BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Suatu negara

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Suatu negara berdaulat terdiri atas empat unsur yaitu rakyat, wilayah,
pemerintahan yang berdaulat, dan pengakuan dari negara lain. Antara keempat unsur
tersebut tigalah yang paling esensial atas bentuk negara tersebut, yaitu rakyat,
wilayah dan pemerintahan yang berdaulat. Dalam mengurusi urusan-urusan
kenegaraan, demi mencapai tujuan suatu negara tersebut, aspek hukum, dan aspek
ekonomi adalah aspek yang menentukan keberlangsungan negara tersebut. Hukum
dibutuhkan sebagai alat mengontrol individu dengan masyarakat dan masyarakat
dengan pemerintahan, sedangkan ekonomi sebagai baku ukur dalam tingkat
kesejahteraan masyarakatnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan akan
kemapanan ekonomi sebagai salah satu tulang punggung keberlangsungan negara
yang ingin mencapai tujuannya.
Masyarakat politik seperti negara yang dihuni oleh banyak masyarakat, akan
sangat sulit untuk menentukan tujuan negara tersebut, karena setiap individu-individu
dalam negara tersebut memiliki fikiran yang berbeda antara satu sama lain, terlebih
manusia dalam keadaan alamiah merupakan serigala bagi manusia yang lain (homo
homini lupus) seperti diutarakan oleh Thomas Hobbes Bellum Omnium Contra
1
Omnes.1 Oleh karena itu menurut Jean Jacques Roessaeu sebuah kesepakatan
mengenai tujuan negara tersebut dituangkan ke dalam sebuah Sosial Contract agar
individu-individu teresebut terlindungi dari ketakutan akan kekacauan yang terjadi,
kontraksosial tersebut adalah konstitusi. Menurut Miriam Budiardjo, konstitusi adalah
piagam yang menyatakan cita-cita bangsa dan merupakan dasar organisasi
kenegaraan suatu bangsa.2 Dalam konstitusi terdapat berbagai aturan pokok yang
mengatur kedaulatan, pembagian kekuasaan, lembaga-lembaga negara, cita-cita dan
ideologi negara, serta masalah ekonomi negara.3
Indonesia sebagai negara berdaulat, demi mempersatukan tujuan dari
dibentuknya negara, memiliki konstitusi tersendiri yang berbeda dan memiliki ciri
yang khas sebagai cerminan dari masyarakat-masyarakat di Indonesia.4 Perihal tujuan
negara Indonesia, dituangkan ke dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 (untuk selanjutnya disebut UUD NRI Tahun 1945)
yang berbunyi:
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia
yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,….
1
Soehino,1985, Ilmu Negara, Liberty, Yogyakarta, hlm. 98.
Miriam Budiardjo, 1989, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, hlm.107.
3
Ni’matul Huda, 2007, Lembaga Negara Dalam Masa Transisi Demokrasi, UII Press, Yogyakarta,
hlm. 4.
4
Muhammad Yamin, dalam Sidang BPUPKI 29 Mei 1945, Risalah Sidang Badan Penyelidik UsahaUsaha Persiapan Kemerdekaan, 1995, Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, hlm. 13.
2
2
Dalam melaksanakan tujuan yang telah tertulis dalam UUD NRI Tahun 1945
tersebut, maka disusunlah pasal-pasal yang memuat kerangka dasar agar dapat
mencapai tujuan seperti yang dimuat dalam pembukaan UUD NRI Tahun 1945.
Pelaksanaan dari tujuan negara tersebut merupakan konsepsi awal dari sistem
pemerintahan yang akan dianut. Sistem pemerintahan di berbagai negara berbeda
walaupun tujuannya memiliki kesamaan.
Sistem pemerintahan ini lebih dipengaruhi oleh faktor sosial politik yang
terjadi di masyarakat suatu negara tersebut. Pengertian preambule yang terdapat pada
konstitusi memuat rechsidee dan staatsidee dari terbentuknya negara tersebut. Di
bawah ini adalah contoh dari konstitusi-konstitusi negara yang memuat cita-cita
bernegara, seperti:
1. Konstitusi Amerika Serikat5:
…provide
for
the
common
defence
promote
the
general
Welfare…(memberikan perlindungan publik, meningkatkan kesejahteraan
umum)
2. Konstitusi China6:
5
http://www.usconstitution.net/xconst_preamble.html diakses pada 23 Januari 2013.
http://www.npc.gov.cn/englishnpc/Constitution/2007-11/15/content_1372962.html diakses pada 23
Januari 2013.
6
3
…to win and preserve national independence and develop national
economies…(untuk memenangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa
dan mengembangkan ekonomi bangsa)
3. Konstitusi India7:
…secure to all its citizens: justice, sosial, economic and political…(menjamin
kepada semua warga negara: keadilan, kehidupan sosial, kemakmuran
ekonomi, dan kehidupan politik)
4. Konstitusi Rusia8:
… striving to ensure the well-being and prosperity of Russia,…(berusaha
keras untuk menjamin kehidupan yang layak dan kemakmuran Rusia)
Dari uraian beberapa preambule konstitusi-konstitusi tersebut, tertuang
beberapa nilai yang memiliki kekuatan doktrinal mengenai tujuan negara. Tujuan
tersebut bila diperhatikan memiliki kesamaan: mencapai kesejahteraan rakyat
(general welfare). Dalam mewujudakan cita-cita negara, negara-negara tersebut
memiliki ciri khasnya yang dituangkan ke dalam sistem penyelenggaraan negara.
