2. Desrkipsi Hasil Pengamatan Psikomotor Siswa Pada Materi Kalor

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan fisika merupakan yang universal dalam kehidupan manusia. Bagaimana
sederhananya peradaban suat masyarakat, didalamnya terjadi atau berlangsung suatu
proses pendidikan, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan
kualitas manusia seutuhnya adalah misi pendidikan. Yang menjadi tanggung jawab
professional setiap guru (Lasulo, 2005).
Menurut Gagne (Muliasa, 2005:15), teorinya berpendapat bahwa skalu seorang peserta
didik di hadapkan pada suatu masalah, maka pada akhirnya mereka bukan hanya
memecahkan masalah tapi juga belajar sesuatu yang baru. Implementasi dariteori Gagne
ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran dengan model pengajaran
berdasarkan masalah. Model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu
pengajaran di mana guru menyajikan suatu masalah yang autentik dan bermakna kepada
siswa dan dapat memberikan kemudahan kepada siswa untuk memberikan kemudahan
kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuyri.
Fisika adalah cabang sains yang diajarkan, ditingkatkan pendidikan dasar dan
menengah, yang merupakan mata pelajaran yang kurang diminati siswa, serta memiliki
tingkat kesukaran yanag cukup tinggi. Guru memepunyai tanggung jawab untuk dapat
mengubah suasana kelas, sehingga siswa dapat lebih aktif dan antusias dalam mengiuti
proses belajar megajar fisika di sekolah. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar
di situlah diperlukan pembelajaran yang menyenangkan (humanis) dan berpesat pada
siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide yang dimiliknya agar proses
pembelajaran efektif. Menurut Wenno (2008:84) siswa akan lebih termotivasi untuk
belajar jika pengajaran tidak hanya sekedar mengutamakan pada kecerdasan pada
inteligensinya, tetapi juga pada gaya mengajar guru yang sesuai dengan kebutuhan
siswa.
Pendapat Bruner (Triyanto, 2009:57), bahwa berusaha sendiri untuk mencapai
pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan
yang benar-benar bermakna. Suatu konsekuensi logis, Karena dengan berusaha untuk
mencari pemecahan masalah secara mandiri akan memberikan suatu pengalaman
kongkrit, dengan pengalaman tersebut dapat digunakan pula pemecahan masalahmasalah serupa, karena pengalaman itu memberikan pengalaman tersendiri bagipeserta
didik. Permasalahan yang muncul dalam proses belajar mengajar diantaranya adalah : (1)
Tingkat penguasaan materi yang rendah, (2) Peserta didik lebih mengutamakan bermain
daripada belajar fisika dan (3) Ketika Guru memberikan pertanyaan peserta didik kurang
memahami denganapa yang telah disampaikan oleh guru.
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar khususnya dalam proses pendidikan pada
siswa di SMP Negeri 3 Salahutu. Fungsi guru sebagai (penyampai ilmu pengetahua )
masih cenderung untuk menonjol. Upaya-upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan
pun di laksanakan. Namun meskipun demikian, peningkatan prestasi belajar siswa
masih belum optimal. Faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar siswa adalah
munculnya masalah dalam proses belajar mengajar disekolah-sekolah pada semua
jenjang pendidikan. Masalah ini pada umumnya berkaitan dengan penerapan strategi
atau cara mengajar guru yang masih belum memberikan kontribusi yang memadai
terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Tingginya kualitas pendidikan siswa yang
dihasilkan dari setiap sekolah merupakan tanggung jawab berbagai pihak, termasuk
didalamnya orang yang memegang peran sebagai tenaga edukasi. Sekolah SMP Negeri 3
Salahutu merupakan salah satu sekolah yang memiliki tenaga mengajar dan juga
memiliki fasilitas belajar seperti laboratoriu smyang nantinya diharapkan dapat
menghasilkan siswa-siswa yang berkualitas. Namun berdasarkan hasil observasi,
ditemukan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar khususnya fisika sangatlah
kurang. Pada proses belajar mengajar cenderung berpusat pada guru sehingga siswa
menjadi lebih pasif.
