Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA tentang Sifat–Sifat Cahaya

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Kajian Teori
Kajian teori adalah telaah yang dilakukan terhadap suatu teks kutipan
dengan maksud memahami lebih dalam pada bentuk dan isi teks kutipan
tersebut. Menyusun kajian teori merupakan suatu kegiatan membaca,
menelaah, menganalisis suatu teks kutipan dari bacaan/artikel untuk
memperoleh ide-ide, penjelasan, data-data pendukung yang mendukung
pokok pikiran utama, serta memberikan komentar terhadap isi teks bacaan
kutipan tersebut secara keseluruhan dari sudut pandang kepentingan pengkaji,
(Slameto, 2012:120).
2.1.1 Pembelajaran IPA
IPA dapat menjadi mata pelajaran yang menarik di sekolah dasar jika
siswa terlibat secara aktif, learning by doing (belajar dengan melakukan)
bukannya dengan mendengarkan atau menghafal. Siswa dapat belajar dengan
baik jika mengalami sendiri apa yang dipelajari (aktivitas dan pikiran).
Beberapa cara belajar dalam IPA seperti mengamati, mengukur, mengkoleksi
dan mengelompokkan merupakan aktivitas belajar yang dapat menguatkan
minat dan keingintahuan siswa.
Beberapa definisi mengenai IPA diantaranya:
1. IPA adalah ilmu yang berhubungan dengan gejala alam dan kebendaan
yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa
kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen/sistematis (teratur) artinya
pengetahuan itu tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, satu
dengan lainnya saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga seluruhnya
merupakan satu kesatuan yang utuh, sedangkan berlaku umum artinya
pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau oleh seseorang atau beberapa
orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang
sama atau konsisten, Fowler (dalam Usman Samatowa, 2010:3).
5
6
2. IPA adalah suatu cara atau metode untuk mengamati alam, Nash (dalam
Usman Samatowa, 2010:3).
3. IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
yang berupa fakta- fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi
juga merupakan suatu proses penemuan (Permendiknas No 22 Tahun
2006).
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan Ilmu
yang berhubungan dengan gejala alam yang kebendaannya tersusun secara
teratur dan merupakan penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa faktafakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan sebuah suatu proses penemuan.
Menurut Permendiknas nomor 22 tahun 2006, pendidikan IPA
diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri
sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam
menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya
menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan
kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.
Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat
membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih
mendalam tentang alam sekitar. Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan
pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat)
yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat
suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah
secara bijaksana.
Beberapa konsep IPA datang dari pengalaman atau pengamatan
langsung, hal ini disebut konsep konkrit, contohnya siswa dapat secara
langsung mengamati siklus hidup kupu-kupu. Tidak diperlukan urutan logika
khusus untuk memahami perubahan yang terjadi dari telur sampai menjadi
kupu-kupu dewasa. Siswa dapat juga mengamati bahwa kumbang juga
mengalami siklus hidup serupa. Beberapa konsep IPA yang lain berasal dari
pengamatan langsung disertai pemikiran yang abstrak, contohnya peristiwa
7
terapung dan tenggelam. Siswa dapat mengamati bahwa beberapa benda
terapung dan lainnya tenggelam ketika dimasukkan ke dalam air. Mengamati
benda yang terapung atau tenggelam merupakan pengalaman konkret. Kayu
terapung, besi tenggelam, tetapi kapal yang terbuat dari besi terapung, untuk
menjelaskan hal ini siswa perlu berpikir abstrak untuk menghubungkan
konsep terapung dan tenggelam dengan konsep massa jenis.
Siswa dapat membangun pengetahuannya dari pengalaman yang dia
alami sendiri baik melalui tindakan melakukan (hands on) maupun berpikir
(minds on). Gagasan bahwa orang membangun pengetahuannya dari
pengalaman dan pemikirannyanya sendiri disebut konstruktivisme. Kaum
konstruktivis percaya bahwa pemahaman nyata yang baik hanya terjadi saat
siswa berpartisipasi secara penuh dalam mengembangkan pengetahuannya
sendiri. Proses pembelajaran merupakan transformasi pengetahuan lama
menuju pengetahuan baru, sebuah proses yang memerlukan tindakan dan
refleksi dari si pembelajar. Kebalikan dari gagasan ini adalah bahwa siswa
belajar dengan menyerap apa yang dikatakan.
