Efektivitas Metode Praktikum dengan Alat Peraga Periskop

advertisement
BAB II
Kajian Pustaka
2.1
Metode Pembelajaran Praktikum
2.1.1 Pengertian Metode
Bidang pendidikan sangat penting peranannya dalam mempersiapkan sumber
daya manusia yang berkualitas. Oleh sebab itu, pendidikan hendaknya dikelola
dengan baik. Hal tersebut bisa tercapai apabila siswa dapat menyelesaikan pendidikan
tepat pada waktunya dengan hasil belajar yang baik. Hasil belajar siswa, ditentukan
oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu, kemampuan guru (Profesionalisme guru)
dalam mengelola pembelajaran dengan metode-metode yang tepat, yang memberi
kemudahan bagi siswa untuk mempelajari materi pelajaran, sehingga menghasilkan
pembelajaran yang lebih baik.
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos‟‟ yang berarti cara atau jalan
yang
ditempuh.
Sehubungan
dengan
upaya
ilmiah,
maka
metode
menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi
sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai
tujuan.
Metode mengajar adalah cara tertentu yang digunakan untuk menyampaikan
pesan informasi dari satu penyampai informasi kepada penerima informasi (Mulyani
Sumantri: 2001: 254). Sedangkan pakar lain mengatakan bahwa metode mengajar
adalah suatu cara atau jalan yang harus dilakukan dalam mengajar (Slameto, 2003:
15). Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (2002) menyebutkan bahwa metode
adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai
sesuai dengan yang dikehendaki. Menurut Nana Sudjana (2005: 76) “Metode
pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan
dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”. Sedangkan M. Sobri
6
7
Sutikno (2009: 88) menyatakan, “Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan
materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada
diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan”.
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis, untuk mencapai tujuan pembelajaran (Wina Senjaya, 2008). Terdapat
beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan
strategi pembelajaran, diantaranya: 1) ceramah; 2) demonstrasi; 3) diskusi; 4)
simulasi; 5) laboratorium/pratikum; 6) pengalaman lapangan; 7) brainstorming; 8)
debat, 9) simposium, dan sebagainya.
Berdasarkan pendapat dari para ahli, maka dapat disimpulkan metode
pembelajaran adalah cara-cara yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam proses
pembelajaran untuk menyampaikan suatu materi pembelajaran atau informasi kepada
peserta didik, agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan dapat
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2.1.2 Pengertian Praktikum
Praktikum berasal dari kata “praktik”, artinya melakukan suatu kegiatan secara
nyata dan berdasarkan pada teori yang sudah dipelajari sebelumnya. Praktikum
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memecahkan atau membuktikan suatu
teori, yang meliputi, mengamati, mengukur sehingga diperoleh data yang kemudian
dipergunakan untuk menarik kesimpulan. Sedangkan menurut KBBI (2001)
praktikum adalah bagian dari pengajaran yang bertujuan agar siswa mendapat
kesempatan untuk menguji dan melaksanakan dikeadaan nyata, apa yang diperoleh
dari teori dan pelajaran praktik.
Hamalik dalam Arsyad (2000) mengemukakan bahwa pengajaran dalam proses
belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar
bahkan membawa pengaruh psikologi pada siswa. Inti proses pengajaran tidak lain
adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan
8
pengajaran akan tercapai secara maksimal jika disesuaikan dengan kegiatan belajar
mengajar yang diterapkan (Djamarah, 2002). Oleh karena itu sebagai seorang
pengajar guru harus dapat menentukan kegiatan belajar mengajar yang tepat dan
dapat menarik siswa khususnya mata pelajaran IPA. Salah satunya adalah praktikum
yang merupakan bentuk pengajaran dimana siswa secara aktif dan langsung dalam
usaha memperoleh pengetahuan dan pemahaman teori atau memberikan suatu
keterampilan berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan, dan berdasarkan petunjuk
yang ada.
Menurut Arsyad (2000) belajar yang paling baik adalah melalui pengalaman
langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar
mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam
perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.
Praktikum merupakan bagian pengajaran yang bertujuan agar siswa
mendapatkan kesempatan untuk menguji dan melaksanakan dalam keadaan nyata
atau belajar melalui pengalaman langsung apa yang diperoleh dalam teori. Kondisi ini
menempatkan siswa dalam situasi yang menuntut siswa mengalami sendiri
pertentangan pikiran secara pribadi, sehingga mampu merangsang minat dan
keingintahuannya. Melalui pengetahuan empiris siswa akan tertolong dalam mencari
tahu secara tuntas apa yang diterima dan diamati secara langsung. Kesulitan yang
mungkin terjadi dari penjelasan guru akan teratasi dengan mudah. Metode pengajaran
ini berupa penggunaan alat dengan bantuan alat-alat untuk menjelaskan suatu konsep
tertentu (Omang, 1989).
Kegiatan praktikum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam
pembelajaran IPA, sehingga IPA disebut dengan experimental science. Hal itu sejalan
dengan pendapat Sagala, S (2005: 220) yang menjelaskan bahwa proses belajar
mengajar dengan praktikum ini berarti siswa diberi kesempatan untuk mengalami
sendiri, mengikuti proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan, dan
menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek, keadaan atau proses sesuatu.
9
Praktikum
bukanlah
sekedar
menggunakan
alat,
melainkan
untuk
memperlihatkan suatu prinsip, menguji kebenaran teori yang diperoleh secara teoritis
dan untuk memperkuat pemahaman serta kepercayaan. (Wahyudi. 2004)
Menurut Utomo, (1994) Praktikum merupakan salah satu bentuk pengajaran
yang terutama cocok memenuhi fungsi pendidikan umum “latihan dan umpan balik”
dan fungsi khusus “memperbaiki motivasi siswa”. Penggunaan kegiatan belajar
mengajar ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri
jawaban atas persoalan yang dihadapinya, sekaligus membuktikan kebenaran dari
teori sesuatu yang sedang dipelajarinya. Kerja praktik memberikan siswa suatu ide,
untuk menerapkan teori-teori yang diperoleh dari kelas dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, kerja praktik dapat membantu siswa untuk mendemonstrasikan
hal-hal dengan mata pelajaran secara menyeluruh (Percival, 1998).
Metode praktikum bukanlah metode yang baru dalam pembelajaran, hanya saja
pada satuan pendidikan khususnya sekolah dasar metode ini jarang dilakukan.
Metode praktikum ini unggul dari beberapa metode pembelajaran yang lain, salah
satu yang menyebabkan metode ini unggul adalah pembekalan pengalaman empiris
yang dapat menumbuhkan kepercayaan dan minat yang kuat dalam diri siswa (Berg,
1991). Kegiatan praktikum memang membutuhkan waktu yang lebih lama
dibandingkan dengan belajar secara teori. Akan tetapi masalah tersebut dapat diatasi
dengan mengatur waktu dan mengalokasikan sesuai dengan jadwal yang telah
direncanakan sehingga kegiatan praktikum dapat berjalan dengan lancar tanpa ada
masalah pada pengaturan waktunya.
