PENDIDIKKAN AGAMA KATOLIK BAB I

advertisement
PENDIDIKKAN AGAMA KATOLIK
BAB I
KEMAJEMUKAN BANGSA
A. Keragaman sebagai Realita Asali Kehidupan Manusia
Manusia tidak bisa hidup sendirian di dunia ini. Setiap individu berbeda dengan
individu yang lain. Tuhan menciptakan setiap orang dengan keunikan tertentu, termasuk
kembar tetap ada perbedaan di antara mereka. Dengan perbedaan yang dialami, orang dapat
menemukan dan saling mengenal indentitas setiap individu, mulai dari nama sampai
karakter pribadinya.
1. Mengenal Keragaman sebagai Realitas Bangsa Indonesia
Manusia dilahirkan ke dunia menjadi seorang laki-laki atau perempuan. Tidak ada yang
bisa memilih menjadi laki-laki atau perempuan, dilahirkan dalam lingkungan kaya atau
miskin, anak tunggal, sulung atau bungsu termasuk berapa jumlah saudara yang dimiliki.
Pendek kata, manusia dilahirkan dengan sebuah ketentuan yang diputuskan oleh Allah
sendiri yang kemudian disebut dengan kodrat. Manusia dilahirkan tanpa membawa apa-apa
kecuali dirinya sendiri dalam keadaan telanjang. Secara umum dapat dikatakan bahwa
proses kelahiran manusia di dunia sama. Tetapi mengingat bahwa dia tidak dapat
menentukan lingkungan yang menerima kehadirannya di dunia saat dia dilahirkan itu,
sebenarnya sudah diberi tanda bahwa masing-masing orang itu berbeda.
Sejarah pengalaman hidup manusia sangat berpengaruh dalam mempertegas jati
dirinya sehingga semakin tampak perbedaannya dengan yang lain. Hal itu semakin jelas
sesaat setelah seseorang dilahirkan yaitu tidak dapat melakukan sendiri segala
kebutuhannya. Misalnya tidak bisa langsung makan sendiri, pakai baju sendiri dll. Pada
awal hidupnya di dunia, setiap individu pasti membutuhkan orang lain. Pengalaman awal
inilah yang kemudian disimpulkan dalam ungkapan homo homini socius. Hal ini
menunjukkan bahwa manusia sebagai mahluk sosial adalah kodratnya. Segala tindakannya,
tutur katanya dan termasuk pengalaman hidupnya berada dalam konteks hubungannya
dengan sesama. Sehingga tidak mengherankan apabila manusia sedang sendirian dia pasti
mencari sesamanya untuk mengusir kesepian. Muncul kerinduan dari dalam dirinya untuk
menjalani hidup secara bersama-sama yang diwujudkan dengan membentuk sebuah
kelompok. Perbedaan masing-masing individu tidak lagi menghalangi pembentukan
kelompok tersebut.
Realitas kehidupan manusia seperti itulah yang juga akan kita gunakan untuk melihat
bangsa Indonesia. Dari sisi geografis atau teritorial bangsa Indonesia memiliki ribuan pulau
yang menjadi tempat tinggal dan masing-masing pulau mempunyai budaya, bahasa, gaya
hidup dan sebagainya yang menjadi ciri khas. Segala yang dihasilkan dan dilakukan oleh
orang-orang di suatu pulau berbeda dengan pulau lain.
Dalam satu pulau saja terdapat beberapa suku, bahasa, budaya, gaya hidup dll. Jika
wilayah Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau dapat kita bayangkan betapa banyaknya
suku, bahasa, budaya dan gaya hidup. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sejak
dilahirkan sebagai bangsa, Indonesia mempunyai ciri yang majemuk jauh sebelum
1
kemerdekaan. Hal ini sangat tampak pada saat para pemuda mengikrarkan diri untuk
membentuk sebuah kehidupan bersama dalam satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa:
Indonesia. Kehidupan bersama itu, muncul dari kerinduan untuk menjalani hidup sebagai
bangsa.
