membedah pelaksanaan perkawinan adat tolaki di kabupaten

advertisement
MEMBEDAH PELAKSANAAN PERKAWINAN ADAT
TOLAKI DI KABUPATEN KONAWE SELATAN
SULAWESI TENGGARA
(Perspektif Hukum Islam)
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Magister
dalam Bidang Hukum Islam pada Program Pascasarjana
UIN Alauddin Makassar
Oleh:
Laode Mazal Amri Maruf
NIM: 80100206131
PROGRAM PASCASARJANA (S2)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN
MAKASSAR
2013
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Dengan penuh kesadaran, peneliti yang bertanda tangan di bawah
ini menyatakan bahwa tesis ini benar adalah hasil karya peneliti sendiri.
Jika di kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan,
plagiat, atau di buat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka
tesis dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Makassar,
Juni 2013
Peneliti,
Laode Mazal Amri Maruf
NIM: 80100206131
KATA PENGANTAR
‫ﺑِ ْﺴ ِﻢ اﷲ اﻟﱠﺮ ْﲪ ِﻦ اﻟﱠﺮِﺣْﻴ ِﻢ‬
ِ
ِ
ِ
ِ
‫ﲔ َﺳﻴﱢ ِﺪﻧَﺎ ُﳏَ ﱠﻤ ٍﺪ َو َﻋﻠَﻰ‬
‫اَ ْﳊَ ْﻬ ُﺪ ﷲِ َر ﱢ‬
َ ْ ‫ﲔ َواﻟﺼﻼَةُ َواﻟ ﱠﺴﻼَ ُم َﻋﻠَﻰ أَ ْﺷَﺮف ْاﻷﻧْﺒِﻴَﺎء َواﻟْ ُﻤ ِﺮ َﺳﻠ‬
َ ْ ‫ب اﻟْ َﻌﺎﻟَﻤ‬
ِِ
‫َﺻ َﺤﺎﺑِِﻪ َوَﻣ ْﻦ ﺗَﺒِ َﻌﻪُ إِ َﱃ ﻳَـ ْﻮِم اﻟﺪﱢﻳْ ِﻦ أَﱠﻣﺎ ﺑَـ ْﻌ ُﺪ‬
ْ ‫اﻟﻪ َوأ‬
Puji dan syukur kehadirat Allah swt., atas segala limpahan rahmat,
taufik, dan hidayah-Nya yang diberikan , sehingga penelitian tesis ini dapat
terselesaikan. Şalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada
junjungan Nabi Muhammad saw., keluarga, para sahabat, dan umat Islam di
seluruh penjuru dunia.
Penelitian tesis yang berjudul “Membedah Perkawinan Adat Tolaki di
Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara Perspektif Hukum Islam” ini
dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister
Hukum Islam, konsentrasi Hukum Islam pada Program Pascasarjana
Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
Dalam penelitian tesis ini, tidak terlepas bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada:
1. Prof. Dr. H. A. Qadir Gassing HT, M.S., selaku Rektor UIN Alauddin
Makassar, para Pembantu Rektor, dan seluruh Staf UIN Alauddin
Makassar yang telah memberikan pelayanan maksimal .
2. Prof. Dr. H. Moh.Natsir Mahmud, M.A. selaku Direktur Program
Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, dan para Asdir I, II, dan III pada
Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.
3. Prof. Dr. Hj. Andi Rasydiyanah dan Prof. Dr.H. Sabri Samin, M.Ag.,
selaku promotor dan kopromotor serta Penguji Tesis Dr.H.Muammar
Bakry, M.Ag dan Dr.Hasaruddin, S.Ag., M.Ag yang banyak meluangkan
waktunya untuk memberikan bimbingan, petunjuk, koreksi, nasehat, dan
motivasi hingga terselesaikannya tesis ini.
4. Guru Besar Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, dengan segala jerih
payah dan ketulusan, membimbing dan memandu perkuliahan, sehingga
memperluas wawasan keilmuan .
5. Kepala Perpustakaan Pusat UIN Alauddin Makassar beserta segenap
stafnya yang telah menyiapkan literatur dan memberikan kemudahan untuk
dapat memanfaatkan secara maksimal demi penyelesaian tesis ini.
6. Para Staf Tata Usaha di lingkungan Program Pascasarjana UIN Alauddin
Makassar yang telah banyak membantu peneliti dalam penyelesaian
administrasi selama perkuliahan dan penyelesaian tesis ini.
7. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara
dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Konawe Selatan, yang
telah memberikan rekomendasi izin tugas belajar
untuk menempuh
pendidikan pada Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.
8. Kedua orang tua , ayahanda H. Laode Maafi dan Ibunda Hj. Zaenab,
penulis haturkan penghargaan teristimewa dan ucapan terima kasih yang
tulus, dengan penuh kasih sayang dan kesabaran serta pengorbanan
mengasuh, membimbing, dan mendidik, disertai do’a yang tulus . Bahkan
beliau berdua selalu mendesak dan memotivasi peneliti untuk segera
menyelesaikan studi. Juga kepada segenap saudara dan keluarga besar
secara khusus istri yang tercinta dan putra putri tersayang atas kerelaannya
ditinggalkan selama peneliti menempuh pendidikan.
9. Rekan-rekan Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar,
sahabat, dan teman-teman penulis yang telah memberikan bantuan,
motivasi, kritik, saran, dan kerjasama selama perkuliahan dan penelitian
tesis ini.
Akhirnya, kepada Allah swt. jualah, semoga bantuan dan ketulusan
yang telah diberikan, senantiasa bernilai ibadah di sisi Allah Swt., dan
mendapat pahala yang berlipat ganda, Amin.
Makassar,
Peneliti,
April 2013
Laode Mazal Amri Maruf
NIM. 80100206131
PERSETUJUAN PROMOTOR
Promotor penelitian tesis saudara LAODE MAZAL AMRI MARUF
NIM. 80100206131, Mahasiswa Konsentrasi Hukum Islam pada Program
Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, setelah dengan seksama meneliti dan
mengoreksi
tesis
yang
bersangkutan
dengan
judul:
“MEMBEDAH
PELAKSANAAN PERKAWINAN ADAT TOLAKI DI KABUPATEN
KONAWE SELATAN SULAWESI TENGGARA (Perspektif Hukum Islam)”,
memandang bahwa tesis tersebut telah memenuhi syarat-syarat ilmiah dan
dapat disetujui untuk melaksanakan ujian tutup tesis.
Demikian persetujuan ini diberikan untuk proses selanjutnya.
Promotor:
Prof. Dr. Hj. Andi Rasydiyanah
(……………………)
Prof. Dr. H. Sabri Samin, M. Ag.
(……………………)
Makassar,
April 2013
Diketahui oleh:
Ketua Program Studi
Dirasah Islamiyah,
Dr. Muljono Damopolii, M.Ag.
NIP: 19641110199203 1 005
Direktur Program Pascasarjana
UIN Alauddin Makassar
Prof. Dr. H. Moh. Natsir Mahmud, M.A.
NIP: 195408161983303 1 004
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Dengan penuh kesadaran, peneliti yang bertanda tangan di bawah
ini menyatakan bahwa tesis ini benar adalah hasil karya peneliti sendiri.
Jika di kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan,
plagiat, atau di buat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka
tesis dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Makassar,
April 2013
Peneliti,
Laode Mazal Amri Maruf
NIM. 80100206131
PERSETUJUAN PROMOTOR
Promotor penulisan tesis saudara LAODE MAZAL AMRI MARUF,
NIM. 80100206145, Mahasiswa Konsentrasi Hukum Islam pada Program
Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, setelah dengan seksama meneliti dan
mengoreksi tesis yang bersangkutan dengan judul: “PERKAWINAN ADAT
TOLAKI DI KABUPATEN KONAWE SELATAN PERSPEKTIF HUKUM
ISLAM”, memandang bahwa tesis tersebut telah memenuhi syarat-syarat
ilmiah dan dapat disetujui untuk melaksanakan ujian tutup tesis.
Demikian persetujuan ini diberikan untuk proses selanjutnya.
Promotor:
Prof. Dr. Hj. Andi Rasydiyanah
(……………………)
Prof. Dr. Sabri Samin, M.Ag
(……………………)
Makassar,
Mei 2010
Diketahui Oleh:
Ketua Program Studi
Dirasah Islamiyah,
Direktur Program Pascasarjana
UIN Alauddin Makassar
Prof. Dr. Hj. Andi Rasydiyanah
MA
NIP. 150036706
Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang,
NIP. 150206321
PERSETUJUAN TESIS
Tesis dengan judul “Perkawinan Adat Tolaki di Kabupaten Konawe
Perspektif Hukum Islam”, yang disusun oleh Saudara Laode Mazal Amri Maruf,
NIM. 80100206131, telah diseminarkan dalam Seminar Hasil Penelitian Tesis yang
diselenggarakan pada hari
, Mei 2010 M, memandang bahwa tesis tersebut telah
memenuhi syarat-syarat ilmiah dan dapat disetujui untuk menempuh ujian
munaqasyah tesis.
Promotor:
1. Prof. Dr. Hj. Andi Rasydiyanah
(……………………)
2. Prof. Dr. Sabri Samin, M.Ag
(……………………)
Penguji:
1. Prof. Dr.
(…………………..)
2. Prof.
(…………………...)
3. Prof. Dr. Hj. Andi Rasydiyanah
(……………...……)
4. Prof. Dr. Sabri Samin, M.Ag
(……………...……)
Makassar,
Diketahui Oleh:
Ketua Program Studi
Dirasah Islamiyah,
/2010
Direktur
Kuasa
Nomor:
Tanggal,
Prof. Dr. Hj. Andi Rasydiyanah
NIP. 150036706
Nopember 2012
Un.06/PPs/KP.01.1/
Mei 2010
Dr. H. Kamaluddin Abunawas, M.Ag.
NIP. 150206321
PENGESAHAN TESIS
Tesis dengan judul, Membedah Pelaksanaan Perkawinan Adat Tolaki di
Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara (Perspektif Hukum Islam) yang
disusun saudara Laode Mazal Amri Maruf, NIM: 80100206131, telah diujiankan dan
dipertahankan dalam sidang munaqasyah yang diselenggarakan pada hari Senin, 03
Juni 2013 M., bertepatan dengan tanggal 24 Rajab 1434 H., dinyatakan telah dapat
diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Hukum Islam
(M.HI) pada Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.
Makassar, 03 Juni 2013 M.
24 Rajab1434 H.
PENGUJI
1. Dr. H. Muammar Bakry, Lc. M.Ag.
(..........................................)
2. Dr. Hasaruddin, S.Ag, M.Ag.
(..........................................)
3. Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah.
(..........................................)
4. Prof. Dr. Sabri Samin, M.Ag.
(..........................................)
PROMOTOR
1. Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah.
(..........................................)
2. Prof. Dr. Sabri Samin, M.Ag.
(..........................................)
Makassar, 3 Juni 2013
Direktur Program Pascasarjana
UIN Alauddin Makassar
Prof. Dr. H. Moh.Natsir Mahmud, M.A.
NIP. 19540816 198303 1 004
KATA PENGANTAR
ٍ
ِ
ِِ
ِ ‫اَ ْﳊﻤ ُﺪ ﻟِﻠّ ِﻪ ر ﱢ‬
.‫َﺻ َﺤﺎﺑِِﻪ أ َْﲨَﻌِ ْ َﲔ‬
َ ْ ‫ب اﻟْ َﻌﺎﻟَﻤ‬
ْ ‫ﺻ ﱢﻞ َو َﺳﻠﱢ ْﻢ َﻋﻠَﻰ َﺳﻴﱢﺪﻧَﺎ ُﳏَ ﱠﻤﺪ َو َﻋﻠﻰ أَﻟﻪ َوأ‬
َ ‫ اَﻟﻠﱠ ُﻬ ﱠﻢ‬،‫ﲔ‬
َْ
َ
Segala puji bagi Allah swt., Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas izin dan
perkenannya-Nya, tesis yang berjudul “Membedah Perkawinan Adat Tolaki di
Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara” (Persepektif Hukum Islam) dapat
peneliti selesaikan dengan baik. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada
Baginda Nabi Muhammad saw., para keluarga dan sahabatnya. A<mi>n.
Segala bentuk perjuangan yang peneliti hadapi selama ini merupakan bagian
dari sebuah proses panjang dalam penyelesaian studi. Begitu banyak pengorbanan yang
telah tercurah baik waktu, tenaga maupun biaya, namun alh}amdulilla>h, berkat
pertolongan Allah swt. dan optimisme peneliti yang diikuti kerja keras tanpa kenal
lelah, akhirnya selesai juga semua proses tersebut. Untuk itu, peneliti menyampaikan
penghargaan dan ucapan terima kasih atas bantuan semua pihak terutama kepada:
1. Prof. Dr. H. A. Qadir Gassing HT, M.A., selaku Rektor UIN Alauddin Makassar
dan para Pembantu Rektor.
2. Prof. Dr. H. Moh. Natsir Mahmud, M.A., selaku Direktur Program Pascasarjana
UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Baso Midong, M.A., dan Prof. Dr. H. Nasir A.
Baki, M.A., masing-masing sebagai Asdir I dan Asdir II serta Dr. Muljono
Damopolii, M.Ag., sebagai Ketua Program Studi Dirasah Islamiyah atas motivasimotivasinya hingga terselesaikannya penelitian tesis ini.
3. Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah, dan Prof. Dr. Sabri Samin, M.Ag., sebagai Promotor
I dan II
serta penguji Tesis Dr. H. Muammar Bakry, Lc. M. Ag., dan Dr.
Hasaruddin, S.Ag., M.Ag., atas saran-saran, arahan, bimbingan dan motivasi dalam
proses penyelesaian tesis ini.
4. Para dosen di lingkungan Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar atas
keikhlasannya memberikan ilmu yang bermanfaat selama proses studi, serta
segenap Staf Tata Usaha di lingkungan Program Pascasarjana UIN Alauddin
Makassar yang telah banyak membantu peneliti dalam berbagai urusan administrasi
selama perkuliahan hingga penyelesaian tesis ini.
5. Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Provinsi
Sulawesi Tenggara yang telah memberikan izin bagi pelaksanaan penelitian tesis
ini.
6. Kedua orang tua, ayahanda H. Laode Maafi (alm.) dan ibunda Hj. Zaenab, serta
segenap keluarga yang telah memberikan dukungan moril dan materil dalam rangka
penyelesaian studi.
7. Rekan-rekan, sahabat, dan handai taulan yang telah memberikan dorongan
semangat dan kerjasama kepada peneliti selama perkuliahan hingga penyusunan
tesis ini, serta semua pihak yang tak dapat peneliti sebutkan satu persatu.
Akhirnya, peneliti berharap semoga hasil penelitian ini dapat memberi manfaat
bagi pembaca, dan semoga pula segala partisipasinya akan mendapatkan imbalan yang
terbaik dari Allah swt. A<mi>n.
Makassar,
Penulis
Juni 2013
Laode Mazal Amri Maruf
NIM: 80100206131
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ……………………………………………………………...
i
……………………………………
ii
PERSETUJUAN PROMOTOR ………………………………….
iii
…………………………………………..
iv
KATA PENGANTAR ……………………………………………..
v
……………………………………………………
ix
PERNYATAAN KEASLIAN
PENGESAHAN TESIS
DAFTAR ISI
PEDOMAN TRANSLITERASI……………………………………………
ABSTRAK
xii
……………………………………………………..
xv
…………………………………
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
……………………………
1
………………………………
6
C. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian……
6
D. Kajian Pustaka
8
B. Rumusan Masalah
……………………………………….
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
………………
11
……………………………
12
BAB II TINJAUAN TEORITIS……………………………………
14
A. Pengertian dan Sistem Perkawinan dalam Islam ………
14
B. Syarat-syarat, Prosesi, Tujuan dan Hikmah Perkawinan .
22
1. Syarat-syarat Perkawinan …………………………
22
2. Tujuan Perkawinan ………………………………..
29
3. Hikmah Perkawinan ……………………………….
35
F. Garis Besar Isi Tesis
C. Kajian terhadap Aturan Perundang-Undangan tentang
Perkawinan …………………………………………….
43
D. Tata Cara Perkawinan Menurut Ajaran Islam ………….
51
BAB III METODOLOGI PENELITIAN …………………………
61
A. Jenis dan Lokasi Penelitian ……………………………
61
B. Pendekatan Penelitian
………………………………..
61
C. Sumber Data Penelitian ……………………………….
62
D. Metode Pengumpulan Data ……………………………
63
E. Instrumen Pengumpulan Data …………………………
64
vii
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
………………
65
BAB IV HASIL PENELITIAN ……………………………………
69
A. Gambaran Umum Pelaksanaan Perkawinan Suku
Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan …………..
69
B. Pelaksanaan
Adat
Perkawinan
Suku
Tolaki
di
Kabupaten Konawe Selatan …………………………..
78
C. Kendala yang dihadapi dalam memadukan adat
perkawinan suku Tolaki dengan Hukum Islam di
Kabupaten Konawe Selatan ……………………………
97
D. Solusi Mengatasi Kendala yang dihadapi dalam
Memadukan Adat Perkawinan Suku Tolaki Dengan
Huku Islam di Kabupaten Konawe Selatan ....................
103
……………………………………………
105
…………………………………………
105
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Implikasi Penelitian
KEPUSTAKAAN
LAMPIRAN
………………………………….
106
…………………………………………….
108
……………………………………………………
Daftar Riwayat Hidup........................................................................
viii
TRANSLITERASI DAN SINGKATAN
A. Transliterasi
1. Konsonan
Huruf-huruf bahasa Arab yang ditransliterasi ke dalam huruf latin
sebagai berikut:
Huruf Arab
Nama
tidak dilambangkan
Nama
alif
Huruf Latin
tidak dilambangkan
‫ب‬
ba
b
be
‫ت‬
ta
t
te
‫ث‬
£a
£
es (dengan titik di atas)
‫ج‬
jim
j
je
‫ح‬
¥a
¥
ha (dengan titik di bawah)
‫خ‬
kha
kh
ka dan ha
‫د‬
dal
d
de
‫ذ‬
©al
©
zet (dengan titik diatas)
‫ر‬
ra
r
er
‫ز‬
zai
z
zet
‫س‬
sin
s
es
‫ش‬
syin
sy
es dan ye
‫ص‬
¡ad
¡
es (dengan titik di bawah)
‫ض‬
«ad
«
de (dengan titik di bawah)
‫ط‬
¯a
¯
te (dengan titik di bawah)
‫ا‬
‫ظ‬
§a
§
zet (dengan titik dibawah)
‫ع‬
'ain
‘
apostrof terbalik
‫غ‬
gain
g
ge
‫ف‬
fa
f
ef
‫ق‬
qaf
q
qi
‫ك‬
kaf
k
ka
‫ل‬
lam
l
el
‫م‬
mim
m
em
‫ن‬
nun
n
en
‫و‬
wau
w
we
‫ﻫـ‬
ha
h
ha
‫ء‬
hamzah
‚
apostrof
‫ي‬
ya
y
ye
Hamzah (‫ )ء‬yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa
diberi tanda apa pun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka
ditulis dengan tanda (’).
2. Vokal dan Diftong
a. Vokal atau bunyi (a), (i), dan (u) ditulis dengan ketentuan sebagai
berikut:
Tanda
ً◌
◌ِ
ٍ◌
Vokal
Fat¥ah
Kasrah
«ammah
Pendek
Panjang
a
ā
i
u
ī
ū
b. Diftong yang sering dijumpai dalam transliterasi ialah (ay) dan (aw),
misalnya bayn ( ‫ ) ﺑﯿﻦ‬dan qawl ( ‫) ﻗﻮل‬.
3. Syaddah dilambangkan dengan konsonan ganda.
4. Kata sandang al- (alif lam ma’arifah) ditulis dengan huruf kecil, kecuali
jika terletak di awal kalimat. Dalam hal ini kata tersebut ditulis dengan
huruf kapital (Al-). Contohnya:
Menurut pendapat al-Bukhariy, hadis ini shahih…
Al-Bukhariy berpendapat bahwa hadis ini shahih…
5. Ta’ marbutah ( ‫ ) ة‬ditransliterasi dengan t. Tetapi jika ia terletak di akhir
kalimat, maka ia ditransliterasi dengan huruf h. Contohnya:
6. Kata atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata atau kalimat
yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Adapun kata atau
kalimat yang sudah menjadi bagian dari pembendaharaan bahasa
Indonesia, atau sudah sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia,
tidak ditulis lagi menurut cara transliterasi di atas, misalnya perkataan
Al-Qur’an (dari al-Qur’an), Sunnah, khusus dan umum. Namun bila
kata-kata tersebut menjadi bagian dari teks Arab, maka harus
ditransliterasi secara utuh, misalnya:
Fi Zilal al-Qur’an;
Al-Sunnah qabl al-tadwin;
Al-ibarat bi ‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab.
7. Lafz al-Jalalah (‫ )ﷲ‬yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf
lainnya atau berkedudukan sebagai mudaf ilayh (frasa nomina),
ditransliterasi tanpa huruf hamzah. Contohnya:
‫ دﯾﻦ ﷲ‬dinullah
‫ ﺑﺎ ﷲ‬billah
Adapun ta marbutah di akhir kata yang disandarkan kepada lafz aljalalah, ditransliterasi dengan huruf t. contohnya:
‫ ھﻢ ﻓﻲ رﺣﻤﺔ ﷲ‬hum fi rahmatillah
B. Singkatan
Beberapa singkatan yang dibakukan adalah:
1. swt.
= subhanahu wa ta’ala
2. saw.
= sallallahu ‘alaihi wa sallam
3. a.s.
= ‘alaayhi al-salam
4. H
= Hijrah
5. M
= Masehi
6. SM
= Sebelum Masehi
7. w.
= Wafat
8. QS …(…): 4
= Quran, Surah …, ayat 4
ABSTRAK
Nama
NIM
Program Studi
Konsentrasi
Judul Tesis
:
:
:
:
:
Laode Mazal Amri Maruf
80100206131
Dirasah Islamiyah
Hukum Islam
Membedah Pelaksanaan Perkawinan Adat Tolaki di Kabupaten
Konawe Selatan Sulawesi Tenggara (Perspektif Hukum Islam)
Masalah yang dibahas dalam tesis ini adalah Membedah Pelaksanaan
Perkawinan Adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara (Perspektif Hukum Islam). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk
perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan, untuk memaparkan prosesi
pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan menurut hukum
Islam, untuk mengungkap kendala yang dihadapi dalam memadukan adat perkawinan Tolaki dengan perspektif hukum Islam di Kabupaten Konawe Selatan.
Untuk mendapatkan jawaban terhadap permasalahan di atas maka penulis
melakukan penelitian dengan menggunakan metode pendekatan interdisipliner, yaitu pendekatan yuridis, antropologi budaya, dan sosiologis. Ian ini adalah deskripsi
kualitatif dengan teknik pengumpulan data dalam bentuk observasi, wawancara dan
dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara berkesinambungan dengan cara
mereduksi data, display data, dan verifikasi data.
Setelah melakukan analisis terhadap data yang diperoleh maka hasilnya
menunjukkan bahwa pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe
Selatan pada umumnya sejalan dengan perkawinan dalam syariat Islam dan secara
khusus ada sebagian yang sering kontradiksi dalam pelaksanaan perkawinan
menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan yaitu masyarakat Tolaki lebih mementingkan perkawinan di bawah tangan dari pada perkawinan
yang tercatat di PPN. Proses pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di Kabupaten
Konawe Selatan apabila diurut dari rangkaian perkawinan adat mereka yaitu meliputi (a) Kesiapan benda-benda mas kawin dari pihak laki-laki untuk segera diserahkan kepada pihak perempuan, (b) Permohonan pihak laki-laki kepada pihak perempuan untuk menerima mas kawin yang telah diperhadapkan dengan rasa
kekeluargaan yang dalam, (c) Pernyataan pihak perempuan akan kesungguhan pihak
laki-laki dalam usahanya menyambung tali persaudaraan dan memperluas hubungan
kekeluargaan (d) Serangkaian ungkapan-ungkapan yang menggambarkan suasana
gembira dan lucu sebagai rasa syukur atas lancarnya proses pelaksanaan. Dalam
pelaksanaan pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan
ditemukan beberpa kendala antara lain faktor ekonomi keluarga, faktor adat dan budaya suku Tolaki, faktor dijodohkan orang tua.Salah satu solusi untuk mengatasi hal
tersebut antara lain adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya
yang akan melaksanakan perkawinan adat Tolaki.
Implikasi dalam penelitian ini adalah diharapkan agar masyarakat suku
Tolaki khususnya yang bermukim di Kabupaten Konawe Selatan dapat mengikuti
prosesi perkawinan berdasarkan hukum Islam dengan mengintegrasikannya dengan
nilai-nilai budaya yang memiliki relevansi dengan syari’at Islam. Agar tesis ini
dapat menjadi bahan rujukan dan referensi bagi pelaksanaan adat perkawinan
masyarakat suku Tolaki, sehingga dalam pelaksanaan perkawinan mereka dapat
sejalan dengan hukum Islam, adat istiadat dan perundang-undangan yang berlaku.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hukum merupakan seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara
manusia yang satu dengan lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Hukum tersebut
terdiri dari norma atau kaidah, baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga
diperlukan kriteria tertentu dalam sikap, tindak atau perilaku manusia guna
mencapai kedamaian melalui keserasian antara ketertiban dan ketentraman, atau
antara disiplin dan kebebasan.1 Secara sederhana hukum diartikan seperangkat
peraturan tentang tingkah laku manusia yang diakui oleh suatu negara atau
kelompok masyarakat, berlaku dan mengikat untuk anggotanya.2 Hal ini bertujuan
agar kehidupan manusia berlangsung damai, adil, dan sejahtera.
Seperangkat aturan yang terdiri dari norma dan kaidah tidak serta merta
menjadi hukum, kecuali norma tersebut berubah status menjadi hukum bagi negara
yang menganut sistem hukum yang tertulis melalui peraturan perundang-undangan
yang berlaku dalam suatu masyarakat.
Dalam bidang perkawinan, hukum Islam sebagai hukum nasional (lex
positives/ius constitum) diberlakukan di era Orde Baru pertama kali tercantum
dalam UU RI. Nomor 1 Tahun 1974 pasal 2 ayat (1). Itu pun masih bersifat general
(hukum agama), tidak spesial hukum Islam.3 Keberadaan UU Perkawinan merupakan
1
Lihat Soerjono Soekanto, Efektivitas Hukum dan Peranan Sanksi(Cet. I; Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1985), h. 1.
2
Lihat Amir Syarifuddin, Usu>l Fikih (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000), h. 21.
3
Lihat Marzuki Wahid dan Rumadi, Fiqh Mazhab Negara, Kritik atas Politik Hukum Islam
di Indonesia (Cet. I; Yogyakarta: LKIS, 2001), h. 87.
1
2
salah satu usaha pemerintah untuk melakukan unifikasi hukum dalam bidang
perkawinan, sehingga tercipta rumusan hukum yang jelas dan baku. Hal ini
disebabkan karena persoalan heterogenitas budaya, adat, dan agama di Indonesia
sangat tercermin dalam praktek perkawinan masyarakat yang majemuk (plural).
Perkawinan merupakan babak awal dalam pembentukan rumah tangga yang
sakinah. Pernikahan yang dilakukan dengan penuh kejujuran akan melahirkan
keindahan dalam keluarga. Karena kebahagiaan sesungguhnya bukan berada pada
banyaknya harta, namun pada sikap hati yang penuh kejujuran, kepercayaan dan
pendekatan diri kepada Sang Pencipta menuju keluarga sakinah mawaddah wa
rahmah.
Islam melarang atau mengharamkan untuk melepaskan naluri seksual pada
jalan yang bukan tempatnya dan tidak diridhoi Allah, misalnya zina dan sebagainya.
Sejalan dengan hal tersebut maka Islam telah membuka jalan keluar untuk
menyalurkan naluri seksual tersebut melalui jalan yang sudah ditetapkan oleh syariat
yaitu perkawinan. Jalan perkawinan inilah yang diridhoi dalam Islam. Perkawinan
sebagai salah satu sunatullah yang secara umum berlaku untuk semua makhluk-Nya,
baik itu hewan, tumbuh-tumbuhan maupun manusia.
Sebagai sunatullah yang tidak hanya diberikan kepada manusia, perkawinan
bukan semata-mata perintah dan anjuran yang tidak memiliki arti dan manfaat sama
sekali. Akan tetapi sebaliknya, perkawinan merupakan realisasi kehormatan bagi
manusia sebagai makhluk bermoral dan berakal dalam menyalurkan naluri seks yang
bersifat psikis maupun fisik yang dapat diperoleh dalam perkawinan sebagai tujuan
akhirnya. Laki-laki yang dibekali rasa senang terhadap perempuan dan demikian
pula perempuan merasa senang terhadap laki-laki, dalam menempuh hidup di dunia
3
sebagai khalifah tidak dibiarkan hidup sekehendak, akan tetapi diberi hidup bersama
dengan pasangannya itu. Aturan ini bermaksud agar mereka hidup dengan tenang
dan damai diliputi rasa kasih sayang yang dapat menghibur dikala susah dan pemulih
gairah dikala lelah.
Perkawinan merupakan institusi formal yang harus ditempuh manusia
ketika ingin hidup bersama dengan lawan jenisnya. Artinya bahwa perkawina
tersebut harus dilakukan secara resmi. Aturan ini adalah hukum Allah swt. yang
bertujuan menempatkan manusia sebagai makhluk yang paling mulia di antara
makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya, sehingga sesuai dengan tabiatnya. Manusia
tidak akan dapat berkembang tanpa adanya perkawinan, karena perkawinan
menyebabkan adanya keturunan, dan keturunan menimbulkan keluarga yang
berkembang menjadi kerabat dan masyarakat. Jadi perkawinan merupakan unsur tali
temali yang meneruskan kehidupan manusia dan masyarakat.4
Hasrat manusia untuk melangsungkan perkawinan cukup tinggi, sebab
perkawinan merupakan kebutuhan manusiawi untuk menyalurkan kebutuhan
biologis secara baik dan benar berdasarkan aturan syariat atau aturan yang berlaku
pada setiap masyarakat (adat). Allah swt. menciptakan manusia di muka bumi ini
sebagai makhluk yang sebaik–baiknya dan dilengkapi dengan nafsu sehingga
mempunyai keinginan terhadap lawan jenisnya. Untuk memenuhi kebutuhan
tersebut Allah swt. menciptakan lawan jenis dari jenis manusia sendiri yang dapat
dijadikan sebagai istri dalam rangka memperoleh keturunan berupa anak dan cucu
yang dapat beregenerasi. Allah swt. Berfirman dalam Q.S. al-Nah}l/16: 72.
4
Lihat Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat (Cet. II; Bandung; Alumni, 1983),
h. 221.
4
           
