MODUL PERKULIAHAN Komunikasi Organisasi Motivasi dan Kepemimpinan Fakultas Program Studi Fakultas Ilmu Komunikasi Public Relations Tatap Muka 09 Kode MK Disusun Oleh 42008 Drs.Gufroni Sakaril, M.M Abstract Kompetensi Membahas tentang arti pentingnya motivasi, teori motivasi, serta kepemimpinan dalam organisasi Mahasiswa memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang segala hal yang berhubungan dengan kepemimpinan dan motivasi anggota organisasi serta implikasinya bagi komunikasi organisasi 82 Pengantar Dari semua isu dalam bidang manajemen dan kepemimpinan, salah satu isu yang paling popular adalah motivasi. Motivasi menyangkut alasan-alasan mengapa orang mencurahkan tenaga untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Kata motivasi berasal dari bahasa latin yaitu ”movere” yang berarti bergerak. Tetapi apabila istilah motivasi digunakan dalam konteks organisasi, motivasi merupakan sesuatu yang menyebabkan seseorang berpikir dan bertindak melalui daya tarik yang berupa pemenuhan kebutuhan seseorang dan berilaku untuk bekerja demi mencapai tujuan organisasional. Ide kunci dan definisinya adalah: a. Penyebab adalah penghargaan yang merangsang seseorang untuk berpikir dan bertindak b. Daya tarik bisa berupa perilaku atau pendapat seseorang yang mungkin diciptakan oleh seseorang yang sedang memcoba membangkitkan motivasi c. Kebutuhan dan keperibadiaan. kedua hal ini merupakan kunci rangsangan dari dalam bagi timbulnya motivasi Masalah motivasi sulit untuk digambarkan, keperibadiaan seseorang adalah salah satu aspek yang bertanggungjawab dalam hal ini. Misalnya seseorang yang butuh akan uang, ia akan mencari cara untuk memperoleh pekerjaan sehingga gaji yang berbentuk uang dapat merupakan motivator yang penting bagi orang tersebut. Dengan kata lain seseorang melaksanakan kecakapannya karena ada suatu motif Suatu motif timbul berdasarkan kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup manusia ada dua jenis yaitu, pertama kebutuhan primer seperti kebutuhan akan makan, minum dan sebagainya, kebutuhan ini bersifat universal. Kedua adalah kebutuhan sekunder yang bersifat sosial psikologis. Kebutuhan sekunder kurang begitu pasti dibandingkan dengan kebutuhan primer oleh karena merupakan kebutuhan bagi pikiran dan rohaninya. Dan kebutuhan yang kedua ini berkembang sejalan dengan usia yang semakin bertambah. Contoh untuk itu adalah harga diri, kepentingan diri sendiri, melaksanakan tugas dan sebagainya. Kebutuhan sekunder ini lebih bervariasi dari pada kebutuhan primer. Motivasi yang paling berhasil adalah pengarahan sendiri oleh pekerja yang bersangkutan. Keinginan dan dorongan tersebut harus datang dari individu itu sendiri. Arti, Teori dan Faktor yang Mempengaruhi Morivasi Motivasi berasal dari kata motif yang berarti keinginan, dorongan gerak hati atau kebutuhan. Menurut Hersey dan Blanchard (1982) bahwa motivasi cenderung diarahkan 2016 83 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id pada tujuan. Dengan tujuan itulah maka motivasi itu muncul. Menurut Robbin (2002) bahwa motivasi adalah keinginan untuk melakukan sesuatu dan menentukan kemampuan bertindak untuk memuaskan kebutuhan individu. Suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi menciptakan ketegangan sehingga merangsang dorongan dalam diri individu. Dorongan ini menghasilkan suatu pencarian untuk menemukan tujuan tertentu yang jika tercapai akan memuaskan kebutuhan dan menyebabkan penurunan ketegangan. Bagi karyawan yang termotivasi berada dalam suatu kondisi tertekan. Untuk mengurangi ketegangan, mereka melakukan aktivitas. Semakin besar tekanan semakin banyak aktivitas yang dibutuhkan untuk mengurangi ketegangan tersebut. Karena itu ketika ada karyawan bekerja keras melaksanakan kegiatannya maka kita dapat menyimpulkan bahwa mereka didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Aktivitas yang diarahkan Motif pada tujuan Perilaku tujuan Aktivitas tujuan Gambar : Hubungan antara motif – tujuan dan perilaku (Sumber : Robbins,2002) Dalam suatu organisasi, faktor motivasi merupakan penggerak yang menggerakan orang-orang dalam organisasi untuk melakukan suatu pekerjaan. Setiap pekerjaan yang dilakukan mempunyai tujuan atau ada motiv yang menggerakannya. Sehingga untuk menggerakkan anggota organisasi dalam melakukan pekerjaan dengan baik untuk mewujudkan tujuan organisasi, memerlukan adanya motivasi. Untuk menumbuhkan motivasi karyawan dalam organisasi sangat diperlukan kemampuan pemimpin dalam mengkomunikasikan motivasi bagi bawahan. Teori-Teori Motivasi Teori-teori motivasi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok yaitu teori isi, teori proses dan teori “X” dan teori “Y” lalu teori Hieginis. Teori isi (content theory) berkenaan dengan pertanyaan apa penyebab perilaku atau memusatkan paa pertanyaan ‘apa’ dari motivasi tersebut. Teori motivasi ini seperti dalam teori hierarki kebutuhan oleh Abraham Maslow. Teori proses berkenaan dengan bagaimana perilaku dimulai dan dilaksanakan atau menjelaskan aspek bagaimana dari motivasi tersebut meliputi teori pengharapan dan teori keadilan. 2016 84 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id Di bidang ekonomi ada teori efisiensi–X oleh Leibenstein (1978) yang memusatkan kepada penggunaan efisensi sumber daya yang berarti bahwa perusahaan/organisasi secara internal efisien dimana perusahaan/organisasi menghasilkan keluaran maksimal bagi perangkat sumber daya tertentu. Teori efisiensi-X ini disebut juga efisiensi teknis yang berasumsikan sampingan bahwa organsiasai pasti meminimalkan biaya dalam setiap kegiatan operasionalnya. Teori efisiensi-x menolak asumsi yang secara jelas bahwa organsiasi berfungsi dengan efisiensi maksimal dan menganggap bahwa inefisiensi no-alokatif terjadi di dalam organisasi. Inefisiensi alokatif berasal dari cara yang memungkinkan sumber daya dialokasikan diantara penggunaan yang bersaing. Karena efisiensi dan inefisiensi nonalokatif diabaikan atau tidak diindentifikasikan dari teori ekonomi, keduanya disebut efisiensi X dan inefisiensi X. (Frantz,1988 dalam Pace-Faules,1993) Menurut Pace-Faules (1993) ada perbedaan penting antara organsiasi yang efisien-x dan inefisiensi-x terletak pada prinsip kebijaksanaan usaha pekerja (worker effort discretion) mengatakan bahwa kinerja pegawai bergantung pada berapa baik pekerja termotivasi. Teori ekonomi tradisional mengasumsikan bahwa usaha kerja adalah tetap. Kebijaksanaan usaha pekerja berarti bahwa pekerja membuat pilihan yang mempengaruhi jumlah usaha yang mereka gunakan bagi pekerja mereka. Dari aspek ekonomi, ada 4 unsur yang merupakan konsep usaha di tempat kerja yaitu : 1. aktivitas (activity) yang merupakan pekerjaan seseorang 2. kecepatan (speed) melakukan aktivitas pekerjaan 3. presisi (precise) melakukan pekerjaan yang menghasilkan kualitas 4. pola waktu (time) atau ritme melakukan pekerjaan (Frantz,1988 :75-76) Kondisi Dasar keputusan Hasil Kekurangan Predisposisi Tindakan Tujuan Tindakan Potensi Tindakan Maslow Herzberg Pengharapan Vroom Persepsi Pace 2016 85 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id Selain itu istilah motivasi merujuk kepada kondisi dasar yang mendorong tindakan. Hubungan tantara motivasi dan tindakan dapat dilukiskan dalam gambar dibawah ini : Tabel di atas menggambarkan berbagai aplikasi teori dan berperilaku dengan cara tertentu. Suatu perangkat teori menganggap kekurangan kebutuhan sebagi kondisi pendorong yang menimbulkan predisposisi tertentu untuk berperilaku. Sementara suatu teori lain menganggap harapan dalam lingkungan sebagai hal yang dapat menimbulkan bentuk tertentu tujuan dan tindakan yang mengikutinya. Sebagian dari teori yang sering dilakukan mengenai motivasi merujuk kepaa kebutuhan sebagai pendorong perilaku manusia. Suatu kebutuhan tidak dapat dihindarkan untuk memenuhi suatu kondisi. Istilah kebutuhan juga digunakan untuk merujuk kepada kekurangan sesuatu. Jadi kebutuhan adalah sesuatu yang kurang dan harus dipenuhi. Kaitannya dengan motivasi adalah munculnya beberapa teori yaitu hierarki kebutuhan yang dikemukakan sejak tahun 1943 oleh Maslow dan teori kesehatan-motivator (motivator-hygiene). 