Salah satu cara untuk melanggengkan kehidupan bersama itu bangsa Indonesia
memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan itu mengandung dua makna dasar:
“keanekaragaman” dan “kesatuan. Oleh karena itu, Bhinneka Tunggal Ika dapat dimengerti
sebagai kesatuan dalam keberagaman, unity in diversity. Semboyan itu terus-menerus dijaga
dan dijadikan semangat dasar dalam kehidupan bersama sebagai bangsa.
Pada masa lalu, semboyan yang sarat makna ini pernah diartikan secara sempit menjadi
“meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu” dengan menonjolkan uniformitas dan
kesatuannya sehingga unsur keberagaman tidak mendapat perhatian. Gejala ini sangat
dirasakan akibatnya. Kelompok minoritas seolah-olah diwajibkan untuk menerima konsep
pemikiran kelompok mayoritas. Sebaliknya, dapat juga terjadi kelompok minoritas ingin
memaksakan kehendaknya kepada kelompok mayoritas dalam hal pembuatan keputusan.
Setiap bentuk keanekaragaman di Indonesia mempunyai kekhasan, yang tidak bisa
diseragamkan. Oleh karena itu, ada dua hal yang dapat digunakan untuk menjaga supaya
tidak ada benturan satu kelompok terhadap kelompok lainnya yaitu:
a) Saling menghormati antara satu kelompok dengan kelompok lain.
b) Mencari dan saling berusaha menemukan titik kesamaan.
Keberagaman itu harus dilihat dan dihayati sebagai sesuatu yang indah dan tetap ingat
bahwa ada ikatan pemersatunya yaitu satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air. Semangat
kesatuan inilah yang mampu membawa bangsa Indonesia kepada kemerdekaan. Oleh karena
itu, jangan menganggap orang atau kelompok lain sebagai ancaman.
2. Keberagaman dalam Kitab Suci
Kejadian 1:1-2:25, dikisahkan asal mula dunia dan segala isinya termasuk di dalamnya
manusia. Tidak ada mahluk hidup yang sama satu dengan yang lain. Masing-masing
mempunyai keunikan dan ciri khas sendiri-sendiri. Dengan demikian segala ciptaan
mempunyai ciri plural secara kodrati artinya sejak awal mula ia diciptakan ke dunia dalam
keadaan plural. Pluralitas yang ada dan terkandung di dalam kehidupan segala ciptaan itu
bukan ditujukan agar terbentuk kelompok eksklusif yang dapat memicu munculnya konflik
atau pertentangan. Pluralitas itu dikehendaki Allah agar segala ciptaan saling menghormati
hidup dan martabat satu sama lain.
Bangsa Israel mempunyai suatu kebanggaan yang tidak bisa disamai oleh bangsabangsa lain sampai hari ini: sebagai keturunan Abraham. Tidak mengherankan apabila
dalam perjalanan waktu bangsa Israel menyebut Tuhan dengan disertai nama Abraham dan
keturunannya: Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Dari nama yang ditujukan kepada Allah
itu, dapat kita lihat bagaimana sisi pluralitas bangsa Israel tidak hanya ditampakkan dalam
keunikan masing-masing pribadi, tetapi juga dalam pengalaman hidup mereka dari generasi
ke generasi. Kebanggaan sebagai keturunan Abrahan itu dipertegas dengan kenyataan bahwa
salah satu bapa bangsa mereka (Yakub) dipilih Allah juga. Keterpilihan itu juga merupakan
keterpilihan mereka sebagai bangsa. Keterpelihan itu ditandai dengan penggantian nama
Yakub menjadi “Israel”: dan perjanjian Allah dengannya.
2
Ketika bangsa Israel menjadi budak di Mesir, rasa senasib menumbuhkan dalam diri
mereka semangat untuk bersatu. Hal itu mencapai puncaknya saat karya penyelamatan Allah
diwujudkan-Nya dengan mengutus Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari mesir.
Ketika mereka menentang Allah karena mereka lapar dan haus di padang gurun dan
meninggalkan nilai-nilai luhur demi kepentingan biologis, Allah tetap setia kepada mereka.
