271 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur - BPPBAP

advertisement
271
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2013
PERTUMBUHAN BIBIT RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa
DENGAN SUMBER VARIETAS BERBEDA DI KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN
Petrus Rani Pong-Masak*), Noor Bimo Adhiyudanto*), dan Andi Sahrijannah**)
*)
Loka Penelitian dan Pengembangan Budidaya Rumput Laut
Jln. Pelabuhan Etalase Perikanan, Tabulo Selatan, Boalemo, Gorontalo
E-mail: [email protected]; [email protected]
**)
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau
Jl. Makmur Dg. Sitakka No. 129, Maros 90512, Sulawesi Selatan
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Rumput laut, Gracilaria spp. yang dibudidayakan di tambak memiliki performansi talus yang berbeda.
Perbedaan performansi talus diduga akan memberikan respons pertumbuhan apabilla diintroduksikan
pada lokasi budidaya yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan bibit
rumput laut Gracilaria verrucosa dalam tambak dengan sumber varietas berbeda di Kabupaten Takalar, Sulawesi
Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2011 di Desa Taipa, Kecamatan
Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan rancangan
acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, dan setiap perlakuan masing-masing mempunyai tiga ulangan.
Ketiga perlakuan tersebut adalah A (bibit yang berasal dari Takalar), B (bibit yang berasal dari Luwu), dan C
(bibit yang berasal dari Bone). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji t (Steel & Torrie,
1993) yang diolah dengan menggunakan program SPSS versi 15.0. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa
pertumbuhan bibit rumput laut Gracilaria verrucosa menunjukkan hasil berbeda nyata (P<0,05), di mana
pertumbuhan bibit rumput laut Gracilaria verrucosa varietas Luwu lebih tinggi dibanding varietas Takalar dan
Bone, hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan harian (LPH) yakni Luwu 5,69%; Bone 5,05%; dan Takalar
4,57%. Bibit yang bersumber dari varietas Luwu memberikan respons pertumbuhan terbaik sehingga dapat
dijadikan kandidat pengembangan bibit untuk budidaya yang produktif di tambak.
KATA KUNCI:
pertumbuhan, Gracilaria verrucosa, varietas berbeda, tambak, Takalar
PENDAHULUAN
Rumput laut atau alga yang juga dikenal dengan nama seaweed merupakan bagian terbesar dari
tanaman laut. Perairan laut Indonesia dengan garis pantai sekitar 81.000 km diyakini memiliki potensi
rumput laut yang sangat tinggi. Tercatat sedikitnya ada 555 jenis rumput laut di perairan Indonesia,
ada 55 jenis yang diketahui mempunyai nilai ekonomis tinggi, di antaranya Eucheuma sp., Gracilaria
sp., dan Gelidium sp. Sejak zaman dulu rumput laut telah digunakan manusia sebagai makanan dan
obat-obatan (Cholis, 2010).
Rumput laut merupakan salah satu komoditas potensial yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Jenis rumput laut yang bernilai ekonomis dan sudah diperdagangkan sejak dahulu baik untuk
dikonsumsi dalam negeri maupun ekspor salah satunya yaitu jenis Gracilaria verrucosa, Mengingat
potensi pasar yang sangat besar dan potensi lahan tambak yang besar pula, maka pengembangan
budidaya rumput laut di tambak mempunyai prospek yang sangat baik karena mudah dilakukan,
bersifat massal, cepat panen, tidak padat modal, menyerap tenaga kerja, permintaan tinggi, dan
harga yang menguntungkan.
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar memprioritaskan status budidaya rumput laut
Sulawesi Selatan sebagai salah satu komoditas unggulan di sektor perikanan dan berdasarkan data
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan diketahui, bahwa lahan budidaya rumput
laut yang menggunakan bibir pantai di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan pada 2007 tercatat
sepanjang 400 km. Lahan budidaya rumput laut tersebut kemudian meningkat menjadi 600 km
pada 2010.
Pertumbuhan bibit rumput laut ... (Petrus Rani Pong-Masak)
272
Adapun kendala atau permasalahan yang dihadapi dalam budidaya rumput laut yaitu bibit yang
sering dipakai dan dikembangkan oleh masyarakat sampai saat ini masih didapat dari hasil
pengembangan secara vegetatif yaitu dengan cara menyisihkan talus hasil budidaya milik sendiri.
Keterampilan untuk menyeleksi talus yang baik untuk bibit tentu sangat beragam dan sebagian
besar dari masyarakat masih memiliki pengalaman dan keterampilan yang sangat terbatas sehingga
hasil produksi panen yang dihasilkan sering tidak optimal. Dan penggunaan bibit rumput laut secara
berulang yang dapat menurunkan kualitas mutu dari rumput laut itu sendiri.
Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tentang bibit rumput laut tersebut maka dilakukan
penelitian dengan metode seleksi klon. Metode seleksi klon bibit rumput laut merupakan metode
yang menghasilkan bibit rumput laut (varietas yang baru) yang berasal dari satu induk yang sama
yang mempunyai sifat genetik asli sesuai dengan induknya. Selain itu, metode ini sangat praktis
untuk diterapkan dikalangan pembudidaya rumput laut karena tidak menggunakan alat-alat yang
canggih dan mahal.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menghasilkan bibit rumput laut Gracilaria verrucosa yang
unggul dengan metode seleksi klon di Kabupaten Takalar.
Kegunaan penelitian ini adalah untuk peningkatan serta bibit rumput laut Gracilaria verrucosa
dikalangan pembudidaya rumput laut.
METODOLOGI PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan dari bulan Maret hingga Mei 2011. Lokasi penelitian
lapang di Desa Taipa Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah rumput laut jenis Gracilaria verrucosa.
Alat-alat yang digunakan yaitu timbangan, wadah, terpal, pisau cutter, tali polyetilen (ukuran
diameter 10 mm; 8 mm; 4 mm; dan 1,5 mm). Pelampung (botol plastik air mineral), patok, buku,
pulpen, alat pengkur kualitas air dilapangan menggunakan DO meter.
Prosedur Penelitian
Persiapan Penelitian
Penelitian ini diawali dengan melakukan survai lokasi dan pemilihan lokasi untuk mengetahui
gambaran awal lingkungan lokasi penelitian. Selanjutnya dilakukan persiapan lahan/perbaikan tambak
yang meliputi: perbaikan pematang tambak dan pintu air, pemberantasan biota liar. Tambak diisi air
dengan ketinggian 60 cm dari pelataran tambak.
Pelaksanaan