 Dalam hal ini siswa tidak dibelajarkan dengan strategi belajar yang dapat memahami
bagaimana belajar, berfikir dan memotivasi diri sendiri. Dengan demikian, timbul pula
permasalahan dalam pencapaian hasil belajar siswa. Permasalahan yang dimaksud
adalah masih ada siswa yang memperoleh nilai hasil belajar yang cukup rendah.
Standar ketuntasan minimal yang ditentukan oleh pihak sekolah adalah 71. Namun
kenyataannya, dari hasil observasi dan wawancara yang diperoleh hanya sekitar 9 siswa
yang di kategorikan baik dan tidak ada siswa yang di kategori sangat baik. Sedangkan
setelah menggunakan model pembelajaran berbasis masalah rata-rata nilai dapat
meningkat menjadi 86.
B. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang diatas, maka yang menjadi masalah dalam
penelitian ini adalah: apakah dengan menggunakan model pembelajaran berbasis
masalah dapat meningkatkan hasil belajar fisika konsep kalor pada siswa kelas VII SMP
Negeri 3 Salahutu?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: untuk
mengetahui penggunaan model pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan
hasil belajar fisika konsep kalor pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Salahutu.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berarti sebagi berikut:
1. Sebagai bahan informasi bagi sekolah dalam memilih model pembelajaran yang baik
untuk proses pembelajaran.
2. Dengan dilaksanakan penelitian ini,diharapkan dapat memberi masukan bagi guru
mata pelajaran fisika dalam menentukan model pembelajaran yang tepat untuk
meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Dapat menambah pengetahuan bagi peneliti yang nantinya akan menjadi pengajar.
Selain itu, juga sebagai latihan bagi penulis dalam usaha menyatakan serta
menyusun sebuah pemikiran secara tertulis dan sistematis dalam bentuk karya
ilmiah.
E. Penjelasan Istilah
1. Model Penbelajaran Berbasis Masalah
Model Pembelajar Berbasis Masalah (PBM) adalah suatu pendekatan yang objektif
untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini memebantu siswa
untuk memperoleh informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun
pengetahuan mereka sendiri tentang dua sosial dan sekitarnya, (Rustaman, Triyanto,
2009:7)
2.
3.
Hasil Belajar
Hasi belajar adalah perubahan perubahan yaang mengakibatkan manusia berubah
dalam sikap dan tingkah lakunya (Winkel, 1996:244)
Kalor
Kalor adalah energ panas yang dapat berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi
ke benda yang suhunya lebih rendah. Kalor berhenti ketika suhu benda kedua sudah
sama.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah tipe penelitian deskritif yaitu uraian atau gambaran, bersifat
deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu gejala, fakta, peristiwa dan
kejadian yang terjadi pada saat penelitian dilaksanakan hasi penelitian ini akan
menggambarkan dengan jelas tentang hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3
Salahutu denagn menggunakan Pembelajaran Berbasis Masalah.
B. Tempat dan Waktu penelitian
1. Tempat penelitian
Lokasi dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 3 Salahutu
2. Waktu penelitian
Waktu penelitian adalah kurang lebih 2 minggu yaitu dari 7 Februari sampai dengan
14 Februari 2013
C. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIISMP Negeri 3 Salahutu
yang berjumlah 123 orang sesuai yang tersebar di 7 kelas.
2.Sampel
Sampel adalah bagian kecil yang mewakili populasi. Dalam penelitian ini sampel
diambil secara acak (Random Sampling). Unit analis dalam anilisis ini adalah unit
alasisis kelas, di mana kelas yang terpilih dengan jumlah siswanya yang dianggap
sebagai sampel. Jadi kelas yang diambil sebagai sampel yaitu VII3 dengan jumlah siswa
20 orang.
D. Variabel penelitian
Variabel penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu mencapai hasil belajar siswa
dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini :
1. Soal tes akhir sebanyal 15 butir soal, di mana terdiri dari pilihan ganda yang
berjumlah 10 butir soal dan essay yang berjumlah 5 butir soal.
2. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang digunakan untuk membantu penulis dalam
mengevaluasi soal-soal yang berhubungan dengan penguasaan materi atau aspek
kognitif.
3. Lembar observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, dengan
menggunakan lembar observasi untuk menilai aspek afektif dan psikomotor.
F. Teknik Pengumpulan Data
Tes formatif :digunakan untuk memeperoleh daa akhir menggunakan lembar soal tes
yang dilakukan setelah proses keiatan belajar mengajar (KBM) soal pada tes. Tes formatif
bebentuk pilihan ganda dan essay. Siswa mengerjakan soal tersebut, hasil tes
dikummpulkan, dikoreksi dan diberikan skor sesuai dengan yang telah ditentukan.
2. LKS digunakan untuk merekam kemempuan siswa atau aspek kognitif selama proses
pembelajaran berlangsung.
3. Lembar Observasi dilakukan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, untuk
memperoleh data aspek afektif dan psikomotor.
G.Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan pada setiap observasi dari pelaksanaan penelitian ini
adalah :
1. Secara deskritif yang pada dasarnya untuk mengetahui hasil belajar siswa aspek
kognitif, afektif dan psikomootor yang patuhkan pada pedomann penialain acuan
(PPA). Untuk menentukan hasil yang diperoleh siswa untuk setiap tes dipaeroleh
dengan menggunakan rumus:
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
Skor pencapaian = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 x 100
2. Untuk melihat tingkat penguasaan siswa terhadap standar kompetensi dari sejumlah
aspek yang dinilai dalam proses pembelajaran maupun ada tes formatif dapat
dikategorikan mengacu pada tabel 3.1.
Tabel 3.1. Kualifikasi dan tingkat penguasaan kognitif
Sumber : Adaptasi dari KKM SMP Negeri 3 Salahutu, tahun 2012
3. Hasil Observvasi
Penilaian selama PBM dihitung dengan cara:
Skor pencapaian =
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚
x 100
Tabel 3.2. Kualifikasi tingkat penguasaan psikomotor siswa
Interval
Klasifikasi
86 – 100
Sangat trampil
71 – 85
Trampil
60 – 70
Kurang terampil
< 60
Tidak terampil
Sumber : Arikunto, 1997 :57
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
Skor pencapaian = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 x 100 (Arikunto 1997: 264)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Pelaksanaan Penelitians
Dalam pelaksanaan penelitian, penelitian terlebih dahulu melakukan observasi ke
sekolah yang merupakan tempat penelitian. Peneliti melakukan konsultasi dengan
pihak sekolah sebagai pimpinan lembaga dan guru bidang studi fisika. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui jadwal pelajaran dan program sekolah yang berkaitan dengan
kegiatan penelitian serta memperoleh informasi tentang kemampuan hasil belajar
siswa. Setelah proses observasi selanjutnya peneliti melakukan penentuan kelas sebagai
sampel yang dilakukan secara acak, yang mana kelas VII5 SMP Negeri 3 Salahutu yang
menjadi sampel dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini peneliti mengambil konsep
kalor sebagai materi penelitian, dalam kegiatan belajar mengajar peneliti menggunakan
model pembelajaran berbasis masalah. Pada akhir dari proses proses belajar mengajar
pada konsep kalor, peneliti melakukan tes formatif.
4.2 Hasil Penelitian
Deskripsi hasil sebelum menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
Berdasarkan data hasil belajar siswa sebelum menggunakan model pembelajaran
berbasis masalah terlihat secara klasikal rata-rata persentase tingkat penguasaan siswa
terhadap materi, dengan nilai tertinggi 81, nilai terendah 50, dengan nilai rata-rata kelas
66,5.
Berikut ini ditemukan data yang di ambil dari sekolah SMP Negeri 3 Salahutu kelas
VII5, yang di ajarkan sebelum menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
Table 4.1. Distribusi frekuensi dan persentase penilaian sebelum menggunakan model
pembelajaran berbasis masalah
No
Tingkat
Frekuen
Persent
Klasifikas
Penguasa
si
ase (%)
i
an
1.
86 – 100
-
-
Sangat
2.