          
Terjemahnya:
Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan
menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan
memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman
kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?" 5
Sekarang yang menjadi persoalan adalah cara mendapatkan pasangan dan
menyalurkan kebutuhan seks dilakukan dengan cara yang tidak dibenarkan agama.
Pelepasan hajat seksual biasa dilakukan dengan jenis sendiri (lesbian atau
homoseksual), ada juga dengan cara onani (seksual dengan diri sendiri), atau dengan
lawan jenis tanpa melakukan pernikahan yang sah (kumpul kebo).
Munculnya perilaku seks menyimpang tersebut berimplikasi pada eksistensi
keturunan yang tidak pasti siapa ayah dari anak yang lahir tanpa ikatan pernikahan
yang syah.
Hal tersebut sesua dengan firman Allah swt. dalam QS. al-Maidah’/5: 1
             
           
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu, Dihalalkan bagimu binatang
ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak
menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah
menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. Aqad (perjanjian) mencakup:
janji prasetia hamba kepada Allah dan Perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan
6
sesamanya.
5
Departemen Agama RI, Al-Qur’a>n dan Terjemahnya (Solo: Qomari, 2010), h. 4114.
6
Ibid. h. 115.
5
Mengacu pada ayat di atas, dapat dipahami bahwa pernikahan haruslah
didasarkan pada hukum-hukum Allah swt. atau berdasarkan adat masyarakat yang
tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Hanya saja kenyataan dalam masyarakat
tertentu ada juga yang melangsungkan pernikahan tanpa memperhatikan aturanaturan agama. Aqad (perjanjian) mencakup janji prasetia hamba kepada Allah dan
Perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya.Pernikahan lebih
ditekankan pada aspek tradisi dan budaya yang secara turun temurun diterima atau
diperoleh dari nenek moyang mereka.
Adat inilah yang mewarnai kehidupan masyarakat termasuk dalam hal
pelaksanaan perkawinan. Pada masyarakat tertentu dapat melakukan perkawinan
bila sekufu atau sederajat atau berasal dari suku yang sama. Artinya, ada suatu
upaya adat yang membedakan suku, keturunan dan kebangsawanan. Adat seperti ini
tentu tidak sesuai dengan jiwa agama dalam hal perkawinan yang dapat dilakukan
dengan siapa saja dengan pertimbangan utama berdasarkan agama.
Di Kabupaten Konawe Selatan terdapat dua versi adat perkawinan. Versi
yang pertama memiliki pemahaman bahwa siapa saja dan berasal dari suku manapun
yang pasti saling mencintai perkawinan dapat dilangsungkan. Sedangkan versi
kesdua memiliki pemahaman bahwa tidak mau menikahkan anaknya bila tidak
seketurunan, setara derajat kebangsawanannya, dan tidak sesuku.
Akan tetapi seiring dengan adanya perubahan serta perkembangan dalam
masyarakat, sebahagian masyarakat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan dalam
melaksanakan prosesi perkawinan tidak saja didominasi oleh hukum adat, tetapi
sudah dipadukan dengan aturan perkawinan dalam Islam.
6
Hukum Islam yang berkembang di Indonesia merupakan hal penting dan
paling berharga dalam memperbaharui dan memperkaya khasanah adat Tolaki. Atas
dasar inilah penulis ingin mengadakan penelitian untuk memahami lebih jauh
bagaimana pengaruh hukum Islam terhadap adat perkawinan Tolaki di Kabupaten
Konawe Selatan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi pokok permasalahan
untuk dijadikan kajian utama dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan
perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara dalam
perspektif hukum Islam? Untuk mengkaji pokok permasalahan tersebut maka
penulis merinci ke dalam beberapa submasalah, yaitu:
1. Bagaimana pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan
Sulawesi Tenggara?
2. Bagaimana kendala yang dihadapi dalam memadukan adat perkawinan Tolaki
dengan perspektif hukum Islam di Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi
Tenggara?
3. Bagaimana solusi mengatasi kendala yang dihadapi dalam memadukan adat
perkawinan Tolaki dengan perspektif hukum Islam di Kabupaten Konawe
Selatan Sulawesi Tenggara?
C. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian
1. Definisi operasional Variabel
Penelitian in berjudul membedah pelaksanaan perkawinan adat tolaki di
Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara. Untuk memperjelas pengertian atau
7
makna variabel yang terdapat dalam judul penelitian ini maka perlu dikemukakan
definisi operasional dari setiap variabel, agar para pembaca tidak keliru
memahaminya. Adapun variabel yang peelu dijelaskan adalah sebagai berikut:
a. Membedah
Kata membedah ini pada dasarnya berasal dari suku kata “bedah” yang
umumnya digunakan oleh kedokteran. Bedah artinya identik dengan operasi (medis),
yakni pengobatan penyakit dengan memotong atau mengiris dan sebagainya bagian
tubuh yang sakit.7 Namun kata “bedah” ini apabila diberi awalan “me” lalu
kemudian disisipi huruf “m" maka menjadilah kata “membedah” yang artinya selain
arti media yakni mengoperasi, kata tersebut juga kadang-kadang diartikan dengan
menganalisa atau mengkaji. Membedah yang dimaksud penulis dalam penelitian ini
adalah suatu usaha yang dilkukan untuk mengakaji sesuatu sehingga dapat diketahui
hakekat sesuatu tersebut.
b. Pelaksanaan Perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi
Tenggara
Pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi
Tenggara yang penulis maksud dalam penelitian ini adalah kegiatan perkawinan
yang dilakukan oleh masyarakat Tolaki berdasarkan adat atau kebiasaan yang ada di
di daerah tersebut.
7
Departemen Pendidikan Nasional RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. I; Edisi III;
Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h. 120.
8
2. Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup penelitian ini adalah menemukan solusi yang dapat
lebih merelevansikan antara adat perkawinan bagi suku Tolaki yang ada di
Kecamatan Konawe Selatan dengan hukum dan syari’at Islam.
D. Kajian Pustaka
Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di
Kabupaten Konawe Selatan berdasarkan hukum Islam dengan pokok masalah yang
akan dibahas mempunyai relevansi dengan berbagai karya ilmiah berupa teori-teori
yang ada dalam buku referensi serta hasil penelitian dalam bentuk tesis sebagai
berikut:
1. Hasil penelitian yang dilakukan Suharni Majid yang berjudul Relevansi
Perkawinan Adat Tolaki dan Perkawinan Adat Jawa dalam Masyarakat
Kecamatan Palangga Kabupaten Kendari Ditinjau dari Segi Hukum Islam.
Hasil penelitian dalam bentuk tesis ini ditemukan bahwa bila ditinjau dari
syari”at Islam maka adat perkawinan suku Tolaki yang ada di Kabupaten
Konawe Selatan memiliki relevansi dengan adat perkawinan suku Jawa.
Bahkan Suharni Majid menuturkan dalam hasil kesimpulannya bahwa antara
adat perkawinan Tolaki dengan adat perkawinan adat Jawa mempunyai
relevansi yang cukup kuat. Sementara dalam perspektif hukum adat, lanjut
Suharni Majid bahwa pada masing-masing konsep perkawinan, secara
substansial, perkawinan adat Tolaki dan adat Jawa masih relevan, sebab apa
yang dilakukan oleh adat Tolaki, secara prosedural dilakukan pula dalam
konsep perkawinan adat Jawa. Hanya saja yang membedakan adat ini dalam
9
kesimpulan Suharni Majid adalah tata cara atau tata laksana perkawinan
hanyalah istilah-istilah dan simbol-simbol adat dalam tiap tahapannya.8
2. Hasil penelitian yang dilakukan Azhar Pagala menyimpulkan bahwa proses
perkawinan adat Tolaki memiliki relevansi yang kuat dengan prosesi
perkawinan dalam Islam. Hal ini terlihat dalam prosesi pranikah. Dalam Islam,
sebelum perkawinan dilangsungkan kedua calon mempelai tentu memerlukan
“ta’aruf” secara islami. Sementara dalam adat suku Tolaki pranikah ditandai
dengan adat proses pelamaran (pertunangan) yang disebutnya dengan
“Meloso’ako” atau “moawo niwule” yakni sebuah bentuk upacara peminangan
dari pihak laki-laki (orang tua laki-laki dan kerabatnya) dengan mengunjungi
keluarga perempuan yang juga telah berkumpul dengan keluarganya menunggu
kedatangan pihak laki-laki datang melamar atau meminang.9 Artinya, sebelum
proses peminangan berlangsung keluarga kedua belah pihak telah bersepakat
untuk datang bertemu khusus membicarakan menentukan atau memastikan
apakah anak perempuannya tidak sedang dalam pinangan laki-laki lain.
3. Sementara itu, Sudarni Laupe dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa adat
perkawinan adalah kebiasaan suatu masyarakat tertentu berupa tradisi yang
dimulai dan dilaksanakan sejak nenek moyang mereka untuk kemudian
dilestasikan dalam acara seperti pada adat perkawinan. Kebiasaan yang telah
menjadi adat tradisional dalam adat perkawinan, misalnya membawa
perlengkapan pakaian perempuan oleh pihak laki-laki saat datang untuk
8
Suharni Majid, Relevansi Perkawinan Adat Tolaki dan Perkawinan Adat Jawa dalam
Masyarakat Kecamatan Palangga Kabupaten Kendari Ditinjau dari Segi Hukum Islam. (Tesis PPs
UMI Makassar, 2001) belum diterbitkan, h. 121.
9
Azhar Pagala, Nilai-Nilai Mahar dalam Adat Perkawinan Suku Bugis dan Suku Tolaki
(Analisis Perbandingan). (Tesis) PPs UIN Alauddin 2008, belum terpublikasi, h. 57.
10
bersanding, walaupun dalam syari’at Islam hal tersebut tidak ditemukan tetapi
karena adat tersebut justru menambah simbolisasi kewajiban dan kesanggupan
seorang suami memberikan nafkah kepada isterinya.10
Merujuk pada hasil penelitian di atas, penulis belum menemukan karya
ilmiah yang secara khusus membahas tentang “Studi Pelaksanaan Perkawinan Adat
Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara Berdasarkan Hukum
Islam”. Karena itu, peneliti ingin menelusuri penerapan perpaduan antar tradisi
perkawinan. Selanjutnya, pada kajian pustaka ini peneliti akan memaparkan
beberapa referensi yang memiliki relevansi dengan judul yang akan diteliti, antara
lain sebagai berikut:
Risalah Nikah, Hukum Perkawinan Islam oleh H.S.A. Alhamdani yang
menuturkan bahwa “perkawinan adalah sunnatullah, hukum alam di dunia.
Perkawinan dilakukan oleh manusia, hewan bahkan oleh tumbuh-tumbuhan”.11
Kaitannya dengan penelitian ini jelas terletak pada aspek pembahasan yang
mengkaji tentang perkawinan dalam perspektif hukum Islam. Perkawinan sebagai
jalan yang wajib dilalui oleh setiap umat Islam untuk menempuh rumah tangga
sakinah.
Bahkan Sayyid Sabiq memaparkan bahwa “perkawinan merupakan salah
satu sunnatullah yang umum berlaku pada semua makhluk Tuhan, baik pada
manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan”.12 Relevansinya dengan pembahasan
10
Darmiati Laupe, Adat Perkawinan Masyarakat Bugis di Desa BaraE Kecamatan Mario
Riwawo Kabupaten Soppeng (Tesis) PPs UMI Makassar 2008, Belum terpublikasi, h. 72.
11
H.S.A. Alhamdani, Risalah Nikah, Hukum Perkawinan Islam (Cet. III; Jakarta: Pustaka
Amani, 1989), h. 15.
12
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah Jilid VI, Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Moh. Thalib,
(Cet. VII; Bandung: Al-Ma’arif, 1990), h. 9.
11
tesis ini juga terletak pada urgensinya kelangsungan hidup manusia melalui
perkawinan.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, setelah dianalisis belum ada yang
secara spesifik meneliti tentang membedah pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di
Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara.
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bentuk perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe
Selatan.
2. Untuk mengungkap kendala yang dihadapi dalam memadukan adat perkawinan
Tolaki dengan perspektif hukum Islam di Kabupaten Konawe Selatan.
3. Untuk mengetahui solusi mengatasi kendala yang dihadapi dalam memadukan
adat perkawinan Tolaki dengan perspektif hukum Islam di Kabupaten Konawe
Selatan.
Sedangkan yang menjadi kegunaan penelitian ini secara ilmiah dan praktis
adalah:
a. Secara Ilmiah
Penelitian ini dapat menambah khasanah keilmuan Islam, khususnya yang
terkait dengan masalah perkawinan adat Tolaki dan perkawinan dalam perspektif
hukum Islam.
b. Kegunaan Praktis
1) Kegunaan bagi peneliti
12
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi peneliti
terutama yang berkaitan dengan hal ikhwal perkawinan adat bagi suku Tolaki di
Kabupaten Konawe Selatan yang kaitannya dengan perkawinan dalam Islam.
2) Kegunaan bagi masyarakat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wacana positif bagi
seluruh masyarakat Islam Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan, sehingga mereka
dapat melestarikan adat istiadat mereka yang sejalan dan relevan dengan nilai-nilai
syari’at Islam.
F. Garis Besar Isi Tesis
Secara garis besar penelitian ini terbagi ke dalam lima bab pembahasan.
Bab pertama sebagai bab pendahuluan yang di dalamnya dipaparkan latar belakang
masalah. Dari latar belakang masalah inilah kemudian lahir rumusan masalah
sekaligus sebagai batas pembahasan dalam tesis ini. Lalu kemudian dirumuskan
tujuan dan kegunaan penelitian, diikuti dengan definisi operasional dan fokus
penelitian, kajian pustaka dan pada bagian akhir bab pertama ini dikemukakan garis
besar isi tesis itu sendiri.
Bab kedua sebagai bab yang membahas kajian teoritis. Pada bab ini
dikemukakan tentang pengertian dan sistem perkawinan dalam Islam, syarat-syarat,
prosesi, tujuan dan hikmah perkawinan, Kajian Terhadap Aturan PerundangUndangan Tentang Perkawinan, dan Tata Cara Perkawinan Menurut Ajaran Islam.
Bab ketiga sebagai bab yang mengetengahkan secara khusus metodologi
penyusunan tesis ini, sehingga diiformasikan bahwa metode penulisan yang
digunakan antara lain mulai dari jenis dan lokasi dilangsungkannya penelitian, fokus
13
penelitian, instrumen penelitian, pendekatan penelitian, sumber data penelitian,
metode pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Bagian keempat adalah bab yang memaparkan hasil penelitian, walaupun
ditampilkan terlebih dahulu selayang pandang Kabupaten Konawe Selatan lalu
ditampilkan hasil penelitian. Adapun hasil penelitian yang dipaparkan dalam bab
keempat ini adalah pelaksanaan adat perkawinan suku Tolaki di Kabupaten Konawe
Selatan, Tahap Pelaksanaan Perkawinan Adat Suku Tolaki di Kabupaten Konawe
Selatan, dan Kendala yang dihadapi dalam Memadukan Adat Perkawinan Adat Suku
Tolaki dengan Hukum Islam di Kabupaten Konawe Selatan.
Bab kelima adalah bab terakhir sehingga di dalamnya dipaparkan beberapa
kesimpulan yang ditarik dari pembahasan sebelumnya lalu diakhiri dengan implikasi
penelitian.
BAB II
TINJAUAN TEORETIS
A. Pengertian dan Sistem Perkawinan dalam Islam
Perkawinan atau pernikahan merupakan institusi yang istimewa dalam
Islam. Di samping merupakan bagian dari syariat Islam, perkawinan memiliki
hikmah dan tujuan yang mulia. Perkawinan dapat mengubah sikap dan perilaku
yang dilarang menjadi bernilai ibadah. Melalui perkawinan juga, masa depan
manusia bisa tetap dipertahankan.
Dalam kehidupan modern sekarang perkawinan patut dikaji secara
mendalam. Kecanggihan teknologi dan majunya ilmu pengetahuan sekarang
memungkinkan manusia bisa melakukan rekayasa sehingga dari segi pragmatis
perkawinan menjadi kurang urgen. Manusia bisa melakukan apa saja yang
seharusnya dilakukan ketika manusia sudah melalui proses perkawinan. Hanya
ideologi dan kesadaran akan arti pentingnya perkawinan yang mengharuskan
seseorang melakukan perkawinan.
Manusia merupakan salah satu jenis dari sekian banyak makhluk hidup
yang diciptakan oleh Allah swt., yang telah diberikan kepercayaan kepadanya untuk
menjadi khalifah di bumi ini. Manusia harus berkembang biak melalui hubungan
kelamin merupakan suatu kesepakatan tanpa ada perbedaan pendapat. Bahkan
menurut Alhamdani bahwa “perkawinan adalah sunnatullah, hukum alam di dunia.
Perkawinan dilakukan oleh manusia, hewan bahkan oleh tumbuh-tumbuhan”.1 Hal
senada dikemukakan Sayyid Sabiq bahwa “perkawinan merupakan salah satu
1
H.S.A. Alhamdani, Risalah Nikah, Hukum Perkawinan Islam (Cet. III; Jakarta: Pustaka
Amani, 1989), h. 15.
14
15
sunnatullah yang umum berlaku pada semua makhluk Tuhan, baik pada manusia,
hewan maupun tumbuh-tumbuhan”.2
Perkawinan bagi manusia bukan hanya sebagai pernyataan (statemen) yang
mengandung keizinan untuk melakukan hubungan seksual sebagai suami isteri,
tetapi juga merupakan tempat berputarnya hidup kemasyarakatan. Dengan
demikian, perkawinan mempunyai arti yang amat penting dalam kehidupan manusia
dan merupakan pola kebudayaan untuk mengendalikan serta membentuk pondasi
yang kuat dalam kehidupan rumah tangga.
Berdasar pada statemen tersebut dapat dipahami bahwa perkawinan bagi
manusia bukan saja untuk memenuhi kebutuhan biologis - dan ini bukan merupakan
fungsi primer - tetapi ia merupakan fungsi sekunder. Sehubungan dengan itu,
terdapat tendensi yang kuat mengenai pikiran akan kodrat pertama (primary nature)
yang merupakan sifat-sifat biologis manusia yang diperoleh dari keturunan dan
kodrat kedua (scondary nature) yang merupakan sifat-sifat kultural manusia.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut, diketahui bahwa perkawinan tidak
hanya berlaku pada manusia, tetapi pada semua makhluk Allah termasuk hewan,
binatang dan tumbuh-tumbuhan. Karena manusia merupakan satu-satunya makhluk
Allah yang paling mulia, di antara sekian makhluk-Nya, maka dalam segala aspek
kehidupan manusia senantiasa dituntun agar kemuliaannya tetap terjaga. Oleh
karena itu, untuk menghilangkan persepsi kesamaan derajat antara manusia dengan
binatang atau hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam aspek perkawinan itu, maka
dalam sistem perkawinan manusia diberikan tata aturan, kaidah dan norma-norma
yang bertujuan mengangkat derajat kemanusiaan untuk menjadi makhluk yang tetap
2
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah Jilid VI, Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Moh. Thalib,
(Cet. VII; Bandung: Al-Ma’arif, 1990), h. 9.
16
mulia. Perkawinan bagi binatang, hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak memiliki
aturan tertentu, tidak memiliki batas-batas etika, tidak terkait dengan adat istiadat.
Berbeda dengan perkawinan yang terjadi pada manusia, sistem perkawinan
pada manusia harus sesuai dengan tujuan hukum, hendaknya hubungan itu
dilakukan menurut aturan tertentu agar tidak serupa dengan hewan, binatang dan
tumbuh-tumbuhan. Manusia sebagai makhluk yang lebih dimuliakan dan
diutamakan Allah dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Allah telah
menetapkan adanya aturan tentang perkawinan bagi manusia dengan aturan-aturan
yang tidak boleh dilanggar, manusia tidak boleh berbuat semaunya. Allah tidak
membiarkan manusia berbuat semaunya seperti binatang, kawin dengan lawan jenis
semau-maunya tanpa aturan, atau seperti tumbuh-tumbuhan yang kawin dengan
perantaraan angin, sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Hijr/15: 22.
... ،‫َواَرْ َﺳ ْﻠﻨَﺎ اﻟ ﱢﺮﯾَﺎ َح ﻟَ َﻮاﻗِ َﺢ‬
Terjemahnya:
Dan Kami telah
tumbuhan),….3
meniupkan
angin
untuk
mengawinkan
(tumbuh-
Ayat tersebut, menginformasikan bahwa perkawinan yang terjadi pada
tumbuh-tumbuhan hanyalah melalui tiupan angin yang telah ditentukan oleh Allah.
Hal ini menggambarkan bahwa sistem perkawinan pada makhluk selain manusia,
tidak memiliki norma-norma atau hukum seperti yang terjadi pada perkawinan
manusia. Perkawinan bagi manusia, Allah telah memberikan batas dengan
peraturan-peraturan-Nya, yaitu dengan syariat, yang terdapat dalam kitab suci-Nya
al-Qur'an dan hadis Rasul-Nya dengan hukum-hukum perkawinan, misalnya
3
h. 392.
Departemen Agama RI., Al-Qur'an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 2000),
17
mengenai meminang sebagai pendahuluan perkawinan, tentang mahar atau
maskawin, yaitu pemberian seorang suami kepada istri nya sewaktu akad nikah atau
sesudahnya.
Islam adalah agama yang universal (syumul). Agama yang mencakup
semua sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalah pun, dalam kehidupan ini, yang
tidak dijelaskan. Dan tidak ada satu pun masalah yang tidak disentuh nilai Islam,
walau masalah tersebut tampak kecil dan sepele. Itulah Islam, agama yang memberi
rahmat bagi sekalian alam.
Dalam masalah perkawinan, Islam telah banyak berbicara. Mulai
bagaimana mencari kriteria bakal calon pendamping hidup, hingga bagaimana
memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya,
Islam pula mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta pernikahan yang
meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar tuntunan sunnah
Rasulullah saw, begitu pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh
dengan pesona.
Nikah merupakan jalan yang paling bermanfaat dan paling af«al dalam
upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan, karena dengan nikah inilah
seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah. Oleh sebab itulah
Rasulullah saw, mendorong untuk mempercepat nikah, mempermudah jalan
untuknya dan memberantas kendala-kendalanya. Nikah merupakan jalan fitrah yang
bisa menuntaskan gejolak biologis dalam diri manusia, demi mengangkat cita-cita
luhur yang kemudian dari persilangan syar’i tersebut sepasang suami istri dapat
menghasilkan keturunan, hingga dengan perannya kemakmuran bumi ini menjadi
semakin semarak.
18
Persoalan perkawinan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu
menarik untuk dibicarakan, karena persoalan ini bukan hanya menyangkut tabiat
dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh suatu lembaga yang
luhur dan sentral yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng
bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai akhlak yang luhur dan sentral.
Karena lembaga ini memang merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya bani Adam
(anak cucu Adam), yang kelak mempunyai peranan kunci dalam mewujudkan
kedamaian dan kemakmuran di bumi ini.
Ketika menelusuri dan berpijak pada al-Qur’an, tergambar bahwa
perkawinan merupakan sesuatu yang dianjurkan dalam Islam. Anjuran tersebut
dinyatakan dalam berbagai ungkapan, baik secara eksplisit maupun implisit.
Adapun perintah untuk melangsungkan proses perkawinan yang secara tersurat
maupun tersirat sebagai dasar hukum yaitu salah satu di antaranya firman Allah
swt, dalam QS. al-Nisa/4: 1.
             
