konsep diri pada pasien stroke ringan di poliklinik saraf rsud

advertisement
KONSEP DIRI PADA PASIEN STROKE RINGAN DI
POLIKLINIK SARAF RSUD SUMEDANG
Rizkytia Rohadirja, Maria Komariah, Dian Adiningsih
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran
ABSTRAK
Stroke ringan merupakan penyakit dengan prevalensi yang meningkat setiap
tahun. Pasien stroke ringan harus melakukan pengobatan rutin dengan pembatasan
aktivitas untuk mencegah serangan stroke lebih fatal. Inilah yang mempengaruhi
konsep diri pada pasien stroke ringan. Peneitian ini untuk mengidentifikasi konsep
diri pada pasien stroke ringan. Jenis penelitian bersifat deskriptif kuantitatif.
Pengambilan sampel menggunakan teknik incidental sampling dengan karakteristik
tertentu, dengan sampel 30 orang. Pengambilan data menggunakan kuisioner Robson
Self Concept Questionnaire berjumlah 30 pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan
hampir sebagian besar responden memiliki konsep diri positif yaitu 53,33 %. Pada
subvariabel komponen gambaran diri positif yaitu 80 %, ideal diri positif yaitu 70%,
harga diri positif yaitu 56,67 %, peran diri positif yaitu 73,33 %, dan identitas diri
positif yaitu 100%. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyarankan untuk rumah
sakit agar membuat komunitas pasien stroke ringan untuk meningkatkan koping dan
konsep diri pasien Penulis juga menyarankan bagi penelitian selanjutnya untuk
menggali tentang faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri pada pasien stroke
ringan di RSUD Sumedang.
Kata kunci: konsep diri, stroke ringan, poliklinik saraf.
ABSTRACT
Mild stroke is illnesses with a prevalence which increasing every year. Mild stroke
patients should immediately take medication regularly and also limit the activity to
prevent more severe stroke. This is what influence self-concept in patients with mild
stroke. The research method is quantitative descriptive, in order to obtain a selfconcept in mild stroke at neurological clinic at RSUD Sumedang. The sampling used
incidental sampling technique with specific characteristics, and obtained sample of
30 people. Retrieval of data used a Robson Self Concept Questionnaire containing 30
question. The results of the research showed the respondents have a positive selfconcept (53,33%). In sub-variables for self-image is positive (80%), self-ideal
positive (70%), self-esteem positive (56,67 %), on role of self positive (73,33%) and
positive self-identification (100%). Based on the result, it is suggest that the hospital
should make a guidance community for mild stroke patients. This is beneficial for
them to use the proper coping mechanism in confronting their illness. It also suggest
1
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
that the future research should explore the factors influencing self-concept on mild
stroke patients in neurological clinic at RSUD Sumedang.
Keywords: self-concept, mild stroke, neurological clinic
PENDAHULUAN
Menurut American Heart Association tingkat kejadian stroke ringan (mild
stroke) meningkat sebesar 31% dalam kurun waktu lima sampai 14 tahun. Menurut
Lumbantobing (2010) pada pasien stroke ringan perubahan utama yang terjadi adalah
keterbatasan aktivitas dan mobilitas fisik yang jauh berbeda saat sebelum terjadinya
serangan, selain itu pasien menjadi lebih was-was dan berhati-hati dalam melakukan
aktivitas untuk menghindari terjadinya serangan ulang.
Pada penderita stroke ringan gejala yang ditimbulkan antara lain lemah atau
lumpuh sebagian, penurunan lapang pandang, dan masalah kognitif seperti merasa di
terlantarkan, pusing dan bingung, dan penurunan fungsi tubuh(Wyller & Sveen
2002). Penderita yang mengalami stroke ringan harus rutin berobat ke Rumah Sakit
untuk menghindari terjadinya serangan kembali di kemudian hari yang lebih fatal dari
serangan sebelumnya (Lumbantobing, 2010)
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang
diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan
dengan orang lain (Stuart dan Sundeen, 1991). Konsep diri dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain teori perkembangan, significant other (orang terpenting atau yang
terdekat) dan self perception (persepsi diri sendiri) (Stuart dan Sundeen, 1991, dalam
2
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
Keliat 1994). Pada beberapa laporan menunjukkan prevalensi pasien dengan stroke
ringan yang menunjukkan gejala konsep diri negatif yang ditandai dengan depresi
post
serangan
stroke
ringan
yang
pertama 1-2
bulan berkisar
antara
9-
37%. Sedangkan pasien yang depresi setelah mengalami serangan stroke ringan yang
pertama dan berlanjut menjadi stroke sedang/berat pada penderita di Hong Kong
dengan prevalensi 17-69% (Tang et al 2002,. Tahun 2003, 2004a, b, 2007, Fung
et al. 2006, Lui et al. 2006, Sit dkk. 2007).
