paper

advertisement
PENERAPAN METODE RESITASI BERBASIS
MOODLE UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN
WEB DESIGN
Arief Zuhud R
Pendidikan Ilmu Komputer
FPMIPA UPI
([email protected])
Drs. Waslaluddin, M.T.
Pendidikan Ilmu Komputer
FPMIPA UPI
([email protected])
Eddy Prasetyo Nugroho, M.T.
Pendidikan Ilmu Komputer
FPMIPA UPI
([email protected])
yang berkualitas dengan mudah tanpa membangun dari
awal.
b. Metode resitasi adalah cara penyampaian bahan pelajaran
dengan memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan
diluar jadwal sekolah dalam rentangan waktu tertentu dan
hasilnya harus dipertanggungjawabkan kepada guru.
ABSTRAK
Penerapan metode resitasi berbasis moodle diharapkan
dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini
dilakukan di kelas XI MM 1 SMK N di Cirebon sebagai kelas
eksperimennya, sedangkan kelas kontrolnya di kelas XI MM 2
dengan perlakuan pembelajaran konvensional. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kualitas peningkatan rata-rata
kemampuan kognitif siswa kelas eksperimen lebih tinggi yaitu
15,13 dibandingkan dengan rata-rata kemampuan kognitif
siswa di kelas kontrol yaitu 13,20. Hasil penelitian ini
membuktikan bahwa penerapan metode resitasi berbasis
moodle dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode dan Desain Penelitian
Metode yang digunakan oleh peneliti dalam melakukan
penelitian ini adalah Penelitian Eksperimen (Experimental
Research). Sedangkan Desain penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Pretest-Postest Nonequivalent
Control Group Design.
Desain ini memiliki pola:
Tabel 3.1. Desain Penelitian
O1
X
O2
O1
O2
Kata kunci
Metode Resitasi, Moodle, Hasil belajar.
1. PENDAHULUAN
Sebagai pemegang peranan yang sangat penting dalam
pendidikan, guru harus bisa memilih strategi dan metode
pembelajaran untuk meningkatkan potensi siswa, sehingga
hasil yang akan dicapai akan optimal. Pemilihan metode yang
tepat dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam
menguasai materi yang akan diajarkan. Salah satu metode
yang melibatkan siswa secara aktif yaitu metode resitasi.
Dalam metode resitasi, siswa diberikan tugas oleh guru agar
memiliki pamahaman tentang materi yang diajarkan.
Sehingga tujuan dari sebuah pembelajaran tersebut dapat
tercapai dengan baik. Dengan demikian siswa tersebut telah
berhasil dalam belajarnya. Tugas dalam metode resitasi ini
tidak hanya berupa pekerjaan rumah (PR), tetapi lebih luas.
Tugas bisa dikerjakan dikelas, laboratorium dan perpustakan.
Bentuk dari tugas itu bisa berupa pertanyaan langsung,
proyek,
diskusi
atau
makalah
yang
akan
dipertanggungjawabkan kepada guru. Penerapan metode
resitasi berbasis moodle diharapkan dapat meningkatkan hasil
belajar siswa
Sumber: Sugiyono (2008: 76)
Keterangan:
O1 = Pretest kelompok eksperimen dan kontrol
O2 = Postest kelompok eksperimen dan kontrol
X = Perlakuan terhadap kelas eksperimen (metode resitasi
berbasis moodle)
Oleh karena itu, dalam penelitian ini sampel didesain menjadi
dua kelompok penelitian yaitu kelompok yang diberi
perlakuan pembelajaran Metode Resitasi Berbasis Moodle
sebagai kelompok eksperimen dan kelompok yang diberi
perlakuan pembelajaran konvensional sebagai kelas kontrol.
