Annual Report

advertisement
An nu al R epor t
Laporan Tah unan
IOM International Organization for Migration
OIM Organisasi Internasional untuk Migrasi
M A N AG I N G M I G R AT I O N F O R T H E B E N E F I T O F A L L
2008
IOM in Brief /
Sekilas IOM
Established in 1951, the International Organization for
Migration (IOM) is the principal intergovernmental
organization in the field of migration. IOM is dedicated
to promoting humane and orderly migration for
the benefit of all. It does so by providing services
and advice to governments and migrants.
Berdiri pada 1951, International Organization for
Migration (Organisasi Internasioal untuk Migrasi) atau
IOM adalah organisasi internasional utama di bidang
migrasi. IOM berdedikasi menjunjung tinggi migrasi
yang manusiawi dan teratur untuk kepentingan
bersama. IOM melakukannya dengan memberikan
pelayanan dan nasehat ke pemerintah maupun
Headquartered in Geneva, Switzerland, IOM is
growing rapidly and currently counts 125 states as
members. A further 16 states and 74 international
and non-governmental organizations hold observer
status.
migrants.
Berkantor pusat di Jenewa, Swiss, IOM berkembang
pesat dan kini 125 negara tercatat sebagai anggota.
Selain itu, 16 negara dan 74 organisasi internasional
dan organisasi swadaya berstatus pengamat.
IOM’s expenditures in 2007 reached US$783.8 million
while the year 2005 saw a peak programme budget
in excess of US$952 million. Approximately 5,600
staff are working on more than 1,770 projects from
over 420 field offices in 129 countries (November
2008).
Anggaran IOM pada 2007 mencapai AS$ 783,8 juta
sementara pada 2005 anggaran program mencapai
puncak hingga AS$952 juta. Sekitar 5.600 staff
bekerja di lebih dari 1.770 proyek atas 420 kantor di
129 negara (Nopember 2008).
IOM works in the four broad areas of migration
management:
• Migration and development
• Facilitating migration
• Regulating migration
• Forced migration.
IOM bergerak menangani migrasi di empat bidang
IOM activities that cut across these areas include
the promotion of international migration law, policy
debate and guidance, protection of migrants’ rights,
migration health and the gender dimension of
migration.
Sejumlah kegiatan IOM yang mencakup bidang-
umum:
•
•
•
•
Migrasi dan pembangunan
Mengfasilitasi migrasi
Mengatur migrasi
Migrasi yang dipaksakan
bidang
tersebut
meliputi
pengenalan
wacana
hukum migrasi internasional, perdebatan dan acuan
kebijakan,
perlindungan
hak-hak
para
migran,
kesehatan migrasi dan dimensi gender dari migrasi.
IOM in Indonesia /
OIM di Indonesia
IOM operations in Indonesia began with the
processing of Vietnamese migrants in Tanjung
Pinang, Riau, in 1979. These efforts were immediately
followed by another major operation providing for
the care, maintenance and assisted voluntary return
of internally displace East Timorese.
IOM
memulai
operasinya
di
Indonesia
dengan
IOM’s relationship with the Government of Indonesia
extends back to 1991 when Indonesia became a
formal Observer in the IOM Council. A Cooperative
Agreement signed in 2000 recognized the valuable
association established between the Government
and IOM towards improving migration management.
Hubungan IOM dengan pemerintah Indonesia dimulai
IOM Indonesia’s programmes have expanded
dramatically both in terms of their geographic reach
and target populations, particularly since the tsunami
struck Aceh province on the northernmost tip of the
island of Sumatra December, 2004. Sub-offices are
now located across the country with over 600 staff
members working on a wide range of activities.
Program-program IOM Indonesia telah berkembang
memproses migran Vietname di Tanjung Pinang, Riau
pada
1979.
Serangkain
usaha
berlanjut
dengan
penyediaan perawatan, pemeliharaan dan bantuan
pemulanan
sukarela
bagi
para
pengungsi
Timor
Timur.
pada 1999 ketika Indonsia resmi menjadi pengamat
dalam dewan IOM. Sebuah Perjanjian Kerjasama yang
ditandatangai pada 2000 mengakui Hubungan yang
sangat bermanfaat antara Pemerintah dan IOM dalam
meningkatakan penanganan migrasi.
dari sisi geografis maupun target penduduk, khususnya
sejak tsunami menghantam propinsi Aceh di ujung
utara pulau Sumatera pada Desember 2004. Kantorkantor cabang kini berdiri di penjuru nusantara
dengan lebih dari 600 staff bekerja dalam beragam
kegiatan.
4
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Table of Contents/ Daftar Isi
01
05
09
Message from the Chief of Mission / Pesan dari Ketua Misi
Introduction / Kata Pengantar
Emergency, Post-Conflict Migration Management / Penanganan Migrasi Darurat Pasca-Konflik
10
24
30
46
62
65
Regulating Migration
66
78
86
95
99
113
Counter-Trafficking Efforts / Upaya Penanggulangan Perdagangan Manusia
Technical Cooperation & Capacity Building [ Police Training ]/ Kerjasama Teknis dan Pembangunan Kapasitas [ Pelatihan Polisi ]
Irregular Migration / Migrasi Gelap
Facilitating Migration / Menfasilitasi Migrasi
Migration Health / Kesehatan Migrasi
Project Development & Donor List / Pengembangan Proyek & Daftar Donor
114
115
117
National Construction Services / Layanan Konstruksi Nasional
Water and Sanitation / Air dan Sanitasi
Livelihood Support Programme / Program Dukungan Mata Pencaharian
Post-Conflict Reintegration Programme / Program Reintegrasi Pasca-Konflik
Decommissioning Temporary Living Centres / Pengosongan Tempat Tinggal Sementara
Project Development / Pengembangan Proyek
Donor List / Daftar Donor
IOM Indonesia Offices / Kantor-kantor OIM di Indonesia
1
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Message from the Chief of Mission /
Pesan dari Ketua Misi
01
2
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Colleagues and Friends,
Para rekan dan teman saya sekalian,
It is with great pleasure that I present you the
International Organization for Migration (IOM)
Annual Report for 2008. This report summarizes
the strategic and operational service responses of
our many and varied programming activities in
Indonesia in accordance with the principle that
humane and orderly migration benefits migrants
and society.
Dengan bahagia saya persembahkan laporan tahunan
International Organization for Migration (IOM) Tahun
2008. Laporan ini merangkum bantuan strategis dan
operasional yang tercakup dalam program kegiatan kami
yang beragam di Indonesia sejalan dengan prinsip kami
bahwa migrasi yang manusiawi dan tertib membawa
manfaat bagi para migran maupun masyarakat.
Pada
In 2008, IOM Indonesia built on its close working
relationship with the Government of Indonesia
and its traditional donors, tapping decades of
experience in emergency response, post-conflict
reintegration programming and technical expertise
in the field of migration management. To improve
the Government’s capacity to employ appropriate
strategies and technology to monitor and take
action against irregular migration and address
other critical issues such as human trafficking and
smuggling, IOM supports national and regional
capacity-building activities and provides direct
assistance to migrants in need.
tahun
2008,
IOM
Indonesia
membangun
kerjasamanya yang erat dengan Pemerintah Republik
Indonesia dan para donornya, memanfaatkan puluhan
tahun pengalaman di bidang penanganan situasi
darurat,
program
reintegrasi
pasca
konflik
serta
keahlian teknis di bidang penanganan migrasi. Dalam
rangka meningkatkan kapasitas pemerintah RI untuk
menerapkan berbagai strategi dan teknologi yang
tepat guna untuk memonitor dan mengambil tindakan
terhadap migrasi non-reguler dan menanggulangi
masalah penting lainnya seperti perdagangan manusia
dan penyelundupan manusia, IOM mendukung kegiatan
peningkatan
kapasitas
tingkat
nasional
maupun
regional dan memberikan bantuan secara langsung
kepada para migran yang membutuhkan.
IOM’s flexible and results-oriented approach has
allowed the organization to establish itself as one
of the major partners of the Indonesian
Government and the international community in
situations of internal displacement in Indonesia.
IOM was one of the first international agencies
working on the ground in Aceh after the 2004
Tsunami and continues to lead the way in
providing
post-disaster
and
post-conflict
development assistance.
Pendekatan yang diterapkan oleh IOM yang bersifat
fleksibel
dan
berorientasikan
pada
hasil
telah
memungkinkannya untuk mengukuhkan diri sebagai
salah satu mitra utama pemerintah RI dan masyarakat
internasional menyangkut situasi pengungsian internal
di Indonesia. IOM merupakan salah satu badan
internasional pertama yang beroperasi di lapangan di
Aceh setelah terjadinya tsunami di tahun 2004 dan tetap
merupakan badan terdepan dalam memberikan bantuan
pembangunan pasca-bencana dan pasca-konflik.
With almost 240 million
an archipelago spanning
comprising 17,600 islands,
source, destination and
people spread across
5,000 kilometres and
Indonesia is a prime
transit country for
Dengan hampir 240 juta penduduk tersebar di sebuah
kepulauan yang terbentang seluas 5.000 kilometer dan
terdiri dari 17.600 pulau, Indonesia merupakan negara
3
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
migrants with its porous borders and weaknesses
in border and immigration management systems.
It also experiences important internal migration
flows due to constant labour movement, conflict
and disasters.
sumber, tujuan dan transit utama bagi migran, mengingat
panjangnya perbatasan dan kelemahan dalam sistem
penanganan imigrasi. Indonesia juga mengalami arus
migrasi internal yang cukup besar mengingat sering
terjadinya pergerakan tenaga kerja, konflik dan bencana
alam.
Migration continues to be one of the defining
global issues of this century, with more and more
people on the move today than at any other
point in human history. IOM’s diverse programme
architecture in Indonesia reflects these important
and complex dynamics through capacity
building and assistance in the field of migration
management and by contributing to population
stabilization after natural disasters, economic
instability and conflict.
Migrasi terus menjadi permasalahan global utama pada
abad ini, dengan semakin banyaknya jumlah penduduk
yang bergerak dewasa ini dibanding waktu lainnya dalam
sejarah manusia. Kerangka program IOM yang beragam
di Indonesia mencerminkan dinamika yang penting dan
kompleks ini melalui peningkatan kapasitas dan bantuan
di bidang penanganan migrasi dan dengan memberi
kontribusi pada stabilisasi penduduk setelah terjadinya
bencana alam, ketidakstabilan ekonomi dan konflik.
This report has been divided into three key
operational areas which reflect the work of IOM
in Indonesia:
Laporan ini telah dibagi berdasarkan tiga bidang
Emergency and Post-Conflict Migration Management
programming provides immediate and longterm assistance to displaced populations in postdisaster situations like those in Aceh and Java,
and those affected by armed conflict, as has been
the case in Aceh since the signing of the
historic peace agreement in August 2005.
Program Penanganan Migrasi Masa Darurat dan Pasca-
The broad category of Regulating Migration
includes migration management capacity-building
activities with our government partners, service
delivery to stranded migrants, the reintegration
of thousands of victims of human trafficking,
and a nation-wide police training to support of
the Indonesian National Police reform programme.
Kategori luas mengenai Penanganan Migrasi meliputi
operasional utama yang mencerminkan kegiatan IOM
di Indonesia:
Konflik, yang memberikan bantuan langsung maupun
jangka panjang kepada penduduk yang mengungsi
dalam situasi pasca-bencana seperti di Aceh dan Jawa,
serta penduduk yang terkena imbas konflik bersenjata,
sebagaimana yang terjadi di Aceh sejak penandatanganan
perjanjian perdamaian bersejarah di bulan Agustus 2005.
peningkatan
kapasitas
dilaksanakan
bersama
penanganan
para
mitra
migrasi
yang
pemerintah,
penyampaian layanan kepada para migran yang
terdampar, reintegrasi ribuan korban perdagangan
manusia, serta pelatihan polisi secara nasional guna
mendukung program reformasi Kepolisian Republik
Indonesia.
Migration Health covers the orderly and voluntary
return of medical evacuees in post-disaster
situations, and extends to training, research and
Kesehatan Migrasi mencakup pemulangan secara tertib
dan sukarela para pasien yang dievakuasi selama masa
4
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
direct mental and psychological assistance to
migrants in distress – including victims of conflict,
disaster and human trafficking in Indonesia.
pasca-bencana, dan mencakup juga pelatihan, riset dan
bantuan mental dan psikologis secara langsung kepada
para migran yang menghadapi masalah – termasuk
korban konflik, bencana dan perdagangan manusia di
We are determined that IOM Indonesia will
continue to meet the challenges and outstanding
needs of vulnerable and mobile populations
throughout the archipelago. We are committed
to working with the Government of Indonesia
in developing new sustainable programmes and
projects to maintain our effective and holistic
management of migration issues and intend
to pursue this important task with the same
energy and motivation in years to come.
Indonesia.
Kami bertekad agar IOM Indonesia akan terus menjawab
tantangan dan kebutuhan mendesak para penduduk
yang rentan dan bergerak di seluruh nusantara. Kami
berkomitmen untuk bekerjasama dengan Pemerintah
Indonesia dalam mengembangkan serangkaian program
dan proyek baru yang berkelanjutan dan berkeinginan
untuk memenuhi tugas mulia ini dengan tenaga dan
motivasi yang sama di tahun-tahun mendatang.
J. Steve Cook
IOM Indonesia Chief of Mission/
Ketua Misi OIM Indonesia
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
5
Introduction/
Kata Pengantar
05
6
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
The International Organization for Migration is the
leading intergovernmental organization working
with migrants and governments to develop effective
responses to migration challenges. Dedicated to
promoting humane and orderly migration for the
benefit of all for more than five decades, IOM has
a proven record for success around the world.
The
International
adalah
Organization
organisasi
for
Migration
antar-pemerintah
terkemuka
yang
berhubungan
untuk
mengembangkan
efektif
dalam
migrasi.
Dengan
erat
dengan
menghadapi
dedikasi
yang
permasalahan
menjunjung
migrasi
yang manusiawi dan teratur untuk kepentingan
semua, selama lebih dari lima
IOM established its first operations in Indonesia in
1979, facilitated the processing of Indo - Chinese
boat people in Riau province during the 1980’s.
pemerintah
langkah-langkah
dekade, IOM
menunjukkan keberhasilannya di banyak negara.
IOM pertama kali memulai perannya di Indonesia
pada 1979 dengan menangani manusia perahu
Following the mass displacement and humanitarian
crisis triggered by East Timor’s vote for independence
in 1999, the Organization established a massive
sea, land and air bridge to help some 150,000 East
Timorese return home.
Indo-Cina di propinsi Riau pada 1980an.
Setelah perpindahan masal dan krisis kemanusian
yang terpicu oleh refendum di Timor Timur pada
1999, organisasi ini hadir memberikan bantuan
besar-besaran
The operation cemented IOM’s relations with the
Government of Indonesia (GoI) and led to the
establishment of an office in Jakarta and the signing
of a Memorandum of Understanding in 2000.
melalui
laut,
darat
dan
udara
untuk membantu 150.000 kembali ke tempat
asalnya.
Sejumlah
kegiatan
tersebut
menjadi
dasar
hubungan IOM dan pemerintah Indonesia hingga
The excellent working relationship between IOM
and the Government enabled the Organization to
provide immediate large scale emergency response,
recovery and reconstruction assistance, following
the succession of natural disasters that struck Aceh
(2004), Nias (2005), Yogyakarta (2006) and Padang
(2007.)
akhirnya dibukanya kantor perwakilan di Jakarta
dan ditanda tanganinya nota kesepahaman pada
2000.
Hubungan
erat
antara
IOM
dan
pemerintah
telah memungkinkan orgasniasi ini memberikan
bantuan
tanggap
darurat,
pemulihan
dan
rekonstrusi dalam skala besar ketika serangkaian
IOM’s global mission values of supporting the
efforts of government institutions to assist migrants
wove themselves through operations across the
nation, further linking programmes and expertise
together.
bencana alam menimpa Aceh (2004), Nias (2005),
Yogyakarta (2006) dan Padang (2007).
Misi
global
IOM
mendukung
badan-badan
pemerintah dalam membantu penduduk migran
menyatu dengan kegiatan operasional di seluruh
The mission has brought relief to tens of thousands
of tsunami and earthquake survivors through
negeri dan memadukan beragam program dan
keahlian.
7
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
logistics support, the restoration of livelihoods,
construction of shelters, clinics and community
centres, and also post-disaster physical- and mental
health services.
Misi ini telah menyalurkan bantuan bagi ribuan korban
selamat tsunami dan gempa bumi melalui dukungan
logistik, pemulihan mata pencaharian, pembangunan
tempat
penampungan
sementara,
klinik,
fasilitas
umum dan juga pelayanan-pelayanan fisik dan mental
Throughout 2008 IOM and its partners continued
to respond to migration health challenges in
Indonesia in the fields of maternal and child health
for internally displaced populations; psychosocial
and mental health for conflict-affected communities;
emergency medical response for victims of natural
disasters; migration health assessments for migrants
and refugees, and health services for irregular
migrants and victims of trafficking.
pasca bencana alam.
Selama 2008, IOM dan mitra-mitranya masih terus
menjawab
tantangan-tantangan
dalam
kesehatan
migrasi di Indonesia, termasuk kesehatan ibu hamil dan
anak-anak dikalangan pengungsi; kesehatan psikososial
dan jiwa bagi masyarakat yang terkena dampak
konflik; tanggap darurat medis bagi korban bencana
alam;
pemeriksaan
kesehatan
migrasi
bagi
para
migran dan pengungsi, dan pelayanan-pelayanan
IOM’s
global
experience
in
post-conflict
environments led the Indonesian Government and
international donors to entrust the Organization
to assist and support the Government with the
reintegration of nearly 5,000 former combatants
and amnestied political prisoners into mainstream
Acehnese society, following the signing of the
2005 Helsinki Peace Accord. IOM further delivered
tangible support to unemployed youth in highrisk parts of Aceh where to date, more than 1,100
clients have been referred to a job, apprenticeships,
trainings, or small-business networks.
kesehatan bagi migrant gelap dan korban perdangan
manusia.
Pengalaman global IOM di linkungan pasca konflik
telah meyakinkan pemerintah Indonesia dan donor
internasional
untuk
memberikan
bantuan
bagi
organisasi ini dan dukungan bagi pemerintah dalam
proses reintegrasi hampir 5.000 mantan kombatan dan
tahanan politik ke masyarakat Aceh sebagai kelanjutan
penandatangan perjanjian damai Helsinki pada 2005.
Lebih jauh lagi, IOM telah memberikan bantuan bagi
kelompok muda yang tidak bekerja di daerah-daerah
bersiko tinggi di Aceh, dimana hingga kini lebih 1.100
The Government also turned to IOM in its efforts to
combat human trafficking. Over the past four years
the mission has provided specialist training for law
enforcement officials, prosecuters and judiciaries,
including the Justices of the Indonesian Supreme
Court. IOM has also created Asia’s first medical
recovery centres in selected police hospitals for
trafficking victims.
diantaranya telah menerima pekerjaan, praktek kerja,
pelatihan-pelatihan,
atau
jaringan-jaringan
bisnis
kecil.
Pemerintah
juga
meminta
bantuan
IOM
dalam
memerangi perdagangan manusia. Dalam empat tahun
terakhir, misi ini telah memberikan pelatihan-pelatihan
khusus bagi para perangkat hukum, pengacara dan
jaksa, termasuk peradilan di tingkat Mahkamah Agung.
Helping government manage migration-related
issues is one of IOM’s core missions. IOM supports
IOM juga telah membentuk pusat pemulihan bagi
korban perdangan manusia di sejumlah rumah sakit
8
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
the Government’s efforts to regulate the movement
of irregular migrants through Indonesia by providing
extensive support services to stranded migrants.
polisi dan merupakan yang pertama dilakukan di Asia.
Membantu pemerintah dalam menangai masalahmasalah yang berhubungan dengan migrasi adalah
The Organization is also working with the
Indonesian Government to bolster the Indonesian
National Police’s (INP) reform agenda. It has already
trained almost 100,000 policemen and women in
community policing and human rights, as part of
a six-year programme, which was launched in
2004.
salah satu misi utama IOM. IOM mendukung usaha
pemerintah untuk mengatur migran gelap melalui
penyediaan pelayanan dukungan menyeluruh bagi
migrant yang terdampar.
Organisasi
ini
juga
berkerja
dengan
pemerintah
Indonesia mendukung agenda reformasi Polri. Hingga
kini, hampir 100.000 polisi termasuk polisi wanita
IOM Indonesia’s mission stems from its partnerships
with national and local government, nongovernmental agencies, grassroots community
organizations and the donor community.
dilatih dalam perpolisian masyarakat (polmas) dan
hak azasi manusia (HAM), sebagi bagian dari enam
tahun program yang diluncurkan pada 2004.
Program-program
IOM programmes continue to address the
outstanding needs of vulnerable and mobile
populations throughout the archipelago. And,
innovative new programmes and projects currently
under development will continue to do so in the
years to come.
IOM
masih
terus
bersentuhan
dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang lemah
dan berpindah di seluruh negeri ini. Dan, programprogram baru yang inovatif kini tengah dikembangkan
dan
akan
mendatang.
terus
dikembangkan
di
tahun-tahun
9
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Emergency and Post-Conflict
Migration Management/
Penanganan Migrasi Darurat dan Pasca-Konflik
10
National Construction Service /
Layanan Konstruksi Nasional |
24
Water and Sanitation /
Air dan Sanitasi |
30
Livelihood Support Programme /
46
Post-Conflict Reintegration Programme /
Program Reintegrasi Pasca-Konflik |
62
Decommissioning Temporary Living Centers /
Pengosongan Tempat Tinggal Sementara |
Program Dukungan Mata Pencaharian |
09
10
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
National Construction Services/
Layanan Konstruksi Nasional
Mursidah Gets a Better House /
Mursidah Dapat Rumah yang Lebih Baik
Mursidah enjoys playing with her granddaughter,
Rini, while her house is being rebuilt by IOM in
Lampeudaya village, in Mesjid Raya sub-district,
Aceh Besar.
Mursidah
tengah
bercengkrama
dengan
cucu
The village is a quiet, peaceful place now,
but almost four years ago, when the tsunami
swept in, Mursidah lost her house and almost
everything she owned.
Desa ini begitu tenang, namun hampoir empat tahun
For nearly a year she and her three sons lived
in a cramped barrack block with hundreds of
other families made homeless by the disaster.
Selama hampir setahun, ia dan ketiga putranya
They were happy and grateful when, together with
16 other families, they were among the first to
receive a brick and timber house from the
international NGO Oxfam.
Mereka berbahagia dan penuh syukur ketika bersama
In the past three years two of Mursidah’s sons
have got married and moved out to start
families of their own. But now, after three years,
the timber structure of the house has begun to
deteriorate.
Dalam tiga tahun terkahir, dua dari tiga anaknya telah
perempuannya, Riri ketika rumahnya dibangun IOM
di desa Lampeudaya, kecamatan Mesjid Raya, Aceh
Besar.
yang lalu ketika tsunami menyapu desa ini, Mursidah
kehilangan rumah dan hampir semua harta benda
miliknya.
tinggal di barak penampungan yang padat sementara
bersama keluarga-keluarga lain korban tsunami.
16 keluarga lainya termasuk orang pertama yang
menerima bantuan sebuah rumah yang dibangun dari
bata dan kayu dari NGO internasional Oxfam.
menikah dan keluar rumah untuk memulai kehidupan
baru. Namun, kini setelah tiga tahun struktur kayu
rumahnya mulai rusak
I am very
grateful because
I plan to spend
the rest of
my life in this
house. Soon my
youngest son
will also get
married, but I
will be safe and
comfortable
here.
/
Saya sangat
berbahagia karena
saya berencana
menghabiskan
hidup saya di rumah
ini. Tidak lama lagi
putra bungsu saya
juga akan menikah,
namun saya akan
merasa aman dan
nyaman disini.
IOM dengan bantuan dana Oxfam kini tengah
IOM, with funding from Oxfam, is now upgrading
the timber superstructure with more long-lasting,
durable, light-gauge steel and fiber cement board.
menjalankan program untuk menggantikan struktur
“I am very grateful because I plan to spend the rest
of my life in this house. Soon my youngest son will
also get married, but I will be safe and comfortable
here,” says Mursidah.
“Saya sangat berbahagia karena saya berencana
bagian atas rumah dengan baja ringan yang lebih
tahan lama dan papan fiber cement.
menghabiskan hidup saya di rumah ini. Tidak lama lagi
putra bungsu saya juga akan menikah, namun saya
akan merasa aman dan nyaman disini,” kata Mursidah
{ Mursidah }
11
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1. Mursidah
1
and her
granddaughter
Rini
/
Mursidah dan
Rini cucu
perempuannya.
2. Mursidah’s new
house
/
Rumah baru
Mursidah.
3 & 4. Mursidah’s
and her new life.
/
Mursidah dan
kehidupan
barunya.
© IOM Indonesia 2008
2
© IOM Indonesia 2008
3
© IOM Indonesia 2008
4
© IOM Indonesia 2008
12
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Shelter/Housing
Perumahan
After three years of post-tsunami reconstruction
work in Aceh and Nias, IOM’s construction and
housing services have seen the culmination of
a range of projects designed to stabilize and
revitalize communities displaced by the two
natural disasters.
Setelah tiga tahun rekonstruksi pasca tsunami di Aceh
Construction was carried out in coordination
with government and NGO partners, in close
consultation with community committees, at the
request of the Government of Indonesia.
Konstruksi
By early 2008, the final units of permanent housing
for tsunami-affected families were completed.
A total of 4,448 transitional shelters and permanent
houses were built, along with 388 public buildings
including schools, clinics and community centers.
IOM’s construction programme was active in 125
communities across Aceh’s 15 coastal districts.
Pada awal 2008, pembangunan unit rumah permanen
dan Nias, pelayanan-pelayanan IOM konstruksi dan
perumahan telah menunjukkan puncah dari beragam
kegiatan yang dirancang untuk menstablilkan dan
memulihkan
masyarakat
korban
kedua
bencana
alam.
dilakukan
pemerintah
dan
melalui
mitra
koordinasi
dengan
konsultasi
dengan
NGO,
kelompok-kelompok masyarakat, sesuai permintaan
pemerintah Indonesia.
terkhir untuk penerima bantuan korban tsunami
selesai. Secara keseluruhan, 4,448 rumah sementara
dan rumah permanen telah dibangun bersamaan
dengan 388 bangunan umum seperti sekolah, klini dan
gedung serba guna. Program konstruksi IOM aktif di
125 komunitas di 15 kabupatan sepanjang pesisir
Aceh.
With its original shelter projects now complete,
IOM is currently providing shelter construction
assistance to several NGOs who constructed semipermanent shelters for tsunami-affected families
in Aceh as an interim measure after the tsunami.
Dengan berakhirnya proyek perumahan, IOM kini
tengah memberikan bantuan konstruksi perumahan
atas sejumlah NGO yang telah membangun rumah
semi permanen sebagai tempat sementara setelah
tsunami.
Oxfam, using a community-driven approach,
constructed many houses throughout Aceh in 2005.
The design used a masonry substructure and a
wooden superstructure, which allowed beneficiary
families to be involved in the construction and
resulted in fast completion.
Oxfam,
menggunakan
pendekatan
berbasis
masyarakat, telah membangun banyak rumah diseluruh
Aceh selama 2005. Rancangan yang menggunakan
dinding beton pada struktur bagian bawah dan kayu
pada
bagian
atas
ini
memungkinkan
penerima
bantuan terlibat dalam pembangunan dan selesai
But the timber superstructures proved vulnerable
to weather and insect infestation, resulting in
deterioration and structural damage. They now
need to be replaced with more durable structures.
dalam waktu singkat.
Tetapi bagian atas dari kayu tersebut terbukti tidak
kuat atas perubahan cuaca dan gangguan serangga
yang berakibatnya rusaknya struktur.
IOM is currently conducting a project to remove
the wooden superstructure of 48 houses and
replace it with new, permanent superstructures
using light-weight steel frames.
In Banda Aceh and Aceh Besar, IOM in partnership
with CARE, is also implementing a project to
demolish existing structures and replace them with
earthquake-resistant RISHA-designed houses.
Kini IOM tengah melaksanakan sebuah proyek untuk
mengganti struktur kayu atas 48 dengan atap permanen
yang baru menggunakan struktur baja ringan.
Di Banda Aceh dan Aceh
dengan
CARE
juga
Besar, IOM yang bermitra
menjalankan
sebuah
proyek
untuk menggantikan struktur bangunan lama dan
menggantinya dengan RISHA.
Construction
was carried out
in coordination
with
government and
NGO partners,
in close
consultation
with community
committees, at
the request of
the Government
of Indonesia.
/
Konstruksi dilakukan
melalui koordinasi
dengan pemerintah
dan mitra NGO,
konsultasi dengan
kelompok-kelompok
masyarakat,
sesuai permintaan
pemerintah
Indonesia.
13
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
IOM has used the RISHA design developed and
certified in Indonesia since 2005. It incorporates a
38 to 44m2 modular reinforced pre-cast concrete
structure and a septic system that can deal with
the high water table found in most coastal
communities.
The project will construct 122 new 44m2 housing
units, complete with three partitioned rooms, a
kitchen alcove, and additional separate toilet and
washing facilities connected to a sanitation system.
IOM menggunakan rancangan rumah RISHA yang
dikembangkan dan resmi digunakan di Indonesia
sejak 2005. Rancangan ini terdiri atas 38 hingga 44m2
struktur beton
modular dan system sanitasi yang
dirancang untuk menangani tingkat permukaan air
yang cukup tinggi dikebanyakan daerah pesisir.
IOM akan membangun 122 unit rumah baru tipe 44m2,
lengkap dengan tiga ruang terpisah, sebuah dapur
dalam, kamar mandi dan tempat mencuci yang
terhubung dengan saluran langsung ke system sanitasi.
By the Numbers / Berdasarkan Angka
Aceh - Nias / Aceh - Nias
(30 June 2008)
• Construction / Konstruksi
1,233
Transitional shelters constructed post-tsunami. /
Penampungan sementara yang telah dibangun pasca-tsunami
3,215
Permanent houses constructed post-tsunami. /
Rumah permanen yang telah dibangun pasca-tsunami
4,448
Total shelters and houses constructed. /
Jumlah penampungan sementara dan rumah yang telah dibangun
247
Three-room school buildings constructed. /
Tiga ruang bangunan sekolah yang telah dibangun
141
Other public buildings (clinics, community centres). /
Bangunan umum lainnya (klinik, gedung serba guna)
4,836
Total units constructed (including houses, clinics, schools, community centers etc.) in Aceh and Nias. /
Jumlah unit yang telah dibangun (termasuk rumah, klinik, sekolah, gedung serba guna, dll) di Aceh dan Nias
Yogyakarta & Central Java / Yogyakarta & Jawa Tengah
(31 October 2008)
• Construction / Konstruksi
24
5
MCA prototype residential houses constructed. /
Rumah contoh MCA telah dibangun.
Community Centers constructed. /
Fasilitas umum telah dibangun.
• Training / Pelatihan
3,627
Beneficiaries that have received training in safe and earthquake-resistant construction practices. /
Penerima bantuan yang telah menerima pelatihan di bidang Konstruksi Tahan Gempa.
3,608
Beneficiaries trained in Disaster Preparedness and Management. /
Penerima bantuan yang telah menerima pelatihan di bidang Kesiapsiagaan Bencana.
196
Community leaders trained in training others in basic community-based disaster risk management concepts. /
Kader Lokal yang telah dikenalkan dengan Konsep Pengurangan resiko Bencana Berbasis Masyarakat.
820
Beneficiaries of household finance training. /
Penerima bantuan yang telah menerima pelatihan keuangan rumah tangga.
63
Beneficiaries of entrepreneurship training. /
Penerima bantuan yang telah menerima pelatihan kewirausahaan.
14
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
From Tin Roof to Earthquake ~ Resistant House/
Dari Atap Seng ke Rumah Tahan Gempa
Ulee Kareng is most famous throughout
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) province as
a place for drinking coffee. Here, people from
all walks of life gather at the Solong coffee shop
to drink and chat about everything from social,
economic and political issues to daily life.
Di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, nama Ulee
You can also find 12 houses here donated by the
Queensland Government and built by IOM in
2006, housing families of staff working for the
Dinas Pertanian (Department of Agriculture) at
the time of the December 2004 tsunami.
Di tempat ini pula, anda bisa menemukan 12 rumah
Ibu Munajirah, wearing a Dinas Pertanian uniform,
is an energetic single parent who lost almost all
of her family when the wave struck. ”It was
shattering for me. My husband had passed away a
month earlier. Then the tsunami took almost all
my other relatives. My two precious children are
the reason why I have struggled and survived
all this time,” she says.
Ibu Munajirah yang mengenakan seragam Dinas
Kareng telah dikenal sebagai sebuah tempat untuk
menikmati kopi aceh. Di tempat ini, masyarakat dari
berbagai kelompok dan golongan datang menikmati
kopi sambil berbincang beragam hal mulai masalah
sosial, ekonomi, politik hingga masalah keseharian.
sumbangan pemerintah Queensland dan dibangun
oleh IOM pada 2006, yang merupakan perumahan bagi
staff yang bekerja pada Dinas Pertanian ketika bencana
tsunami 2004 terjadi.
Pertanian adalah seorang orangtua tunggal penuh
semangat meski telah kehilangan hampir seluruh
anggota keluarga ketika ombak menyergap. “Bencana
itu sangat tak terkira, terlebih setelah kepergian suami
saya,” kata Ibu Munajirah. “Sebulan kemudian, tsunami
merenggut anggota keluarga yang lain. Kedua anak
tersayang saya adalah alasan saya untuk tetap berjuang
dan bertahan selama ini.”
Another resident of the housing complex,
Pak Syarifuddin, has a wife and three young
children – two daughters and one son – aged
four to 11 years old. They were living in a Dinas
Pertanian house in Punge Ujong when the
tsunami came and devastated their world. He
remembers losing his father-in-law minutes after
telling him about the giant wave sweeping in
from the ocean.
Salah satu penghuni lain perumahan tersebut, Pak
Syarifuddin hidup dengan seorang istri dan tiga orang
anak, dua putri dan satu putra berumur antara empat dan
11 tahun. Mereka tingal di sebuah rumah Dinas Pertanian
di Punge Ujong ketika tsunami menghantam dan
menghancurkan kehidupan mereka. Ia masih ingat
kehilangan bapak mertuanya sesaat stelah menyampaikan
kabar tentang ombak raksasa yang datang dari laut.
Ibu Munajirah, is an energetic single
parent who lost almost all of her
family when the wave struck.
/
Ibu Munajirah adalah seorang orangtua
tunggal penuh semangat meski telah
kehilangan
hampir
seluruh
anggota
keluarga ketika ombak menyergap.
© IOM Indonesia 2008
15
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
“I grabbed my family and rode my motorbike
away from the sea with the wave roughly 300
meters behind us. My son saw it and is still
traumatized by the memory of the tsunami and
the earthquake,” he says.
“Saya segera membawa keluarga saya dengan sepeda
“We had to live in a single room in a hot tin roof
warehouse belonging to Dinas Pertanian for over
a year. We were very insecure and had to share
the space with the Government because they
needed it for offices.”
“Lebih dari satu tahun kami harus tinggal digudang
motor dan berusaha menjauh dari kejaran ombak yang
berjarak sekitar 300 meter di belakang,” katanya. “Putra
saya melihat semua kejadian tersebut dan hingga kini
masih mengalami trauma atas gempa dan tsunami.”
beratap seng milik Dinas Pertanian. Kami hidup penuh
ketakutan dan merasa tidak yakin dengan pengaturan
huninan sementara. Kami harus berbagi tempat dengan
pemerintah karena mereka membutuhkan tempat untuk
kegiatan perkantoran.”
But the family are now happy and grateful for
their new home provided by IOM and the
Queensland Government. “It has helped us to
get back to a normal life. I can focus on my work
and feel assured now that my family is now living
in a safe, earthquake-resistant house. Also it now
takes me less than five minutes to get to work –
I used to have to travel 10 kms,” smiles Pak
Syarifuddin.
Namun kini kedua keluarga berbahagia dan bersyukur
atas rumah baru mereka yang diberikan IOM dan
pemerintah Queensland. “Rumah ini telah membantu
kami kembali ke kehidupan normal. Saya dapat fokus
pada pekerjaan saya dan sekarang merasa yakin bahwa
keluarga saya hidup di sebuah rumah yang aman dan
tahan gempa. Terlebih lagi, kini saya membutuhkan
waktu kurang dari lima menit untuk menuju tempat
kerja, sebelumnya saya harus menempuh hingga 10km,”
Pak Syarifuddin and Ibu Munajirah have been
able to restart their lives in their new homes,
returning to work and putting traumatic
memories of the earthquake and tsunami behind
them.
senyum Pak Syarifuddin.
“I will raise my two lovely children here and leave
all the memories of pain and sorrow behind me,”
says Ibu Munajirah.
“Saya akan membesarkan kedua anak saya disini dan
Pak Syarifuddin dan Ibu Munajirah telah dapat memulai
awal kehidupan baru , kembali bekerja dan melupakan
pengalaman-pengalaman traumatis.
meninggalkan kepedihan dan kesedihan dimasa lalu,”
kata Ibu Munajirah.
These houses were built by IOM in
2006 with support from Queensland
Government
/
Rumah-rumah ini dibangun oleh
IOM pada 2006 dengan bantuan dari
pemerintah Queensland.
© IOM Indonesia 2008
16
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1. One of the 96 —
44m2 — permanent
1
houses built by IOM
in Blang Raya.
/
Satu dari 96
rumah permanen
berukuran 44m2
yang dibangun IOM
di Blang Raya.
2, 3, 4. The
reconstruction
process of
permanent house,
a school and a
community center
in Blang Raya.
/
Proses
pembangunan
rumah permanen,
sekolah dan gedung
serba guna di
Blang Raya.
© IOM Indonesia 2008
2
© IOM Indonesia 2008
3
© IOM Indonesia 2008
4
© IOM Indonesia 2008
17
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Colours in Blang Raya/
In order to
ensure fairness
and make sure
residents would
integrate with
people from
other areas,
houses in the
development
were distributed
through a
lottery system.
/
Untuk memastikan
keadilan dan
menyatunya
penduduk dengan
para pendatang,
rumah-rumah
tersebut dibangun
dan ditetapkan
melalui sistem undi.
Warna-warna di Blang Raya
The road to Blang Raya in Pidie district winds
through beautiful green hills and acres of paddy
fields. The place conjures up the beauty of rural
Indonesia and is far removed from the blistering
heat of Sigli, the district capital.
Jalan menuju kabupaten Pidie berliku melalui perbukitan
IOM has built 96 44 m2 permanent houses, a school
and a community center in Blang Raya, making it
the largest new community in the area. While some
residents are local, others are from western coastal
areas affected by the tsunami.
IOM telah membangun 96 rumah permanen berukuran
hijau yang indah dan paran pematang padi. Tempat ini
merupakan gambaran alam desa Indonesia dan sangat
berbeda dibanding ibukota kabupaten, Sigli, yang panas
terik.
44m2, sebuah sekolah dan sebuah gedung serba guna
di Blang Raya, menjadikannya sebagai komunitas baru
terbersar di kawasan tersebut. Sebagian penduduknya
adalah penduduk asli dan sebagian lainnya berasal
dari pesisir pantai barat yang terimbas tsunami.
“This is now our home and we are very grateful.
There are many children here, but the school means
that we do not have to worry about them having
going to school somewhere far away,” says mother–
of-four Khadijah.
“Sekarang inilah rumah kami dan kami sangat bersyukur.
Disini ada banyak anak tapi dengan sekolah ini kami tidak
lagi harus khawatir karena mereka tidak lagi harus pergi
ke sekolah lain yang jauh,” ujar ibu dengan empat anak,
Khadijah.
A multi-function community hall built on land
bought by BRR, the Aceh and Nias Rehabilitation
and Reconstruction Agency, allows residents get
together and organize community activities.
Sebuah gedung serba guna yang berfungsi untuk
tempat musyawarah dan kegiatan umum dibangun
diatas tanah yang telah dibeli Badan Rekonstruksi
dan Rehabilitasi Aceh dan Nias (BRR).
“If someone wants to organize a wedding
reception, we can have it here,” Abdus Salam,
a resident of the colourful, hillside community.
“Bila seseorang hendak melangsungkan resepsi pernikahan,
kami bisa melaksanakannya di sini,” ujar Badus Salam,
seorang penduduk yang tinggal di perumahan penuh
The hall is also used for village committee
meetings, including gatherings to discuss IOM’s
current project in the village, which addresses water
and sanitation issues.
warna di perbukitan.
Gedung serba guna juga digunakan untuk pertemuan desa,
termasuk pertemuan untuk mendiskusikan proyek IOM
dibidang air bersih dan sanitasi yang tengah berlangsung
In order to ensure fairness and make sure
residents would integrate with people from
other areas, houses in the development were
distributed through a lottery system.
di desa.
Untuk memastikan keadilan dan menyatunya penduduk
dengan para pendatang, rumah-rumah tersebut dibangun
dan ditetapkan melalui sistem undi.
“This was a good system. Without it people
from Blang Raya would probably have formed
a separate community and people from other
villages would have chosen to live near people
from their old village. The lottery system forced
us to mix and will foster a new sense of
community,” says a young housewife living in
the complex.
“Ini adalah sistem yang bagus. Tanpa ini warga dari
Blang Raya mungkin akan membentuk komunitas sendiri
sementara warga dari daerah lain akan memilih tinggal
berkelompok dengan warga dari kampung asalnya
masing-masing. Sistem undi ini membuat kami harus
bercampur dan menghadirkan perasaan bermasyarakat,”
seorang ibu muda yang tinggal di perumahan ini.
18
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Rebuilding Hopes /
Membangun Kembali Harapan - harapan
Tanjong village used to be on the road to Lhoknga
beach in Aceh Besar. On December 26th 2004 Yuni
Miranda – Mira to her friends – was in the village.
She remembers the coconut trees swaying in the
sea breeze.