Menurut
van de
Port et al. (2007),
peningkatan terjadinya konsep diri negatif pada pasien stroke ringan disebabkan
karena perubahan pemenuhan ADL (activities of daily living) misalnya urusan rumah
tangga, pemenuhan
kebutuhan
nutrisi, pemenuhan
kebutuhan
mobilisasi dan
kelelahan.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di dapatkan data di Poliklinik Saraf Unit
Rawan Jalan RSUD Sumedang. Peneliti melakukan wawancara terhadap 10 orang
pasien yang datang ke Poliklinik saraf. Dari hasil wawancara di dapatkan bahwa 8
orang pasien konsep dirinya terganggu; 2 orang pasien mengatakan belum menerima
apa yang terjadi pada dirinya saat ini dan menyatakan tidak mendapatkan
kenyamanan dengan kondisi saat ini hal tersebut menunjukkan adanya gangguan
dalam komponen identitas diri dan adanya gangguan dalam faktor yang
mempengaruhi konsep diri pada aspek self perception, 2 orang pasien mengeluhkan
adanya keterbatasan fisik yang menyebabkan keterbatasandalam hal mobilisasi untuk
melakukan kegiatan sehari-hari hal ini menunjukkan adanya konsep diri negatif
3
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: rizkytia[email protected] (087824078584)
dalam komponen gambaran diri dan komponen peran. 2 orang pasien mengatakan
sejak pertama kali terserang stroke ringan pasien kehilangan pekerjaan yang
diakibatkan karena keterbatasan mobilisasi yang mengakibatkan berubahnya fungsi
afektif keluarga hal ini menunjukkan bahwa pasien kehilangan fungsi peran pada
keluarga dan adanya gangguan dalam faktor yang mempengaruhi konsep diri pada
aspek significant other. 2 pasien mengeluhkan mudah marah dan mengatakan adanya
perubahan dalam pemenuhan kebutuhan seksual dan terlihat ketika proses wawancara
2 pasien initerlihat murung, lemah, melamun, menyendiri dan lebih banyak diam
tidak berinteraksi dengan pasien lain. Beberapa hal ini menunjukkan adanya konsep
diri negatif dalam komponen harga diri. Namun 2 orang pasien lainnya menunjukkan
adanya konsep diri positif, pasien menyatakan bahwa dia menerima keadaan pada
dirinya dan berusaha untuk dapat sembuh dengan rutin berobat dan taat beribadah.
Konsep diri terdiri dari 5 komponen yaitu: gambaran diri, ideal diri, harga
diri, peran dan identitas diri. Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap
tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan
tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu
(Stuart and Sundeen , 1998). Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia
harus berperilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau penilaian personal
tertentu (Stuart and Sundeen 1991). Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil
yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart
4
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
and Sundeen, 1998). Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang
diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat ( Keliat, 1998 ).
Menurut Lumbantobing 2010, stroke ringan atau yang dikenal secara medis
sebagai transient ischemic attack (TIA) terjadi ketika asupan oksigen ke bagian
tertentu dari otak terhalang sebentar, lalu kembali normal. Kebanyakan stroke ringan
hanya berlangsung kurang dari sepuluh menit dengangejala yang bersifat temporer.
Bila berlanjut dalam 24 jam atau lebih maka dikategorikan sebagai stroke biasa.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Variabel dalam
penelitian ini adalah konsep diri pada pasien stroke ringan di Poliklinik Saraf RSUD
Sumedang. Sub variabel dalam penelitian ini meliputi gambaran diri, ideal diri, harga
diri, peran dan identitas diri pada pasien stroke ringan di Poliklinik saraf RSUD
Sumedang. Populasi dalam penelitian ini adalahpasien stroke ringan di poliklinik
saraf RSUD Sumedang berdasarkan data kunjungan setiap bulannya. Sampel dalam
penelitian ini diambil dengan cara consequtive sampling. Cara pengambilan
sampelnya dilakukan secara incidental. Adapun kriteria khusus dalam pemilihan
sampel ini antara lain; klien sedang menjalani pengobatan di Poliklinik Saraf RSUD
Sumedang, klien dapat berkomunikasi dengan baik, dan klien dengan status marital
menikah (pasangan hidup). Peneliti menggunakan Inventory dari Kuesioner Konsep
5
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
Diri Robson (RSCQ) dengan menggunakan 30 item skala penilaian konsep diri yang
dibuat oleh Philip Robson (1989).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian konsep diri pada pasien stroke ringan di Poliklinik Saraf
RSUD Sumedang.
