11 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Bisnis dan Organisasi

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian Bisnis dan Organisasi
Bisnis dan organisasi adalah badan hukum yang menggunakan dan
mengkoordinir sumber ekonomi untuk menyediakan barang dan jasa yang dapat
memuaskan kebutuhan masyarakat dengan cara yang menguntungkan. Bisnis adalah
akitivitas terpadu yang meliputi pertukaran produk atau uang yang dilakukan oleh
lebih dari dua pihak dengan maksud memperoleh manfaat atau keuntungan.
Organisasi yang ada dalam suatu perusahaan terhubung dalam suatu kesatuan
struktur yang menyatu dengan tujuan agar pekerjaan yang ada dapat terselesaikan
dengan baik melalui pengumpulan orang-orang dalam suatu unit, divisi, bagian
ataupun departemen dengan tugas pekerjan yang berkaitan.
2.2
Manajemen Sumber Daya Manusia
2.2.1 Manajemen
Menurut Robbins dan Coulter (2014:34) manajemen di artikan sebagai
mengkoordinasikan dan mengawasi kegiatan kerja orang lain agar pekerjaan tersebut
dapat diselesaikan dengan efektif dan efisien. Berdasarkan asal katanya, manajemen
berasal dari kata management yang merupakan bentuk kata benda dari kata kerja
manage yang bermakna mengurus, mengatur melaksanakan, dan mengelola.
Follett dalam Handoko (2012:3), mengandung arti bahwa manajer mencapai
tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan
berbagai pekerjaan yang diperlukan atau dengan kata lain tidak melakukan
pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
Pengertian manajemen lainnya di kemukakan Sitohang (2007), manajemen
adalah perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian usaha-usaha para anggota
oraganisasi dan penggunaan sumber daya lain yang ada dalam organisasi guna
mencapai tujuan yang telah di tetapkan.
11
12
Lebih lanjut penjelasan tentang definisi manajemen menurut Hersey,
Blanchard & Johnson (2000:7), adalah manajemen sebagai proses bekerja dengan
individu dan kelompok serta sumber daya lainnya (seperti peralatan, modal dan
teknologi) untuk mencapai tujuan organisasi. Selanjutnya definisi yang sama di
ungkapkan oleh Hasibuan (2005:1), menyatakan bahwa manajemen adalah ilmu, dan
seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya
secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Dari beberapa definisi manajemen dari beberapa ahli, maka dapat di
simpulkan bahwa manajemen adalah proses mengatur semua aktivitas organisasi
melalui individu atau kelompok agar kegiatan kerja terorganisir dengan efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan organisasi.
2.2.2
Fungsi Manajemen
Untuk dapat melaksanakan tugas dan menjalankan perannya dengan baik dan
benar, maka sebuah manajemen memiliki peran yang dapat mendukung dan
membantu dalam penerapannya. Empat fungsi manajemen menurut Robbins dan
Coulter (2014:35) yaitu:
1) Perencanaan (Planning) adalah fungsi manajemen yang mencangkup
proses mendefinisikan sasaran, menetapkan strategi untuk mencapai
sasaran itu, dan menyusun rencana untuk mengintegrasikan dan
mengkoordinasikan sejumlah kegiatan.
2) Pengorganisasi (Organizing) adalah fungsi manajemen yang melibatkan
kegitan menyusun dan mengstrukturisasi pekerjaan agar dapat mencapai
tujuan. Organizing mencangkup proses menentukan tugas apa yang harus
dilakukan, siapa yang melakukan, bagaiman cara mengelompokkan tugastugas itu, siapa harus melapor ke siapa, dan dimana keputusan harus
dibuat.
3) Kepemimpinan (Leading) adalah fungsi manajemen yang melibatkan
bekerja melalui dan dengan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.
Leading mencangkup memotivasi bawahan, mempengaruhi individu atau
13
tim sewaktu mereka bekerja, merancang komunikasi yang efektif, dan
memecahkan masalah perilaku karyawan.
4) Pengendalian (Controlling) adalah fungsi manajemen yang mencangkup
memantau kinerja, membandingkan kinerja dengan standar yang ada, dan
mengkoreksinya.
2.2.3 Manajemen Sumber Daya Manusia
Setiap perusahaan memerlukan sumber daya untuk mencapai tujuannya.
Sumber daya yang dibutuhkan itu, salah satunya adalah sumber daya manusia.
Manajemen sumber daya manusia di definisikan sebagai “a managerial perspective
which argues the need to establish an integrated series of personnel policies to
support organization strategy” (Beardwell dan Claydon, 2007:5). Sumber daya
manusia (SDM) harus dikelola dengan baik agar tujuan perusahaan dapat
dimaksimalkan.
Menurut Rivai dan Sagala (2009, p1), Manajemen sumber daya manusia
salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian.
Menurut Mathis & Jackson (2009, p5) dan Hasibuan (2009, p23), manajemen
sumber daya manusia (MSDM) dapat diartikan sebagai ilmu dan seni yang mengatur
hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien dalam penggunaan
kemampuan manusia agar dapat mencapai tujuan di setiap perusahaan.
Gary Dessler (2013:4) menyatakan manajemen sumber daya manusia adalah
proses merekrut, melatih, menilai dan mengkompensasikan karyawan dengan
memperhatiakan pertimbangan hubungan antar karyawan, keamanan dan kesehatan
serta keadilan.
Sedangkan menurut Robbins dan Coulter (2014:312), manajemen sumber
daya manusia adalah mengenai penggunaan karyawan secara organisasional untuk
mendapatkan atau memelihara keunggulan kompetitif terhadap para pesaing.
14
Sumber daya manusia sebenernya terjadi karena interaksi antara manusia dan
alam yang saling membutuhkan dalam memenuhi kebutuhannya. Sumber daya
manusia merupakan salah satu sumber daya yang terdapat dalam suatu organisasi.
Berbagai istilah yang dipakai untuk menunjukkan manajemen sumber daya manusia
antara lain: manajemen sumber daya manusia, manajemen personalia, manajemen
tenaga kerja, manajemen kepegawaian, administrasi personalia, industrial relation,
man power management, dan sebagainya.
Agar pengertian manajemen sumber daya manusia ini lebih jelas di rumuskan
dan di kutip definisi yang di kemukakan para ahli:
1) Hasibuan mengatakan manajemen sumber daya manusia adalah ilmu
dan seni menatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan
efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan
masyarakat.
2) Andrew F. Sikula mengambarkan implementasi tenaga kerja manusia
adalah pengadaan, pemeliharaan, penempatan, latihan-latihan dan
pendidikan sumber daya manusia. Implementasi sumber daya manusia
adalah rekruitmen, selection, tranning, education, development.
3) John B. Miner dan Mary Green Miner mendefinisikan manajemen
personalia sebagai suatu proses pengembangan, merapkan dan menilai
kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur, metode-metode dan
program-program
yang
berhubungan
dengan
individu-individu
karyawan dalam organisasi.
4) Dale Yoder mengartikan manajemen personalia adalah penyedia
kepemimpinan dan pengarahan para karyawan dalam pekerjaan atau
hubungan kerja mereka.
Beberapa persamaan yang dapat kita definisikan dari pendapat para ahli di
atas yaitu sama-sama mendefinisikan manajemen sumber daya manusia itu sebagai
suatu proses dan upaya untuk mengatur hubungan pekerjaan dan manusia. Dan
dengan melihat pendapat para ahli tersebut dapat kita simpulkan bahwa manajemen
sumber daya manusia adalah proses atau upaya yang mengatur hubungan dan peran
15
tenaga kerja agar lebih efktif dan efisien guna mencapai tujuan perusahaan,
karyawan dan masyarakat.
2.2.4 Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Dessler (2010: p4), Manajemen Sumber Daya Manusia memiliki
fungsi-fungsi dasar, diantaranya:
1. Perencanaan, yaitu menentukan sasaran dan standar-standar; membuat
aturan dan prosedur, menyusun rencana-rencana dan melakukan
peramalan.
2. Pengorganisasian, yaitu memberikan tugas spesifik kepada setiap
bawahan, membuat divisi, mendelegasikan wewenang kepada bawahan,
membuat
jalur
wewenang
dan
komunikasi,
mengkoordinasikan
pekerjaan bawahan.
3. Penyusunan staf, yaitu menentukan tipe orang yang harus dipekerjakan,
merekrut calon karyawan, memilih karyawan, menetapkan standar
prestasi,
mengevaluasi
prestasi,
memberikan
konseling
kepada
karyawan, melatih dan mengembangkan karyawan.
4. Kepemimpinan, yaitu mendorong orang lain untuk menyelesaikan
pekerjaan, mempertahankan semangat kerja, memotivasi bawahan.
5. Pengendalian, yaitu menetapkan standar seperti kuota penjualan, standar
kualitas, atau tingkat produksi, memeriksa untuk melihat bagaimana
prestasi yang dicapai dibandingkan dengan standar-standar tersebut,
melakukan evaluasi.
2.2.5 Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Sutrisno (2009: p6) Tujuan manajemen sumber daya manusia
meliputi:
1. Memberi pertimbangan manajemen dalam membuat kebijakan SDM
untuk
memastikan
bahwa
oganisasi
memiliki
pekerja
yang
bermotivasi dan berkinerja yang tinggi, memiliki pekerja yang selalu
16
siap mengatasi perubahan dan memenuhi kewajiban pekerjaan secara
legal.
2. Mengimplementasikan dan menjaga semua kebijakan dan prosedur
SDM yang memungkinkan organisasi mampu mencapai tujuannnya.
3. Membantu dalam pengembangan arah keseluruhan organisasi dan
u n t u k strategi, khususnya yang berkaitan dengan implikasi SDM.
