1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang dan Perumusan Masalah
1.
Latar belakang masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini
mengakibatkan adanya perubahan pola hidup di masyarakat. Perubahan pola
hidup akan menyebabkan adanya perubahan cara hidup, yang membawa pengaruh
besar terhadap sikap hidup manusia di masyarakat. Hal yang demikian dapat
mengakibatkan masyarakat akan merasa terombang-ambingkan oleh normanorma. Suasana yang demikian menyebabkan kehidupan manusia di masyarakat
terbelenggu oleh adanya benturan-benturan antara hal-hal yang telah mapan
dengan keanekaragaman norma yang baru dikenal. Keadaan yang demikian cepat
atau lambat dapat mengakibatkan makna hak asasi manusia menjadi rancu sebagai
akibat adanya kekaburan batas antara hak dan kewajiban.
Berkaitan dengan kenyataan tersebut di atas, Ulrich Albrecht (1993: 59)
menyatakan bahwa sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi memberi petunjuk
bahwa perkembangan teknologi tidak sepadan berjalan mengikuti hukum alam,
akan tetapi berhubungan erat dengan perkembangan masyarakat. Pada mulanya
manusia masih berpegang erat pada suatu model perkembangan teknologi
seragam, dan tidak tergantung pada pola-pola suatu masyarakat, akan tetapi pada
akhir-akhir ini para ahli sejarah ilmu pengetahuan berkesimpulan bahwa tidak
boleh diandalkan adanya teknologi yang berpola tunggal. Ilmu pengetahuan dan
teknologi, di satu pihak dapat memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia,
1
2
akan tetapi di lain pihak mempunyai kecenderungan mengancam kehidupan
manusia.
Modernisasi yang telah dilaksanakan oleh sebagian dari negara dan bangsa
yang ada di dunia ini, pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari pesatnya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada kenyataannya, dunia
modern yang telah mengukir kisah sukses secara materi dan kaya ilmu
pengetahuan serta teknologi, agaknya tidak cukup memberikan bekal hidupnya
bagi manusia, sehingga hal tersebut menyebabkan manusia modern tersesat dalam
kemajuan dan kemodernannya (Nashir, 1997: vi). Oleh karena itu harus diakui
bahwa dengan modernisasi, manusia telah mampu menunjukkan kemampuan
budinya dalam rangka mengungkapkan misteri alam semesta, yang kesemuanya
itu dapat membantu manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Namun di sisi lain
manusia modern telah kehilangan aspek moral yang digunakan sebagai
rujukannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa modernisasi telah mengabaikan
nilai spiritual transendental, sehingga berakibat kurang memiliki landasan yang
kokoh. Hadirnya pascamodernisme yang diharapkan menjadi tren abad XXI
ternyata tidak mampu memperbaiki kekurangan dari periode sebelumnya, bahkan
pascamodernisme justru lebih rancu dari modernisasi. Modernisasi seharusnya
tetap mengedepankan keseimbangan antara aspek materi dan non materi.
Kemajuan dan peningkatan dalam bidang material seharusnya disertai dengan
peningkatan dalam bidang spiritual, agar ada keseimbangan dalam kehidupan
manusia (Asdi, 1995:1). Dalam konteks pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya, tolok ukurnya adalah nilai-nilai yang telah dimiliki oleh bangsa
3
Indonesia itu sendiri yaitu Pancasila (Siswomihardjo,1982: 137). Berkaitan
dengan hal tersebut, menarik untuk dikemukakan pandangan Alfred North
Whitehead (1978: 208-215) yang menyatakan bahwa pemikiran haruslah
mengarah pada perubahan, kemajuan dan proses. Selanjutnya Whitehead
beranggapan bahwa organisme bukanlah bersifat mekanis, akan tetapi kreatif
dalam rangka memahami suatu realitas yang berdemensi fisik dan non fisik yang
sedang berproses.
Berkaitan dengan modernisasi, Oliver L.Reiser dalam bukunya yang berjudul
Cosmic Humanism (1996:520-521), menyatakan bahwa ada beberapa masalah
kebudayaan manusia modern antara lain: masalah ketenagakerjaan, penderitaan,
kelaparan, kejahatan, remaja, meningkatnya rasa kesukuan, peperangan,
perdamaian, dekadensi moral, konflik, kekerasan, dan kebencian dalam kaitannya
dengan adanya keturunan oleh adanya warna kesadaran sosial masyarakat.
Modernisasi menyebabkan renggangnya ikatan-ikatan sosial, sebagai salah
satu akibat adanya perubahan-perubahan sosial. Suatu hal yang tidak dapat
dipungkiri bahwa salah satu sisi dari adanya perkembangan ilmu pengetahuan
yang kemudian melahirkan produk-produk teknologi, menyebabkan terwujudnya
kesejahteraan umat manusia terutama dari aspek materialnya. Hal itu melahirkan
suatu anggapan bahwa produk teknologi tidaklah sekedar merupakan sarana, akan
tetapi justru dianggap sebagai kebutuhan yang bersifat substansial. Kecuali itu
kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
menyebabkan perubahan sosial. Di tengah-tengah perubahan sosial itu tampak
adanya suatu gejala yang menunjukkan betapa ketatnya dalam proses interaksi
4
sosial, dan bersifat fungsional. Interaksi sosial yang bersifat fungsional banyak
kebaikannya, akan tetapi ada pula kelemahannya, karena tidak setiap individu atau
subsistem pasti dapat berinteraksi secara fungsional dalam suatu masyarakat atau
sistem. Kenyataan yang demikian dapat menyebabkan munculnya kesenjangan
sosial dan permasalahan sosial, yang pada gilirannya dapat melahirkan adanya
konflik. Kondisi yang demikian akan sangat rawan dalam kehidupan sosial
apabila tidak berpegang pada suatu nilai yang telah disepakati.
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dan terutama
sekali dalam hubungan antar etnis dan antar bangsa, hal semacam ini mungkin
akan terjadi, lebih-lebih dalam era globalisasi dan keterbukaan dewasa ini.
Apabila dikaji secara seksama, di beberapa kawasan dalam lingkup internasional
telah terjadi ketidakharmonisan interaksi sosial yang mengarah pada tindakan
kekerasan sebagai contoh yaitu kasus Kashmir (mulai l972 sampai sekarang),
Chehnya (1994), Kamboja (1970), dan Bosnia (1995). Sementara pada lingkup
nasional yaitu Indonesia menunujukkan adanya gejala disharmoni interaksi sosial
contohnya yaitu kasus Kalimantan Barat (1997), Rengasdengklok (1997), Irian
Jaya atau Papua (2004, 2005, dan 2006), Pekalongan (1995 dan 1997), Jakarta
(1998), Tasikmalaya (1996), Ambon (2000), dan Poso (2002).
Kenyataan di atas menunjukkan adanya suatu bukti merebaknya kebencian
yang mendalam, yang seolah-olah menganggap orang lain itu sebagai lawan. Hal
tersebut seolah-olah sesuai dengan adagiun homo homini lupus (manusia adalah
serigala bagi sesamanya), dan belum omnium contra omnes (perang semua lawan
semua), yang dilakukan dengan jalan menghalalkan semua cara untuk mencapai
5
tujuan atau the end justifies the means sebagai prinsip berpikir Machiavelli
(Ridha, 2000: 1; Nashir, 1997: 65). Kesemuanya itu menunjukkan bahwa cinta
antar sesama manusia dan bangsa seolah-olah tenggelam dalam nafsu-nafsu
manusia yang bersifat sesaat, yaitu sekedar memenuhi keinginan-keinginan yang
tidak terkendalikan.
Seorang pemikir dari India yang konsep pemikirannya hingga kini dan untuk
masa-masa yang akan datang masih relevan yaitu Mohandas Karamchand Gandhi.
