pengaruh konsentrasi carboxy methyl cellulose (cmc)

advertisement
PENGARUH KONSENTRASI CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC) DAN
LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU DINGIN TERHADAP STABILITAS
DAN KARAKTERISTIK MINUMAN PROBIOTIK SARI BUAH NANAS
(Skripsi)
Oleh
MEILAN ANGGRAINI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2016
ABSTRACT
THE EFFECT OF CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC)
CONCENTRATION AND STORAGE TIME IN COLD TEMPERATURE ON
STABILITY AND CHARACTERISTICS OF PROBIOTIC BEVERAGES
PINEAPPLE JUICE
By
MEILAN ANGGRAINI
Functional beverages are beverages that have physiological benefits and can reduce
the risk of chronic disease for consumers. One thing to note in the manufacturing of
probiotic beverages fruit juice is the stability that can affect consumer acceptance.
Probiotic beverages pineapple juice will undergo separation to form lumps during
storage, hence the need for the addition of a stabilizer to maintain the stability of the
beverages. The purpose of this study to determine the effect of Carboxy Methyl
Cellulose (CMC) concentration and the best storage time on the stability and
characteristics of probiotic beverages pineapple juice during cold storage. The
method used is a randomized block design (RAKL) with two factors and three
replications. The first factor is the concentration of CMC (0%, 0.1%, 0.2% and
0.3%). The second factor is the storage time (0 days, 7 days, 14 days, 21 days, 28
days, 35 days, and 42 days). Based on the results of treatment with the addition of
0.2% CMC storage time 4 weeks (C3M4) is the best treatment that produces stability
100%, total lactic acid bacteria 12.36 cfu/ml, total lactic acid 2.85%, pH 3,37, taste
score 3,77, flavor score 3,43, color score 3,27, and overall acceptance 3,00.
Keywords : Carboxy Methyl Cellulose (CMC), Storage Time, Stability, Probiotics
Beverages, Pineapple Juice
ABSTRAK
PENGARUH KONSENTRASI CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC) DAN
LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU DINGIN TERHADAP STABILITAS
DAN KARAKTERISTIK MINUMAN PROBIOTIK SARI BUAH NANAS
Oleh
MEILAN ANGGRAINI
Minuman fungsional adalah minuman yang memiliki manfaat fisiologi dan dapat
mengurangi risiko penyakit kronis bagi konsumen. Salah satu hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan minuman probiotik sari buah adalah stabilitas yang
dapat mempengaruhi penerimaan konsumen. Minuman probiotik sari buah nanas
akan mengalami pemisahan dengan membentuk gumpalan selama penyimpanan, oleh
karena itu perlu adanya penambahan bahan penstabil yang dapat menjaga stabilitas
minuman tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsentrasi
Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dan lama penyimpanan terbaik terhadap stabilitas
dan karakteristik minuman probiotik sari buah nanas selama penyimpanan dingin.
Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan dua
faktor dan tiga ulangan. Faktor I adalah konsentrasi CMC (0%, 0,1%, 0,2%,dan
0,3%). Faktor II adalah lama penyimpanan (0 hari, 7 hari, 14 hari, 21 hari, 28 hari,
35 hari, dan 42 hari). Berdasarkan hasil penelitian perlakuan penambahan CMC
0,2% dengan lama penyimpanan 4 minggu (C3M4) merupakan perlakuan terbaik
yang menghasilkan stabilitas 100%, total bakteri asam laktat 12,36 log koloni/ml,
total asam laktat 2,85%, pH 3,37, skor rasa 3,77, skor aroma 3,43, skor warna 3,27,
dan penerimaan keseluruhan 3,00.
Kata kunci : Carboxy Methyl Cellulose (CMC), Lama Penyimpanan, Stabilitas,
Minuman Probiotik, Sari Buah Nanas
PENGARUH KONSENTRASI CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC)
DAN LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU DINGIN TERHADAP
STABILITAS DAN KARAKTERISTIK MINUMAN PROBIOTIK SARI
BUAH NANAS
Oleh
MEILAN ANGGRAINI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2016
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di daerah Umas Jaya pada tanggal 29 Mei 1994, sebagai anak
pertama dari dua bersaudara, buah hati dari pasangan Bapak Jumingan dan Ibu
Astri Sawiyati.
Penulis memulai pendidikan di Taman Kanak-Kanak Islam
Terpadu Bustanul ‘Ulum Terbanggi Besar Lampung Tengah pada tahun 19992000; Sekolah Dasar Islam Terpadu Bustanul ‘Ulum Terbanggi Besar Lampung
Tengah pada tahun 2000-2006;
Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu
Bustanul ‘Ulum Terbanggi Besar Lampung Tengah pada tahun 2006-2009;
Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seputih Mataram pada tahun 2009-2012.
Penulis diterima sebagai mahasiswi Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung pada tahun 2012 melalui jalur undangan
(SNMPTN). Penulis mendapat beasiswa BIDIKMISI sejak semester pertama.
Penulis melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan tema Pos
Pemberdayaan Masyarakat (POSDAYA) pada bulan Januari sampai Februari
2015 di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Banjar Baru, Kabupaten Tulang Bawang
dan kegiatan Praktik Umum (PU) pada bulan Juli sampai Agustus 2015 di PT.
Bromelain Enzyme, Terbanggi Besar Lampung Tengah dengan judul “Cleaning
Validation Mesin Packaging Dan IBC Drum di PT. Bromelain Enzyme”.
vii
Penulis pernah menjadi asisten mata kuliah Bahasa Inggris Profesi (2013/2014),
Bahasa Inggris (2014/2015), dan Mikrobiologi Hasil Pertanian (2015/2016).
Penulis aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil
Pertanian, Fakultas Pertanian, anggota Forum Studi Islam (FOSI) Fakultas
Pertanian, dan anggota debate team English Society (ESo) Universitas Lampung.
viii
Dengan do’a dan rasa syukur kehadirat Allah
SWT atas karunia dan limpahan berkah-Nya.
Kupersembahkan karya ini untuk orang-orang yang
kucintai dan kusayangi
Kedua orang tuaku, adik, tanah air serta almamater
tercinta.
SANWACANA
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat serta karunia-Nya
penulis mampu menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian
Universitas Lampung.
2. Ibu Ir. Susilawati, M.S., selaku ketua Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Universitas Lampung.
3. Bapak Ir. Samsul Rizal, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Utama dan Dosen
Pembimbing Akademik atas segala bantuan, pengarahan, nasihat, masukan dan
saran selama penyusunan skripsi ini.
4. Ibu Ir. Fibra Nurainy, M.T.A ., selaku Dosen Pembimbing Kedua atas segala
bantuan, pengarahan, masukan dan saran selama penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Dr. Ir. Suharyono, AS, M.S., selaku Pembahas atas segala pengarahan,
nasihat, saran, dan masukan selama penyusunan skripsi ini.
6. Kedua orangtua tercinta Bapak Jumingan dan Ibu Astri Sawiyati serta adikku
Merlina Febri Anggraini, terimakasih banyak atas segala do’a, kasih sayang,
kebersamaan, motivasi, dukungan, dan semangat yang telah diberikan selama ini.
x
7. Keluargaku yang selalu memberikan bantuan dan motivasi selama kuliah sampai
penyusunan skripsi.
8. Seluruh Bapak dan Ibu dosen pengajar, staff administrasi dan laboratorium di
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
9. Sahabatku Bimbi, Citra Ratri, Citra Prima, Devi Sabarina, Dian Andarini,
Hasnaniyah, Laila, Riska, Widya, mb Artha, mb Rosi, dan mb Marli atas segala
bantuan fisik dan dukungan mental serta waktunya selama penyusunan skripsi
ini.
10. Keluarga THP 2012 dan HMJ THP, terimakasih atas segala kebersamaan,
semangat, dan motivasi serta dukungan yang diberikan selama ini.
Penulis berharap semoga Allah SWT membalas semua kebaikan mereka dan penulis
berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bangsa Indonesia.
Bandar Lampung, Agustus 2016
Penulis
Meilan Anggraini
xi
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK
……………………………………………………………...
iii
RIWAYAT HIDUP ……………………………………………………...
vii
SANWACANA
……………………………………………………..
x
DAFTAR TABEL
……………………………………………………..
xiv
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………...
xvii
I. PENDAHULUAN……………………………………………………..
1
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
Latar Belakang …………………………………………………….
Tujuan Penelitian
…………………………………………….
Kerangka Pemikiran …………………………………………….
Hipotesis
…………………………………………………….
1
3
3
5
II. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………….
6
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
2.6.
2.7.
Buah Nanas ………………………………………………….....
Bakteri Asam Laktat (BAL) …………………………………….
Minuman Probiotik ……………………………………………..
Minuman Probiotik Buah Nanas
……………………………..
Carboxymethyl Cellulose (CMC)
……………………………..
Penyimpanan Dingin ……………………………………………..
Stabilitas Minuman Probiotik……………………………………..
III. BAHAN DAN METODE
3.1.
3.2.
3.3.
3.4.
6
9
11
17
20
22
24
……………………………………..
25
Waktu dan Tempat ……………………………………………..
Bahan dan Alat
……………………………………………..
Metode Penelitian
……………………………………………..
Pelaksanaan Penelitian
……………………………………..
1. Persiapan Starter ……………………………………………..
25
25
26
26
26
2. Pembuatan Sari Buah Nanas
……………………………..
3. Proses Pembuatan Minuman Probiotik Sari Buah Nanas ……..
3.5. Pengamatan ……………………………………………………..
1. Total Bakteri Asam Laktat……………………………………..
2. Total Asam Laktat ……………………………………………..
3. Derajat Keasaman (pH) ……………………………………..
4. Stabilitas ……………………………………………………..
5. Uji Organoleptik ……………………………………………..
28
29
30
30
31
31
32
33
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………………..
35
4.1.
4.2.
4.3.
4.4.
4.5.
4.6.
4.7.
4.8.
4.9.
Total Bakteri Asam Laktat ……………………………………..
Total Asam Laktat ……………………………………………..
Derajat Keasaman (pH)
……………………………………..
Stabilitas
……………………………………………………..
Rasa ……………………………………………………………..
Aroma……………………………………………………………..
Warna ……………………………………………………………..
Penerimaan Keseluruhan
……………………………………..
Penentuan Perlakuan Terbaik ……………………………………..
35
38
41
44
46
49
51
53
55
V. KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………..
58
5.1. Kesimpulan ……………………………………………………..
5.2. Saran ……………………………………………………………..
58
59
DAFTAR PUSTAKA
……………………………………………
60
LAMPIRAN ……………………………………………………………..
