Trimen Meta Music untuk Menurunkan Stres

advertisement
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil)
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007
Vol. 2
ISSN : 1858 - 2559
TRITMEN META MUSIC UNTUK MENURUNKAN STRES
Henny Regina Salve1
Hendro Prabowo2
1
Mahasiswa Pasaca Sarjana Universitas Gunadarma
[email protected]
2
Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
[email protected]
ABSTRAK
Meta music adalah musik yang menggunakan teknik entraiment dan binaural beast. Entrainment adalah
prisip dalam fisika dan didefinisikan sebagai sinkronisasi dari dua atau lebih putaran irama
(synchronization of two or more rhythmic cycles). Prinsip khusus ini dapat dimanfaatkan untuk membuat
gema atau sinkronisasi otak pada frekuensi yang spesifik. Sementara binaural beats ditemukan pada
tahun 1839 oleh eksperimenter Jerman H.W. Dove. Kemampuan manusia untuk “mendengar” binaural
beats nampaknya merupakan hasil adaptasi secara evolusi. Beberapa spesies dapat mendeteksi binaural
beats karena struktur otaknya. Frekuensi binaural beats yang dapat dideteksi amat tergantung dari ukuran
tempurung kepala spesies. Pada manusia, binaural beats dapat dideteksi pada nada kira-kira di bawah
1500 Hz (Oster, 1973 dalam Atwater, 2004). Masalah yang relevan di sini adalah kemampuan bawaan
otak untuk mendeteksi perbedaan fase di antara telinga yang mendorong persepsi ke arah binaural beats
(Atwater, 2004). Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan subjek 18 orang untuk
kelompok kontrol dan 27 orang untuk kelompok eksperimen. Bagi kelompok eksperimen, ruang yang
digunakan adalah ruang audio visual Universitas Gunadarma. Sementara meta music yang digunakan
adalah Peaceful Place karya Ken Davis. Dengan menggunakan empat speaker, eksperimen ini secara
signifikan ternyata dapat menurunkan tingkat stres pada kelompok eksperimen.
Kata kunci: meta music, stres
PENDAHULUAN
Stres
Seperti kita ketahui bahwa stres telah menjadi
sebagian besar kehidupan manusia dan sering
manusia tidak memperhatikannya (Haber dan
Runyon, 1984). Stres bisa melanda siapa saja
dan di mana saja. Stres tidak menyerang semua
orang dengan cara yang sama. Siapa saja dalam
bentuk tertentu, dalam kadar berat ringan yang
berbeda dan dalam jangka panjang-pendek yang
tidak sama, pernah atau akan mengalaminya.
Tidak ada seorangpun yang dapat menghindar
dari stres, baik itu bayi, kaum remaja, kaum
muda, dan orang dewasa, terlebih lagi kelompok
lansia (Hardjana, 1994).
Dalam mengatasi stres, setiap orang
memiliki cara yang berbeda-beda. Salah satunya
adalah dengan menggunakan musik. Salah satu
musik yang digunakan sebagai tritmen dalam
menurunkan stres adalah meta musik, yaitu
musik dengan binaural beat, entrainment dan
gelombang otak.
Penelitian ini ingin menguji pengaruh
meta musik sebagai tritmen dalam menurunkan
stres pada mahasiswa.
Istilah stres sudah begitu akrab terdengar di
telinga kita. Kata stres berasal dari bahasa latin
stringere yang berarti menarik kencang. Secara
terminologis, stres berasal dari pengertian istilah
Yunani yaitu merimnao sebagai paduan dua
kata, yakni meriza (membelah, bercabang) dan
nous (pikiran). Dari kedua istilah ini pengertian
stres berarti membagi pikiran antar minat-minat
yang layak dengan pikiran-pikiran yang merusak
(Gintings, 1999).
Stres didefinisikan sebagai adanya suatu
peristiwa atau situasi yang tercipta bila transaksi
orang yang mengalami stres dan hal yang
dianggap mendatangkan stres membuat orang
yang bersangkutan melihat ketidaksesuaian, baik
secara nyata atau tidak nyata, antara keadaan
atau kondisi dan sistem sumber daya biologis,
psikologis, dan sosial yang dimilikinya, yang
dapat mengancam keseimbangan diri sehingga
perlu melakukan adaptasi.