Radhakrishnan sebagaimana dinyatakan oleh Gedong Bagoes Oka (Sumartana
dkk., l994: 33)
dalam ‘’Mahatma Gandhi: 100 Years : Gandhi Peace
Fondation’’, mengemukakan sebagai berikut :
“Gandhi seorang pemikir yang revolusioner. Ia berikhtiar mengadakan
perubahan total dalam alam manusia. Maka suaranya adalah suara masa
mendatang dan bukan suara yang lemah menghilang dalam peradaban
waktu”.
Apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh Mohandas Karamchand
Gandhi didasarkan pada cinta. Mengenai landasan cinta menurut Mohandas
Karamchand Gandhi sebagaimana dinyatakan oleh Radhakrishnan (Gandhi, l988:
xv) yaitu bahwa semua kegiatannya bersumber pada cinta yang kekal untuk
manusia, karena semua anak manusia bersaudara, dan janganlah hendaknya
manusia yang satu merasa asing terhadap yang lain, dan kebahagiaan semua
manusia (sarvodaya) seharusnya menjadi tujuan dari manusia. Dalam kaitannya
dengan hal tersebut di atas selanjutnya Radhakrishnan (Gandhi, l988: xvii) juga
menyatakan bahwa dahulu Plato pernah mengatakan:
“selalu ada keruntuhan, ketika pola-pola hidup yang telah dikenal mengalami
kemencengan dan keretakan, dan selalu ada beberapa orang yang mendapat
ilham di dunia ini dan berkenalan dengan mereka tak dapat dinilai harganya”.
6
Di samping itu banyak sekali orang yang terpesona pada Mohandas
Karamchand Gandhi karena kebesaran jiwanya, dan kebesaran itu disebabkan
oleh ajarannya yang mendasarkan pada daya cinta universal yang merupakan
kekuatan kebenaran dan mampu merombak situasi sosial politik (Cremers, 1997:
30-32).
Sesungguhnya seluruh jiwa Mohandas Karamchand Gandhi adalah
penjelmaan cinta yaitu cinta terhadap semua makhluk. Akan tetapi cinta itu akan
merupakan racun bila tidak didasarkan pada pertimbangan kesusilaan (Gandhi,
1950: 15, 24, 39). Bagi Mohandas Karamchand Gandhi, cinta itu merupakan
sumber dan tujuan hidup yang sejati, yang dapat digunakan sebagai penawar
kebencian. Kesusilaan adalah suatu kebajikan yang tidak didasarkan pada suatu
keuntungan, akan tetapi oleh suatu hukum yang terdapat pada pribadi yang
melakukan. Kebajikan itu sendiri telah memberikan upah kepada setiap orang
yang melaksanakan. Untuk itu perbuatan susila haruslah didasarkan pada
kesadaran, karena hal itu merupakan suatu kewajiban. Bertolak dari konsep cinta
tersebut, maka lahirlah ahimsa, yaitu ajaran yang tidak membenarkan pemakaian
kekerasan atau pantang kekerasan. Menurut Mark Juergensmeyer dalam bukunya
yang berjudul Fighting With Gandhi, A Step by Step Strategy for Resolving
Everyday Conflicts (1984: 28) dinyatakan bahwa bagi Mohandas Karamchand
Gandhi, ahimsa juga diartikan sebagai suatu sikap yang tidak ingin merugikan
lawan dan tidak bermaksud mengancam keselamatan musuh. Dalam kaitannya
dengan musuh, Mohandas Karamchand Gandhi menyatakan “Our greatest enemy
is not the foreigner, nor anyone else. Our enemies are we ourselves, that is our
7
desires’’(Gandhi, 1996: 7). Dalam ahimsa tidak dikenal istilah melarikan diri dan
meninggalkan yang dicintai, yang artinya bahwa ahimsa itu sebagai suatu
keberanian yang setinggi-tingginya, dan hal tersebut dikandung suatu makna
bahwa ahimsa merupakan awal dan akhir dari keyakinannya (Burgess, 1984: 15).
Berkenaan dengan hal tersebut di atas perlu diteliti, masih relevankah makna
cinta menurut Mohandas Karamchand Gandhi dalam kehidupan manusia pada
umumnya dan Indonesia khususnya dewasa ini dan masa yang akan datang yang
cenderung berubah dan tidak menentu. Lebih-lebih apabila dikaitkan dengan
adanya suatu kecenderungan bahwa transformasi budaya dan sosial masih
diwarnai oleh kekerasan, yang menunjukkan retaknya sendi-sendi solidaritas
sosial. Sekiranya tidak demikian maka hanya manusia yang mampu bertindak
keras saja yang dapat hidup. Inilah sebenarnya yang menjadi permasalahan, dan
untuk itu perlu dicari jalan pemecahannya.
Bagi bangsa Indonesia acuan pemecahan yang bersifat formal sudah ada yaitu
Pancasila. Dalam kaitannya dengan Pancasila, Lasiyo (1992: 34) dalam
disertasinya yang berjudul “Agama Konghucu an Emerging Form of The
Indonesian Chinese”, menyatakan bahwa:
The ethics of Pancasila ethics can be divided into two categories: vertical
and horizontal. The vertical is the relationship between human being and
God, as stated in the first principle. The horizontal is the relationship
between human beings, and between human beings and environment. This is
based on principle of humanity and justice, which means that everyone has
basically the some equal rights and obligations in this world.
Menurut Notonagoro (1995: 95), apabila ditinjau dari sifat kodratnya manusia
itu sebagai diri bersifat pribadi perorangan (individu) dan juga sebagai pribadi
8
hidup bersama, pribadi bermasyarakat atau makhluk sosial. Oleh karena itu di
samping hidup sendiri, juga senantiasa berhubungan dengan manusia lain.
Kenyataan itu menunjukkan bahwa manusia, baik sebelum dilahirkan, sebagai
bayi, anak remaja, dewasa, lanjut usia maupun setelah meninggal dunia selalu
membutuhkan orang lain.
Pancasila adalah sendi-sendi sikap, cara hidup, tujuan dan suasana hidup
bermasyarakat. Selain itu bagi bangsa Indonesia merupakan pokok pangkal sudut
pandangan (Genetivus Subjectivus), atau sering pula dikatakan sebagai postulat
dan paradigma dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam
rangka memberikan penyelesaian kemasyarakatan dan kenegaraan (Soejadi, 1999:
147). Pancasila yang di dalamnya terkandung nilai kerohanian, menurut penulis
sangat tepat apabila digunakan sebagai acuan landasan moral pembangunan
nasional, dengan maksud agar terdapat keseimbangan antara aspek pembangunan
yang bersifat lahiriah dan batiniah. Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa
dalam derap lajunya pembangunan, terasa sekali bahwa aspek lahiriah tampak
menonjol apabila dibandingkan dengan aspek batiniahnya (Supadjar, 1990: 133).
Sebenarnya berbagai macam upaya untuk menghentikan kekerasan telah
dilakukan, misalnya dalam konteks internasional, baik melalui himbauan yang
disampaikan oleh berbagai negara maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dalam konteks nasional, contohnya di Indonesia tindakan kekerasan juga
belum dapat diselesaikan secara tuntas, meskipun pemerintah telah berupaya
untuk mengatasinya. Mengapa demikian, karena pada akhirnya mengenai
permasalahan itu akan sangat tergantung pada manusianya yang secara langsung
9
terlibat dalam tindak kekerasan. Kesemuanya itu menunjukkan betapa
merajalelanya wujud dari kebencian, yang seolah-olah menenggelamkan
kepemilikan perasaan cinta dalam kaitannya dengan sifat kodrat manusia sebagai
makhluk sosial.
Berkenaan dengan kenyataan di atas, maka penelitian mengenai makna cinta
menurut Mohandas Karamchand Gandhi dan relevansinya bagi pengembangan
solidaritas sosial di Indonesia mempunyai hubungan dengan masalah yang lebih
luas, yaitu sebagai landasan moral dalam pengembangan solidaritas sosial
manusia dalam mengatasi tindak kekerasan, baik yang berskala nasional, regional,
maupun internasional. Cinta menurut Mohandas Karamchand Gandhi mempunyai
hubungan langsung dengan Realitas Tertinggi, kebenaran, dan manusianya, maka
akan dibahas pula mengenai aspek metafisika, epistemologi, dan aksiologinya.