1. Teori Hierarki Kebutuhan (Hierarchy of Needs) Teori ini mengungkapkan bahwa kebutuhan manusia terdiri dari 5 kategori yaitu : a. Kebutuhan fisiologis. Perwujutan paling nyata dari kebutuhan fisiologis ialah kebutuhan-kebutuhan pokok manusia seperti sandang, pangan dan perumahan. Kebutuhan ini dipandang sebagai kebutuhan yang paling mendasar bukan saja karena setiap orang membutuhkannya terus menerus sejak lahir hingga ajalnya, akan tetapi juga karena tanpa pemuasan berbagai kebutuhan tersebut seseorang tidak dapat dikatakan hidup secara normal. Berbagai kebutuhan tersebut berkaitan dengan status manusia sebagai insan ekonomi. Kebutuhan itu bersifat universal dan tidak mengenal batas geografis, asal usul, tingkat pendidikan, status sosial, pekerjaan atau profesi, umur dan lain-lain. Hanya saja memang harus diakui adanya perbedaan dalam kemampuan untuk memuaskan berbagai kebutuhan tersebut. Menurut teori ini, apabila kebutuhan dasar ini sudah tercapai, maka seseorang akan berhenti pada kebutuhan yang satu itu, melainkan akan berusaha memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya seorang butuh makan, tetapi setelah kenyang orang tidak akan mencari makan lagi, melainkan mencari hal lain untuk memuaskan kebutuhan berikutnya b. kebutuhan keselamatan dan keamanan. Anggota organisasi membutuhkan rasa aman. Dia tidak mau kehilangan otoritasnya, penghasilannya maupun pekerjaanya. Apabila kebutuhan akan rasa aman ini terancam, maka orang akan berusaha dengan berbagai jalan untuk mengembalikan rasa aman dan kondusif bagi kegiatannya dalam organisasi. 2016 86 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id c. kebutuhan rasa memiliki/cinta (sosial). Secara kondrati manusia adalah makhluk sosial. Seseorang tidak dapat hidup sendiri, tetapi perlu kerjasama dalam lingkungan pergaulan sosial. Di dalam organisasi, setiap anggota juga ingin diterima dalam lingkungan sosial, dapat diterima di lingkungan organisasi. Selain itu manusia juga memerlukan kasih sayang, persahabatan dan sebagainya. d. kebutuhan penghargaan. kebutuhan penghargaan secara mudah dapat kita saksikan , bahwa setiap anggota organisasi pada dasarnya memerlukan suasana saling menghormati dan menghargai. Kecenderungan umum bagi anggota organisasi ialah keinginan mereka untuk berprestasi, mendapat status, menduduki jabatan penting dan sebaginya e. kebutuhan aktualisasi diri. Menurut Maslow, kebutuhan ini merupakan puncak kebutuhan manusia. Artinya setelah kebutuhan–kebutuhan lain terpenuhi akan muncul kebutuhan ini. Kebutuhan aktualisasi diri ialah dorongan untuk menjadi apa yang ia rasa mampu. Anggota organisasi akan berusa sekuat kemampuan untuk menunjukan seluruh potensi yang dimilikinya. Orang akan merasa puas apabila sudah dapat bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang maksimal. Berdasarkan teori hirarki kebutuhan tersebut, dapat digambarkan sebagai berikut : Aktualisasi diri penghargaan Rasa memiliki Keselamatan keamanan Fisiologi Kritik terhadap Hierarki Kebutuhan (Model Maslow) Hirerki kebutuhan yang sangat populer ini, pada perjalannya mendapat berbagai kritik. Misalnya terdapat kritik yang pada intinya mempersoalkan bahwa timbulnya hubungan pada tingkat yang lebih tinggi bukan semata-mata disebabkan oleh terpenuhinya kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah, melainkan disebabkan oleh peningkatan karir atau 2016 87 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id kedudukan seseorang dalam organisasi. Kebutuhan-kebutuhan itu sifatnya elestis dan banyak tak terhigga. Sebuah kebutuhan saja pada hakekatnya sangat susah untuk dipenuhi secara maksimal oleh karena sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dengan hasil kerja yang sudah dicapai. Seberapa besarkah penghasilan atau gaji dapat dikatakan cukup? Sulit untuk dijawab. Sebagian kritik lain menyatakan bahwa sebagian teorinya itu merupakan kerangka filosofis untuk melukiskan sikap khas karyawan Amerika setelah dilakukan mendalam penelitian didapatkan kesimpulan bahwa bukti dan argumentasi kajian menunjukkan bahwa model pemuasan kebutuhan harus dikaji ulang dengan sungguh-sungguh dan tidak dapat membenarkan penerimaan begitu saja yang telah diperolehnya dalam pustaka organisasi psikologi. (Salancik dan Pfeiffer, 1977 : 453) Walaupun mendapat berbagai kritik, tetapi teori ini sangat berguna untuk menjelaskan mekanisme motivasi dalam organisasi. Terdapat beberapa contoh yang dilakukan organisasi atau pemimpin untuk mengakomodir teori Maslaw: Untuk memenuhi kebutuhan fisologis, organisasi memberikan gaji yang cukup. Kebutuhan akan rasa aman akan dipenuhi dengan mengkondisikan suasana kerja dalam situasi yang aman secara fisik, sosial, politik, hukum dan sebagainya. Misalnya lembaga/ organisasi memberikan perlindungan hukum, jaminan hari tua, jaminan kesehatan dan lain-lain. Kebutuhan sosial dipenuhi dengan memberikan kesempatan dan kelaluasaan untuk merinteraksi. Contoh, organisasi memberi kesempatan kepada segenap karyawan untuk membentuk serikat pekerja, forum komunikasi karyawan dan sebagainya Kebutuhan pengahargaan dapat dilakukan dengan memilih karyawan teladan Kebutuhan aktualisasi diri dapat ditempuh dengan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berekspresi sesuai dengan tingkat kreatifitas yang dimiliki. Sebagai implikasinya bahwa model kebutuhan hierarki adalah kebutuhan yang terpenuhi tidak memotivasi dibandingkan dengan kebutuhan yang tidak terpenuhi. Dengan demikian pegawai jauh lebih termotivasi oleh hal-hal yang ingin mereka miliki dibandingkan oleh hal-hal yang telah mereka peroleh. Karyawan akan bereaksi untuk melindungi dan mempertahankan kepada hal-hal yang telah didapatkan tetapi mereka lebih antusias bila berusaha mendapatkan sesuatu yang lain dari yang telah dimiliki. 2016 88 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id 2. Teori ERG dari Alderfer Disamping teori kebutuhan bertingkat ala Maslow, ada teori ketagori kebutuhan menurut Alderfer (1972) yang membagi menjadi 3 bagian yaitu : 1. Existence (E) atau eksistensi meliputi kebutuhan fisiologis seperti rasa lapar, rasa haus, seks dan kebutuhan materi lainnya 2. Related (R) atau keterkaitan menyangkut hubungan dengan orang-orang yang penting bagi kita seperti anggota keluarga, sahabat dan penyelia di tempat kerja. 