Berat atau tidaknya suatu stres
tergantung dari penilaian seseorang terhadap
stres yang dialaminya. Seseorang yang
mengalami stres dapat menampilkan gejalagejala, seperti : fisik, emosi, intelektual,
interpersonal.
a. Gejala fisikal
Gejala stres yang dialami seperti sakit
kepala, sulit tidur (insomnia), sakit
punggung terutama bagian bawah, gatal-
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bagian ini akan disajikan stres, metode
untuk mengatasi stres, musik.
Tritmen Meta Music Untuk… …
Salve
B65
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil)
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007
gatal pada kulit, pencernaan terganggu,
tekanan darah tinggi, ketegangan otot
pada area leher dan bahu, keringat
berlebihan, berubah selera makan serta
kelelahan ditambah dengan banyak
melakukan kesalahan dalam kerja dan
hidup.
b. Gejala Emosional
Biasanya
seseorang
mengalami
kecemasan, sedih, mood berubah dengan
cepat, mudah marah, gugup, merasa
harga diri turun atau tidak aman sensitif,
mudah menyerang dan bermusuhan,
kehabisan sumber daya mental (burn out).
Pada gejala ini apabila tidak teratasi
dengan cepat perlu ditolong ke psikolog
atau psikiater.
c. Gejala Intelektual
Contohnya adalah sulit berkonsentrasi,
sulit membuat keputusan, mudah lupa,
pikiran kacau, daya ingat menurun,
melamun berlebihan, pikiran dipenuhi oleh
satu pikiran saja, kehilangan rasa humor
yang sehat, dan prestasi/produktivitas
kerja yang menurun serta bertambahnya
jumlah kekeliruan kerja yang dibuat.
d. Gejala Interpersonal
Stres mempengaruhi hubungan dengan
orang lain, baik di dalam maupun di luar
rumah. Gejalanya antara lain : kehilangan
kepercayaan dari orang lain, mudah
mempersalahkan
orang
lain,
tidak
memenuhi janjinya, suka mencari-cari
kesalahan orang lain atau menyerang
orang
dengan
kata-kata,
terlalu
membentengi diri, “mendiamkan” orang
lain.
Metode untuk Mengatasi Stres
Ada berbagai macam metode untuk mengatasi
stres seperti : pendekatan farmakologis
(pharmalogical),
perilaku
(behavioral),
pemahaman (cognitive), meditasi (meditation),
dan hipnosis (hynopsis), dan musik (music)
(Hardjana, 1994).
1. Pendekatan Farmakologis (Pharmalogical)
Pendekatan ini dilakukan oleh dokter
yang
juga
ahli
dalam
psikiatri.
Pendekatan ini memanfaatkan obat-obat
penenang
dan
umumnya
bersifat
sementara. Cara kerjanya rumit, dan
tidak mudah dijelaskan bagi orang awam
di bidang kedokteran dan psikiatri.
Pendekatan
ini
berfokus
untuk
mempengaruhi sistem saraf (nervous
system), bisa berada di pusat (central),
B66
Vol. 2
ISSN : 1858 - 2559
bisa juga di sekelilingnya (peripheral).
Jadi pendekatan farmakologis boleh
disebut sebagai cara pengelolaan stres
awal, sebelum pada waktunya orang
dibantu untuk mengelola stres yang
dialami secara sungguh-sungguh, dalam
arti masalah sendiri dikelola.
2. Pendekatan Perilaku (Behavioral)
Pendekatan ini dikembangkan oleh para
ahli psikologi dan dapat dilatihkan pada
orang yang tertimpa stres untuk
mengelola penderitaannya. Pendekatan
ini ada yang terarah pada perilaku.