Dalam penelitian ini juga akan membahas makna cinta terkait dengan
relevansinya terhadap pengembangan solidaritas sosial di Indonesia serta
membahas makna cinta dari sudut pandang teori yang menyangkut sistem sosial
di Indonesia.
2.
Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan dapat dikemukakan
rumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana pemikiran kefilsafatan Mohandas Karamchand Gandhi?
b. Bagaimanakah hakikat cinta menurut pemikiran Mohandas Karamchand
Gandhi?
10
c. Bagaimana implementasi cinta dalam pemikiran Mohandas Karamchand
Gandhi?
d. Bagaimana manfaat cinta menurut Mohandas Karamchand Gandhi dalam
interaksi sosial di Indonesia?
B. Keaslian Penelitian
Menurut sepengetahuan penulis, penelitian mengenai Mohandas Karamchand
Gandhi telah banyak dilakukan, antara lain : (1) Buku yang berjudul Dimensi Etis
Ajaran Gandhi yang ditulis oleh R. Wahana Wegig, 1986; (2) Skripsi Lucia
Hernawati yang berjudul Konsep Mohandas Karamchand Gandhi Tentang
Manusia Sebagai Pembaharuan Dalam Filsifat India, 1989; (3) Skripsi yang
ditulis oleh Arif Purnomo yang berjudul Konsep Kebenaran Moral Mohandas
Karamchand Gandhi, 1998; (4) Skripsi yang ditulis oleh Suratno yang berjudul
Konsep Manusia Menurut Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948), 1999;
(5) Skripsi yang ditulis oleh L. Soewardjio yang berjudul Perbandingan Antara
Konsep Moral Ki Hadjar Dewantara Dengan Mohandas Karamchand Gandhi
(Sebagai Alternatif Pemecahan Krisis Multi Dimensi di Indonesia), 2006; (6)
Tersis Marietta D. Susilowati yang berjudul Konsep Manusia Menurut Mohandas
Karamchand Gandhi (Suatu Refleksi bagi Pengembangan Sila Kemanusiaan
Yang Adil dan Beradab), 2002; (7) Tesis I Ketut Wisarja yang berjudul
Masyarakat Tanpa Kekerasan (Tinjauan Filsafat atas Konsep Masyarakat
Menurut Mohandas Karamchand Gandhi), 2004; (8) Disertasi Joseph
Thekkinnedath yang berjudul Love of Neighbour in Mahatma Gandhi,1971; (9)
11
Disertasi Johannes Refteuw yang berjudul The Cross of Suffering Love: a
Nonviolent Path to Peace in Tolstoy, Gandhi, and Dauglass, 1987.
Penelitian penulis yang berjudul “Makna Cinta Menurut Mohandas
Karamchand Gandhi (1869-1948): Relevansinya bagi Pengembangan Solidaritas
Sosial di Indonesia” adalah asli dan berbeda, baik mengenai struktur judul
maupun objek material yang ditelaah. Ada perbedaan yang khas antara penelitianpenelitian itu dengan penelitian yang penulis lakukan, yaitu yang menyangkut
landasan cinta, makna cinta, implementasi cinta Mohandas Karamchand Gandhi,
dan relevansinya bagi pengembangan solidaritas sosial di Indonesia.
C. Manfaat dan Tujuan Penelitian
1.
Manfaat penelitian
Menurut Mohandas Karamchand Gandhi, apa yang telah dipikirkan,
dikatakan dan dilaksanakan dalam bentuk eksperimentasi dalam hidupnya yang
ternyata berhasil dengan baik, sampai saat ini masih mengundang adanya
perbedaan pendapat, antara yang mengatakan sebagai sesuatu hal yang baik dan
tidak baik. Menurut penulis apa yang dipikirkan dan apa yang dikatakan, serta
dilaksanakan oleh Mohandas Karamchand Gandhi merupakan sesuatu yang baik
dan bermanfaat. Adapun manfaat penelitian yang berjudul Makna Cinta Menurut
Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948): Relevansinya bagi Pengembangan
Soliodaritas Sosial di Indonesia yaitu:
12
a.
Bagi ilmu pengetahuan, makna cinta dan implementasinya oleh Mohandas
Karamchand Gandhi dapat menambah khasanah hasil penelitian kefilsafatan
pada umumnya, dan filsafat India pada khususnya.
b. Bagi bangsa dan negara, makna cinta dan implementasinya oleh Mohandas
Karamchand Gandhi dapat digunakan untuk pengembangan dan pemantapan
nilai-nilai Pancasila yang senantiasa digunakan sebagai rujukan bagi
pelaksanaan berbagai macam kegiatan, termasuk pembangunan di Indonesia.
Di samping itu juga dapat dimanfaatkan dalam rangka pengembangan
solidaritas sosial di Indonesia.
c.
Bagi peneliti itu sendiri, makna cinta dan implementasinya oleh Mohandas
Karamchand Gandhi, dapat digunakan sebagai pengembangan daya nalar dan
wawasan dalam kaitannya dengan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.
2.
Tujuan penelitian
Penelitian dengan judul Makna Cinta Menurut Mohandas Karamchand
Gandhi (1869-1948): Relevansinya bagi Pengembangan Solidaritas Sosial di
Indonesia, bertujuan:
a.
Untuk menemukan pemikiran kefilsafatan Mohandas Karamchand Gandhi
b.
Untuk menemukan hakikat cinta menurut pemikiran Mohandas Karamchand
Gandhi
c.
Untuk menemukan implementasi cinta dalam pemikiran Mohandas
Karamchand Gandhi
13
d.
Untuk menemukan manfaat cinta menurut Mohandas Karamchand Gandhi
dalam interaksi sosial di Indonesia.
D. Tinjauan Pustaka
Menurut Dhirendra Mohan Datta (1953: 62) bahwa menurut Mohandas
Karamchand Gandhi manusia itu merupakan bagian dari alam, dan tumbuh serta
lenyap sesuai dengan hukum alam. Keberadaan manusia tidak hanya berupa tubuh
(jasmani saja), akan tetapi berupa kesadaran, pikiran, hati nurani, kehendak, dan
perasaan serta semacam kualitas dan potensi yang berupa spirit (semangat) atau
jiwa yang ada pada manusia. Bertolak dari pernyataan tersebut, manusia menurut
Mohandas Karamchand Gandhi terdiri dari jasmani dan rohani. Rohani manusia di
dalamnya terdapat kesadaran, rasio, kehendak, emosi dan rasa keindahan. Dengan
kesadaran manusia mampu mengambil jarak dengan lingkungannya. Adapun rasio
menyebabkan manusia sanggup bertanya dan sekaligus menjawab terhadap
kesadarannya. Sementara dengan kehendak dapat diwujudkan apa yang menjadi
pemikirannya. Emosi menyebabkan manusia dapat mengetahui hubungan antara
sesamanya. Akhirnya dengan keindahan manusia dapat menghargai budaya
bangsa bagaimanapun coraknya (Wegig, 1986: 60). Ungkapan tersebut
sebenarnya hanyalah merupakan sebagian kecil dari seluruh pemikirannya, namun
hal tersebut mengandung suatu makna yang dalam, karena sebenarnya potensi dari
manusia untuk menjadi bagaimana seharusnya menjadi manusia, telah ada dalam
diri manusia itu sendiri. Apabila manusia mempunyai kecenderungan yang
mengarah pada pemikiran, ucapan dan perbuatan yang bertentangan dengan nilai
14
moral, maka dirinya sendiri sebenarnya mampu mengetahui dan memperbaikinya.
Akan tetapi tidaklah demikian halnya, karena tidak dapat dipungkiri banyak orang
yang mengatakan bahwa apabila manusia melihat kebenaran, maka manusia itu
akan melakukannya. Namun tidak mesti demikian, karena walaupun mengetahui
apa yang benar belum tentu manusia memilih yang benar. Mengapa demikian,
karena manusia telah dihinggapi oleh kecenderungan-kecenderungan untuk
melakukan yang tidak benar, yang berarti telah mengkhianati cahaya yang ada
dalam diri manusia (Gandhi, 1988: xiv).