Dinamika kehidupan sebagai bangsa yang sedemikian itu tidak menghilangkan keterpilihan
mereka sebagai bangsa yang diberkati Allah. Allah tetap setia dan memilih mereka sebagai
umat-Nya.
Dari pengalaman sejarah bangsa Israel, dapat kita lihat bahwa rasa kebangsaan yang
dimiliki oleh mereka bukan hanya muncul dari kerinduaan manusiawi untuk membentuk
suatu kelompok. Rasa kebangsaan itu muncul justru karena ada keyakinan dan harapan akan
janji Allah yang diberikan kepada mereka. Dengan demikian, selain kesadaran akan adanya
ikatan pemersatu genealogis, bangsa Israel itu juga meiliki ikatan lain yaitu iman akan Allah
yang terlibat di dalam kehidupan mereka.
Dapat dikatakan bahwa Kitab Suci tidak menghilangkan kenyataan keragaman yang ada
dalam kehidupan manusia. Hati manusia diresapi dambaan mendalam akan persatuan.
Keberagaman yang terdapat dalam kehidupan manusia sudah merupakan kodrat manusia.
Keberagaman itu mencakup keberagaman individu secara fisik maupun sebagai pribadi yang
berkarakter dan mempunyai sejarah pengalaman. Keberagaman yang digambarkan secara
tersirat dalam Kitab Suci tidak hanya menyangkut hal-hal fisik saja, melainkan seluruh
kehidupan manusia dengan segala pengalaman yang dialami. Di dalam pengalaman itulah,
Allah berkarya dengan cara yang khas bagi setiap pribadi manusia.
3. Menghormati dan Menghargai setiap Pribadi?
Gereja tidak berniat sedikitpun untuk “menguburkan” adat istiadat setempat dan
menggantikannya dengan adat istiadat tradisi Timur Tengah di tengah-tengah masyarakat
Indonesia. Hal yang dilakukan Gereja katolik adalah masuk ke dalam budaya setempat dan
dapat diterima oleh masyarakat setempat. Membangun kesadaran atas anggota-anggotanya
untuk selalu menghargai dan menghormati keberagaman yang ada dalam kehidupan
manusia. Sebagai pengikut Kristus, umat Katolik haruslah selalu berusaha membangun
sikap hidupnya dengan senantiasa belajar bagaimana Yesus bersikap terhadap keberagaman
ini. Yesus tidak terpengaruh dengan situasi masyarakat sekitar dan tidak mau masuk ke
dalam salah satu kelompok masyarakat. Satu hal yang senantiasa dipegang oleh Yesus
ketika Ia berhadapan dengan manusia beserta situasi hidup manusia adalah menghargai dan
mengangkat martabat manusia. Sikap dan tindakanYesus itulah yang menjadi sikap dasar
anggota Gereja ketika masuk ke dalam situasi masyarakat sekitarnya. Tentu tidak sama
persis dengan apa yang dilakukan oleh Yesus tetapi paling tidak mempunyai semangat dan
prinsip serta rasa yang sama dengan Dia. Bagaimana hal itu dapat dilakukan? Gereja melalui
Konsili Vatikan II dalam “Pernyataan Tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama
Bukan Kristiani” (Nostra Aetate) artikel 5 mengatakan:
Tetapi kita tidak dapat menyerukan nama Allah Bapa semua orang, bila terhadap
orang-orang tertentu yang diciptakan menurut citra kesamaan Allah, kita tidak
mau bersikap sebagai saudara. Hubungan manusia dengan Allah Bapa dan
hubungannya dengan sesama manusia saudaranya begitu erat, sehingga Alkitab
berkata: Barang siapa tidak mencintai, ia tidak mengenal Allah..........................