4. Memberi dukungan dan kondisi yang akan membantu manajer
mencapai tujuannya.
5. Menangani berbagai krisis dan situasi sulit dalam hubungan antar
pekerja untuk meyakinkan bahwa mereka tidak menghambat
organisasi dalam mencapai tujuannnya.
6. Menyediakan media komunikasi antara pekerja dan manajemen
organisasi.
7. Bertindak sebagai pemelihara standar organisasional dan nilai dalam
manajemen SDM.
8. Memberi pertimbangan manajemen dalam membuat kebijakan SDM
untuk
memastikan
bahwa
oganisasi
memiliki
pekerja
yang
bermotivasi dan berkinerja yang tinggi, memiliki pekerja yang selalu
siap mengatasi perubahan dan memenuhi kewajiban pekerjaan secara
legal.
9. Mengimplementasikan dan menjaga semua kebijakan dan prosedur
SDM yang memungkinkan organisasi mampu mencapai tujuannnya.
10. Membantu dalam pengembangan arah keseluruhan organisasi dan
strategi, khususnya yang berkaitan dengan implikasi SDM.
2.2.6 Pentingnya Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia adalah bagian dari manajemen. Oleh
karena itu, teori-teori manajemen umum menjadi dasar pembahasannya. Manajemen
sumber daya manusa lebih memfokuskan pembahasannya mengenai peranan
17
pengaturan manusia dalam mewujudkan tujuan yang optimal. Manajemen sumber
daya manusia mendapat perhatian dan sorotan yang baik dari berbagai pihak, baik
yang berasal dari sektor publik maupun swasta. Berbagai penyelenggaraan seminar,
pelatihan dan kursus dan yang sejenisnya semuanya menekanka pada manajemen
sumber daya manusia.
Pentingnya manajemen sumber daya manusia ini dapat di soroti dari berbagai
perspektif. Moses K. Kiggundu misalnya, menyoroti relevansi dan pentingnya
manajemen sumber daya mausia ini dari keempat perspektif, yaitu politik, ekonomi,
teknologi dan sosial budaya. Sementara Siagian melangkah lebih jauh lagi dengan
mengemukakan enam perspektif yaitu politik, ekonomi, hukum, sosial kultural,
administratif dan teknologi.
Dengan begitu manajemen sumber daya manusia memang sangat penting
dalam sebuh organisasi dan menjadi kebutuhan pokok bagi organisasi apapun dan
semuanya berusaha untuk memperbaiki diri melalui manajemen sumber daya
manusia untuk tujuan yang efektif dan efisien.
2.2.7 Aktivitas Manajemen Sumber Daya Manusia
Ada tujuh aktivitas manajemen sumber daya manusia, menurut Robert L.
Mathis dan Jackson (2008) diantaranya:
1) Perencanaan dan analisis sumber daya manusia
Lewat perencanaan sumber daya manusia, manajer-manajer berusaha
untuk mengantisipasi kekuatan yang akan mempengaruhi persedian dan
tuntutan para karyawan di masa depan.
2) Kesetaraan dan kesempatan kerja
Pemenuhan hukum dan peraturan tentang kesetaraan kesempatan kerja
mempengaruhi semua aktifitas sumber daya manusia yang lain dan
integral dengan manajemen sumber daya manusia.
18
3) Pengangkatan pegawai
Tujuan dari pengangkatan pegawai adalah memberikan persediaan yang
memadai atas individu-individu yang berkualitas untuk mengisi lowongan
pekerjaan di sebuah organisasi.
4) Pengembangan sumber daya manusia
Dimulai dengan orientasi karyawan baru, pengembangan sumber daya
manusa juga meliputi keterampilan pekerjaan
5) Kompensasi dan tunjangan
Kompensasi
memberikan
pengahargaan
kepada
karyawan
atas
pelaksanaan pekerjaan melaui gaji, intensif dan tunjangan. Para pemberi
kerja harus memperbaiki dan mengembangan sistem upah dan gaji dasar
mereka.
6) Kesehatan, keselamatan dan keamanan
Jaminan atas kesehatan fisik dan mental serta keselamatan dan kesehatan
para karyawan adalah hal yang sangat penting.
7) Hubungan karyawan dan buruh atau hubungan manajemen.
Hubungan para manajer dan karyawan mereka harus ditangani secara
efektif apabila para karyawan dan organisasi ingin sukses bersama.
2.3
Stress Kerja
2.3.1 Definisi Stres
Menurut Robbins and Judge (2008), stres adalah suatu kondisi dinamis
dimana seorang individu di hadapkan pada peluang, tuntutan atau sumber daya yang
terkait dengan apa yang di hasratkan oleh individu itu dan hasilnya di pandang tidak
pasti dan penting.
Stres adalah keadaan tegang yang dialami oleh seseorang ketika cara
penanganan masalah yang biasa di gunakan tidak lagi memadai (Rae, 2008:152).
Menurut Kreitner dan Kinicki (2005:351), stres adalah suatu respon yang adaptif, di
hubungkan oleh karakteristik atau proses psikologis individu yang merupakan suatu
19
konsekuensi dari setiap tindakan eksternal, situasi atau peristiwa yang menempatkan
tuntutan psikologis dan fisik khusus pada seseorang.
Menurut Ivancevich et al. (2007: 441), stres adalah suatu respons adaptif,
dimoderasi oleh perbedaan individu, yang merupakan konsekuensi dari setiap
tindakan, situasi, atau peristiwa yang memberikan tuntutan khusus terhadap
seseorang yang berpengaruh terhadap kinerja seseorang. Ivancevich, et al.
(2007:441) juga menggolongkan stres dibagi menjadi dua kategori, yaitu stres
sebagai suatu stimulus atau stres sebagai suatu respons. Stres sebagai suatu stimulus
menganggap stres sebagai sejumlah karakteristik atau peristiwa yang mungkin
menghasilkan konsekuensi yang tidak beraturan. Stres sebagai suatu respons
merupakan konsekuensi dari interaksi antara suatu stimulus lingkungan dan respons
individual. Hal ini berarti, stres merupakan interaksi unik antara kondisi stimulus
dalam lingkungan dan cara individu untuk merespons dengan cara tertentu.
2.3.2 Jenis - Jenis Stres
Hans Selye (1974) dalam Fevre et al (2006:726) menggolongkan stres
menjadi 2 jenis, yaitu:
1) Eustress: terjadi ketika ada kesenjangan antara apa yang dimiliki dan apa
yang diinginkan, tujuannya tidak terlalu jauh dari jangkauan, tapi individu
dapat menangani kesenjangan ini. Eustress mendorong tantangan dan
motivasi karena tujuannya sudah di depan mata. Eustress ditandai dengan
harapan dan keterlibatan aktif. Eustress memiliki korelasi positif
bermakna dengan kepuasan hidup dan harapan.
2)
Distress:
lawan
dari
eustress.
Distress
adalah
keadaan
tidak
menyenangkan di mana seseorang tidak mampu beradaptasi sepenuhnya
terhadap stressor dan stres yang dihasilkannya menunjukkan perilaku
maladaptif. Hal ini dapat terlihat dengan adanya berbagai fenomena,
seperti interaksi sosial yang tidak pantas (misalnya, agresif, pasif, atau
penarikan diri).
20
2.3.3 Stres Kerja
Stres kerja menurut Saleh, Bakar dan Keong (2008) stres kerja dilambangkan
sebagai kekuatan, tekanan, kecenderungan atau upaya seseorang dalam kekuatan
mental pada pekerjaan.
Stres kerja menurut Mangkunegara (2008:157) adalah sebuah perasaan
tertekan yang di alami karyawan dalam menghadapi pekerjaan. Stres kerja ini
tampak dari sikap, antara lain emosi tidak stabil, perasaan tidak tenang, suka
menyendiri, sulit tidur, merokok yang berlebihan, tidak bias rileks, cemas, tegang,
gugup, tekanan darah meningkat, dan mengalami gangguan pencernaan.
Menurut Robbins dalam Benyamin Molan (2006:796) menyatakan stress
kerja adalah kondisi yang muncul dari interaksi antara manusia dan pekerjaan serta
di karakteristikkan oleh perubahan manusia yang memaksa mereka untuk
menyimpang dari fungsi normal mereka.
Rae (2008:153) mendefinisikan stres kerja sebagai respon fisik dan emosional
berbahaya yang terjadi ketika persyaratan kerja tidak memenuhi kapabilitas, sumber
daya, dan kebutuhan karyawan.
Luthans (2006:440) mendefinisikan stres kerja sebagai respons adaptif
terhadap situasi eksternal yang menghasilkan penyimpangan fisik, psikologis, dan
atau perilaku pada anggota organisasi.
Hellriegel and Slocum (2004), menyatakan stres kerja ialah suatu perasaan
tekanan yang di alami karyawan dalam menghadapi pekerjaan. Sementara itu Ross
dan Altmaie menyebutkan bahwa stres kerja merupakan akumulasi dari sejumlah
sumber-sumber stres yaitu situasi-situasi pekerjaan yang dianggap sebagai tekanan
bagi kebanyakan orang. Lebih lanjut disebutkan bahwa stres kerja merupakan
interaksi antara sejumlah kondisi pekerjaan dengan karakteristik yang dimiliki oleh
pekerja dimana tuntutan pekerjaan melebihi kemampuan pekerja. dalam Nayaputera,
(2011:21).
