Percakapan dengan Jalaluddin Rakhmat

advertisement
Membela Kebebasan Beragama
Percakapan dengan
Jalaluddin Rakhmat
Jalaluddin Rakhmat
Rakhmat, Kepala SMU Plus Muthahhari Bandung. Ia pendiri sekaligus Ketua
Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) dan juga pendiri Islamic College for
Advanced Studies (ICAS) dan Islamic Cultural Cennter (ICC) Jakarta. Ia mendapat gelar MA
studi Komunikasi dan Psikologi dari Iowa State University dan gelar Doktornya
dari Australian National University (ANU).
810
a 24 b
Jalaluddin Rakhmat
Soteriologi merupakan bagian dari pembahasan agama yang berkaitan dengan keselamatan. Setiap agama mempunyai soteriologinya masing-masing. Sementara pluralisme menegaskan bahwa
semua agama berpeluang memperoleh keselamatan pada hari
akhir. Namun begitu, pandangan yang mengatakan bahwa karena
setiap agama selamat sehingga siapapun boleh berpindah-pindah
agama sesuka hatinya adalah keliru. Itu sinkretisme, pandangan
yang mencampur dan menjalankan semua agama sekaligus. Untuk
itu, pluralisme pun tidak bisa hanya diotak-atik dengan logika,
sebab harus dilengkapi dengan pengetahauan filsafat yang memadai, paling tidak filsafat sebagai cara berpikir.
a 811
b
Membela Kebebasan Beragama
Terus bergulirnya kontroversi seputar paham pluralisme di negeri ini, terutama
sejak MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengharamkannya, mendorong kami
untuk beroleh penjelasan dari Anda bagaimana mendudukkan konsep tersebut
dalam hubungannya dengan persoalan keagamaan.
Jika kita mencari (search) kata pluralism dalam internet, maka akan
mendapati bahwa salah satu kategori pluralisme adalah pluralisme yang
dikembangkan oleh para teolog di bidang keagamaan, yakni pluralisme
religius (religious pluralism). Di sana ada kalangan fundamentalis Kristen
yang mengutip Alkitab untuk menolak pluralisme. Sementara itu, yang
mendukung pluralisme agama juga mengemukakan argumentasiargumentasinya dengan berdasarkan Alkitab. Memang, saya kira, kalau
kita mau menyebarkan pluralisme di kalangan kaum Muslim atau di
kalangan umat beragama, kita harus menggunakan dalil-dalil agama.
Mendukung pluralisme tanpa mengemukakan dalil-dalil agama tidak akan
didengar oleh umat beragama.
Membincangkan pluralisme tanpa dalil-dalil agama berarti menempatkan pluralisme sebagai kajian akademis – pluralisme di level sosiologis,
misalnya, di sini pluralisme dipahami sebagai gejala sosiologis ketika masyarakat pada akhirnya berkembang menjadi masyarakat yang pluralistik.
Namun begitu, pluralisme yang hendak kita bahas di sini bukan pluralisme
sebagai gejala sosiologis, tapi sebagai sikap beragama.
Saya kira, mengapa pluralisme kaum liberal cenderung tidak
diterima oleh kaum Muslimin adalah karena mereka tidak mempunyai
rujukan dalam al-Quran dan Sunnah Nabi. Kalangan Muslim akan
berkata, “what are you talking about?”, kalau Anda berbicara tentang
pluralisme sebagai gejala sosiologis. Sebab, Anda tidak perlu menghubungkannya dengan agama, go ahead! Jika dalam konteks tersebut
Anda membincang pluralisme, barangkali saya pun tidak begitu memedulikannya.
Lalu, bagaimana mengkomunikasikan bahasa yang berbeda antara kalangan
fundamentalis yang menolak pluralisme, yang melandaskan diri pada alQuran, dengan kalangan pluralis, seperti Anda yang mendukung pluralisme
dan juga sama-sama merujuk pada al-Quran dan Hadits?
812
ab
Jalaluddin Rakhmat
Saya juga tidak mengerti mengapa ada orang yang mengartikan
pluralisme dengan caranya sendiri. Ada sahabat saya dari kalangan
fundamentalis yang mengartikan
pluralisme sebagai paham yang
Saya menemukan kaum liberal di
menyatakan semua agama benar;
paham yang menyatakan semua Indonesia dalam beberapa hal ternyata
agama sama. Saya sendiri men- anti-pluralisme. Dan saya heran mereka
definsikan pluralisme sebagai mengusung pluralisme tapi pada saat
paham yang menyatakan bahwa yang lain sikapnya sangat tidak pluralis.
Misalnya dalam hal diskusi tentang
semua agama mempunyai peluang untuk memperoleh kese- poligami di televisi. Kaum liberal dalam
lamatan pada hari akhirat. Kalau diskusi tersebut sama sekali tidak bisa
begitu, tidak ada cara apapun
menerima pandangan kaum
untuk berkomunikasi, karena,
fundamentalis. Artinya, kalau kita
bagaimanapun juga, kita tengah
kembali kepada bahwa pluralisme
berbicara tentang makhluk yang
adalah soteriologi, saya menemukan
lain. Jadi kalau kaum fundadalam sikap mereka bahwa kaum
mentalis mengartikan pluralisme
fundamentalis tidak akan selamat.
dengan caranya sendiri, begitupun saya mengartikan pluralisme Mereka berpendapat seperti itu. Kaum
fundamentalis dicap bodoh,
dengan cara saya sendiri pula,
artinya kita mempunyai definisi
kampungan, dan memanipulasi alyang berbeda. Secara filosofis
Quran. Ketika kaum fundamentalis
tidak mungkin terjadi diskusi. berbicara mereka ribut, mereka tidak
Tampaknya kalaupun kita bermau mendengarkan pendapatnya.
tengkar, mungkin kita bertengMenurut saya, akhlak kaum
kar tentang sesuatu yang berbeda.
fundamentalis dalam acara debat di
Ironisnya, perbedaan definisi itu
televisi itu lebih pluralis daripada
dijadikan argumen untuk
kaum liberal.
menentang pluralisme. Mereka
menolak pluralisme karena
pluralisme diartikan macam-macam. Itu menurut saya sesuatu yang
menggelikan.