3
Ajakan Gereja di atas dimaksudkan agar kita sebagai anggota Gereja juga turut dalam
membangun persaudaraan dan perdamaian, terutama dengan “memelihara cara hidup yang
baik di tengah-tengah masyarakat dan hidup dalam damai dengan semua orang (bdk. 1ptr
2:12; NA art. 5). Dengan demikian, kiranya dapat kita lihat bahwa dasar dari segala tindakan
seorang pengikut Kristus adalah kodratnya sebagai makhluk sosial dan sikap saling
menghormati martabat satu dengan yang lain. Dua hal yang perlu diusahakan oleh umat
Katolik dalam bersikap menghadapi kemajemukan adalah:
a. Membongkar sikap eksklusif
Upaya-upaya konkret untuk membangun kehidupan bersama harus dikembangkan
dengan menghapus semangat primodial dan semangat sektarian. Dengan demikian
diperlukan pula usaha-usaha untuk menghapus sekat-sekat dan pengkotak-kotakan
masyarakat yang ada.
b. Membangun sikap inklusif
 Dalam masyarakat majemuk, setiap orang harus berani menerima perbedaan
sebagai suatu rahmat. Perbedaan/keanekaragaman adalah keindahan dan
merupakan faktor yang memperkaya. Adanya perbedaan itu memberi
kesempatan untuk berpartisipasi menyumbangkan keunikan dan kekhususannya
demi kesejahteraan bersama, bukan sebagai modal untuk memunculkan suatu
konflik/perselisihan.
 Perlu dikembangkan sikap saling menghargai, toleransi, menahan diri, rendah
hati dan rasa solidaritas demi kehidupan yang tenteram, harmonis dan dinamis.
 Setiap orang bahu-membahu menata masa depan yang lebih cerah, adil, makmur
dan sejahtera.
 Mengusahakan tata kehidupan yang adil dan beradab
 Mengusahakan kegiatan dan komunikasi lintas suku, agama dan ras.
B. Mengupayakan Perdamaian dan Persatuan
1. Keprihatian Hidup Berbangsa dan Bernegara
Konstitusi pastoral tentang Gereja di dunia dewasa ini (Gaudium et Spes) pada bagian
pendahuluan menyebutkan:
Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman
sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan
kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.
Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi yang tak bergema di hati
mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang yang
dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan
mereka menuju Kerajaan Bapa dan telah menerima warta keselamtan untuk
disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami
dirinya sungguh-sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta
sejarahnya. (GS art.1)
Rumusan di atas adalah pernyataan resmi Gereja yang disampaikan oleh para bapa
konsili, sekaligus merupakan komitmen umat Katolik terhadap masyarakat dan dunia.
Gereja menyadari dirinya sebagai bagian integral dari masyarakat dan dunia sehingga
umat Katolik tidak mungkin untuk menutup diri dan tidak peduli terhadap apa yang
terjadi di luar Gereja. Kesadaran akan adanya kewajiban inilah yang memungkinkan umat
4
Katolik memiliki motivasi untuk ambil bagian dalam penanganan keprihatian masyarakat
dan dunia. Demikian pula dalam konteks Indonesia, umat Katolik tidak tinggal diam dan
hanya menjadi saksi terhadap persoalan-persoalan yang tengah melanda bangsa dan
negara tercinta. Jika Indonesia dianalogikan sebagai tubuh manusia, salah satu bagian
tubuh tidaklah bisa dilokalisir sehingga rasa sakit hanya ada di bagian tertentu saja,
sedangkan bagian tubuh lain tidak merasakan. Satu bagian sakit, maka seluruh bagian
lainnya juga merasakan sakit dan secara sistimatik berupaya untuk menyembuhkannya
sehingga seluruh bagian menjadi sembuh pula.
2. Perjuangan Gereja Mengupayakan Perdamaian dan Persatuan Bangsa
Dalam kotbah di bukit (lih. Mat 5:1-48) Yesus menegaskan bagaimana para murudNya harus hidup dan berjuang menuju kesempurnaan hidup. Kotbah di bukit ditutup dengan
suatu pesan singkat tetapi mendalam, “karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti
Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat 5:48).