3.2 Prosedur Penelitian
Prosedur yang akan dilakukan pada penelitian ini terdiri dari
beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan dilakukan sebelum penelitian dilaksanakan,
adapun rinciannya adalah sebagai berikut:
a. Menentukan pokok bahasan yang akan dipergunakan
dalam penelitian dengan cara melaksanakan studi
literatur dari KTSP dan Silabus.
b. Identifikasi permasalahan mengenai mengenai bahan
ajar, merencanakan pembelajaran, alat-alat yang
berhubungan dengan pembelajaran dan lain-lain.
c. Survei ke lokasi penelitian untuk melengkapi data-data
yang dibutuhkan untuk penelitian.
d. Melakukan perizinan untuk penelitian dengan
memberikan surat izin penelitian yang dikeluarkan
oleh fakultas ke sekolah yang akan dijadikan tempat
penelitian.
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang akan diteliti
adalah bagaimana peningkatan hasil belajar dengan
Penerapan Metode Resitasi Berbasis Moodle.
2. TINJAUAN PUSTAKA
a. E-learning adalah suatu model penyampaian pelajaran,
pelatihan atau program pendidikan dengan menggunakan
media elektronik. Moodle merupakan salah satu bentuk
CMS, yaitu suatu paket software yang didesain untuk
membantu pendidik dalam membuat suatu kursus online
1
e. Menyusun instrumen untuk pengumpulan data
penelitian.
f. Melakukan judgment instrumen terhadap dosen dan
guru mata pelajaran yang bersangkutan.
g. Analisis dan revisi hasil judgment instrumen.
h. Melakukan ujicoba instrumen untuk mengetahui
validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan indeks
kesukaran pada kelas lain di luar kelas sampel yang
sudah pernah menerima materi yang akan di teliti.
i. Menentukan populasi dan sampel yaitu siswa kelas XI
SMK Negeri 1 sebagai populasi, siswa kelas XI
Multimedia 1 dan XI Multimedia 2 sebagai kelas
sampel.
j. Menentukan kelas eksperimen dan kelas control
dengan berkonsultasi dengan guru mata pelajaran Web
Design.
k. Menentukan waktu pelaksanaan penelitian dengan
berkonsultasi dengan guru mata pelajaran Web
Design.
2. Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan penelitian dilakukan di SMK Negeri 1
Kedawung dengan tahap sebagai berikut:
a. Melakukan tes awal (pretest) di awal pembelajaran
pada masing-masing sampel (eksperimen dan kontrol)
dengan soal tes yang sama. Tes ini bertujuan untuk
mengetahui hasil belajar siswa sebelum diberi
perlakuan (treatement) dan sebagai pembanding dalam
menentukan peningkatan hasil belajar siswa setelah
diberi treatment. Pada kelas eksperimen, pelaksaan
pretest dilakukan di moodle. Karena pada saat
pelaksaan pretest dikelas eksperimen laboratorium
komputer sedang maintenence (perbaikan), maka
pelaksaan pretest pada kelas eksperimen dilakukan
secara tertulis seperti pelaksanaan pretest pada kelas
kontrol.
b. Pemberian treatment terhadap kelompok eksperimen
dengan metode resitasi berbasis moodle, sedangkan
untuk kelompok kontrol dengan metode pembelajaran
konvensional. Masing-masing kelompok mendapat
treatment sebanyak dua kali pertemuan.
a) Tugas dikerjakan pada laboratorium komputer
dengan jangka waktu sampai pertemuan
pertama.
b) Diadakan bimbingan tugas secara online
melalui forum pada e-learning.
4) Tahap pertanggungjawaban tugas (metode resitasi)
a) Tugas
dipertanggungjawabkan
dengan
presentasi oleh masing-masing kelompok dan
laporan tugas secara sistematis. Laporan tugas
dikumpulkan melalui e-learning oleh masingmasing kelompok.
b) Penilaian tugas dilakukan dengan tes essay.
Tes ini dilakukan melalui e-learning. Namun
karena
laboratorium
komputer
dalam
maintenence, maka penilaian tugas dilakukan
secara tertulis.
c. Melakukan tes hasil belajar (postest) terhadap sampel
(eksperimen dan kontrol) dengan soal tes yang sama.
