ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL FISIOLOGIS DI BPM Bd

advertisement
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL FISIOLOGIS
DI BPM Bd.ELIS LISMAYANI, SST.,SKM.,MM.
KABUPATEN CIAMIS
LAPORAN TUGAS AKHIR
Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Mencapai
Gelar Ahli Madya Kebidanan
Oleh :
NITA SARTIKA
NIM. 13DB277072
PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH CIAMIS
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Word Health Organisasion (WHO) menyatakan sebanyak 536.000
perempuan meninggal akibat kehamilan, persalinan, dan masa nifas.
Sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah kehamilan, persalinan
atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu
di negara-negara berkembang merupakan tertinggi dengan 450 kematian
ibu per 100.000 kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio
kematian ibu di 9 negara maju dan 51 negara persemakmuran (Depkes,
RI, 2009).
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
2012, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi sebesar 359 per
100.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan
dengan SDKI tahun 1991, yaitu sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup.
Angka ini sedikit menurun meskipun tidak terlalu signifikan. Target global
MDGs (Millenium Development Goals) ke-5 adalah menurunkan Angka
Kematian Ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun
2015. Mengacu dari kondisi saat ini, potensi untuk mencapai target MDGs
ke-5 untuk menurunkan AKI adalah off track, artinya diperlukan kerja
keras dan sungguh-sungguh untuk mencapainya (Sarwono, 2013).
Jumlah ibu hamil fisiologis pada tahun 2015 di wilayah Kabupaten
Ciamis adalah 18.819 orang atau 92,33%. Sedangkan jumlah kematian
ibu tahun 2015 sebanyak 15 orang, dan bayi sebanyak 176 orang
(Dinkes, 2015).
Kehamilan merupakan fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa
dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung
dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktung 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan
menurut kaleder internasional (Sarwono, 2013).
Kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah (normal)
dan bukan proses patologis, tetapi kondisi normal dapat menjadi
1
2
patologi/abnormal. Menyadari hal tersebut dalam melakukan asuhan tidak
perlu melakukan intervensi-intervensi yang tidak perlu kecuali ada indikasi
(Yuni dkk, 2010).
Menurut MNH (Maternal Neonatal Health) asuhan antenatal atau
yang dikenal antenatal care merupakan prosedur rutin yang dilakukan
oleh petugas dalam membina suatu hubungan dalam proses pelayanan
pada ibu hamil untuk persiapan persalinannya (Yuni dkk, 2010).
Sebagai seorang bidan dalam melakukan asuhan kebidanan
harus berdasarkan prinsip sesuai tugas pokok dan fungsinya agar apa
yang dilakukan tidak melanggar kewenangan atau mal praktik. Ibu hamil
setidaknya harus memeriksakan kehamilannya satu bulan sekali pada
trimester pertama dan trimester kedua, dan dua minggu sekali pada
trimester ketiga (Yuni, dkk 2010).
Pelayanan asuhan antenatal merupakan cara penting untuk
memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi
ibu
dengan
kehamilan
normal.
Ibu
hamil
sebaiknya
dianjurkan
mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak dia merasa
dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Setiap
kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap
saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama
kehamilannya (Sarwono, 2009).
Alloh SWT berfirman dalam Al Quran surat Al-Mu‟minun : 12-14
mengenai proses kehamilan:
3
Artinya:Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari
saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani
(yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu
Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci
Allah, Pencipta yang paling baik. (Q.S. al-Mu’minun [23]: 12–14).
Dari Abu Abdurarahman Abdulah bin Mas‟ud radiallahuanhu
beliau berkata:“Rasulullah shallallahu‟alaihi wa sallam menyampaikan
kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan:
“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaanya diperut ibunya
sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah
menjadi setetes darah selmaa empat puluh hari, kemudian menjadi
segumpal daging selama empat puluh hari, kemudian diutus kepadanya
seorang malaikat lalu ditiupkan padanya roh dan dia diperintahkan untuk
menetapkan empat perkara, menetapkan rezekinya, ajalnya, amalnya dan
celaka atau bahagianya (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadits
yang
menerangkan
“Sesungguhnya salah seorang
tentang
proses
kehamilan:
diantara kalian dipadukan bentuk
ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk
mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pila (40 hari), lalu menjadi
segumpal daging selama itu pula, kemudian Alloh mengutus malaikat
untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat
hal, rizkinya, azalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan
kebahagiannya.‟‟ [Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas‟ud
Radhiyallahu „anhu].
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Haya dkk, di Desa
Wilayah Pegunungan Tengah Jaya Wijaya, Papua pada tahun 2014,
bahwa wanita yang melakukan persalinan oleh bidan adalah yang sering
melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) datang ke posyandu,
beda halnya dengan yang tidak pernah ANC, subjek yang melakukan
ANC
di
Posyandu
5,6
kali
kemungkinan
melahirkan
ditolong
perawat/bidan. Hal ini membuktikan bahwa subjek yang mendapatkan
pemeriksaan ANC oleh bidan dan kunjungan ANC 4 kali memiliki
kemungkinan lebih tinggi untuk melahirkan ditolong oleh perawat/bidan.
4
Manfaat melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, menjaga
kesehatan fisik dan mental ibu serta bayinya dengan pendidikan, nutrisi,
kebersihan
diri,
dan
proses
kelahiran
bayi.
Mendeteksi
dan
menatalaksanakan komplikasi medis, bedah, atau obstetri selama
kehamilan.
Mengembangkan
persiapan
persalinan
serta kesiapan
menghadapi komplikasi. Membantu menyiapkan ibu untuk menyusui
dengan sukses, menjalankan nifas normal dan merawat anak secara fisik,
psikologis dan sosial (Yuni, dkk 2010).
Menurut hasil penelitian yang dilakukan Dian Pratitis di BPS
Ernawati Boyolali dalam jurnalnya, sebanyak 30 orang responden ibu
hamil trimester III berdasarkan umur ibu yang sering melakukan
pemeriksaan kehamilan adalah umur 20-35 tahun 83,3% dan yang paling
sedikit umur lebih dari 35 tahun 6,7%. Ibu hamil yang sering
memeriksakan kehamilan berdasarkan pendidikannya paling sering
dilakukan oleh ibu yang berpendidikan SMA 46,7%, perguruan tinggi
paling sedikit 10%. Pemeriksaan ibu hamil menurut pekerjaannya, ibu
rumah tangga paling sering 76,7%, paling sedikit pekerjaan wiraswasta
23,3%, (Jurnal Tanda Bahaya Kehamilan, 2013).
Menurut Niven (2015) faktor yang mendukung kepatuhan yaitu
pendidikan,
akomodasi,
perubahan model
terapi,
modifikasi
faktor
lingkungan
dan meningkatkan
interaksi
dan
sosial,
profesional
kesehatan dengan pasien. Ketidakpatuhan dapat disebabkan karena
kurangnya pemahaman tentang instruksi, rendahnya kualitas interaksi
tenaga kesehatan dengan pasien, adanya isolasi sosial dan keluarga, dan
keyakinan sikap dan kepribadian yang tidak mendukung.
Pada saat hamil ibu harus makan makanan yang mengandung
nilai gizi bermutu tinggi meskipun tidak berarti makanan yang mahal
harganya. Gizi pada waktu hamil harus ditingkatkan hingga 300 kalori
perhari, ibu hamil harus mengkonsumsi makanan yang mengandung
protein, zat besi, dan minum cukup cairan. Vitamin juga diperlukan untuk
kesehatan ibu dan bayinya. Seringkali ibu hamil malas mengkonsumi
vitamin dengan berbagai alasan.
5
Dari laporan tersebut, maka penulis tertarik mengambil kasus
yang berjudul “Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil Fisiologis di BPM
Bidan Elis Lismayani, SST., SKM., MM. Kabupaten Ciamis”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diambil suatu perumusan
masalah tentang „‟Bagaimana Asuhan Kebidanan pada Ny.E G₁P₀A₀
Hamil 35-36 Minggu di BPM Bd.Elis Lismayani, SST., SKM., MM
Kabupaten Ciamis‟‟.