Tahap pelaksanaan diawali dengan melakukan seleksi bibit yaitu melakukan seleksi klon yang
diambil pada populasi stok induk rumput laut yang telah dipisah menjadi rumpun (10 g/rumpun)
dan telah dipelihara selama 30 hari dari penanaman awal. Adapun teknis pelaksanaan seleksi klon
adalah sebagai berikut:
Siapkan alat yang digunakan yaitu: timbangan, wadah, dan cutter, serta tali baru/bersih untuk
penimbangan bobot bibit, serta pemisahan dan pengikatan rumpun bibit dari klon-klon terbaik .
Timbang bibit rumput laut Gracilaria verrucosa sebanyak 10 g yang sama untuk setiap rumpun.
Bibit diikat pada tali cincin yang terdapat pada tali bentangan dengan jarak 15 cm antar rumpun.
Tali bentangan yang sudah terpasang bibit dibentangkan pada tali induk dengan jarak 1 m antar
bentangan, pada tali bentangan diberi pelampung dengan jarak 2 m antar pelampung.
Selanjutnya dilakukan pemantauan atau pengecekan setiap interval waktu 5 hari yaitu:
pertumbuhan atau pertambahan bobot dari rumput laut tersebut.
273
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2013
Setiap rumpun bibit dilepas dari ikatannya, kemudian dilakukan penimbangan pada setiap rumpun
bibit secara berurutan dalam setiap bentangan.
 Setelah semua rumpun bibit dalam satu bentangan ditimbang, maka segera ambil bibit yang
memiliki laju pertumbuhan harian (LPH) sampai dengan nilai “LPH tertinggi-1”, kemudian dipisahkan
dari populasi bentangan.
 Setiap rumpun bibit yang terpilih masing-masing menjadi klon yang akan dipisahkan/dipotong
menjadi rumpun baru yang diikat dan dipelihara selanjutnya selama 30 hari.
 Setiap siklus pemeliharaan harus ada kontrol internal dan eksternal, di mana kontrol internal
diperoleh dari nilai rata-rata bobot bibit dalam setiap bentangan, sedangkan kontrol eksternal
adalah bibit yang diperoleh dari masyarakat pembudidaya lokal.

Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang diterapkan
perlakuan dan tiga ulangan yaitu:
Perlakuan A :
bibit yang berasal dari
Perlakuan B :
bibit yang berasal dari
Perlakuan C :
bibit yang berasal dari
adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga
Takalar
Luwu (Palopo)
Bone
Setiap perlakuan tersebut masing-masing diberi ulangan tiga kali sehingga terdapat sembilan
unit percobaan.
Peubah yang Diamati
Untuk mengetahui pertumbuhan harian rumput laut maka setiap minggu dilakukan penimbangan
bobot pada setiap unit percobaan.
Penelitian ini dilakukan pada pagi atau sore untuk melindungi dari sinar matahari. Laju
pertumbuhan harian (Growth rate) rumput laut dihitung dengan menggunakan rumus Fortes (1989):
LPH 
ln Wt - ln Wo
x 100%
t
Keterangan:
LPH =
laju pertumbuhan harian (%)
Wt =
bobot akhir pada waktu t (g)
Wo =
bobot awal (g)
t
=
lama pemeliharaan (hari)
Pengamatan Kualitas Air
Pengamatan parameter kualitas air meliputi: suhu, pH, DO, salinitas, nitrat, nitrit, fosfat sulfat
yang dilakukan setiap lima hari sekali selama penelitian.
Adapun sebagai data penunjang dalam pelaksanaan penelitian dilakukan beberapa tahapan
pengujian kualitas air di antaranya adalah:
Amonia
Dalam suasana basa (pH 811,5) amonia bereaksi dengan natrium hipokhlorit membentuk senyawa
monokhloramin (kuinon khloramin). Dengan adanya senyawa fenol dan hipokhlorit berlebih
menghasilkan senyawa indofenol yang berwarna biru.
Pengukuran untuk Sampel
Pipet 25 mL sampel yang telah disaring ke dalam tabung tes
 Tambahkan 1 mL larutan phenol, kocok
 Tambahkan 1 mL larutan sodium nitroprussid, kocok

Pertumbuhan bibit rumput laut ... (Petrus Rani Pong-Masak)
274
Tambahkan 2,5 mL larutan oksidizing, tutup lalu kocok
 Biarkan selama 1 jam
 Ukur absorban pada panjang gelombang 640 nm dan gunakan aquadesh sebagai blanko
 Hitung konsentrasi amonia dalam sampel dengan menggunakan kurva standar.

Fosfat (Metode Asam Askorbat)
Fosfat yang berada dalam air akan bereaksi dengan campuran reagen yang mengandung asam
molibdat, asam askorbat, dan antimoniltartrat yang menghasilkan senyawa kompleks asam heteropoli
dan direduksi menjadi larutan yang berwarna biru.
Pengukuran untuk Sampel





Pipet 25 mL sampel yang telah disaring ke dalam tabung tes.
Tambahkan 2,5 mL larutan campuran, kocok
Biarkan selama 20 menit
Ukur absorban pada panjang gelombang 885 nm dan gunakan aquades sebagai blanko
Hitung konsentrasi fosfat dalam sampel dengan menggunakan kurva standar.
Karbondioksida (CO2) Bebas (Metode Titrimetri)
Karbondioksida bebas bereaksi dengan standar sodium karbonat. Dengan indikator PP dan
kelebihan natrium karbonat akan memberikan warna merah yang menandai akhir titrasi.
Penentuan untuk Sampel
Pengambilan air sampel usahakan terhindar dari kontak udara dan analisis harus segera dilakukan
dalam waktu 23 jam setelah pengambilan sampel
 Pipet 25 mL air sampel dan masukkan ke dalam erlenmeyer dengan hati-hati, sedapat mungkin
kurangi pengaruh aerasi
 Tambahkan 3-4 tetes indikator PP, bila warna pink berarti tidak ada CO2 bila tidak berwarna berarti
ada CO2
 Segera titrasi dengan larutan natrium karbonat 0,0454 N sampai warna pink stabil selama 30
detik. Catat volume titran.

Perhitungan
CO2 (mg/L) 
Keterangan:
mL titran =
N titran
=
44/2
=
ML titran x N titran x 44/2 x 1000
Volume sampel
volume Na2CO3
normalitas Na2CO3
bobot setara CO2
Nitrit (Metode kolorimetri)
Reaksi nitrit dengan sulfanilat dalam suasana asam lemah (pH = 2,02,5) menghasilkan senyawa
diazonium. Diazonium tersebut bereaksi dengan n-(1-naftil)-etilendiamin dihidrokhlorid membentuk
senyawa azo yang berwarna merah. Banyaknya senyawa diazonium yang terbentuk ekivalen dengan
banyaknya senyawa nitrit dalam sampel air.
Prosedur Kerja
Persiapan untuk kurva standar

Siapkan standar kalibrasi dengan memipet dari standar nitrit 5 mg/L sebanyak 0; 0,1; 0,2; 0,3; 0,4;
0,5; 1,5 mL
275





Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2013
Konsentrasi nitrit adalah 0; 0,02; 0,04; 0,06; 0,08; 0,10 mg/L
Encerkan dengan 10 mL aquades
Tambahkan 0,5 mL larutan sulfanilamid dan 0,5 mL larutan napthylamin lalu impitkan sampai 25
mL
Campur dengan baik, biarkan selama 10 menit
Ukur absorban dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 510 nm
Penyiapan Air Bebas Nitrit
Masukkan 500 mL aquades ke dalam labu dekstruksi
 Tambahkan 5 g KMnO4 dan 5 g Ca(OH)2
 Destilasi kembali, buang 50 mL destilat lama
 Tampung destilat berikutnya (destilat ditampung tidak boleh berwarna)
Simpan dalam botol gelas tertutup lalu disegel

Pengukuran untuk Sampel





Pipet 25 mL sampel ke dalam tabung tes
Tambahkan 0,5 mL larutan sulfanilamid, kocok
Tambahkan 0,5 mL larutan nafthylamin, kocok
Biarkan selama 10 menit ukur dengan spektofotometer pada panjang gelombang 510 nm
Hitung konsentrasi nitrit dengan menggunakan kurva kalibrasi.
Nitrat (Metode Reduksi Kadmium)
Senyawa nitrat direduksi menjadi nitrit oleh butiran kadmium yang dilapisi oleh tembaga dalam
suatu kolom. Senyawa nitrit yang terbentuk kemudian direaksikan dengan amin aromatik membentuk
senyawa diazo yang berwarna merah muda. Senyawa kompleks tersebut kemudian kadarnya seperti
pada analisa nitrit dengan spektrofotometer.
Prosedur Kerja
Persiapan untuk Kurva Standar









Siapkan standar kalibrasi dengan memipet dari larutan standar nitrat 10 mg/L sebanyak 0; 1; 5;
10; dan 20 mL dalam 50 mL aquades bebas nitrat.
Konsentrasi nitrat adalah 0; 0,2; 1,0; 2,0; 4,0 mg/L
Lewatkan melalui kolom reduksi sebanyak 15 mL
Buang 15 mL air pertama yang keluar melalui kolom reduksi (sebagai pembilas kolom reduksi
dengan air sampel)
Lewatkan sisa sampel 35 mL ke dalam kolom, buang sebanyak 20 mL
Tampung 15 mL air yang keluar berikutnya dari kolom reduksi
Tambahkan 0,5 mL larutan sulfanilamid dan 0,5 mL larutan napthylamin
Campur dengan baik, biarkan selama 10 menit
Ukur absorban dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 543 nm
Penyiapan Air Bebas Nitrit





Masukkan 500 mL aquadesh ke dalam labu dekstruksi
Tambahkan 5 g KMnO4 dan 5 g Ca(OH)2
Destilasi kembali, buang 50 mL destilat lama
Tampung destilat berikutnya (destilat ditampung tidak boleh berwarna)
Simpan dalam botol gelas dan segel tutupnya
Pertumbuhan bibit rumput laut ... (Petrus Rani Pong-Masak)
276
Pengukuran untuk Sampel












Segera saring sampel air dengan kertas saring whatman No. 42
Ambil 50 mL sampel masukkan ke dalam tabung tes
Tambahkan 1 mL amonium klorida pekat dan kocok dengan hati-hati
Lewatkan melalui kolom reduksi sebanyak 15 mL
Buang 15 mL air pertama yang keluar melalui kolom reduksi (sebagai pembilas kolom reduksi
dengan air sampel)
Lewatkan 35 mL sisa sampel ke dalam kolom, buang sebanyak 20 mL
Tampung 15 mL air yang keluar berikutnya dari kolom reduksi untuk dianalisis
Tambahkan 0,5 mL larutan sulfanilamid, kocok dengan hati-hati
Tambahkan 0,5 mL larutan nafthylamid, kocok
Biarkan selama 10 menit
Kaca absorban dengan menggunakan spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang 543 nm
Hitung konsentrasi nitrat dengan menggunakan kurva kalibrasi (r=> 0,95).
Sulfat (Metode Turbidimetri)

Ion sulfat dalam medium asam klorida akan bereaksi dengan barium klorida membentuk endapan
barium sulfat yang tidak larut. Larutan campuran pengkompleks yang membentuk suspensi diukur
dengan menggunakan spektrofotometer.
Pengukuran untuk Sampel