Bentuknya
antara
lain
relaksasi
(relaxation), desensitisasi sistematis
(systematic desensitization), umpan balik
bio
(bio-feedback)
dan
meniru
(modelling).
a. Relaksasi (Relaxation)
Merupakan salah satu teknik
penenangan diri yang bermanfaat
untuk mengelola stresnya. Teknik
yang digunakan
disebut juga
relaksasi otot secara progresif
(progressive muscle relaxation) yaitu
perhatian yang dipusatkan pada
suatu bagian tertentu dengan
menegangkan
dan
mengendorkannya agar ketegangan
stres menjadi berkurang.
b. Desensitisasi Sistematis (Systematic
Desensitization)
Metode
ini
berguna
untuk
mengurangi
ketakutan
dan
kecemasan. Metode ini didasarkan
atas pandangan bahwa takut itu
dipelajari lewat pemahaman akan
suatu situasi atau hal dalam kaitan
dengan
peristiwa
yang
tidak
menyenangkan. Dalam psikologi
cara pemahaman semacam ini
disebut
pengkondisian
klasik
(classical conditioning).
c. Umpan Balik Bio ( Bio-Feedback)
Metode
umpan
balik
bio
dimanfaatkan untuk menenangkan
otot-otot yang tegang pada bagian
tubuh
tertentu,
dan
untuk
menangani stres yang berhubungan
dengan masalah kesehatan.
d. Peniruan (Modelling)
Merupakan cara belajar lewat
pengamatan
(observation)
dan
pergaulan
(socialization).
Cara
belajar ini melengkapi cara belajar
dengan cara berbuat sendiri atau
melakukan sesuatu. Cara belajar
dengan meniru berlaku juga dalam
Tritmen Meta Music Untuk… …
Salve
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil)
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007
hal stres. Orang jadi tahu perilaku
yang berkaitan dengan stres, karena
melihat orang yang menderita stres.
3. Pendekatan Kognitif
Metode ini digunakan untuk membantu
orang dalam mengatasi stresnya karena
kekurangan atau kesalahan pengertian.
Intinya metode kognitif merupakan
pemahaman untuk mengatasi stres
diciptakan dengan membantu mengatur
kembali pola berpikirnya. Pengaturan
kembali
pola
berpikir
(cognitive
restructuring) pada dasarnya merupakan
proses yang menggantikan pikiran atau
kepercayaan yang mengurangi penilaian
orang yang menderita stres terhadap
ancaman atau kerugian yang dapat
diakibatkan oleh hal, peristiwa, orang,
keadaan yang dihadapinya.
4. Meditasi dan Hipnosis
Stres dapat mempengaruhi gejolak
mental. Metode meditasi (meditation)
dan hipnosis (hypnosis) merupakan cara
yang efektif. Meditasi merupakan cara
untuk memusatkan diri dan perhatian
pada suatu objek, pemikiran, atau
bayangan. Tujuannya dalam rangka
mengelola stres adalah menambah
kemampuan orang yang terkena stres
berhadapan dengan hal, peristiwa,
orang, keadaan yang mengakibatkan
stres dengan menciptakan tanggapan
rileks,
tenang,
sebagai
alternatif
tanggapan
terhadap
stres
itu.
Kenyataannya
meditasi
mampu
menciptakan ketenangan yang tak kalah
dengan cara relaksasi dan desensitisasi.
Hipnosis
merupakan
perubahan
kesadaran yang dihasilkan lewat teknik
sugesti tertentu, dan dalam keadaan
berubah itu orang dapat dibantu
mengubah pemahaman, ingatan dan
perilaku. Tanpa ada orang yang ahli dan
orangnya sendiri tidak mudah dihipnosis,
metode
hipnosis
tidak
dapat
dilaksanakan. Dengan syarat itu hipnosis
memang
dapat
digunakan
untuk
mengelola stres, tetapi tidak setiap
orang dapat dihipnosis dan efektifitasnya
tidak dapat melebihi teknik relaksasi
atau desensitisasi.
5. Musik
Metode ini merupakan salah satu cara
untuk membantu mengatasi stres. Jika
kadar stres yang dialami seseorang
terlalu tinggi, maka sistem kekebalan
tubuhnya
akan
berkurang
oleh
sebab
itu
seseorang
perlu
Tritmen Meta Music Untuk… …
Salve
Vol. 2
ISSN : 1858 - 2559
senantiasa mewaspadai dirinya dari
kondisi
stres
yang
berlebihan
(Satiadarma 2002).
