Overview

advertisement
BSMR LEVEL 1
T-2!!
Nyoman Duari
Chapter 1, 2 & 3:
Bank & Regulasi Perbankan
Industri jasa keuangan, bank, dan regulasi
• Bank adalah institusi yang memiliki lisensi perbankan, menerima deposit,
membuat loan, menerima serta menerbitkan check.
• Risiko adalah kemungkinan hasil buruk atau negatif, dan kemungkinan hasil
tersebut bisa diprediksi.
• Risk event adalah terjadinya suatu keadaan yang mengakibatkan adanya
potensi kerugian (bad outcome)
• Risk loss adalah kerugian yang terjadi sebagai akibat dari risk event. Kerugian
tersebut bisa berupa kerugian finansial atau kerugian non-finansial
• Bank di-regulasi pada institusinya, bukan hanya produk dan jasanya, karena
kegagalan bank bisa menyebabkan systemic risk (dampak ke ekonomi dalam
jangka panjang).
• Bank tidak bebas menentukan capital structure-nya : ada minimum capital
requirement dan minimum liquidity.
• Basel II berhubungan dengan bank (internasional), kecuali di EU.
1-3
Mengapa diperlukan regulasi perbankan
• Systemic risk : kegagalan bank menyebabkan dampak lebih dari sekedar ke
stakeholder langsung (karyawan, pemegang saham, pelanggan), namun
juga ke seluruh ekonomi.
• Solvency bank menjadi concern bagi : karyawan, pemegang saham,
nasabah, dan juga pengelola ekonomi negara
• Dahulu kebutuhan modal dinyatakan sebagai persentase dari kredit
– Kebutuhan modal untuk bank dengan risiko rendah (memiliki banyak surat
hutang pemerintah) dengan yang berisiko tinggi sama besarnya.
• Diperlukan regulasi yang menghubungkan kebutuhan modal dengan risiko
yang diambil bank.
– Semakin besar risiko yang diambil bank  semakin besar modal yang
diperlukan
1-4
Regulasi Bank
• Basel Committee on Banking Supervision berusaha melakukan standarisasi
perhitungan risk-based capital bagi bank
– Basel Capital Accord yang pertama pada 1988 hanya mengcover credit
risk. Hanya boleh menggunakan standardized approach.
• Hubungan modal dan risiko masih lemah
– Market Risk Amendment (1996) ditujukan untuk memperbaiki sensitivitas
risiko dari Basel I.
• Bank boleh menggunakan model internal untuk menghitung market risk, selain
standardized approach.
– New Accord (Basel II) diadopsi pada 2004 dan akan diimplementasikan
pada 2006/7
• Menghubungkan capital bank langsung dengan risiko yang dimilikinya
• Market risk tidak berubah dari Amendment 1996 dan revisi berikutnya
• Provisi untuk risiko lainnya ketika menghitung risk-based capital bank; namun ini
tidak di-cover oleh pendekatan model (Pillar 2)
• Risiko yang dicover : credit risk, market risk, operational risk, ‘other’ risk
1-5
Basel I vs II
Basel I Accord
Basel II Accord
Fokus pada ukuran tunggal
Fokus pada metodologi internal
Memiliki pendekatan sederhana terhadap
sensitivitas risiko
Memiliki tingkat sensitivitas risiko yang
lebih tinggi
Menggunakan pendekatan ‘satu ukuran
untuk semua’ untuk risiko dan capital
Fleksibel terhadap kebutuhan berbagai
bank
Meng-cover credit risk dan market risk
Mengcover credit risk, market risk,
operational risk, dan ‘other’ risk
1-6
Market risk
• Market risk adalah risiko kerugian pada posisi on- dan offbalance sheet yang timbul karena pergerakan harga pasar.
– Kelompok risiko yang berasal dari perubahan suku bunga, nilai tukar,
harga pasar untuk saham dan komoditas.
• Risiko pasar dapat berasal dari :
– Traded market risk – dari perdagangan instrumen di pasar, seperti
bond.
– Interest rate risk in the banking book – karena struktur dari bisnisnya,
misalnya pada aktivitas lending dan deposit taking.
1-7
RISIKO PASAR
• KELOMPOK (GENERAL MARKET RISK):
– Kepala Suku, Punya Saham (TRADING BOOK)
– Ditukar, Komoditi (TRADING dam BANKING BOOK)
• SUMBER :
– Traded Market Risk (trading book)
– Interest Rate Risk in the Banking Book (banking book)
• KOMPONEN:
– General
– Specific (rating)
1-8
Credit Risk
•
•
Credit risk adalah risiko kerugian berhubungan dengan kemungkinan suatu
counterparty akan gagal memenuhi kewajibannya
Teknik dan kebijakan untuk mengelola risiko kredit guna meminimalkan
kemungkinan atau akibat dari kerugian kredit disebut credit risk mitigation
–
Grading model untuk masing-masing loan
• Menentukan PD dari setiap debt
• Digunakan untuk pengukuran risiko kredit
–
Portfolio management dari loan
• Lending tidak terkonsentrasi pada satu industri atau area geografis
• Menggunakan cohort analysis
–
Securitization
• Mem ”package” dan menjual portfolio kredit sebagai sekuritas
–
–
–
Collateral
Cash flow monitoring
Recovery management
1-9
Operational risk
•
•
•
•
Operational risk adalah risiko kerugian akibat kegagalan proses internal, akibat
faktor manusia dan sistem, atau akibat kejadian eksternal
Ada 5 subkategori : proses, manusia, sistem, kejadian eksternal, legal (hukum)
Basel II mengharuskan bank mengkuantifikasi operational risk, mengukurnya dan
mengalokasikan modal untuk operational risk sama dengan credit dan market risk.
Kejadian high frequency/low impact diganti kejadian low frequency/high impact,
karena
–
–
–
–
–
–
–
–
otomatisasi
ketergantungan pd teknologi
outsourcing
terorisme
meningkatnya globalisasi
insentif dan trading – ‘rogue trader’
kenaikan nilai dan volume transaksi
kenaikan litigasi.
1-10
‘Other’ risk
• Definisi operational risk Basel II tidak memasukan business, strategic, dan
reputational risk. Dimasukkan dalam pilar 2
• Risiko Bisnis (Business risk) : risiko berhubungan dengan posisi kompetitif
bank, dan prospek bank untuk berhasil dalam pasar yang terus berubah
– Misal, bank yang memberikan kredit kepada nasabah berkualitas rendah (Best
Bank, Boulder)
• Strategic risk adalah risiko berhubungan dengan keputusan bisnis jangka
panjang. Berhubungan dengan investasi, akuisisi, dan divestasi.
– Contoh : kerugian ketika Midland Bank membeli Crocker Bank
• Reputational risk adalah risiko dari potensi kerugian bagi perusahaan
karena opini publik yang negatif.
– Contoh : masalah software pada internet bank yang menyebabkan nasabah
bisa melihat account nasabah lainnya. Bisa menyebabkan ketakutan pada
internet banking.
1-11
Konsekuensi kegagalan mengelola risiko bank
• Selain kerugian finansial secara langsung, risk event dapat menimbulkan
dampak pada stakeholder bank – pemegang saham, karyawan, pelanggan
– juga ekonomi.
• Kerugian pemegang saham (contoh kolapsnya BCCI, 1991) :
–
–
–
–
Kerugian total dari investasi apabila bank kolaps
Pengurangan nilai investasi
Kehilangan dividen karena penurunan profit perusahaan
Kewajiban dari kerugian – pemegang saham mungkin ikut bertanggung jawab
atas kerugian yang terjadi.
• Kerugian karyawan :
– internal disciplinary proceedings
– kehilangan pendapatan, misal pengurangan bonus atau gaji
– kehilangan pekerjaan, misal bangkrutnya Orange County menyebabkan
pemecatan sejumlah karyawan.
1-12
Konsekuensi kegagalan mengelola risiko bank
• Konsekuensi risk event bagi nasabah ikut meningkatkan
kebutuhan akan regulasi bank secara spesifik, bukan regulasi
untuk industri jasa keuangan secara keseluruhan
• Risiko yang langsung dirasakan dampaknya oleh nasabah
adalah operational risk. Nasabah bisa merasakan melalui :
–
–
–
–
kualitas servis yang buruk atau salah
interupsi pelayanan parsial
persepsi kurangnya keamanan ataupun yang sesungguhnya
Menurunnya pelayanan secara keseluruhan.
1-13
Dampak ekonomi dari risk event
• Pro-cyclicality effect : banks ‘over lent’ pada saat boom dan ‘under lend’
pada saat resesi.
– Menyebabkan bubble pada saat boom.
– Basel II dikritik menyebabkan procyclicality karena menghu-bungkan
regulatory capital dengan credit grading model.
– Contoh dampak ke ekonomi : Long Term Capital Mgmt (LTCM)
• Krisis likuiditas jarang terjadi pada retail banking, namun lebih sering
terjadi pada wholesale banking.
• Untuk mengurangi dampak dari krisis likuiditas diperlukan :
– Meningkatkan kewaspadaan bagi supervisor
– Reaksi yang cepat dari bank sentral
– Monitoring ketat oleh manajemen bank.
• Sarbanes Oxley Act : tanggungjawab dan akuntabilitas korporat
– Dikeluarkan karena kasus Enron, Worldcom
1-14
Regulasi bank di Indonesia
• Undang-undang perbankan (1992 dan 1998) : dua
jenis bank
– Bank komersial (commercial bank) : memberikan jasa
keuangan lengkap termasuk jasa foreign exchange,
memiliki akses ke sistem pembayaran dan memberi jasa
perbankan yang umum.