                
Terjemahnya:
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan
istri nya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki
dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan
(peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga
dan mengawasi kamu.4
4
Ibid., h. 114.
19
Dari ayat tersebut Allah swt., menampakkan kejadian manusia yang
merupakan hasil ciptaan-Nya dari suatu zat. Zat yang kemudian menjelma menjadi
Adam. Kemudian Allah swt., menciptakan pasangannya yang menurut beberapa
riwayat bernama Siti Hawa. Keduanya (Adam dan Hawa) lalu dijadikan pasangan
suami-istri melalui lembaga perkawinan, bukan dengan cara promiskwiti
(perkawinan orang-orang primitive yang kacau balau). Dari pasangan inilah lahir
anak-anak baik laki-laki maupun perempuan dan proses seperti itu berlangsung terus
menerus hingga sekarang.5 Dengan demikian, ayat ini sekaligus merupakan
bantahan terhadap teori yang bernama evolusi Darwin yang menyatakan bahwa
manusia di dunia ini terbentuk melalui proses evolusi dari monyet.6
Para mufassir mempermasalahkan tentang kejadian Hawa yang diciptakan
dari Adam sendiri. Hal ini dipahami dari penggalan ayat “min nafsin wa>hidah”.
Sebagian mufassir berpendapat bahwa Hawa diciptakan dari “tulang rusuk Adam
sebelah kiri yang bengkok”, kemudian melahirkan pandangan yang negatif terhadap
perempuan dengan menyatakan bahwa perempuan adalah bagian dari lelaki,
sehingga kebanyakan ulama sebagaimana disebutkan oleh al-Qurtubi memahami
bahwa perempuan bersifat ‘auwja>” (bengkok).7
Maksud kata perempuan bagian dari laki-laki adalah bahwa asal mula
perempuan (Hawa) tersebut adalah dari tulang rusuk seorang laki-laki (Adam).
Kemudian maksud dari kata ‘auja>” adalah bahwa perempuan tersebut memiliki sifat
lemah lembut.
5
Lihat Muhammad Mahmud Hijazi, al-Tafsir al-Wadhih, Jilid I, (Juz I; Cet, VI: Kairo: alMatba’ah al-Istiqla>l al-Kubra>, 1969), h. 85.
6
Ibid.
7
Ibid., 87.
20
Dalam kamus Bahasa Indonesia kata “perkawinan” berasal dari kata
“kawin” yang menurut bahasa berarti “membentuk keluarga dengan lawan jenis,
atau melakukan hubungan kelamin, bersetubuh”.8 Secara bahasa pada mulanya kata
“nikah”yang berasal dari bahasa Arab nika>hun dan merupakan masdar dari kata
nakaha, digunakan dalam arti ”berhimpun, bergabung”.9 Perkawinan disebut juga
“pernikahan” yang berasal dari bahasa Arab, yakni “nikah” yang menurut bahasa
artinya “mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh
(wathq)”.10 Perkawinan berasal dari kata “kawin “ yang berarti nikah, berbini,
berlaki. Kemudian mendapat awalan “per” dan akhiran “an” menjadi perkawinan,
yang mempunyai arti hal-hal mengenai perkawinan.11 Dari segi etimologi, ibn Faris
menulis, Nikah berasal dari huruf-huruf nun-kaf-ha yang berarti al-bidh’u< yaitu
hubungan seksual atau al-jima>’. 12
Menurut Mohd. Idris Ramulyo bahwa :
Nikah (kawin) menurut arti asli ialah hubungan seksual, tetapi menurut arti
majazi (mathaporic) atau arti hukum ialah akad (perjanjian) yang
menjadikan halal hubungan seksual sebagai suami istri antara seorang pria
dengan seorang wanita.13
8
Depdikbud. RI., Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi III; Cet. I; Jakarta: Balai Pustaka,
2001), h. 518.
9
Ibid., h. 339.
10
Lihat Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat (Edisi I: Cet. I; Jakarta: Prenada Media,
2003), h. 7.
11
Depdikbud. RI., op. cit., h. 339.
12
Abu al-Husain Ahmad Ibn Faris Ibn Zakariya, Mu’jam Maqayis al-Lughah, ditahqiq oleh
Syihabuddin Abu Amr, Jld. V, (Cet. I; Bairut: Dar Fikr, 1994 ), h. 1047.
13
Mohd. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis dari Undang-undang
No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (Edisi II; Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 1.
21
Sedangkan perkawinan dari segi definisi seperti yang dirumuskan oleh
Wahbah al-Zuhaili dalam bukunya “Fiqh al-Islam Wa Adillatuh” ditemukan definisi
sebagai berikut :
ُ ‫ﺎر‬
‫ﺎع‬
َ ‫ع ﻟِﯿُﻔِ ْﯿ َﺪ ِﻣ ْﻠ‬
َ ‫اَﻟ ﱠﺰ َوا ُج ﺷَﺮْ ﻋًﺎھُ َﻮ َﻋ ْﻘ ٌﺪ َو‬
ِ ‫ﺿ َﻌﮫُ اﻟ ﱠﺸ‬
ِ َ‫ﺎع اﻟ ﱠﺮ ُﺟ ِﻞ ﺑِﺎْﻟ َﻤﺮْ أَ ِة َو ِﺣ ﱠﻞ ا ْﺳﺘِ ْﻤﺘ‬
ِ َ‫ﻚ ا ْﺳﺘِ ْﻤﺘ‬
14
.‫ْاﻟ َﻤﺮْ أَ ِة ﺑِﺎﻟ ﱠﺮ ُﺟ ِﻞ‬
Artinya:
Perkawinan berdasarkan syariat adalah akad yang ditetapkan syara’ untuk
membolehkan bersenang-senang antara laki-laki dengan perempuan dan
menghalalkan bersenang-senangnya perempuan dengan laki-laki.
Sedangkan berdasarkan UU RI No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan
didefinisikan sebagai “ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang
perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.15
Ada pula yang mendefinisikan kata perkawinan itu sebagai berikut :
Perkawinan (bagi manusia) adalah suatu cara yang dipilih oleh Allah sebagai
jalan bagi mereka untuk mengembangkan keturunan, beranak, melestarikan
kehidupannya, setelah masing-masing pasangan dari mereka (laki-laki dan
perempuan) sudah siap melakukan perannya yang positif dalam mewujudkan
tujuan perkawinan.16
Dalam kompilasi hukum Islam pasal 2 menyebutkan bahwa perkawinan
menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mi>sa|> qan
14
Wahbah Al-Zuhaili, Fiqh Al-Islam Wa Adillatuh (Cet. III; Beirut: Da>rt al-Fikr, 1989),
15
Undang-undang tentang Perkawinan, Bab I Pasal 1
h. 29.
16
Mahtuf Ahnan dan Maria Ulfa, Risalah Fiqih Wanita: Pedoman Ibadah Kaum Wanita
Muslimah dengan Berbagai Permasalahannya (Surabaya: Terbit Terang, 2000), h. 270.
22
galiz|an untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah”.17
Sedangkan pasal 3 disebutkan bahwa “perkawinan bertujuan untuk mewujudkan
kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah”.18
Bertolak dari beberapa definisi perkawinan yang dipaparkan di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa perkawinan adalah suatu akad atau ikatan lahir batin yang
mengandung ketentuan hukum tentang kebolehan laki-laki dan perempuan hidup
sebagai suami istri setelah melakukan perannya yang positif dalam menempuh jalan
yang dipilih Allah untuk beranak pinak, berkembang biak dan kelestarian hidup
dengan membentuk rumah tangga bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah.
B. Syarat-syarat, Tujuan dan Hikmah Perkawinan
1. Syarat-syarat Perkawinan
Perkawinan merupakan sunnatullah yang di dalamnya Allah menghendaki
agar hamba-Nya yang bernama manusia ini dapat mengemudikan bahtera
kehidupan. Namun demikian, Allah tidak menghendaki perkembangan dunia
berjalan sekehendak manusia. Oleh sebab itu, diatur-Nyalah naluri apapun yang ada
pada manusia dan dibuatkan untuknya syarat-syarat dan undang-undang, sehingga
kemanusiaan manusia tetap utuh, bahkan semakin baik, suci dan bersih.
Demikianlah, bahwa segala sesuatu yang ada pada jiwa manusia sebenarnya tidak
pernah terlepas dari didikan Allah.
Dengan demikian bagi siapapun hamba Allah yang telah mampu kawin,
hendaknya bersegera kawin karena dengan kawin (beristri ) itu hati lebih terpelihara
17
H. Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Akademika Pressindo,
1995), h. 114.
18
Ibid.
23
dan bersih dari desakan nafsu. Islam sangat menyukai perkawinan, salah satu di
antaranya adanya anjuran bagi kaum muslimin untuk melangsungkan perkawinan.
Salah satu dasar anjuran perkawinan itu dapat ditemukan pada QS. al-Rum/30:21
‫ﻖ ﻟَﻘُ ْﻢ ﱢﻣ ْﻦ اَ ْﻧﻔُ ِﺴ ُﻜ ْﻢ اَ ْز َواﺟًﺎﻟﱢﺘَ ْﺴ ُﻜﻨُﻮْ اإِﻟَ ْﯿﮭَﺎ َو َﺟ َﻌ َﻞ ﺑَ ْﯿﻨَ ُﻜ ْﻢ ﱠﻣ َﻮ ﱠدةً ﱠو َرﺣْ َﻤﺔً اِ ﱠن ﻓِ ْﻲ‬
َ َ‫َو ِﻣ ْﻦ آﯾﺘِ ِﮫ اَ ْن َﺧﻠ‬
. َ‫ﺖ ﻟﱢﻘَﻮْ ٍم ﯾﱠﺘَﻔَ ﱠﻜﺮُوْ ن‬
َ ِ‫ذﻟ‬
ٍ ‫ﻚ ﻻَﯾ‬
Terjemahnya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri -istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir.19
Pada ayat lain, Allah berfirman dalam QS. al-Nahl/16/72
َ‫َوﷲُ َﺟ َﻌ َﻞ ﻟَ ُﻜ ْﻢ ﱢﻣ ْﻦ اَ ْﻧﻔُ ِﺴ ُﻜ ْﻢ اَ ْز َواﺟًﺎ ﱠو َﺟ َﻌ َﻞ ﻟَ ُﻜ ْﻢ ﱢﻣ ْﻦ اَ ْز َوا ِﺟ ُﻜ ْﻢ ﺑَﻨِ ْﯿﻦَ َو َﺣﻔَ َﺪةً ﱠو َر َزﻗَ ُﻜ ْﻢ ﱢﻣﻦ‬
....‫ﺖ‬
ِ ‫اﻟﻄﱠﯿﱢﺒ‬
Terjemahnya:
Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenismu sendiri dan menjadikan
bagimu dari istri -istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu
rezki dari yang baik-baik,…20
Kedua firman Allah tersebut, menjelaskan bahwa Allah tidak menjadikan
manusia seperti makhluk lainnya yang hidup bebas mengikuti nalurinya dan
berhubungan secara anarkhi tanpa batas aturan. Demi menjaga kehormatan dan
martabat kemuliaan manusia, Allah telah mengadakan hukum sesuai dengan
martabatnya sehingga hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur secara
terhormat dan berdasarkan rasa saling meridhai, dengan ucapan ijab kabul sebagai
19
Departemen Agama RI., op. cit., h. 644.
20
Ibid., h. 412.
24
lambang adanya rasa ri«a meri«ai, dan dengan dihadiri para saksi yang menyaksikan
bahwa pasangan laki-laki dan perempuan itu telah saling terikat (akad).
Sistem perkawinan ini telah memberikan jalan yang aman pada naluri seks,
memelihara keturunan dengan baik, dan menjaga kaum perempuan agar tidak
laksana rumput yang bisa dimakan oleh binatang ternak dengan sebebasnya.
Hubungan dan pergaulan suami istri diletakkan di bawah naluri keibuan dan
kebapaan sebagaimana ladang yang baik yang nantinya menumbuhkan tumbuhtumbuhan yang baik dan menghasilkan buah yang baik pula. Perkawinan dalam
Islam tidaklah semata-mata sebagai hubungan atau kontrak keperdataan biasa, akan
tetapi perkawinan mempunyai nilai ibadah, karena perkawinan ini merupakan
perintah agama kepada yang mampu agar besegera melaksanakannya. Bahkan dalam
pandangan Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahwa perkawinan itu merupakan
akad yang sangat kuat (mi>£a<qan gali©an) yakni menaati perintah Allah dan
melaksanakannya merupakan ibadah.21
Dalam melaksanakan akad perkawinan harus terpenuhi rukun dan syarat
nikah menurut fikih munakahat (perkawinan), yang di antaranya rukun perkawinan
itu harus terpenuhi lima unsur: pertama, adanya calon pengantin laki-laki, kedua,
calon pengantin perempuan, ketiga wali nikah, Keempat, dua orang saksi, dan
kelima, ijab qabul. Kalau kelima rukun ini sudah ada dan semuanya memenuhi
persyaratannya, maka perkawinan itu telah sah menurut hukum Islam.
Oleh karena itu, dalam perkawinan ini ditentukan beberapa syarat
berdasarkan syariat Islam. Adapun syarat-syarat perkawinan yang dimaksud adalah
syarat yang bertalian dengan rukun-rukun perkawinan Islam itu sendiri, yakni :
21
Ahmad Rofiq, op. cit., h. 69.
25
1. Syarat-syarat calon mempelai laki-laki, meliputi:
a. Bukan mahram dari calon istri.
b. Tidak terpaksa, atas kemauan sendiri.
c. Orangnya tertentu atau jelas orangnya.
d. Tidak sedang menjalankan ihram haji.
2. Syarat-syarat calon mempelai perempuan, meliputi :
a. Tidak ada halangan syar’i, yaitu tidak bersuami, bukan mahram, tidak
sedang dalam idah.
b. Merdeka, dan atas kemauan sendiri.
c. Jelas orangnya.
d. Tidak sedang berihram haji.
3. Syarat-syarat wali, meliputi:
a. Laki-laki
b. Baligh
c. Waras akalnya
d. Tidak dipaksa
e. Adil
f.
Tidak sedang ihram haji.
4. Syarat-syarat saksi, meliputi :
a. Laki-laki
26
b. Baligh
c. Waras akalnya
d. Adil
e. Dapat mendengar dan melihat
f.
Bebas, tidak dipaksa
g. Tidak sedang mengerjakan ihram haji
h. Memahami bahasa yang dipergunakan untuk ijab-kabul.22
Sedangkan syarat perkawinan yang dikemukakan oleh Ahmad Rofiq dalam
mengutip Kholil Rahman sebagai berikut:
1. Calon mempelai pria, syarat-syaratnya:
a. Beragama Islam
b. Laki-laki
c. Jelas orangnya
d. Dapat memberikan persetujuan
e. Tidak terdapat halangan perkawinan
2. Calon mempelai perempuan, syarat-syaratnya:
a. Beragama, meskipun Yahudi dan Nasrani
b. Perempuan
c. Jelas orangnya
22
H.S.A. Alhamdani, op. cit., h. 30-31.
27
d. Dapat dimintai persetujuannya
e. Tidak terdapat halangan perkawinan
3. Wali nikah, syarat-syaratnya:
a. Laki-laki
b. Dewasa
c. Mempunyai hak perwalian
d. Tidak terdapat hak perwaliannya
4. Saksi nikah, syarat-syaratnya:
a. Minimal dua orang saksi
b. Hadir dalam ijab kabul
c. Dapat mengerti maksud akad
d. Islam
e. Dewasa
5. Ijab kabul, syarat-syaratnya:
a. Adanya pernyataan mengawinkan dari wali
b. Adanya pernyataan penerimaan dari calon mempelai pria
c. Memakai kata-kata nika>h, tazwa>j atau terjemahan dari kata nika>h
atau tazwa>j
d. Antara ijab dan kabul bersambungan
e. Antara ijab dan kabul jelas maksudnya
28
f.
Orang yang berkait dengan ijab kabul tidak sedang dalam ihram
haji/umrah
g. Majelis ijab dan kabul itu harus dihadiri minimum empat orang yaitu:
calon mempelai pria atau wakilnya, wali dari mempelai perempuan
atau wakilnya, dan dua orang saksi.23
Berdasarkan beberapa syarat tentang sahnya perkawinan tersebut, maka
dapat dikemukakan bahwa perkawinan yang membolehkan hidupnya sepasang
suami istri
dalam sebuah rumah tangga adalah setelah terjadinya perkawinan
dengan telah dipenuhinya semua rukun maupun syarat perkawinan seperti adanya
calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan, persetujuan bebas di
antara keduanya, telah matang baik jiwa maupun raganya disaksikan oleh 2 (dua)
orang saksi, dibayar mahar (mas kawin), ada izin dari orang tua atau wali,
klimaksnya dengan adanya al-aqd al-nikah (akad nikah) diiringi dengan ijab
(penawaran) dari pihak calon pengantin perempuan serta adanya kabul (penerimaan)
dari pengantin laki-laki.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dua kata yang sering digunakan
dan telah menjadi bahasa sehari-hari yaitu kawin dan nikah. Kata kawin dapat
diartikan cara membentuk keluarga dengan lawan jenis bersuami atau beristri,
melakukan hubungan kelamin.24 Sedangkan kata nikah adalah perjanjian antara lakilaki dan perempuan untuk bersuami-istri (dengan resmi), sedang pernikahan yang
23
Lihat Khalil Rahman dalam Ahmad Rofiq, op. cit., h. 71-72.,
24
Depdikbud RI., op. cit. h. 456.
29
diberi awalan “per” dan akhiran “an” berarti hal perbuatan nikah, upacara nikah.25
Sedangkan nikah dalam definisi Ibn Abbas nikah adalah akad (perjanjian).26
Sehubungan dengan pengertian secara etimologi tersebut, jika ditinjau
menurut UU RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, ditetapkan rumusan
pengertian perkawinan yaitu: Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria
dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga
(rumah tangga), yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang Mahaesa.
Pasal 2 ayat (1) ditetapkan bahwa: perkawinan adalah sah apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.27
Dengan demikian, perkawinan adalah akad yang menghalalkan pergaulan
dan membatasi hak-hak dan kewajiban serta tolong menolong antara seorang lakilaki dengan seorang perempuan. Keduanya bukan muhrim berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa. Di samping itu, ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang
Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam tersebut jelas bahwa perkawinan
mempunyai hubungan erat dengan agama dan kepercayaan, sehingga apabila terjadi
suatu perkawinan antara dua orang yang menganut agama yang sama, maka tidak
akan menimbulkan masalah. Akan tetapi jika yang akan melakukan perkawinan
keduanya berbeda agama, dengan sendirinya akan menimbulkan masalah.
Perkawinan tersebut dapat berlangsung dengan baik manakala kedua calon suami/
istri berikrar berdasarkan agama yang dianut.
25
Ibid, h. 614.
26
Muhammad Mahmud Hijazi, op. cit., h. 85.
27
R. Badri, Perkawinan Menurut Undang-Undang Perkawinan dan KUHP (Surabaya : CV.
Amin, 1985 ), h. 54.
30
Kata perkawinan merupakan pengembangan dari kata dasar “kawin” yang
mendapat awalan “per” dan akhiran “an” sehingga menjadi perkawinan yang pada
dasarnya sama dengan kata nikah dalam bahasa Arab yang kedua-duanya memiliki
kesamaan arti, yakni bersatu atau berkumpul atau bersenggama. Perkawinan
dinyatakan bahwa perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agama dan kepercayaannya. Dengan demikian perkawinan yang hanya
memenuhi syarat dan rukun pernikahan secara Islam saja adalah sah menurut
hukum. Tidak dilakukan pencatatan di depan Pegawai Pencatat Nikah (PPN) tidak
mengurangi sahnya perkawinan. Hanya saja perkawinannya yang tidak dilakukan
dihadapan PPN atau tidak tercatat dalam akta perkawinan tidak akan mendapatkan
perlindungan hukum.
Perkawinan atau yang di Indonesia diistilahkan dengan pernikahan (nikah
yang berarti menghimpun) adalah akad yang menghalalkan pergaulan antara lakilaki dan perempuan yang bukan muhrim (kerabat terdekat) dan menimbulkan hak
dan kewajiban antara keduanya. Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Indonesia
pasal 2, akad pernikahan diistilahkan dengan m³£a>qan ghali>©an yang berarti ikatan
yang kokoh. Istilah ini diharapkan akan memberi kesadaran dan pengertian kepada
masyarakat bahwa perkawinan harus menaati perintah Allah dan sekaligus
merupakan ibadah serta harus dipertahankan keberlangsungan dan kelestariannya.
Dalam arti luas pernikahan merupakan suatu ikatan lahir batin antara dua orang
laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan untuk
mendapatkan keturunan yang dilangsungkan menurut ketentuan-ketentuan syariat
Islam.
31
Menurut Djaman Nur bahwa kata nikah berarti bercampur.28 Pandangan ini
berimplikasi pada makna kawin atau nikah sebagai percampuran atau senggama.
Dapat juga dipahami berdasarkan kenyataan bahwa kata kawin atau nikah adalah
berkumpul antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri. M. Rifai mengatakan
“nikah menurut bahasa adalah mengumpulkan”.29
Berdasarkan makna etimologis tersebut diperoleh pengertian bahwa nikah
atau kawin adalah mengumpulkan antara laki-laki dan perempuan yang mulanya
terpisah satu sama lain, kemudian dikumpulkan menjadi sebuah rumah tangga
melalui perkawinan.
2. Tujuan Perkawinan
Dalam Pasal 1 Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang
perkawinan dijelaskan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang
laki-laki dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa”.30
Ikatan lahir batin menjadi inti dari perkawinan dan setelah ijab kabul,
pasangan suami istri
harus saling merelakan untuk menikmati dan dinikmati
“madu” yang dimiliki masing-masing karena untuk melakukan hubungan sebadan
menjadi halal akibat ikatan lahir batin antara suami istri karena satu sama lain
adalah pakaian, Demikian Allah swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah/2/187
28
Djaman Nur, Fiqhi Munaqahat. (Semarang Bina Utama, 1993), h. l.
29
Muhammad Rifai, Klausal Kifayatul Akhyar. (terjemah). (Semarang, Toha Putra, t.th.),
30
Ibid, h. 168.
h. 168.
32
                 
             
                
                
       
Terjemahnya:
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri istri kamu; mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian
bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan
nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af
kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah
ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu
benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah
puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka
itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka
janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.31
Meskipun demikian, hubungan jasmaniah bukanlah satu-satunya dari
makna perkawinan ikatan batin juga sangat penting dalam rangka saling mengasihi,
mencintai, dan menyayangi guna menopang tercapainya tujuan perkawinan. Pasal 2
Kompilasi Hukum Islam dijelaskan bahwa perkawinan menurut hukum Islam adalah
pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mi>s|>aqan galiz|an untuk menaati
perintah Allah swt. dan melaksanakannya merupakan ibadah.
Tujuan perkawinan menurut syariat Islam tidak jauh beda dengan tujuan
perkawinan menurut UU RI No.1 Tahun 1974, sama-sama menekankan aspek
kebahagiaan. Hanya saja dalam syariat Islam, tujuan perkawinan didasarkan pada
aspek ketentraman, kasih sayang, dan saling mencintai. Hal ini dapat dilihat pada
31
Depatemen Agama RI, op. cit., h. 45.
33
pasal 3 Kompilasi Hukum Islam, yaitu “perkawinan bertujuan untuk mewujudkan
kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah,warahmah”. 32
Hal tersebut sesuai dengan firman Allah swt. dalam QS. al-Rum/30/21
            
        
Terjemahnya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu
istri -istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
kaum yang berfikir.33
Mendambakan pasangan merupakan fitrah semua orang dewasa, dan
dorongan yang sulit dibendung. Karenanya, agama mensyariatkan dijalinnya
pertemuan antara pria dan perempuan, dan kemudian mengarahkan pertemuan itu
sehingga terlaksana perkawinan. Menurut H. M. Quraish Shihab bahwa:
“Sakinah terambil dari akar kata sakana yang berarti diam tenangnya sesuatu
setelah bergejolak. Itulah sebabnya mengapa pisau dinamai sikkin karena dia
adalah alat yang menjadikan binatang yang disembelih tenang, tidak
bergerak, setelah tadinya meronta. Sakinah karena perkawinan adalah
ketenangan yang dinamis dan aktif, tidak seperti kematian binatang”.34
Agar tujuan tersebut berjalan sesuai dengan syariat Islam maka perlu
menekankan kesiapan fisik, mental dan ekonomi bagi setiap orang yang ingin
menikah. Meskipun demikian, para wali diminta untuk tidak menjadikan bidang
32
Ibid. h. 290.
33
Departemen Agama RI, op. cit., h. 644.
34
M.Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1999), h. 192.
34
ekonomi sebagai kelemahan atau alasan untuk menolak suatu proses peminang,
sebagaimana Allah swt. menjelaskan dalam QS. al-Nur/24/32
          