Orang katolik belum sempurna menjadi murid Kristus jika baru sampai pada level
menjadi orang baik saja. Umat Katolik dituntut mempunyai “semangat magis” (lat. Magis:
lebih). “Semangat magis” adalah semangat dalam diri orang yang menandakan bahwa orang
itu sendiri menginginkan yang terbaik dalam segala hal. Dia selalu mengevaluasi segala
yang dilakukannya demi kemajuan yang lebih baik. Semangat yang menggerakkan orang
dari dalam hatinya yang menjadi daya dorong untuk terus maju dan tidak berhenti dalam
proses mencapai kemajuan dan penyempurnaan diri. “Semangat magis” menunjukkan
bahwa seseorang dari pihaknya sungguh unggul, optimal tetapi dia tidak membandingkan
dirinya dengan orang lain serta tidak meremehkan orang lain. Selain itu, orang yang
bersemangat magis tidak tidak mudah putus asa bila gagal. Kegagalan digunakannya sebagai
titik pijak untuk lebih maju dan bukan justru menjadi penghalang.
St. Ignatius dalam hidupnya memegang semangat magis ini, terlebih dalam
pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan. Ia juga ingin unggul dalam mengabdi Tuhan. Ia
menghendaki para pengikutnya sungguh sepenuh hati dan berusaha untuk dapat melayani
orang lain secara maksimal, tidak asal saja. Tidak mengherankan bahwa dalam pelayanan,
orang harus mempersiapkan diri sungguh-sungguh, merencanakan keputusan dan akhirnya
melaksanakan dengan sepenuh hati.
Perjuangan Gereja dalam mengupayakan perdamaian dan persatuan bangsa
sebenarnya dalam rangka “membangun” Kerajaan Allah yang inklusif bukan eksklusif.
Kerajaan Allah yang mencakup seluruh umat manusia di segala lapisan, wilayah, ras, suku
dan kebudayaan.
3. Umat Katolik Mewujudkan Perdamaian dan Persatuan Bangsa
Perdamaian dan persatuan bangsa adalah kondisi kehidupan yang selaras dengan
nilai-nilai Kerajaan Allah, sebagaimana dicita-citakan oleh Yesus sendiri. Seluruh karya
Yesus sesungguhnya bermuara pada realisasi Kerajaan Allah itu. Kerajaan Allah secara
sederhana dapat dimengerti sebagai suasana kehidupan yang didambakan semua orang yang
berkehendak baik berdasarkan kuasa dan kehendak Allah sendiri. Kerajaan Allah ditandai
dengan keadilan, rasa aman, perdamaian, persatuan, persaudaraan dan kesejahteraan.
Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus mempunyai aspek-aspek:
5
a) Eskatologis: Kerajaan Allah di mana harapan Israel telah mencapai pemenuhan
secara definitif. Kerajaan Allah harus bertumbuh “dalam suasana permusuhan” (bdk.
Mat.13:24-30)
b) Revelatoris: Kerajaan Allah mengungkapkan tentang siapa Allah itu.
c) Soteriologis: Kerajaan Allah itu keselamatan universal, yang akan terlaksana
bilamana manusia menjalin relasi pribadi dengan Allah (relasional).
d) Kristologis: Kerajaan Allah tampak definitif dalam sabda dan tindakan Yesus dan
dalam relasi dengan-Nya. (Origenes: YESUS adalah autobasileia atau Kerajaan
Allah yang mempribadi).
Pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah ternyata sangat kontroversial dan
revolusioner sehingga membawa Yesus pada kematian di salib. Lalu siapa yang melanjutkan
pewartaan Kerajaan Allah? Tentu saja para rasul dan para penggantinya. Perutusan untuk
mewartakan Kerajaan Allah itu secara simbolis ada dalam Perjamuan malam terakhir.
Mereka diajak berpartisipasi dalam keprihatinan Yesus yakni menyerahkan diri bagi banyak
orang demi Kerajaan Allah. Gereja, murid-murid Yesus adalah para pengganti dan pewaris
“Yang XII”, untuk ambil bagian dalam keprihatinan utamaYesus yaitu Kerajaan Allah.
Gereja sebagai sarana historis yang dikehendaki Allah ada bukan untuk dirinya sendiri. Dia
ada untuk mengabdi dan melayani rencana ilahi yaitu rencana atau proyek Kerajaan Allah
untuk menyelamatkan umat manusia. Allah tidak menghendaki Gereja melayani proyekproyek Kerajaan Allah tersebut secara tertutup dalam batas-batas dirinya, sebagai umat yang
mempunyai misi untuk mewartakan Kerajaan Allah kepada semua orang dan untuk memberi
kesaksian tentang kedatangan serta janji Kerajaan Allah tersebut.