Dikutip oleh Tiso Hadisubroto (dalam Usman Samatowa, 2010)
dalam bukunya Pembelajaran IPA Sekolah Dasar (1996:28), Piaget
mengatakan bahwa pengalaman langsung yag memegang peranan penting
sebagai pedorong lajunya perkembangan kognitif anak. Pegalaman langsung
anak yang terjadi secara spontan dari kecil (sejak lahir) sampai umur 12
tahun. Efisiensi pengalaman langsung pada anak tergantung pada kosistensi
antara hubungan metode dan objek yang dengan tingkat perkembangan
kognitif anak. Anak akan siap untuk mengembangkan konsep tertentu hanya
bila ia telah memiliki struktur kogitif (skemata) yang menjadi prasyaratnya
yakni perkembangan kognitif yang bersifat hirarkhis dan integratif.
2.1.1.1 Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SD
Permendiknas no 22 tahun 2006 mengenai Standar Isi memuat tujuan
Pelajaran IPA di SD/MI. Mata Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta
didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.
Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
8
berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2.
Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.
Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang
adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,
teknologi dan masyarakat.
4.
Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,
memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5.
Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara,
menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6.
Meningkatkan
kesadaran
untuk
menghargai
alam
dan
segala
keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7.
Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai
dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
Tujuan yang tertuang dalam permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang
Standar Isi dirumuskan untuk mencapai kompetensi lulusan yang memiliki
kemampuan sebagai berikut:
1. Dapat melakukan pengamatan terhadap gejala alam dan menceritakan
hasil pengamatannya secara lisan dan tertulis.
2. Memahami penggolongan hewan dan tumbuhan, serta manfaat hewan
dan tumbuhan bagi manusia, upaya pelesatariannya dan interaksi antara
mahkluk hidup dengan lingkungannya.
3. Memahami bagian-bagian tubuh pada manusia, hewan dan tumbuhan
serta fungsinya dan perubahan pada mahkluk hidup.
4. Memahami beragam sifat benda hubungannya dengan penyusunnya,
perubahan wujud benda dan kegunaannya.
5. Memahami berbagai bentuk energi, perubahan dan kemanfaatannya.
6. Memahami matahari sebagai pusat tata surya, kenampakan dan
perubahan permukaan bumi dan hubungan peristiwa alam dengan
kegiatan manusia.
9
2.1.1.2 Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Alam
Ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut:
1. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan
dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan.
2. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas.
3. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik,
cahaya dan pesawat sederhana.
4. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan bendabenda langit lainnya.
2.1.1.3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Standar kompetensi adalah sebagai pengetahuan, keterampilan, dan
nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.
Kompetensi dasar adalah sebagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai
dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak, pernyataan
minimal atau memadai tentang pengetahuan.
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar menjadi arah dan
landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran dan
indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan
pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar
Penilaian.
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk IPA kelas V adalah
sebagai berikut.
Tabel 1. SK dan KD IPA
No.
1.
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
6. Menerapkan sifat-sifat cahaya 6.1.Mendeskripsikan sifat-sifat
cahaya.
melalui kegiatan membuat suatu
6.2.Membuat suatu karya/model,
karya/model.
misalnya periskop atau lensa
dari bahan sederahana dengan
menerapkan sifat-sifat cahaya.
10
2.1.2 Hasil Belajar
Menurut Suprijono (2009:5) mengemukakan bahwa, hasil belajar
adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap,
apresiasi dan keterampilan. Hasil belajar berupa:
1) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam
bentuk bahasa, baik lisan mapun tertulis. Kemampuan merespons secra
spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak
memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun penerapan
aturan.
2) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan
lambang.
