eksperimentasi model pembelajaran”think pair share pada materi

advertisement
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN”THINK PAIR SHARE
PADA MATERI POKOK BANGUN RUANG SISI LENGKUNG
DI TINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA KELAS IX SMP
DI KOTA PALANGKA RAYA KALIMANTAN TENGAH
Oleh : Magfiratullah *
Abstrak
Matematika mempunyai kegunaan yang sangat penting, baik dalam kehidupan sehari-hari
maupun dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui apakah model pembelajaran TPS dapat
menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada penggunaan model pembelajaran
STAD pada materi pokok Bangun Ruang Sisi Lengkung. (2) Untuk mengetahui manakah yang
memberikan prestasi belajar matematika lebih baik antara siswa dengan gaya belajar visual, siswa
dengan gaya belajar auditorial, dan siswa dengan gaya belajar kinestetik, pada kelas yang
menggunakan model pembelajaran TPS. (3) Untuk mengetahusi manakah yang memberikan
prestasi belajar matematika lebih baik antara siswa dengan gaya belajar visual, siswa dengan gaya
belajar auditorial, dan siswa dengan gaya belajar kinestetik, pada kelas yang menggunakan model
pembelajaran STAD.
Hasil analisis data menggunakan anava dua jalan dengan sel tak sama dengan taraf
signifikansi α = 0,05 adalah (1) Ada perbedaan efek antar baris (Fa = 27,7811 > F0,05;1;240 = 3,8815),
dengan kata lain kedua model pembelajaran memberi pengaruh yang tidak sama terhadap prestasi
belajar metematika siswa pada materi pokok bangun ruang sisi lengkung. (2) Ada perbedaan efek
antar kolom (Fb = 13,3093 > F0.05;2,240 = 3,0344), dengan kata lain ketiga kategori gaya belajar
matematika siswa memberikan pengaruh yang tidak sama terhadap prestasi beljar matematika pada
materi pokok bangun ruang sisi lengkung. (3) Terdapat interaksi baris dan kolom terhadap variabel
terikat. (Fab = 6,0386 > F0.05;2,240 = 3,0344).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah : (1) Materi dengan menggunakan model pembelajaran
TPS lebih baik dari pada prestasi belajar Prestasi belajar matematika siswa pada matematika siswa
dengan menggunakan pembelajaran STAD (2) Pada kelas yang menggunakan pembelajaran TPS,
gaya belajar kinestetik memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik dari pada
siswa dengan gaya belajar visual dan gaya belajar auditorial sama baiknya dengan gaya belajar
kinestetik maupun dengan gaya belajar visual. (3) Pada kelas yang menggunakan pembelajaran
STAD, gaya belajar auditorial memberian prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik dari
pada siswa dengan gaya belajar visual dan gaya belajar kinestetik sama baiknya dengan gaya belajar
visual maupun auditorial.
Kata Kunci : Model TPS, Model STAD, Gaya Belajar, Prestasi Belajar Matematika
PENDAHULUAN
Kehidupan dimasa yang akan datang
ditandai dengan perkembangan teknologi
yang
semakin
maju
Perkembangan
teknologi sangat dipengaruhi oleh kemajuan
yang dicapai manusia. dalam penguasaan
matematika, Seseorang yang menguasai
matematika berarti dia harus mampu
memecahkan masalah-masalah dengan
menggunakan matematika.
Menurut Miller (Noraini Idris. 2009)
mengatakan bahwa “Mathematics learning
for understanding is not easy. Many
students fail to understand the concepts
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
76
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
taught to them. They solve problems by
memorizing formulae and procedures
teachers have taught them. The students
merely put the required figures into the
formulae to arrive at the answer.” Artinya
bahwa
belajar
tentang
pemahaman
matemematika
memang tidak mudah.
Banyak siswa tidak berhasil memahami
konsep yang diajarkan kepada mereka.
Mereka menyelesaikan masalah dengan
menghafal rumus dan formula yang
diajarkan oleh guru. Mereka hanya
meletakan unsur-unsur yang ada kedalam
rumus atau formula untuk menjawab suatu
pertanyaan.
Salah satu faktor penyebab kesulitan
siswa
dalam
belajar
matematika
kemungkinan adalah model pembelajaran
yang digunakan guru tidak sesuai dengan
kondisi siswa maupun materi pokok yang
disampaikan.
Model pembelajaran yang sering
digunakan selain model pembelajaran
langsung
adalah model pembelajaran
kooperatif
STAD.
Selain
Model
pembelajaran kooperatif STAD masih ada
model pembelajaran kooperatif yang dapat
digunakan dalam pembelajaran matematika
di sekolah misalnya model pembelajaran
Think Pair Share (TPS), yang melibatkan
siswa untuk bekerja sama. Pemilihan model
pembelajaran
perlu
memperhatikan
beberapa hal seperti materi yang
disampaikan, tujuan pembelajaran, waktu
yang tersedia dan banyaknya siswa serta
hal-hal yang berkaitan dengan proses
belajar mengajar.
Di samping penggunaan model
pembelajaran yang sesuai, terdapat faktor
lain yang mempengaruhi keberhasilan
belajar matematika, diantaranya gaya
belajar
matematika.
Gaya
belajar
matematika merupakan cara yang khas dan
konsisten dilakukan oleh siswa dalam
menyerap
informasi.
Gaya
belajar
matematika dikelompokkan menjadi tiga
tipe yaitu visual, auditorial, dan kinestetik.
Berdasarkan uraian diatas penelitian
ini dilaksanakan dengan tujuan:
1. Untuk mengetahui apakah model
pembelajaran TPS dapat menghasilkan
prestasi belajar matematika lebih baik
dari
pada
penggunaan
model
pembelajaran STAD pada materi pokok
Bangun Ruang Sisi Lengkung.