Desa Tanjong dulu terletak di jalur menuju pantai
”The waves came from two directions - not only
from Lhoknga beach, but also from the direction
of Ulee Lhue port,” she says.
“Ombak tidak hanya datang dari pantai Lhoknga, tapi
Lhoknga di Aceh Besar. Pada 26 Desember 2004 Yuni
Miranda – Mira ia biasa dipanggil – berada di desanya.
Masih jelas teringat dibenaknya nyiur melambai ditiup
angin pantai.
juga dari arah pelabuhan Ulee Lheu,” ingat Mira.
Mira melarikan diri dengan mengendarai sebuah sepeda
She fled on a motorcycle with three other adults
and an infant. The group survived the waves
by reaching the Cut Nyak Dhien Museum and
running up to the roof.
My spirits are
soaring. Soon I
will be getting a
new house...
/
Harapan saya
membumbung tinggi.
Sebentar lagi saya
akan mendapatkan
sebuah rumah baru...
motor bersama tiga orang dewasa lain dan seorang
bayi. Mereka selamat dari kejaran ombak dengan
{ Mira }
memanjat atap Museum Cut Nyak Dhien.
Namun pada pagi yang naas itu, ia kehilangan hampir
But that morning Mira lost most of her family. Her
mother and two sisters died in Calang, Aceh Jaya,
her mother’s home town, where her father worked
as a policeman.
seluruh anggota keluarganya. Ibu dan dua saudara
When Mira and her father gathered enough courage
to return to Tanjong several days later, they saw
that the entire village had been destroyed. All that
remained of their house were the foundations.
Ketika
Mira’s hopes of rebuilding were raised when her
father was subsequently registered to receive
a new house as part of a community-driven housing
project organized by the international NGO CARE.
Harapan Mira mulai tumbuh ketika ayahnya terdaftar
perempuannya meninggal di Calang, Aceh Jaya yang
merupakan kampung halaman ibunya dan tempat
tugas ayahnya sebagai seorang anggota kepolisian.
keberanian
Mira
dan
ayahnya
terkumpul,
beberapa hari kemudian mereka memberanikan diri
kembali Tanjong. mereka melihat desa Tanjong yang
telah hancur. Yang tersisa hanyalah dasar rumah.
untuk mendapatkan bantuan rumah dari CARE sebagai
bagian proyek perumahan berbasis masyarakat.
IOM dengan dukungan CARE kini melanjutkan program
IOM, with funding from CARE, has now become
involved in the project and has started work on
a new house for the family.
tersebut dan telah mulai membangun sebuah rumah
baru bagi keluarga ini.
“Harapan saya membumbung tinggi. Sebentar lagi
“My spirits are soaring. Soon I will be getting a
new house and my cousin also just got a new
job in a bank. Things are getting better,” says Mira.
1
saya akan mendapatkan sebuah rumah baru dan
sepupu saya juga akam mulai bekerja di sebuah bank.
Keadaan kini lebih baik,” kata Mira.
2
1. Mira in her new
place of work.
/
Mira di tempat
kerjanya yang baru.
2. Mira’s land in
Tanjong village,
Aceh Besar
/
Tanah milik Mira
© IOM Indonesia 2008
© IOM Indonesia 2008
di desa Tanjong,
Aceh Besar.
19
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1 & 4. Participants
1
of MCA’s training
that provided by
IOM.
/
Peserta pelatihan
MCA yang diberikan
oleh IOM.
2 & 3. The
participants of
the training
courses in disaster
preparedness
and save and
earthquake
resistant
construction
exchange their
reward point
from the training
with building
materials.
/
Peserta pelatihan
kesiapsiagaan
dan pencegahan
bencana serta
pelatihan konstruksi
tahan gempa,
menukarkan poin
© IOM Indonesia 2008
yang dikumpulkan
selama pelatihan
dengan bahan-
2
© IOM Indonesia 2008
3
© IOM Indonesia 2008
4
© IOM Indonesia 2008
bahan bangunan.
20
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
“I Have Learned How to Save Lives…”
(a story of a member of a local cadre for disaster preparedness)
“Saya Belajar Cara untuk Menyelamatkan Korban…”
(sebuah cerita kader lokal untuk program kesiapsiagaan bencana)
Born and raised in Bantul, Agus, 32, was a survivor
of the earthquake on May, 2006 and witnessed
the complete devastation of his home village. On
the 3rd August, 2008 a smiling Agus assisted IOM
staff in unloading equipment from the truck.
Together with 200 other community members
from his village, Agus prepared for the Earthquake
Simulation and Evacuation Drill being coordinated
by IOM.
Lahir dan dibesarkan di Bantul, Agus, 32, adalah
salah seorang korban selamat dari bencana gempa
bulan Mei 2006 dan menyaksikan kehancuran desa
tempat tinggalnya. Pagi 3 Agustus 2008 itu , dengan
semangat Agus mendampingi staf IOM menurunkan
perlengkapan dari truk. Bersama dengan 200 anggota
masyarakat lain dari desanya, Dusun Jati, Desa
Sriharjo, Agus mempersiapkan Simulasi Gempa dan
Latihan Simulasi Evakuasi yang dikoordinasi oleh
IOM.
Agus actively participated in IOM’s training
courses in disaster preparedness and prevention;
as well as training in safe and earthquake
resistant construction practices. As an enthusiastic
participant, IOM staff identified him as a perfect
candidate for becoming a member of a local cadre
for training other community members in
Community Based Disaster Risk Management
(CBDRM).
Agus adalah salah satu warga yang telah aktif
berpartisipasi
dalam
Pelatihan
Kesiapsiagaan
dan
Pencegahan Bencana IOM, serta mengikuti Pelatihan
Konstruksi Tahan Gempa. Sebagai salah satu peserta
yang antusias, staf IOM
memilih Agus sebagai
kandidat tepat untuk menjadi salah satu kader lokal
untuk melatih anggota masyarakat yang lain dengan
mengikuti Pelatihan Pengurangan Resiko Bencana
Berbasis Masyarakat (PBBM).
The simulation entailed hazard mapping,
installation of evacuation route signs, and
other critical elements of disaster response. The
community had already acquired these skills
through the disaster preparedness training
programme conducted from August, 2007 until
June, 2008. The training was conducted in 10
villages across the provinces of Yogyakarta
and Central Java. All the community members
are encouraged to take part in the simulation,
Simulasi yang dilakukan pagi itu meliputi pemasangan
peta ancaman, pemasangan tanda rute evakuasi, dan
elemen penting lain mengenai persiapan dan respon
yang perlu dilakukan terhadap bencana. Masyarakat
telah memperoleh keterampilan ini melalui program
Pelatihan Kesiapsiagaan dan Pencegahan Bencana
yang telah
diadakan selama bulan Agustus 2007
hingga Juni 2008. Pelatihan ini dilaksanakan di
10 desa tersebar di provinsi Yogyakarta dan Jawa
Safe construction training participants
fill in their post-test forms after
completing their 6th module.
/
Peserta pelatihan konstruksi tahan gempa
menjawab pertanyaan-pertanyaan setelah
menyelesaikan modul ke enam.
© IOM Indonesia 2008
21
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
including the local authorities. IOM also invited
the local branch of the Indonesian Red Cross (PMI)
to participate.
Tengah.
Semua
anggota
masyarakat
dianjurkan
untuk ikut serta dalam simulasi, termasuk aparat
lokal setempat. IOM juga mengundang PMI cabang
Bantul untuk berpartisipasi.
The simulation of the earthquake and evacuation
drill demonstrated the community’s capacity
to respond to natural hazards, and specifically
earthquakes. Moreover, it reinforced the function
of the community committee, (formed with the
assistance of IOM), established and socialized
an evacuation meeting point, and ensured
coordination with emergency response agencies
such as the Indonesian Red Cross. In addition,
the community learnt about setting up and
operating a public kitchen, as well as, practicing
First Aid on earthquake victims. The community
energetically participated in the evacuation
simulation, playing roles as earthquake victims
and disaster responders.
As an appointed coordinator, Agus took his
responsibility seriously during the simulation,
ensuring that each step of the disaster
preparedness plan was undertaken. Agus and
his fellow graduates from IOM’s training courses
performed exceedingly well and in the event
of a real disaster, they would surely save lives.
Simulasi gempa dan simulasi evakuasi ini telah
menunjukkan
bencana
kapasitas masyarakat untuk merespon
alam,
khususnya
gempa.
Terlebih
lagi,
kegiatan ini juga memperkuat fungsi panitia dusun,
yang telah dibentuk dengan fasilitasi IOM, mendirikan
dan mensosialisasikan tempat bertemu saat evakuasi
bencana,
dan
memastikan
koordinasi
dengan
organisasi yang merespon keadaaan darurat seperti
Palang Merah. Sebagai tambahan, masyarakat belajar
bagaimana mendirikan dan mengoperasikan dapur
umum, serta mempraktekkan pertolongan pertama
pada
korban
berpartisipasi
gempa.
dalam
Masyarakat
simulasi
secara
evakuasi,
aktif
berperan
sebagai korban gempa dan responden bencana.
Sebagai koordinator yang ditunjuk, Agus menjalankan
tanggungjawabnya dengan baik
pada saat simulasi,
memastikan bahwa setiap langkah dalam rencana
kesiapsiagaan
bencana
telah
dilaksanakan.
Agus
dan rekan-rekannya yang telah lulus dari pelatihan
IOM melakukan tugas dengan baik dan jika terjadi
bencana di masa depan, mereka sudah cukup terlatih
untuk menyelamatkan korban bencana.
Agus explains, “ I found the IOM programme to be
really useful because I gained a lot of important
Agus menjelaskan, “Menurut saya, program IOM
MCA-Agus, one of Local cadre
in Jati sub village.
/
Agus, salah seorang kader MCA
di dusun Jati.
© IOM Indonesia 2008
22
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
knowledge from the trainings. The many things
I learned included First Aid, disaster preparation
steps, and we were also able to establish
a network of local disaster responders should a
disaster reoccur. Moreover, we established
a very good relationship with IOM and were
able to coordinate the simulation exercise
together.”
sangat berguna karena saya memperoleh berbagai
pengetahuan
Beberapa
hal
penting
yang
dari
pelatihan
saya
pelajari
tersebut.
antara
lain
pertolongan pertama, langkah-langkah kesiapsiagaan
bencana,
dan
bahwa
kami
dapat
menghubungi
kontak lokal terdekat jika bencana terjadi. Terlebih
lagi, kami menjalin hubungan yang sangat baik
dengan
IOM
dan
mampu
berkoordinasi
dengan
lancar dalam simulasi bersama.”
The training courses in disaster preparedness and
safe and earthquake resistant construction form
part of the activities that IOM is implementing
under the Mobile Community Assistance (MCA)
programme. The programme was implemented
with the support from the Yogyakarta and Central
Java Assistance Program (YCAP), which forms
part of the Australia – Indonesia Partnership. The
MCA Programme is based on a CBDRM framework
aimed at rebuilding communities holistically. It
incorporates a number of integrated activities in
addition to those mentioned above, including
construction of seismic resistant prototype
houses and community centres and livelihood
interventions such as business management
training and asset replacement.
IOM has built the capacity of over 9,000 community
members in a variety of fields, including:
construction, disaster preparedness, household
finance,
entrepreneurship
and
business
Pelatihan kesiapsiagaan dan pencegahan bencana
dan pelatihan konstruksi tahan gempa merupakan
bagian dari kegiatan IOM yang dilaksanakan di
bawah Program Mobile Community Assistance (MCA).
Program
ini
dilaksanakan
dengan
bantuan
dari
Yogyakarta and Central Java Assistance Program
(YCAP), bagian dari Kemitraan Australia- Indonesia.
Program MCA berdasar pada kerangka PBBM yang
bertujuan membangun masyarakat secara menyeluruh.
Program
ini
menggabungkan
berbagai
aktivitas
terintegrasi, selain yang telah disebutkan di atas, yaitu
konstruksi rumah contoh tahan gempa dan fasilitas
umum serta intervensi di bidang mata pencaharian
seperti pelatihan manajemen bisnis dan penggantian
asset.
IOM telah meningkatkan kapasitas lebih dari 9.000
anggota masyarakat di berbagai bidang, termasuk:
konstruksi, kesiapsiagaan bencana, keuangan rumah
tangga,
kewirausahaan
dan
manajemen
bisnis.
The training courses in disaster
preparedness and safe and earthquake
resistant construction form part of the
activities that IOM is implementing under
the Mobile Community Assistance (MCA)
programme.
/
Pelatihan
bencana
kesiapsiagaan
dan
pelatihan
dan
pencegahan
konstruksi
tahan
gempa merupakan bagian dari kegiatan IOM
yang dilaksanakan di bawah Program Mobile
Community Assistance (MCA).
© IOM Indonesia 2008
23
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
management. In addition, IOM has completed the
construction of 24 prototype residential houses
and 5 community centers. The principles applied
in the construction of these buildings are the
same as those taught during the safe construction
training. In this way, the buildings serve as an
educational resource for the communities. In
addition, IOM has successfully conducted a
number of disaster preparedness festivals, which
have experienced a very high community
participation rate.
Sebagai tambahan, Program MCA telah menyelesaikan
pembangunan 24 rumah contoh dan 5 fasilitas
umum. Teknik konstruksi yang digunakan dalam
membangun bangunan ini sama dengan prinsip
membangun yang diajarkan pada pelatihan konstruksi
tahan gempa. Melalui cara ini, bangunan berguna
sebagai sumber pendidikan bagi masyarakat. Sebagai
tambahan, IOM telah sukses melaksanakan beberapa
festival siaga bencana, yang melibatkan partisipasi
aktif masyarakat.
IOM juga secara aktif berpartisipasi dalam Kampanye
The IOM has also actively participated in the
Disaster Risk Reduction (DRR) Public Campaign
held from May to June, 2008. This campaign aims
to raise public awareness of the importance of
DRR strategies across various sectors and will
see joint activities undertaken by humanitarian
agencies, local NGOs, Government institutions,
the media and community organizations. As a
key stakeholder in this Forum, the IOM have been
able to provide a positive contribution through
the materials developed in the MCA programme
and their close relationship with the provincial
level Governments. The IOM are well-positioned
to move forward with further contributions
toward this important growth area. All of these
activities will ensure that communities are more
resilience to future disasters and better equipped
to respond to them when they occur.
Publik
Pengurangan
Resiko
Bencana
(PRB)
yang
diadakan pada bulan Mei hingga Juni 2008. Kampanye
ini
bertujuan
untuk
meningkatkan
pemahaman
masyarakat akan pentingnya strategi Pengurangan
Resiko Bencana (PRB) dalam berbagai sektor dan
dapat melihat aktivitas gabungan berbagai organisasi
kemanusiaan, LSM lokal, institusi pemerintah, media
serta organisasi masyarakat. Sebagai pemain aktif
dalam forum ini, IOM turut memberi kontribusi positif
melalui materi yang dikembangkan dalam Program
MCA dan juga hubungannya yang cukup erat dengan
Pemerintah Daerah. IOM telah memiliki posisi yang
baik untuk bergerak maju memberikan
lebih
lanjut
terhadap
sektor
yang
berkembang ini. Semua aktivitas
masyarakat
lebih
siap
kontribusi
penting
dan
ini akan menjamin
menghadapi
kemungkinan
bencana di masa depan dan memiliki perlengkapan
lebih untuk merespon saat hal itu terjadi.
IOM has built the capacity of over
9,000 community members in a variety
of fields, including:
construction,
disaster preparedness household
finance, entrepreneurship and business
management.
/
IOM telah meningkatkan kapasitas lebih
dari 9.000 anggota masyarakat di berbagai
bidang, termasuk: konstruksi, kesiapsiagaan
bencana, keuangan rumah tangga,
kewirausahaan dan manajemen bisnis.
© IOM Indonesia 2008
24
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Water and Sanitation /
Air dan Sanitasi
Water and Sanitation in Eumpe Awee/
Air dan Sanitasi di Eumpe Awee
Located in the hills of Atong village in Montasik
sub-district, Aceh Besar, Eumpe Awee, population
193, received 50 houses from the IOMAmerican Red Cross Shelter project for relocated
earthquake and tsunami victims. Eumpe Awee’s
residents mainly come from coastal villages in
Banda Aceh and Aceh Besar, such as Kajhu and
Ulee Lheu. Most earn a living from farming,
small businesses and day labour.
Terletak di perbukitan desa Atong, kecamatan Montasik,
Water and Sanitation
Water and Sanitation
The area, which is hilly and more arid than other
parts of Aceh Besar, has limited access to clean
water. Before the IOM built a water resevoir and a
large well, residents had to walk to a neighbouring
village for water.
Dibanding daerah lain di Aceh Besar, kawasan yang
Aceh Besar, Eumpe Awee, dengan 193 penduduk
menerima 50 rumah bantuan kerjasama IOM dan
American Red Cross (ARC) melalui proyek relokasi korban
gempa dan tsunami. Komunitas Eumpe Awee terdiri
dari penduduk yang berasal dari kampung-kampung
pesisir di Banda Aceh dan Aceh Besar, seperti Kajhu dan
Ulee Lheu. Kebanyakan mereka hidup dari berkebun,
berdagang dan buruh harian.
berbukit ini tergolong kering dan memiliki sedikit akses
atas
air
bersih.
penampungan
Sebelum
air
dan
dibangunnya
sumur
besar
oleh
tempat
IOM,
penduduk setempat harus berjalan ke desa lain untuk
mendapatkan air.
At the end of 2007 IOM started using trucks to
deliver water as a temporary solution, while
working with the community to plan a permanent
water supply. Eventually they decided on a large,
shallow well reservoir and a piping system to
deliver the water to individual homes. In the
interim, IOM built a large water reservoir and clean
water was brought in by PDAM Tirta MoentalaLambaro.
Pada akhir 2007 IOM mulai menggunakan truk sebagai
solusi sementara pada saat bersamaan bekerja sama
dengan
masyarakat
untuk
merencanakan
sebuah
penyaluran air permanen. Akhirnya, mereka bersepakat
atas sebuah sumur penampungan air yang lebar,
dangkal dan sebuah sistem pipa untuk menyalurkan
air ke masing-masing rumah. Sementara itu, IOM
telah
membangun
sebuah
tempat
penampungan
air yang besar dan air bersih disediakan oleh PDAM
Tirta Moentala-Lambaro
Village Water and Sanitation
Committee
When the community agreed to participate in
the project, they established a Village Water
and Sanitation Committee (BPAPL) and started
making contributions to the establishment of a
permanent water supply. The community took
Village Water
Committee
and
Sanitation
Ketika masyarakat sepakat untuk berpartisipasi di
proyek ini, mereka membentuk sebuah Village Water
and
Satnitation
Committee/VWSC
atau
Badan
The community
agreed to
participate in
the project, they
established a
Village Water
and Sanitation
Committee
(BPAPL) and
started making
contributions
to the
establishment
of a permanent
water supply.
/
Masyarakat sepakat
untuk berpartisipasi
di proyek ini, mereka
membentuk sebuah
Village Water
and Satnitation
Committee/VWSC
atau Badan Pengelola
Air dan Sanitasi
Lingkunga (BPAL) dan
mulai memberikan
kontribusi atas
hadirnya sebuah
sistem penyaluran air
permanen.
25
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1. Access to a clean
1
water supply is one
of the key factors in
promoting durable
solutions for people
displaced by the
tsunami in Aceh.
/
Akses atas
tersedianya air
bersih merupakan
salah satu kunci
utama dalam
mengembangkan
pemecahan jangka
panjang bagi
pengungsi korban
tsunami di Aceh.
2. The completed
well in Eumpee
Awee.
/
Sumur gali Eumpee
Awee setelah selesai.
3. At the end of
2007 IOM started
using trucks to
deliver water
as a temporary
© IOM Indonesia 2008
solution, while
working with the
community to plan
2
a permanent water
supply.
/
Pada akhir
2007 IOM mulai
menggunakan
truk sebagai
solusi sementara
pada saat
bersamaan bekerja
sama dengan
masyarakat untuk
merencanakan
© IOM Indonesia 2008
sebuah penyaluran
air permanen.
3
4
4. The water
from the well
is distributed
through all water
tabs in Eumpee
Awee.
/
Air dari sumur gali
sudah mengalir ke
setiap water tab di
Eumpee Awee
© IOM Indonesia 2008
© IOM Indonesia 2008
26
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
charge as the planner, executor and supervisor
of the water supply project.
Pengelola Air dan Sanitasi Lingkunga (BPAL) dan mulai
memberikan kontribusi atas hadirnya sebuah sistem
penyaluran air permanen. Para warga berperan sebagai
IOM facilitation ensured that the committee,
which comprised seven men and 15 women,
including health cadres, gained the capacity it
needed to manage the water supply system. BPAPL
members were trained in how to manage basic
finances and how to manage water treatment.
perencana, pelaksana sekaligus pengawas atas proyek
penyaluran air ini.
Fasilitasi dilakukan IOM untuk memastikan, kepanitiaan
yang terdiri dari tujuh laki-laki dan 15 perempuan
termasuk diantaranya kader kesehatan ini mendapatkan
kemampuan yang dibutuhkan untuk mengelola sistem
The community also asked to be trained in how
to identify disease symptoms in children and
simple first aid for children. Other trainings
included participatory hygiene and sanitation.
penyaluran air. Anggota BPAPL dilatih dalam mengelola
pembukuan dasar dan bagaimana merawat perangkat
penjernih air.
Pencapaian BPAPL
BPAPL Achievements
Tim
The IOM team followed a series of communitybased decision making and activities, during
which the BPAPL decided to provide the labour to
build the large shallow well. BPAPL subsequently
led and coordinated the construction, as well as
many hygiene and environmental health activities.
kegiatan-kegiatan berbasis masyarakat, dimana BPAPL
The Construction of Shallow
Well
Pembangunan Sumur Dangkal
Collecting ideas from the community, IOM
facilitators at first did not believe it was possible
to build one shallow well to provide for the water
needs of the entire community. The normal size
of a shallow well is 80-100cm in diameter and
300-600cm in depth. The actual need was
15,000m3 of water per day, which meant they
needed to build a well 230cm in diameter with
a depth of 700cm, which was calculated as able
to supply 18,000 liters of water per day.
fasilitator pada awalnya tidak yakin apakah mungkin
mengikuti
sejumlah
musyawarah
dan
memutuskan untuk menyediakan tenaga kerja untuk
membangun sumur dangkal yang lebar. Lebih jauh
BPAPL memimpin dan mengkoordinasikan konstruksi
termasuk sejumlah kegiatan berhubungan dengan
higienitas dan kesehatan lingkungan.
Mengumpulkan
masukan
dari
masyarakat,
IOM
membangun sebuah sumur dangkal guna memenuhi
kebutuhan seluruh masyarakat atas air. Ukuran normal
dari sebuah sumur dangkal adalah diameter 80-100cm
dan kedalaman 300-600cm. Kebutuhan air per hari
adalah
15.000m3
pembangunan
dengan
sebuah
demikian
sumur
dibutuhkan
dengan
diameter
230cm dan kedalaman 700cm yang diperhitungkan
dapat mensuplai 18.000 liter air per hari.
BPAPL
BPAPL conducted meetings with the community
about plans to construct such a large well.
The result of the meetings was followed up by
making a commitment that the well should be
built within 21 days and completed by community
members. Next, they would install the pipes
from well to reservoir, build a pump house and install
IOM
melakukan
masyarakat
serangkain
tentang
pertemuan
dengan
rencana-rencana
untuk
membangun sebuah sumur lebar. Hasil dari serangkain
pertemuaan itu dilanjutkan dengan membuat komitmen
untuk membuat sumur tersebut dalam 21 hari dan
diselesaikan
oleh
anggota
masyarakat.
Kemudian
mereka akan memasang pipa-pipa dari sumur ke
tempat penampungan, membangun sebuah rumah
Parents started
to realize how
important it is to
wash their
hands with soap,
especially for
their children.
/
Para orang tua mulai
menyadari betapa
pentingnya mencuci
tangan mereka
dengan sabun,
khususnya untuk
anak-anak.
{ Pak Edhy Musharwan }
BPAPL treasurer /
Bendahara BPAPL
27
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
the pump, plaster the floor of the well and set up a
fence.
pompa dan memasang pompa, melapisi lantai sumur
The community of Eumpe Awee has reaped the
rewards of the well they constructed and can
even share the water for future community
building needs.
Masyarakat Eumpe Awee telah menikmati hasil dari
Bapak Abdul Wahab, a member of the Eumpe Awee
community, when asked about the advantages of
having a well says: “kamoe jinoe hana masalah lee
ngon ie.” (”We will no longer have any problems
getting water.”)
Bapak Abdul Wahab, seorang anggota masyarakat
BPAPL informed to the community about
“rules of the game” in order to maintain the
sustainabilty of their water supply. They collect a
fee for water in the amount of Rp1,000 per cubic
meter of water they use. The money collected
is allocated mostly for the maintainance of the
pump and pipes. They have their own form to
write down their usage of water based on what they
learnt from their IOM training.
BPAPL menjelaskan kepada masyarakat tentang “aturan
dan memasang pagar.
sumur yang mereka bangun dan bahkan dapat
membagi air untuk kebutuhan bangunan-bangunan
umum dimasa depan.
Eumpe Awee, ketika ditanya tentang keuntungankeuntungan dari sebuah sumur mengatakan: “kamoe
jinoe hana masalah lee ngon ie.” (“Kami tidak akan lagi
menjumpai masalah untuk mendapatkan air”)
main” agar dapat menjaga kelangsungan penyaluran
air mereka. Mereka mengumpulkan iuran sebesar
Rp1.000 per kubik meter air yang mereka gunakan.
Uang yang terkumpul sebagian besar digunakan untuk
perawatan pompa dan pipa-pipa. Mereka masingmasing mengisi formulir tentang penggunaan air
berdasarkan pelatihan yang diberikan IOM
“Alhamdulillah... hingga kini kami belum menjumpai
“Alhamdulillah... until now we haven’t found any
problems but still we try our best to be better,”
says BPAPL leader Pak Zaman, three months
into the community running its own water system.
masalah apapun namun tentunya kami masih berusaha
Hygiene Advisory
Pesan-pesan Kesehatan
BPAPL Eumpe Awee actively deliver health
messages to their community. Every time they
have a chance, they will ask their neighbours to
help their community become healthy through
changing their attidudes and actions – such as
not throwing rubbish into the drainage and to
participate in gotong royong community selfhelp. Hygiene promotions are also conducted
through formal activities such as hand washing
with soap demonstrations.
BPAPL Eumpe Awee secara aktif menyampaikan pesan-
Perhaps the most interesting hygiene promotion
tool that BPAPL produced was a movie called
Wash Your Hands with Soap. Every local stakeholder
Boleh jadi, sarana promosi kesehatan yang palin menarik
melakukan yang terbaik,” ujar ketua BPAPL Pak Zaman,
masyarakat telah menjalankan sistem penyaluran air
ini selama tiga bulan.
pesan kesehatan ke anggota masyarakatnya. Disetiap
kesempatan, mereka akan meminta tetangga masingmasing
untuk
membantu
menjadikan
lingkungan
mereka menjadi sehat melalui perubahan perilaku dan
tindakan, seperti tidak membuang sampah ke saluran
drainase dan berpartisipasi dalam gotong royong.
Promosi-promosi kesehatan pun dilakukan melalui
sejumlah kegiatan resmi seperti demonstrasi mencuci
tangan dengan sabun.
yang dihasilkan BPAPL adlah sebuah film berjudul
“Cucilah Tanganmu dengan Sabun”. Semua pihak yang
28
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
We had a talk
before with
the Indonesia
Cooperative
Boards for Aceh
about the plan
and we got a
green light to
develop it into a
cooperative.
/
participated - the community, the health cadre and
the local health clinic.
berkepentingan terlibat, masyarakat, kader kesehatan
“Parents started to realize how important it is to
wash their hands with soap, especially for
their children,” says BPAPL treasurer Pak Edhy
Musharwan, who worked as the film’s cameraman
and director.
”Para orang tua mulai menyadari betapa pentingnya
BPAPL and Future Plans
BPAPL dan Recana-rencana Masa Depan
The community realized how important it was
to have an organization managing the water
supply and hope to develop the BPAPL to
become the main organization to assist the
village in other areas, not only on water
management and environmental issues.
Masyarakat menyadari betapa pentingnya untuk memiliki
Coordinator of Eumpe Awee housing complex
Pak Jamal says that he had discussions with BPAPL
to develop it into a cooperative. He received
positive feedback from BPAPL.
Koordinator perumahan Eumpee Awee Pak Jamal
menerima umpang balik yang positif dari BPAPL
Sebelumnya kami
telah berbicara
dengan Badan
Koperasi Indonesia
untuk Aceh tentang
rencana ini dan
kami mendapat
lampu hijau untuk
menjadikannya
sebagai sebuah
koperasi.
“We had a talk before with the Indonesia
Cooperative Boards for Aceh about the plan and
we got a green light to develop it into a
cooperative,” Pak Edhy says. “We plan later that one
of the functions will be to save and loan money,
with seed money coming from members’
contributions”.
“Sebelumnya kami telah berbicara dengan Badan
{ Edhy Musharwan }
Koperasi Indonesia untuk Aceh tentang rencana ini dan
BPAPL treasurer /
Bendahara BPAPL
Water and Sanitation
Air dan Sanitasi
Access to a clean water supply is one of the
key factors in promoting durable solutions for
people displaced by the tsunami in Aceh. IOM is
currently working with 14,240 such people living
in IOM-constructed houses throughout the
province.
Akses atas tersedianya air bersih merupakan salah satu
dan klinik kesehatan setempat.
mencuci tangan mereka dengan sabun, khususnya
untuk anak-anak,” kata bendahara BPAPL Pak Edy
Musharwan yang berkerja sebagai juru kamera dan
sutradara film.
sebuah organisasi yang mengelola penyaluran air dan
berharap untuk mengembangkan BPAPL untuk menjadi
organisasi utama yang membantu desa di daerahdaerah lain, tidak hanya tentang manajemen air dan
masalah-masalah lingkungan.
mengatakan bahwa ia telah berdiskusi dengan BPAPL
untuk mengembangkannya menjadi sebuah koperasi. Ia
kami mendapat lampu hijau untuk menjadikannya
sebagai sebuah koperasi,” ujar Pak Edhy. “Kami
berencana bahwa salah satu fungsinya adalah untuk
simpan pinjang, dengan uang modal yang berasal dari
kontribusi anggota.”
kunci utama dalam mengembangkan pemecahan jangka
(30 June 2008)
panjang bagi pengungsi korban tsunami di Aceh. IOM
bekerja sama dengan 14.240 korban selamat tsunami
yang tinggal di rumah bantuan IOM diseluruh Aceh.
Dengan pendekatan berbasis masyarakat, IOM bekerja
With a community-based approach, IOM works
with households to form Village Water and
Sanitation Committees (VWSC) to maintain water
and sanitation systems.
sama dengan para keluarga membentuk Komite Penairan
The VWSC will not only maintain these systems
after the project ends, but will host a variety
VWSC dibentuk tidak sekedar untuk memelihara sistem
dan Sanitasi Desa atau Village Water and Sanitation
Commitee (VWSC) guna memelihara sistem pengairan
dan sanitasi.
pengairan dan sanitasi setelah proyek ini berakhir, namun
(31 October 2008)
29
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
community events to promote hygiene and
share skills and knowledge with the wider
community.
juga mengadakan beragam kegiatan kemasyarakatan
The project works in 83 communities in
11 districts of Aceh where IOM built houses for
people who lost their homes, people relocated
from various affected areas, and people in
pre-existing communities.
Proyek ini bekerja di 83 kelompok masyarakat di
untuk
dalam menggalakan perilaku hidup bersih dan
berbagi keahlian serta pengetahuan ke khalayak luas.
11 kabupaten di Aceh dimana IOM telah membangun
perumahan bagi mereka yang telah kehilangan tempat
tinggalnya, masyarakat yang direlokasi dari berbagai
daerah yang terkena bencana dan msayarakat yang
telah lebih dahulu tinggal.
To coordinate progress over such a broad area,
IOM developed an innovative monitoring and
evaluation system for all areas of the project
– from community hygiene promotion to
increased access to water and improved sanitation.
Untuk mengkoordinasikan kemajuan program yang
cukup luas ini, IOM mengembangkan sebuah inovasi
sistem pengawasan dan evaluasi atas semua bagian dari
proyek ini mulai dari penggalakan kebersihan masyarakat
hingga peningkatan akses atas air bersih dan sanitasi.
IOM community teams surveyed participating
villages in order to create specific solutions
for water, drainage and sanitation, hygiene
promotion and training.
Sejumlah tim IOM melakukan survey atas desa-desa
yang terlibat untuk mencari pemecahan khusus untuk
masalah air, drainase dan sanitasi, promosi higienitas
dan pelatihan-pelatihan.
The results of this survey and community
mapping of over 1,000 households found that
in most areas there is already considerable
knowledge of water and sanitation issues, but
low practice rates. Project teams use the
information to develop tailored solutions for the
communities in which they work.
Hasil survey dan pendataan atas 1.000 keluarga
menunjukkan tingkat pemahaman atas pentingnya
air bersih dan sanitasi tergolong tinggi dikebanyakan
masyarakat namun tingkat pelaksanaannya tergolong
rendah.
Tim
proyek
ini
menggunakan
informasi
tersebut untuk mengembangkan pemecahan alternatif,
disesuaikan dengan daerah tempat mereka bekerja.
The project further aims to improve village
sanitation through construction of drainage
systems and improved septic systems for up to
1,413 households. These measures will help to
ensure that villages meet Indonesian national
standards and reduce potential environmental
impact.
Proyek ini lebih jauh bertujuan untuk meningkatkan
sanitasi desa melalui pemembangunan dan peningkatan
sistem septik untuk 1.413 keluarga. Langkah-langkah
ini dilakukan untuk memastikan agar desa-desa ini bisa
memenuhi standar nasional dan sekaligus mengurangi
potensi-potensi dampak buruk pada lingkungan.
By the Numbers / Berdasarkan Angka
Community Water and Sanitation / Air dan Sanitasi Masyarakat
14,000
Individuals benefit from their improved water supply systems. /
Jumlah orang yang menerima sistem penyaluran air yang lebih baik
1,412
Septic systems constructed or improved to national environmental health standards. /
Sistem septic yang telah dibangun atau diperbaiki untuk memenuhi standar kesehatan lingkungan nasional
7,000
Individuals reached with hygiene promotions towards healthier communities. /
Jumlah orang yang tercakup dalam promosi higienitas menuju masyarakat yang lebih sehat
27,490
Metres of drainage under construction. /
Panjang drainase yang dalam proses pembangunan
30
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Livelihood Support Progamme/
Program Dukungan Mata Pencaharian
Going Organic Proves Succesful/
Keberhasilan Bertanam Secara Organik
At a recent “Aceh Go Organic” exhibition
organized in Banda Aceh, IOM invited livelihoods
project beneficiaries to showcase their products.
The exhibition was opened by Vice Governor of
Aceh Province Muhamad Nazar and included
traditional dancing, discussion on organic themes
and 17 exhibition stands.
Pada sebuah pameran berjudul “Aceh Go Organic”
Information was shared on a wide range of
related topics, including permaculture, soil
rehabilitation, organic farming and solid and
liquid waste management, with related products
on display and for sale. Products available at
the IOM-supported stand included organic
tomatoes and organic rice from Bireuen, and
Eceng Gondok handicraft from Aceh Utara –
all supported through a livelihoods project
funded by AmeriCares. Liquid pesticide and newlydesigned, smaller bags of organic fertilizer produced
by women’s cooperatives supported by IOM, with
funding from USAID, were also available.
Banyak informasi
The organic tomatoes were freshly picked by
a farmer and proved popular with the crowd,
their taste being superior and sweeter to
chemically-grown varieties. The organic rice
was also a hit, with many interested in learning
more about rice intensification farming and use
of organic fertilizer and pesticides.
Tomat-tomat organik segar yang dipetik oleh para
However, the most popular products were the
pillows made from Eceng Gondok – they sold
out on the first day of the exhibition. Demand
for
organic
and
environmentally-friendly
products is clearly growing in Aceh, with
positive repercussions for beneficiaries growing
and producing these goods.
Namun demikian, produk yang paling populer adalah
yang diadakan di Banda Aceh, IOM mengundang para
penerima bantuan proyek mata pencaharian untuk
menampilkan produk-produk mereka. Pameran tersebut
dibuka oleh Wakil Gubernur Propinsi Aceh Muhamad
Nazar dan menampilkan tarian tradisional, diskusi
dengan tema organik dan 17 bilik pameran.
dari berbagai topik terkait dibagi,
termasuk permaculture, rehabilitasi tanah, bertani secara
organik, serta penanganan limbah padat dan cair, dan
penyajian serta penjualan produk yang terkait. Produk
yang tersedia di bilik-bilik yang mendapat bantuan
dari IOM meliputi tomat organik dan beras organik
dari Bireuen, dan barang kerajinan Eceng Gondok
dari Aceh Utara – yang kesemuanya merupakan hasil
bantuan proyek mata pencaharian yang diberikan oleh
AmeriCares. Pestisida cair dan pupuk organik baru yang
dikemas dalam kantong-kantong kecil yang diproduksi
oleh koperasi wanita dengan bantuan dari IOM, melalui
pendanaan dari USAID, juga tersedia.
petani sangat digemari pengunjung, karena rasanya
yang lebih segar dan manis dibanding dengan tomat
yang ditanam mengunakan bahan kimia. Beras organik
juga sangat populer, mendorong para pengunjung untuk
belajar mengenai intensifikasi sawah dan penggunaan
pupuk dan pestisida organik.
bantal yang dibuat dengan eceng gondok – seluruh
produk tersebut habis terjual pada hari pertama eksibisi.
Permintaan akan produk organik dan ramah lingkungan
jelas tumbuh pesat di Aceh, dengan dampak positif
terhadap para penerima bantuan yang menanam dan
memproduksi barang-barang tersebut.
The organic
tomatoes were
freshly picked by
a farmer and
proved popular
with the crowd,
their taste being
superior and
sweeter to
chemicallygrown varieties.
/
Tomat-tomat organik
segar yang dipetik
oleh para petani
sangat digemari
pengunjung, karena
rasanya yang lebih
segar dan manis
dibanding dengan
tomat yang ditanam
mengunakan bahan
kimia.
31
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1, 2 & 3. Aceh
1
GO organic
exhibition,
14-15 March 2008.
/
Pameran Aceh GO
organic, 14-15
Maret 2008.
4. The organic
tomatoes were
sought after
during the
exhibition.
/
Tomat organik
banyak dicari
selama pameran.
© IOM Indonesia 2008
2
© IOM Indonesia 2008
3
© IOM Indonesia 2008
4
© IOM Indonesia 2008
32
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
IOM Aceh Livelihoods Programming
Program Mata Pencaharian Aceh IOM
Supporting the Government with
Comprehensive Approaches and
DirectAssistance
that
Benefits
Communities
Mendukung Pemerintah Melalui Pendekatanpendekatan Menyeluruh dan Bantuan Langsung
yang Membawa Manfaat bagi Masyarakat
IOM has significant experience in promoting
sustainable livelihoods in conflict and disasteraffected regions worldwide. In Aceh, IOM was one
of the few agencies present in the province prior
to the tsunami, working with local authorities to
identify and later address the humanitarian gaps
of those displaced by conflict. Since the tsunami,
IOM has developed and implemented a range of
livelihood support projects to provide immediate
and long-term support to those affected by both
the conflict and natural disaster.
memajukan mata pencaharian secara berkelanjutan di
IOM memiliki pengalaman yang mengesankan dalam
daerah yang terkena dampak konflik dan bencana di seluruh
dunia. Di Aceh, IOM merupakan salah satu dari sedikit
badan yang telah di propinsi tersebut sebelum terjadinya
tsunami, bekerjasama dengan pemerintah setempat dalam
mengidentifikasi dan kemudian menanggulangi kebutuhankebutuhan bantuan kemanusiaan penduduk yang harus
mengungsi akibat konflik. Sejak terjadinya tsunami, IOM
telah mengembangkan dan menerapkan serangkaian
proyek bantuan mata pencaharian guna menyediakan
bantuan secara langsung maupun jangka panjang bagi
mereka yang dirugikan oleh konflik maupun bencana lama.
Access to Micro-Finance for Women
The project to assess the needs of those
displaced by conflict was initiated in 2004, with
funding from USAID, and rapidly evolved in
response to the tsunami. It later returned to
the findings of the original assessment, which
recognized that the destruction of livelihoods,
and women’s changing roles therein, were
a priority. IOM noted that women in Aceh
often lacked access to information and capital,
restricting their capacity to establish and expand
their enterprises and support their families.
Akses bagi Pembiayaan Mikro bagi Wanita
Proyek yang meneliti kebutuhan warga yang mengungsi
akibat konflik diluncurkan pada 2004, dengan pendanaan
dari USAID, dan berkembang secara pesat terutama setelah
bencana tsunami. Proyek ini kemudian kembali memberikan
perhatian atas temuan-temuan penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya, dengan menyadari bahwa hancurnya
bentuk-bentuk mata pencaharian, serta peran wanita yang
mengalami perubahan, merupakan sebuah prioritas. IOM
melihat perempuan di Aceh seringkali kurang mendapat
akses terhadap informasi dan modal, yang membatasi
kemampuan mereka dalam menciptakan dan memperluas
IOM has since supported 19 communities to
establish female-managed savings and loan
cooperatives, located in 14 districts of the province,
with membership currently numbering 3,8381
women. IOM has adapted a model developed by
a successful East Javanese women’s secondary
cooperative whose approach is focused on the
empowerment of women.
usaha mereka dan membantu keluarga mereka.
IOM sejak itu telah membantu 19 kelompok masyarakat
untuk mendirikan koperasi wanita simpan pinjam, di 14
kabupaten dalam propinsi tersebut, dimana keanggotaan
koperasi saat ini telah mencapai 3.8381 wanita. IOM telah
mengadaptasi sebuah model yang dikembangkan oleh
sebuah koperasi Jawa Timur yang pendekatannya berfokus
pada pemberdayaan wanita.