2.1.3 Alasan Melaksanakan Praktikum
Menurut (Berg, 1991; Lee, 1982; Mills. 1985; Nasution, 1988; Omang, 1989)
ada beberapa alasan yang melatarbelakangi mengapa guru melakukan praktikum
yaitu :
10
a. Keinginan guru untuk melakukan penguatan atau peneguhan. Praktikum dapat
digunakan untuk mengulangi dan mempertegas kebenaran teoritis yang dianjurkan
oleh guru.
b. Menunjukkan bahwa IPA adalah ilmu eksperimental sehingga kebenaran teoritis
dapat diuji melalui praktikum.
c. Dalam praktikum siswa terlibat dalam merumuskan masalah, menganalisa hasil,
menarik kesimpulan dan siswa dapat menjelaskan kembali.
d. Praktikum dapat digunakan untuk menghilangkan keraguan siswa terhadap suatu
konsep sains. Praktikum juga merupakan salah satu usaha untuk menghilangkan
verbalisme pada siswa.
e. Terbentuknya rasa ingin tahu, keterbukaan antar siswa, mempunyai sikap berani
mengambil resiko dan pantang menyerah yang ada di dalam diri siswa.
f. Penyerapan siswa terhadap materi pelajaran akan lebih tinggi jika bahasanya lebih
kongkrit.
g. Menunjang pelajaran dan mendidik siswa menjadi peneliti yang baik.
2.1.4 Keuntungan dan Kelebihan Praktikum
Menurut Breg (1991), keuntungan praktikum bagi siswa ada tiga hal yaitu
siswa lebih terlibat karena mereka sendiri yang melakukan, siswa dapat berpikir
sendiri tidak menyembunyikan diri dalam kelas yang besar, dan siswa memperoleh
keterampilan menggunakan alat. Manfaat yang juga menonjol dalam melakukan
praktikum adalah hubungan antar personal yaitu kerja sama, komunikasi, keterbukaan
dan merasa saling membutuhkan dan dibutuhkan (Kartika. 1985). Berikut ini
beberapa kelebihan praktikum menurut (Percial dan Elington, 1998) :
a.
Dalam penyampaian bahan, menggunakan kegiatan dan pengalaman langsung
dan kongkrit. Kegiatan dan pengalaman demikian lebih menarik perhatian siswa
dan memungkinkan
makna.
pembentukan konsep-konsep abstrak yang mempunyai
11
b.
Lebih realistis dan mempunyai makna, sebab siswa bekerja langsung dengan
contoh-contoh nyata, siswa langsung mengaplikasikan kemampuannya.
c.
Para siswa belajar langsung menerapkan prinsip-prinsip dan langkah-langkah
pemecahan masalah.
d.
Banyak memberikan kesempatan bagi keterlibatan siswa dalam situasi belajar.
Kegiatan demikian akan membangkitkan motivasi belajar sebab kegiatan belajar
akan disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa.
Selain kelebihan, terdapat juga kelemahan praktikum yaitu membutuhkan
persiapan yang rumit dan cermat dari guru. Jika persiapan tidak baik atau kurang
maka peluang kegagalan akan munculnya kendala-kendala semakin besar. Berikut ini
beberapa kelemahan praktikum menurut (Percial dan Elington, 1998) :
a.
Membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan belajar secara teori.
b.
Bagi siswa yang berusia muda, kemampuan berpikir rasional mereka masih
terbatas.
c.
Menuntut kemandirian, kepercayaan diri sendiri, kebiasaan bertindak sebagai
subjek pada lingkungan yang kurang memberikan peran kepada anak sebagai
subjek, karena umumnya mereka lebih banyak diperlakukan sebagai objek.
d.
Kesukaran dalam menggunakan faktor subjektifitasnya, terlalu cepat pada suatu
kesimpulan dan membuat generalisasi yang terlalu umum dari pengalaman yang
sangat terbatas.
2.1.5 Tujuan Praktikum (Utomo dan Ruijter (1994)) :
a.
Keterampilan Kognitif :
Melatih agar teori dapat dimengerti, agar segi-segi teori yang berlainan dapat
diintegrasikan, agar teori dapat diterapkan kepada problema yang nyata.
b.
Keterampilan Afektif :
Belajar merencanakan kegiatan secara mandiri, belajar bekerja sama, belajar
mengkomunikasikan informasi mengenai bidangnya.
12
c.
Keterampilan Psikomotorik :
Belajar memasang peralatan sehingga benar-benar berjalan, belajar memakai
peralatan dan instrumen tertentu.
2.2 Alat Peraga Periskop Sederhana.
2.2.1 Pengertian Alat Peraga
Menurut Nasution (1985: 100) alat peraga adalah alat pembantu dalam
mengajar agar lebih efektif. Pendapat lain dari pengertian alat peraga atau AudioVisual Aids (AVA) adalah media yang pengajarannya berhubungan dengan indera
pendengaran (Suhardi, 1978: 11). Sejalan dengan itu Sumadi (1972: 4)
mengemukakan bahwa alat peraga atau AVA adalah alat untuk memberikan pelajaran
atau yang dapat diamati melalui panca indera. Alat peraga merupakan salah satu dari
media pendidikan adalah alat untuk membantu proses belajar mengajar agar proses
komunikasi dapat berhasil dengan baik dan efektif.
Berdasarkan uraian dari para ahli jelaslah bahwa alat peraga adalah segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses
belajar pada diri siswa, sebagai alat bantu dalam mengajar agar proses belajar
mengajar dapat berjalan dengan lancar dan efektif serta dapat membantu siswa untuk
memahami suatu konsep atau materi pelajaran dan bagi guru untuk membantu,
melengkapi atau bahkan menggantikan tugas guru dalam mengajar.
2.2.2 Pengertian Periskop
Periskop merupakan alat optik untuk mengamati dari posisi tersembunyi.
Morgan Robertson (30 September 1861- 24 Maret 1915) adalah pengarang cerita
pendek dan novel terkenal Amerika Serikat, kemungkinan ia juga penemu periskop.
Periskop biasanya digunakan pada kapal selam atau kendaraan lapis baja untuk
melihat apa saja yang ada di atas permukaan laut atau di luar kendaraan lapis baja.
13
Periskop generasi baru ini dikenal dengan nama Photonic Mast. Photonic mast
tidak menggunakan prisma dan lensa seperti diperiskop biasa. Komponenkomponennya merupakan komponen elektronik canggih yang berfungsi sebagai unit
sensor elektro-optik yang bisa menyediakan tampilan visual, sarana navigasi kapal,
serta berbagai fungsi komunikasi lainnya. Sensor multifungsi ini terletak pada bagian
yang dapat berotasi (rotating head). Kelebihan lain desain baru ini adalah ukurannya
yang sangat kecil. Periscope well yang menjadi „markas‟ tidak lagi menjulur dari
dasar sampai sail, justru periscope well desain baru ini hanya terletak di bagian sail
saja sehingga ruang kendali dapat diposisikan di bagian yang lebih luas dan tidak
sempit. Faktor keselamatan pun dapat ditingkatkan karena canggihnya teknologi yang
melingkupi kapal selam masa depan ini. Prinsip kerja periskop, Periskop di kiri
menggunakan cermin, sedangkan periskop kanan menggunakan prisma adalah posisi
pengamat.
Tugas utama periskop adalah untuk mengintip keadaan di permukaan laut saat
kapal selam masih menyelam di bawah air. Sebuah periskop yang paling sederhana
memiliki dua cermin, yang satu terletak di ujung atas (berfungsi sebagai mata
pengintipnya), yang lainnya terletak di dasar periskop. Cahaya yang terkumpul di
cermin atas kemudian diarahkan menuju cermin di dasar periskop sehingga nahkoda
kapal dapat melihat bayangan benda yang ada di depan periskop di atas permukaan
laut. Seiring perkembangan teknologi, periskop kapal selam pun mengalami banyak
penyempurnaan, panjang periskop biasanya bisa mencapai 18 meter.