        
Terjemahnya:
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang
yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hambahamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan
memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.35
Sementara itu, untuk pencapaian tujuan perkawinan tidaklah dianjurkan bagi
mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk menikah, sehingga dianjurkan
menahan diri dan memelihara kesuciannya. Sebagaiman Allah berfirman dalam QS.
al-Nur/24/33
              
                
                
   
Terjemahnya:
Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian
(diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan
budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah
kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada
mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang
dikaruniakan-Nya kepadamu. dan janganlah kamu paksa budak-budak
perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini
kesucian, Karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. dan barangsiapa
35
Departemen Agama RI, op. cit., h. 549.
35
yang memaksa mereka, Maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.36
Mencapai kehidupan bahagia dan sejahtera bagi pasangan suami istri
merupakan dambaan bagi setiap insan. Untuk itu syariat Islam memberikan
gambaran yang jelas bagaimana suami istri hidup bersama, menjadikan agama
sebagai motivasi hidupnya.
Upaya membentuk keluarga sehat sejahtera dan bahagia, maka peranan
agama menjadi sangat urgen. Oleh karena itu ajaran agama tidak hanya cukup untuk
diketahui dan dipahami oleh pemeluknya akan tetapi harus dapat diamalkan dalam
hidup
dan
kehidupannya.
Setiap
anggota
keluarga
mampu
menjalankan
kehidupannya dengan penuh ketentraman, keamanan dan kedamaian sesuai
tuntunan ajaran agama.
“Setiap anggota keluarga, terutama orang tua dituntut untuk senantiasa
bersikap dan berbuat sesuai dengan garis-garis yang telah ditetapkan oleh alQur’an (Allah) dan sunahnya (Rasul). Dengan demikian diharapkan setiap
anggota keluarga memiliki sifat dan budi pekerti yang luhur yang amat
diperlukan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat”. 37
Dengan
demikian,
rumah
tangga
bukanlah
semata-mata
tempat
berkumpulnya suami istri dalam satu rumah, makan dan minum, dan sebagainya,
tetapi tujuan utama adalah terbinanya ketenangan lahir batin, hidup rukun damai,
tentram bahagia, tempat suami mencurahkan isi hatinya, cinta dan kasihnya,
sehingga tercapailah ketenangan dan kedamaian yang menjadi pokok pangkal
ketenangan dan kedamaian masyarakat.
36
Ibid, h. 519.
37
Departemen Agama RI, op. cit., h. 23.
36
Untuk
memenuhi
tuntutan
hidup,
masing-masing
individu
harus
memperhatikan kebutuhan dan keinginan kawannya. Jangan yang satu tidak
mengindahkan kebutuhan yang lain, sedangkan yang satu mau menang sendiri.
Keduanya harus dapat saling mengerti dan berusaha untuk saling memahami latar
belakang masing-masing serta jangan ada yang merasa tertekan, menderita dan
tidak puas. Hal seperti ini akan menyebabkan perang dingin dan tidak harmonis
dalam rumah tangga.
Banyak suami atau istri tidak berusaha memahami dan kurang percaya
mempercayai,
terbuka
dan
menyembunyikan
hal-hal
yang
tidak
perlu
disembunyikan.
Padahal longgar dan retaknya hubungan keluarga bergantung kepada
kepercayaan, keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang diragukan dan
dicurigkan. Untuk menjamin ketenangan dan kebahagiaan rumah tangga
berilah kesempatan terbuka masing-masing pihak secara terus terang
mengatakan keadaan atau kejadian yang sebenarnya. Jika ada sesuatu yang
menganggu ketenangan segera atasi, jangan cepat mendengar tuduhan dan
jangan pula terburu-buru dalam menerima fitnahan. Bahkan jika terjadi ada
perempuan lain yang menganggu hati yang akan menjadi sebab retaknya
keamanan dalam rumah tangga, agama memberikan patokan pula.38
Syariat Islam telah menetapkan garis-garis besar petunjuk yang harus
dijalani oleh suami istri, agar tujuan perkawinannya tercapai. Banyak cara dan usaha
mencapai sakinah dan mawaddah dalam perkawinan. Cara-cara tersebut mulai dari
pemilihan jodoh yang harus memenuhi persyaratan-persyaratan utamanya masalah
agama, masalah kesepadanan, baik itu kesepadanan; agama, akhlak dan moral,
pendidikan, keturunan, usia, dan sebagainya. Demikian juga aspek mahar dan
nafkah, yang kemudian keduanya juga menjadi kewajiban dan tanggung jawab bagi
suami. Allah swt. berfirman dalam QS. al-Thalaq/65/7
38
Ibid, h. 24.
37
                
           
Terjemahnya:
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan
orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan
memberikan kelapangan sesudah kesempitan.39
Memberikan nafkah kepada istri menjadi bagian dari kewajiban suami juga
menjadi syarat tercapainya kebahagiaan hidup. Kehidupan suami istri yang tidak di
dukung oleh kemampuan ekonomi yang cukup dapat menimbulkan keresahan
keluarga. Meskipun masalah ekonomi bukan satu-satunya yang menentukan hidup
bahagianya suami istri, tetapi tidak dapat dipungkiri ternyata masalah ekonomi juga
menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan jodoh seseorang. Hal ini berarti
bahwa kesanggupan kawin disyaratkan pula dengan kesanggupan untuk mencukupi
kebutuhan hidup istri secara material.
Jadi wacana hukum Islam mengenai perkawinan tidak terlalu berbeda
dengan pengertian perkawinan menurut undang-undang. Perkawinan menurut Islam
adalah pernikahan yaitu adanya akad antara laki-laki dan perempuan yang saling
cinta mencintai dan berkeinginan untuk kawin dan hidup bersama sebagai bagian
dari upaya menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian
perkawinan menurut Islam adalah ibadah.
3. Hikmah Perkawinan
39
Departemen Agama RI, op. cit., h. 940.
38
Perkawinan merupakan salah satu perintah agama kepada manusia yang telah
mampu untuk segera melaksanakannya. Karena dengan perkawinan, dapat
mengurangi maksiat penglihatan, memelihara diri dari perbuatan zina. Oleh karena
itu, bagi mereka yang berkeinginan untuk menikah, sementara perbekalan untuk
memasuki perkawinan belum siap, maka ia dianjurkan berpuasa. Dengan berpuasa,
diharapkan dapat membentengi diri dari perbuatan tercela yang sangat keji, yaitu
perzinahan. al-Sanani dalam kitabnya Subu>l al-Sala>m, Juz III mengutip sebuah
hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mas’ud yakni:
‫ب َﻣ ِﻦ ا ْﺳﺘَﻄَﺎ َع ِﻣ ْﻨ ُﻜ ُﻢ‬
ِ ‫ ﯾَﺎ َﻣ ْﻌ َﺸ َﺮ اﻟ ﱠﺸﺒَﺎ‬:‫ رﺳﻮل ﷲ ﺻﻌﻢ ﻗﺎل‬،‫ﻋ َْﻦ َﻋ ْﺒ ُﺪ ﷲِ اﺑﻦ َﻣ ْﺴﻌُﻮْ ٍد‬
‫ج َو َﻣ ْﻦ ﻟَ ْﻢ ﯾَ ْﺴﺘَ ِﻄ ْﻊ ﻓَ َﻌﻠَ ْﯿ ِﮫ ِﺑﺎﻟ ﱠ‬
ُ‫ﺼﻮْ ِم ﻓَﺈِﻧﱠﮫُ ﻟَﮫ‬
َ ْ‫ﺼ ِﺮ َواَﺣ‬
َ َ‫ْاﻟﺒَﺎ َءةَ ﻓَ ْﻠﯿَﺘَ َﺰ ﱠوجْ ﻓَﺈِﻧﱠﮫُ اَ َﻏﺾﱡ ﻟِ ْﻠﺒ‬
ِ ‫ﺼ ُﻦ ﻟِ ْﻠﻔَ َﺮ‬
40
.(‫ِو َﺟﺎ ٌء )ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﯿﮫ‬
Artinya:
Dari Abdullah ibn Mas’ud Rasulullah saw. bersabda: Hai kaum pemuda,
barangsiapa di antara kalian mampu menyiapkan bekal untuk kawin, maka
nikahlah karena sesungguhnya nikah itu dapat menjaga penglihatan dan
memelihara farji. Barangsiapa tidak mampu, maka hendaknya ia berpuasa
karena puasa dapat menjadi benteng. (HR. Muttafaq ‘Alaih).
Hadis ini menunjukkan bahwa perkawinan itu merupakan suatu wadah
penyaluran kebutuhan biologis manusia yang wajar, dan dalam perkawinan, Nabi
ditradisikan menjadi sunah Rasulullah saw. Karena itulah perkawinan sarat dengan
nilai dan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga sakinah yang
mawaddah wa rahmah.
Allah menjadikan makhluk-Nya berpasang-pasangan, menjadikan manusia
laki-laki dan perempuan, menjadikan hewan jantan betina begitupula tumbuh-
40
M), h. 109.
al-San’any, Subul Al-Sala>m, Juz 3, (Kairo: Dar Ihya’ al-Turas al-Araby, 1379 H/1980
39
tumbuhan dan lain sebagainya. Hikmahnya tidak lain adalah agar supaya manusia
itu hidup berpasang-pasangan, hidup dua sejoli, hidup suami istri, membangun
rumah tangga yang damai dan teratur. Untuk itu, harus diadakan ikatan dan
pertalian yang kokoh yang tidak sangat sulit dan sangat dibenci oleh Allah bila
terjadi pemutusan tali perkawinan.
Menurut Mohd. Idris Ramulyo :
Bila akad nikah telah dilangsungkan, maka mereka telah berjanji dan bersedia
akan membangun satu rumah tangga yang damai dan teratur, akan sehidup
semati, sesakit dan sesenang, merunduk sama bungkuk, melompat sama
patah, ke bukit sama mendaki, ke lereng sama menurun, berenang sama
basah, terampai sama kering, terapung sama hanyut, sehingga mereka
menjadi satu keluarga.41
Kutipan tersebut, menunjukkan betapa seia dan sekatanya sepasang suami
istri dalam membangun pilar-pilar rumah tangga yang bahagia, aman dan sentosa.
Kebersahajaannya itulah kemudian akan melahirkan keturunan yang sah
berdasarkan tata aturan dan norma-norma agama. Oleh karena itu, agama Islam
menetapkan bahwa untuk membangun rumah tangga yang damai dan teratur itu
haruslah dengan perkawinan dan akad nikah yang sah. Diketahui sekurangkurangnya oleh dua orang saksi, bahkan dianjurkan supaya diumumkan kepada
tetangga dan karib kerabat dengan mengadakan walimah atau pesta pekawinan.
Dengan demikian, terpeliharalah keturunan tiap-tiap keluarga, dan
mengenal tiap-tiap anak akan bapaknya, terjauh dari bercampur aduk antara satu
keluarga dengan yang lain atau anak-anaknya yang tak kenal akan ayahnya. Selain
itu, kehidupan suami istri dengan keturunannya turun temurun adalah berhubung
rapat dan bersangkut paut bahkan bertali-temali, laksana rantai yang sama kuat dan
41
Mohd. Idris Ramulyo, op. cit., h. 31.
40
tak ada putusnya ketika anak masih kecil dan dipelihara orang tuanya. Apbila anak
sudah dewasa dan orang tuanya sudah lemah dan tak sanggup berusaha, maka dijaga
dan dipelihara pula oleh anak-anaknya. Begitulah seterusnya turun-temurun
sehingga mereka hidup segar, damai, aman, sentosa, sakinah mawaddah warahmah.
Inilah salah satu hikmah perkawinan mendirikan rumah tangga yang damai dan
teratur, memelihara diri seseorang agar tidak terjatuh ke lembah kejahatan
(perzinahan).42
H.S.A. Alhamdani mengemukakan beberapa hikmah perkawinan, antara
lain:
1. Dapat menenteramkan jiwa, menahan emosi, menutup pandangan dari
segala yang dilarang Allah dan untuk mendapat kasih sayang suami yang
dihalalkan Allah.
2. Mengembangkan keturunan dan untuk menjaga kelangsungan hidup.
3. Untuk memelihara ikatan kekeluargaan, keluarga suami dan keluarga istri,
untuk memperkuat ikatan kasih sayang sesama mereka.43
Sedangkan Ali
Ahmad
al-Jurjawi
mengemukakan
bahwa hikmah
perkawinan itu antara lain:
1. Dengan pernikahan maka banyaklah keturunan. Ketika keturunan itu
banyak, maka proses memakmurkan bumi berjalan dengan mudah, karena
suatu perbuatan yang harus dikerjakan bersama-sama akan sulit jika
42
Lihat ibid., h. 32.
43
H.S.A. Alhamdani, op. cit., h. 19.
41
dilakukan secara individu. Dengan demikian keberlangsungan keturunan
dan jumlahnya harus terus dilestarikan sampai benar-benar makmur.
2. Keadaan hidup manusia tidak akan tenteram kecuali jika keadaan rumah
tangganya teratur.
3. Laki-laki dan perempuan adalah dua sekutu yang berfungsi memakmurkan
dunia masing-masing dengan ciri khasnya berbuat dengan berbagai
macam pekerjaan.
4. Sesuai dengan tabiatnya, manusia itu cenderung mengasihi orang yang
dikasihi.
5. Manusia diciptakan dengan memiliki rasa ghirah (kecemburuan) untuk
menjaga kehormatan dan kemuliaannya. Perkawinan akan menjaga
pandangan yang penuh syahwat terhadap apa yang tidak dihalalkan.
6. Perkawinan akan memelihara keturunan serta menjaganya.
7. Berbuat baik yang banyak lebih baik daripada berbuat baik sedikit.
8. Manusia jika telah mati terputuslah seluruh amal perbuatannya yang
mendatangkan rahmat dan pahala kepadanya.44
Sayyid Sabiq sebagai salah seorang pakar dalam ilmu fikih menyebutkan
beberapa hikmah perkawinan sebagai berikut:
1. Karena naluri seks manusia merupakan naluri yang paling kuat dan keras
sehingga menuntut adanya jalan keluar. Bilamana jalan keluar tidak
ditemukan atau tidak memuaskan, maka manusia akan mengalami
44
Ali Ahmad Al-Jurjawi, op. cit., h. 65-66.
42
kegoncangan dan kacau sehingga terdorong melakukan kejahatan (zina).
Penegasan Sayyid Sabiq ini berlandaskan dengan firman Allah pada QS.
al-Rum/30: 21
            
        
Terjemahnya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengetahui.45
2. Kawin, merupakan jalan terbaik untuk membuat anak-anak menjadi
mulia, memperbanyak keturunan, melestarikan hidup manusia serta
memelihara nasab.
3. Naluri kebapaan dan keibuan akan tumbuh saling melengkapi dalam
suasana hidup dengan anak-anak dan akan tumbuh pula perasaan ramah,
cinta dan sayang yang merupakan sifat-sifat baik yang menyempurnakan
kemanusiaan seseorang.
4. Menyadari tanggung jawab beristri dan anak-anak menimbulkan sikap
rajin dan sungguh-sungguh dalam memperkuat bakat dan pembawaan
seseorang.
5. Pembagian tugas, suami bertugas di luar rumah dan ibu mengurus dan
mengatur rumah tangga.
45
Departemen Agama. RI., op. cit., h. 644.
43
6. Dapat
membuahkan
atau
menciptakan
tali
kekeluargaan,
dan
memperteguh kelanggengan rasa cinta antar keluarga dan memperkuat
hubungan kemasyarakatan yang oleh Islam memang direstui, ditopang
dan dikokohkan.46
Berdasarkan beberapa hikmah perkawinan yang telah dikemukakan pakar
tersebut, dapat disimpulkan bahwa hikmah perkawinan adalah menenteramkan jiwa,
menahan emosi, menutup pandangan dari segala yang dilarang Allah dan untuk
mendapat kasih sayang suami yang dihalalkan Allah. Selain itu, sebagai wadah sah
untuk menyalurkan naluri seks, sebagai jalan yang sah untuk mendapatkan
keturunan, penyaluran naluri kebapaan dan keibuan, serta memberikan dorongan
untuk bekerja keras, pengaturan hak dan kewajiban dalam rumah tangga dan
menjalin silaturrahmi antara kedua keluarga baik dari pihak suami maupun dari
pihak istri.
C. Kajian terhadap Aturan Perundang-Undangan tentang Perkawinan
Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu
tujuan yang ingin dicapai, maka usaha itu harus mempunyai landasan sebagai
tempat berpijak yang baik dan kuat. Demikian pula halnya dengan perkawinan harus
mempunyai landasan yang kuat.
Oleh karena itu, perkawinan merupakan salah satu bagian terpenting dari
beberapa aspek yang terkandung dalam syariat Islam, maka orientasi pembahasan
46
Sayyid Sabiq, op. cit., h. 18–21.
44
tentang dasar perkawinan tidak terlepas dari pembahasan tentang landasan atau
dalil-dalil syariat Islam itu sendiri, yaitu al-Qur’an, sunah, ijmak dan kias.47
Penggunaan keempat dalil hukum tersebut di atas sebagai dalil atau
landasan perkawinan berdasarkan firman Allah dalam surah al-Nisa/4/59
ٍ
ِ‫ﱠ‬
ِ
ِ ‫َﻃﻴﻌﻮا اﻟﻠﱠﻪ وأ‬
ِ
ِ ‫ﻮل َوأ‬
َ ‫َﻃﻴﻌُﻮا اﻟﱠﺮ ُﺳ‬
ُ‫ُوﱄ ْاﻷ َْﻣ ِﺮ ﻣْﻨ ُﻜ ْﻢ ﻓَِﺈ ْن ﺗَـﻨَ َﺎز ْﻋﺘُ ْﻢ ِﰲ َﺷ ْﻲء ﻓَـ ُﺮﱡدوﻩ‬
َ َ ُ ‫ﻳﻦ ءَ َاﻣﻨُﻮا أ‬
َ ‫ﻳَﺎأَﻳـﱡ َﻬﺎ اﻟﺬ‬
ِ
ِ
ِ ‫إِ َﱃ اﻟﻠﱠ ِﻪ واﻟﱠﺮﺳ‬
‫َﺣ َﺴ ُﻦ ﺗَﺄْ ِو ًﻳﻼ‬
َ ‫ﻮل إِ ْن ُﻛْﻨﺘُ ْﻢ ﺗـُ ْﺆِﻣﻨُﻮ َن ﺑِﺎﻟﻠﱠ ِﻪ َواﻟْﻴَـ ْﻮم ْاﻵ ِﺧ ِﺮ َذﻟ‬
ْ ‫ﻚ َﺧْﻴـٌﺮ َوأ‬
ُ َ
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan
Ulil Amri diantara kamu kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.48
Di samping berdasarkan ayat al-Qur’an, penggunaan keempat dalil hukum
tersebut sebagai dalil atau petunjuk tentang perkawinan, ditegaskan pula di dalam
hadis Rasulullah saw. yang berkenaan dengan dialog Rasulullah dengan Muadz bin
Jabal ketika dilantik sebagai penguasa untuk Negeri Yaman. Kisah tersebut sebagai
berikut:
‫ اﻗﺾ ﺑﻜﺘﺎب اﷲ‬:‫ ﻛﻴﻒ ﺗﻘﺾ اذاﻋﺮض ﻟﻚ ﻗﻀﺎء ﻗﺎل‬:‫ ﻣﻌﺎذاﱃ اﻟﻴﻤﻦ ﻗﺎل‬,‫ﳌﺎﺑﻌﺜﺮﺳﻮل اﷲ‬
:‫ ﻓﺎن ﱂ ﲡﺪ ﻓﯩﺴﻨﺔرﺳﻮل اﷲ ﻗﺎل‬.‫ ﻓﺒﺴﻨﺔرﺳﻮل اﷲ‬:‫ ﻓﺎن ﱂ ﲡﺪﻓﯩﻜﺘﺒﺎب اﷲ? ﻗﺎل‬:‫ﻗﺎل‬
‫ اﳊﻤﺪﷲ‬:‫ ﻓﻀﺮﺑﺮﺳﻮل اﷲ ﻋﻞ ﺻﺪرﻩ وﻗﺎل‬:‫ وﻻاﻟﻮ )اروﻻاﻗﺼﺮﰱ اﺟﺘﻬﺎدى( ﻗﺎل‬.‫اﺟﺘﻬﺪراﱙ‬
49
‫اﻟﺬﯨﻮﻓﻖ رﺳﻮل اﷲ ﳌﺎﻳﺮض رﺳﻮل اﷲ‬
47
Muhtar Yahya dan Fatchurrahman, Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam (Cet. I;
Bandung: al-Ma’arif, t.th), h. 28.
48
Departemen Agama RI, op. cit., h. 1064.
49
Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz II (Mesir: Babil Halabi wa Auladuh, 1952), h. 10.
45
Artinya:
Tatkala Mu’a>© bin Jabal diutus oleh Rasulullah saw. ke Yaman (sebagai
penguasa), Rasulullah saw. bertanya: Bagaimana caranya kamu memutusi
perkara yang diajukan kepadamu? Mu’a>dz menjawab: “Aku hukum dengan
kitab Allah”. Jika kamu tidak mendapatkannya di dalam kitab Allah?, “Saya
akan memutuskannya dengan sunah Rasulullah”, lalu bagaimana
selanjutnya?, “Aku akan memutuskan dengan ijtihad fikiranku dan aku tidak
akan meninggalkannya, jawabnya dengan tegas”. Rasulullah lalu menepuk
dadanya seraya memuji, “Alhamdulillah, Allah telah memberi taufik kepada
utusan Rasulullah sesuai dengan apa yang diridhai-Nya dan Rasul-Nya.
Berdasarkan
keterangan
tersebut
dapat
dipahami
bahwa
dalam
memutuskan suatu perkara utamanya terhadap masalah-masalah prinsipil, maka
terlebih dahulu harus mencarinya di dalam al-Qur’an, jika tidak mendapatkan di
dalam al-Qur’an, maka harus mencari di dalam sunah dan menetapkan dengannya,
dan jika tidak didapatkan di dalam sunah Rasulullah, maka harus mencarinya
apakah ulama pernah berijmak tentang hal itu, tetapi jika tidak didapatkan di dalam
ijmak, maka sewajarnya, jika seseorang berusaha sungguh-sungguh dengan jalan
menganalogikannya (mengkiyaskan) kepada peristiwa yang sejenis yang telah ada
dasar hukumnya. Jadi penggunaan keempat dalil tersebut harus secara berurutan dan
tidak boleh dibolak-balik dari tingkatan yang rendah kepada tingkatan yang tinggi.
Keterlibatan negara dalam pelaksanaan perkawinan bagi masyarakat di
Indonesia juga di dasarkan pada pasal 2 ayat (1) dan (2) Undang-Undang RI Nomor
1 Tahun 1974 tentang perkawinan ditegaskan bahwa:
a. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya itu.
b. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku.50
50
Departemen Agama RI, Undang-Undang Perkawinan, … op. cit., h. 210
46
Kedua hal tersebut memberi pemahaman yang jelas bahwa setiap
perkawinan yang tidak dilakukan berdasarkan hukum agama dari masing-masing
calon mempelai dianggap tidak sah. Karenanya perkawinan campuran atau berbeda
agama tidak dapat diterima, melainkan salah satu pihak yang akan menikah lebih
dahulu masuk pada agama calon suami atau calon istri bila kedua calon tersebut
berbeda agama. Demikian pula halnya setiap perkawinan haruslah didaftarkan pada
KUA kecamatan sebagaimana telah diatur dalam perudang-undangan. Hal ini
dimaksudkan agar tercipta tertib administrasi perkawinan atau menutupi
kemungkinan terjadinya permasalahan dikemudian hari setelah adanya perkawinan.
Selaras dengan ketentuan UU Nomor 1 Tahun 1974 di atas, dalam pasal 4
Kompilasi hukum Islam juga dikemukakan bahwa “perkawinan dianggap sah,
apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) undangundang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan”.51
Seorang perempuan yang menikah dengan seorang laki-laki dan
perkawinannya tidak dicatatkan di Pegawai Pencatat Nikah (PPN), apabila
suaminya lalai atau mengabaikan kewajibannya, sehingga istri akan menuntut
suaminya untuk memenuhi kewajibannya di pengadilan. Berdasarkan perundangundangan yang telah diatur dalam pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan atau akan menggugat suaminya di pengadilan
karena telah melakukan penelantaran sebagaimana diatur dalam Pasal 9 UndangUndang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga
(PKDRT), maka perempuan (istri) akan mengalami kesulitan karena tidak adanya
bukti autentik tentang adanya hubungan hukum berupa perkawinan antara dia dan
51
Departemen Agama RI, “Kompilasi”, op. cit., h. 85.
47
suaminya. Dari sini jelas, bahwa yang menjadi korban atau pihak yang dirugikan
akibat perkawinan yang tidak tercatat adalah pihak wanita.
Pasangan suami istri yang mempunyai anak, sedangkan perakwinannya
tidak tercatat dan akan membuatkan akta kelahiran anaknya pada Kantor Catatan
Sipil akan mengalami kesulitan karena salah satu kelengkapann administrasi yang
harus dipenuhi adalah foto kopi Kutipan Akta Nikah orang tuanya. Bagi pasangan
suami isteri yang tidak mempunuai Buku Nikah, Kantor Catatan Sipil akan
menerbitkan Akta Kelahiran anak tanpa mencantumkan nama bapaknya dalam akta
tersebut.
Penerbitan akta kelahiran semacam itu, sama dengan akta kelahiran
seorang anak yang tidak mempunyai ayah atau anak di luar nikah karena hanya
dinisbahkan kepada ibunya. Berbeda halnya dengan akta kelahiran anak yang
perkawinan orang tuanya tercatat, maka nama kedua orang tuanya akan tercantum
di dalam akta kelahirannya.
Pasangan suami isteri yang tidak memiliki Buku Nikah karena perkawinan
mereka tidak dicatatkan, yang akan melakukan perceraian di pengadilan, maka
memerlukan proses yang lebih lama daripada orang yang memiliki Buku Nikah.
Sebelum pemeriksaan dalil-dalil yang menjadi alasan untuk bercerai,
pengadilan terlebih dahulu akan mengumumkan melalui media mssa sebanyak 3
(tiga) kali dalam tenggang waktu 3 (tiga) bulan, minimal satu bulan setelah
pengumuman terakhir pengadilan baru akan memeriksa status perkawinannya,
apakah sah atau tidak. Apabila dalam proses pemeriksaan ternyata perkawinan
mereka telah memenuhi syarat dan rukun perkawinan, maka perkawinan mereka
akan diitsbatkan (Pasal 7 ayat (3) huruf a Kompilasi Hukum Islam). Apabila tidak
48
memenuhi syarat dan rukun perkawinan, maka gugatan atau permohonan mereka
untuk bercerai tidak diterima oleh pengadilan.
Dengan demikian, terdapat dua dasar perkawinan umat Islam di Indonesia
yakni (1) berdasarkan ajaran agama Islam dan (2) berdasarkan Undang-Undang
Perkawinan No 1 tahun 1974. Oleh karena itu, jika perkawinan dilaksanakan tidak
berdasarkan agama dan tidak berdasarkan perundang-undangan yang berlaku berarti
perkawinan dinyatakan batal. Adapun perkawinan yang dilangsungkan hanya
berdasarkan agama Islam, posisi hukumnya berdasarkan syariat Islam adalah sah,
tetapi cacat dalam sistem keadministrasian negara. Apabila perkawinan berlangsung
melalui proses nikah sirri, maka secara administrasi tidak sah tetapi dalam
kacamatan syariat adalah sah. Akan tetapi konsekuensi yang ditimbulkan
pernikahan sirri adalah pengakuan hukum negara bagi anak hanya mengikut pada
ibunya. Sedangkan dampaknya terhadap sang ibu, akan kesulitan bila ingin
menuntut suaminya berdasarkan hukum positif yang berlaku di Indonesia, baik dari
segi nafkah maupun hukum pidana.
Suatu kenyataan yang masih sering kita jumpai dalam realitas kehidupan
kita adalah masih banyak orang yang melangsungkan perkawinan tanpa dicatatkan
di kantor percatatan perkawinan (Kantor Urusan Agama bagi yang beragama Islam
dan Kantor Catatan Sipil bagi selain Islam) dengan berbagai alasan. Terhadap
perkawinan semacam ini, sebagian ulama dan ahli hukum berpendapat bahwa
perkawinan seperti itu sah apabila dilakukan sesuai ketentuan Pasal 2 ayat (1)
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu dilakukan menurut
hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Sedangkan pencatatan
perkawinan merupakan tindakan adminstrasi saja, apabila tidak dilakukan tidak
49
mempengaruhi sahnya perkawinan yang telah dilaksanakan itu Tetapi di pihak lain
menganggap perkawinan yang tidak dicatatkan tidak sah dan dikategorikan sebagai
nikah fasid (rusak), sehingga bagi pihak yang merasa dirugikan akibat dari
perkawinan tersebut dapat dimintakan pembatalan kepada Pengadilan Agama
karena keetentuan dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1975
tentang Perkawinan tersebut, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan
harus dilaksanakan secara kumulatif, bukan alternatif, secara terpisah dan berdiri
sendiri.52 Sedangkan menurut Soerjono Soekamto dan Purnadi Purbacaraka bahwa
“ketentuan tersebut bersifat imperatif, artinya, ketentuan tersebut bersifat
memaksa”.53
Akibat terjadinya penafsiran terhadap ketentuan tersebut, maka berbeda
pula putusan yang diberikan oleh para hakim dalam menyelesaikan perkara
pembatalan nikah yang diajukan ke pengadilan. Bagi hakim yang berpendapat
bahwa Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan merupakan satu kestuan yang saling berhubungan dan merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan, maka perkawinan baru dianggap sah apabila
dilaksanakan menurut ketentuan agama dan kepercayaannya itu serta dicatat sesuai
ketentuan yang berlaku. Pecatatan perkawinan merupakan hal yang wajib
dilaksanakan karena hal ini erat hubungannya dengan kemashlahatan manusia yang
dalam konsep syariat harus dilindungi. Oleh karena itu, perkawinan yang tidak
tercatat merupakan nikah fasid karena belum memenuhi syarat yang ditentukan dan
52
Abdul Mannan, Aneka Masalah Hukum Materiel dalam Praktek Pengadilan Agama
(Jakarta: Pustaka Bangsa Press, 2002), h. 50.
53
Soerjono Soekamto dan Purnadi Purbacaraka, Aneka Cara Pembedaan Hukum.
(Bandung: PT. Citra Aditya, 2009), h. 21.
50
belum dianggap sah secara yuridis formal dan permohonan pembatalan perkawinan
dapat dikabulkan.
Bagi hakim yang berpendapat pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan hal yang berdiri sendiri, tidak
saling berhubungan, maka perkawinan sudah dianggap sah apabila telah dilakukan
menurut ketentuan agama dan kepercayaannya, pencatatan hanya merupakan
pekerjaan administrasi, bukan sesuatu yang harus dipenuhi. Perkawinan tersebut
bukan nikah fasid, dan bila ada pihak yang mengajukan permohonan pembatalan
kepada pengadilan, perkawinan tersebut tidak perlu dibatalkan, permohonan
pembatalan harus ditolak.54
Mahkamah Agung RI tampaknya lebih condong berpendapat bahwa dalam
putusan kasasi No. 1948/K/PID/1991 tentang perkara poligami liar, kawin di bawah
tangan dan tidak dicatat pada instansi yang berwenang mengemukakan bahwa yang
dimaksud perkawinan yang sah adalah perakwinan sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan
Pemerintah No. 9 Tahun 1975, yaitu perkawinan yang dilaksanakan menurut
ketentuan agama dan kepercayaannya, dan dicatat menurut ketentuan yang berlaku.
Perkawinan yang sah adalah perkawinan yang telah terpenuhi ketentuan Pasal 2
ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 secara kumulatif.55
Mahkamah Agung RI tampaknya hanya mengakui sahnya suatu
perkawinan jika telah terpenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh agama yang
54
Abdul Mannan, op. cit., h. 51.
55
Lihat, ibid.
51
dianutnya, dilakukan di hadapan pejabat pencatat nikah yang berwenang dan dicatat
oleh pejabat tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
Sejalan dengan hal tersebut, dapat dipahami bahwa pencatatan perkawinan
merupakan syarat yang harus dipenuhi agar pernikahan sah menurut agama dan
menurut hukum positif. Di samping itu, tidak perlu mendikotomikan perkawinan
antara sah menurut agama dan sah menurut negara, tetapi kedua ketentuan tersebut
harus dilaksanakan secara seimbang dan paralel.
Hukum perkawinan dalam agama Islam mempunyai kedudukan yang
sangat penting. Oleh karena itu, peraturan-peraturan tentang perkawinan ini diatur
dan diterangkan dengan jelas dan terinci. Hukum perkawinan Islam pada dasarnya
tidak hanya mengatur tatacara pelaksanaan perkawinan saja, melainkan juga segala
persoalan yang erat hubungannya dengan perkawinan, misalnya: hak-hak dan
kewajiban suami istri, pengaturan harta kekayaan dalam perkawinan, cara-cara
untuk memutuskan perkawinan, biaya hidup yang harus diadakan sesudah putusnya
perkwinan, pemeliharaan anak, nafkah anak, pembagian harta perkawinan dan lainlain.
D. Tata Cara Perkawinan Menurut Ajaran Islam
Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-Qur’an
dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri
manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang islami.
Penghargaan Islam terhadap ikatan perkawinan besar sekali, sampai-sampai ikatan
itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Islam telah memberikan konsep
yang jelas tentang tata cara perkawinan berlandaskan al-Qur’an dan al-sunnah yang
£ahih, secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut:
52
1. Meminang ( Khitbah )
Seorang laki-laki yang akan mengawini seorang perempuan, laki-laki
tersebut hendaknya meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan perempuan
itu sedang dipinang oleh laki-laki lain. Islam melarang seorang muslim meminang
perempuan yang sedang dipinang oleh laki-laki lain.
Meminang tergolong salah satu tata cara pra pernikahan yang harus dilakoni
oleh pihak laki-laki dengan cara keluarga laki-laki berkunjung kepada keluarga
perempuan untuk meminang atau melamar. Pelamaran ini bermaksud memintakan
ridho dan kesediaan kedua orang tua perempuan untuk menikahkan anaknya dengan
anak laki-lakinya (pelamar) guna membentuk keluarga sakinah, mawaddah
warahmah. Peminangan merupakan tahap awal dalam proses kegiatan perkawinan.
Pada Bab I Pasal I Kompilasi Hukum Islam diartikan “peminangan ialah kegiatan
upaya ke arah terjadinya perjodohan antara seorang pria dengan seorang perempuan
dalam berhubungan”.56 Sementara itu di dalam ilmu fiqhi peminangan disebut:
Khitbah berarti permintaan, menurut istilah pernyataan laki-laki kepada
pihak perempuan untuk dinikahinya baik dilakukan secara langsung oleh
pihak laki-laki atau melalui perantara pihak lain yang dipercaya sesuai
dengan ketentuan-ketentuan agama.57
a. Mustahsiana
Peminangan mustahsiana yakni:
Cara yang dianjurkan kepada seorang laki-laki yang akan meminang seorang
perempuan agar meneliti perempuan pinangan itu. Sehingga sangat
menjamin kelangsungan hidup berumah tangga. Cara ini bukanlah
merupakan suatu kewajiban akan tetapi hanya merupakan anjuran yang bisa
dilakukan dan bisa juga tidak”. 58
56
Departemen Agama RI. , “Kompilasi”, op. cit, h. 83.
57
Ibid.,h. 84.
58
Ibid, h. 33.
53
Penelitian terhadap calon istri merupakan hal yang baik untuk memberi
motivasi bagi calon suami untuk mencintai secara mendalam dan menaruh simpatik,
agar tidak kecewa bila mengetahui cacat tidaknya perempuan pinangannya.
b. Lazimah
Lazimah merupakan bagian terpenting dalam proses perkawinan. Muh. Bin
Ismail Al-Kahlani menyatakan bahwa lazimah adalah suatu cara yang merupakan
anjuran dan juga sebagai syarat yang wajib dipenuhi sebelum melakukan
peminangan. Sahnya peminangan pada adanya syarat-syarat lazimah.59
Lazimah dalam ajaran Islam mencakup dua aspek yakni:
1)
Perempuan yang dipinang orang atau sedang dalam peminangan orang lain.
Laki-laki tersebut telah melakukan pinangannya. Dalam konsepsi ini
disyaratkan bahwa dilarang meminang pinangan orang lain.
2) Perempuan yang tidak dalam masa idah. Perempuan dalam masa idah raj’i
yang
lebih
berhak
mengawininya
kembali
ialah
bekas
suaminya,
sebagaimana firman Allah swt. dalam QS. al-Baqarah/2:228
              