The cooperatives enable increased and sustained
access for women from low-income rural
households to financial services, including access
to loans to establish or expand businesses, as
well as savings services, thereby contributing to
the reduction of poverty and increasing income
levels at the household level.
Koperasi tersebut memungkinkan terjadinya peningkatan
dan kesinambungan akses terhadap layanan-layanan
keuangan, termasuk akses terhadap pinjaman dalam rangka
memperluas usaha, disamping layanan-layanan tabungan
bagi perempuan yang berasal dari keluarga pedesaan dengan
penghasilan rendah, dengan demikian memberi kontribusi
terhadap pengurangan kemiskinan dan peningkatan tingkat
IOM, together with its partners, has provided
the cooperatives with initial start-up capital and
continues to provide technical support through
1
As of June 2008 / Pada bulan Juni 2008
pendapatan di tataran rumah tangga.
IOM bersama dengan para mitranya, telah menyuntik
The cooperatives
enable increased
and sustained
access for
women
from lowincome rural
households
to financial
services.
/
Koperasi tersebut
memungkinkan
terjadinya
peningkatan dan
kesinambungan akses
terhadap layananlayanan keuangan.
33
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
a series of training activities, monitoring and
mentoring. The Aceh Reconstruction and
Rehabilitation Agency (BRR) and the Department
of Cooperatives have also directly provided
loan capital to several cooperatives, with the
latter also playing a role in monitoring and
supporting cooperative development. As of
June 2008, over IDR10,000,000,000 (over one
million US dollars) had been issued in just over
7,000 loans.
modal awal ke dalam koperasi-koperasi tersebut dan terus
memberikan bantuan teknis melalui serangkaian kegiatan
pelatihan, monitoring dan mentoring. Badan Rehabilitasi
dan Rekonstruksi Aceh (BRR) serta Departemen Koperasi juga
telah memberikan bantuan modal secara langsung kepada
beberapa koperasi, dimana mereka juga memainkan peran
dalam monitoring dan membantu pengembangan koperasi.
Pada bulan Juni 2008, lebih dari Rp10.000.000.000 (lebih dari
satu juga dollar AS) telah diberikan melalui 7.000 pinjaman.
Pada bulan Juni 2008, koperasi wanita (kopwan) yang
In June 2008, the first legally registered secondary
women’s cooperative in Aceh officially opened
its doors to women and the wider public. The
secondary cooperative, named Puskopwan Atjeh,
was established with IOM support by five of the
primary women’s cooperatives, and provides
a range of services for its members such as
capacity building and technical support, acting
as a liaison in the provincial capital, and
networking with potential funding sources to
enhance access to loans for women in Aceh.
IOM continues to provide a range of support
services to Puskopwan Atjeh, which currently has
3,838 primary women’s cooperative members.
pertama terdaftar secara sah di Aceh membuka usahanya
kepada wanita dan masyarakat secara luas. Koperasi
sekunder tersebut, yang dinamakan Puskopwan Atjeh,
didirikan dengan bantuan IOM oleh lima kopwan primer,
dan memberikan serangkaian layanan kepada para
anggotanya seperti pengembangan kapasitas dan bantuan
teknis, bertindak sebagai penghubung di ibukota propinsi,
serta jaringan kerja dengan sumber pendanaan potensial
guna meningkatkan akses terhadap pinjaman bagi wanita
di Aceh. IOM terus bekerja untuk memberikan serangkaian
layanan bantuan kepada Puskopwan Atjeh, yang saat ini
memiliki 3.838 anggota wanita.
Bantuan Tsunami
Dengan pendanaan dari AmeriCares, IOM menyelesaikan
Tsunami Response
With funding from AmeriCares, IOM completed a
two-year project in spring 2008, which provided
business and skill training, livelihoods material
inputs and construction of complementary smallscale infrastructure to 3,350 direct beneficiaries,
with an additional estimated 10,000 indirect
beneficiaries, in tsunami-affected communities
along the east coast of Aceh.
sebuah proyek berdurasi dua tahun pada musim semi 2008,
yang menyediakan pelatihan usaha dan keterampilan, materi
mata pencaharian, serta konstruksi infrastruktur pelengkap
berskala kecil kepada 3.350 penerima bantuan, dengan
sekitar 10.000 penerima manfaat secara tidak langsung, di
masyarakat-masyarakat korban tsunami di pantai timur Aceh.
Masyarakatyangmenjaditargetbantuaniniadalahmasyarakat
dimana tempat tinggalnya dibangun oleh IOM. Sejalan
dengan sektor pekerjaan utama di Aceh, 80% dari pihak
Target communities were those in which IOM
constructed homes. In line with the major
employment sectors in Aceh, 80% of those
assisted were engaged in either agriculture or
fisheries. However, support was also provided
to those active in home industries, waste
management, trade and services, demonstrating
the diversity of sectors that were supported
by the project, and a reflection of the urban
and rural environments in which the project
operated.
yang menerima bantuan berusaha di bidang pertanian atau
perikanan. Namun, dukungan juga diberikan bagi mereka
yang aktif dalam industri rumah, penanganan limbah,
dagang dan jasa, yang menunjukkan keanekaragaman
sektor dalam proyek ini, serta pencerminan lingkungan
perkotaan dan pedesaan dimana proyek tersebut
berlangsung.
Bahan
mata
gamblang
yang
bahwa,
diberikan
secara
bantuan-bantuan
pertanian yang signifikan, seperti bibit dan peralatan,
mengacu
The livelihoods material distributed also reflect
this breakdown, with significant agricultural
inputs, such as seeds and tools, and a strong
pencaharian
menjelaskan
pada
pendekatan-pendekatan
organik.
Perhatian khusus diletakkan pada pengenalan teknikteknik intensifikasi sawah, dimana lebih dari 900 petani
padi telah menerima pelatihan dan sebagian besar
34
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
emphasis on organic approaches. Particular
emphasis was placed on the introduction of Rice
Intensification Farming techniques, with over
900 rice farmers trained in this approach, and
the majority utilizing organic fertilizer and noting
higher yields.
menggunakan pupuk organik dan telah menghasilkan
panen yang lebih tinggi.
Mata Pencaharian Membantu Program
Psikososial
Dengan pendanaan dari Bank Dunia, IOM saat ini
menguji hipotesa bahwa program mata pencaharian
Livelihoods to Support Psychosocial
Programming
dan kesehatan mental memiliki efek interaktif yang besar
With funding from the World Bank, IOM is currently
testing the hypothesis that livelihood and mental
health programming have powerful interactive
effects on each other, particularly in post-conflict
settings.
konflik.
satu sama lainnya, khususnya dalam lingkungan pasca-
Tingkat depresi, gangguan stress pasca-trauma (posttraumatic stress disorder), cidera di kepala serta psikosis
akut seringkali cukup tinggi di antara penduduk yang
telah mengalami kekerasan traumatis tingkat tinggi,
Levels of depression, post-traumatic stress disorder,
traumatic head injuries and acute psychoses are
often quite high in populations that have suffered
high levels of traumatic violence, thus it is plausible
that providing livelihood support and training to
mentally ill individuals will increase the effectiveness
of mental health interventions.
sehingga sangat dimungkinkan bahwa penyediaan
bantuan mata pencaharian dan pelatihan kepada para
individu yang mengalami gangguan kejiwaan akan
meningkatkan efektifitas intervensi kesehatan mental.
Memberikan akses terhadap pekerjaan merupakan
intervensi
psikososial
yang
paling
besar
dimana
tersedianya struktur kegiatan, meningkatnya motivasi
Providing access to work can be among the most
powerful psychosocial interventions, providing daily
structure, increasing motivation and feelings of selfworth, reintroducing individuals to social life, and
reducing stigma associated with mental illness.
dan perasaan harga diri, mengembalikan para individu
ke kehidupan sosial, dan menekan stigma yang
diasosiasikan dengan gangguan jiwa.
Bekerjasama dengan Harvard Medical School, unit
mata pencaharian IOM melakukan upaya bersama unit
In collaboration with the Harvard Medical School,
IOM’s livelihoods unit is working with IOM’s
health unit, adding a livelihood development
component to an existing IOM mental health
treatment programme.
kesehatan IOM, yang menghasilkan sebuah komponen
pengembangan mata pencaharian terhadap program
penanganan kesehatan jiwa yang sudah dilakukan oleh
IOM.
Unit kesehatan IOM saat ini menangani 1.000 pasien di
IOM’s health unit is working with 1,000 patients
in villages in Bireuen and Aceh Utara districts,
providing direct assistance as well as building the
capacity of local health services and strengthening
the relationship between government services
and local communities, to continue interventions
as the project develops.
beberapa desa di Bireuen dan Aceh Utara, memberikan
bantuan
langsung
disamping
mengembangkan
kapasitas layanan kesehatan setempat dan memperkuat
hubungan antara layanan pemerintah dan masyarakat
setempat, dalam rangka melanjutkan intervensi dengan
berkembangnya proyek tersebut.
Unit mata pencaharian IOM memberikan bantuan bagi
IOM’s livelihoods unit is working with 200 of these
patients, most of whom live in impoverished
communities and earn less than US$100 per
month, helping them to identify livelihoods
opportunities. The project will provide relevant
business and/or skills training as well as material
inputs to help patients develop or expand
businesses.
200 dari jumlah keseluruhan pasien tersebut dengan
mengidentifikasi peluang-peluang mata pencaharian
karena sebagian besar dari mereka hidup di lingkungan
miskin dan berpenghasilan kurang dari AS$100 per bulan.
Proyek tersebut akan menyediakan pelatihan usaha
dan/atau keterampilan, disamping masukan-masukan
material guna membantu pasien mengembangkan atau
memperluas usaha mereka.
Providing access
to work can
be among the
most powerful
psychosocial
interventions...
/
Memberikan akses
terhadap pekerjaan
merupakan intervensi
psikososial...
35
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
IOM Restores Micro- and Small
Businesses
in
EarthquakeAffected Yogyakarta and
Central Java
IOM Membantu Pemulihan Perekonomian
Masyarakat Korban Gempa di Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta dan
Jawa Tengah
Java Reconstruction Fund
‘Java Reconstruction Fund’
As part of the its ongoing assistance to the
recovery of livelihoods and business in earthquakeaffected Yogyakarta and Central Java, IOM
launched a project financed by the Java
Reconstruction Fund (JRF) aimed at assisting the
restoration of 3,000 micro- and small enterprises
(“MSE”) in the region.
Sebagai bagian dari dukungan IOM atas pemulihan
The project aims to enable affected businesses
to regain their operating capacity by enhancing
access to finance and providing technical
assistance. It consists of four main components:
asset replacement; access to finance; assistance
for market access; technical assistance.
Tujuan dari program ini adalah membuat usaha yang
matapencaharian dan bisnis di daerah yang terkena
dampak gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, IOM
baru saja memulai sebuah program yang didanai oleh
‘Java Reconstruction Fund’ (JRF). Program ini dibentuk
untuk mendampingi pemulihan 3.000 usaha mikro dan
kecil di wilayah tersebut.
terkena dampak gempa untuk meraih kembali kapasitas
operasional mereka dengan menyediakan akses terhadap
keuangan
dan
penyediaan
pendampingan
teknis.
Program ini terdiri dari empat komponen pendampingan
utama: Penggantian Aset; Akses terhadap keuangan;
Pendampingan terhadap Akses Pasar; Pendampingan
Its objectives are to:
• Kick-start MSEs by restoring basic production
facilities, replacing livelihood equipment and
rebuilding damaged community infrastructure.
• Assist MSEs in accessing finance for fixed and
working capital investments.
• Strengthen
financial
management
and
entrepreneurship skills of MSEs in order to
facilitate a long-term recovery that takes into
account pre-earthquake capacity deficits.
• Assist MSEs to recover lost buyers and restore
markets through a series of market promotion
initiatives.
Teknis.
Program ini bertujuan untuk :
• Pendampingan terhadap usaha mikro dan kecil dengan
memperbaiki infrastruktur desa dan fasilitas produksi
dan mengganti asset mata pencaharian;
• Mendampingi para pelaku usaha mikro dan kecil
dalam mengakses keuangan sehingga mereka dapat
memulai kembali kegiatan usaha.
• Memperkuat manajemen keuangan dan keterampilan
usaha mikro dan kecil sekaligus memfasilitasi pemulihan
jangka panjang yang tahan lama;
• Mendampingi para pelaku usaha mikro dan kecil untuk
memulihkan kembali jumlah pembeli dan mengembalikan
The 27-month project started in March 2008
under a retroactive-financing agreement and was
signed in October 2008 by IOM, the Government
of Yogyakarta Special Province and the World
Bank acting as administrator of the grant funds
under the JRF.
pasar melalui beberapa inisiatif promosi pemasaran;
Program berjangka 27 bulan yang dimulai pada Maret
2008 ini, berada di bawah persetujuan keuangan yang
retroaktif dan telah disetujui pada 7 Oktober 2008 antara
IOM, Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
dan Bank Dunia yang berperan sebagai administrator
The signature of the agreement enabled IOM
to launch community engagement activities
in selected villages across the region in order
to identify businesses in need of support and
formulate appropriate interventions.
bagi pendanaan utama yang dilakukan di bawah JRF.
Penandatanganan persetujuan ini memungkinkan IOM
untuk memulai kegiatan pendampingan masyarakat
di desa terpilih yang tersebar di area tersebut, guna
mengidentifikasi bisnis yang memerlukan bantuan dan
membuat invervensi yang sesuai.
”The aim of the IOM-JRF Livelihood Project is
aligned with the Provincial Government’s
reconstruction and development policy, which is
to assist communities and small business to
” Inti program IOM-JRF ini adalah sesuai dengan kebijakan
Pemerintah Daerah DIY, yaitu membantu masyarakat/
UKM agar mampu meningkatkan kemampuan mereka
36
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
increase their capacity to grow and generate
income,“ says Bayudono, the Head of the Office for
Settlement and Regional Infrastructure, Special
Region of Yogyakarta.
dalam berusaha, ” demikian menurut Ir. Bayudono,
M.Sc, Kepala Dinas Kantor Permukiman dan Prasarana
Wilayah (Kimpraswil) Provinsi DIY.
Merujuk pada dimulainya aktivitas pendampingan
Prior to the start of community engagement
activities in October, IOM completed an assessment
phase, which collected detailed data from all 837
villages in Yogyakarta and Central Java.
masyarakat pada Oktober, IOM telah menyelesaikan
Some 30 villages severely devastated by the
earthquake, which had received no previous
livelihood support and demonstrated high
poverty levels were assessed by IOM teams.
In coordination with local Government, 14 of
these villages were subsequently selected for
intervention. IOM will start implementing assistance
to MSEs in these villages in early 2009.
Melalui penilaian oleh tim lapangan IOM, didapatkan
tahap pertama komponen penilaian dari Program
yang mengumpulkan data lengkap atas 837 desa yang
terkena dampak gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
30 desa yang paling parah terkena dampak gempa, yang
belum menerima pendampingan ‘livelihood’ apapun
dan memperlihatkan tingkat kemiskinan yang tinggi.
Melalui
koordinasi
dengan
pemerintah,
14
desa
diantaranya terpilih menjadi sasaran pelaksanaan
/
program. IOM akan melaksanakan pendampingan
Program ini bekerja
sama dengan
mitra lokal untuk
memastikan
bahwa kegiatan ini
berkelanjutan dan
mampu memberikan
manfaat jangka
panjang untuk usaha
mikro dan kecil untuk
bangkit kembali.
kepada usaha mikro dan kecil di desa-desa tersebut
pada awal 2009.
Working with Partners to Create
Lasting Impact
The project works with local partners to ensure
that activities are carried on beyond the life of
the project and have a lasting impact on the ability
of micro- and small enterprises to recover.
Bekerjasama dengan Mitra untuk
Menciptakan Manfaat Berkelanjutan
Program ini bekerja sama dengan mitra lokal untuk
memastikan bahwa kegiatan ini
berkelanjutan dan
mampu memberikan manfaat jangka panjang untuk
usaha mikro dan kecil untuk bangkit kembali.
IOM has partnered with the Yogyakarta chapter
of the Indonesian Chamber of Commerce and
Industry (KADIN-DIY) which will help IOM to
provide capacity building and market access
for beneficiaries. Local NGOs, training providers
and research institutions will also play a key role,
assisting IOM in capacity building, market
studies and environmental impact assessments.
IOM bermitra dengan KADIN (Kamar dagang dan Industri)
cabang Yogyakarta yang akan membantu IOM dalam
menyediakan pelatihan peningkatan kapasitas dan akses
pasar bagi penerima bantuan. LSM lokal, para penyedia
pelatihan dan institusi penelitian juga memiliki peran
penting dalam pelaksanaan program dengan membantu
IOM melalui peningkatan kapasitas, analisa pasar dan
analisa dampak lingkungan
IOM has also established a partnership with the
state-owned
financial
sector
development
company PT. Permodalan Nasional Madani (PNM)
to channel loans through local participating
Micro Finance Institutions (MFIs).
Lebih lanjut, IOM telah menjalin kerja sama dengan
perusahaan pengembangan sektor keuangan milik
negara PT Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk
jalur
pinjaman
melalui
partisipasi
lokal
Institusi
Keuangan Mikro (MFI). Dana disalurkan melalui PNM
The funds channeled through PNM and MFIs will
be recycled and will continue to support
earthquake-affected businesses and other disaster
relief and preparedness activities in the region
for a period of ten years. This will build lasting
capacity in the region to deal with future disasters.
The project
works with
local partners
to ensure that
activities are
carried on
beyond the life
of the project
and have a
lasting impact
on the ability of
micro- and small
enterprises to
recover.
dan MFI yang akan terus diputar dan membantu
usaha yang terkena dampak gempa serta kegiatan
kesiapsiagaan bencana di area tersebut untuk periode
sepuluh tahun.
Dengan demikian kapasitas daerah
itu menghadapi kemungkinan bencana di masa depan
dalam jangaka waktu panjang akan terbangun.
37
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
By the Numbers / Berdasarkan Angka
Aceh / Aceh
3,687
Female members of IOM-assisted women’s cooperatives (Kopwan). /
Jumlah anggota perempuan Kopwan yang dibantu IOM
8,086
Loans issued by Kopwan. /
Jumlah pinjaman yang diberikan Kopwan
3,137
Kopwan members who are repeat borrowers. /
Jumlah anggota Kopwan yang berulang kali meminjam
1,287
Kopwan members who failed to repay their loans on time. /
Jumlah anggota Kopwan yang gagal membayar pinjaman tepat waktu
3,350
Households that have received material assistance to develop their businesses. /
Jumlah keluarga yang telah menerima bantuan material untuk membangun bisnisnya
2,670
Beneficiaries who have participated in business education training. /
Penerima bantuan yang telah berpartisipasi dalam pelatihan pendidikan bisnis
3,341
Beneficiaries who have participated in variety of skill training. /
Penerima bantuan yang telah berpartisipasi dalam beragam pelatihan keahlian
15
Government officials who received advanced training in polyculture, rice intensification or agro-enterprise. /
Pejabat pemerintah yang telah menerima pelatihan tingkat mahir dalam ‘polyculture’, intensifikasi padi atau perusahaan agro
619
Rice farmers benefiting from new pumps and irrigation system in Aceh Utara. /
Petani-petani padi yang menerima keuntungan dari pompa-pompa baru dan sistem irigasi di Aceh Utara
167
Rice farmers benefiting from new irrigation canal in Pidie. /
Petani-petani padi yang menerima keuntungan dari saluran irigasi baru di Pidie
Yogyakarta & Central Java / Yogyakarta & Jawa Tengah
3
30,000
60
(31 October 2008)
Roof tile and brick factories constructed. /
Jumlah pabrik genteng dan batu bata yang telah dibangun
Maximum number of roof tiles produced each month by each roof tile factory. /
Jumlah maksimum genteng yang diproduksi oleh pabrik genteng setiap bulan
Beneficiaries registered as members in roof tile cooperatives (for all factories). /
Jumlah penerima bantuan yang terdaftar sebagai anggota dalam tiap koperasi genteng untuk 3 pabrik
132
Micro- and small enterprises supported with capacity building, market access and productive asset replacement. /
Jumlah usaha kecil dan menengah yang mendapat bantuan pelatihan, akses pasar dan penggantian aset produktif
314
Earthquake-affected producers directly benefiting from the project. /
Jumlah perajin terkena dampak gempa yang langsung menerima manfaat dari program
2
3,933
206
Earthquake-affected business premises rebuilt. /
Jumlah usaha yang hancur akibat gempa dan telah dibangun kembali oleh IOM
Bamboo sticks distributed to assist bamboo crafters. /
Jumlah bambu yang didistribusikan untuk membantu perajin bambu
Beneficiaries trained in technical crafting skills. /
Jumlah penerima bantuan yang mendapat pelatihan teknik keterampilan kerajinan
38
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Recycling Materials for a Better Future/
Mendaur Ulang untuk Masa Depan yang Lebih Baik
“Pak Jack”, that is how he is known to his
neighbours in Punge Blang Cut, in Aceh Besar.
The 42 year old has been in the waste collecting
business for a long time, regularly collecting waste
in his village and earning a steady income.
Although his occupation may be embarrassing
for some, Pak Jack doesn’t feel that way. “I will do
any job as long as long as it is legal under
Islamic law,” he says.
“Pak Jack”, sebagaimana dirinya dikenal oleh tetangganya
di Punge Blang Cut, di Aceh Besar. Pria berusia 42 tahun
ini telah menggeluti pekerjaan memungut barang bekas
sejak lama, secara teratur mengumpulkan barang
di
desanya dan memperoleh penghasilan yang stabil.
Walau pekerjaan ini mungkin memalukan bagi beberapa
orang, Pak Jack tidak merasa demikian. “Saya mau
mengerjakan pekerjaan apa saja asal halal,” katanya.
Ketika tsunami terjadi, ia kehilangan 12 ton barang
During the Tsunami though, he lost 12 tons
of painstakingly collected waste material and
IDR180,000,000 worth of equipment – some
purchased with loans from friends.
bekas yang telah dikumpulkannya dengan susah
payah dan peralatan senilai Rp.180.000.000 – beberapa
dibelinya dengan pinjaman dari teman.
“Saya hampir menjadi gila,” ingatnya. “Anak saya yang
“I almost went mad,” he remembers. “My 18month-old son was taken by the Tsunami; four
hours later I found the body.”
berusia 18 bulan hilang ditelan tsunami; empat jam
kemudian saya menemukan jenazahnya.”
Untungnya, isteri dan dua anaknya yang lain selamat
Fortunately, his wife and two other children
survived because they were not in the house.
But most of his relatives, including in-laws,
mother and sister, were taken by sea and their
bodies never found.
karena sedang tidak berada di rumah. Namun banyak
anggota keluarganya, termasuk mertua, ibu dan kakak
perempuannya hanyut oleh ombak dan jenazah mereka
tidak pernah ditemukan.
Setelah musibah tersebut Pak Jack, beserta anggota
Pak Jack, along with the rest of his family and
neighbours, evacuated to Lambaro and lived in
tents after the disaster. Here he met his cousin
and together they started collecting the debris
from the Tsunami. When he heard that IOM
were building houses for Tsunami survivors,
Pak Jack registered. “Alhamdulliah, I finally
keluarga lainnya dan tetangganya, mengungsi ke
Lambaro dan hidup di bawah tenda. Di sini ia bertemu
dengan sepupunya dan bersama-sama mereka mulai
mengumpulkan puing yang ditinggalkan tsunami.
Kami mendengar IOM membangun rumah bagi korban
tsunami, Pak Jack mendaftarkan diri. “Alhamdulillah saya
akhirnya menerima rumah di desa Tingkeum, Aceh Besar.”
During the Tsunami though, he lost
12 tons of painstakingly collected waste
material and IDR180,000,000 worth of
equipment – some purchased with loans
from friends.
/
Ketika tsunami terjadi, ia kehilangan 12 ton
barang bekas yang telah dikumpulkannya
dengan susah payah dan peralatan senilai
Rp.180.000.000– beberapa dibelinya dengan
pinjaman= dari teman.
© IOM Indonesia 2008
39
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
received a house in Tingkeum village, Aceh
Besar”.
Pak Jack dan sepupunya meminta peralatan dari IOM
untuk
mendukung
usaha baru
mereka
termasuk
timbangan dan alat-alat pemotong sehingga barang-
Pak Jack and his cousin requested equipment
from IOM to support their new business, including
scales and cutting tools so that the waste could be
cut and packed before delivery to an agent. With
a loan and available tools, they restarted the
business.
barang bekas dapat dipotong dan dikemas sebelum
dikirim ke seorang agen. Dengan pinjaman dan peralatan
yang ada, mereka memulai kembali usahanya
Apakah dukungan mata pencaharian telah membantu?
“Tentu saja!”, kata Pak Jack. “Pendapatan saya sekarang
bagus.”
Did the livelihoods support help you? “Of course
it did!” says Pak Jack. “My income now is
good.”
“Sebelum saya memiliki alat-alat potong, saya harus
menyewa peralatan dengan biaya Rp. 150.000 per hari,
jadi sedikit keuntungan bagi saya. Dan timbangan
“Before I had the cutting tools, I had to rent the
equipment for IDR150,000 for one day, so there
was little left for me. And the small scales I had
could only load a few items.
saya yang kecil hanya memungkinkan saya untuk
menimbang sedikit barang.”
“Dengan peralatan baru, kami tidak perlu menyewa
apa-apa. Bahkan, saat ini kamilah yang menyewakan
“With the new tools we do not have to rent
anything. Actually, we are now the ones renting
tools to others. We also work more efficiently with
the bigger scales so we not only save money but
also make more money from renting the
equipment.”
peralatan kepada orang lain. Kami juga bekerja secara
lebih efisien dengan timbangan yang lebih besar ini,
sehingga kami tidak hanya menghemat uang, tapi
juga
menghasilkan
uang
dengan
menyewakan
peralatan.”
Selain itu, Pak Jack membeli besi bekas dengan
Among others, Pak Jack buys metal for Rp1,800
per kilogram and, after cutting it into smaller
pieces, sells it on for IDR2,000 per kilogram. In one
day, Pak Jack can collect 300 to 400 kilograms of
waste and make a profit of between IDR100,000
and 200,000 per day.
harga Rp.1.800 per kilogram dan, setelah memotongmotongnya menjadi bagian-bagian kecil, menjualnya
seharga Rp.2.000 per kilogram. Pada satu hari Pak
Jack dapat mengumpulkan 300 hingga 400 kilogram
barang bekas dan mendapatkan keuntungan antara
Rp.100.000 and Rp.200.000 per hari.
“With the new tools we do not have to rent
anything. Actually, we are now the ones
renting tools to others.”
/
“Dengan peralatan baru, kami tidak perlu
menyewa apa-apa. Bahkan, saat ini kamilah
yang menyewakan peralatan kepada orang
lain. “
© IOM Indonesia 2008
40
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
A New Income from Salted Eggs/
Penghasilan Baru dari Telur Asin
Ibu Anisyah received livelihood support from
IOM to start a business producing salted duck
eggs from her home in Kampong Baro, in Bireuen.
She previously worked as a labourer in the rice
fields, with daily wages of only IDR10,000 per
day – sufficient to cover only the most basic
expenses. To supplement this income, she wove
pandanus leaf mats which she sold at the local
market.
Ibu Anisyah menerima bantuan mata pencaharian dari
IOM untuk memulai usaha memproduksi telur bebek
asin di tempat tinggalnya di Kampong Baro, Bireuen.
Sebelumnya ia bekerja sebagai buruh sawah, dengan
gaji sebesar Rp.10.000 per hari – hanya cukup untuk
menutup kebutuhan hidup dasar. Untuk menambah
penghasilan, ia merajut tikar pandan yang dijualnya di
pasar setempat.
Namun dengan bertambahnya usia, ia tidak mampu
However, as she grows older she is less able to
work in the field, so she sought an alternative
livelihood to support herself and her mother, who
is often ill and needs constant care.
lagi bekerja di sawah, sehingga ia mencari sumber
After she received 1,500 eggs from IOM, along
with the buckets and other necessary materials,
she started her salted egg business. After a
short time she earned a reputation within the
community and was soon producing salted eggs
in batches of 600 or 800, which she sells either
from her home or at the market.
Setelah menerima 1.500 butir telur dari IOM, beserta
penghasilan tambahan untuk menopang hidup diri
dan ibunya, yang sering jatuh sakit dan membutuhkan
perawatan.
ember
dan
bahan-bahan
kebutuhan
lainnya,
ia
memulai usaha telur asinnya. Dalam waktu singkat,
ia menjadi terkenal di masyarakat setempat dan tidak
lama
kemudian
mampu
memproduksi
telur
asin
sebanyak 600 atau 800 dalam sekali waktu, yang ia
jualnya di rumah atau di pasar.
Anisyah started her salted egg business
after receiving 1,500 eggs from IOM along
with the buckets and other necessary
materials.
/
Anisyah memulai bisnis telur asinnya setelah
menerima bantuan dari IOM sebanyak 1.500
butir telur dengan keranjang dan bahanbahan pendukunglainnya
© IOM Indonesia 2008
41
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
As she is illiterate, she asks her buyers to write
down the number of eggs they buy and the
money they pay. It is a system based on trust and
although some people have been dishonest, these
are very few. Ibu Anisyah uses this record as her
own book-keeping. Profit margins are tight, with
Ibu Anisyah earning only IDR100 per egg sold,
although she always sells out. She continues to
supplement her income with mat weaving, making
one high-quality mat every one or two months.
Karena dirinya buta huruf, ia meminta pembeli untuk
In early 2008, she asked IOM for a pushcart to help
her deliver her eggs to the market. Recognizing
the lack of transportation as a hindrance and
willing to support her dedication, IOM provided
the cart she requested.
Pada awal 2008, ia meminta IOM sebuah kereta dorong
Ibu Anisyah continues to work hard and, with
the income she earns, she can now pay for the
medical care her mother needs. She has even
earned enough to start saving some money.
“I have my own bank account now,” she grins.
Ibu
menulis banyaknya telur yang mereka beli dan uang
yang mereka bayar. Sistem ini didasarkan pada kejujuran,
dan walau beberapa orang telah tidak jujur, namun hal
tersebut sangat jarang terjadi. Ibu Anisyah menggunakan
catatan tersebut sebagai pembukuannya. Laba yang
diperoleh sangat tipis, dengan Rp.100 untuk setiap telur
yang dijual, walau mereka selalu habis terjual. Ia terus
menambah penghasilan dengan merajut tikar, dengan
memproduksi satu tikar setiap satu atau dua bulan.
untuk membantunya membawa telur asin ke pasar.
Dengan menyadari kekurangan transportasi sebagai
hambatan
dan
dengan
niat
untuk
mendukung
dedikasinya, IOM menyediakan kereta yang dimintanya.
Anisyah
pendapatannya,
terus
ia
bekerja
keras
sekarang
dan,
dapat
dengan
membiayai
pengobatan yang dibutuhkan ibunya. Ia bahkan telah
dapat menabung. “Saya sekarang sudah punya tabungan
di bank,” katanya dengan senyum.
Ibu Anisyah
making salty eggs.
/
Ibu Anisyah
membuat telur asin.
© IOM Indonesia 2008
42
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Women Leading the Way in Rebuilding Livelihoods/
Wanita Memimpin Pembangunan Mata Pencaharian
Ibu Cekwan was one of the first members of
Kopwan Putro Ijo. Like so many others, she lost
her home in the Tsunami but feels lucky that she
and her husband survived the devastation. Soon
after the disaster, she found a temporary home
in a government-constructed barracks, located
just outside of Meulaboh, where she continues to
live while her new home is being built.
Ibu Cekwan adalah salah satu anggota Kopwan Putro
Within a year of the Tsunami, a group of women
established a women’s cooperative with support
from IOM. Ibu Cekwan recalls that some of the
men complained, asking why the Kopwan was
only for women when the men were the heads
of the household. But these complaints were
soon quelled as more and more women joined
the Kopwan and loans were issued.
Dalam waktu satu tahun setelah tsunami, sekumpulan
Ibu Cekwan herself obtained a loan, borrowing
IDR 2,000,000 which she used to expand the
door-to-door clothes-selling business which she
operated from her small barracks room. Business
was good as her clients liked the possibility
of buying clothes in their own homes and
repaying their credit over time.
Ibu Cekwan sendiri telah mendapatkan pinjaman
Ijo. Seperti penduduk lainnya, ia kehilangan rumahnya
saat tsunami, namun merasa beruntung bahwa diri dan
suaminya selamat dari malapetaka. Tidak lama setelah
musibah tersebut untuk sementara waktu, ia tinggal
dalam barak yang didirikan pemerintah di luar Meulaboh,
dimana ia hidup sembari menunggu rumah barunya
dibangun.
wanita mendirikan sebuah koperasi wanita dengan
bantuan dari IOM. Ibu Cekwan bercerita bahwa beberapa
pria mengeluh, mengapa Kopwan hanya untuk wanita
sedangkan kepala rumah tangga adalah para pria.
Namun keluhan-keluhan tersebut tidak lama disuarakan
dengan semakin banyaknya wanita yang menjadi
anggota dan pinjaman diberikan.
sebesar Rp 2.000.000, yang telah digunakannya untuk
memperbesar usaha penjualan baju keliling yang
dimulainya
berkembang
dari
dalam
karena
kamar
para
barak.
pelanggannya
Usahanya
senang
mendapatkan kesempatan untuk membeli baju di dalam
rumah mereka dan membayarnya dengan mencicil.
NOT YET
Ibu Cek Wan with the clothes for sale.
/
Ibu Cek Wan dengan baju-baju
dagangannya.
© IOM Indonesia 2008
43
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
A university graduate in economics, Ibu Cekwan
was elected treasurer of the Kopwan, although
she still needs to meet with her group and gain
their approval before she can apply for each
loan.
Dengan menyandang gelar sarjana ekonomi, Ibu Cekwan
diangkat sebagai bendahara Kopwan, walau dirinya tetap
harus bertemu dengan para anggota dan mendapatkan
persetujuan mereka sebelum bisa mendapatkan pinjaman.
Ibu Cekwan dengan tekun memelihara catatan keuangan
Ibu Cekwan diligently keeps the group’s financial
records, which allows her to monitor profits and
plan purchases and loan repayments. Since
her initial loan she has taken two more, which
she used to further invest in her own business –
such as the recent purchase of a motorcycle to
expand and expedite her deliveries to a wider
area.
kelompok, yang memungkinkannya untuk memantau
Her husband has been supportive throughout.
He initially suggested that she open a clothing
shop in the market but Ibu Cekwan analyzed the
options and decided that door-to-door sales
were much more profitable.
Suaminya sangat mendukung usahanya. Ia telah
“The Kopwan enables women to show that they
can contribute too and are not just waiting for
the men to earn an income,” Ibu Cekwan says
proudly.
“Kopwan memungkinkan wanita untuk menunjukkan
laba dan merencanakan pembelian dan pelunasan
pinjaman. Sejak pinjaman pertama yang diambilnya,
Ibu Cekwan telah melakukan dua pinjaman lagi, yang ia
gunakan untuk berinvestasi dalam usahanya – seperti
untuk pembelian sebuah sepeda motor untuk memperluas
dan mempercepat pengiriman barang ke tempat-tempat
yang lebih jauh.
menyarankan agar Ibu Cekwan membuka sebuah toko
baju di pasar, namun setelah menimbang peluang
tersebut Ibu Cekwan memutuskan bahwa penjualan
secara keliling lebih menguntungkan.
bahwa mereka juga dapat mendatangkan penghasilan
dan tidak hanya menunggu pria untuk mendapatkan
penghasilan,” kata Ibu Cekwan dengan bangga.
Cek Wan member of
‘kopwan Putro Ijo’.
/
Cek Wan anggota
kopwan Putro Ijo.
© IOM Indonesia 2008
44
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Making a Living out of Reconstruction /
Mendapat Nafkah dari Rekonstruksi
Since Ibu Surajinah became a widow, she has
lived and worked in Bantul to earn enough money
to feed, clothe and shelter the three members
of her family.
Sejak Ibu Surajinah menjadi seorang janda, ia bekerja
Prior to the earthquake in Yogyakarta on May 27,
2006, like many others in her community, she made
about 150 traditional foot press tiles a day. This
generated a meager and unpredictable income to
support her family.
Sebelum terjadinya gempa di Yogyakarta pada tanggal
When the earthquake severely damaged the
firing kilns used to produce the tiles, she and her
neighbours lost most of their income and the
equipment they needed to continue small-scale
tile production.
Ketika gempa bumi mengakibatkan kerusakan berat pada
di Bantul untuk mencari pendapatan untuk memberi
makan, membeli pakaian dan menyediakan atap bagi
tiga anggota keluarganya.
27 Mei 2006, seperti banyak orang lainnya di desanya, ia
memproduksi sekitar 150 genteng “kripik” tradisional per
hari. Kegiatan ini mendatangkan pendapatan kecil dan
tidak menentu untuk menopang kehidupan keluarganya.
tungku yang digunakan untuk menghasilkan genteng
tersebut, ia dan para tetangganya kehilangan sebagian
besar pendapatan mereka dan peralatan yang mereka
butuhkan untuk meneruskan produksi genteng berskala
kecilnya.
A year after the earthquake, IOM conducted
a survey of Gunturgeni sub village, Poncosari
village and Srandakan sub-district, Bantul. The
traditional tile-producing area had received no
post-earthquake assistance to restart
tile
production.
Setahun
setelah
gempa,
IOM
menyelenggarakan
sebuah survei di dusun Gunturgeni, desa Poncosari dan
kecamatan Srandakan, Bantul. Daerah yang memproduksi
ubin secara tradisional tersebut tidak menerima bantuan
pasca-gempa untuk memulai kembali produksi ubin
mereka.
IOM then decided to implement a livelihood
support programme using funding from the
Yogyakarta – Central Assistance Program (YCAP),
an initiative under the Australian-Indonesian
Partnership.
IOM
kemudian
memutuskan
untuk
melaksanakan
sebuah program bantuan mata pencaharian dengan
pendanaan dari Yogyakarta – Central Assistance
Program (YCAP), sebuah inisiatif di bawah Kemitraan
Australia-Indonesia.
It built the Super WPG Roof Tile Factory – a
cooperative project designed to train Ibu
Surajinah and her neighbours in Gunturgeni in
modern tile production and raise their living
standards.
Program tersebut mendirikan Pabrik Genteng Press Super
WPG – sebuah proyek koperasi yang dirancang untuk
melatih Ibu Surajinah dan tetangga-tetangganya di
Gunturgeni memproduksi genteng secara modern dan
“I have been waiting for such
assistance.... Now I can earn
more,” Ibu Surajinah says
happily at her workplace, a roof
tile factory which IOM built in
Gunturgeni.
/
“Saya telah menantikan bantuan
seperti ini... Kini saya pendapatan
saya meningkat,” ujar Ibu
Surajinah penuh gembira di
tempat kerjanya, sebuah pabrik
genteng yang dibangun IOM di
Gunturgeni.
© IOM Indonesia 2008
45
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
As an active as a member of the Gunturgeni roof
tile cooperative, Ibu Surajinah has now returned
to work from 8.00 am to 4.00 pm and has a
steady income to support her family.
meningkatkan taraf hidup mereka.
Sebagai anggota aktif koperasi genteng Gunturgeni,
Ibu Surajinah dapat kembali bekerja dari jam 8 pagi
sampai jam 4 sore dan memiliki penghasilan tetap untuk
Through the project, three roof tile manufacturing
facilities were constructed in order to centralize
previously home-based production and create
economies of scale to improve profit margins.
Sixty producers, half of them women, were
organized into cooperatives to own and operate
the factories independently.
menghidupi keluarganya.
Melalui proyek ini, tiga fasilitas pembuatan genteng
dibangun guna memusatkan produksi yang sebelumnya
merupakan industri rumah, dan menciptakan ekonomi
skala guna meningkatkan margin profit-nya. Enampuluh
produsen, dimana setengahnya adalah wanita, diorganisir
menjadi koperasi untuk memiliki dan mengoperasikan
Capacity building activities equipped the
cooperatives with a business plan and provided
management training, mutual visitation and tile
production experiments. New press machines, kilns
and other equipment were also installed in the
factories.
pabrik-pabrik tersebut secara independen.
Berbagai kegiatan pengembangan kapasitas memberikan
kepada koperasi-koperasi tersebut suatu rencana usaha
dan menyediakan pelatihan manajemen, kunjungan
dan uji coba produksi genteng. Mesin press baru, tungku
dan peralatan lainnya juga di pasang di pabrik-pabrik
Trial production was launched in May 2008. IOM
tested different batches of tiles at Gadjah Mada
and Atma Jaya Universities. Sales were in line
with forecasts and at the time of writing, more
than 160,000 tiles have been sold.
tersebut.
Produksi uji coba diluncurkan di bulan Mei 2008. IOM
menguji berbagai ubin yang dihasilkan di Universitas
Gadjah Mada dan Universitas Atma Jaya. Penjualan
sesuai dengan perkiraan dan pada saat cerita ini ditulis,
IOM also provided livelihood support to other
sub sectors in the same village. Working in
partnership with the Indonesian Chamber
of Commerce, 281 micro and small business
owners in the food processing, furniture
and handicraft sectors were supported with
asset replacement, business training, product
diversification and assistance for market
access.
lebih dari 160.000 genteng telah terjual.
IOM juga memberikan bantuan mata pencaharian
kepada sub-sektor lainnya di desa yang sama. Bekerjasama
dengan Kamar Dagang Indonesia, 281 pemilih usaha
berskala mikro dan kecil di bidang pengolahan makan,
perabotan dan kerajinan diberikan bantuan melalui
penggantian modal, pelatihan usaha, diversifikasi produk
dan bantuan akses pasar.
IOM’s community engagement team conducts
rapid field assessments in the village of
Selopamioro, in Bantul, to inspect the condition
of women-dominated ‘peyek’ industries. The rapid
assessment is part of the first project component
which aims to identify beneficiaries under the
project.
/
Tim unit pendampingan masyarakat IOM melakukan
penelitian cepat di lapangan di desa Selopamioro,
Bantul, untuk memeriksa kondisi industri peyek yang
didominasi oleh perempuan. Penelitian ini adalah
bagian dari komponen awal proyek yang bertujuan
© IOM Indonesia 2008
mengidentifikasi para penerima bantuan proyek ini.