71 – 85
9
45
baik
3.
60 – 70
5
25
Baik
4.
<60
6
30
Cukup
Gagal
20
100
Jumlah
Berdasarkan table 4.1. dapat diketahui bahwa sebelum menggunakan model
pembelajaran berbasis masalah terdapat 9 siswa (45%) dengan klasifikasi baik,
terdapat 5 siswa (25%) dengan klasifikasi cukup, dan terdapat 6 siswa (30%) dengan
klasifikasi gagal, serta tidak ada siswa yang berada pada kategori yang diklasifikasikan
sangat baik.
Grafik rata-rata nilai sebelum menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
Grafik 4.1 data dari guru
90
80
70
nilai
60
50
40
30
20
10
kriteria tuntas
Y.Y.L
Y.A.M
T.P.U
R.N
Q.A.L
N.T
N.A.T
M.T
M.O
L.D
L.H.M
I.T
J.P
nilai rata rata
inisial siswa
Z.A.F.U
nilai awal
I.S
H.M
A.R.B
E.H.M
A.T
A.A.T
0
Berikut ini ditemukan hasil deskritif siswa kelas VII5 SMP Negeri 3 Salahutu yang di
ajarkan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah untuk mencapai
hasil belajar fisika pada materi kalor. Data yang dikumpulkan melalui hasil pengamatan
kemampuan psikomotor dan afektif siswa dapat dianalisis sebagai berikut :
4.2.2. Deskripsi Hasil saat Proses Pembelajaran Siswa
1.
Deskripsi Hasil Pengamatan Afektif Siswa Pada Materi Kalor
Berikut hasil rata-rata pengamatan afektif pada materi kalor dengan memberikan
model pembelajaran berbasis masalah ditunjukan pada tabel 4.2
Tabel 4.2. Distribusi frekuensi dan persentase penilaian afektif siswa dengan
memberikan model pembelajaran berbasis masalah pada materi kalor
No
Frekuensi
1.
Tingkat
penguasaan
86 -100
Klasifikasi
7
Presentase
(%)
35
2.
71 – 85
8
40
Baik
3.
60 - 70
5
25
Cukup
4.
<60
100
Gagal
Jumlah
-
20
Sangat baik
Berdasarkan tabel pengamatan afektif pada saat proses pembelaajaran berlangsung,
terdapat 7 siswa (35%) dengan interval diklasifikasikan sangat baik, terdapat 8 siswa (40%)
dengan interval diklasifikasikan baik, terdapat 5 siswa (25%) dengan interval
diklasifikasikan cukup, serta tidak ada siswa dengans interval diklasifikasikan gagal.
Grafik sebelum menggunakan model pembelajaran berbasis masalah pada materikalor
2. Desrkipsi Hasil Pengamatan Psikomotor Siswa Pada Materi Kalor
Derkripsi hasil rata-rata pengamatan psikomotor pada materi kalor dengan memberikan
menggunakan model pembelajaran berbasis masalah ditunjukan pada tabel 4.3
Tabel 4.3. Distribusi frekuensi dan presentase penelitian psikomotor siswa dengan
menggunakan model pembelajaran berbasis masalah pada materi kalor
Berdasarkan tabel pengamatan psikomotor saat proses pembelajaran terdapat 11 siswa
(55%) dengan interval diklasifikasikan sanfat baik, terdapat 9 siswa (45%) dengan
interval diklasifikasikan baik dan tidak ada siswa yang berada dalam interval cukup
ataupun gagal. Data yang ditunjukan pada tabel 4.2 dan tabel 4.3, dapat menghasilkan
gambar grafik sebagai berikut :
Freuensi
Grafik
4.2. hasil Pengamatan Afektif dan
sangat
baik
Psikomotor
Rata-Rata
baik
12
10
8
6
4
2
0
psikomotor
cukup
gagal
86-100
71 - 85
60 - 70
Tingkat Penguasaan
< 60
afektif2
3. Deskripsi Hasil Kerja Individu Pada Lembar LKS
Tabel 4.4s. Data hasil kerja lks individu saat proses pembelajaran yang diberikan
dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah
Dari tabel 4.4 data hasil kerja pada LKS maka didapatkan grafik 4.3.