2.2.3 Pengertian periskop sederhana
Mengutip dari artikel wikipedia Indonesia, Periskop sederhana adalah alat
untuk melihat ketika dihalangi kerumunan orang. Periskop sederhana dapat dibuat
dengan menggunakan kardus atau kertas karton yang diberi cermin pararel dan saling
berhadapan dengan sudut 45 pada setiap sisinya. Sebuah periskop yang paling
sederhana memiliki dua cermin, yang satu terletak di ujung atas (berfungsi sebagai
mata pengintipnya), yang lainnya terletak di dasar periskop. Seperti yang diungkap
14
pada bagian awal, bahwa periskop itu sebenarnya merupakan alat yang digunakan
pada kapal selam atau kendaraan lapis baja untuk melihat apa saja yang ada di atas
permukaan laut atau diluar kendaraan lapis baja, maka sebenarnya model periskop
sederhana ini hanya sebatas memperkenalkan prinsip dasar pada periskop, yang mana
untuk melihat benda tidak harus kelihatan seluruh bagian kepala, atau dengan kata
lain memperkenalkan cara melihat benda dengan cara sembunyi-sembunyi tidak
secara langsung terlihat siapa yang melihat dengan memanfaatkan sifat cahaya dapat
dipantulkan dan pada akhirnya cahaya mengenai mata kita.
2.2.4 Cara Membuat Periskop Sederhana.
Bahan dan alat periskop sederhana adalah sebagai berikut:
1. Bahan :
a.
Kardus bekas atau kertas karton
b.
Dua buah cermin
c.
Solasi kertas atau selotip
d.
Lem
2. Alat :
a.
Gunting
b.
pemes atau silet
c.
Penggaris
d.
pensil atau pulpen
3. Cara mengerjakan :
a.
Sediakan dua macam cermin datar, kardus bekas/ kertas karton, dan alat
pendukung lainnya.
b.
Bagilah kardus/ kertas karton menjadi empat bagian yang sama.
c.
Buatlah dua buah persegi kecil.
d.
Potonglah persegi panjang kecil membentuk sudut 45 pada dua sisi yang lain.
e.
Lipatlah kardus membentuk persegi panjang dan rekatkan dengan selotip.
15
f.
Selipkan cermin datar pada celah bersudut dan rekatkan dengan selotip. Salah
satu cermin menghadap ke atas dan yang lainnya menghadap ke bawah.
g.
Tutuplah ujung persikop dengan cermin di bagian dalam. Rekatkan sisi
penutup yang di dalamnya terdapat cermin itu dengan solasi keras.
h.
Posisi lembar sisi yang akan digabung menjadi persikop seperti dibawah ini :
Gambar 2.1 : Skema Model Periskop Sederhana.
i.
Tegakkan periskop, putar-putar posisi periskop agar lubang pengintai
mengarah pada suatu objek tertentu. Amati cermin bawah melalui lubang
pengintai.
j.
Jika semua bagian sudah direkatkan, maka jadilah persikop sederhana itu.
Cobalah untuk melihat bagian luar kelas dengan kepala tersembunyi di balik
tembok.
Gambar 2.2 : Periskop Sederhana
16
2.2.5 Penggunaan Periskop Sederhana dalam Pembelajaran
Kehadiran alat peraga dalam proses belajar mengajar mempunyai arti yang
cukup penting. Dalam kegiatan tersebut ketidak jelasan bahan-bahan yang
disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media atau alat peraga sebagai
perantara kerumitan bahan yang akan disampaikan, Daryanto (2010: 4). Selembar
kertas karton, bahkan bekas kardus sekalipun, bisa dibentuk menjadi sebuah alat
peraga pendidikan yaitu periskop sederhana. Periskop sederhana ini adalah suatu alat
bantu dalam pembelajaran yang memiliki kekuatan kreativitas yang tentu saja biasa
dimanfaatkan untuk membantu siswa dalam memahami materi tentang pemantulan
cahaya.
Penggunaan alat peraga periskop sederhana dalam pembelajaran, memegang
peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan kegiatan pembelajaran yang
efektif, kreatif dan dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena periskop
sederhana dapat dibuat dengan bahan-bahan yang sederhana serta mudah didapatkan.
Bentuk periskop ini bisa disesuaikan dengan kreativitas masing-masing siswa,
asalkan periskop dibuat dengan aturan-aturan tertentu serta dapat digunakan. Setiap
proses pembelajaran dilandasi dengan adanya beberapa unsur antara lain tujuan,
bahan, metode, media, alat, serta evaluasi. Dalam pencapaian tujuan, peranan media
pembelajaran seperti alat peraga merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran
yang dapat membantu siswa lebih mudah untuk memahami materi sehingga tidak
terjadi kesalahan miskonsepsi. Dalam proses belajar mengajar alat peraga periskop
sederhana dipergunakan dengan tujuan membantu guru agar proses belajar siswa
lebih efektif dan efisien dan dapat membantu siswa memahami materi tentang “Sifatsifat cahaya” terutama pada poin pemantulan cahaya. Periskop sederhana ini
digunakan dalam pembelajaran IPA di Sekolah Dasar untuk memperkuat
pembelajaran “Penerapan sifat cahaya dalam membuat suatu karya”. Alat ini dapat
digunakan untuk mengintai atau melihat benda-benda di balik tembok, sebagai
refleksi sederhana periskop yang dipakai di kapal selam.
17
Berdasarkan hal tersebut, dalam pembelajaran alat peraga periskop sederhana
juga dapat memotivasi siswa untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar dengan
antusias, karena alat peraga yang menarik dapat menarik perhatian mereka dalam
mengikuti pembelajaran, sehingga hal ini akan berdampak pada kemampuan siswa
untuk mengembangkan kreativitas serta meningkatkan kualitas belajar siswa.
2.3 Pendidikan IPA
Pendidikan IPA merupakan disiplin ilmu yang di dalamnya terkait dengan ilmu
pendidikan dan IPA itu sendiri. Sebelum mengetahui lebih jelas mengenai pendidikan
IPA serta ruang lingkupnya, IPA memiliki dua pengertian yaitu dari segi pendidikan
dan IPA itu sendiri.
2.3.1 Pengertian Pendidikan
Pendidikan menurut Siswoyo (2007: 21) merupakan “proses sepanjang hayat
dan perwujudan pembentukan diri secara utuh dalam arti pengembangan segenap
potensi dalam rangka pemenuhan dan cara komitmen manusia sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial, serta sebagai makhluk Tuhan”.
Sugiharto (2007: 3) menyatakan bahwa “pendidikan merupakan suatu usaha
yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk mengubah tingkah laku manusia baik
secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan latihan”.
Berdasarkan definisi pendidikan dari para ahli dapat disimpulkan bahwa
pendidikan adalah suatu proses sadar dan terencana dari setiap individu maupun
kelompok untuk membentuk pribadi yang baik dan mengembangkan potensi yang
ada dalam upaya mewujudkan cita-cita dan tujuan yang diharapkan. Dari definisi dari
para ahli juga dikatakan bahwa pendidikan tidak hanya menitik beratkan pada
pengembangan pola pikir saja, namun juga untuk mengembangkan semua potensi
yang ada pada diri seseorang, jadi pendidikan menyangkut semua aspek pada
kepribadian seseorang untuk membuat seseorang tersebut menjadi lebih baik.
18
2.3.2 Pengertian IPA
IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains menurut Suyoso
(1998: 23) merupakan “pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan
dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur,
sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal”.
Menurut Abdullah (1998: 18), IPA merupakan “pengetahuan teoritis yang
diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan
observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi
dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain”.