3. Growth (G) atau pertumbuhan meliputi keinginan kita untuk produktif dan kreatif dengan mengerahkan segenap kesanggupan kita. Sebenarnya teori ERG ini merupakan konsep yang lebih sederhana dari teori Maslow dimana ide hierarki tidak menjadi titik penting dalam mencapai kebutuhan manusia. Alderfer menyatakan bahwa pertama, bila kebutuhan akan eksistensi tidak terpenuhi maka pengaruhnya mungkin kuat namun kategori kebutuhan lainnya mungkin masih penting dalam mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan. Kedua, meskipun kebutuhan tersebut terpenuhi maka kebutuhan dapat berlangsung terus sebagai pengaruh kuat dalam keputusan. Kesimpulannya bahwa suatu kebutuhan yang sudah terpenuhi boleh jadi terus berlangsung menjadi motivator. Sebaliknya, kebutuhan akan keterkaitan dan pertumbuhan boleh jadi meningkat ketika terpenuhi. Semakin banyak cara yang anda temukan untuk produktif dan kreatif semakin besar keinginan anda untuk produktif dan kreatif. Ada pendapat lain mengenai teori kebutuhan yang dikemukakn oleh McClelland dimana menekankan kepada kebutuhan fisik dan kepuasan. Sebenarnya kebutuhan menurut McClelland kebutuhan manusia terdiri dari : a. kebutuhan berprestasi (need for achievement) b. kebutuhan akan kasih sayang (needs for affiliation) c. kebutuhan berkuasa (need for power) Begitu pula dengan teori kebutuhan yang dinyatakan oleh W.I Thomas dan Florian Znaniecki pada dasarnya hampir mirip dengan teori hierarki kebutuhan Maslow. Menurutnya kebutuhan manusia itu ada : 1. keinginan memperoleh pengalaman baru 2. keinginan untuk mendapatkan respon 3. keinginan akan pengakuan 4. keinginan akan rasa aman. 2016 89 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id Kebutuhan-kebutuhan itu berkembang dalam suatu arus hierarki dengan kebutuhan fisiologis yang paling kuat sehingga ingin terpuaskan. Kebutuhan ini mempunyai pengaruh atas kebutuhan lainnya selama kebutuhan tersebut belum terpenuhi. Contoh ras lapar yang amat sangat sulit untuk memberikan perhatian kepada penghematan bagi masa depan. 3. Teori Kesehatan-Motivator (Motivator-Hygieni) Teori ini dikemukan oleh Herzberg (1966) di mana mencoba menjelaskan faktor– faktor apa saja yang mempengaruhi motivasi dalam organsiasi. Menurutnya ada dua perangkat kegiatan yang dapat memuaskan kebutuhan manusia yaitu : 1. Kebutuhan yang berkaitan dengan kepuasaan. Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja disebut dengan motivator meliputi prestasi, penghargaan, tanggung jawab, kemajuan atau promosi, pekerjaan itu sendiri dan potensi bagi pertumbuhan pribadi. Bila faktor diatas direspon dengan baik dan positif maka pegawai cenderung merasa puas dan termotivasi. Sebaliknya bila tidak terpenuhi maka akan terjadi kekurangan motivasi bagi pegawainya. 2. Kebutuhan yang berkaitan dengan ketidak puasan kerja. Faktor-faktor yang berkaitan dengan ketidakpuasan disebut faktor pemeliharaan (maintenance) atau kesehatan (hygiene) meliputi gaji, pengawasan, keamanan kerja, kondisi kerja, administrasi kebijakan organsiasi dan hubungan antarpribadi dengan rekan kerja, atasan dan bawahan ditempat kerja. Itu sebabnya program untuk memotivasi pegawai menggunakan sistem Herzberg disebut motivasi melalui pekerjaan itu sendiri. Bila factor-faktor ini dianggap secara positif, pegawai tidak mengalami kepuasan atau tampak termotovasi ; namun bila fakror-faktor tersebut tidak ada, pegawai akan merasa tidak puas. Motivator berkaitan dengan kepuasan kerja namun tidak dengan ketidakpuasan kerja. Faktor kesehatan berkaitan dengan ketidakpuasan kerja namun tidak berdampak kepada kepuasan kerja. Jadi untuk memelihara atau tetap memiliki pegawai, manajer harus memusatkan perhatian pada faktor-faktor kesehatan namun untuk membuat pegawai bekerja lebih keras, maka manajer harus memusatkan perhatian pada motivator. Manajer menyesuaikan pekerjaan itu sendiri untuk memotivasi pegawai dan menyesuaikan faktor lingkungan untuk menghindari ketidakpuasan. Misalnya seorang penyelia melakukan pekerjaan yang menciptakan hubungan positif dengan pegawai akan merasa kecewa bila mengira bahwa pegawai akan termotivasi untuk bekerja lebih keras sebagai hasilnya. Karena hubungan penyelia adalah faktor kesehatan, kemungkinan pegawai tidak akan merasa puas. Untuk memotivasi pegawai, penyelia perlu menemukan cara untuk memberi pegawai lebih banyak kebebasan dan lebih banyak tanggung jawabdalam melakukan 2016 90 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id pekerjaan mereka atau setidaknya memberi pegawai lebih banyak penghargaan atas pekerjaan yang telah dilakukan. Bila pegawai tidak mendapatkan pengharagaan dengan sendirinya mereka tidak merasa puas dengan pekerjaan merka sendiri, namun mereka tidak termotivasi untuk bekerja lebih keras. Implikasi Model Herzberg Pada Bidang Pekerjaan Faktor motivasi seperti pencapaian dan tanggung jawab berkaitan langsung dengan pekerjaan itu sendiri, prestasi pegawai, pengakuan dan pertumbuhan yang didapatkan darinya. Faktor motivasi sebagian besar berpusat pada pekejaan yang berhubungan dengan isi pekerjaan. Sebaliknya faktor pemeliharaan terutama berhubungan dengan konteks pekerjaan karena lebih berkaitan dengan lingkungan di sekitar pekerjaan. Perbedaan antara isi pekerjaan dan konteks pekerjaan merupakan hal penting menunjukkan bahwa pegawai sangat termotivasi oleh hal-hal yang mereka lakukan bagi dirinya sendiri. Apabila pegawai memikul tanggung jawab untuk mendapatkan pengakuan melalui perilaku mereka sendiri maka mereka menjadi termotivasi. Jika kesimpulan ini benar, maka peran pimpinan adalah menyediakan lingkungan yang suportif agar pegawai dapat berprestasi dengan baik. Pimpinan membantu dan bukan hanya sebagai atasan. Uraian di atas dapat disimpulkan : Faktor pemeliharaan Faktor motivasi Hal-hal yang tidak memuaskan Faktor hieginis Konteks pekerjaan Faktor ekstrinsik Contoh : Pemuas Motivator Isi pekerjaan Faktor instrinsik Contoh : Kebijakan dan administrasi perusahaan Kualitas penyeliaan Hubungan dengan penyelia Hubungan dengan rekan sejawat Hubungan dengan bawahan Bayaran Jaminan kerja Kondisi kerja Status Pencapaian Pengakuan Kemajuan Pekerjaan itu sendiri Kemungkinan berkembang Tanggung jawab Gambar : Klasifikasi Herzberg tentang Faktor Pemeliharaan dan Motivasi Kritik terhadap Model Herzberg Model Herzberg ini didukung dan disangkal oleh analisis lainnya tentang motivasi. Pendukungnya telah menunjukkan penerapan model ini secara luas di Amerika dan 2016 91 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id berbagai negara lainnya. Model ini khususnya dapat diterapkan bagi pegawai, manajerial, profesional dan pegawai kantoran tingkat tinggi. Semua kritik terhadap model ini umumnya menyangkal gagasan tentang adanya dua faktor terpisah yang mempengaruhi motivasi. Mereka percaya bahwa motivasi berdasarkan atas satu faktor di sepanjang kontinum dan bukan 2 faktor. Kritik lainnya bahwa model ini tidak memberi tekanan cukup pada upah, status dan hubungan dengan orang lain yang dipandang merupakan faktor pemeliharaan padahal hal tersebut dapat menimbulkan motivasi. Kritik lain dilontarkan bahwa model Herzberg terikat metode yang menyebabkan keterbatsan manfaat. Dinyatakan bahwa bila metode Herzberg diterapkan dan orang-orang diminta untuk mengemukakan situasi kerja yang menyenangkan, ego mereka mendorong untuk mengutarakan hal-hal yang telah diselesaikan, bila diminta menguraikan situasi yang tidak menyenagkan maka ego mereka mendorong untuk mengutarakan hal-hal yang telah dilakukan orang lain seperti perlakuan penyelia yang tidak pantas. Hasilnya adalah muncul 2 faktor sekalipun dalam fakta hanya ada satu. ( Davis and Newstrom, 1996) Perbandingan antara Model Herzberg dan Model Maslow Walaupun model Maslow dan model Herzberg agak sama tapi masih ada perbedaan yang penting diantara keduanya. Model Maslow menekankan pada kebutuhan psikologis orang-orang sedangkan model Herzberg memfokuskan pada kondisi pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan. Model Herzberg menyimpulkan bahwa dalam masyarakat modern banyak karyawan telah memenuhi kebutuhan tingkat rendahnya. Jadi mereka sekarang