C. Tujuan Umum
1. Tujuan Umum
Mampu melakukan Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil secara
Komprehensif di BPM Bd. Elis Lismayani, SST., SKM., MM dengan
menggunakan pendekatan manajemen varney dan menggunakan
SOAP.
2. Tujuan khusus
Mampu melakukan pengkajian pada Ny.E G₁P₀A₀ hamil
35-36
minggu di BPM Bd.Elis Lismayani, SST., SKM., MM Kabupaten
Ciamis‟‟.
a. Mampu melakukan pengumpulan
data dasar pada Ny.E
G₁P₀A₀ hamil 35-36 minggu di BPM Bd. Elis Lismayani, SST.,
SKM., MM Kabupaten Ciamis.
b. Mampu melakukan interpretasi data pada Ny.E G₁P₀A₀ hamil
35-36 minggu di BPM Bd. Elis Lismayani, SST., SKM., MM
Kabupaten Ciamis.
c. Mampu merumuskan diagnosa potensial pada Ny.E G₁P₀A₀
hamil 35-36 minggu di BPM Bd. Elis Lismayani, SST., SKM.,
MM Kabupaten Ciamis.
d. Mampu mengidentifikasi tindakan segera pada Ny.E G₁P₀A₀
hamil 35-36 minggu di BPM Bd. Elis Lismayani, SST., SKM.,
MM Kabupaten Ciamis.
e. Mampu menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan
sesuai dengan pengkajian pada Ny.E G₁P₀A₀ hamil 35-36
minggu di BPM Bd. Elis Lismayani, SST., SKM., MM Kabupaten
Ciamis.
6
f.
Mampu
melaksanakan
perencanaan
tindakan
asuhan
kebidanan pada Ny.E G₁P₀A₀ hamil 35-36 minggu di BPM Bd.
Elis Lismayani, SST., SKM., MM Kabupaten Ciamis.
g. Mampu melakukan evaluasi hasil asuhan kebidanan yang
diberikan pada Ny.E G₁P₀A₀ hamil 35-36 minggu di BPM Bd.
Elis Lismayani, SST., SKM., MM Kabupaten Ciamis.
D. Manfaat
1. Secara Teoritis
Diharapkan dapat melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil
fisiologis di BPM Bidan Elis Lismayani, SST., SKM., MM Kabupaten
Ciamis
2. Secara Praktis
a. Bagi Klien
Diharapkan dengan melakukan asuhan kebidanan pada ibu
hamil diharapkan ibu hamil dapat melewati kehamilannya dengan
sehat dan selamat sampai proses persalinan khususnya pada ibu
hamil.
b. Bagi STIKes Muhammadiyah Ciamis
Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi belajar
terhadap materi yang telah diberikan, dan dapat dijadikan sebagai
bahan bacaan serta acuan bagi mahasiswi kebidanan dalam
memberikan asuhan kebidanan.
c. Bagi BPM Bidan Elis Lismayani, SST., SKM., MM
Diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan dan
melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil fisiologis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Kehamilan
1. Definisi
Kehamilan merupakan fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa
dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung
dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan
menurut kaleder internasional. Dikatakan fisiologis bisa ditentukan dari
tanda-tanda vital normal, umur kehamilan sesuai, TFU sesuai dengan
kehamilan, TBJ sesuai dengan kehamilan, DJJ normal, pemeriksaan
laboratorium normal. (Sarwono, 2013).
Kehamilan merupakan proses alami yang akan membuat
perubahan baik fisik maupun psikologis. Perubahan kondisi fisik dan
emosional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap proses
kehamilan yang terjadi. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, di mana
trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15
minggu (minggu ke-13 hingga minggu ke-27), dan trimester ketiga 13
minggu (minggu ke-28 hingga ke-40) (Sarwono, 2013).
Kehamilan merupakan proses alamiah (normal) dan bukan proses
patologis, tetapi kondisi normal dapat menjadi patologi/abnormal.
Menyadari hal tersebut dalam melakukan asuhan tidak perlu melakukan
intervensi-intervensi yang tidak perlu kecuali ada indikasi (Yuni, dkk
2010).
2. Diagnosa kehamilan menurut Yuni, dkk (2010):
Lama kehamilan berlangsung sampai persalinan aterm adalah sekitar
280-300 hari dengan perhitungan sebagai berikut:
a) Usia kehamilan sampai 28 minggu dengan berat janin 1000 gram bila
berakhir disebut keguguran.
b) Usia kehamilan 29 sampai 36 minggu bila terjadi persalinan disebut
prematuritas.
7
8
c) Usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu disebut aterm.
d) Usia kehamilan melebihi 42 minggu disebut kehamilan serotinus
3. Tanda-tanda dugaan hamil adalah:
a.
Amenorhea
Bila seorang wanita dalam masa mampu hamil, mengeluh
terlambat haid, maka pikirkan bahwa dia hamil, meskipun keadaan
stres, obat-obatan, penyakit kronis dapat pula mengakibatkan
terlambat haid.
b.
Mual dan Muntah
Merupakan gejala umum, mulai dari rasa tidak enak sampai
muntah berkepanjangan. Sering di kenal sebagai morning sickness
karena munculnya seringkali pagi hari. Untuk mengatasinya
penderita perlu diberi makanan-makanan yang ringan, mudah
dicerna. Keadaan ini masih dalam batas normal orang hamil, bila
berlebihan dapat pula diberikan obat anti muntah.
c.
Keluhan kencing
Frekuensi kencing bertambah dan sering kencing malam,
disebabkan karena desakan uterus yang membesar dan tarikan
oleh uterus ke kranial.
d.
Perubahan Berat Badan
Pada kehamilan 2-3 bulan sering terjadi penurunan berat
badan, karena nafsu makan menurun dan muntah-muntah. Pada
bulan selanjutnya berat badan akan selalu meningkat sampai stabil
menjelang aterm.
e.
Perubahan Warna Kulit
Perubahan ini antara lain chloasma yakni warna kulit yang
kehitam-hitaman pada dahi, punggung hidung dan kulit daerah
tulang pipi, terutama pada wanita dengan warna kulit tua. Biasanya
muncul setelah kehamilan 16 minggu. Pada daerah areola dan
puting payudara, warna kulit menjadi lebih hitam. Perubahan ini
disebabkan oleh stimulasi MSH (Metanocyte Stimulating Hormone).
f.
Perubahan Payudara
Akibat stimulasi prolaktin dan HPL, payudara mensekresi kolustrom,
biasanya setelah kehamilan lebih dari 16 minggu.
9
g.
Perubahan pada Uterus
Uterus mengalami perubahan pada ukuran, bentuk dan konsistensi.
Uterus berubah menjadi lunak, bentuknya globular.
4. Tanda pasti kehamilan:
a. Gerakan janin dalam rahim
b. Denyut jantung janin (DJJ)
Dapat didengar dengan stetoskop laenec pada minggu 17-18.
Dengan stetoskope ultrasonik (doppler), DJJ dapat didengarkan lebih
awal lagi, sekitar minggu ke-12.
c. Palpasi
Yang harus ditentukan adalah outline janin. Biasanya menjadi jelas
seteah minggu ke-22. Gerakan janin dapat dirasakan dengan jelas
setelah minggu 24.
5.
Perubahan fisik dan psikologi
a. Perubahan fisiologis ibu hamil
1)
Rahim atau uterus
Rahim yang besarnya sejempol atau beratnya 30 gram
akan menjadi 1000 gram saat akhir kehamilan. Menurut
Kusumawati (2008), dengan jalan mengukur tinggi fundus
uteri dari simfisis maka diperoleh, usia kehamilan 22-28
minggu : 24-26 cm, 28 minggu : 26,7 cm, 30 minggu : 29-30
cm, 32 minggu : 29,5-30 cm, 34 minggu : 30 cm, 36 minggu :
32 cm, 38 minggu : 33 cm, 40 minggu : 37,7 cm.
2)
Vagina
Vagina dan vulva akan mengalami peningkatan pembuluh
darah karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin
merah dan kebiruan.
3)
Ovarium
Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung
korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya
sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada umur
kehamilan 16 minggu.
