mendapatkan,
memanfaatkan,
mendistribusikan,
mengimplementasikan
dan
mempertahankan kekuasaan yang ada. Ilmu ini mau menjelaskan prinsip-prinsip dasar
dan bagaimana proses serta tindakan politik bisa dilakukan dalam kehidupan sosial.
Proses politik sebagai pola interaksi yang berganda, setara, bekerja sama, dan
bersaingan yang menghubungkan warga negara partisipan yang aktif dalam posisi
utama pembuat keputusan.
Ilmu politik sendiri mempunyai empat cabang utama, terutama yang sampai
berkembang. Empat cabang tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama adalah filsafat politik. Cabang pertama ini merupakan kajian ilmu politik yang
berfokus pada pertanyaan-pertanyaan normatif dalam tindakan politik. Perspektif
dasarnya adalah hakikat mendasar dari sebuah proses dan kegiatan politik.
Kedua adalah hubungan internasional. Cabang kedua ilmu politik ini adalah cabang
yang mengkaji prinsip dasar dan eksplanasi kompleksitas tatanan dan relasi
internasional. Perspektif dasar hubungan internasional adalah proses hubungan yang
bersifat internasional. Sifat hubungan ini yang berakibat bahwa hubungan tersebut tidak
lagi sederhana tapi penuh dengan kerumitan-kerumitan sendiri.
Ketiga adalah ilmu perbandingan politik. Ilmu perbandingan politik adalah kajian yang
mau mengambarkan, menjelaskan dan menganalisa ragam sistem dan proses politik
dari sekian banyak negara yang ada di dunia ini.
Keempat adalah ilmu politik dalam negeri atau lokal. Ilmu ini mengkaji keberadaan dan
keunikan dari proses politik lokal yang ada dan berkembang sampai sekarang.
Sementara ilmu politik terapan yang berkembang sekarang seperti: politik kemiliteran,
politik gender, politik etnis dan sebagainya lebih mau memperlihatkan bahwa ilmu politik
sendiri pada dasarnya ilmu yang terbuka untuk berdialog dengan disiplin ilmu yang lain.
Perspektif politik terhadap komunikasi lebih mendasarkan pada asumsi bahwa politik
adalah sebuah proses. Politik melibatkan komunikasi. Proses komunikasi dalam ruang
lingkup politik menempati posisi yang penting. Setiap sistem politik, sosialisasi dan
perekrutan politik, kelompok-kelompok kepentingan, penguasa, peraturan, dan
sebagainya dianggap bermuatan komunikasi. Dengan kata lain, sejauh mana proses
politik menentukan struktur dan pola komunikasi yang tumbuh dalam masyarakat.
Perspektif ilmu komunikasi terhadap politik. Kerangka yang mengekspresikan atau
menyatakan pesan politik tentunya melalui proses komunikasi. Dalam arti tertentu,
politik berada dalam domain komunikasi. Proses komunikasi akan menentukan struktur,
efektivitas, proses dan aktivitas politik yang ada. Atau dengan kata lain, sejauh mana
komunikasi menentukan proses pencarian, mempertahankan dan mendistribusikan pola
kekuasaan dalam masyarakat.
Dalam proses politik, komunikasi menjadi alat atau media yang mampu mengalirkan
pesan politik (tuntutan dan dukungan) ke kekuasaan untuk diproses. Dalam suatu
sistem politik yang demokratis, terdapat subsistem suprastruktur politik (lembaga
eksekutif, legislatif, yudikatif) dan subsistem infrastruktur politik (partai politik, organisasi
kemasyarakatan, kelompok kepentingan) –nya. Proses politik berkenaan dengan
proses input dan output sistem politik. Dalam model komunikasi politik, dijelaskan
bahwa komunikasi politik model input merupakan proses opini berupa gagasan,
tuntutan, kritikan, dukungan mengenai suatu isu-isu aktual yang datang dari
infrastruktur ditujukan kepada suprastruktur politiknya untuk diproses menjadi suatu
keputusan politik (berupa undang-undang, peraturan pemerintah, surat keputusan, dan
sebagainya). Sedangkan komunikasi politik model output adalah proses penyampaian
atau sosialisasi keputusan-keputusan politik dari suprastruktur politik kepada
infrastruktur politik dalam suatu sistem politik.
Dapat dikatakan bahwa ilmu politik merupakan salah satu akar pertama pengembangan
ilmu komunikasi. Lasswell sendiri merupakan pakar politik Dapat dikatakan bahwa yang
berkembang sebelum disiplin ilmu komunikasi mulai bertumbuh justru komunikasi
politik.
