Manajemen Resiko

advertisement
Manajemen Resiko
Profil Resiko
Di Susun Oleh :
Dea Deviana Anggraeny
20120730027
Reni Nurhidayah
20120730033
Ananda Syahdini E.P
20120730039
Melinda Dwijayanti
20120730041
Dhyka Rachmaeni
20120730045
Fakultas Agama Islam
Jurusan Ekonomi Perbankan Islam
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2014/2015
1. MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN KONVENSIONAL
Jenis-jenis risikonya adalah sebagai berikut:
a. Risiko kredit yaitu risiko yang timbul apabila nasabah tidak dapat memenuhi kewajibannya
untuk membayar angsuran pokok ataupun margin/bunga sebagaimana telah disepakati dalam
perjanjian pembiayaan/kredit.
b. Risiko pasar adalahrisiko kerugian yang terjadi pada portofolio yang dimiliki oleh bank akibat
adanya pergerakan variabel pasar (adverse movement) berupa suku bunga dan nilai tukar.
Risiko pasar ini mencakup empat hal, yaitu risiko tingkat suku bunga (interest rate risk),
risiko pertukaran mata uang (foreign exchange risk), risiko harga (price risk) dan risiko
likuiditas (likuidity risk).
c. Risiko likuiditas yaitu risiko yang antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan bank untuk
memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo.Bank perlu memelihara dana dalam jumlah
yang memadai dan aktiva lancar untuk mengakomodasi perubahan-perubahan dan permintaan
dana yang muncul dari waktu ke waktu
d. Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh ketidakcukupan atau tidak
berfungsinya prosesinternal, human error, kegagalan sistem atau adanya masalah eksternal
yang mempengaruhi operasional bank. Ada tiga faktor yang menjadi penyebab timbulnya
risiko ini, yaitu (a) infrastruktur, seperti teknologi, kebijakan, lingkungan, pengamanan,
perselisihan dan sebagainya, (b) proses, (c) sumber daya. Risiko ini mencakup lima hal, yaitu
risiko reputasi (reputational risk), risiko kepatuhan (compliance risk), risiko transaksi
(transactional risk), risiko strategis (strategic risk), dan risiko hukum (legal risk).
e. Risiko Hukum adalah Risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek
yuridis.Kelemahan aspek yuridis antara lain disebabkan adanya tuntutan hukum, ketiadaan
peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan seperti tidak
dipenuhinya syarat sahnya kontrak dan pengikatan agunan yang tidak sempurna.
f.
Risiko Reputasi adalah Risiko yang antara lain disebabkan adanya publikasi negatif
yangterkait dengan kegiatan usaha Bank atau persepsi negatif terhadap Bank.
g. Risiko Strategis adalah Risiko yang antara lain disebabkan adanya penetapan dan pelaksanaan
strategi Bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang
responsif Bank terhadap perbuhan eksternal.
h. Risiko Kepatuhan adalah Risiko yang disebabkan Bank tidak mematuhi atau tidak
melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku. Pengelolaan
Risiko Kepatuhan dilakukan melalui penerapan sistem pengendalian intern secara konsisten.
i.
Risiko Transaksi adalah risiko yang disebabkan olehpermasalahan dalam pelayanan atau
produk-produk yang disediakan. Penyebab timbulnya risiko ini antara lain adalah kekeliruan
dalam penetapan akad, kasus-kasusu hokum, system teknologi dan informasi.
Fungsi manajemen risiko adalah :
1.
Menetapkan arah dan risk appetite dengan menagkaji ulang secara berkala dan menyetujui risk
exposure limits yang mengikuti perubahan strategi perusahaan.
2.
Menetapkanlimit, biasanyamencakuppemberiankredit, penempatan non-kredit, assetliability
management, tradingdan kegiatanlainsepertiderivatif dan lain-lain.
3.