Montello & Coons (dalam Satiadarma
2002) menjelaskan bahwa salah satu
manfaat musik sebagai terapi adalah
self-mastery yaitu kemampuan untuk
mengendalikan diri.
Musik sebagai Terapi
Sama halnya dengan stres, musik juga telah
menjadi bagian dari kehidupan manusia yang
tak terpisahkan. Kata musik berasal dari kata
Yunani muse. Dalam mitologi Yunani dikenal
bahwa sembilan muse, dewi-dewi bersaudara
yang menguasai nyanyian, puisi, kesenian, dan
ilmu pengetahuan, merupakan anak Zeus, raja
para dewa, dengan Mnemosyne, Dewi Ingatan.
Adapun nama-nama dewi itu adalah Clio, Thalia,
Melpomene, Terpischore, Erato, Polyhymnia,
Calliope, Urania, dan Euterpe Jadi, musik
adalah adalah putra dari kasih sayang dan
keindahan, kemegahan, dan kekuatan yang
memiliki hubungan langsung dengan para dunia
dewa (Satiadarma 2002).
Berbagai penelitian pada era abad 20,
telah memperoleh bukti akan adanya dampak
positif musik. Sebuah majalah bulanan
terkemuka di Amerika, dalam salah satu edisinya
mencantumkan musik terdiri dari berbagai unsur
dan jika diatur menurut proporsinya maka musik
ini dapat membuat seseorang menjadi tenang
atau bersemangat, anggun atau kasar, rasional
atau emosional yang tak terkontrol. Musik
memiliki nilai moral baik dan jahat (Chen Lu
dalam Hosanna & Isanto 2002).
Secara keseluruhan, musik dapat
berpengaruh secara fisik maupun psikologis.
Secara fisik, musik
dapat membangkitkan
aktivitas sistem saraf otonom tubuh dengan
munculnya beberapa respon yang bersifat
spontan
dan
tidak
terkontrol, misalnya
mengetukan
jari.
Musik
juga
dapat
mempengaruhi pernapasan, denyut jantung,
denyut nadi, tekanan
darah,
mengurangi
ketegangan otot dan memperbaiki gerak dan
koordinasi
tubuh,
dan
memperkuat
ingatan,
meningkatkan produktivitas,
suhu
tubuh,
serta
mengatur
hormon-hormon
yang berkaitan dengan stres (Campbell 2001b).
Sedangkan secara psikologis, musik dapat
membuat seseorang menjadi
lebih
rileks,
mengurangi stres, efektif, efisien, dapat
meningkatkan
asmara
dan
seksualitas,
menimbulkan rasa aman dan sejahtera,
melepaskan
rasa
gembira
dan
sedih,
B67
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil)
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007
menegaskan kemanusiaan bersama, dan
membantu serta melepaskan rasa sakit.
Binaural berarti yang dipakai kedua
telinga atau diterima suara melalui dua pengeras
suara yang memberikan efek tiga dimensi.
Melalui stimulasi binaural-beat diharapkan dapat
mendorong seseorang agar dapat berpusat pada
keadaan kesadaran (state of consiousness). Ahli
lain seperti MacGregor (2001) menyarankan
bahwa musik dengan ketukan 56 sampai 60 per
detik dapat dimanfaatkan untuk melatih relaksasi
dan bergerak menuju keadaan alpha.
Menurut Atwater (1999) kebudayaan
kuno telah menggunakan kekuatan alami dari
suara dan musik untuk mempengaruhi states of
consciousness dalam upacara religius, tujuannya
adalah meningkatkan kesehatan psikologis dan
fisik. Dewasa ini, gagasan tentang stimulasi
auditori
dapat
mempengaruhi kesadaran.