Termasuk ketika mereka mendefinisikan pluralisme sebagai sinkreatisme
misalnya?
a 813
b
Membela Kebebasan Beragama
Ya. Jika pluralisme diartikan seperti itu jelas keliru. Kaum fundamentalis
menentang pluralisme karena paham ini dianggap tidak jelas, merepresentasikan hal-hal yang berbeda. Penolakan ini tidak tepat. Apalagi jika
pluralisme diartikan sebagai sinkretisme atau relativisme. Sementara kita,
kalangan pluralis, membedakan antara apa itu pluralisme dengan apa yang
disebut sebagai sinkretisme dan relativisme. Bahkan kita juga membedakan
antara pluralisme dengan eksklusivisme. Kalau orang menentang suatu
pendapat dengan mengatakan bahwa pendapat itu mempunyai definisi yang
bermacam-macam, maka yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah
penyamaan definisi.
Berkembang pandangan mutakhir bahwa pluralisme tidak cukup dengan
toleransi, tidak cukup pula hanya dengan dialog teologis, tetapi harus ada
pengakuan politik (political recognition) terhadap kaum minoritas, demi
menciptakan atmosfer kehidupan bersama yang harmonis dan saling peduli
satu sama lain. Sedangkan Kang Jalal sepertinya mempunyai kecenderungan
yang berbeda, tidak merujuk pada konsep maslahat tapi merujuk langsung
kepada al-Quran sendiri. Bagaimana menurut Kang Jalal?
Anda berbicara tentang pluralisme sebagai sebuah ideologi politik.
Itu lain lagi. Ada political pluralism, pluralisme sebagai sebuah ideologi
politik. Tadi saya menyebutkan juga pluralisme sebagai sebuah gejala sosial
yang muncul dalam kehidupan modern. Sementara, dalam perbincangan
ini, saya justru mengemukakan seputar pluralisme dalam kehidupan
beragama (religious pluralism).
Tentu kalau kita berbicara tentang political pluralism, nanti ada orang
berpendapat bahwa tidak cukup pluralisme sekadar menghargai hak-hak
minoritas dan mengakui kebebasan berpendapat, tetapi pluralisme juga
harus memberikan kebebasan kepada orang untuk menjalankan agamanya
masing-masing. Orang seperti itu sedang membawa pluralisme politik
kepada pluralisme religius.
Demikian pula Majelis Ulama Indonesia yang mengatakan bahwa
harus dibedakan antara pluralisme dengan pluralitas. Pluralisme adalah
suatu paham, sedangkan pluralitas menurut mereka adalah kemajemukan
masyarakat yang memang merupakan realitas. Ungkapan seperti ini
814
ab
Jalaluddin Rakhmat
sebetulnya menunjukkan bahwa MUI tidak mengerti tentang pluralisme
sebagai sebuah gejala sosial.
Menurut saya, paham pluralisme politik juga dapat dianggap sebagai
pilar demokrasi. Ini supaya tidak rancu antara satu dengan yang lain. Sebab
di dalam demokrasi itu sendiri terdapat keniscayaan adanya pembelaan
terhadap hak-hak minoritas. Demokrasi juga meniscayakan adanya
perbedaan pendapat.
Karena itu, dalam perbincangan ini saya ingin membatasi pluralisme
hanya dalam konteks religious pluralism (pluralisme agama). Tolong jangan
berbicara pluralisme dalam arti
fenomena sosiologis (pluralisme
Pluralisme adalah pandangan
sosial) atau fenomena politik
bahwa semua agama akan
(pluralisme politik). Sebab di sini
saya membincangkan tentang memperoleh keselamatan. Itu tidak
pluralisme religius. Karena itu di
langsung berakibat pada
sini, barangkali, apa yang saya kekemudahan orang untuk
mukakan tidak bisa bertemu deberpindah-pindah agama.
ngan pandangan pluralismenya
Pluralisme dan pindah agama
Mas Dawam (Prof. Dr. Dawam
adalah suatu hal yang satu sama
Rahardjo). Mas Dawam tidak
lain tidak sama. Untuk pindahmenginginkan pluralisme sebagai
sebuah pluralisme religius. Tapi pindah agama, tidak ada urusan
dengan masalah keselamatan
dia mungkin lebih menekankan
dalam konteks agama.
political pluralism, yakni pluralisme sebagai sebuah ideologi
politik.
Saya ingin menekankan bahwa yang pertama kali harus diselesaikan
ialah apa yang dimaksud dengan pluralisme. Baru setelah itu kita berbicara
dalam definisi yang sama. Kalau tiba-tiba ada orang mengatakan bahwa
pluralisme itu mempunyai arti yang bermacam-macam, saya tidak mau
ikut campur Misalnya tiba-tiba Adian Husaini berkata bahwa pluralisme
sama dengan sinkretisme. Jadi, menurutnya, kalau membicarakan tentang
pluralisme jangan hanya wacana saja, tapi harus dipraktikkan – pagi-pagi
harus salat Subuh di masjid, siang bermisa di gereja, dan sore beribadah
secara Hindu di kuil. Di sini letak kekeliruannya. Dia mengartikan
pluralisme secara keliru. Dia berbicara tentang ‘binatang’ yang lain, bukan
a 815
b
Membela Kebebasan Beragama
‘binatang’ pluralisme yang sedang kita bahas di sini. Orang membicarakan pluralisme memang seharusnya dilengkapi dengan pengetahuan
filsafat yang memadai. Paling tidak filsafat sebagai cara berpikir, misalnya
tentang bagaimana kita mendefinisikan istilah yang kita pergunakan.