      
Terjemahnya:
“…dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika
mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para perempuan mempunyai
hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan
59
Muh. Bin Ismail al- Kahlani, Subulus Salam, (Semarang; Toha Putra, t.th), h. 18.
54
tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istri nya
dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana..60
Perempuan yang dalam masa idah boleh dipinang sepanjang pinangannya
bukan secara terang-terangan. Hal ini sesuai firman Allah swt. dalam QS. alBaqarah/2/235
             
             
              
.‫ َﺣﻠِْﻴ ْﻢ‬      
Terjemahnya:
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang perempuan-perempuan itu dengan
sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam
hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka,
dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka
secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan
yang ma'ruf. dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk berakad
nikah, sebelum habis 'idahnya. dan Ketahuilah bahwasanya Allah
mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan
Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.61
Perempuan-perempuan
yang dimaksud
dalam
ayat
tersebut
adalah
perempuan yang dalam masa idah karena suaminya meninggal dunia. Menyangkut
masalah pinangan ini Jalaluddin al-Suyu>ti melihatnya sangat dianjurkan.
Jalaluddin al-Suyu>ti berkata:
“Melihat perempuan yang akan dipinang dianjurkan oleh agama. Tujuan dari
anjuran itu adalah agar mengetahui keadaan perempuan yang dipinang itu
dan tidak ada yang dapat menjadi alasan bagi peminang untuk bercerai istri
60
Departemen Agama RI, op. cit., h. 55.
61
Ibid, h. 58.
55
nya setelah melangsungkan perkawinan. Oleh karena itu, suatu pernikahan
baru dapat dilaksanakan setelah masing-masing pihak menyadari
keadaannya. Rasulullah saw menganjurkan agar melihat perempuan yang
akan dipinang sebelum melangsungkan pernikahan”. 62
Dalam konsepsi tersebut, peminang merupakan bagian terpenting dalam
proses perkawinan.
2. Upacara Perkawinan
Proses upacara perkawinan mencakup beberapa aspek yang harus dipenuhi,
yakni:
a. Kelengkapan rukun perkawinan di dalam melangsungkan perkawinan karena
terdapat beberapa rukun perkawinan yang harus dipenuhi sebagai syarat mutlak
sahnya perkawinan. Masalah ini telah diatur pada pasal 14 Kompilasi Hukum
Islam, yakni:
1) Calon suami
2) Calon istri
3) Wali nikah
4) Dua orang saksi dan
5) Ijab kabul 63
Masing-masing rukun di atas juga telah diatur di dalam pasal-pasal lain
menyangkut syarat dan cara pelaksanaannya.
b. Dicatat oleh Pegawai Pencatatan Nikah (PPN)
62
Jalaluddin al-Suyu>ti, Syarah Sunan al-Nasai (Beirut, Da>r al-Fikrah, t.th), h. 41.
63
Departemen Agama RI, op. cit., h. 88.
56
Pada pasal 2 ayat 2 Undang-Undang RI No, 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan, tidak disebutkan secara jelas mengenai pegawai pencatatan nikah. Pada
pasal tersebut disebutkan “tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku”.64 Ketentuan tersebut secara jelas dikemukakan
pada pasal (5) ayat 1 dan 2 serta pasal (6) ayat 1 bahwa :
1) Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam, setiap
perkawinan harus dicatat.
2) Pencatatan perkawinan tersebut pada ayat (1) dilakukan oleh PPN
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang RI No.22 Tahun 1946 jo
Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1954, kemudian pada pasal selanjutnya
dijelaskan untuk memenuhi ketentuan dalam pasal (5), setiap perkawinan
harus dilangsungkan dihadapan dan dibawah pengawasan pegawai pencatat
nikah.65
Dengan demikian mensyaratkan bahwa setiap pernikahan yang tidak
dicatat oleh pegawai pencatat nikah tidak memiliki kekuatan hukum.
Meski masih menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, praktik
perkawinan di bawah tangan hingga kini masih banyak terjadi. Padahal, perkawinan
di bawah tangan berdampak sangat merugikan, bagi perempuan. Perkawinan di
bawah tangan atau yang dikenal dengan berbagai istilah lain seperti kawin sirri atau
nikah sirri adalah perkawinan yang dilakukan berdasarkan aturan agama atau adat
istiadat dan tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA) bagi yang beragama
Islam, atau Kantor Catatan Sipil bagi nonmuslim. Meski perkawinan dilakukan
64
Departemen Agama RI, op. cit., h. 210.
65
Departemen Agama RI, ”Kompilasi”, op. cit., h. 85.
57
menurut agama Islam, namun di mata negara perkawinan dianggap tidak sah
jika belum dicatat oleh Kantor Urusan Agama.
Sistem hukum Indonesia tidak mengenal istilah kawin di bawah tangan dan
semacamnya dan tidak mengatur secara khusus dalam sebuah peraturan. Namun,
secara sosiologis, istilah ini diberikan bagi perkawinan yang tidak dicatatkan dan
dianggap dilakukan tanpa memenuhi ketentuan UU yang berlaku, khususnya
tentang pencatatan perkawinan yang diatur dalam UU Perkawinan Pasal 2 ayat (2).
Meski secara agama atau adat istiadat dianggap sah, namun perkawinan yang
dilakukan di luar pengetahuan dan pengawasan PPN tidak memiliki kekuatan
hukum dan dianggap tidak sah di mata hukum, yang dibuktikan dengan akta
perkawinan.
Perkawinan di bawah tangan berdampak sangat merugikan bagi istri dan
perempuan umumnya, baik secara hukum maupun sosial. Secara hukum, perempuan
tidak dianggap sebagai istri sah, tidak berhak atas nafkah dan warisan dari suami
jika ia meninggal dunia, tidak berhak atas harta gono-gini jika terjadi perpisahan,
karena secara hukum perkawinan anda dianggap tidak pernah terjadi. Secara sosial,
akan sulit bersosialisasi karena perempuan yang melakukan perkawinan di bawah
tangan sering dianggap telah tinggal serumah dengan laki-laki tanpa ikatan
perkawinan alias kumpul kebo atau dianggap menjadi istri simpanan. Akibat lebih
jauh dari perkawinan yang tidak tercatat adalah, baik isteri maupun anak-anak yang
dilahirkan dari perkawinan tersebut tidak berhak menuntut nafkah ataupun warisan
dari ayahnya.
Adapun terhadap anak, tidak sahnya perkawinan di bawah tangan menurut
hukum negara memiliki dampak negatif bagi status anak yang dilahirkan di mata
58
hukum, yakni anak yang dilahirkan dianggap sebagai anak tidak sah.
Konsekuensinya, anak hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga
ibu. Artinya si anak tidak mempunyai hubungan hukum terhadap ayahnya (Pasal 42
dan Pasal 43 UU Perkawinan, Pasal 100 KHI).
Di dalam akte kelahiran pun statusnya dianggap sebagai anak luar nikah,
sehingga hanya dicantumkan nama ibu yang melahirkannya. Keterangan berupa
status sebagai anak luar nikah dan tidak tercantumnya nama si ayah akan
berdampak sangat mendalam secara sosial dan psikologis bagi si anak dan ibunya.
Ketidakjelasan status si anak di muka hukum, mengakibatkan hubungan antara
ayah dan anak tidak kuat, sehingga bisa saja, suatu waktu ayahnya menyangkal
bahwa anak tersebut adalah anak kandungnya. Jadi perkawinan di bawah tangan
akan merugikan anak karena tidak berhak atas biaya kehidupan dan pendidikan,
nafkah dan warisan dari ayahnya.
Pencatatan perkawinan sangatlah penting, terutama untuk mendapatkan
legalitas (pengakuan di mata hukum) dan hak-hak seperti warisan dan nafkah bagi
anak-anak. Jadi sebaiknya, sebelum memutuskan melakukan sebuah perkawinan di
bawah tangan (nikah sirri) dihadapan petugas tidak resmi, pikirkanlah terlebih dulu.
Jika masih ada kesempatan untuk menjalani perkawinan secara resmi, artinya
perkawinan menurut hukum negara yang dicatatkan di Kantor Urusan Agama
(KUA), pilihan ini jauh lebih baik dan tidak berisiko. Karena jika tidak, ini akan
menyulitkan di masa yang akan datang.
Jadi perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat
Nikah tidak mempunyai kekuatan hukum. Dengan demikian pernikahannya tidak
59
bisa dibuatkan akta nikah dan kalau ada anak dalam perkawinan tersebut, nantinya
anak itu tidak bisa dibuatkan akta kelahiran.
c. Ijab Kabul
Dalam suatu perkawinan setelah surat-surat atau administrasi perkawinan
telah lengkap dan ditanda tangani, maka selanjutnya dilakukan ijab kabul oleh calon
suami dan wali.
d. Penertiban Surat Akta Nikah oleh Kantor Urusan Agama kecamatan setelah
proses ijab kabul.
Dalam penertiban Surat Akta Nikah ini, tentu sebelumnya harus dilengkapi
dengan identitas masing-masing pihak (suami-istri). Sebaiknya pihak KUA
menyerahkannya setelah berlangsungnya ijab-kabul.
Pada dasarnya, dalam Pasal 2 Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan, dinyatakan bahwa syarat untuk sahnya suatu perkawinan harus
berdasarkan hukum agama dan harus dilakukan pendaftaran perkawinan di lembaga
pencatatan perkawinan setempat. Dengan dicatatkannya perkawinan, kemudian
dikeluarkanlah kutipan akta nikah oleh Pegawai Pencatat Nerkawinan dalam
lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA). Terkait dengan penerbitan kutipan akta
nikah ini mungkin saja isinya tidak terhindar dari kesalahan, termasuk kesalahan
redaksional. Namun, adanya kesalahan pada kutipan akta nikah, tidak menyebabkan
perkawinan dapat dibatalkan.
Adapun yang menyebabkan suatu perkawinan dapat dibatalkan antara lain
adalah apabila:
60
a. Para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan (lihat
Pasal 22 UUP). Mengenai syarat-syarat perkawinan ini diatur dalam Pasal 6
UUP;
b. Salah satu pihak melangsungkan perkawinan padahal masih terikat perkawinan
dengan pihak lain (lihat Pasal 24 UUP);
c. Perkawinan dilangsungkan dimuka pegawai pencatat perkawinan yang tidak
berwenang, wali nikah yang tidak sah atau yang dilangsungkan tanpa dihadiri
oleh 2 (dua) orang saksi (lihat Pasal 26 ayat [1] UUP);
d. Perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum (lihat
Pasal 27 ayat [1] UUP);
e. Pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi salah sangka mengenai diri suami
atau isteri (lihat Pasal 27 ayat [2] UUP).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Lokasi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini dapat digolongkan sebagai penelitian lapangan (field
research). Adapun jenis penelitiannya adalah jenis penelitian kualitatif, yakni
penelitian yang prosedurnya menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis
atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.1
2. Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini adalah Kabupaten Konawe Selatan. Karena
Kabupaten Konawe ini cukup sulit dijangkau secara keseluruhan sehingga peneliti
menggunakan sampel dengan mengambil dua dari empat kecamatan yang ada.
Kecamatan yang dijadikan sampel adalah Kecamatan Landono dan Kecamatan
Mowila.
B. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), yaitu peneliti
melakukan survei langsung ke lokasi penelitian. Dalam mengadakan penelitian,
penulis memakai pendekatan yaitu:
1. Pendekatan Yuridis; pendekatan ini dimaksudkan untuk memberi inspirasi
hukum bagi masyarakat khususnya suku Tolaki agar dalam melangsungkan
1
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Cet. XVII; Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2007), h. 26
61
62
perkawinan hendaknya memperhatikan faktor-faktor yuridis yang berlaku di Negara
Kesatuan Republik Indonesia, yakni hukum nasional dan hukum Islam tentang
perkawinan.
2. Pendekatan Antropologi budaya, yaitu suatu pendekatan yang diterapkan
dengan menganalisis secara mendalam adat istiadat dan kebiasaan suku Tolaki dan
tidak menyalahkan tradisi masyarakat Tolaki. Kebiasaan masyarakat Tolaki yang
dimaksud terutama adat perkawinan masyarakat Tolaki yang berlokasi di
Kecamatan Landono dan Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan dalam
kaitannya dengan hukum Islam.
3. Pendekatan Sosiologis, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara
mengadakan
pendekatan
kepada
unsur
masyarakat
di
antaranya
tokoh
masyarakat/pemerintah, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh pemuda yang ada di
dalam masyarakat Kecamatan Landono dan Kecamatan Mowila di Kabupaten
Konawe Selatan.
C. Sumber Data Penelitian
Data dalam kajian ini bersumber dari data primer dan data sekunder,
meliputi:
1. Data Primer adalah data yang diperoleh peneliti langsung dari objeknya.
Data yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah 1) Camat
Landono dan Mowila, serta 2) tokoh adat dan tokoh agama.
2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung dari
objeknya, tetapi melalui sumber lain baik lisan maupun tulis. Adapun data yang
menjadi sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah masyarakat suku Tolaki
yang ada di Kecaman Landono dan Kecamatan Mowila.
63
D. Metode Pengumpulan Data
Untuk dapat memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis
menggunakan beberapa metode yaitu :
1. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah sebuah teknik pengumpulan data yang
mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan
ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu, peristiwa, tujuan dan
perasaan. Metode ini penulis gunakan untuk mengamati, mendengarkan dan
mencatat langsung terhadap beberapa peristiwa atau kejadian berupa adat istiadat
pada perkawinan suku Tolaki yang ada di Kecamatan Landono dan Kecamatan
Mowila Kabupaten Konawe Selatan.
2. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.2 Percakapan itu
dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan
pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas
pertanyaan itu. Maksud dari penerapan ini adalah untuk mencari data yang
berhubungan dengan tradisi dan adat perkawinan suku Tolaki dengan kemungkinan
memiliki relevansi dengan nilai-nilai perkawinan dalam syari’at Islam.
3. Dokumentasi
Dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun foto. Metode ini penulis
gunakan untuk memperoleh data tentang tradisi adat perkawinan suku Tolaki di
Kabupaten Konawe Selatan.
2
Ibid., h. 30
64
4. Triangulasi
Triangulasi ini merupakan pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan
sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data. Jenis triangulasi yang diterapkan dalam penelitian ini
adalah triangulasi sumber yakni membandingkan dan mengecek balik derajat
kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari sumbernya dengan jalan (1)
membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, (2)
membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang
dikatakannya secara pribadi, (3) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang
tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, (4)
membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan
pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau
tinggi, orang berada dan orang pemerintahan, dan (5) membandingkan hasil
wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.3
E. Instrumen Pengumpulan Data
Penelitian yang berkualitas dapat dilihat dari hasil penelitian, sedangkan
kualitas hasil penelitian sangat tergantung pada instrumen dan kualitas
pengumpulan data. Sugiyono menyatakan, bahwa ada dua hal utama yang
mempengaruhi kualitas hasil penelitian yaitu kualitas instrumen penelitian dan
kualitas pengumpulan data.4 Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri sebagai key
instrumen, artinya peneliti sendiri sebagai instrumen kunci dan penelitian
3
Lexy J. Moleong, op. cit., h. 178.
4
Ibid., h. 62.
65
disesuaikan dengan metode yang digunakan. Penulis menggunakan beberapa jenis
instrumen yaitu:
a. Lembar observasi adalah alat bantu berupa pedoman pengumpulan data yang
digunakan pada saat proses penelitian.
b. Pedoman wawancara adalah alat berupa catatan-catatan pertanyaan yang
digunakan dalam mengumpulkan data.
c. Check list dokumentasi adalah catatan peristiwa dalam bentuk tulisan langsung
atau arsip-arsip, instrumen penilaian, foto kegiatan pelaksanaan perkawinan adat
Tolaki Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara.
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Dalam menganalisa data, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif
yang terdiri dari tiga kegiatan yaitu pengumpulan data dan sekaligus reduksi data,
penyajian dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Pertama, setelah pengumpulan
data selesai dilakukan reduksi data yaitu menggolongkan, mengarahkan, membuang
yang tidak perlu dan pengorganisasian sehingga data terpilah-pilah. Kedua, data
yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk narasi lalu direkapitulasi. Ketiga,
adalah penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua dengan
mengambil kesimpulan.
Adapun teknik pengolahan dan analisis data yang dimaksud adalah:
1. Teknik Pengolahan Data
Dalam penelitian ini, ada dua langkah yang dilakukan yaitu:
a. Editing merupakan kegiatan untuk meneliti kembali rekaman catatan data
yang telah dikumpulkan dalam suatu penelitian. Kegiatan pemeriksaan
66
rekaman atau catatan merupakan kegiatan yang penting dalam pengelolaan
data.
b. Verifikasi yakni peninjauan kembali mengenai kegiatan yang telah
dijalankan sebelumnya sehingga hasilnya benar dan dapat dipercaya,5 tahap
ini merupakan tahap yang dilalui sebelum proses penelitian dijalankan.
2. Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Miles dan Huberman, seperti dikutip Sugiyono
bahwa reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan
pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.6 Sedangkan verifikasi data
adalah penarikan kesimpulan secara kredibel.7 Berdasarkan teori ini peneliti akan
menggunakan teknik analisis data yang ditawarkan Miles dan Huberman dengan
pertimbangan proses lebih sederhana dan dapat menggambarkan seluruh proses
analisa data valid dan kredibilitas.
Analisis data merupakan suatu proses pengaturan dan pelacakan secara
sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain yang
dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap pembahasan agar dapat
dipresentasekan secara baik kepada orang lain. Proses data dimulai dengan menelaah
semua data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang
sudah dituliskan dalam catatan secara lapang dan sebagainya.
5
Muhammad Teguh, Metodologi Penelitian Ekonomi, Teori dan Aplikasi (Ed. I; Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 2005), h. 63.
6
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif. (Cet. IV; Bandung: Alfabeta, 2010),
247.
7
Ibid., h. 252.
h.
67
3. Pengujian keabsahan data
Pengujian keabsahan data, peneliti melakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Perpanjangan pengamatan,
b. Meningkatkan ketekunan, dan
c. Triangulasi.
Dalam
menguji
keabsahan
dan
validitasnya
data
yang
berhasil
dikumpulkan, maka peneliti melakukan pengamatan secara seksama dengan cara
mengecek dan mencocokkan ulang data-data yang telah dikelola dengan data
penelitian. Pengamatan hasil penelitian dilakukan secara serius dan tekun serta
sangat berhati-hati untuk meminimalisir terjadinya kekeliruan dalam mengelola
data. Di samping itu, juga peneliti melakukan pengujian atas validnya data yang
diperoleh, atau juga melalui cara triangulasi yakni melakukan pengumpulan data
yang langsung dianalisis dan diinterpretasi.
Pengujian data melalui triangulasi ini dianggap sangat relevan dengan jenis
penelitian yang menggunakan jenis pendekatan kualitatif, karena data yang
dihasilkan adalah data deskriptif mengenai kata-kata lisan (walaupun dapat juga
data tertulis), dan data berupa tingkah laku responden yang dapat diinterpretasi. Hal
ini sejalan dengan pandangan Bagon Suyanto dan Sutinah yang mengemukakan
bahwa penelitian kualitatif ini berakar dari paradigma interpretatif yang pada
awalnya muncul dari ketidakpuasan atau reaksi terhadap paradigma positivist yang
menjadi akar penelitian kuantitatif.8 Menurut Arif Tiro, triangulasi dapat diterapkan
8
Bagon Suyanto dan Sutinah (Editor), Metode Penelitian Sosial (Berbagai Alternatif
Pendekatan). (Edisi Revisi; Cet. VI; Jakarta: Prenada Media Kecana, 2011), h. 166.
68
untuk mengetahui valid tidaknya suatu data, sehingga logika triangulasi dapat
dipadukan dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif maupun
penelitian kuantitatif.9 Kedua konsep teori yang dikutip ini menarik untuk dipahami
bahwa seorang peneliti yang akan menyajikan hasil penelitiannya dalam bentuk
karya ilmiah, pengujian keabsahan data baik data kualitatif maupun kuantitatif
dapat diuji kevalidannya melalui pengujian keabsahan secara triangulasi.
9
Muhammad Arif Tiro, Penelitian: Skripsi, Tesis, dan Disertasi. (Cet. III; Makassar: Andira
Publisher, 2011), h. 124.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Pelaksanaan Perkawinan Suku Tolaki di Kabupaten Konawe
Selatan
Kabupaten Konawe Selatan, yang secara geografis berada di pesisir kali
Konawe. Adapun batasan sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Konawe
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Lainea
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Ranomeeto
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Angata.1
Luas wilayah Kecamatan Landono dan Kecamatan Mowila berdasarkan
data yang ada seluas 3.120 Km2. Berdasarkan luas wilayah tersebut, sebagian besar
terdiri dari gunung dan dataran rendah serta hutan-hutan lebat, selebihnya adalah
tanah yang berbukit-bukit.
Adapun keadaan suku penduduk di Kecamatan Landono dan Mowila
Kabupaten Konawe Selatan pada dasarnya bersifat heterogen, dalam arti terdiri dari
beberapa suku bangsa dan adat istiadat yang berbeda-beda. Hal ini tentunya dapat
dipahami
bahwa
kecamatan
Landono
dan
Mowila
merupakan
wilayah
pengembangan. Sehingga dengan kondisi tersebut, banyak dihuni oleh suku-suku
yang melakukan aktivitas di wilayah ini. Untuk lebih jelasnya keadaan suku