Tabel 1
Konsep Diri Pada Pasien Stroke Ringan di Poliklinik Saraf RSUD Sumedang
No.
Kategori
F
%
1.
Positif
16
53,33
2.
Negatif
Total
14
30
46,67
100.00
Berdasarkan tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa dari 30 responden yang
diteliti, didapatkan bahwa hampir sebagian besar dari responden memiliki konsep diri
yang positif yaitu sebesar 53,37%, dan kurang dari setengahnya dari responden
memiliki konsep diri negatif yaitu sebesar 46,67%.
6
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
Tabel 2
Sub Variabel Konsep Diri Pada Pasien Stroke Ringan di Poliklinik Saraf RSUD
Sumedang
No.
Sub Variabel
Kategori
F
1.
Gambaran Diri
2.
Ideal Diri
3.
Harga Diri
4.
Peran
5.
Identitas Diri
Positif
24
Negatif
6
Positif
21
Negatif
9
Positif
17
Negatif
13
Positif
22
Negatif
8
Positif
30
Negatif
0
Total F = 30
%
80
20
70
30
56,67
43,33
73,33
26,67
100
0
Pada tabel 2 diatas terlihat bahwa dalam komponen gambaran diri 20%
responden memiliki pandangan pribadi yang negatif. Agar dapat mengubah gambaran
diri menjadi positif responden harus diberikan motivasi yang besar dari pasangan,
keluarga dan teman-teman. Motivasi yang diberikan berupa pujian, penerimaan pada
keluarga dan dukungan untuk sembuh. Hal ini senada dengan yang dijelaskan oleh
Sarafino (2003) pasien sangat membutuhkan dukungan motivasi dan bantuan dari
orang lain yang disekitarnya, dukungan moril dan materil sangat dibutuhkan oleh
pasien untuk mencapai kesembuhan dan penerimaan diri yang mempengaruhi
gambaran diri pasien tersebut.
7
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
Pada komponen ideal diri menunjukkan bahwa 70% responden pada
penelitian ini masih memiliki harapan dan cita-cita meskipun saat ini pasien dalam
keadaan sakit. Selama proses pengobatan keluarga selalu mendampingi dan
mendukung responden sehingga harapan dan cita-cinta keluarganya walaupun tidak
semaksimal saat sebelum sakit. Maka untuk dapat tetap mempertahankan ideal diri
responden
dibutuhkan
terus
pendampingan
dari
keluarga
selama
proses
pengobatan.Selain itu juga untuk dapat mempertahankan ideal diri yang positif dapat
dilakukan dengan cara membentuk suatu komunitas atau kelompok pasien stroke dan
stroke ringan di rumah sakit agar pasien dapat bercerita, berbagi pengalaman, dan
mengungkapkan harapan-harapan pasien kedepannya. Seperti yang diungkapkan
Herawaty (1999) terapi kelompok dapat dilakukan dengan belajar mengekspresikan
harapan, perasaan, perhatian dan pengalaman dengan tujuan untuk mempercayai diri
sendiri dan orang laindan untuk berkembang untuk lebih menerima diri sendiri.
Pada penelitian ini 56,67% responden memiliki harga diri positif yang
didukung oleh perasaan dihargai, dicintai dan diterima yang besar didapatkan dari
keluarga dan orang-orang di sekeliling responden. Sejalan dengan yang dikatakan
oleh Sarafino (2003), dukungan sosial adalah berbagai macam dukungan yang
diterima oleh seseorang dari orang lain, dapat berupa dukungan emosional, dukungan
pernghargaan atau harga diri, dukungan instrumental, dukungan informasi atau
dukungan dari kelompok.
8
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
Pada penelitain ini 26,67 % responden memiliki peran negatif. Agar
meningkatkan peran menjadi positif, diperlukan konseling dan petunjuk yang spesifik
untuk membantu penyesuaian terhadap perubahan peran yang dialami oleh
responden. Sejalan dengan pendapat Sofyan (2004) dalam perubahan peran jangka
panjangakan berdampak pada keluarga maka seharusnya diberikan tindakan teknik
konseling yang dapat dilakukan oleh misalnya konselor.