4)
Payudara
10
Payudara menjadi lebih besar, glandula montgomery makin
tampak, areola payudara makin hiperpigmentasi (menghitam),
puting susu makin menonjol.
5)
Sirkulasi darah
Sel darah makin meningkat jumlahnya untuk mengimbangi
pertumbuhan janin dalam rahim. Serum darah (volume darah)
meningkat sebesar 25-30% sedangkan sel darah bertambah
sekitar 20%
6)
Berat badan ibu hamil bertambah
Berat badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5 sampai
16,5 kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan
sekitar 0,5 kg/minggu.
b.
Perubahan psikologis menurut Dewi dan Sunarsih (2011):
a.
Perubahan Psikologis Trimester I
Segera setelah konsepsi kadar hormon estrogen dan
progesterone kehamilan akan meningkat dan ini akan
menyebabkan timbulnya mual dan muntah pada pagi hari,
lemah, lelah dan menyebabkan membesarnya payudara. Ibu
merasa tidak sehat dan seringkali membenci kehamilannya.
Banyak
ibu
yang
merasakan
kekecewaan,
penolakan,
kecemasan dan kesedihan. Seringkali biasanya pada awal
kehamilannya ibu berharap untuk tidak hamil.
Pada trimester pertama seorang ibu akan selalu
mencari tanda-tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya
memang hamil. Setiap perubahan yang terjadi pada tubuhnya
akan selalu diperhatikan dengan seksama, karena perutnya
masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang
tidak mungkin diberitahukannya pada orang lain atau
dirahasiakannya.
b. Perubahan Psikologis Trimester II
Trimester kedua biasanya adalah saat ibu merasa
sehat. Tubuh ibu sudah mulai terbiasa dengan kadar hormon
yang lebih tinggi dan rasa tidak nyaman karena hamil sudah
11
berkurang. Perut ibu belum terlalu besar sehingga belum
dirahasiakan sebagai beban.
Ibu sudah menerima kehamilannya dan mulai dapat
menggunakan energi dan pikirannya secara lebih konstruktif.
Pada trimester ini pula ibu dapat merasakan gerakan bayinya
dan ibu mulai merasakan kehadiran bayinya bagi bagi
seorang diluar dari dirinya sendiri. Banyak ibu yang merasa
terlepas dari rasa kecemasan, rasa tidak nyaman seperti yang
dirasakannya
pada
trimester
pertama
dan
merasakan
meningkatnya libido.
c. Perubahan Psikologis Trimester III
Trimester ketiga sering kali disebut periode menunggu
dan waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar
menunggu kelahiran bayinya. Seorang ibu mungkin mulai
merasakan takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan
timbul pada waktu melahirkan. Rasa ketidaknyamanan
trimester III seperti sakit punggung, konstipasi, gangguan
pernafasan, sering buang air kecil, insomnia, bengkak dan
kram kaki akibat kehamilan yang semakin membesar timbul
kembali dan banyak ibu yang merasa didirinya aneh dan jelek.
Disamping itu ibu mulai merasa sedih karena akan
berpisah dengan bayinya dan kehilangan perhatian khusus
yang yang diterima selama hamil. Pada trimester III inilah ibu
memerlukan asuhan dan dukungan petugas kesehatan, suami
dan keluarga yang memberikan bimbingan dan konseling.
6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehamilan
Menurut Romauli (2011), Ada tiga faktor yang mempengaruhi kehamilan
yaitu faktor fisik, psikologis, dan faktor sosial budaya dan ekonomi.
a.
Faktor Fisik
Seorang ibu hamil dipengaruhi oleh status kesehatan dan status gizi
tersebut. Status kesehatan dapat diketahui dengn memeriksakan diri
dan kehamilannya ke pelayanan kesehatan terdekat, puskesmas, rumah
bersalin atau poliklinik kebidanan. Selain itu status gizi ibu hamil juga
merupakan hal yang sangat berpengaruh selama masa kehamilan.
12
Kekurangan gizi tentu saja akan menyebabkan akibat yang buruk bagi si
ibu dan janinnya.
Ibu dapat menderita anemia, sehingga suplai darah yang
mengantarkan oksigen dan makanan pada janinnya akan terhambat,
sehingga
janin
akan
mengalami
gangguan
pertumbuhan
dan
perkembangan. Di lain pihak kelebihan gizi pun ternyata dapat
berdampak yang tidak baik juga terhadap ibu dan janin. Janin akan
tumbuh besar melebihi berat normal, sehingga ibu akan kesulitan saat
proses persalinan.
b.
Faktor Psikologis
a.
Stress
Stres yang terjadi pada ibu hamil dapat mempengaruhi
kesehatan ibu dan janin. Janin dapat mengalami keterlambatan
perkembangan atau gangguan emosi saat lahir nanti jika stress
pada ibu tidak tertangani dengan baik.
b.
Dukungan Keluarga
Merupakan andil yang besar dalam menentukan status
kesehatan ibu jika seluruh keluarga mengharapkan kehamilan,
mendukung
bahkan
memperhatikan
dukungannya
dalam
berbagai hal, maka ibu hamil akan merasa lebih percaya diri,
lebih bahagia dan siap dalam menjalani kehamilan, persalinan
dan masa nifas.
c. Faktor lingkungan sosial, budaya dan ekonomi
Faktor ini mempengaruhi kehamilan dari segi gaya hidup,
adat istiadat, fasilitas kesehatan dan tentu saja ekonomi. Gaya
hidup sehat adalah gaya hidup yang digunakan jika perlu selalu
menghindari asap rokok, kapan dan dimana pun ia berada.
Perilaku makan juga harus diperhatikan, terutama yang
berhubungan dengan adat istiadat.
Jika ada makanan yang pantang adat padahal baik untuk
gizi ibu hamil, maka sebaiknya tetap dikonsumsi. Demikian juga
sebaliknya. Yang tak kalah penting adalah personal hygiene.
Ibu hamil harus selalu menjaga kebersihan dirinya, mengganti
pakaian dalamnya setiap kali merasa lembab, menggunakan
13
bra yang menunjang payudara, dan pakaian yang menyerap
keringat.
Ekonomi juga selalu menjadi faktor penentu dalam proses
kehamilan yang sehat. Keluarga dengan ekonomi yang cukup
dapat
memeriksakan
kehamilannya
secara
rutin,
merencanakan persalinan di tenaga kesehatan dan melakukan
persiapan lainnya dengan baik. Namun dengan adanya
perencanaan yang baik sejak awal, membuat tabungan
bersalin, maka kehamilan dan proses persalinan dapat berjalan
dengan baik.
7. Ketidaknyamanan pada Trimester III menurut Romauli (2011):
a)
Sakit Punggung
Hal ini karena meningkatnya beban berat yaitu bayi dalam
kandungan. Cara mengatasinya yaitu pakailah sepatu tumit rendah,
hindari mengangkat beban yang berat, berdiri dan berjalan dengan
punggung dan bahu yang tegak mintalah pertolongan untuk
melakukan pekerjaan rumah sehingga tidak perlu membungkuk
terlalu sering, pakailah kasur yang nyaman.
b)
Konstipasi
Pada trimester III ini konstipasi juga karena tekanan rahim yang
membesar
di
daerah
usus
selain
meningkatkan
hormon
progesterone atasi dengan makan serat buah-buahan dan sayuran
dan minum air yang banyak serta olahraga.
c)
Gangguan Pernafasan
Pada kehamilan 33-36 banyak ibu hamil akan merasakan
susah bernafas hal ini karena tekanan bayi yang berada dibawah
digfarma menekan paru ibu tapi setelah kepala bayi sudah turun ke
rongga panggul ini biasanya pada 2-3 minggu sebelum persalinan
pada ibu yang pertama kali hamil akan merasakan lega dan
bernafas lebih mudah.
d)
Sering Buang Air Kecil
Pembesaran rahim dan ketika kepala bayi turun ke rongga
panggul akan makin menekan kandung kemih. Mengatasinya tetap
minum sekitar 2 liter air sehari.
14
e)
Masalah Tidur
Setelah perut semakin besar, bayi sering menendang di
malam hari. Makan akan menimbulkan kesulitan untuk dapat tidur
nyenyak. Pola istrirahat Istirahat pada saat hamil harus
diperhatikan hingga pekerjaan harus diselingi dengan istirahat.