– Bank Perkreditan Rakyat, atau BPR, jauh lebih kecil dari
bank komersial dan biasanya beroperasi secara lokal.
Menerima deposit tapi tidak memiliki akses pada sistem
pembayaran.
1-15
Regulasi
• Indonesian Banking Architecture (API) : menentukan arah,
ringkasan, dan struktur kerja untuk industri perbankan dalam
lima sampai sepuluh tahun ke depan.
• Perubahan tersebut akan diimplementasikan secara bertahap
meliputi obyektif berikut :
–
–
–
–
–
–
menguatkan struktur sistem perbankan nasional
meningkatkan kualitas regulasi perbankan
meningkatkan fungsi pengawasan
meningkatkan kualitas manajemen dan operasi bank
mengembangkan infrastruktur perbankan
mengembangkan proteksi pelanggan.
1-16
Risk Management dan Regulasi
di Perbankan
Modal dan likuiditas
• Bank adalah spesial karena permasalahan di sektor perbankan
bisa berdampak serius ke keseluruhan ekonomi
– Masalah bank  kehilangan dana depositor  diperberat gearing
yang tinggi dari bank (highly geared/highly leveraged).
• Sumber daya utama untuk memastikan solvency bank adalah
kecukupan modal (capital).
• Insolvency adalah ketidakmampuan suatu perusahaan
membayar klaim yang jatuh tempo
• Tanpa mekanisme manajemen likuiditas, kondisi illiquidity
bisa menyebabkan insolvency
– Diperlukan dukungan bank sentral sebagai ‘lender of last resort’ untuk
menjaga kestabilan sistem finansial.
1-18
Stabilitas finansial dan moneter
•
Financial stability adalah pemeliharaan kondisi dimana kapasitas institusi finansial
dan pasar untuk memobilisasi dana secara efisien, menyediakan likuiditas, dan
mengalokasikan investasi tidak terganggu
– Financial stability bisa terjadi meski ada kegagalan periodik dari individu institusi
keuangan.
•
•
Stabilitas moneter (Monetary stability) : stabilitas nilai uang (yaitu inflasi yang
rendah dan stabil).
Meski keduanya sering terjadi pada saat bersamaan, kadang-kadang keduanya
tidak terjadi secara bersamaan.
– Satu alasan mengapa kebijakan moneter yang sukses tidak menciptakan financial
stability adalah gelombang liberalisasi yang pada 1970-an dan 1980-an yg
meningkatkan kompetisi
•
Liberalisasi pasar keuangan meningkatkan tekanan kompetisi pada bank melalui :
– mengurangi margin dari bisnis mereka
– menciptakan gelombang pemain baru  meningkatkan kompetisi.
•
Liberalisasi mendorong bank mencari risk yang lebih tinggi demi return yang tinggi.
Regulator menyadari perlu regulasi yang baru.
1-19
Original Basel Accord
• Basel Committee terdiri dari perwakilan bank sentral dan supervisor
perbankan dari 11 negara G10 ditambah Spanyol dan Luxemburg.
• Tujuan Basel I Accord :
– Memperkuat daya tahan (soundness) dan stabilitas sistem perbankan
internasional
– Menciptakan framework yang adil untuk mengukur kecukupan modal pada
bank yang aktif secara internasional
– Mengupayakan framework yang bisa diaplikasikan secara konsisten dengan
prinsip mengurangi ketidakadilan persaingan antar bank-bank yang aktif
secara internasional
• Basel I menggunakan risk-weighted asset, yaitu kategori aset neraca
dikalikan dengan risk-weight.
– RWA digunakan untuk menghitung kebutuhan modal.
– Risk weight (0%, 10%, 20%, 50%, 100%) didasarkan pada persepsi relatif credit
risk yang terkait dengan tiap kategori aset.
1-20
Menghitung RWA & kebutuhan modal
• Bank A wajib mengikuti aturan Basel I, dan memberikan kredit sebesar
USD 100 juta pada bank non OECD untuk jangka waktu enam bulan. Riskweighed asset & kebutuhan modal dari kredit adalah :
– Kredit yang diberikan
– Risk weight
20%
– RWA
USD 100m
USD 20m (100m * 20%)
• Target capital ratio adalah rasio capital yang memenuhi syarat terhadap
risk-weighted asset (RWA) bagi bank internasional. Target capital ratio
minimal = 8%
– Kebutuhan modal
USD 1.6m (USD20m x 8%)
• Basel tidak menetapkan bahwa ketentuan 8% harus diterapkan secara
universal pada semua bank dalam jurisdiksi supervisor nasional, karena
minimum regulatory capital ratio untuk bank harus merefleksikan risiko
selain credit risk.
1-21
Credit risk equivalence
•
•
Bank perlu memasukan eksposure off-balance sheet (OBS) dalam RWA
Contingent liability, seperti misalnya guarantees, options, acceptances atau
warranties
– Neraca tidak mencatat kontrak, hanya hasilnya
– Basel Committee menentukan konsep credit risk equivalence untuk meng-konversi
OBS menjadi loan equivalent.
•
Derivatif adalah instrumen finansial dimana jumlah pokok dari transaksi biasanya
tidak dipertukarkan. Jenis-jenis derivatif.
– interest rate swaps dan options, forward rate agreements, interest rate futures
– exchange rate swaps dan options, forward foreign exchange contracts, currency
futures (tidak termasuk kontrak dengan original maturity kurang dari 14 hari)
– Kontrak terkait precious dan non-precious metals mirip dengan di atas
– equity contracts mirip dengan di atas
•
Perhitungan loan equivalent untuk derivatif menggunakan : (1) current exposure
method, atau (2) original method
1-22
Menghitung Beban Modal (BM)
• POSISI DIRECT/ON BALANCE SHEET
BM = RW X A X 8% (ATMR = RW X A)
• POSISI OFF BALANCE SHEET CONTINGENT:
BM = CF X RW X A X 8%
(ATMR = CF X RW X A)
• POSISI OFF BALANCE SHEET DERIVATIVES:
BM = 50% X RW X CE X 8%
(ATMR = 50% X RW X CE)
1-23
Menghitung Beban Modal (BM)
• POSISI OFF BALANCE SHEET DERIVATIVES:
BM = 50% X RW X CE X 8%
• CREDIT EQUIVALENT (CE):
– CURRENT EXPOSURES METHOD:
CE = MTM + NOTIONAL AMOUNT X TABEL
ADD ON
– ORIGINAL EXPOSURES METHOD:
CE = NOTIONAL AMOUNT X TABEL
1-24
Return on regulatory capital
• Return on regulatory capital adalah ukuran
kinerja yang digunakan untuk memastikan
bahwa suatu transaksi mendatangkan return
yang cukup bagi bank untuk menghasilkan
capital baru.
• ROEC = NI/RC
1-25
Struktur modal
•
•
Dalam Basel I juga ditetapkan kerangka untuk struktur capital bank, sering disebut
‘eligible capital’
Untuk kebutuhan regulatory capital, bank dapat memiliki capital dalam dua tier :
– Tier 1 – saham biasa yang diterbitkan dan dibayar penuh dan non-cumulative
perpetual preferred stock dan disclosed reserves.
– Tier 2 - undisclosed reserves, asset revaluation reserves, general provisions dan
general loan loss reserves, hybrid capital instruments dan subordinated debt.
• Tier 2 capital tidak boleh lebih dari 50% total capital untuk credit risk.
– Tier 3 capital : hanya bisa digunakan untuk market risk
•
Capital base tidak boleh memasukan:
– goodwill
– investasi pada bank dan perusahaan keuangan yang tidak dikonsolidasi
– investasi pada capital dari bank dan perusahaan keuangan lainnya (tergantung
diskresi supervisor nasional)
– investasi minoritas pada entitas tidak terkonsolidasi (misal associate bank)
1-26
T1, T2, T3
BASEL:
T2  T1
BI (PBI):
T2  T3  T1
T3  250%T1
1-27
Market risk amendment
• Basel I sering dikritik karena kurang sensitif terhadap risiko
– Diperbaiki dengan Market Risk Amendment (1996)
• Pengukuran market risk boleh menggunakan internal model.
– Pertama kali regulasi berdasarkan risiko yang sesungguhnya.
– Yang boleh digunakan adalah model Value at Risk (VaR)
– Model VaR memperkirakan kemungkinan kerugian maksimum pada portfolio
yang terkena market risk dari bank
• untuk suatu periode waktu tertentu
• dengan suatu degree confidence statistik tertentu
– Periode holding dari transaksi dikenal sebagai VaR Horizon : ukuran yang sering
digunakan adalah daily value at risk (DVAR)
– “Portfolio trading memiliki DVaR USD 5 juta pada level 95%”
• “Selama periode satu hari trading ada 5% kemungkinan (100% - 95%) kerugian portfolio
melebihi USD 5 juta”
• Tidak ada perkiraan seberapa besar kerugian melewati $5 juta.
• Pendekatan twin-track menilai kelayakan bank dalam penerapan model
kuantitatif, dan penilaian kualitas dari proses yang mendukung implementasi
model di bank.
1-28
Kelemahan Basel I
• Basel I Accord tidak melihat bahwa modal yang dimiliki bank
harus sebagian terkait dengan kualitas kredit dari debitur,
penerbit sekuritas, dan counterparty penjamin.