Menurut Sunyoto (2012:61), menyatakan bahwa stres mempunyai arti
berbeda-beda bagi masing-masing individu. Kemampuan setiap orang beraneka
21
ragam dalam mengatasi jumlah,intensitas, jenis dan lamanya stres. Orang lebih
mudah membicarakan ketegangan daripada stres. Stres merupakan sesuatu yang
menyangkut interaksi antara individu dan lingkungan yaitu interaksi antara stimulasi
dan respons, dengan demikian stres kerja (job stress) adalah konsekuensi setiap
tindakan dan situasi lingkungan yang menimbulkan tuntutan psikologis dan fisik
secara berlebihan pada seseorang. Stres bukanlah sesuatu yang aneh atau yang tidak
berkaitan dengan keadaan normal yang terjadi pada orang yang normal atau tidak
semua stres bersifat negatif. Stres kerja yang dialami oleh karyawan akibat
lingkungan yang dihadapinya akan mempengaruhi kinerja dan kepuasaan kerjanya.
Pendapat lain diungkapkan oleh Davis dalam Suharsono (2012:171), stres kerja
adalah kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses pikiran dan kondisi
fisik seseorang saat bekerja.
Definisi stres kerja lainnya menurut Cooper (Arnold, 2005) adalah sebuah
kekuatan yang mendorong faktor fisik maupun psikologis diluar jangkauan stabilitas,
membuat ketegangan dalam diri individu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan stres kerja merupakan keadaan
dimana karyawan mengalami gangguan psikologis maupun fisik dalam menghadapi
suatu permasalahan atau pekerjaan yang dapat berpengaruh terhadap kinerjanya di
dalam perusahaan dan membuat ketidakseimbangan antara karakteristik kepribadian
karyawan dengan karakateristik aspek-aspek pekerjaannya.
2.3.4 Gejala Stres Kerja
Secara umum, seseorang mengalami stres pada pekerjaan akan menampilkan
gejala-gejala yang meliputi tiga kategori umum, yaitu (Robbins dan Judge, 2008):
1. Gejala Fisiologis
Gejala fisiologis merupakan gejala awal yang bisa diamati, terutama pada
penelitian medis dan ilmu kesehatan. Stres cenderung berakibat pada
perubahan metabolisme tubuh, meningkatnya detak jantung dan pernafasan,
peningkatan tekanan darah, timbulnya sakit kepala, serta yang lebih berat lagi
terjadinya serangan jantung.
22
2. Gejala Psikologis
Dari segi psikologis, stres dapat menyebabkan ketidakpuasan. Hal itu
merupakan efek psikologis yang paling sederhana dan paling jelas. Namun
bisa saja muncul keadaan psikologis lainnya, misalnya ketegangan,
kecemasan, mudah marah, kebosanan dan suka menunda-nunda pekerjaan.
Bukti menunjukkan bahwa ketika orang ditempatkan dalam pekerjaan dengan
tuntutan yang banyak dan saling bertentangan atau dimana ada ketidakjelasan
tugas, wewenang, dan tanggung jawab pemegang jabatan, maka stres maupun
ketidakpuasan akan meningkat.
3. Gejala Perilaku
Gejala stres yang berkaitan dengan perilaku meliputi perubahan dalam tingkat
produktivitas, absensi, kemangkiran, dan tingkat keluarnya karyawan, juga
perubahan dalam kebiasaan makan, merokok dan konsumsi alkohol, bicara
cepat, gelisah, dan gangguan tidur.
2.3.5 Faktor Penyebab Stres Kerja
Menurut Robbins (2012) terdapat tiga faktor penyebab stres, yaitu:
1. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan seperti ketidakpastian lingkungan mempengaruhi desain
dari struktur suatu organisasi, ketidakpastian itu juga mempengaruhi tingkat
stres di kalangan para karyawan.
a. Ketidakpastian ekonomi
Ketidakpastian harga barang yang cenderung terus naik sedangkan
kenaikan gaji karyawan tidak terlalu signifikan dengan kenaikan
harga barang dan bahkan gaji karyawan cenderung tetap hal inilah
yang akan membuat karyawan menjadi stres karena kebutuhan
pokoknya tidak tercukupi.
23
b. Ketidakpastian Politis
Batasan birokrasi menjadi salah satu sumber stres yang berpengaruh
dengan pekerjaan. Karyawan akan merasa tertekan atau stres apabila
karyawan merasa ada ancaman terhadap perubahan politik.
c. Ketidakpastian Teknologis
Inovasi-inovasi baru dapat membuat ketrampilan dan pengalaman
seorang karyawan usang dalam waktu yang sangat pendek oleh karena
itu ketidakpastian teknologi merupakan tipe ketiga yang dapat
menyebabkan stres, komputer, robotika, otomatisasi dan ragam-ragam
lain dari inovasi teknologis merupakan ancaman bagi banyak
organisasi yang menyebabkan stres.
2. Faktor organisasi
Banyak sekali faktor di dalam organisasi yang dapat menimbulkan stres.
Tekanan untuk menghindari kekeliruan atau menyelesaikan tugas dalam
suatu kurun waktu yang terbatas, beban kerja yang berlebihan, seorang atasan
yang menuntut dan tidak peka, serta rekan kerja yang tidak menyenangkan
merupakan beberapa contoh.
a. Tuntutan Tugas
Tuntutan tugas merupakan faktor yang dikaitkan pada pekerjaan
seorang. Faktor ini mencakup desain pekerjaan individu, kondisi
kerja, dan tata letak kerja fisik.
b. Tuntutan Peran
Tuntutan peran berpengaruh dengan tekanan yang diberikan pada
seseorang sebagai suatu fungsi dari peran tertentu yang dimainkan
dalam organisasi itu. Konflik peran menciptakan harapan-harapan
hampir tidak bisa dirujukkan atau dipuaskan.
c. Tuntutan Antar Pribadi
Tuntutan antar pribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan
lain kurangnya dukungan sosial, rekan-rekan dan pengaruh pribadi
24
yang buruk dapat menimbulkan stres yang cukup besar, teristimewa
diantara para karyawan dengan kebutuhan sosial yang tinggi.
d. Struktur Organisasi
Struktur organisasi menentukan tingkat diferensiasi dalam organisasi,
tingkat aturan dan peraturan, serta di mana keputusan diambil. Aturan
yang berlebihan dan kurangnya partisipasi dalam pengambilan
keputusan yang berdampak pada seorang karyawan merupakan suatu
contoh dari variabel struktural yang dapat merupakan sumber
potensial dari stres.
e. Kepemimpinan Organisasi
Menggambarkan gaya manajerial dari eksekutif senior organisasi
beberapa pejabat eksekutif keputusan menciptakan suatu budaya yang
dicirikan oleh ketegangan, rasa takut dan kecemasan karyawan
membangun tekanan yang tidak realistis untuk berprestasi dalam
jangka pendek, memaksakan pengawasan yang berlebihan ketatnya
dan secara rutin memecat karyawan yang tidak dapat mengikutinya.
f. Tahap Hidup Organisasi
Organisasi berjalan melalui suatu siklus, didirikan, tumbuh dan
menjadi dewasa dan akhirnya merosot. Suatu, tahap kehidupan
organisasi yaitu di mana dia ada dalam daur empat tahap ini,
menciptakan masalah dan tekanan yang berbeda untuk para karyawan.
Tahap pendirian dan kemerosotan sangat menimbulkan stres.
3. Faktor Individual
Faktor individual bisa mencakup faktor-faktor dalam kehidupan pribadi
karyawan, terutama sekali faktor-faktor ini adalah isu keluarga, masalah
ekonomi pribadi dan karakteristik kepribadian yang intern.
a. Masalah Keluarga
Keluarga secara konsisten menunjukkan bahwa orang menganggap
hubungan pribadi dan keluarga sebagai sesuatu yang berharga.
Kesulitan pernikahan, pecahnya suatu hubungan dan kesulitan disiplin
25
pada anak-anak merupakan contoh dari masalah hubungan yang
menciptakan stres bagi para karyawan dan terbawa ke tempat kerja.
b. Masalah Ekonomi
Masalah
ekonomi
diciptakan
oleh
individu
yang
terlalu
merentangkan. Sumber daya keraguan karyawan merupakan suatu
perangkat kesulitan pribadi lain yang dapat menciptakan stres bagi
karyawan dan mengganggu perhatian karyawan terhadap kerja.
c. Kepribadian
Suatu faktor individual penting yang mempengaruhi stres adalah
kodrat kecenderungan dasar dari seseorang, artinya gejala stres yang
diungkapkan pada pekerjaan itu sebenarnya mungkin berasal dalam
kepribadian orang itu.
2.3.6 Dampak Stres Kerja
Menurut Rae (2008 :153) stres kerja dapat mempengaruhi kinerja karyawan.
Selama dalam kondisi stres, karyawan merasa tidak mampu lagi melanjutkan
pekerjaannya. Emosi karyawan yang stres kerja umumnya tidak stabil dan campur
aduk sehingga menyebabkan perilaku agresif, permusuhan, dan penarikan (misalnya,
sering absen). Perubahan kimia dalam tubuh individu yang stres kerja memiliki efek
jangka panjang pada kesehatannya (Rae, 2008 : 158). Stres berbahaya karena
merusak sistem daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang penyakit, dan proses
penyembuhannya pun lebih lama ketika terserang penyakit. Perusahaan harus
mampu menganalisa biaya stres kerja yang dialami karyawan, mengatur tujuan untuk
menjadi organisasi yang sehat, menciptakan program-program manajemen stres kerja
karyawan, dan melatih para manajer untuk mengenali gejala-gejala stres kerja yang
mungkin dialami karyawan sedini mungkin.
Sedangkan menurut Luthans (2006:456), dampak stres kerja pada karyawan
adalah sebagai berikut:
1).
Masalah kesehatan fisik:
• Masalah sistem kekebalan tubuh,
26
• Masalah sistem kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi dan
penyakit jantung.
• Masalah sistem musculoskeletal, seperti sakit kepala dan sakit
punggung.