Pipet 25 mL sampel yang telah disaring ke dalam tabung tes (lakukan pengenceran bila diperlukan)
Tambahkan 2 mL asam klorida 4 N, kocok
Tambahkan 5 mL larutan pereaksi campuran, kocok
Biarkan selama 30 menit
Ukur absorban pada panjang gelombang 420 nm
Hitung konsentrasi sulfat dalam sampel dengan menggunakan kurva standar, perhitungkan bila
ada pengenceran.
Analisa Data
Data hasil penelitian yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji t (Steel & Torrie, 1993)
yang diolah dengan menggunakan program SPSS versi 15.0.
HASIL DAN BAHASAN
Hasil
Laju pertumbuhan harian (%) rumput laut Gracilaria verrucosa perlakuan selama penelitian baik
yang parent stock, seleksi maupun kontrol (tidak seleksi) dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2.
Bahasan
Hasil perhitungan LPH bibit rumput laut Gracilaria verrucosa terhadap tiga varietas yang digunakan
sebagai bahan uji yaitu varietas Luwu, Bone, dan Takalar baik yang diseleksi maupun kontrol selama
penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Dari Tabel 1 dan 2 maupun Gambar 1 menunjukkan bahwa pertumbuhan rumput laut Gracilaria
verrucosa yang diseleksi lebih baik dibandingkan rumput laut yang tidak diseleksi. Hal ini dapat
dilihat dari rata-rata laju pertumbuhan hariannya maupun dari hasil olahan data yang diolah dengan
menggunakan program Microsoft SPSS versi 15.0 dan dianalisis dengan menggunakan uji t yang
menunjukkan hasil berdeda nyata (P<0,05).
277
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2013
Tabel 1. Bobot rata-rata bibit rumput laut Gracilaria verrucosa pada
pemeliharaan parent stock (populasi awal) di tambak
Perlakuan
Palopo
Bone
Takalar
Ulangan
Bobot (g)
Rataan Laju pertumbuhan Standar
rumpun
harian (%)
deviasi
Awal Akhir
1
2
3
10
10
10
54,3
70,6
59,1
37,88
40,26
39,39
5,64
6,51
5,92
Rataan
10
61,3
39,18
6,02
1
2
3
10
10
10
40,7
59,6
56,8
29,73
36,93
36,17
4,68
5,95
5,79
Rataan
10
52,4
34,28
5,31
1
2
3
10
10
10
61,1
49,8
44,1
41,71
37,23
31,04
6,03
5,34
4,94
Rataan
10
51,7
36,66
5,43
Laju pertumbuhan harian (%)
7
0,44
0,69
0,55
Seleksi
Kontrol
6
5
4
3
2
1
0
Luwu
Bone
Takalar
Sumber varietas bibit
Gambar 1. Pertumbuhan rumput laut G. verrucosa baik yang di seleksi
maupun yang kontrol (tidak seleksi)
Hal yang memengaruhi hasil seleksi lebih baik dari kontrol yaitu pada rumput laut yang diseleksi
faktor utamanya yaitu karena memiliki turunan gen yang baik, karena pada rumput laut yang diseleksi
menggunakan metode seleksi klon. Di mana kita ketahui metode seleksi klon adalah metode
penyeleksian yang dilakukan terhadap suatu tumbuhan yang memiliki keturunan gen yang baik,
yang pada akhirnya dapat menghasilkan bibit yang baik untuk dibudidayakan. Gen adalah faktor
pembawa sifat penurun yang terdapat dalam sel seluruh makhluk hidup.
Nutrisi atau makanan berperan penting juga dalam keberhasilan pertumbuhan rumput laut
Gracilaria verrucosa. Fungsi nutrisi adalah sebagai bahan pembangun makhluk hidup. Nutrisi pada
tumbuhan dapat berupa air dan zat hara. Air dan zat hara ini berfungsi sebagai bahan proses
Pertumbuhan bibit rumput laut ... (Petrus Rani Pong-Masak)
278
Tabel 2. Bobot rata-rata bibit rumput laut Gracilaria verrucosa hasil seleksi terhadap
kontrol pada pemilaharaan galur 1 di tambak
Perlakuan
Seleksi/
Kontrol
Palopo
Seleksi
Kontrol
Bone
Seleksi
Kontrol
Takalar
Seleksi
Kontrol
Ulangan
Bobot (g)
Rataan Laju pertumbuhan Standar
rumpun
harian (%)
deviasi
Awal
Akhir
1
2
3
10
10
10
60,83
46,5
61,67
46,86
36,05
42,93
6,02
5,01
6,06
Rataan
10
56,33
41,95
5,69
1
2
3
10
10
10
24,25
29,67
31,58
32,31
36,13
39,04
3,52
3,62
3,83
Rataan
10
28,5
35,83
3,66
1
2
3
10
10
10
52,4
45
40,4
39,74
36,14
35,14
5,5
5,01
4,65
Rataan
10
45,93
37,01
5,05
1
2
3
10
10
10
19,4
28,89
31
34,77
27,68
35,57
2,21
3,53
3,77
Rataan
10
26,43
32,67
3,17
1
2
3
10
10
10
52,25
33,5
63,75
37,07
25,8
42,12
5,51
4,03
4,17
Rataan
10
49,83
34,99
4,57
1
2
3
10
10
10
31,25
26,22
25
26,25
28,68
31,57
3,8
3,21
3,05
Rataan
10
27,49
28,83
3,35
0,59
0,16
0,43
0,84
0,82
0,39