Mohandas
Karamchand
Gandhi
menjadi
terkenal
dikarenakan
oleh
keberanian dalam pemikiran, ucapan, dan tindakannya yang tanpa menggunakan
kekerasan. Sikap yang demikian itu bertumpu pada keyakinannya akan kekuatan
cinta dan persaudaraan universal yang dianggap sebagai suatu potensi kebenaran
yang mampu merubah situasi sosial dan politik. Dalam dimensi sosial, Mohandas
Karamchand Gandhi mampu mengajarkan suatu pandangan tentang identitas
universal spesies tunggal manusia, dengan maksud untuk mempersatukan
pluralitas bangsa di dunia ini. Gagasannya itu dituangkan dalam karyanya yang
berjudul “All Men Are Brothers” (Semua Manusia Bersaudara). Atas dasar
pemikiran itu cintailah semua manusia termasuk musuh sekalipun. Manusia tidak
boleh memaksa lawan dengan cara kekerasan dan penindasan, akan tetapi
hendaknya menusia itu senantiasa memberanikan diri untuk mengubah sikap
lawan atas dasar kemauan bebas. Sementara dalam politik, sejarah telah mencatat
bahwa Mohandas Karamchand Gandhi adalah seorang pejuang kemerdekaan,
yang telah membawa India memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1947.
15
Bertolak dari kenyataan di atas, maka kiranya benar apa yang dikatakan oleh
Albert Einstein yang menyatakan bahwa “Gandhi adalah seorang politikus jenius
terbesar pada masa kita ini”, di mana tanpa budaya etis tidaklah
mungkin terjadi
penyelamatan bagi umat manusia (Cremers,1997: 32, 33, 37, dan 79).
Konsep dan makna pemikiran Mohandas Karamchand Gandhi tentang cinta
dibentuk atas dasar berbagai pengaruh yaitu:
1.
Pengaruh Hinduisme
Hinduisme
mengetengahkan
pencarian
kebenaran,
menghormati
kehidupan, upaya pembebasan dari belenggu hawa nafsu, pengorbanan
segala-segalanya untuk memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, kebajikan,
kejujuran, ketulusan hati, kebersihan hati, cinta, tidak merugikan orang lain,
tabah dan sabar. Menurut Bhagawan Sri Sathya Narayana (Jendra dalam
Supartha ed., 1994: 149-150) bahwa dalam tradisi pemikiran Hinduisme yang
mendasarkan Weda mengetengahkan panca pilar (lima tiang) sebagai nilainilai kemanusiaan (human values) yaitu (a) Satya (truth); (b) Dharma (Right
conduct); (c) Prema (love); (d) Shanti (peace); dan (e) Ahimsa (nonviolence).
Kelima pilar itu bersumber dari Prema (love) atau cinta, dengan pengertian
sebagai berikut. Pertama, love as thought is truth, artinya cinta dalam wujud
pikiran adalah kebenaran (sathya). Kedua, love as action is right conduct,
artinya cinta dalam wujud perbuatan adalah kebajikan (dharma). Ketiga, love
as feeling is peace artinya cinta dalam wujud perasaan adalah kedamaian
(shanti). Keempat, love as understanding is non violence, artinya cinta dalam
wujud pengertian adalah tidak melakukan tindak kekerasan (ahimsa). Selain
16
itu juga dinyatakan bahwa setiap perwujudan manusia adalah (1) Sat, artinya
setiap manusia itu merupakan perwujudan kebenaran; (2) Cit, artinya setiap
manusia itu merupakan perwujudan keberadaan; dan (3) Ananda, artinya
setiap manusia itu merupakan perwujudan kebahagiaan (Susanto dalam Tim
Redaksi Drijakara, peny., 1993: 66).
Dalam tradisi pemikiran Hinduisme, ada suatu keyakinan bahwa “Ibu”
dari kemanusiaan adalah Tat Twam Asi (dalam Chandogya Upanisad) atau So
Ham (dalam Isa Upanisad) atau Aham Brahmo Asmi (dalam Brhadaranyaka
Upanisad). Ketiga hal tersebut di atas artinya “Itu” (Tat) sama dengan kamu;
saya adalah Siwa; dan saya adalah Brahman. Kata-kata tersebut mengandung
makna yang bersifat internal dan eksternal dengan penjelasan bahwa apabila
diri manusia dilihat secara internal, manusia atau makhluk lain menyebut
dirinya Aham Brahmo Asmi (saya adalah Brahman) atau So Ham (saya adalah
Siwa). Sementara apabila diri manusia atau makhluk lain, manusia menyebut
mereka Tat Twam Asi ialah “Itu” (Dia, Tuhan) adalah sama dengan kamu.
Diantara pemikir-pemikir Hinduisme, Mohandas Karamchand Gandhi sangat
tertarik pada pemikiran-pemikiran Hinduisme yang tercantum dalam
Upanisad dan Bhagavadgita, karena isinya banyak menawarkan ajaran moral
dalam rangka mencapai kesempurnaan. Baginya Bhagavadgita bukanlah
sekedar sebagai kitab suci, tetapi lebih dari itu, yaitu dianggap sebagai
“ibunya” (Thekkinedath, 1971: 24).
17
2.
Pengaruh Kristiani
Mohandas Karamchand Gandhi sudah mengetahui Kristiani sebelum ia
pergi ke London untuk melanjutkan studi. Akan tetapi setelah ia berada di
London, ia mulai membaca kitab suci Perjanjian Baru (New Testament),
terutama Khotbah di Bukit. Dia merasa tertarik terhadap isi khotbah di bukit
dan menyentuh hatinya (Thekkinedath, 1971: 24-25; Amaladass, Raj,
Elampassery (ed.,), 1986: 143)
3.
Pengaruh Leo Tolstoy
Mohandas Karamchand Gandhi juga terpengaruh oleh Tolstoy, terutama
melalui bukunya yang berjudul The Kingdom of God is within You. Suatu hal
yang menarik bagi Mohandas Karamchand Gandhi, yaitu apa yang dikatakan
oleh Tolstoy bahwa cinta itu merupakan suatu prinsip tidak melawan dengan
kekerasan dan tidak bekerja sama (Dear, 2007: 233; Thekkinedath, 1971: 29).
4.
Pengaruh John Ruskin
Mohandas Karamchand Gandhi terpengaruh pula oleh pemikiran John
Ruskin, lewat karyanya yang berjudul Unto This Last, yang kemudian buku
itu diterjemahkannya dengan judul Sarvodaya (Richards, 1982: 74).
Konsep dan makna cinta menurut Mohandas Karamchand Gandhi berakar
dari pemikiran Hinduisme, yang kemudian dikembangkan dan dipraktekkan atas
dasar pengaruh dari pemikiran yang berasal dari luar. Cinta menurut Mohandas
Karamchand Gandhi termasuk cinta yang berjenjang tertinggi dan mempunyai
makna yang dalam.
18
Menurut Thoby M. Kraeng (2000: 9-10) cinta adalah suatu sikap hidup
manusia dalam hubungannya dengan sesama manusia dan Tuhan.
Ada tiga
jenjang/model cinta yaitu cinta seksual, cinta erotis, dan cinta agape. Manusia
sebagai makhluk mempunyai kerinduan yang dalam untuk mencintai dan dicintai
serta kerinduan yang dalam itu tergantung dalam cinta agape. Cinta agape adalah
suatu jenjang/ model yang luhur dari Ilahi. Dalam hal ini cinta agape bukanlah
bermakna cinta supaya dicintai, tetapi cinta supaya mencintai. John Powell dalam
bukunya yang berjudul The Secret of Stying in Love (1992: 70 dan 72)
menyatakan bahwa cinta pada umumnya diperkuat oleh perasaan-perasaan
sebagai pendukung, akan tetapi cinta itu sendiri bukan perasaan, sebab apabila
cinta itu perasaan, maka cinta itu dapat berubah, dan cinta yang berubah
merupakan ketidaksetiaan. Cinta yang tulus atau cinta tidak bersyarat haruslah
merupakan hadiah yang diberikan secara cuma-cuma.