penduduk Kecamatan Landono dan Mowila Kabupaten Konawe Selatan, dapat
dilihat sebagaimana dalam tabel I:
1
Sumber data: Kantor BPS Kabupaten Konawe Selatan, Tahun 2012.
69
70
Tabel 1
Keadaan Suku Penduduk di Kecamatan Landono dan Mowila Tahun 2012
No
Suku
Kecamatan
Kecamatan
Penduduk
Landono
Mowila
1.
Tolaki
2.576
2.943
5.519
2.
Jawa
2.321
1.444
3.765
3.
Bali
2.212
3.384
5.596
4.
Bugis
2.309
2.163
4.472
5.
Buton
2.075
1.254
3.329
11.493
11.188
22.681
Total
Jumlah
Sumber data : Kantor BPS Kabupaten Konawe Selatan, 2012.
Data tersebut menunjukkan bahwa penduduk terbesar yang mendiami
wilayah Kecamatan Landono dan Mowila Kabupaten Konawe Selatan adalah berasal
dari suku Tolaki dengan jumlah 5.510 jiwa, suku Tolaki, yang merupakan suku asli
wilayah daratan sulawesi Tenggara dengan jumlah laki-laki 2.406 jiwa dan
perempuan sebanyak 3.104 jiwa. Kemudian disusul suku Jawa yang juga merupakan
suku pribumi Sulawesi Tenggara dari pulau Jawa dengan jumlah 3.765 jiwa,
sedangkan suku asli pribumi lainnya adalah suku Bali yang berjumlah 5.596 jiwa,
suku Bugis yang merupakan suku pendatang dari Sulawesi Selatan berjumlah 4.472
jiwa. Begitupun warga Buton sebanyak 3.329 jiwa.
71
Adapun keadaan penduduk Kecamatan Landono dan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan menurut usia dan jenis kelamin, tercantum dalam tabel berikut:
Tabel 2
Komposisi Penduduk Kabupaten Konawe Selatan
Menurut Kelompok Usia dan Jenis Kelamin
Jumlah
No
Tingkat Usia
Jumlah
Pria
Perempuan
1.
0 – 4 tahun
569
502
1.071
2.
5 – 14 tahun
1.093
1.726
2.819
3.
15 – 24 tahun
1.447
1.651
3.098
4.
25 – 34 tahun
2.688
4.973
7.661
5.
35 – 44 tahun
1.614
1.657
3.271
6.
45 – 59 tahun
2.199
2.275
4.474
7.
60 tahun ke atas
149
138
287
9.759
12.922
22.681
Total
Sumber data : Kantor BPS Konawe Selatan Tahun 2012
Berdasarkan data itu, tergambar dengan jelas usia penduduk Kabupaten
Konawe Selatan dapat dikatakan usia produktif. Hal ini terlihat dari usia penduduk
di bawah usia 15 tahun sejumlah 3.890 jiwa, sedangkan penduduk yang berusia 15
tahun tersebut berjumlah 18.791 jiwa. Berdasarkan gambaran data tersebut, terlihat
72
jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada penduduk laki-laki, jumlah
perempuan 12.922 jiwa dan jumlah penduduk laki-laki adalah 9.759 jiwa.
Apabila ditelusuri asal mula Suku Tolaki dan kapan mereka bermukim di
daerah Kabupaten Konawe Selatan, berikut ini hasil wawancara dengan responden.
Ada empat kategori cerita rakyat, yakni pertama; oheo yang menceritakan bahwa
orang pertama nenek moyang suku Tolaki berasal dari pulau Jawa, khususnya dari
daerah Kaki Gunung Arjuna, kemudian kawin dengan Anawai Ngguluri, salah
seorang dari tujuh gadis bidadari bersaudara yang berasal dari langit. Kedua;
Pasa’eno, yang menceritakan bahwa Anawai Ngguluri adalah putra wasande,
seorang perempuan tanpa suami yang menjadi hamil karena minum air yang
tertampung pada daun ketika Anawai Ngguluri memotong pandan di hutan rimba di
pegunungan hulu sungai Mowewe. Ketiga; Wekoila dan Larumbalangi, yang
menceritakan tentang dua orang bersaudara kandung perempuan dan pria yang turun
dari langit dengan menumpang sehelai sarung. Keempat yaitu; ouggabo, yang
menceritakan tentang seorang laki-laki raksasa yang berasal dari timur melalui
sungai Konaweha dan datang dari Elo-Oloho, ibu kota Kerajaan Konawe dan kawin
dengan Elu, cucu Wekoila.2
Suku Tolaki datang ke wilayah daratan Sulawesi Tenggara ini dari arah
utara dan timur. Ada dugaan mereka yang datang dari arah utara itu berasal dari
Tiongkok Selatan yang melalui Philipina Kepulauan Mindanano, Sulawesi Utara,
Halmahera dan Sulawesi bagian timur, terus memasuki Konaweeha dan akhirnya
memilih lokasi permukiman pertama di hulu sungai itu, yakni pada suatu lembah
2
A. Hamid Hasan, Tokoh Adat Kecamatan Landono, “wawancara”, di Kecamatan Landono
Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 19 Oktober 2012.
73
luas, yang bernama Andolaki.3 Jadi orang Tolaki pada mulanya menamakan dirinya
Telahianga (orang dari langit). Dengan demikian kata “hiu” dalam bahasa Cina
berarti langit, bila dihubungkan dengan kata heo (Tolaki) yang berarti ikut pergi ke
langit. Mereka yang datang dari arah selatan diduga berasal dari pulau Jawa melalui
Buton dan Muna dan memasuki muara sungai Konaweha dan terus memilih lokasi
permukiman di Toreo, Landono dan Besilutu.
Kisah lain asal usul suku Tolaki seperti dikisahkan Abdul Karim, pada
mulanya datangnya orang Tolaki di Sulawesi Tenggara dengan raja-raja yang
pertama adalah Raja Sangia Nginoburu dan Raja Sangia Nibandera yang masa
pemerintahannya dapat diperkirakan pada zaman Islam berdasarkan cerita daerah
setempat. Kedua raja Tolaki itu adalah raja-raja pertama setelah meninggal dikubur
secara Islam. Sampai saat ini kuburan dari kedua raja tersebut masih ada dan
dipelihara oleh turunannya”.4
Ringkasnya bahwa suku Tolaki tersebar ke seluruh daerah pesisir sungai
daratan Kendari. Dari Andolaki kemudian terpencar ke Utara sampai Rauta, ke
Barat sampai Kondeeha lewat Mowewe dan Lambo dan kemudian ada yang sampai
di Mekongga, ke selatan sampai di Olo-oloho atau Konawe lewat Ambekairi dan
Asinua dan ke timur sampai Laboma dan Asera.
Tata cara pelaksanaan adat perkawinan suku Tolaki di Kecamatan Landono
dan Kecamatan Mowila sama dengan tata cara perkawinan suku Tolaki di daerah
3
Ramli, Tokoh Adat Kecamatan Mowila, “vawancara”, di Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan, tanggal 20 Oktober 2012.
4
Abdul Karim, Tokoh Adat merangkap Tokoh Agama suku Tolaki, wawancara, di
Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 21 Oktober 2012.
74
lain di Kabupaten Konawe Selatan. Pelaksanaan adat perkawinan suku Tolaki pada
prinsipnya melalui proses panjang yang dimulai dari kegiatan metiro (mengintai
gadis idaman), selanjutnya dilakukan upacara mondutudu atau upacara menjajaki
kemungkinan apakah pihak keluarga gadis yang diidamkan dapat diterima oleh
pihak keluarga orang tua laki-laki. Apabila diterima dapat dilangsungkan upacara
Meloso’ako atau moawoniwule (membawa pinangan) atau bertunangan. Setelah
bertunangan kedua belah pihak menentukan kapan pelaksanaan perkawinan.
Pada tahap perkawinan, semua persyaratan adat telah disiapkan oleh
keluarga pihak laki-laki dan besarnya tergantung kesepakatan bersama atau
berdasarkan pertimbangan derajat sosialnya. Derajat sosial di dalam struktur sosial
orang Tolaki umumnya dibagi tiga yakni pertama, golongan Anakia (bangsawan),
kedua, golongan Tonomotuo (golongan biasa), dan ketiga golongan O’ata (golongan
budak). Berdasarkan stratifikasi sosial ini nilai maskawin berbeda-beda. Walaupun
pada akhirnya mengalami pembenaran-pembenaran seirama dengan perkembangan
zaman. Mengenai jenis dan jumlah mas kawin tersebut dapat dilihat pada tabel 3
berikut.
Tabel 3
Jenis dan Jumlah Mas Kawin Orang Tolaki Menurut Derajat Sosialnya
Nilai Mas Kawin
Golongan
Pu’uno
Wawono, Tawono
Sara Pe’ana
1. Anakia
10 kasu (Mokole)
800/400/300 (mokole
1 buah wadah
(Bangsawan)
8 Kasu
dan putobu)
tempat mandi
bayi; 1 lembar
75
(Putobu)
160/80/40 mata (tak
sarung; 1 buah
ada jawaban)
mata lampu dan 1
4 kasu (tak ada
buah mata uang
jawaban)
logam (tak ada
perbedaan)
2. Tonomotuo
4 kasu (pejabat)
160/140/120 mata
Idem,
(Golongan
2 kasu (bukan
(pejabat)
kecuali sarung
Biasa)
pejabat)
80/40/20 mata (bukan
pejabat)
3. O’ata
(budak)
10/8/4 mata (budak
Idem,
tawanan perang)
kecuali sarung
2/1 mata budak belian
Jenis dan jumlah mas kawin tersebut adalah pokok adat yang harus
dipenuhi oleh calon mempelai laki-laki. Penyerahan mas kawin sebagai adat
perkawinan dilakukan di hadapan keluarga perempuan dan keluarga laki-laki yang
diserahkan oleh juru bicara dari kedua belah pihak atau Pabitara. Seorang pabitara
diangkat berdasarkan ketokohannya dan yang sangat utama adalah kemampuannya
mengetahui dan memahami adat orang Tolaki dan berpengalaman membawa adat.
Penyerahan adat perkawinan dilakukan melalui upacara penyerahan adat
yang dirangkaikan dengan kegiatan akad nikah. Menurut keterangan informan
bahwa dari seluruh rangkaian perkawinan orang Tolaki di Kecamatan Landono dan
Kecamaan Mowila mulai dari mengintip calon, sampai pada acara akad nikah, nilai
adat terlihat dari penggunaan kalo. Tanpa kalo, sesuatu upacara dari rangkaian
76
perkawinan dianggap tidak sah. Tak ada upacara semacam ini tanpa kalo. Kalo
merupakan hal mendasar dalam adat perkawinan. Selain itu, acara berikutnya adalah
asas perwakilan yang diperankan oleh dua juru bicara baik pihak laki-laki maupun
pihak perempuan, yang masing-masing melakukan peranan hubungan antara kedua
belah pihak secara timbal balik.5
Tata cara pelaksanaan adat suku Tolaki, diklaim oleh orang suku Tolaki
sendiri sebagai asas adat. Masih ada asas adat lainya selain dari dua hal tersebut
yaitu asas ketentuan dan persatuan antara kedua belah pihak di kalangan keluarga
pihak laki-laki dan keluarga pihak perempuan. Asas-asas ini terungkap dari dialog
masing-masing juru bicara.
Suatu perkawinan adat suku Tolaki di Kecamatan Landono dan Kecamatan
Mowila Kabupaten Konawe Selatan sesungguhnya diawali dengan acara menghias,
seperti dituturkan tokoh adat dalam hasil wawancara dengan responden bahwa pada
acara puncak dari seluruh rangkaian perkawinan orang Tolaki adalah diawali dengan
acara metirangga (pengantin diberi berhias) dan pocka (pengantin laki-laki menaiki
rumah pengantin perempuan), dan diakhiri dengan modada ina nggae (pengucapan
akad nikah) dan teposuangge walino (pengantin laki-laki memasuki kamar dan
kelambu istrinya). Proses berhias dilakukan di rumah masing-masing pada waktu
malam secara bersamaan. Pada malam itu diramaikan dengan kunjungan dari pihak
kerabat yang diundang untuk hadir memberikan doa restu dan doa selamat bagi
pengantin. Setiap tamu yang datang dan menemui pengantin mengambil bahan rias
yang telah dipersiapkan dalam sebuah piring, dan dengan ibu jari dia mengenakan di
5
Muh.Yunus, Tokoh Adat Landono, “wawancara”, di Kecamatan Landowo Kabupaten
Konawe Selatan, Tanggal 21 Oktober 2012.
77
bagian paras pengantin. Keesokan harinya, pengantin laki-laki bersama rombongan
apakah dengan berjalan kaki atau berkendaraan menuju rumah pengantin perempuan.
Para anggota rombongan terdiri dari ahli rias pengantin, kedua orang tuanya,
pendamping orang tua pengantin, sejumlah orang pembawa alat-alat perlengkapan
rias kawin dan peti atau tempat pakaian laki-laki, juru bicara dan sejumlah anggota
rombongan dari para kerabat dan tetangga terdekat.6
Memasuki pekarangan rumah pengantin perempuan tidaklah mudah, karena
di pintu gerbang terdapat perempuan-perempuan cantik sebagai pagar ayu yang oleh
adat diberi hak untuk meminta bayaran sebelum dibukakan jalan bagi rombongan
pengantin laki-laki. Di tangga tampak sejumlah ibu-ibu yang menaburkan beras
kuning ke atas kepala dan muka pengantin, barisan ini juga meminta bayaran yang
sama dengan gadis-gadis di pintu gerbang pertama.
Dari seluruh rangkaian perkawinan pada saat penyerahan mahar dilakukan,
jika semua pihak keluarga dan laki-laki telah hadir sekaligus kedua juru bicara yang
akan memerankan tugas adat tentang:
1. Kesiapan benda-benda mas kawin dari pihak laki-laki untuk segera
diserahkan kepada pihak perempuan.
2. Permohonan pihak laki-laki kepada pihak perempuan untuk menerima mas
kawin yang telah diperhadapkan dengan rasa kekeluargaan yang dalam.
6
Rajawali, Tokoh Adat Mowila, “wawancara”, di Kecamatan Mowila, tanggal 22 Oktober
2012.
78
3. Pernyataan pihak perempuan akan kesungguhan pihak laki-laki dalam
usahanya menyambung tali persaudaraan dan memperluas hubungan
kekeluargaan.
4. Serangkaian ungkapan-ungkapan yang menggambarkan suasana gembira
dan lucu sebagai rasa syukur atas lancarnya proses pelaksanaan atau kata
yang bisa menghibur kedua mempelai.7
Keempat hal tersebut hanya terjadi saat akan dilangsungkan akad nikah.
Suatu dialog yang menggambarkan cara terbaik untuk memperoleh pengantin
perempuan yang telah dinantikan oleh pengantin laki-laki. Bila peralatan
perkawinan atau mas kawin tidak cukup sesuai permintaan pihak perempuan, maka
pelaksanaan akad nikah tidak dapat dilangsungkan. Pihak laki-laki harus mencukupi
saat itu juga. Hal ini tentu erat kaitannya dengan kehormatan dan harga diri,
sehingga dalam acara perkawinan suku Tolaki kesiapan atas segala persyaratan yang
telah ditetapkan haruslah tersedia. Walaupun demikian, mahar juga biasanya diutang
atau dibayar oleh pihak laki-laki setelah perkawinan.
B. Pelaksanaan Perkawinan Adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan
Islam merupakan agama wahyu terakhir yang disampaikan kepada Nabi
Muhammad saw. yang membawa ajaran yang sangat logis, fleksibel dan universal.
Cakupannya meliputi hubungan antara manusia dengan khalik, manusia dengan
sesama manusia serta lingkungannya. Peraturan-peraturan yang mengatur hal
tersebut lazim disebut hukum Islam. Pengertian hukum Islam sebagai sistem norma
7
Abdurrauf Tarimana, Tokoh Agama sekaligus Tokoh Adat, wawancara, di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 25 Oktober 2012.
79
Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan
sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam lainnya.
Perkawinan merupakan suatu hal yang sakral, agung dan mulia bagi
kehidupan manusia agar kehidupannya bahagia lahir dan batin serta damai dalam
mewujudkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Karena perkawinan itu bukan saja
sekedar pemenuhan kebutuhan biologis semata-mata, tetapi juga merupakan
“sumber” kebahagiaan, istilah popular sekarang dikenal perkawinan menuju keluarga
“sakinah mawadah warahmah”.
Di dalam Undang-Undang RI Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan,
dinyatakan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami istri untuk membentuk keluarga yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan adalah sah apabila
dilakukan menurut hukum tertulis masing-masing agama dan kepercayaannya itu.
Masyarakat hukum adat yang ada di bumi Nusantara ini, banyak adat dan etnis yang
berakulturasi melalui perkawinan, sehingga membentuk keluarga sakinah mawaddah
dan warahmah.
Masyarakat adat ini memandang perkawinan sebagai lambang untuk
meneruskan keturunan, mempertautkan silsilah dan kedudukan sosial yang
bersangkutan. Disamping itu, adakalanya suatu perkawinan adat merupakan sarana
untuk memperbaiki hubungan kekerabatan yang retak. Selain itu, perkawinan juga
bersangkut paut dengan warisan, kedudukan alias status dan harta perkawinan.
Di kalangan masyarakat adat yang masih kuat prinsip kekerabatannya
seperti adat “perepua” Tolaki, maka perkawinan merupakan suatu “nilai hidup”
80
untuk dapat meneruskan keturunan, mempertahankan silsilah dan kedudukan sosial
yang bersangkutan sebagaimana hukum adat perkawinan Tolaki. Disamping itu
adakalanya suatu kekerabatan yang telah jauh yaitu “Asombue” yang artinya asal
usul satu nenek moyang, merupakan sarana pendekatan dan perdamaian kekerabatan.
Sebagai contoh perkawinan itu sarana pendekatan dan perdamaian dahulu kala para
bangsawan Tolaki ketika mencarikan jodoh putranya sampai melintasi wilayah suku
bangsa tertentu, alias kawin dengan orang lain. Kemudian terselenggara perkawinan
adat istiadat adalah perkawinan yang dilaksanakan menurut hukum adat setempat
dengan tidak mementingkan peraturan-peraturan agama misalnya. Di sinilah sasaran
tulisan singkat ini yaitu membicarakan perkawinan Adat Tolaki yang berlangsung
sejak terbentuknya kerajaan tradisional Mekongga dan Konawe di Landolaki sekitar
abad 16 Masehi hingga kini memasuki era globalisasi. Penyelenggaraan perkawinan
suku Tolaki senantiasa disertai upacara adat perkawinan tolaki yang kesemuanya itu
bertujuan untuk menjamin terpenuhinya semua kepentingan yang bersangkutan.
Untuk memudahkan sidang pembaca mengikuti alur tulisan singkat ini,
akan diuraikan selain membicarakan secara deskripsi upacara adat perkawinan
Tolaki yang berhubungan dengan pengertian dan kedudukan Kalosara dalam upacara
adat perkawinan, model atau tata cara menggelar adat perkawinan, perempuan yang
pantang jadi istri, pelanggaran terhadap upacara adat perkawinan Tolaki.
1. Ciri Khas Perkawinan Adat Tolaki
Suku-suku bangsa yang tersebar dimuka bumi Nusantara, bahkan mungkin
dibelahan dunia sekalipun, dan akankah memiliki upacara adat atau kebiasaankebiasaan perkawinan adat menurut tradisi leluhurnya masing-masing. Demikian
81
pula suku bangsa Tolaki memiliki upacara adat perkawinan dengan ciri khas
tersendiri yang membedakan dengan suku-suku bangsa lainnya. Misalnya orang
Tolaki menggunakan benda adat Kalosara dalam setiap prosesi upacara adat
perkawinan Tolaki.8
Perkawinan Adat Tolaki memiliki istilah ialah, Medulu yang artinya
berkumpul, bersatu, dan Mesanggina yang berarti bersama dalam satu piring,”
sedangkan istilah yang paling umum dalam masyarakat adat Tolaki adalah Merapu
atau Perapua yang berarti perkawinan, keberadaan suami, istri anak-anak, mertua,
paman, bibi, ipar, sepupu, kakek, nenek, dan cucu merupakan suatu pohon yang
rimbun dan rindang,9
Selain pengertian perkawinan itu, ada lima tahapan prosesi upacara Adat
perkawinan Tolaki. Pertama, ”Metiro atau Menggolupe” yang artinya mengintip
meyelidiki calon istri. Kedua, ”Mondutudu” yang artinya malamar jajakan. Ketiga,
”Melosoako” artinya melamar sesungguhnya. Keempat, ”Mondonggo Niwule”
artinya meminang, dan Kelima, ”Mowindahako” artinya menyerahkan pokok Adat.
Sesudah itu, acara pernikahan. Semua tahapan prosesi Adat disebutkan itu, kecuali
tahapan “Metiro atau Monggolupe” diperankan oleh “Tolea” dan “Pabitara”, dengan
selalu ditampilkan menggunakan pranata Kalo”.10
8
Muslimin Suud, Tokoh Adat Tolaki dan Tokoh Agama, wawancara, di Kecamatan
Mowila Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 23 Oktober 2012.
9
Abdurrauf Tarimana, Tokoh Agama sekaligus Tokoh Adat, wawancara, di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 25 Oktober 2012.
10
Muslimin Suud, Tokoh Adat Tolai dan Tokoh Agama, wawancara, di Kecamatan Mowila
Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 23 Oktober 2012.
82
Ditampilkannya adat Kalosara, dalam upacara Adat Perkawinan Tolaki
menurut pandangan orang Tolaki bahwa, suatu perkawinan merupakan sesuatu yang
“Sakral”. Karena melibatkan kedua belah pihak keluarga besar, jika semula saling
“cuek” atau kurang intim atau tidak saling kenal, kini disatukan menjadi “suatu
kekuatan” dalam kesatuan rumpun keluarga besar posisinya ini adalah sebagai
perkawinan yang akrab dan mulia bagi kehidupan membina keluarga agar hidupnya
bahagia lahir dan batin. Selain pandangan ini, kedudukan pihak keluarga perempuan
pada dasarnya adalah, pihak yang “ditinggalkan derajatnya”. Itulah sebabnya Adat
Kalosara sebagai simbol “Kebesaran” orang Tolaki wajib digelar dihadapan keluarga
besar perempuan tersebut.
2. Pengertian dan Kedudukan Kalosara dalam Perkawinan Adat Tolaki.
Ketika berbicara Kalo sebagai bahasa simbolik dalam kehidupan sehari-hari
orang Tolaki, disini dibatasi fungsi Kalo dalam pengertian sempit, hanya
membicarakan urusan adat istiadat Tolaki, seperti urusan “Perapua” atau
Perkawinan, tidak membahas makna filosofi dalam arti luas. Membicarakan Kalo
umumnya terdiri dari banyak macam. Misalnya jika anda menjumpai Kalo sebagai
benda, cukup “Kalo” saja. Beda sebutannya ketika benda Kalo digelar pada prosesi
adat istiadat seperti acara “mowindahako”, disana disebut “Kalosara”. Hakikat
Kalosara terdiri : wadah anyaman, kain putih dan rantai yang dililit terdiri tiga buah
itu.
Bahan pembuatannya. Bahan baku utama benda Kalo diperoleh dari alam
atau hutan belantara. Secara harfiah Kalo adalah benda yang berbentuk lingkaran
dari rotan kecil pilihan disebut “Uewai” dipilih tiga buah. Caranya dibuat dengan
83
lingkaran lilitan atau dari arah kiri ke kanan disebut “Kalohana”. Tiga jalur itu
berbentuk lingkaran bundar atau sirkel yang sesuai ukuran yang telah ditentukan.
Ada dua jenis bentuknya. Jika garis menengah 45 cm disebut “Tehau Bose”, Kalo ini
diperuntukan pejabat Bupati ke atas. Sedangkan ukuran 40 cm disebut “meula
nebose” diperuntukan bagi pejabat Camat ke bawah.11
Setelah itu ada dua model ikatan ujung kalo. Pertama, jika sesudah
pertautan pada simpul satunya keluar ujungnya menonjol sedangkan yang dua
ujungnya dari arah kiri tersembunyi, model kalo ini diperuntukan pada adat istiadat
seperti perkawinan dan lain-lain. Adapun makna yang menonjol, ujung rotan itu
adalah penghargaan pihak penerima. Sedangkan yang tersembunyi bermakna
merendahkan diri dari pihak yang melamar. Model kedua, jika kedua ujung simpul
rotan hingga membentuk angka 8, maka benda kalosara tersebut dipergunakan
khusus upacara adat “mosehe” misalnya penyelesaian sengketa, perselisihan dan
lain-lain. Inilah yang dimaksud pengertian kalo dalam arti luas, di sana banyak
dibicarakan baik kalo sebagai “konsep” maupun kalo sebagai bahasa “simbolik”.12
Jadi istilah kalo ini mempunyai arti ganda yang meliputi konsep, ide, dan kadangkadang juga kalo berarti sebuah simbol, yakni tanda bahwa pihak laki-laki
bermaksud mempersunting seorang anak perempuan.
Berkaitan hasil wawancara tersebut tergambar tentang fungsi kalo
menunjukkan bahwa orang Tolaki masih menganggap kalo sebagai “keramat dan
sakti” yakni keberadaan benda kalo mampu mempersatukan baik keinginan atau
11
Syaifullah, , Kepala Wilayah Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan,
wawancara, di Kantor Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 17 Oktober 2012.
12
Drs. Muh. Isra’, Kepala Wilayah Kecamatan Landorno Kabupaten Konawe Selatan,