Nilai
Grafik 4.3 Nilai Siswa
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
LKS
Rata-rata
Inisial Siswa
Kriteria Tuntas
Pada tabel 4.4 dan grafik 4.3 diatas menunjukan bahwa nilai LKS yang dikerjakan oleh
siswa secara individu terdapat 7 siswa (35%) dengan klasifikasi sangat baik, terdapat 9
siswa (45%) dengan klasifikasi baik, dan terdapat 4 siswa (20%) dengan klasifikasi
cukup, serta tidak ada siswa yang berada pada klasifikasi gagal.
Dari data hasil LKS yang ditunjukan pada tabel 4.4 dan grafik 4.3 menunjukan bahwa
skor yang paling tinggi adalah 95 sedangkan rendah adalah 65 sehingga didapatkan skor
rata-rata dari keseluruhan siswa yang berjumlah 20 siswa adalah 8.
4.2.3. Deskripsi tingkat penguasaan siswa hasil test akhir (post test)
Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui sudah sejauh
manakah siswa memahami pelajaran setelah mereka mengikuti proses pembelajaran
dalam jangka waktu tertentu. Tes formatif dapat dilaksanakan ditengah-tengah
perjalanan program pembelajaran yang dilaksanakan pada setiap kali satuan pelajaran
atau sub pokok bahasan berakhir (Arikunto, 2010 : 53). Berikut ditunjukan hasil tes
formatif siswa pada materi kalor.
Tabel 4.5. Distribusi frekuensi dan presentase hasil tes kemampuan akhir siswa pada
materi kalor setelah diterapkannya model pembelajaran berbasis masalah dalam
meningkatkan hasil belajar fisika
No
Tingkat penguasaan
frekuensi
Persentase ( % )
Klasifikasi
1.
86 – 100
7
35
Sangat baik
2.
71 – 80
13
65
Baik
3.
60 – 70
-
-
cukup
4.
<60
-
-
gagal
20
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.5, dapat diketahui bahwa terdapat 7 siswa (35%) dengan klasifikasi
sangat baik, terdapat 13 siswa (65%) dengan klasifikasi baik, serta tidak ada siswa yang
berada pada kategori yang diklasifikasikan cukup dan gagal.
 Pembahasan
Hasil penelitian proses belejar dengan menggunakan model pembelajaran
berbasis masalah
 Berdasarkan data hasil penelitian di atas menunjukan bahwa penggunaan model
pembelajaran berbasis masalah dalam pebelajaran fisika di sekolah dapat memberikan
kontribusi positif terhadap hasil belajar fisika siswa kelas VII SMP Negeri 3 Salahutu.
Hal ini di dukung dengan pendapat Ratuman (Triyanto, 2009 : 47) bahwa pengajaran
berbasis masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses tingkat
tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memperoleh informasi yang sudah ada
dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan
sekitarnya.

Grafik 4.4. Profil Hasil Tes Akhir Siswa
120
100
60
Tes Akhir
40
Rata-rata
20
Kriteria Tuntas
0
A.A.T
A.T
A.R.B
E.S.H.M
H.T
I.S
I.T
J.P
L.D
L.H.M
M.O
M.T
N.A.T
N.T
Q.A.L
R.N
T.P.U
Y.A.M
Y.Y.L
Z.A.F.U
Nilai
80
Inisial Siswa
4.3. Pembahasan
4.3.1. Hasil penelitian proses belejar dengan menggunakan model pembelajaran
berbasis masalah
Berdasarkan data hasil penelitian di atas menunjukan bahwa penggunaan model
pembelajaran berbasis masalah dalam pebelajaran fisika di sekolah dapat memberikan
kontribusi positif terhadap hasil belajar fisika siswa kelas VII SMP Negeri 3 Salahutu.
Hal ini di dukung dengan pendapat Ratuman (Triyanto, 2009 : 47) bahwa pengajaran
berbasis masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses tingkat
tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memperoleh informasi yang sudah ada
dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan
sekitarnya.