46
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Post-Conflict Reintegration
Progamme/
Program Reintegrasi Pasca-Konflik
Supporting the Next Generation/
Menopang Generasi Berikut
A five-year-old girl hurries across the front yard of
a yellow stone building while other children run
around the yard laughing happily under the
supervision of several young women.
Seorang anak perempuan berusia 5 tahun lari di tanam
The scene is in Sangkelan, a village situated on
the outskirts of Nisam sub-district, now expanded
and renamed as Bandar Baru sub-district, in
Aceh Utara. The yellow stone building is a
kindergarten - Raudhatul Athfal Bujang Makmur.
Two classrooms were built by IOM in 2008
through its Makmue Gampong Karena Damee
(MGKD) (Village Peace Due to Prosperity) project,
with funding from Canada.
Pemandangan ini terlihat di Sangkelan, sebuah desa
sebuah bangunan berwarna kuning, sementara anakanak lainnya berlari-larian berbahagia sembari tertawa
dibawah pengawasan beberapa wanita muda.
yang terletak di pinggiran kecamatan Nisam, yang saat
ini telah dimekarkan dan dinamakan kecamatan Bandar
Baru, di Aceh Utara. Gedung berwarna kuning yang
terbuat dari batu tersebut adalah taman kanak-kanak
Raudhatul Athfal Bujang Makmur. Dua ruang kelas
dibangun oleh IOM di tahun 2008 melalui proyek
Makmue Gampong Karena Damee (MGKD) (Kemakmuran
Desa Karena Perdamaian), dengan pendanaan dari
Kanada.
As an inclusive project, MGKD involves a bottomup planning process in which all the stages
and activities, starting with project selection,
planning and implementation, up to ongoing
maintenance, are done entirely by members of
the community.
Sesuai bentuknya sebagai sebuah proyek yang inklusif,
MGKD
melibatkan
proses
perencanaan
‘bottom-
up’ dimana semua tahapan kegiatan, dimulai dari
penyeleksian, perencanaan dan pelaksanaan proyek,
hingga
pemeliharaan
yang
berkesinambungan,
dilakukan sepenuhnya oleh anggota masyarakat.
Sangkelan villagers initiated the kindergarten
long before IOM became involved. They wanted
to provide early schooling for their children
and opened the kindergarten in July 2002. As
they did not have a permanent school building,
they used several, very basic semi-permanent
buildings belonging to the village. But through
the determination and hard work of young
teachers led by Nuraini Daud, the kindergarten ran
for six years.
Penduduk desa Sangkelan telah mulai membangun
taman kanak-kanak tersebut jauh sebelum IOM terlibat.
Mereka ingin memberikan pendidikan secara dini bagi
anak-anak dan membukanya pada Juli 2002. Karena
mereka belum memiliki gedung sekolah permanen,
mereka
menggunakan
beberapa
bangunan
semi-
permanen yang sangat sederhana yang dimiliki oleh
desa. Namun melalui tekad dan kerja keras para guruguru muda yang dipimpin oleh Nuraini Daud, taman
kanak-kanak tersebut beroperasi selama enam tahun.
At the beginning of 2008, IOM‘s MGKD project
selected Sangkelan - a conflict-affected village
Pada awal tahun 2008, proyek MGKD memilih Sangkelan
As an inclusive
project, MGKD
involves a
bottom-up
planning
process in which
all the stages
and activities,
starting with
project selection,
planning and
implementation,
up to ongoing
maintenance,
are done entirely
by members of
the community.
/
Sesuai bentuknya
sebagai sebuah
proyek yang inklusif,
MGKD melibatkan
proses perencanaan
‘bottom-up’ dimana
semua tahapan
kegiatan, dimulai
dari penyeleksian,
perencanaan
dan pelaksanaan
proyek, hingga
pemeliharaan yang
berkesinambungan,
dilakukan
sepenuhnya oleh
anggota masyarakat.
47
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1- 4. Kindergarten
1
students and
teachers of
Raudhatul Athfal
Bujang Makmur.
/
Siswa taman
kanak-kanak
dan guru-guru
Raudhatul Athfal
Bujang Makmur.
© IOM Indonesia 2008
2
© IOM Indonesia 2008
3
© IOM Indonesia 2008
4
© IOM Indonesia 2008
48
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
- for assistance. It took the villagers very little
time to unanimously decide to use the MGKD
grant to build a permanent building for the
kindergarten.
– sebuah desa yang terkena dampak konflik – untuk diberi
bantuan. Para penduduk desa hanya membutuhkan sedikit
waktu untuk secara bulat memutuskan menggunakan
hibah MGKD untuk membangun sebuah gedung permanen
untuk taman kanak-kanak tersebut.
The project implementation was supervised
by the elected Village Activity Implementation
Team, whose leader was later elected as head of
the village. During the implementation process,
the village contributed whatever resources they
could to the project. The school building was finished
and handed over to the Sangkelan community in
February 2008.
Pelaksanaan
proyek
diawasi
oleh
Tim
Pelaksana
Kegiatan Desa yang dipilih warga, yang ketuanya
kemudian diangkat sebagai kepala desa. Selama proses
pelaksanaan, desa tersebut menyumbang segala sumber
daya yang tersedia untuk proyek. Gedung sekolah
tersebut selesai dibangun dan diserahkan kepada
masyarakat Sangkelan pada Pebruari 2008.
Last academic semester, the kindergarten admitted
38 children who are mostly resident in Sangkelan
village. At the end of July 2008, some 25 new students
were admitted.
Pada semester akademik terakhir, sekolah tersebut
The village can be proud that most of the daily
operational costs of the school are covered by
the community. The remainder comes from
donations and a local NGO. The school does not
determine how much parents should pay for
their children’s education – most families make
their living as farmers, have little money and
so pay what they can, when they can.
Desa tersebut dapat berbangga diri bahwa sebagian
menerima 38 murid yang sebagian besar bertempat
tinggal di desa Sangkelan. Pada akhir Juli 2008, sekitar
25 murid baru diterima.
besar
biaya
operasional
ditanggung
oleh
harian
masyarakat
sekolah
tersebut
setempat.
Sisanya
dibiayai oleh sumbangan dan sebuah LSM lokal. Sekolah
tersebut tidak menentukan berapa iuran yang harus
dibayar oleh orang tua untuk pendidikan anak mereka
– kebanyakan keluarga mencari penghidupan sebagai
petani, tidak memiliki banyak uang dan hanya membayar
semampu mereka, dan hanya saat mereka mampu.
In order to sustain the teaching-learning process
at the kindergarten, Sangkelan villagers have
been proactive in seeking outside financial
assistance to maintain the school’s operational
activities and to purchase more educational
materials. They lobbied several government
bodies and other institutions concerned with
early childhood education, but without success.
Guna menjaga kesinambungan proses pembelajaran
di taman kanak-kanak, para warga Sangkelan telah
proaktif mencari bantuan keuangan eksternal untuk
memelihara
kegiatan
operasional
sekolah
dan
untuk membeli materi pelajaran lebih lanjut. Mereka
telah
melobi
beberapa
instansi
pemerintah
dan
lembaga lainnya di bidang pendidikan dini, namun
tidak berhasil.
When the MGKD Project Manager learnt about
this, IOM supported their efforts with a letter of
support to the Department of Education at district
(kabupaten) level. As a result the department
looked into the case, completed a verification
process of the school and will hopefully grant
the school an official accreditation.
Ketika Manajer Proyek MGKD mengetahui ini, IOM
mendukung upaya mereka dengan mengirim sebuah
surat dukungan ke Dinas Pendidikan Kabupaten.
Sebagai hasilnya, dinas tersebut menilik kasus mereka
dan melaksanakan proses verifikasi terhadap sekolah
tersebut dan diharapkan akan memberikan akreditasi
resmi.
This would mean that the school would be
authorized to issue certificates to its graduating
students, would be registered as an independent
school and would thus be entitled to access
state funds. Regardless the verification result,
the kindergarten’s teachers have expressed
their commitment to continue work to develop
their village.
Hal
ini
berarti
bahwa
sekolah
tersebut
dapat
menerbitkan ijazah kepada para siswa yang lulus,
terdaftar
sebagai
sekolah
swadaya
dan
berhak
mendapatkan anggaran dari negara. Namun apapun
hasil
dari
verifikasi
tersebut,
para
guru
telah
mengutarakan komitmen mereka untuk bekerja dalam
membangun desa mereka.
In order to
sustain the
teachinglearning
process at the
kindergarten,
Sangkelan
villagers have
been proactive
in seeking
outside financial
assistance
to maintain
the school’s
operational
activities and to
purchase more
educational
materials.
/
Guna menjaga
kesinambungan
proses pembelajaran
di taman kanakkanak, para warga
Sangkelan telah
proaktif mencari
bantuan keuangan
eksternal untuk
memelihara kegiatan
operasional sekolah
dan untuk membeli
materi pelajaran lebih
lanjut.
49
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Rice-Processing Factory in
Tanjung, Pameu, Aceh Tengah /
Pabrik Pengolahan Padi di Tanjung, Pameu, Aceh Tengah
The USAID-funded SCACP, through local partner
Solidaritas Masyarakat Aceh Tengah Anti KKN
(SMANGAT), has worked with farmer’s Self-Help
Groups in the Pameu villages of Tanjung, Kuala
Rawa, Merande Paya, and Paya Tampu, since 2006.
Proyek SCACP yang didanai oleh USAID, melalui mitra
Pameu sub-district is a neglected, conflict-affected
area, largely populated by farmers who practice
wet rice cultivation. Roughly 230 hectares are
being cultivated, with more possible. In 2007, these
farmers, in addition to receiving seed, organic
fertilizer, and training, requested something
entirely different: the ability to process their own
product, therefore increasing profit at the point
of production whilst being able to offer a
business service to nearby rice farmers.
Kabupaten Pameu adalah sebuah daerah yang telah
lokal Solidaritas Masyarakat Aceh Tengah Anti KKN
(SMANGAT),
telah
bekerjasama
dengan
kelompok
swadaya petani di desa Tanjung, Kuala Rawa, Merande
Paya, dan Paya Tampu di Pameu sejak 2006.
terabaikan dan terkena dampak konflik, dimana sebagian
besar penduduknya adalah petani yang mengelola
sawah basah. Sekitar 230 hektar saat ini diolah, dengan
peluang untuk lebih banyak lagi lahan yang dapat
dikerjakan.
Pada 2007, , disamping menerima bibit, pupuk organik,
serta pelatihan para petani tersebut, meminta sesuatu
yang sama sekali berbeda: kemampuan untuk memproses
produk mereka sendiri, sehingga meningkatkan laba
IOM has facilitated the purchase of the actual
rice-processing machinery while the community
gifted the land and constructed the building to
house the equipment. In addition to the
construction and machine installation, community
members were extensively trained in equipment
maintenance and technical issues.
pada titik produksi dengan menawarkan layanan usaha
kepada para petani beras di daerah sekitar mereka.
IOM telah memfasilitasi pembelian mesin pengolah
padi, sementara masyarakat memberikan lahan dan
membangun sebuah bangunan untuk menampung
peralatan tersebut. Para anggota masyarakat juga dilatih
mengenai bagaimana memelihara peralatan.
The rice-processing factory began operations in
June 2008, and is capable of processing 1,500 tons
of locally-produced rice per year. This riceprocessing machinery is the second of its kind in
Aceh (the only other such factory is in the coastal
town of Bireuen), and will turn Pameu into a
center for rice processing in the Highlands.
Pabrik pengolahan padi tersebut memulai operasi pada
Juni 2008, dan saat ini dapat memproses 1.500 ton beras
produksi lokal per tahun. Pabrik tersebut merupakan
yang kedua di Aceh (satu lagi berada di kota Bireuen di
daerah pesisir) dan akan menjadikan Pameu sebuah
pusat pengolahan padi di daerah daratan tinggi.
1-2. Funded by
USAID, IOM through
SCACP facilitate
the purchase,
construction and
1
2
installation of
rice-processing
machinery.
/
Didanai oleh USAID,
IOM melalui SCACP
memfasilitasi
pembelian,
pembangunan dan
pemasangan mesin
pengolah padi.
© IOM Indonesia 2008
© IOM Indonesia 2008
50
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Information, Counselling and
Referral Services (ICRS) and
Support for Conflict-Affected
Communities
Layanan Informasi, Konseling dan
Rujukan Serta Dukungan Bagi
Masyarakat yang Terimbas Konflik
Post-Conflict
and
Programme in Aceh
Program Pasca-Konflik dan Reintegrasi IOM (PCRP) di
Reintegration
IOM’s Post-Conflict and Reintegration Programme
(PCRP) in Aceh centers on a core caseload of 10,000
ex-combatants, amnestied political prisoners and
vulnerable youth. Reintegration programming
targets ex-combatants, amnestied political prisoners
and vulnerable unemployed youth in high-risk
areas using individual case management based
on IOM’s internationally-recognized Information,
Counselling and Referral Services (ICRS) model.
Program Pasca-Konflik dan Reintegrasi di Aceh
Aceh berfokus pada kelompok inti yang terdiri dari 10.000
mantan kombatan, mantan tahanan politik dan pemudapemuda rentan. Program reintegrasi menargetkan
mantan kombatan, mantan tahanan politik dan
kelompok pemuda rentan tanpa penghasilan tetap
di daerah-daerah berisiko tinggi dengan melakukan
penanganan kasus secara individual berdasarkan model
Pelayanan Informasi, Konseling dan Rujukan (PIKR) milik
IOM yang telah diakui di seluruh dunia.
Komponen PIKR dari program ini didanai oleh Pemerintah
The ICRS component of the programme is funded
by the Government of Japan and works in dynamic
partnership with some 82 civil society and small/
medium-sized business partners spanning over
2,000 villages across Aceh.
Understanding Post-Conflict Gaps and
Vulnerabilities: Charting a Way Ahead
In 2007 IOM embarked on the formidable task of
mining through all of its project data in an attempt
to understand the gaps and vulnerabilities facing
post-conflict recovery in Aceh, without having to
subject its beneficiaries or communities to further
surveys or assessments. The exercise was designed
to provide a focus for IOM’s subsequent postconflict recovery work.
Jepang dan dilaksanakan di bawah kemitraan dinamis
dengan 82 organisasi masyarakat sipil serta mitra usaha
berskala kecil/menengah yang mencakup 2.000 desa di
seluruh Aceh.
Memahami Kebutuhan dan Kerentanan
Pasca-Konflik: Memetakan Jalan di Depan
Pada 2007 IOM memulai tugas berat memilah semua
data proyek guna memahami kekurangan-kekurangan
serta kerentanan yang dihadapi kegiatan pemulihan
pasca-konflik di Aceh, tanpa harus mengakibatkan
para penerima bantuan atau masyarakat untuk harus
mengikuti survei atau penelitian lebih lanjut. Kegiatan
ini dirancang untuk memberikan sebuah fokus bagi
kegiatan pemulihan pasca-konflik IOM selanjutnya.
Sebuah laporan berjudul “Meta-Analisa: Kerentanan,
A report entitled “Meta-Analysis: Vulnerability,
Stability, Displacement and Reintegration: Issues
Facing the Peace Process in Aceh, Indonesia” has
now been completed and was launched in
December 2008, in Banda Aceh.
Celebrating Peace in Aceh and
Reinforcing Public Perceptions of the
Peace Process
The PCRP completed six peace concerts across Aceh
to celebrate the third anniversary of the peace
process, with the support of musician and Peace
Ambassador Rafly and other local artists.
Stabilitas, Perpindahan dan Reintegrasi: Permasalahan
yang Dihadapi Proses Perdamaian di Aceh, Indonesia”
telah selesai disusun dan dijadwalkan akan diluncurkan
pada akhir tahun 2008.
Merayakan Perdamaian di Aceh dan
Memperkuat Persepsi Publik Terhadap Proses
Perdamaian
PCRP menyelenggarakan enam konser perdamaian di
Aceh untuk merayakan tiga tahun proses perdamaian,
dengan dukungan musisi dan Duta Besar Perdamaian dan
artis-artis lokal lainnya.
Acara-acara
These celebrations were planned and implemented
perayaan
tersebut
direncanakan
dan
dilaksanakan melalui koordinasi erat dengan BRA dan
During each of
these concerts,
where crowds
in excess of
20,000 gathered,
peace pledges
were signed by
government,
the army (TNI),
police (INP),
KPA, PETA and
FORKAB.
/
Pada setiap acara
konser tersebut,
dimana pengunjung
yang hadir melebihi
20.000 orang,
deklarasi perdamaian
ditandatangani oleh
pemerintah, TNI,
Polri, KPA, PETA and
FORKAB.
51
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
in close coordination with the BRA and the
Forum Komunikasi dan Koordinasi Desk Aceh (Forum
for Communication and Coordination – FKK.)
Forum Komunikasi dan Koordinasi Aceh (FKK.)
Pada setiap acara konser tersebut, dimana pengunjung
yang hadir melebihi 20.000 orang, deklarasi perdamaian
During each of these concerts, where crowds in
excess of 20,000 gathered, peace pledges were
signed by government, the army (TNI), police (INP),
KPA, PETA and FORKAB.
ditandatangani oleh pemerintah, TNI, Polri, KPA, PETA and
FORKAB.
Serangkain konser dengan latar belakang foto-foto
perdamaian, termasuk video dan sebuah spanduk
Concerts were set against a backdrop of peace
imagery, including video projections and a 70 meter
banner developed as a pictorial essay (symbolically
referred to as the Jala Damai Aceh or Peace Net of
Aceh) featuring all aspects of peace ranging from
reconstruction, water and sanitation and media,
to reintegration and peaceful activity across the
province.
sepanjang 70 meter yang merupakan sebuah esay
bergambar (secara simbolis diberi nama Jala Damai
Aceh) memuat semua aspek perdamaian dari mulai
rekonstruksi air dan kebersihan dan media, hingga
reintegrasi dan kegiatan perdamaian di seluruh propinsi.
Stabilisasi Masyarakat:
Menjaga Keseimbangan Reintegrasi Individu
Pendekatan
IOM
atas
reintegrasi
berfokus
pada
Community Stabilization:
Balancing Individual Reintegration
pembinaan stabilitas dan berupaya untuk mengimbangi
IOM’s approach to reintegration is focused on
enhancing stability and seeks to balance perceptions
of fairness by directly addressing post-conflict
recovery dynamics at the community level.
dinamika
persepsi keadilan dengan secara langsung menangani
pemulihan
pasca-konflik
pada
tingkat
masyarakat.
Kegiatan penstabilan masyarakat di lebih dari 1.200
desa mendukung reintegrasi individu melalui pemberian
Community stabilization activities in over 1,200
villages support individual reintegration by
assisting communities to take a leading role in
social and economic recovery with activities
spanning rebuilding infrastructure, livelihood
support, community self-help and socio-cultural
celebrations. Programme coverage is extensive
and targets “hotspot” areas in Aceh where the risk
of a relapse into conflict is highest.
bantuan kepada masyarakat agar berperan dalam
pemulihan sosial dan ekonomi dengan bentuk kegiatan
seperti pembangunan kembali infrastruktur, dukungan
mata pencaharian, swadaya masyarakat dan perayaan
sosial budaya. Ruang lingkup program bersifat luas dan
menargetkan “titik-titik panas” di Aceh dimana risiko
kembalinya konflik adalah paling tinggi.
Kegiatan stabilisasi masyarakat berpusat pada proyek
berdampak cepat yang menargetkan masyarakat yang
Community stabilization activities center on
quick-impact projects targeting conflict-affected
communities to which ex-combatants, amnestied
political prisoners, refugees and internally-displaced
people return.
terimbas konflik ke mana para mantan kombatan dan
tahanan politik, pengungsi dan pengungsi internal kembali.
Sejak 2006, Proyek Bantuan bagi Masyarakat yang
Terimbas
Konflik
(Support
for
Conflict-Affected
Communities Project - SCACP) yang didanai oleh USAID
Since 2006, the USAID-funded Support for ConflictAffected Communities Project (SCACP) has
conducted community stabilization and peacebuilding activities through direct grassroots
assistance to roughly 180,000 beneficiaries in
408 vulnerable communities across the Central
Highlands in the four districts of Bener Meriah,
Aceh Tengah, Gayo Lues, and Aceh Tenggara.
telah melaksanakan stabilisasi masyarakat dan kegiatan
penguatan perdamaian melalui bantuan langsung
kepada sekitar 180.000 penerima bantuan di 408
masyarakat yang rentan di daerah tinggi Aceh di empat
kabupaten, yakni Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues,
dan Aceh Tenggara.
Digabungkan dengan bantuan reintegrasi bagi mantan
52
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
In combination with reintegration assistance to
ex-combatants, amnestied political prisoners
and vulnerable youth, the aim is to transform the
conflict-carrying capacities of both individuals
and communities at the local level into peacegenerating capacities that directly support the
peace process through tangible benefits placed
in the hands of those who need it most.
kombatan, tahanan politik dan kaum muda yang rentan,
The raison d’etre of SCACP – whether it manifests
itself as a new road, a gabion basket retaining wall,
a hand-tractor, organic farming, a football field,
a brick-kiln or a local concert – is peace-building
through the restoration of trust within and
between communities scarred by the conflict.
Alasan dasar SCACP – baik dalam bentuk jalanan baru,
tujuan dari proyek ini adalah mengubah kapasitas
yang berpotensi konflik di dalam diri individu maupun
masyarakat di tingkat lokal menjadi kapasitas yang
dapat menciptakan perdamaian, yang secara langsung
mendukung
proses
perdamaian
melalui
manfaat-
manfaat nyata yang diberikan ke tangan para pihak
yang paling membutuhkan.
dinding penahan keranjang, traktor kecil, peternakan
organik, lapangan sepak bola, tungku batu bata atau
konser lokal – adalah pembangunan perdamaian melalui
pengembalian rasa saling percaya di tengah dan di antara
anggota masyarakat yang mengemban luka konflik.
Community Stabilization:
Makmu Gampong Kereuna Dame
Stabilisasi Masyarakat:
Makmu Gampong Kereuna Dame
The success of the Aceh Peace Process hinges
on the broadest possible community-level
support, particularly in areas to which large
numbers of former combatants and prisoners have
returned. Specific programming has sought to
stabilize these communities.
Keberhasilan proses perdamaian di Aceh bertumpu pada
Funded by the European Commission, UNDP
and the Canadian International Development
Agency (CIDA), IOM’s Village Prosperity Due to
Peace (Makmu Gampong Kereuna Dame - MGKD)
project has now delivered 1,715 community
projects to an estimated 730,358 people in
721 conflict-affected villages.
Dengan didanai oleh Komisi Eropa, UNDP dan Canadian
dukungan masyarakat yang seluas-luasnya, khususnya
di daerah-daerah di mana sejumlah besar mantan
kombatan dan tahanan politik kembali ke masyarakatnya.
Sejumlah
khusus
diupayakan
untuk
International Development Agency - CIDA, proyek IOM yang
berjudul Makmur Desa Karena Damai (Makmu Gampong
Kereuna Dame - MGKD) saat ini telah menghadirkan
1.715 proyek berbasis masyarakat kepada sekitar 730.358
warga di 721 desa yang terkena dampak konflik.
Masyarakat
Communities have benefited from a wide variety
of community-based activities ranging from
income generation to infrastructure projects
such as road compaction, community building
repair, and irrigation and flood drainage canals.
As a result, reintegration has been facilitated,
social cohesion and stabilization enhanced, and
village ownership of the process increased.
program
menstabilkan kelompok masyarakat- tersebut.
memperoleh
banyak
manfaat
dari
serangkaian kegiatan berbasis masyarakat mulai dari
penciptaan pendapatan hingga proyek infrastruktur,
seperti pembangunan jalan, perbaikan gedung rakyat,
serta saluran irigasi dan saluran banjir. Kini, reintegrasi
telah terfasilitasi, kohesi sosial dan stabilisasi ditingkatkan,
dan rasa kepemilikan desa terhadap proses yang
berlangsung bertambah.
Keterlibatan merupakan kata kunci. Disamping partisipasi
Involvement is the key word. As well as
community
participation,
local
government
is also fully involved. District and sub-district
heads selected the villages to receive grants.
masyarakat, pemerintah daerah juga dilibatkan secara
penuh. Para Bupati dan Camat telah memilih desadesa yang akan menerima hibah. Para fasilitator dari
Program Pembangunan Kecamatan juga bekerjasama
Community
stabilization
activities in
over 1,200
villages support
individual
reintegration by
assisting
communities to
take a leading
role in
social and
economic
recovery...
/
Kegiatan penstabilan
masyarakat di
lebih dari 1.200
desa mendukung
reintegrasi individu
melalui pemberian
bantuan kepada
masyarakat agar
berperan dalam
pemulihan sosial dan
ekonomi.
53
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
MGKD has a
strong emphasis
on women’s
involvement
through its
‘Women’s
Leadership
and Capacity
Building’
training
programme.
/
MGKD memberi
penekanan pada
keterlibatan
perempuan melalui
program pelatihan
‘Kepemimpinan
dan Peningkatan
Kapasitas Wanita’.
Kecamatan Development Programme (PNPM)
facilitators also work closely with IOM staff to
oversee, give technical support and monitor
projects.
dengan staf IOM untuk mengawasi, memberikan
dukungan teknis dan memonitor proyek.
Proyek ini dilakukan oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Masyarakat memilih proyek dan melaksanakannya
The project is by the people, for the people.
The community chooses the project and
implements it itself, creating a focus to foster social
cohesion and community pride.
sendiri, dengan tujuan membina kohesi sosial dan rasa
bangga komunitas.
Musyawarah yang dilakukan secara demokratis dengan
proses yang bersifat inklusif dan transparan dalam memilih
The inclusive and transparent process of
democratic meetings to choose projects for the
village and of project implementation by
communities to ensure ownership is key. All
groups including ex-combatants, amnestied
prisoners, women, IDPs and youth have a voice
and are fully involved. Often for the first time,
leaders, men and women, former combatants
and political prisoners, young and old get
to have an equal say in the village decisionmaking and work together for the betterment of
their community.
proyek bagi desa dan pelaksanaan proyek oleh masyarakat
To further enhance the effectiveness of the
project in 2008, peace celebrations were organised
to celebrate the anniversary of the signing of the
Peace Agreement and the Indonesian Proclamation
of Independence in nine remote and previously
high-conflict villages.
Guna lebih jauh meningkatkan efektifitas proyek pada
guna menjamin rasa kepemilikan merupakan faktor
kunci. Semua kelompok, termasuk bekas kombatan,
mantan tahanan, perempuan, pengungsi internal, dan
kaum muda, memiliki kesempatan mengemukakan
pendapat dan terlibat secara penuh. Bagi kebanyakan
dari mereka ini adalah pengalaman pertama kalinya
dimana para pimpinan, pria dan wanita, mantan
kombatan dan tahanan politik, baik muda maupun tua,
memiliki suara yang sama dalam pengambilan keputusan
dan bekerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan
lingkungan mereka.
2008, perayaan perdamaian untuk memperingati ulang
tahun penandatanganan Perjanjian Perdamaian dan
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diselenggarakan di
sembilan desa terpencil yang dahulunya berkonflik tinggi.
Melalui musik dan komedi, yang menampilkan seekor
Through music and comedy, involving a goat as
the star, messages of improvements since the
Peace Agreement and the importance of working
together and maintaining peace were conveyed.
Community leaders and local government
representatives voiced their commitment to
peace and publicly signed a pledge confirming
their commitment to help maintain it.
kambing sebagai bintang utama, disampaikan pesan-
MGKD has a strong emphasis on women’s
involvement through its ‘Women’s Leadership
and Capacity Building’ training programme,
which is being provided for village women with
the potential of becoming organisers in their
communities. This aims to not only encourage
women to be present at village decisionmaking meetings, but also to be fully engaged.
MGKD
pesan mengenai kemajuan yang dicapai sejak Perjanjian
Perdamaian, serta pentingnya bekerjasama dan menjaga
perdamaian. Para tokoh masyarakat dan wakil pemerintah
daerah mengemukakan komitmen mereka terhadap
perdamaian dan di depan umum menandatangani
sebuah janji yang menegaskan komitmen mereka untuk
membantu mempertahankannya.
memberi
penekanan
pada
keterlibatan
perempuan melalui program pelatihan ‘Kepemimpinan
dan Peningkatan Kapasitas Wanita’, yang disediakan
bagi perempuan di desa yang berpotensi menjadi
penyelenggara di komunitas mereka. Hal ini tidak hanya
bertujuan untuk mendorong wanita untuk hadir pada
rapat-rapat pembuatan keputusan di desa, namun terlibat
secara penuh dalam keseluruhan proses.
54
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
By the Numbers / Berdasarkan Angka
MGKD
EC
(completed 2006)
UNDP
(completed 2007)
CIDA Phase 1
(completed March
2008)
CIDA Phase 2
(ongoing)
Total
Number of Villages /
Jumlah desa
230
95
255
141
721
Total Projects /
Jumlah proyek
385
223
628
479
1,715
0
0
335
229
564
Beneficiaries /
Penerima bantuan
165,966
94,410
263,478
206,504
730,358
Ex-combatants /
Mantan kombatan
355
1,305
3,292
3,206
8,158
Political Prisoners /
Tahanan politik
n/a
159
147
324
630
Women-only Projects /
Proyek khusus perempuan
ICRS Programme
4,941
Number of GAM/TNA ex-combatants and amnestied political prisoners registered and provided with livelihood
opportunities that focused predominantly on business/vocational training and small business start-up (first phase of
reintegration programme supported by Government of Japan) /
Jumlah mantan kombatan dan mantan tahanan politik GAM yang terdaftar dan diberikan peluang mata pencaharian
yang berfokus pada pelatihan usaha/kerja dan pembentukan usaha kecil (fase pertama program reintegrasi yang
didukung oleh pemerintah Jepang)
91%
Of all registered GAM/TNA ex-combatants and amnestied political prisoners who received skills trainings ranging
from animal husbandry and best-practice agricultural skills, to automotive repairs and small business management /
Bagian dari seluruh mantan kombatan dan mantan tahanan politik GAM yang terdaftar yang menerima pelatihan
keterampilan yang berkisar dari peternakan hewan serta praktek-praktek terbaik di bidang pertanian, hingga
perbengkelan mobil serta pengelolaan usaha kecil.
3,535
Vulnerable unemployed youth in high-risk areas of Aceh registered by the current reintegration programme from a target
of 5,000. To date, 1,129 clients have been referred to a job, apprenticeship, training, or small-business network /
Pemuda tanpa pekerjaan tetap yang rentan di daerah-daerah berisiko tinggi di Aceh yang terdaftar oleh program
reintegrasi yang saat ini sedang berjalan, dari target sejumlah 5.000. Hingga kini, 1.129 orang telah dirujuk ke sebuah
pekerjaan, program magang, pelatihan, atau jaringan usaha kecil.
5,666
Vacancies (job, apprenticeship or magang, vocational training, and/or small business networks) identified through
extensive labour market analysis for referral of ICRS clients /
Posisi (pekerjaan, magang, pelatihan kerja, dan atau jaringan usaha kecil) yang diidentifikasi melalui analisa pasar
kerja yang ekstensif untuk rujukan bagi klien ICRS.
27,531
Number of youth selected by their communities and screened by 15 local civil society organizations performing
community facilitation in 76 sub-districts across eight high-risk districts throughout Aceh /
Jumlah pemuda yang dipilih oleh masyarakat mereka dan disaring oleh 15 organisasi masyarakat sipil yang melaksanakan fasilitasi masyarakat di 76 kecamatan di delapan kabupaten berisiko tinggi di Aceh.
50,000
Distribution of monthly tabloid Tingkap that focuses on the Aceh Peace process Process and the role of youth.
This is distributed though local print media, local civil society, and through ICRS field staff /
Pendistribusian tabloid bulanan Tingkap yang berfokus pada Proses Perdamaian Aceh dan peran kaum muda. Majalah ini didistribusikan melalui media cetak lokal, masyarakat sipil setempat dan melalui staff lapangan PIKR.
102,000
People have attended six peace concerts in Lhoksumawe, Bireun, Takengon, Kutecane, Tapak Tuan, and Banda Aceh
during from 2- to 15 August 2008 supported by the European Union, USAID, and the Government of Japan /
Warga yang menghadiri enam konser perdamaian di Lhoksumawe, Bireun, Takengon, Kutecane, Tapak Tuan, dan
Banda Aceh dari 2 hingga 15 Agustus 2008 yang didukung oleh Uni Eropa, USAID, dan pemerintah Jepang.
55
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1. Rafly performs
1
during peace
concert that
commemorate
three years of the
peace process.
/
Rafly tampil dalam
konser damai
memperingati
tiga tahun
penandatanganan
perjanjian damai.
2. The PCRP
completed six
peace concerts
across Aceh in
August 2008.
/
PCRP
menyelenggarakan
enam konser
perdamaian di
Aceh pada Agustus
2008.
3. The Signing of
Peace Commitment
by the Kapolsek
of Kluet Tengah,
© IOM Indonesia 2008
Ridwan Nasir;
Lawe Melang,
Kluet Tengah, Aceh
2
Selatan.
/
Penandatanganan
perjanjian
untuk menjaga
perdamaian oleh
Kapolsek Kluet
Tengah, Ridwan
Nasir; Lawe Melang;
Kluet Tengah, Aceh
Selatan.
4. Symbolic Tree
© IOM Indonesia 2008
Planting by the
Representative of
KPA; Lawe Melang,
3
4
Kluet Tengah, Aceh
Selatan.
/
Penanam pohon
secara simbolis
oleh perwakilan
KPA; Lawe Melang,
Kluet Tengah, Aceh
Selatan.
© IOM Indonesia 2008
© IOM Indonesia 2008
56
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Promoting Peace through Effective Communication
and Awareness-Raising /
Memajukan Perdamaian Melalui Komunikasi yang Efektif
dan Peningkatan Kesadaran
In early 2008 IOM began an evaluation of its
post conflict work in Aceh and identified four
common approaches underpinning its postconflict communication and public information
strategy.
Di 2008, IOM memulai sebuah evaluasi terhadap
kegiatan pasca-konfliknya di Aceh dan mengidentifikasi
empat pendekatan umum yang melandasi strategi
komunikasi dan informasi publik pasca-konflik.
Pendekatan-pendekatan tersebut adalah: penargetan
These were: targeting key actors and opinionshapers; applying alternative peace-building
community interventions; process- and goaloriented planning and implementation; and
strengthening
relationships
between
local
government and people.
pelaku-pelaku utama dan pembentuk opini; menerapkan
intervensi
masyarakat
peningkatan
alternatif;
perencanaan
dan
perdamaian
pelaksanaan
yang
berorientasikan pada proses dan tujuan; dan memperkuat
hubungan antara pemerintah setempat dan rakyat.
Pada saat yang bersamaan, IOM telah mengembangkan
At the same time IOM has developed a ”common
identity” for all its post-conflict work, leveraging
its achievements in support of trust-building
between civil society and government.
sebuah “identitas bersama” untuk semua kegiatan
It has cultivated strong relationships with key
partners FKK and BRA, and in September 2008
initiated a process to develop a common
strategy through a workshop on peace and
communication held in Kuala Lumpur, Malaysia.
IOM telah membina hubungan yang kuat dengan para
pasca-konfliknya, memanfaatkan keberhasilannya guna
mendukung pembangunan rasa saling percaya antara
masyarakat sipil dan pemerintah.
mitra kunci, yakni FKK and BRA, dan pada September
2008 memulai sebuah proses untuk mengembangkan
sebuah strategi bersama melalui sebuah lokakarya
tentang perdamaian dan komunikasi yang dilaksanakan
Children enjoying
the Piasan Dame
show at Desa Padang
Meuriya, Kecamatan
Langkahan, Aceh
Utara.
/
Anak-anak menikmati
pertunjukkan Piasan
Dame di Desa Padang
Meuriya, Kecamatan
Langkahan, Aceh
Utara.
© IOM Indonesia 2008
57
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Key implementers from FKK, BRA and the Aceh
Provincial Police came together and, through the
facilitation of key IOM staff, developed a processand impact-oriented twelve-month action plan for
conducting joint outreach, communication and
socio-cultural activities.
di Kuala Lumpur, Malaysia.
Dengan difasilitasi IOM rara pelaksana utama dari FKK,
BRA dan Polda Aceh bertemu dan , mengembangkan
sebuah rencana aksi duabelas-bulan yang berorientasikan
pada proses dan dampak dalam rangka melaksanakan
kegiatan penggapaian, komunikasi dan social-budaya.
The plan is already being put into action. Monthly
tabloid Tingkap is being overhauled through
contributions from FKK, BRA and the Provincial
Police. Public information campaigns using SMS
are also being developed, working with the
local broadsheet Harian Aceh.
Other activities from the plan are also being
developed. They include broader peace socialization
aimed at vulnerable youth in collaboration with
the Rapa’i Foundation; development of a new
phase of community radio in Aceh Tengah with
Radio Amanda; a survey of community radio
programming possibilities in Gayo Lues and Aceh
Tenggara; and joint peace socialization in the
Central Highlands with FKK and BRA.
Rencana tersebut sudah mulai dilaksanakan. Tabloid
bulanan Tingkap sedang dibenahi dengan kontribusi dari
FKK, BRA dan Polda. Kampanye informasi masyarakat
dengan
menggunakan
SMS
juga
dikembangkan,
bekerjasama dengan surat kabar setempat Harian Aceh.
Kegiatan-kegiatan lain dari rencana tersebut juga sedang
dikembangkan. Diantaranya bekerjasama dengan Yayasan
Rapa’i Foundation melakukan sosialisasi perdamaian yang
lebih luas yang ditujukan pada para pemuda yang rentan;
pengembangan sebuah fase baru radio masyarakat di Aceh
Tengah dengan Radio Amanda; sebuah survey peluang
penciptaan program radio masyarakat di Gayo Lues dan
Aceh Tenggara; serta sosialisasi perdamaian bersama di
daerah pegunungan dengan FKK dan BRA.
Amat Leleh
and Fatimah
the goat,
the stars of
Piasan Dame
show.
/
Amat Leleh
dan Fatimah si
kambing,
bintang
utama dari
pertunjukkan
Piasan Dame.
© IOM Indonesia 2008
58
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Brick-Making in Mulie Jadi, Silih Nara, Aceh Tengah /
Pabrik Batu Bata Mulie Jadi, Silih Nara, Aceh Tengah
Mulie Jadi is a brick-making cooperative created
by the USAID-funded SCACP. IOM provided startup materials and grants-in-kind while cooperative
members contributed labour to build the shelters
and kilns, and the community provided the
land.
Mulie Jadi adalah sebuah koperasi produsen batu bata yang
The group is comprised of nine vulnerable,
community-identified families, headed by five
women and four men. Each Self-Help Group
family has an average of four children; all are poor
and impacted by the conflict. Only three of the
members initially had experience in making bricks,
the others learned a new trade from them.
Kelompok ini terdiri dari sembilan keluarga rentan yang
didirikan oleh proyek SCACP dengan pendanaan dari USAID.
IOM menyediakan bahan-bahan dasar dan hibah berupa
barang, sedangkan para anggota koperasi menyumbangkan
tenaga untuk membangun penampungan dan tungku, dan
masyarakat menyediakan lahan.
telah diseleksi oleh masyarakat, yang dikepalai oleh lima
wanita dan empat pria. Masing-masing keluarga swadaya
tersebut rata-rata memiliki empat anak; kesemuanya berada
dalam situasi miskin dan terkena dampak konflik. hanya tiga
dari para anggotanya memiliki pengalaman di bidang
pembuatan batu bata, sedangkan lainnya belajar mengenai
usaha tersebut dari mereka.
Mulie Jadi village has been without teachers for
years; children, if they are able, travel to nearby
villages to attend school. The cooperative has
solved this problem by contributing a portion of
their profits to pay the salary of a primary school
teacher to teach the village’s young children. This
project’s local partner has also used additional
funds from the cooperative’s profits to build
homes for SHG members who do not live near
the brick cooperative.
The cooperative has also donated bricks to build
a small mosque in nearby Genting Gerbang village,
at which the cooperative members worship. Mulie
Jadi is also training ex-combatant clients from
IOM’s ICRS Programme in the art of brick making.
Desa Mulie Jadi selama bertahun-tahun tidak memiliki
guru sekolah. Anak-anak, jika mampu, pergi ke desa tetangga
untuk sekolah. Koperasi ini telah memecahkan masalah
dengan
menyumbangkan
sebagian
keuntungannya
untuk membayar gaji seorang guru sekolah dasar untuk
mengajar anak-anak di desa. Mitra lokal proyek ini juga
telah menggunakan dana tambahan dari laba koperasi
guna membangun rumah bagi para keluarga swadaya
yang bertempat tinggal jauh dari koperasi batu bata ini.
Koperasi ini juga telah memberi sumbangan untuk
pembangunan sebuah mesjid kecil di desa tetangga Genting
Gerbang, dimana para anggota koperasi beribadah. Mulie
Jadi juga melatih para mantan kombatan dari Program ICRS
IOM mengenai seni pembuatan batu bata. Banyak dari klien
The women are full-time
employees of the Self-Help
Group in Mulie Jadi village.
/
Para wanita ini adalah
pegawai tetap dari kelompok
swadaya di desa Mulie Jadi.
© IOM Indonesia 2008
59
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Many of the ICRS clients continue to work with
Mulie Jadi, increasing the production capacity of
the collective and their profits.
ICRS tersebut terus bekerja di Mulie Jadi, sehingga meningkatkan
kapasitas produksi serta laba koperasi tersebut.
Proses pembuatan batu bata ini dimulai dengan penggalian
The brickmaking process begins when Mulie Jadi’s
men dig wide, flat holes in the clay soil and fill
them with water. The village’s water buffalos are
used to churn the clay into mud. The clay mash
is partially diluted of water; bricks are then cast
with brick molds from the semi-dry mud.
lubang yang lebar dan datar di tanah liat oleh para pria Mulie
Jadi dan mengisinya dengan air. Kerbau kemudian digunakan
untuk membajak tanah liat tersebut menjadi lumpur. Air dari
lubang tersebut kemudian dikuras dan cetakan batu bata
kemudian diisi dengan lumpur setengah kering.