66
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel
1. Kandungan gizi nanas dalam 100g
Halaman
………………………………….
2. Komposisi kimia minuman asam laktat (per 100 g)
8
…………………..
16
3. Standar Nasional Indonesia syarat mutu minuman susu fermentasi
berperisa……………….………………………………………………….
19
4. Lembar questioner uji skoring dan uji hedonik ……………..…….…….
34
5. Pemilihan perlakuan terbaik minuman probiotik sari buah nanas ........….
56
6. Data total bakteri asam laktat minuman probiotik sari buah nanas
(Transformasi log) (Log koloni/ml)
…………………………………..
67
7. Uji Bartlett total bakteri asam laktat minuman probiotik sari buah nanas ..
68
8. Analisis ragam total bakteri asam laktat minuman probiotik sari buah nanas 69
9. Uji polinomial ortogonal total bakteri asam laktat minuman probiotik sari
buah nanas
…………………………………………………………....
69
10. Data total asam laktat minuman probiotik sari buah nanas (%)
……... 71
11. Uji Bartlett total asam laktat minuman probiotik sari buah nanas
……... 72
12. Analisis ragam total asam laktat minuman probiotik sari buah nanas ……... 73
13. Uji polinomial ortogonal total asam laktat minuman probiotik sari buah
Nanas……………………………………………………………………….... 73
14. Data pH minuman probiotik sari buah nanas
……………………………... 75
15. Uji Bartlett pH minuman probiotik sari buah nanas
……………………... .76
16. Analisis Ragam pH minuman probiotik sari buah nanas
…………….
77
xiv
17. Uji polinomial ortogonal total bakteri asam laktat minuman probiotik sari
buah nanas…………………………………………………………………..
77
18. Data stabilitas minuman probiotik sari buah nanas (%)
79
…………….
19. Data stabilitas minuman probiotik sai buah nanas (%)
(Transformasi √x) ………………………………………………………….. 80
20. Uji Bartlett stabilitas minuman probiotik sari buah nanas
…………….
81
21. Analisis ragam stabilitas minuman probiotik sari buah nanas …………….
82
22. Uji polinomial ortogonal stabilitas minuman probiotik sari buah
nanas………………………………………………………………………..
82
23. Data skor rasa minuman probiotik sari buah nanas
84
…………………….
24. Uji Bartlett skor rasa minuman probiotik sari buah nanas
…………….
85
25. Analisis ragam skor rasa minuman probiotik sari buah nanas …………….
86
26. Uji polinomial ortogonal skor rasa minuman probiotik sari buah
nanas
…………………………………………………………………….
27. Data skor aroma minuman probiotik sari buah nanas
86
……………………...
88
28. Uji Bartlett skor aroma minuman probiotik sari buah nanas
……………..
89
29. Analisis ragam skor aroma minuman probiotik sari buah nanas
……………..
90
30. Uji polinomial ortogonal skor aroma minuman probiotik sari buah
nanas
…………………………………………………………………….
31. Data skor warna minuman probiotik sari buah nanas
90
……………………...
92
32. Uji Bartlett skor warna minuman probiotik sari buah nanas
……………..
93
33. Analisis ragam skor warna minuman probiotik sari buah nanas
……………..
94
34. Uji polinomial ortogonal skor warna minuman probiotik sari buah
nanas
…………………………………………………………………….
35. Data skor penerimaan keseluruhan minuman probiotik sari buah nanas
94
…….
96
36. Uji Bartlett skor penerimaan keseluruhan minuman probiotik sari buah
nanas
………………………………………………………………………….
97
xv
37. Analisis ragam skor penerimaan keseluruhan minuman probiotik sari buah
nanas
…………………………………………………………………………... 98
38. Uji polinomial ortogonal skor penerimaan keseluruhan minuman probiotik
sari buah nanas ………………………………………………………………….
xvi
98
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
1. Nanas (Ananas comosus (L) Merr) ………………………………………
6
2. Bentuk sel Lactobacillus casei
………………………………….…
14
3.
Carboxy Methyl Celulose (CMC)
………………………….................
20
4.
Diagram alir persiapan starter
……………………….....................
27
5. Diagram alir pembuatan sari buah nanas
………………………….…
28
6. Diagram alir pembuatan minuman probiotik sari buah nanas ………….… 29
7. Hubungan antara konsentrasi CMC dan lama penyimpanan terhadap
total bakteri asam laktat pada minuman probiotik sari buah nanas ……... 36
8. Hubungan antara lama penyimpanan dan konsentrasi CMC terhadap total
asam laktat minuman probiotik sari buah nanas
……………………... 39
9. Hubungan antara konsentrasi CMC dan lama penyimpanan terhadap
pH minuman probiotik sari buah nanas
……………………………... 42
10. Hubungan antara Konsentrsi CMC dan lama penyimpanan terhadap
stabilitas minuman probiotik sari buah nanas ……………………………... 44
11. Hubungan antara konsentrasi CMC dan lama penyimpanan terhadap skor
rasa minuman probiotik sari buah nanas
…………………………….. 47
12. Hubungan antara konsentrasi CMC dan lama penyimpanan terhadap skor
aroma minuman probiotik sari buah nanas …………………………….. 50
13. Hubungan antara lama penyimpanan terhadap skor warna minuman
probiotik sari buah nanas
…………………………………………….. 52
14. Hubungan antara konsentrasi CMC dan lama penyimpanan terhadap skor
penerimaan keseluruhan minuman probiotik sari buah nanas
…….. 54
xvii
15. Contoh kultur antara Lactobacillus casei dalam botol sampel
........ 100
16. Contoh sampel pada pengamtan total bakteri asam laktat minuman
probiotik sari buah nanas dalam cawan petri ……………………........... 100
17. Contoh sampel pada uji total asam laktat minuman probitik sari buah
nanas dalam labu Erlenmeyer ………………………………………..….. 100
18. Contoh pengamatan stabilitas minuman probiotik sari buah nanas
minggu ke 1 (CMC 0%, CMC 0,1%, CMC 0,2%, CMC 0,3%) dalam
botol sampel ………………………………………………………….... 101
19. Contoh pengamatan stabilitas minuman probioti sari buah nanas
minggu ke 4 (CMC 0%, CMC 0,1%, CMC 0,2%, CMC 0,3%) dalam
botol sampel ………………………………………………………….... 101
20. Contoh pengamatan stabilitas minuman probioti sari buah nanas
minggu ke 6 (CMC 0%, CMC 0,1%, CMC 0,2%, CMC 0,3%) dalam
botol sampel ……………………………………………………...……. 102
xviii
1
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Minuman fungsional adalah minuman yang dikonsumsi sebagai minuman yang
memiliki manfaat fisiologi dan dapat mengurangi risiko penyakit kronis karena
memberikan manfaat tambahan bagi konsumen (Health Canada, 2004). Salah satu
contoh minuman fungsional adalah minuman probiotik. Minuman probiotik harus
mampu memberikan asupan gizi yang baik bagi tubuh dan meningkatkan kesehatan
bagi manusia (Ichikawa, 1994).
Salah
satu
pengaruh
probiotik
yang
menguntungkan
kesehatan
adalah
mempertahankan keseimbangan mikroflora usus. Hingga saat ini, minuman probiotik
yang dikenal masyarakat adalah produk berbasis susu yang difermentasi, misalnya
yoghurt, keju probiotik, es krim probiotik, dan lain-lain. Namun, tidak semua orang
dapat menikmati susu karena keterbatasan seperti pada beberapa orang yang
mengalami intoleransi terhadap susu. Lactose intolerance yaitu keadaan seseorang
yang dalam tubuhnya tidak terdapat cukup enzim laktase (Widodo, 2002).
Minuman probiotik yang disimpan lama pada suhu kamar akan mudah rusak.
Semakin cepat probiotik berkembang semakin cepat pula sumber makanan yang
2
tersedia tidak mencukupi sehingga berakibat probiotik menjadi kekurangan makanan
dan kemudian mati sehingga penyimpanan minuman probiotik pada suhu dingin akan
membantu memperlambat aktivitas probiotik.
Hal tersebut menyebabkan
pertumbuhan bakteri pembentuk asam laktat menjadi optimal dan cepat sehingga
diperoleh kadar asam yang lebih tinggi (Kosikowski, 1982).
Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan minuman probiotik sari buah adalah
stabilitas pada minuman probiotik sari buah tersebut yang juga akan mempengaruhi
penerimaan konsumen. Pada penelitian minuman fermentasi laktat sari buah sirsak,
nilai stabilitas minuman yang diperoleh berkisar antara 23,33% hingga 40%
(persentase bagian keruh) (Warganegara, 2009). Tanpa adanya stabilizer minuman
probiotik sari buah nanas akan mengalami pemisahan dengan membentuk gumpalan,
oleh karena itu perlu adanya penambahan bahan penstabil yang dapat menjaga
stabilitas minuman probiotik tersebut (Anshori, 1992). Pada penelitian ini, minuman
probiotik sari buah nanas ditambahkan CMC sebagai bahan penstabil yang akan
mencegah terjadinya pengendapan serta dilakukan penyimpanan pada suhu dingin
(12±5 oC) selama 6 minggu. Namun belum diketahui berapa persen CMC yang dapat
menjaga stabilitas minuman probiotik sari buah nanas dan lama penyimpanan yang
terbaik.
Oleh karena itu perlu diketahui konsentrasi CMC terbaik dan lama
penyimpanan yang tepat serta memberikan penerimaan yang baik terhadap
konsumen.
3
1.2. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Mengetahui konsentrasi CMC terbaik terhadap stabilitas dan karakteristik
minuman probiotik sari buah nanas selama penyimpanan dingin.
2.
Mengetahui lama penyimpanan terbaik terhadap stabilitas dan karaktristik
minuman probiotik sari buah nanas pada suhu dingin.
3.
Mengetahui interaksi konsentrasi CMC dan lama penyimpanan terbaik terhadap
stabilitas dan karakteristik minuman probiotik sari buah nanas.
1.3. Kerangka Pemikiran
Lama penyimpanan memiliki pengaruh yang besar terhadap minuman probiotik
karena menyebabkan kadar asam laktat semakin tinggi. Selain itu, suhu penyimpanan
juga berpengaruh terhadap ketahanan hidup bakteri.