Dalam hal ini, saya sangat heran baik kepada kelompok liberal yang
mendukung pluralisme maupun kepada kelompok fundamentalis yang
menentang pluralisme. Karena tampaknya mereka membicarakan makhluk
yang berbeda, binatang yang berbeda, sehingga antara yang satu dengan
yang lain tidak bisa bertemu. Karena itu saya juga tidak heran jika Mas
Dawam mengatakan bahwa debat antara kalangan fundamentalis dan pluralis yang sama-sama mengemukakan argumentasi canggih berdasarkan alQuran adalah debat kusir.
Di sini barangkali Mas Dawam mengalami kebingungan. Bagaimana
mungkin dua pemikiran yang berbeda mendasarkan diri kepada al-Quran,
sebagai sebuah rujukan yang sama dalam memperdebatkan pluralisme.
Kebingungan ini dapat diatasi kalau Mas Dawam mengetahui bahwa
sesungguhnya kedua belah pihak membicarakan suatu hal yang berbeda
meski tetap dalam konteks pluralisme religius.
Perbedaan persepsi tentang pluralisme agama ini dapat diselesaikan,
menurut saya, dengan cara kedua belah pihak sama-sama mendasarkan
argumentasi kepada al-Quran dan mendefinisikan pluralisme dengan
definisi yang sama. Misalnya saya mendefinisikan pluralisme sebagai sebuah
paham keagamaan yang pada gilirannya tentu berpengaruh terhadap sikap
beragama. Pluralisme menurut definisi saya lebih sebagai sebuah paham
keagamaan yang memandang bahwa selain agama kita, yaitu pemeluk
agama lain, juga akan memperoleh keselamatan.
Di dalam teologi, kalau kita berbicara tentang pluralisme religius,
kita harus merujuk pada apa yang disebut sebagai “soteriologi”. Soteriologi
adalah bagian dari pembahasan agama yang berkaitan dengan keselamatan
atau ilmu tentang keselamatan. Setiap agama selalu bercerita siapa saja
orang-orang yang selamat pada hari akhirat nanti. Setiap agama mempunyai soteriologinya sendiri-sendiri.
Dalam hal ini, pluralisme yang kita perbincangkan adalah pluralisme
religius yang merupakan bagian dari soteriologi. Pluralisme yang membicarakan tentang siapa yang akan selamat di hari akhir nanti. Menurut
kaum eksklusivis, secara soteriologis hanya kelompok mereka saja yang
816
ab
Jalaluddin Rakhmat
selamat. Sekali lagi kita berbicara tentang soteriologi, bukan sinkretisme.
Sinkretisme itu makhluk yang lain dan tidak ada hubungannya dengan
soteriologi. Meskipun, bisa jadi, ada juga kalangan pluralis yang sinkretis,
sebagaimana ada juga kalangan pluralis yang ‘fundamentalis’. Karena
kadang-kadang orang mempertentangkan antara fundametalis dengan
pluralis. Padahal tidak demikian. Misalnya, saya kira Syeikh Husain
Fadllullah adalah seorang fundamentalis, Sayyid Rasyid Ridla adalah
seorang fundamentalis. Tapi secara soteriologis mereka adalah orang-orang
yang pluralis.
Orang seperti Mas Dawam
Saya sangat heran baik kepada
tidak dapat mengerti bagaimana
bisa seorang fundamentalis men- kelompok liberal yang mendukung
jadi pluralis. Itu karena dia mem- pluralisme maupun kepada kelompok
buat kategori yang sama tentang
fundamentalis yang menentang
beberapa hal yang berbeda. Mem- pluralisme. Karena tampaknya mereka
bandingkan fundamentalisme, membicarakan makhluk yang berbeda,
pluralisme, dan sinkretisme sama
binatang yang berbeda, sehingga
halnya dengan membandingkan
antara yang satu dengan yang lain
apel, tikus, dan meja. Apa pertidak bisa bertemu. Karena itu saya
bedaan apel, tikus, dan meja?
juga tidak heran jika Mas Dawam
Semuanya tidak ada keterhumengatakan bahwa debat antara
bungan. Sebab pembandingan itu
sesungguhnya merupakan pem- kalangan fundamentalis dan pluralis
yang sama-sama mengemukakan
bicaraan tentang sesuatu yang
tidak ada hubungannya antara argumentasi canggih berdasarkan alsatu dengan yang lain.
Quran adalah debat kusir.
Dalam filsafat, kalau kita
membuat kategori, kita harus
menggunakan kriteria yang sama. Kalau kita memaknai fundamentalisme,
jangan dipertentangkan dengan pluralisme, sebab fundamentalisme
merupakan pengelompokan yang lain dalam kehidupan beragama.
Fundamentalisme mungkin harus dipertentangkan dengan liberalisme.
Itu ada kelompoknya sendiri. Fundamentalisme adalah kecenderungan
untuk menggunakan rujukan-rujukan agama, utamanya teks agama, untuk
menjustifikasi paham kelompoknya. Sementara liberalisme adalah
kelompok yang lebih banyak merujuk kepada konteks daripada teks.
a 817
b
Membela Kebebasan Beragama
Definisi pluralisme bisa merujuk kepada teks dan sekaligus dapat
merujuk pula pada konteks. Pluralisme kaum liberal berdasarkan pada
konteks; sementara pluralisme kaum fundamentalis berdasarkan teks.
Karena itu tidak mengherankan jika Sayid Husein Fadllullah, tokoh
spiritual Hizbullah di Lebanon, adalah seorang yang sangat pluralis. Sayyid
Rasyid Ridla, yang dianggap sebagai orang yang me-Wahhabi-kan tafsirnya
Muhammad Abduh, adalah seorang pluralis. Padahal, Wahhabi sangat
fundamentalis. Oleh karena itu, menjadi jelas di sini bahwa Adian Husaini
yang sangat Wahhabi itu anti-pluralis. Artinya, penganut paham Wahhabi
itu bisa pluralis dan juga bisa anti-pluralis. Kelompok liberal juga bisa
pluralis dan pada saat yang bersamaan bisa anti-pluralis.