Batu bata yang dihasilkan kemudian dikeringkan di bawah
The bricks are then dried under the shelters
before being fired in large brick kilns for three
days. Mulie Jadi’s kilns can fire 53,000 bricks
simultaneously but do not operate at maximum
capacity because of a lack of shelters for drying.
After three days of firing, the bricks are cooled
down for three to four days before being sold. A
brick from the cooperative sells for an average of
260 Rupiah, with the profits shared out among
the members and a small percentage returned to
the local partner.
peneduh sebelum dipanaskan di tungku-tungku besar
Mulie Jadi’s women are more productive than the
men; the male cooperative members, working
together, only produce about 800 bricks per day
while the women collectively process 1,000. The
women are full-time employees of the Self-Help
Group and gain all their income from it. They
bring their families to work, and are teaching their
older children the trade.
Para wanita Mulie Jadi lebih produktif dibandingkan dengan
selama tiga hari. Tungku Mulie Jadi dapat memanggang
53.000 batu bata secara serentak, namun karena
kurangnya peneduh untuk mengeringkan bata tungku ini
tidak dapat beroperasi pada kapasitas maksimum.
Setelah tiga hari dipanggang, batu bata tersebut didinginkan
selama tiga hingga empat hari sebelum dijual. Satu buah
batu bata dijual dengan harga sekitar 260 Rupiah, dan laba
yang diperoleh dibagi rata ke setiap anggota dan sebuah
persentase kecil dikembalikan ke mitra lokal.
para pria. Para anggota koperasi pria secara bersama-sama
hanya mampu menghasilkan sekitar 800 batu bata sehari,
sedangkan para wanita secara bersama-sama memproduksi
1.000 bata. Para wanita adalah pegawai tetap dari kelompok
swadaya dan mendapat gaji dari tempat ini. Mereka membawa
anggota keluarga mereka untuk bekerja dan mengajari
anak-anak mereka yang tertua mengenai usaha tersebut.
Mulie Jadi’s kilns can fire 53,000 bricks
simultaneously.
/
Tungku Mulie Jadi dapat memanggang
53.000 batu bata secara serentak.
© IOM Indonesia 2008
60
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
A Life Raft for Village Women /
Sebuah Rakit Kehidupan bagi Wanita di Desa
About a fifth of the one hundred or so households
in Alue Peunawa village, Babahrot sub-district
of Aceh Barat Daya, are headed by widows.
Dari sekitar seratus rumah tangga di desa Alue Peunawa
Like other families, many of the women
abandoned their agricultural land located on the
opposite side of the river from the village, due to
the conflict and the lack of any means to cross
the water.
Seperti keluarga lainnya, banyak perempuan tersebut
village, kecamatan Babahrot di kabpaten Aceh Barat
Daya, 20 diantaranya dikepalai oleh perempuan.
meninggalkan tanah pertanian mereka akibat konflik
dan kurangnya sarana transportasi untuk menyeberangi
sungai.
Kesulitan-kesulitan ini memaksa mereka untuk mencari
Most found other low paid jobs to support their
families or worked small plots of land near their
homes to produce food.
nafkah dengan bekerja seadanya yang hanya cukup untuk
sekedar makan sehari-hari.
Proyek Makmu Gampong Kareuna Damee (MGKD) IOM,
IOM’s Makmu Gampong Kareuna Damee (MGKD)
project, with funding from the Canadian
International Development Agency (CIDA), then
extended a small grant to the women of Peunawa
village.
yand didanai Canadian International Development
Agency (CIDA), memberikan dana hibah kecil kepada para
perempuan di desa ini.
Mereka memanfaatkan uang hibah tersebut dengan
membuat sebuah rakit bagi mereka untuk menyeberangi
They used the money to build a raft to take them
across the river to their former farmland. They
subsequently re-cleared their fields and are now
growing rice, peanuts, bananas, corn and other
crops to support their families. They sell some of
their harvest and consume the rest.
sungai
menuju
tanah
garapan
mereka.
Mereka
membersihkan kembali lahan tersebut dan kini telah
menanam padi, kacang, pisang, jagung dan panen lainnya
untuk menghidupi keluarga mereka. Mereka menjual
sebagian hasil panen dan mengkonsumsi sisanya.
Mereka juga mendapatkan penghasilan dengan menjual
They also earn money by selling eatable fern
leaves that grow wild by the banks of the river.
On the way home from work in the evening, they
stop to pick the leaves.
daun pakis yang tumbuh liar di tepi sungai. Dalam
perjalanan pulang di sore hari, mereka berhenti untuk
memetik daun-daun tersebut.
Di rumah, mereka mengumpulkan dan mengikat
At home they tie the leaves into neat bundles
and then sell them to the ‘vegetable agent’ who
comes to the village to pick up vegetables to sell
in the Blangpidie district capital market.
daun pakis tersebut dan menjualnya ke agen sayuran
yang datang ke desa untuk mengambil sayur-mayur
1-2. Women of Alue
yang kemudian dijual di pasar ibukota kabupaten
Peunawa village
Blangpidie.
decided to use the
money to build a
raft to take them
across the river to
1
2
their farm land.
/
Para perempuan di
desa Alue Peunawa
memutuskan
menggunakan uang
bantuan untuk
membuat rakit yang
membantu mereka
menyebrangi sungai
menuju ladang
© IOM Indonesia 2008
© IOM Indonesia 2008
tempat mereka
bekerja.
61
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
From War to Peace : An Ex-Combatant’s Story /
Dari Perang ke Perdamaian : Cerita Seorang Mantan Kombatan
For years, former combatant Hasan lived in the bush
and slept rough in the mountains with the Free
Aceh Movement (GAM.) He often wondered if he
would ever return to help rebuild his village.
Selama bertahun-tahun, Hasan, seorang mantan kombatan, hidup
Then, on August 15, 2005, the Helsinki Peace
Agreement was signed. Not long after, Hasan
handed over his gun and returned to his village in
Panton Rayeuk B, Banda Alam, East Aceh.
Pada 15 Agustus 2005, Perjanjian Perdamaian Helsinki
A year later IOM introduced a Canadian governmentfunded programme named Makmue Gampong
Kareuna Damee (Village Prosperity Due to Peace)
(MGKD) to Banda Alam and other Acehnese villages.
Setahun kemudian, IOM mensosialisasikan sebuah
di semak belukar dan tidur di pegunungan bersama Gerakan Aceh
Merdeka (GAM). Ia sering bertanya apakah suatu saat ia akan
dapat kembali dan membantu pembangunan desanya.
ditandatangani.
Tidak
lama
kemudian,
Hasan
menyerahkan senjatanya dan kembali ke desanya di
Panton Rayeuk B, Banda Alam, Aceh Timur.
program
yang
didanai
oleh
pemerintah
Kanada
yang dinamai Makmue Gampong Kareuna Damee
(Kemakmuran Desa Karena Perdamaian) atau MGKD ke
Banda Alam dan desa-desa lainnya di Aceh.
Hasan jumped at the opportunity to help his
community. He was elected as a Pendamping Lokal
or local facilitator for the programme and in that
capacity started to visit and support many villages
in the sub- district.
Hasan langsung mengambil kesempatan itu untuk
membantu komunitasnya. Ia dipilih sebagai Pendamping
Lokal atau fasilitator untuk program tersebut dan
dalam kedudukannya tersebut mulai mengunjungi dan
membantu banyak desa di kecamatannya.
In April 2008, MGKD began its second phase in
Aceh Timur. Hasan was given additional training
and became involved in every stage of the
programme, from socialization and women’s and
village meetings, to project implementation.
Pada April 2008, MGKD memasuki fase kedua di Aceh Timur.
Hasan diberikan bantuan tambahan dan ikut terlibat di
setiap fase program mulai dari sosialisasi dan pertemuan
wanita dan desa, hingga pelaksanaan proyek.
The skills that developed recently helped him to
get elected as the Head of Panton Rayeuk B village.
”I am filled with hope that the peace in Aceh will
last forever and that the MGKD programme will be
a great success,” he says.
Keterampilan yang telah dikembangkannya baru-baru ini
Hasan is one of many ex-combatants actively
involved in the implementation of the MGKD
programme in Banda Alam sub-district.
Hasan merupakan salah satu dari banyak mantan
membantunya untuk dipilih sebagai Kepala Desa Panton
Rayeuk B. ”Saya sangat berharap perdamaian di Aceh
akan berlangsung seterusnya dan bahwa program
MGKD akan sangat berhasil,” katanya.
1. Hasan
participating at
FDPL Traning in
Banda Alam, Aceh
kombatan yang secara aktif terlibat dalam pelaksanaan
program MGKD di kecamatan Banda Alam.
Timur.
/
Hasan berpartisipasi
dalam pelatihan
FDPL di Banda
1
2
Alam, Aceh Timur.
2. Hasan working
at UPK Office in
Banda Alam, Aceh
Timur.
/
Hasan bekerja
di kantor UPK di
Banda Alam, Aceh
Timur.
© IOM Indonesia 2008
© IOM Indonesia 2008
62
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Decommissioning
Temporary Living Centres/
Pengosongan Tempat Tinggal Sementara
IOM’s role in the decommissioning process for
Temporary Living Centers (TLCs) for families displaced
by the tsunami is now complete, with less than
600 people left in makeshift barracks in Aceh Besar
and Aceh Barat.
Peran IOM dalam proses pengosongan tempat tingal
sementara telah rampung dengan kurang dari 600
pengungsi internal yang masih tinggal di tempat tinggal
sementara di Aceh Besar dan Aceh Barat.
Proyek dilakukan melalui survei mendalam dari rumah
The project implemented an in-depth house-tohouse survey of the people still in TLCs in 2007 and
has since handed over coordination of the project
to government agencies.
ke rumah atas penghuni yang masih bertahan hingga
2007. Sejak saat itu, koordinasi proyek telah diserah
terimakan ke badan-badan pemerintah.
Faktor-faktor kunci yang menghentikan proses relokasi
Key factors stopping people from relocating were
identified as unsatisfactory new permanent housing
that lacked proper water, sanitation and electricity;
the fact that people’s jobs were closer to the TLCs
than the permanent sites; and a fear among some
residents that while entitled to new housing, they
were not convinced that they would receive it and
were therefore reluctant to move.
diidentifikasi sebagai rumah permanent yang tidak layak
karena kurangnya air bersih, sanistasi dan listrik; tempat
kerja yang lebih dekat ke barak dibanding lokasi-lokasi
permanent; dan kekhawatiran bahwa meskipun mereka
berhak atas bantuan perumahan, namun mereka tidak
yakin bahwa mereka akan menerimanya sehingga
mereka enggan untuk pindah.
Guna mendorong relokasi dari tempat tinggal sementara,,
To promote relocation from TLCs, the project
incorporated several components including:
• Identifying and coordinating with new housing
providers for residents.
• Working with local government, the Aceh
Rehabilitation and Reconstruction agency (BRR),
local communities and residents to encourage
ineligible non-displaced people to leave the sites.
• Repairing or renovating completed houses that
are not up to standard, by providing electricity,
water or sanitation.
• Providing small return assistance packages to
households that cannot afford to move themselves.
proyek ini memiliki beberapa komponen terdiri dari:
• Mengidentifikasi dan berkoordinasi dengan penyedia
perumahan bagi penghuni.
• Bekerjasama dengan pemerintah setempat, Badan
Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR), masyarakat
setempat dan para penghuni untuk mendorong
perpindahan keluarga non pengungsi.
• Memperbaiki atau merenovasi rumah tidak memenuhi
standard dengan menyediakan listrik, air dan sanitasi;
• Memberikan paket bantuan pemulangan kepada
keluarga yang tidak mampu untuk pindah rumah.
Selama proyek berlangsung, IOM membantu lokasilokasi tersebut dengan merawat dan memperbaiki
During the course of the project IOM supported
the sites, maintaining and repairing septic systems,
improving drainage and providing supplies such as
mosquito netting to families waiting for permanent
housing.
sistem
septic,
menyediakan
bagi
meningkatkan
kebutuhan
keluarga-keluarga
seperti
yang
kualitas
kelambu
menanti
drainase,
nyamuk
selesainya
pembangunan rumah masing-masing.
IOM telah berkoordinasi erat dengan pemerintah
IOM coordinated closely with the government
throughout the project, lobbying and advocating on
behalf of displaced families waiting to be re-housed.
Indonesia selama pelaksanaan proyek ini, melobi dan
mewakili keluarga-keluarga yang masih menunggu untuk
menerima rumah.
IOM coordinated
closely with the
government
throughout the
project, lobbying
and advocating
on behalf
of displaced
families waiting
to be re-housed.
/
IOM telah
berkoordinasi erat
dengan pemerintah
Indonesia selama
pelaksanaan proyek
ini, melobi dan
mewakili keluargakeluarga yang masih
menunggu untuk
menerima rumah.
63
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1-4. During
1
the course of
the project IOM
supported the sites,
maintaining and
repairing septic
systems, improving
drainage and
providing supplies
such as mosquito
netting to
families waiting
for permanent
housing.
/
IOM telah
berkoordinasi erat
dengan pemerintah
Indonesia selama
pelaksanaan proyek
ini, melobi dan
mewakili keluargakeluarga yang
masih menunggu
untuk menerima
rumah.ke badanbadan pemerintah.
© IOM Indonesia 2008
2
© IOM Indonesia 2008
3
© IOM Indonesia 2008
4
© IOM Indonesia 2008
64
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
5-8. The project
5
implemented an
in-depth houseto-house survey of
the people still in
TLCs in 2007 and
has since handed
over coordination
of the project
to government
agencies.
/
Proyek dilakukan
melalui survei
mendalam dari
© IOM Indonesia 2008
rumah ke rumah
atas penghuni yang
masih bertahan
6
7
hingga 2007. Sejak
saat itu, koordinasi
proyek telah
diserah terimakan
ke badan-badan
pemerintah.
© IOM Indonesia 2008
© IOM Indonesia 2008
8
© IOM Indonesia 2008
By the Numbers
Temporary Living Centres (TLCs), Aceh
1,839
Households (73.6% of all surveyed) moved out of TLCs into new living situations by the end of the project. /
Keluarga (73.6% dari total survei) yang telah pindah dari TLC ke kehidupan baru pada akhir proyek
660
Households (26.4%) remaining in TLCs at the end of the intervention. /
Keluarga (26.4%) yang masih bertahan di TLC pada akhir intervensi
170
TLCs decommissioned with assistance from IOM. /
Pengosongan TLC dengan bantuan dari IOM
760
Estimated number of internally displaced people moved to permanent housing after barriers to movement addressed. /
Perkiraan jumlah pengungsi yang telah berpindah ke rumah permanen setelah anjuran untuk pindah disampaikan
65
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Regulating Migration/
Menangani Migrasi
66
Counter Trafficking Efforts /
Upaya Penanggulangan Perdagangan Manusia |
78
Technical Cooperation & Capacity Building [ Police Training ] /
Kerjasama Teknis dan Pembangunan Kapasitas [ Pelatihan Polisi ] |
86
Irregular Migration /
Migrasi Gelap |
65
66
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Counter-Trafficking Efforts/
Upaya Penanggulangan Perdagangan Manusia
Overcoming the Trauma of Human Trafficking/
Mengatasi Trauma Perdagangan Manusia
Rasti (not her real name) thought she knew
everything about working overseas, having spent
two years in Singapore. As a relatively self-confident
and career-minded woman with more than
10 years of experience in a service industry, she
wasn’t a wide-eyed naive girl leaving her village
for the first time. Working did not just give her
independence, new skills and broader horizons
– it was also her refuge from a difficult situation at
home.
Setelah tinggal dua tahun di Singapure, Rasti (bukan nama
When an advertisement in the classifieds section
of a local newspaper promised a well-paid job in
Japan, she didn’t hesitate to call the agent’s
number. It was very appealing: working as a karaoke
hostess in Japan, with the equivalent of more
than IDR30 million in tips, on top of a good salary.
Ketika sebuah iklan di sebuah surat kabar lokal menjanjikan
She was also not required to do any preparatory
paperwork – it would all be done for her. Soon she
had landed in Tokyo and traveled to a small town
four hours away, where she was introduced to
a mamasan.
Ia juga tidak diharuskan mengurus dokumen-dokumen
Then the trouble started. She was told that she
owed the agent IDR450 million, which she could
pay off by working as a sex worker for a year.
Effectively enslaved by the ficticious debt, she
began sex work two days after arriving in Japan.
Masalah mulai bermunculan. Ia diberitahu bahwa ia
She counted every client she was forced to
serve. After sleeping with 20 men, some old
Rasti menghitung klien yang ia dipaksa untuk melayani.
sebenarnya) berpikir dia tahu segala hal tentang bekerja
di luar negeri. Sebagai seorang perempuan yang cukup
percaya diri dan mengutamakan karir dengan lebih dari
sepuluh tahun pengalaman disebuah jasa pelayanan, dia
bukanlah seorang gadis lugu yang meninggalkan desa
untuk pertama kalinya. Bekerja tidak hanya memberikanya
kemerdekaan, sejumlah keterampilan baru dan wawasan
yang lebih luas, tapi juga merupakan pelarian dari
kesulitan di kampung halamannya.
sebuah pekerjaan dengan penghasilan tinggi di Jepang,
tanpa ragu-ragu ia menghubungi nomor telepon agen
tersebut. Iklan yang begitu menggoda: jumlah tips yang
setara lebih dari 30 juta rupiah, diluar gaji yang cukup
bagus.
karena semuanya telah disiapkan. Tidak lama setelah
itu, ia telah mendarat di Tokyo dan melanjutkan empat
jam perjalanan menuju sebuah kota kecil dimana ia
dipertemukan dengan seorang mamasan.
berhutang ke agen sebesar 450 juta rupiah yang ia dapat
lunasi dengan bekerja selama setahun sebagai pekerja
seks. Terbelenggu oleh hutang yang fiktif, ia telah memulai
pekerjaan seks dua hari setelah tiba di Jepang.
Setelah melayani 20 laki-laki, beberapa diantaranya cukup
She counted
every client she
was forced to
serve. After
sleeping with 20
men, some old
enough to be
her father, she
decided that she
could not endure
the work and
would escape...
/
Rasti menghitung
klien yang ia dipaksa
untuk melayani.
Setelah melayani 20
laki-laki, beberapa
diantaranya cukup
tua untuk menjadi
bapak baginya, ia
memutuskan bahwa
ia tidak lagi tahan
atas pekerjaan dan
akan melarikan diri...
67
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1-4. Through
1
cooperation
with government
and civil society
partners since
March 2005, IOM
Indonesia has
supported over
3,200 Indonesian
trafficked persons
with assistance
including return,
recovery and
reintegration.
/
Melalui kerja sama
dengan pemerintah
dan mitramitra organisasi
kemasyarakatan
sejak Maret 2005,
lebih dari 3.200
warga negara
Indonesia yang
diperdagangkan
telah dibantu IOM
Indonesia termasuk
pemulangan,
pemulihan dan
reintegrasi.
© IOM Indonesia 2008
2
© IOM Indonesia 2008
3
© IOM Indonesia 2008
4
© IOM Indonesia 2008
68
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
enough to be her father, she decided that she
could not endure the work and would escape,
despite threats from the mamasan that if she
tried to get away, Yazuka gangsters would come
after her and torture her.
tua untuk menjadi bapak baginya, ia memutuskan bahwa
Eventually she devised an escape plan with
another Indonesian woman and was rescued
by the police. The police then referred both
women to the Indonesian embassy, who in turn
referred them to IOM Japan.
Akhirnya Rasti secara hati-hati mewujudkan rencana
IOM Japan notified IOM Indonesia, offered support
and helped the women to return home. On arrival
IOM counter trafficking staff met them and took
them to the Recovery Center for victims of
trafficking at the National Police Hospital.
IOM Jepang memberitahu IOM Indonesia, menawarkan
The Center provided a thorough medical check
and psychosocial counseling in a friendly
atmosphere. There she shared her hopes and
fears with IOM staff. Clearly still traumatized by
her experience, she said she didn’t want to work
overseas again. But if possible, she did would like
to train as a hairstylist and, hopefully, one day
start her own salon.
Pusat ini menyediakan pemeriksaan kesehatan menyeluruh
IOM encouraged her and referred her to a local
NGO partner, which monitored her progress as
she enrolled in a hairstyling course. She obtained
a certificate and volunteered to help at IOM’s
trafficked victims’ center, where she taught
beauty salon skills to other victims, shared stories
and gave them hope. “Move on. There is still so much
more in life,” she told them. Now, realizing her dream,
she is back in her hometown and running her own
salon.
IOM mendorong keinginannya itu dengan mengarahkannya
ia tidak lagi tahan atas pekerjaan dan akan melarikan
diri, meskipun ancaman mamasan mengatakan bahwa
kelompok Yakuza akan menangkap dan menyiksa dirinya
bila ia berusaha melarikan diri.
pelarian diri bersama seorang perempuan dari Indonesia
dan diselamatkan oleh pihak kepolisian. Polisi langsung
membawa keduanya ke kedutaan besar Indonesia yang
kemudian menyerahkan ke IOM Jepang.
dukungan
dan
membantu
keduanya
kembali
ke
Indonesia. Setibanya di Indonesia, staff counter trafficking
IOM menemui mereka dan membawa mereka ke pusat
pemulihan korban traffiking di Rumah Sakit Polri.
dan bimbingan psychosocial di lingkungan yang bersahabat.
Di tempat ini dengan staf IOM, ia berbagi cerita tentang
harapan dan ketakutannya. Sangat jelas ia masih trauma
atas pengalamannya tersebut, ia mengatakan ia tidak akan
bekerja di luar negeri lagi. Namun bila memungkinkan, ia
berkeinginan untuk berlatih menjadi penata rambut dan
berharap suatu saat nanti ia bisa memiliki sebuah salon.
ke mitra NGO lokal, yang memonitor perkembangannya
setelah ia mendaftarkan diri ke sebuah pelatihan penata
rambut. Ia kini telah mengantongi ijazah dan secara
sukarela membantu di pusat pemulihan korban traffiking
IOM, dimana ia mengajarkan sejumlah keterampilan
kecantikan ke korban-korban yang lain, berbagi cerita
dan memberikan harapan. “Maju. Hidup ini begitu kaya,”
ujarnya. Kini impiannya terwujud, ia kembali di kampung
halamannya dan memiliki salon pribadi.
69
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1-4. In 2008 IOM
1
has been an active
partner alongside
other agencies
in providing
technical
assistance
to define the
framework for
applying the
legislation at local
and national
levels.
/
Pada 2008 IOM
telah menjadi mitra
aktif dengan
organisasiorganisasi
lain dalam
menyediakan
bantuan teknis
dalam menyiapkan
kerangka kerja
untuk mengaplikasi
undang-undang
pada tingkat lokal
dan nasional.
© IOM Indonesia 2008
2
© IOM Indonesia 2008
3
© IOM Indonesia 2008
4
© IOM Indonesia 2008
70
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Counter Trafficking Unit
Following the passage of its Anti-Trafficking
Law in 2007, the government and civil society
organizations have been working to lay the
ground work for successful implementation of
the law. Since 2003, IOM has been actively engaged
with many of its components, including prevention,
criminal justice and victim assistance.
Unit Penanggulangan Perdagangan
Orang
Setelah disahkannya undang-undang anti perdagangan
orang pada 2007, pemerintah dan organisasi-organisasi
kemasyarakatan
telah
bekerja
untuk
memastikan
keberhasilan dari pelaksanaan undang-undang tersebut.
Sejak 2003, IOM telah secara aktif terlibat dengan banyak
komponen
dari
elemen-elemen
tersebut,
termasuk
pencegahan, pengadilan kejahatan dan bantuan untuk
In 2008 IOM has been an active partner alongside
other agencies in providing technical assistance to
define the framework for applying the legislation
at local and national levels. It has supported
Indonesia’s implementation of the law to prevent
trafficking, to prosecute traffickers, and to protect
victims.
korban.
Pada 2008 IOM telah menjadi mitra aktif dengan
organisasi-organisasi lain dalam menyediakan bantuan teknis
dalam menyiapkan kerangka kerja untuk mengaplikasi
undang-undang pada tingkat lokal dan nasional. Sejauh ini
telah membantu Indonesia dalam melaksanakan undangundang untuk mencegah perdagangan orang, untuk
Technical Support for
Government and NGO Partners
Based on its years of experience in Indonesia, IOM’s
Counter Trafficking Unit has notably provided
technical support to government partners. During
2008, the government has worked on finalizing
Standard Operating Procedures, Minimal Standards
of Assistance, a National Plan of Action on Trafficking
in Persons, and similar efforts to embed counter
trafficking thinking in national legislation and local
planning.
menghukum para pedagang orang dan untuk melindungi
korban.
Bantuan Teknis untuk Pemerintah dan
Mitra NGO
Melihat pengalamannya di Indonesia, unit penanggulangan
perdagangan orang IOM secara khusus telah memberikan
dukungan teknis untuk mitra-mitra pemerintah. Selama
2008, pemerintah telah bekerja untuk menyelesaikan
Standar Prosedur Operasional, Standar Minimal Bantuan,
dan sebuah rencana kerja aksi nasional tentang perdagangan
orang, dan usaha-usaha serupa untuk memasukkan
IOM staff are involved with inter-agency efforts to
provide coordinated technical support on standards,
enhanced mechanisms to better meet challenges,
and increased coordination between district,
provincial, and national efforts.
pemikiran tentang perdagangan orang pada lembaga
legislatif nasional dan lokal.
Staff IOM terlibat dalam usaha antar organisasi untuk
memberikan dukungan teknis yang terkordinasi sesuai
standar, meningkatkan mekanisme dalam menghadapi
In addition, IOM has helped over 80 partners from
its extensive NGO and faith-based organization
network to attend various public hearings and
discussions on government documents and
legislation. Their involvement has enhanced civil
society participation and provides an opportunity
for direct NGO experience from the field to be
heard by central and local government officials.
tantangan-tantangan dan meningkatkan koordinasi di
tingkat kabupaten, propinsi dan nasional.
Lebih jauh lagi, IOM telah membantu 80 mitra NGO
dan jaringan organisasi keagamaan untuk mengikuti
beragam kegiatan dengar pendapat dan diskusidiskusi tentang keputusan-keputusan pemerintah dan
legislatif. Keterlibatan mereka telah meningkatkan
partisipasi masyarakat madani dan memberikan sebuah
Assistance for Trafficked Persons
Direct assistance to trafficked persons has continued
to be a central focus for IOM Indonesia, particularly
in the medical and psycho-social help. In addition
to supporting individuals at the IOM Recovery
Center at the Jakarta National Police Hospital, IOM
continues to build the capacity of government
medical staff to harmonize services for victims as
mandated under Indonesian law.
kesempatan untuk bagi para pejabat pemerintah untuk
mendengar langsung pengalaman dari para NGO.
Bantuan bagi Korban Perdagangan
Bantuan
langsung
bagi
orang-orang
yang
pernah
diperdagangkan telah menjadi perhatian utama IOM
Indonesia, khususnya bantuan dalam bidang medis dan
psikososial. Selain memberikan bantuan ke setiap korban di
RS Polri, IOM terus memberikan pelatihan bagi staff medis
Direct assistance
to trafficked
persons has
continued to
be a central
focus for IOM
Indonesia,
particularly in
the medical and
psycho-social
help.
/
Bantuan langsung
bagi orang-orang
yang pernah
diperdagangkan telah
menjadi perhatian
utama IOM Indonesia,
khususnya bantuan
dalam bidang medis
dan psikososial.
71
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Through cooperation with government and civil
society partners since March 2005, IOM Indonesia has
supported over 3,200 Indonesian trafficked persons
with assistance including return, recovery and
reintegration.
pemeritah untuk menyelaraskan pelayanan-pelayannya
atas korban-korban sesuai mandat hukum Indonesia.
Melalui kerja sama dengan pemerintah dan mitra-mitra
organisasi kemasyarakatan sejak Maret 2005, lebih dari
3.200 warga negara Indonesia yang diperdagangkan telah
In 2008, IOM focused on provision of medical and
psycho-social support for trafficked persons, largely
based out of the Jakarta Recovery Center. In addition,
IOM continues working with government medical
staff from multiple ministries who provide services
for trafficked persons to coordinate assistance as well
as enhance capacity.
dibantu IOM Indonesia termasuk pemulangan, pemulihan
dan reintegrasi.
Pada 2008, IOM secara khusus menyediakan dukungan
medis dan psikososial bagi korban perdagangan orang, yang
terpusat di Pusat Pemulihan Jakarta. Selain itu, IOM terus
bekerja sama dengan staff medis pemerintah yang berasal
dari sejumlah departemen yang menyediakan pelayananpelayanan bagi korban perdagangan dalam rangka
Criminal Justice and Labour
Trafficking
IOM Indonesia has responded to labour trafficking in
the region by re-launching programming to increase
the capacity of the criminal justice system. According
to data collected from IOM beneficiaries, around
70% of trafficked persons assisted were trafficked
for domestic work. The US Department of State’s
GTIP office has provided support for IOM to build
upon three years of expertise in this field since 2004.
mengkoordinasikan bantuan sekaligus meningkatakan
kapasitas.
Peradilan dan Perdagangan Orang
IOM Indonesia menanggapi perdagangan orang dengan
kembali meluncurkan program untuk meningkatkan
kapasitas sistem peradilan. Berdasarkan data dari penerima
bantuan IOM, sekitar 70 persen korban perdagangan yang
dibantu, diperdagangkan sebagai pembantu rumah tangga.
Pemerintah Amerika dalam hal ini kantor untuk memerangi
In addition to revising user-friendly guidelines created
during previous programming, IOM is carrying out
coordination trainings in 2008 and 2009 between
criminal justice and labour agencies in key sending
areas for migrant workers.
perdagangan orang, telah mendukung IOM dalam bidang
ini selama tiga tahun sejak 2004.
Selain memperbaiki memperbaiki garis pedoman yang
dibuat pada program sebelumnya, IOM juga mengkoordinasi
pelatihan-pelatihan pada 2008 dan 2009 yang meliputi sistem
Additionally, social service agencies have joined the
trainings to enhance the referral network that is vital
for delivery of necessary services and protection
for trafficked persons. A fund to support trafficked
persons through the criminal justice process also
simultaneously provides direct support for victims as
well as capacity building for service providers.
peradilan dan lembaga-lembaga tenaga kerja.
Lebih jauh lagi, lembaga-lembaga sosial juga mengikuti
pelatihan-pelatihan tersebut untuk menambah jaringan
rujukan mengingat pentingnya pelayanan dan perlindungan
bagi korban-korban perdagangan. Dana untuk mebantu
koran-korban perdangan melalui sistem peradilan yang
juga bantuan langsung bagi korban merupakan bentuk
To further entrench training and awareness of
the law, IOM works with criminal justice agencies to
create training materials for police and prosecutors.
As IOM focuses on the sustainability of its services,
the curriculum developed in partnership with the
training institutions, will long outlive the actual
funded life of the programme.
pembangunan kapasitas bagi para penyedia jasa.
Dalam rangka memperdalam pelatihan dan pemahaman
hukum, IOM berkerjasama dengan lembaga-lembaga hukum
untuk membuat materi-materi pelatihan bagi kepolisian dan
jaksa. Dengan pemikiran kesinambungan program ini, IOM
bersama lembaga-lembaga pelatihan mengembangkan
kurikulum yang akan bertahan lama dan mandiri.
As with all of IOM’s counter trafficking activities,
protection of victims is an underlying theme
throughout the guidelines, trainings and curriculum.
IOM seeks to increase prosecutions through
capacity building and training, and to increase the
participation of consenting victims in the legal
process.
Sejalan dengan aktifitas penanggulangan perdagangan
manusia IOM, perlindungan korban adalah tema utama
diseluruh pedoman, pelatihan-pelatihan dan kurikulum. IOM
mencoba meningkatkan peradilan melalui pembangunan
kapasitas dan pelain, dan untuk meningkatkan kesukarelaan
korban untuk berpartisipasi dalam proses hukum.
72
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
By the Numbers
(March 2005 - October 2008)
A. General Information of VoTs
Sex /
Jenis Kelamin
Age of VoTs / Usia Korban Trafficking
Children / Anak-anak
Infant / Bayi
%
Adults / Dewasa
Total
Female / Perempuan
5
666
2,202
2,873
89.17%
Male / Laki-laki
0
142
207
349
10.83%
Total
5
808
2,409
3,222
100%
Province Origin/
Total
%
Destination Where VoTs
were Trafficked/
Propinsi Asal
Total
%
Negara Tujuan dimana Korban
Trafficking di Perdagangkan
West Kalimantan/
Kalimantan Barat
709
22%
West Java/ Jawa Barat
682
21.17%
Malaysia/ Malaysia
2,432
75.49%
613
19.03%
East Java/ Jawa Timur
400
12.41%
Indonesia/ Indonesia
Central Java/ Jawa Tengah
352
10.92%
Saudi Arabia/ Saudia Arabia
60
1.86%
North Sumatera/
Sumatera Utara
221
6.86%
Singapore/ Singapura
27
0.84%
Japan/ Jepang
27
0.84%
West Nusa Tenggara/ Nusa
Tenggara Barat
220
6.83%
Syria/ Siria
12
0.37%
Lampung/ Lampung
158
4.9%
Kuwait/ Kuwait
East Nusa Tenggara/
Nusa Tenggara Timur
129
4%
South Sumatera/
Sumatera Selatan
66
2.05%
Banten/ Banten
66
2.05%
South Sulawesi/
Sulawesi Selatan
56
1.74%
Others/ Lainnya
Forms of Exploitation /
44
1.37%
119
3.7%
3,222
Total
100%
%
Jenis Eksploitasi
Domestic Worker /
Pramuwisma
0.31%
7
0.21%
Iraq/ Irak
7
0.21%
27
0.84%
3,222
100%
Others/ Lainnya
Total
DKI Jakarta/ DKI Jakarta
Total
10
Mauritius/ Mauritius
Type of Direct Assistance Provided to VoTs/
Frequency/
Jenis Bantuan Langsung yang Diberikan kepada
Korban Trafficking
Frekuensi
Health services / Pelayanan kesehatan
2,960
General psychosocial counselling /
Konsul psikososial umum
3,222
Psychological assessment / Assessment psikologis
2,212
Psychiatric care / Perawatan psikiatrik
1,765
54.78%
Assisted return / Bantuan pemulangan
Reintegration assistance / Bantuan reintegrasi*
Sex Worker / Pekerja Seks
506
15.7%
Other / Lainnya
392
12.17%
Plantation Worker / Buruh Tani
170
5.28%
Waitress / Pramusaji
86
2.67%
Construction or Labourer /
Pekerja Konstruksi atau Buruh
73
2.26%
Shopkeeper / Penjaga Toko
68
2.11%
Factory Worker / Buruh Pabrik
66
2.05%
Nanny or Babysitter /
Pengasuh Anak
53
Fisherman / Nelayan
255
3,222
see below
Breakdown of Reintegration Assistance/
Frequency/
Jenis Bantuan Reintegrasi
Frekuensi
Follow up counselling services/
Pelayanan konseling lanjutan
1,265
Small business assistance/
Bantuan usaha kecil
677
Follow up transportation assistance/
Bantuan transportasi lanjutan
794
1.64%
Follow up medical care/
Bantuan kesehatan lanjutan
355
Education assistance/
Bantuan pendidikan
158
Non-formal education assistance/
Bantuan pendidikan non-formal
254
17
0.53%
Beggar / Pengemis
6
0.19%
Masseuse / Tukang Pijat
6
0.19%
Scavenger / Pemulung
6
0.19%
5
0.15%
Legal assistance/
Bantuan pendampingan hukum
94
Baby Selling /
Perdagangan Bayi
3
0.09%
Credit Union enrollment /
Bantuan pengikutsertaan pada koperasi simpan pinjam
39
Cultural Dancer /
Penari Tradisional
3,222
100%
Refuse any type of reintegration support/
Menolak semua jenis bantuan reintegrasi
Total
215
73
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
B. Medical and Psychological Data
Most Common Medical Diagnoses /
Total
Diagnosa Medis yang Paling Sering Umum Dijumpai
Anemia / Anemia
568
Reproductive Tract Inf / Infeksi Saluran Reproduksi
533
Dental Caries / Karies dentis
520
Urinary Tract Inf / Infeksi Saluran Kencing
504
Candidiasis / Kandidiasis
428
Dyspepsia / Dispepsia
257
Headache / Sefalgia (sakit kepala)
224
Other Respiratory Dis / Gangguan pernafasan lainnya
170
Refraction Dis / Gangguan refraksi
153
Hypotension / Hipotensi
149
Skin parasite & Dermatitis / Infestasi parasit pada kulit dan dermatitis
118
Menstrual Cycle Dis / Gangguan siklus menstruasi
106
Physical Trauma / Trauma fisik
79
Tuberculosis / Tuberkulosis
29
Results of Psychological Assessment / Hasil Pengkajian Psikologis
Proportion of Positive STI
Results Based on Total
Tested /
%
Proportion of Positive STI Results Based
on Total Tested
Chlamydia /
Klamidia
70.5
Gonorrhea /
Gonorhea
5.8
Trichomoniasis /
Trikomoniasis
4.4
Hepatitis B /
Hepatitis B
3.9
Syphilis /
Sifilis
2.9
Genital wart /
Kondiloma akuminata
1.6
HIV Positive /
HIV positif
1.4
Adult / Dewasa %
(n=1,747)
Child / Anak-anak %
(n=465)
Post traumatic stress symptoms / Gelaja stres paska trauma
30
20
Depression symptoms / Gejala depresi
81
72
Psychiatric problems / Masalah psikiatrik
12
11
Anxiety symptoms / Gejala cemas (atau ansietas)
62
55
Excessive use of alcohol / Penggunaan alkohol berlebih
5
9
Excessive use of drugs / Penggunaan obat-obatan berlebih
3
7
Excessive use of smoking / Merokok berlebihan
4
11
10
8
Suicidal ideations/ plans/ attempts / Ide/ rencana/ upaya bunuh diri
8
10
No psychological problem / Tidak terdapat masalah psikologis
7
14
Low self esteem / Tingkat kepercayaan diri yg rendah
Results of Psychiatric Assessment / Hasil Pengkajian Psikiatrik
Category / Kategori
All RC / All RC
Frequency
/ Frekuensi
%
Organic, including symptomatic, mental disorder /
Gangguan jiwa organik, termasuk simptomatik
8
3.1
Mental and behavioural disorders due to psychoactive substance use /
Gangguan jiwa dan perilaku akibat penggunaan substansi psikoaktif
2
0.8
Schizophrenia, Schizotypal and delusional disorders /
Skizofrenis, gangguan skizotipal dan gangguan waham
83
32.6
Affective disorders, depressive disorder, bipolar affective disorders, manic disorders /
Gangguan afektif, gangguan depresi, gangguan afektif bipolar, gangguan manik
76
29.8
Neurotic, stress-related and somatoform disorders /
Neurosis, gangguan berkaitan dengan stres dan gangguan somatoform
78
30.6
Mental retardation /
Retardasi mental
3
1.2
Behavioural and emotional disorders with onset usually occurring in childhood and adolescence /
Gangguan perilaku dan emosi dengan onset pada masa anak dan remaja
5
1.9
255
100
Total
74
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Success Story/
Cerita Sukses
IOM’s Counter Trafficking Unit has worked closely
with the Indonesian government and civil society
to enhance health services provided for trafficked
persons. Regardless of the type of trafficking,
the level of exploitation experienced through
trafficking is often extreme, often causing physical
and mental health complications.
Unit Counter Trafficking IOM telah bekerjasama secara erat
Throughout its comprehensive return, recovery
and reintegration activities carried out since 2005,
IOM has provided medical and psycho-social
assistance, while building the capacity of local
service providers. As with other direct assistance,
IOM aims to lessen its direct role while building
and increasing the services of government and
NGO providers.
Kegiatan pelayanan menyeluruh seperti pemulangan,
Through provision of recovery services to over
3,200 Indonesian trafficked persons, IOM
Indonesia has worked alongside local and national
health officials, medical NGOs, and multiple
government bodies including police hospitals,
the Ministry of Health and the Ministry of Social
Affairs.
Melalui penyediaan pelayanan pemulihan atas 3.200
To enhance the quality of services and a wider
understanding of trafficking versus other forms
of violence and patient-centered care, IOM has
facilitated multiple training programmes for
government health officials.
Dalam usahanya meningkatkan kualitas pelayanan dan
dengan pemerintah dan organisasi kemasyarakatan untuk
meningkatkan pelayanan-pelayanan kesehatan bagi korban
perdagangan manusia. Terlepas dari bentuk perdagangan
tersebut, tingkat exploitasi yang dialami selama proses
perdagangan itu sering terbilang ekstrem dan tidak jarang
menyebabkan komplikasi pada kesehatan fisik maupun mental.
pemulihan dan reintergrasi telah dilakukan sejak 2005,
IOM tidak hanya menyediakan bantuan pelayanan medis
dan psikososial, tapi juga membangun kapasitas para
penyedia layanan. Seiring dengan dukungannya yang
lain, IOM berkeinginan mengurangi peran langsungnya
dengan membangun dan meningkatkan kapasitas pelayanan
dari pemerintah dan NGO.
korban
perdagangan
manusia
di
Indonesia,
IOM
Indonesia telah menjalin kerjasama yang amat produktif
dengan pejabat kesehatan lokal dan national, NGO yang
bergerak di bidang kesehatan, dan sejumlah badan pemerintah
termasuk rumah sakit-rumah sakit Polri, Departemen
Kesehatan dan Departemen Sosial.
pemahaman yang lebih luas tentang perdagangan manusia
dan bentuk lain dari kekerasan, serta perawatan yang
berpusat pada pasien, IOM telah memfasilitasi banyak
program pelatihan untuk pejabat kesehatan pemerintah.
To enhance
the quality
of services
and a wider
understanding
of trafficking
versus other
forms of
violence and
patient-centered
care, IOM has
facilitated
multiple
training
programmes
for government
health officials.