Minuman probiotik yang
disimpan pada suhu ruang akan mengalami kerusakan karena adanya bakteri perusak
yang dapat dengan cepat tumbuh serta kondisi lingkungan yang tidak stabil sangat
memungkinkan kerusakan terhadap minuman probiotik. Menurut Honsha (1990),
kriteria penyimpanan produk susu fermentasi antara 5 – 12 oC. Aktivitas bakteri akan
meningkat kembali jika suhu dinaikkan. Pada penelitian Youngyoon, et al. (2004),
penyimpanan minuman probiotik sari buah tomat pada suhu 4 oC selama 4 minggu
menghasilkan total BAL 106-108 log koloni/ml. Penelitian Rizal, dkk. (2007), pada
penyimpanan minuman fermentasi laktat sari kulit nanas selama 4 minggu
4
menurunkan penilaian panelis terhadap skor rasa karena rasa akan semakin asam,
akan tetapi meningkatkan aroma minuman fermentasi laktat sari kulit nanas karena
aroma khas minuman laktat semakin rendah dan aroma sari kulit nanas lebih
menonjol.
Minuman probiotik sari buah yang disimpan pada suhu rendah memiliki stabilitas
yang kurang baik meskipun dapat bertahan lama.
Pengendapan pada minuman
probiotik dapat mempengaruhi penerimaan konsumen yang kurang baik. Oleh karena
itu penambahan stabilizer sangat diperlukan agar minuman probiotik memiliki
keadaan fisik yang baik. Carboxy methyl cellulose (CMC) dapat menjadi salah satu
bahan penstabil yang baik pada minuman probiotik sari buah karena CMC akan
terdispersi dalam air, kemudian butir-butir CMC yang bersifat hidrofilik akan
menyerap air dan terjadi pembengkakan. Air yang sebelumnya ada di luar granula
dan bebas bergerak, tidak dapat bergerak lagi dengan bebas sehingga keadaan larutan
lebih mantap dan terjadi peningkatan viskositas. Hal ini akan menyebabkan partikelpartikel terperangkap dalam sistem tersebut dan memperlambat proses pengendapan
karena adanya pengaruh gaya gravitasi (Prabandari, 2011).
Penelitian Iqbal, dkk. (2012), pada minuman probiotik dari sari ubi jalar dan
penelitian Manurung, dkk. (2014), pada minuman yoghurt buah sari buah nagka dan
sari buah naga disarankan menggunakan konsentrasi CMC 0,2 % karena memiliki
mutu yang terbaik pada produk . Penelitian Rizal, dkk. (2007), menunjukkan bahwa
pada perlakuan penambahan gum xanthan pada minuman fermentasi laktat dari
5
limbah kulit nanas hingga konsentrasi 0,08% dapat meningkatkan stabilitas yang baik
dan penyimpanan minuman fermentasi laktat sari kulit nanas hingga 4 minggu pada
suhu dingin (10±2) °C.
Menurut Tyastuti (2013), penambahan bahan penstabil
mempertahankan kualitas yoghurt lebih baik daripada tanpa penambahan stabilizer
selama penyimpanan 4 minggu dalam suhu refrigerator.
Interaksi antara lama penyimpanan dan konsentrasi CMC diduga memberikan
pengaruh terhadap stabilitas minuman probiotik sari buah nanas yang disimpan pada
suhu rendah.
1.4. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Terdapat konsentrasi CMC terbaik terhadap stabilitas dan karakteristik minuman
probiotik sari buah nanas selama penyimpanan dingin.
2. Terdapat lama penyimpanan terbaik terhadap stabilitas dan karakteristik minuman
probiotik sari buah nanas pada suhu dingin.
3. Terdapat interaksi konsentrasi CMC dan lama penyimpanan terbaik terhadap
stabilitas dan karakteristik minuman probiotik sari buah nanas.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Buah Nanas
Nanas (Ananas sativus) adalah sejenis tumbuhan tropis yang berasal dari Brazil,
Bolivia dan Paraguay. Tumbuhan ini termasuk dalam familia nanas-nanasan (Famili
Bromeliaceae). Tanaman nanas yang berusia satu sampai dua tahun, tingginya 50150 cm, mempunyai tunas yang merayap pada bagian pangkalnya.
Buahnya
berbentuk bulat panjang, berdaging, dan berwarna hijau, jika masak warnanya
menjadi kuning, rasanya asam sampai manis (Dalimartha, 2001).
Gambar 1. Nanas (Ananas comosus (L) Merr) (Dalimartha, 2001)
7
Berdasarkan habitat tanaman, terutama bentuk daun dan buah dikenal 4 jenis
golongan nanas, yaitu:
a. Cayenne
Daun halus, ada yang berduri dan ada yang tidak berduri, ukuran buah besar,
silindris, mata buah agak datar, berwarna hijau kekuning-kuningan, dan rasanya
agak masam.
b. Queen
Daun pendek dan berduri tajam, buah berbentuk lonjong mirip kerucut sampai
silindris, mata buah menonjol, berwarna kuning kemerah-merahan dan rasanya
manis.
c. Spanyol
Daun panjang kecil, berduri halus sampai kasar, buah bulat dengan mata datar.
d. Abacaxi
Daun panjang berduri kasar, buah silindris atau seperti piramida.
Varietas nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayyene dan
Queen. Golongan Spanish dikembangkan di Kepulauan India Barat, Puerto Riko,
Meksiko dan Malaysia. Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia (Santoso,
2010). Kandungan gizi dalam 100 gram buah nanas dapat dilihat pada Tabel 1.
8
Tabel 1. Kandungan Gizi Nanas dalam 100g
No.
Unsur Gizi
Jumlah
1
Kalori (Kal)
2
Protein (g)
3
Lemak (g)
4
Karbohidrat (g)
5
Kalsium (mg)
6
Fosfor (mg)
7
Serat (g)
8
Besi (g)
9
Vitamin A (IU)
10
Vitamin B1 (mg)
11
Vitamin B2 (mg)
12
Vitamin C (mg)
13
Niacin (g)
Sumber : Wirakusumah (2000)
50,00
0,40
0,20
13,00
19,00
9,00
0,40
0,20
20,00
0,08
0,04
20,00
0,20
Didalam buah nanas terkandung vitamin A, C dan betakaroten, kalsium, fosfor,
magnesium, besi, natrium, kalium dan enzim bromelin. Kandungan seratnya dapat
mempermudah buang air besar pada penderita sembelit (Septiatin, 2009). Nanas
terkenal sebagai buah yang kaya enzim bromelin.
Selain itu, nanas juga buah
potensial untuk dikonsumsi sebagai sumber antioksidan. Kemampuan nanas sebagai
antioksidan semakin lengkap karena buah ini mengandung banyak vitamin C dan βkaroten yang cukup tinggi. Vitamin C dikenal sebagai antioksidan penumpas radikal
bebas.
Rutin mengkonsumsi nanas seluruh sel dan sitoplasma kita terlindungi dari dampak
buruk radikal bebas (Lingga, 2012).
Antioksidan merupakan zat yang mampu
memperlambat atau mencegah proses oksidasi.
Zat ini secara nyata mampu
memperlambat atau menghambat oksidasi yang mudah teroksidasi meskipun dalam
9
konsentrasi rendah. Beberapa khasiat buah nanas yaitu: dapat mengurangi keluarnya
asam lambung yang berlebihan, membantu pencernaan makanan di lambung,
antiradang, sebagai diuretik, membersihkan jaringan kulit yang mati, mengganggu
pertumbuhan sel kanker, menghambat penggumpalan trombosit (Puspita, 2011).
2.2. Bakteri Asam Laktat (BAL)
Bakteri asam laktat (BAL) adalah kelompok bakteri Gram positif berbentuk kokus
atau batang, tidak membentuk spora, suhu optimum ± 40 oC, pada umumnya tidak
motil, bersifat anaerob, katalase negatif dan oksidase positif, tidak memiliki
kemampuan
untuk
mereduksi
nitrat,
memanfaatkan
laktat,
kemampuan
memfermentasi glukosa menjadi asam laktat dengan asam laktat sebagai produk
utama fermentasi karbohidrat. Sifat-sifat khusus bakteri asam laktat adalah mampu
tumbuh pada kadar gula, alkohol, dan garam yang tinggi, mampu memfermentasikan
monosakarida dan disakarida (Syahrurahman, 1994). Sebagian besar BAL dapat
tumbuh sama baiknya di lingkungan yang memiliki dan tidak memiliki O2 (tidak
sensitif terhadap O2), sehingga termasuk anaerob aerotoleran.
Bakteri yang tergolong dalam BAL memiliki beberapa karakteristik tertentu yang
meliputi: tidak memiliki porfirin dan sitokrom, katalase negatif, tidak melakukan
fosforilasi transpor elektron, dan hanya mendapatkan energi dari fosforilasi substrat.
Hampir semua BAL hanya memperoleh energi dari metabolisme gula sehingga
habitat pertumbuhannya hanya terbatas pada lingkungan yang menyediakan cukup
10
gula atau bisa disebut dengan lingkungan yang kaya nutrisi. Kemampuan mereka
untuk mengasilkan senyawa (biosintesis) juga terbatas dan kebutuhan nutrisi
kompleks BAL meliputi asam amino, vitamin, purin, dan pirimidin. Selain itu, BAL
juga memiliki sifat probiotik, probiotik merupakan suatu kumpulan mikroba hidup
yang menguntungkan kesehatan inangnya dengan cara memperbaiki komposisi
mikrobiota usus. BAL yang memiliki sifat probiotik ini memiliki banyak efek positif
seperti antimikroba, aktivitas antikolestrol, efek stimulasi sistem imun, meningkatkan
penyerapan laktosa oleh tubuh, mencega diare, dan aktivitas antimutageik sehingga
dapat mencegah penyakit kanker usus (Fuller, 1992; Surono, 2004; and Hill, 1995).
Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan apakah suatu BAL memiliki sifat
probiotik, antara lain: ketahanan terhadap asam dan garam empedu, dan aktivitas
antagonistik terhadap bakteri patogen (Gilliland, et al., 1984 and Salminen, 1993).
Pada produk fermentasi laktat, perlu ditambahkan susu skim dan glukosa sebagai
sumber energi bagi BAL yang diinokulasikan untuk pertumbuhannya. Susu skim
mengandung protein dan laktosa, serta gluktosa yang akan difermentasi oleh kultur
BAL menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH produk dan memberi rasa yang
khas pada produk (Cahyono, 1996). Penambahan susu skim juga bertujuan untuk
memperbaiki flavor dan tekstur produk yang dihasilkan (Paul and Southgate, 1998).