Menurut Erich Fromm (Powell, 1992: 74) bahwa :
“Cinta tak bersyarat berhubungan langsung dengan kerinduan yang
paling dalam, bukan hanya kerinduan pada anak tetapi kerinduan pada setiap
manusia; sebaliknya, dicintai karena kepantasan diri atau karena berhak
menerima cinta selalu menimbulkan keraguan; mungkin saya tak dapat
membahagiakan orang yang saya inginkan mencintai saya. Atau mungkin,
selalu ada rasa cemas jangan-jangan suatu waktu cinta akan lenyap. Selain itu,
cinta yang didapat karena kepantasan mudah meninggalkan rasa getir dalam
kesan: orang dicintai bukan karena dirinya, tetapi karena kemampuan
membuat orang lain senang. Ini bukan cinta, tetapi manipulasi (The Art of
Loving)”.
Menurut Mohandas Karamchand Gandhi (Datta, 1953: 75-76 dan 91) cinta
adalah esensi dari moralitas. Baginya moralitas merupakan sesuatu yang sangat
fundamental dalam kehidupan, dan merupakan sumber dari ahimsa. Menurut
sejarah pemikiran India, ahimsa diajarkan pertama kali oleh ajaran Jaina
19
(Jainisme) pada abad ke-6 SM, sebagai suatu reaksi terhadap pemikiran zaman
Brahmana. Pada masa itu Jainisme menganggap bahwa ahimsa diartikan sebagai
suatu perilaku yang tidak melukai, tidak menyakiti, tidak bohong, tidak mencuri
dan melawan ketidaksucian
yang terikat duniawi. Kesemuanya itu harus
diwujudkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari sebagai suatu upaya untuk
mencapai kelepasan (Radhaknishnan, 1957: xxii-xxx). Selain itu ahimsa juga
telah diajarkan oleh Upanisad, Buddhisme dan Hinduisme orthodox (Datta,
1953:88). Akan tetapi yang mengajarkan ahimsa secara radikal ialah Jainisme
yaitu berupa sikap moral yang tidak melukai, tidak merugikan, dan tidak
membunuh mulai dari bakteri atau amuba yang sangat kecil serta tanam-tanaman
hingga manusia. Ahimsa yang pernah
digunakan sebagai referensi (rujukan)
dalam kehidupan Albert Schweitzer itu, kemudian diangkat oleh Mahatma Gandhi
sebagai
prinsip pantang kekerasan dengan lebih
idealistik dan
bersifat
positivistik,
pragmatik (Bilimonia, 1995: 159 ; Lal, 1973: 99). Selain itu
Mohandas Karamchand Gandhi juga menyatakan, bahwa pantang kekerasan
bukanlah merupakan sikap terhadap orang atau golongan yang lemah, karena ada
keyakinan bahwa sejarah telah memberikan pelajaran padanya apabila kebencian
dan kekerasan digunakan untuk tujuan yang mulia sekalipun, akan menghasilkan
hal yang sejenis dan tidak mendatangkan kedamaian, akan tetapi justru
membahayakan (Gandhi, 1988: 61).
Dalam konteks Negara Republik Indonesia penulis berpendapat bahwa cinta
menurut Mohandas Karamchand Gandhi relevan, mengingat sistem sosialnya
bersifat majemuk. Masyarakat yang mempunyai sistem sosial majemuk menuntut
20
adanya solidaritas sosial di antara anggota masyarakatnya, agar integrasi nasional
dapat diwujudkan. Emile Durkheim (1893: 34); Langer dalam Beilharz (2002:
106-107); Abdullah dan Leeden (1986: 13-18) menggolongkan solidaritas sosial
menjadi dua macam, yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Solidaritas
mekanis terjadi karena adanya persamaan individu atau adanya perbedaan yang
masih terbatas. Sementara solidaritas organis terjadi karena telah berkembangnya
perbedaan-perbedaan dalam masyarakat. Dalam hubungannya dengan sistem
sosial Indonesia yang majemuk akan tetapi terintegrasi, Nasikun (1988 : 9-17)
menggunakan pendekatan teoritis yang disebut fungsionalisme struktural
(integration, order approach, equilibrium approach) yang dikembangkan oleh
Talcott Parsons, dan pedekatan konflik non Marxis yang dikembangkan oleh Ralf
Dahrendorf.
Pendekatan
fungsionalisme
struktural
menganggap
bahwa
masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan para anggotanya berdasarkan nilainilai tertentu. Pendekatan konflik beranggapan bahwa:
1. Setiap masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan;
2. Setiap masyarakat mengandung konflik-konflik di dalam dirinya;
3. Setiap unsur dalam masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya
disintegrasi dan perubahan sosial; dan
4. Setiap masyarakat terintegrasi atas dasar penguasaan atau dominasi sejumlah
orang atas sejumlah orang yang lain.
E. Landasan Teori.
Penelitian yang berjudul Makna Cinta Menurut Mohandas Karamchand
Gandhi (1869-1948): Relevansinya bagi Pengembangan Solidaritas Sosial di
21
Indonesia, merupakan penelitian kepustakaan (library research). Objek material
penelitian ini yaitu cinta menurut Mohandas Karamchand Gandhi, objek
formalnya yaitu etika. Penelitian ini selain akan dibahas dari sudut pandang teori
etika juga akan ditelaah menggunakan teori emanasi, teori intgrasi, teori
perubahan sosial, teori solidaritas, dan teori eklektis-inkorporasi. Selanjutnya
bertolak dari latar belakang masalah, perumusan masalah, dan tinjauan pustaka
yang telah dikemukakan, disusunlah suatu landasan teori yang dijadikan penuntun
bagi penulis dalam penelitian dan pemecahan permasalahannya. Adapun landasan
teori yang digunakan adalah sebagai berikut:
1.
Teori etika teleologis (Teleological ethical theory)
Menurut Ali Mudhofir dalam bukunya yang berjudul Kamus Etika (2009:
213-215 dan 470), teleologi berasal dari bahasa Yunani telos yang artinya
akhir, tujuan, keadaan utuh, dan logos yang artinya kajian tentang, prinsip
rasional dari. Atau dapat dikatakan sebagai suatu kajian tentang gejala yang
merupakan keteraturan, rencana, tujuan akhir, cita-cita, kecenderungan,
sasaran dan arah serta bagaimana semuanya itu dapat dicapai dalam proses
perkembangan. Teori etika teleologis beranggapan bahwa akibat atau hasil
dari tindakan moral menentukan nilai tindakan. Di samping itu teori etika
teleologis beranggapan bahwa nilai moral dari suatu tindakan dinilai
berdasarkan pada sejauh mana tindakan itu mencapai tujuannya. Selain itu
dalam teori etika teleologis di dalamnya kebenaran dan kesalahan suatu
tindakan dinilai berdasarkan tujuan akhir yang diinginkn. Ada dua macam
teori etika teleologis, yaitu utilitarianisme tindakan (act utilitarianism) dan
22
utilitarianisme peraturan (rule utilitarianism). Utilitarianisme tindakan sering
pula disebut dengan istilah traditional utilitarianism. Menurut utilitarianisme
tindakan seseorang harus mengajukan pertanyaan “Apa akibat dari perbuatan
saya yang berupa kebaikan dan mengurangi keburukan?. Adapun menurut
utilitarianisme peraturan (rule utilitarianism), seseorang harus mengajukan
pertanyaan “Apa akibat bagi setiap orang yang mengikuti peraturan ini yang
menghasilkan kebaikan dan mengurangi keburukan?
2.