Pada pertemuan pertama peneliti melakukan observasi dengan guru mata pelajaran
fisika, data awal hasil belajar siswa sebelum menggunakan model pembelajaran berbasis
masalah, yang diperoleh dari guru terlihat secara klasikal rata-rata presentase tingkat
penguasaan pada materi dengan nilai tertinggi 81, dan nilai terendah 50, sedangkan nilai
rata-rata yang diperoleh adalah 66,5. Hal ini memberikan gambaran bahwa siswa belum
mampu menguasai dan memahami materi yang diajarkan. Setelah itu melakukan
penilaian dengan menggunakan lembar pengamatan yang dinilai adalah afektif dan
psikomotor, dimana hasil rata-rata lembar pengamatan afektif terdapat 6 siswa dengan
klasifikasi nilai sangat baik dengan presentase nilai (30%), 8 siswa dengan dengan
klasifikasi nilai
cukup dengan presentase nilai (20%), dan 2 siswa dengan klasifikasi nilai gagal dengan
presentase (10%), sedangkan haisl rata-rata lembar pengamatan psikomotor terdapat 11
siswa dengan klasifikasi nilai sangan baik dengan presentase (55%), 9 siswa dengan
klasifikasi nilai baik dengan presentase (45%), dan dilihat dari hasil kerja (LKS) yang
dikerjakan oleh siswa, berdasarkan hasil analisis pada tabel 4.3 dapat kita ketahui bahwa
dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dapat menciptakan kondisi
yang menyenangkan dan menumbuhkan skeberanian siswa untuk mengeluarkan pendapat
sehingga siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Karena dengan adanya masalahmasalah yang sering terjadi dalam proses belajar mengajar, sehingga perhatian siswa
terhadap proses pembelajaran fisika semakin meningkat keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran menyebabkan siswa menjadi lebih memahami materi pelajaran yang
berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Hal tersebut ditunjukan berdasarkan
nilai yang baik yang diperoleh siswa pada lembar pengamatan afektif dan psikomotor.
Sebelum LKS dikerjakan terlebih dahulu siswa disuruh untuk membaca informasi tentang
konsep kalor. Dari hasil pada rata-rata lembar kerja siswa, nilai tertinggi diperoleh 7 siswa
dengan presentase nilai sebesar (35%) dengan klasifikasi sangat baik, 9 siswa dengan
presentase nilai sebesar (45%) dengan klasifikasi baik, dan 4 siswa dengan presentase nilai
sebesar (20%) dengan klasifikasi cukup, dan tidak ada siswa yang berada pada klasifikasi
gagal.
4.3.2. Hasil Belajar Siswa Pada Tes Formatif (post tes)
Setelah proses belajar mengajar (PBM) berlangsung selanjutnya dilakukan tes akhir (post
tes) sebagai tes formatif. Data hasil tes akhir didapatkan dengan menggunakan analisis
data pos tes. Hal ini dilakukan untuk melihat peningkatan kemampuan siswa setelah
proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
Dari hasil tes akhir pada tabel 4.5 di tunjukan bahwa terdapat 7 siswa (35%) dengan
interval diklasifikasikan sangat baik, terdapat 13 siswa (65%) dengan interval
diklasifikasikan baik.
Berdasarkan data hasil belajar siswa sebelum menggunakan model pembelajaran berbasis
masalah terlihat ssecara klasikal rata-rata presentase tingkat penguasaan pada materi
dengan nilai tertinggi yaitu 81, dan nilai terendah 50, sedangkan rata-rata nilai kelas VII5
adalah 66,5. Hal ini memberikan gambaran bahwa siswa belum mampu menguasai dan
memahami materi yang diajarkan.
a. Penilaian selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pebelajaran
berbasis masalah
1. Asfek Kognitif
Skor pencapaian pada aspek kognitif (lampiran) yang diperoleh dari soal yang diberikan
berdasarkan banyaknya 20 siswa (100%) dinyatakan berhasil walaupun dengan kategori
yang berbeda-beda. Keberhasilan siswa menggambarkan proses pengembangan
pemahaman
siswa akan memahami materi kalor. Secara individual siswa memahami materi melalui
telaah fakta-fakta sosial yang dimilikinya maupun teman-temannya dalam proses
pembelajaran . sehingga menyebabkan pengalaman dan pengetahuan tentang materi
kalor yang masi rendah atau sebaliknya.