– Bank dengan lending ke perusahaan berkualitas kredit tinggi memerlukan
modal yang sama dengan ke perusahaan yang berkualitas rendah.
• Pada tahun 1999, Basel Committee mulai bekerja dengan bankbank utama dari negara anggota untuk pengembangan Capital
Accord baru.
• Ada potensi bahwa EU akan mengadopsi Basel II Accord sebagai
dasar bagi regulasi capital dari bank dan perusahaan jasa
keuangan
– Karena tidak adanya definisi mengenai bank yang seragam di antara
negara-negara anggota
– Basel II Accord akan menjadi dasar arahan bagi aturan kecukupan modal di
EU – the Capital Requirement Directive (CRD).
1-29
BASEL II CAPITAL ACCORD
PILLAR 1:
ICAAP (KPMM)
PASAR:
• SA
• IMA
KREDIT:
• SA
• FIRB
• AIRB
OPERASIONAL:
• BIA
• SA
• AMA
PILLAR 2:
SPV. REVIEW PROCESS
SREP
(SUPERVISORY
REVIEW AND
EVALUATION
PROCESS):
1. Kepatuhan pada
ketentuan modal
minimum
2. Risiko-risiko di luar
risiko di Pilar 1 (dan
bukan risiko likuiditas
3. Kepatuhan pada
ketentuan model
internal
PILLAR 3:
MARKET DISCIPLINE
DISCLOSURES
1. Diseminasi
informasi material
ke publik
2. Memungkinkan
masyarakat
mengevaluasi
bank
3. Pasar ikut
mendisiplinkan
bank
Modal Minimum dan Modal aktual
• Dalam praktek banyak bank yang saat ini memiliki rasio
permodalan minimum sebesar 10% sampai 12%, jauh di atas
kebutuhan modal minimum. Ada beberapa alasan :
– Regulatory ratio adalah batas minimum. Oleh karena itu pengelolaan bank
pada umumnya memilih menjaga ratio capital berada di atas angka
minimum yang ditentukan oleh supervisor
– Di AS dan UK misalnya, supervisor menentukan rasio modal terhadap RWA
secara spesifik untuk masing-masing bank, biasanya melebihi minimum
dari yang ditetapkan Basel. Sehingga ‘surplus’ tsb tidaklah terlalu besar bila
dibandingkan dengan ratio dari regulator.
– Model ‘economic capital’ ini dapat saja menghasilkan kebutuhan modal
yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diatur dalam Basel II.
– Rencana pertumbuhan bank baik secara ‘organik’ maupun melalui akuisisi,
kemungkinan akan membutuhkan modal yang lebih banyak untuk
mendukung rencana pertumbuhan tersebut.
1-31
Chapter 4 - Konsep dasar dari
Market risk dan Treasury risk
Market Risk
•
•
Market risk = Risiko kerugian akibat posisi yang tercatat pada on- dan off-balance
sheet karena pergerakan faktor pasar
Komponen Market risk :
– Risiko Spesifik (specific risk) –akibat faktor issuer dari sekuritas. Contoh: Harga
turun karena rating dari issuer memburuk. Dampak: hanya pada sekuritas yang
diterbitkan issuer ini.
– Risiko pasar secara umum (general market risk) –pada kelompok jenis instrumen
tertentu. Contoh: Kenaikan bunga SBI menyebabkan harga pasar bond turun
•
•
General market risk dapat dibagi menjadi: risiko suku bunga (interest rate risk),
risiko posisi ekuitas (equity position risk), risiko nilai tukar (foreign exchange risk),
risiko posisi komoditas (commodity position risk).
Interest rate risk : potensi kerugian akibat perubahan tingkat bunga, yang
menyebabkan perubahan harga pasar dari posisi. Contoh : Orange County (1994)
ketika berspekulasi bahwa bunga akan turun atau tetap rendah.
1-33
Market Risk
•
•
•
•
Equity position risk : potensi kerugian akibat fluktuasi harga saham. Contoh :
Morgan Grenfell Private Equity (2001) menderita kerugian dari saham EM.TV
Foreign exchange risk : potensi kerugian akibat fluktuasi nilai tukar. Contoh : PT
Telkom (1998) yang meminjam dalam $ kemudian dikonversi ke rupiah.
Commodity position risk : potensi kerugian akibat fluktuasi harga komoditas.
Contoh : Sumitomo (1996) merugi akibat perdagangan tembaga yang tidak sah
oleh trader-nya.
Harga pasar dipengaruhi oleh :
–
–
–
–
–
–
Supply dan demand
Liquidity
Intervensi pemerintah/BI
Arbitrage
Event ekonomi/politik dan bencana alam : berdampak jangka pendek
Fundamental ekonomi : berdampak jangka panjang
1-34
Perkembangan aktivitas trading:
strategi trading
• Strategi ‘matched book’ strategy : posisi bank dibuat selalu square. Risiko
yang tersisa: beda waktu saat transaksi dengan nasabah dilakukan dan
saat upaya squaring dilakukan
• Strategi kedua: Mengelola posisi dengan melakukan ‘covering deals’ atau
hedging, dengan wewenang trading desk, yang dapat melakukan trade
kalau pasar sedang menguntungkan.
– Ditetapkan ‘market risk limit’/ untuk membatasi risiko kerugian setiap saat
– Posisi bank dapat untuk kepentingan nasabah, atau untuk kepentingan bank
sendiri/ proprietary trading.
• Strategi ketiga: Bank menjadi ‘market maker’ untuk produk tertentu.
1-35
Manajemen posisi dan hedging
•
Trader diberi wewenang untuk memelihara posisi, dan melakukan pengelolaan
market risk pada trading book secara terus menerus pada dealing rooms.
– Aktivitas ini memerlukan pengawasan melekat oleh pihak independen
•
•
•
•
Traders dapat melakukan ‘hedge’ dengan mengambil posisi tertentu pada
underlying instrument maupun instrumen yang berbeda.
Hedging bisa dilakukan secara penuh atau sebagian (bila traders memiliki
pandangan bahwa posisi akan menguntungkan).
Bank melakukan hedging melalui transaksi derivative karena : credit risk lebih kecil,
kebutuhan dana lebih kecil, kebutuhan modal lebih kecil, likuiditas lebih baik, dan
biaya transaksi lebih murah.
Biasanya akan selalu terdapat residual risk yang tidak terlindung yang harus
dikelola dan dimonitor. Salah satu residual risk adalah basis risk.
– Basis risk adalah risiko perubahan hubungan antara nilai pasar posisi risiko dan nilai
pasar instrumen hedge
• Contoh basis risk : financing dengan LIBOR dan aset prime rate.
1-36
Pengembangan produk baru
• Unsur penting untuk mengawasi aktivitas
trading adalah adanya unit independen yang
menentukan prosedur persetujuan yang ketat
yang melibatkan berbagai unit dalam bank
kalau bank ingin meluncurkan produk baru.
1-37
Instrumen trading : transaksi valas
• ‘vanilla’ : instrumen yang paling sederhana
• Spot foreign exchange : transaksi yang akan menjadi efektif dua hari
kemudian, yang disebut dengan spot date
• Forward foreign exchange adalah transaksi dengan settlement lebih dari
dua hari.
– Jangka waktu settlement sampai 1 tahun, beberapa lebih dari setahun
– Risiko nilai tukar dan risiko suku bunga
• Foreign exchange rate swap adalah kombinasi dari transaksi spot dan
forward.
– Kedua pihak melakukan transaksi spot pada spot rate dan pada saat yang
sama melakukan transaksi forward pada forward rate, dengan jumlah pokok
yang sama dalam mata uang lokal
– Beda antara rate spot dan forward mencerminkan beda suku bunga dari dua
valuta
1-38
Instrumen Trading
• Loans dan deposits adalah transaksi antar bank dengan bunga fixed untuk
periode sesuai perjanjian.
– Jangka waktu mulai overnight s/d 5 th, sebagian besar < 1 th
– Pasar uang antar bank adalah tempat dimana bank melakukan transaksi
(pinjaman dan penempatan). Tujuan : 1) memperoleh likuiditas dan 2)
spekulasi pergerakan bunga
– Risiko suku bunga.
• Obligasi atau bond adalah surat hutang jangka panjang yang dapat
diperdagangkan, diterbitkan oleh penerbit (issuer).
– Investor (holder) membayar sebesar pokok obligasi tersebut.
– Penerbit bond berkewajiban membayar holder bunga (coupon) secara
periodik sebelum bond jatuh tempo, dan membayar pokok hutang pada saat
bond jatuh tempo.
– Risiko : interest rate risk, credit risk (kualitas rating dari issuer)
1-39
Instrumen trading: equity & commodity trading
• Equity trading adalah jual beli saham perusahaan yang
diperdagangkan di bursa.
– Saham biasa adalah bukti kepemilikan perusahaan.
– Pemilik menerima dividen dan kenaikan harga saham (capital gain)
– Risiko : risiko ekuitas umum (general equity risk), dan risiko spesifik
• Commodity trading adalah transaksi jual beli komoditas yang
diperdagangkan pada pasar sekunder
– Tersedia pasar spot dan forward untuk berbagai macam komodiitas
– Posisi spot komoditas : risiko komoditas ; posisi forward : risiko
komoditas + suku bunga.
1-40
Instrumen Derivatif: Futures
• Fitur utama dari kebanyakan produk derivatif adalah bahwa tidak ada
transaksi pada pokok instrumen.