Menetapkankecukupanprosedurpemeriksaanuntukmemastikanadanyaintegrasipengukuranrisiko,
kontrolsistempelaporan, dan kepatuhanterhadapkebijakan dan prosedur yang berlaku.
4.
Menetapkan metodologiuntuk mengelolarisiko dengan menggunakan sistem pencatatan dan
peaporan yang terintegrasi dengan sistem komputerisasi sehingga dapat diukur dan dipantau
sumber risiko utama terhadap organisasi bank.
2. MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN SYARIAH
Di Indonesia, pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah tumbuh makin pesat. Krisis
keuangan global di satu sisi telah membawa hikmah bagi perkembangan perbankan syariah.
Masyarakat dunia, para pakar dan pengambil kebijakan ekonomi, tidak saja melirik tetapi lebih dari
itu mereka ingin menerapkan konsep syariah secara serius.
Selain itu prospek perbankan syariah makin cerah dan menjanjikan. Bank syariah di
Indonesia, diyakini akan terus tumbuh dan berkembang. Perkembangan industri lembaga keuangan
syariah ini diharapkan mampu memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional. Harapan tersebut
memberikan suatu optimisme melihat penyebaran jaringan kantor perbankan syariah saat ini
megalami pertumbuhan yang sangat pesat.
Namun demikian masa depan dari industri perbankan syariah, akan sangat bergantung pada
kemampuannya untuk merespons perubahan dalam dunia keuangan. Fenomena globalisasi dan
revolusi teknologi informasi, menjadikan ruang lingkup perbankan syariah sebagai lembaga keuangan
telah melampaui batas perundang-undangan suatu negara. Implikasinya adalah, sektor keuanganpun
menjadi semakin dinamis, kompetitif dan kompleks. Terlebih lagi adanya tren pertumbuhan merger
lintas segmen, akuisisi, dan konsolidasi keuangan, yang membaurkan risiko unik tiap segmen dari
industri keuangan tersebut.
Selain itu, risiko menghadapi sistem keuangan global bukanlah kesalahan tentang
kemampuan menciptakan laba, tetapi yang lebih penting adalah kehilangan kepercayaan dan
kredibilitas tentang bagaimana operasional kerjanya. Oleh karena itu perbankan syariah perlu
membekali diri dengan kemampuan manajemen sistem operasi yang mutakhir untuk menyikapi
perubahan lingkungan tersebut. Salah satu faktor utama yang dapat menentukan kesinambungan dan
pertumbuhan industri perbankan syariah adalah seberapa intens lembaga ini dapat mengelola risiko
yang muncul dari layanan keuangan syariah yang diberikan.
Profil Risiko Perbankan Syariah
Secara historis penerapan manajemen risiko pada bank, dalam hal ini BI sendiri baru mulai
menerapkan aturan perhitungan capital adequacy ratio (CAR) pada bank sejak 1992. Sementara itu,
bank dengan prinsip syariah lahir pertama kali di Indonesia pada tahun yang sama. Jadi jika dilihat
dari usia sistem perbankan syariah, hal ini merupakan tantangan yang berat. Bank syariahpun akan
sangat sulit mengikuti konsep yang telah dijalankan perbankan konvensional dalam hal manajemen
risiko, mengingat perbankan konvensional membutuhkan waktu yang panjang untuk membangun
sistem dan mengembangkan teknik manajemen risiko .
Di lain pihak, operasi bank syariah memiliki karakteristik dengan perbedaan yang sangat
mendasar jika dibandingkan dengan bank konvensional, sementara manajemen risiko juga harus
diimplementasikan oleh bank syariah agar tidak hancur dihantam risiko.Dalam hal ini Islamic
Financial Services Board (IFSB), telah merumuskan prinsip-prinsip manajemen risiko bagi bank dan
lembaga keuangan dengan prinsip syariah. Pada 15 Maret 2005 yang lalu,exposure draft yang pertama
telah dipublikasikan. Dalam executive summary draft tersebut dengan jelas disebutkan bahwa
kerangka manajemen risiko lembaga keuangan syariah mengacu pada Basel Accord II (yang juga
diterapkan perbankan konvensional) dan disesuaikan dengan karakteristik lembaga keuangan dengan
prinsip syariah.