Keterampilan
mengkategorisasi,
intelektual
kemampuan
terdiri
analitis-sintesis
dari
kemampuan
fakta-konsep
dan
mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual
merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.
3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas
kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan
kaidah dalam memecahkan masalah.
4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme
gerak jasmani.
5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan
penilaian
terhadap
menginternalisasi
dan
objek
tersebut.
eksternalisasi
Sikap
nilai-nilai.
berupa
Sikap
kemampuan
merupakan
kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hasil belajar disebut juga
prestasi belajar. Kata prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi
dan belajar. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan
dan sebagainya). Hasil belajar adalah sejumlah pengalaman yang diperoleh
siswa yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Belajar tidak
hanya mata pelajaran saja tapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi,
11
kesenangan, minat, penyesuaian sosial, macam-macam keterampilan dan citacita.
Menurut Winkel, 1995: 51 (dalam Purwanto, 2008: 45) hasil belajar
adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan
tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan
pengajaran yang dikembangkan oleh Bloom, Simpson dan Harrow mencakup
aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat peneliti tegaskan bahwa
hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan yang diperoleh
seseorang setelah ia menerima pengalaman belajar.
2.1.2.1 Jenis-jenis Hasil Belajar
Kingsley (dalam Nana Sudjana, 1989:22) membagi tiga macam hasil
belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan
pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing hasil belajar dapat diisi
dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne
membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informasi verbal, (b)
keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan
motoris. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik
tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil
belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi
tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri
dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi,
analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat
rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek,
yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan
internalisasi.
Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan
kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni (a)
gerakan refleks, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perseptual,
12
(d) keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f)
gerakan ekspresif dan interpretatif.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara
ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru
di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai
isi bahan pengajaran.
2.1.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Slameto (2010:54) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
adalah faktor intern dan faktor ekstern.
1. Faktor-faktor Intern
a. Faktor Jasmaniah
Ada dua faktor yang tergolong dalam faktor jasmaniah yaitu faktor
kesehatan dan cacat tubuh. Sehat berarti dalam keadaan baik segenap
badan beserta bagian-bagiannya/bebas dari penyakit. Kesehatan adalah
keadaan atau hal sehat, kesehatan seseorang berpengaruh terhadap
belajar. Sedangkan cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan
kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan. Cacat tubuh
bisa berupa buta, lumpuh dan sebagainya.
b. Faktor Psikologis
Ada tujuh faktor yang tergolong kedalam faktor psikologis yaitu;
intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.
Pertama faktor intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis
yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi
yang baru dengan cepat dan berpengaruh, mengetahui/menggunakan
konsep-konsep yang abstrak secara berpengaruh, mengetahui relasi dan
mempelajari dengan cepat. Kedua faktor perhatian menurut Gazali
(Slameto,2010:56) adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu pun
semata-mata tertuju pada suatu objek (benda/hal) atau sekumpulan
objek. Ketiga faktor minat Hilgard (Slameto,2010:57) rumusan tentang
minat adalah “Interest is persisting tendency to pay attention to and
enjoy some activety or content” minat adalah kecenderungan yang tetap
13
untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Keempat
faktor bakat Hilgard (Slameto,2010:57) bakat adalah “the capacity to
learn” bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kelima faktor motif
adalah erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai.
Keenam
faktor
kematangan
adalah
suatu
tingkat/fase
dalam
pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk
melaksanakan kecakapan baru. Dan ketujuh faktor kesiapan menurut
Jamies Drever (Slameto,2010:59) Preparedness to respond or react.
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respons atau bereaksi.
c. Faktor Kelelahan
Faktor kelelahan dapat dibedakan menjadi dua faktor yaitu kelelahan
jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani adalah terlihat dengan
lemah
lunglainya
tubuh
dan
timbul
kecenderungan
untuk
membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan
adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk
menghasilkan sesuatu hilang.