fotosintesis. Dalam pertumbuhannya rumput laut memerlukan cahaya matahari untuk proses
photosynthesa, karena itu meskipun hidupnya di bawah permukaan laut tetapi tidak dapat terlalu
dalam. Proses fotosintesis sangat dibutuhkan dengan dapat mengahasilkan bahan organik yang
diperlukan untuk pertumbuhannya. Dengan tersedianya bahan organik dan unsur hara dalam jumlah
yang optimal dan kondisi lingkungan yang seimbang, maka kualitas dan kuantitas bahan-bahan
yang dikandung oleh rumput laut juga akan meningkat. Kondisi perairan yang jernih sangat diperlukan
dalam budidaya rumput laut ini agar cahaya matahari dapat menembus sampai di dasar perairan
yang menyebabkan talus rumput laut menerima intensitas cahaya matahari yang optimal, serta
mendapatkan pergerakan air yang cukup maka proses fotosintesis tidak terlambat dan menyebabkan
pertumbuhan talus subur dan memiliki percabangan yang banyak. Hal ini sesuai yang dikemukakan
oleh Sediadi (2002), bahwa air yang jernih sangat menguntungkan rumput laut untuk mendapatkan
cahaya matahari untuk kegiatan fotosintesis. Geider & Osborne (1992) menambahkan bahwa proses
fotosintesis dapat memacu aktivitas pembelahan sel, sehingga terjadi proses pelebaran sel dan
perpanjangan sel, di mana pada akhirnya rumput laut cenderung bertumbuh dan berkembang.
Selain faktor di atas, kesuburan lokasi tanaman sangat ditentukan oleh adanya gerakan air yang
berupa riak-riak air. Karena gerakan air merupakan alat pengangkut zat makanan yang diperlukan
279
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2013
bagi pertumbuhan tanaman. Arus atau ombak merupakan alat yang baik bagi massa air sehingga
menjadi homogen. Massa air yang homogen akan menghindari perbedaan yang tajam pada kelarutan
oksigen, temperatur, salinitas, dan lain-lain. Di samping itu, gerakan air juga merupakan alat pembersih
terhadap sedimen dan epiphyt yang menumpuk pada tanaman.
Dalam pertumbuhannya, rumput laut memerlukan cahaya matahari untuk proses photosynthesa,
karena itu, meskipun hidupnya di bawah permukaan laut tetapi tidak dapat terlalu dalam. Proses
fotosintesis sangat dibutuhkan dengan dapat mengahasilkan bahan organik yang diperlukan untuk
pertumbuhannya. Dengan tersedianya bahan organik dan unsur hara dalam jumlah yang optimal
dan kondisi lingkungan yang seimbang, maka kualitas dan kuantitas bahan-bahan yang dikandung
oleh rumput laut juga akan meningkat. Kondisi perairan yang jernih sangat diperlukan dalam budidaya
rumput laut ini agar cahaya matahari dapat menembus sampai di dasar perairan yang menyebabkan
talus rumput laut menerima intensitas cahaya matahari yang optimal, serta mendapatkan pergerakan
air yang cukup maka proses fotosintesa tidak terlambat dan menyebabkan pertumbuhan talus subur
dan memiliki percabangan yang banyak.
Pertumbuhan varietas Luwu lebih baik dibanding varietas Bone dan Takalar hal ini dikarenakan
pengaruh dari bibit rumput laut lebih baik dibanding Bone dan Takalar, di mana bibit rumput laut
varietas luwu memiliki kemampuan adaptasi lebih baik terhadap lingkungan yang baru, serta bibit
rumput laut varietas Luwu mengalami pertumbuhan yang baik karena dapat melakukan proses
fotosintesis dengan baik dan dapat menyerap nutrisi yang baik yang terdapat dalam tambak. Varietas
luwu juga memiliki ketahanan yang baik terhadap perubahan cuaca yang terjadi.
Kualitas Air
Faktor internal juga ikut berperan dalam keberhasilan dalam pertumbuhan. Faktor internal antara
lain suhu, pH, DO, salinitas, fosfat, dan nitrat. Menurut Gagar (2009), kualitas air tambak yang baik
yaitu dengan persyaratan: suhu air 20°C-28°C; salinitas optimum 15-37/mil; pH 6,8-8,2; dan oksigen
terlarut 3-8 mg/L
Tabel 3. Data kualitas air di tambak
Variabel
Minimal
Maksimal
Rataan
Simpangan
Suhu
Salinitas
pH
DO
Sulfat
Fosfat
Nitrat
CO2
28,4
22,97
6,76
6,2
773,35
0,0317
0,0275
0
30,47
29,59
8,71
7,59
4005,8
0,2857
0,7567
0
29,68
28,35
7,67
6,91
2543,87
0,111
0,1899
0
0,56
1,83
0,56
0,47
1095,55
0,0742
0,2038
0