hanya termotivasi oleh kebutuhan tingkat tinggi. Kebutuhan tingkat rendah tidak lagi kuat dan bukan menjadi kekuatan pendorong bagi pegawai tetapi kebutuhan ini hanya menjadi pemeliharaan pada tingkat kemajuan yang sekarang. Perbandingan dari ketiga teori kebutuhan dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Eksistensi keterkaitan pertumbuhan Alderfer Aktualisasi-diri Pengharagaan Maslow Rasa memiliki Keamanan Fisiologis 2016 92 faktor kesehatan Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M motivator Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id Herzberg 4. Teori X dan Teori Y Satu dari sekian banyak studui humanistis, diantaranya Douglas McGregor menerapkan teori X dan teori Y. Inti teori McGregor terlihat pada klasifikasi yang dibuatnya tentang manusia, yaitu : a. Teori X yang pada dasarnya mengatakan bahwa manusia cenderung berperilaku negatif b. Teori Y yang pada dasarnya mengatakan bahwa manusia cenderung berperilaku positif. Dalam mengemukakan dan mempertahankan kebenaran teorinya, McGregor menekankan bahwa cara yang digunakan untuk para manager dalam memperlakukan para bawahan sangat tergantung pada asumsi yang digunakan tentang ciri manusia yang dimiliki oleh para bawahanya. Teori X mengatakan bahwa para manager menggunakan asumsi bahwa manusia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut a. Para pekerja pada dasarnya tidak senang bekerja, dan apabila mungkin akan berusaha mengelakkannya. b. Karena para pekerja tidak senang bekerja, mereka harus dipaksa, diawasi atau diancam dan berbagai tindakan punitif agar tujuan organisasi dapat tercapai c. Para pekerja akan berusaha mengelakan tanggung jawab dan hanya akan bekerja apabila menerima perintah untuk melakukan sesuatu. d. Kebanyakan pekerja akan menempatkan pemuasan kebutuhan fisiologis dan keamanan diatas faktor-faktor lain yang berkaitan dengan pekerjaannya dan tidak akan menunjukan keinginan atau ambisi untuk maju. Sebaliknya, menurut teori Y, para manager menggunakan asumsi bahwa para pekerja memiliki ciri-ciri: a. para pekerja memandang kegiatan bekerja sebagai hal alamiah b. para pekerja akan berusaha melakukan tugas tanpa terlalu diarahkan dan akan berusaha mengendalikan diri sendiri c. pada umunya para pekerja akan menerima tanggungjawab yang lebih besar d. para pekerja akan berusaha menunjukan kreativitasnya dan oleh karenanya akan berpendapat bahwa pengambilan keputusan merupakan tanggungjawab mereka juga dan bukan semata-mata tanggungjawab orang-orang yang menduduki jabatan managerial. 2016 93 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id Bila dikaitkan dengan teori Maslow akan terlihat gejala bahwa para pekerja yang tergolong pada kategori X akan lebih mementingkan pemuasan kebutuhan ”tingkat rendah” seperti kebutuhan pokok dan kurang memberi perhatian pada kebutuhan tingkat atas. Sebaliknya yang terhadi pada manusia yang tergolong pada kateori Y dalam arti bahwa pemuasan kebutuhan yang bersifat psikologis dan non material lebih diutamakan ketimbang pemuasan-pemuasan kebutuhan yang bersifat kebendaan. 5. Teori Harapan Inti teori ini terletak pada pendapat yang mengatakan bahwa kuatnya kecenderungan seseorang bertindak dengan cara tertentu tergantung pada kekuatan harapan bahwa tindakan tertentu akan diikuti oleh suatu hasil tertentu dan pada daya tarik dan hasil itu bagi orang yang bersangkutan. Menurut Vroom (1964) yang mengembangkan teori motivasi berdasarkan jenis pilihan yang dibuat orang untuk mencapai suatu tujuan yang berdasarkan kebutuhan internal. Teori harapan (expenctancy theory) membuat 3 asumsi pokok yaitu : a. setiap individu percaya bahwa bila berperilaku dengan cara tertentu akan memperoleh hal tertentu yang disebut harapan hasil yaiotu suatu harapan hasil sebagai penilaian subjektif seseorang atas kemungkinan bahwa hasil tertentu akan muncul dari tindakan orang tsb. b. Setiap hasil mempunyai nilai, daya tarik bagi orang tertentu disebut valensi. Valensi atau nilai sebagian aspek pekerjaan biasnya berasal dari kebutuhan internal namun motivasi yang sebenarnya merupakan proses yang lebih rumit. Valensi sebagai nilai orang yang diberikan kepada suatu hasil yang diharapkan. c. Setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa sulit mencapai hasil tsb disebut harapan usaha yang berarti sebagai kemungkinan usaha seseorang akan menghasilkan pencapaian suatu tujuan tertentu. Maka konsep motivasi dapat dijelaskan dengan mengkombinasikan ke-tiga prinsip yaitu dengan asumsi : 1. Orang akan termotivasi bila percaya suatu perilaku tertentu akan menghasilkan hasil tertentu, 2. Hasil tersebut mempunyai nilai positif baginya, 3. Hasil tersebut dapat dicapai dengan usaha yang dilakukan seseorang. Singkatnya seseorang akan memilih ketika melihat alternatif, tingkat kinerja yang mempunyai kekuatan motivasional tertinggi berkaitan dengannya. Kemampuan seseorang untuk melaksanakan suatu tugas tertentu ditambah usaha yang mau dilakukan demi tugas 2016 94 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id tersebut. Menentukan tingkat kinerja. Bila seseorang tidak mempunyai kemampuan tersebut mungkin tidak layak usaha yang anda coba untuk menyelesaikan tugas tersebut. Motivasi dalam teori harapan adalah keputusan untuk mencurahkan usaha. Jika teori harapan tersebut dianalisis maka ada beberapa saran yang harus diperhatikan manajer dan organisasi menangani motivasi secara maksimal dari bawahan yaitu : 1. Pastikan jenis hasil atau ganjaran mempunyai nilai bagi pegawai. Manajer harus lebih terampil menekankan analisis kebutuhan daripada mengubah keinginan pegawai. 2. Definisikan secara cermat bentuk perilaku yang dapat diamati dan diukur, diinginkan dari pegawai. 3. Pastikan bahwa hasil tersebut dapat dicapai oleh pegawai. Bila seseorang merasa tingkat kerja yang diharapkan lebih tinggi dari yang dilakukan maka motivasi untuk melakukannya akan lebih rendah. 4. Kaitkan hasil yang diinginkan dengan tingkat kinerja yang diinginkan. Motivasi terjadi hanya bila seorang pegawai melihat hubungan antara ganjaran dan harapan. 5. Pastikan bahwa ganjaran cukup besar untuk memotivasi perilaku yang penting. Ganjaran yang sepele akan menghasilkan usaha yang sepele juga. 6. Orang dengan kinerja tinggi harus menerima lebih banyak ganjaran yang diinginkan daripada orang yang kinerja rendah. Sistem ganjaran harus diterapkan menggunakan asas adil bukan sama rata. (Nadler and Lawler,1976) Secara sederhana rumus teori harapan dapat digambarkan sebagai berikut : harapan mengarah Motivasi ke peningkatan balas jasa X balas jasa sebagai hasil usaha Kunci teori harapan ialah pemahaman tujuan individual dan kaitan antara usaha dan prestasi kerja, antara prestasi kerja dan imbalan serta imbalan dan pencapaian tujuan, teori ini didasarkan pada model contingency dan dengan demikian menekankan bahwa tidak ada 2016 95 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id prinsip yang bersifat universal untuk menjelaskan motivasi seseorang. Tambahan pula, menurut teori ini karena dapat dipahami kebutuhan apa yang ingin di puaskan oleh seseorang tidak menjamin bahwa orang yang bersangkutan mempunyai persepsi bahwa prestasi kerja yang tinggi berakibat pada pemuasan berbagai kebutuhan. Daya tarik teori ini tergantung pada empat hal berikut: 1. Teori ini menekankan imbalan. Artinya menurut teori ini terdapat keyakinan bahwa imbalan yang diberikan oleh organisasi sejajar dengan apa yang diinginkan oleh pekerja. Yang berarti bertitik tolak dari kepentingan pekerja dalam mana seseorang berusaha memaksimalkan kepuasannya. Dapat dikatakan bahwa teori harapan adalah suatu bentuk hodoisme yang kalkulatif dan psikologis dalam mana motif akhir dari setiap tindakan manusia dalah maksimalisasi kesenangan atau minimalisasi penderitaan. 