• Masalah sistem gastrointestinal, seperti diare dan sembelit.
2).
Masalah Psikologis
Tingkat stres tinggi mungkin disertai dengan kemarahan, kecemasan,
depresi, gelisah, cepat marah, tegang, dan bosan. Sebuah studi menemukan
bahwa dampak stres yang paling kuat adalah pada tindakan agresif, seperti
sabotase, agresi antar-pribadi, permusuhan, dan keluhan. Jenis masalah
psikologis tersebut relevan dengan kinerja yang buruk, penghargaan diri
yang
rendah,
benci
pada
pengawasan,
ketidakmampuan
untuk
berkonsentrasi dan membuat keputusan, dan ketidakpuasan kerja.
3).
Masalah perilaku
Perilaku langsung yang menyertai tingkat stres yang tinggi mencakup
makan sedikit atau perubahan makan berlebihan, tidak dapat tidur,
merokok dan minum, dan penyalahgunaan obat-obatan.
2.3.7
Cara Menghadapi Stres kerja
Tedapat dua cara untuk menghadapi stres kerja, menurut Invancevich,
Konopaske dan Matteson (2006:303), sebagai berikut:
1) Problem-focused coping
Tindakan yang di ambil oleh seseorang individu untuk menghadapi orang,
situasi, atau peristiwa yang penuh tekanan kemudian merujuk pada tindakan
yang diambil untuk berhadapan langsung dengan sumber stress. Sebagai
contoh, pekerja yang memiliki seorang manajer yang kasar mungkin
menghadapinya dengan cara absen dari tempat kerja. Absen ini akan
memungkinkan pekerja tersebut menyingkir, selama beberapa waktu dari
manajer yang kasar tersebut.
27
2) Emotion-focused coping
Hal ini merujuk pada langkah-langkah yang diambil seseorang untuk
berhadapan dengan perasaan dan emosi yang menekan. Sebagai contoh,
karyawan sering berpergian sebagai bagian dari pekerjaannya mungkin
dapat meringankan perasaan dan emosinya yang tertekan dengan berolah
raga secara teratur atau dengan membaca buku fiksi ringan, jika aktivitas
untuk menghadapi stres ini berhasil, perasaan karyawan tersebut
terkendalikan.
2.3.8 Pendekatan Stres Kerja
Menurut Robbins (2006) cara mengatasi stres dapat dilakukan dengan dua
pendekatan yaitu pendekatan individu dan pendekatan organisasi.
a. Pendekatan individu
Karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi
tingkat stresnya. Strategi yang telah terbukti efektif mencangkup
pelaksanaan teknik-teknik manajeman waktu, meningkatkan latihan
fisik, pelatihan pengenduran (relaksasi) dan perluasan jaringan
dukungan social, misalnya menemukan seseorang yang mampu
mendengar masalah-masalah kita dan memberikan perspektif yang lebih
objektif terhadap situasi ini.
b. Pendekatan organisasi
Staregi yang dapat dipertimbangkan oleh manajemen untuk mengurangi
tingkat stress yang dialami karyawan antara lain perbaikan personal dan
penempatan kerja, penggunaan penempatan sasaran yang realistis,
perancangan-ulang pekerjaan, peningkatan keterlibatan karyawan,
perbaikan komunikasi organisasi dan penegakan program kesejahteraan
korporasi.
28
2.3.9 Pengukuran Stres Kerja
Dalam pengukuran penyebab stres baik on the job maupun off the job
adalah dengan melihat kondisi yang terjadi pada karyawan tersebut yaitu:
1. Agresif, yaitu suatu sikap yang mudah menyerang, dalam kondisi
seperti ini biasanya tidak dapat menerima orang lain.
2. Tekanan, yaitu kondisi kerja karyawan yang disebabkan oleh
banyaknya tuntutan pekerjaan yang harus diselesaikan.
3. Suntuk, yaitu kondisi kerja karyawan yang disebabkan pekerjaan
yang monoton dan menginginkan adanya perubahan.
4. Rasa tidak puas, dalam suatu kondisi pekerjaan yang tidak
memenuhi harapan dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kondisi
atau situasi.
5. Mudah terkejut, yaitu kondisi karyawan yang selalu melamun
disebabkan banyaknya masalah, baik dalam pekerjaan maupun luar
pekerjaan sehingga terkejut apabila mendapat sapaan dari rekan
sekerja.
6. Sulit berkonsentrasi, yaitu kondisi yang disebabkan oleh ruang
kerja yang tidak mendukung.
7. Depresi, yaitu kondisi yang mempengaruhi kehidupan individu
yang bersangkutan dan dapat menyerah pada upaya bunuh diri.
8. Sulit mengambil keputusan, yaitu kondisi dimana karyawan yang
sudah mengalami over load di karenakan berbagai tuntutan
pekerjaaan sehingga sulit mengambil keputusan.
9. Mudah tersinggung, yaitu kondisi perasaan seseorang yang mudah
tersentuh emosional karena perlakukan tertentu dari seseorang.
10. Gelisah, yaitu kondisi yang disebabkan adanya perasaan yang tidak
enak, baik dari dalam pekerjaan maupun luar pekerjaan.
11. Pelupa, yaitu kondisi adanya banyak masalah pekerjaan baik dari
rekan kerja maupun pimpinan.
29
12. Pesimis, suatu kondisi pekerja yang disebabkan adanya tugas-tugas
baru yang membuat patah semangat dalam mengerjakan tetapi
masih tetap berusaha untuk menyelesaikannya.
13. Menutup diri, yaitu kondisi karyawan yang disebabkan adanya
masalah, baik dari pekerjaan ataupun keluarga yang tidak ingin
diceritakan dengan rekan sekerjanya.
2.3.10
Indikator Stres Kerja
Indikator stres kerja menurut Salleh, Bakar dan Keong (2008) terbagi
atas 5 skala penilaian yaitu:
1. Faktor intrinsik pekerjaan yang terbagi atas tuntutan tugas, tekanan waktu
karena deadline pekerjaan dan harus melakukan pengambilan keputusan
yang terlalu banyak.
2. Peran dalam organisasi yang terbagi atas ketidakpastian dan kurangnya
informasi peran pekerjaan, harapan dalam pekerjaan dan tanggung jawab
dalam pekerjaan.
3. Hubungan di tempat kerja yang terbagi atas hubungan dengan atasan dan
hubungan dengan rekan kerja,
4. Pengembangan karir yang terbagi atas kurangnya keamanan kerja
(ketakutan akan tidak dipakai lagi atau pensiun dini) dan ketidakcocokan
status misalnya promosi yang berlebihan, promosi yang kurang dan
frustasi karena harus mengejar karir yang tinggi.
5. Struktur dan iklim organisasi yaitu kesempatan yang lebih besar untuk
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
2.3.11 Hubungan Stres kerja dan Kinerja Karyawan
Stres kerja sangat membantu tetapi dapat berperan salah atau merusak
kinerja. Secara sederhana ini berarti bahwa stres mempunyai potensi untuk
mendorong atau mengganggu pelaksanaan kerja, bila tidak ada stres tantangan kerja
juga tidak akan ada dan kinerja pun akan rendah.
30
Stres yang tidak teratasi akan berpengaruh terhadap kinerja. Pada tingkat
tertentu stres itu diperlukan. Apabila tidak ada stres dalam pekerjaan, para
karyawan tidak akan merasa ditantang dengan adanya kinerja yang menjadi rendah.
Sebaliknya dengan adanya stres, karyawan merasa perlu mengerahkan segala
kemampuannya untuk berprestasi tinggi dan dengan demikian dapat menyelesaikan
tugas dengan baik. Bagi seorang pemimpin tekanan-tekanan yang diberikan oleh
seorang karyawan haruslah dikaitkan dengan apakah stres yang ditimbulkan dari
tekanan-tekanan tersebut masih dalam keadaan wajar.
Lebih lanjut menurut Stephen P. Robbins (2010) stres berpengaruh
terhadap prestasi kerja, ini dibuktikan dengan U terbalik antara stres kerja dan
prestasi kerja. Dibawah ini hubungan stres kerja dan prestasi kerja digambarkan
dengan U terbalik.
Gambar 2.1 Hubungan Stres Kerja dan Kinerja Karyawan
Logika yang mendasari U terbalik itu adalah bahwa stres pada tingkat
rending sampai tingkat sedang merangsang tubuh dan mengakibatkan kemampuan
untuk berkreasi. Pada saat itu individu sering melakukan tugasnya dengan lebih
baik, lebih intensif atau lebih cepat. Tetapi bila stres itu lebih banyak akan
mengakibatkan kinerja menjadi rendah atau menurun.
Pola U terbalik ini juga menggambarkan reaksi terhadap stres sepanjang
waktu dan terhadap intensitas stres, artinya stres tingkat sedang justru dapat
berpengaruh negatif pada kinerja atau prestasi jangka panjang karena intensitas
stres yang berkelanjutan itu dapat meruntuhkkan individu dan melemahkan sumber
daya energinya.
31
2.4
Definisi Beban Kerja
Beban kerja merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan oleh setiap
perusahaan, karena beban kerja berpengaruh terhadap karyawan dalam meningkatkan
produktivitas dan merasakan kenyamanan dalam bekerja. Beban kerja adalah besaran
pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu jabatan atau unit organisasi dan merupakan
merupakan hasil kali antara volume kerja dan norma waktu (Aminah Soleman,
2011).
Menurut Menpan (Dhini Rama Dhania, 2010:16), pengertian beban kerja
adalah sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit
organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu.
Beban kerja adalah frekuensi kegiatan rata-rata dari masing-masing pekerjaan
dalam jangka waktu tertentu. Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental.