Berdasarkan pendapat dari para ahli maka dapat disimpulkan bahwa IPA
merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan
menggunakan langkah-langkah ilmiah, berupa metode ilmiah dan didapatkan dari
hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum, sehingga akan terus di
sempurnakan. Dalam pembelajaran IPA mencakup semua materi yang terkait dengan
objek alam serta persoalannya. Ruang lingkup IPA yaitu makhluk hidup, energi dan
perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya. IPA terdiri
dari tiga aspek yaitu fisika, biologi dan kimia. Pada apek fisika IPA lebih
memfokuskan pada benda-benda tak hidup. Pada aspek biologi IPA mengkaji pada
persoalan yang terkait dengan makhluk hidup serta lingkungannya. Sedangkan pada
aspek kimia IPA mempelajari gejala-gejala kimia baik yang ada pada makhluk hidup
maupun benda tak hidup yang ada di alam. Dari uraian mengenai pengertian
pendidikan dan IPA, maka pendidikan IPA merupakan penerapan dalam pendidikan,
dan IPA untuk tujuan pembelajaran termasuk pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar.
Pendidikan IPA menurut Tohari (1978: 3) merupakan “usaha untuk
menggunakan tingkah laku siswa hingga siswa memahami proses-proses IPA,
memiliki nilai-nilai dan sikap yang baik terhadap IPA serta menguasi materi IPA
berupa fakta, konsep, prinsip, hukum dan teori IPA”. Pendidikan IPA menurut
Sumaji (1998: 46) merupakan “Suatu ilmu pegetahuan sosial yang merupakan
19
disiplin ilmu bukan bersifat teoritis melainkan gabungan (kombinasi) antara disiplin
ilmu yang bersifat produktif”.
Berdasarkan pendapat dari kedua ahli tentang pendidikan IPA, maka dapat
disimpulkan bahwa pendidikan IPA merupakan suatu usaha yang dilakukan secara
sadar untuk mengungkap gejala-gejala alam dengan menerapkan langkah-langkah
ilmiah serta untuk membentuk kepribadian atau tingkah laku siswa sehingga siswa
dapat memahami proses IPA dan dapat dikembangkan di dalam masyarakat.
Pendidikan IPA menjadi suatu bidang ilmu yang memiliki tujuan agar setiap
siswa terutama yang ada di Sekolah Dasar. Memiliki kepribadian yang baik, dapat
menerapkan sikap ilmiah serta dapat mengembangkan potensi yang ada di alam untuk
dijadikan sebagai sumber ilmu sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian pendidikan IPA bukan hanya sekedar teori akan tetapi dalam
setiap bentuk pengajarannya lebih ditekankan pada bukti dan kegunaan ilmu tersebut.
Bukan berarti teori-teori lama tidak digunakan, ilmu tersebut akan terus digunakan
sampai menemukan ilmu dan teori baru. Teori lama digunakan sebagai pembuktian
dan penyempurnaan ilmu-ilmu alam yang baru, hanya saja teori tersebut bukan untuk
dihafal namun diterapkan sebagai tujuan proses pembelajaran.
Melihat hal tersebut nampaklah pendidikan IPA harus bisa menumbuhkan sikap
ilmiah yang ada di dalam siswa, serta dapat membuat peserta didik memiliki
kepribadian yang baik, agar siswa bisa menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan
pendidikan, untuk itu perlu adanya usaha yang dilakukan agar pendidikan IPA yang
ada sekarang ini dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan awal yang akan dicapai,
karena kita tahu bahwa pendidikan IPA tidak hanya pada teori-teori yang ada namun
juga menyangkut pada kepribadian dan sikap ilmiah dari peserta didik yang
memerlukan pembuktian secara nyata.
(http://zaifbio.wordpress.com/2010/04/29/pengertian-pendidikan-ipa-danperkembangannya/).
20
2.3.3 Tujuan Pengajaran IPA di Sekolah Dasar.
IPA merupakan konsep pembelajaran yang erat kaitannya dengan alam dan
mempunyai hubungan yang sangat luas dengan kehidupan manusia. Pembelajaran
IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan teknologi,
karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pemahaman tentang
alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih
bersifat rahasia, sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu
pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, dunia pendidikan terutama pendidikan IPA di Indonesia maupun
di Negara-negara maju sangat mempengaruhi kemajuan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK).
Tujuan pengajaran IPA di sekolah bisa sangat beragam, yaitu IPA sebagai
produk, IPA sebagai proses, sains-teknologi dan masyarakat ataupun IPA untuk
pengembangan sikap dan nilai, dan pendekatan keterampilan personal dan sosial.
Secara keseluruhan berbagai kemungkinan tujuan pengajaran IPA ini bisa
diwujudkan melalui pengajaran IPA di laboratorium, karena proses pembelajaran IPA
bukan hanya menyangkut olah pikir (minds-on) tetapi juga olah tangan (hands-on)
yang berupa kerja praktik. Melalui kerja praktik ini, siswa dapat mengembangkan
keterampilan proses IPA,
yaitu kompetensi psikomotoriknya, bahkan ada
kemungkinan juga dapat berkembangnya aspek afektif. Kegiatan praktik ini dapat
berupa penemuan ataupun discovery yang dilakukan guru, kelompok siswa baik di
labolatorium, bahkan bisa di dalam kelas, maupun di lapangan.
IPA sebagai produk atau IPA buku teks adalah pengajaran tubuh pengetahuan
IPA yang terdapat dalam buku pelajaran IPA. Berbagai topik bahasan IPA di sekolah
biasanya diajarkan dengan beragam konsep dan keterkaitannya, serta hubungan
antara berbagai konsep tadi dengan hukum-hukum alam, penjelasan teoritis, beragam
diagram, contoh perhitungan, eksperimen dan lain-lain.
21
Tujuan
pengajaran
IPA
ditingkat
Sekolah
Dasar
ditunjukkan
untuk
mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat
dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan tujuan untuk mengembangkan
rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling
mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat. John W. Santrock
mengungkapkan bahwa pengajaran IPA yang efektif haruslah bisa membantu siswa
untuk membedakan antara kesalahan yang berguna dan miskonsepsi, antara
kesalahan yang berada di jalur yang benar dengan pemahaman yang tidak lengkap,
dan ide yang benar-benar salah yang perlu diganti dengan konsep yang benar-benar
akurat. Kemudian juga, kebanyakan siswa lebih tertarik pada sains yang membahas
persoalan
sehari-hari
yang
relevan
dengan
kehidupan
mereka
ketimbang
mendiskusikan teori-teori abstrak. Kedua pendapat tersebut semakin menguatkan
bahwa tujuan pembelajaran sains yang ditetapkan harus bisa membantu siswa dalam
memahami suatu konsep pembelajaran IPA agar tidak terjadi miskonsepsi, dan harus
relevan dengan kebutuhan anak. http://zaifbio.wordpress.com/2010/04/29/pengertianpendidikan-ipa-dan-perkembangannya/.
2.4
Pembelajaran IPA dengan Metode Praktikum dengan Alat Peraga
Periskop Sederhana
Suparno, P (2007) menjelaskan bahwa metode praktikum adalah metode
mengajar yang mengajak siswa melakukan kegiatan percobaan untuk membuktikan
atau menguji teori yang telah dipelajari memang memiliki kebenaran. Dalam
mengimplementasikan kegiatan praktikum dalam pembelajaran, umumnya siswa
dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil antara 2-4 orang, tergantung pada
ketersediaan alat dan bahan. Pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar umumnya siswa
kesulitan dalam melakukan percobaan, karena itu guru harus menyediakan LKS
sebagai panduan bagi siswa dalam melakukan praktikum.