2. Para manager harus memperhitungkan daya tarik imbalan yang memerlukan pemahaman dan pengetahuan tentang nilai apa yang diberikan oleh pekerja pada imbalan yang diterimanya. Para manager hendaknya memberikan imbalan kepada para pekerja yang oleh para pekerja sendiri dinilai tinggi. 3. Teori harapan menekankan perilaku yang diharapkan dari para pekerja. Artinya teori ini menekankan pada pentingnya keyakinan dalam diri pekerja tentang apa yang diharapkan oleh organisasi dari padanya dan bahwa prestasi kerjanya dinilai dengan menggunakan kriteria yang rasional dan objektif 4. Teori ini menyangkut harapan. Artinya, teori ini tidak menekankan apa yang realiatik dan rasional. Yang ditekankan ialah bahwa harapan pekerja mengenai prestasi kerja, imbalan dan hasil pemuasan tujuan individu akan menentukan tingkat usahanya, bukan hal itu sendiri. 6. Teori Keadilan (Equtity) Keadilan menyangkut persepsi seseorang tentang perlakukan yang diterimanya dari orang lain. Biasanya seseorang akan mengatakan bahwa dirinya diperlakukan dengan adil apabila perlakukan itu menguntungkan. Sebaliknya dia akan cenderung mengatakan bahwa dia diperlakukan tidak adil apabila perlakukan yang diterima dirasakan merugikan. Dapat dipastikan bahwa persepsi seseorang tentang keadilan berpengaruh pada perilaku dan tindak tanduknya yang pada gilirannya menentukan motivasinya, terutama yang bersifat instrinsik yang diantaranya terihat pada tingkat prestasi kerja. Teori ini mengemukakan pula bahwa seseorang akan cenderung membandingkan antara: 1) masukan yang mereka berikan pada pekerjaan dalam bentuk pendidikan, pengalaman, latihan dan usaha dengan, 2) hasil-hasil (pengharagaan) yang diterima seperti 2016 96 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id membandingkan balas jasa yang diterima pegawai lain yang diterima dirinya dalam pekerjaan yang sama. Menurut Stephen (1996:65) sebenarnya teori ini menyatakan bahwa karyawan membandingkan apa yang mereka berikan ke dalam suatu kerja (input) terhadap apa yang mereka dapatkan dari pekerjaan tersebut (outcame) dan kemudian membandingkan rasio input-output mereka dengan rasio input-outcome dari rekan kerja sejawatnya. Jika mereka menganggap rasio input-outcame mereka sama dengan orang lain maka keadaan dianggap adil, jika rasio tidak sama maka ada rasa ketidakadilan artinya karyawan cenderung melihat diri mereka sendiri kurang diberi penghargaan. Acuan yang dipilih karyawan sebagai perbandingan dengan diri mereka sendiri merupakan suatu variabel penting dalam teori equity. Ada 3 kategori acuan yang telah diklasifikasikan yaitu ‘orang lain’; ‘sistem’ dan ‘diri sendiri’. Orang lain sebagai pembanding Untuk menilai apakah seseorang mendapat perlakukan yang adil dalam kehidupan organisasi, ia biasanya melakukan perbandingan antara dirinya dengan orang lain dalam organisasi, yaitu mereka yang berbeda pada tingkat yang sama dalam hirerki organisasi, melakukan tugas yang relative serupa dengan tanggungjawab yang sama pula. Jika terdapat berbedaan perlakukan antara yang bersangkutan dengan orang-orang lain itu, maka akan timbul persepsi ketidak adilan. Orang lain yang bekerja di organisasi lain juga dapat digunakan sebagai pembanding. Sistem yang Berlaku Sebagai Pembanding Dalam suatu organisasi yang baik, biasanya terdapat dan berlaku suatu-sistem tertentu yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya manusia yang menjadi anggotanya. Berbagai komponen dalam sistem tersebut bisa mempunyai dua dasar, yaitu : - peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah yang harus ditaati setiap organisasi - ketentuan-ketentuan yang hanya berlaku bagi organisasi yang bersangkutan yang didasarkan pada tradisi, kultur dan kepentingan organisasi tersebut. Teori keadilan menyoroti semua komponen ini, meskipun bisanya perhatian utama diberikan pada sistem pengupahan dan pengajian. Persepsi seseorang diwarnai oleh pandangannya tentang perlakuan terhadap dirinya dalam rangka kerangka sistem yang berlaku itu khususnya dalam pelaksanaannya. Adakala sistem yang berlaku pada suatu 2016 97 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id organisasi dibandingkan juga dengan sistem yang berlaku di organisasi lain di daerah yang sama dan bergerak pada jenis kegiatan operasional yang serupa. Diri Sendiri Sebagai Pembanding Sering terlihat bahwa terdapat perbedaan antara persepsi seseorang tentang diri sendiri dengan persepsi organisasi mengenai orang yang bersangkutan. Perbedaan persepsi ini sering merupakan sumber perbedaan tentang interpretasi perlakuan yang terjadi. Artinya bisa saja organisasi merasa bahwa karyawan telah diperlakukan adil sedangkan karyawan merasa tidak dipelakukan tidak adil. Hal ini merupakan salah satu tantangan bagi manager untuk memilih dan menggunakan teknik motivasi tertentu agar sasaran motivasi itu tercapai. Ada beberapa pertimbangan dalam teori keadilan (equity) ini adalah bila karyawan merasakan suatu ketidakadilan maka mereka membuat satu atau lebih dari 5 pilihan sebagai berikut (Robbins,1996) : 1. mengubah input atau outcome mereka ataupun orang lain. 2. berperilaku sedemikian rupa sehingga menyebabkan orang lain mengubah input atau outcome mereka, 3. berperilaku sedemikian rupa untuk mengubah input atau outcome mereka sendiri, 4. memilih acuan perbandingan yang berbeda, 5. keluar dari pekerjaan mereka. Untuk itu, faktor kunci bagi pimpinan adalah mengetahui apakah ketidakadilan atau tidak harus dirasakan secara nyata. Ketidakadilan ini akan direspon dengan bermacammacam perilaku yang berbeda misalnya menurunnya prestai, mogok kerja, demonstrasi, berhenti bekerja, dll. Bagi pimpinan teori keadilan ini memberikan implikasi bahwa penghargaan sebagai motivasi kerja harus diberikan sesuai yang dirasakan adil oleh individu yang bersangkutan. Ada hal-hal yang perlu dicermati bahwa dalam teori keadilan (equity) ini dalam pemberian gaji yang tidak adil kepada karyawan yaitu (Robbins,1996: 66) : a. pembayaran diberikan berbasis waktu, karyawan yang diberi penghargaan yang lebih akan berproduksi lebih banyak daripada karyawan yang dibayar menurut standar. 2016 98 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id b. Pembayaran menurut kuantitas produksi, karyawan yang diberi penghargaan yang lebih akan memproduksi lebih sedikit unit namun berkualitas lebih tinggi daripada karyawan yang dibayar menurut standar. c. Pembayaran menurut waktu, karyawan yang diberi penghargaan kurang akan menghasilkan kualitas output yang lebih sedikit atau lebih buruk. Pembayaran menurut kuantitas produksi, karyawan yang diberi penghargaan kurang akan memproduksi sejumlah besar unit yang berkualitas rendah dibanding dengan karyawan yang dibayar menurut standar. 7. Teori Persepsi tentang Motivasi Banyak perusahaan yang mengamati kinerja para pegawainya dengan melihat aspek vitalitas dalam pekerjaan mereka. Kinerja pegawai dalam melakukan pekerjaan dapat dilihat dari vitalitas. Sebenarnya hasil penelitian dan pengalaman hidup dalam organisasi menunjukkan bahwa vitalitas kerja didasarkan pada 4 asumsi utama yaitu : 1. Seberapa jauh harapan pegawai dipenuhi organisasi / perusahaan ? 2. Apa yang dipikirkan pegawai mengenai peluang dalam organisasi ? 3. Bagaimana pendapat pegawai mengenai seberapa banyak pemenuhan yang diperoleh dari pekerjaan dalam organisasi ? 