Beberapa studi menunjukkan adanya perbaikan
dalam integrasi pengindraan, relaksasi, meditasi,
pengurangan stres, pengelolaan rasa sakit, tidur,
dan menjaga kesehatan. Selain itu, juga dapat
menghasilkan lingkungan belajar yang lebih baik,
meningkatkan memori (Atwater, 1999), dan
meningkatkan kreativitas (Hiew, 1995),
Hasil penelitian Hardt & Gale (1997)
menemukan bahwa subjek yang mendapatkan
umpan balik nada dari empat speaker yang
secara spasial terpisah dan dengan volume
suara yang proporsional, akan dengan segera
mempengaruhi
amplitudo
untuk
menuju
gelombang alpha. Hasilnya Skor Kreativitas
(Ideational Fluency) pada kelompok eksperimen
mengalami peningkatan secara dramatis setelah
mengikuti lima hari alpha training.
Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa
stimulasi binaural beats pada frekuensi beta
terbukti efektif untuk meningkatkan tingkat
kewaspadaan (Lane dkk., 1998). Atau pada hasil
penelitian Kennerly (1997) yang menemukan
bahwa Binaural-beat audio signals (BBS's) pada
frekuensi beta berpengaruh terhadap memori
(recall, digit symbol, & digit span).
Binaural beats tidak bisa digolongkan
sebagai suara eksternal, karena sejatinya
mereka adalah serangkaian frekuensi subsonik
yang hanya bisa didengar oleh dan di bagian
dalam otak saja. Frekuensi ini tercipta di kedua
belahan otak kiri dan kanan (hemisphere) dan
bekerja secara stimultan untuk mendengar suara
yang ketinggiannya dibedakan oleh seperangkat
kunci
interval
matematis-dus,
seseorang
mengenalnya
kemudian
sebagai
jendela
frekuensi. Gelombang otak lantas merespon
osilasi denyutan nada ini dengan cara mengikuti
mereka. Proses inilah yang kemudian disebut
sebagai entrainment, yang menandai dimulainya
B68
Vol. 2
ISSN : 1858 - 2559
kerjasama antara kedua belahan otak kiri dan
otak kanan. Komunikasi kedua sisi otak inilah
yang kemudian kita asosiasikan secara sosial
sebagai percikan kreativitas, ilham, dan
kebijaksanaan (Sanasini.com 2005).
Para ilmuwan telah mengukur keadaan
gelombang energi otak yang berbeda pada
manusia dan dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
betha, alpha, theta, dan delta (McGregor, 2001):
1. Gelombang Betha merupakan keadaan
sadar, memiliki jangkauan putaran antara 13
- 28 per detik. Sinyal yang tinggi
menunjukkan dalam keadaan normal dan
fokus. Jadi keadaan beta adalah keadaan
yang kuat sekali, keadaan pada saat kita
terjaga dan pada saat perhatian seseorang
terbagi. Keadaan ini sangat logis, analistis,
dan merupakan keadaan aktif atau bertindak.
Inilah keadaan untuk melakukan banyak hal,
dan yang ditimbulkan oleh keadaan stres.
2. Gelombang Alpha merupakan keadaan dari
yang putarannya 7 - 13 per detik. Berada
pada keadaan rileks atau tanpa stres, dan
sangat penting untuk membuka jalan menuju
88 % kekuatan bawah sadar. Ketika
seseorang berada dalam dalam gelombang
alpha, stres seseorang akan hilang dan
orang tersebut akan merasa rileks sehingga
bisa masuk pikiran bawah sadar.
3. Gelombang Theta merupakan keadaan theta
berlangsung pada putaran 3,5 – 7 per detik.
Biasanya disertai oleh keadaan pikiran yang
malas atau meditasi yang dalam dan tahap
tidur yang pertama. Pada keadaan ini, kita
tak lagi merasakan badan atau seakan-akan
badan kita hilang. Keadaan ini adalah
keadaan di mana pikiran menjadi kreatif dan
inspiratif. Inilah kreativitas yang sebenarnya
bisa muncul dan disebut juga dengan kondisi
sugestif
yang
tinggi
dan
keadaan
penyembuh yang kuat. Keadaan theta juga
merupakan kondisi di mana kita bisa
bermimpi.
4. Gelombang Delta memiliki jangkauan dari 0,5
Hz – 4 Hz. Berada dalam keadaan tidur
tanpa mimpi artinya adalah keadaan
penyembuhan dan peremajaan sel tubuh.