Tes ini bertujuan untuk mengukur peningkatan hasil
belajar siswa setelah diberikan perlakuan (treatment).
Pada kelas eksperimen, pelaksaan prosttest dilakukan
di moodle.
3. Tahap Akhir
Pada tahap akhir ini data yang diperoleh akan di olah dan di
analisis, untuk lebih jelasnya dijelaskan seperti di bawah ini:
a. Tahap analisis data: pada tahap ini dilakukan análisis
data terhadap skor hasil belajar kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol. Analisis yang dilakukan
meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Jika data
berdistribusi normal dan homogen, maka tahap uji
hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t.
Namun jika data tidak berdistribusi normal, maka uji
hipotesis menggunakan statistik non-parametik dengan
teknik Mann-Whitney.
b. Uji hipotesis: pada tahap ini dilakukan penarikan
kesimpulan untuk menerima atau menolak hipotesis
berdasarkan hasil pengolahan data.
c. Tahap penarikan kesimpulan: pada tahap ini dilakukan
penarikan kesimpulan penelitian berdasarkan uji
hipotesis.
Berikut rincian langkah-langkah tahap pelaksanaan
pada kelas kontrol yang mendapat pembelajaran
metode konvensional:
1) Guru menerangkan materi pembelajaran. Siswa
menyimak penjelasan materi dari guru.
2) Guru memberikan praktikum kepada siswa tentang
materi yang diajarkan.
3) Siswa mempraktikkan materi yang diajarkan guru.
3.3 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang akan digunakan untuk
mendapatkan data adalah
1. Tes Hasil Belajar
Tes diberikan untuk mengukur atau mengetahui kemampuan
kognitif siswa terhadap materi yang diajarkan. Pada penelitian
ini, tes yang digunakan terbagi ke dalam dua macam tes,
yaitu:
a. Pretest yaitu tes yang dilakukan sebelum perlakuan
diberikan;
b. Postest yaitu tes yang dilakukan setelah perlakuan
diberikan.
Berikut rincian langkah-langkah tahap pelaksaan pada
kelas eksperimen yang mendapat pembelajaran metode
resitasi berbasis moodle:
1) Sebelum
pembelajaran
pertemuan
pertama
dilaksanakan, guru memperagakan penggunaan
moodle sebagai pengenalan singkat tentang moodle
kepada siswa.
2) Tahap pemberian tugas (metode resitasi).
Setelah memperagakan penggunaan moodle, guru
memberikan tugas 1 kepada siswa untuk
pertemuan pertama yang dapat dilihat pada
moodle. Tugas 2 untuk pertemuan kedua diberikan
kepada siswa pada akhir pertemuan pertama.
Rincian tugas selengkapnya pada lampiran
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas
eksperimen.
3) Tahap pelaksanaan tugas (metode resitasi).
Tipe tes yang akan diberikan berupa tes objektif pilihan
ganda. Tes objektif pilihan ganda digunakan untuk
mengetahui tingkat pemahaman materi pada siswa.
2. Angket
Angket digunakan untuk mengukur aspek afektif siswa.
Angket diberikan setelah seluruh pembelajaran dilakukan
(pertemuan terakhir). Angket bertujuan untuk mengetahui
perkembangan siswa dalam pembelajaran metode resitasi
berbasis moodle.
3. Lembar Observasi
Lembar observasi merupakan instrumen yang digunakan
untuk mendapatkan data mengenai gambaran proses
pembelajaran yang dilaksanakan. Data ini menjadi acuan
2
mengenai keterlaksanaan proses pembelajaran di kelas sampel
yang diberi perlakuan pembelajaran multimedia.
orang, diperoleh skor total 303 dan rerata 9,17. Skor tertinggi
pada kelas kontrol adalah 14 dan skor terendah adalah 4.
Keterlaksanaan proses pembelajaran ini dinilai oleh tiga orang
observer yang mengamati seluruh tingkah laku siswa dan guru
yang berlangsung selama 2 pertemuan.