Penggunaan metode praktikum dengan alat peraga periskop sederhana dalam
pembelajaran IPA khususnya untuk menjelaskan konsep pemantulan cahaya sangat
22
baik untuk menunjang pembelajaran. Apalagi jika siswa terlibat dalam membuat
periskop sederhana, siswa akan termotivasi dalam belajar. Selain itu siswa dapat
berkreasi sendiri dengan kreativitasnya masing-masing untuk dapat membuat
periskop sederhana yang akan membantunya dalam memahami materi tentang
pemantulan cahaya, agar penggunaan metode praktikum dengan alat peraga periskop
sedehana ini dapat mencapai hasil dengan baik maka perlu dilakukan langkahlangkah sebagai berikut (sumber : Science Education Quality Imphovement Project
(SEQIP)) :
2.4.1 Langkah Persiapan
Sebelum memulai pembelajaran ini guru harus melakukan percobaan sendiri
untuk menghasilkan bayangan dan membuat periskop sederhana. Dengan demikian
guru dapat memberikan petunjuk yang tepat kepada siswa. Persiapan yang baik perlu
dilakukan untuk memperkecil kelemahan-kelemahan atau kegagalan-kegagalan yang
dapat muncul. Persiapan untuk metode praktikum antara lain;
a.
Menetapkan tujuan praktikum
b.
Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan
c.
Mempertimbangkan jumlah siswa dengan jumlah alat yang tersedia dan kapasitas
tempat praktikum
2.4.2 Pelaksanaan Kegiatan Praktikum
2.4.3 Pengenalan
Sebelum melaksanakan praktikum sebaiknya siswa diberi pemahaman tentang
pemantulan cahaya. Mintalah siswa untuk mengamati gejala pemantulan cahaya
dengan menggunakan cermin datar. Berdasarkan pengetahuan ini siswa dapat diberi
beberapa pertanyaan, misalnya apa saja kegunaan cermin datar, dengan bantuan
cermin datar dapatkah siswa membelokan cahaya matahari dari halaman ke dalam
rumah?. Berikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan jawaban mereka.
Mungkin jawaban siswa ada yang benar, dan ada juga yang salah.
23
Tugas guru adalah mencatat jawaban-jawaban tersebut di papan tulis dengan
catatan jangan dibahas dulu. Untuk memasuki kegiatan inti pembelajaran, dapat
ditegaskan kepada siswa bahwa mereka akan belajar dan bermain-main dengan
cermin, dan membuat peralatan sederhana dengan menggunakan cermin datar. Hal ini
pasti dapat membuat siswa tertarik dalam mengikuti pembelajaran.
Selama proses pelaksanaan metode praktikum berlangsung guru perlu
melakukan observasi terhadap proses praktikum yang sedang dilaksanakan baik
secara menyeluruh maupun per kelompok. Kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan
antara lain:
1) Kegiatan 1 (Membelokan Cahaya)
a. Perhatikan cahaya matahari di halaman sekolah. Bila cahaya matahari di luar
bersinar terang, ajukanlah permasalahan berikut ini. Bagaimana caranya agar
cahaya matahari tersebut dapat dibelokan sehingga masuk ke dalam ruang
kelas?
b. Berikan cermin datar kepada salah seorang siswa. Mintalah siswa tersebut ke
halaman sekolah dengan membawa cermin. Suruh ia bermain-main dengan
cermin tersebut untuk membelokan cahaya matahari masuk ke dalam kelas,
misalnya melalui lubang pintu, melalui jendela, melalui kaca dinding kelas
dan lain-lain.
c. Mintalah siswa yang lain untuk mengamati hasil kegiatan temannya tadi.
Ajaklah siswa untuk mendiskusikan kegiatan tersebut. Arahkan diskusi untuk
menarik kesimpulan.
d. Jika cuaca tidak mendukung guru bisa menggunakan cahaya lampu senter
sebagai pengganti cahaya matahari, kemudian mintalah dua orang siswa maju
di depan kelas, satu memegang cermin dan anak kedua memegang lampu
senter. Kemudian arahkan cahaya lampu senter pada cermin, putar atau
arahkan cahaya yang mengenai cermin pada benda-benda di sekitar kelas
dengan catatan tidak boleh di arahkan pada siswa lain yang ada di dalam
kelas.
24
2) Kegiatan 2 (Memantulkan Cahaya)
a. Susun
lampu senter, balok kayu (buku) dan karet penghapus dimeja
demonstrasi seperti gambar berikut ini :
senter
Buku/balok
kayu
2 buah cermin
Karet penghapus
Gambar 2.3 : Demonstrasi Kegiatan 2
b. Ajukan permasalan berikut “Bagaimana caranya agar cahaya lampu senter
dapat menerangi karet penghapus, tanpa mengangkat senter?”. Siswa yang
telah menemukan jawabannya diminta untuk maju di depan kelas menjelaskan
sekaligus mempraktikannya, siswa yang lain diminta untuk memperhatikan.
Diharapkan ada siswa yang menemukan cara dengan menggunakan dua buah
cermin yang dipasang saling berhadapan di bagian atas. Salah satu cermin
dicondongkan ke arah nyala senter sedangkan cermin kedua dicondongkan ke
arah karet penghapus, jika tidak ada yang bisa, guru bisa memberikan
pertanyaan yang dapat membuka ide siswa. Jika ibu/ bapak menggunakan dua
buah cermin ini dengan dipasang saling berhadapan di bagian atas, bisa tidak
nyala senter itu mengenai karet penghapus?. Sekarang salah satu cermin
dicondongkan ke arah nyala senter, sedangkan cermin kedua dicondongkan ke
arah karet penghapus apa yang anak-anak lihat? (ini alternatif jika tidak ada
yang dapat menjawab permasalahan di atas).
Prinsip pembelokan cahaya oleh cermin datar yang baru ditemukan itu
dapat digunakan sebagai dasar dalam perancangan peralatan sederhana yaitu
periskop sederhana, untuk menerapkan pengetahuan ini ajaklah siswa untuk
melakukan kegiatan selanjutnya.
25
3) Kegiatan 3 (Memantulkan Cahaya)
Berdasarkan pengetahuan setelah siswa melakukan percobaan sebelumnya
mintalah salah satu siswa berdiri di depan kelas membelakangi teman-temannya
dengan memegang cermin datar, mintalah dia untuk menyebutkan nama temantemannya yang duduk di belakangnya, misalnya namanya siapa, duduk dengan
siapa dan lain-lain. Setelah siswa terampil menggunakan cermin datar untuk
mengamati benda-benda di belakangnya serta untuk membelok-belokkan cahaya,
ajak mereka untuk membuat periskop sederhana.
4) Kegiatan 4 (Membuat Periskop Sederhana)
Setelah siswa terampil menggunakan cermin datar untuk mengamati bendabenda di belakangnya serta untuk membelokkan cahaya, ajaklah siswa untuk
membuat “Periskop sederhana”. Jelaskanlah terlebih dahulu bagaimana cara
membuat periskop sederhana.
2.4.4 Tindak Lanjut Metode Praktikum
Setelah melaksanakan praktikum, kegiatan selanjutnya adalah:
a.
Meminta siswa membuat laporan praktikum.
b.
Meminta siswa untuk mempresentasikan hasil laporan praktikum.
c.
Meminta siswa untuk menyimpan kembali semua perlengkapan yang telah
digunakan.
Penggunaan metode praktikum IPA dengan alat peraga periskop sederhana ini
diharapkan dapat membantu siswa memahami materi tentang pemantulan cahaya,
serta untuk mengembangkan kreativitas siswa yang meliputi aspek rasa ingin tahu,
keterbukaan terhadap pengalaman, toleransi terhadap resiko dan mempunyai energi
dalam memecahkan masalah tentang materi yang disampaikan serta dapat membuat
suatu alat peraga yang dapat membantunya dalam memahami materi tersebut.