4. Bagaimana persepsi pegawai mengenai kinerja mereka dalam organisasi ? Peranan faktor – faktor tersebut dalam konsep vitalitas kerja dapat digambarkan dalam uraian berikut : (Pace and Faules,1993 : 126-127) a. Dalam awal karier kita mempunyai persepsi harapan dalam rangkaian janji. Janji menjadi jaminan dari seseorang atau organisasi yang akan diberikan untuk mencapai masa depan. b. Pekerjaan adalah suatu janji yang diasumsikan bahwa masa depan akan berlangsung sebagimana dibayangkan. Pekerjaan yang yang berlanjut memperkuat janji. c. Kemajuan dalam pekerjaan memungkinkan kita menegaskan bahwa janji menjadi dasar persetujuan kerja sedang dipenuhi. Bila sesuatu berjalan lancar kita yakin bahwa janji tersebut benar. d. Meski terjadi kemunduran secara keseluruhan karier yang maju didasarkan pada janji nyata dan tulus. 2016 99 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id 8. Teori Penentuan Tujuan (Goal Setting) Menurut Robbins (1996) teori ini menyatakan bahwa niat yang dinyatakan sebagai tujuan dapat menjadi sumber utama dari motivasi kerja. Kita dapat mengatakan dengan tingkat keyakinan tinggi bahwa tujuan yang spesifik dapat meningkatkan kinerja dan bahwa tujuan yang sulit dicapai bila diterima menghasilkan kinerja yang lebih tinggi daripada tujuan yang mudah dicapai. Tujuan spesifik dam sulit dicapai menghasilkan tingkat perolehan yang lebih tinggi daripada tujuan umum seperti ‘lakukan terbaik’. Tujuan khusus ini bertindak sebagai pendorong dari dalam karyawan. Jika faktor kemampuan dan penerimaan terhadap tujuan dianggap konstan maka dapat dikatakn bahwa semakin sukit tujuan, semakin tinggi tingkat kinerjanya. Secara logis diasumsikan bahwa tujuan yang lebih mudah adalah lebih mungkin untuk diterima. Namun begitu karyawan menerima tugas yang berat, dia akan berupaya semaksimal mungkin hingga tujuan tersebut dapat dicapai, dikurang atau ditinggalkan begitu saja. Karyawan yang mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam menetapkan tujuan berkenaan dengan superioritas partisipasi. Dalam beberapa kasus tujuan yang telah ditetapkan secara partisipatif menghasilkan kinerja yang luar biasa. Dalam kasus lain individu menunjukkan kinerja yang baik ketika tujuan ditetapkan oleh pimpinan. Keuntungan utama dari partisipasi mungkin dalam meningkatnya penerimaan terhadap tujuan itu sebagai hal yang ingin dicapai. Orang-orang yang berpartisipasi dalam penentuan tujuan lebih mudah menerima walaupun tujuan tersebut sulit daripada tujuan yang sewenang-wenang ditetapkan untuk mereka, Studi pengujian teori Goal-Setting menunjukkan superioritas dari tujuan khusus dan menantang sebagai kekuatan motivasi. Walaupun kita tidak dapat menyimpulkan bahwa memiliki karyawan yang berpartisipasi dalam proses penentuan tujuan selalu disukai, partisipasi mungkin lebih disukai daripada penugasan bila anda memperkirakan akan adanya resistensi terhadap tantangan yang sulit. Senada dengan pendapat diatas, Siagian (2004:174) mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat penerimaan para pelaksana atas kepantasan dan kelayakan tujuan tertentu untuk dicapai, semakin tinggi pula motivasinya untuk mencapai tujuan tersebut. Ditekankan pula bahwa semakin besar partisipasi seseorang dalam tujuan itu, semakin besar pula motivasinya untuk meraih keberhasilan dan prestasi kerja yang setinggi mungkin. 9. Teori Penguatan (Reinforcement) Sebuah dukungan terhadap teori Goal-Setting adalah teori reinforcement. Teori terdahulu menggunakan pendekatan kognitif menyatakan bahwa tujuan individu akan 2016 10 0 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id mengarahkan tindakannya. Sedangkan dalam teori reinforcement dengan pendekatan perilaku yang menyatakan membentuk perilaku. Ahli teori reinforcement melihat perilaku sebagai akibat dari lingkungan. ; peristiwa kognitif internal bukan masalah yang perlu diperhatikan, yang mengendalikan perilaku adalah reinforcer yaitu setiap konsekuensi terhadap respon yang diberikan, meningkatkan kemungkinan diulanginya perilaku tersebut. Menurut Robbins (1996) teori reinforcement mengabaikan kondisi dalam diri individu dan berkonsentrasi semata-mata hanya pada ada yang terjadi pada seseorang ketika mengambil tindakan. Karena teori ini tidak memperhatikan apa yang merangsang perilaku dari dalam, maka teori ini tidak dapat dikatakan secara tegas sebagai suatu teori motivasi. Dalam kehidupan organisasi teori ini dapat diaplikasikan bahwa seorang manajer tidak perlu memikirkan peristiwa internal yang bersifat kognitif karena yang mengendalikan perilaku para bawahan adalah faktor penguatan yaitu setiap konsekuensi yang apabila timbul mengikuti respon, memperbesar kemungkinan bahwa tindakan itu akan diulangi. Singkatnya jika tindakan seorang manajer oleh bawahan dipandang mendorong perilaku tertentu maka bawahan yang bersangkutan akan cenderung mengulangi tindakan serupa. Ada hukum efek dalam pembahasan mengenai teori reinforcement dimana efek merupakan fungsi dai konsekuensinya. Dan menunjukkan bahwa reinforcer (konsekuensi) mendorong (kondisi) perilaku dan membantu menjelaskan bagaimana orang-orang belajar. Hukum efek dan konsep reinforcement juga membantu menjelaskan masalah motivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu akan berupaya lebih keras untuk tugas-tugas yang mendapat dorongan daripada tugas-tugas yang tidak mendapat dorongan. Tidak dapat dipungkiri bahwa reinforcement merupakan faktor penting yang mempengaruhi perilaku kerja ; apa yang dilakukan individu terhadap pekerjaan mereka dan besarnya upaya yang mereka alokasikan terhadap berbagai tugas dipengaruhi oleh konsekuensi dari perilaku mereka. 10. Modifikasi Perilaku Model motivasi yang telah diabahas sebelumnya dikenal sebagai teori motivasi kognitif karena didasarkan pada pemikiran dan perasaan yaitu kognitif. Semua berhubungan dengan bagian dalam diri seseorang dan bagaimana orang itu memandang dunia. Contoh dalam hierarki kebutuhan Maslow keadaan intern kebutuhan seseorang menentukan perilaku. Kesilitan utama dalam model motivasi kognitif adalah bahwa model itu tidak dapat diukur dan diamati dengan presisi keilmuan. Maka dipilihlah model yang dapat diukur secara 2016 10 1 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id keilmuan yaitu model modifikasi perilaku yang dikembangkan oleh B.F.Skinner. penerapannya dalam organisasi dapat diacu sebagai modifikasi perilaku organisasi. Modifikasi perilaku didasarkan pada gagasan bahwa perilaku bergantung pada konsekuensinya, karena itu dimungkinkan untuk menghasilkan sejumlah perilaku pegawai dengan mengubah konsekuensinya. Model ini dikembangkan dari teori belajar. Bila teori kognitif menyatakan bahwa kebutuhan intern menimbulkan perilaku, modifikasi perilaku mengemukakan bahwa konsekuensi ekstern cenderung menentukan perilaku. Perbedaan antara kedua pendekatan ini sangat penting. Pengoperan Kondisi (Operant Conditioning). Modifikasi perilaku dicapai melalui pengkondisian operan yang merupakan salah satu jenis penguatan untuk memodifikasi perilaku melalui konsekuensinya. Apabila konsekuensi perilaku tertentu menyenangkan seorang pegawai, kecenderungan mengulangi perilaku itu diperkuat. Sebaliknya bila konsekuensinya tidak menyenangkan maka kecenderungan mengulangi perilaku itu diperlemah. Ada penguatan untuk mendorong terjadinya perilaku yang diinginkan di masa datang dan meniadakan perilaku yang tidak diinginkan. Hukum dampak (law of effect) dari teori belajar menjelaskan gagasan pengkondisian operan