Adapun data kualitas air yang dihasilkan selama penelitian di tambak Desa Kecamatan
Mappakasunggu Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.
Suhu adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme di lautan, karena
suhu memengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun perkembangan biakkan dan organismeorganisme tersebut (Hutabarat & Evans, 1984 dalam Darmawangsa, 2010). Tumbuhan butuh suhu
tertentu agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Pada hasil pengamatan kualitas air
tambak yang dilakukan, suhu yang baik dalam pertumbuhan rumput laut ini yaitu berkisar antara
27°C-31°C. Hasil pengukuran suhu selama penelitian dinyatakan dalam bentuk Gambar 2.
Faktor berikutnya adalah pH. pH atau Derajat keasaman merupakan gambaran jumlah atau aktivitas
ion hidrogen dalam perairan. Secara umum pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman
atau kebasaan suatu perairan. Menurut data kualitas air yang didapatkan. pH tambak tersebut berkisar
Pertumbuhan bibit rumput laut ... (Petrus Rani Pong-Masak)
280
Gambar 2. Suhu tambak di Desa Taipa
antara 7-8. Hal ini berarti rumput laut yang memiliki pertumbuhan yang baik hidup pada pH tersebut.
Hasil pengukuran pH selama penelitian dinyatakan dalam Gambar 3.
Salinitas atau kadar garam merupakan faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan pertumbuhan
rumput laut tersebut. Salinitas air tambak tersebut yang pada tiap minggu dilakukan pengujian
berkisar antara 19-31/mil. Hasil pengukuran salinitas selama penelitian dinyatakan dalam bentuk
Gambar 4.
Kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) pada perairan tambak juga memengaruhi. Menurut
Salmin (2005), oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup pernafasan dan pertukaran zat
yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Kadar oksigen pada tambak
yang digunakan untuk dibudidayakan 5-7 mg/L. Hal ini berarti kadar oksigen terlarut masih dalam
kisaran optimal. Hasil pengukuran DO selama penelitian dinyatakan dalam bentuk Gambar 5.
Gambar 3. pH tambak di Desa Taipa selama penelitian
281
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2013
Gambar 4. Salinitas tambak di Desa Taipa selama penelitian
Gambar 5. DO tambak di Desa Taipa selama penelitian
Fosfat merupakan unsur penting dalam suatu ekosistem air karena fosfat dapat dijadikan sebagai
parameter untuk mendeteksi pencemaran perairan. Menurut Effendi (2003), bahwa perairan dengan
tingkat kesuburan rendah memiliki kadar fosfat total 0-0,02 mg/L; kesuburan sedang kadar fosfat
total 0,021-0,05 mg/L dan perairan dengan tingkat kesuburan tinggi yaitu 0,051-0,1 mg/L.
Kandungan fosfat pada perairan tambak di Desa Taipa berkisar antara 0,01-0,4 mg/L. Hal ini
menandakan kandungan fosfat pada tambak di Desa Taipa dalam kisaran normal dan masih layak
digunakan untuk lahan budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa. Hasil pengukuran Fosfat selama
penelitian dinyatakan dalam bentuk grafik.
Nitrat (NO3) merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk dapat tumbuh dan
berkembang. Nitrat di perairan laut, digambarkan sebagai senyawa mikronutrien pengontrol
produktivitas primer di lapisan permukaan daerah eufotik. Kandungan nitrat di tambak berkisar
antara 0,02-0,75, hal ini menandakan bahwa nitrat yang terdapat di tambak masih dalam kisaran
optimal. Hasil pengukuran nitrat selama penelitian dinyatakan pada Gambar 7.
Pertumbuhan bibit rumput laut ... (Petrus Rani Pong-Masak)
282
0,30
Fosfat
0,25
0,20
0,15
0,10
0,05
0,00
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
Gambar 6. Fosfat tambak di Desa Taipa selama penelitian
Gambar 7. Nitrat tambak di Desa Taipa selama penelitian
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan yang diilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
 Pertumbuhan rumput laut yang diseleksi lebih baik dibanding dengan kontrol (tidak diseleksi).
 Pertumbuhan bibit rumput laut Gracilaria verrucosa varietas Luwu lebih tinggi dibanding varietas
Takalar dan varietas Bone.