2.2.5 Hubungan Ilmu Dakwah Dengan Ilmu Komunikasi
Kedua ilmu tersebut memiliki hubungan yang sangat erat, ini dapat dipahami dari
kontek dua ilmu tersebut. Dimana ilmu didefinisikan sebagai upaya mengajak manusia
supaya masuk ke dalam jalan Allah secara menyeluruh (kaffah), baik dengan lisan,
tulisan maupun perbuatan sebagai ikhtiar muslim mewujudkan Islam menjadi kenyataan
kehidupan pribadi, Usrah (kelompok), jama’ah dan ummah. Sedangkan ilmu
Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia baik individu maupun
kelompok.
Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak disadari komunikasi adalah bagian dari
kehidupan manusia itu sendiri, paling tidak sejak ia dilahirkan sudah berkomunikasi
dengan lingkungannya. Gerak dan tangis yang pertama pada saat ia dilahirkan adalah
tanda komunikasi (Widjaja, A.W.. 2000. Ilmu Komunikasi. Jakarta: Penerbit Rineka
Cipta).
Dari pengertian di atas, secara singkat dapat diambil kesimpulan bahwa dakwah adalah
kegiatan untuk mengkomunikasikan kebenaran ilahiah (agama Islam) yang diyakininya
kepada pihak lain. Komunikasi ajaran itu dilakukan sebagai upaya mempengaruhi orang
lain agar mereka bersikap dan bertingkah-laku Islami.
Sementara itu, komunikasi adalah aktivitas pengiriman dan penerimaan pesan yang
dilakukan oleh seseorang atau lebih, dan berlangsung dalam sebuah konteks, dan
mengharapkan adanya efek. Komunikasi juga merupakan suatu transaksi, proses
simbolik yang memungkinkan setiap individu berhubungan satu sama lain dan saling
mengatur lingkungannya. Ada beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan dengan
komunikasi, seperti memantapkan hubungan kemanusiaan, memperteguh sikap dan
perilaku orang lain, maupun mengubah sikap dan perilaku orang lain.
Dengan demikian jelas bahwa ilmu dakwah dengan ilmu komunikasi ada hubungan dan
kaitan. Dimana jika dilihat dari segi proses, dakwah tiada lain adalah komunikasi ajaran
Islam, di mana da’i menyampaikan pesan ajaran Islam melalui lambang-lambang
kepada mad’u, dan mad’u menerima pesan itu, mengolahnya dan kemudian
meresponnya. Dalam prosesnya terjadi transmisi pesan oleh da’i dan interpretasi pesan
oleh mad’u (objek dakwah). Proses transmisi dan interpretasi tersebut tentunya
mengharapkan terjadinya effects berupa perubahan kepercayaan, sikap dan tingkahlaku mad’u ke arah yang lebih baik, lebih Islami.
2.3
TOKOH-TOKOH KOMUNIKASI
Claude Shannon Shannon lahir tahun 1916 di kota kecil Petosky, Michigan. Sejak kecil
Shannon telah dikenalkan ayahnya pada benda-benda elekotronika, seperti radio.
Shannon amat maju dalam memahami ilmu pengetahuan dan matematika. Shannon
mengambil dua bidang pendidikan pada tingkat sarjana di Universitas Michigan;
Jurusan Teknik Elektronika dan Matematika. Pada usia 21 tahun tepatnya tahun 1936
Shannon mengambil Master di MIT dan telah menjadi asisten peneliti Vannevar Bush.
Shannon menyelesaikan program doktornya pada jurusan Matematika di MIT tahun
1940. Teori Informasi Shannon pertama kali dipublikasikan tahun 1948 melalui Bell
System Technical Journal. Sumbangsihnya terhadap komunikasi berupa teori informasi
dengan model matematikanya.
David K. Berlo Berlo lahir tahun 1929. Ia merupakan salah satu mahasiswa generasi
pertama di Program Doktor Komunikasi di bawah kepemimpinan Wilbur Schramm di
Illinois. Berlo dikenal juga sebagai penemu program komuniaksi di Universitas Michigan
yang banyak melahirkan doktor komunikasi. Berlo merupakan penulis buku teks
komunikasi yang terkenal, The Process of Communication (1960). Buku ini
mengajarkan model komunikasi SMCR; Source-Message-Channel-Receiver. Berlo
mendasarkan rumusannya pada model komuniaksi yang dirumuskan Shannon, yaitu
teori informasi dengan model matematikanya. Berlo menjadi mahasiswa program doktor
yang dipimpin Wilbur Schramm di Illinois tahun 1953. Sebelumnya Berlo adalah
mahasiswa Jurusan Matematika di Universitas Missouri. Berlo kelak menjadi pimpinan
di fakultas komunikasi yang dibuka di Universitas Michigan.