Sedangkan
penambahan
glukosa
bertujuan
untuk
meningkatkan kekentalan (Mc Gregor and White, 1987).
merangsang
BAL
dan
11
Reaksi fermentasi BAL dibagi menjadi 2 bagian yaitu secara homofermentatif dan
heterofermentatif. Reaksi homofermentatif menghasilkan asam laktat, 2 mol ATP dari
1 glukosa/heksosa dalam kondisi normal, tidak menghasilkan CO 2 dan menghasilkan
biomassa sel dua kali lebih banyak dari pada BAL heterofermentatif. Sedangkan
reaksi heterofermentatif selain menghasilkan asam laktat juga menghasilkan etanol,
CO2, asam asetat serta 1 mol ATP dari heksosa dan tidak mempunyai enzim aldolase.
2.3. Minuman Probiotik
Probiotik didefinisikan sebagai suplementasi makanan dengan menggunakan mikroba
hidup yang mempunyai pengaruh menguntungkan terhadap kesehatan yang
digunakan pada mikroorganisme hidup yang dapat memberikan efek baik atau
kesehatan pada organisme lain/inangnya dengan memperbaiki keseimbangan
mikroflora intestinal (Soegijanto dan Soegeng, 2002). Bakteri yang digolongkan
sebagai probiotik yaitu bakteri yang memproduksi asam laktat terutama dari spesies
Lactobacillus dan Bifidobacterium, dan beberapa jenis bakteri lain. BAL
memproduksi asam laktat sebagai produk utamanya. Bakteri ini tersebar luas secara
alami pada tanah, sayuran, daging, susu dan tubuh manusia. Selain itu juga banyak
digunakan pada produk-produk fermentasi.
Bahan makanan yang mengandung
probiotik antara lain:
a. Yoghurt, berisi Lactobacillus bulgaricus dan S. thermophilus dan jenis lain berisi
Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacteria.
b. Acidophilus milk, berisi Lactobacillus acidophilus.
12
c. Kefir, berisi sejumlah BAL, termasuk Lactobacillus lactis, Lactobacillus. cremoris,
Lactobacillus
kefir,
Lactobacillus
casei,
Lactobacillus
acidophilus,
dan
Leuconostoc sp.
Menurut
Food
and
Agriculture
Organization/World
Health
Organization
(FAO/WHO, 2001), pada dasarnya strain probiotik seharusnya tidak hanya mampu
bertahan melewati saluran pencernaan tetapi juga memiliki kemampuan untuk
berkembang biak dalam saluran pencernaan, tahan terhadap cairan lambung dan
cairan empedu dalam jalur makanan yang memungkinkan untuk bertahan hidup
melintasi saluran pencernaan dan terkena paparan empedu. Selain itu probiotik juga
harus mampu menempel pada sel epitel usus manusia, mampu membentuk kolonisasi
pada saluran pencernaan, mampu menghasilkan zat anti mikroba (bakteriosin), dan
memberikan pengaruh yang menguntungkan kesehatan manusia.
Mikroba yang
memiliki stabilitas yang baik akan dapat bertahan pada kondisi yang diberikan.
Mikrobia harus mempunyai sifat yang tetap, tidak mengalami perubahan karena
mutasi atau lingkungan, misalnya pH dan suhu sehingga dapat mendukung viabilitas
mikroba untuk dapat hidup dalam sistem pencernaan dengan syarat hidup mikroba
probiotik yang telah ditentukan.
Kestabilan jumlah mikroba dalam makanan
pembawanya dan saat penyimpanan maka viabilitasnya pun akan baik sehingga
minuman probiotik dapat berfungsi sebagai kesehatan (Yogeswara, dkk., 2011).
Menurut Lisai (2005), karakterisitik probiotik yang diinginkan dari satu strain
spesifik mencakup beberapa hal, antara lain yaitu : (1) mempunyai kapasitas untuk
13
bertahan hidup (survive), untuk melakukan kolonisasi (colonize), serta melakukan
metabolisme (metabolize) dalam saluran cerna; (2) mampu mempertahankan suatu
keseimbangan mikroflora usus yang sehat melalui kompetisi dan inhibisi patogen; (3)
dapat menstimulasi bangkitnya pertahanan imun; (4) bersifat non-patogenik dan nontoksik; (5) harus mempunyai karakteristik teknologik yang baik, yaitu mampu
bertahan hidup dan stabil selama penyimpanan dan penggunaan (storage and use)
dalam bentuk secara optimal preparat makanan yang didinginkan dan dikeringkan,
agar dapat disediakan secara massal dalam industri. Secara umum, fungsi probiotik
yaitu
dapat
meningkatkan
kesehatan.
Probiotik
menekan
pertumbuhan
mikroorganisme yang tidak diinginkan dan merangsang mikroorganisme sejenis,
serta tidak meninggalkan residu dalam jaringan (Soeharsono, 1997).
Probiotik
menawarkan alternatif yang lebih baik untuk memperbaiki keseimbangan mikroflora
usus yang terganggu dari pada antibiotik (Hull and Evans, 1992).
Menurut Shortt (1999), syarat probiotik adalah tidak patogen, toleran terhadap asam
dan garam empedu, mempunyai kemampuan bertahan pada proses pengawetan dan
dapat bertahan pada penyimpanannya serta memiliki kemampuan memberi efek
kesehatan yang sudah terbukti.
Lactobacillus memiliki kemampuan bertahan
terhadap garam empedu, kondisi asam, mampu menghambat bakteri patogen, tahan
terhadap antibiotik dan dapat mengikat kolesterol dengan menempel pada epitel
dinding saluran pencernaan (Hood and Zottola, 1998). Menurut Tambunan (2016),
dalam penelitian minuman fermentasi laktat sari buah nanas dengan menggunakan
berbagai jenis bakteri asam laktat, Lactobacillus casei merupakan starter yang
14
terbaik. Hal ini dikarenakan minuman probiotik tersebut memiliki nilai pH 3,54; total
asam sebesar 3,45; total BAL sebesar 10,04 log koloni/mL; selisih log ketahanan
terhadap asam sebesar 5,67 log koloni/mL; serta nilai aktivitas antibakteri minuman
fermentasi sari laktat dengan jenis Lactobacillus casei terhadap Bacillus cereus,
Escherecia coli, Staphylococcus aureus sebesar 13,97; 12;57; 25,55 mm2 (luas zona
hambat). Kriteria yang harus dimiliki oleh minuman probiotik adalah mempunyai pH
maksimum 4,5, mampu menghambat bakteri lain yang merugikan, memiliki total
asam minimal 0,85 % dengan jumlah minimum sel hidup per 1 ml produk adalah 10-8
sel hidup (Speck, 1978).
Gambar 2. Bentuk Sel Lactobacillus casei (Speck, 1978)
15
Menurut Fuller (1992), probiotik yang berisi milyaran mikroba ini memiliki 5
manfaat, yaitu:
1. Melindungi saluran pencernaan dari bakteri patogen yaitu: probiotik menghasilkan
H2O2 dan bakteriosin sebagai bakterisida atau anti mikroba bagi bakteri jahat.
Probiotik juga melekatkan diri pada reseptor sel epitel usus sehingga bakteri
patogen tidak bisa melekat (karena perlekatan dengan bakteri patogen dapat
menyebabkan infeksi).
2. Menurunkan kasus kanker kolon.
dengan
metode
penghambatan.
Probiotik menurunkan kasus kanker kolon
Penghambatan
terhadap
bakteri
yang
memproduksi b-glucosidase, b-glucuronidase, dan azoreductase yang mengkatalisa
konversi prokarsinogen menjadi proksimal karsinogen ; sel kanker; destruksi
karsinogen seperti nitrosamin dan menurunkan aktivitas nitroreductase; menyerap
senyawa karsinogenik daging panggang dengan mengeluarkan peptidoglycan.
3. Menurunkan kasus gangguan intestin diare dan konstipasi diare karena bakteri
patogen (Salmonella) dan rotavirus merupakan problem di semua negara.
4. Menurunkan kolesterol dalam serum mekanismenya yaitu, probiotik menghasilkan
enzim BSH (bile salt hydrolase) yang dapat membantu menurunkan kolesterol;
probiotik menghasilkan metabolit yang dapat menghambat sintesa kolesterol di
hati.
16
5. Menurunkan alergi terhadap susu. Probiotik dapat menurunkan kadar laktosa pada
susu
dengan
mengeluarkan
enzim
laktase
(mencerna
laktosa
menjadi
monosakarida).
Komposisi kimia minuman asam laktat per 100 g disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi kimia minuman asam laktat (per 100 g)
Komposisi
Energi Kal
KJ
Air (g)
Protein (g)
Lemak (g)
Gula (g)
Laktosa
Gula lain
Abu (g)
Mineral
Ca (mg)
P (mg)
Fe (mg)
Na (mg)
K (mg)
Vitamin
A (UI)
B1 (mg)
B2 (mg)
Niacin (mg)
C (mg)
SNF : Solid Non Fat
Penambahan SNF ≥ 3%
69,00
289,00
82,10
1,10
0.10
Penambahan SNF < 3%
56,00
234,00
85,40
0,40
0,00
1,90
14,50
0,30
0,70
13,30
0,20
43,00
30,00
0,00
18,00
48,00
17,00
12,00
0,00
19,00
32,00
0,00
0,01
0,05
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
Sumber : Orihara, et al. (1992)
17
2.4. Minuman Probiotik Buah Nanas
Minuman probiotik merupakan salah satu jenis produk yang diolah tanpa melalui
proses pemanasan.
Minuman probiotik merupakan produk minuman fermentasi
berbasis susu atau sari buah yang tidak mengandung alkohol dan baik bagi kesehatan
pencernaan. Jenis kultur mikrobia yang umumnya digunakan berasal dari kelompok
bakteri asam laktat (Rahayu, 2000). Probiotik kurang diminati masyarakat karena
rasanya sangat asam dan aromanya sangat menyengat. Usaha yang dilakukan agar
masyarakat menyukai minuman probiotik adalah dengan penambahan rasa buah
sehingga minuman tersebut dapat langsung diminum tanpa diolah terlebih dahulu
atau mebuat suatu produk yang berbahan dasar sari buah sebagai minuman. Salah
satu alternatif produk probiotik yang bisa dikembangkan adalah sari buah nanas
karena memiliki aroma yang kuat dan rasa yang tajam. Nanas (Ananas comosus (L)
Merr.) merupakan buah yang disukai oleh masyarakat luas. Hal ini dikarenakan buah
nanas memiliki rasa manis dan masam menyegarkan, serta memiliki kandungan
nutrisi yang tinggi, terutama gula, vitamin dan mineral. Di samping itu, nanas juga
merupakan buah tropis yang berdaging buah banyak, murah dan ada sepanjang tahun,
sehingga pengolahan nanas menjadi minuman probiotik akan meningkatkan
pemanfaatannya (Lingga, 2012).