Teori etika deontologis (Deontological ethical theory)
Menurut Ali Mudhofir dalam bukunya yang berjudul Kamus Etika (2009:
141, 143,145-146) deontologis berasal dari bahasa Yunani deon yang artinya
kewajiban moral, yang mengikat secara moral, benar secara moral,
kewajiban, perintah, kemestian, dan logos yang artinya kajian tentang alasan
pokok dari sesuatu, ilmu tentang, dan uraian tentang, kajian tentang konsep
kewajiban (tanggung jawab dan keterikatan). Teori etika deontologis adalah
teori etis yang terutama berkaitan dengan kewajiban moral (moral obligation)
sebagai suatu hal yang benar. Kewajiban moral berkaitan dengan kewajiban
(duty), yang seharusnya, kebenaran moral atau kelayakan. Kewajiban moral
mengandung keharusan melakukan tindakan.
3.
Teori etika keutamaan (Virtue-ethics theory)
Menurut Ali Mudhofir dalam bukunya yang berjudul Kamus Etika (2009:
216) teori etika keutamaan mempelajari keutamaan atau kebajikan (virtue),
23
yaitu sifat watak yang dimiliki oleh manusia. Etika keutamaan tidak
menyelidiki apakah perbuatan manusia baik atau buruk, akan tetapi
menanyakan dan mempelajari apakah perbuatan baik dan buruk. Etika
keutamaan ingin menjawab pertanyaan “Saya harus menjadi orang yang
bagaimana?”. Adapun watak yang mengandung keutamaan antara lain, yaitu;
baik hati, ksatria, belas kasih, terus terang, bersahabat, murah hati, bernalar,
percaya diri, penguatan diri, sadar, suka bekerja bersama, berani, santun,
jujur, terampil, adil, setia, moderat, disiplin, mandiri, bijaksana, peduli, dan
toleran.
4.
Teori emanasi (Emanation theory)
Kata emanasi sering dikaitkan dengan kata panteisme. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (2005: 295 dan 826) arti kata emanasi yaitu sesuatu
yang memancar (mengalir) sedang arti kata panteisme yaitu suatu ajaran yang
menyamakan Tuhan dengan kekuatan-kekuatan alam semesta. Atau dengan
kata lain dapat dijelaskan sebagai suatu pandangan yang menyatakan bahwa
proses penjadian alam semesta dan isinya dialirkan (dipancarkan) dari Tuhan.
Berikut ini penulis kemukakan dua macam teori emanasi, yaitu:
a. Teori emanasi Plotinos (284-269), yang menyatakan bahwa segala
sesuatu yang ada di alam semesta ini mengalir keluar dari “Yang Ilahi”
(Hadiwijono, 1980: 67).
b. Teori emanasi Hinduisme di India, menurut Taittiriya Upanisad bahwa
yang keluar (mengalir) dari Brahman sebagai yang dipertuhan yaitu
24
akasa (ether), dari akasa mengalir hawa, dari hawa mengalir api, dari api
mengalir air, dari air mengalir bumi, dari bumi mengalir tumbuhan, dari
tumbuhan keluar makanan, dari makanan keluar manusia (Hadiwijono,
1971: 20).
5.
Teori integrasi (Integration theory)
Untuk mengetahui struktur masyarakat Indonesia yang secara formal
merupakan negara kesatuan, akan tetapi adakalanya masih terjadi konflik,
maka akan digunakan teori fungsionalisme struktural dan teori konflik (non
Marxis). Teori fungsionalisme struktural dikemukakan oleh Talcott Parsons
dan teori konflik non-Marxis yang dikemukakan oleh Ralf Dahrendorf dapat
digunakan untuk menganalisis berbagai dinamika dan konflik internal serta
adanya hambatan dan tekanan yang ditimbulkan oleh suatu lingkungan
(Poerwanto, 2008: 143).
6.
Teori perubahan sosial (Social change theory)
Perubahan sosial diartikan sebagai suatu perbedaan keadaan yang berarti
dalam unsur masyarakat dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Perubahan sosial juga diartikan sebagai suatu proses perkembangan unsur
sosial budaya dari waktu ke waktu yang membawa perbedaan yang berarti
dalam struktur dan fungsi masyarakat. Adapun teori-teori yang digunakan
untuk mengetahu proses perubahan sosial sebagai berikut. Teori- teori yang
digunakan yaitu teori-teori klasik yang menggunakan pola linier (linier
25
change), pola siklis
(cyclical change), dan gabungan antara teori yang
menggunakan pola linier dan siklis (Hendropuspito, 1989: 256, 263, 266-267;
Sunarto, 2004: 204). Selain itu juga digunakan teori-teori perubahan sosial
yang bersifat modern, yaitu teori modernisasi, teori ketergantungan, dan teori
sistem dunia (Sunarto, 2004: 207-208).
7.
Teori solidaritas (Solidarity theory)
Untuk mengetahui solidaritas sosial di Indonesia digunakan teori
solidaritas Emile Durkheim (Langer dalam Beilharz, 2002:106-107; Abdullah
dan Leeden, 1986:13-18) yang menyatakan bahwa ada dua macam tipe
solidaritas sosial yaitu solidaritas sosial mekanis dan solidaritas sosial
organis.
8.
Teori eklektis-inkorporasi (Incorporation Eclectie theory)
Dalam kaitannya dengan kemungkinan adanya pengaruh aliran filsafat
yang berasal dari luar (asing), bangsa Indonesia tidak senantiasa menolak,
sejauh tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Notonagoro (1974:19)
dalam pidato penganugerahan gelar doctor honoris causa dalam ilmu filsafat
menyatakan bahwa:
“Di dalam menghadapi filsafat dari luar, telah dipikirkan dan diketemukan
tjara untuk mendapatkan kemanfaatan jang sebaik-baiknja dari padanja,
jaitu mengambil adjaran-adjaran kefilsafatan jang merupakan kenjataan
dan kebenaran atau jang disebut secara eklektis, dengan melepaskan dari
dasar sistim atau aliran filsafat jang bersangkutan dan selandjutnja
diinkorporasikan jaitu dimasukkan dalam struktur filsafat Pantjasila,
dengan lain perkataan diganti dasarnja jaitu mendjadi berdasarkan
Pantjasila dan didjadikan unsur jang serangkai dalam struktur filsafat
26
Pantjasila. Misalnja prinsip kefilsafatan demokrasi adalah sebagai
pendjelmaan dari hak kebebasan manusia, di dalam sistim filsafat
Pantjasila tidak didasarkan atas kebebasan manusia sebagai individu
melulu, akan tetapi atas hak kebebasan manusia, sebagai individu dan
makhluk sosial dalam kesatuan dwitunggal jang seimbang, harmonis dan
dinamis. Mungkin metode eklektis-inkorporasi ini dapat mendjadi jalan
mendekatkan sistim-sistim filsafat di dunia.”
F. Metode Penelitian
1.
Bahan atau materi penelitian
Bahan atau materi penelitian yang digunakan dalam penelitian yang berjudul
Makna
Cinta
Menurut
Mohandas
Karamchand
Gandhi
(1869-1948):
Relevansinya bagi Pengembangan Solidaritas Sosial di Indonesia, adalah sebagai
berikut:
a. Sumber primer, yaitu berupa buku-buku atau naskah-naskah yang ditulis
oleh Mohandas Karamchand Gandhi. Adapun buku-buku yang menurut
penulis ada hubungan dengan materi penelitian yaitu:
1) Gandhi’s Autobiography: The Story of My Experiments With Fruth,
Public Affairs Press, Washington, D.C., 1954, secara singkat buku ini
menjelaskan perjalanan kehidupannya mulai dari masa kelahiran, asalusul masa kanak-kanak, masa pendidikan di sekolah menengah di India,
masa studi menuntut ilmu hukum di London, masa pengembaraannya di
Afrika Selatan, dan perjuangannya melawan penjajah Inggris dengan
mengunakan pendekatan ahimsa dan satyagraha.
2) Ethical Religion, Navajivan Publishing House, Ahmedabad, 1968. Secara
singkat buku ini menjelaskan tentang moral yang ideal (tertinggi),
27
perbuatan bermoral atau perbuatan susila, hukum yang mengatasi semua
hukum (hukum tertinggi), religi dan kesusilaan (moral).