Akibat beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat
mengakibatkan seorang pegawai menderita gangguan atau penyakit akibat kerja
(Irwandy, 2007).
Menurut Permendagri No. 12/2008, beban kerja adalah besaran pekerjaan
yang harus dipikul oleh suatu jabatan atau unit organisasi dan merupakan hasil kali
antara volume kerja dan norma waktu.
Robbins (2010) menyatakan bahwa positif negatifnya beban kerja merupakan
masalah persepsi. Persepsi didefinisikan sebagai suatu proses dimana individu
mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna
kepada lingkungan mereka. Persepsi terhadap beban kerja berkaitan dengan faktor
atribut peran dan pekerjaan. Hal ini dikarenakan persepsi terhadap beban kerja
merupakan yang erat hubungannya dengan suatu pekerjaan, dimana individu
memberikan penilaian mengenai sejumlah tuntutan tugas atau kegiatan yang
membutuhkan aktivitas mental dan fisik yang harus ia selesaikan dalam waktu
tertentu, apakah memiliki dampak positif atau negatif terhadap pekerjaan.
Dengan demikian pengertian beban kerja adalah sebuah proses yang
dilakukan oleh seseorang dalam menyelesaikan tugas-tugas suatu pekerjaan atau
32
kelompok jabatan yang dilaksanakan dalam keadaan normal dalam suatu jangka
waktu tertentu.
2.4.1 Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi beban kerja dalam penelitian Aminah
Soleman (Jurnal Arika, 2011:85) adalah sebagai berikut:
1) Faktor eksternal: Beban yang berasal dari luar tubuh pekerja, seperti:
• Tugas (Task). Meliputi tugas bersifat fisik seperti, stasiun kerja, tata
ruang tempat kerja, kondisi ruang kerja, kondisi lingkungan kerja,
sikap kerja, cara angkut, beban yang diangkat. Sedangkan tugas
yang bersifat mental meliputi, tanggung jawab, kompleksitas
pekerjaan, emosi pekerja dan sebagainya.
• Organisasi Kerja. Meliputi lamanya waktu kerja, waktu istirahat, shift
kerja, sistem kerja dan sebagainya.
• Lingkungan Kerja. Lingkungan kerja ini dapat memberikan beban
tambahan yang meliputi, lingkungan kerja fisik, lingkungan kerja
kimiawi, lingkungan kerja biologis dan lingkungan kerja psikologis.
2) Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh akibat dari
reaksi beban kerja eksternal yang berpotensi sebagai stresor, meliputi
faktor somatis (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, status gizi, kondisi
kesehatan, dan sebagainya), dan faktor psikis (motivasi, persepsi,
kepercayaan, keinginan, kepuasan, dan sebagainya).
33
2.4.2 Indikator Beban Kerja
Dari faktor-faktor tersebut dapat diperoleh indikator-indikator dari variabel beban
kerja sebagai berikut:
1. Faktor eksternal:
a. Tugas-tugas yang bersifat fisik (sikap kerja)
b. Tugas-tugas
yang
bersifat
mental
(tanggung
jawab,
kompleksitas pekerjaan, emosi pekerja dan sebagainya)
c. Waktu kerja dan waktu istirahat dosen
d. Kerja secara bergilir
e. Pelimpahan tugas dan wewenang
2. Faktor internal:
a. Faktor somatis (kondisi kesehatan)
b. Faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan dan
sebagainya).
2.4.3 Hubungan Beban Kerja dengan Kinerja Karyawan
Gambar 2.2 Hubungan Beban Kerja dan Kinerja Karyawan
Berdasarkan Yerkes-Dodson Law, hubungan antara beban kerja dan kinerja
dapat digambarkan seperti bentuk kurva U terbalik. Kurva memperlihatkan bahwa
dengan beban kerja yang terlalu rendah ataupun terlalu tinggi maka akan
menyebabkan performance pekerja rendah, sementara untuk beban kerja dengan
level sedang kinerja masih tergolong tinggi. Hal ini juga berlaku untuk beban kerja
34
mental. Jika beban mental seorang karyawan rendah, maka pekerja tersebut akan
mudah bosan dan cenderung kehilangan ketertarikan terhadap pekerjaan yang
dilakukan dan menurunnya tingkat konsentrasi.
2.5
Definis Motivasi Kerja
2.5.1 Definisi Motivasi
Menurut Jones dan Goerge (2008) Motivasi adalah kekuatan psikologis yang
menentukan arah tingkat seseorang usaha, dan tingkat seseorang ketekunan . Jones
dan George juga mengatakan, bahwa motivasi merupakan sentral manajemen, sebab
menjelaskan bagaimana orang berperilaku dan cara mereka melakukan pekerjaan di
dalam organisasi. Motivasi ada yang berasal dari dalam (intrinsic) dan ada yang
berasal dari luar (extrinsic). Perilaku dengan motivasi intrinsik adalah perilaku yang
ditunjukkan untuk kepentingannya sendiri, dengan kata lain sumber motivasi
biasanya datang dari penunjukkan perilaku itu sendiri. Sedangkan perilaku dengan
motivasi ekstrinsik adalah perilaku yang ditunjukkan untuk memperoleh materi atau
penghargaan sosial atau untuk menghindari hukuman. Perilaku tersebut ditunjukkan
bukan untuk kepentingannya sendiri tetapi lebih kepada konsekuensinya. Contoh dari
motivasi ekstrinsik termasuk bayaran, pujian, status. (Jones dan George, 2008).
Menurut Mc.Shane dan Von Glinow (2008), motivation refers to the forces
within a person that affect the direction, intensity, and persistence of voluntary
behavior. McShane dan Von Glinow juga mengatakan, bahwa motivasi merupakan
salah satu dari empat faktor yang menggerakkan seseorang berperilaku dan
menunjukan kinerjanya. Empat faktor tersebut adalah: motivation, ability, role
perception, and situational factors of individual behavior and results (MARS
model). Menurut hasil penelitian McClelland dalam McShane, Von Glinow dan
Mary Ann (2008) terdapat tiga kebutuhan yang mendorong motivasi, yaitu: Need for
achievement, need for affiliation, dan need for power. Bila kebutuhan-kebutuhan
tersebut dapat dipenuhi akan berakibat meningkatkan kinerja.
Istilah-istilah untuk menghindari kekurang tepatan penggunaan istilah
“motivasi” ini, perlu kiranya dikemukakan pendapat Manullang tentang adanya
istilah-istilah yang mirip dan sering dikacaukan tentang motivasi tersebut sebagai
35
berikut: (a) motif, (b) motivasi, (c) motivasi kerja, (d) incentive. Sedangkan istilahistilah lain dari berbagai sumber, motivasi kerja juga bisa disebut motivating,
motivation dan motive (Martoyo,2003).
Herzberg (1966) dalam Robbins (2006) memperkenalkan teori motivasi
higiene atau yang sering disebut dengan teori dua faktor, yang berpendapat bahwa
hubungan individu dengan pekerjaannya merupakan hubungan dasar dan bahwa
sikap seseorang terhadap kerja sangat menentukan kesuksesan atau kegagalan
individu tersebut. Herzberg (1966) dalam Robbins (2006) juga menyatakan bahwa
terdapat faktor yang diinginkan seseorang terhadap pekerjaan mereka. Dari respon
yang dikategorikan, diketahui bahwa respon mereka yang merasa senang berbeda
dengan respon
mereka yang tidak merasa senang. Beberapa faktor tertentu
cenderung secara konsisten terkait dengan kepuasan kerja dan yang lain terkait
dengan kerja.
Menurut Malayu S.P Hasibuan (2006) “bahwa motivasi adalah pemberian
daya pengerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau
bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk
mencapai kepuasan”.
Dimensi motivasi menurut Sutrisno Edy (2009) dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Faktor Intern: keinginan untuk hidup, penghargaan, pengakuan.
2. Faktor Ekstern: kondisi lingkungan kerja (cahaya yang cukup, bersih dan
strategis) dan adanya jaminan pekerjaan.
2.5.2 Definisi Motivasi Kerja
Anoraga (2006:35) menjelaskan bahwa motivasi kerja adalah sesuatu
yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja. Oleh sebab itu, motivasi kerja
disebut pendorong semangat kerja. Kuat dan lemahnya motivasi kerja seorang
tenaga kerja ikut menentukan besar kecilnya prestasinya.
Pengertian motivasi kerja menurut para ahli adalah sebagai berikut:
• H.
Haynes
dan
J.
L.
Massi
mengatakan
bahwa
“motive”
adalah:“something within individual which incites him to action.”
36
• Carl
Heyel
memberikan
defenisi
motivation
sebagai
berikut:
“motivation refers to the degree of readyness of an organism to pursue
some designated goal and implier the determination of the nature and
locus of the foreces inducing the degree of readyness.”
•
The Liang Gie berpendapat bahwa motivating adalah pekerjaan yang
dilakukan oleh seseorang manajer dalam memberikan inspirasi,
semangat dan dorongan kepada orang lain, dalam hal ini karyawannya,
untuk mengambil tindakan-tindakan.
•
Chung dan Megginson menyatakan bahwa motivasi dirumuskan
sebagai perilaku yang ditujukan pada sasaran. Motivasi berkaitan
dengan yang dilakukan seseorang dalam mengejar suatu tujuan,
motivasi berkaitan erat dengan kepuasan pekerja dan performasi
pekerjaan.
Beberapa persamaan dari pendapat para ahli diatas yaitu memberikan
motivasi dan semangat serta untuk mencapai kepuasan kerja. Dengan berbagai
defenisi dari para ahli bisa disimpulkan bahwa motivasi kerja adalah suatu pemberian
dorongan dan semangat yang diberikan oleh manajernya agar karyawan nya lebih
giat dalam bekerja dalam mewujudkan suatu tujuan di dalam organisasi yang
ditunjukkan oleh kepuasan serta kinerja dari karyawan tersebut.