Theodore Newcomb.
Berbeda dengan model Shannon, Newcomb menekankan pada komunikasi sosial atau
komunikasi antarpribadi. Pendekatan Newcomb memperhatikan arti penting peran
komunikasi dalam kehidupan sosial, yakni peran komunikasi dalam membangun
keseimbangan pada sistem sosial. Model Newcomb dikenal sebagai Model ABX.
J. Habermas Juergen.
Habermas merupakan filsuf dan ahli teori sosial dari Jerman. Habermas menawarkan
pendekatan yang rasional dalam menentukan hal yang baik dan yang salah. Habermas
merupakan tokoh kontemporer dari Frankurt School yang melahirkan Theory of
Universal Pragmatics dan The Transformation of Society. Habermas juga terkenal
dengan Technological Determinism-nya, yaitu pendekatan yang menyatakan bahwa
teknologi adalah salah satu faktor terpenting penyebab perubahan sosial.
Carl
Hovland
Hovland lahir di Chicago, 12 Juni 1912. Memasuki Universitas Nothwestern sampai
tingkat master. Ia melanjutkan ke program doktor pada Program Psikologi di Universitas
Yale karena tertarik pada Clark Hull, seorang akademisi yang beraliran behaviorisme.
Kepribadian Hovland sangat menarik. Dia seorang pendengar yang baik, pendiam, dan
sedikit
berbicara,
tetapi
dengan
kemampuan
luar
biasa
Hovland diakui sangat jenius dan produktif. Dia dapat melakukan pekerjaan yang
kompleks sekaligus, seperti mengedit naskah, berbicara lewat telepon, dan memasang
slide. Pendekatan Hovland seringkali cenderung elektik yakni memakai banyak
pendekatan daripada satu perspektif. Ujung karier Hovland adalah ketika dia diketahui
menderita kanker dan meninggal. Hovland sebagaimana Laswell merupakan staff
pengajar di Yale University yang tergolong universitas elit di Amerika. Penelitian
Hovland tentang persuasi secara tidak langsung banyak dipengaruhi oleh teori-teori
yang dikembangkan Freud. Hovland dikenal dengan penelitian-penelitian tentang
persuasi dengan metode eksperimen. Karya penelitian Hovland diantaranya adalah
tentang dampak film bagi pembangunan moral prajurit dalam manghadapi Perang
Dunia II.
Robert K. Merton
Merton lahir sebagai anak imigran dari sebuah daerah kumuh di Philadelphia Utara.
Merton memperoleh gelar BA dari Universitas Temple pada Program Sosiologi. Selama
3 tahun Merton mengajar kemudian menjadi associate professor, selanjutnya menjadi
profesor serta pimpinan pada Departemen Sosiologi di Tulane University hingga
dipanggil
Universitas
Colombia
pada
tahun
1941
. Melalui tulisannya di tahun 1938 yang berjudul Social Structure and Anomie,
mengantarkan Merton menjadi ahli teori sosial muda. Menurut Merton, baik kesesuaian
(conformity) maupun penyimpangan (deviation) sama-sama produk dari struktur sosial.
Merton dikenal sebagai intelektual perkotaan yang sangat dihargai karena pilihan katakatanya, baik dalam tulisan maupun pembicaraan. Lazarsfeld sangat menghargainya
dan menyebutnya sebagai “tuan sosiologi negeri ini (Amerika)”. Merton juga seorang
sarjana komunikasi massa. Meron mengkaji bersama-sama dengan Fiske dan Curtis
tentang jarinagn radio CBS. Merton merupakan pengajar di Universitas Columbia dalam
kurun waktu 35 tahun bersama dengan Lazarsfeld. Merton dikenal sebagai ahli ilmu
sosial, sedangkan Lazarsfeld sebagai ahli metode penelitian kuantitatif yang
mempelajari dampak komunikasi. Keberadaan dua figur ini di tahun 1941 ikut menjadi
salah satu faktor yang mempengaruhi merosotnya pamor Chicago School. Pada tahun
1943 Merton menjadi Direktur Pembantu di Bureau of Applied Social Research yang
dipimpin Lazarsfeld di Columbia University. Salah satu jasa penting Merton adalah
kecenderungan Merton membawa middle range theory dalam kajian komunikasi. Karya
Merton yang terkenal adalah Social Theory and Social Structure (1949).