Saya menemukan kaum liberal di Indonesia dalam beberapa hal
ternyata anti-pluralisme. Dan saya heran mereka mengusung pluralisme
tapi pada saat yang lain sikapnya sangat tidak pluralis. Misalnya dalam hal
diskusi tentang poligami di televisi. Ini sekadar contoh. Kaum liberal
dalam diskusi di televisi itu sama sekali tidak bisa menerima pandangan
kaum fundamentalis. Artinya, kalau kita kembali kepada bahwa pluralisme
adalah soteriologi, saya menemukan dalam sikap mereka bahwa kaum
fundamentalis tidak akan selamat. Mereka berpendapat seperti itu. Kaum
fundamentalis dicap bodoh, kampungan, dan memanipulasi al-Quran.
Ketika kaum fundamentalis berbicara mereka ribut, mereka tidak mau
mendengarkan pendapatnya. Menurut saya, akhlak kaum fundamentalis
dalam acara debat di televisi itu lebih pluralis daripada kaum liberal.
Mereka, kalangan liberal, menganggap kaum fundamentalis pasti celaka
sebab dianggap merusak Islam.
Ada pandangan yang memperlawankan pluralisme dengan monisme, demi
mencoba untuk mengatasi problem monisme yang rentan berbuah totaliter.
Bagaimana pendapat Anda?
Meskipun tidak mengambil spesialisasi filsafat, saya juga belajar filsafat.
Di rumah saya, mungkin buku-buku filsafat lebih banyak ketimbang bukubuku yang lain, bahkan buku komunikasi sekalipun. Jadi kalau ada orang
menyebut istilah-istilah filsafat seperti monisme, bayangan saya segera
berpikir tentang monisme di dalam filsafat. Pikiran saya langsung pergi
menuju Spinoza. Dan monisme Spinoza sama sekali tidak ada hubungannya
818
ab
Jalaluddin Rakhmat
dengan pluralisme religius yang kita bicarakan ini. Spinoza bukan seorang
teolog, tapi lebih merupakan seorang filosof. Saya pernah menulis artikel
“Spinoza: Ateis yang Paling Bertuhan”. Yang ingin saya tekankan adalah
bahwa monisme sama sekali tidak ada hubungannya dengan pluralisme
yang kita bicarakan. Sekali lagi, pluralisme yang kita bicarakan adalah
pluralisme religius. Bukan pluralisme filsafat.
Dalam filsafat, pluralisme memang dipertentangkan dengan monisme.
Secara sederhana, pluralisme menganggap bahwa yang ada itu banyak dan
berbeda-beda. Monisme menganggap bahwa yang ada itu hanya
satu; perbedaan hanyalah penam- Saya sendiri mendefinsikan pluralisme
sebagai paham yang menyatakan
pakan, fase atau fenomena dari
yang satu. Monisme juga diperbahwa semua agama mempunyai
tentangkan dengan dualisme.
peluang untuk memperoleh
Dualisme membedakan antara
keselamatan pada hari akhirat.
tubuh dan jiwa, materi dan roh,
obyek dan subyek. Pandangan
filsafat yang menolak perbedaan itu atau keyakinan untuk
menggabungkan segenap perbedaan pada tingkat yang lebih tinggi disebut
monisme.
Isaiah Berlin mencoba mempertentangkan antara pluralisme dengan
monisme. Pertentangan ini ada benang merahnya sejak zaman pemikiran
Plato sampai pemikiran yang mutakhir. Ada pemikiran yang cenderung
pluralistis dan ada pula yang monistik.
Saya kira saya harus mengutip langsung Isaiah Berlin tentang apa yang
dia maksud dengan monisme sebagai lawan dari pluralisme, “Musuh
pluralisme adalah monisme, kepercayaan kuno bahwa ada satu harmoni
dari berbagai kebenaran, yang jika genuin, di situ semuanya pada akhirnya
akan serasi.” Akibat kepercayaan ini (sesuatu yang berbeda tapi berdekatan
dengan apa yang disebut Karl Popper sebagai esensialisme – yang menurutnya
sumber segala kejahatan) adalah bagi orang yang tahu harus menguasai orang
yang tidak tahu. Orang yang tahu jawaban tentang masalah kemanusiaan
harus dipatuhi, karena mereka sajalah yang tahu bagaimana seharusnya
masyarakat diorganisasikan, bagaimana kehidupan individu harus diatur,
a 819
b
Membela Kebebasan Beragama
dan bagaimana budaya harus dikembangkan. Inilah keyakinan Platonis
tentang konsep filosof-raja. Selalu ada pemikir yang berpendapat bahwa
jika hanya ilmuwan, atau orang yang dilatih sebagai ilmuwan saja yang
mengatur, maka dunia akan luar biasa baiknya. Untuk hal ini, saya harus
mengatakan bahwa tidak ada alasan yang lebih baik, bahkan tidak ada dalil
yang lebih kuat dari monisme untuk membenarkan despotisme tak terbatas
bagi kaum elit untuk merampok kebebasan dari mayoritas.
Apakah pertentangan itu sama sekali tidak dapat dikaitkan dengan agama,
terutama cara pandang umat atas agamanya?
Memang dari segi kata-kata pluralism berasal dari kata plural, yang
artinya banyak (al-katsrah). Sedangkan monism asalnya berasal dari kata
mono, yang artinya tunggal. Jadi di sini pluralisme artinya paham yang
menghargai al-katsrah (kebhinekaan) atau ilmu dan pandangan yang
menganggap alam semesta ini sebagai sesuatu yang banyak. Sedangkan
monisme memandang alam semesta ini sebagai sesuatu yang tunggal.
Jika ini dihubung-hubungkan dengan agama sulit menemukan
relevansinya. Kalaupun dipaksakan, mungkin begini: pluralisme religius
yang kita bahas adalah pandangan yang mengakui keragaman; sementara
monisme adalah pandangan yang ingin menunggalkan semuanya. Seperti
kebijakan asas tunggal, itu adalah bentuk dari monisme, sedangkan
demokrasi adalah bentuk dari pluralisme.