Istirahat yang diperlukan ialah 8 jam pada malam hari dan 1
jam siang hari. Ini sesuai dengan kehamilan ibu bahwa ibu
jangan terlalu berkerja terlalu keras karena usia kehamilan
yang hampir cukup bulan.
f)
Varises
Peningkatan volume darah dan aliran selama kehamilan akan
menekan darah panggul dan vena di kaki yang menyebabkan vena
menonjol, dan pada akhir kehamilan kepala bayi kan menekan vena
darah panggul varises juga di pengaruhi faktor keturunan.
g)
Kontraksi Perut
Kontraksi atau kontraksi palsu berupa rasa sakit yang ringan, tidak
teratur, dan hilang bila duduk atau istirahat,
h)
Bengkak
Pertumbuhan bayi akan meningkatkan tekanan pada darah kaki
dan pergelangan kaki anda, kadang tangan bengkak juga. Itu
disebut oedema, disebabkan oleh perubahan hormonal yang
menyebabkan retensi cairan.
i)
Kram Kaki
Ini sering terjadi pada kehamilan trimester ke II dan ke III, san
biasanya berhubungan dengan perubahan sirkulasi, tekanan pada
syaraf di kaki atau karena rendahnya kadar kalsium. Konsumsi
makanan sumber
kalsium dan magnesium. Misalnya, susu, dan sayuran berdaun,
hindari minuman bersoda sesering mungkin, posisi kaki lebih tinggi
dari pinggang, lakukan pengurutan kaki secara teratur agar aliran
teratur sehingga aliran dalam tubuh lancar.
15
8. Tanda Bahaya Kehamilan, menurut Yuni dkk (2010):
a.
Perdarahan pervagina
b.
Sakit kepala yang berat
c.
Penglihatan kabur
d.
Bengkak di wajar dan jari-jari tangan
e.
Keluar cairan pervaginam
f.
Gerakan janin tidak terasa
g.
Nyeri abdomen yang hebat
Jika bidan mememukan suatu tanda bahaya ini, maka tindakan
selanjutnya adalah melaksanakan semua kemungkinan untuk
membuat suatu assesment atau diagnosa dan membuat rencana
pelaksanaan yang sesuai.
9. Pemantauan pada Kehamilan, menurut Manuaba (2010):
a)
Trimester I antara (0 sampai 12 minggu)
Pada
trimester
I,calon
ibu
akan
melakukan
sejumlah
penyesuaian. Kebutuhan penambahan gizi pada trimester ini masih
relatif kecil. Hal itu dimungkinkan karenapertumbuhan janin yang
semakin lambat. Trimester I merupakan masa penting bagi ibu
menginvestasikan zat gizi sebanyak-banyaknya. Setiap sari pati
makanan yang disantap pada trimester I akan dijadikan cadangan
untuk
trimester
berikutnya.
Pada
trimester
ini
ibu
belum
memperlihatkan perubahan yang berarti.
b)
Trimester II (antara 12 minggu sampai 28 minggu)
Pada trimester II janin mulai tumbuh pesat. Trimester II ini bisa
dikatakan sebagai kontak antara bayi dan calon ibu., dimana
adanya gerakan janin yang mulai dapat dirasakan, morning
sickness mulai berlangsung hilang. Trimester II bisa dikatakan
sebagai periode yang paling menyenangkan, karena ibu merasa
nyaman, kondisi tubuh yang membaik juga bisa mendorong nafsu
makan tersebut.
c)
Trimester III (antara 28 minggu sampai 40 minggu)
Pada trimester III ini ibu membutuhkan vitamin dan mineral. Hal
ini diperlukan untuk mengimbangi pesatnya pertumbuhan tubuh dan
pembentukan otak janin. Pasalnya, selama proses pertumbuhan
16
yang pesat ini, janin memanfaatkan cadangan energi yang disimpan
ibu pada masa-masa kehamilan sebelumnya. Penting diperhatikan
bahwa pada trimester III ini ibu hamil cenderung terkena anemia. Ini
terjadi karena janin menimbun cadangan zat besi untuk ketahanan
dirinya pada bulan pertama sesudah bayi lahir.
10. Jadwal pemeriksaan Antenatal, menurut Walyani (2015):
a. Pemeriksaan pertama
Dilakukan segera setelah diketahui terlambat haid.
b. Pemeriksaan ulang
1) Setiap bulan sampai usia kehamilan 6 sampai 7 bulan.
2) Setiap 2 minggu sampai usia kehamilan 8 bulan.
3) Setiap 1 minggu sejak usia kehamilan 9 bulan sampai terjadi
persalinan.
11. Kebutuhan ibu hamil, menurut Romauli (2011):
a. Kebutuhan ibu hamil trimester 1
1) Diet dalam kehamilan
Ibu dianjurkan untuk makan makanan yang mudah dicerna
dan makan makanan yang bergizi untuk menghindari adanya rasa
mual dan muntah begitu pula nafsu makan yang menurun.
Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makan yang mengandung zat
besi (150 mg besi sulfat, 300 mg besi glukonat), asam folat (0,4 0,8 mg/hari), kalori ibu hamil umur 23-50 tahun perlu kalori sekitar
23000 kkal), protein (74 gr/hari), vitamin dan garam mineral
(kalsium, fosfor, magnesium, seng, yodium). Makan dengan porsi
sedikit namun sering dengan frekuensi sedang. Ibu hamil juga
harus cukup minum 6-8 gelas sehari.
2) Pergerakan dan gerakan badan
3) Hygiene dalam kehamilan
Ibu hamil boleh mengerjakan pekerjaan sehari-hari akan tetapi
jangan terlalu lelah sehingga harus di selingi dengan istirahat.
Istirahat yang dibutuhkan ibu 8 jam pada malam hari dn 1 jam
pada siang hari. Ibu dianjurkan untuk menjaga kebersihan badan
untuk mengurangi kemungkinan infeksi, kebersihan gigi juga harus
17
dijaga
kebersihannya
untuk
menjamin
perencanaan
yang
sempurna.
4) Koitus
Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa kehamilannya
jika dilakukan dengan hati-hati. Pada akhir kehamilan, sebaiknya
dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan
perdarahan. Pada ibu yang mempunyai riwayat abortus, ibu
dianjurkan untuk koitusnya di tunda sampai dengan 16 minggu
karena pada waktu itu plasenta telah berbentuk.
Pola seksual pada trimester III Saat persalinan semakin
dekat, umumnya hasrat libido kembali menurun, bahkan lebih
drastis dibandingkan dengan saat trimester pertama. Perut yang
makin membuncit membatasi gerakandan posisi nyaman saat
berhubungan intim. Pegal dipunggung dan pinggul, tubuh
bertambah berat dengan cepat, nafas lebih sesak (karena
besarnya janin mendesak dada dan lambung). Selain hal fisik,
turunnya
libido
juga
berkaitan
dengan
kecemasan
dan
kekhawatiran yang meningkat menjelang persalinan. Sebenarnya
tidak ada yang perlu dirisaukan jika kehamilan tidak disertai faktor
penyulit.
Hubungan seks sebaiknya lebih diutamakan menjaga
kedekatan emosional daripada rekreasi fisik karena pada trimester
terakhir ini, dapat terjadi kontraksi kuat pada wanita hamil yang
diakibatkan karena orgasme. Hal tersebut dapat berlangsung
biasanya sekitar 30 menit hingga terasa tidak nyaman. Jika
kontraksi berlangsung lebih lama, menyakitkan, menjadi lebih
kuat, atau ada indikasi lain yang menandakan bahwa proses
kelahiran akan mulai. Akan tetapi, jika tidak terjadi penurunan
libido pada trimester ketiga ini, hal itu normal saja. Ibu hamil
berhak mengetahui pola seksual karena dapat terjadi kontraksi
kuat pada wanita hamil yang diakibatkan karena orgasme.
18
5) Ibu diberi imnisasi TT1 dan TT2
b.