Pada tahap ini, karena kita lebih banyak
tidur maka tubuh berusaha menyembuhkan
dirinya sendiri, tidak ada pikiran, dan istirahat
total.
METODE PENELITIAN
Variabel Penelitian
Tritmen Meta Music Untuk… …
Salve
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil)
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007
Dalam penelitian ini beberapa variabel yang
dikaji adalah variabel bebas berupa terapi musik
dan variabel tergantung yaitu stres.
Musik yang akan digunakan sebagi
terapi untuk menurunkan stress adalah meta
musik yang berjudul A Peaceful Place No. 1
(instrumentalia), karya Ken Davis yang berupa
CD musik. Untuk mengukur stres digunakan
skala stres.
Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa
tingkat 3 dan 4 yang berusia 19-24 tahun,
berjenis kelamin pria dan wanita, dan bertempat
tinggal di Jabotabek.
Rancangan Eksperimen
Penelitian ini bersifat eksperimental, karena
dalam kondisi seperti ini ada banyak faktor yang
saling
berkaitan
dengan
variabel-variabel
penelitian sehingga akan mempengaruhi hasil
penelitian. Pada penelitian eksperimen, peneliti
menggunakan rancangan Non Randomized
Control−Group Pretest−Posttest Design. Dalam
penelitian ini, peneliti memberikan placebo pada
kelompok kontrol. Placebo yang diberikan berupa
“membuat Origami”.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk menguji hipotesis mengenai perbedaan
stres subjek saat pretest dan posttest setelah
diberikan
musik,
peneliti
menggunakan
pengukuran non parametric dengan metode uji
Wilcoxon yang menggunakan program SPSS
11.5. Alasan peneliti menggunakan metode uji
Wilcoxon karena diketahuinya distribusi tes yang
tidak normal dan jumlah subjek penelitian yang
kurang dari 30 (N<30).
Hasil analisis data yang dilakukan
menunjukkan bahwa Z = -4,546 dengan tingkat
signifikansi yaitu 0,000 (p<0,01). Berdasarkan
nilai tersebut menunjukkan bahwa ada tingkat
signifikan pada kelompok eksperimen terhadap
stres bahwa ada perbedaan yang sangat
signifikan pada kelompok eksperimen terhadap
stres sebelum dan sesudah perlakuan.
Sedangkan pada kelompok kontrol pretest dan
posttest dengan memiliki Z = -2, 493 (p<0,05)
dengan
tingkat
signifikansi
0,13
yang
menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan
terhadap stres sebelum dan sesudah perlakuan.
Berdasarkan
analisis
data,
maka
hipotesis dalam penelitian ini adalah diterima.
Terjadinya penurunan stres pada subjek di
kelompok eksperimen karena adanya perlakuan
Tritmen Meta Music Untuk… …
Salve
Vol. 2
ISSN : 1858 - 2559
berupa pemberian meta musik, yang mana musik
tersebut memiliki pengaruh dalam menurunkan
stres.
Penelitian ini juga menggunakan skala
form evaluasi penilaian diri untuk melihat apakah
ada pengaruh musik yang telah diberikan kepada
subjek di kelompok eksperimen. Hasil skala
evaluasi ini menunjukkan bahwa nilai sebesar
2,37 menyatakan subjek merasakan manfaat
setelah mendengarkan meta musik, dan nilai
sebesar 2,78 menunjukkan bahwa subjek
merasakan adanya perubahan secara psikologis
setelah mendengarkan meta musik. Selain itu,
subjek juga merasakan tenang yang ditunjuk
oleh nilai 2,81 dan subjek juga merasa nyaman
atas perubahan yang dirasakannya setelah
mendengarkan musik dengan menunjukkan nilai
2,74.
Secara garis besar, dapat dikatakan
bahwa subjek pada kelompok eksperimen dapat
merasakan pengaruh musik setelah diberikan
perlakuan berupa mendengarkan musik. Hal
tersebut didukung oleh nilai 3,11 yang
menunjukkan bahwa subjek tidak merasakan
adanya hambatan atau tidak merasakan adanya
penurunan kualitas secara fisik. Di samping itu,
subjek juga tidak merasakan terhambat atau
tidak merasakan perubahan penurunan kualitas
secara psikologis dengan nilai sebesar 3,70.