Tampaknya pertentangan tentang pluralisme masih berkisar pada
definisi yang bermacam-macam. Sebelum kita menjernihkan apa yang
kita bicarakan, diskusi ini akan menjadi debat kusir yang berkepenjangan.
Saya setuju dengan Mas Dawam dalam hal itu. Selama Mas Dawam tidak
merujuk dengan jelas tentang apa yang dia bicarakan, kita akan debat
berkepanjangan. Kita harus mendudukkan masalahnya terlebih dahulu,
apakah pluralisme sebagai filsafat, pluralisme dalam konteks agama, atau
pluralisme sebagai gejala sosial.
Menurut saya, masih bagus Wikipedia di internet dalam membicarakan pluralisme ketimbang perbincangan kita sekarang. Karena Wikipedia
membincangkan pluralism mulai dari pluralisme itu sendiri, lalu membaginya ke dalam; religious pluralism, sociological pluralism, dan political
pluralism. Kalau mau berbicara tentang pluralisme agama, tinggal kita
820
a 10 b
Jalaluddin Rakhmat
klik saja religious pluralism. Itu untungnya internet. Fungsi klik di sini
adalah untuk membatasi pembahasan. Karena kalau dicari kata pluralisme
di internet, akan disajikan sekian juta informasi tentang kata itu. Tapi
kalau Anda mencari di “religious pluralism”, maka yang akan keluar hanya
hal-hal yang berkenaan dengan pluralisme religius. Dan yang berkaitan
dengan itu adalah inklusivisme, ekslusivisme, dan pluralisme.
Wikipedia kemudian juga mengatakan, jangan mengacaukan
pluralisme religius dengan sinkretisme atau relativisme, walaupun kadangkadang ada pertemuan, overlapping, misalnya bahwa pluralisme itu
menolak adanya absolutisme. Oleh karena itu orang kemudian berpikir
bahwa pluralisme sama dengan relativisme.
Ada sebuah buku yang mengkritik pluralisme sebagaimana tertuang
dalam buku John Hicks, Deep Religious Pluralism. Editornya: David Ray
Griffin. Buku itu menyajikan kelemahan John Hicks dalam memFundamentalisme adalah
bahas pluralisme. Kelemahannya
kecenderungan untuk menggunakan
misalnya tatkala Hicks membicarujukan-rujukan agama, utamanya
rakan pluralisme berdasarkan dalilteks agama, untuk menjustifikasi
dalil dari Bibel. Itu dikritik dengan
paham kelompoknya. Sementara
menggunakan dalil-dalil dari kitab
yang sama, sembari kemudian liberalisme adalah kelompok yang lebih
menjernihkan pengertian plubanyak merujuk kepada
ralisme yang generik. Buku itu
konteks daripada teks.
bagus sekali dalam mebicarakan
pluralisme religius, meski konteksnya adalah agama Kristen. Namun demikian di dalamnya juga terdapat
pluralisme menurut Sayyed Hossein Nasr seperti dijelaskan oleh Mustafa
Ruzgar; pluralisme dari kalangan Hindu oleh Jeffrey D. Long; pluralisme
Yahudi oleh Sandra B Lubarsky, dan sebagainya. Buku tersebut dan buku
Hicks membicarakan pluralisme dalam dataran yang sama, pluralisme sebagai
makhluk yang tunggal, yakni pluralisme religius.
Begitulah seharusnya membahas pluralisme religius. Di kalangan umat
beragama, pluralisme dikenal dengan beberapa jenisnya. Dari kalangan
Islam misalnya Sayyed Hossein Nasr, yang merupakan seorang filosof,
seorang teolog, seorang perennialis, dan bukan seorang politikus. Jadi dia
mempunyai otoritas untuk berbicara tentang pluralisme.
821
a 11
b
Membela Kebebasan Beragama
Kembali pada perbincangan tentang soteriologi, apakah dengan konsep ini
kita dapat mengatakan bahwa semua agama benar, sehingga orang dapat
berpindah agama dengan mudahnya?
Orang membicarakan pluralisme sebagai paham semua agama benar,
berarti telah membicarakan sesuatu yang lain. Karena definisi sebenarnya
dari pluralisme adalah pandangan bahwa semua agama akan memperoleh
keselamatan. Itu tidak langsung berakibat pada kemudahan orang untuk
berpindah-pindah agama. Pluralisme dan pindah agama adalah suatu hal
yang satu sama lain tidak sama. Untuk pindah-pindah agama, tidak ada
urusan dengan masalah keselamatan dalam konteks agama. Bahkan,
menurut saya, orang pindah agama akan terjadi kalau hanya satu saja agama
yang selamat. Misalnya seorang Kristen berdiskusi dengan seorang Muslim,
lalu dia menemukan dalam diskusi tersebut bahwa ternyata yang akan
selamat hanya Islam, maka ia berpindah kepada Islam. Tapi kalau ia
berpendirian bahwa semua agama selamat, apa perlunya berpindah agama?
Itu argumentasi dari Ulil Abshar-Abdalla. Ini merupakan argumentasi
yang menurut saya paling bagus yang pernah saya dengar. Argumentasi
ini menolak pandangan bahwa karena setiap agama selamat maka setiap
orang boleh pindah-pindah agama setiap saat. Pandangan ini nanti akan
dibawa ke arah sinkretisme, yaitu pandangan yang mencampurkan semua
agama atau menjalankan semua agama sekaligus karena semuanya dianggap
memberi jalan keselamatan.
Menurut saya, kemungkinan pindah agama lebih besar pada orang yang
menentang pluralisme; yang menganggap hanya ada satu agama yang benar.