Upaya memperjuangkan nilai Kerajaan Allah seperti mewujudkan perdamaian dan
persatuan bangsa dapat terlaksana dalam fungsi-fungsi Gereja sebagai berikut:
a. Fungsi Diakonia
Gereja merupakan jawaban terhadap kebutuhan manusia yang menemukan dirinya
dalam situasi yang tertindas dan egois. Jemaat Kristen dipanggil untuk memberi
kesaksian bahwa adanya kemungkinan di mana orang membaktikan dirinya pada orang
lain dan memiliki keprihatinan Allah dan Kerajaan cinta kasih. Dalam proyek Kerajaan
Allah, diakonia nampak sebagai fungsi yang paling penting (Mat 25:31-46).
b. Fungsi Koinonia
Gereja merupakan jawaban kerinduan manusia akan persaudaraan, perdamaian,
persatuan dan komunikasi di antara umat manusia di mana saja dan kapan saja.
Dihadapan dengan dunia yang terpecah-pecah oleh egoisme, kebencian, gila hormat dan
kekayaan dan orang terisolir tanpa adanya komunikasi satu sama lain, Gereja harus
memberi kesaksian akan adanya suatu kemungkinan kehidupan yang didasari
persaudaraan dan persatuan, seperti yang dicita-citakan oleh Kerajaan Allah.
c. Fungsi Kerygma
Fungsi kerygma Gereja adalah menyampaikan warta pembebasan dan berperan sebagai
kunci penafsiran kehidupan dan sejarah manusia. Dunia yang penuh dengan
kemalangan, penderitaan, kejahatan tak jarang membuat orang putus asa dan bersikap
fatal. Dalam menghadapi dunia semacam ini, Gereja dipanggil untuk menjadi saksi dan
pembawa harapan dengan mewartakan Yesus Kristus, pemulai dan penjamin
perealisasian Kerajaan Allah.
d. Fungsi Liturgia Gereja
Adalah tindakan-tindakan ritual yang merupakan pengungkapan pengalaman
pembebasan dan keselamatan. Gereja dipanggil untuk menciptakan tempat dan
6
kesempatan dalam mana kehidupan sejarah setelah ditebus dan diselamatkan, dirayakan,
diangkat dan dijadikan proyek serta tempat perealisasian Kerajaan Allah.
Keempat fungsi Gereja tersebut di atas tidak dapat dipisahkan. Satu fungsi selalu
memiliki serta memperlihatkan kehadiran ketiga fungsi yang lain. Contoh; dalam liturgi
terungkap kesatuan umat (koinonia) dan terjadi pewartaan (kerygma) yang harus
menjurus ke pelayanan (diakonia) Fungsi diakonia (pelayanan) Gereja merupakan muara
dari ketiga fungsi Gereja lainnya. Melalui fungsi diakonia Gereja mewujudkan Kerajaan
Allah di tengah-tengah masyarakat yang pluralis. Perwujudan Kerajaan Allah melalui
fungsi diakonia itu antara lain;
1. Memberikan pelayanan kesehatan yang terbuka untuk semua orang melalui rumah
sakit katolik.
2. Memberikan pelayanan pendidikan melalui lembaga pendidikan (sekolah Katolik)
yang menerima murid dari berbagai kalangan
3. Memberikan pelayanan pemberdayaan ekonomi masyarakat melaui gerakan Credit
Union (CU)
4. Memberikan pelayanan kasih kepada anak-anak yang kurang beruntung melalui
Panti Asuhan dan Rumah Singgah
5. Memberikan pelayanan kasih kepada orang-orang yang termarginalkan melalui
pendampingan khusus, dsb.
C. Membangun Persaudaraan Sejati
Persaudaraan sejati tidak akan tumbuh dengan sendirinya melainkan harus diusahakan
bahkan diperjuangkan. Memang benar bahwa ada persaudaraan karena pertalian darah.