2. Untuk
mengetahui
apakah
ada
perbedaan prestasi belajar siswa
yamempunyai gaya belajar visual,
auditorial, dan kenestetik pada materi
pokok Bangun Ruang Sisi Lengkung.
3. Untuk mengetahui manakah yang
memberikan prestasi belajar matematika
lebh baik antara model pembelajaran
TPS atau model pembelajaran STAD,
pada siswa dengan gaya belajar visual.
KAJIAN TEORI
Belajar adalah salah satu unsur utama
dalam proses pendidikan formal di sekolah.
Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia
selalu dekat dengan apa yang disebut
belajar.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Winkel (2004: 59) bahwa, “Belajar adalah
suatu
aktivitas
mental/psikis,
yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan, yang menghasilkan sejumlah
perubahan dalam pengetahuan pemahaman,
ketrampilan dan nilai-sikap. Perubahan itu
bersifat relatif konstan dan berbekas”.
Prestasi belajar merupakan suatu hasil
usaha yang dicapai seseorang dalam
penguasaan pengetahuan, sikap serta
ketrampilan berkat pengalaman dan latihan
yang dinyatakan dalam perubahan tingkah
laku. Sutratinah Tirtenegoro (2001: 43)
mengatakan bahwa, “Prestasi belajar adalah
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
77
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
hasil dari pengukuran serta penilaian usaha
belajar”
Matematika merupakan salah satu
ilmu dasar yang harus dikuasai oleh semua
siswa karena pelajaran lainnya tidak bisa
terlepas dari matematika. (Huntley : 329).
Menurut Lawson (2000: 26) “A major aim
mathematics education is to devise ways of
encouraging students to take more active
role s in acquiring, experimenting with, and
using the mathematical ideas and
procedures that are included in the school
curriculum”. menyatakan bahwa tujuan
utama dari pembelajaran matematika adalah
untuk menemukan jalan yang memberikan
harapan siswa untuk melakukan banyak
peranan dengan kecakapan, mengadakan
percobaan dengan atau menggunakan ideide secara matematis dan prosedural yang
dimasukkan dalam kurikulum sekolah.
Prestasi belajar matematika pada
penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai
siswa dalam proses belajar matematika yang
menghasilkan
perubahan
pada
diri
seseorang berupa penguasaan, ketrampilan,
dan kecakapan baru yang dinyatakan
dengan symbol, angka, atau, huruf.
Tujuan utama pembelajaran adalah
mendorong
siswa
untuk
belajar.
Pembelajaran merupakan upaya pengaturan
informasi dan lingkungan sedemikian rupa
untuk memfasilitasi terjadinya proses
belajar pada diri peserta didik. Lingkungan
pembelajaran meliputi model, media, dan
peralatan
yang
diperlukan
dalam
penyampaian informasi dalam proeses
pembelajaran. Pengaturan atau pemilihan
model, media atau peralatan serta informasi
dalam proses pembelajaran menjadi
tanggung jawab dari guru untuk merancang
atau mendesainnya.
Model pembelajaran adalah bagian
dari proses pembelajaran yang merupakan
langkah-langkah taktis bagi guru dalam
pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan. Menurut Jouce, Weil dan
Calhoun (2000: 10) model pembelajaran
dapat diartikan sebagai suatu cara atau pola
yang digunakan untuk membantu siswa
mengembangkan potensi dirinya sebagai
pembelajaran.
Siswa tidak hanya menguasai materi
perihal pengetahuan dan keterampilan
melainkan
juga
harus
memperoleh
peningkatan kemampuan untuk menghadapi
tugas-tugas di masa depan dan untuk
keperluan belajar mandiri. Dick dan Carey
(1990: 1) menyatakan bahwa model
pembelajaran adalah suatu pendekatan
dalam mengelola secara sistematis kegiatan
pembelajaran sehingga pesetra didik dapat
mengusai isi pelajaran
Pembelajaran
Kooperatif
(Cooperative Learning) adalah model
pembelajaran
yang
berfokus
pada
penggunaan kelompok kecil siswa untuk
bekerja sama dalam memaksimalkan
kondisi belajar untuk mencapai tujuan
belajar.
Pembelajaran
Kooperatif
menciptakan interaksi yang asah,asih dan
auh sehingga tercipta masyarakat belajar
(Learning Community). Siswa tidak hanya
belajar dari guru tetapi juga dari sesama
siswa. Selanjutnya Armstrong, Scott (1998)
mengatakan “Teams members may (a) work
on the worksheets in pairs, (b) take turns
quizzing each other, (c) discuss problems as
a group, or (d)use whatever strategies they
wich to learn the assigned material”.
Artinya anggota kelompok diperbolehkan
(a) mengerjakan lembar kerja secara
berpasangan, (b) membuat giliran kuis satu
sama lain, (c) mendiskusikan masalah di
dalam kelompok, atau (d) mengunakan
strategi apa saja untuk belajar materi yang
ditugaskan.
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
78
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
Beberapa karakteristik cooperative
learning menurut Rossetti dan Nembhard
(1998: 68) antara lain:
a. Positive interdependence, adalah sifat
yang
menunjukkan
saling
ketergantungan satu terhadap yang lain
dalam kelompok serta positif.
b. Face-to-Face Promotive Interaction,
proses yang melibatkan siswa dalam
proses belajar yang mengharuskan
siswa untuk belajar dengan satu sama
lain.
c. Individual
accountability/Personal
Responsibility, yaitu setiap individu
dalam kelompok mempunyai tanggung
jawab
untuk
menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi kelompok.
d. Collabortive Skills, yaitu suatu
kebutuhan untuk mengajarkan kepada
siswa tentang bagaimana siswa
berfungsi dalam suatu kelompok. Siswa
harus
mempunyai
pemahaman
berkelompok, metode pendengaran
yang aktif, pengendalian konflik, dan
ketrampilan sosial lainnya agar diskusi
berlangsung secara efektif.
e. Group processing, proses perolehan
jawaban permasalahan dikerjakan oleh
kelompok secara bersama-sama.