Jika orang ragu bahwa yang selamat itu cuma satu agama saja, maka pilihan
yang paling baik supaya probabilitas statistiknya tinggi, kita menjalankan
seluruh agama. Ini dilakukan supaya paling tidak ada yang pas, yang
menyampaikan kita pada keselamatan. Kalau cara bepikirnya begini, maka
beragama itu seperti berjudi. Kalau kita lebih banyak membeli kartu lotere,
maka kemungkinan kita akan menang lebih besar, sebab hanya satu kartu
lotere saja yang menang. Maka kita pun membeli kartu lotere sebanyakbanyaknya. Lain halnya jika kita tahu bahwa semua kartu menang. Ketika
kita sudah memegang satu kartu, kartu yang sudah kita punya tidak perlu
diganti lagi. Jadi, sangat keliru orang yang berpikir bahwa pluralisme
membuat kita boleh berpindah-pindah agama.
822
a 12 b
Jalaluddin Rakhmat
Ada pandangan yang mengatakan bahwa agama yang pluralis lebih tepat
jika dialamatkan pada agama-agama non-Semitik, seperti Hindu, Budha,
atau yang lainnya. Sebab agama Semitik, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi
memiliki doktrin evangelic, seperti konsep misionaris atau dakwah, yang
mengasumsikan kelompok lain harus diselamatkan dengan memeluk
agamanya. Bagaimana pandangan Kang Jalal?
Mungkin saja. Tapi, coba kita lihat dulu Hindu. Hindu sebetulnya
bukan sebuah agama. Ia bukan a single religion (agama yang satu). Hindu
merupakan a collection of religions
(kumpulan agama-agama). Jadi
Di dalam teologi, kalau kita berbicara
kalau Islam disebut dengan Istentang pluralisme religius, kita harus
lamic religion tanpa huruf “s”,
merujuk pada apa yang disebut
Hindu harus menggunakan huruf
“s”, Hindic religions. Itu penjelasan sebagai “soteriologi”. Soteriologi adalah
kepada saya dari seorang Hindu bagian dari pembahasan agama yang
dalam sebuah konferensi inter- berkaitan dengan keselamatan atau
nasional.
ilmu tentang keselamatan. Setiap
Ada banyak aliran di dalam
agama selalu bercerita siapa saja
Hindu. Apalagi jika kita meman- orang-orang yang selamat pada hari
dang Hindu sebagai agama yang
akhirat nanti. Setiap agama
politeistik. Ada sekelompok
mempunyai soteriologinya
Hindu yang mengambil Wisnu
sendiri-sendiri.
sebagai Tuhan. Ada yang
mengambil, bahkan, Batari
Durga sebagai Tuhannya. Mereka terbiasa di dalam sistem itu, yakni sistem
kepercayaan yang bermacam-macam. Bahwa semua dewa adalah ekspresi
dari ketuhanan yang tunggal. Kalau dalam istilah tasawuf, semua dewa
itu hanyalah tajalliyah (penampakan) dari Allah Yang Esa. Jadi melalui
dewa manapun, menurut orang tasawuf, sama seperti melalui sistem (keberagamaan) manapun kita akan sampai kepada Allah. Sebagaimana sufi
di dalam Islam bisa berpendapat bahwa ada manifestasi dari jamâliyah
(keindahan) Tuhan dan ada manifestasi dari jalâliyah (keagungan) Tuhan,
orang Hindu juga berpendapat ada manifestasi dari Wisnu dan ada pula
manifestasi dari Shiwa.
823
a 13
b
Membela Kebebasan Beragama
Jadi, memang Hindu sudah pluralis. Tetapi harap dipahami bahwa
pluralisme terdapat di dalam agama Hindu itu sendiri karena banyaknya
Tuhan. Dari sini ada orang yang mengambil kesimpulan bahwa Hindu
itu cenderumg pluralistik karena politeistik. Sementara agama-agama
Semitik, karena sifatnya yang monoteistik, cenderung untuk eksklusivis.
Saya lebih suka memakai kata eksklusivis karena dalam konteks pluralisme
ada dua model cara pandang yang saling bersinggungan, yakni eksklusivisme
dan inklusivisme. Bukan menghadap-hadapkan pluralisme dengan
fundamentalisme. Sebab fundamentalisme merupakan kelompok yang
lain, yakni satu kelompok bahasan dengan liberalisme.
Kalau kita mau membincang tentang mistisisme, maka harus berbicara
tentang mistisisme dan hubungannya dengan, misalnya, formalisme.
Sedangkan kalau kita berbicara tentang tasawuf maka jangan hubungkan
dengan pluralisme, tapi kita hubungkan dengan fikih atau kalam. Itu tiga
kelompok pemikiran di dalam Islam. Di dalam fikih, ada yang pluralis dan
ada pula yang eksklusivis, walaupun pada umumnya kaum sufi lebih pluralis
daripada orang-orang fikih. Itu hanya akibat berikutnya saja. Kita tidak bisa
mengklasifikasikan pluralisme, fikih, dan tasawuf dalam rubrik yang sama.
Orang yang mempunyai kecenderungan politeistik dan mistik lebih
kuat, seperti Hindu, tidak secara otomatis menjadi pluralis. Karena, ada
juga Hindu yang eksklusivis, bahkan lebih eksklusif dari orang-orang yang
monoteistik. Sekarang ini di India ada sekelompok Hindu yang sangat
eksklusif yang sering memicu konflik dengan umat Islam.
Termasuk kelompok yang anggotanya membunuh Mahatma Gandhi?
Ya, termasuk yang membunuh Gandhi. Mereka juga pernah membantai kaum Muslimin. Kecenderungan eksklusif ini juga ada dalam kalangan orang yang dikenal terpelajar. Buku terakhir yang saya baca, The
End of Faith, tulisan Sam Harris, mengkritik agama dengan keras. Dia
menekankan perlunya agama disingkirkan dari kehidupan. Buku itu
mengkritik Islam, mengkritik Hindu, dan mengkritik juga orang-orang
yang beragama secara moderat. Menurut pengarang buku itu, tidak
mungkin seorang yang beragama itu moderat.