Kebutuhan ibu hamil trimester II
1)
Pakaian dalam kehamilan
Menganjurkan ibu untuk mengenakan pakaian yang
nyaman digunakan dan yang berbahan katun untuk
mempermudah penyerapan keringat. Menganjurkan ibu
untuk tidak menggunakan sandal atau sepatu yang berhak
tinggi karena dapat menyebabkan nyeri pada pinggang.
2) Pola Makan
Nafsu makan meningkat dan pertumbuhan yang pesat
makan ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi protein, vitamin,
juga zat besi. saat hamil kebutuhan zat besi sangat
meningkat. Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi 90 tablet Fe
selama hamil. Besarnya angka kejadian anemia ibu hamil
disebabkan karena kurangnya mengkonsumsi tablet Fe.
Efek samping tablet Fe adalah kadang terjadi mual
karena bau tablet tersebut, muntah, perut tidak enak, susah
buang air besar, tinja berwarna hitam, namun hal ini tidak
berbahaya. Waktu minum tablet Fe adalah pada pada
malam hari menjelang tidur, hal ini untuk mengurangi rasa
mual yang timbul setelah ibu meminumnya.
3) Ibu diberi imunisasi TT3.
c. Kebutuhan ibu hamil trimester III
a)
Mempersiapkan kelahiran dan kemingkinan darurat
Bekerja sama dengan ibu, keluarganya, serta masyarakat untuk
mempersiapkan rencana kelahiran, termasuk mengindentifikasi
penolong dan tempat persalinan, serta perencanaan tabungan
untuk mempersiapkan biaya persalinan.
Bekerja sama dengan ibu, keluarganya dan masyarakat
untuk mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi, termasuk:
Mengidentifikasi kemana harus pergi dan transportasi untuk
mencapai
tempat
tersebut,
Mempersiapkan
donor
danar,
Mengadakan persiapan financial, Mengidentifikasi pembuat
19
keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada
ditempat.
b) Memberikan konseling tentang tanda-tanda persalinan
a) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat,
sering dan teratur.
b) Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih
banyak karena robekan-robekan kecil pada servik.
c) Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d) Pada
pemeriksaan
dalam
servik
mendatar
dan
pembukaan telah ada.
d. Senam hamil
1) Pengertian
Senam hamil adalah senam yang merupakan suatu bentuk
latihan untuk memperkuat dan juga mempertahankan kelenturan
dari dinding perut, otot-otot dasar panggul yang nantinya akan
mempermuda proses persalinan normal serta mengimbangi
perubahan titik berat tubuh.
Senam hamil ditunjukan bagi ibu hamil tanpa kelainan atau
tidak terdapat penyakit yang menyertai kehamilan, yaitu penyakit
jantung , ginjal, dan penyulit dala kehamilan. Senam hamil
dimulai pada umur kehamilan setelah 22 minggu.
2) Manfaat senam hamil
a) Memperkuat kelenturan otot.
Biasanya seorang yang sedang mengalami proses
kehamilan akan merasa nyeri di perut dan bokong, dengan
melakukan
senam
hamil,
akan
memperkuat
elastisitas
beberapa otot pada dinding perut sehingga akan mengurangi
rasa nyeri pada perut dan bokong.
b) Melatih teknik pernafasan
Dengan melakukan senam hamil secara rutin maka akan
mendapatkan
oksigen
secara
optimal.
membantu selama proses persalinan.
Hal
ini
sangat
20
c) Melatih relaksasi
Relaksasi sangat dibutuhkan ketika proses persalinan.
Senam hamil akan membantu anda untuk mengatasi rasa
sakit maupun ketegangan selama proses persalinan.
d)
Mengurangi keluhan
Bentuk serta sikap tubuh orang hamil sangat berbeda
dengan
yang
lainnya,
senam
hamil
dapat
membantu
mengurangi keluhan terhadap perubahan bentuk tubuh.
e) Melancarkan persalinan
Menurut para ahli, dengan melakukan senam hamil secara
rutin, anda akan terhindar dari kesulitan ketika menjalani
proses persalinan.
Adapun surat as-Sajdah ayat 7-9 menjelaskan tentang preses kehamilan,
yaitu:
Artinya:Dan segala sesuatu yang diciptakan-Nya, dibuat-Nya, dengan
sebaik-baiknya dan dimulainya menciptakan manusia dari tanah. Kemudian
ia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina. Kemudian ia
membentuknya dan meniupkan kedalamanya sebagian dari ruh-Nya, dan
dijadikannya untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati (pikiran dan
perasaan). Sedikit sekali kamu bersyukur, (Q.S As-Sadjah 7-9).
Ayat tersebut mengisyaratkan adanya proses penciptaan manusia dari
alam arham (masa kehamilan), yang diawali dengan “sulalah min tin”,
kemudian „‟menjadi nutfah, „alaqah, mudghah , „izaman, lahman dan
khalqan‟‟.
Penciptaan manusia, berasal dari sulalah min tin, artinya sari pati tanah,
yaitu inti zat-zat yang ada dalam tubuh wanita dalam bentuk ovum dan
dalam diri laki-laki dalam bentuk sperma. Sel telur yang telah dibuahi oleh
sperma, atau zygote, disebut nutfah. Setelah menjadi pembuahan, zygote
21
berjalan secara perlahan melalui tuba fallopi, menuju rahim. Setelah
menempel di dinding rahim, berubah menjadi „alaqah. Istilah „alaqah, biasa
diterjemahkan dengan segumpal darah.
Penggunaan istilah „alaqah oleh Al-Quran sangat tepat karena posisi
zygote menggantung di dinding rahim. „Alaqah juga berarti sesuatu yang
menggantung. Proses berikutnya, berubah menjadi mudghah, yang
bentuknya seperti sekerat daging, kemudian tumbuh tulang („izamaman)
tulang dibungkus daging (lahman), selanjutnya menjadi khalqan akhar
(makhluk janin, yang sudah berbeda dengan kondisi awal terjadinya
manusia). Kemudian Alloh SWT meniupkan ruh. Adapun Hadist tentang
proses penciptaan manusia :
Dari Abdullah bin Mas‟ud Radhiallahu „Anhu, dia berkata: telah berkata
kepada kami Rasulullah Shallallahu „Alaihi wa Sallam, dan dia adalah orang
yang jujur lagi dipercaya: “Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan ciptaannya
dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nutfah (air mani yang kental),
kemudian menjadi „alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi
mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya
malaikat untuk meniupkannya ruh, dan dia diperintahkan mencatat empat
kata yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, kesulitan atau
kebahagiannya. Demi zat yang tiada Ilah kecuali Dia, sesungguhnya setiap
kalian ada yang melaksanakan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara
dirinya dan surga hanyalah sehasta, namun dia telah didahului oleh al kitab
(ketetapan/takdir), maka dia mengerjakan perbuatan ahli neraka, lalu dia
masuk ke dalamnya. Di antara kalian ada yang mengerjakan perbuatan
ahlin naar (penduduk neraka), sehingga jarak antara dirinya dan neraka
cuma sehasta, namun dia telah didahului oleh taqdirnya, lalu dia
mengerjakan perbuatannya ahli surga, lalu dia memasukinya. ”
B. Teori Manajemen Kebidanan Menurut Varney:
Langkah I : Pengkajian
22
Pengkajian merupakan metode pengumpulan semua informasi
(data) yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan
kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara anamnesis
dan pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tandatanda vital (Soepardan, 2008).
Pada langkah pertama ini berisi semua informasi yang akurat dan
lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Yang
terdiri dari dua subjektif dan objektif. Data subjektif adalah adalah yang
menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui
anamnesa. Yang termasuk data subjektif antara lain biodata, riwayat
menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, riwayat kehamilan,
persalinan, nifas, biopsikologi spiritual, pengetahuan klien.
Data objektif adalah yang menggambarkan pendokumentasian
hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain
yang dirumuskan dalam data fokus. Data objektif terdiri dari pemeriksaan
fisik yang sesuai degan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital,
pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), pemeriksaan
penunjang (laboratorium, catatan baru dan sebelumnya).
Langkah II : interpretasi data
Dalam langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau
masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulkan.