2.5.3 Teori Motivasi
Untuk mencapai keefektivan motivasi, maka diperlukan teori-teori motivasi
dari para ahli sebagai pendukungnya. Teori-teori motivasi dalam Malayu S.P
Hasibuan (2005) adalah sebagai berikut:
a). Teori Motivasi Mc Clelland
Menurut David Mc Clelland terdapat tiga macam kebutuhan yang perlu
diperhatikan pegawai yaitu: Kebutuhan akan prestasi (needs for
achievement = nAch), kebutuhan akan kelompok pertemanan (needs for
affliliation = nAff) dan kebutuhan akan kekuasaan (needs for power =
nPower), dimana apabila kebutuhan seseorang terasa sangat mendesak,
37
maka kebutuhan itu akan memotivasi orang tersebut untuk berusaha keras
memenuhinya. Berdasarkan teori ini kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat
dibangun dan dikembangkan melalui pengalaman dan pelatihan. Orang
yang tinggi dalam nAch akan lebih menyukai pekerjaan dengan tanggung
jawab individu, umpan balik dari kinerja, dan tujuan yang menantang.
b). Teori Herzberg
Teori Dua Faktor (Two-Factor Theory) yang dikemukakan oleh Frederick
Herzberg merupakan kerangka kerja lain untuk memahami implikasi
motivasional dari lingkungan kerja dan ada dua faktor di dalam teori ini
yaitu: faktor-faktor higienis (sumber ketidakpuasan) dan faktor-faktor
pemuas (sumber kepuasan) dalam teorinya Herzberg menyakini bahwa
kepuasan kerja memotivasi pada kinerja yang lebih baik. Faktor higienis
seperti kebijakan organisasi, supervisi dan gaji dapat menghilangkan
ketidakpuasan. Faktor ini berhubungan erat dengan pekerjaan. Perbaikan
hubungan pekerjaan tidak mengarah pada kepuasan yang lebih besar, tetapi
diharapkan akan mengurangi ketidakpuasan. Dilain pihak, motivator atau
pemuas seperti pencapaian, tanggung jawab dan penghargaan mendukung
pada kepuasan kerja. Motivator berhubungan erat dengan kerja itu sendiri
atau hasil langsung yang diakibatkannya, seperti peluang promosi, peluang
pertumbuhan personal, pengakuan tanggung jawab dan prestasi. Perbaikan
dalam isi pekerjaan mendorong pada peningkatan kepuasan dan motivasi
untuk bekerja lebih baik.
c). Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow
Yaitu hirarki lima kebutuhan dengan tiap kebutuhan secara berurutan
dipenuhi, maka kebutuhan berikutnya akan menjadi dominan. Menurut
Luisser (1996) kebutuhan maslow oleh Maslow (2010) diklasifikasikan atas
lima tingkat sebagai berikut:
• Psysicological Needs (Kebutuhan Fisiologis): merupakan kebutuhan
hirarki paling dasar yang merupakan kebutuhan untuk dapat hidup
seperti makan, tempat tinggal dan pakaian yang dapat dipenuhi
38
dengan gaji yang diterima. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan
ini merangsang seseornag berperilaku atau bekerja dengan giat.
• Security and Safety Needs (Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan):
adalah kebutuhan akan kebebasan dari ancaman yakni merasa aman
dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melaksanakan
pekerjaan. Kebutuhan ini meliputi keamanan, keselamatan kerja dan
kelangsungan pekerjaan serta jaminan hari tua. Pentingnya
memuaskan kebutuha-kebutuhan ini jelas terlihat pada organisasi
modern, tempat pemimpin organisasi yang selalu mengutamakan
keamanan dengan menggunakan alat-alat modern dan pengawalan.
• Social Needs (Kebutuhan Sosial): yaitu kebutuhan persahabatan.
Afiliasi dan interaksi yang lebih erat dengan orang lain. Karena
manusia adalah mahluk sosial maka sudah jelas mempunyai
kebutuhan-kebutuhan sosial.
• Esteem Needs (Kebutuhan Penghargaan): adalah kebutuhan akan
penghargaan diri dan pengakuan serta penghargaan prestasi dari
karyawan dan masyarakat lingkungan. Idelanya prestise timbul
karena adanya prestasi, tetapi tidak selamanya demikian. Akan
tetapi perlu juga diperhatikan oleh pemimpin bahwa semakin tinggi
kedudukan seseorang dalam masyarakat atau posisi seseorang
dalam organisasi, maka semakin tinggi pula prestisenya.
• Self Actualization Needs (Kebutuhan Aktualisasi Diri): adalah
kebutuhan akan aktualisasi dengan menggunakan kemampuan,
keterampilan dan potensi optimal. Untuk mencapai prestasi kerja
yang memuaskan atau luar biasa. Kebutuhan ini merupakan
realisasi lengkap potensi seseorang secara penuh. Keinginan
seseorang untuk mencapai kebutuhan sepenuhnya dapat berbeda
satu dengan yang lainnya.
2.5.4 Tujuan Motivasi
Motivasi
mempunyai
tujuan
sebagaimana
dalam
mengungkapkan bahwa:
1)
Mendorong gairah dan semangat kerja pegawai
Hasibuan
(2005)
39
2)
Meningkatkan moral dan kepuasan kerja pegawai
3)
Meningkatkan produktivitas kerja pegawai
4)
Mempertahankan loyalitas dan kestabilan pegawai perusahaan
5)
Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi Pegawai
6)
Mengefektifkan pengadaan pegawai
7)
Menciptakan suasanan dan hubungan kerja yang baik
8)
Meningkatkan kreatifitas dan partisipasi pegawai
9)
Meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai
10) Mempertinggi rasa tanggung jawab pegawai terhadap tugas-tugasnya
11) Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan.
2.5.5 Jenis Motivasi
Jenis motivasi dapat dikelompokan menjadi dua jenis menurut Hasibuan
(2005), yaitu:
1) Motivasi Positif (Insentif positif), manajer memotivasi bawahan dengan
memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi baik. Dengan motivasi
positif ini semangat kerja bawahan akan meningkat, karena manusia pada
umumnya senang menerima yang baik-baik saja.
2) Motivasi Negatif (Insentif negatif), manajer memotivasi bawahannya
dengan memberikan hukuman kepada mereka yang pekerjaannya kurang
baik (prestasi rendah). Dengan memotivasi negatif ini semangat kerja
bawahan dalam waktu pendek akan meningkat, karena takut hukuman.
Penggunaan kedua motivasi tersebut haruslah diterapkan kepada siapa dan
kapan agar berjalan efektif merangsang gairah bawahan dalam bekerja.
2.5.6 Indikasi Penurunan Motivasi Kerja
Indikasi turunnya motivasi kerja penting untuk diketahui oleh setiap
perusahaan, karena dengan pengetahuan tentang indikasi ini dapat diketahui
penyebab turunnya motivasi kerja. Dengan demikian perusahaan dapat mengambil
tindakan-tindakan pencegahan atau pemecahan masalah sedini mungkin. Indikasi
penurunan motivasi kerja antara lain sebagai berikut:
1. Turunnya Produktivitas Kerja
40
Turunnya produktivitas kerja ini dapat diukur atau dibandingkan dengan
waktu sebelumnya. Produktivitas kerja ini dapat terjadi karena
permasalahan penundaan pekerjaan dan sebagainya. Untuk dapat
mengetahui tinggi rendahnya produktivitas kerja, maka perusahaan harus
membuat standar kerja.
2. Tingkat Absensi yang Tinggi
Pada umumnya apabila semangat kerja turun, maka karyawan akan malas
untuk datang bekerja. Untuk melihat apakah naiknya tingkat absensi
tersebut merupakan indikasi turunnya semangat kerja, maka perusahaan
tidak boleh melihat tingkat absensi ini secara perorangan tetapi harus
secara merata.
3. Tingkat Perpindahan Karyawan yang Tinggi
Apabila di dalam perusahaan terjadi tingkat keluar masuk karyawan yang
tinngi, maka hal ini merupakan indikasi turunnya semangat kerja. Keluar
masuknya karyawan yang meningkat tersebut terutama disebabkan
ketidak senangan karyawan untuk bekerja pada perusahaan tersebut,
sehingga karyawan berusaha untuk mencari pekerjaan lain yang dianggap
lebih sesuia.
4. Kegelisahan
Kegelisahan akan terjadi apabila semangat kerja menurun. Seorang
pemimpin harus dapat mengetahui adanya kegelisah yang timbul.
Kegelisahan itu dapat terwujud dalam bentuk ketidak tenangan dalam
bekerja, keluh kesah serta hal lainnya.
2.5.7 Bentuk-Bentuk Motivasi Kerja
Pada umumnya bentuk motivasi kerja yang sering dianut oleh perusahaan
meliputi empat unsur utama (Sastrohadiwiryo, 2003) yaitu:
1. Kompensasi dalam Bentuk Uang
Salah satu bentuk yang paling sering dibagikan kepada tenaga kerja
adalah kompensasi yang berbentuk uang. Pemberian kompensasi dalam
bentuk aung sebagai motivasi kerja para pegawai memiliki dua pengaruh
41
perilaku. Keanggotaan adalah pengaruh yang paling luas, yang kedua
adalah negative dari sudut pandang perusahaan cenderung terbatas dan
hanya pada pekerja yang pendapatannya tidak lebih dari tingkat “standar
kehidupan yang layak” dan menganggap kompensasi dalam bentuk uang
ini tidak seimbang.