– Mengurangi risiko kredit dan risiko settlement
– Kontrak mengenai selisih harga (‘contracts for difference’)
• Derivatives bisa diperdagangkan pada bursa (exchanges) dan over-thecounter (OTC) market
• Kontrak futures (janji penyerahan di masa depan) diperdagangkan di bursa
–
–
–
–
–
Jumlah fixed per contract
Tanggal penyerahan fixed
Syarat penyerahan sudah ditetapkan
Mark to market harian dan adanya sistim margin calls
Penyerahan fisik jarang dilakukan, biasanya settelement dilaksanakan secara
tunai
1-41
Interest rate swap, currency swap &
FRA
• Interest rate swap : kedua belah pihak saling menukar arus kas dari suku
bunga tanpa perlu menukar pokoknya.
– Vanilla swaps pada umumnya meliputi pembayaran bunga fixed yang
dipertukarkan dengan floating rate index
– Interest rate swaps menimbulkan risiko suku bunga
• Currency swap : bunga dalam US dollar ditukar dengan bunga dalam
valuta euro (berbeda mata uang)
– Pokok dipertukarkan pada spot rate
– Menimbulkan interest rate risk pada kedua valuta dan risiko nilai tukar
• Forward rate agreements (FRAs) memungkinkan bank mengambil posisi
pada forward interest rates.
– Tidak ada pertukaran pokok, pada saat kontrak jatuh tempo, dilakukan cash
settlement, yaitu selisih dari rate dalam kontrak dengan rate LIBOR rate
1-42
Option contract
• Option memberi hak pada pembeli, tapi bukan kewajiban
– Transaksi dasar (underlying transaction) akan terlaksana apabila rate
menguntungkan bagi pembeli opsi
– Penjual mempunyai risiko tak terbatas, menerima premi
call
call option memberikan pembeli hak untuk membeli underlying instrument
put
Put option memberikan pembeli hak untuk menjual underlying instrument
premium
Biaya yang dibayar oleh buyer pada seller
strike price
Harga dimana dilaksanakan eksekusi dari underlying transaction
exercise
Pembeli options ‘mengeksekusi’ option dan melaksanakan underlying
contract
expiry date
Tanggal terakhir option pelaksanaan eksekusi
American
Option yang dapat dilakukan eksekusi setiap saat selama options belum
jatuh tempo
European
Option yang hanya dapat dilakukan eksekusi pada saat jatuh tempo
1-43
Option contract
• Harga Option didasarkan pada kemungkinan option tersebut dilakukan
eksekusi. Unsur utama dari nilai option adalah:
– Tingkat strike price relatif terhadap harga pasar berlaku.
– Jangka waktu berlakunya option : semakin panjang waktu ke maturity semakin
tinggi nilai option
– Volatilitas dari harga pasar. Semakin volatile harga, semakin tinggi harga
option
• Pembeli option harus memilih Strike price dan jangka waktu option.
• Volatility adalah ukuran statistik yang diperoleh dari data historis
perubahan harga, meski pasar sering menggunakan expected volatility.
• Volatilitas meningkat dengan peningkatan waktu ke maturity
1-44
Pricing mark-to-market
•
•
Fungsi kontrol untuk mengelola operasional trading adalah memastikan bahwa
terhadap posisi terbuka trading setiap hari dilakukan penilaian kembali sesuai
dengan harga pasar yang berlaku : marking-to-market.
Instrumen finansial dgn arus kas dimasa depan dinilai dengan cara menghitung
present value dari future cash flows
– Produk dengan cash flow dimasa depan sensitif terhadap perubahan satu atau
lebih titik pada yield curve.
•
Jenis utama dari yield curves terkait dengan bunga adalah:
–
–
–
–
•
•
Cash
Derivatives
Bond
Basis
Bond, equity, spot foreign exchange dan transaksi spot commodity dinilai atas
dasar selisih antara original traded price dan current market price
Forward foreign exchange rates ditentukan dengan menyesuaikan current spot
rate dengan suatu forward margin tertentu
– Forward margin = spot x interest differential x (day / 360)
1-45
Proses mark-to-market
• Harga pasar bisa diperoleh dari :
– Broker yang aktif di pasar
– Harga resmi :
• LIBOR dari British Bankers Association
– Futures dan options on futures diperoleh dari bursa berjangka (futures
exchanges)
• Harga pasar dari transaksi digunakan untuk berbagai tujuan:
–
–
–
–
–
Perhitungan rugi laba
Perhitungan counterparty risk
Perhitungan collateral untuk transaksi OTC
Margin call oleh bursa berjangka
Settlement transaksi dengan counterparty
1-46
Nature treasury risk
• Treasury risk adalah risiko kerugian pada aktivitas Treasury dari bank.
• Treasury sebenarnya dapat mengelola berbagai risiko pada unit treasury
risk management, tetapi program sertifikasi hanya akan mengcover:
– interest rate risk pada banking book
– liquidity risk
– capital management.
• Risiko tersebut diatas dan masalah terkait (seperti konsentrasi asset dan
liability, kemampuan akses pada dana bank sentral, payment systems,
kebutuhan agunan dsb.) dicover oleh fungsi asset and liability
management (ALM).
1-47
Asset Liability Management
•
•
Tujuan utama dari asset and liability management : mengelola risiko pada neraca
bank dan memastikan bahwa interest rate risk yang melekat pada aktifitas bisnis
bank tidak menurunkan stabilitas pendapatan bank.
Pendapatan bank terutama adalah Net Interest Income (NII) dari bank
– Nilai tunai (net present value) dari arus NII selama periode tertentu merupakan
komponen utama dari nilai pasar bank.
– Stabilisasi NII  stabilisasi nilai bisnis (business value) bank
•
•
•
•
ALM mencakup interest rate risk in the banking book dan liquidity risk.
Interest rate risk in the banking book : risiko kerugian akibat bank memiliki posisi
yang terpengaruh pergerakan suku bunga karena struktur bisnis bank, seperti
aktifitas memberikan kredit dan menghimpun dana pihak ketiga
Contoh : Savings and Loan : mark-up nilai properti dan mismatch antara kewajiban
dan aset S&L.
Interest rate risk in the banking book tidak dibahas secara detil pada Basel II,
namun pada paper yang diterbitkan Juli 2004.
1-48
Aktivitas ALM
• Selain stabilisasi nilai bisnis, ALM juga memperhatikan:
– Pemeliharaan struktur likuiditas dari bisnis
– Masalah yang dapat mempengaruhi struktur neraca bank.
– Masalah yang memberikan dampak pada stabilitas pendapatan pada periode
mendatang.
• Bank International mempunyai struktur modal dengan dominasi valuta
domestik, tapi pendapatan dan aset terdiri dari valuta lainnya. Kondisi ini
menimbulkan risiko nilai tukar pada pendapatan bank.
– Present dan future profits dari aktifitas internasional menjadi volatile ketika
dihitung dalam mata uang domestik
– Modal dalam valuta domestic yang dialokasikan pada aktifitas internasional
menyebabkan rasio capital to assets menjadi volatile ketika nilai tukar
berubah.
1-49
Aktivitas ALM (2)
• Pengelola aktiva passiva harus memahami:
– Neraca bank komersial tidak terdiri dari kumpulan aktiva dan passiva yang
stabil (kredit baru dan deposits terus berubah)
– Repricing dari aktiva dan passiva pada neraca bank komersial tidak dapat
dihitung secara kontraktual (ada perbedaan timing yang cukup besar antara
perubahan rate pasar dan perubahan bunga kredit serta bunga dana).
– Seringkali tidak terdapat korelasi antara produk retail dan wholesale rates
untuk menetapkan pricing dari assets dan liabilities (sejumlah masalah
pemasaran mempengaruhi keputusan repricing dari produk retail yang tidak
mempengaruhi harga produk wholesale)
– Produk retail sering termasuk unsur opsi yang melekat (embedded options)
yang seringkali dilakukan exercise secara tidak rasional. (nasabah retail
seringkali mempunyai hak untuk melakukan terminasi kontrak kapan saja)
1-50
Aktivitas ALM (3)
• Bank komersial dengan jumlah nasabah retail besar
mempunyai struktur neraca yang sulit untuk dikelola, karena
– Bank komersial seringkali lebih mementingkan unsur relationship dan
mengabaikan kewajiban kontrak, antara lain terlalu fokus pada
nasabah
– Dalam upaya menarik dan mempertahankan nasabah seringkali
produk retail memiliki fitur berbeda dengan produk wholesale,
sehingga sulit untuk mengelola risiko dengan menggunakan produk
wholesale.
– Pricing pada produk retail seringkali menitikberatkan pada
pertimbangan marketing daripada market price
1-51
Chapter 5 – Credit Risk
Credit Risk dan Sovereign risk
• Credit risk : risiko kerugian karena potensi counterparty gagal memenuhi
kewajibannya ketika jatuh tempo.
– Contoh : Peregrine (1998) yang meminjamkan 20% dari modalnya ke Steady
Safe yang kemudian default.
• Sovereign risk adalah risiko kerugian karena potensi suatu negara gagal
membayar kewajiban bunga atau pokok dari pinjaman nya
– Negara penghutang meyatakan tidak mau membayar (Rusia 1917, 1998 dan
Afrika dan Amerika Latin 1960 dan 1970-an)
– Debt rescheduling : jalan yang banyak dipakai
• Pembedaan sovereign debt bond dilakukan antara :
– hutang negara dalam mata uang domestik (jarang default, bisa cetak uang)
– hutang dalam valuta asing
1-53
Sovereign risk : analisa rasio keuangan
• Debt service ratio : kewajiban bunga dan pokok pinjaman
valuta asing dibagi income dari export dan capital inflow.