4. Jurnal
Jurnal diberikan untuk siswa pada di akhir pembelajaran
untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran
metode resitasi berbasis moodle.
Data hasil pretes yang diperoleh dan disajikan diatas masih
berupa data mentah. Selanjutnya data hasil pretes tersebut
diolah berdasarkan teknik pengolahan data dengan urutan
sebagai berikut:
a. Uji Normalitas Data Hasil Pretest
Uji normalitas pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
menggunakan statistik chi-kuadrat χ2. Dari hasil
perhitungan diperoleh nilai χ2hitung untuk kelas eksperimen
sebesar 6,922 dan untuk kelas kontrol sebesar 2,923.
Sedangkan, untuk Taraf signifikansi α = 0,05 dan derajat
kebebasan dk = 6 – 3 = 3, diperoleh harga χ2tabel =
2(0,95)(3) = 7,815. Ternyata 2hitung < 2tabel, maka dapat
disimpulkan bahwa penyebaran skor pretest kelas
eksperimen dan kelas kontrol “berdistribusi normal”.
Karena data berasal dari populasi yang berdistribusi
normal, maka analisis dilanjutkan dengan uji homogenitas
varians.
b. Uji Homogenitas Varians Hasil Pretest
Uji homogenitas varians dilakukan untuk mengetahui
apakah dua sampel yang diambil mempunyai varians yang
homogen atau tidak. Untuk mengetahui homogenitas
dilakukan uji kesamaan dua varians. Dari hasil
perhitungan diperoleh nilai Fhitung sebesar 1,170.
Sedangkan, untuk taraf signifikansi α = 0,05 dengan
derajat kebebasan pembilang = 31 dan derajat kebebasan
penyebut = 32, maka diperoleh Ftabel = 1,814. Hal ini
berarti Fhitung < Ftabel , yang artinya data skor tes dari kedua
kelompok “homogen”.
Karena data pretest kedua kelompok homogen, maka
analisis dilanjutkan dengan uji perbedaan dua rerata.
c. Uji Perbedaan Dua Rerata
Karena penyebaran skor pretes berdistribusi normal dan
mempunyai varians yang homogen, maka uji perbedaan
dua rerata dilakukan dengan statistik uji parametrik, yaitu
dengan uji t. Dari hasil perhitungan didapat thitung sebesar
0,611, sedangkan pada taraf signifikasi 5% dan dk = 32
diperoleh harga ttabel = 1,690. Jelas bahwa thitung = 0,611<
ttabel = 1,689. Hal ini berarti H1 ditolak, dan H0 diterima,
yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata
antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Artinya,
kemampuan awal kelas eksperimen dan kelas kontrol
tidak berbeda.
3.4 Analisis Hasil Uji Instrumen
Analisis kualitas tes merupakan tahap yang harus ditempuh
untuk mengetahui derajat kualitas suatu tes. Untuk
mengetahui derajat tes formatif, tes formatif diuji cobakan
terlebih dahulu kepada siswa. Kemudian soal tes tersebut
diolah untuk menentukan validitas butir soal, reliabilitas, daya
pembeda butir soal, dan indeks kesukaran butir soal.
3.5 Teknik Analisis Data
1. Analisis data hasil pretest dan postest
Pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan
uji statistik terhadap data skor pretest, postest dan indeks gain.
Indeks gain digunakan untuk melihat peningkatan hasil
belajar siswa. Indeks gain adalah gain ternormalisasi yang
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Sumber: Hake (1996: 66)
Kriteria indeks gain menurut Hake adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Kriteria Indeks Gain
Indeks Gain
Kriteria
(<g>) > 0,70
Tinggi
0,30 < (<g>)
(<g>)
0,70
0,30
Sedang
Rendah
Sumber: Hake (1996: 66)
Analisis dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar
antara siswa yang mendapatkan pembelajaran metode resitasi
berbasis moodle dan yang mendapatkan pembelajaran metode
konvensional.