Model pembelajaran Think Pair Share
(TPS) merupakan salah satu tipe
pembelajaran
kooperatif
yang
dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari
Universitas Maryland. Model pembelajaran
TPS memberikan kepada siswa waktu untuk
berpikir dan merespon serta saling
membantu satu sama lain.
Dalam
menerapkan
model
pembelajaran TPS Frank Lyman dalam
Arends, (2001: 325-326) menggunakan
langkah-langkah sebagai berikut:
1). Thinking (berpikir): Guru memberikan
pertanyaan yang berhubungan dengan
pelajaran, kemudian siswa diminta
untuk memikirkan pertanyaan tersebut
secara mandiri untuk beberapa saat.
2). Pairing (berpasangan): Guru meminta
siswa untuk berpasangan dengan siswa
yang lain untuk mendiskusikan apa
yang telah dipikirkannya pada langkah
pertama. Interaksi pada tahap ini
diharapkan dapat berbagi jawaban jika
telah diajukan suatu pertanyaan atau ide
jika suatu persoalan khusus telah
diidentifikasi.
Biasanya
guru
memberikan waktu 4-5 menit untuk
berpasangan.
3). Sharing (berbagi): Guru meminta
pasangan-pasangan siswa tersebut
untuk berbagi atau bekerja sama
dengan kelas secara keseluruhan
mengenai apa yang telah mereka
diskusikan dengan cara bergantian
pasangan
demi
pasangan
dan
dilanjutkan sampai beberapa siswa
telah mendapat kesempatan untuk
melaporkan, paling tidak sekitar
seperempat
pasangan,
tetapi
disesuaikan
Model pembelajaran Student Team
Achievement Division (STAD), merupakan
tipe
pembelajaran
kooperatif
yang
dikembangkan oleh Robert E, Slavin (2008)
di Universitas Jonn Hopkins, AS. Tipe
STAD merupakan model pembelajaran
kooperatif yang sangat sederhana terdiri
dari empat fase, yaitu:
1. Presentasi kelas: Pada komponen ini,
guru memberikan materi dengan
mengemukakan
konsep-konsep,
keterampian-keterampilan
dengan
menggunakan buku siswa, buku guru,
bahan untuk audio visual dan
sebagainya. Guru harus mampu
mendesain materi pembelajaran untuk
mode pembelajaran kooperatif tipe
STAD, yaitu guru menyiapkan Lembar
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
79
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
Kerja siswa (LKS) untuk masingmasing kompetensi dasar.
2. Kelompok Belajar: Peserta didik dalam
satu kelas dibagi menjadi kelompokkelompok heterogen dengan jumlah
anggota 4-5 orang siswa. Pada
pembentukan kelompok guru harus
memperhatikan
keanekaragaman
gender, latar belakang sosial, etnik,
serta tingkat kemampuan akademik
siswa dalam keanggotaan kelompok.
Fungsi utama kelompok belajar ini
adalah
siswa
belajar
dalam
kelompoknya serta mempersiapkan
anggotanya untuk belajar dengan baik
dalam menghadapi tes individu..
3. Evaluasi
Belajar:
Setelah
guru
mempresentasikan satu materi pokok
bahasan, kemudian dilakukan evaluasi
perorangan dengan tujuan untuk
mengukur pengetahuan yang diperoleh
selama kegiatan belajar mengajar.
4. Skor/nilai peningkatan perorangan atau
kelompok.
Kuis dikerjakan siswa secara mandiri.
Hal ini bertujuan untuk menunjukkan
apa yang telah diperoleh siswa selama
belajar
dalam
kelompok.
nilai
perkembangan
individu
dan
disumbangkan
dalam
nilai
perkembangan kelompok.
Gaya belajar siswa adalah cara belajar
yang khas, bersifat konsisten, kerapkali
tidak disadari yang merupakan kombinasi
dari bagaimana siswa tersebut menyerap
dan mengatur serta mengolah informasi. De
Porter dan Hernacki, (1999: 110-112) yang
merumuskan
bahwa,
“Gaya
belajar
seseorang adalah kombinasi dari bagaimana
ia menyerap dan kemudian mengatur serta
mengolah informasi”. Sedangkan Winkel
(1996: 147) mengemukakan bahwa, ”Gaya
belajar merupakan cara belajar yang khas
bagi siswa. Cara khas ini bersifat individual
yang kerapkali tidak disadari dan sekali
terbentuk dan cenderung bertahan terus”
Menurut De Porter dan Hernacki,
(1999: 112-113) mengolongkan gaya
belajar
berdasarkan
cara
menerima
informasi dengan mudah (modalitas) ke
dalam tiga tipe yaitu gaya belajar tipe
visual, tipe auditorial, dan tipe kinestetik.
Selanjutnya sesuai dengan pembagian tipe
gaya belajar, orang dapat diklasifikasikan
menjadi tiga macam yaitu orang bertipe
visual, auditorial, dan kinestetik.