Selain itu, peneliti juga menggunakan
skala terbuka. Pada skala ini menunjukkan
banyaknya respon jawaban terhadap pernyataan
yang diberikan dilembar fom essai evaluasi
penilaian diri. Sebagian besar respon jawaban
subjek yang pertama adalah subjek merasakan
stresnya
menjadi
berkurang
setelah
mendengarkan musik dengan nilai sebesar
20,779 %. Respon kedua jawaban subjek adalah
merasa rileks dengan nilai 18,18 %. Sedangkan
nilai 10,389 % merupakan respon ketiga jawaban
yang merasa nyaman. Dan, respon jawaban
keempat subjek merasa jiwanya menjadi tenang,
didukung oleh nilai 7,79 %. Posisi kelima respon
jawaban subjek, ditunjuk dengan nilai 6,493 %,
adalah pikirannya menjadi tenang.
KESIMPULAN
Berdasarakan hasil penelitian diperoleh
kesimpulan bahwa meta musik dapat
digunakan
sebagai
tritmen
dalam
menurunkan stres pada mahasiswa.
Bagi
peneliti
yang
akan
mengembangkan penelitian serupa disarankan
untuk mencari subjek penelitian dengan jumlah
yang lebih memadai dan menggunakan ruangan
yang lebih memadai pula bagi kelompok
eksperimen.
B69
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil)
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007
DAFTAR PUSTAKA
Atwater, F. H. 19 Desember 2004. The HemiProcess.
Sync®
http://www.monroeinstitute.
org/research/hemi-sync-atwater.html
Campbell, D. (2001a). Efek Mozart Bagi Anak:
Meningkatkan Daya Pikir, Kesehatan,
dan Kreativitas Anak Melalui Musik. Alih
Bahasa: Alex Tri Kantjono Widodo. PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Campbell,
D.
(2001b).
Efek
Mozart:
Memanfaatkan Kekuatan Musik Untuk
Mempertajam Pikiran, Meningkatkan
Kreativitas, dan Menyehatkan Tubuh.
Alih Bahasa: T. Hermaya. PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Gintings, P.E. (1999). Mengantisipasi Stres Dan
Penanggulangannya. Yayasan ANDI,
Yogyakarta.
Haber, A. & Runyon, R.P. (1984). Psychology of
Adjustment.
The
dorsey
Press,
Homewood.
Hardjana, M.A. 1994. Stres Tanpa Distres: Seni
Mengolah Stres. Kanisius, Yogyakarta.
B70
Vol. 2
ISSN : 1858 - 2559
Hiew, C. C. (1995). “Hemi-Sync into creativity”.
Hemi-Sync Journal, XIII (1), 3-5.
Kennerly, R. 19 Desember 2004. An Empirical
Investigation into the Effect of Beta
Frequency Binaural-beat Audio Signals
on Four Measures of Human Memory.
http://www.hemi-sync.com
Lane, J.D., Kasian, S. J., Owens, J. E. & Marsh,
G. R.. (1998). “Binaural Auditory Beats
Affect Vigilance Performance and Mood”.
Reprint from Physiology & Behavior, 63,
2, 249-252. © 1998 Elsevier Science
Inc.
MacGregor, S. (2001). Piece of Mind:
Menggunakan Kekuatan Pikiran Bawah
Sadar
untuk
Mencapai
Tujuan.
Gramedia, Jakarta.
Merrit, S. (1996). Simfoni Otak: 39 aktivitas
Musik Yang Merangssang IQ, EQ, SQ
Untuk Membangkitkan Kreativitas Dan
Imajinasi. Penerbit Kaifa, Bandung.
Satiadarma, P.M. (2002). Painting With Heart :
Apa dan Bagaimana Manfaatnya Melalui
Perspektif Psikologi. Seminar dan
Workshop
Art
Therapy.
Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta.
Tritmen Meta Music Untuk… …
Salve
Download