75
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
/ Dalam usahanya
meningkatkan
kualitas pelayanan
dan pemahaman
yang lebih
luas tentang
perdagangan
manusia dan bentuk
lain dari kekerasan,
serta perawatan
yang berpusat
pada pasien, IOM
telah memfasilitasi
banyak program
pelatihan untuk
pejabat kesehatan
pemerintah.
To refresh the knowledge of medical staff from the
Police Hospital, Department of Social Affairs and
BNP2TKI’s Registration Center at the Jakarta airport
for returning migrant workers, IOM medical staff
teamed up with Police Hospital staff to provide
refresher training for 25 physicians and nurses in
October 2008.
Untuk
menyegarkan
kembali
pengetahuan
dan
Another important focus of the training is to
encourage strong case management, including
comprehensive
health
assessments,
record
keeping, special considerations for children
and mental health assistance. The training also
provides an opportunity for health practitioners
from different agencies to discuss the challenges
of assistance provision, as well as how to enhance
their coordination.
Sebuh fokus penting dari pelatihan adalah untuk
Training materials are based on IOM’s worldwide
standards and experience in Indonesia, and are
consistent with the global UN.GIFT Guidelines for
Health Providers on Trafficking in Persons, drafted
in 2008, to which IOM Indonesia medical staff
contributed.
Materi pelatihan didasarkan pada standar internasional
In the coming year, IOM will continue providing
medical assistance to victims of trafficking, training
to Indonesian medical practitioners and technical
assistance for government partners on further
integrating medical recovery under Indonesian law.
Pada tahun mendatang, IOM akan terus memberikan
meningkatkan kemampuan pelayanan staf di rumah
sakit Polri, Departemen Sosial, BNP2TKI di bandar udara
Jakarta, staff kesehatan IOM bekerja sama dengan staff
rumah sakit Polri telah memberikan pelatihan penyegaran
bagi 25 tenaga kesehatan dan perawat pad Oktober
2008.
mendorong manajemen kasus, termasuk pemeriksaan
kesehatan menyeluruh, pencatatan, bantuan kesehatan
khusus bagi anak-anak dan bantuan kesehatan mental.
Pelatihan tersebut tidak hanya memberikan kesempatan
bagi para praktisi kesehatan dari berbagai organisasi
untuk
berdiskusi
tentang
tantangan-tantangan
dalam penyediaan bantuan, namun juga bagaimana
meningkatkan koordinasi.
yang dianut IOM dan pengalaman-pengalaman nyata
di Indonesia yang juga sejalan dengan pedoman global
UN.GIFT bagi para penyelenggara pelayanan kesehatan
atas korban perdagangan yang disusun pada 2008
dimana staf medis IOM Indonesia terlibat di dalamnya.
bantuan kesehatan bagi korban perdagangan, pelatihan
bagi praktisi kesehatan Indonesia dan bantuan teknis
untuk mitra-mitra pemerintah dalam usaha menyatukan
pemulihan kesehatan dibawah hukum Indonesia.
76
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Bring Back the Sight /
Mengembalikan Penglihatan
Reni was offered a job in Hong Kong as domestic
worker. Before she left, she was required to pay
US$27 to a recruitment agent and US$50 for
a passport. She was then taken to work at the
agent’s house while her travel documents were
processed. However, she was not paid for her
labour and was prohibited from leaving the home
during the three months she spent there.
Reni ditawari kerja sebagai pembantu rumah tangga
di Hongkong. Sebelum dia pergi, dia harus membayar
AS$27 kepada agen tenaga kerja dan AS$50 untuk
membuat paspor. Sementara menunggu dokumen
perjalanannya diproses, Reni kemudian dibawa untuk
diperkerjakan di rumah agendipindahkan ke rumah
agen. Namun, ia tidak dibayar atas pekerjaannya dan
dilarang meninggalkan rumah selama tiga bulan ia
tingal di sana.
When she finally arrived in Hong Kong, a local
labour agency, Helper Inc, placed her in a home
for four months and then located a more desirable
long-term position with a man named Mr. Wu. It
was here that Reni’s two-year nightmare began.
Ketika akhirnya ia tiba di Hong Kong, sebuah agen
tenaga kerja setempat, Helper Inc, menempatkannya di
sebuah rumah selama empat bulan hingga kemudian
mendapatkan kontrak jangka panjang yang menjanjikan
dengan seorang bernama Mr.Wu. Disinilah dua tahun
In addition to assisting Wu’s his immediate family,
Reni was also worked for his mother and brothers,
18-hour days cooking and cleaning that began at
6 am. Her determination to build a better life for
her young daughter in East Java saw her through
the first year of her contract. Every month, Wu
brought Reni to a bank where he withdrew her
monthly HKD 2,220 salary (roughly US$300.00)
but she never saw the money. Her employer, who
held her passport and other documents, claimed
the full amount of her salary was being used to
pay for her travel papers, clothes and food.
mimpi buruk Reni mulai.
Selain bekerja untuk keluarga Wu, Rami juga bekerja untuk
ibu dan kakak-kakak Mr. Wu, setiap hari selama 18 jam
memasak dan mencucui yang dimulai jam 06.00 pagi.
Keingingan untuk
membangun kehidupan yang lebih
baik bagi putrinya di Jawa Timur mendorongnya bekerja
hingga akhir kontrak pada tahun pertamannya. Setiap
bulannya, Wu mengajak Reni ke bank untuk mengambil
gajinya yang sebesar 2200 dolar Hong Kong (sekitar
300 dolar Amerika) namun ia tidak pernah menerima uang
tersebut. Majikannya yang memegan paspor dan dokumen
lainnya, mengatakan bahwa jumlah keseluruhan gajinya
The situation went from bad to worse when
Wulearned Reni had written a letter to family in
Indonesia informing them of her position. Her
enraged employer beat Reni and threatened to turn
her over to the police should she ever write to her
family again.
telah digunakan untuk membayar biaya perjalanan,
dokumen, pakaian-pakaian dan makanan.
Keadaan ini semakin memburuk ketikan Wu mengatahui
bahwa Reni telah menulis surat ke keluarganya di Indonesia
yang menjelaskan keadaannya. Majikannya yang marah
memukul dan mengancam akan melaporkannya ke polisi
All contact with her small circle of friends was
prohibited through the second year of her
contract, which was marked by regular assaults and
humiliations. Reni related later that she was often
forced to eat garbage, drink soapy water and was
threatened with being locked in a coffin, or dumped
penniless in rural Chinese to fend for herself.
bila ia kembali menulis surat ke keluarganya lagi.
Semua bentuk komunikasi dengan teman-temannya
dilarang selama tahun kedua kontraknya yang juga
ditandai dengan siksaan dan penghinaan yang semakin
sering terjadi. Reni pun masih ingat ketika ia dipaksa untuk
memakan sampah, meminum air sabun dan diancam
77
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
“The reason why I got beaten up because Mr. Wu
has a serious legal problem,” she later told IOM.
“He took it out on me. No matter what I did, I would
always got beaten up.”
akan dimasukan ke peti mati dan dikirim ke China jika
dia melawan.
“Saya disiksa Mr. Wu, karena dia punya masalah serius
dengan
Wu’s assaults – he beat her with shoes and sandals,
often slamming her head into the wall – began
to take their toll on Reni’s eyes in particular. Her
vision began to blur until she could not see clearly.
She became forgetful and slow to respond to
questions. Her health declined so noticeably that
Wu ultimately dumped Reni at the airport in
Hong Kong with no money and a airline ticket to
Indonesia.
pihak
berwajib.
Karena
kesal,
dia
selalu
melampiaskannya ke saya. Apapun yang saya lakukan
pasti dianggap salah, dan saya selalu disiksa karenanya.”
Siksaan Wu seperti pemukulan menggunakan sepatu dan
sandal, dan seringkali membenturkan kepalanya ke dinding
mulai menunjukkan akibatnya, tertutama pada mata Reni.
Penglihatannya mulai kabur hingga akhirnya ia tidka bisa
lagi melihat jelash. Ia mulai menjadi pelupa dan bereaksi
lambat atas pertanyaan-pertanyaan. Kondisi kesehatannya
menurut drastis hingga Wu akhirnya meninggalkan Reni di
The airline staff was never informed about the low
vision that she had. Before departing, Reni was
forced to sign a 6-page paper which she didn’t
know what was written there. She was threatened
that she should no longer work in Hong Kong.
bandar udara di Hong Kong tampa uang dan sebuah tiket
untuk kembali ke Indonesia.
Staff dari maskapai penerbangan tidak diberitahu tentang
kondisi penglihatannya. Namun sebelum berangkat, Reni
dipaksa menandatangani enam lembar kerjtas yang dia
On arrival at Jakarta ‘s Soekarno-Hatta airport Reni
was escorted by a sympathetic migrant labour
inspector to the airport’s dedicated terminal for
returning overseas migrant workers where she was
referred to IOM’s recovery center at Kramat Jati
Police Hospital.
sendiri tidak tahu apa yang tertulis di dalamnya. Ia diancam
bahwa dia tidak boleh lagi bekerja di Hong Kong.
Setibanya di Bandar udara Soekarno-Hatta di Jakarta, Reni
didampingi oleh seorang staf yang ramah menuju terminal
yang khusus disediakan bagi pekerja Indonesia yang bekerja
di luar negeri. Ia kemudian dirujuk ke Pusat Pemulihan
There IOM’s staffers provided Reni medical
assistance, counseling and psychosocial treatment.
She was educated about human trafficking,
reproductive health, and safe migration practices.
Her father was contacted and managed to visit her
at the Recovery Center.
Terpadu IOM di Rumah Sakit Polri.
Staf multi disipliner IOM memberikan pelayanan medis
dan psikologis berupa konseling dan psikososial untuk
Reni. Dia juga menerima informasi tentang Perdagangan
Orang, Kesehatan Reproduksi dan Pesan Bermigrasi Aman.
Ayahnya datang menjenguknya di Rumah Sakit.
When she got better, she was escorted home to
East Java to join the rest of her family. She
continued receiving assistance from IOM’s NGO
partner to ensure her full recovery. With treatment,
Reni’s vision gradually improved and she now
lives with her young daughter and extended
family.
Ketika dia sudah membaik, dia lalu didampingi pulang ke
rumah untuk bertemu keluarga besarnya. Sepulangnya,
Reni masih menerika bantuan dari IOM melalui mitra
LSMnya untuk memastikan pemulihan yang sempurna.
Dengan perawatan, penglihatan Reni membaik dan ia kini
tinggal bersana putri dan keluarga besarnya.
78
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Technical Cooperation & Capacity
Building [ Police Training ] /
Kerjasama Teknis dan Pembangunan Kapasitas
[ Pelatihan Polisi ]
INP Consults With NGOs on Community Policing Law Draft /
Polri Diskusi Draft Perkap Polmas dengan Lembaga Swadaya Masyarakat
Indonesian National Police (INP) Law Division
Head Inspector General Aryanto Sutadi met with
representatives of 15 NGOs focusing on security
sector reform in September 2008 to obtain input for
the transformation of the “Kapolri Decree 737” into
the new “Kapolri Law on Community Policing Draft”.
Kepala Divisi Pembinaan Hukum (Kadiv Binkum)
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) Inspektur Jeneral
Aryanto Sutadi berkonsultasi dengan perwakilan dari
15 LSM. Pembicaraan yang berfokus reformasi sektor
keamanan pada 12 September 2008 ditujukan untuk
menggalang masukan dalam merevisi ”Skep Kapolri
737” menjadi ”Peraturan Kapolri tentang Polmas (Perkap
The discussion, facilitated by IOM and Partnership
for Governance Reform, was the first time the INP
and civil society have came together to share their
views on a law which will impact on everyone’s lives
and is an indication of ongoing reform underway in
the INP.
Polmas)”.
Diskusi ini merupakan indikasi penting atas itikad Polri
untuk reformasi. Dimana untuk pertama kalinya Polri
dan masyarakat sipil berdiskusi dan memberikan
pandangan obyektif bagi sistem peraturan yang akan
berdampak bagi kehidupan semua orang.
The INP Police Chief (Kapolri) Decree 737 on the
“Implementation of Community Policing Strategy
in INP Duties”, issued in October 2005, is now being
revised to finalize its implementation across the
country by formulating and passing the Kapolri Law
on Community Policing Draft.
Inspektur Jeneral Aryanto Sutadi yang memimpin
proses finalisasi dalam Kelompok Kerja Polmas untuk
menyempurnakan
percepatan
kebijakan-kebijakan
dalam penerapan Polmas, mengungkapkan harapannya
untuk suatu sistem Polmas yang lebih terintegrasi,
menyeluruh, dan aplikatif bagi para wakil LSM dan
Inspector General Aryanto Sutadi, who was assigned
to lead the finalization process on behalf of the INP
hopes the consultation with civil society will result
in a more integrated, holistic, applicable community
policing strategy.
masyarakat sipil.
“Kami (Polri) hendak mengembangkan (Polmas) yang
lebih luas cakupannya namun tetap berdasar pada
Polmas,”
kata
optimalisasi
“We want to develop community policing on a
much wider scale, but we are still at an early stage,”
says Sutadi. “Community policing should not stop
at problem solving, but must also focus on evaluation
and prevention,” he adds.
Sutadi
mengenai
pranat-pranata
penyempurnaan
keamanan
masyarakat
yang sudah ada. “Polmas tidak boleh hanya sebatas
pada penyelesaian masalah, tetapi juga harus terfokus
pada evaluasi dan pencegahan,” tambah Sutadi .
Perwakilan LSM secara positif pada pertemuan ini
The discussion,
facilitated
by IOM and
Partnership
for Governance
Reform, was the
first time the INP
and civil society
have came
together to
share their views
on a law.
/
Diskusi ini merupakan
indikasi penting
atas itikad Polri
untuk reformasi.
Dimana untuk
pertama kalinya
Polri dan masyarakat
sipil berdiskusi
dan memberikan
pandangan
obyektif bagi sistem
peraturan yang akan
berdampak bagi
kehidupan semua
orang.
79
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1. IOM’s
1
contribution helps
the INP to integrate
the principles
and concepts of
community policing
and international
human rights
standards into
its policies and
operational
practices.
/
Kontribusi IOM
membantu Polri
untuk memadukan
prinsip-prinsip
dan konsep-konsep
pemolisian dan
standar-standar
ham internasional
kedalah kebijakankebijakan dan
operasionalnya.
2. An agreement
between the
representatives
of custom board,
police, religious
© IOM Indonesia 2008
leader and local
government on
implementation
of community
2
policing.
/
Kesepakatan
penerapan polmas
oleh perwakilan
lembaga adat,
kepolisian,
tokoh agama,
dan perwakilan
pemerintah.
3. Introduction
of IOM Indonesia
© IOM Indonesia 2008
representatives,
Steve Cook, Sarah
Domingo and
3
the new INP chief
General Bambang
Hendarso Danuri.
/
Perkenalan
perwakilan IOM
Indonesia, Steve
Cook, Sarah
Domingo dan
Kapolri baru Jendral
Polisi Bambang
© IOM Indonesia 2008
Hendarso Danuri
80
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
NGO
representatives
list
several
key
recommendations, including the need for a reward
and punishment system; understanding and
cooperation of other government institutions; and
the clarification of definitions, roles, and
implementation strategies.
mengajukan sejumlah rekomendasi seperti perlunya
sistem penghargaan dan sanksi; pemahaman dan
kerja sama institusi pemerintah lainnya; dan klarifikasi
pengertian, peran, dan strategi penerapan.
“Harus ada suatu sistem penghargaan dan sanksi bagi
semua anggota Polri pada semua tingkat,” ujar Rusdi
“There must be a reward and punishment system
for all INP personnel at all levels if community
policing is to work nationwide,” says Rusdi Marpaung
of the NGO Impartial.
Marpaung dari Imparsial.
Apabila
Marpaung
menekankan
pada
sistem
penghargaan dan sanksi, Ayi Bunyamin dari Praxis
berfokus pada kesalahpahaman akan Polmas dan
Ayi Bunyamin of the NGO Praxis sees some
misunderstanding of community policing and
Community Police Partnership Forums. “Community
Police Partnerships must explain that it is the INP
that participates in the community,” says Bunyamin.
Forum Kemitraan Polisi masyarakat. “Bentuk dari
kemitraan masyarakat-polisi harus diterangkan secara
rinci
untuk
menjelaskan
bahwa
Polri-lah
yang
bekerjasama dengan masyarakat,” kata Bunyamin.
“Harus ada penjelasan yang lebih langsung dan
“There must also be more explanation on what
community policing is and what it is not,” adds
Mufti of the Institute of Defense Security and Peace
Studies (IDSPS).
tegas mengenai apa Polmas dan apa yang bukan
Polmas,” tambah Mufti dari Institut Studi Pertahanan
Keamanan dan Perdamaian (IDSPS) mengenai beberapa
organisasi kemasyarakatan yang pro-kekerasan.
First winner of
community policing
poster competition.
/
Pemenang pertama
lomba poster polmas.
© IOM Indonesia 2008
81
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
He stresses the difficulties opposed by several
violent community organizations and believes that
objective outsiders are needed to evaluate
community policing.
Mufti juga menekankan pentingnya kehadiran suatu
badan indipenden yang obyektif untuk mengevaluasi
penerapan Polmas.
Sampai saat ini IOM telah memfasilitasi pelatihan
To date, over 12,000 police officers in seven provinces
– West Java, East Java, West Kalimantan, Riau Islands,
Jakarta, Bali and Nanggroe Aceh Darussalam
– have been trained in community policing and
human rights facilitated by IOM and funded by
the Royal Netherlands Embassy and the European
Commission.
Polmas dan hak asasi manusia bagi lebih dari 12,000
anggota Polri di tujuh propinsi – Jawa Barat, Jawa
Timur, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Jakarta, Bali,
dan Nanggroe Aceh Darussalam –, dengan dukungan
dana dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, dan
Komisi Eropa.
Sebagai bagian integral dukungannya atas Polri,
As an integral part of its support to the INP, IOM has
facilitated the establishment of over 78 Community
Police Partnership Forums in six provinces in an
effort to ensure greater cooperation between
local law enforcement agencies and members
of the community. Members of the forums are
democratically elected and work closely with local
police to identify and find solutions to law and order
problems.
IOM telah memfasilitasi pembentukan lebih dari
78 Forum Kemitraan Polisi Masyarakat di tujuh
propinsi demi menjamin kerja sama yang lebih baik
antara badan-badan penegakan hukum setempat
dan anggota masyarakat. Anggota forum ini dipilih
secara demokratis dan erat bekerjasama dengan
polisi untuk mengidentifikasi dan mencari solusi
dari
masalah-masalah
keamanan
dan
ketertiban.
First winner of
human rights
poster competition.
/
Pemenang pertama
lomba poster HAM.
© IOM Indonesia 2008
82
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
POLICE REFORM PROGRAMME
PROGRAM REFORMASI POLISI
The success of Phase 1 of IOM’s “Strengthening the
Indonesian National Police through Institution Building”
project encouraged IOM, the Netherlands and the
Indonesian National Police (INP) to launch Phase II of
the programme in October 2007.
Keberhasilan fase I proyek IOM dalam “Penguatan
Kepolisian Republik Indonesia melalui pembangunan
Kapsitas,” telah mendorong IOM, Pemerintah
Kerajaan Belanda, dan Kepolisian Republik Indonesia
(Polri) untuk melanjutkan fase II program ini pada
Oktober 2007.
The aim of both projects has been to support
the implementation of Pemolisian Masyarakat
(Polmas) community policing and the promotion
of human rights.
The second phase of the programme will also
focus on ensuring sustainability and preparing the
transfer of the programme to the INP. It will be an
integral part of the INP reform process, which is in the
process of transforming the INP into a professional,
accountable and effective law enforcement
institution.
IOM’s contribution has helped the INP to integrate
the principles and concepts of community policing
and international human rights standards into its
policies and operational practices.
The programme has now been implemented in the
provinces of West Java, East Java, West Kalimantan,
Riau Islands, Jakarta, Bali, and since August 2006,
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
One of the key activities in the second phase of
the programme has been the successful
introduction of community policing to 505
regional police chiefs – one of the programme’s major
target groups - in late 2007.
IOM has also continued to strengthen the
capacity of the INP’s training institutions to
deliver human rights and community policing
education in a sustainable way, reinforcing the
commitment and capacity of senior officers to pursue
and consolidate the reforms.
IOM has also helped the INP to develop relevant
policies on the implementation of community
policing. It advised the INP on the refinement
of Decree 737 - the INP Chief Regulation
Regarding the Basic Manual on Strategies and
Implementation of Community Policing in the
Performance of INP Duties. This legislation was
officially ratified and signed by the INP Chief and
the Minister of Justice and Human Rights on October
13, 2008.
Tujuan dari keduanya adalah untuk mendukung
pelaksanaan Pemolisian Masyarakat (Polmas) dan
sosialisasi prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM).
Fase kedua program ini akan terfokus pada
kesinambungan proses transfer ke Polri. Program ini
akan menjadi bagian terpadu dari proses transformasi
Polri menjadi sebuah lembaga yang profesional,
terpercaya, dan perangkat hukum yang efektif.
Kontribusi IOM telah membantu Polri untuk
memadukan prinsip-prinsip dan konsep-konsep
pemolisian dan standar-standar ham internasional
kedalah kebijakan-kebijakan dan operasionalnya.
Program tersebut kini telah dilaksanakan di propinsi
Jawa Barat, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau,
Jakarta, Bali dan sejak Agustus 2006, Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD).
Salah satu kegiatan utama yang dilaksanakan
pada tahap kedua program adalah sosialisasi yang
sukses atas 505 Kepala Kesatuan Wilayah – yang
merupakan kelompok target utama proyek ini – pada
akhir 2007.
IOM juga terus melanjutkan penguatan kapasitas
lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan
Polri untuk menyebarkan Polmas dan HAM
secara berkesinambungan dan mandiri, dan
juga memperkuat komitmen dan kapasitas
kepemimpinan Polri tingkat atas dalam mengejar
dan menyatukan upaya-upaya reformasi Polri.
IOM juga membanau Polri dalam pengembangan
kebijakan-kebijakan yang pengimplementasian
Polmas. Kebijakan-kebijakan tersebut memberi
masukan-bagi Polri dalam perevisian Surat
Keputusan (SKEP) 737 menjadi “Peraturan Kapolri
No. 7 Tahun 2008 tentang Pedoman Dasar dan
Strategi dan Implementasi Pemolisian Masyarakat
dalam Penyelenggaraan Tugas Polri”. Keputusan
tersebut yang telah ditandatangani dan disahkan
oleh Kapolri dan Menteri Hukum dan HAM pada
13 Oktober 2008.
One of the key
activities in the
second phase of
the programme
has been the
successful
introduction
of community
policing to
505 regional
police chiefs
– one of the
programme’s
major target
groups - in late
2007.
/
Salah satu kegiatan
utama yang
dilaksanakan pada
tahap kedua program
adalah sosialisasi
yang sukses atas 505
Kepala Kesatuan
Wilayah pada akhir
2007.
83
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
As of September 2008, some 6,809 INP personnel
had undertaken human rights training for law
enforcement officials. A further 816 INP members
are now qualified as human rights trainers. A total
of 6,393 officers have undergone community
policing training, with another 487 now working
as community policing trainers.
Hingga September 2008, sebanyak 6.809 anggota
Polri telah menjalani pelatihan HAM bagi penegak
hukum,. Lebih jauh lagi 816 anggota Polri kini
telah memenuhi persyaratan sebagai pelatih HAM.
Sebanyak 6.393 anggota telah menjalani pelatihan
Polmas, dengan 487 anggota yang kini bertugas
sebagai pelatih Polmas.
Because IOM’s community policing and human
rights training modules are now embedded in the
INP curriculum, which is administered nationwide by
the INP Education and Training Institute (Lemdiklat),
a total of 100,000, or 25 percent of all INP officers
have now been trained in community policing and
human rights. The total will rise to some 200,000
by the end of 2009.
Karena modul pelatihan Polmas dan HAM IOM
kini telah diserap ke dalam kurikulum Polri,
yang dijalankan oleh Lembaga Pendidikan
dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri ,di seluruh
Indonesia,sebanyak 100.000, atau 25 persen dari
seluruh kekuatan Polri telah dilatih Polmasdan
HAM, dengan perkiraan 200.000 akan selesai dilatih
pada akhir 2009.
By the Numbers
6,809
816
201,400
6,393
487
2,522
100,000
78
200,000
(September 2008)
National Police officers trained in human rights /
Anggota Polri telah mengikuti pelatihan HAM bagi penegak hukum
National Police officers trained to become trainers on human rights /
Anggota Polri dilatih menjadi trainer HAM bagi petugas penegak hukum
Human rights and community policing training manuals produced for national police schools (SPN) nationwide /
Manual pelatihan HAM dan Polmas dicetak dan disebarluaskan ke SPN seluruh Indonesia
Police officers trained in community policing /
Anggota Polri telah mengikuti pelatihan Polmas
Police officers trained to become trainers on community policing /
Anggota Polisi telah dilatih menjadi trainer Polmas
Members of IOM-assisted community-police partnership forums /
Anggota masyarakat terlibat dalam kegiatan FKPM yang dibentuk IOM
25 percent of the total INP have been trained in human rights and community policing by the INP’s education and
training department, using IOM training modules /
25 % anggota Polri telah dilatih HAM dan Polmas melalui Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri dengan
menggunakan modul pelatihan IOM
Community Police Forums established in 6 Project areas /
FKPM dibentuk di 6 lokasi proyek IOM
Police officers expected to be trained by 2009 /
Anggota yang diperkirakan sudah dilatih pada akhir tahun 2009
8,000
Police Officers trained in Basic Principles of Human Rights for Law Enforcement Officers (NAD) /
Anggota polisi telah mengikuti pelatihan HAM bagi penegak hukum (NAD)
7,624
Police Officers trained in Basic Community Policing (NAD) /
Anggota Polri telah mengikut pelatihan Polmas (NAD)
243
Police Officers trained to be trainers in Human Rights and Community Policing (NAD) /
Anggota Polri dilatih menjadi trainer HAM dan Polmas (NAD)
70,727
INP and Community Members attended “Safari Ramadhan” on CP & HR (NAD) /
Anggota Polri dan anggota masyarakat mengikuti “Safari Ramadhan” tentang HAM & Polmas (NAD)
14,370
INP and community members attended CP & HR Awareness Raising Workshop /
Anggota Polri dan anggota masyarakat mengikuti lokakarya sosialisasi HAM & Polmas (NAD)
44
678
1,680
National Police Officers trained to become trainers on Basic Communication Skill and Teaching Method /
Anggota Polri dilatih menjadi trainer nasional untuk IPS dan Metode Pembelajaran berbasis kompetensi
Police Officers at Polda level trained to be trainers on Basic Communication Skill and Teaching Method /
Anggota Polri dilatih menjadi trainer SPN/Polda untuk IPS dan Metode Pembelajaran berbasis kompetensi
INP and community members attended CP & HR Awareness Raising Workshop /
Anggota Polri dan anggota masyarakat mengikuti lokakarya sosialisasi HAM & Polmas
84
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Understanding Community Policing through Story Telling/
Memahami Perpolisian Masyarakat melalui Hikayat
In September 2008, The International Organization
for Migration (IOM) reached into Aceh’s colorful
past to deliver contemporary messages relating to
police reform.
Pada September 2008, IOM melihat balik ke sejarah
keragaman budaya di Aceh untuk menyampaikan
pesan-pesan Perpolisian Masyarakat (Polmas).
Sebagai bagian dari komitmen yang berkesinambungan
As part of its continuing commitment to support
the Indonesian National Police’s (INP) on-going
reform agenda, IOM facilitated a traditional Hikayat
(story telling) competition in Aceh province.
untuk mendukung proses Reformasi ditubuh Polisi
More than 50 enthusiastic participants from across
the province, which is healing from decades of
conflict and the trauma of the December 2004 Asian
Tsunami, travelled to the capital Banda Aceh to
relate their experiences with policing, both positive
and negative. Speakers included serving members
of the INP, businesspeople and junior high school
students.
Lebih dari 50 peserta dari seluruh penjuru propinsi
Republik Indonesia (Polri), IOM memfasilitasi Lomba
Pembacaan
Hikayat
di
Propinsi
Nanggroe
Aceh
Darussalam.
Aceh, termasuk daerah yang pernah terkena konflik,
datang ke ibukota, Banda Aceh. Mereka menyajikan
gambaran pengalaman mereka baik positif maupun
negatif yang berhubungan dengan polmas. Para peserta
terdikir dari anggota Polri, masyarakat umum dan
pelajar.
Memanfaatkan momentum hari jadi Polisi Wanita
Using the momentum of Indonesian Police
Women’s 60th anniversary, the competition further
addresses the need to include women in
community policing initiatives.
ke-60, kompetisi ini juga mengetengahkan pesan
pentingnya keterlibatan perempuan dalam pengambilan
keputusan.
‘Dengan berpegang pada kearifan lokal, kompetisi
“By tapping into local cultural wisdom, this
competition serves as a tool to create better
understanding of community policing and
human rights, increases women’s involvement in
implementation, and at the same time brings the
Acehnese back to their almost forgotten culture,”
says Police Commissioner Erna Widowati.
ini berperan sebagai sarana untuk meningkatkan
pemahanan yang lebih baik tentang polmas dan Hak
Azasi Manusia (HAM), meningkatkan peran perempuan
dalam penerapannya dan sekaligus membangkitkan
kembali kebudayaan Aceh yang sudah mulai terlupakan,’’
ujar Kompol Erna Widowati.
IOM sebelumnya telah berhasil beradaptasi dengan
IOM has successfully adapted Aceh’s unique
cultural traditions in the past, organizing a
travelling Hikayat tour in 2006 to deliver news of
the peace deal signed between separatists and the
tradisi budaya Aceh, salah satunya dengan melakukan
Hikayat Tour pada 2006 yang menyampaikan berita
dan
pesan-pesan
tentang
ditanda
tanganinya
perjanjian damai antara GAM dan pemerintah RI.
Using the momentum of
Indonesian Police Women’s
60th anniversary, the
competition addresses the
need to include women in
community policing initiatives.
/
Memanfaatkan momentum
hari jadi Polisi Wanita ke-60,
kompetisi ini mengetengahkan
pesan pentingnya keterlibatan
perempuan dalam pengambilan
keputusan.
© IOM Indonesia 2008
85
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
national government, and creating a multi-ethnic
arts umbrella organization in the restive Central
Highlands.
Pada saat bersamaan, kegiatan tersebut telah menjadi
This event culminating with the final competition
on 26 August 2008 is driven by the desire to
strengthen people’s understanding of community
policing in Aceh; the need to respect human rights;
and the need to restore trust between the police
and the community after nearly three decades of
conflict. IOM and INP considered this competition
the appropriate approach as it aims to deliver
various moral and normative messages to the
community.
Puncak kegiatan yang ditandai dengan pelaksanaan
payung budaya di daerah-daerah yang terkena konflik
seperti dataran tinggi Aceh.
final pada 26 Agustus 2008, terlaksana atas dorongan
untuk menguatkan pemahaman masyarakat tentang
polmas di NAD. Lebih jauh lagi, kegiatan ini ditujukan
untuk menjunjung tinggi nilai-nilai HAM and kebutuhan
untuk mengembalikan kepercayaan antara polisi dan
masyarakan pasca konflik yang berlangsung lebih dari
tiga dekade.
IOM
dan
pendekatan
The perspective is shared and supported by Aceh
Tamiang Police chief, Adjunct Senior Commissioner
(AKBP) Hariyanta who supervises regency that
culturally is considered as the most diverse one in
the province.
polri
menilai
yang
tepat
ini
adalah
bertujuan
untuk
menyampaikan nilai-nilai moral dan norma-norma ke
masyarakat.
Pandangan serupa dikemukakan oleh Kepala Kepolisian
Resor (Kapolres) Aceh Taminga, AKBP Hariyanta yang
mengawasi
“The main key in implementing community
policing is to understand the local wisdom. By
doing so, the community will percieve the police
not only as their protector but more as their
partner,” says AKBP Hariyanta.
kompetisi
karena
kebupaten
dimana
kebudayaannya
termasuk yang paling beragam di propinsi ini.
‘’Kunci utama dalam menerapkan Polmas adalah
memahami kearifan lokal. Melalui itu masyarakat akan
melihat polisi tidak hanya sebagai pelindung tapi lebih
sebagi mitra mereka,” kata AKBP Hariyanta
This competition was one of series of events in a
two-year police training programme which IOM
has embarked on in Aceh with the financial
support and cooperation of the Royal Netherlands
Embassy and the European Union. The programme
focuses on human rights and community policing
training and is designed to support the Helsinki
Peace Accords signed by the government and the
Free Aceh Movement (GAM) in August 2005.
Kompetisi
ini
merupakan
bagian
dari
sejumlah
kegiatan dalam dua tahun program pelatihan polisi
yang difasilitasi IOM dengan dukungan Kedutaan
Besar Belanda dan Uni Eropa. Kegiatan ini terfokus
pada pelatihan HAM dan polmas dan dirancang
untuk
mendukung
perjanjian
damain
Helsinki
yang ditanda tangani oleh GAM dan pemerintah RI
pada Agustus 2005.
“The main key in implementing
community policing is to understand
the local wisdom. By doing so, the
community will percieve the police not
only as their protector but more as
their partner,” says AKBP Hariyanta.
/
‘’Kunci utama dalam menerapkan
Polmas adalah memahami kearifan
lokal. Melalui itu masyarakat akan
melihat polisi tidak hanya sebagai
pelindung tapi lebih sebagi mitra
© IOM Indonesia 2008
mereka,” kata AKBP Hariyanta
86
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Irregular Migration /
Migrasi Gelap
Human Interest Story /
Cerita Kemanusiaan
The Management and Care of Irregular Immigrants
Project (MCIIP) has brought to life the concept of
human rights in Indonesian immigration detention
and Immigration officers have shown great interest
in learning how to observe international human
rights instruments in their daily work.
Proyek MCIIP telah menghembuskan kehidupan bagi
This situation has come about through a long process
of consultation in designing immigration standards
and operating procedures for detention staff. The
new procedures use human rights instruments for
their framework and cover a range of operational
areas associated with the care of irregular immigrants
in detention.
Situasi ini merupakan hasil dari proses konsultasi
konsep HAM di lingkungan detensi imigrasi Indonesia
dan bahkan para petugas Imigrasi telah menunjukkan
minat
yang
besar
untuk
mengikuti
instrumen-
instrumen HAM internasional dalam kegiatan mereka
sehari-hari.
yang panjang untuk merancang standar imigrasi
dan prosedur operasional bagi staff detensi. Prosedur
yang baru menggunakan instrumen-instrumen HAM
sebagai kerangka kerja dan mencakup serangkaian
bidang-bidang operasional yang terkait dengan
penanganan imigran non-reguler yang berada dalam
detensi.
Between October and December 2008, 200 staff
from across the Indonesian archipelago were trained
in the new standard operating procedures and
human rights issues. All chiefs of detention houses
were trained as trainers to ensure that senior
managers supported the implementation and
sustainability of the programme. This was the
first national course for immigration officers in
Indonesia with a focus on human rights and the role
of Immigration officers in observing international
human rights law.
Antara Oktober dan Desember 2008, 200 staff dari
seluruh nusantara menerima pelatihan prosedur
standar operasional yang baru serta masalahmasalah HAM. Kegiatan ini merupakan pelatihan
tingkat nasional pertama bagi para petugas imigrasi
di Indonesia yang berfokus pada HAM dan peran
petugas imigrasi dalam memenuhi ketentuan HAM
internasional.
Pelatihan nasional ini adalah wujud keinginan yang
sangat tinggi dari pihak staff detensi Imigrasi untuk
The national training has highlighted an eagerness
within Immigration detention staff to provide
professional services to detainees and they take pride
in being able to observe human rights principles
within their unique workplace. IOM has played an
memberikan pelayanan yang profesional bagi para
detainee dan perasaan bangga akan kemampuan
mereka dalam memenuhi prinsip-prinsip HAM ditengah
kondisi tempat kerja mereka yang unik. IOM telah
memainkan peran yang penting dalam menegaskan
This was the first
national course
for immigration
officers in
Indonesia with
a focus on
human rights
and the role of
Immigration
officers in
observing
international
human rights
law.
/
Kegiatan ini
merupakan pelatihan
tingkat nasional
pertama bagi para
petugas imigrasi
di Indonesia yang
berfokus pada HAM
dan peran petugas
imigrasi dalam
memenuhi ketentuan
HAM internasional.
87
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1-4. IOM in
1
collaboration with
the Directorate
General of
Immigration
provide care,
maintenance, and
return counselling
to the migrants.
/
IOM bekerjasama
dengan Dirjen
Imigrasi merawat,
menangani, dan
menyediakan
konseling bagi para
migran.
© IOM Indonesia 2008
2
© IOM Indonesia 2008
3
© IOM Indonesia 2008
4
© IOM Indonesia 2008
88
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
important role in highlighting the human rights
needs of people in Indonesian detention and
providing officers of the Directorate General of
Immigration the tools to ensure human rights are
protected.
kebutuhan HAM para individu yang berada dalam
detensi imigrasi dan memberikan perangkat untuk
menjamin agar HAM dilindungi.kepada para petugas
Direktorat Jenderal Imigrasi
Para pelatih dari kantor imigrasi berada dalam posisi
The Immigration trainers are well placed to provide
future training on human rights and immigration
standards to new officers as they enter the detention
environment.
yang tepat untuk memberikan pelatihan-pelatihan
Background
Latar Belakang
The Management and Care of Irregular Immigrants
Project (MCIIP) commenced in 2007 and will be
completed by mid-2009. MCIIP seeks to enhance
the Directorate General of Immigration’s capacity
to care and manage irregular immigrants
in Indonesia through the development of
standard operating procedures incorporating:
human rights instruments; the enhancement of
Indonesian Immigration’s returns function; and
the renovation and refurbishment of two
detention facilities. Combined, these three project
components will ensure that irregular immigrants
detained in Indonesia will be provided with a
standard of care which complies with international
standards.
Proyek Penanganan dan Perawatan Imigran Non-
The MCIIP team operates in two locations:
embedded within the Directorate General of
Immigration, providing advice directly to the
Director of Law Enforcement and Investigation;
and in Tanjung Pinang, Bintan Island.
Tim MCIIP bekerja di dua lokasi: dari dalam Direktorat
Refurbishment and Renovation
Renovasi dan Pelengkapan
To ensure that irregular immigrants are provided
with appropriate care, it is essential that detention
facilities are maintained well. Indonesian detention
houses have been in a state of disrepair for many
years and the Directorate General of Immigration
has had insufficient funds to provide regular
maintenance and repair. The MCIIP has addressed
these concerns in the two largest detention
houses, Tanjung Pinang and Jakarta.
Untuk menjamin para imigran non-reguler diberikan
HAM serta standar-standar imigrasi di masa mendatang
kepada para petugas baru sewaktu masuk ke dalam
pelayanan detensi.
Reguler (Management and Care of Irregular Immigrants
Project - MCIIP) diluncurkan pada 2007 dan akan
selesai pada pertengahan 2009. MCIIP berupaya untuk
meningkatkan kapasitas Direktorat Jenderal Imigrasi
untuk merawat dan menangani imigran non-reguler
di
Indonesia
melalui
pengembangan
prosedur
operasional standar yang memasukkan instrumeninstrumen
HAM;
peningkatan
fungsi
pemulangan
Imigrasi Indonesia; serta renovasi dan pelengkapan
dua fasilitas detensi. Secara bersama-sama ketiga
komponen proyek ini akan menjamin bahwa para
imigran non-reguler yang ditahan di Indonesia akan
diberikan perawatan standar yang sesuai dengan
standar internasional.
Jenderal
Imigrasi,
memberikan
nasehat
secara
langsung kepada Direktur Pengawasan dan Penindakan
Keimigrasian,
dan
di
Tanjung
Pinang,
di
Pulau
Bintan.
perawatan yang layak, adalah penting agar fasilitas
detensi dipelihara dengan baik. Banyak fasilitas detensi
di Indonesia mengalami kerusakan dan Direktorat
Jenderal
Imigrasi
tidak
memiliki
anggaran
yang
memadai untuk melakukan perawatan dan perbaikan
secara teratur. MCIIP telah menjawab kebutuhan
tersebut di dua fasilitas detensi yang paling besar, yakni
Tanjung Pinang dan Jakarta.
89
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
A major refurbishment of the Tanjung Pinang
facility in Riau Province, Sumatra, will provide
detainees with modern facilities which will enable
a better standard of care for them during their time
in Indonesia. The increased capacity to house
detainees will ease the overcrowding problem in
other detention houses in Indonesia – the main
Jakarta detention centre in Kalideres is currently
undergoing renovations. The refurbishment and
renovation work is essential for improving the care
of detainees.
Kegiatan perbaikan atas fasilitas Tanjung Pinang di
Propinsi Riau, Sumatera, akan memberikan fasilitasfasilitas modern bagi para detainee, dengan standar
pelayanan yang lebih baik mereka berada di Indonesia.
Peningkatan kapasitas dalam menampung para detainee
akan meringankan masalah kepadatan yang dialami
fasilitas detensi lainnya di Indonesia – pusat detensi Jakarta
di Kalideres saat ini tengah menjalani renovasi.
Perbaikan di fasilitas Tanjung Pinang selesai pada akhir
2008. Kantor Imigrasi Indonesia akan merekrut staff
untuk ditugaskan pada fasilitas tersebut dan memulai
The Tanjung Pinang facility refurbishment will
be completed by the end of 2008. Indonesian
Immigration will recruit staff specifically for the
facility and commence operations shortly after
the official handover from IOM.
operasi segera setelah serah terima resmi dari IOM.
Kantor
Keimigrasian
Indonesia
dan
IOM
telah
bekerjasama secara erat selama proses perbaikan
dan renovasi untuk menjamin dipertimbangkannya
kebutuhan pihak Direktorat Jenderal dalam program
Indonesian Immigration and IOM have cooperated
closely on the refurbishment and renovation
works to ensure that the needs of the Directorate
General have been accounted for in the works
programme.
tersebut.