Model pembelajaran bukanlah satusatunya faktor yang berpengaruh terhadap
peningkatan prestasi belajar siswa. Gaya
belajar siswa juga memiliki pengaruh
terhadap prestasi belajar siswa. Karena
perbedaan gaya belajar siswa maka ada
kemungkinan
bahwa
suatu
model
pembelajaran matematika tidak selalu cocok
untuk semua siswa. Suatu model
pembelajaran mungkin cocok untuk siswa
dengan gaya belajar visual, tetapi tidak
cocok untuk siswa dengan gaya belajar
auditorial dan kinestetik, dan sebaliknya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
penelitian eksperimental semu (quasiexperimental research). Sebelum memulai
perlakuan terlebih dahulu dilakukan uji
keseimbangan dengan menggunakan uji-t
untuk mengetahui apakah kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol dalam
keadaan seimbang atau tidak. Data yang
digunakan untuk melakukan kedua uji
tersebut adalah nilai hasil Ulangan Umum
Bersama semester genap kelas VIII
Pada akhir eksperimen, kedua kelas
tersebut diukur dengan alat ukur yang sama
yaitu soal-soal tes prestasi belajar
matematika pada materi pokok rumusrumus trigonometri. Hasil pengukuran
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
80
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
tersebut dianalisis dan dibandingkan dengan
uji statistik yang sesuai.
Penelitian ini menggunakan rancangan
faktorial
2 × 3 dengan maksud untuk
mengetahui pengaruh dua variabel bebas
terhadap variabel terikat.
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas XI SMP di Kota
Palangka Raya. Teknik pengambilan sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
stratified
cluster
random
sampling
(Budiyono, 2003: 37) yaitu dengan
mengelompokkan sekolah-sekolah kedalam
kelompok atas, menengah dan rendah.
Dalam penelitian ini sekolah-sekolah
yang terpilih menjadi sampel adalah SMP
Nusantara Palangka Raya (kelompok atas),
SMP Muhammadiyah Palangka Raya
(kelompok menengah) dan SMPN I
Palangka
Raya
(kelompok
bawa).
Sedangkan banyaknya siswa yang menjadi
sampel adalah 240 orang yang terdiri dari
120 orang kelompok eksperimen dan 120
orang kelompok kontrol.
Pada penelitian ini terdapat dua
variabel bebas yaitu Model Pembelajaran
(A) dan Gaya belajar siswa (B) dan satu
variabel terikat yaitu Prestasi Belajar
Matematika (AB) sedangkan teknik yang
digunakan untuk mengumpulkan data ada
tiga cara, yaitu dokumentasi, angket, dan
tes.
Dokumentasi,
digunakan
untuk
mengetahui pengelompokan sekolah guna
penetapan sampel serta data kemampuan
awal siswa untuk mengetahui apakah kelas
eksperimen dan kelas kontrol dalam
keadaan seimbang atau tidak.
Angket, digunakan untuk mengetahui
gaya belajar siswa. Angket berisi Butir
pernyataan angket mengacu pada gaya
belajar visual, auditorial, dan kinestetik.
Diberikan 2 pilihan jawaban yaitu ya dan
tidak.
Tes, memuat pertanyaan pertanyaan
yang berisi materi-materi pokok rumusrumus trigonometri. Tes tersebut berupa tes
objektif / pilihan ganda dan setiap butir tes
tersedia empat alternatif jawaban dan untuk
setiap jawaban benar diberi skor 1 dan
setiap jawaban salah diberi skor 0.
Uji prasyarat analisis terdiri dari uji
normalitas dan uji homogenitas. Uji
normalitas dilakukan untuk mengetahui
apakah sampel berasal dari populasi yang
berdistribusi normal atau tidak; uji
normalitas menggunakan Uji Liliefors.
Sedangkan uji homogenitas
untuk
mengetahui apakah populasi penelitian
mempunyai variansi yang sama atau tidak.
Untuk menguji homogenitas digunakan Uji
Bartlett.
Untuk pengujian hipotesis dalam
penelitian ini digunakan analisis variansi
dua jalan dengan sel
tak sama, dan
dilanjutkan uji komparasi ganda dengan
menggunakan metode Scheffe’.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. HASIL PENELITIAN
A. Uji Prasyarat Analisis
a. Uji Normalitas
Tabel 1. Rangkuman Hasil Uji Normalitas
L0,05;n
Keputusan Kesimpula
Uji Normalitas
Lobs
n
Kelompok
0,0630
L0,05;120 = 0,0809 H0 diterima
Normal
Eksperimen
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
81
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
Kelompok Kontrol
0,0736
L0,05;120= 0,0809
H0 diterima
Normal
Gaya Belajar Visual
0,0929
L0,05;73 = 0,1037
H0 diterima
Normal
Gaya Belajar
Auditorial
Gaya Belajar
Kinestetik
0,0902
L0,05;82 = 0,0978
H0 diterima
Normal
0,0733
L0,05;85 = 0,0961
H0 diterima
Normal
Berdasarkan tabel di atas untuk
masing-masing sampel ternyata L0bs < Ltab,
sehingga H0 diterima. Ini berarti masing-
masing sampel berasal dari populasi yang
berdistribusi normal.
b. Uji Homognitas
Tabel 2. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Variansi
Model
2
0,5473
Pembelajaran
Gaya Belajar
3
0,6284
B
erdasarkan tabel di atas, ternyata harga X2obs
dari kelas yang diberi perlakuan model
mengajar dan gaya belajar siswa kurang
dari X20,05;n sehingga Ho diterima. Ini berarti
3,8410
Ho diterima
Homogen
5,9910
Ho diterima
Homogen
populasi yang dikenai perlakuan model
pembelajaran dan gaya belajar siswa berasal
dari populasi homogen.