Namun persaudaraan semacam ini belumlah cukup jika belum diarahkan untuk saling
mendukung, menguatkan dan memperkembangkan diri menuju kesempurnaan dengan Allah
sebab manusia adalah gambar dan rupa Allah.
1. Beberapa Fakta Permusuhan/Pertikaian di Masyarakat
a. Fakta-fakta pertikaian atau perang di Indonesia:
 Pertikaian yang bernuansa balas dendam antara dua kampung yang terjadi di
Timika, Papua.
 Pertiakaian yang bernuansa hak intelektual dan hak cipta antara bangsa
Indonesia dan Malesia, dll.
b. Alasan Terjadinya Pertikaian dan perang
 Fanatisme sempit yaitu sikap fanatik yang dihayati tidak disertai dengan
keterbukaan terhadap segala sesuatu yang ada di luar keyakinannya dan
menganggap bahwa hanya keyakinannyalah yang paling benar.
 Sikap arogan/angkuh. Misalnya ada suku bangsa yang merasa diri lebih kuat
dan dapat bertindak secara sepihak dan sewenang-wenang, dll.
c. Akibat pertikaian dan perang
 Kehancuran secara jasmani dan fisik. Perang menyebabkan sekian banyak
orang mati, sarana prasarana hancur, dsb. Dengan demikian berlaku pepatah
ini; “Menang jadi arang, kalah jadi abu.
 Kehancuran secara rohani. Dalam perang dapat terjadi segala kejahatan
terhadap kemanusiaan. Perang menyisakan trauma dan luka perkosaan
terhadap martabat dan peradaban manusia.
2. Pengertian Persaudaraan Sejati
Pada hakikatnya, persaudaraan sejati tampak dalam hubungan antar sesama yang
didasarkan pada sikap menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia. Contoh paling
7
tepat menggambarkan persaudaraan sejati tersebut adalah; Orang Samaria yang murah
hati sebagaimana tertuang dalam Injil Lukas 10:25-37).
Dalam Luk 10:25-37, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang sesama manusia
dengan memilih tokoh orang Samaria. Orang Samaria adalah warga keturunan YahudiYunani tetapi oleh orang-orang Yahudi mereka dianggap najis. Mengapa? Darah orang
Samaria telah bercampur dengan darah orang Yunani sehingga sudah tidak asli lagi.
Yesus sengaja memilih tokoh yang dianggap rendah oleh orang-orang Yahudi yang
justru memberi pertolongan kepada orang Yahudi yang berada dalam keadaan sakratul
maut karena perampokan yang menimpa dirinya. Sementara seorang imam dan Lewi
yang melintasi jalan itu, tidak memberi pertolongan apapun.
Pada akhir kisah, Yesus bertanya kepada ahli Taurat itu katanya “siapakah di antara
ketiga orang ini menurut pendapatmu sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan
penyamun itu? Dan ahli Taurat menjawab “orang yang telah menunjukkan belas kasihan
kepadanya. Lalu Yesus menutup pembicaraan dengan pesan singkat “pergilah dan
perbuatlah demikian. Jadi, dari kisah ini dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa yang
disebut “saudara sejati” adalah orang yang menunjukkan belas kasih kepada sesamanya.
Persaudaraan sejati berarti sikap dan/atau tindakan seseorang kepada sesamanya dengan
dilandasi cinta kasih.
3. Teladan Yesus dalam membangun Persaudaraan sejati
Yesus berkata, ‘Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera kuberikan kepadaMu
dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu” (Yoh.14:27). Orang pada
zaman Yesus mengharapkan damai secara politis yakni diusir penjajah dari negeri mereka sehingga
tidak ada perang dan penindasas lagi. Yesus menegaskan; “Aku bukan pembawa damai seperti
yang kalian pikirkan. Aku memang pembawa damai sebab inilah salah satu ciri khas mesias sejati
(bdk. Luk 1:79). Yesus mengajarkan perdamaian yang jauh lebih mendalam. Yesus membersihkan
dunia dari segala macam kejahatan dan kedurhakaan. Ini bukan damai lahiriah yang tergantung
pada manusia melainkan damai batiniah yang sepenuhnya berakar dalam kebenaran, yaitu di
dalam diri Yesus. Damai yang dimaksudkan Yesus adalah bukan hanya tidak ada perang atau
kekacauan. Lebih dari itu, damai berarti suatu rasa ketenangan hati karena orang memiliki
hubungan yang bersih dengan Tuhan, sesama dan dunia. Damai sejahtera yang menampakkan
Kerajaan Allah. Damai Tuhan inilah yang seharusnya berada dan tinggal dalam tiap hati orang.