2. Faktor-faktor Ekstern
a. Faktor Keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga: cara orang
tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga dan
keadaan ekonomi keluarga. Pertama cara orang tua mendidik anaknya
besar pengaruh bagi anaknya hal ini jelas dipertegaskan oleh Sutjipto
Wirowidjojo (Slameto, 2010: 61) bahwa keluarga adalah lembaga
pendidik pertama dan utama. Kedua relasi antaranggota keluarga adalah
relasi orang tua dengan anaknya. Ketiga suasana rumah sebagai situasi
atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga dimana
anak berada dan belajar. Keempat keadaan ekonomi keluarga erat
hubungannya dengan belajar anak. Kelima pengertian orang tua anak
belajar perlu dorongan dan perhatian orang tua. Keenam latar belakang
kebudayaan tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga
mempengaruhi sikap anak dalam belajar.
14
b. Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode
mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan
siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran
di atas ukuran, gedung sekolah, metode belajar dan tugas rumah.
Metode mengajar adalah suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam
mengajar. Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang
diberikan kepada siswa. Relasi guru dengan siswa proses belajar
mengajar yang terjadi antara guru dengan siswa mempengaruhi belajar
siswa. Relasi siswa dengan siswa guru kurang mendekati siswa dan
kurang bijaksana, siswa mendapatkan sifat-sifat dan tingkah laku dari
teman lain yang kurang menyenangkan. Disiplin sekolah erat
hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam
belajar. Alat pelajaran berhubungan dengan cara belajar siswa karena
alat pelajaran yang dipakai guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh
siswa untuk menerima bahan yang diajarkan. Waktu sekolah
merupakan mempengaruhi belajar siswa jika terlalu lama juga bisa
menyebabkan anak kurang berpengaruh menerima pembelajaran.
Standar pelajaran di atas ukuran; guru dalam menuntut penguasaan
materi harus sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa, yang
penting tujuan yang dirumuskan dapat tercapai. Gedung sekolah, jika
gedung yang kurang memadai bagaimana mungkin mereka bisa belajar
dengan baik. Metode belajar; dalam hal ini banyak siswa melaksanakan
cara belajar yang salah sehingga perlu pembinaan dari guru. Tugas
rumah waktu belajar adalah di sekolah guru jangan terlalu banyak
memberi tugas rumah pada siswa.
c. Faktor Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern juga mempengaruhi terhadap
hasil belajar siswa. Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat
menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi jangan
terlalu banyak karena dapat mempengaruhi belajar siswa. Media sepeti
15
TV dan radio dapat mempengaruhi belajar anak, orang tua lebih
membingan anak untuk belajar. Teman bergaul lebih cepat masuk
dalam jiwa, jika teman bergaul yang baik maka belajar siswa akan baik,
sebaliknya jika teman bergaul yang kurang baik akan mengakibatkan
belajar siswa yang jahat. Kehidupan masyarakat jika dalam masyarakat
yang tidak berpendidikan, pencuri, penjudi dan lain sebagainya dapat
berpengaruh jelek pada anak. Berdasarkan penjelasan diatas bahwa
faktor internal dan faktor eksternal sangat mempengaruhi hasil belajar.
2.1.3 Model Guided Discovery
Diskoveri Terpimpin (Guided discovery) merupakan suatu model
pengajaran yang dirancang untuk mengajarkan konsep-konsep dan hubungan
antar konsep (eggen & Kauchak, 2007, Mayer, 2004). Ketika menggunakan
strategi ini, guru menyajikan contoh-contoh pada siswa, memandu mereka
saat mereka berusaha menemukan pola-pola dalam contoh-contoh tersebut,
dan
memberikan
semacam
penutup
ketika
siswa
telah
mampu
mendeskripsikan gagasan yang diajarkan oleh guru (Clark & Mayer, 2003 ;
Moreno, 2004). Ketika menggunakan strategi ini, guru menyajikan contohcontoh pada siswa, memandu mereka saat mereka berusaha menemukan polapola dalam contoh-contoh tersebut, dan memberikan semacam penutup ketika
siswa telah mampu mendeskripsikan gagasan yang diajarkan oleh guru (Clark
& Mayer, 2003 ; Moreno, 2004). Guided discovery cenderung menghasilkan
ingatan dan transfer jangka panjang yang lebih baik daripada pengajaran
ekspositori (Mayer, 2008, hlm. 310). Adapun langkah-langkah pembelajaran
Guided Discovery adalah sebagai berikut : (1) Guru memulai dengan media
fokus untuk pengenalan dan mereview hasil kerja sebelumnya. (2) Guru
memberikan contoh-contoh dan meminta pengamatan dan perbandingan. (3)
Guru memandu siswa sebagaimana mereka mencari pola di dalam contoh. (4)
Mendeskripsikan konsep hubungan-hubungan yang ada di dalamnya.