B. Pengujian Hipotesis Penelitian
Tabel 3. Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama
Sumber
varian
Model
Pembelajaran
(A)
Gaya Belajar
(B)
JK
dK
RK
Fobs
2501,8446
1
2501,8446
27,7811
3,8815
2397,1469
2
1198,5735
13,3093
3,0344
Interaksi (AB)
1087,6230
2
543,8115
6,0386
3,0344
Galat
21073,0229S
234
90,0557
Total
27059,6374
239
F
Keputusan
HOA
ditolak
HOB
ditolak
HOAB
ditolak
Keterangan : F di dapat dengan perhitungan MINITAB
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
82
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
Berdasarkan tabel diatas
a. Pada efek utama A model pembelajaran)
hasil statistik uji Fa = 27,7811 dan Fα =
3,8815 sehingga Fa > Fα dengan
demikian HOA ditolak.
b. Pada efek utama B (gaya belajar) hasil
statistik uji Fb = 13,3093 dan Fα =
3,0344 sehingga Fb > Fα dengan
demikian HOB ditolak..
c. Pada efek AB (model pembelajaran dan
gaya belajar siswa) hasil statistik uji Fab
= 6,0386 dan Fα = 3,0344 sehingga Fab >
Fα dengan demikian HOAB ditolak.
C. Uji Komparasi Ganda
Pada antar baris tidak perlu dilakukan
uji komparasi ganda karena variabel model
pembelajaran hanya ada dua (pembelajaran
TPS dan pembelajaran STAD). Sehingga
dilihat dari rataan marginalnya dapat
disimpulkan bahwa prestasi belajar siswasiswa yang diberi pembelajaran TPS
memiliki prestasi yang berbeda daripada
siswa-siswa yang diberi pembelajaran
STAD. Hal ini dapat dilihat dari tabel
sebagai berikut :
Tabel 4. Rataan Marginal
Gaya Belajar
Model Mengajar
Model pembelajaran TPS
Model Pembelajaran
STAD
Rataan Marginal
Visual
Auditorial Kinestetik
63,8892
66,5859
72,9460
68,0559
56,4046
65,7727
61,8298
61,5042
60,0956
66,1793
67,4533
a. Komparansi Ganda Antar Baris
Dari rataan marginalnya (
Rataan
Marginal
1.
= 68,0559 >
61.5042 = 2 . ) dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran TPS menghasilkan prestasi
belajar lebih
baik
dibandingkan,
pembelajaran STAD
b. Komparasi Ganda Antar Kolom
Karena HOB ditolak sehingga dilakukan
uji
komparasi
ganda
dengan
menggunakan model Scheffe' dan
dirangkum dalam tabel berikut.
Tabel 5. Rangkuman Hasil Uji Komparasi Ganda Antar Kolom
Komparasi
µ.1 VS µ.2
µ.1 VS µ.3
µ.2 VS µ.3
(
)2
37,0108
54,1354
1,6231
(
)
0,0259
0,0255
0,0240
RKG
Fobs
Kritik
Keputusan
90,0557
90,0557
90,0557
15,8717
23,6078
0,7522
6,06882
6,06882
6,06882
Ho ditolak
Ho ditolak
Ho diterima
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
83
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1. Ada perbedaan rataan untuk (
=
60,0956 < 66,1793 = ) menunjukkan
bahwa siswa yang memiliki gaya belajar
auditorial prestasi belajarnya lebih baik
dibandingkan siswa yang memiliki gaya
belajar visual.
2. Ada perbedaan rataan untuk (
=
belajar kinestetik prestasi belajarnya
lebih baik dibandingkan siswa yang
memiliki gaya belajar visual.
3. Tidak ada perbedaan antara siswa yang
memiliki gaya belajar belajar Auditorial
prestasi belajarnya sama baiknya siswa
yang memiliki gaya belajar belajar
Kinestetik.
c. Komparasi Ganda Antar Sel pada
Kolam Yang Sama
60,0956 < 67,4533 =
menunjukkan
bahwa siswa yang memiliki gaya belajar
Tabel 5. Rangkuman Komparasi Ganda Antar Sel pada kolom yang sama
RKG
)2 ( + )
56,0188
0,0548
90,0557
0,6612
0,0488
90,0557
123,5718
0,0471
90,0557
Komparasi
F
Kritik
Keputusan
11,3502
0,1505
29,1546
11.2631
11.2631
11.2631
Ho ditolak
Ho diterima
Ho ditolak
(
µ11 vs µ21
µ12 vs µ22
µ13 vs µ23
d. Komparasi Ganda Antar Sel Pada Baris Yang Sama
Tabel 6. Rangkuman Komparasi Ganda Antar Sel pada baris yang sama
Komparasi
µ11 vs
µ11 vs
µ12 vs
µ21 vs
µ21 vs
µ22 vs
µ12
µ13
µ13
µ22
µ23
µ23
(
)2
7,2721
82,0271
40,4521
87,7611
29,4324
15,5466
(
+ )
0,0514
0,0508
0,0482
0,0522
0,0510
0,0476
RKG
F
90,0557 1,5705
90,0557 17,9172
90,0557 9,3193
90,0557 18,6804
90,0557 6,4041
90,0557 3,6232
Berdasarkan Tabel di atas dapat
disimpulkan
1) Terdapat perbedaan prestasi antara
siswa yang dikenakan pembelajaran
TPS dan pembelajaran STAD pada
gaya belajar visual. Jika dilihat dari
rataan
marginal
yaitu
Kritik
Keputusan
11.2631
11.2631
11.2631
11.2631
11.2631
11.2631
Ho diterima
Ho ditolak
Ho diterima
Ho ditolak
Ho diterima
Ho diterima
berarti prestasi siswa dengan gaya
belajar visual pada pembelajaran TPS
lebih baik dari prestasi siswa pada
pembelajaran STAD , pada materi
pokok bangun ruang sisi lengkung.
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
84
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
2) Tidak terdapat perbedaan prestasi
antara
siswa
yang
dikenakan
pembelajaran TPS dan pembelajaran
STAD pada gaya belajar auditorial. Hal
ini berarti prestasi belajar siswa dengan
gaya auditorial pada pembelajaran TPS
sama baiknya dengan prestasi belajar
siswa pada pembelajaran STAD, pada
materi pokok bangun ruang sisi
lengkung.