2. Pengarahan dan Pengendalian
Pengarahan maksudnya menentukan apa yang harus mereka kerjakan atau
tidak mereka kerjakan, sedangkan pengendalian maksudnya menentukan
bahwa tenaga kerja harus mengerjakan hal-hal yang harus di instruksikan.
3. Penempatan Pola Kerja yang Efektif
Pada umumnya reaksi dari kebosanan kerja akan menghambat
produktivitas kerja dan untuk menanggapinya digunakan beberapa teknik:
•
Memperkaya pekerjaan yaitu penyesuaian tuntutan pekerjaan
dengan kemampuan tenaga kerja.
•
Manajemen partisipatif yaitu penggunaan berbagai cara untuk
melibatkan
pekerja
dalam
mengambil
keputusan
yang
mempengaruhi pekerjaan mereka.
•
Mengalihkan perhatian pekerja dari pekerja yang membosankan
kepada instrument (alat), waktu luang untuk istirahat atau sarana
lain.
4. Kebajikan
Kebajikan dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan yang diambil
dengan sengaja oleh manajemen untuk mempengaruhi sikap atau
perasaan tenaga kerja.
2.5.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
Seorang pemimpin yang merupakan motivator harus mengetgahui tentang
motivasi yang agar keberhasilan organisasi dalam mewujudkan usaha kerja manusia
dapat tercapai. Menurut Mangkunegara (2004:65) bahwa ada dua faktor yang
mempengaruhi perilaku manusia yaitu:
42
1. Motivasi Instrinsik
Motivasi instrinsik dapat pula dibangkitkan dari dalam atau sering disebut
dengan motivasi internal. Sasaran yang ingin dicapai berada dalam
individu itu sendiri. Karyawan dapat bekerja karena tertarik dan senang
pada pekerjaannya, karyawan meraka pekerjaan yang dilakukannya
memberikan makna, kepuasaan dan kebahagiaan dalam dirinya. Adapun
faktor instrinsik terdiri dari upah, kemanan kerja, kondisi kerja dan status
prosedur perusahaan.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi yang dibangkitkan karena mendapatkan rangsangan dari luar
merupakan motivasi eksternal. Faktor ekstrinsik adalah prestasi,
pengakuan, tanggung jawab dan kemajuan pekerjaan itu sendiri serta
kemungkinan untuk berkembang, dll. Faktor pemeliharaan yang
merupakan kondisi ekstrinsik dari karyawan yang akan menimbulkan
ketidakpuasan dan faktor motivator yang merupakan faktor yang
menggerakkna motivasi.
Menurut Hasibuan (2003:86) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
motivasi terbagi menjadi dua metode motivasi:
1. Motivasi Langsung, yaitu motivasi (materil & non material) yang
diberikan secara langsung kepada setiap individu karyawan untuk
memenuhi kebutuhan serta kepuasaanya. Jadi sifatnya khusus, seperti:
pujian, penghargaan, tunjangan hari raya, bonus dan bintang jasa.
2. Motivasi Tak Langsung, yaitu motivasi yang diberikan hanya berupa
fasilitas-fasilitas yang mendukung serta menunjang gairah kerja atau
kelancaran tugas sehingga para karyawan betah dan bersemangat
melakukan pekerjaan. Misalnya: mesin yang baik, ruangan yang tenang,
suasana kerja dan penempatan kerja yang tepat. Motivasi tak langsung
besar pengaruhnya untuk merangsang semangat bekerja karyawan
sehingga produktif.
43
2.5.9 Indikator Motivasi Kerja lmlmllm
Menurut Riduwan (2002:66) bahwa motivasi kerja dapat diukur melalui
indikator sebagai berikut:
1. Upah atau Gaji yang Layak, dapat diukur melalui gaji yang memadai dan
besarnya sesuai standar mutu hidup.
2. Pemberian Intensif, yang diukur melalui pemberian bonus sewaktuwaktu, rancangan kerja dan prestasi kerja.
3. Mempertahankan Harga Diri, yaitu diukur dengan iklim kerja yang
kondusif, kesamaan hak dan kenaikan pangkat.
4. Memenuhi Kebutuhan Rohani, yaitu diukur dengan kebebasan dengan
menjalankan sariat agama, menghormati kepercayaan orang dan
penyelenggaraan ibadah.
5. Memenuhi Kebutuhan Partisipasi, yaitu diukur melalui kebersamaan,
kerjasama, rasa memiliki dan bertanggung jawab
6. Menempatkan Pegawai pada Tempat yang Sesuai, dalam hal ini diukur
dengan
seleksi
sesuai
kebutuhan,
memperhatikan
kemampuan,
memperhatikan pendidikan, memperhatikan pengalaman dan memberikan
pekerjaan sesuai kemampuan
7. Menimbulkan Rasa Aman di Masa Depan, seperti indikator jaminan hari
tua, pembayaran pensiun dan pemberian perumahan.
8. Memperhatikan Lingkungan Tempat Kerja, yang diukur melalui tempat
kerja yang nyaman cukup cahaya, jauh dari polusi dan berbahaya.
9. Memperhatikan Kesempatan untuk Maju, yang diukur melalui upaya
pengembangan kursus dan diklat.
10. Menciptakan Persaingan yang Sehat, yang diukur melalui produktivitas
kerja, prestasi kerja, pengembangan karir yang jelas, bonus, kinerja
pegawai, penghargaan dan hukuman.
44
2.5.10 Hubungan Motivasi Kerja dan Kinerja Karyawan
Motivasi berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab seseorang
melakukan suatu perbuatan atau kegiatan, yang berlangsung secara sadar (Nawawi,
2000:87). Menurut Mc Clelland teori motivasi ada tiga kebutuhan penting yang ingin
dicapai seseorang, yaitu kebutuhan prestasi (achievement), kebutuhan afiliasi
(affiliation) dan kebutuhan kekuasaan (power).
Untuk mencapai hal tersebut seseorang yang termotivasi akan melakukan
hasil yang terbaik untuk dirinya. Menurut Prawirosentono (2001), kinerja
dipengaruhi oleh motivasi karyawan yang bekerja dalam suatu organisasi. Bila
karyawan motivasinya rendah maka hasil kerja (kinerjanya) juga akan rendah.
keberhasilan suatu kinerja di dasarkan atas efektivitas dan efisiensi, tanggung jawab,
disiplin dan inisiatif.
2.6
Definisi Kinerja
2.6.1
Kinerja
Kinerja atau performance dapat didefinisikan sebagai tingkat pencapaian
hasil atau “The Accomplishment” dengan kata lain kinerja merupakan tingkat
pencapaian tujuan organisasi. Kinerja mempunyai makna lebih luas bukan hanya
menyatakan sebagai hasil kerja, tetapi juga bagaimana proses kerja berlangsung
(Wibowo, 2007). Ia juga mengatakan bahwa kinerja adalah tentang melakukan
pekerjaan dan hasil yang diacapai dari pekerjaan tersebut, dan bagaimana cara
mengerjakannya.
Mangkunegara (2005:9) mendefinisikan kinerja sebagai hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan
tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Brahmasari
(2008:128) juga mengemukakan bahwa kinerja adalah pencapaian atas tujuan
organisasi yang dapat berbentuk output kuantitatif maupun kualitatif, kreatifitas,
fleksibilitas, dapat diandalkan atau hal-hal lain yang diinginkan oleh organisasi.
45
Penelitian ini berdasarkan pada pendapat Simamora (2004:409) yang
mengemukakan bahwa kinerja karyawan adalah tingkatan dimana karyawan
mencapai persyaratan-persyaratan
pekerjaan.
Kinerja
mengacu
pada
kadar
pencapaian tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan karyawan.
Harsuko (2011: 50) mendefinisikan kinerja adalah unsur pencatatan hasil
kerja SDM dari waktu kewaktu sehingga diketahui sejauh mana hasil kerja SDM dan
perbaikan apa yang harus dilakukan agar dimasa mendatang lebih baik.
2.6.2 Manajemen Kinerja
Pengertian manajemen kinerja:
Amstrong (2004) lebih melihat manajemen kinerja sebagai sarana untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik dari organisasi, tim dan individu dengan cara
memahami dan mengelola kinerja dalam suatu kerangka tujuan, standar dan
persyaratan-persyaratan atribut yang disepakati.
Dapat disimpulkan yaitu sebagai proses komunikasi, memperbaiki dan
mengelola
kinerja
karyawan
serta
pencapaian
tujuan
organisasi.
Dengan
memperhatikan pandangan pakar diatas dapat dirumuskan bahwa pada dasarnya
manajemen kinerja merupakan gaya manajemen dalam mengelola sumber daya yang
berorientasi pada kinerja yang melakukan proses komunikasi secara terbuka dan
berkelanjutan dengan menciptakan visi bersama dan pendekatan sttategis serta
terpadu sebagai kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan organisasi.
2.6.3 Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
John W. Atkinson (2007) mengidentifikasikan bahwa kinerja merupakan
fungsi motivasi dan kemampuan. Lyman Porter dan Edward Lawler (2005)
berpendapat bahwa kinerja merupakan fungsi dari keinginan melakukan pekerjaan,
keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, pemahaman yang jelas
atas apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Sementara itu Jay Lorsch
dan Paul Laurence (2007) menggunakan pemahaman bahwa kinerja adalah fungsi
atribut individu, organisasi dan lingkungan.
46
Berdasarkan pendapat di atas dapat dirumuskan tujuh faktor kinerja yang
mempengaruhi kinerja yaitu: Ability (Knowledge and Skill), Clarity (Understanding),
Help (Organizational Support), Incentive (Motivation or Willingness), Evaluation
(Coaching and Performance Feedback), Validity (Valid and Legal Personal
Practices), Environment (Environmental Fit).