Langkah III : diagnosa potensial
Merupakan
identifikasi
yang
dilakukan
berdasarkan
diagnosis/masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi bila memungkinkan dilakukan pencegahan agar tidak terjadi
kegawatdaruratan. Mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa
potensial
berdasarkan
diagnosa/masalah
yang
sudah
diidentifikasi.
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan
pencegahan.
Langkah IV : tindakan segera
Adalah menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk
melakukan
konsultasi,
berdasarkan kondisi klien.
kolaborasi
dengan
tenanga
kesehatan
lain
23
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan
untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim
kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah V : Perencanaan
Adalah membuat rencana tindakan saat itu atau yang akan datang
untuk mengusahakan tercapainya kondisi klien yang sebaik mungkin.
Proses ini termasuk kriteria tujuan tertentu dari kebutuhan klien yang harus
dicapai dalam bats waktu tertentu, tindakan yang diambil harus membantu
mencapai kemajuan dalam kesejahteraan dan harus sesuai dengan intruksi
dokter.
Langkah VI : Pelaksanaan
Adalah segala hal bentuk tindakan yang telah yang telah
direncanakan sebelumnya ditahap perencanaan.
Langkah VII : Evaluasi
Adalah tahap dimana dilakukannya pengkajian secara sistematis dan
mengkaji ulang aspek asuhan untuk mengetahui keberhasilan asuhan yang
diberikan.
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dan asuhan yang
sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apkah
benar-benar akan terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dianggap
efektif jika memang benar dalam pelaksanaannya, Soepardan (2008).
C. Metode Soap
Menurut Walyani (2015):
1. S : Subjektif
a) Menggambarkan pendokumentasian pengumpulan data klien
melalui anamnesa.
b) Tanda gejala subjektif yang diperoleh dari hasil pertanyaan dari
klien, suami atau keluarga (identitas umum, keluhan, riwayat
menarche, riwayat perkawinan, riwayat kehamilan, riwayat
persalinan, riwayat KB, riwayat penyakit keluarga, riwayat
penyakit keturunan, riwayat psikososial, pola hidup).
c) Catatan ini berhubungan dengan masalah sudut pandang klien.
Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran keluhannya di catat
24
sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang berhubungan
dengan diagnosa.
2. O : Objektif
a) Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan fisik klien.
Hasil laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan
dalam data fokus untuk mendukung assesment.
b) Tanda gejala objektif yang diperoleh dari hasil pemeriksaan
(keadaan umum, tanda-tanda vital, fisik, pemeriksaan dalam,
laboratorium dan pemeriksaan penunjang, pemeriksaan dengan
inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi).
c) Data ini memberi bukti gejala klinis klien dan fakta yang
berhubungan dengan diagnosa. Data fisiologis, hasil observasi,
informasi kajian teknologi (hasil laboratorium, sinar-X, rekaman
CTG, dan lain-lain) serta informasi dari keluarga atau orang lain
dapat dimasukan dalam kategori ini. Apakah yang diobservasi
oleh bidan akan menjadi komponen yang berarti dari diagnosa
yang akan ditegakan.
3. A : Assesment
a) Masalah atau diagnosa yang di tegakan berdasarkan data atau
informasi subjektif maupun objektif yang di kumpulkan atau di
simpulkan. Karena keadaan klien terus berubah dan selalu ada
informasi baru baik subjektif maupun objektif, maka proses
pengkajian
menganalisa
adalah
suatu
sesuatu
proses
yang
yang
penting
dinamik.
dalam
Sering
mengikuti
perkembangan klien.
b) Menggambarkan hasil pendokumentasian hasil analisa dan
interpretasi data subjektif dalam suatu identifikasi :
1.
Diagnosa/masalah
a) Diagnosa adalah rumusan dari hasil pengkajian mengenai
kondisi klien : hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir,
berdasarkan data yang diperoleh.
b) Masalah adalah segala sesuatu yang menyimpang
sehingga kebutuhan klien terganggu.
25
2.
Antisipasi masalah lain/diagnosa potensial
4. P : Penatalaksanaan
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi
berdasarkan
assesment.
Untuk
perencanaan,
implementasi
dan
evaluasi dimasukan dalam “Planning”.
a) Perencanaan
Membuat rencana tindakan saat itu atau yang akan datang.
Untuk mengusahakan tercapainya kondisi klien yang sebaik mungkin.
Proses ini termasuk kriteria tujuan tertentu dari kebutuhan klien yang
harus dicapai dalam batas waktu tertentu, tindakan yang diambil
harus membantu mencapai kemajuan dalam kesejahteran dan harus
sesuai dengan instruksi dokter.
b) Implementasi
Pelaksanaan
rencana
tindakan
untuk
menghilangkan
dan
mengurangi masalah klien. Tindakan ini harus di setujui oleh klien
kecuali bila tidak dilaksanakan akan membahayakan keselamatan.
Bila kondisi pasien berubah, intervensi mungkin juga harus berubah
atau disesuaikan.
c) Evaluasi
Tafsiran dari efek tindakan yang telah diambil merupakan hal
penting untuk menilai efektifnya asuhan yang diberikan. Analisis dari
hasil yang dicapai menjadi fokus dari ketetapan nilai tindakan. Jika
kriteria tujuan tidak percapai, proses evaluasi dapat menjadi dasar
untuk mengembangkan tindakan alternatif sehingga mencapai tujuan.
D. Konsep Dasar Asuhan Kehamilan
1.
Data Subjektif
Data subjektif, berupa data fokus yang dibutuhkan untuk menilai
keadaan ibu sesuai dengan kondisinya. Jenis data yang dikumpulkan
adalah:
a)
Biodata
Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai
keadaan klien secara keseluruhan yang terdiri dari data ibu dan
suami. Meliputi :
26
1) Nama Ibu dan Suami
Untuk dapat mengenal atau memanggil nama ibu dan untuk
mencegah kekeliruan bila ada nama yang sama.
2) Umur
Dalam kurun waktu reproduksi sehat, dikenal bahwa usia aman
untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun.
3) Suku/bangsa
Untuk
mengetahui
kondisi
sosial
budaya
ibu
yang
mempengaruhi perilaku kesehatan.
4) Agama
Dalam hal ini berhubungan dengan perawatan penderita yang
berkaitan dengan ketentuan agama. Antara lain dalam keadaan
yang gawat ketika memberi pertolongan dan perawatan dapat
diketahui dengan siapa harus berhubungan, misalnya agama
islam memanggil ustad dan sebagainya.
5) Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat
intelektual, tingkat
pendidikan
mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.
6)
Pekerjaan
Hal ini untuk mengetahui taraf hidup dan sosial ekonomi agar
nasehat kita sesuai. Pekerjaan ibu perlu diketahui untuk
mengetahui apakah ada pengaruh pada kehamilan pada
kehamilan seperti bekerja dipabrik rokok, dan lain-lain.
7) Alamat
Untuk mengetahui ibu tinggal dimana, menjaga kemungkinan
bila ada ibu yang namanya bersamaan. Ditanyakan alamatnya,
agar dapat dipastikan ibuyang mana hendak ditolong itu.
Alamat juga diperlukan bila mengadakan kunjungan kepada
penderita.
8) Telepon
Ditanyakan bila ada, untuk memudahkan komunikasi.
b) Alasan Kunjungan
Apakah alasan kunjungan ini karena ada keluhan atau hanya
untuk memeriksakan kehamilannya.
27
c) Kunjungan
Apakah kunjungan ini adalah kunjungan awal atau kunjungan
ulang.
d) Keluhan Utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alas an pasien
datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.
e) Riwayat Keluhan Utama
Riwayat
keluhan
utama
ditanyakan
dengan
tujuan
untuk
mengetahui sejak kapan seseorang klien merasakan keluhan
tersebut.
f)
Riwayat Kebidanan
A. Riwayat menstruasi
Data ini digunakan untuk mendapatkan gambaran
tentang keadaan dasar dari organ reproduksi pasien.
Beberapa data yang harus kita peroleh dari riwayat
menstruasi antara lain yaitu menarche (usia pertama kali
mengalami
mennstruasi
yang
pada
umumnya
wanita
Indonesia mengalami menarche pada usia sekitar 12 sampai
16 tahun).