2. Aspek Afektif
Hasil penelitian pada aspek afektif dapa digambarkan bahwa siswa dalam hal ini yang
berhubungan dengan penilain sikap siswa selama proses belajar dengan penerapan
pendekatan kontekstual. Pada table terlihat bahwa sebanyak 20 siswa (100%) mampuh
menggambarkan sikapnya selama proses pembelajaran walaupun pada awalnya masi ada
beberapa siswa yang belum merespon aspek-aspek yang dinilai dengan sangat baik
dikarenakan pribadi siswa yang terkesan malu-malu dan tidak berani dan tidak berani
mengungkapkan argument-argumen yang diketahuinya.
3. Aspek Psikomoto
Pada aspek psikomotor terlihat juga kegiatan siswa dimana pada saat proses belajar
mengajar siswa merasa lebih mudah mengembangkan dugaan atau prediksinya kepada
guru maupun temannya. Mengembangkan ketrampilan dalam berbicara,
mengembangkan kemampuan tanpa rasa takut dan tertekan, sehingga dalam
pembelajaran ini siswa merasa benar berpartisipasi dalam suatu jawaban atau suatu
kesimpulan. Pada aspek psikomoto siswa selama proses belajar dengan model
pembelajaran
berbasis masalah terlihat bahwa 20 siswa (100%) mampu mengembangkan ketrampilan
selama proses belajar, walaupun dengan kategori yang berbeda-beda dapat dilihat pada
(lampiran 18). Hal ini dapat dikatakan bahwa secara individu siswa sudah mampu
menguasai indicator-indikator pembelajaran.
4. Tes Formatif
Penilaian hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui sejauh manakah siswa
memahami pelajaran setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka
waktu tertentu. Pada tabel 4.5 memuat tentang tes formatif yang berhubungan
dengan tingkat penguasaan siswa pada materi kalor yaitu terlihat bahwa 20 siswa
(100%) berhasil atau dikatakan tuntas walaupun dengan kategori yang berbeda-beda.
Jadi setelah menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan
hasil belajar siswa pada materi kalor, dimana nilai tertinggi 100 nilai terendah 75 dan
nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 86s (lampiran 9).
Dilihat dari hasil analisis data post test dapat disimpulkan bahwa perolehan data setelah
diterapkan model pembelajaran berbasis masalah dapat dikatakan baik dan indikator
pembelajaran dapat dikatakan tuntas. Karena hasil belajar fisika bukanlah hal yang
mudah dan membutuhkan kerja keras guru dalam pengelolaan kelas, apalagi dengan
kemampuan siswa yang masih terbatas, baik dalam pengetahuan fisika maupun dalam
hal perkembangan cara berfikir siswa. Namun, membelajarkan siswa untuk berani
mengungkapkan ide, pemikiran, dan kreatifitas belajar siswa khususnya mata pelajaran
fisika adalah hal yang paling penting.
b. keterkaitan antara afektif, psikomotor dan kognitif
pada aspek afektif terdapat 7 siswa dengan kategri sangat baik, 8 siswa dengan kategori
baik, 5 siswa kategori cukup, pada aspek psikomotor terdapat 11 siswa kategori sangat baik,
9 siswa kategori baik, sedangkan pada aspek kognitif terdapat 7 orang siswa kategori
sangat baik, 9 siswa kategori baik dan 4 siswa cukup. dari data-data tersebut terlihat jelas
bahwa dari aspek afektif ke aspek psikomtor, dapat meningkatkan pemahaman siswa pada
materi kalor, sedangkan pada asfek kognitif atau pada LKS pemahaman siswa terhadap
materi kalor belum dikatakan tuntas, karena masi ada siswa yang belum memahami
materi kalor.