Nanas merupakan buah yang selalu ada sepanjang tahun dan merupakan buah tropis
yang berdaging buah banyak serta murah. Ditinjau dari kandungan nutrisinya, nanas
mengandung berbagai vitamin serta memiliki aroma yang kuat dan kandungan
18
pigmen karoten yang cukup tinggi sehingga dapat menghasilkan sari buah yang
dikehendaki.
Keunggulan minuman probiotik dari sari buah nanas disampmg
merupakan produk probiotik adalah juga merupakan produk sinbiotik.
adalah kombinasi probiotik dan prebiotik.
Sinbiotik
Menurut Schrezenmeir and de Vrese
(2001), prebiotik adalah bahan pangan yang tidak terdigesti yang mampu memacu
pertumbuhan probiotik karena sifat spesifiknya yang hanya mampu difermentasi oleh
probiotik. Sumber prebiotik adalah golongan oligosakarida yang umumnya terdapat
dalam aneka macam sayur dan buah-buahan (Roberfroid, 2000), dengan demikian
diduga buah nanas juga dapat berperan sebagai prebiotik.
Jenis sari buah fermentasi ini sudah dikenal luas, salah satunya yaitu papaya-nanas
(Hartati, dkk., 2003). Selain itu minuman probiotik berbahan baku sayuran, seperti
kubis (Youngyoon, et al., 2005), tomat (Youngyoon, et al., 2004), dan wortel
(Trzaskowska and D. Kolo, 2005).
Minuman ini dibuat dengan mencampurkan
beberapa bahan-bahan lain dengan memanfaatkan teknik dasar seperti pada susu
fermentasi (Buckle, et al., 1987).
Definisi dan standar mutu minuman susu
fermentasi berperisa berdasarkan SNI 2009 seperti ditunjukkan pada Tabel 3.
19
Tabel 3. Standar Nasional Indonesia Syarat Mutu Minuman Susu Fermentasi
Berperisa
No
.
1
1.1
1.2
1.3
1.4
2
3
4
5
6
7
7.1
7.2
8
9
9.1
9.2
Kriteria Uji
Keadaan :
Penampakan
Bau
Rasa
Homogenitas
Lemak (b/b)
Padatan
Susu
Tanpa Lemak
Protein (Nx6,38)
(b/b)
Abu (b/b)
Keasaman
Terttrasi (sebagai
asam laktat)
Cemaran Logam
Timbal (Pb)
Merkuri (Hg)
Cemaran Arsen
(As)
Cemaran
Mikroba :
Bakteri Coliform
Satuan
%
Persyaratan
Tanpa Perlakuan Panas Dengan Perlakuan Panas
Setelah Fermentasi
Setelah Fermentasi
Normal Tanpa Lemak Normal Tanpa Lemak
Cair Normal / Khas Cair Normal / Khas
Homogen
Homogen
Homogen
Min 0.6 Maks 0.5
Homogen
Min 0.6 Maks 0.5
%
Min 3.0
Min 3.0
%
Min 1.0
Min 1.0
%
Maks 1.0
Maks 1.0
%
0.2 sd 0.9
0.2 sd 0.9
mg/kg
mg/kg
Maks 0.02
Maks 0.03
Maks 0.02
Maks 0.03
mg/kg
Maks 0.1
Maks 0.1
APM/
ml
Maks 10
Maks 10
Salmonella sp/
Negatif
Negatif
25 ml
9.3 Listeria
monocytogenes/ Negatif
Negatif
25 ml
10 Kultur Starter
Koloni
Min 1 x 106
/ml
Sumber : Standar Nasional Indonesia (SNI), 2009 (SNI 2981:2009)
20
2.5. Carboxy Methyl Cellulose (CMC)
Carboxy Methyl Cellulose (CMC) merupakan polielektrolit amoniak turunan dari
selulosa dengan perlakuan alkali dan monochloro acetic acid atau garam natrium
yang digunakan luas dalam industri pangan.
CMC memiliki rumus molekul
C8H16NaO8 bersifat biodegradable, tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun,
berbentuk butiran atau bubuk yang larut dalam air namun tidak larut dalam larutan
organik, stabil pada rentang pH 3-10 dan mengendap pada pH kurang dari 3, serta
tidak bereaksi pada senyawa organik. Contoh aplikasi CMC adalah pada pemrosesan
selai, es krim, minuman, saus, jelly, pasta, keju, dan sirup. Karena pemanfaatannya
yang luas, mudah digunakan, serta harganya yang tidak mahal, CMC menjadi salah
atu zat yang diminati (De Man, 1989).
Gambar 3. Carboxy Methyl Celulose (CMC) (De Man, 1989)
21
CMC digunakan dalam bentuk garam natrium carboxy methyl cellulose sebagai
pemberi bentuk, konsistensi, dan tekstur.
CMC berfungsi mempertahankan
kestabilan minuman agar partikel padatannya tetap terdispersi merata ke seluruh
bagian sehingga tidak mengalami pengendapan (Prasetyo, dkk., 2014). CMC juga
berperan sebagai pengikat air, pengental, stabilisator emulsi, dan tekstur gum. CMC
digunakan dalam ilmu pangan sebagai bahan pengental dan untuk menstabilkan
emulsi. CMC mampu menggantikan produk-produk seperti gelatin, gum arab, agaragar, karageenan, tragacanth, dan lain-lain. Sebagai pengemulsi, CMC sangat baik
digunakan untuk memperbaiki kenampakan tekstur dari produk berkadar gula tinggi.
Sebagai pengental, CMC mampu mengikat air sehingga molekul-molekul air
terperangkap dalam struktur gel yang dibentuk oleh CMC (De Man, 1989). Jumlah
CMC yang diperlukan untuk menjaga stabilitas produk yang baik tergantung pada
tingkat kekentalan sebelum dikonsumsi. Produk yang mengandung sejumlah besar
padatan yang kental hanya membutuhkan penambahan CMC dalam jumlah sedikit.
Sebaliknya, penambahan CMC dalam jumlah besar dapat digunakan untuk
menciptakan tekstur produk yang mengandung beberapa zat padat terlarut
(Akkarachaneeyakorn and Tinrat, 2015).
Menurut Tranggono dkk. (1991), CMC ini mudah larut dalam air panas maupun air
dingin serta dapat menstabilkan minuman berprotein pada pH rendah. Fermentasi
menyebabkan terbentuknya asam yang akan menyebabkan penggumpalan protein
pada susu.
Kompleks CMC-protein akan meningkatkan stabilitas protein pada
produk minuman fermentasi susu sehingga akan menghasilkan minuman probiotik
22
flavor buah dan menstabilkan yogurt. Na-CMC akan terdispersi dalam air, kemudian
butir-butir Na-CMC yang bersifat hidrofilik akan menyerap air dan terjadi
pembengkakan. Air yang sebelumnya ada di luar granula dan bebas bergerak, tidak
dapat bergerak lagi dengan bebas sehingga keadaan larutan lebih mantap (Fennema,
et al., 1996). Hal ini akan menyebabkan partikel-partikel terperangkap dalam sistem
tersebut dan memperlambat proses pengendapan karena adanya pengaruh gaya
gravitasi (Potter, 1986). Menurut De Man, (1989), bahan penstabil memiliki sifat
sebagai pengemulsi yang ditandai dengan adanya gugus yang bersifat polar
(hidrofilik) dan non polar (hidrofobik). Ketika dicampurkan bahan pangan cair maka
gugus polar akan berikatan dengan air dan tekstur bahan pangan menjadi kokoh.
2.6. Penyimpanan Dingin
Minuman probiotik rentan mengalami kerusakan apabila disimpan pada suhu simpan
yang tidak optimum.
Lama penyimpanan mempengaruhi sifat sensori minuman
probiotik. Pertumbuhan dan perkembangbiakkan BAL selama proses penyimpanan
akan memecah glukosa menjadi asam laktat dan produk metabolit lainnya, seperti
karbondioksida, asam-asam volatil, alkohol, dan ester selama penyimpanan (Fardiaz,
1989). Produksi asam yang terus menerus akan menurunkan pH minuman probiotik
dan akan menyebabkan rasa asam pada minuman tersebut. Penelitian Retnowati dkk
(2013), pada minuman probiotik fermentasi sari buah kurma menggunakan kultur
campuran (L. casei dan L. plantarum) pada suhu 37 oC akan semakin baik penilaian
organoleptiknya pada penyimpanan dingin 4
o
C selama 20 jam (skor 0,98)
23
dibandingkan dengan penyimpanan selama 16 jam (skor rata-rata 0,56) dan 18 jam
(skor rata-rata 0,24) pada kondisi yang sama.
Lama penyimpanan dingin juga akan mempengaruhi jumlah BAL pada minuman
probiotik.
Pada penelitian Yusmarini et al. (2010), semakin lama penyimpanan
minuman probiotik susu kedelai menggunakan kombinasi L. plantarum dan L.
acidophilus pada suhu 37 oC maka total BAL akan semakin tinggi dari hari ke- 0 (103
cfu/ml) hingga hari ke- 20 (1011 cfu/ml). Pada penelitian Youngyoon et al. (2004),
penyimpanan minuman probiotik sari buah tomat pada suhu 4 oC selama 4 minggu
menghasilkan total BAL 106-108 kol/ml. Selain itu, penelitian Shin et al. (2000)
dilaporkan total BAL yoghurt yang disimpan pada suhu dingin 4 oC (refrigerated)
yaitu, 106 kol/ml.
Penyimpanan pada suhu rendah merupakan salah satu cara pengendalian dari
pembiakan mikroorganisme. Pada suhu rendah aktivitas mikroorganisme perusak
sangat terhambat dan hampir tidak ada aktivitas pada suhu di bawah titik beku.
Frazier dan Weshoff (1988) mengatakan bahwa keadaan dingin biasanya
mengakibatkan penurunan dalam jumlah besar mikroorganisme yang hidup dalam
suatu makanan, tetapi keadaan dingin juga dapat menyebabkan denaturasi sel-sel
protein (Sugiarto, 1997).
24
2.7. Stabilitas Minuman Probiotik
Stabilitas merupakan faktor penting dari kualitas yang dapat mengakibatkan
perubahan fisik (seperti kekerasan, udara terutama oksigen, cahaya). Stabilitas di
definisikan sebagai kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang
ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan. Ketidakstabilan suatu
produk steril juga bisa berbahaya.