Pelaksanaan kinerja akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang baik
yang bersumber dari pekerja sendiri maupun yang bersumber dari organisasi. Dari
pekerjaan sangat dipengaruhi oleh kemampuan atau kompetensinya. Sementara itu
dari segi organisasi dipengaruhi oleh seberapa baik pemimpin memberdayakan
pekerjaannya; bagaimana mereka memberikan penghargaan kepada pekerja; dan
bagaimana mereka membantu meningkatkan kemampuan kinerja pekerja.
2.6.4 Pengukuran Kinerja
Pengukuran terhadap kinerja perlu dilakukan untuk mengetahui apakah
selama pelaksanaan kinerja terhadap devisiasi dari rencana yang telah ditentukan
atau apakah kinerja dapat dilakukan sesuai jadwal waktu yang ditentukan atau
apakah hasil kinerja telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Pengukuran
kinerja yang tepat dapat dilakukan dengan cara (Kinicki, 2001):
• Memastikan bahwa persyaratan yang diinginkan pelanggan telah
terpenuhi
• Mengusahakan standar kinerja untuk menciptakan perbandingan
• Menetapkan arti penting masalah kualitas dan menentukan apa yang
perlu diperhatikan
• Menghindari konsekuensi dari rendahnya kualitas
• Mengusahakan umpan balik untuk mendorong usaha perbaikan
Untuk melakukan pengukuran tersebut diperlukan kemampuan untuk
mengukur kinerja sehingga diperlukan ukuran kinerja. pengukuran kinerja hanya
dapat dilakukan terhadap kinerja yang nyata dan terukur. Untuk dapat memperbaiki
kinerja, perlu diketahui seperti apa kinerja saat ini dan apabila deviasi kinerja dapat
diukur maka kinerja tersebut dapat diperbaiki.
47
2.6.5 Elemen Pengukuran Kinerja
Menurut Mathis and Jackson (2006), kinerja pada dasarnya adalah apa yang
dilakukan atau tidak dilakukan oleh pegawai. Kinerja pegawai yang umum untuk
kebanyakan pekerjaan meliputi elemen sebagai berikut:
1. Kuantitas dari hasil
Jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran kuantitatif
melibatkan perhitungan keluaran dari proses atau pelaksanaan kegiatan. Ini
berkaitan dengan jumlah keluaran yang dihasilkan.
2. Kualitas dari hasil
Mutu yang harus dihasilkan (baik tidaknya). Pengukuran kualitatif keluaran
mencerminkan pengukuran “tingkat kepuasan”, yaitu seberapa baik
penyelesaiannya. Ini berkaitan dengan bentuk pengeluaran.
3. Ketepatan waktu dari hasil
Waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan secara optimal. Penundaan
penggunaan waktu dapat menimbulkan berbagai konsekuensi biaya besar dan
kerugian.
4. Kehadiran atau absensi
Tingkat kehadiran merupakan sesuatu yang menjadi tolak ukur sebuah
perusahaan dalam mengetahui tingkat partisipasi pegawai pada perusahaan.
5. Kemampuan bekerjasama
Kemampuan bekerjasama dapat menciptakan kekompakan sehingga dapat
meningkatkan rasa kerjasama antar pegawai.
2.6.6 Evaluasi Kinerja
Suatu proses kinerja, apabila telah selesai dilaksanakan akan memberikan
hasil kinerja atau prestasi kerja. Evaluasi kinerja dilakukan untuk memberi penilaian
terhadap hasil kerja atau prestasi kerja yang diperoleh organisasi, tim, atau individu.
Evaluasi kinerja akan memberikan umpan balik terhadap tujuan dan sasaran kinerja,
48
perencanaan dan proses pelaksanaan kinerja (Maddux, 2000). Berikut ada beberapa
pengertian evaluasi kinerja menurut para ahli:
• Kreitner dan Kinicki (2005) menyatakan bahwa evaluasi kinerja
merupakan pendapat yang bersifat evaluatif atas sifat, perilaku seseorang
atau prestasi sebagai dasar pengambilan kepututsan dan rencana
pengembangan personil.
• Newstrom dan Davis (2007) memandang evaluasi kinerja sebagai suatu
proses mengevaluasi kinerja pekerja, membagi informasi dengan mereka,
dan mencari cara memperbaiki kinerjanya.
• Greenberg dan Baron (2003) mengatakan evaluasi kinerja dapat
dipergunakan
untuk
sejumlah
kepentingan
organisasi,
manajemen
menggunakan evaluasi untuk mengambil keputusan tentang sumber daya
manusia. Ia juga mengatakan bahwa evaluasi memberikan masukan untuk
keputusan penting seperti promosi, mutasi dan pemberhentian.
Evaluasi mengidentifikasikan kebutuhan pelatihan dan pengembangan,
evaluasi menunjukkan ketrampilan dan kompetensi pekerja yang ada sekarang ini
kurang cukup sehingga dikembangkan program. Menurut James. E (2003) efektivitas
pelatihan dan pengembangan dipertimbangkan dengan mengukur seberapa baik
pekerja yang berpartisipasi mengerjakan evaluasi kinerja. Evaluasi memenuhi
kebutuhan umpan balik bagi pekerja tentang bagaimana pandangan organisasi
terhadap kinerjanya. Selanjutnya, evaluasi kinerja dipergunakan sebagai dasar untuk
mengalokasi reward.
2.6.7 Indikator Kinerja Karyawan
Menurut Riduwan (2002:65), mengemukakan bahwa indikator-indikator
kinerja karyawan adalah:
1. Inisiatif mencari langkah yang terbaik
Inisiatif mencari langkah yang terbaik merupakan faktor penting dalam usaha
untuk meningkatkan kinerja karyawan. Untuk memiliki inisiatif dibutuhkan
49
pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki para karyawan dalam usaha
untuk meningkatkan hasil yang dicapainya.
2. Menguasai Job Description
Faktor kesesuaian antara disiplin ilmu yang dimiliki dengan penempatan pada
bidang tugas.
3. Hasil yang dicapai
Kemampuan untuk mengatur pekerjaaan yang menjadi tanggung jawabnya
termasuk membuat jadwal kerja, umumnya mempengaruhi kinerja seorang
karyawan.
4. Tingkat kemampuan kerjasama
Kemampuan kerjasama dengan karyawan maupun orang lain, karena dalam
hal ini sangat berperan dalam menentukan kinerjanya.
5. Ketelitian
Ketelitian yang tinggi yang dimiliki karyawan dalam menyelesaikan
pekerjaan dapat meningkatkan kinerjanya.
6. Tingkat kesesuaian tugas dengan perintah
Adanya kesesuaian tugas yang diberikan pemimpin terhadap kemampuan
karyawan dapat menentukan kinerja karyawan.
7. Tingkat kualitas hasil kerja
Pekerjaaan yang dilakukan dengan kualitas yang tinggi dapat memuaskan
yang bersangkutan dan perusahaan. Penyelesaian tugas yang terandalkan,
tolak ukur minimal kualitas kinerja pastinya dicapai.
8. Tingkat ketepatan penyelesaian tugas
Tingkat suatu aktivitas diselesaikan pada waktu awal yang diinginkan, dilihat
dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang
tersedia untuk aktivitas lain.
9. Tingkat kuantitas hasil kerja
Pekerjaan yang dilakukan karyawan harus memiliki kuantitas kerja tinggi
dapat memuaskan yang bersangkutan dan perusahaan. Dengan memiliki
50
kuantitas yang sesuai dengan yang ditargetkan, maka hal itu akan dapat
mengevaluasi kinerja karyawan dalam usaha meningkatkan prestasi kerjanya.
2.7
Kerangka Pemikiran
Dibawah ini merupakan gambar kerangka pemikiran dengan Kinerja
Karyawan (Y) adalah sebagai variable terikat, dan dimensi-dimensi Kinerja
Karyawan seperti Stres Kerja (X1), Beban Kerja (X2) dan Motivasi Kerja (X3)
sebagai variable bebasnya.
Stres Kerja
(XI)
Kinerja Karyawan
Beban Kerja
(Y)
(X2)
Motivasi Kerja
(X3)
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran
Sumber: Penulis
2.8
Hipotesis
Berdasarkan deskripsi teori dan kerangka pemikiran di atas. Dapat diajukan
empat hipotesis penelitian sebagai berikut:
Hipotesis 1:
51
Apakah ada pengaruh secara parsial terhadap stres kerja terhadap kinerja
karyawan?
H0 = Stres kerja tidak berpengaruh secara parsial terhadap kinerja
karyawan.
Ha = Stres kerja berpengaruh secara parsial terhadap kinerja karyawan.
Hipotesis 2:
Apakah ada pengaruh secara parsial terhadap beban kerja kinerja karyawan?
H0 = Beban kerja tidak berpengaruh secara parsial terhadap kinerja
karyawan.
Ha =
Beban kerja berpengaruh secara parsial terhadap kinerja karyawan.
Hipotesis 3:
Apakah ada pengaruh secara parsial terhadap motivasi kerja terhadap kinerja
karyawan?
H0= Motivasi kerja tidak berpengaruh secara parsial terhadap kinerja
karyawan.
Ha = Motivasi kerja berpengaruh secara parsial terhadap kinerja karyawan.
Hipotesis 4:
Apakah ada pengaruh secara simultan terhadap stres kerja, beban kerja dan
motivasi kerja terhadap kinerja karyawan?
H0 = Stres kerja, beban kerja dan motivasi kerja tidak berpengaruh secara
simultan terhadap kinerja karyawan.
Ha = Stres kerja, beban kerja dan motivasi kerja berpengaruh secara
simultan terhadap kinerja karyawan.
52
Download