Sund (dalam Hamdani, 2010: 185) mengatakan bahwa menggunakan
discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas rendah,
sedangkan inquiry adalah baik untuk kelas-kelas yang lebih tinggi. DR. J.
16
Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar mengajar dari
situasi yang didominasi. Guru melibatkan siswa dalam proses mental melalui
tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar, dan sebagainya. Salah satu
bentuknya disebut guided discovery lesson (pelajaran dengan penemuan
terpimpin), yang ciri-cirinya sebagai berikut.
a. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan
pernyataan dan pertanyaan.
b. Jelas tingkat atau kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang
akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III).
c. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui kegiatan tersebut
perlu ditulis dengan jelas.
d. Alat atau bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam
melaksanakan kegiatan.
e. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan.
f. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan atau percobaan
untuk menemukan konsep atau prinsip yang telah ditetapkan.
g. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental
operasional siswa yang diharapkan dalam kegiatan.
h. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang
mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.
i. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil, terutama penyelidikan yang
mengalami kegagalan atau tidak berjalan sebagaimana seharusnya.
Model pembelajaran Guided Discovery menurut Mushlihin Al-Hafizh
(http://www.referensimakalah.com/2012/10/model-pembelajaran-guidedddiscovery.html) adalah model pengajaran dimana guru memberikan
kebebasan siswa untuk menemukan sesuatu sendiri karena dengan
menemukan sendiri siswa dapat lebih mengerti secara dalam. Dalam
pembelajaran ini guru hanya memberikan pengarahan atau petunjuk
Gagasan awal model pembelajaran Guided Discovery diambil dari
Rousseau, Dewey, Piaget, dan Bruner. Menurut Bruner (dalam Mushlihin Al-
17
Hafizh, 2012), model pembelajaran guided discovery adalah pendekatan
kognitif dalam pembelajaran dimana guru menciptakan situasi sehingga siswa
dapat belajar sendiri. Siswa belajar melalui keterlibatan aktif dengan konsep
dan prinsip-prinsip. Siswa didorong untuk mempunyai pengalaman dan
melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsipprinsip atau pengetahuan bagi dirinya. Jadi dalam guided discovery yang
sangat penting adalah siswa sungguh terlibat pada persoalannya, menemukan
prinsip-prinsip atau jawaban lewat suatu percobaan.
Dalam model pembelajaran guided discovery ini siswa berperan aktif
dalam proses belajar dengan: 1) Menjawab berbagai pertanyaan atau
persoalan. 2) Memecahkan persoalan untuk menemukan konsep dasar. Para
guru berubah dari menyajikan informasi dan konsepnya, menjadi mengajak
siswa bertanya, melihat dan mencari sendiri. Guru hanya memberikan
pengarahan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan guided discovery
adalah model pembelajaran yang mengajarkan konsep dimana guru
memberikan kebebasan siswa untuk menemukan sendiri. Langkah-langkah
model guided discovery adalah sebagai berikut :
(1) Guru menyajikan permasalahan dengan mengidentifikasi kebutuhan
siswa. (2) pemilihan pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian,
konsep, dengan generalisasi yang akan dipelajari. (3) Guru meminta siswa
untuk mengamati kemudian mendeskripsikan hasil yang diamati. (4) Guru
membimbing siswa untuk mengidentifikasi permasalahan. (5) Guru
membimbing siswa untuk mengambil data secara kelompok, berinteraksi
dengan contoh yang berkaitan dengan permasalahan yang disajikan,
mengubah variabel tertentu dalam pengambilan data dan mengamati
pengaruhnya terhadap permasalahan yang disajikan di awal. (6) Guru
meminta siswa untuk mendiskusikan permasalahan yang disajikan terkait
dengan data yang diperoleh, kemudian membuat kesimpulan. (7) Guru
membimbing siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
18
2.1.3.1 Kelebihan model guided discovery
Menurut Bruner (dalam Mushlihin Al-Hafizh, 2012) beberapa kelebihan dari
pembelajaran guided discovery adalah sebagai berikut:
a. Membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan
penguasaan ketrampilan dan proses kognitif.