Penentuan stabilitas dilakukan berdasarkan
perbandingan antara volume bagian keruh dengan volume total (Aziz, 2009).
Stabilitas diukur berdasarkan persen bagian keruh, dengan semakin rendah nilainya
maka stabilitas akan semakin baik.
Bahan penstabil yang sering digunakan adalah gelatin, gum arab, dan CMC. Bahan
penstabil biasanya berasal dari hidrokoloid karena kemampuannya dalam mengubah
sifat fungsional produk pangan yang diinginkan seperti kekentalan, emulsi, gel dan
kestabilan. Bahan penstabil dapat menstabilkan tekstur dan viskositas produk pangan
dengan pembentukan gel.
Bahan penstabil memiliki gugus polar dan non polar
sehingga bila dicampur dengan bahan pangan cair maka gugus polar akan akan
berikatan dengan air (De Man, 1989). Bahan penstabil berperan dalam menjaga
kestabilan produk dan mencegah terjadinya sineresis dengan peningkatan viskositas
atau kekentalannya (Buckle, et al, 1987).
25
III. BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Hasil Pertanian,
Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian, Laboratorium Pengawasan Mutu Hasil
Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung
pada bulan Februari 2016 Hingga April 2016.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang dipergunakan meliputi nanas madu yang diperoleh dari pedagang
di daerah Raja Basa, kultur Lactobacillus casei, air mineral, glukosa, susu skim yang
dipergunakan sebagai substrat pertumbuhan, MRS Agar sebagai media tumbuh
Bakteri Asam Laktat dan MRS Broth untuk pembuatan kultur, Carboxy Methyl
Cellulose (CMC), akuades, PP, NaOH 0,1N, larutan NaCl, dan alkohol 70%.
Alat-alat yang digunakan terdiri dari tabung reaksi, cawan petri, incubator 37 oC,
oven 60 oC, autoclave 121 oC (15 menit), lampu bunsen, neraca analitik (ketelitian
0,0001 g), pipet tip, tisu, sendok, blender, baskom, pisau, kain saring, hot plate stirrer,
gelas ukur, labu Erlenmeyer, alumunium foil, mikro pipet, alat gelas lainya dan
lemari pendingin atau refrigerator (5 – 12 oC).
26
3.3. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap.
Faktor pertama adalah konsentrasi penambahan CMC (C), perlakuan konsentrasi
terdiri dari 4 taraf yaitu 1 (0%), 2 (0,1%), 3 (0,2%), dan 4 (0,3%) (b/v). Faktor kedua
yaitu lama penyimpanan (M) yang terdiri dari 7 taraf, yaitu 0 hari, 7 hari, 14 hari, 21
hari, 28 hari, 35 hari dan 42 hari. Penelitian ini memiliki 28 unit perlakuan dengan
menggunakan 3 ulangan dan setiap ulangan dianalisis secara duplo.
Minuman
fermentasi laktat yang sudah diberi perlakuan konsentrasi bahan penstabil selanjutnya
disimpan pada suhu penyimpanan dingin yaitu sekitar 12 ± 5 °C selama 6 minggu,
lalu dilakukan pengamatan setiap 1 minggu. Pengamatan meliputi total bakteri asam
laktat, pH, total asam laktat, stabilitas minuman, dan uji organoleptik meliputi warna,
aroma, rasa, dan penerimaan keseluruhan.
Data yang diperoleh diuji dengan
kesamaan ragam dengan uji barlett dan kemenambahan data di uji dengan uji Tuckey.
Data selanjutnya dianalisis lanjut dengan Polinominal Ortogonal pada taraf nyata 5%.
3.4. Pelaksanaan Penelitian
1. Persiapan Starter
Pembuatan starter dilakukan dengan metode Rizal, dkk., (2006) yang telah
dimodifikasi. Kultur bakteri yang akan digunakan dipindah ke tabung reaksi berisi
MRS Broth steril, kemudian diinkubasi selama 48 jam pada suhu 37 °C. Kemudian
27
sebanyak 40μ ditumbuhkan ke dalam susu skim 5 % (b/v) steril 10 ml. Kultur ini
disebut kultur induk. Selanjutnya dari kultur induk diinokulasikan ke dalam media
susu skim (5% b/v) dan glukosa (3% b/v) dalam media nanas 50 ml, dan diinkubasi
selama 48 jam sehingga didapat kultur antara.
Kemudian kultur antara
diinokulasikan sebanyak 4% (v/v) ke dalam media susu skim 5% (b/v) dengan
penambahan 3% (b/v) glukosa steril dalam media nanas 50 ml. Inkubasi dilakukan
selama 48 jam pada suhu 37oC, sehingga didapatkan kultur kerja. Diagram alir
proses pembuatan starter dapat dilihat pada Gambar 4.
Kultur stok BAL
Diambil 40μ secara aseptis ke dalam masing-masing tabung yang mengandung media
susu skim (5% b/v) 10 ml steril
Inkubasi (37oC, 48 jam) sehingga didapatlah kultur induk
Inokulasi kultur induk (4% v/v) dalam media nanas 50ml dengan penambahan susu
skim steril (5% b/v)
Inkubasi (37oC, 24 jam) sehingga didapatlah kultur antara
Inokulasi kultur antara (4% v/v) ke dalam media nanas 50 ml dengan penambahan
susu skim steril (5% b/v) dan glukosa (3% b/v)
Inkubasi pada suhu 37oC selama 48 jam,
sehingga didapatlah kultur kerja
Gambar 4. Diagram alir persiapan starter (Rizal, dkk., 2006) yang telah dimodifikasi
28
2. Pembuatan Sari Buah Nanas
Buah nanas yang dipilih buah nanas madu varietas Queen yang cukup matang,
berwarna kuning oranye, dan layak dikonsumsi. Buah nanas mula-mula dikupas
kulitnya dan dibersihkan mata nanasnya baru dicuci.
Tahap selanjutnya
dilakukan penghancuran buah menggunakan blender, kemudian dilakukan
penyaringan sehingga diperoleh sari buah nanas. Diagram alir pembuatan sari
buah nanas dapat dilihat pada Gambar 5.
Buah Nanas
Kulit buah dan mata nanas
Daging buah nanas
Penambahan air
3:1
Dihancurkan
Disaring dengan kain saring
Ampas
Didiamkan selama satu jam
Sari buah nanas
Gambar 5.
Diagram alir pembuatan sari buah nanas (Rizal, dkk., 2006) yang telah
dimodifikasi
29
3. Proses Pembuatan Minuman Probiotik Sari Buah Nanas
Proses pembuatan minuman probiotik sari buah nanas diterapkan dengan metode
pembuatan minuman probiotik dari kulit nanas yang dilakukan oleh Rizal, dkk.,
(2006).
Sari buah yang didiamkan selama 1 jam dalam suhu ruang untuk
memisahkan endapan selanjutnya ditambahkan susu skim dan gula sebanyak 4 % dan
2 % serta CMC sesuai perlakuan (0 %, 0,1 %, 0,2 %, dan 0,3 % (b/v). Diagram alir
pembuatan minuman probiotik sari buah nanas dapat dilihat pada Gambar 6.
Susu skim
dan gula
sebanyak 4%
dan 2% (b/v)
Sari Buah Nanas 240 ml
Sterilisasi (121 °C, 15 Menit)
CMC 0 %,
0,1 %, 0,2
%, dan 0,3
% (b/v)
didinginkan hingga suhu 37°C
Inokulasi 4% (v/v) L. casei
Inkubasi (37 °C, 48 Jam)
Minuman probiotik sari buah nanas diamati
sebagai hari ke 0
Penyimpanan suhu dingin (12 ± 5) °C
selama 42 hari dan Pengamatan setiap 7 hari
sekali
Gambar 6. Diagram alir pembuatan minuman probiotik sari buah nanas (Rizal, dkk.,
2006) yang dimodifikasi
30
3.5. Pengamatan
1. Total Bakteri Asam Laktat
Pada pengamatan total bakteri asam laktat, pengamatan dilakukan setelah bakteri
diinkubasi selama 48 jam. Analisis ini dilakukan dengan perhitungan cawan petri
(Fardiaz, 1987). Sebanyak 1 ml sampel diencerkan dengan 9 ml larutan garam
fisiologis steril. Campuran kemudian dihomogenkan dan diambil 1 ml larutan dari
tabung pertama lalu dimasukkan kedalam tabung reaksi kedua yang berisi 9 ml
larutan garam fisiologis steril sehingga diperoleh pengenceran 10-1 dan seterusnya
hingga diperoleh pengenceran 10-8 atau sampai pada pengencaran yang diinginkan .
Tiga pengenceran terakhir atau dari pengenceran yang dikehendaki diambil dengan
pipet 1ml, lalu sampel dimasukkan ke dalam cawan petri steril kemudian
ditambahkan kira-kira 10-15 ml media MRS Agar steril.
Pada isolasi BAL ini
digunakan media isolasi yang spesifik yang sering disebut sebagai media selektif.
Media selektif ini digunakan untuk menumbuhkan dan memelihara bakteri tertentu.
Dengan sifat kekhususannya maka akan menyeleksi BAL secara langsung. Pada
media ini hanya bakteri tertentu yang dapat tumbuh. Pada isolasi BAL, media yang
digunakan ialah media De Man Rogosa Sharpe Agar/MRS agar (Oxoid, 1982).
Cawan yang telah berisi media dan sampel ini diratakan dengan cara menggerakkan
secara vertikal membentuk angka 8 dan biarkan sampai membeku, kemudian cawan
diinkubasi dengan posisi terbalik untuk mencegah mikroba terkena uap air yang
dihasilkan saat inkubasi, sehingga kualitas mikroba tidak rusak atau mengalami
31
gangguan. Inkubasi dilakukan pada suhu 37°C selama 48 jam lalu dihitung koloni
yang tumbuh dengan menggunakan alat penghitung koloni (colony counter). Total
koloni yang terhitung harus sesuai standar International Comission Microbiology
Food (ICMF) yaitu yang memiliki jumlah 30-300 koloni percawan petri (Fardiaz,
1987).
Total BAL (Koloni/ml) = Jumlah Koloni Terhitung ×
1
Faktor Pengenceran
2. Total Asam Laktat
Pengujian total asam laktat dilakukan berdasarkan metode Sudarmadji, dkk., (1988).