2. Analisis Data Hasil Postest
Postes digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar
siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berikut ini
disajikan deskripsi data hasil postest kelas eksperimen dan
kelas kontrol.
Tabel 4.2 Data Hasil Postest Kelas Eksperimen dan Kelas
Kontrol
4. HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
1. Analisis Data Hasil Pretest
Di bawah ini disajikan deskripsi data hasil pretest kelas
eksperimen dan kelas kontrol.
Tabel 4.1 Data Hasil Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas
Kontrol
Kelas
N
Skor
Kontrol
33
Total
303
Eksperimen
32
304
Kontrol
33
Skor
Total
434
Eksperimen
32
492
Kelas
N
XMin
XMax
Rerata
Varians
7
17
13,20
8,28
Simpangan
Baku
2,796
9
19
15,13
5,27
2,379
Simpangan
XMin
XMax
Rerata
Varians
4
14
9,17
7,17
Baku
2,493
5
15
9,56
8,38
2,724
Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa skor postest kelas
eksperimen relatif lebih tinggi daripada kelas kontrol. Kelas
eksperimen dengan jumlah siswa 32 orang, diperoleh skor
total 492 dan rerata 15,13. Skor tertinggi pada kelas
eksperimen adalah 19 dan skor terendah adalah 9. Sedangkan
untuk kelas kontrol, dengan jumlah siswa 33 orang, diperoleh
skor total 434 dan rerata 13,20. Skor tertinggi pada kelas
kontrol adalah 17 dan skor terendah adalah 7.
Dari tabel 4.1 diketahui bahwa kemampuan awal kelas
eksperimen dan kelas kontrol relatif sama sebelum diberi
perlakuan. Kelas eksperimen dengan jumlah siswa 32 orang,
diperoleh skor total 304 dan rerata 9,56. Skor tertinggi pada
kelas eksperimen adalah 15 dan skor terendah adalah 4.
Sedangkan untuk kelas kontrol, dengan jumlah siswa 33
3
Sama seperti data hasil pretes, data hasil postest yang
diperoleh dan disajikan diatas masih berupa data mentah.
Selanjutnya data hasil postes tersebut diolah berdasarkan
teknik pengolahan data dengan urutan sebagai berikut:
Untuk memperjelas gambaran tersebut, gain ternormalisasi
dari kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada
diagram berikut.
a. Uji Normalitas Data Hasil Postest
Uji normalitas pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
menggunakan statistik chi-kuadrat χ2. Dari hasil
perhitungan diperoleh nilai χ2hitung untuk kelas eksperimen
sebesar 4,753 dan untuk kelas kontrol sebesar 5,665.
Sedangkan, untuk taraf signifikansi α = 0,05 dan derajat
kebebasan dk = 6 – 3 = 3, diperoleh harga χ2tabel =
2(0,95)(3) = 7,815. Ternyata 2hitung < 2tabel, maka dapat
disimpulkan bahwa penyebaran skor postest kelas
eksperimen dan kelas kontrol “berdistribusi normal”.
Karena data berasal dari populasi yang berdistribusi
normal, maka analisis dilanjutkan dengan uji homogenitas
varians.
b. Uji Homogenitas Varians Hasil Postest
Uji homogenitas varians dilakukan untuk mengetahui
apakah dua sampel yang diambil mempunyai varians yang
homogen atau tidak. Untuk mengetahui homogenitas
dilakukan uji kesamaan dua varians. Dari hasil
perhitungan diperoleh nilai Fhitung sebesar 1,570.