b. Dengan pembelajaran guided discovery, pengetahuan diperoleh dari
strategi ini sangat pribadi. Sifatnya dan mungkin merupakan suatu
pengetahuan yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian
retensi dan transfer.
c. Pembelajaran guided discovery menyebabkan siswa mengarahkan sendiri
cara belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri
untuk belajar.
d. Mengembangkan
potensi
intelektual.
Siswa
hanya
akan
dapat
mengembangkan pikirannya dengan berfikir, dengan menggunakan
pikiran itu sendiri. Dengan model guided discovery pikiran siswa
digunakan, dilatih untuk memecahkan persoalan.
e. Belajar menemukan sesuatu. Untuk terampil dalam menemukan sesuatu,
siswa hanya dapat lewat praktik menemukan sesuatu. guided discovery
ini adalah praktik menemukan sesuatu yang dapat memperkaya siswa
dalam penemuan hal-hal yang lain dikemudian hari.
f. Pembelajaran guided discovery, akan membuat ingatan lebih lama.
Dengan menemukan sendiri, siswa lebih ingat akan yang dipelajari dan
sesuatu yang ditemukan sendiri besarnya tahan lama, tidak mudah
dilepaskan.
2.1.3.2 Kelemahan model guided discovery
1. Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini.
Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya
mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal abstrak, atau
menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subjek,
atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk
19
tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan
dan akan menimbulkan frustasi pada siswa yang lain.
2. Model pembelajaran guided discovery kurang berhasil untuk mengajar
kelas besar.
3. Model pembelajaran guided discovery memerlukan waktu yang lebih
banyak.
4. Mengajar dengan guided discovery mungkin akan dipandang sebagai
terlalu mementingkan perolehan pengertian dan kurang memperhatikan
diperolehnya sikap dan keterampilan. Sedangkan sikap dan keterampilan
diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan
emosional sosial secara keseluruhan.
2.2. Kajian Hasil Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh Yulis Purwanti (2010), Penerapan
guided discovery learning dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan
penguasaan konsep bagian-bagian tumbuhan pada siswa kelas II SDN Pringo
kecamatan Bululawang kabupaten Malang. Hasil penelitian menunjukkan
terjadi peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan Guided Discovery
Learning. Sebelum tindakan nilai rata-rata 65 dengan ketuntasan 60%.
Setelah penerapan Guided Discovery Learning nilai rata-rata siswa pada
siklus I naik menjadi 79 dengan ketuntasan belajar 80%. Pada siklus II nilai
rata-rata siswa meningkat menjadi 87,5 dengan ketuntasan belajar 100%.
Penerapan Guided Discovery Learning juga meningkatkan keaktifan siswa
dalam proses pembelajaran. Rata-rata skor keaktifan siswa pada siklus I 3,5
atau 75% dan dikatakan baik, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi
3,75 atau 93,75% dikatakan sangat baik.
Dari hasil penelitian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa
penerapan Guided Discovery Learning dapat meningkatkan penguasaan
konsep bagian-bagian tumbuhan pada siswa kelas II SDN Pringo Kecamatan
Bululawang Kabupaten Malang. Oleh sebab itu sebaiknya guru hendaknya
menggunakan model Guided Discovery Learning karena selain dapat
neningkatkan hasil belajar siswa, dengan model tersebut aspek keterampilan
20
dan sikap ilmiah siswa dapat berkembang optimal.