26
2.5
Pengertian Kreativitas
Kreativitas merupakan suatu kemampuan yang sangat berarti dalam proses
kehidupan manusia. Kreativitas manusia melahirkan penciptaan besar yang mewarnai
sejarah kehidupan umat manusia dengan karya-karya spektakulernya.
Menurut Campbel (1986) kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil
yang sifatnya baru, berguna dan dapat dimengerti. Baru berarti bersifat inovasi,
belum ada sebelumnya, segar, menarik dan aneh. Berguna berarti dapat memberikan
kepuasan, praktis, memudahkan, memperlancar, dan sebagainya. Kreativitas dapat
dimengerti berarti dapat dibuat dalam kesempatan lain.
Menurut (Clark Moustatis), kreativitas adalah pengalaman mengekpresikan dan
mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan
diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain. Kreativitas menurut (KBBI) adalah
kemampuan untuk mencipta atau daya cipta. Sedangkan menurut (Conny R.
Semiawan) Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberi gagasan baru yang
menerapkannya dalam pemecahan masalah.
Utami Munandar (1992) mengatakan kreatif sebagai kemampuan untuk
membuat kombinasi baru berdasarkan data informasi atau unsur-unsur yang ada.
Sejalan dengan Utami Munandar, Parnes (dalam Issenberg, 1993: 4) menyatakan
kreativitas sebagai proses berpikir dan merespon yang meliputi menghubungkan
dengan pengalaman sebelumnya, merespon stimulus (objek, simbol, ide, orang,
situasi) dan paling tidak menghasilkan kombinasi yang unik. Hughes, Ginnet, dan
Curphy (1996 dalam Akande, 1997: 91) menyatakan bahwa kreativitas didukung oleh
tiga komponen, yaitu: keahlian (expertise), berfikir imajinatif (imaginative thinking),
dan motivasi yang menantang (instrinsic motivation). Keahlian berkembang dari
kumpulan pengetahuan yang intensif sebagai sumber ide atau kreativitas; berfikir
imaginatif merupakan kemampuan untuk melihat sesuatu dengan cara berbeda atau
untuk menarik pola atau keterkaitan dari sesuatu yang nampak tidak berkaitan;
sedangkan motivasi yang menantang umumnya akan mendorong seseorang untuk
bekerja keras mencari solusi terhadap permasalahan.
27
Pengertian kreativitas menunjukkan ada tiga tekanan kemampuan yaitu yang
berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan atau
menjawab masalah, dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif
(Utami
Munandar: 1992).
Berdasarkan pendapat dari para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas
adalah upaya-upaya untuk mencari, menemukan dan menghasilkan gagasan baru,
baik dalam mencari solusi terhadap permasalahan, maupun dalam menghasilkan
karya-karya baru atau orisinil di dalam berbagai bidang kehidupan.
Menurut Campbell (1986: 27-44) terdapat lima ciri umum orang kreatif, yaitu :
Ciri-ciri pokok; 1) memiliki kelincahan mental (berpikir ke segala arah atau berpikir
divergen); orang kreatif tidak berpikir hanya tertuju pada satu arah, ia berpikir dari
segala arah, dari segala aspek, pikirannya tidak bisa diam, ia suka berpikir tentang
sesuatu yang dilihat dan dialaminya dan tidak mau hanya sekedar menerima. 2)
Fleksibilitas konseptual; jika memiliki konsep tentang sesuatu ia cenderung akan
senantiasa memperbaiki sampai ia benar-benar yakin akan konsepnya, ia tidak mau
bekerja sekedarnya, 3) orisionalitas; apa yang dipikirkan, dikonsepkan, dan
dikerjakan tidak meniru pikiran atau konsep orang lain tetapi merupakan miliknya
secara orisinil, 4) ia suka hal-hal bersifat kompleks kurang suka pada hal-hal
sederhana, 5) memiliki kecakapan dalam banyak hal. Ciri-ciri yang memungkinkan;
1) suka bekerja keras, 2) berpikir mandiri, 3) pantang menyerah.
Menurut Rhodes (Munandar, 1988) kreativitas dapat ditinjau dari “Pribadi yang
kreatif”, dan juga dari segi faktor-faktor “pendorong (press)” kreativitas dari segi
“proses kreatif”, dan juga dari segi “produk kreativitas”, yang dirumuskan dengan
istilah 4P (Pribadi, Pendorong, Proses, dan Produk).
Melalui pendekatan 4P, Mundandar mendefinisikan kreativitas sebagai berikut :
1.
Pribadi
Kreativitas ditinjau dari dimensi pribadi (person) merupakan ungkapan dari
keunikan individu dalam interaksinya dengan lingkungan. Dari ungkapan pribadi
yang unik dan orisinil diharapkan timbul gagasan baru dan produk-produk yang
28
inovatif. Kreativitas merupakan ungkapan unik dari keseluruhan kepribadian
sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dan yang tercermin dalam
pikiran, perasaan, sikap, atau perilakunya. Biasanya seorang individu yang
kreatif memiliki sifat yang mandiri. Ia tidak merasa terikat pada nilai-nilai dan
norma-norma umum yang berlaku dalam bidang keahliannya.
2.
Pendorong
Press atau dorongan maksudnya adalah dorongan dari lingkungan dan dari
diri sendiri untuk berkreasi menghasilkan sesuatu yang baru. Kreativitas
merupakan hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Potensi kreatif
yang dimiliki seseorang harus didukung oleh situasi dan lingkungan sekitar agar
dapat menciptakan sesuatu yang inovatif. Selain itu juga harus ada dorongan dari
dalam diri, sebab potensi yang tidak dipaksakan dari dalam diri tidak akan
mencapai keunggulan kreativitas.
3.
Proses
Diperlukan suatu proses untuk bersibuk diri secara kreatif dalam
melaksanakan suatu kegiatan untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif.
Kreativitas sebagai proses menunjuk pada perlunya seseorang berusaha untuk
melihat lebih jauh dan lebih mendalam, daripada menginginkan hasil (produk)
secepat-cepatnya. Kreativitas tidak hanya tergantung dari timbulnya inspirasi,
tetapi menuntut ketekunan dan keuletan, waktu dan kerja keras (Torrance dalam
Munandar, 1988).
4.
Produk
Kreativitas ditinjau dari dimensi produk diartikan sebagai kemampuan untuk
menciptakan produk baru atau membentuk kombinasi baru antara unsur-unsur
yang ada atau yang sudah diketahui sebelumnya.
Utami Munandar menerangkan bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau
kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibititas), dan
orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan,
memperkaya, memperinci), suatu gagasan. Pada definisi ini lebih menekankan pada
29
aspek proses perubahan (inovasi dan variasi). Selain pendapat yang diuraikan di atas
ada pendapat lain yang menyebutkan proses terbentuknya kreativitas sebagai berikut :
Wallas (1976) dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001 mengemukakan empat
tahap dalam proses kreatif yaitu:
1) Tahap Persiapan; adalah tahap pengumpulan informasi atau data sebagai bahan
untuk memecahkan masalah. Dalam tahap ini terjadi percobaan-percobaan atas
dasar berbagai pemikiran kemungkinan pemecahan masalah yang dialami.
2) Tahap Inkubasi; adalah tahap dieraminya proses pemecahan masalah dalam alam
prasadar. Tahap ini berlangsung dalam waktu yang tidak menentu, bisa lama
(berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun), dan bisa juga hanya sebentar
(hanya beberapa jam, menit bahkan detik). Dalam tahap ini ada kemungkinan
terjadi proses pelupaan terhadap konteksnya, dan akan teringat kembali pada
akhir tahap pengeraman dan munculnya tahap berikutnya.