Sebanyak 1 ml sampel dimasukkan ke dalam erlenmeyer selanjutnya diencerkan
dengan 10 ml air destilat, campuran tersebut kemudian dititrasi dengan larutan NaOH
0,1 N. Untuk menentukan titik akhir titrasi digunakan indikator fenolftalin. Akhir
titrasi tercapai setelah terbentuk warna merah muda yang konstan. Perhitungan total
asam laktat dilakukan dengan rumus:
% Asam laktat =
Keterangan
N NaOH × ml NaOH × FP × BM Asam Laktat
ml Sampel
: N = Normalitas larutan NaOH
FP = faktor pengenceran = 0,1
BM asam laktat (CH3CHOHCOOH) = 90
ml sampel = 1 ml
3. Derajat Keasaman ( pH )
Nilai pH ditentukan dengan menggunakan pH meter. Pengamatan derajat keasaman
dilakukan pada saat pembuatan minuman probiotik sari buah nanas selesai di
32
fermentasi. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan pH meter. Sebelum
dilakukan pengamatan, pH meter harus dikalibrasi terlebih dahulu dengan
menggunakan larutan buffer 4,0 dan 7,0. Selanjutnya dilakukan pengukuran terhadap
larutan sampel dengan mencelupkan elektrodanya ke dalam larutan sampel dan
dibiarkan beberapa saat hingga diperoleh pembacaan yang stabil. Alat pH meter yang
akan dipergunakan harus terstandarisasi sekurangnya 1 tahun sekali oleh badan pusat
statitiska.
4. Stabilitas
Pengamatan stabilitas minuman probiotik buah nanas dilakukan setelah minuman
probiotik ini disimpan. Stabilitas diamati setiap 7 hari sekali sampai minggu ke- 6.
Analisis stabilitas diukur dengan menggunakan metode yang dilakukan oleh Sutter
(Aziz, 2009).
Penentuan stabilitas dilakukan berdasarkan perbandingan antara
volume bagian keruh dengan volume total. Stabilitas diukur berdasarkan persen
bagian keruh, dengan semakin rendah nilainya maka stabilitas akan semakin baik.
Analisis dilakukan dengan cara mengukur tinggi fraksi bagian keruh dari minuman
probiotik dan tinggi minuman probiotik keseluruhan besarnya stabilitas dinyatakan
dalam persen.
Sampel sebanyak 50 ml dimasukan ke dalam botol transparan.
Kemudian diamati pemisahannya dan diukur volume awal larutan sebelum terjadi
pemisahan atau pengendapan, nilai ini digunakan sebagai nilai volume larutan secara
keseluruhan. Kemudian diukur bagian zat yang terpisah sebagai volume bagian
keruh.
33
Perhitungan dapat dihitung dengan rumus :
% Stabilitas =
Volume total (a+b) – Volume bagian keruh (b)
× 100%
Volume total (a+b)
5. Uji Organoleptik
Penilaian organoleptik minuman probiotik sari buah nanas dilakukan dengan uji
skoring dan uji hedonik (Meilgaard, 1999) terhadap warna, aroma, rasa, dan
penerimaan keseluruhan. Sebelum dilakukan uji organoleptik, minuman probiotik sari
buah nanas terlebih dahulu ditambahkan larutan sukrosa 65% dengan perbandingan
1:1. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa asam yang ditimbulkan oleh minuman
probiotik sari buah nanas tersebut.Pengujian dilakukan oleh 25 mahasiswa sebagai
panelis semi terlatih yang berada di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung.
Pada kuisioner dibuat deskripsi untuk masing-
masing parameter, kemudian deskripsi akan dihitung persentasenya. Contoh
kuesioner yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 4.
34
Tabel 4. Lembar Questioner Uji Skoring dan Uji Hedonik
Nama panelis : .............
Tanggal : .............
UJI SKORING dan UJI HEDONIK
Dihadapan saudara disajikan sampel minuman probiotik sari buah nanas yang diberi
kode acak. Anda diminta untuk menilai warna, rasa, dan aroma (uji skoring) serta
penerimaan keseluruhan (uji hedonik), dengan skor dari 1 sampai 5 sesuai keterangan
yang terlampir.
Parameter
Kode Sampel
295
112
692
403
Warna
Aroma
Rasa
Warna
Rasa
Aroma
5. Kuning
Sangat asam
5. Sangat khas nanas
5.
jernih
4. Kuning
Asam
4. Khas nanas
4.
3.
Agak
Asam
3. Agak khas nanas
3. Agak kuning
2. Kuning
Tidak asam
2. Tidak khas nanas
2.
keruh
1. Kuning
Sangat tidak
1.
sangatasam 1 . Sangat tidak khas
nanas
keruh
Rasa
Keseluruhan
5. Sangat asam
4. Asam
3. Agak Asam
2. Tidak asam
1. Sangat tidak asam
5. Sangat suka
4. Suka
3. Agak suka
2. Tidak suka
1. Sangat tidak suka
58
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Konsentrasi CMC terbaik yang ditambahkan pada minuman probiotik sari buah
nanas yang memiliki stabilitas dan karakteristik yang baik adalah konsentrasi
0,2%.
2. Lama penyimpanan terbaik pada minuman probiotik sari buah nanas yang
memiliki stabilitas dan karakteristik minuman yang baik adalah penyimpanan
dingin selama 4 minggu.
3. Terdapat interaksi antara konsentrasi CMC dan lama penyimpanan terbaik
terhadap stabilitas dan karakteristik minuman probiotik sari buah nanas.
Perlakuan terbaik pada minuman probiotik sari buah nanas adalah CMC 0,2%
dengan lama penyimpanan 4 minggu (C3M4), menghasilkan stabilitas 100%,
total bakteri asam laktat 12,36 log koloni/ml (1012), total asam laktat 2,85%, pH
3,37 serta skor organoleptik 3,77 (rasa), 3,43 (aroma), 3,27 (warna) dan
penerimaan keseluruhan yaitu 3,00. Pada penerimaan keseluruhan mulai
mengalami penurunan pada minggu ke- 5 sampai minggu ke- 6, namun
penurunan skor tersebut masih terdapat pada batas yang masih disukai dan dapat
diterima oleh panelis.
59
5.2. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang penambahan bahan penstabil yang
tepat agar mendapatkan hasil yang lebih baik pada sifat kimia dan karakteristik
minuman probiotik sari buah nanas serta cara pengamatan stabilitas yang efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Akkarachaneeyakorn, S, and S. Tinrat. 2015. Effects of types and amounts of
stabilizers on physical and sensory characteristics of cloudy ready-to-drink
mulberry fruit juice. Journal of Food Science & Nutrition, 2015; 3(3): 213–220
Alakali, J.S., T.M. Okonkwo, and E.M. Lordye. 2008. Effects of stabilizer on the
physic-chemical attributes of thermized yoghurt. African Journal of
Biotechnology, 7 (2): 158-163.
Anshori, R. 1992. Teknologi Fermentasi. Arcan, Jakarta. 188 hlm.
Aziz, A. 2009. Hidrokoloid Kappa-Karagenan Sebagai Penstabil Santan Kelapa
(Cocos nucifera). (Skripsi). IPB. Bogor. 36-37.
Badan Standarisasi Nasional. 2009. SNI 01.7552-2009. Minuman Susu Fermentasi
Berperisa. Standarisasi Nasional Indonesia. Jakarta.
Buckle, K.A, R.A. Edwards, G.H. Fleet, and M.Wootton. 1987. Ilmu Pangan. UI
Press. Jakarta. p. 383.
Dalimartha, S. 2001. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. Nanas. h. 140- 145.
Jakarta : Trubus Agriwidya.
Darmajana, D.A. 2011. Pengaruh Konsentrasi Starter Dan Konsentrasi Karageenan
Terhadap Mutu Yoghurt Nabati Kacang Hijau. Prosiding Seminar Nasional
Penelitian dan PKM Sains, Teknologi, dan Kesehatan. 2(1): 267-274.
De Man, John. M. 1989. Kimia Makanan. Penerjemah Kosasih Padmawinata ITB.
Bandung. 550 hlm.
FAO/WHO. 2001. Joint FAO/WHO Expert Consultation on Evaluation of Health and
Nutritional Properties of Probiotics in Food Including Powder Milk with Live
Lactic Acid Bacteria. Amerian Córdoba Park Hotel, Córdoba, Argentina.
Fardiaz, S. 1987. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Pangan. Jurusan Tekologi
Pangan dan Gizi. IPB. Bogor. 142 hlm.
Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. PAU-Pangan dan Gizi, Institut Pertanian
Bogor, Bogor. 142 hlm.
61
Fennema, O. R., M. Karen, and D. B. Lund. 1996. Principle of Food Science. The
AVI Publishing, Connecticut. Hal. 62.
Frazier, W. C. and D. C. Westhoff. 1978. Food Microbiology. 4th edition. New York:
McGrawHill Book. Publishing. Co. Ltd.
Fuller, R. 1992. History and Development of Probiotics. In Probiotics the Scientific
Basis. Edited by Fuller. Chapman and Hall. London. New York, Tokyo,
Melbourne, Madras., pp 1-7
Hartati, S, Harmayani, Eni dan E.S Rahayu. 2003. Viabilitas dan Stabilitas
Lactobacillus plantarum .mut7 fncc 250 yang Disuplementasikan dalam Sari
Buah Pepaya-Nanas Selama Penyimpanan. J. Teknologi dan Industri Pangan.
14(2): 182-187.
Health Canada 2004. A Regulatory Framework for Natural Health Products.
http://www.hcsc.gc.ca/dhp-mps/prodnatur/about-apropos/glance-apercueng.php. Diakses pada 28 April 2016.
Honsha, Y. 1990. Yakult Fermented Milk Drink to Promote Health. Tokyo Japan :
Yakult Honsha Co. Ltd.
Hood, S.K. and E.A. Zottola. 1998. Effect of low pH on the ability of Lactobacillus
acidophilus to survey and adherence to human intestinal cells. Journal of Food
Science 53: 1514-1516.
Hull, R. and A.J Evans. 1992. Probiotic Foods- a New Opportunity. Food Australia.
1(9):418-420.
Ichikawa, T. 1994. Functional Food in Japan. Functional Foods: Designer Foods,
Pharmafoods, Nutraceuticals. Edited by I. Goldberg. New York : Chapman &
Hall. 453-467.
Iqbal, N, S.N. Siregar, dan Iswanil. 2012. Studi Pembuatan Minuman Probiotik Dari
Sari Ubi Jalar (Ipomoea Batatas ). J. Agrium. 17 (2) :124-127.
Kosikowski, F.V. 1982 . Cheese And Fermented Milks Food, 2nd edn, F .V.
Kosikowski and Associates, Brooktondale, New York. p. 690.