wawancara, di Kantor Kecamatan Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 23 Oktober 2012.
84
cita-cita maupun melindungi hak-hak asasi setiap anggota masyarakat Tolaki.
Namun hanya benda kalo yang “sakti” itu mampu menyatukan warga Tolaki
dimanapun mereka berada hingga hari ini. Mengapa “Wajib” disuguhkan adat
kalosara dalam prosesi adat perkawinan suku Tolaki? Karena dengan menggelar
prosesi adat kalosara ialah sebagai hukum adat-istiadat atau norma adat
kedudukannya sebagai alat “legitimasi” atau pengesahan perkawinan adat istiadat
itu. Intinya adalah “membangun dan membina rumpun keluarga”, yang mungkin
pernah hilang, serta mempererat tali silaturahmi. Untuk hal itu wajib melewati suatu
prosesi adat kalosara sebagai simbol penghormatan tertinggi dalam adat istiadat
perkawinanan Tolaki.
Perjalanan sejarah kalosara sebelum ajaran “agama Samawi” masuk di
wilayah Andolaki, mereka menjadikan norma akidah, kemudian diwujudkan sara
atau o’sara sebagai nilai dan norma adat yang harus ditaati. Itulah sebabnya ketika
prosesi adat perkawinan Tolaki yang digelar disaat upacara mowindahako harus
didahulukan pelaksanaannya. Kemudian dilanjutkan upacara pernikahan menurut
syariat Islam yaitu pembacaan akad nikah dan ijab kabul.13
Perkawinan dalam Islam sah apabila ada dua orang saksi dari pihak
keluarga laki-laki dan saksi dari pihak keluarga wanita, maka resmilah Pasutri
membina rumah tangga tersebut. Demikian pula halnya pandangan orang Tolaki,
selain dihadirkan saksi kedua belah pihak keluarga laki-laki dan wanita, belum “sah”
atau belum diakui sebelum digelar perkawinan adat Tolaki. Tujuan digelar adat
13
Abdul Karim, Tokoh Adat merangkap Tokoh Agama suku Tolaki, wawancara, di
Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 21 Oktober 2012.
85
kalosara adalah sebagai norma adat. Setelah itu wajib pula penyerahan “popolo”
membayar mas kawin, dilanjutkan acara “tekonggo” yang artinya menggelar pesta
besar atau kecil sebagai pengakuan masyarakat luas bahwa perkawinan tersebut
resmi atau sah menurut perkawinan adat Tolaki. Jika ada anggota masyarakat Tolaki
melakukan perkawinan diluar adat “kalosara”, maka mereka termasuk melanggar
sanksi.
Penghargaan kalo sebagai simbol tertinggi yang sudah lama dijunjung
masyarakat suku Tolaki dan telah menjadi sesuatu benda yang keramat dan perlu
dijaga serta dilestarikan. Hal ini karena adanya keterkaitan erat antara kalo dan
sistem yang mengatur kehidupan suku Tolaki yaitu mencakup seluruh perwujudan
adat istiadat, mulai dari sistem kehidupan sosial hingga ekonomi yang bercorak
tradisional, sistem budaya yang mencakup bahasa, seni, keagamaan, hingga sampai
pada sistem pengkonsepsian untuk memandang manusia dalam kaitan eratnya
dengan alam semesta.
3. Prosedur dan Tata Cara Menggelar Upacara Adat Perkawinan Tolaki
Prosedur dan tata cara di sini adalah penggunaan benda adat kalo dalam
upacara adat perkawinan Tolaki. Perannya kedua perangkat adat “tolea” dan
“pabitara”, Posisi mereka mulai berperan sebagai “sutradara” mengatur jalannya
“mombesara”, menegakkan hukum adat “selewatano” atau “tetenggona osara”
artinya sesuai urutan-urutan adat yang harus ditempuh, seperti apa dan bagaimana
tata cara upacara “mohindahako” yang diperankan kedua perangkat adat tersebut.
Mereka harus tampil sukses membawa missi, tanggung jawab yang terletak
dipundak mereka, seperti kemampuan “negosiasi”, cara duduk, pakaian yang
86
digunakan, teknik berkomunikasi. Semua ini harus dikuasai secara baik, sebelum
maupun sesudah upacara “mowindahako”, sebabnya aturan adat itu sudah baku,
tidak boleh dibolak-balik atau dilangkahi terutama keluar dari koridor aslinya.
Selain itu, yang wajib dipahami adalah “isi adat” disebut “polopo” untuk
ditunaikan pada saat “mowindahako”. Isi adat tersebut harus lengkap tidak boleh
kurang menurut “sara”, karena siap dikenakan denda adat, bahkan bisa ditolak
sidang pemangku adat.
Adapun isi adat yang wajib dipenuhi ada empat (4) pokok adat yakni:
1) “pu’uno kasu” yang artinya isi pokok adat terdiri atas :
a) seekor kerbau,
b) sebuah gong,
c) emas perhiasan perempuan dan
d) satu ukuran kain kaci (100 meter)
Sedangkan tiga lainnya, dapat disubtitusi dua puluh lima ribu rupiah, kain
kaci tetap ditampilkan
2) “Tawano kasu” artinya daunnya 40 buah sarung adat
3) “Ihino popolo” artinya seperangkat alat sholat sebagai mas kawin, serta
biaya pesta
4) “Sara peana” artinya benda-benda adat pakaian perempuan sebagai bentuk
penghargaan orang tua atas pengasuhan sebagai anak.14
14
Ramli, Tokoh Adat Kecamatan Mowila, “vawancara”, di Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan, tanggal 20 Oktober 2012.
87
Seandainya dijumpai tidak terpenuhi benda-benda adat tetapi bukan empat
isi pokok adat itu, maka berlaku semangat kekeluargaan yaitu prinsip “mesambepe
meambo” artinya musyawarah mufakat melalui kalosara sebagaimana jati diri dan
karakter suku bangsa Tolaki. Kalosara yaitu “nggo mokonggadui o’sara” artinya
semua “perlakuan” itu yang “menggenapkan” adalah adat atau o’sara. Upacara adat
perkawinan yang lainnya sering dijumpai dalam masyarakat Tolaki. Pada
masyarakat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan terdapat sistem adat yang disebut
perkawinan “morumbadoleesi” yang artinya melaksanakan dua macam acara dalam
waktu bersamaan yakni acara “mendutudu” dan acara “mondongo niwule”.
Perkawinan “morumbadoleaha” yakni melaksanakan tiga macam acara dalam waktu
yang bersamaan yaitu acara (1) “mondutudu, (2) mondongoniwule dan (3)
mowindahako”. Di sinilah adat perkawinan Tolaki dapat mengikuti perkembangan
zaman. Jika 5 tahapan dapat dilakukan disaat “mowindahako” waktu bersamaan 4
tahapan tersebut.15
Berdasarkan pelaksanaan perkawinan adat Tolaki tersebut telah tergolong
sebagai adat perkawinan yang telah mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan
teknologi informasi komunikasi bahwa “mowindahako” orang Tolaki itu, semua bisa
diatur asal isi pokoknya adat wajib dipenuhi. Di sinilah peranan tolea sebagai
“negosiator”. Boleh jadi popolo bisa ringan, berlaku asas musyawarah mufakat
kedua belah pihak, terutama bila pihak keluarga perempuan memahami “siapa”
calon mantu tersebut? Menurut pandangan orang Tolaki, ketika “mowada popolo”
15
A. Hamid Hasan, Tokoh Adat Kecamatan Landono, “wawancara”, di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 19 Oktober 2012.
88
tidak mengenal “meoli o’ana” yang artinya membebani pihak keluarga pria dengan
membayar biaya popolo.
4. Perempuan Yang Pantang Dijadikan Istri
Hampir semua suku-suku bangsa yang ada di belahan dunia memiliki
“perkawinan terlarang”? Suku-suku bangsa di Indonesia, sangat memahami masalah
“incestabu”, maksudnya jika terjadi perkawinan “terlarang” akan mendapat kutukan
atau dosa berjamaah dari orang tua, membawa aib keluarga, bahkan merusak nama
baik sekampung. Perkawinan terlarang yaitu (1) Kawin dengan ibu kandung atau ibu
tiri, (2) Kawin dengan anak kandung atau anak tiri, (3) Kawin dengan bibi kandung,
(4) Kawin dengan saudara kandung.16
Kecuali yang sering dilanggar seperti “mosoro rongo” (kawin dengan
saudara isteri yang telah meninggal) atau levirate dan sekorat. Adat perkawinan
“tumutada” artinya kawin dengan saudara kandung ipar perempuan. Kawin silang,
kawin dengan janda mertua atau janda menantu atau janda anak kandung. Ketika
terjadi pelanggaran kawin “tumutada” misalnya yaitu kawin dengan saudara
kandung istri dan semacamnya. Pada jaman tempo dulu sebelum masuk ajaran
agama masih dapat ditolerir, namun resikonya harus dicerai istri pertama. Kemudian
jika terdapat atas pelanggaran perkawinan “incestabu”, maka wajib diadakan suatu
upacara adat “mosehe” yang artinya penyucian diri dan juga menolak bala atas
pelanggaran perkawinan “musibah” tersebut.17
16
Dahlan, Tokoh Agama Kecamatan Landono, “wawancara” di Kediamannya Desa Arongo
Kecamatan Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 21 Oktober 2012.
17
Rajawali, Tokoh Adat Mowila, “wawancara”, di Kecamatan Mowila, tanggal 22 Oktober
2012.
89
Khusus pelanggaran perkawinan terlarang yang sangat memalukan itu
seperti pada (1) Kawin dengan ibu kandung atau ibu tiri, (2) Kawin dengan anak
kandung atau anak tiri, (3) Kawin dengan bibi kandung, (4) Kawin dengan saudara
kandung, tidak ada ampun bagi pelakunya. Mereka harus “dibunuh” secara diamdiam atau dibuang dari kampung atau masyarakat. Namun jaman sekarang
diserahkan kepada hukum positif atau aparat penegak hukum.
Adapun perempuan yang paling ideal untuk dijadikan calon istri adalah
sepupu satu kali, sepupu dua kali, tiga kali, yang sering disebut kawin “mekaputi”
artinya ikat-mengikat dan lawannya kawin dengan orang lain. Hal yang melatar
belakangi perkawinan “mekaputi”. Kata mereka agar harta kekayaan tidak jatuh
pada pihak lain dilingkungan luas, agar potensi dan integritas keluarga asal dari satu
nenek moyang mereka tetap terbina dan dipertahankan.18
Ketika anggota masyarakat melangkahi upacara adat perkawinan Tolaki,
maka ada lima “model” perkawinan tidak normal baik bagi laki-laki bujangan
maupun anak gadis Tolaki, baik dahulu kala maupun dewasa ini masih tetap
dikategorikan “melanggar” hukum adat perkawinan. (1) Kawin lari atau silariang (2)
Kawin sudah hamil diluar nikah (3) Kawin rampas disebut “mombolasuako luale (4)
Kawin dilaporkan kepada orang tuanya karena sesuatu hal (5) Kawin tertangkap
basah ketika sedang indehoi atau berhubungan seks.19
18
Ramli, Tokoh Adat Kecamatan Mowila, “vawancara”, di Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan, tanggal 20 Oktober 2012.
19
A. Hamid Hasan, Tokoh Adat Kecamatan Landono, “wawancara”, di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 19 Oktober 2012.
90
Dari semua perilaku kawin tidak normal tersebut, tidak bisa ditolerir harus
diselesaikan secara adat. Adapun cara penyelesaian adat tersebut, melalui upacara
“mesokei” artinya datang “membentengi” untuk suatu upaya membujuk pihak
keluarga perempuan yang dipermalukan itu dengan membayar sejumlah ganti rugi.
Di sini wajib pula menggelar kalosara, tujuannya mencegah perselisihan yang bisa
berujung pada pertikaian diantara mereka.
Berikut ini ditampilkan salah satu contoh kasus perkawinan resmi atau
normal, namun belum dilaksanakan upacara perkawinan adat Tolaki, misalnya kasus
pasutri (pasangan suami-isteri) ketika “melangkahi” upacara adat perkawinan
Tolaki. Mungkin pasutri tersebut tidak tahan lagi ingin cepat berumah tangga? Hal
ini diketahui ketika menikah lewat KUA. Bahkan telah memiliki “buah hati” kini
duduk dibangku SD. Namun belum “dihadapkan” tokoh adat “puutobu” dan “toono
motuo” untuk ditangani tolea-pabitara yang digelar oleh adat “kalosara”. Pasturi
tersebut tetap melaksanakan tahapan-tahapan perkawinan adat Tolaki dengan
menggelar acara “mowindahan”.
Selanjutnya tujuan pelaksanaan adat perkawinan tersebut adalah dalam
mengukuhkan kedudukan “masyarakat hukum adat” sebagai sebuah karakter dan
prinsip adat suku bangsa. Kemudian dikaitkan dalam penerapan hukum adat Tolaki
yang selalu ditaati anggota masyarakat yaitu sebagaimana terurai dalam falsafah
puitis Tolaki, “inae kona sara iyeto pinesara inae lia sara iyeto pinekasara”. Artinya
siapa yang menghargai adat, dia akan dihormati, siapa yang tidak menghargai adat,
dia tidak akan dihormati.
91
Berdasarkan seluruh hasil penelitian tersebut, maka dapat dikemukakan
bahwa ketika berbicara prosedur dan tata cata menggelar upacara adat perkawinan
Tolaki, muncul pertanyaan dikalangan masyarakat awam. Keberadaan “upacara adat
perkawinan Tolaki” dewasa ini? Kenyataan memang di sana-sini mengalami
“pergeseran nilai” atas tuntutan perkembangan zaman serta dinamika masyarakat,
namun tidak keluar dari koridor aslinya.
Jika diamati seksama atas tinjauan perspektif upacara adat perkawinan
Tolaki secara kontekstual tampaknya mampu “menyesuaikan” kondisi dan
perkembangan serta tuntutan masyarakat dewasa ini. Dalam hal ini, kedudukan dan
fungsi kalosara mampu “menyemangati” prinsip “mesambepe meambo” yang artinya
berlaku asas musyawarah mufakat dalam hal menaati koridor adat istiadat Tolaki.
Dalam pelaksanaan perkawinan adat Tolaki ada beberapatahapan-tahapan yang perlu
dilakukan sebagai berikut:
1. Rencana Pengajuan Lamaran
Sebelum memasuki pengajuan lamaran ada proses yang harus dilalui, salah
satunya adalah metiro (mediator), yakni orang yang bertugas mencari informasi
tentang gadis yang akan menjadi bakal calon mantu, dengan cara sebagai berikut:
a. Orang tua pria langsung mengutus seseorang secara rahasia ke rumah orang tua
perempuan yang akan dijadikan sasaran dengan memperhatikan posisi yang tepat
(papasa dan wowai meambo) terutama anak gadis yang menjadi idaman. Bila
posisi atau wowai yang diharapkan sudah sesuai maka ada tindakan utusan pihak
laki-laki melamar secara rahasia dengan monggolupe, artinya meninggalkan alat
rias remaja putri secara rahasia, bila dalam waktu 4 x 24 jam tidak kembali
92
sinyal tersebut menandakan lamaran rahasia diterima dan dapat dilanjutkan
proses pelamaran terbuka. Akan tetapi bilamana ditolak, maka segera pula
pengembalian seperangkat alat rias remaja putri ke alamatnya dalam waktu 1 x
24 jam dilakukan pihak keluarga si gadis.
b. Dengan mondutudu artinya mencoba mengajukan lamaran terbatas dengan
menggunakan kalo dan satu bungkus sirih segar ikatan pembungkusnya hanya
satu kali dan satu lembar kain sarung sebagai pengikatnya. Setelah 8 x 24 jam
tidak kembali, maka dapat mengajukan lamaran terbuka, dan bila tidak diterima
dalam waktu 1 x 24 jam harus dikembalikan satu bungkus sirih dan satu lembar
kain sarung serta ditambahkan satu lembar sarung sebagai imbalan penolakannya
ke alamat yang mengajukan. Maknanya adalah untuk menjaga rasa malu orang
tua laki-laki agar hubungan kekeluargaan tetap harmonis dan atas wujud ucapan
terima kasih orang tua perempuan atas perhatian kepada puterinya.20
2. Tahap pengajuan lamaran
Untuk mengajukan lamaran, hal yang perlu dilakukan adalah sebagai
berikut:
a. Tahap persiapan
Orang tua laki-laki menghubungi atau mengundang juru bicara (tolea
pabitara) untuk mempersiapkan pelaksanaan pengajuan lamaran dan menanyakan
perlengkapan adat apa saja yang harus dipersiapkan orang tua laki-laki.
Perlengkapan yang perlu dipersiapkan adalah: juru bicara pihak laki-laki yang
20
Muh.Yunus, Tokoh Adat Landono, “wawancara”, di Kecamatan Landowo Kabupaten
Konawe Selatan, Tanggal 21 Oktober 2012.
93
terampil, kalo itulah sesuai status adat pihak perempuan, wadah yang berisi satu biji
pinang hijau/oranye, daun sirih segar tulangnya bertemu di tengah-tengah kiri kanan
satu lembar, tempat sirih, pinang, kapur/gambir dan rokok. Pihak orang tua laki-laki
mengutus wakilnya untuk membicarakan waktu kedatangan pihak keluarga laki-laki
untuk melamar.21
b. Tahap pelaksanaan
Proses pengajuan lamaran pihak laki-laki harus memahami status adat
pihak perempuan yang akan dilamar. Hal ini diperlukan agar dapat dengan mudah
menentukan mas kawin. Untuk melakukan pelamaran, juru bicara dari pihak pria
terlebih dahulu menoleh ke kiri dan ke kanan sebagai ungkapan memohon izin untuk
memulai acara peminangan dan dijawab juru bicara perempuan atau penghulu untuk
segera dimulai saja.22
Selanjutnya pembicara memindahkan kalonya dari samping kanan kedepan
berhadap-hadapan dengan tolea dan bergeser kehadapan puutabo atau kepala
pemerintahan setempat untuk memohon izin memulai acara pelamaran. Setelah hal
itu dilakukan, maka selanjutnya pembicara dari pihak pria berbicara dengan untaian
kata-kata yang halus dan spesifik untuk menjelaskan maksud kehadiran pihak pria
secara formal. Pembicara dari pihak perempuan mendengarkan dengan seksama
kalimat demi kalimat yang dituturkan pembicara pehak pria dan membalasnya
21
Abdul Karim, Tokoh Adat merangkap Tokoh Agama suku Tolaki, wawancara, di
Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 21 Oktober 2012.
22
Ramli, Tokoh Adat Kecamatan Mowila, “vawancara”, di Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan, tanggal 20 Oktober 2012.
94
dengan bahasa yang halus pula diiringi ungkapan yang isinya dapat diterima
pengajuan lamaran tersebut.
Setelah lamaran diterima, selanjutnya pihak laki-laki menanyakan berapa
beban adat yang akan dipikul serta ongkos pesta perkawinan yang akan ditanggung
untuk merayakan pesta perkawinan.
a) Tahap pertunangan
Pada dasarnya pertunangan berlaku sejak lamaran diterima. Pertunangan
dilakukan jika perempuan yang dilamar belum cukup umur untuk melakukan
perkawinan sehingga harus menunggu sampai dewasa. Pihak pria atau calon suami
perlu melakukan sosialisasi guna memberikan nafkah kepada sang istri kelak,
sehingga dia lebih dahulu harus mengabdi kepada orang tua perempuan.23
b) Tahap perkawinan (mowindahako)
Mowindahako dapat diterjemahkan pesta perkawinan yang dilakukan
setelah tiba hari yang telah disepakati, maka diantarlah pengantin laki-laki ke
tempat upacara perkawinan dengan usungan (sinamba ulu) atau kendaraan lain.24
Rombongan pengantin laki-laki dalam memasuki ruang upacara utama,
pintu pagar, pintu utama, pintu kamar tidur, pembuka kelambu dan mata pengantin
perempuan masih tertutup. Untuk membuka hal-hal tersebut diatas, maka pihak lakilaki harus menebusnya sesuai dengan kesepakatan dengan masing-masing penjaga.
Hal ini dimaksudkan agar memeriahkan acara perkawinan, serta sebagai simbol
23
A. Hamid Hasan, Tokoh Adat Kecamatan Landono, “wawancara”, di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 19 Oktober 2012.
24
Abdurrauf Tarimana, Tokoh Agama sekaligus Tokoh Adat, wawancara, di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 25 Oktober 2012.
95
ketulusan dari pihak laki-laki. Pada saat upacara perkawinan ini dimulai semua
kesepakatan peminangan harus dipenuhi serta ditampilkan secara transparan di
depan masing-masing juru bicara, puutabo (pemerintah), serta para undangan.
Setelah hal-hal tersebut dilakukan, kedua mempelai duduk bersila dan siap
mengikuti upacara adat mowindahako. Acara perkawinan ini dilakukan dengan cara
juru bicara pihak laki-laki menyesuaikan duduknya dengan mengarahkan kalonya
kehadapan puutobu (pemerintah) setempat dan maju maksimal empat kali sampai
berhadapan langsung dengan penerima kalo sebagai permohonan izin untuk memulai
upacara adat. Dalam prosesi ini, juru bicara pihak laki-laki mengucapkan salam
kepada Puutobu atau pemerintah setempat serta menyampaikan maksud kehadiran
yang kemudian dijawab oleh Puutobu atau pemerintah tersebut. Setelah itu
penerima Kalo mengembalikan kepada juru bicara. Kemudian juru bicara laki-laki
mohon diri untuk kembali ketempat semula dan berhadap-hadapan dengan juru
bicara dari pihak perempuan.
Acara berikutnya juru bicara laki-laki mengarahkan kehadapan juru bicara
perempuan dengan meletakkan Kalo untuk melanjutkan acara Mowindahako.
Bersamaan itu pula di sebelah kanan juru bicara laki-laki disuguhkan salopa tempat
sirih, pinang, rokok atau tembakau oleh masing-masing ibu yang ditugaskan untuk
Mosoro niwule. Setelah kedua petugas Mosoro niwule menyodorkan salopa maka
juru bicara laki-laki membuka kesunyian dengan mengucapkan salam dan dijawab
oleh yang mendengarkan.
Akhir acara atau penutup dilakukan moheu osara atau pengukuhan adat.
Makna dari acara ini adalah agar dalam melaksanakan tugasnya, juru bicara harus
96
berlaku adil dan jujur serta sehat sepanjang hidupnya, bila sebaliknya akan terkena
sanksinya dan mendoakan kedua rumpun keluarga mempelai agar hidup rukun,
damai, bahagia, sehat, beriman, bertakwa kepada tuhan, dimurahkan rezekinya,
melahirkan keturunan saleh, sehat, berilmu, dan beriman sampai akhir hayat.
Kemudian dilanjutkan dengan saling menyuguhkan minuman sebagai pertanda
upacara perkawinan telah selesai.
Setelah acara adat selesai, selanjutnya dilakukan akad nikah oleh wali yang
disaksikan oleh Pegawai Pencatat Nikan (PPN) yang didahului penyerahan
perwalian dari orang tua perempuan kepada imam (pemuka agama Islam) yang akan
menikahkan. Tahapan berikutnya adalah membawa pengantin laki-laki ke kamar
pengantin perempuan untuk pembatalan wudhu. Dalam acara pembatalan wudhu,
jempol kanan pengantin laki-laki ditempelkan diantara kedua kening atau di bawah
tenggorokan pengantin perempuan.
Acara selanjutnya, kedua pengantin keluar kamar menuju kedua orang tua
untuk melaksanakan meanamotuo atau sembah sujud sebagai tanda syukur dan
hormat kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan memelihara mereka.
Setelah itu dilakukan acara resepsi dan hiburan yang diisi dengan tarian lulo. Pada
zaman dahulu tarian ini dilakukan pada upacara-upacara adat seperti pernikahan,
pesta panen raya dan upacara pelantikan raja, yang diiringi oleh alat musik pukul
yaitu gong. Tarian ini dilakukan oleh pria, dan yang terpenting dari semua itu adalah
arti dari Tarian Lulo sendiri, yang mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah
masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam
menjalani kehidupannya.
97
Demikianlah keterangan tentang prosesi pernikahan adat suku tolaki,
semoga keterangan tersebut dapat bermanfaat bagi pihak yang peduli pada suku
Tolaki khususnya yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai prosesi pernikahan
adat suku Tolaki.
C. Kendala yang Dihadapi dalam Memadukan Adat Perkawinan Suku Tolaki
dengan Hukum Islam di Kabupaten Konawe Selatan
Sebenarnya tujuan perkawinan menurut syariat Islam tidak jauh beda
dengan tujuan perkawinan menurut Undang-Undang RI Nomor1 Tahun 1974, samasama menekankan aspek kebahagiaan. Hanya saja dalam syariat Islam, tujuan