Damai yang demikian kuatnya sehingga setiap kejahatan dibalas dengan kebaikan: kalau orang
menampar pipi kirimu, berikanlah pula pipi kananmu (lih. Mat 5: 39).
4. Hambatan-hambatan dalam Membangun Persaudaraan Sejati
 Adanya fanatisme pemeluk agama yang kurang setia terhadap tokoh historis yang
diikutinya sehingga beranggapan bahwa tokoh yang satu lebih unggul daripada tokoh
 lainnya dan seolah-olah mereka ini berasal dari Allah yang berbeda.
 Terjadinya proses pembodohan dalam kaderisasi dan propaganda dari pemuka agama
 kepada para kader dan pemeluk agama sehingga tidak memperoleh informasi yang
 benar dan utuh tentang tokoh historis dan ajaran-ajaranya.
 Kekayaan tidak jarang digunakan untuk provokasi agama yang sering kali disertai
 kekerasan
 Persepsi yang berbeda-beda dari masing-masing agama dan pemuka agama (bahkan
 dalam satu agama yang sama) tentang pesan agamanya.
8







Ketertutupan dan eksklusivitas para pemeluk agama
Solidaritas antarumat seagama yang dikembangkan hanya bersifat eksklusif.
Adanya semacam persaingan yang tidak sehat dalam mencapai tujuan hidup
Buntunya dialog dan komunikasi
Masih adanya dan bahkan semakin lebar kesenjangan sosial.
Masih suburnya materialisme, konsumerisme.
Beriman kepada Tuhan yang sama tetapi perbedaan tradisi dan ajaran dibesarbesarkan
 Ada persaingan dalam pembangunan tempat ibadah, beserta sarana pendukungnya.
 Ada rasa alergi untuk membaca dan mempelajari Kitab Suci terutama Kitab Suci
agama lain.
5. Kegiatan-kegiatan yang dapat membangun Persaudaraan sejati antar umat beragama
a. Ajaran Gereja tentang Perdamaian
Damai berarti
situasi selamat sejahtera dalam diri manusia. Perdamaian
mengandaikan ada keadilan. Perdamaian adalah hasil tata masyarakat manusia yang
haus akan keadilan yang sempurna. Perdamaian tidak dapat tercapai di dunia ini apabila
manusia dengan rakus mengutamakan kepentingan pribadinya. Perdamaian akan
terwujud bila kesejahteraan setiap pribadi terjamin. Sikap bersaudara mutlak diperlukan
untuk membangun perdamaian. Dengan demikian perdamaian adalah buah cinta kasih.
Apabila orang selalu menumbuhkan cinta kasih maka perdamaian pun akan bertumbuh
subur.
Damai merupakan kesejahteraan tertinggi yang sangat diperlukan untuk
perkembangan manusia dan lembaga-lembaga kemanusian. Setiap orang sadar atau
tidak sadar mempunyai empat relasi dasar yaitu; relasi dengan Tuhan, sesama, alam
semesta dan diri sendiri. Harmoni di antara keempat relasi tersebut sangat menentukan
situasi hidup manusia.
b.





Beberapa tindakan atau kegiatan yang membangun persaudaraan sejati;
Berkunjung ke rumah teman yang beragama lain pada hari rayanya
mengucapkan selamat Hari Raya kepada teman yang beragama lain.
Mengadakan bakti sosial, penggalangan dana solidaritas untuk korban bencana
Megadakan dialog dan kerja sama antarumat beragama.
Menghormati orang lain beda agama yang sedang melakukan ibadat.
9
10
Download