3) My God, Navajivan Publishing House, Ahmedabad, 1962. Secara singkat
buku ini menjelaskan tentang arti dan makna Tuhan, kenyataan tentang
Tuhan, sifat Tuhan, Kebenaran adalah Tuhan, Ahimsa, Kejahatan dan
Tuhan, ganjaran, jalan menuju Tuhan, mengabdikan kepada Tuhan,
bhakti sejati, inkarnasi Tuhan, dan makna Tuhan bagi Mohandas
Karamchand Gandhi (Gandhi, 1962: 3-55; Gandhi, 1996: 9-82).
4) All men are brathers: Life and Thoughts of Mahatma Gandhi as told in
his own words, Navajivan Trust, Ahmedabad, 1958. Secara singkat isi
buku itu menjelaskan tentang riwayat hidup, agama dan kebenaran,
ahimsa, pengendalian diri, perdamaian dunia, kemiskinan, demokrasi,
pendidikan , dan wanita.
b. Sumber sekunder, yaitu berupa buku-buku atau naskah-naskah yang tidak
ditulis oleh Mohandas Karamchand Gandhi, akan tetapi erat kaitannya
dengan objek material dan formal penelitian ini. Sumber sekunder yang
digunakan dalam penelitian ini digolongkan sebagai berikut:
1) Buku-buku yang isinya membahas tentang pemikiran Mohandas
Karamchand Gandhi, akan tetapi ditulis oleh orang lain. Buku itu antara
lain yaitu:
a) Chatterjee, Margaret, 1983, Gandhi’s Religious Thought; University
of Notre Dame Press, Indiana.
28
b) Datta, Mohan Dhirendra, 1953, The Philosophy of Mahatma Gandhi,
The University of Winconsin Press, Toronto.
c) Iyer, Raghavan, 1990, The Essential Writing of Mahatma Gandhi,
Oxford University Press, New Delhi.
d) Nanda, R.B., 1985, Gandhi and His Critics, Oxford University
Press, Bombay, Calcuta, Madras.
e) Reddy, S., E., 1995, Gandhiji’s Vision of A Free South Africa,
Jagdish Malhotra for Sancar Pubhishing House, New Delhi.
f)
Richard, Glyn, 1982, The Philosophy of Gandhi: A Study of His
Basic Ideas, Curzon Press, Londan and Dublin.
g) Vyas, Ashwin, 2000, Mahatma Gandhi and Social Stratification,
Archana Publication 286, Chanakya Puri, Sadar, Meerut-250001
(India).
2) Buku-buku yang membahas tentang cinta, antara lain yaitu:
a) Fromm, Erich, 2005, The Art of Loving, Syafi’ Aliel’ha, pen., Fresh
Book, Jakarta Timur.
b) Post G. Stephen, 1951, Unlimited Love: Altruism, Compassion, and
Service, Templeton Foundation Press, Philadelphia and London.
c) Tillich, Paul, 2004, Cinta, Kekuasaan, dan Keadilan, judul asli:
Love, Power and Justice, Muhammad Hardani, pen., Pustaka
Eureka, Surabaya.
d) Kraeng, M., Thoby, SVD, 2000, Cinta yang Memanusiakan,
Cetakan pertama, Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores.
29
e) Powell, John, S.J., 1992, Cinta Tak Bersyarat, Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
3) Buku-buku, jurnal, internet, dan majalah yang merupakan sumber
sekunder yang lain. Data yang berasal dari sumber-sumber tersebut
terutama yang membahas tentang filsafat secara umum, metafisika,
epistemologi, aksiologi, etika, filsafat Pancasila, metode penelitian
filsafat, cinta, sistem sosial Indonesia, teori etika, teori emanasi, teori
integrasi, teori perubahan sosial, teori solidaritas, teori eklektisinkorporasi, kekerasan, dan perdamaian.
2.
Alat penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini ialah berupa buku catatan dan
kartu-kartu untuk menulis data yang berasal dari buku-buku atau sumber-sumber
yang telah dibaca.
3.
Jalan penelitian
Penelitian yang berjudul: Makna Cinta menurut Mohandas Karamchand
Gandhi (1869-1948): Relevansinya bagi Pengembangan Solidaritas Sosial di
Indonesia, apabila dikaji dari makna yang tersirat dalam judul, maka penelitian ini
termasuk tipe penelitian mengenai konsep pemikiran seorang tokoh (filosof). Di
sisi lain apabila ditinjau dari jenisnya, penelitian ini termasuk jenis penelitian
kepustakaan filsafat yang bersifat deskriptif kualitatif (Kaelan, 2005:247). Dalam
melaksanakan penelitian kepustakaan (library research) ini dilaksanakan dengan
30
langkah-langkah yang bersifat teknis dan strategis. Langkah-langkah ini dimulai
sejak persiapan penelitian, samapai dengan pembuatan laporan penelitian (Kaelan,
2005:243). Bertolak dari pengertian langkah-langkah tersebut, maka jalan
penelitian ini dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Persiapan penelitian
Pada tahap persiapan penelitian ini dilaksanakan serangkaian kegiatan
sebagai berikut:
1) Menyusun kerangka penelitian
2) Menyiapkan alat penelitian berupa buku catatan, dan kartu data
3) Mengurus perizinan untuk membaca, mengkopi, dan meminjam bukubuku atau naskah-naskah yang berkaitan dengan objek material dan objek
formal pada perpustakaan yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.
4) Mengurus perizinan untuk membaca dan mengkopi buku dan meminjam
buku-buku atau naskah-naskah yang berkaitan dengan objek material dan
objek formal pada perpustakaan Universitas Hindu Indonesia di
Denpasar, Bali.
5) Mengurus perizinan untuk mengadakan kunjungan dan wawancara serta
mengkopi buku-buku yang ada kaitannya dengan objek material dan
objek formal penelitian pada Ashram Gandhi Candi Dasa milik Ibu
Gedong Bagoes Oka, di Karangasem, Bali.
6) Mengurus perizinan untuk mengadakan kunjungan, dengan maksud
untuk
memperoleh
gambaran
tentang
perkembangan
pemikiran
31
Mohandas Karamchand Gandhi di India dan dunia internasional pada
Kedutaan Besar India di Jakarta.
7) Mengurus
perizinan
untuk
mengadakan
kunjungan
pada
Pusat
Kebudayaan Indonesia di Jakarta dengan maksud untuk membaca,
mengkopi
buku-buku
atau
naskah-naskah
tentang
Mohandas
Karamchand Gandhi, yang ada kaitannya dengan objek material dan
objek formal penelitian
b. Pengumpulan data
Tahapan berikutnya setelah selesai mengurus perijinan ke lembaga-lembaga
sebagaimana dipaparkan pada tahap persiapan penelitian adalah tahapan
pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca buku-buku
sumber, baik primer maupun sekunder. Sumber yang dibaca meliputi buku,
jurnal hasil penelitian, majalah, data dari internet, dan makalah yang ada
hubungannya dengan objek material dan objek formal penelitian. Di samping
membaca sumber, juga dibuat catatan-catatan pada kartu data. Cara mencatat
pada kartu data dilaksanakan dengan beberapa cara yaitu:
1) Mencatat data secara quotasi, artinya data dikutip secara langsung tanpa
mengubah sedikitpun data aslinya. Pencatatan secara demikian dilakukan
terutama untuk data yang bersifat substansial, dan untuk menjaga tingkat
keobyektifannya.
32
2) Mencatat data secara paraphrase, artinya pencatatan data dengan kalimat
yang disusun oleh peneliti sendiri. Catatan yang demikian dibuat setelah
membaca dan menganalisis, yang kemudian dicatat inti sarinya.
3) Mencatat secara synopsis, artinya pencatatan data yang berupa ringkasan
dari hasil pembacaan sumber.
4) Mencatat
secara
précis,
artinya
pencatatan
data
dengan
cara
mengelompokkan berdasarkan kategori data. Pengelompokan itu
misalnya kelompok ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
c.