Penggunaan model pebelajaran berbasis masalah dalam pelajaran fisika tidak hanya
meningkatkan hasil belajar siswa tetapi juga mengembangkan ketrampilan sosial siswas
selama proses pembelajaran. Hal ini di dukung oleh pendapat Bruner (Trianto, 2009 : 50),
bahwa berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang
menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Suatu
konsekuensi yang logis, karena dengan berusaha mencari pemecahan masalah secara
mandiri akan memberikan suatu pengalaman kongret, dengan pengalaman tersebut dapat
digunakan pula memecahkan masalah-masalah serupa, karena pengalaman itu
memberikan makna tersendiri bagi peserta didik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab IV, maka dapat disimpulkan
bahwa penerapan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah
dalam meningkatkan hasil belajar fisika siswa pada materi kalor. Hal ini dilihat pada (1).
Terjadinya peningkatan hasil belajar fisika siswa yang dibuktikan dengan yaitu dari data
awal nilai rata-rata 66,5 meningkat menjadi 86 diperoleh dari data hasil akhir (tes
formatik). (2). Terjadinya perubahan tingkah laku siswa kearah yang positif pada saat
proses belajar mengajar dibuktikan dengan meningkatkan keaktifan siswa dalam proses
belajar mengajar.
5.2. Saran
Sesuai dengan hasil-hasil yangs diperoleh dalam penelitian, maka disarankan beberapa
hal sebagai berikut :
1. Saat melakukan pengerjaan LKS dilakukan secara individu untuk mengetahui sejauh
mana siswa memahami materi kalor
2. Setelah menggunakan model pembelajaran berbasis masalah, yaitu berkurangnya
aktifitas siswa yang tidak berhubungan dengan pembelajaran fisika dan meningkatnya
keaktifan siswa dalam mengerjakan dan menyiapkan tugas.
3. Sebaiknya guru menerapkan modesl pembelajaran berbasis masalah dalam kegiatan
belajar mengajar di sekolah agar siswa lebih mudah
mengerti dan menganggap bahwa pelajaran fisika bukan pelajaran yang membosankan
serta untuk meningkatkan hasil belar siswa
4. Guru dan peneliti selanjutnya yang mengunakan model pembelajaran ini diharapkan
dapat lebih mengembangkan model pembelajaran ini dengan menggunakan sebagai
metode dan media yang relevan serta lebih mengorientasikan siswa pada masalah yang
dekat dengan kehisdupan sehari hari siswa
DAFTAR PUSTAKA
















Ahmad, A. dan Rohani, A. 1991.Pengelolaanpengajaran. Rineka cipta.: Jakarta.
Anonim, 2004.Materi pelatihan terintegrasi,Depdiknas
Arikunto, S. 1992. Pengelolaan kelas dan siswa Rajawali. Jakarta
Denver RMC Roseach Copaporation.
Fkipunla. Net Generated:5 Oktober, 2009, 03:33.
Ibrahim.M, dan Mohammad, N. 2000.Pengajaran berdasarkan masalah.
Kretf,N. 2000.Kriteria authentik project-basedlearning.
Kanginan, Marten. 2006. IPA Fisika untuk SMP kelas VII. Erlangga, Jakarta
Mulyasa, M. 2004. Kurikulum berbasis kompetensi. Remaja Rosda Karya Bandung.
Sadirman, 2003.Interaksi belajarmengajar.Jakarta :CV Raja Wali,
Sagala, 2006.Konsepdanmaknapembelajaran, Bandung,AlfaBetta.
Surachmad, W. 1987.Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung:Tarsito.
Suprijono. A. 2009. Cooperatif Learning, Teori dan Apikasi PAIKEM. Yogyakarta :
Pustaka Belajar
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Profesif: Konsep Landasan
Dan Inplementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:Kencana.
UNISA, University pressPusat sains danmatematika sekolah, program pascasarjana
Surabaya
Wenno, I.H. 2008.Strategi Belajar Mengajar Sains Berbasis Kontekstual. Jogjakarta.
Inti Media.
Download