Penelitian yang dilakukan oleh Chotidjah Hidayati (2010),
Penerapan pembelajaran penemuan terbimbing untuk meningkatkan hasil
belajar IPA siswa kelas V SDN Ngawongso 01 Kecamatan Tajinan
Kabupaten Malang tahun pelajaran 2009/2010. Hasil penerapan model
penemuan terbimbing pada siklus I nilai rata-rata 83,82, siklus II nilai ratarata 92,64. Aktivitas belajar siswa pada siklus pertama 43,75, siklus ke dua
nilai rata-rata 81,25. Hasil belajar siswa pada tes awal nilai rata-rata 55,68,
siklus I nilai rata-rata 67,81, siklus II nilai rata-rata 71,56.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti ada beberapa
saran yang seharusnya dilakukan antara lain: 1. Pembelajaran dengan
menggunakan
model
penemuan
terbimbing
mampu
meningkatkan
pembelajaran tentang gaya, gerak dan energi dengan hasil yang optimal untuk
itu guru memerlukan persiapan yang matang dalam menerapkan model
penemuan terbimbing. 2. Apabila seorang guru menerapkan model penemuan
terbimbing
perlu
memperhatikan
hal-hal
sebagai
berikut:
sebelum
menerapkan model pembelajaran penemuan terbimbing perlu mempersiapkan
alat yang akan dipergunakan dalam pembelajaran, langkah-langkah yang akan
dilakukan dalam pembelajaran model penemuan terbimbing perlu dipelajari
dan dipahami oleh guru sebelum diterapkan dalam pembelajaran, sering
melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, sehingga siswa dapat
menemukan pengetahuan baru dan mampu memecahkan masalah-masalah
yang dihadapinya.
Penelitian yang dilakukan oleh Gatot Sukotjo (2011), Upaya
meningkatkan aktifitas dan prestasi belajar IPA dengan pendekatan
pembelajaran discovery pada siswa kelas VI SDN Gunungrejo 1 Singosari
Malang. Hasil belajar atau prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA di
kelas VI SDN Gunungrejo 1 Kabupaten Malang melalui penerapan metode
pembelajaran penemuan terbimbing (discovery) mengalami peningkatan yang
ditunjukan dengan kenaikan persentase ketuntasan prestasi belajar siswa
dalam setiap tahap, yaitu tahap pra tindakan sebesar 10,42%, siklus 1
21
pertemuan 1 sebesar 58%, siklus 1 pertemuan 2 sebesar 85%, dan siklus 2
sebesar 100%.
Berdasarkan beberapa hasil kajian yang relevan di atas bahwa dengan
penggunaan model guided discovery dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Model pembelajaran guided discovery efektif untuk diterapkan di SD
khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, karena pembelajaran
IPA di SD/MI pada hakikatnya mencari tahu dan berbuat sehingga dapat
memperoleh pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri dan alam
sekitar, sehingga IPA bukan sekedar penguasaan fakta-fakta, konsep-konsep
atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan proses penemuan. Proses
pembelajaran menekankan pada proses pemberian pengalaman langsung
untuk mengembangkan kompetensi dan memahami alam sekitar secara
ilmiah.
2.3. Kerangka Pikir
Keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar khususnya pada
pembelajaran IPA dapat dilihat dari tingkat pemahaman dan penguasaan
materi siswa. Keberhasilan pembelajaran IPA dapat diukur dari kemampuan
siswa dalam memahami materi pelajaran. Siswa dikatakan paham apabila
indikator pembelajaran tercapai. Adapun indikator yang dijadikan sebagai
tolak ukur siswa dikatakan paham menurut Abin Syamsudin apabila siswa
dapat menjelaskan, mendefinisikan dengan kata-kata sendiri dengan cara
mengungkapkannya melalui pertanyaan, tes, dan penugasan.