Pada penelitian ini seluruhnya dari responden memiliki identitas diri yang
positif hal ini terjadi karena adanya penerimaan dari keluarga dan orang-orang
disekitarnya. Hal yang bisa dilakukan oleh keluarga, dokter/perawat di rumah sakit
dan orang-orang disekitar responden untuk mempertahankan indentitas diri responden
tetap positif adalah dengan cara memberikan motivasi positif dan membentuk sebuah
komunitas untuk terapi kelompok. Yang bertujuan agar responden tahu bahwa orangorang disekitarnya mencintai dan menerimanya walaupun responden dalam keadaan
sakit dan agar responden tidak merasa hanya dirinya sendiri yang mengalami hal ini.
Dalam aspek konsep diri 46,67% responden pada penelitian ini pasien
memandang perubahan dalam dirinya secara negatif, salah satunya pasien merasa
tidak disukai orang lain dan tidak dapat menerima keadaannya hal ini akan
mempengaruhi konsep diri pasien. Perasaaan ini yang membuat pasien merasa stress
dan terganggu yang akhirnya dapat memperberat keadaan sakitnya,Stuart and
Sundeen (1998) berpendapat bahwa kebanyakan cara bertingkah laku yang diambil
individu adalah yang selaras dengan konsep diri. Maka sejalan dengan itu cara yang
9
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
paling baik untuk mengubah tingkah laku adalah dengan mengubah konsep diri yang
dapat dilakukan dengan manajemen diri yang baik dan juga mengubah konsep atau
pandangan responden terhadap dirinya sendiri.
Hasil penelitian yang bertolak belakang dengan studi pendahuluan yang
dilakukan peneliti disebabkan karena saat melaksanakan studi pendahuluan peneliti
tidak melihat karakteristik responden. Peneliti hanya mencari responden dengan
keluhan stroke ringan dengan serangan pertama kali saja tanpa memilah apakah
responden masih memiliki pasangan atau masih memiliki anak. Sedangkan saat
penelitian digunakan karakteristik tertentu untuk memilih responden.
SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dari
responden memiliki konsep diri positif (53,33 %). Berdasarkan sub variabel yang
diteliti, analisis sub variabel untuk gambaran diri seluruh responden positif yaitu
80%, ideal diri yang positif yaitu sebesar 70%, harga diri positif yaitu sebesar
56,67%, peran diri positif yaitu sebesar 73,33%, Dan identitas diri yang positif yaitu
sebesar 100%.
SARAN
Penulis
menyarankan
bagi
Rumah
Sakit
untuk
membuat
suatu
komunitas/kelompok pasien stroke dan stroke ringan yang bertujuan agar pasien
10
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
stroke ringan bisa bersosialisasi dengan penderita stroke ringan yang lainnya untuk
saling memberikan motivasi, saling berbagi pengalaman, dan dapat juga dengan
menggali kemampuan positif yang dimiliki pasien dan melibatkan pasien dalam
aktivitas sederhana yang mampu dilakukan pasien untuk meningkatkan dan
mempertahankan konsep diri pasien saat ini.
Perawat sebagai pelaksana tenaga medis yang paling dekat dengan pasien
disarankan untuk dapat terus memotivasi dan meningkatkan komunikasi terapeutik
agar dapat meningkatkan koping individu yang berpengaruh terhadap konsep diri
pasien. Perawat juga disarankan untuk berkolaborasi dengan konselor. Setelah hal ini
dilakukan untuk pasien dapat berdampak positif sehingga menumbuhkan konsep diri
yang positif pada pasien dan mempertahankan konsep diri pasien agar tetap positif
dan stabil.
Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini
mengenai tema yang sama seperti faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri pada
pasien stroke ringan di Poliklinik Saraf RSUD Sumedang.
DAFTAR PUSTAKA
Bandura, A. 1994.“Self Efficacy” dalam V. S. Ramachaudran (Ed.),.Encyclopedia of
Human Behavior (Vol. 4, pp.71-81). New York: Academic Press.
Boughman, Diane & Hackley, Joann. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta:
EGC.
Brown, J. W. 1991. Neuropsychology And Self-Concept. Journal Of Nervous And
Mental Disease, 187:131–141,
11
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
Brooks, W.D., Emmert, P. 1976. Interpersonal Community. Iowa. Brow Company
Publisher.
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC.
Brunner & Suddarth. 2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 Vol.
3.Jakarta : EGC.
Dalami, Suliswati, Farida, Dkk. 2009.Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Masalah
Psikososial. Jakarta: Trans Info Media.
Doenges, Marilynn E.Dkk.2000.Rencana Asuhan Keperawatan & Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.Edisi 3.Jakarta EGC.