3) Tahap Iluminasi; adalah tahap munculnya inspirasi atau gagasan-gagasan untuk
memecahkan masalah. Dalam tahap ini muncul bentuk-bentuk cetusan spontan,
seperti dilukiskan oleh Kohler dengan kata-kata now, I see itu yang kurang
lebihnya berarti “oh ya”.
4) Tahap Verifikasi; adalah tahap munculnya aktivitas evaluasi tarhadap gagasan
secara kritis, yang sudah mulai dicocokkan dengan keadaan nyata atau kondisi
realita.
Berdasarkan pendapat dari para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
mereka memandang kreativitas sebagai sebuah proses yang terjadi di dalam otak
manusia dalam menemukan dan mengembangkan sebuah gagasan baru yang lebih
inovatif dan variatif (divergensi berpikir). Proses kegiatan kreatif bagi siswa
merupakan sebuah program yang memberikan kesempatan dan tempat untuk mereka
mengekspresikan pikiran, ide, perasaan, aksi, dan kemampuan dalam berbagai
penggunaan media dan aktivitas. Adapun menurut Mayesky (1990) prinsip yang
perlu di perhatikan dalam melakukan proses kreativitas untuk siswa adalah:
30
1) Memperhatikan proses bukanlah hasil (product)
Tujuan utama kegiatan kreativitas bukanlah terlihat dari produk yang
dihasilkan melainkan proses ketika berkreasi tersebut. Dalam proses kretivitas
tersebut dapat terlihat menggambarkan pengalaman dan perasaan anak. Alasan
lainnya mengapa proses kreativitas lebih penting daripada produk yang
dihasilkan adalah seorang anak belum memiliki kemampuan yang cukup baik
dalam menggunakan material. Oleh karena itu, sebaiknya kegiatan kreativitas
memberikan
kesempatan
kepada
anak
untuk
berekspresi
berdasarkan
kemampuan anak untuk mengkonstruksi sesuatu melalui cara mereka sendiri.
2) Memperhatikan kebutuhan anak
Kegiatan kreativitas harus memperhatikan kebutuhan anak, disesuaikan
dengan usia, kemampuan, dan minat. Adapun hal-hal yang dapat dilakukan
adalah sebagai berikut:
a.
Menyiapkan area yang dapat memfasilitasi pengalaman kreatif anak,
b.
Menyiapkan material-material sehingga anak mendapatkan pengalaman
berkreasi,
c.
Menyiapkan kegiatan yang dapat mengembangkan kreativitas anak.
2.5.1 Ciri-ciri Individu Kreatif
Semiawan (1984) membagi ciri-ciri individu yang kreatif, yaitu adanya
dorongan ingin tahu yang lebih besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik,
memberikan banyak gagasan, bebas dalam mengemukakan pendapat, menonjol
dalam suatu bidang, memiliki pendapat sendiri dan mampu mengungkapkannya,
tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain, dapat bekerja sendiri dan senang
mencoba hal-hal yang baru.
Sedangkan Munandar (1982) melalui penelitiannya, menyebutkan ciri-ciri
kepribadian yaitu mempunyai daya imajinasi yang kuat, memiliki inisiatif dan minat
yang luas, memiliki kebebasan dalam berpikir, bersifat ingin tahu, penuh semangat,
berani mengambil resiko, memiliki keyakinan dan berani berpendapat.
31
Ayan (2002) mengajukan 4 kualitas pribadi seseorang yang disebut sebagai
karakteristik kepribadian yang sangat potensial untuk upaya-upaya mencari,
menemukan dan menghasilkan gagasan baru serta karya-karya baru atau orisinil di
dalam berbagai bidang kehidupan (Kreatifitas), yang akan peneliti gunakan dalam
mengembangkan angket untuk mengukur kreativitas siswa. Karakteristik kepribadian
tersebut meliputi aspek:
1.
Rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu merupakan komponen pertama yang sangat penting bagi
usaha-usaha kreatif yang dilakukan seseorang. Hal ini disebut juga sebagai
kekuatan mempertanyakan sesuatu.
2.
Keterbukaan terhadap pengalaman
Keterbukaan terhadap pengalaman dan pengetahuan atau informasi baru
juga merupakan komponen yang vital dalam kreativitas, untuk menjadi orang
yang kreatif diperlukan persediaan informasi dan pengalaman yang banyak serta
beraneka ragam dari waktu ke waktu, agar cukup informasi dan pengalaman,
seseorang harus bersikap fleksibel, terbuka, mau menerima, dan menghargai
berbagai pandangan, pemikiran, pendapat, dan hasil karya orang lain. Dalam
fleksibilitas dan keterbukaan ini, seseorang akan dapat memperkaya pengetahuan
yang telah ada di dalam struktur kognitif sehingga ia berpeluang besar untuk
dapat memunculkan gagasan-gagasan yang luar biasa.
3.
Toleransi terhadap resiko
Toleransi terhadap resiko merupakan kesanggupan atau kesediaan
seseorang untuk mengambil resiko, terhadap apa saja yang hendak diusahakan
atau dihasilkan. Keterbukaan dan keingintahuan seseorang juga akan
berkembang dengan baik apabila seseorang mempunyai toleransi yang tinggi
atau kesanggupan untuk menerima resiko-resiko tertentu yang mungkin
ditimbulkan.
32
4.
Energi
Pada umumnya orang yang kreatif memiliki energi yang luar biasa,
khususnya energi fisik. Proses-proses kreatif berlangsung mulai dari pencarian
gagasan sampai dengan pengujian atau pelaksanaan gagasan tersebut sehingga
hasilnya dapat dinikmati oleh orang lain. Proses ini tentu membutuhkan
konsentrasi penuh, komitmen, ketekunan dan ketahanan kerja dan waktu kerja
lembur dapat berlangsung berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun. Itulah
sebabnya mengapa orang kreatif sanggup memikirkan sesuatu dan bekerja keras
dalam waktu lama, karena mereka mempunyai stamina dan energi fisik yang luar
biasa.
2.5.2 Pentingnya Kreativitas
Pentingnya kreativitas tertera dalam Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun
2003 yang intinya antara lain adalah melalui pendidikan diharapkan dapat
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia ang bertakwa, berakhlak
mulia, cakap, kreatif, juga mandiri. Selain itu Utami Munandar (2004: v,1,7) banyak
memberikan penjelasan mengenai pentingnya kreativitas antara lain :
1) Kreativitas adalah esensial untuk pertumbuhan dan keberhasilan pribadi, dan
sangat vital untuk pembangunan Indonesia; sehubungan dengan ini peranan
orang tua, guru, dan masyarakat sangat menentukan.
2) Pengembangan sumber daya berkualitas yang mampu mengantarkan Indonesia
ke posisi terkemuka, paling tidak sejajar dengan negara-negara lain, baik dalam
pembangunan ekonomi, politik maupun sosial budaya pada hakikatnya menuntut
komitmen kita untuk dua hal yaitu : a) penemukenalan dan pengembangan bakatbakat unggul dalam berbagai bidang, dan b) pemupukan dan pengembangan
kreativitas yang pada dasarnya dimiliki setiap orang, tetapi perlu ditemukenali
dan dirangsang sejak dini.
33
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa kreativitas
memang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan agar tercipta sumber daya
manusia yang berkualitas yang memiliki kreativitas tinggi demi membangun
Indonesia.
2.6
Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Hilmansyah dengan judul “Pengaruh Metode
Pembelajaran Praktikum Fisika terhadap Kreativitas Siswa di Sekolah Menengah
Umum”. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh metode
pembelajaran praktikum fisika siswa terhadap kreativitas siswa.