Dia juga mengkritik orang yang beragama secara pluralis. Baginya,
beragama dan pada saat yang bersamaan menjadi pluralis, itu mustahil
824
a 14 b
Jalaluddin Rakhmat
alias contradictio in terminis. Meski demikian, buku itu berbicara dalam
dataran yang jelas. Apa yang disebut sebagai pluralisme dia definisikan
dengan gamblang. Sehingga alur pembahasannya dapat diikuti dengan
enak.
Jadi, kembali ke persoalan awal, tidak benar bahwa agama Hindu
lebih pluralis dibanding agama lainnya. Untuk konteks agama Hindu
sendiri (within Hinduism), barangkali, benar bahwa agama ini sangat
pluralistik – kalau dibandingkan dengan Islam, yang mungkin karakter
pluralistiknya baru pada tahap penghargaan antara mazhab saja,
sebagaimana yang dilakukan oleh ahli-ahli fikih. Para ahli fikih, seperti
yang sudah saya kutip dalam
buku saya, Dahulukan Akhlak di
Atas Fikih, mempunyai prinsip: Definisi pluralisme bisa merujuk kepada
madzhabunâ shawâb yahtamilu teks dan sekaligus dapat merujuk pula
al-khata’ wa madzhabu ghayrinâ pada konteks. Pluralisme kaum liberal
khatha’ yahtamilu al-shawâb berdasarkan pada konteks sementara
(mazhab kami benar tapi
pluralisme kaum fundamentalis
mungkin mengandung kesalahan,
berdasarkan teks.
dan mazhab selain kita salah tapi
barangkali juga mengandung
kebenaran). Menurut saya, para imam mazhab fikih sebenarnya pluralis,
dalam pengertian seperti orang-orang Hindu.
Dalam konteks pluralisme Kristen, terdapat eukumene, sedangkan Katolik
melalui Konsili Vatikan II mengakui ada keselamatan di luar gereja.
Sementara dalam konteks Islam sendiri apakah ada doktrin atau otoritas
keagamaan yang menyerukan bentuk-bentuk pluralisme?
Mengutip Romo Benny Susetyo, dalam sejarah Katolik pluralisme
merupakan suatu hal yang baru. Terutama setelah adanya hasil dari Konsili
Vatikan II yang tokoh utamanya adalah John Paul II, atau Paus Paulus II.
Sebelum itu, Katolik adalah agama yang sangat tidak pluralis. Pluralisme
religius yang kita bahas pada mulanya muncul di kalangan Protestan.
Protestan tidak mempunyai otoritas keagamaan. Aliran dalam Protestan,
menurut orang Katolik, bisa muncul setiap musim. Kapan saja seorang
pemikir Kristiani menemukan pendapat yang baru, dia dapat mendirikan
825
a 15
b
Membela Kebebasan Beragama
sebuah gereja yang baru. Di Indonesia, yang tergabung dalam PGI saja
ada lebih dari 300 aliran. Itu yang terdaftar secara resmi. Sementara masih
ada beberapa aliran yang tidak terdaftar seperti Saksi Jehova (Jehovah
Witness) dan sebagainya. Arus pluralisme pertama kali sebetulnya muncul
dari kelompok Protestan. Sementara Katolik mempertahankan sikap antipluralisme selama berabad-abad. Protestanlah yang mulai mengarusutamakannya meskipun benih-benih pluralisme ini sudah muncul di dalam
Katolik sejak lama. Menurut Romo Benny, yang membedakan Katolik
dan Protestan adalah: Katolik berpijak pada tradisi sementara Protestan –
karena pemikirannya lebih terbuka sehingga – tidak merujuk pada tradisitradisi.
Dapatkah Anda menemukan rujukan atau preseden dalam Islam tentang
adanya keselamatan di luar Islam?
Nabi Muhammad saw sebetulnya sangat pluralis. Tentu Nabi tidak
mengumumkan terminologi pluralisme, tapi tentang keselamatan di luar
Islam. Jika kita memakai rujukan Nabi saw sebagai figur pluralis, maka
kita harus mengutip teks-teks Hadits. Tidak bisa kita hanya mengotakatiknya dengan logika (otak).
Apa betul Rasulullah seorang pluralis? Di sini saya harus merujuk
kepada teks-teks, misalnya tentang bagaimana Nabi saw menjelaskan ayat
lâ ikrâha fî al-dîn (tidak ada paksaan dalam agama). Ayat ini sangat
pluralistis, namun begitu sekarang dipahami orang menjadi sangat
eksklusivis. Coba sekarang kita bertanya kepada ustad-ustad kebanyakan,
apa makna tidak ada paksaan dalam beragama. Mereka tentunya menjawab:
‘tidak ada paksaan dalam agama’ di sini mengisyaratkan bahwa seseorang
boleh masuk Islam atau boleh tidak. Tetapi, begitu seseorang sudah masuk
Islam, dia harus dipaksa.
Biasanya penjelasan yang diberikan bersifat analogis bukan penjelasan
logis. Misalnya tentara. Tidak ada paksaan untuk menjadi tentara. Tetapi
begitu seseorang telah menjadi tentara, dia harus mematuhi semua aturan
militer. Dia harus dipaksa untuk mematuhi hukum ketentaraan. Itu penafsiran analogis atas ayat “tidak ada paksaan dalam agama.” Tapi bagaimana
Nabi saw menjelaskan ayat itu dalam teks dan konteks waktu itu?
826
a 16 b
Jalaluddin Rakhmat
Meskipun kita tidak dapat menunjuk siapa orang yang pertama kali
memopulerkan istilah pluralisme di dunia Islam, tapi yang jelas praktik
pluralisme sudah berjalan sejak zaman Rasulullah saw. Sayyid Rasyid Ridla
di dalam tafsirnya menjelaskannya dengan baik bagaimana beliau bersikap
dan mempraktikkan pluralisme ini. Sayyid Rasyid Ridla menyebutkan
beberapa riwayat. Pertama, ada seseorang Sahabat bernama Abul Hushayn.
Dia mempunyai dua orang anak yang salah satunya bernama Hushayn.