Saran
Penelitian dengan menggunakan metode seleksi klon perlu dilanjutkan untuk generasi dua sampai
seterusnya untuk memperoleh bibit unggul rumput laut, Gracilaria verrucosa bagi pengembangan
budidaya rumput laut.
283
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2013
DAFTAR ACUAN
Anonim. 2005. Rumput Laut/alga, http:/ /www.iptek. net.id/ind/ pd_ alga/ index. php?alga =merah&id
=35 diakses pada tanggal 02 Februari 2010.
Anonim. 2009. Metode long line budidaya rumput laut. http://alumniaps .wordpress.com/2009/09/01/
metode-long-line-budidaya-rumput-laut/ diakses pada tanggal 02 Februari 2011.
Anonim. 2010. Pengertian kloning gen, manusia dan menurut agama islam. http://terbaru2010.com/
terbaru-kloning diakses pada tanggal 17 Februari 2011.
Anonim. 2010. Pertumbuhan dan perkembangan. http://chelbryden .wordpress.com/ diakses pada tanggal
28 Agustus 2011.
Andhika, W. 2008. Budidaya rumput laut. http://www.mail-archive.com/[email protected]/
msg14318.html diakses pada tanggal 04 Februari 2011.
Anggadiredja, J.T. 2006. Rumput laut. Penerbit Swadaya. Jakarta.
Angkasa, W.I. 2009. Teknik budidaya rumput laut. http:// kenshuseidesu .tripod .com /id49. html diakses
pada tanggal 04 Februari 2011.
Aslan, L. 1996. Budidaya rumput laut. Kanisius. Yogyakarta.
Cholis, I. 2010. Mengenal rumput laut. http: //www. kaskus. us/ showthread .php?t=6175704 diakses
pada tanggal 02 Februari 2011.
Darmawangsa. 2010. Evaluasi kelayakan lahan untuk tanaman rumput laut pada tambak. http://
wangsageografi. blogspot.com /2010/04/evalusasi-kelayakan-lahan-untuk-tanaman.html diakses pada
tanggal 04 Februari 2011.
Effendi, I. 2003. Telaah kualitas air. Kanisius. Yogyakarta.
Gagar. 2009. Budidaya rumput laut Gracilaria sp. di tambak. http://gagar-gagarsmkn6palu.blogspot.com/
2009/12/budidaya-rumput-laut-gracilaria-spdi.html.diakses pada tanggal 28 Agustus 2011.
Lailah, S. 2010. Aklimatisasi rumput laut (Kappaphycus alvarezii dan Gracilaria verrucosa) hasil kultur
jarungan dalam keramba jaring apung (KJA) BRPBAP di Teluk Awerange Kabupaten Barru, Sulawesi
Selatan. Universitas Haluoleo.
Marinus, M. 2010. Pengaruh varietas rumput laut (Kappaphycus alvarezii) terhadap laju pertumbuhan
yang dibudidayakan dengan metode rakit apung di perairan Il Ape Kabupaten Lembata, Nusa
Tenggata Timur. Universitas 45 Makassar.
Metrotvnews. 2010. Potensi lahan budidaya rumput laut 1.900 Km. http:// www. Metrotvnews .com/
metromain/ newscat/nusantara /2010 /10 /21/32037/Potensi-Lahan-Budidaya-Rumput-Laut-1.900 diakses
pada tanggal 02 Februari 2011.
Rusda. 2004. Kloning. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/ 3521 /1 /obste tr \i-rusda.pdf diakses
pada tanggal 17 Februari 2011.
Salmin. 2005. Oksigen terlarut (do) dan kebutuhan oksigen biologi (bod) sebagai salah satu indikator
untuk menentukan kualitas perairan. http://www.scribd.com/doc/37383670/Oksigen-Terlarut-DanKebutuhan-Oksigen-Biologi-Untuk-Penentuan-Kualitas-Perairan diakses pada tanggal 28 Agustus 2011.
Sulawesi Selatan Antara. 2009. Rumput laut Takalar menjadi komoditas andalan Sulawesi Selatan.
http://makassar.antaranews.com/berita/5842/rumput-laut-takalar-jadi-komoditas-andalan-sulsel diakses
pada tanggal 02 Februari 2011
Sutrisyani & Rohani, S. 2006. Panduan Praktis Analisis Kualitas Air Payau. Balai Riset Perikanan Budidaya
Air Payau, Maros.
Download