Prosedur Standar Operasional
Kantor Imigrasi sebelumnya telah bekerjasama erat
dengan
IOM
mengidentifikasi
dalam
beberapa
kebutuhan
tahun
prosedural
ini
untuk
para
staff
Standard Operating Procedures
di rumah detensi imigrasi (Rudenim) dan untuk
Immigration has worked closely with IOM over
the past year to identify the procedural needs
of staff in detention facilities and to collaborate
on the development of a standard operating
procedural (SOPs) manual for use in all detention
houses, detention rooms and border checkpoints.
berkolaborasi pada pengembangan sebuah pedoman
prosedur standar operasional (SOP) untuk digunakan
di seluruh rumah detensi, ruang detensi, serta tempattempat pemeriksaan di perbatasan.
SOP
tersebut
memberikan
panduan
mengenai
perawatan semua detainee yang berkaitan dengan
These SOPs provide guidance on the care of
all detainees in relation to food, healthcare,
communication, grievances, and other aspects
of daily life in a detention facility. The SOPs also
provide for the needs of special groups including
individuals with a disability and unaccompanied
minors.
makanan, layanan kesehatan, komunikasi, keluhan, dan
aspek-aspek lainnya dari kegiatan sehari-hari dalam
lingkungan detensi. SOP tersebut juga memperhatikan
kebutuhan
kelompok-kelompok
dengan
kebutuhan
khusus termasuk para individu yang mengidap cacat
serta anak-anak tanpa pendamping.
IOM mengembangkan sebuah paket pelatihan untuk
IOM developed a training package for the SOPs
and conducted training of trainers in October 2008
followed by a national training programme in
Jakarta, Makassar, Batam and Bali. The national
training programme was conducted by Immigration
trainers with the support of the MCIIP team.
SOP dan menyelenggarakan pelatihan bagi pelatih
The SOPs training introduced participants to
international human rights instruments and
their application in the detention environment.
Over a three-day training course, Immigration
participants were able to appreciate how the
SOPs related to international standards and
how they would assist in the care of detainees.
Pelatihan
pada Oktober 2008
yang diikuti dengan sebuah
program pelatihan nasional di Jakarta, Makassar,
Batam dan Bali. Program pelatihan nasional dilakukan
oleh para pelatih dari Imigrasi dengan dukungan dari
tim MCIIP.
SOP
tersebut
telah
mengenalkan
para
peserta kepada instrumen-instrumen Hak Azasi Manusia
(HAM) internasional dan penerapannya di lingkungan
detensi. Selama masa tiga hari pelatihan para peserta
dari Imigrasi mulai memahami keterkaitan dengan
standar internasional dan dapat membantu dalam
memberikan perawatan atas para detainee.
90
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
After national training, the SOPs will be formally
adopted by Indonesian Immigration in the form
of directives and manuals made available to all
detention facilities. The directives on the SOPs
will form part of the overall series of directives
and regulations for the Directorate General and
as such will be included in the Immigration
Academy’s programme of study.
Assisted Returns
The MCIIP has provided Indonesian Immigration
with a range of familiarisation activities related
to Assisted Voluntary Return (AVR). In March
2008, a two-day workshop was convened for
directors and staff drawn from the returns,
detention, legal, planning, and international
cooperation sections of the Immigration office.
The workshop focused on the concept of AVR
and the processes for assisting irregular migrants
to leave Indonesia voluntarily. The national
training programme for the new SOPs manual
has
provided
guidance
to
immigration
detention staff on the returns process and their
obligations.
Setelah pelatihan nasional tersebut, SOP secara resmi
akan diberlakukan oleh Imigrasi Indonesia dalam bentuk
instruksi dan pedoman yang disediakan bagi semua
fasilitas detensi. Surat Keputusan tentang SOP tersebut
akan menjadi bagian dari serangkaian instruksi dan
peraturan untuk Direktorat Jenderal tersebut dan
disertakan dalam bahan ajaran Akademi Keimigrasian.
Pemulangan dengan Bantuan
MCIIP telah memberikan Imigrasi Indonesia serangkaian
kegiatan sosialisasi yang berkaitan dengan Pemulangan
Sukarela Dengan Bantuan (Assisted Voluntary Return
- AVR). Pada Maret 2008, sebuah lokakarya dua-hari
diselenggarakan bagi para direktur dan staff yang
diambil
Regional Cooperation Model (RCM)
IOM works closely with the Indonesian and
Australian authorities to support their efforts to
regulate the movement of irregular migrants
through Indonesia. It helps hundreds of migrants
intercepted en route to Australia and left stranded
in Indonesia.
seksi
pemulangan,
detensi,
hukum,
Imigrasi. Lokakarya tersebut berfokus pada konsep AVR
dan proses untuk membantu para migran non-reguler
untuk meninggalkan Indonesia secara sukarela. Program
pelatihan nasional untuk pedoman SOP memberikan
panduan bagi staff detensi mengenai proses pemulangan
dan kewajiban-kewajiban mereka.
Kantor Imigrasi Indonesia juga telah bekerjasama
dengan
Indonesian Immigration has also worked closely
with the MCIIP team in addressing the capacity
building needs of their returns unit. A range
of procedural documentation and handbooks
were developed for the relevant sections of
Immigration to facilitate returns. These documents
are awaiting final approval from the Immigration
office.
dari
perencanaan, dan kerjasama internasional dari kantor
tim
MCIIP
dalam
membahas
kebutuhan
peningkatan kapasitas bagi unit pemulangan mereka.
Serangkaian dokumentasi prosedural dan buku saku
telah dikembangkan bagi seksi-seksi yang terkait
dalam kantor Imigrasi guna memfasilitasi pemulangan.
Dokumen-dokumen
tersebut
sedang
menunggu
persetujuan akhir dari kantor Imigrasi.
Model Kerjasama Regional (Regional
Cooperation Model - RCM)
IOM bekerjasama secara erat dengan pemerintah
Indonesia dan Australia dalam mendukung upaya
mereka mengatur pergerakan migran gelap melalui
Indonesia.
Kerjasama
tersebut
membantu
ratusan
migran yang ditangkap dalam perjalanan mereka
menuju Australia dan terdampar di Indonesia.
Para migran mendapatkan perawatan, penanganan dan
The migrants receive care, maintenance and
return counseling from IOM field staff. In 2008
these totaled: 18 cases in Natuna; 5 in Medan;
7 in Bogor; 23 in Kupang; 1 in Batam; 6 in
Merauke; 3 in Bali; 26 in Bima, Sumbawa; 9 in
Labuan Bajo, 6 in Larantuka, Flores; 19 migrants
in Jakarta; and 3 in Surabaya.
konseling dari para staff IOM di lapangan. Pada 2008
bantuan tersebut diberikan atas: 18 kasus di Natuna; 5 di
Medan; 7 di Bogor; 23 di Kupang; 1 di Batam; 6 di Merauke;
3 di Bali; 26 di Bima, Sumbawa; 9 di Labuan Bajo, 6 di
Larantuka, Flores; 19 migran di Jakarta; dan 3 di Surabaya.
IOM juga memfasilitasi pemulangan secara sukarela
91
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
IOM also facilitated the voluntary return of a total
of 12 migrants from Jakarta; 5 from Bogor; 4 from
Makassar; and 4 from Mataram.
Reinforcing Management
Irregular Migration (RMIM)
of
The “Reinforcing Management of Irregular
Migration in Indonesia through the Setting Up
of a Network of Monitoring and Coordination
Offices” is implemented by IOM in collaboration
with the Directorate General of Immigration
(DITJENIM) at the Ministry of Legal and Human
Rights Affairs and the Indonesian National
Police (MABES POLRI), with the support of the
Australia’s Department of Immigration and
Citizenship.
atas sejumlah 12 migran dari Jakarta; 5 dari Bogor; 4
dari Makassar; dan 4 dari Mataram.
Memperkuat Penanganan Migrasi
Non-Reguler (Reinforcing Management
of Irregular Migration - RMIM)
“Penguatan
Penanganan
Migrasi
Non-Reguler
di
Indonesia Melalui Pembentukan Sebuah Jaringan Kantor
Monitoring dan Koordinasi” dilaksanakan oleh IOM di
bawah kerjasama dengan Direktorat Jenderal Imigrasi
(DITJENIM) pada Departemen Hukum dan HAM serta
Mabes Polri, dengan dukungan dari Departemen
Keimigrasian dan Kewarganegaraan Australia.
Permasalahan
seputar
migran
yang
tertangkap
dibahas dalam kerangka kesepakatan tripartite – Model
Kerjasama Regional atau Regional Cooperation Model
The issue of intercepted migrants is addressed in
the framework of the tripartite agreement – the
Regional Cooperation Model (RCM) established by
the governments of Indonesia, Australia and IOM.
(RCM) yang didirikan oleh pemerintah Indonesia,
Australia dan IOM.
Dalam kerangka tersebut, instansi pemerintah Indonesia
bertanggung jawab menetapkan niat dari para migran
Within this framework, the Indonesian authorities
are responsible for determining the intention of
intercepted migrants. Those identified as transiting
through Indonesia on their way to Australia or New
Zealand are referred to IOM for assistance.
yang ditangkap. Mereka yang diidentifikasi sebagai
migran yang melakukan transit di Indonesia menuju
Australia atau Selandia Baru, dirujuk ke IOM untuk
diberikan bantuan.
Disamping memberi bantuan secara materi, IOM
In addition to providing material assistance, IOM
informs migrants of their rights to claim asylum
and refers those who wish to submit such requests
to UNHCR. IOM continues to provide care and
maintenance services while migrants are being
considered by UNHCR for refugee status. IOM also
facilitates assisted voluntary returns should the
migrants opt to return home.
memberikan penjelasan kepada para migran mengenai
Although the above arrangements work, the
interception and the subsequent handling of
irregular migrants has remained a problem due to
a number of factors, including loose border controls
and a lack of cooperation among law enforcement
agencies in the field.
Meskipun
Given Indonesia’s open maritime and large land
borders, and the limited capacity of the Indonesian
immigration authorities, irregular migration flows
are generally not well recorded.
Dengan besarnya daerah kelautan dan panjangnya
hak-hak mereka dalam meminta suaka dan merujuk
mereka yang ingin mengajukan permintaan kepada
UNHCR. IOM terus memberikan layanan perawatan
dan penanganan bersamaan ketika status para migran
tengah oleh UNHCR. IOM juga memfasilitasi pemulangan
sukarela dengan bantuan jika para migran memilih
untuk pulang ke negara mereka.
langkah-langkah
tersebut
berhasil,
penangkapan dan penanganan para migran nonreguler masih merupakan masalah mengingat beberapa
faktor, termasuk pengawasan perbatasan yang masih
kurang dan kurangnya kerjasama diantara para badan
penegak hukum di lapangan.
garis perbatasan Indonesia, serta terbatasnya kapasitas
pejabat imigrasi di Indonesia, arus migrasi non-regular
umumnya tidak tercatat dengan baik. Koordinasi antara
Ditjen Imigrasi dan kepolisian terkadang juga kurang
Coordination between immigration and the police
dan para petugas terkadang tidak mengetahui bahwa
92
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
is also sometimes lacking and authorities are
sometimes unaware of support and resources
available for stranded migrants.
dukungan dan sumber daya tersedia bagi para migran
yang terdampar.
Oleh
karena
itu
IOM
berupaya
untuk
mengisi
IOM is therefore working to address existing gaps
and strengthen coordination between immigration,
police and local government officials through the
setting up a network of field offices, provision of
training, and awareness-raising activities.
kekurangan-kekurangan dan memperkuat koordinasi
The overall objective of the project has been
to contribute to the regional efforts between
the Governments of Indonesia and Australia to
focus on irregular migration, while at the same
time ensuring adequate treatment of stranded
migrants. One of its specific aims is to monitor
migration flows and provide timely and
efficient management of intercepted irregular
migrants; and to do this by establishing effective
coordination mechanisms between responsible
law enforcement agencies at the local level
through regular targeted training sessions.
Tujuan keseluruhan dari proyek ini adalah memberi
antara pihak imigrasi, Polri dan pejabat pemerintah
daerah melalui pendirian sebuah jaringan kantor di
lapangan, penyelenggaraan pelatihan, dan kegiatan
peningkatan kesadaran.
kontribusi
terhadap
kerjasama
regional
antara
Pemerintah Indonesia dan Australia yang terfokus
pada migrasi non-reguler, pada saat yang bersamaan
menjamin
diberikannya
penanganan
yang
layak
bagi para migran yang terdampar. Salah satu tujuan
khususnya
adalah
memonitor
arus
migrasi
dan
melakukan penanganan secara cepat dan efisien
terhadap para migran non-reguler yang tertangkap;
dan untuk melakukan kegiatan tersebut dengan cara
menciptakan mekanisme koordinasi yang efektif antara
badan-badan penegak hukum yang bertanggung jawab
di tingkat lokal melalui pelatihan-pelatihan secara
From the start of the project in October 2007
through October 2008 there have been 34 training
workshops conducted in 33 cities across Indonesia
– in Medan, Kupang, Makassar, Pontianak, Lampung,
Batam, Banda Aceh, Surabaya, Mataram, Jayapura,
Maumere, Banjarmasin, Kendari, Tual, Denpasar,
Sibolga, Bengkulu, Tanjung Pinang, Malang,
Pangkal Pinang, Biak, Bima, Pare-pare, Ambon,
Singkawang, Tanjung Balai Karimun, Ternate,
Menado, Merauke, Yogyakarta, Palu, Atambua and
Serang-Banten.
periodik.
Sejak awal proyek pada Oktober 2007 hingga Oktober
2008,
terdapat
34
lokakarya-pelatihan
yang
diselenggarakan di 33 kota di Indonesia – di Medan,
Kupang,
Makassar,
Pontianak,
Lampung,
Batam,
Banda Aceh, Surabaya, Mataram, Jayapura, Maumere,
Banjarmasin, Kendari, Tual, Denpasar, Sibolga, Bengkulu,
Tanjung Pinang, Malang, Pangkal Pinang, Biak, Bima,
Pare-pare, Ambon, Singkawang, Tanjung Balai Karimun,
Ternate, Menado, Merauke, Yogyakarta, Palu, Atambua
dan Serang-Banten.
A total of 741 participants attended the training
sessions, including officials from Immigration
(286), the Indonesian National Police (300), local
government (141) and the Indonesian Navy (14).
The subjects covered by the training included
the fundamentals of international migration;
international law and covenants that cover the
rights of migrants; national human rights
instruments and its application in the context of
irregular migration; and people smuggling and
trafficking in persons as a trans-national crime.
Sejumlah 741 peserta mengikuti pelatihan-pelatihan
tersebut, termasuk para pejabat dari Imigrasi (286),
Kepolisian Republik Indonesia (300), pemerintah daerah
(141) serta Angkatan Laut Indonesia (14). Topik pelatihan
meliputi dasar-dasar migrasi internasional; hukum dan
perjanjian internasional yang mengatur hak-hak para
migran; instrumen HAM nasional serta penerapannya
dalam konteks migrasi non-reguler; serta penyelundupan
manusia dan perdagangan manusia (human trafficking)
sebagai suatu bentuk kejahatan trans-nasional.
93
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1-4. IOM developed
1
a training
package for
the SOPs and
conducted
training of
trainers in October
2008 followed by a
national training
programme in
Jakarta, Makassar,
Batam and Bali.
/
IOM
mengembangkan
sebuah paket
pelatihan
untuk SOP dan
menyelenggarakan
pelatihan bagi
pelatih pada
Oktober 2008 yang
diikuti dengan
sebuah program
pelatihan nasional
di Jakarta,
Makassar, Batam
dan Bali.
© IOM Indonesia 2008
2
© IOM Indonesia 2008
3
© IOM Indonesia 2008
4
© IOM Indonesia 2008
94
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
By the Numbers / Berdasarkan Angka
Nationality / Kebangsaan
Total
Afghanistan / Afganistan
43
China / Cina
2
Indonesia / Indonesia
14
Iran / Iran
10
Iraq / Irak
56
Somalia / Somalia
1
Sri Lanka / Sri Lanka
6
Vietnam / Vietnam
4
Grand Total / Total Keseluruhan
136
Destination / Tujuan
Total
Afghanistan / Afganistan
16
Australia / Australia
44
Canada / Kanada
19
Colombo / Kolombo
1
Denmark / Denmark
2
Iran / Iran
10
Iraq / Irak
5
New Zealand / Selandia Baru
25
Sri Lanka / Sri Lanka
4
Sweden / Swedia
3
United States / Amerika Serikat
5
Vietnam / Vietnam
2
Grand Total / Total Keseluruhan
136
Movement / Perpindahan
Destination / Tujuan
Family Reunification / Pertemuan Kembali Keluarga
United States
Family Reunification Total / Jumlah Keseluruhan Pertemuan Kembali Keluarga
Humanitarian Assistant / Bantuan Kemanusiaan
5
1
New Zealand
3
4
Australia
44
Canada
19
Denmark
1
Iraq
New Zealand
Sri Lanka
Sweden
Resettlement Total / Jumlah Keseluruhan dari yang Menetap Kembali
Voluntary Return / Kembali Secara Sukarela
5
Denmark
Humanitarian Assistant Total / Jumlah Keseluruhan Bantuan Kemanusiaan
Resettlement / Menetap Kembali
Total
Afghanistan
Colombo
1
22
1
3
91
16
1
Iran
10
Iraq
4
Sri Lanka
3
Vietnam
2
Voluntary Return Total / Jumlah Keseluruhan yang Kembali Secara Sukarela
36
Grand Total / Total Keseluruhan
136
95
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Facilitating Migration /
Menfasilitasi Migrasi
95
96
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Facilitating Migration /
Menfasilitasi Migrasi
Background
Latar belakang
As Indonesian workers seek work within Indonesia
and around the world, migration and development
issues and safe migration practices are increasingly
important. To protect migrant workers and to
optimize the benefits of labour migration for
migrants, Indonesia and destination countries –
mainly South East Asia and the Middle East – clearly
formulated labour migration policies and legislation
are needed.
Bersamaan dengan para pekerja Indonesia yang mencari
peluang kerja di Indonesia dan di luar negeri, kepentingankepentingan migrasi dan pembangunan termasuk
praktek-praktek perpindahan pekerja secara aman pun
meningkat. Untuk melindungan para pekerja migran
dan mengoptimalkan keuntungan-keuntungan atas
perpindahan pekerja bagi para pekerja, Indonesia dan
negara tujuan – kebanyakan di Asia Tenggara dan Timur
Tengah – jelas dibutuhkan kebijakan-kebijakan migrasi
dan legislatif terformulasi.
In 2008, IOM Indonesia significantly expanded
programming in these areas to better meet the
needs of Indonesian migrant workers, their families,
communities and the nation as a whole.
Pada 2008, IOM Indonesia dengan meyakinkan meluaskan
programnya dalam hal ini untuk memenuhi kebutuhan
para pekerja migran Indonesia, keluarga yang ditinggalkan,
masyarakat dan negara secara keseluruhan.
IOM works closely with the government and civil
society organizations to maximize the positive
relationship between migration and development
in Indonesia and worldwide.
IOM erat bekerjasama dengan pemerintah dan organisasiorganisai
kemasyarakatan
untuk
memaksimalkan
hubungan positif antara migrasi dan pembangunan di
Indonesia dan global.
The Ministry of Foreign Affairs and the Coordinating
Ministry for Economic Affairs are key partners in
designing and carrying out these activities. The
Ministry of Manpower and Transmigration and
the National Board for the Placement and
Protection of Overseas Migrant Workers, which
is mandated to oversee prevention, protection,
and placement initiatives, have also been strong
partners.
Departemen Luar Negeri dan Kementerian Koordinator
bidang Perekonomian adalah mitra-mitra kunci dalan
merancang dan melaksanakan kegiatan-kegiatan ini.
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Badan
Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia juga merupakan mitra-mitra kuat yang diberikan
mandat untuk mengawasi usaha-usaha pencegahan,
perlindungan dan penempatan.
Migration & Development
Migrasi dan Pembangunan
Remittances continue to be a key source of
income for countries around the world – especially
those like Indonesia, which send thousands of
Remiten masih merupakan sumber utama pendapatan
negara-negara di dunia – khususnya negara-negara seperti
Indonesia, yang mengirim ribuan pekerja ke luar negeri
Remittances
continue to be
a key source
of income
for countries
around the
world –
especially those
like Indonesia...
/
Remiten masih
merupakan sumber
utama pendapatan
negara-negara di
dunia – khususnya
negara-negara seperti
Indonesia...
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
97
98
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
workers abroad each year. According to the IMF,
Indonesia perceived US$5.7 billion in remittances in
2006.
setiap tahunnya. Menurut IMF, pada 2006 diperkirakan
remiten Indonesia mencapai 5,7milyar dolar amerika.
Untuk memahami jalur remiten dari Malaysia dan
To better understand remittance corridors from
Malaysia and from the Netherlands, IOM Indonesia
has launched a project focused on data collection,
policy dialogue, dissemination of good practices
and pilot project implementation to further
enhance remittance flows to Indonesia.
Belanda, IOM Indonesia telah meluncurkan sebuah
proyek
yang
terfokus
pada
pengumpulan
data,
dialog kebijakan, berbagi pengalaman berharga dan
pengimplementasion pilot proyek untuk meningkatkan
aliran remiten ke Indonesia.
Dengan dukungan Komisi Eropa, sejumlah kegiatan
Funded by the European Commission, these
activities are being carried out with IOM
Philippines. This further benefits regional shared
learning about migration and development best
practices. As government, civil society, and the
banking sector are all key actors in the migration
and development sphere, actors from all three
areas are involved with the programme.
tersebut dilakukan bersama IOM Filipina. Lebih jauh lagi,
kerjasama ini memberikan kesempatan untuk berbagi
pengetahuan dan pengalaman tentang migrasi dan
perkembangannya di region. Pemerintah, masyarakat
madani dan sektor perbankan yang merupakan pelaku
utama dalam lingkaran migrasi dan pembangunan,
mereka juga terlibat dalam program ini.
Migrasi Tenaga Kerja
Labour Migration
Seiring dengan usaha Indonesia untuk memberikan
As Indonesia seeks to better support its migrant
workers when they travel abroad for work, IOM is
supporting enhanced labour migration practices
to common destination countries for Indonesian
workers.
dukungan yang lebih baik atas pekerja yang berkerja
di luar negeri, IOM tengah mendukung meningkatkan
pemahaman tentang migrasi tenaga kerja di negaranegara merupakan tujuan pekerja Indonesia.
Biro kependudukan, pengungsi dan migrasi pemerintah
The US Department of State’s Bureau for Population,
Refugees and Migration (PRM) supports IOM
Indonesia’s activities to link officials from Indonesia
and receiving countries, to research current
policies and their implications, and to develop a
plan of action to better meet the current challenges.
Amerika Serikat mendukung kegiatan-kegiata IOM
Indonesia dengan menghubungkan pihak-pihak terkait
Indonesia dengan negara-negara tujuan, untuk meneliti
kebijakan-kebijakan yang tengah berlangsung dan
implikasi-implikasinya,
dan
untuk
mengembangkan
sebuah rencana aksi untuk menghadapi tantangantantangan yang ada.
As with other IOM activities around the world,
IOM Indonesia tries to facilitate the development
of policies and programmes of mutual benefit
to the government, migrants and Indonesian
society.
Sehubungan
dengan
kegiatan-kegiatan
IOM
di
seluruh dunia, IOM Indonesia mencoba memfasilitasi
pengembangan
kebijakan-kebijakan
dan
progam-
program yang memberikan manfaaat untuk pemerintah,
para migran dan masyarakat Indonesia.
IOM supports Indonesia’s efforts to protect its
workers overseas through instruments including
the 2004 National Law on the Placement and
Protection of Indonesian Migrant Workers Overseas
and the ASEAN Cebu Declaration on the Protection
and Promotion of the Rights of Migrant Workers.
IOM mendukung usaha-usaha Indonesia untuk melindungi
pekerjanya di luar negeri melalui Undang-undang tentang
Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di
Luar Negeri dan Deklarasi ASEAN-Cebu untuk melindungi
dan menjunjung hak-hak para tenaga kerja.
99
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Migration Health/
Kesehatan Migrasi
99
100
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Migration Health /
Kesehatan Migrasi
A Dedication to Saving Mothers’ Lives /
Pengabdian untuk Menyelamatkan Nyawa Ibu
It is a hot day in Bireuen, like any other. At 12:30pm,
under a blazing sun, village midwife Ida Laila
hurriedly packs her equipment, leaves her
colleagues at the Puskesmas Jangka clinic in Bireuen
District and rushes off to her other workplace at
the polindes (village delivery post) in Alue Kuta.
Hari itu suasana cukup cerah di Bireuen, seperti hari-hari
biasanya. Waktu telah menunjukkan pukul 12.30 dan suhu
udara di luar terasa menyengat kulit. Setelah menerima
tamu di Puskesmas Jangka, Kabupaten Bireuen, Ida Laila,
yang berprofesi sebagai bidan desa, langsung berkemas
dan bergegas menuju tempat kerja lainnya di pos persalinan
desa (polindes) yang terletak di Desa Aluekuta.
To reach her duty station, Ida, who has been working
as village midwife in Biruen for 12 years, rides a
motorbike loaned to her by the Puskesmas. Crossing
a makeshift bridge and small, rutted roads through
a swamp area, Ida takes about half an hour to reach
her “office.”
“In the beginning, it was very hard,” she says. “But I
don’t feel like that anymore, as my job is to work as a
midwife wherever I’m most needed.”
Untuk mencapai tempat kerjanya, bidan desa yang sudah
12 tahun mengabdi itu mengendarai sepeda motor yang
dipinjamkan puskesmas. Melewati jembatan darurat dan
jalan sempit berkerikil di area pertambakan, Ida tiba di
“kantor” dalam waktu 25 menit. Itulah hari-harinya.
“Mulanya terasa berat, tapi sekarang tidak lagi karena
profesi bidan sudah menjadi cita-cita saya,” kata Ida.
Persoalan lain yang dihadapi bidan Ida adalah rusaknya
A major problem she faces is that the polindes in
Alue Kuta, like many others in Aceh, is in a state of
total disrepair due to lack of maintenance during the
conflict and the fact that local government doesn’t
have funding to repair it.
polindes seperti kebanyakan tempat di Aceh karena tidak
terurus akibat konflik di Aceh. Sementara itu, pemerintah
daerah setempat tidak memiliki dana cukup untuk
merehabilitasi polindes.
Namur Ida yang telah mengunjungi ALue Kuta selama
But Ida, who has been visiting Alue Kuta for two
years since the signing of the Aceh Peace Agreement,
has personally rented a small plot of land and built
another polindes in which village mothers can
give birth. When they approach their due date, she
overnights in the polindes to help them deliver. Her
services are free.
dua tahun terakhir semenjak vitanda tanganinya perjanjian
damai, telah rela merogoh koceknya untuk menyewa tanah
penduduk dan membangun polindes alternatif sebagai
praktik persalinan warga desa. Ketika di suatu desa ada
beberapa ibu yang siap melahirkan, Ida akan menginap di
Polindes. Untuk pelayanannya, ia tidak memungut biaya.
Tekad pengabdian dan bekal pendidikan kebidanan
Ida’s dedication and her diploma in midwifery led her
to become a village midwife serving remote areas.
When patients cannot get to the polindes she will
often spend the night in their house and manage
the delivery on the spot. Home deliveries can be risky
mendorongnya untuk ikhlas menjadi bidan di wilayah
terpencil. Ketika pasien tidak dapat datang ke colindas,
tidak jarang Ida menginap di rumah pasien dan
melakukan persalinan di tempat. Tanpa fasilitas medis yang
memadai, persalinan di rumah bisa cukup beresiko, namun
In the beginning,
it was very hard,”
she says. “But I
don’t feel like
that anymore, as
my job is to work
as a midwife
wherever I’m
most needed.
/
Mulanya terasa berat,
tapi sekarang tidak
lagi karena profesi
bidan sudah menjadi
cita-cita saya.
{ Ida }
101
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
1. Inside the
1
polindes (village
delivery post) in
Alue Kuta.
/
Ruang dalam dari
polindes di Alue
Kuta.
2 & 4. IOM
continued to
provide childbirth
emergencies
training and
developed a
clinical training
network system in
three west coast
districts of Aceh Aceh Barat, Nagan
Raya and Aceh
Jaya.
/
IOM terus
menyediakan
pelatihan kegawat
daruratan
dalam persalinan
dan telah
mengembangkan
© IOM Indonesia 2008
sistem jaringan
pelatihan klinis di
tiga kabupaten di
pesisir barat Aceh
seperti kabupaten
2
Aceh Barat, Nagan
Raya dan Aceh
Jaya.
3. IOM selected
Ida for the
training and
then identified
her as one of the
clinical educators
© IOM Indonesia 2008
(trainers) in
‘Puskesmas’
Jangka.
//
IOM memilih Ida
3
4
untuk mengikuti
pelatihan dan
kemudian
menunjukkan
sebagai salah satu
pelatih klinis di
Puskesmas Jangka.
© IOM Indonesia 2008
© IOM Indonesia 2008
102
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
without proper medical facilities, but Ida, like most
midwives, would never refuse to assist a delivery.
Ida, seperti kebanyakan bidan, tidak akan pernah menolak
Ida used to worry about problem deliveries and
used to refer cases with even minor complications
to the district hospital. But since receiving IOM
training in August 2007 on the management of
post-partum hemorrhaging and neonatal asphyxia,
she is much more confident.
Ida pun sering waswas bila harus berhadapan dengan proses
IOM selected Ida for the training and then identified
her as one of the clinical educators (trainers) in
Puskesmas Jangka. With support from IOM, Ida and
47 other clinical educators then successfully trained
over 600 midwives in Bireuen on the management
of post-partum hemorrhage and neonatal asphyxia.
IOM memilih Ida untuk mengikuti pelatihan dan kemudian
“The IOM training was very useful. I always worried
before, but the training gave me confidence. I can
now help more patients and don’t have to refer them
to the hospital,” she says.
“Pelatihan IOM sangat berguna. Sebelumnya saya selalu
As people travel faster to more destinations,
individuals link the health environments of their
home, transit and host countries. Thus global
communities are being created sharing health risks
and potential benefits1.
Seiring dengan lebih cepatnya perjalan orang-orang ke
untuk membantu persalinan.
kelahiran yang bermasalah. Dalam situasi tersebut, Ida
merujuk pasiennya ke rumah sakit. Namun sejak menerima
pelatihan IOM pada Agustus 2007 tentang Penanganan
perdarahan Paska Melahirkan dan Gagal Nafas pada Bayi,
ia kini jauh lebih percaya diri.
menunjukkan sebagai salah satu pelatih klinis di Puskesmas
Jangka. Dengan dukungan IOM, bidan Ida bersama
47 bidan pelatih lainnya berhasil melatih lebih dari 600 bidan
di Bireuen dalam hal Penanganan perdarahan Paska
Melahirkan dan Gagal Nafas pada Bayi.
khawatir, namun pelatihan ini telah memberikan percaya
diri. Kini saya dapat menolong lebih banyak pasien dan
tidak perlu merujuk mereka ke rumah sakit,” ujarnya.
daerah tujuan yang lebih beragam, kesehatan lingkungan
di daerah asal, daerah transit dan daerah tujuan
terhubungkan oleh para individu. Dengan demikian,
masyarakat global kini tengah terbentuk dimana resiko
kesehatan dan potensi keuntungan di dalamnya pun
Population mobility is a fact of life in modern
Indonesia. But to millions of Indonesian migrant
workers and aspirant migrants the economic gains
of migration may be offset against its social and
health costs. Indonesia with 17,600 islands spread
across 2 million square kilometres, with the world’s
fourth largest population is by international
standards a highly mobile population.
saling berbagi 1.
Mobilitas populasi adalah sebuah fakta kehidupan
modern di Indonesia namun bagi jutaan tenaga kerja
Indonesia dan keinginan menambah keutungan dari
migrasi harus dibayar tinggi dengan kerugian-kerugian
sosial dan kesehatan. Indonesia, dengan 17.600 pulau
menyebar sepanjang 2 juta kilometer persegi dan dikenal
sebagi negara terpadat keempat didunia, menurut standar
Millions of Indonesian workers leave their families
and villages to work in cities, mining enterprises,
factories, construction sites and plantations in
various parts of the country.
internasional adalah sebuah populasi dengan tingkat
mobilitas yang tinggi.
Jutaan tenaga kerja Indonesia meninggalkan keluarga
dan kampung halamannya untuk bekerja di perkotaan,
Hundreds of thousands of others leave the country
each year to work abroad. The majority are of poorly
educated and unskilled. Some 80% are women
who migrate to work in the domestic and caregiver
sector.
pertambangan,
perusahaan,
pabrik,
tempat-tempat
konstruksi dan perkebunan-perkebunan di berbagai
tempat di Indonesia.
Ratusan ribu lainnya setiap tahunnya meninggalkan negeri
ini untuk bekerja di luar negeri. Namun tidak seperti negara
Irregular migration through the country’s porous
borders with Papua New Guinea, Timor-Leste, Malaysia
and Singapore is also increasing, making migrants
more vulnerable to exploitation, abuse, harassment
1
tetangganya, kebanyakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
berpendidikan rendah, tidak berketerampilan. 80 persen
diantaranya adalah perempuan yang berkerja disektor
rumah tangga dan pengasuhan.
Health and Migration: Bridging the Gap. International Dialogue on Migration No. 6. p. 25. International Organization for Migration. 2005
Home deliveries
can be risky
without
proper medical
facilities, but
Ida, like most
midwives, would
never refuse to
assist a delivery.
/
Tanpa fasilitas medis
yang memadai,
persalinan di
rumah bisa cukup
beresiko, namun Ida,
seperti kebanyakan
bidan, tidak akan
pernah menolak
untuk membantu
persalinan.
103
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
and marginalization from health and social services.
Migrasi gelap melalui perbatasan-perbatasan tidak resmi,
seperti Papua New Guinea, Timor Timur, Malaysia dan
Mobility in Indonesia is also associated with internal
displacement as a result of conflict or natural
disasters. This increases the burden on the country’s
generally under-resourced public health and social
services.
Singapura, juga meningkat yang menjadikan para migran
tersebut rentan atas eksploitasi, penyiksaan, pelecehan
dan ketersisihan atas pelayanan-pelayanan kesehatan
dan sosial.
Mobilitas di Indonesia selama ini telah diasosiasikan
Indonesia leads the list of countries at risk of a
pandemic from the highly pathogenic Avian
Influenza caused by the H5N1 virus. The health and
livelihood implications of such a pandemic would
be dire, particularly in terms of displacement.
dengan pengungsi akibat konflik dan bencana-bencana
alam yang berakibat meningkatnya beban negara dalam
sumber-sumber kesehatan dan pelayanan-pelayanan
sosial.
Indonesia kini memimpin daftar negara-negara di
In 2008 IOM with its partners continued to
respond to migration and public health
challenges in Indonesia through its various health
programmes in maternal and child health for
internally displaced populations and host
communities; psychosocial and mental health for
post-conflict affected communities; emergency
medical response for victims of natural disasters;
integrated
HIV
and
population
mobility
awareness raising for targeted beneficiaries of
IOM programmes and services; avian influenza
and pandemic preparedness for migrants and
host communities; migration health assessments
for migrants and refugees; and health and
social services for irregular migrants and
victims of trafficking.
bawah ancaman pendemik dari yang sangat patogen
Avian influensa yang disebabkan virus H5N1. Pengaruh
kesehatan dan mata pencaharian akibat pendemik ini
akan sangat besar, khususnya dalam hal perpindahan
penduduk
Pada 2008, IOM dengan mitra-mitranya terus menjawab
tantangan-tantangan migrasi dan kesehatan masyarakat
di Indonesia melaui beragam program kesehatan seperti
kesehatan ibu dan anak di pengungsian dan tempat
tujuan; tanggap darurat bagi korban bencana alam;
peningkatan kesadaran mengenai HIV dan mobilitas
penduduk yang terintegrasi bagi penerima bantuan
program dan layanan IOM; flu burung dan persiapan
menghadapi pandemi bagi para migran dan masyarakat
setempat dimana para migran tinggal; pemeriksaan
kesehatan bagi para migran dan pengungsi; pelayananpelayanan kesehatan dan sosial bagi para imigran gelap
Maternal and Child Health (MCH)
In its third year of implementation, IOM’s
partnership with the Harvard Medical School (HMS)
to advance safe delivery and neonatal health in
communities where former internally displaced
people (IDPs) have resettled became increasingly
integrated into the public health system. The
programme continued to train midwives in
managing obstetrical emergencies and neonatal
asphyxia and moved towards a more structured
approach in addressing neonatal health by
supporting and utilizing the training system of
the Ministry of Health and the World Health
Organization (WHO) for Integrated Management
of Childhood Illness.
dan korban-korban perdagangan manusia.
Kesehatan Ibu dan Anak
Dalam tahun ketiga implementasinya, IOM yang
berkerja sama dengan Harvard Medical School (HMS)
mengutamakan persalinan aman dan kesehatan neonatal
di lingkungan dimana mantan pengungsi telah kembali
menetap dan menjadi bagian sistem kesehatan di target
kabupaten. Seiring dengan progam yang terus melatih
para
bidan
dalam
tatalaksana
kegawatdaruratan
obstetrik dan asfiksia neonatal, program ini juga
merambah ke sebuah pendekatan terstruktur tentang
penanganan kesehatan neonatal melalui dukungan dan
memanfattkan sistem pelatihan Departemen Kesehatan
dan WHO dalam Manajemen Terpadu Balita Sakit
With the successful implementation of its maternal
and child health programme in Aceh, IOM is now
developing a model programme for other parts of
Indonesia. As a member of UN Country Team, IOM
continued to participate in the development of
the UN Joint Programme of Support for Papua
and hopes to extend its maternal and child health
interventions to the province.
Dengan keberhasilan pelaksanaan program kesehatan
ibu dan anak di Aceh, IOM kini tengah mengembangkan
sebuah model program untuk daerah-daerah lain di
Indonesia. Sebagai anggota ‘UN Country Team’, IOM terus
berpartisipasi dalam pengembangan ‘UN Joint Programme
of Support for Papua’ dengan harapan dapat memperluas
intervensi kesehatan ibu dan anak di propinsi tersebut.
104
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
AmeriCares: “Improving Maternal, Child and Community Health in
Western Districts of Aceh - Special Focus on Transitional Living Centres” /
AmeriCares: ” Meningkatkan Kesehatan Ibu, Anak dan Masyarakat di Pesisir Barat Aceh,
Khususnya di Tempat Tinggal Sementara”
In its second phase of implementation of this
project, IOM continued to provide childbirth
emergencies training and developed a
clinical training network system in three
west coast districts of Aceh - Aceh Barat,
Nagan Raya and Aceh Jaya. Competency-based
training and training of trainers (ToT) on
the “Management of Asphyxia and Post
Partum Hemorrhage” were provided to
653 midwives to improve maternal and
child health interventions in villages and
puskesmas clinics. Additional training was
provided to 357 midwives on post partum
survival, focusing on mother and neonates
less than 2 months old.
Pada
fase
kedua
pelaksanaannya,
IOM
terus
menyediakan pelatihan kegawat daruratan dalam
persalinan
dan
telah
mengembangkan
sistem
jaringan pelatihan klinis di tiga kabupaten di
pesisir barat Aceh seperti kabupaten Aceh Barat,
Nagan Raya dan Aceh Jaya. Pelatihan berbasis
kompetensi dan ToT (‘training of trainers’) mengenai
“Tatalaksana Asfiksia Neonatus dan Perdarahan
Post Partum” diberikan atas 653 bidan untuk
meningkatkan penanganan kesehatan ibu dan
anak
di
pedesaan
dan
puskesmas.
Pelatihan
tambahan diberikan atas 357 bidan mengenai
kelangsungan hidup post partum bagi ibu dan
neonatus berusia kurang dari dua bulan.
Untuk
mengevaluasi
para
lebih
jauh
keahlian
dan
bidan
yang
dilatih
IOM
To evaluate the skills and competency of the
midwives trained, IOM initiated the Observed
Structured Clinical Exam (OSCE) for 300
midwives from 26 puskesmas clinics in Nagan
Raya and Aceh Barat. The OSCE assessed
the effectiveness of ToT and field training
and provided the direction for future
trainings.
kemampuan
An Integrated Management for Children
Illness (IMCI) evaluation is currently being
conducted in 15 puskesmas clinics in Aceh
Barat and Nagan Raya, in collaboration with
WHO and the Ministry of Health. The study
is designed to identify the quality of care
delivered to sick children at outpatient
health facilities and the quality of counselling,
availability of health system supports and
the principal barriers.
Saat ini, evaluasi manajemen terpadu balita sakit
memprakarsai the ‘Observed Structured Clinical
Exam’ (OSCT) atau Ujian Klinis Terobservasi dan
Terstruktur atas 300 bidan dari 26 puskesmas
di Nagan Raya dan Aceh Barat. OSCE menilai
keefektifan ToT dan pelatihan lapangan sekaligus
memberikan
arahan
untuk
pelatihan-pelatihan
berikutnya.
tengah dilakukan di 15 puskesmas di kawasan Aceh
Barat dan Nagan Raya yang berkerja sama dengan
WHO dan Departemen Kesehatan. Tujuan utama dari
evaluasi ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat
kualitas perawatan yang diberikan bagi balita yang
layanan berkualitas diberikan bagi anak yang sakit di
fasilitas-fasilitas kesehatan rawat jalan dan kualitas
penyuluhan,
tersedianya
pendukung-pendukung
sistem kesehatan dan tantangan-tangan utama.
Save the Children and UNICEF:
“Capacity Building of Health Staff in Bireuen on Childbirth Emergencies “ /
Save the Children dan UNICEF:
“Pembangunan Kapasitas Staf Kesehatan di Bireun dalam Kegawatdaruratan Persalinan “
This joint project implemented by Save the Children,
UNICEF and IOM developed a clinical training
network system in Bireuen using the same model
as implemented on the west coast of Aceh. A total
of 48 midwives participated in a training of trainers.
After completing the training, this group trained 661
midwives in their villages to identify and manage
birth asphyxia and post-partum hemorrhage.