Siklus menstruasi (jarak antara menstruasi yang dialami
dengan menstruasi berikutnya dalam hitungan hari yang
biasanya sekitar 23 sampai 32 hari), volume darah data ini
menjelaskan
seberapa banyak
darah
menstruasi
yang
dikeluarkan biasanya acuan yang digunakan berupa kriteria
banyak
atau
sedikitnya,keluhan,
beberapa
wanita
menyampaikan keluhan yang dirasakan ketika mengalami
menstruasi dan dapat merujuk kepada diagnose tertentu.
B. Gangguan kesehatan alat reproduksi
Data ini sangat penting untuk kita kaji karena akan
memberikan petunjuk bagi kita tentang organ reproduksi
pasien. Ada beberapa penyakit organ reproduksi yang
berkaitan erat
kebiasaan
lain
reproduksinya.
dengan personal hygiene pasien,
yang
tidak
mendukung
atau
kesehatan
28
Jika didapatkan adanya salah satu atau beberapa
riwayat gangguan kesehatan alat reproduksi, makakita harus
waspada adanya kemungkinan gangguan kesehatan alat
reproduksi pada masa postpartum. Beberapa data yang perlu
kita kaji dari pasien adalah apakah pasien pernah mengalami
gangguan seperti keputihan, infeksi, gatal karena jamur,
tumor.
Riwayat
menstruasi
klien
yang
akurat
biasanya
membantu penetapan tanggal perkiraan yang disebut taksiran
partus dibeberapa tempat. Perhitungan dilakukan dengan
menambah 9 bulan dan 7 hari pada hari pertama haid terakhir
(HPHT) atau dengan mengurangi bulan dengan 3, kemudian
menambahkan 7 hari dan 1 tahun.
C. Riwayat kontrasepsi
Riwayat kontrasepsi diperlukan karena kontrasepsi hormonal
dapat mempengaruhi EDD. Penggunaan metode lain dapat
membantu „‟menanggali‟‟ kehamilan. Ketika seorang wanita
menghabiskan pil berisi hormon dalam kaplet kontrasepsi oral,
periode menstruasi yang selanjutnya akan dialami disebut
„‟withdrawel bleed‟‟.
Menstruasi ini bukan karena pengaruh hormon alami wanita
tersebut tetapi karena dukungan hormonal terhadap endometrium
yang disuplai oleh kontrasepsi yang dihentikan. Menstruasi
spontan mungkin tidak terjadi atau terjadi pada waktu biasanya.
Kurangnya menstruasi spontan disebut amenorea post pil.
D. Riwayat obstetri
Informasi
esensial
tentang
kehamilan
yang
terdahulu
mencakup bulan dan tahun kehamilan tersebut berakhir, usia
gestasi pada saat itu, tipe persalinan, lama persalinan, berat lahir,
jenis kelamin, dan komplikasi lain, kesehatan fisik dan emosi
terakhir harus diperhatikan.
E. Riwayat kesehatan
Dari data riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai
penanda (warning) akan adanya penyulit masa hamil yang
29
melibatkan seluruh system dalam tubuh akan mempengaruhi
organ yang mengalami gangguan. Beberapa data penting yang
diperlukan adalah apakah pasien pernah menderita penyakit.
F. Riwayat seksual
Riwayat seksual adalah bagian dari data dasar yang lengkap
karena riwayat ini memberiinformasi medis yang terpenting
sehingga klinis dapat lebih memahami klien dan mendapat
kesempatan untuk:
1.
Mengidentifikasi penganiayaan seksual
2.
Menawarkan informasi yang dapat mengurangi kecemasan
dan menghilangkan mitos
3.
Menawarkan
anjuran-anjuran
untuk
memperbaiki
fungsiseksual
4.
Membuat rujukan bila tercatat disfungsi seksual atau masalah
emosional
G. Riwayat keluarga
Informasi
tentang riwayat keluarga pasien penting untuk
mengidentifikasi wanita yang beresiko menderita penyakit genentik
yang dapat mempengaruhi hasil akhir kehamilan atau beresiko
memiliki bayi yang menderita penyakit genetic. Informasi ini juga
dapat mengidentifikasi latar belakang rasa tau etnik yang
diperlukan
untuk
melakukan
pendekatan
berdasarkan
pertimbangan budaya atau untuk mengetahui penyakit organik
yang memiliki komponen herediter.
H. Riwayat social
Riwayat social meliputi daridata keluarga, status perkawinan,
sumber dukungan, respon ibu terhadap kehamilan ini, respon
keluarga terhadap kehamilan ini, pengetahuan ibu tentang
kehamilan
perawatan
kehamilan,
pengetahuan
ibu
tentang
keadaan dan perawatannya, adat istiadat setempat yang berkaitan
dengan masa hamil, perencanaan KB.
b) Data Objektif
Setelah data subjektif kita dapatkan, untuk melengkapi data kita
dalam menegakan diagnosa, maka kita harus melakukan pengkajian
30
data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi dan
perkusi yang dilakukan secara berurutan.
A.
Keadaan umum
: Baik
B.
Kesadaran
: Komposmentis
C.
Postur tubuh
: Pada saat ini diperhatikan
pula bagaimana sikap tubuh,
keadaan punggung, dan cara
berjalan. Apakah cenderung
membungkuk,
terdapat
lordosis,
scoliosis,
atau
berjalan
pincang
dan
sebagainya.
D.
Tinggi badan
: Ibu hamil dengan tinggi
badan kurang dari 145 cm
tergolong resiko tinggi.
E.
Berat badan
: Ditimbang tiap kali
kunjungan untuk mengetahui
penambahan
berat
badan
ibu. Normalnya penambahan
berat
badan
adalah
tiap
0,50
minggu
kg
dan
penambahan berat badan ibu
dari
awal
kehamilan
sampai
akhir
adalah
6,50
sampai 16,50 kg.
F.
LILA pada bagian kiri
: LILA normal 23,50 cm
kurang
dari
23,50
dikatakan KEK
cm
merupakan
indicator kuat untuk status
gizi ibu yang kurang/baik,
sehingga ia beresiko untuk
melahirkan BBLR. Dengan
demikian
ditemukan
pula
sejak
hal
ini
awal
31
kehamilan,
petugas
dapat
memotivasi ibu agar lebih
memperhatikan
kesehatannya serta jumlah
dan kualitas makanannya.
G.
Pemeriksaan tanda-tanda vital
a.
Tekanan darah
: Tekanan darah
Diakaitan tinggi bila lebih dari
140/90 mmHg. Bila tekanan
darah
meningkat,
yaitu
sisitolik 30 mmHg atau lebih
dan atau diastolik 15 mmHg
atau lebih, kelainan ini dapat
berlanjut
menjadi
pre
eklampsi dan eklampsi kalau
tidak ditangani dengan tepat.
b.
Nadi
: Dalam keadaan santai
denyut nadi ibu sekitar 6080x/menitatau
mungkin
salah
keluhan
ibu
satu
lebih,
mengalami
atau
seperti
lebih
tegang,
ketakutan atau cemas akibat
masalah
tertentu,
perdarahan berat, anemia,
sakit/demam,
gangguan
tyroid, gangguan jantung.
c.
Pernafasan
: Untuk mengetahui
Fungsi system pernafasan,
normalnya16-24x/menit.
d.
Suhu tubuh
: Suhu tubuh yang normal
adalah
36-37,50C,
suhu
tubuh lebih dari 370C perlu di
waspadai adanya infeksi.
32
H. Pemeriksaan khusus bagi ibu hamil meliputi
I.
1.
Inspeksi adalah memeriksa dengan cara melihat.
2.
Palpasi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara meraba
3.
Aukultasi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara di dengar.
4.
Perkusi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara diketuk.
Pemeriksaan laboratorium
1.
Darah
Yaitu pemeriksaan Hemoglobin. Menurut Wibisono dkk (2009), ibu
hamil dikatakan anemia jika hemoglobin darahnya kurang dari 11
gr/%. Bahaya anemia pada ibu hamil tidak saja berpengaruh
terhadap
keselamatan
dirinya,
tetapi
juga
pada
janin
yang
dikandungnya. Hemoglobin darah normal : >11 gr%, ringan : 10-9,
sedang : 7-8, berat : <7 gr%.