Pembelajaran di sekolah dilakukan guru dan siswa dengan saling
berinteraksi dalam pertukaran ilmu (dari guru ke siswa). Dalam melakukan
interaksi guru harus menggunakan model pembelajaran yang mudah diterima
siswa dan dapat meningkatkan pemahaman konsep. Selain model mengajar
yang dilakukan oleh guru, faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar siswa
adalah yang efektif dan efesien dilihat dari keaktifan, kreatifitas dan
kemandirian siswa. Cara belajar siswa juga harus disesuaikan dengan materi
pelajaran dan tujuan pengajarannya. Cara belajar yang baik memungkinkan
siswa untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Penelitian Tindakan
22
Kelas (PTK) merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk
mengenal masalah-masalah yang menyebabkan rendahnya kemampuan siswa
dalam memahami konsep pada pembelajaran IPA dan untuk mengetahui
usaha dalam mengatasinya. Prosedur pelaksanaan tindakan kelas ini
merupakan siklus dan dilaksanakan sesuai perencanaan atau perbaikan dari
perencanaan tindakan terdahulu. Dalam penelitian ini diperlukan evaluasi
awal sebagai upaya untuk menentukan fakta-fakta yang dapat digunakan
untuk melengkapi kajian teori yang ada untuk menyusun perencanaan
tindakan yang tepat agar pemahaman materi tentang sifat-sifat cahaya dapat
ditingkatkan. Tindakan kelas yang dilaksanakan berupa pengajaran secara
sistematik dengan tindakan pengelolaan kelas melalui strategi model, metode
teknik pengajaran yang tepat. Tindakan dilakukan dalam beberapa siklus.
Tindakan dilakukan dalam beberapa siklus maksudnya setelah tindakan
pertama selesai dapat dilakukan tindakan kembali setelah peneliti
mengadakan refleksi. Dalam sekali tindakan biasanya permasalahan atau
pemikiran baru yang perlunya mendapat perhatian sehingga siklus tersebut
harus terus berulang sampai permasalahan tersebut teratasi.
Dengan model pembelajaran guided discovery diharapkan mampu
melatih ketrampilan berpikir dan ketrampilan bertanya serta mampu
memunculkan aktivitas-aktivitas yang selama ini tidak terlihat dalam kegiatan
belajar mengajar. Dan diharapkan siswa termotivasi dalam belajar dan
mendapatkan kemudahan dalam menerima dan memahami materi yang
diajarkan.
Dengan diterapkannya model pembelajaran guided discovery ini
diduga membawa siswa pada suasana yang baru membuat perasaan menjadi
senang terhadap pelajaran IPA maka akan menimbulkan motivasi belajar
siswa, sikap positif terhadap proses pembelajaran dan tumbuhnya sikap
percaya diri. Jika hal tersebut sudah ada dalam diri siswa maka dapat
mencapai hasil belajar yang maksimal.
Adapun kerangka pemikiran yang ditunjukkan untuk mengarahkan
jalannya penelitian agar tidak menyimpang dari pokok-pokok permasalahan
23
maka kerangka pikir di atas dilukiskan dalam sebuah gambar agar peneliti
mempunyai gambaran yang jelas dalam melaksanakan penelitian.
Langkah-langkah pembelajaran sesuai kerangka pikir dengan materi sebagai
berikut.
KONDISI
AWAL
Guru masih
menggunakan metode
konvensional, siswa
pasif
TINDAKAN
Penerapan model
pembelajaran Guided
Discovery
KONDISI
AKHIR
Pembelajaran siswa
menjadi aktif
Hasil belajar rendah
Hasil belajar meningkat
Gambar 1. Kerangka Pikir
2.4. Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran di atas, maka
dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas sebagai berikut :
Hasil belajar IPA tentang sifat-sifat cahaya dapat ditingkatkan melalui model
pembelajaran guided discovery siswa kelas 5 SDN 05 Bleboh Kecamatan
Jiken Kabupaten Blora semester genap tahun pelajaran 2012/2013.
Download