Sedangkan, untuk taraf signifikansi α = 0,05 dengan
derajat kebebasan pembilang = 32 dan derajat kebebasan
penyebut = 31, maka diperoleh Ftabel = 1,816. Hal ini
berarti Fhitung < Ftabel , yang artinya data skor tes dari kedua
kelompok homogen. Karena data postest kedua kelompok
homogen, maka analisis dilanjutkan dengan uji perbedaan
dua rerata.
c. Uji Perbedaan Dua Rerata
Karena penyebaran skor postest berdistribusi normal dan
mempunyai varians yang homogen, maka uji perbedaan
dua rerata dilakukan dengan statistik uji parametrik, yaitu
dengan uji t. Dari hasil perhitungan didapat thitung sebesar
2,600, sedangkan pada taraf signifikasi 5% dan dk = 32
diperoleh harga ttabel = 1,690. Jelas bahwa thitung = 2,600 >
ttabel = 1,699. Hal ini berarti H0 ditolak, dan H1 diterima,
yang menunjukkan bahwa terdapat ada perbedaan rata-rata
antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Artinya,
rerata kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.
Diagram 4.3 Data Skor Gain Ternormalisasi
Dari perbandingan ini menunjukan bahwa peningkatan hasil
belajar kelas eksperimen lebih baik dibandingkan dengan
peningkatan hasil belajar kelas kontrol.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh peneliti berdasarkan pembahasan
bab-bab sebelumnya sampai dengan analisis data yang
diperoleh pada pretest, postest, praktikum, Angket dan lembar
observasi yang dilakukan di kelas XI Multimedia SMK
Negeri 1 Kedawung, adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan data yang diperoleh pada tes awal (pretest)
kemampuan siswa diketahui bahwa kemampuan awal
siswa kelas eksperimen pada mata pelajaran Web Design
dengan materi “form lihat, entri, edit, dan hapus data
menggunakan software web design dan menggunakan
script php” tergolong masih rendah, hal ini dapat dilihat
dari perolehan rata-rata skor pretest lebih rendah
dibandingkan dengan rata-rata skor postest (kelas kontrol
9.56, kelas eksperimen 15.13), artinya pengetahuan siswa
mengenai materi yang akan diberikan masih rendah, atau
dapat dikatakan materi yang akan diberikan dalam
penelitian belum pernah didapatkan siswa sebelumnya.
2. Pada tes akhir (postest) kelas eksperimen mengalami
peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan kelas
kontrol. Hal ini dapat dilihat dari perolehan rata-rata skor
postest kelas ekpserimen jauh lebih tinggi daripada kelas
kontrol, yaitu 15,13 dan 13,20.
3. Peningkatan hasil belajar kelas eksperimen dengan
pembelajaran metode resitasi berbasis moodle pada mata
pelajaran Web Design lebih baik daripada peningkatan
hasil belajar siswa kelas kontrol dengan pembelajaran
metode konvensional. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan
rata-rata pretest dan postest. Peningkatan hasil belajar
pada kelas eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan
dengan kelas kontrol. Peningkatan hasil belajar ranah
kognitif kelas eksperimen yaitu rata-rata skor prestest
9,56, rata-rata skor postest 15,13, dan rata-rata <g> 0,56.
Sedangkan peningkatan hasil belajar ranah kognitif kelas
kontrol yaitu rata-rata skor prestest 9,17, rata-rata skor
postest 13,20, dan rata-rata <g> 0,38. Peningkatan hasil
belajar ranah afektif kelas eksperimen yaitu rata-rata skor
ranah afektif pertemuan pertama 0,82 dan rata-rata skor
ranah afektif pertemuan kedua 6,07. Peningkatan hasil
belajar ranah psikomotorik kelas eksperimen yaitu ratarata skor ranah psikomotorik pada tugas pertama 1,90 dan
rata-rata skor ranah psikomotorik pada tugas kedua 8,04.