menyatakan bahwa orang cenderung mengulangi perilaku yang disertai dengan kosekuensi yang menyenangkan (penguatan) dan cenderung tidak mengulangi perilaku yang konsekuensinya tidak menyenangkan. Penguatan Positif dan Negatif. Perilaku terutama didorong melalui pengauatan positif. Pengauatan positif menyediakan konsekuensi menyenagkan yang mendorong pengulangan perilaku. Contohnya seorang pegawai mungkin merasa bahwa apabila dapat diselesaikan pekerjaan yang berkualitas tinggi, penyelia memberikan imbalan pengakuan. Karena pengawai menyukai pengakuan, perilaku diperkuat dan pegawai cenderung ingin melakukan lagi pekerjaan yang berkualitas tinggi. Penguatan selamnya bergantung pada perilaku pegawai yang tepat. Pengauatan negatif terjadi apabila disertai dengan peniadaan konsekuensi yang tidak menyenangkan. Karena itu kosnep ini tidak sama dengan hukuman yang biasanya menimbulkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sesuai dengan hukum dampak (law of effect) maka perilaku yang dapat meniadakan sesuatu yang tidak menyenangkan terulang bila keadaan tersebut tidak menyenangkan terjadi lagi. Contohnya pengalaman seorang mekanis pesawat terbang jet yang mengetahui bahwa apabila ia mengenakan alat peredam suara yang dikenakan di telinganya dapat mencegah timbulnya sesuatu dari suara mesin jet yang bising, penguatan ini mendorong untuk mengenakan perlengkapan dengan baik. 2016 10 2 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id Hukuman (Punishment) dan Pemadaman (Extinction). Hukuman terjadi bila konsekuensi yang tidak menyenangkan menyertai dan memperlemah perilaku tertentu. Meskipun hukuman mungkin diperlukan untuk meniadakan perilaku yang tidak diinginkan, maka mengandung kelemahan tertentu. Hukuman hanya meniadakan perilaku yang tidak diinginkan dan tidak mendorong timbulnya perilaku yang diinginkan. Pemadaman terjadi bila tidak ada konsekuensi yang berarti bagi suatu perilaku. Perilaku yang dipelajari perlu diperkuat untuk mengulanginya kembali di masa datang. Apabila tidak ada pengauatn maka perilaku cenderung dipadamkan karena tidak diperkuat. Contohnya bila ada pegawai yang memberikan saran kepada penyelia tapi tidak pernah mendengarkan sarannya maka pegawai tidak bergairah lagi untuk memberikan saran lagi. Hal ini jelas akan memadamkan gairah pegawai untuk memberikan saran kembali. Kritik terhadap Model Modifikasi Perilaku Modifikasi perilaku dikritik berkenaan dengan filsafat dan metodenya. Kritik tersebut menyatakan bahwa merupakan metode manajemen yang bersifat autokratis karena konsekuensi perilaku dikendalikan sedemikian rupa sehingga orang-orang merasa terpaksa mengubah perilaku mereka. Dengan demikian modifikasi perilaku memanipulasikan orang dan tidak konsisten dengan model humanistik (hierarki kebutuhan Maslow) yang berasumsi bahwa orang adalah otonomi dan mewujudkan diri yang termotivasi oleh kebutuhan intern sendiri. Sebaliknya modifikasi perilaku berasumsi bahwa penyebab perilaku sebagian besar berada di luar orang yang bersangkutan yaitu dari lingkungannya. Citra orang yang mewujudkan diri disanggah dan pertanyaan muncul ‘siapakah yang akan mengendalikan para pengendali? Kritik lain mengatakan bahwa modifikasi perilaku merendahkan intelegensia manusia yang diperlakukan seperti tikus dalam kotak uji-coba, faktanya manusia aalah manusia cerdas dapat mengendalikan diri dan mampu menetapkan pilihan sendiri. Kepemimpinan Arti, Tipe dan Pentingnya Kepemimpinan Dalam organisasi, motivasi merupakan faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Motivasi kerja yang tinggi tentunya akan mempengaruhi kinerja dari anggota organisasi yang tinggi pula. Seorang pemimpin dapat berkomunikasi dalam memberikan motivasi kepada bawahannya, sehingga dapat meningkatkan kinerja mereka sesuai dengan tujuan dan keinginan dalam perusahaan tersebut. Dengan mudah kita dapat mengatakan bahwa tidak 2016 10 3 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id ada seorang pemimpin yang efektif pun merasa tidak kuatir, dengan motivasi. Produktivitas dan reputasi pemimpin suatu departemen tergantung padanya. Sehingga sedikit sekali orang menyangkal bahwa motivasi dan komunikasi saling berhubungan, bahwa seorang pemimpin memotivasi bawahanya hingga tingkat produktivitas yang dapat mencapai tujuan unit tersebut. Seorang pemimpin akan melakukan segala macam bentuk dan upaya guna meningkatkan produktivitas perusahaan, misalnya bersama anggotanya ia melakukan kordinasi untuk mengambil langkah-langkah bagaimana produksi dapat ditingkatkan. Misalnya memberikan insentif yang menggiurkan pada anggotanya apabila dalam satu produk yang ditanganinya melebihi targer perusahaan maka akan mendapatkan bonus dua kali lipat dari hasil penjualan untuk karyawannya. Dengan menerapkan sistem kompetitif ini, anggota merasa terpacu untuk melakukan pekerjaannya, karena adanya dorongan untuk mendapatkan bonus yang ditawarkan. Dari contoh diatas seorang pimpinan harus mampu memberikan respon mapun umpan balik kepada bawahanya ataupun mitra kerjanya dengan perilaku yang mengarah pada tujuan. Dengan demikian maka tujuanlah yang semestinya mempengaruhi upaya seseorang. Asumsinya bahwa umpan balik akan mengarah pada dua fungsi. Pertama, umpan balik harus mengarahkan seseorang hingga kebatas yang dapat diterima seseorang kearah yang benar, berfungsi untuk mengarahkan tindakannya. Umpan balik harus mengarahkan perilaku seseorang hingga batas yang dapat diterima seseorang dengan kemajuannya dalam mencapai tujuan. Kedua umpan balik harus bersifat insentif. Perolehan umpan balik melalui sinyal bahwa orang tersebut semakin maju dalam mencapai tujuan mungkin menjadi sumber kebahagiaan bagi karyawan, merangsang seseorang untuk melakukan upaya yang lebih besar. R.M Stess dan L.W. Porter (dalam Wilson L Gerald, dkk.1986), setelah mempelajari literatur tentang penempatan tujuan, menyimpulkan bahwa umpan balik itu penting dalam merangsang prestasi. Ada dua pendekatan yang harus dilakukan seorang pemimpin dalam upaya komuniasi untuk memotivasi bawahan atau mitra kerjanya: a. Pendekatan Persuasif Dalam merangka meningkat motinasi bawahan, aspek hubungan antar manusia harus selalu dijaga. Hubungan baik antara atasan dengan bawahan tuntunya dapat mempermudah atasan untuk melakukan komunikasi untuk motivasi bawahan. Untuk menjaga kadar hubungan manusia, hendaknya dipilih teknik komunikasi yang relevan. Salah satu teknik atau pendekatan komunikasi untuk membina hubungan baik dengan sesama bawahan adalah pendekatan komunikasi persuasif. 2016 10 4 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id Pendekatan persuasif, di mana seorang pemimpin mengkomunikasikan motivasi kepada bawahanya secara personal atau pribadi, dengan cara membujuk, merayu atau menghimbau sehingga dapat merangsang bawahan untuk melakukan sesuatu dengan spontan, dengan senang hati, sukarela tanpa merasa dipaksa. Dengan pendekatan ini, seorang pemimpin akan mengetahui lebih dekat perilaku anggotanya. Secara psikologis, pendekatan seperi ini akan membuat ikatan emosional yang kuat, sehingga apabila dapat dilakukan secara baik maka seseorang sekalipun tidak diminta untuk melakukan tugasnya, ia dengan penuh kesadaran dan bertanggungjawab atas dasar ikatan emosional yang kuat akan melakukannya dengan senang hati. Untuk lebih meningkatkan keberhasilan dalam komunikasi persuasif untuk meningkatkan motivasi, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Ungkapan argumentasi atau pendapat dengan tenang dan sopan. Penampilan yang tenang dan sopan akan membuat kita lebih aman dalam memulai komunikasi ketimbang penuh emosi dan marah-marah. Bawahan akan lebih senang dan tidak cepat tersinggung mendengar argumentasi yang disampaikan dengan sopan. 