Abul Hushayn sedih dan marah melihat dua anaknya yang masih mudamuda itu masuk agama Kristen.
Mereka masuk Kristen karena
Kalau kita mau membincang tentang
pada waktu itu banyak pedagang
mistisisme, maka harus berbicara
Kristen dari Syam ke Madinah.
Kedua anak Abul Hushayn meng- tentang mistisisme dan hubungannya
dengan, misalnya, formalisme.
ikuti agama para pedagang itu.
Sedangkan kalau kita berbicara
Bapak yang merupakan Sahabat
tentang tasawuf maka jangan
Nabi ini kemudian membawa
anaknya ke hadapan Rasulullah, hubungkan dengan pluralisme, tapi
“Ya Rasulullah, anak saya ini pinkita hubungkan dengan fikih atau
dah agama. Saya tidak mau anak kalam. Itu tiga kelompok pemikiran di
saya masuk neraka.” Kalimat “ma- dalam Islam. Di dalam fikih, ada yang
suk neraka” mengasumsikan ada- pluralis dan ada pula yang ekslusivis,
nya konsep soteriologi bahwa
walaupun pada umumnya kaum sufi
anaknya tidak selamat. Apa jalebih pluralis daripada orang-orang
waban Nabi saw mendengar
laporan ini? Rasulullah berkata, fikih. Itu hanya akibat berikutnya saja.
Kita tidak bisa mengklasifikasikan
“Biarkan dia memeluk agama itu.”
Setelah itu, ayat yang berbunyi lâ pluralisme, fikih, dan tasawuf dalam
rubrik yang sama.
ikrâha fî al-dîn (tidak ada paksaan
dalam beragama) itu turun.
Kedua, riwayat lain mengatakan bahwa kata lâ ikrâha fî al-dîn telah digunakan setelah Nabi saw hijrah
ke Madinah. Kisahnya, pada waktu itu banyak orang Madinah yang sering
menitipkan anaknya, terutama yang sakit-sakitan, kepada orang-orang
Yahudi. Anak-anak itu pun tumbuh berkembang bersama orang Yahudi.
Mungkin karena gizinya lebih baik, pertumbuhan mereka lebih sehat dan
827
a 17
b
Membela Kebebasan Beragama
kemudian mengikuti agama pengasuhnya yang nota bene orang Yahudi.
Mereka pun menjadi (beragama) Yahudi.
Ketika orang-orang Madinah masuk Islam dan Rasulullah datang ke
Madinah, mereka bertanya kepada Nabi saw, “Ya Rasulullah, anak-anak
kami menjadi Yahudi semua. Mereka belum mengetahui tentang
kebenaran Islam ini. Bolehkah kami memaksa mereka untuk masuk
Islam?” Rasulullah menjawab, “Tidak boleh. Biarlah mereka memilih
agama yang disukainya.”
Riwayat ini menunjukkan bahwa praktik pluralisme telah ada sejak
zaman Nabi Muhammad saw. Kalau dalam riwayat tersebut Nabi saw
hendak menyelamatkan orang, tentu beliau akan memaksa anak-anak itu
untuk masuk surga dengan memeluk Islam. Lalu Nabi Muhammad saw
mengutip ayat lâ ikrâha fî al-dîn itu.
Jadi kalau saya ditanya, kapan saya menemukan teks yang mendakwahkan pluralisme, maka paling tidak teks yang paling pertama sekali saya
temukan, adalah teks-teks (riwayat-riwayat) yang tadi saya sebutkan. Rujukan
kita tentu bukan konsili-konsili atau muktamar-muktamar yang dilakukan
oleh umat Islam. Sebab muktamar di dunia Islam tidak mempunyai
pengaruh apa-apa dalam menetukan paham agama. Ia juga tidak memiliki
potensi untuk menentukan mana yang benar atau mana yang salah.
Sebetulnya Islam lebih mirip Protestan daripada Katolik. Artinya,
kita beragama tanpa berpegang kepada pernyataan-pernyataan personal
atau lembaga tertentu. Di sini harus dikecualikan Syi’ah. Dalam Syi’ah
orang harus merujuk pada pernyataan-pernyataan dari para marja‘ taklid
yang mendukung pluralisme. Dalam hal ini saya bisa langsung menyebut
Sayid Husein Fadhlullah (tokoh spiritual Libanon), yang dalam tafsirnya
Min Wahy al-Qur’ân, Sayid Ali Khamenei yang merupakan Wali Faqih
dari Republik Islam Iran, dan sebagainya.
Ada buku yang diterbitkan oleh Al-Huda berjudul “Menggugat
Pluralisme” yang ditulis oleh seorang ulama terkemuka Syi’ah. Dia
mengkritik pluralisme John Hicks. Bagusnya, ketika dia membicarakan
pluralisme yang sama dengan pluralisme yang dibahas oleh Hicks, misalnya
tentang teori keselamatan, ia tidak melantur ke sana ke mari. Tapi dia
berupaya mengkritik pluralisme model Hicks.
Meskipun buku tersebut anti-pluralisme, bagusnya, dia melampirkan
pidato Sayid Ali Khamenei di akhir buku tersebut. Padahal Sayid Ali
828
a 18 b
Jalaluddin Rakhmat
Khamenei merupakan tokoh yang berbicara dengan sangat soterelogis di
buku itu. Dia tidak bicara bahwa semua agama benar. Sebab itu bukan
definisi pluralisme. Dia berkata bahwa keselamatan tidak dibatasi pada
agama tertentu, bangsa tertentu, dan wilayah tertentu. Itu artinya, Sayid
Ali Khamenei mengerti tentang pluralisme. Bahwa pluralisme adalah
masalah soteriologis atau masalah keselamatan. Lampiran itu menurut
saya sudah cukup sebagai pernyataan resmi dari pemegang otaritas agama
Islam, dalam hal ini Syi’ah.
Wawancara dilakukan di Jakarta, Maret 2007
829
a 19
b
Download