4. Metode resitasi berbasis moodle terbukti dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Web
3. Analisis Data Skor Gain Ternormalisasi
Setelah diketahui terjadi peningkatan terhadap prestasi belajar
siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol, langkah selanjutnya
yaitu mengukur seberapa besar peningkatannya serta
bagaimana efektivitas pembelajarannya. Untuk mengetahui
hal tersebut maka dilakukan pengolahan data skor gain
ternormalisasi. Berikut ini merupakan deskripsi data skor gain
ternormalisasi kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Tabel 4.3 Deskripsi Data Skor Gain Ternormalsasi
Kelas
N
Kontrol
Eksperimen
33
32
Skor
Total
12,39
17,90
<g>Min
<g>Max
<ĝ>
Varians
0,00
0,15
0,75
0,85
0,38
0,56
0,04
0,04
Simpangan
Baku
0,21
0,21
Dari tabel 4.3, kelas eksperimen dengan jumlah siswa 32
orang, diperoleh skor total 17,90 dan rerata <g> 0,56. <g>
tertinggi pada kelas eksperimen adalah 0,85 dan <g> terendah
adalah 0,15. Sedangkan untuk kelas kontrol, dengan jumlah
siswa 33 orang, diperoleh skor total 12,39 dan rerata <g>
0,38. <g> tertinggi pada kelas kontrol adalah 0,75 dan <g>
terendah adalah 0,00.
4
Design. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata <g> yang
diperoleh kelas eksperimen lebih besar daripada rata-rata
gain ternormalisasi kelas kontrol, yaitu rata-rata <g>
kelas eksperimen sebesar 0,56 dan rata-rata <g> kelas
kontrol sebesar 0,38.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh,
maka beberapa saran yang dapat dikemukakan oleh peneliti
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan metode resitasi berbasis moodle
dapat meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya pada
mata pelajaran Web Design. Karena dengan menggunakan
metode resitasi dalam pembelajaran dapat memupuk rasa
tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan,
melatih siswa berfikir aktif karena tugas yang diberikan
harus dipertanggungjawabkan, materi pembelajaran lebih
mudah dipahami oleh siswa karena siswa belajar dengan
caranya masing-masing, sehingga hasil belajar pun akan
meningkat. Dengan moodle, siswa diberikan kemudahan
untuk dapat mengakses materi/modul, tugas, upload tugas,
diskusi tugas melalui forum, dan lain sebagainya.
Sehingga memberikan kenyamanan dan belajar pun
menjadi sangat menyenagkan. Oleh karena itu, diharapkan
guru dapat mengimplementasikan metode resitasi berbasis
moodle.
2. Bagi peneliti
selanjutnya yang akan menggunakan
metode resitasi dalam pembelajaran, hendaknya
memperhatikan betul laporan tugas yang harus dibuat
siswa. Untuk peneliti yang akan melakukan penelitian
metode
resitasi
berbasis
moodle,
hendaknya
memperhatikan infrastruktur dan koneksi jaringan internet
di sekolah yang akan dijadikan tempat penelitian. Karena
tidak semua sekolah memiliki koneksi jaringan internet
yang bagus dan infrastruktur dari laboratorium komputer
yang digunakan untuk pembelajaran.
3. Hendaknya dapat diteliti lebih lanjut pula pembelajaran
yang lebih bervariatif kepada siswa untuk meningkatkan
motivasi dan minat belajar siswa. Khususnya SMK pada
mata pelajaran Web Design.
REFERENSI
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
[8]
Arikunto, Suharsimi. (2003). Dasar-Dasar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Deden. (2007). E-learning dengan Moodle Bagian 01.
Tersedia:
http://dedenthea.wordpress.com/2007/02/12/e-learningdengan-moodle-modular-object-oriented-dynamic-bag01/ . [1 Januari 2011].
Emzir. (2010). Metodologi Penelitian Pendidikan,
Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: Rrajawali Pers.
Hake, Richard. (1996). Interactive-engagement vs
traditional methods: A six-thousand-student survey of
mechanics test data for introductory physics courses.
American: Journal of Physic. 66, (1), 64-74.
Harahap, Homa P. (2008). Membangun Sistem Elearning Berbasis Multimedia. Jurnal EKUBANK. 3, 110.
Slameto. (1990). Proses Belajar Mengajar dalam
Sistem Kredit (SKS). Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
5
Download