3) Terdapat perbedaan prestasi antara
siswa yang dikenakan pembelajaran
TPS dan pembelajaran STAD pada
gaya belajar kinestetik. Jika dilihat dari
rataan
marginal
yaitu
berarti prestasi siswa dengan gaya
belajar kinestetik pada pembelajaran
TPS lebih baik dari prestasi siswa pada
pembelajaran STAD, pada materi
pokok bangun ruang sisi lengkung.
4) Tidak terdapat perbedaan prestasi
antara siswa dengan belajar visual dan
siswa dengan gaya belajar auditorial
pada pembelajaran TPS. Hal ini berarti
pada pembelajaran TPS, prestasi belajar
siswa dengan gaya belajar visual sama
baiknya dengan prestasi siswa dengan
gaya belajar auditorial pada materi
pokok bangun ruang sisi lengkung.
5) Terdapat perbedaan prestasi antara
siswa dengan belajar visual dan siswa
dengan gaya belajar kinestetik pada
pembelajaran TPS. Jika dilihat dari
rataan
marginal
yaitu
hal
ini berarti pada pembelajaran TPS
prestasi belajar siswa dengan gaya
belajar kinestetik lebih baik dari pada
prestasi belajar siswa dengan gaya
belajar visual pada materi pokok bangun
ruang sisi lengkung.
6) Tidak terdapat perbedaan prestasi antara
siswa dengan belajar auditorial dan
siswa dengan gaya belajar kinestetik
pada pembelajaran TPS. Hal ini berarti
pada pembelajaran TPS prestasi belajar
siswa dengan gaya belajar auditorial
sama baiknya dengan prestasi belajar
siswa dengan gaya belajar kinestetik
pada materi pokok bangun ruang sisi
lengkung.
7) Terdapat perbedaan prestasi antara
siswa dengan belajar visual dan siswa
dengan gaya belajar auditorial pada
pembelajaran STAD Jika dilihat dari
rataan
marginal
yaitu
hal ini berarti pada pembelajaran STAD
prestasi belajar siswa dengan gaya
belajar auditorial lebih baik dari pada
prestasi belajar siswa dengan gaya
belajar visual pada
materi pokok
bangun ruang sisi lengkung
8) Tidak terdapat perbedaan prestasi antara
siswa dengan gaya belajar visual dan
siswa dengan gaya belajar kinestetik
pada pembelajaran STAD. Hal ini
berarti pada pembelajaran STAD
prestasi belajar siswa dengan gaya
belajar visual sama baiknya dengan
prestasi belajar siswa dengan gaya
belajar kinestetik materi pokok bangun
ruang sisi lengkung
9) Tidak terdapat perbedaan prestasi antara
siswa dengan gaya belajar auditorial dan
siswa dengan gaya belajar kinestetik
pada pembelajaran STAD. Hal ini
berarti pada pembelajaran STAD
prestasi siswa dengan gaya belajar
auditorial sama baiknya dengan prestasi
siswa dengan gaya belajar kinestetik
pada materi pokok bangun ruang sisi
lengkung.
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
1. Berdasarkan uji anava dua jalan sel tak
sama yang dilakukan diperoleh Fa=
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
85
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
27,7811 > 3,8815 =
sehingga Fa
daerah kritik maka H0A ditolak, ini
berarti terdapat perbedaan prestasi
belajar antara siswa yang diberikan
pembelajaran TPS dan siswa yang
diberikan
pembelajaran
STAD.
Berdasarkan rataan marginal pada kelas
yang diberi pembelajaran TPS adalah
68,0559 dan pembelajaran STAD adalah
61,5042 jadi dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran
TPS
menghasilkan
prestasi belajar lebih baik dibandingkan
pembelajaran STAD. Hal ini disebabkan
pada pembelajaran TPS interaksi antara
siswa
melalui
diskusi
untuk
menyelesaikan masalah yang akan
meningkatkan ketrampilan siswa cukup
baik.
Dengan
demikian
dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran TPS
menghasilkan
prestasi belajar
matematika lebih
baik
daripada
pembelajaran STAD pada materi pokok
bangun ruang sisi lengkung.
2. Berdasarkan uji anava dua jalan sel tak
sama diperoleh Fb = 13,3093 > 3,0344 =
, sehingga Fb daerah kritik maka
HOB ditolak, ini berarti terdapat
perbedaan pengaruh gaya belajar
terhadap prestasi belajar matematika
siswa.
Selanjutnya dari uji lanjut pasca anava
diperoleh DK= {F | F > 6.0688 } dan
diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
a. F1-2 = 15,8717 DK
Hal ini berarti, ada perbedaan rataan
antara prestasi belajar matematika
pada kelompok siswa dengan gaya
belajar visual dan prestasi belajar
matematika pada kelompok siswa
dengan gaya belajar auditorial
b. F1-3 = 23,6078 DK
Hal ini berarti, ada perbedaan rataan
antara prestasi belajar matematika
pada kelompok siswa dengan gaya
belajar visual dan prestasi belajar
matematika pada kelompok siswa
dengan gaya belajar kinestetik.
c. F2-3 = 0,7522 ∉ DK
Tidak terdapat perbedaan rataan
prestasi belajar matematika pada
kelompok siswa dengan gaya belajar
auditorial dan siswa dengan gaya
belajar kinestetik.
Berdasarkan uji lanjut pasca anava
dapat disimpulkan bahwa
prestasi
belajar matematika siswa yang memiliki
gaya belajar auditorial lebih baik dari
prestasi siswa yang memiliki gaya
belajar visual, siswa yang memiliki gaya
belajar kinestetik lebih baik dari
prestasi siswa yang memiliki gaya
belajar visual, dan siswa yang memiliki
gaya belajar auditorial sama baiknya
dengan prestasi siswa yang memiliki
gaya belajar kinestetik.