2)
Urine
Yaitu pemeriksaan Protein urine dan glukosa urine. Tujuan
pemeriksaan protein urine, untuk mengetahui kadar protein dalam
urine dan juga untuk mengetahui apakah pasien mengalami eklamsi.
(-) : tidak ada kekeruhan, (+) : kekeruhan, (++) : berbutir, (+++) :
berkeping, (++++) : bergumpal.
Tujuan pemeriksaan glukosa urine, untuk menentukan adanya
glukosa dalam urine secara semi kuantitatif. (-) : biru, (+) : hijau
kekuningan, (++) : kekuningan, (+++) : jingga, (++++) : merah bata,
Ifana (2015).
Berdasarkan
Permenkes
No.1464/MENKES/PER/X/2010
pasal 9 menyatakan bahwa kewenangan Bidan adalah pelayanan
kesehatan pada ibu hamil.
c) Menentukan Diagnosa
Setelah seluruh pemeriksaan selesai dilakukan, kemudian ditentukan
diagnosa.
d) Penatalaksanaan
Pada langkah ini, direncanakan asuhan yang menyeluruh yang
ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan
kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah
diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini, informasi ataudata dasar
33
yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh
tidak hanya meliputi apa yang sudah diidentifikasi dari kondisi klien atau
setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga dari kerangka pedoman
antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan terjadi
berikutnya.
Dengan kata lain asuhan terhadap wanita tersebut sudah
mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan. Setiap
rencana asuhan harus disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan
dank lien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien merupakan
bagian dari pelaksanaan rencana tersebut. Oleh karena itu, pada langkah
ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan
pembahasan bersamaklien, kemudian membuat kesepakatan bersama
sebelum melaksanakannya.
Rencana asuhan yang menyeluruh mengacu pada diagnosa
yang sudah ditentukan sebelumnya, masalah asuhan,serta keluhan yang
telah sesuai dengan kondisi klien saat diberi asuhan.
Hak pasien adalah hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai
pasien, diantaranya:
a.
Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan
peraturan yang berlaku.
b.
Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
c.
Pasien berhak memperoleh pelayanan medis yang bermutu sesuai
dengan standar.
d.
Pasien berhak memperoleh asuhan setara dengan standar profesi.
e.
Pasien berhak memilih dokter atau perawat sesuai dengan
keinginannya dan sesuai dengan peraturan.
f.
Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan
pendapat klinis dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari luar.
g.
Pasien berhak meminta konsultasi kepada dokter lain yang telah
terdaftar.
h.
Pasien berhak atas privacy dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya.
i.
Pasien berhak mendapatkan informasi hasil pemeriksaan yang
dilakukan.
34
j.
Pasien berhak menyetujui/memberikan izin atas tindakan yang akan
dilakukan oleh dokter.
k.
Pasien berhak menolak menolak tindakan yang hendak dilakukan
terhadap didirnya.
l.
Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang
dianutnya.
m. Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya.
n.
Pasien berhak mengajukan usul, saran, perbaikan.
o.
Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moril maupun
Spiritual (Meylani, 2013).
E. Tugas dan Wewenang Bidan
1. Landasan Hukum
Permenkes No.1464/Menkes/SK/III/2010
Pasal 9
Bidan dalam menyelenggarakan praktik berwenang untuk memberikan
pelayanan kesehatan ibu,
Pasal 10
Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 diberikan
pada masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan, masa nifas, masa
menyusui dan masa antara dua kehamilan.
a. Pelayanan
kesehatan
ibu
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1):Pelayanan konseling pada masa pra hamil, Pelayanan antenatal
pada kehamilan normal, Pelayanan persalinan normal, Pelayanan ibu
menyusui dan Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan.
b. Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) berwewenang melakukan pelayanan antenatal meliputi, pemberian
tablet Fe pda ibu hamil, penyuluhan dan konseling, bimbingan pada
kelompok ibu hamil, pemberian surat kematian dan pemberian
keterangan cuti bersalin. Pelayanan persalinan meliputi, episiotomi,
penjahitan
luka
jalan
lahir
tingkat
I
dan
II,
penanganan
kegawatdaruratan, dianjurkan dengan rujukan. Pelayanan nifas meliputi,
pemberian vitamin A dosis tinggi, fasilitas/bimbingan inisiasi menyusu
dini dan promosi air susu ibu eklusif, pemberian uterotonika pada
manajemen aktif kala III dan postpartum.
35
1) Tugas Mandiri
Memberikan asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal:
A. Mengkaji status kesehatan kesehatan klien yang dalam keadaan
kehamilan.
B. Menentukan diagnosa kebidanan dan kebutuhan keadaan hamil.
C. Menyusun rencana asuhan kebidanan bersamaklien sesuai dengan
prioritas masalah.
D. Melaksanakan rencana asuhan kebidanan sesuai dengan rencana
yang telah disusun.
E. Mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan bersama klien.
F.
Membuat pencatatan dan laopran asuhan kebidanan yang telah
diberikan.
2) Tugas Kolaborasi/Kerjasama
Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan resiko tinggi dan
pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan
kolaborasi.
A. Mengkaji kebutuhan asuhan pada kasus resiko tinggi dan keadaan
kegawatdaruratan yang memerlukan pertolongan pertama dan
tindakan kolaborasi.
B. Menentukan diagnosis, prognosa dan prioritas sesuai dengan faktor
resiko dan keadaan kegawatdaruratanpada kasus resiko tinggi.
C. Menyusun rencana asuhan kebidanan pada kasus ibu hamil resiko
tinggi dan memberikan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas.
D. Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama
E. Membuat rencana tindakan lanjut bersama klien
F.
Membuat catatan dan laporan
3) Tugas Rujukan
Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu
hamil dengan resiko tinggi dan kegawatdaruratan
A. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan
rujukan pada ibu hamil
B. Menentukan diagnosis, prognosa dan prioritas
36
C. Memberikan pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan
rujukan
D. Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan
E. Mengirim klien untuk keperluan intervensi lebih lanjut pada
petugas/institusi pelayanan kesehatan yang berwenang
F.
Membuat catatan sdan laopran serta mendokumentasikan seluruh
kejadian dan intervensi, (Purwoastuti dan Walyani, 2014).
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran. Surat Al-Muminun Ayat 12-14. Surat Al-Sajdah Ayat 7-9.
Depkes. RI (2009) Upaya Percepatan Penurunan Angka kematian Ibu dan Bayi
Baru Lahir di Indonesia. Available from : http//:www.depkes.go.id [diakses
10 Mei 2016].
Dewi, VNL. Sunarsih T. (2011) Asuhan Kehamilan untuk Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika
Dian Pratitis, Kamidah. (2013) Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Hamil
Tentang Tanda Bahaya kehamilan dengan Kepatuhan Pemeriksaan
Kehamilan Di BPS Ernawati Boyolali, Vol 10 (2) Agustus, pp 33-41
DinKes (2015) Data AKI dan AKB Ciamis. Ciamis : DinKes
Haya, MAN. Pakasi, TA, Bahar, NA, Basuki, B. (2014) Antenatal care practice
and the chance of having nurse/miwdife birth attendant a study in Central
Mountain of Papua, vol 8 (3) Oktober, pp 30-39
Kusumawati. (2008) Panduan Lengkap Kehamilan dan Persalinan. Yogyakarta:
Tugu Publisher.
Manuaba I.B.G (2010) Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan, dan KB untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Prawiroharjo, S. (2013) Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka
Prawiroharjo, S. (2010) Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka
Permenkes. (2010) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1464/MENKES/PER/X/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik
Bidan. Available from: http://www.google.co.id/tag/ (Diakses tanggal 10 Mei
2016).
Romauli, S. (2011) Asuhan kebidanan 1. Yogyakarta: Muha Medika
Soepardan, S. (2008) Konsep Kebidanan. Jakarta: PT Maha Putra
Sugiyono. (2010) Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan RND. Bandung:
Alfabeta
Walyani, ES. (2015) Asuhan Kebidanan Kehamilan. Yogyakarta: Pustaka Press
Yuni, dkk (2010), Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya
Download