2. Jangan merusak suasana. Usahakan untuk tidak berkomunikasi sambil marah. Juga suasana komunikasi yang bersahabat. Dalam suasana yang bersahabat itulah, masing-masing pihak akan lebih nyaman memberikan umpan balik. 3. Bersiaplah mendengar dan merespon secara positif. Sebaiknya jangan monopoli pembicaraan. Berikanlah kesempatan kepada bawahan untuk menyampaikan pendapatnya. Setelah itu barulah kita pemberikan respon secara positif. 4. Jangan sungkam meminta maaf pada saat merasa bersalah. Ketika kita menyadari bahwa sudah melakukan kesalahan dalam berkomunikasi, maka sebaiknya kita meminta maaf. Dengan begitu sebenarnya kita menaruh rasa hormat kepada lawan bicara dan giliran berikutnya kita pun akan dihormati. Dalam suasana hubungan yang saling menghargai, komunikasi menjadi lebih efektif 5. Ucapkan terimakasih. Pada akhir komunikasi persuasif, sampaikan sesuatu penghargaan kepada komunikan dengan mengucapkan terimakasih. Dengan begitu, kita menunjukan itikat baik kita untuk senantiasa menjaga hubungan yang harmonis. b. Pendekatan Organisasi Pendekatan secara organisatoris artinya secara institusi pendekatan harus dilakukan dengan komunal atau group dimana pendekatan seperti ini membuat keterikatan secara tegas dalam melakukan pekerjaan karena ada aturan tertulis maupun kesepakatan bersama yang harus dilakukan oleh seseorang sehingga orang tersebut harus mau mengikuti aturan. Misalnya dalam perjanjian kontrak kerja, seseorang pekerja dalam sebuah perusahaan 2016 10 5 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id harus tunduk dan mengikuti aturan-aturan didalammya tanpa terkecuali. Seorang karyawan yang tidak mencapai target perusahaan dalam meningkatkan produksi selama tiga bulan berturut-turut, posisinya sebagai pimpinan area akan turun satu tingkat menjadi kepala gudang. Hal ini apabila diterapkan maka akan memotivasi karyawan lain untuk bertindak lebih hati-hati dalam menjalankan tugasnya. Menurut Porter Lowyer ada dua jenis penghargaan yang dapat diterima oleh anggota suatu organisasi berdasarkan pekerjaan dan prestasinya. Yaitu orang tersebut mungkin dihargai oleh organisasi yaitu oleh teman-teman sekerjanya, bosnya atau atasan lainnya. Pengahargaan berasal dari luas diri orang tersebut. kedua, penghargaan dari diri itu sendiri. Di mana seseorang mendapat perasaan puas dengan mengatahui bahwa ia melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Ada hal yang penting harus dilakukan oleh seorang pemimpin yaitu bahwa ia harus menyadari adanya perbedaan individual dalam hal motivasi dan menanggapi karyawan, bawahan maupun mitra kerja. Salah satu cara melakukan hal ini ialah menyesuaikan gaya komunikasi untuk memotivasi dengan kebutuhan perorangan maupun kelompok. Harus dingat bahwa bagaimanapun gaya motivasi yang diperlukan, gaya tersebut dapat berubah dari satu situasi ke situasi yang lain. Seorang pemimpin mungkin perlu menyesuaikan gayanya walaupun berkerja pada anggota organisasi yang sama. Dari uraian diatas, dapatlah dikatakan bahwa salah satu situasi yang penting untuk semua pimpinan adalah apakah ia mengkomunikasikan untuk memotivasi anggotanya untuk berprestasi. Dengan komunikasi yang mampu memotivasi seseorang untuk merangsangnya melalui daya tarik yang memenuhi kebutuhan spesifik orang tersebut dan kepribadian kerja untuk mencapai tujuan organisasi. Seorang pemimpin organisasi perlu berkomunikasi dengan baik terhadap semua bawahannya, pemimpin tersebut dapat memberikan motivasi yang baik bagi produktivitas dan kinerja organisasi. Cara motivasi dapat dilaksanakan dengan berbagai variasi bentuk, misalnya a) memberi teladan, b) memberi dorongan, c) memberi pujian, d) mengakui kemajuan yang dicapai karyawan dan sebaginya. Cara yang ditempuh oleh pemimpin untuk memotivasi bawahan, sebenarnya dapat menunjukan citra kecerdasan dan etika dari pemimpin tersebut. kepemimpinan merupakan salah satu peran yang penting dalam komunikasi organisasi. Karena peran ini akan menentukan kualitas dan kuantitas di organisasi. Selain itu juga berpengaruh terhadap motivasi kerja karyawan. Ada beberapa fungsi pemimpin dalam organisasi yang erat dengan pembentukan motivasi karyawan antara lain fungsi inisiasi, integrasi dan penyaring informasi. 2016 10 6 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id Fungsi Inisiasi Seorang pemimpin perlu mengambil prakarsa atau inisiatif bagi perbagikan kinerja organisasi. Fungsi inisiasi dilakukan oleh pemimpin dengan cara mengemukakan gagasan baru, memberikan pengarahan, maupun menolak gagasan dari anggota yang dianggap tidak layak. Dengan demikian seorang pemimpin berfungsi sebagai motivator yang menggerakkan dinamika kerja karyawan kearah kemajuan dan perkembangan. Fungsi Integrasi Dalam fungsi integrasi, seorang pemimpin perlu mempunyai kemampuan untuk memecahkan maupun mengelola dengan baik konflik yang ada dan muncul di organisasi. Dengan bakal kewenangan dan kewibawaan yang dimilikinya, seorang pemimpin diharapkan mampu menciptakan suasana yang kondusif untuk tercapainya suasana kerja yang harmonis dan dapat memberi suasana organisasi yang nyaman bagi semua karyawan. Fungsi Penyaringan Informasi Dalam fungsi sebagai penyaring informasi, berarti seseorang pemimpin bertindak sebagai penyaring sekaligus mengelola semua informasi baik yang masuk maupun yang keluar dari organisasi. Dengan demikian informasi tersebut dapat terseleksi dengan baik, dengan mempertimbangkan untuk memanfaatkan informasi menjauhkan informasi yang tidak bermanfaat. 2016 10 7 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id yang berguna, serta Daftar Pustaka Arni Muhammad. 2002. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara Davis, Keith and Newstrom, John W. 1996. Perilaku Dalam Organisasi. Edisi ke-7, Editor : Agus Dharma, P.hD, PT Erlangga, Jakarta Frantz, Rogers S. 1988. X-effeciency : theory, Evidence and Applications. Boston : Kluwer Academic Publisher. Gerald,Wilson L. Dkk, 1986. Organisational Communication, Harper & Row, Publisher New York. Hersey, Paul. Ken Blanchard. 1982. Manajemen Perilaku Organisasi : Pendayagunaan Sumber Daya Manusia, Edisi-4 Terjemahan Agus Dharma,P.hD. PT Erlangga, Jakarta. Kohler, Jerry W dkk. 1981. Organisational Communciation : Behavior Perspectives, New York:Holt Rinehart and Winston. Mulyana, Deddy. 2003. Metodologi Penelitian Komunikasi : Paradigma Ilmu sosial dan Komunikasi, PT Rosda, Bandung. Nadler, Davis A. And Edward E. Lawler III. 1976. Motivation : A Diagnostic Approach, Harvard Business Review. USA. Pace, R. Wayne and Don F. Faules, 1993. Komunikasi Organisasi : Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan, PT RosdaKarya. Bandung Rakhmat, Jalaluddin. 1985. Psikologi Komunikasi, PT RosdaKarya, Bandung Robin, Stephen P 1996. Perilaku Organisasi : Konsep : Kontroversi, Aplikasi. Edisi Bahasa Indonesia. PT Prenhallindo, Jakarta. 2002. Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi, Edisi-5, PT Erlangga, Siagian, Sondang P. 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Edisi ke-3, PT Rineka Cipta, Jakarta. Stewart L. Tubb and Sylvia Moss. 2000. Human Communication : Konteks dan Prinsip Komunikasi, Buku ke-2. Terjemahan : Deddy Mulyana, P.hD. PT. RosdaKarya, Bandung. 2016 10 8 Komunikasi Organisasi Drs. Gufroni Sakaril,M.M Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id