perkawinan lebih didasarkan pada aspek ketentraman, kasih sayang, dan saling
mencintai. Hal ini dapat dilihat pada pasal (3) tentang dasar-dasar perkawinan di
dalam Kompilasi Hukum Islam, yaitu “perkawinan bertujuan untuk mewujudkan
kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah”.
Untuk mencapai tujuan perkawinan sebagaimana tersirat dalam KHI, tentu
tidak semudah dengan apa yang dibayangkan, karena beberapa hambatan atau
rintangan sehingga perkawinan yang tujuannya mulia itu menjadi terhambat oleh
beberapa faktor. Menurut A. Hamid Hasan ketika dikonfirmasi menuturkan
perkawinan suku Tolaki pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan suku-suku lain,
yakni berupa status sosial, ekonomi keluarga, dan faktor keturunan ningrat.25
1. Hambatan ekonomi
25
A. Hamid Hasan, Tokoh Adat Kecamatan Landono, “wawancara”, di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 19 Oktober 2012.
98
Kehidupan masyarakat bangsa Tolaki terdapat bermacam-macam mata
pencarian yang beragam dan berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Mata
pencarian tersebut menunjukkan status ekonomi sosial dalam masyarakat tersebut.
Hal ini dapat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, tanpa kecuali dalam hal
pelaksanaan perkawinan.
Keadaan ekonomi lemah kadang-kadang membuat seseorang memilih
melaksanakan perkawinan di bawah tangan yang dianggap praktis dan murah tanpa
harus mengeluarkan biaya yang banyak untuk melaksanakannya. Pelaksanaan
perkawinan adat bagi masyarakat Tolaki di Konawe Selatan ini, memang
membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga bagi masyarakat yang berekonomi
lemah memilih nikah di bawah tangan meskipun hal tersebut tidak sah menurut
pasal 2 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.
Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa terdapat
7 pasangan yang pelaksanaan pencatatannya di KUA kecamatan juga tidak
terlaksana pencatatannya dikarenakan oleh hambatan ekonomi keluarga. Mata
pencarian yang tidak tetap atau serabutan tersebut dianggap tidak mampu memenuhi
kebutuhannya sehari–hari, sehingga membuat pelaksanaan pencatatan perkawinan
di KUA kecamatan dan perkawinan adat juga tidak terlaksana.26
Biaya pencatatan perkawinan di KUA kecamatan yang dianggap mahal dan
tidak ada biaya untuk melakukan pencatatan perkawinan di KUA, membuat
sebagian masyarakat untuk memilih melaksanakan perkawinan di bawah tangan dan
juga dilaksanakan tanpa adat atau pesta perkawinan. Oleh karena itu, hal yang
26
Sumber: Kantor KUA Kecamatan Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 15
Oktober 2012.
99
dianggap lebih meringankan beban mereka adalah melakukan perkawinan di bawah
tangan atau sirri’.27
Hal tersebut menguatkan bahwa penghasilan yang minim berdampak pada
tidak tercatatnya pelaksanaan perkawinan di KUA kecamatan, Dengan demikian,
dapat diketahui bahwa ekonomi dapat mempengaruhi pelaksanaan pencatatan
perkawinan,sehingga menginspirasi mereka melakukan pernikahan di bawah tangan.
Hal ini dapat dikuatkan sesuai hasil wawancara dengan informan bahwa ada
beberapa pasutri di tengah masyarakat yang telah melakukan perkawinan di bawah
tangan dan tidak tercatat di KUA kecamatan karena tidak ada biaya untuk
melakukan pernikahan secara wajar dikarenakan tidak adanya biaya nikah.28
2. Hambatan Adat dan Budaya
Adat dan budaya sudah ada sejak dahulu bagi masyarakat suku bangsa
Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan dan berlangsung secara terus menerus dari
nenek moyang sampai keturunannya. Begitu pula dengan adat perkawinan yang
sudah ada sejak duhulu dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke
generasi. Adat dan budaya suatu perkawinan yang dilakukan secara siri’
atau
perkawinan di bawah tangan sudah ada sejak dulu dan masih terjadi di dalam
masyarakat suku Tolaki di Konawe Selatan. Sejak lama sudah ada perkawinan di
bawah tangan atau nikah siri’ namun menurut mereka perkawinan tersebut sudah
27
A. Hamid Hasan, Tokoh Adat Kecamatan Landono, “wawancara”, di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 19 Oktober 2012.
28
Sumber: Kantor KUA Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 25
Oktober 2012.
100
dianggap sah menurut agama sehingga pelaksanaan pencatatan perkawinan di KUA
kecamatan tidak terlalu penting.29
Berdasarkan hasil wawancara itu dapat diketahui bahwa yang menjadi
penghambat terlaksananya pencatatan perkawinan di KUA antara lain aspek
ekonomi keluarga serta adat dan budaya. Oleh karena itu, mereka mengutamakan
perkawinan di bawah tangan dibanding dengan perkawinan yang dicatat oleh
Pegawai Pencatatan Nikan di KUA kecamatan.
3. Hambatan karena dijodohkan orang tua
Orang tua adalah orang yang melahirkan, merawat dan mendidik seseorang
sampai dewasa. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya
sehingga dalam kehidupan pribadi anak, orang tua sering juga ikut berperan serta.
Begitu juga dalam hal memilih pendamping hidup buat anaknya, di dalam
masyarakat suku banga Tolaki di Konawe Selatan masih ada orang tua yang
melakukan perjodohan terhadap anaknya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden ditemukan bahwa
masyarakat suku bangsa Tolaki yang pelaksanaan pencatatannya di KUA kecamatan
tidak terlaksana dikarenakan oleh hambatan karena dijodohkan orang tua. Karena
sudah bertunangan untuk menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan maka
dilaksanakan perkawinan di bawah tangan atau nikah siri’ guna menghindari zina.30
29
Ramli, Tokoh Adat Kecamatan Mowila, “vawancara”, di Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan, tanggal 20 Oktober 2012.
30
Abdul Karim, Tokoh Adat merangkap Tokoh Agama suku Tolaki, wawancara, di
Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 21 Oktober 2012.
101
Untuk
mendapatkan
kepastian
suatu
hubungan
perjodohan
maka
dilaksanakan perkawinan di bawah tangan lebih dahulu. Pertunangan dianggap
belum cukup untuk mengikatkan suatu hubungan maka pihak orang tua melakukan
pelaksanaan perkawinan di bawah tangan atau nikah sirri’ terhadap anaknya.31
Dari wawancara tersebut dapat diketahui bahwa terdapat hambatan karena
dijodohkan orang tua yang mempengaruhi pelaksanaan pencatatan perkawinan di
bawah tangan tidak terlaksana diantaranya dikarenakan sudah bertunangan untuk
menghindari perbuatan zina bagi anak-anak mereka. Untuk mendapat kepastian
suatu hubungan perjodohan, maka mereka mengadakan perkawinan siri’ atau
perkawinan di bawah tangan.
4. Hambatan Umur
Usia untuk melaksanakan perkawinan yang sah menurut Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu laki-laki harus berumur 19 tahun
dan perempuan 16 tahun perkawinan tersebut dianggap sah oleh peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Tidak semua masyarakat suku bangsa Tolaki
dalam mentaati pelaksaan aturan perundang-undangan tersebut.
Demikian juga
mereka ada yang tidak melaksanakan perkawinan sesuai dengan umur yang telah
ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku tersebut termasuk di
dalam masyarakat suku bangsa Tolaki masih ada yang melakukan perkawinan di
bawah umur atau perkawinan yang dilaksanakan sebelum 19 tahun bagi laki-laki dan
16 tahun bagi wanita.
31
Abdurrauf Tarimana, Tokoh Agama sekaligus Tokoh Adat, wawancara, di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 25 Oktober 2012.
102
Penelusuran peneliti melalui wawancara diperoleh informasi bahwa
pelaksanaan pencatatan perkawinan di KUA tidak terlaksana dikarenakan oleh
hambatan Umur. Perkawinan yang dilaksanakan pada usia 16 tahun pada laki-laki
danwanita 14 tahun membuat pelaksanaan pencatatan perkawinan di KUA tidak
terlaksana karena tidak memenuhi syarat perkawinan yang berlaku.32
Berdasarkan data wawancara tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan
perkawinan berdasarkan perundang-undangan dan adat istiadat sering terkendala,
disebabkan calon mempelai laki-laki dan calon mempelai perempuan keduanya
belum cukup umur. Namun dengan alasan menghindarkan mereka dari perbuatan
zina dalam perspektif hukum Islam dan pelanggaran adat maka orang tua kedua
belah pihak menempuh jalan mengawinkan mereka secara siri’, dengan
mengesampingkan prosesi perkawinan menurut adat dan menurut perundangundangan, karena alasan mereka perkawinan sah menurut agama Islam.
Berdasarkan paparan tersebut dapat diketahui bahwa terdapat hambatan
umur yang memengaruhi pelaksanaan pencatatan perkawinan tidak terlaksana.
Diantaranya dikarenakan perkawinan yang dilaksanakan pada usia dini (usia muda)
yakni usia 16 tahun bagi pria dan 14 tahun bagi perempuan, tidak mendapat
dukungan dari pasal 8 peraturan pemerintah dalam hal ini Peraturan Menteri Agama
RI Nomor 11 tahun 2007 tentang pencatatn perkawinan yaitu dalam pasal 8, tentang
persetujuan dan dispensasi usia nikah akan tetapi peraturan tersebut tidak diketahui
oleh masyarakat pada umumnya sehingga sering terjadi pelaksanaan pencatatan di
KUA terhambat atau tidak terlaksana.
32
Ramli, Tokoh Adat Kecamatan Mowila, “vawancara”, di Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan, tanggal 20 Oktober 2012.
103
Bertolak dari paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi
kendala pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan adalah
faktor ekonomi keluarga, faktor adat dan budaya suku bangsa Tolaki, faktor
dijodohkan orang tua, dan faktor umur.
D. Solusi Mengatasi Kendala yang Dihadapi dalam Memadukan Adat Perkawinan
Suku Tolaki dengan Hukum Islam di Kabupaten Konawe Selatan
Dalam pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan
memiliki berbagai macam kendala yang dihadapi. Apalagi ketika suku Tolaki ingin
melaksanakan pernikahan dangan memadukan antara adat Tolaki dengan hukum
Islam. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti peroleh dari Abdul Karim, dia
mengatakan bahwa salah satu solusi mengatasi kendala yang dihadapi dalam
memadukan adat perkawinan suku Tolaki dengan hukum Islam ialah memberikan
pemahaman kepada warga suku Tolaki khsususnya yang akan mengadakan
perkawinan.33
Terkait dengan hal tersebut Abdul Hamid mengatakan bahwa solusi
mengatasi kendala yang dihadapi dalam memadukan adat perkawinan suku Tolaki
dengan hukum Islam ialah melakukan pendekatan persuasif kepada warga suku
Tolaki untuk memberi kepahamn tentang hakekat pelaksanaan perkawinan yang
sesuai dengan hukum Islam.34
33
Abdul Karim, Toko Adat Suku Tolaki, wawancara, di Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan, tanggal 21 Oktober 2012.
34
Abdul Hamid, Tokoh Agama sekaligus Tokoh Adat, wawancara, di Kecamatan Landono
Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 25 Oktober 2012.
104
Sejalan dengan kedua pendapat di atas, Ramli mengatakan bahwa solusi
mengatasi kendala yang dihadapi dalam memadukan adat perkawinan suku Tolaki
dengan hukum Islam ialah memberikan pemahaman kepada orang tua warga suku
Tolaki, khsusnya yang akan mengadakan perkawinan sehingga ada muncul kemauan
untuk menerima masukan yang diberikannya.35
Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa informan di atas tentang solusi
mengatasi kendala yang dihadapi dalam memadukan adat perkawinan suku Tolaki
dengan hukum Islam maka dapat ditarik suatu konklusi bahwa solusi mengatasi
kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan perkawinan adat Tolaki adalah memberi
pemahaman kepada warga suku Tolaki, melakukan pendekatan persuasif kepada
keluarga, khususnya yang akan melaksanakan perkawinan.
35
Ramli, Tokoh Adat Kecamatan Mowila, “vawancara”, di Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan, tanggal 20 Oktober 2012.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan pada
dasarnya sejalan dengan perkawinan dalam syariat Islam. Adapun yang
sering kontradiksi dalam pelaksanaan perkawinan menurut UndangUndang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan terletak pada adanya
kesan masyarakat Tolaki yang lebih mementingkan perkawinan di bawah
tangan dari pada perkawinan yang tercatat di PPN. Dalam prosesi
perkawinan adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan apabila diurut dari
rangkaian perkawinan adat mereka. Apabila semua pihak dari keluarga
laki-laki telah hadir sekaligus kedua juru bicara yang akan memerankan
tugas adat dalam prosesi pernikahan yang meliputi:
1) Kesiapan benda-benda mas kawin dari pihak laki-laki untuk segera
diserahkan kepada pihak perempuan.
2) Permohonan pihak laki-laki kepada pihak perempuan untuk menerima
mas kawin yang telah diperhadapkan dengan rasa kekeluargaan yang
mendalam.
3) Pernyataan pihak perempuan akan kesungguhan pihak laki-laki dalam
usahanya menyambung tali persaudaraan dan memperluas hubungan
kekeluargaan antara kedua belah pihak dengan jalan perkawinan.
4) Serangkaian ungkapan-ungkapan yang menggambarkan suasana
gembira dan lucu sebagai ungkapan rasa syukur atas lancarnya proses
pelaksanaan pernikahan.
105
106
2. Kendala dalam pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di Kabupaten
Konawe Selatan antara lain faktor ekonomi keluarga, faktor adat dan
budaya suku Tolaki, faktor dijodohkan orang tua, dan faktor umur.
3. Solusi mengatasi kendala dalam pelaksanaan perkawinan adat Tolaki di
Kabupaten Konawe Selatan di antaranya adalah memberi pemahaman
kepada suku Tolaki khususnya yang akan melaksanakan perkawinan adat
Tolaki.
B. Implikasi Penelitian
Dengan memperhatikan secara keseluruhan hasil penelitian tentang
Membedah Pelaksanaan Perkawinan Adat Tolaki di Kabupaten Konawe Selatan
Sulawesi Tenggara Perspektif Hukum Islam, maka terdapat beberapa catatan
penting yang perlu disimak.
Adapun catatan penting yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.
Melalui penelitian ini diharapkan agar masyarakat suku Tolaki khususnya
yang bermukim di Kabupaten Konawe Selatan dapat mengikuti prosesi
perkawinan berdasarkan hukum Islam dengan mengintegrasikannya dengan
nilai-nilai budaya yang memiliki relevansi dengan syari’at Islam.
2.
Agar tesis ini dapat menjadi bahan rujukan dan referensi bagi pelaksanaan
adat perkawinan masyarakat suku Tolaki, sehingga dalam pelaksanaan
perkawinan mereka dapat sejalan dengan hukum Islam, adat istiadat dan
perundang-undangan yang berlaku.
Pada akhirnya peneliti tetap berharap semoga tulisan ini dapat
memberikan manfaat terutama pengembangan diri penelti selanjutnya. Demikian
pula mampu memberikan informasi dan bahan pertimbangan baik kepada pihak
instansi-instansi
pemerintah
dan
kepada
pihak-pihak
yang
bermaksud
107
mengadakan penelitian relevan yakni penelitian terhadap pelaksanaan adat
perkawinan bagi masyarakat suku Tolaki pada umumnya dan khususnya mereka
yang bermukim di Kabupaten Konawe Selatan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Akademika
Pressindo, 1995.
Ahmad bin Faris bin Zakariya’ Abi Al-Husain, Mu’jam Maqayis alLughah, Juz II. Cet. II, Mesir: Musthafa al-Baby al-Halaby wa
Awuladuh, 1390 H/1970 M.
Ahnan, Mahtuf, dan Maria Ulfa, Risalah Fiqih Wanita: Pedoman Ibadah Kaum
Wanita Muslimah dengan Berbagai Permasalahannya. Surabaya: Terbit
Terang, 2000.
Alhamdani, H.S.A. Risalah Nikah, Hukum Perkawinan Islam. Cet. III; Jakarta:
Pustaka Amani, 1989.
Al-San’any, Subul Al-Sal±m, Juz 3. Kairo: Dar Ihya’ al-Turas al-Araby, 1379
H/1980 M..
Al-Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuh. Cet. III; Beirut: D±rt alFikr, 1989.
Arikunto, Suharsini. Prosedur Penelitian. Cet. VII; Jakarta: Reneka Cipta, 2001.
Asdi, Aslam, Pengantar Filsafat Agama (Jakarta: CV. Rajawali, 1986.
Ash-Shabuniy, Muhammad Ali, Rawa’iy Al-Bayan Tafsir Ayi Al-Qur’an,
dialihbahasakan oleh Mu’ammal Hamdy dan Imron A. Manan. Cet.
I Surabaya: Bina Ilmu, 1985.
As-Suyuti, Jalaluddin. Saran Sunan An-Nasai. Beirut, Darul Fikrah, t. th.
Badri, R., Perkawinan Menurut Undang-Undang Perkawinan dan KUHP
Surabaya : CV. Amin, 1985.
Bidara, 0. dan P. Bidara, Hukum Acara Perdata. Cet. II, Jakarta: Pradnya
Paramita, 1987.
Daud, Abu, Sunan Abu Daud, Juz II. Mesir: Babil Halabi wa Auladuh, 1952.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang; Toha Putra,
2000.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Cet. III; Jakarta : Balai Pustaka, 1990.
1108
109
Djamil Latif, HM. Aneka Hukum Perceraian di Indonesia. Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1982.
Fatchurrahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits. Cet. I; Bandung: al-Ma’arif, 1974.
Gazalba, Sidi, Maut Batas Agama dan Kebudayaan. Jakarta: Bulan
Bintang, 1969.
Ghazaly, Abd. Rahman, Fiqh Munakahat. Edisi I: Cet. I; Jakarta: Prenada Media,
2003.
Hadikusuma, Hilman. Hukum Perkawinan Adat. Cet. II; Bandung; Alumni, 1983.
Harahaf, M. Yahya, Kedudukan, Kewenangan dan Acara Peradilan Agama.
Jakarta: PT. Garuda Metropolitan Press, 1989.
Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan al-Musthafa. Jilid 2. Kairo: alMathba’at al-Taziyyah, t. th..
J. Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet. XVII; Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2007.
K. Wantjik Saleh, Hukum Acara Perdata RBg/HIR Cet. IV, Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1981.
Laupe, Darmiati. Adat Perkawinan Masyarakat Bugis di Desa BaraE Kecamatan
Mario Riwawo Kabupaten Soppeng (Tesis) PPs UMI Makassar 2008.
Mahmud Hijazi, Muhammad. At Tafsir al Wadhih, Jilid I, Juz I. Cet, VI: Kairo:
Matba’ah al Istiqlal al Kubra, 1969.
Majid, Suharni. Relevansi Perkawinan Adat Tolaki dan Perkawinan Adat Jawa
dalam Masyarakat Kecamatan Palangga Kabupaten Kendari Ditinjau
dari Segi Hukum Islam. Tesis PPs UMI Makassar, 2001.
Mannan, Abdul. Aneka Masalah Hukum Materiel dalam Praktek Pengadilan
Agama. Jakarta: Pustaka Bangsa Press, 2002.
Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan. PT Rineka Cipta, Jakarta, 2003.
Muh. Bin Ismail Al- Kahlani, Subulus Salam, Semarang; Toha Putra, t. th.
Mukhtar, Kamal, Asas-asas Hukum Perkawinan. Jakarta : PT. Bulan
Bintang, 1974.
Musthafa, Ibrahim, et.al. Mu’jam al-Wasith, Juz I. Theheran: Maktabah alIlmiyah, t.th.
110
Nur, Djaman, Fiqhi Munaqahat, Semarang Bina Utama, 1993.
Palaga, Azhar, Nilai-Nilai Mahar dalam Adat Perkawinan Suku Bugis dan Suku
Tolaki (Analisis Perbandingan). Tesis, PPs UIN Alauddin 2008.
Ramulyo, Mohd. Idris, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis dari Undangundang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Edisi II; Cet. I;
Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Rifai, Muhammad, Terjemahan Klausal Kifayatul Akhyar, Semarang: Toha
Putra, t.th.
Sabiq, Sayyid, Fiqh al-Sunnah Jilid VI, Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Moh.
Thalib, Cet. VII; Bandung: Al-Ma’arif, 1990.
Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1999.
Soekanto, Soerjono. Efektivitas Hukum dan Peranan Sanksi. Cet. I; Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1985.
_______., dan Purnadi Purbacaraka, Aneka Cara Pembedaan Hukum. Bandung:
PT. Citra Aditya, 2009.
Soemiyati,
Ny.,
Hukum
Perkawinan
Islam
dan
Undang-Undang
Perkawinan. Cet. II, Yogyakarta: Liberty, 1986.
Syarifuddin, Amir. Usu>l Fikih. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000.
Thalib Al-Hamdani, Sa’id, Risalatun-Nikah, dialihbahasakan oleh Agus
Salim dengan judul “Hukum Perkawinan Islam ”. Cet. III, Jakarta:
Pustaka Amani, 1989.
Undang-Undang Peradilan Agama, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989.
Jakarta: Grafindo Offset, t.th..
Undang-Undang Perkawinan. Surabaya: Pustaka Tinta Mas, t.th..
W. Arnold, Thomas, The Preaching of Islam, Terjemah oleh A. Nawawi
Rambe, dengan judul “Sejarah Dakwah Islam ”. Jakarta: Wijaya,
1976.
Wahid, Marzuki. dan Rumadi, Fiqh Mazhab Negara, Kritik atas Politik Hukum
Islam di Indonesia. Cet. I; Yogyakarta: LKIS, 2001.
Yahya, Muhtar. dan Fatchurrahman, Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqih Islam
Cet. I; Bandung: al-Ma’arif, t.th.
111
Yunus, Mahmud, Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyelenggara
Penterjemah/Pentafsir Alquran, 1973.
Zakariya, Abu al-Husain Ahmad Ibn Faris Ibn. Mu’jam Maqayis al Lughah,
ditahqiq oleh Syihabuddin Abu Amr, Jilid. V. Cet. I; Bairut: Dar Fikr,
1994.
112
DAFTAR INFORMAN
A. Hamid Hasan, Tokoh Adat Kecamatan Landono, “wawancara”, di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 19 Oktober 2012.
Abdul Karim, Tokoh Adat merangkap Tokoh Agama suku Tolaki, wawancara, di
Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 21 Oktober
2012.
Abdul Hamid S., Tokoh Agama sekaligus Tokoh Adat, wawancara, di
Kecamatan Landono Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 25 Oktober
2012.
Naharuddin, Drs., Kepala Wilayah Kecamatan Landono Kabupaten Konawe
Selatan, wawancara, di Kantor Kecamatan Landono Kabupaten
Konawe Selatan, tanggal 23 Oktober 2012.
Muh.Yunus, Tokoh Adat Landono, “wawancara”, di Kecamatan Landowo
Kabupaten Konawe Selatan, Tanggal 21 Oktober 2012.
Muslimin Suud, Tokoh Adat Tolaki dan Tokoh Agama, wawancara, di
Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 23 Oktober
2012.
Rajawali, Tokoh Adat Mowila, “wawancara”, di Kecamatan Mowila, tanggal 22
Oktober 2012.
Ramli, Tokoh Adat Kecamatan Mowila, “vawancara”, di Kecamatan Mowila
Kabupaten Konawe Selatan, tanggal 20 Oktober 2012.
Syaifullah, SE., M. Si., Kepala Wilayah Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe
Selatan, wawancara, di Kantor Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe
Selatan, tanggal 17 Oktober 2012.
Dahlan, S.PdI ., M.Si., Sekertaris Wilayah Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan, wawancara, di Kantor Kecamatan Mowila Kabupaten
Konawe Selatan, tanggal 18 Oktober 2012
Download