Kuswanto, K.R., dan S. Sudarmadji. 1988. Proses-proses Mikrobiologi Pangan. PAU
Pangann dan Gizi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. 160 hlm.
Lee, Y.K. and S.F. Wong, 1993. Stability of lactic acid bacteria in fermented milk.
In: Lactic acid bacteria. In: Salminen, S. and A. Von Wright (Eds.), Marcel
Dekker Inc., New York, pp: 103-114.
Lingga, L. 2012. The Healing Power of Antioxidan. Jakarta: PT. Gramedia. Hal. 64.
62
Lisai, J. S. 2005. Konsep Probiotik dan Prebiotik Untuk Modulasi Mikrobiota Usus
Besar. Jurnal Media Nussantara. 26(4):1-6.
Manurung, D.F, H. Rusmarilin, dan Ridwansyah. 2014. Pengaruh Perbandingan Sari
Biji Nangka Dengan Sari Buah Naga Merah Dan Perbandingan Zat Penstabil
Terhadap Mutu Yoghurt Buah Naga. J. Rekayasa Pangan dan Pertanian. 2 (4) :
9-19.
Maria, D.M, dan E. Zubaidah. 2014. Pembuatan Velva Jambu Biji Merah Probiotik
(Lactobacillus Acidophilus) Kajian Persentase Penambahan Sukrosa dan CMC.
J. Pangan dan Agroindustri Vol. 2 No 4 p.18-28
Meilgaard, MC, GV Civille dan BT Carr, 1999. Sensory Evaluation Techniques. CRC
Press, Boca Raton, FL, USA. 464p.
Oberman, H. dan Libudzisz. 1998. Fermented Milks. In B.J.B. Wood (ed.)
Microbiology of Fermented Foods, London: Blackie Academic and
Professional. pp. 308-349.
Orihara, O., Sakuchi, I., and Nakazawa, Y. 1992. Types and standards for fermented
milks and lactic drink. p. 1-16. In Nakazawa, Y. and Hosono, A. (ed.),
Functions of Fermented Milk : Challenges for the Health Sciences. Elsevier Sci.
Publ. Co., Inc., New York.
Oxoid. 1982. The oxoid mannual of culture media, ingredients and other laboratory
services. Fifth Edition. Published by Oxoid Limited, Wade Road. Basingtoke,
Hampshire. p 56.
Potter, Norman. 1986. Food Science. 4th edition. The AVI Publishing Company.
Westport, Conn. p. 463.
Prabandari, W. 2011. Pengaruh penambahan berbagai jenis bahan penstabil terhadap
karekteristik fisikokimia dan organoleptik yoghurt jagung. (Skripsi). Universitas
Sebelas Maret. Surakarta. 52 hlm.
Prasetyo, B.B, Purwadi dan D. Rosyidi. 2015. Penambahan CMC (Carboxy Methyl
Cellulose) Pada Pembuatan Minuman Madu Sari Buah Jambu Merah (Psidium
Guajava) Ditinjau dari pH, Viskositas, Total Kapang dan Mutu Organoleptik.
Universitas Brawijaya, Malang. p. 1-8
Puspita, V. 2011. Hidup Sehat ala Vegan. Yogyakarta: PT. Gramedia. Hal. 37.
Rahayu, S.E. 2000. Bakteri Asam Laktat dalam Fermentasi dan Pengawetan
Makanan. Prosiding Seminar Nasional Industri Pangan. PATPI. Surabaya. 10–
11 Oktober. Hal: 298-307.
Retnowati, P.A. 2014. Pembuatan Minuman Probiotik Sari Buah Kurma (Phoenix
dactilyfera L.) dengan Isolat Lactobacillus casei dan Lactobacillus plantarum
63
(kajian proporsi buah kurma : air dan lama fermentasi). (Skripsi). Universitas
Brawijaya. Malang. 86 hlm.
Rizal, S. 2007. Optimasi Produk Minuman Kesehatan Dari Sari Buah Sirsak
Menggunakan Lactobacillus acidophilulus dan Lactobacillus casei. Laporan
Penelitian Dosen Muda. Unila. Bandar Lampung.
Rizal, S., Marniza dan S.U. Nurdin. 2006. Optimasi Proses Pengolahan Minuman
Probiotik dari Kulit Nenas dan Pengaruhnya Terhadap Mikroflora Usus Besar
Tikus Percobaan. (Laporan Akhir Penelitian TPSDP). Unila. Bandar Lampung.
Roberfroid, M. B. 2000. Prebiotics and probiotics: are they functional foods?. Am. J.
Clin. Nutr. 71: 1682-1687.
Rozada, R., J. A. Vázquez, D. Charalampopoulos, K. Thomas, and S. Pandiella.
2009. Effect of storage temperature and media composition on the survivability
of Bifidobacterium breve NCIMB 702257 in a malt hydrolisate. Int J Food
Microbiol 133:14–21.
Santoso, H. B. 2010. Teknologi Tepat Guna Manisan Nanas. Cetakan ke Delapan.
Yogyakarta : Kanisius. Hal 12.
Schrezenmeir, J. and M. de Vrese. 2001. Probiotics, prebiotics and symbioticsapproaching a definition. American Journal of Clinical Nutrition 73 (suppl):
361S-364S.
Septiatin, E. 2009. Apotek Hidup dari Tanaman Buah. Bandung: CV. Yrama Widya
Hal. 81-88.
Shin, H. -S., J. -H. Lee, J. J. Pestka and Z. Ustunol. 2000. Growth and Viability of
Commercial Bifidobacterium spp. in Skim Milk Containing Oligosaccharides
and Inulin. J. Food Sci. 65 (5): 884 – 887.
Shortt, C. 1999. The Probiotic Century: Historical And Current Perspectives. Review
on Trend Food Science and Technology 10: 411-417.
Soegijanto dan Soegeng. 2002. Ilmu Penyakit Anak Diagnosa
Penatalaksanaannya. Edisi Pertama. Salemba Medika. 93101:74-78.
dan
Soeharsono. 1997. Probiotik: Alternatif Pengganti Antibiotik. Buletin PDSKI.
10(9):1-5.
Speck, M. L., 1978. Acidophilus Food Product. Development in Industrial
Microbiology 19: 95-101. in Rose. Economic Microbiology Fermented Foods.
Vol V11. London : Academic Press.
Standar Nasional Indonesia (SNI). 2009 . SNI 2981:2009. Yoghurt. Badan
Standarisasi Nasional. Jakarta.
64
Sugiarto. 1997. Proses Pembuatan Dan Penyimpanan Yoghurt Yang Baik. Balai
Penelitian Ternak. Ciawi. P.O. Box 221. Bogor 16002. Hal. 62-67.
Sulastri, T.A. 2008. Pengaruh Konsentrasi Gum Arab terhadap Mutu Velva Buah
Nanas Selama Penyimpanan Dingin. (Skripsi). Fakultas Pertanian, Universitas
Sumatra Utara. Riau. 75 hlm.
Surono, I. 2004. Probiotik Susu Fermentasi dan Kesehatan, PT.Zitri Cipta Karya:
Jakarta. Teknologi dan Industri Pangan, 7(2) : 46-51.
Suseno, T.I.P, S. Surjoseputro, dan Anita. 2000. Minuman Probiotik Nira Siwalan :
Kajian Lama Penyimpanan Terhadap Daya Anti Mikroba Lactobacillus Casei
Pada Beberapa Bakteri Patogen. J. Teknologi Pangan dan Gizi. 1 (1) :1-13.
Susrini.2003. Pengantar Teknologi Pengolahan Susu. Fakultas Peternakan UB.
Malang. Hal. 32.
Tambunan, A.R. 2016. Karakteristik Probiotik Berbagai Jenis Bakteri Asam Laktat
(Bal) Pada Minuman Fermentasi Laktat Sari Buah Nanas. (Skripsi). Universitas
Lampung. Bandar Lampung. Hal 46.
Tannock, G.W. 1999. Probiotics. A critical review. Horizon Scientific Press PO Box
I. Wymondham, Norfolk. United Kingdom.p 11.
Tranggono, S., Haryadi, Suparmo, A. Murdiati, S. Sudarmadji, K. Rahayu, S. Naruki,
dan M. Astuti. 1991. Bahan Tambahan Makanan (Food Additive). PAU Pangan
dan Gizi UGM, Yogyakarta. Hal. 44.
Trzaskowska, M. and D. Kolo. 2005. An attempt at using Lactobacillus acidophilus
for producing fermented. Faculty of Human Nutrition and Consumer Sciences.
Warsaw Agricultural University. Nowoursynowska. p 1-12.
Tyastuti, N.C. 2013. Pengaruh Jenis Stabilizer Terhadap Kualitas Kimia,
Mikrobiologis, Dan Organoleptik Yoghurt Powder Selama Penyimpanan.
(Skripsi). Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. 64 hlm.
Warganegara, E.W. 2009. Pengaruh Jenis Bakteri Asam Laktat Dan Lama Fermentasi
Terhadap Karakteristik Minuman Fermentasi Laktat Sari Buah Sirsak. (Skripsi).
Universitas Lampung. Bandar Lampung. 82 hlm.
Widodo, W. 2002. Bioteknologi Fermentasi Susu. Pusat Pengembangan Bioteknologi
Universitas Muhammadiyah Malang. Malang
Wirakusumah. 2000. Buah dan Sayuran Untuk Terapi. Jakarta : PT Penebar Swadaya.
Hal. 27.
Yogeswara, I.B.A, I.G Ayu Wita, dan N.W. Nursini. 2011. Viabilitas dan Stabilitas
Bakteri Probiotik L. Acidophillus Fncc 0051 pada Susu Kedelai Fermentasi
65
Selama Di Saluran Cerna In Vitro dan Penyimpanan. Fakultas Ilmu Kesehatan,
Sains dan Teknologi Universitas Dhyana Pura, Tegal Jaya, Dalung. Hal. 21.
Youngyoon, K, E. Edward, Woodams and D.H. Young. 2004. Probiotication of
Tomato Juice by Lactic Acid Bacteria. Journal of Microbiology. vol 42 :p315318.
Youngyoon, K, E. Edward, Woodams and D.H. Young. 2005. Production of
Probiotic Cabbage Juice By Lactic Acid Bacteria. Elsiever. Bioresource
Technology. 4(97):1427–1430.
Yusmarini, Indrati, R. Utami, T. and Marsono, Y. 2010. Kemampuan Susu Kedelai
yang Difermentasi Oleh Lactobacillus Plantarum 1 Dalam Mengikat Asam
Empedu. Majalah Farmasi Indonesia. 21(3): 203-208.
Download