• Inward investment digabungkan dengan kebijakan ekonomi
domestik bisa menciptakan ‘bubbles’ (valuasi terlalu tinggi
untuk aset tertentu yang tidak bisa bertahan dalam jangka
panjang), contoh property Tokyo (1990-an) dan saham Asia
(mid – 1990).
• Kualitas data pemerintah yang buruk seringkali membuat
proses penilaian sovereign risk sulit.
– Pinjaman swasta dalam bentuk valuta asing, yang datanya seringkali
buruk, bisa mempengaruhi total hutang yang menjadi kewajiban suatu
negara.
1-54
Sovereign risk : faktor kualitatif &
country risk
•
Ada sejumlah faktor kualitatif yang harus dipertimbangkan saat menilai sovereign
risk :
–
–
–
–
efisiensi sistem perbankan
efisiensi sistem perpajakan
kemampuan bank sentral mempengaruhi kurs mata uang
peran suku bunga domestik yang tinggi yang mendorong pinjaman dalam valuta
asing, dan mendorong tekanan inflasi.
– transparansi ekonomi dan pemisahan yang jelas antara tugas pemerintah, bank
sentral, supervisor, sistem hukum dan bisnis
•
•
•
•
Sovereign risk adalah bagian dari country risk
Country risk mencakup hukum, politik, lingkungan ekonomi domestik dan
bagaimana semuanya ini mempengaruhi sektor swasta dalam ekonomi.
Dalam Basel I Accord, sovereign risk diukur dengan menetapkan bobot risiko
secara sederhana, yaitu berdasarkan kategori peminjam (misalnya pemerintah)
dan jenis instrumen (misal, jaminan, kredit, dsb).
Dalam Basel II, Standardised Approach menggunakan credit rating untuk menilai
dan menetapkan sovereign risk
1-55
Corporate credit dan retail credit
risk
•
Corporate credit risk berhubungan default risk dari hutang yang diterbitkan
perusahaan.
– Lebih besar daripada sovereign risk
– Analisa rasio laporan keuangan untuk proses keputusan kredit digunakan secara
luas dikalangan perbankan.
– Basel II memberi insentif bagi untuk meningkatkan kualitas keputusan kredit
melalui penggunaan teknik metode statistik untuk kalibrasi dan ‘back testing’ thdp
model credit grading
– Juga mendorong bank untuk memperkaya informasi melalui penggunaan optionbased model, bila data tersedia
•
Teknik penilaian kredit perorangan telah berubah banyak
• Dari berdasarkan wewenang pada cabang menjadi sistim perkreditan tersentralisasi
menggunakan credit scoring model
• Dua jenis credit personal finance : credit dengan agunan real estate (rumah) dan
unsecured consumer finance (credit card).
• Perkembangan berbagai bentuk pinjaman yg dijamin properti didorong oleh Basel II
yang memperhitungkan agunan sebagai pengurang risiko.
• Credit scoring model digunakan untuk kredit tanpa agunan.
1-56
Probability of default
• Model-model yang sudah dibahas digunakan bank untuk
mendukung proses keputusan kredit dan berciri “bimodal”
(setuju atau menolak).
– Namun, bank ingin lebih memahami mengenai risiko, return (misal
margin dan fee dari loan), dan modal yang dibutuhkan.
• Keputusan pemberian kredit dibuat dengan mempertimbangkan risiko
dan return.
– Basel II, melalui penggunaan “public credit grade” (Standardized
Approach) atau grading model (Internal Rating-Based approach),
mendorong bank menggunakan model credit appraisal dalam
membuat keputusan risiko – imbal hasil.
1-57
Traded market counterparty credit risk
• Traded markets counterparty credit risk timbul apabila ketika
counterparty tidak langsung membayar jumlah yang
terhutang dalam satu transaksi.
– Pada berbagai produk pasar, jumlah terhutang pada counterparty
dapat terus berubah selama umur kontrak.
• Tingkat counterparty credit risk bisa dikurangi dengan :
– membuat pembayaran regular diantara pihak dalam kontrak
– pihak penghutang menjaminkan security untuk menjamin apa yang
dihutangkan (collateral)
– ‘netting’ : offsetting keuntungan atau kerugian di antara sejumlah
kontrak yang sejenis atau di antara berbagai jenis kontrak.
• Nilai mark-to-market merupakan dasar perhitungan
counterparty credit risk.
1-58
Analisa sovereign risk & corporate
credit risk
• Sovereign risk :
– Dilakukan perusahaan pemeringkat seperti Standard & Poors, Moody's
Investors Services dan Fitch, juga badan pemerintah seperti Export Credit
Agencies (ECA).
– Analisis sovereign risk dapat didasarkan dari perhitungan angka
kuantitatif, maupun analisa kualitatif.
• Data kuantitatif bisa diperoleh dari BIS.
• Corporate risk :
– Pendekatan tradisional menggunakan analisa laporan keuangan, disebut
dengan analisa kredit.
– Komponen laporan keuangan yang digunakan :
•
•
•
•
neraca
Laporan rugi laba (income statement)
laporan arus kas (cash flow statement)
laporan pajak (tax statement)
– Analisa biasanya melihat kinerja historis tiga tahun terakhir
– Ratio yang biasa digunakan : operating performance (ROE), debt service
capability (cash flow/ interest), financial gearing (deb/equity), dan current
1-59
ratio.
Teknik baru “options-based “
• Dikembangkan Robert C. Merton.
• Kredit pada perusahaan : debitur membeli put
option pada perusahaan, bila nilai perusahaan
negatif (PV perusahaan < PV debt) ia akan menjual
perusahaan ke kreditur senilai hutang-nya.
• Perbedaan nilai perusahaan dan nilai pasar hutang
bisa digunakan sebagai dasar untuk menentukan
probability of default.
1-60
Risiko kredit perorangan
• Beberapa hal yang dicermati dalam analisa kredit perorangan
– Personal budgets : jumlah pemasukan tunai dan pembelanjaan tunai dari dan
ke rumah tangga
– Credit scoring models : sejarah kredit calon debitur, bersama detil lainnya yang
disampaikan nasabah potensial, dimasukkan kedalam scoring model untuk
memprediksi kualitas kredit
– Credit reference agencies (agen pengelola data) : memelihara catatan sejarah
kredit seseorang
– Lifetime consumption : penilaian mengenai profil penerimaan dari income
selama hidup dan profile pengeluaran dari debitur (usia 30 tahun vs 60 tahun
untuk mortgage kredit)
– Nilai aset Bersih : posisi aset dan kewajiban debitur juga turut menentukan
kelayakan debitur
– Peran lembaga asuransi : mempertahankan pembayaran pada saat debitur
menderita sakit dan tidak bisa bekerja
– Affordability assessment (analisis kemampuan membayar) :
1-61
income/pembayaran
Kredit konsentrasi dan pengukuran
•
•
•
Credit concentration risk : konsentrasi kredit pada berbagai area bisnis seperti
geografis, sektor industri dan kualitas rating kredit.
Risiko konsentrasi dimasukan dalam Pillar 2. Dibutuhkan tambahan modal bila ada
concentration risk.
Konsentrasi termasuk eksposur yang signifikan pada :
–
–
–
–
•
•
•
•
suatu counterparty atau grup
sektor ekonomi atau daerah geografis
ketergantungan pada suatu aktivitas atau komoditas
jenis agunan
Cohort adalah pengelompokan aset berdasarkan kriteria tertentu untuk
mengetahui konsentrasi kredit.
Dalam Basel II, ada tiga pendekatan untuk menghitung kebutuhan modal untuk
credit risk: standardized approach, IRB foundation, dan IRB advanced.
Basel II juga menentukan kriteria yang harus dipenuhi bank untuk menggunakan
pendekatan yang lebih advance.
Persyaratan utama dari supervisor adalah bahwa bank menggunakan pendekatan
IRB untuk memutuskan kredit secara internal.
1-62
Chapter 6 – Operational risk
Expected Loss
Data Internal
F
HFLI
HFHI
LFLI
LFHI
• Otomasi
• Teknologi
• Outsourcing
• Terorisme
• Globalisasi
• Insentif & Trading
• Volume Trasaksi
• Litigasi
PENINGKATAN
EFISIENSI
Tools:
• End to End
Process Mapping
• Six Sigma
I
• Insurance
• Business
Continuity
Planning
Unexpected Loss
Data Eksternal
Skenario
Kategori Operational risk event, internal process
• Penting bagi bank untuk memahami mengenai event, dan tidak sekedar
mencatat kerugian yang ditimbulkan (ingat kasus trader salah beli $).
• Event operational risk dapat dibagi dalam kategori sbb:
–
–
–
–
–
Risiko proses internal
Risiko SDM (people risk)
Risiko Kegagalan sistim (systems risk)
Risiko eksternal (external risk)
Legal risk
• Risiko proses internal : risiko terkait kegagalan proses dan prosedur bank.
Diperbaiki dengan meningkatkan efisiensi dan mengurangi kerumitan proses.
Beberapa contoh kegagalan proses internal :
–
–
–
–
–
–
–
Dokumentasi – tidak memadai, tidak mencukupi atau salah
Kurang adanya sistim pengawasan
Kesalahan marketing
Kesalahan dalam menjual (misselling)
Pencucian uang (money laundering)
Laporan tidak akurat atau tidak cukup (contoh. Laporan BI)
Kesalahan transaksi (transaction error)
• Contoh kasus proses internal : trader Daiwa yang bisa melakukan transaksi
ilegal selama 11 tahun tanpa terdeteksi.