Donnan GA, Dewey HM, Thrift AG, Sturm J. 2008. The Epidemiologi Of Stroke. In
Munsat TL, Ed. Stroke: Selected Topics. New York Demos Medical
Publishing, 1-7.
Ellis, H., Caroline, S. And Horn, S.: 2000. Change In Identity And Self-Concept: A
New Theoretical Approach To Recovery Following A Stroke. Clinical
Rehabilitation, 14: 273–287,
Erikson, Erik H. 1989. Identitas dan Siklus Hidup Manusia. Bunga Rampai
1.Penerjemah: Agus Cremers. Jakarta: PT Gramedia
Fearon, James D. 1999. What Is Identity (As We Now Use The Word)?Unpublished
paper.Stanford University.
Feigin, V. 2006.Stroke: Panduan Bergambar Tentang Pencegahan Dan Pemulihan
Stroke. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Fines L, Nichols D. 1994.An Evaluation Of A Twelve Week Recreational Kayak
Program: Effects On Self-Concept, Leisure Satisfaction And Leisure Attitude
Of Adults With Traumatic Brain Injuries. Journal Of Cognitive
Rehabilitation;12:10–5.
Fitts WH, Warren WL. 1996. Tennessee Self-Concept Scale Manual-Second Edition.
Los Angeles: Western Psychological Services;
Furnham, A., Badmin, N., & Sneade, I. (2002).Body Image Dissatisfaction: Gender
Differences In Eating Attitudes, Self Esteem, And Reasons For Exercise.
Journal Of Psychology, 136, 581–596.
Hafid A, Syukur A, Achmad IA, Ridad AM, Ahmadsyah I, Airiza AS, Et Al. 2005
Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Herawaty, Netty. 1999. Materi Kuliah Terapi Aktivitas Kelompok.Jakarta : EGC.
Hurlock, Elizabeth B. 1999. Psikologi Perkembangan. Suatu PendekatanSepanjang
Rentang Kehidupan. Edisi Kelima. Alih Bahasa: Dra.Istiwidayanti Dan Drs.
Soedjarwo, M.Sc. Jakarta: Erlangga
Jalaludin Rakhmat, 2005, Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Keliat, B.A. 1992. Gangguan Konsep Diri. Jakarta: ECG.
Keliat, Budi Anna Dll. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
12
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
Koehler, M. L.: 1989. Relationship Between Self-Concept And Successful
Rehabilitation. Rehabilitation Nursing, 141: 9–12
Kozier. (2004). Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta:
EGC.
Lumbantobing, SM (2010). Stroke: Bencana Pendarahan Di Otak. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI
Mansjoer A. Et Al (Eds). 2005. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Aesculapeus FKUI
Marcia, J.E et al . 1993. Ego Identity For Psychososial Research. New York:
Springer Verlag.
Notoatmojo.(2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Nurgiyantoro, Burhan. (2004). Statistik Terapan Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nurjanah, I. (2001). Pedoman Penanganan Keperawatan Jiwa.Yogyakarta :
memodia;
Nursalam.(2003). Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Price S.A. And Wilson L.M. 2005.Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan
Pasien. Edisi III. (Eds); Alih Bahasa Hartanto H. Et Al. (Eds).Patofisiologi :
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Vol.2 Ed 6. Jakarta : EGC.
Rasmun. (2004). Stress, Koping, dan Adaptasi: Teori dan Pohon Masalah
Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.
Robson, P. J.: 1988. Self-Concept: A Psychiatric View. British Journalof Psychiatry,
153: 6–15,
Slamet B. 2007. Psikologi Umum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Samsudin, Herman, (2009). Angka Kejadian Stroke Di Indonesia,
http://www.yastroki.or.id/read.php?id=341 (Diakses November 2011)
Sarafino. 2003. Dukungan Keluarga. Jakarta : Salemba Medika
Smeltzer, Suzanne; Suzanne; And Benda G Bare. (2001), Buku Saku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Stuart GW, Sundeen SJ. (1998) Buku Saku Keperawatan Jiwa.Edisi 3.Jakarta : EGC
Stuart, G.W. Dan Sundeen, S.J. (1991). Principles And Practice Of Psychiatric
Nursing. St Louis: Mosby Company
Suliswati, Dkk. 2005.Konsep Keperawatan Kesehatan Jiwa. Cetakan 1. Jakarta: EGC
Van De Ven, P., Bornholt, L., & Bailey, M. (1996).Measuring Cognitive, Affective
And Behavioural Components Of Homophobic Reaction. Archives Of Sexual
Behaviour, 25, 155–179
13
Rizkytia Rohadirja
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang)
Email: [email protected] (087824078584)
Download