Paul F. Lazarsfeld
Lazarsfeld lahir dan menghabiskan tiga puluh tahun pertama hidupnya di Wina.
Lazarsfeld melihat ayahnya sebagai pengacara yang sangat miskin dan tidak sukses.
Kehidupan Lazarsfeld merupakan perpaduan antara dunia akademik dan bisnis. Ibunya
tidak memiliki pendidikan formal, tetapi dikenal sebagai penulis buku How the woman
Experiences the Male yang terbit di Eropa tahun 1931. Lazarsfeld mmperoleh bekal
pendidikan yang memadai sebagaimana tipikal naka-anak kalangan menengah di Wina.
Pada tahun 1925, dalam usia 24 tahun, Lazarsfeld memperoleh gelar doktor dalam
matematika terapan dari Universitas Wina. Lazarsfeld merupakan salah seorang
pemikir dan ahli ilmu sosial eropa yang muncul pada awal PD II. Dia menyebut dirinya
sebagai positivis eropa. Lazarsfeld dikenal dengan lembaganya The Bureau of Applied
Social Research yang banyak melakukan penelitian tentang radio dan surat kabar.
BAB 3
PENUTUPAN
3.1
Simpulan
Penjelasan sejarah di atas sudah cukup membuktikan bahwa sebenarnya sejarah
perkembangan komunikasi sebenarnya tidak pernah terputus. Karena pada dasarnya
hubungan antara komunikasi sebagai bagian dari perkembangan peradaban manusia
begitu erat. Hal ini dikarenakan aktifitas retorika sudah ada di zaman pertengahan,
tetapi memang belum berbentuk ilmu. Fenomena yang lebih banyak bersifat dakwah
(persebaran agama) ini baru berupa gejala-gejala sosial, dan pada masa itu belum ada
suatu ilmu yang mengkhususkan fokus dan lokus kajiannya tentang komunikasi. Tetapi
setidaknya hal di atas cukup memberikan argumen bahwa komunikasi merupakan
fenomena yang sudah sangat lama terjadi dan baru dikaji secara utuh sebagai suatu
ilmu pada abad ke-19 di daratan Amerika.
3.2
Daftar pustaka
Anwar Arifin, 2002, Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar Ringkas, Jakarta: Raja
Gafindo Persada.
Em Griffin, 2003, A First Look at Communication Theory, McGraw Hill
Onong Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Aubrey Fisher, 1986, Teori-teori Komunikasi (penyunting: Jalaludin Rakmat), Bandung:
Remaja Karya.
Effendi, Onong Uchjana. (1993). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung:
PT.Citra Aditya bakri. Hal. 2-7.
Fathurrohman, D dan Wawan Sobri. (2002). Pengantar Ilmu Politik. Malang: UMM
Press. Hal. 2-6
K.MA, Hajarudin. (1994). Isa Almasih A.S Wafat di India. Bogor: CV.Bintang Tsurayya.
Hal 15-54.
Kuswata, Agus Toho dan Kuswara Surya Kusumah. (1990). Komunikasi Islam dari
Zaman ke Zaman. Jakarta: Arikha Media Cipta.
Prajarto, Nunung. (2002). Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Komunikasi, Akar Sejarah
dan Buah Tradisi Keilmuan. Yogyakarta: ……..?
Rogers, Everett M. (1994). A History of Communication Study: A Biographical
Approach. New York: The Press. Hal 34-37.
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. (1990). Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
Liberty Yogyakarta. Hal 42-50.
Wahid, Abdurrahman. (1995). Konfusianisme di Indonesia: Pergulatan Mencari Jati Diri.
Yogyakarta: INTERFIDEI.
Anwar Arifin, 2002, Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar Ringkas, Jakarta: Raja
Gafindo Persada.
Em Griffin, 2003, A First Look at Communication Theory, McGraw Hill
Onong Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Aubrey Fisher, 1986, Teori-teori Komunikasi (penyunting: Jalaludin Rakmat), Bandung:
Remaja Karya.
Robert E. Goodin, Hans-Dieter Klingemann (Hrsg.), 1996: A New Handbook of Political
Science.
Oxford
/
New
York
u.a.:
Oxford
University
Press
Michael Roskin, Robert L. Cord, James A. Medeiros, and Walter S. Jones, 2007,
Political
Science:
An
Introduction
(New
York:
Prentice
Hall)
McNair B. 2003. An Introduction to Political Communication, London: Routledge
http://www.askoxford.com/
Download