1-65
Risiko SDM, sistem dan external events
• Risiko SDM (people risk) : risiko terkait dengan pegawai bank.
– Contoh : trader dari UBS Warburg (2001) Tokyo menjual 610,000 saham
Dentsu pada harga 16 yen per saham, padahal seharusnya 16 saham pada
harga 610,000 yen
• System risk adalah risiko terkait dengan penggunaan sistim dan teknologi
– Contoh Bank of Scotland (2000) mengalami kegagalan nyaris total pada sistem
komputer yang menghambat ATM dan fasilitas internet banking.
• External risk : risiko terkait events yang berada diluar kemampuan kontrol
secara langsung dari bank. Misal, perampokan, teroris. Biasanya low
frequency/high impact dan menimbulkan unexpected loss.
– Contoh : NatWest (1993) yang gedung-nya dibom teroris.
1-66
Risiko legal dan Boundary events
• Legal risk : risiko ketidakpastian melakukan tindakan hukum, atau
ketidakpastian bahwa kontrak mempunyai kepastian interpretasi
hukum atau regulasi
– Meningkat dengan adanya KYC dan proteksi data nasabah dari penggunaan
untuk marketing.
– Bear Sterns (1999) membayar SEC USD 25 juta. Sebagai clearing agent A.R.
Baron, pialang kecil yang bangkrut tahun 1996, Bear Sterns tidak memberi
peringatan pada pengawas aktifitas trading Baron yang diidentifikasikan
fraud.
• Boundary events : risiko kerugian timbul dari berbagai kombinasi
jenis risiko dan bukan satu faktor tunggal.
– Contoh : kasus Barings bisa operational risk (internal process: trader
menyetujui trade-nya), market risk (rugi dari pergerakan harga pasar),
business risk (manajemen di London masih melakukan ‘top up’ pada saat
margin call).
• Akar penyebab adalah operational risk, karena bila proses internal benar,
kerugian besar bisa terdeteksi awal dan Barings tidak collapse.
1-67
Basel II dan operational risk
• Basel II memasukkan operational risk dalam Pillar 1, dimana
bank harus mengukur besarnya operational risk, dan
mengalokasikan modal. Bank juga diharapkan mengelola
operational risk untuk mengurangi peluang timbulnya event
operational risk.
• Diperkirakan bahwa secara rata-rata sekitar 12% dari modal
dialokasikan untuk mengcover risiko operasional.
• Basel II memperbolehkan bank menggunakan satu dari tiga
pendekatan untuk menghitung modal untuk mengcover
operational risk : basic indicator approach, standardized
approach, dan advanced measurement approach.
1-68
Chapter 7 – Supervisory review
dan disclosure
Pengawasan supervisor
• Supervisor mengawasi bank untuk memastikan kepatuhan bank pada
ketentuan kecukupan modal, serta meyakinkan bahwa bank mengembangkan
dan menggunakan teknik manajemen risiko yang terbaik.
• Pillar 2 membahas tiga area yang diluar lingkup Pillar 1 :
– risiko konsentrasi kredit
– risiko suku bunga pada banking book
– faktor ekstern yang mempengaruhi operasional bank (mis. siklus bisnis).
• Pilar 2 juga menilai kepatuhan pada standar minimal bila bank menggunakan
advanced methods dalam Pillar 1.
• Direksi dan senior manajemen bank bertanggung jawab memastikan bank
mempunyai modal yang cukup, termasuk untuk risiko yang tidak dicover dalam
Pillar 1.
– Proses evaluasi tidak hanya pada kebutuhan modal sekarang namun juga
memperkirakan kebutuhan modal yg akan datang.
1-70
Supervisory review dan action
• Supervisor akan mengevaluasi kualitas proses perhitungan kebutuhan modal
intern.
– Kelemahan dalam proses akan meningkatkan rasio modal sehingga mengurangi
tingkat aktivitas yang dapat didukung oleh modal bank.
• Perlu dicatat bahwa peningkatan modal tidak menggantikan kewajiban bank
untuk memperbaiki kelemahan sistim pengendalian kontrol yang tidak
memadai atau gagal.
• Supervisor juga dapat menggunakan cara lain untuk memperbaiki kelemahan
tersebut, yaitu:
– menetapkan target untuk memperbaiki struktur manajemen risiko
– mensyaratkan prosedur internal yang lebih ketat
– memperbaiki kualitas staff melalui pelatihan atau penerimaan baru
• Dalam hal yg ekstrim, supervisor dapat membatasi tingkat risiko atau aktivitas
bisnis bank hingga masalah diatasi.
1-71
4 Prinsip Utama
• Basel Committee menetapkan 25 prinsip utama pengawasan pada “Core
Principles for Effective Banking Supervision”, yang dikeluarkan pada September
1997.
• Pilar 2 mengidentifikasikan empat prinsip utama dari sistim pengawasan bank
untuk melengkapi 25 prinsip utama tersebut
• Prinsip 1 : bank harus mempunyai proses untuk menilai kecukupan modal
sesuai dengan profil risiko bank, dan mempunyai strategi untuk
mempertahankan tingkat kecukupan modalnya.
– Manajemen bank bertanggung jawab memastikan bank memiliki modal cukup
untuk mendukung kegiatan saat ini dan mendatang sesuai dengan profil risiko dan
sistem kontrol bank
– Lima fitur proses penilaian modal yang baik : pengawasan board dan manajemen
senior, penilaian modal yang baik, penilaian risiko yang menyeluruh, pemantauan
dan pelaporan, evaluasi pengendalian internal.
1-72
Prinsip 2
• Prinsip 2 : supervisor harus mengevaluasi perhitungan dan strategi
kecukupan modal, dan menilai kemampuan bank untuk memonitor dan
mematuhi ketentuan kecukupan modal
– Supervisor harus melakukan tindak lanjut apabila menilai proses tersebut di
bank tidak berjalan dengan baik.
– Proses pengawasan rutin supervisor harus: menguji perhitungan eksposur
risiko bank dan konversinya ke kebutuhan modal, fokus pada kualitas proses
dan kualitas pengawasan intern terhadap proses tersebut, menguji kerangka
penilaian modal untuk mengdapatkan kekurangannya, tidak memberikan
rekomendasi atas struktur kerangka kerja.
– Evaluasi dimungkinkan melalui kombinasi metode pengumpulan data sbb
: kunjungan lapangan, off-site reviews, pertemuan dengan manajemen bank,
mengevaluasi hasil kerja pemantauan periodik oleh external auditor.
1-73
Prinsip 3 & 4
• Prinsip 3 : supervisor mengharapkan bank beroperasi diatas kebutuhan
modal minimum dan berwenang meminta bank mempertahankan
modalnya diatas minimum.
– Pillar 1 dirancang untuk menentukan kebutuhan modal minimum standar
bank yang:
• mempunyai sistim pengendalian kuat
• mempunyai portofolio dengan risiko yang terdiversifikasi
• risiko kegiatan usahanya yang sudah dicover pada pillar 1
• Prinsip 4 : supervisor harus segera mengintervensi untuk mencegah
turunnya modal bank dibawah minimum, sesuai dengan risikonya. Ia harus
meminta tindakan korektif secepatnya bila modal tidak dipertahankan
atau ditambah.
– Supervisor dapat meningkatkan syarat modal minimum bank sebagai
pemecahan jangka pendek sambil mengatasi permasalahan yg ada.
1-74
Disclosure
•
Disclosure adalah penyediaan informasi yang cukup material kepada publik untuk
dapat mengevaluasi usaha perusahaan
– Perusahaan publik memiliki syarat disclosure lebih ketat daripada non publik
– Perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa harus memenuhi syarat
keterbukaan yang ditetapkan oleh bursa.
– Otoritas bursa juga bertanggung jawab agar emiten melaksanakan ketentuan
keterbukaan yang diwajibkan oleh lembaga lain yang mengatur hal tersebut.
•
US Sarbanes–Oxley Act 2002’ secara hukum menetapkan tanggung jawab
perusahaan atas keterbukaan
– CEO dan CFO dari perusahaan yang telah IPO, harus menyatakan secara terbuka
(public disclosure) mengenai kebenaran laporan keuangannya.
– Section 404 of the Act, juga mensyaratkan keterbukaan dokumentasi, verifikasi
auditor extern terhadap kualitas pengendalian intern perusahaan dalam hal
pelaporan keuangannya.
– Ketentuan tersebut diimplementasikan melalui SEC, lembaga pengatur bursa
saham di USA.
1-75
Disclosure : manajemen dan issue lain
• Aktivitas mana yang dipilih oleh manajemen untuk dilaporkan
memberikan masukan kepada stakeholders mengenai
bagaimana perusahaan dikelola
– Bank-bank besar dunia menetapkan standar yang tinggi untuk
memberikan gambaran bagaimana perusahaan dikelola.
• Di beberapa negara, misal UK, ketentuan mengenai
transparansi perusahaan relatif lebih ringan.
– Persyaratan hukum berfokus pada ketentuan pelaksanaan codes of
practice, (The Combined Code, dan principles of disclosure).
– Combine Code kurang, bila dilihat dari keseragaman dibandingkan
aturan disclosure yang detail, namun ia lebih fleksibel dan mudah
kalau diperlukan perubahan.