Penelitian yang dilakukan oleh Ayu dengan judul “Penerapan Strategi Open
Ended Problem Bersetting Kooperatif untuk Meningkatkan Kreativitas dan
Pemahaman Pecahan bagi Siswa Kelas VII SMP PGRI 6 Malang”. Berdasarkan data
hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dapat disimpulkan bahwa terdapat
perubahan dati tindakan I ke tindakan II yaitu 72,9 % (cukup) menjadi 85,42% (baik).
Dengan kata lain terdapat peningkatan terhadap aktivitas siswa dari tindakan I ke
tindakan II. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah bahwa kreativitas dan
pemahaman siswa dengan penerapan strategi Open Ended Problem Berseting
Kooperatif adalah meningkat.
Penelitian yang dilakukan oleh Purwanto dengan judul “Menumbuhkan
Kreativitas Siswa melalui Pembelajaran Grafik Fungsi Eksponen dengan Pendekatan
Open-Ended Problem di Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Tanjung Selor. (Tesis).
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pembelajaran grafik fungsi eksponen
dengan pendekatan open-ended problem dapat menumbuhkan sikap kreatif siswa
dengan persentase rata-rata 73,35% dari 30 siswa dan masuk dalam kategori kreatif.
Berdasarkan hasil tes akhir tindakan dan pekerjaan siswa, diperoleh hasil bahwa
siswa rata-rata dapat menjawab semua soal tes yang diujikan, meskipun belum
seluruhnya benar, tetapi paling tidak siswa telah memberikan beberapa alternatif
jawaban benar dalam menyelesaikan soal tes yang diujikan. Rata-rata nilai yang
34
diperoleh siswa adalah 77,50 dan respon siswa positif terhadap pembelajaran grafik
fungsi eksponen dengan pendekatan open-ended problem.
Penelitian yang dilakukan oleh Huda yang berjudul “Pembelajaran Kubus dan
Balok dengan Pendekatan RME untuk Menumbuhkan Kreativitas Siswa Kelas VIII
MTs Miftahul Ulum Probolinggo. (Tesis). Berdasarkan hasil pengamatan
menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan termasuk pada kategori sangat
baik. Dari hasil tes, skor rata-rata (dalam persen) dari keseluruhan siswa yang
memperoleh skor pada tindakan I adalah 85,29%. Hal ini menunjukkan bahwa
tumbuhnya kreativitas siswa melalui pembelajaran kubus dan balok dengan
pendekatan RME.
Penelitian yang dilakukan oleh Harini dengan judul “Pembelajaran Kooperatif
STAD (Student Teams Achievement Divisions) untuk Menumbuhkan Kreativitas
Siswa pada Sistem Persamaan Linear Dua Variabel” (Tesis). Hasil penelitian pada
tindakan I menunjukkan bahwa aktivitas guru dari pengamat 1 dan 2 termasuk
kategori baik yaitu 73,44% dan 75%. Sedangkan aktivitas siswa mencapai skor
60,15% dengan kategori cukup baik. Tes hasil belajar menunjukkan 89,47% siswa
telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dan 10,53% belum
memenuhi. Tumbuhnya kreativitas siswa menunjukkan dari penilaian 1 ke 2 berturutturut yaitu 65,55% dan 77,55% dengan kategori kreatif. Disini aktivitas siswa belum
memenuhi kategori aktivitas yang diharapkan, karena dibawah kategori baik dengan
persentase skor rata-rata (SR) ≥ 70 %, sehingga perlu dilanjutkan pada tindakan II.
Pada tindakan II menunjukkan bahwa aktivitas guru dari pengamat 1 dan 2 termasuk
kategori sangat baik yaitu 89,1 % dan 92,19%. Sedangkan aktivitas siswa mencapai
skor 79,79% dengan kategori baik. Tes hasil belajar menunjukkan 89,5% siswa telah
memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dan 10,5% belum memenuhi.
Sedangkan untuk tumbuhnya kreativitas siswa menunjukkan dari penilaian 2 ke 3
berturut-turut yaitu 77,55% dan 81,99%, dengan kategori meningkat dari kreatif ke
sangat kreatif.
35
Berdasarkan hasil kajian yang relevan maka dapat disimpulkan bahwa
kreativitas siswa dapat dikembangkan dan ditingkatkan dengan cara menerapkan
model pembelajaran, pendekatan serta praktikum.
Penelitian yang telah diuraikan sudah meneliti kreativitas siswa-siswi SMP dan
SMA. Penelitian dengan menggunakan metode praktikum dengan alat peraga
periskop sederhana akan dilaksanakan pada tingkat Sekolah Dasar. Dengan adanya
penggunaan metode praktikum dengan alat peraga periskop sederhana dalam
pembelajaran ini diharapkan dapat mengembangkan kreativitas siswa pada tingkat
Sekolah Dasar.
2.7
Kerangka Berpikir
Pengembangan kreativitas sangat dibutuhkan oleh peserta didik manapun. Hal
ini dimaksudkan untuk memaksimalkan pengembangan otak kanan, karena belahan
otak kanan lebih banyak berfungsi untuk mengutamakan respon yang terkait dengan
persepsi holistik, imajinatif, kreatif dan bisosiatif. Hal ini berbeda dengan otak kiri
yang lebih bertugas untuk menangkap persepsi kognitif serta berpikir secara linier,
logis, teratur dan lateral. Biasanya fungsi otak kiri lebih pada bidang pengajaran yang
verbalistis dengan menekankan pada segi hafalan dan persepsi kognitif saja (Utami
Munandar). Untuk itulah guna mengefektifkan otak kanan pada siswa maka
diperlukan “experiental learning” (belajar berdasarkan pengalaman langsung).
Bagaimana kita dapat mengoptimalkan kemampuan otak kanan anak didik?. Ada
beberapa metode yang dapat dipakai antara lain dengan metode praktikum dengan
menggunakan alat peraga periskop sederhana, guna lebih mengefektifkan fungsi
divergennya (dimana anak-anak dibiasakan untuk selalu memberikan ide dan
alternatif yang tidak homogen). Hal ini akan berdampak pada anak yang kreatif, suka
berpikir beda dan penuh ide. Adapun alur kerangka pemikiran yang ditujukan untuk
mengarahkan jalannya penelitian agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan,
maka kerangka pemikiran dilukiskan pada sebuah gambar 2.4 berikut ini :
36
Pembelajaran Secara
Konvensional
Pengukuran
pertama
Pembelajaran (Menggunakan
metode pratikum dengan alat
peraga periskop sederhana)
Pengukuran
kedua
Rata-rata
nilai
Rata-rata
nilai
Lebih Efektif Penggunaan Metode Praktikum dengan Alat
Peraga Periskop Sederhana Pelajaran IPA terhadap Kreativitas
Siswa Kelas V SD Kanisius Cungkup.
Gambar 2.4: Skema Kerangka Berpikir Penelitian
2.8
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori serta kerangka berfikir, maka dapat dirumuskan
hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
Ho :
Pembelajaran dengan penggunaan metode praktikum dengan alat peraga
periskop sederhana pelajaran IPA tidak efektif terhadap kreativitas siswa
kelas V SD Kanisius Cungkup Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Semester
II Tahun Pelajaran 2011/2012.
Ha :
Pembelajaran dengan penggunaan metode praktikum dengan alat peraga
periskop sederhana pelajaran IPA lebih efektif terhadap kreativitas siswa
kelas V SD Kanisius Cungkup Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Semester
II Tahun Pelajaran 2011/2012.
Berdasarkan hipotesis penelitian, maka peneliti menduga “Pembelajaran dengan
penggunaan metode praktikum dengan alat peraga periskop sederhana pelajaran IPA
lebih efektif terhadap kreativitas siswa kelas V SD Kanisius Cungkup Kecamatan
Sidorejo Kota Salatiga Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012 ”.
Download