3. Hasil analisis uji hipotesis Fab = 6,0386
>
= 3,0344 maka HO(AB) ditolak.
Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa
terdapat interaksi antara penggunaan
model pembelajaran dengan kategori
gaya belajar terhadap prestasi belajar
matematika pada materi pokok bangun
ruang sisi lengkung.
Karena HO(AB) ditolak maka harus
dilanjutkan dengan uji komparasi ganda
dengan metode Scheffe. Dari hasil ini
maka keputusan ujinya adalah terdapat
perbedaan prestasi pada siswa dengan
gaya belajar visual antara pembelajaran
TPS dan pembelajaran STAD. Sehingga
pada gaya belajar visual, pembelajaran
TPS memberikan prestasi belajar
matematika
lebih
baik
dari
pembelajaran STAD.
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
86
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
Hasil analisis uji hipotesis Fab = 6,0386
>
= 3,0344 maka HO(AB) ditolak.
Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa
terdapat interaksi antara penggunaan
model pembelajaran dengan kategori
gaya belajar terhadap prestasi belajar
matematika pada materi pokok bangun
ruang sisi lengkung
Karena HO(AB) ditolak maka perlu
dilakukan uji komparasi ganda dengan
metode Scheffe. Dari hasil ini maka
keputusan ujinya adalah terdapat
perbedaan
antara prestasi
siswa
kelompok gaya belajar auditorial antara
pembelajaran TPS dan pembelajaran
STAD
Sehingga
prestasi
siswa
kelompok gaya belajar auditorial pada
pembelajaran TPS sama baiknya dengan
prestasi siswa kelompok gaya belajar
visual pada pembelajaran STAD materi
pokok bangun ruang sisi lengkung
Pada gaya belajar visual, pembelajaran
TPS memberikan prestasi belajar
matematika sama baiknya dengan
pembelajaran STAD
4. Hasil analisis uji hipotesis Fab = 6,0386
=
>
3,0344 maka HO(AB) ditolak.
Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa
terdapat interaksi antara penggunaan
model pembelajaran dengan kategori
gaya belajar terhadap prestasi belajar
matematika pada materi pokok bangun
ruang sisi lengkung..
Karena HO(AB) ditolak maka harus
dilanjutkan dengan uji komparasi ganda
dengan metode Scheffe. Dari hasil ini
maka keputusan ujinya adalah terdapat
perbedaan
antara prestasi
siswa
kelompok gaya belajar kinestetik pada
pembelajaran TPS dan gaya belajar
kinestetik pada pembelajaran STAD.
Sehingga prestasi siswa kelompok gaya
belajar kinestetik pada pembelajaran
TPS lebih baik dari prestasi siswa
kelompok gaya belajar kinestetik pada
pembelajaran STAD materi pokok
bangun ruang sisi lengkung.
Pada gaya belajar kinestetik, model
pembelajaran TPS memberikan prestasi
belajar matematika lebih baik dari
model pembelajaran STAD
5. Hasil analisis uji hipotesis Fab = 6,0386
> 3,0344 = Ftabel menunjukkan bahwa
HO(AB) ditolak. Sehingga diperoleh
kesimpulan bahwa terdapat interaksi
antara penggunaan model pembelajaran
dengan kategori gaya belajar terhadap
prestasi belajar matematika pada materi
pokok bangun ruang sisi lengkung.
Karena HO(AB)) ditolak maka harus
dilanjutkan dengan uji komparasi ganda
dengan metode Scheffe. Dilihat dari
perhitungan pada Lampiran 33 bahwa
F11-12 < Ftabel , F12-13 < Ftabel , F11-13 > Ftabel.
Dari hasil ini maka keputusan ujinya
adalah :
a.
Tidak terdapat perbedaan antara
prestasi siswa kelompok gaya
belajar visual dengan prestasi siswa
kelompok gaya belajar auditorial
pada pembelajaran TPS. Sehingga
prestasi siswa kelompok gaya
belajar visual sama baiknya dengan
prestasi siswa kelompok gaya
belajar auditorial pada pembelajaran
TPS materi pokok bangun ruang sisi
lengkung.
b. Tidak terdapat perbedaan antara
prestasi siswa kelompok gaya
belajar auditorial dengan prestasi
siswa kelompok gaya belajar
kinestetik pada pembelajaran TPS.
Sehingga prestasi siswa kelompok
gaya belajar auditorial sama baiknya
dengan prestasi siswa kelompok
gaya belajar kinestetik pada
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
87
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
pembelajaran TPS materi pokok
bangun ruang sisi lengkung.
c. Terdapat perbedaan antara prestasi
siswa kelompok gaya belajar visual
dengan prestasi siswa kelompok
gaya belajar kinestetik pada
pembelajaran
TPS.
Sehingga
prestasi siswa kelompok gaya
belajar kinestetik lebih baik dari
prestasi siswa kelompok gaya
belajar visual pada pembelajaran
TPS materi pokok bangun ruang sisi
lengkung.
Pada
pembelajaran
TPS
prestasi belajar matematika siswa
kelompok gaya belajar visual sama
baiknya dengan prestasi belajar
matematika siswa kelompok gaya
belajar auditorial, prestasi belajar
matematika siswa kelompok gaya
belajar auditorial sama baiknya
dengan prestasi belajar matematika
siswa kelompok gaya belajar
kinestetik, dan prestasi belajar
matematika siswa kelompok gaya
belajar kinestetik lebih baik dari
prestasi belajar matematika siswa
kelompok gaya belajar visual.
6. Hasil analisis uji hipotesis Fab =
6,0386 lebih dari Ftabel = 3,0344
menunjukkan bahwa HO(AB) ditolak.
Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa
terdapat interaksi antara penggunaan
model pembelajaran dengan kategori
gaya belajar terhadap prestasi belajar
matematika pada materi pokok bangun
ruang sisi lengkung.
Karena HO(AB)) ditolak maka harus
dilanjutkan dengan uji komparasi
ganda dengan metode Scheffe. Dilihat
dari perhitungan pada Lampiran 33
bahwa F21-22 > Ftabel, F22-23 < Ftabel, F21-23,
< Ftabel. Dari hasil ini maka Keputusan
ujinya adalah :
a. Terdapat perbedaan antara prestasi
siswa kelompok gaya belajar
visual dengan prestasi siswa
kelompok gaya belajar auditorial
pada
pembelajaran
STAD.
Sehingga prestasi siswa kelompok
gaya belajar auditorial lebih baik
dari prestasi siswa kelompok gaya
belajar visual pada pembelajaran
STAD materi pokok bangun ruang
sisi lengkung.
b. Tidak terdapat perbedaan antara
prestasi siswa kelompok gaya
belajar auditorial dengan prestasi
siswa kelompok gaya belajar
kinestetik pada pembelajaran
STAD. Sehingga prestasi siswa
kelompok gaya belajar kinestetik
sama baiknya dengan prestasi
siswa kelompok gaya belajar
auditorial pada pembelajaran
STAD materi pokok bangun ruang
sisi lengkung.
c. Tidak terdapat perbedaan antara
prestasi siswa kelompok gaya
belajar visual dengan prestasi
siswa kelompok gaya belajar
kinestetik pada pembelajaran
STAD. Sehingga prestasi siswa
kelompok gaya belajar visual sama
baiknya dengan prestasi siswa
kelompok gaya belajar kinestetik
pada pembelajaran STAD materi
pokok bangu ruang sisi lengkung.
Pada
pembelajaran
STAD,
prestasi belajar matematika siswa
kelompok gaya belajar audiorial
lebih baik dari prestasi belajar
matematika siswa kelompok gaya
belajar visual, prestasi belajar
matematika siswa kelompok gaya
belajar auditorial sama baiknya
dengan prestasi belajar matematika
siswa kelompok gaya belajar
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
88
Pedagogik Jurnal Pendidikan, Oktober 2014, Volume 9 Nomor 2, ( 76 – 89 )
kinestetik, dan prestasi belajar
matematika siswa kelompok gaya
belajar visual sama baiknya dengan
prestasi belajar matematika siswa
kelompok gaya belajar kinestetik.
SIMPULAN
a. Model pembelajaran TPS memiliki
kelebihan
interaksi
antara
siswa
dibandingkan
model
pembelajaran
STAD, karena model pembelajaran TPS
siswa lebih aktif bekerjasama daripada
siswa yang diberi model pembelajaran
STAD
b. Berdasarkan hasil penelitian juga
diperoleh hasil bahwa siswa yang
memiliki gaya belajar auditorial dan gaya
belajar kinestetik memiliki prestasi
belajar yang lebih baik daripada siswa
dengan gaya belajar visual. Hal ini
disebabkan karena siswa yang memiliki
gaya belajar auditorial dan kinestetik
memiliki ciri suka berdiskusi dan lebih
mudah mengingat dan berbuat..
c. Selain kedua hal di atas, berdasarkan
penelitian juga diperoleh hasil bahwa
pembelajaran TPS menghasilkan prestasi
belajar matematika yang lebih baik untuk
gaya belajar kinestetik dibandingkan
dengan gaya belajar visual dan
auditorial, sedangkan pada
model
pembelajaran
STAD
menghasilkan
prestasi belajar matematika yang lebih
baik untuk siswa dengan gaya belajar
auditorial dibandingkan dengan gaya
belajar visual dan kinestetik.
DAFTAR PUSTAKA
Amstrong, Scott. 1998. Student Team Archievement Divisions (STAD) in a Twelfth
Grade Classroom: Effect on Student Archievement and Attitude. Journal
International of Social Studies Research, Vol 3, No 11, pp 1-5.
Arend, R.I . 2001 . Learning to Teach: Fifth Edition . Mc Graw-Hill Higher Education :
Singapore..
Budiyono. 2009. Statistika untuk Penelitian. Surakarta : Sebelas Maret University Press.
Carss Wendy Diane. 2007. ”The Effects of Using Think-Pair-Share During Guided
Reading Lessons”. Thesis: The University of Waikato.
De Porter, Bobbi dan Hernacki, Mike . 1999 . Quantum Learning: Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan . Terjemahan Ary Nilandri . Bandung : Kaifa.
Gobai, Yosep. 2005. Pengaruh Penggunaan Bahan Ajar dan Gaya Belajar Terhadap Hasil
Belajar. Homepage Pendidikan Network.
Joyce, Bruce, Marsha Weil. & Emily Calhoun. 2000. Models of Teching. Boston: Allyn and
Bacon.
Manuel D. Rossetti dan Harriet Black Nembhard . 1998 . Using Cooperative Learning To
Activate Your Simulation Classroom . USA..
Michael J. Lawson. 2000. Knowledge Connectedness in Geometry Problem Solving.
Journal for Research in Mathematics Education Volume 31, Number 1, page 26-43
Noraini Idris.2009. Enhancing Students’ Understanding In Calculus Trough Writing.
International Electronic Journal of Mathematics Education Volume 4, Number1,
page 39. .
Robert E Slavin. 2008. Cooperative Learning: Tesis Riset dan Praktik. Penerjemah:
Nurulita. Bandung: Nusa Media.
Winkel . 2004 . Psikologi Pengajaran . Jakarta : Gramedisa Widiasarana Indonesia.
* Magfiratullah, M.Pd Guru SMP Muhammadiyah Palangka Raya
89
Download