1-76
Chapter 8 – Corporate
Governance in Banks
Konsep dasar corporate governance
•
•
Tata kelola perusahaan didefinisikan sebagai hubungan antara manajemen, direksi,
stake holder dan pemilik dari suatu perusahaan.
Beberapa teknik dan strategi untuk menciptakan tata kelola perusahaan yang baik:
– Tata nilai perusahaan (corporate values), code of conduct
– Strategi perusahaan yang dijabarkan secara jelas
– Pemberian wewenang dan tanggung jawab yang jelas dalam pengambilan
keputusan
– menetapkan mekanisme interaksi dan kerja sama diantara dewan komisaris,
Direksi, manajemen senior dan auditor
– sistim pemantauan yang kuat
– pemantauan risiko khusus apabila diperkirakan akan terjadi benturan kepentingan
– Imbalan berupa uang atau bersifat manajerial bagi pegawai yang berperilaku
sebagaimana mestinya
– arus informasi intern dan ekstern yang memadai
1-78
Struktur tata kelola perusahaan
• Struktur tata kelola pada bank bervariasi, tergantung dari
kebiasaan, batasan hukum dan sejarah perkembangan
masing-masing bank. Namun harus dipastikan ada sistem
periksa silang dalam struktur.
– Pengawasan oleh dewan komisaris, direksi dan badan pengawas
– Pengawasan oleh individu yang tidak terlibat dalam menjalankan
bisnis sehari-hari.
– Supervisi langsung dari berbagai area bisnis.
– Fungsi audit dan manajemen risiko yang independen
– Personel kunci ‘fit dan proper’ untuk pekerjaannya
– Pelaporan secara regular
1-79
Tujuan strategis, wewenang, tugas direksi
• Bank perlu menetapkan tujuan strategis yang jelas dan etos perusahaan.
– Nilai-nilai perusahaan harus diterapkan disemua jajaran bank termasuk
direksi.
• Melaporkan masalah secara tepat waktu dan melarang korupsi.
• Direksi harus menjamin proses pemantauan dan pelaporan terhadap kebijakan
tersebut yang berfungsi dengan baik.
• Direksi harus menetapkan garis yang jelas antara kewenangan dan
tanggung jawab. Direksi sendiri harus mengikuti proses ini.
• Direksi adalah penanggung jawab akhir atas pengelolaan dan kinerja bank.
Maka seorang direktur harus :
– memenuhi kualifikasi minimal sesuai jabatannya
– memahami peranannya dalam kerangka tata kelola perusahaan
– tidak terpengaruh oleh pihak dalam maupun luar perusahaan.
1-80
Tugas Direksi (1 Tier)
•
Direksi yang kuat akan :
–
–
–
–
–
–
–
memahami peran pengawasannya dan loyal pada bank dan pemegang saham.
melakukan proses ‘check dan balance’ dalam manajemen sehari-hari
berani bertanya ke manajemen bank dan meminta penjelasan yang tuntas
merekomendasikan praktek perbankan yang lebih baik sesuai pengalamannya.
memberikan saran dan nasihat secara obyektif
tidak berlebihan dalam bertindak
komitmen menghindari benturan kepentingan dalam aktivitas dengan organisasi
lain.
– Bertemu secara berkala dengan manajemen senior dan internal audit untuk
menetapkan dan menyetujui kebijakan, mengembangkan komunikasi organisasi,
dan memantau kemajuan tujuan perusahaan.
– tidak membuat keputusan apabila mereka tidak dapat memberikan saran yang
objektif.
– tidak terlibat pada pengelolaan bank sehari-hari.
1-81
Komite khusus, pengawasan manajer
senior
• Komite dapat dibentuk untuk bidang:
– Risk Management : mengawasi aktivitas manajemen senior dalam
mengelola risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, legal dan risiko
lainnya.
– Audit : mengawasi auditor bank, internal dan external, serta memastikan
manajemen sudah melakukan tindakan korektif terhadap kelemahan
kontrol, tidak patuh pada kebijakan, hukum dan ketentuan regulasi.
– remuneration : mengawasi kebijakan kompensasi bagi manajemen senior
dan personal kunci lainnya, serta memastikan bahwa sistim kompensasi
sesuai dengan budaya kerja bank, tujuan, strategi dan kontrol.
• Manajemen senior harus melakukan pengawasan komprehensif atas
bawahannya, seperti yang dilakukan BOD.
– Keputusan penting diputuskan oleh lebih dari satu manajer.
– Perlu dihindarimanajer senior yang :
• Terlibat dalam keputusan manajer lini secara berlebihan
• Tidak memiliki keahlian
• Tidak berani mengendalikan karyawan kunci karena takut kehilangan.
1-82
Peran auditor intern dan ekstern
• Hasil pekerjaan auditor hendaknya digunakan sebagai validasi
informasi yang diberikan oleh manajemen senior.
• Proses tersebut dapat ditingkatkan oleh Direksi :
– mengakui pentingnya proses audit dan mengkomunikasikannya pada
seluruh jajaran bank
– meningkatkan independensi dan status dari auditor.
– menggunakan temuan auditor secara efektif dan tepat waktu.
– memastikan independensi dari kepala audit dengan pelaporan pada
direksi atau pada komite audit.
– menggunakan jasa auditor eksternal untuk menilai efektivitas kerja
auditor internal
– melakukan tindakan korektif segera terhadap setiap masalah yang
ditemukan oleh auditor,
1-83
Kebijakan kompensasi, disclosure
•
Kebijakan kompensasi harus mencerminkan budaya, tujuan, strategi dan fungsi
kontrol. Direksi harus menetapkan kompensasi bagi manajemen senior dan
personal kunci.
– Kompensasi harus dibuat agar memotivasi manajemen senior bertindak bagi
kepentingan bank.
– Menghindari pengukuran kinerja jangka pendek yang akan membawa risiko pada
jangka panjang
•
Tata kelola perusahaan yang baik perlu keterbukaan yang mencakup :
– struktur board (jumlah, keanggotaan, kualifikasi dan komite)
– struktur manajemen senior (tanggung jawab, garis pelaporan, kualifikasi dan
pengalaman)
– struktur organisasi dasar (struktur usaha, struktur legal perusahaan)
– informasi mengenai struktur insentif (kebijakan gaji, kompensasi eksekutif, bonus,
opsi saham)
– transaksi-transaksi dengan pihak-pihak terafiliasi.
1-84
Chapter 9 – Regulasi Indonesia
BI dan kebijakan moneter
•
•
Bank Indonesia (BI) : bank sentral pada sistim perbankan Indonesia ; independen
dari kontrol pemerintah. Tujuan BI adalah menciptakan stabilitas nilai rupiah.
Untuk mencapai tujuan ini, BI bertanggung jawab untuk:
– Melakukan formulasi dan implementasi kebijakan moneter
– Menyelenggarakan dan mengamankan sistim pembayaran
– Mengatur dan melakukan pengawasan bank-bank.
•
•
BI melaksanakan kebijakan moneter dengan menetapkan BI Rate, setiap 3 bulan
sekali pada pertemuan gubernur dan deputy (bila dipandang perlu bisa dilakukan
setiap bulan).
Operasi pasar BI lainnya meliputi :
–
–
–
–
–
operasi pasar terbuka untuk mempengaruhi likuiditas pasar.
menetapkan giro wajib minimum (reserve requirements)
bertindak sebagai “lender of last resort”
melaksanakan kebijakan nilai tukar
mengelola cadangan devisa negara untuk mendukung perdagangan internasional..
1-86
Sistem pembayaran, pengawasan
•
•
BI merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk menerbitkan dan
mendistribusikan rupiah serta bertanggung jawab dalam kliring
Bank Indonesia telah mengembangkan sistem pembayaran nasional, meliputi sub
sistem :
– Sistim kliring elektronik nasional
– Sistim Skedul kliring T+0
– Sistim transaksi elektronik antar bank dan Sistim jasa informasi (Information
Service System)/ (BI-LINE)
– Sistim Real Time Gross Settlement System (RTGS)
– Sistim transfer dana US Dollar (Fund Transfer System).
•
BI membuat peraturan perbankan dan mengeluarkan ijin operasional bank. Selain
itu BI juga :
– menyetujui pembukaan atau penutupan kantor cabang bank
– menyetujui kepemilikan dan manajemen bank
– memberikan ijin untuk kegiatan tertentu bank.
•
BI melakukan pengawasan melalui pengawasan langsung, yaitu ‘on-site
examination’ dan ‘on-site presence (OSP)’ selain pengawasan secara ‘off-site”
melalui laporan-laporan bank yang disampaikan ke BI
1-87
Ketentuan manajemen risiko
• Ketentuan manajemen risiko : PBI no 5/8/PBI/2003: “Pedoman
Pelaksanaan manajemen Risiko untuk bank umum“.
• Menekankan pada risiko yang melekat pada aktivitas bank dan struktur
kontrol untuk mengendalikan risiko tersebut, termasuk proses :
identifikasi, pengukuran, pemantauan (monitor), dan pengendalian
(kontrol).
• Pengelolaan risiko yang terintegrasi mengharuskan bank :
• mengelola risikonya dalam suatu struktur manajemen yang terintegrasi
• membangun sistem informasi dan struktur manajemen yang diperlukan
untuk mencapai tujuan tersebut.