Reduksi data
Data penelitian yang telah dikumpulkan direduksi dan diseleksi atau
dirangkum, dipilah dan dipilih untuk dapat ditemukan maknanya yang
substansial, dan sesuai dengan objek material dan objek formal dari penelitian
yang dilakukan.
d. Klasifikasi data
Data yang telah direduksi, kemudian dikelompokkan atas dasar ciri masingmasing
objek
formal
penelitian,
yaitu
mencakup
data
metafisika,
epistemologi, aksiologi, filsafat sosial, filsafat Pancasila, dan filsafat
perdamaian (Kaelan, 2005: 69-70, 159-161).
33
e.
Display data
Data yang telah diklasifikasikan, diatur sesuai dengan peta penelitian tentang
Makna Cinta menurut Mohandas Karamchand Gandhi (1869- 1948):
Relevansinya bagi Pengembangan Solidaritas Sosial di Indonesia, dalam
perspektif filsafat Timur pada umumnya dan filsafat India pada khususnya,
serta terutama Filsafat Mohandas Karamchand Gandhi.
4.
Analisis penelitian
Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode sebagaimana
dikemukakan oleh Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair (1994: 63-65) dan
Kaelan (2005: 250-254), yaitu:
a. Deskripsi, artinya peneliti menguraikan secara teratur konsepsi pemikiran
Mohandas Karamchand Gandhi. Selain itu peneliti juga menguraikan secara
cermat mengenai faktor-faktor pemikiran yang mempengaruhinya, dan
kemungkinan pemikirannya juga mempengaruhi para pemikir yang lain.
Langkah demikian peneliti lakukan mengingat Mohandas Karamchand
Gandhi adalah pemikir yang hidup dalam rentang masa tertentu (rentang
sejarah).
b. Periodisasi,
artinya
peneliti
berupaya
mengemukakan
tahapan/
perubahan/perkembangan pemikiran Mohandas Karamchand Gandhi semasa
hidupnya.
c. Rekonstruksi biografis, artinya peneliti menguraikan mengenai riwayat hidup,
keadaan keluarga, lingkungan sosial, budaya, politik, pendidikan, dan pola-
34
pola pemikiran yang berkembang pada masa kehidupan Mohandas
Karamchand Gandhi.
d. Holistika, artinya dalam rangka peneliti memahami konsep-konsep pemikiran
Mohandas Karamchand Gandhi, maka konsep-konsep pemikiran itu harus
dilihat dalam keseluruhan visinya, baik yang menyangkut manusia, alam, dan
Tuhan.
e. Komparasi,
artinya
peneliti
membandingkan
pemikiran
Mohandas
Karamchand Gandhi dengan pemikiran tokoh-tokoh yang lain, baik yang
sama, berbeda, maupun yang bertentangan.
f. Hermeneutika, artinya peneliti berusaha menafsir makna yang substansial
terhadap pemikiran Mohandas Karamchand Gandhi, terutama mengenai cinta.
Dalam hal ini peneliti menganalisis data yang telah dikumpulkan, dipahami
esensinya dalam hubungannya era dewasa ini.
g. Heuristik, artinya setelah peneliti berusaha menemukan makna cinta menurut
Mohandas Karamchand Gandhi, kemudian direnungkan untuk menemukan
pemikiran baru dalam hubungannya dengan kehidupan manusia yang
kongkret dewasa ini.
h. Interpretasi, artinya peneliti berusaha mendalami pemikiran kefilsafatan
Mohandas Karamchand Gandhi, terutama mengenai cinta, dengan maksud
untuk dapat mengetahui makna dan nuansa pemikirannya secara spesifik.
i. Refleksi, artinya peneliti dengan bertolak dari pemikiran Mohandas
Karamchand Gandhi terutama mengenai makna cinta, kemudian dibentuk
35
suatu konsep pemikiran dalam kerangka relevansinya dengan pengembangan
solidaritas sosial Indonesia yang berdasarkan pada filsafat Pancasila.
G. Sistematika Laporan Hasil Penelitian
Laporan hasil penelitian ini penulis susun dengan sistematika sebagai berikut:
Bab kesatu berisi pendahuluan, yang menguraikan tentang latar belakang
masalah, perumusan masalah, keaslian penelitian, manfaat penelitian, tujuan
penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, bahan atau materi
penelitian, alat, jalan penelitian, analisis hasil penelitian, dan sistematika laporan
hasil penelitian.
Bab kedua berisikan pendekatan teoritis terhadap makna cinta menurut
Mohandas Karamchand Gandhi yang mencakup pengertian teori, etika dan
permasalahannya, pengertian etika, pembagian etika, permasalahan etika, dan
manfaat etika, teori etika teleologis (teleological ethical theory), teori etika
deontologis (deontological theory), teori etika keutamaan (virtue-ethics theory)
teori emanasi (emanation theory), teori integrasi (integration theory), teori
fungsionalisme struktural (structural fungsionalism theory), teori konflik (conflict
theory), teori solidaritas (solidarity theory), teori perubahan sosial (social change
theory), teori eklektif inkorporatif (Incorporation eclektie theory)
Bab ketiga berisi tentang pemikiran kefilsafatan Mohandas Karamchand
Gandhi yang menguraikan tentang riwayat hidup Mohandas Karamchand Gandhi,
karya-karya Mohandas Karamchand Gandhi, faktor-faktor yang mempengaruhi
pemikiran kefilsafatan Mohandas Karamchand Gandhi, pengaruh Hinduisme
36
dalam pemikiran kefilsafatan Mohandas Karamchand Gandhi, pengaruh Kristiani
dalam pemikiran kefilsafatan Mohandas Karamchand Gandhi, pengaruh Leo
Tolstoy dalam pemikiran kefilsafatan Mohandas Karamchand Gandhi, pengaruh
John Ruskin dalam pemikiran kefilsafatan Mohandas Karamchand Gandhi,
pengaruh Henry David Thoreau dalam pemikiran kefilsafatan Mohandas
Karamchand Gandhi, pandangan tentang Tuhan menurut Mohandas Karamchand
Gandhi, pandangan tentang alam semesta (dunia), pandangan tentang manusia
menurut Mohandas Karamchand Gandhi, pandangan tentang agama menurut
Mohandas Karamchand Gandhi, dan pandangan tentang moral menurut Mohandas
Karamchand Gandhi.
Bab keempat berisi tentang hakikat cinta menurut Mohandas Karamchand
Gandhi, yang menguraikan tentang pengertian cinta, jenis cinta, pengertian cinta
menurut Mohandas Karamchand Gandhi, landasan ontologis cinta menurut
Mohandas Karamchand Gandhi, landasan epistemologis cinta menurut Mohandas
Karamchand Gandi, dan landasan aksiologis cinta menurut Mohandas
Karamchand Gandi.
Bab kelima tentang kedudukan dan implementasi cinta oleh Mohandas
Karamchand Gandhi, yang menguraikan kedudukan cinta menurut Mohandas
Karamchand Gandhi, implementasi cinta oleh Mohandas Karamchand Gandhi
dalam bidang moral, implementasi cinta oleh Mohandas Karamchand Gandhi
dalam bidang sosial, implementasi cinta oleh Mohandas Karamchand Gandhi
dalam bidang politik, dan implementasi cinta oleh Mohandas Karamchand Gandhi
dalam bidang ekonomi.
37
Bab keenam tentang manfaat makna cinta menurut Mohandas Karamchand
Gandhi dalam interaksi sosial di Indonesia, yang menguraikan struktur
masyarakat Indonesia, fenomena integrasi dan konflik dalam proses perubahan
sosial masyarakat di Indonesia, manfaat cinta menurut Mohandas Karamchand
Gandhi bagi pengembangan solidaritas sosial di Indonesia, dan berbagai pendapat
tentang cinta menurut Mohandas Karamchand Gandi.
Bab ketujuh merupakan bab penutup, yang berisikan tentang kesimpulan hasil
penelitian dan saran penulis untuk penelitian selanjutnya.
Download