Secara umum, risiko yang dihadapi perbankan syariah bisa diklasifikasikan menjadi dua bagian
besar. Yakni risiko yang sama dengan yang dihadapi bank konvensional dan risiko yang memiliki
keunikan tersendiri karena harus mengikuti prinsip-prinsip syariah.
a. Risiko kredit
b. risiko pasar
c.
risiko benchmark
d. risiko operasional
e.
risiko likuiditas
f.
risiko hukum
risisko diatas yang harus dihadapi bank syariah. Tetapi, karena harus mematuhi aturan
syariah, risiko-risiko yang dihadapi bank syariah pun menjadi berbeda.
Bank syariah juga harus menghadapi risiko-risiko lain yang unik (khas). Risiko unik ini muncul
karena isi neraca bank syariah yang berbeda dengan bank konvensional. Dalam hal ini pola bagi hasil
(profit and loss sharing) yang dilakukan bank syari’ah menambah kemungkinan munculnya risikorisiko lain. Seperti :
a. withdrawal risk
b.
fiduciary risk
c.
displaced commercial risk
Jenis diatas merupakan contoh risiko unik yang harus dihadapi bank syariah. Karakteristik ini
bersama-sama dengan variasi model pembiayaan dan kepatuhan pada prinsip-prinsip syariah.
Konsekuensinya, teknik-teknik yang digunakan untuk melakukan identifikasi, pengukuran, dan
pengelolaan risiko pada bank syariah dibedakan menjadi dua jenis. Teknik-teknik standar yang
digunakan bank konvesional, asalkan tidak bertentangan dengan prinsip syariah, bisa diterapkan pada
bank syariah. Beberapa di antaranya, GAP analysis, maturity matching, internal rating system, dan
risk adjusted return on capital (RAROC).
Di sisi lain bank syariah bisa mengembangkan teknik baru yang harus konsisten dengan prinsipprinsip syariah. Ini semua dilakukan dengan harapan bisa mengantisipasi risiko-risiko lain yang
sifatnya unik tersebut. Survei yang dilakukan Islamic Development Bank (2001) terhadap 17 lembaga
keuangan syariah dari 10 negara mengimplikasikan, risiko-risiko unik yang harus dihadapi bank
syariah lebih serius mengancam kelangsungan usaha bank syariah dibandingkan dengan risiko yang
dihadapi bank konvesional. Survei tersebut juga mengimplikasikan bahwa para nasabah bank syariah
berpotensi menarik simpanan mereka jika bank syariah memberikan hasil yang lebih rendah daripada
bunga bank konvesional. Lebih jauh survei tersebut menyatakan, model pembiayaaan bagi hasil,
seperti diminishing musyarakah, musyarakah, mudharabah, dan model jual-beli,
seperti salam danistishna’, lebih berisiko ketimbang murabahah dan ijarah.
Dalam pengembangannya ke depan, perbankan syariah menghadapi tantangan yang tidak
ringan sehubungan dengan penerapan manajemen risiko ini seperti, pemilihan instrumen finansial
yang sesuai dengan prinsip syariah termasuk juga instrumen pasar uang yang bisa digunakan untuk
melakukan hedging (lindung nilai ) terhadap risiko. Oleh karena BI dan IFSB mengacu pada
aturan Basel Accord II, maka pemahaman yang matang mengenai manajemen risiko bank
konvensional akan sangat membantu penerapan manajemen risiko di bank syariah.
Bank Umum Konvensional wajib menerapkan Manajemen Risiko yang mencakup 8 risiko, yaitu
risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko
stratejik, dan risiko kepatuhan.
Download