• Untuk mengelola risiko diperlukan:
• Pengawasan aktif dewan Komisaris dan Direksi
• Kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit
• Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan
pengendalian risiko
• Sistim informasi yang memadai untuk pengelolaan risiko
• Sistim pengendalian intern yang menyeluruh
1-88
Struktur manajemen risiko
• Kebijakan manajemen risiko yang efektif harus
memperhitungkan :
– Tujuan dan kebijakan bank
– kompleksitas dari model bisnis bank
– kemampuan bank dalam mengelola risiko usaha.
• Bank yang mempunyai kegiatan usaha yang kompleks, harus
memiliki struktur manajemen risiko yg lebih kompleks
dibanding bank yang kegiatannya sederhana.
• Dalam struktur, setiap unit bisnis terpisah dari internal audit
dan unit risk management.
1-89
Risiko Bank yang perlu dikelola
• Struktur manajemen setiap bank mencakup risiko :
– risiko pasar (market risk) : beda dengan Basel ada dua variabel : suku
bunga dan nilai tukar
– risiko kredit
– risiko operasional
– risiko likuiditas
• Bank mempunyai kegiatan usaha yang beragam dan kompleks
diharapkan mengelola risiko :
–
–
–
–
risiko hukum
risiko reputasi
risiko strategis
risiko kepatuhan.
1-90
Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan
Direksi
• Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab menetapkan
risiko yang perlu dikelola dikaitkan dengan kompleksitas
kegiatan bank. Mereka juga harus menetapkan pembagian
wewenang dan tanggung jawab pengelolaan risiko tersebut
diantara Direksi dan manajemen senior.
• Kewenangan dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan
Direksi meliputi :
– Menyetujui dan mengevaluasi kebijakan Manajemen Risiko.
– Pembagian tanggung jawab manajemen untuk pelaksanaan
Manajemen Risiko.
– Menentukan transaksi-transaksi yang memerlukan persetujuan Direksi
atau komisaris.
1-91
Penetapan limit
• Kebijakan Manajemen Risiko harus memuat penilaian risiko
yang berhubungan dengan setiap produk dan transaksi.
• Direksi dan manajemen senior harus menciptakan proses
untuk menetapkan toleransi risiko (risk appetite) dari bank,
yang selanjutnya menjadi dasar penetapan limit risiko.
• Limit risiko harus ditetapkan :
– secara keseluruhan, misalnya toleransi risiko
– masing-masing jenis risiko, (misalnya risiko kredit, risiko pasar, risiko
operasional, risiko likuiditas dsb)
– berdasarkan fungsi, (misalnya Treasury, cabang, Unit Manajemen
Risiko dan Direksi).
1-92
Identifikasi, implementasi dan
pemantauan
•
Direksi mempunyai tugas umum untuk memastikan bahwa:
– semua risiko (risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko likuiditas, dsb) dapat
diidentifikasi
– semua risiko utama dapat diukur, dimonitor dan dikendalikan dengan baik.
– pengukuran risiko tersebut ditunjang oleh sistim informasi yang up to date, akurat
dan lengkap.
•
•
Proses analisa risiko harus mengidentifikasi semua karakteristik risiko bank
(biasanya dimulai dengan menguraikan semua jenis usaha yang dilakukan) dan apa
saja risiko yang melekat pada setiap produk dan kegiatan usaha bank tersebut.
Pengukuran risiko atas dasar produk dan aktivitas bisnis harus :
–
–
–
–
dilaporkan berdasarkan periode waktu (apabila relevan)
menjelaskan sumber data yang digunakan
menjelaskan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko
dapat menunjukan kapan setiap perubahan profil risiko bank terjadi.
1-93
Manajemen dan kontrol, sistem
informasi
• Proses manajemen risiko harus menciptakan struktur yang dapat
mengelola setiap risiko yang diperkirakan berpotensi mengancam
kelangsungan usaha bank.
• Akhir nya proses kontrol risiko harus meliputi proses manajemen aset dan
liability (ALM) untuk mengelola : risiko nilai tukar, risiko suku bunga, risiko
likuiditas.
• Sistim informasi manajemen risiko harus mampu memberi informasi:
– semua eksposur risiko
– eksposur risiko yang terjadi dibandingkan dengan limit yang ditetapkan
– kerugian aktual yang terjadi akibat mempertahankan posisi risiko
dibandingkan dengan tingkat kerugian yang ditetapkan atas dasar toleransi
risiko (risk appetite).
1-94
Pengawasan intern
• Sistim pengawasan intern harus dapat mengidentifikasikan
setiap kegagalan pengawasan dan setiap penyimpangan
• Sistim pengawasan intern harus :
– memenuhi ketentuan Bank Indonesia
– memenuhi ketentuan intern bank yang telah ditetapkan oleh direksi.
– menyediakan informasi keuangan untuk keperluan pelaporan yang
lengkap, akurat, tepat guna, dan tepat waktu.
– cukup memadai untuk mendukung manajemen dalam proses
pengambilan keputusan pengambilan risiko.
– menciptakan budaya risiko pada organisasi bank secara menyeluruh.
• Internal Audit merupakan fungsi independen pada bank.
1-95
Pengawasan intern dalam manajemen
risiko
• Internal audit menilai secara terus menerus, melalui laporan,
analisa metodologi, prosedur dan proses pada organisasi
manajemen risiko bank.
• Pelaporan Internal Audit langsung ke Direktur Utama dan
tidak kepada Chief Risk Officer
• Laporan Internal Audit pada umumnya meliputi :
– kesesuaian Sistim Pengendalian Intern dengan risiko yang dihadapi
oleh bank
– penilaian kepatuhan terhadap kebijakan, prosedur dan limit yang telah
dibuat dan disetujui oleh Bank Indonesia
– fungsi pengendalian manajemen risiko yang independen/terpisah dari
fungsi manajemen bisnis.
1-96
Organisasi manajemen risiko
• Struktur organisasi untuk mengelola risiko bank meliputi Komite Manajemen
Risiko dan Unit Manajemen Risiko.
• Keanggotaan Komite Manajemen Risiko harus terdiri dari mayoritas Direksi dan
senior manajemen yang terlibat..
• Komite Manajemen Risiko harus memberikan rekomendasi kepada Direktur
Utama mengenai hal sebagai berikut :
– Kebijakan risiko, strategi dan implementasi.
– setiap perubahan proses yang direkomendasikan oleh Internal Audit atau evaluasi
proses manajemen risiko lainnya.
– menjelaskan kepada Bank Indonesia dan kepada Direksi setiap keputusan bank
yang bertentangan dengan kebijakan manajemen risiko yang telah ditetapkan.
• Persyaratan utama struktur unit manajemen risiko :
– cukup memadai dibandingkan kompleksitas dan risiko
– unit operasional dan pelaporan yang terpisah dari unit bisnis
– melapor kepada direktur manajemen risiko ( Chief Risk Officer).
1-97
Tanggung jawab unit manajemen risiko
•
Unit Manajemen Risiko bertanggung jawab untuk :
– memantau pelaksanaan strategi manajemen risiko yang telah ditetapkan Direksi
dan disetujui oleh BI.
– memantau seluruh risiko yang dihadapi bank dan membandingkan dengan
toleransi risiko (appetite).
– memantau tingkat risiko yang terjadi dibandingkan dengan limit risiko untuk setiap
jenis risiko.
– melaksanakan stress tests
– melakukan evaluasi secara periodik atas prosedur dan proses manajemen risiko
(e.g. proses persetujuan kredit, proses pengelolaan piutang macet, dsb)
– menganalisa usulan untuk produk dan jasa baru
– secara periodik melakukan analisa kemampuan model untuk memprediksi risiko
dibandingkan dengan kenyataan yang terjadi, (mis. Memantau kredit macet yang
terjadi dibandingkan dengan yang diprediksi oleh model yang digunakan (grading
models)
– merekomendasikan kepada Komite Manajemen Risiko mengenai semua aspek
proses manajemen risiko.
– melaporkan secara rutin, profile risiko bank kepada Kepala Manajemen Risiko dan
Komite Manajemen Risiko.
1-98
Produk dan jasa baru
• Banks harus mendokumentasikan proses dan prosedur
produk dan jasa baru yang akan diluncurkan, termasuk
otorisasi manajemen.
• Dokumentasi tersebut harus meliputi:
– sistem dan prosedur serta kewenangan dalam pengelolaan produk dan
aktivitas baru
– identifikasi seluruh risiko yang terkait dengan produk dan aktivitas
baru.
– analisa aspek hukum yang berhubungan dengan produk dan jasa baru
tersebut
– sistim informasi akuntansi untuk produk dan aktivitas baru
1-99
Pelaporan
• Bank harus melaporkan profile risikonya kepada Bank Indonesia. Laporan
tersebut harus memuat informasi yang sama dengan laporan Unit
Manajemen Risiko kepada Direksi dan Komite Manajemen Risiko.
– Laporan dibuat per-triwulan dan disampaikan kepada Bank Indonesia
selambat-lambatnya 7 hari setelah akhir triwulan.
• Bank harus melaporkan produk dan aktivitas baru kepada Bank Indonesia
setiap triwulan dalam waktu 7 hari setelah triwulan berakhir.
• Setiap kerugian yang dialami dan jumlahnya material harus dilaporkan
kepada Bank Indonesia segera.
• Bank harus menerbitkan laporan yang memadai mencakup kebijakan
manajemen risiko dan strategi, serta ketaatan terhadap limit risiko,
sebagai tambahan laporan mengenai kondisi keuangan. Laporan harus
disetujui oleh BI.
1-100
Download