Proyek bersama Save the Children, UNICEF dan IOM
mengembangkan sebuah sistem jaringan pelatihan klinis
di kabupaten Bireun, menggunakan model yang sama
yang diterapkan di pesisir barat Aceh. Dengan jumlah
keseluruhan 48 bidan yang berpartisiasi dalam pelatihan
untuk pelatih. Setelah menyelesaikan pelatihan, kelompok
ini melatih 661 bidan di desa masing-masing untuk
mengidentifikasi dan menangani gejala sesak napas
pada kelahiran dan pendarahan pasca persalinan.
Packages of Techno Tube and Dee Lee Suction and
300 training DVDs, co-funded by the Americares
project, were distributed to the midwives enrolled
in the trainings.
The OSCE was also applied to monitor and evaluate
the progress of the project and results of the
training. Some 298 midwives were assessed on their
knowledge and skills regarding neonatal asphyxia,
the third stage of labour and their management.
Paket-paket techno tube dan Dee Lee Suction
serta
300 DVD pelatihan yang juga didanai oleh Americares,
dibagikan ke para bidan yang mengikuti pelatihan.
OSCE juga dilakukan untuk memonitor dan mengevaluasi
kemajuan proyek dan hasil pelatihan. 298 bidan dinilai
pengetahuan dan keahliannya sesak napas pada bayi
baru lahir, fase tiga persalinan dan penanganannya.
Proyek ini terus mendukung sebuah program perbincangan
The project also continued to support a radio health
talk show aired once a week on a local radio station
to support community awareness on health issues.
kesehatan di radio lokal yang disiarkan seminggu sekali
The IOM project team also conducted a workshop
for key stakeholders and partners on lessons learned
and sustainability of IOM health programmes in
Bireuen.
Tim IOM juga melakukan sebuah pelatihan bagi para
To ensure the sustainability of trainings and transfer
of information at the puskesmas and community
level, IOM procured 13 pelvic models, 17 TV sets and
DVD players, 300 t-shirts with MCH messages, and
posters for each puskesmas clinic in each Bireuen
sub-district.
Untuk memastikan kesinambungan pelatihan-pelatihan,
untuk meningkatkan pemahaman tentang masalahmasalah kesehatan.
pihak yang berkepentingan dan mitra-mitranya untuk
belajar dari pengalaman dan kesinambungan programprogram kesehatan di Bireuen.
transfer informasi di tingkat puskesmas dan masyarakat,
IOM membeli 13 model panggul, 17 televisi dan mesin DVD,
300 kaos dengan pesan MCH, poster-poster yang diberikan
ke setiap puskesmas dan masyarakat di kecamatankecamatan di Bireuen.
106
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Psychosocial and Mental Health
Psikososial dan Kesehatan Mental
In 2008, IOM in partnership with the HMS and
with the support of the World Bank continued to
provide psychosocial and mental health services
and outreach to communities affected by the past
conflict in Aceh.
Pada 2008, IOM bermitra dengan HMS dan didukung
Conceived from the findings of the mental
health assessments during demobilization health
assessment of the ex-combatants and designed
from the results of the structured baseline studies
on the psychosocial and mental health needs
of communities affected by the past conflict;
the programme has not only provided and
established medical, psychosocial and mental
health services and training in conflict affect
communities, but also embarked on testing the
Mengacu pada hasil temuan asesmen tentang kesehatan
Bank Dunia terus menyediakan pelayanan-pelayan
psikosial dan kesehatan mental dan menjangkau
komunitas masyarakat yang terkena dampak konflik
di Aceh.
mental selama demobilisasi asesmen kesehatan atas
mantan kombatan dan rancangan atas hasil-hasil
penilaian-penilaian dasar terstruktur tentant psikososial
dan kebutuhan atas kesehatan mental bagi masyarakat
yang terkena dampak konflik; program ini tidak hanya
telah
memberikan
dan
menyediakan
pelayanan-
pelayanan medis, psikososial dan kesehatan mental serta
pelatihan di masyarakat yang terkena dampak konflik,
tapi
juga
memulai
pengujian
hipotesa
bahwa
World Bank:
Direct Health and Psychosocial Assistance Programme (DHPAP Extension Phase) /
World Bank:
Program Bantuan Langsung Kesehatan dan Psikososial (DHPAP ‘Extension Phase’)
The DHPAP Extension Phase also known as
Psychosocial Health in Bireuen for Post-Conflict
Affected Communities aims to contribute to the
efforts of the Ministry of Health and the Government
of Indonesia to establish successful outreach
and reintegration programmes for communities
affected by conflict, by providing intensive general
and mental health care for villages in Aceh affected
by years of conflict and enhancing the capacity of
the formal health care system to systematically
identify and treat patients with mental health
illnesses.
The DHPAP Extension Phase juga dikenal sebagai
Kesehatan Psikososial di Bireuen bagi Masyarakat yang
Mengalami Dampak Konflik, bertujuan memberikan
kontribusi bagi DepKes, Pemerintah Indonesia untuk
menghasilkan program reintegrasi bagi masyarakat
yang terkena dampak konflik dengan menyediakan
perawatan intensif umum dan kesehatan mental di desadesa di Aceh yang terkena dampak konflik bertahuntahun dan meningkatkan kapasitas sistem kesehatan
formal untuk secaras sistematis mengidentifikasi dan
merawat pasien dengan penyakit-penyakit mental.
Secara khusus program ini dirancang untuk memprakarsai
Specifically, the programme is designed to initiate
and establish mental health services for remote
communities (in the context of the provision of
general health services), and then to transition
responsibility for the continuation of general
and mental health services to the District Health
Offices.
dan mendirikan pelayanan-pelayan kesehatan mental
di masyarakat-masyarakat terpencil (dalam konteks
tersedianya
pelayanan-pelayanan
kesehatan),
dan
kemudian secara bertahap melimpahkan kelanjutan
pelayanan kesehatan dan kesehatan mental ke Dinas
Kesehatan Kabupaten.
270 perawat kesehatan mental masyarakat dan kader
Some 270 community mental health nurses and
jiwa desa dilatih di dua kabupaten, Bireuen dan Aceh
107
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
hypothesis that improving the economic situation
of victims of conflict suffering from mental health
problems would help improve their mental health
condition.
meningkatkan keadaan perekonomian dari korban
konflik yang menderita masalah kesehatan mental akan
membantu meningkatkan kondisi kesehatan mental .
Dengan
demikian,
sebagai
bagian
dari
kegiatan
Thus, as part of its psychosocial and mental health
activities, IOM provided livelihood assistance to 200
individuals over a control group of 600 individuals
with similar history of conflict exposure and
suffering from mental health problems.
psikososial dan kesehatan mental, IOM memberikan
Psychosocial and mental health counselling is also
integrated as a subject in the training curriculum
of the IOM’s Indonesian National Police Training
Programme. Two trainings on counselling were
conducted for 64 trainers of the Aceh National
Police (POLDA NAD) in 2008.
Penyuluhan psikososial dan kesehatan mental telah
village volunteers were trained from two districts Biruen and Aceh Utara - covering 50 selected villages
on community-based approaches to case detection
and management of mental and psychosocial
trauma among conflict-affected communities.
Utara yang meliputi 50 desa terpilih, menggunakan
bantuan mata pencaharian bagi 200 individu dari 600
masyarakat terkontrol yang memiliki kesamaan sejarah
konflik dan menderita masalah-masalah kesehatan
mental.
menjadi bagian terpadu dan sebuah mata pelajaran
pelatihan di “Program Pelatihan Polisi Indonesia” yang
difasilitasi IOM. Dua pelatihan tentang penyuluhan
telah diberikan atas 64 pelatih dari Polda NAD selama
2008.
pendekatan berbasis masyarakat untuk mendektesi
kasus dan menangani trauma mental dan psikososial
dikalangan komunitas terkena dampak politik.
Para pasien dengan masalah mental yang sebelumnya
Pre-screened patients with mental health problems
were medically confirmed by an IOM consultant
psychiatrist visiting Bireun every three weeks. A total
of 5,992 general medical patients were seen and
provided with medical treatment and 1,500 patients
were identified with symptoms of mental health
illness.
telah melalui penyaringan akan menerima perawatan
Treatment and follow up was provided by
community mental health nurses, village volunteers
and the IOM psychiatrist. A referral system is also
in place and the psychiatrist can refer any case
requiring tertiary management. Patients from
remote villages are provided with transport to
district hospitals or puskesmas clinics as deemed
appropriate.
Serangkaian penyuluhan dan perawatan disediakan oleh
lanjutan
setelah
mengunjungi
konsultan
Bireuen
setiap
psikiatris
tiga
IOM,
minggu
yang
sekali,
memberikan rekomendasinya. 5,992 pasien umum sudah
berkonsultasi dan diberikan perawatan medis dan 1,500
pasien diidentifikasi dengan gejala-gejala dan tandatanda penyakit mental.
community mental health nurse (CMHN) atau perawat
kesehatan mental desa tergantung tingkat keparahannya.
Sebuah sistem rujukan telah tersedia dan konsultan
psikiatris IOM merujuk kasus-kasus yang membutuhkan
perawatan lebih lanjut. Sistem transportasi pun tersedia
untuk membawa pasien dari daerah terpencil ke rumah
sakit-rumah sakit di kabupaten atau puskesmas.
108
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
HIV and Population Mobility
HIV dan Mobilitas Populasi
In Indonesia, IOM ensures that the link between
population mobility and HIV is appropriately
addressed and integrated in the activities of its
programmes. Interventions are based on a multidisciplinary rights-based approach addressing
specific HIV-related vulnerabilities of mobile and
migrant populations including displaced persons
and victims of trafficking.
Di Indonesia, IOM memastikan hubungan antara
mobilitas penduduk dan HIV dipahami dan terpadu
dengang kegiatan dari sejumlah programnya. Intervensi
diadasakan pada pendekatan multi disiplin yang secara
spesifik berhubungan dengan komunitas yang rentan
terkena HIV termasuk pengunsi dan korbang perdagangan
manusia .
Komponen pencegahan dan perawatan kini terpadu
HIV prevention and care components are integrated
in IOM’s community health education and
promotion projects targeting populations who are
displaced by the tsunami in its Community Health
Revitalization Programme and conflict affected
communities in its Direct Health and Psycho-social
Assistance Programme in Aceh.
dengan proyek pendidikan dan kampanye IOM yang
menargetkan masyarakat yang mengungsi karena
tsunami
melalui
Program
Pemulihan
Kesehatan
Masyarakat dan masyarakat yang terkena dampak
konflik melalui Program Bantuan Langsung Kesehatan
dan Psikososial.
HIV juga dipadukan dalam bimbingan psikososial, medis
HIV is also integrated in the psycho-social
counselling, medical and referral services provided
to irregular migrants under its Management and
Care of Intercepted Irregular Migrants Programme,
as well as to victims of trafficking assisted through
its Return, Recovery and Reintegration Programme.
dan pelayanan rujukan yang disediakan untuk migran
gelap melalui ‘Management and Care of Intercepted
Irregular
Migrants
Programme’,
termasuk
korban
perdagangan manusia yang dibantu melalui ‘Return,
Recovery and Reintegration Programme’.
Untuk program-program lainnya, pemahaman tentang
For other programmes, HIV awareness is integrated
with gender-based violence in the curriculum for
human rights and community policing taught
to the police through IOM’s Indonesian National
Police Training Programme.
HIV dipadukan dengan kekerasan berdasarkan gender
dalam mata pelajaran hak azasi manusia dan perpolisian
masyarakat yang diajarkan IOM pada polisi melalui
‘Indonesian National Police Training Programme’.
IOM
memastikan
bahwa
konsultasi
pribadi
dan
IOM ensures that high quality voluntary counselling
and confidential HIV testing is undertaken as part
of the Immigration Health Assessments that IOM
undertakes for migrants and refugees resettling in
countries that require an HIV test.
kerahasiaan tes HIV yang berkualitas dilaksanasakan
Since 2007, IOM as a member of the UN Joint Team
on HIV, has worked closely with its UN partners in
developing the UN Joint Programme of Support
for HIV in Papua. It has also advocated to include
HIV and Population Mobility interventions in the
National AIDS Commission Round 9 proposal to
GFATM.
Sejak 2007, sebagai anggota UN Joint Team dalam
On advocacy and support to policy development,
IOM works with a wide range of international
organizations, governmental and non-governmental
organizations for the protection of migrants’
rights and reducing HIV vulnerability of mobile
populations.
Berkenaan dengan advokasi dan dukungan dalam
sebagai bagian dari Immigration Health Assessments
dimana IOM membantu para migran dan pengungsi
untuk menetap di negara-negara yang mewajibkan
sebuah tes HIV
penanganan HIV, IOM telah erat bekerja sama dengan
mitra PBB dalam mengembangkan ‘UN Joint Programme
of Support for HIV ‘di Papua. Program ini juga
mengadvokasi
untuk
menyertakan
intervensi
HIV
dan Mobilitas Penduduk dalam proposal komisi AIDS
Nasional ke GFATM.
pengembangan kebijakan, IOM berkerja sama dengan
beragam organisasi internasional, pemerintah dan
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk melindungi
hak-hak para migran dan mengurangi rentannya
mobilitas penduduk atas HIV.
109
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Emerging
Diseases
and
Re-emerging
Penyakit Baru and Yang Bermunculan
Kembali
In 2008 Indonesia was the world’s most affected
country with the highest number of infections
and fatalities from the Avian and Human Influenza
(AHI) virus. With 110 human deaths reported by
July 2008 and countless loss of poultry livestock
across the country, this devastating disease is
a now major threat to the country’s population
and economy. It could also become the source of
a global pandemic.
Pada 2008, Indonesia adalah negara yang paling parah
terkena dampak virus AVIAN dan Human Influenza (AHI)
dengan angka tertinggi infeksi dan korban meninggal.
Pada Juli 2008, 11 orang dilaporkan meninggal dan tidak
terhitung jumlah ternak mati di Indonesia, penyakit ini
menjadi ancaman utama bagi pertumbuhan penduduk
dan ekonomi. Virus ini juga bisa menjadi sumber pendemik
global.
Penduduk yang berpindah, khususnya para pengungsi
Mobile
populations,
particularly
internally
displaced people who are dependent on poultry
farming, are particularly vulnerable to the
disease and must be included in pandemic
preparedness interventions.
yang bergantung dari usaha ternak unggas sangat
rentang atas penyakit ini and harus diikut sertakan
dalam kesiap siagaan intervensi pendemik.
Secara global, IOM bermitra dengan sistem Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB), memberikan akses bagi para
Globally, IOM, in partnership with the UN System,
supports migrant access to compensation for
livestock loss and public health interventions to
protect them against the disease.
migran untuk mendapatkan ganti rugi dari hilangnya
mata pencaharian dan intervensi kesehatan untuk
melindungi mereka dari penyakit.
Di Indonesia, IOM telah merampungkan penilaian
In Indonesia IOM completed a baseline assessment
that determined the level of knowledge, attitude
and practice regarding AHI and pandemic
preparedness in targeted communities of its
programmes in Yogyakarta. These findings were
discussed in a multi-sectoral workshop of key
stakeholders representing government and nongovernment sectors.
dasar yang menentukan tingkat pengetahuan, sikap
dan perilaku atas AHI dan kesiap siagaan pendemik di
sejumlah kelompok masyarakat di Yogyakarta. Temuanemuan ini telah didiskusikan dalam pelatihan multi
sektor yang melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan
yang mewakili pemerintah dan sektor non pemerintah.
Diskusi
ini
telah
menghasilkan
seperangkat
rekomendasi yang menunjukkan prioritas-prioritas
The outcome of discussions produced a set of
recommendations that outlined the priorities
in addressing the threat of AHI pandemic in the
province.
dalam menyampaikan ancaman pendemik AHI di
propinsi ini.
Termasuk
dikalangan
These included behaviour change among poultry
breeders; implementation of agricultural regulatory
measures from raising poultry to marketing
poultry products; increasing public awareness on
AHI and pandemic preparedness; developing a
national pandemic preparedness manual with
standard operating procedures for the public;
and maximizing efforts to seek government and
donor support for AHI and pandemic preparedness
programming in Yogyakarta.
didalamnya
adalah
peternak
unggas,
perubahan
perilaku
pengimplementasian
peraturan pertanian mulai dari pengembangbiakan
unggas hingga pemasaran hasil-hasil ternak unggas,
meningkatkan kesadaran masyarakat tentang AHI dan
kesiapsiagaan pendemik; mengembangkan panduan
kesiapsiagaan pandemik dengan standar operasional
bagi
masyarakat;
memaksimalkan
usahan-usaha
untuk mencari dukungan pemerintah dan donor dalam
mendukung program AHI dan kesiapsiagaan pendemik
di Yogyakarta.
Sejakan dengan rekomendasi-rekomendasi tersebut,
In line with the recommendations, IOM integrated
information on AHI pandemic preparedness in
three of its Community Based Disaster Risk
IOM memadukan informasi AHI dan kesiapsiagaan
pendemik di tiga dari pelatihan ‘Community Based
Disaster Risk Management‘ (CBDRM) atas 157 sukarelawan
110
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Management (CBDRM) trainings to 157 village
volunteers in Yogyakarta. It also produced and
disseminated 1,400 leaflets, 1,400 posters, 1,400
stickers, 50 banners, 300 calendars, 320 flipcharts
and 1,200 booklets through its programmes
servicing migrants and internally displaced
populations in both Yogyakarta and Aceh.
di Yogyakarta. Hal tersebut juga menghasilkan deng
menyerbarkan 1.400 brosur, 1.400 poster, 1.400 stiker,
50 spanduk, 300 kalender, 320 ‘flipchart’ dan 1.200 buku
saku melalui program yang menjangkau para migran
dan pengungsi di Yogyakarta dan Aceh.
Untuk meningkatkan jangkauan hingga ke penduduk
berpindah, IOM melatih 69 staff di Yogyakarta dan
To improve outreach to mobile populations, IOM
trained 69 of its programme staff in Yogyakarta and
Banda Aceh to disseminate accurate information
AHI and pandemic preparedness to beneficiaries
of their programmes.
Banda Aceh untuk menyebarkan informasi yang benar
ke para penerima bantuan program IOM tentang AHI
dan kesiapsiagaan pendemik.
Untuk 2009, IOM Indonesia akan terus melebarkan
kegiatan-kegiatannya untuk meningkatkan kesadaran
In 2009 IOM Indonesia will continue to expand its
awareness raising and pandemic preparedness
activities to provinces with mobile populations.
Awareness raising will be integrated in IOM’s
various programmes and pandemic preparedness
will focus on ensuring that mobile populations,
including tourists, are better informed of the
risks.
dan
kesiapsiagaan
dengan
penduduk
pendemik
berpindah.
di
propinsi-propinsi
Usaha
peningkatan
kesadaran ini dipadukan dengan beragam program IOM
dan kesiapsiagaan pendemik akan difokuskan untuk
memastikan penduduk berpindah seperti wisatawan,
menerima informasi yang tepat tentang resiko-resiko.
Konter Trafiking dan Kesehatan
Indonesia merupakan negara asal, transit dan tujuaan
Counter-trafficking and Health
bagi perdagangan orang. Kesenjangan sosial dan ekonomi
Indonesia is a country of origin, transit and
destination for trafficked persons. The socioeconomic discrepancies between regions and
income differentials with neighbouring countries
such as Malaysia and Singapore have led many
Indonesians to leave their home villages to seek
a better life in big cities and abroad.
antara reqion dan perbedaan pendapatan dengan
negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura
menyebabkan banyak pekerja Indonesia meninggalkan
kampung halamannya untuk mencari penghidupan
yang lebih baik di kota-kota besar dan luar negeri.
Mesikipun
diyakini
ribuan
warga
Indonesia
diperdagangkan di luar negeri, banyak perempuan, laki-
Although thousands of Indonesians are believed
to be trafficked abroad, many women, men and
children are trafficked internally for various kinds
of exploitation, including the commercial sex
industry and domestic servitude.
laki dan anak-anak diperdagangkan di dalam negeri
yang berakibar beragam eksploitasi, termasuk industri
seks komersil dan pembantu rumah tangga.
Pemerintah Indonesia mensyahkan Undang-undang
Anti Perdagangan Manusia pada April 2007 (UUPTPPO/
The Government of Indonesia passed its first Anti
Trafficking Law in April 2007 (UUPTPPO/ No. 21/
2007) and its subsequent regulations in 2008. This
guarantees the right of all trafficked persons to
medical and psychosocial care.
No. 21/ 2007) dan peraturan-peraturannya pada 2008.
Keduanya menjamin hak-hak para korban perdagangan
untuk mendapatkan pelayanan medis dan psikososial.
IOM memainkan peran advokasi yang penting dan
memberikan
IOM played an important advocacy role and
provided technical support in drafting the legislation,
based on its delivery of services to over 3,000
Indonesian victims of trafficking since 2005.
dukungan
teknis
dalm
menyusun
rancangan perundang-undangan, dengan didasarkan
pada penyampaian pelayanan ke 3000 lebih korban
perdagangan sejak 2005.
Pemerintah Indonesia dengan dukungan IOM kini
The
Government
of
Indonesia
is
currently
mengembangkan standard minimum untuk penyediaan
111
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
developing minimal standards for service
provision to trafficked persons, as well as Standard
Operating Procedures, with IOM support.
pelayanan bagi korban-korban perdagangan, termasuk
standard prosedur operasional.
Pada 2008, IOM terus menjalankan pusat pemulihan
In 2008 IOM continued to operate its one stop
recovery centre at the Indonesian National Police
Hospital in Jakarta, where comprehensive medical
and psychosocial assistance is provided to trafficked
persons. It also continued to build the capacity
of other government facilities, especially shelters
managed by the Department of Social Affairs, in
providing accommodation, food and psychosocial
care.
terpadu di Rumah Sakit Polri di Jakarta, dimana
pelayanan terpadu medis dan bantuan psikososial
disediakan bagi korban perdagangan mansua. IOM
juga terus membangun kapasitas dari fasilitas-faslilitas
pemerintah lainnya seperti tempat penampungan yang
dikelola oleh Departemen Sosial dengan menyediakan
akomodasi, makanan dan perawatan psikososial.
Kesehatan dan Migrasi Gelap
Di 2008 Indonesia masih merupakan negara tujuan utama
Health and Irregular Migrants
bagi para pencari suaka dan migran berbasis ekonomi
In 2008 Indonesia remained a major transit country
for asylum seekers and economic migrants trying
to reach Australia. Migrants often risk perilous
sea journeys aboard ill-equipped and unsuitable
vessels crewed by ruthless smugglers. Those
stranded or intercepted in Indonesia are usually
penniless and cannot access health or social
services.
yang menuju ke Australia. Para migran sering mengambil
resiko melalui laut yang ganas dengan menumpangi
|kapal laut yang minim peralatan dan diawaki para
penyelundup yang tidak berperikemanusiaan. Mereka
yang terdampat dan ditangkap di Indonesia pada
umumnya tidak memiliki uang dan tidak memiliki akses
atas pelayanan kesehatan dan sosial.
Sejak 1999, IOM melalui kesepakatan kerjasama teknis
Since 1999, IOM, through a technical cooperation
agreement on migration management with the
Government of Indonesia has provided counselling,
medical care, food, shelter and voluntary repatriation
assistance to stranded irregular migrants. To
date, IOM’s Management and Care of Intercepted
Irregular Immigrants Project has helped over
4,997 migrants and continues to provide medical
services, notably in the area of psychosocial and
mental health.
dalam
penanganan
migran
dengan
pemerintah
Indonesia telah menyediakan bimbingan, perawatan
medis, makanan, tempat tinggal dan bantuan repatriasi
sukarela bagi pare migran tersebut. Hingga kini,
Proyek Management and Care of Intercepted Irregular
Immigrants IOM telah membantu 4.997 migran dan terus
menyediakan pelayanan medis, terutama dalam hal
psikososial dan kesehatan mental.
Penelitian Kesehatan Migrasi
Jaminan
berkualitas
atas
pemeriksaan
kesehatan
Migration Health Assessment
imigrasi; permeriksaan kesehatan sebelum keberangkata
Quality assured immigration health assessment;
pre-departure health checks and travel health
assistance are IOM’s traditional services for visa
applicants, refugees and immigrants to Australia,
Canada, New Zealand and the USA.
dan bantuan kesehatan untuk perjalanan adalah
Immigration health assessment consists of a
complete physical examination, chest x-ray and
laboratory tests following the requirements of the
migrant’s country of destination. For migrants or
visa applicants requiring serology testing for HIV
and syphilis, IOM ensures that pre- and post HIV
test counselling are provided.
Pemeriksaan kesehatan immigrasi terdiri dari sebuah
pelayanan-pelayanan yang disediakan IOM sejak dulu
bagi para pemohon visa, pengungsi dan imigran yang
menuju Australia, Kanada, Selandia Baru dan Amerika
Serikat.
pemeriksaan lengkap fisik, ronsen paru-paru dan
serangkaian tes laboratorium berdasarkan persyaratan
imigrasi negara tujuan. Bagi para migran dan pemohon
visa yang membutuhkan tes untuk HIV dan syphilis,
IOM memastikan tersedianya penyuluhan sebelum dan
sesudah tes HIV dilakukan.
112
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
From October 2007 to September 2008 a total of
429 migrants, refugees and visa applicants
underwent their immigration health assessment
with IOM. Of those examined, 362 were selfpaying immigrants and visa applicants from
Indonesia applying for resettlement to Australia,
Canada and New Zealand. Some 67 were refugees
bound for Australia, Canada, New Zealand and
the USA.
Mulali Oktober 2007 hingga September 2008, 429 migran,
pengungsi dan pemohon visa telah melalui pemeriksaan
kesehatan imigrasi dengan IOM. Dari jumlah yang
diperiksa tersebut, 362 diantaranya adalah imigran dan
pemohon visa pribadi dari Indonesia yang mengajukan
permohonan untuk menetap di Australia, Kanada dan
Selandia Baru. Sementara 67 lainnya adalah pengungsi
yang akan menuju ke Australia, Kanada, Selandia Baru
dan Amerika Serikat.
By the Numbers
(1st October 2007 - 30th September 2008)
Facts on IOM and Harvad Medical School (HMS) Health Programmes in Aceh /
Data Program-program IOM dan HMS di Aceh
5
Districts in Aceh are covered by IOM and HMS health programmes /
Kabupaten di Aceh yang tercakup dalam program-program IOM dan HMS
47
Sub-Districts in Aceh are covered by IOM and HMS health programmes /
Kecamatan di Aceh yang tercakup dalam program-program IOM dan HMS
107
Midwife clinical educators trained on childbirth emergencies /
Pelatih bidan klinis yang dilatih tentang kegawat daruratan kelahiran bayi
653
Village midwives trained on childbirth emergencies in Aceh Barat, Nagan Raya and Aceh Jaya /
Bidan desa yang dilatih tentang kegawat daruratan kelahiran bayi di Aceh Barat, Nagan Raya and Aceh Jaya
5,992
Conflict-affected people received direct health assistance /
Masyarakat yang terkena dampak konflik-penerima bantuan kesehatan langsung
1,530
Mentally ill patients received treatment and follow-up /
Pasien dengan penyakit jiwa yang menerima perawatan dan rujukan
48
Midwives trained as clinical educators for 661 village midwives in 17 sub-districts of Bireuen /
Bidan yang dilatih sebagai pendidik klinis dari 661 bidan desa di 17 kecamatan di Bireuen
270
Community mental health nurses and village volunteers trained in counselling and early detection of mental illness /
Perawat kesehatan mental masyarakat dan relawan desa dilatih tentang penyluhan dan pendeteksian dini penyakit mental
598
Midwives were evaluated on their skills and knowledge by using “Observed Structured Clinical Exam “ /
Bidan dinilai atas kemampuan dan ilmu pengetahuan menggunakan “ Observed Structured Clinical Exam “.
357
Village midwives were given additional training on post partum survival training focusing on mothers and neonates under 2 months old /
Bidan desa yang diberikan pelatihan tambahan tentang post partum survival terfokus pada ibu dan balita 0-2 bulan
Facts on IOM Migration Health Activities in Indonesia /
Data Kegiatan-kegiatan Kesehatan Migrasi IOM di Indonesia
429
Migrants and refugees underwent immigration health assessment through the IOM Clinic /
Migran dan pengungsi yang melalui pemeriksaan kesehatan imigrasi melalui klinik IOM
4,997
Irregular migrants receive direct health and psychosocial assistance from IOM /
Migran gelap menerima bantuan langsung kesehatan dan psikososial dari IOM
4,472
Number of health consultations provided to irregular migrants under the care of IOM /
Jumlah konsultasi kesehatan yang diberikan atas migran gelap dibawah penanganan IOM
1,130
Irregular migrants with health problems referred for hospital management and care /
Migran gelap dengan masalah kesehatan yang dirujuk untuk perawatan rumah sakit
113
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Project Development &
Donor List/
Pengembangan Proyek & Daftar Donor
114 Project Development / Pengembangan Proyek |
115 Donor List / Daftar Donor |
113
114
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
IOM Indonesia, with its broad range of operations
throughout the indonesian archipelago, is one
of the largest IOM missions in the world. IOM
Indonesia successfully raised USD 17,1 million for
14 new programmes and projects in 2008.
IOM Indonesia, dengan berbagai macam kegiatan
operasionalnya
di
berbagai
pelosok
negeri
ini,
merupakan salah satu misi IOM terbesar di dunia. IOM
Indonesia berhasil menghimpun dana sebesar AS$
17.1 juta untuk 14 program dan proyek baru di tahun
2007.
With support from the Governments of Australia,
Canada, Japan, United Kingdom, United States of
America, The Netherlands, and Queensland as well
as from the European Commission, the United
Nations (UN) and the multi-donor Java
Reconstruction Fund, the Mission secured its
long-term presence in Indonesia to support the
Government of Indonesia’s initiatives in the areas
of Counter-Trafficking, Migration Management,
Security Sector Reform, Return Assistance to Migrants,
Post-Disaster and Post-Conflict Rehabilitation,
Migration Health, Migration and Development,
and Labour Migration. Thanks to the funding raised
in 2008 in close coordination with its UN and nonUN humanitarian relief partners, IOM continued to
be one of the main humanitarian actors in Indonesia.
Dengan dukungan dari pemerintah Australia, Kanada,
Jepang,
Inggris,
Amerika
Serikat,
Belanda,
dan
Queensland, beserta Komisi Eropa, PBB, dan multidonor ‘Java Reconstruction Fund’, Misi Indonesia telah
mengkukuhkan dan menjamin kelangsungan jangka
panjang
di
Indonesia
Pemerintah
Indonesia
penanganan
migrasi,
untuk
di
mendukung
bidang
reformasi
inisiatif
konter-trafiking,
sektor
keamanan,
bantuan pemulangan para migran, bantuan pemulihan
pasca-bencana dan pasca-konflik, kesehatan migrasi,
migrasi dan perkembangan, dan migrasi tenaga kerja.
Berkat pendanaan yang berhasil dihimpun pada
2008 berkoordinasi dengan para partner dari PBB dan
lembaga bantuan kemanusiaan non-PBB, IOM terus
menjadi salah satu pelaku kemanusiaan terbesar di
Indonesia.
While traditional bi- and multilateral donors were
the main contributors to IOM’s activities in Indonesia
throughout 2008, IOM continued to receive funding
from international non-governmental organizations,
demonstrating its attractiveness as a flexible, handson organization, and its capacity to deliver highquality services and effective assistance.
Walau para kontributor utama kegiatan IOM di
Indonesia masih berupa donor bilateral dan multilateral,
IOM menerima dukungan yang semakin besar dari
organisasi-organisasi
non-pemerintah
Internasional,
hal tersebut menunjukkan daya tarik IOM sebagai
organisasi yang fleksibel, siap terjun ke lapangan, dan
berkapasitas untuk menyediakan pelayanan berkualitas
IOM Indonesia’s strategy remains to further
strengthen partnerships with governments, UN
agencies and NGOs, and to engage the private
sector as a true partner in support of the needs of
governments, migrants and communities. Working
in close partnership with national and local
authorities, as well as the international community,
and a large network of non-governmental
organizations, IOM Indonesia helps the Government
of Indonesia develop and implement migration
policy, legislation and administrative mechanisms
by providing technical assistance and training
to government migration managers, and help to
migrants in need.
dan bantuan yang efektif.
In 2008, IOM has received funding from 20 different
donors, confirming a solid and diversified funding
base in Indonesia.
Pada tahun 2008, IOM telah menerima pendanaan dari
Strategi IOM Indonesia kian mempererat kemitraan
dengan pemerintah, lembaga-lembaga PBB dan LSM,
serta merangkul sektor swasta sebagai mitra nyata
dalam dukungan terhadap kebutuhan pemerintah,
migrant, dan komunitas. Kerjasama dengan pemerintah
lokal dan nasional, komunitas internasional dan
jejaring LSM, IOM Indonesia membantu pemerintah
Indonesia dalam mengembangkan dan menerapkan
kebijakan migrasi, perundang-undangan, dan mekanisme
administratif dengan menyediakan bantuan teknis
dan pelatihan bagi manajer migrasi pemerintah, serta
bantuan bagi migrant yang membutuhkan.
20 donor yang berbeda, sebagai sumber pendanaan
yang handal dan terdiversifikasi.
115
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
Donor List
Daftar Donor
• Government of Australia - Australian Agency for
International Development (AusAID); Department
of Immigration and Citizenship (DIAC)
• Government of Canada - Canadian International
Development Agency (CIDA)
• Government of Japan
• Government of Queensland
• Government of the Netherlands - Ministry of
Justice, Ministry for Development Cooperation,
Royal Netherlands Embassy (RNE)
• Government of the United Kingdom Department
for International Development (DFID)
• Government of the United States of America - United
States Agency for International Development (USAID),
Office of U.S. Foreign Disaster Assistance, Department
of Labor, Department of State / Bureau of Population,
Refugees and Migration (USDOS/PRM), The Office to
Monitor and Combat Trafficking in Persons (G/TiP)
• European Commission
• Java Reconstruction Fund (JRF)
• The World Bank
• UNICEF
• American Red Cross
• AmeriCares
• CARE Canada
• OXFAM
• Save the Children
• Pemerintah
Total value of project and programme portfolio in 2008 /
Nilai dari proyek dan portfolio program pada 2008
US$ 17,091,641
Total value of funding raised for new projects in 2008. /
Nilai dari pendanaan yang dihimpun untuk proyek baru pada 2008
US$ 28,325,284
Total value of projects under development. /
Nilai total dari proyek-proyek dalam pengembangan
-
Australian
Agency
for
Immigration and Citizenship (DIAC)
• Pemerintah
Kanada
-
Canadian
International
Development Agency (CIDA)
• Pemerintah Jepang
• Pemerintah Queensland
• Pemerintah Belanda - Ministry of Justice, Ministry for
Development Cooperation, Royal Netherlands Embassy
(RNE)
• Pemerintah Kerajaan Inggris - Department for
International Development (DFID)
• Pemerintah Amerika Serikat - United States Agency
for International Development (USAID), Office of U.S.
Foreign Disaster Assistance, Department of Labor,
Department of State / Bureau of Population, Refugees
and Migration (USDOS/PRM), The Office to Monitor
and Combat Trafficking in Persons (G/TiP)
• Komisi Eropa
• Java Reconstruction Fund (JRF)
• Bank Dunia
• UNICEF
• Palang Merah Amerika
• AmeriCares
• CARE Canada
• OXFAM
• Save the Children
By the Numbers / Berdasarkan Angka
US$ 76,101,034
Australia
International Development (AusAID); Department of
31
Number of projects implemented by IOM Indonesia in 2008. /
Jumlah proyek yang diimplementasikan oleh IOM pada 2008
19
Number of projects implemented by IOM in Aceh in 2008. /
Jumlah proyek yang diimplementasikan oleh IOM di Aceh pada 2008
14
Number of new projects in 2008. /
Jumlah proyek baru pada 2008
26
Number of projects under development. /
Jumlah proyek dalam pengembangan
20
Number of donors in 2008. /
Jumlah donor pada 2008
(As of end of November 2008 / per Nopember 2008)
116
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
IOM Indonesia Offices /
Kantor-kantor
tor IOM di Indonesia
117
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
117
118
IOM Indonesia - Annual Report/ Laporan Tahunan 2008
IOM Jakarta
• Menara Eksekutif Floor 13th,
Jl. MH Thamrin Kav. 9,
Jakarta Pusat 10350
• Phone : (+6221) 3983 8529
• Fax
: (+6221 3983 8528
• Email : [email protected]
IOM Jakarta Medical
[ All correspondence must be channelled
through IOM Jakarta ]
• Jl. HOS Cokroaminoto No.16,
Jakarta Pusat 10350
• Phone : (+6221) 315 8165
• Fax
: (+6221) 315 8208
IOM Jakarta CTU’s Recovery Centre
• Pusat Pelayanan Terpadu [ PPT ]
RS Polri Sukanto 2nd Floor,
Jl. RS Polri No.11, Kramat Jati,
Jakarta Timur
• Phone : (+6221) 8087 8964
• Fax
: (+6221) 8087 8963
IOM Lhokseumawe
• Desa Hagu Teungoh Banda Sakti,
Lhokseumawe,
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
IOM Bireuen
• Jl. Prof. Ismuha, Desa Bireuen,
Meunasah, Tgk. Digadong, Bireuen,
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
IOM Calang
• Desa Dayah Baro Krueng Sabe,
Aceh Jaya,
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
IOM Takengon
• Gunung Bukit Kabayakan,
Takengon,
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
IOM KutaCane
• Jl. Ahmad Yani No.38, Pulo Kemiri,
Kutacane,
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
IOM Bogor [ ops ]
• Jl. Raya Puncak Cibogo 2, PLN Udiklat No.107,
Megamendung 16770,
Bogor
• Phone : (+62251) 259 348
• Fax
: (+62251) 253 082
IOM Medan
• Jl. Panglima Nyak Makam No.12E,
Medan
• Phone : (+6261) 4154 418
• Fax
: (+6261) 4154 418
IOM Banda Aceh
• Jl. Sudirman No. 32, Banda Aceh 23230,
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
• Phone : (+62651) 435 56
• Fax
: (+62651) 435 54
• Email : [email protected]
IOM Lampung [ Ops ]
• Jl. KH Mansyur No 115, Rawa Laut,
Kec. Tj Karang Timur,
Bandar Lampung
• Mobile : (+62) 813 6949 4039
(Elfius Sembiring)
IOM Meulaboh
• Jl. Imam Bonjol No.111, Seunebok Ujung,
Meulaboh, Aceh Barat,
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
• Phone : (+62655) 7006 295
IOM Batam [ Ops ]
• Tiban UU Blok IV/ 5B, RT/ RW 002/ 11,
Kel. Tiban Lama,
Kec. Sekupang Batam
• Mobile : (+62) 811 773 460
IOM Tanjung Pinang
• Jl. Citra no.39
Tanjung Pinang 21073
Kepulauan Riau
• Phone : (+62771) 311 961
Fax
: (+62771) 311 961
IOM Yogyakarta
• Jl. H.O.S Cokroaminoto No.109,
Yogyakarta 55253
• Phone : (+62274) 619 055 / 619 056
• Fax
: (+62274) 619 012
• Email : [email protected]
IOM Surabaya [ CTU & Ops ]
• Jl. Raya Pabean,
Tropodo (Juanda Baru),
Garden Dian Regency Alamanda II-25,
Surabaya 60264,
Jawa Timur
• Mobile : (+62) 812 1027 970 /
(+62) 812 3020 917
• Fax
: (+6231) 869 0127
IOM Situbondo
• Perumahan Panorama Indah, Blok E 28-29,
Sumberkorlak,
Situbondo
• Mobile : (+62) 812 3009 469
IOM Denpasar [ Police Project ]
• Polri-RNE Coordination Office,
POLDA Bali 2nd Floor,
Jl. WR Supratman No.7,
Denpasar, Bali
• Mobile : (+62) 818 0552 0323
IOM Mataram [ ops ]
• Jl. Brawijaya No. 99,
Mataram,
Lombok Barat 83234
• Phone : (+62370) 671 721
• Fax
: (+62370) 671 388
IOM KUPANG [ ops ]
• Jl. Printis Kemerdekaan No. 17,
(UNICEF Building),
Kelapa Lima,
Kupang,
Nusa Tenggara Timur (NTT)
• Phone : (+62380) 828 382
• Mobile : (+62) 813 3943 4575
• Fax
: (+62380) 828 382
IOM Pontianak
• Jl. Anggrek No. 7,
Pontianak 78121,
Kalimantan Barat
• Phone : (+62561) 763 943
• Fax
: (+62561) 763 953
IOM Makasar [ ops ]
• Perumahan Griya Prima Tonasa, Blok C5/ 13,
Daya, Biringkanaya,
Jl. P. Kemerdekaan KM 16,
Makasar,
Sulawesi Selatan
• Phone : (+62411) 512 723
• Mobile : (+62) 813 3293 4450
IOM Ambon [ ops ]
• Jl. Rijaldi No.25, Gang Vista,
Ambon
• Mobile : (+62) 811 293 796
IOM Merauke [ ops ]
• Jl. Bhakti Gang II, Kelurahan Maro,
Kecamatan Merauke,
Kabupaten Merauke
• Phone : (+62971) 325 891
• Mobile : (+62) 813 7663 1888
The aim of the IOM-JRF Livelihood Project is aligned with the
Provincial Government’s reconstruction and development
policy, which is to assist communities and small business to
increase their capacity to grow and generate income. /
Inti program IOM-JRF ini adalah sesuai dengan kebijakan Pemerintah Daerah
DIY, yaitu membantu masyarakat / UKM agar mampu meningkatkan
kemampuan mereka dalam berusaha.
– Ir. Bayudono, M.Sc –
The Head of the Office for Settlement and Regional Infrastructure, Special Region of Yogyakarta
Kepala Dinas Kantor Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Provinsi DIY
IOM International Organization for Migration
OIM Organisasi Internasional untuk Migrasi
IOM INDONESIA HEAD OFFICE
Menara Eksekutif Floor 13th • Jl. MH. Thamrin Kav.9 • Jakarta 10350 • Indonesia
Phone : +62 (0) 21 3983 8529 • Fax : +62 (0) 21 3983 8528
www.iom.or.id
Download