Sistem tersebut seiring berkembangnya zaman, dikenal dengan istilah modern
political constitution seperti yang dikatakan oleh C.F. Strong. Konsep modern
constitution tersebut pada praktik kenegaraan, bersandar pada tiga aspek peradaban
7
8
http://www.constitution.org/cons/india/preamble.html diakses pada 23 Januari 2013.
http://archive.kremlin.ru/eng/articles/ConstIntro01.shtml diakses pada 23 Januari 2013.
4
modern yang dalam buku Jimly Asshiddiqie disebutkan sebagai Trias Politica
peradaban modern yaitu; state (politik pemerintahan), civil society (masyarakat), dan
market (ekonomi).9 Pada awal abad ke-20 hingga saat ini aspek kesejahteraan umum
selain menjadi perhatian pemerintahan dalam aspek administrasi negara juga
berbobot pada kedaulatan negara dalam menentukan sosial contract perihal sistem
ekonomi dalam konstitusinya.
Salah satu bentuk dari kesejahteraan rakyat dapat dilihat pula dari ekonomi
negara tersebut. Tujuan Indonesia yang dimanifestasikan ke dalam bentuk konstitusi,
UUD NRI Tahun 1945 mengatur mengenai sistem pemerintahan yang menentukan
penyelenggaraan mencapai kesejahteraan dari aspek ekonomi rakyat dalam Pasal 33
UUD NRI Tahun 1945 yang berbunyi :
1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.
2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undangundang.
Sebagai negara hukum yang konsisten dan konsekuen Indonesia seperti yang
dituangkan pada Pasal 1 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945, dalam melaksanakan sistem
9
Jimly Asshiddiqie, 2010, Konstitusi Ekonomi, Kompas, Jakarta, hlm. 75.
5
ekonominya, dilaksanakan demi mencapai kesejahteraan umum yang mengacu pada
nilai-nilai konstitusi.
Timbulnya hubungan internasional secara umum, pada hakikatnya merupakan
proses perkembangan hubungan antarnegara, karena kepentingan dua negara (dalam
hal ekonomi) saja tidak dapat menampung kehendak banyak negara.10 Era Presiden
Soekarno dan Wakil Presiden Hatta, merupakan zaman ketika peran Indonesia yang
sangat terkenal kontroversial namun berintegritas, seperti keluar dari Perserikatan
Bangsa-Bangsa, mencetuskan Gerakan Non-Blok, dan membuat Games of New
Emerging Force (Ganefo). Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang
sangat tegas dalam menyerukan independensi negara-negara baru tersebut agar tidak
terprovokasi perang ideologi. Indonesia mampu menentukan nasib negaranya sendiri
yang pada waktu itu masih berumur jagung, dengan mengusungkan ide kemandirian.
Soekarno mencanangkan gagasan “Trisakti” yang menyerukan berdaulat secara
politik, berdiri mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Hatta
bersamaan
dengan
semangat
trisakti
tersebut
menyerukan
asas
ekonomi
kekeluargaan, dan politik internasional bebas (independent) dan aktif.11
Aspek menentukan nasib sendiri hingga dewasa ini berkaitan pada
kemampuan Indonesia dalam melakukan hubungan internasional, dan dalam
menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Hal ini tidak luput pula dari masuknya
10
Sumaryo Suryokusumo, 1990, Hukum Organisasi Internasional, UI Press, Jakarta, hlm. 1.
http://www.investor.co.id/home/warisan-trisakti-bung-karno/48623 diakses pada tanggal 4 Oktober
2013.
11
6
Indonesia ke dalam penggolongan negara-negara dalam grup G-20 yang baku ukur
penggolongan negara tersebut, bersandar pada kemampuan perkembangan ekonomi
negara, dan tingkat kontribusi dalam memacu ekonomi globalisasi. Indonesia sebagai
negara yang mengalami tingkat perkembangan ekonomi, menghadapi tantangan
dalam memperkuat ekonominya, yang menurut penulis terdapat dua hal yaitu;
1. Tantangan dalam mengikuti arus globalisasi di bidang ekonomi dan teknologi,
hal ini berdasarkan dari keikutsertaan Indonesia dalam organisasi diplomatik
dalam hal ekonomi, seperti G-20 dan ASEAN dimana Indonesia juga sebagai
negara pemrakarsa. Terdapat syarat-syarat tertentu yang menentukan status
keanggotaan Indonesia.
2. Tantangan dalam mengembangkan ekonomi lokal yang mampu bersaing di
pasar nasional, bahkan internasional. Dengan diundangkannya Undangundang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka
diharapkan pemerintahan di tingkat daerah mampu mengembangkan potensi
ekonomi daerahnya dengan tidak meninggalkan aspek kearifan lokal.
Kemampuan Indonesia melakukan hubungan diplomatik ekonomi saat ini,
membuka hubungan dua arah bagi investor asing untuk dapat melakukan penanaman
modal. Selalu timbul polemik diantara para ahli hukum dan ahli ekonomi, mengenai
neo-liberalisme bercirikan “pro-investor” (kapitalis) dengan semangat ekonomi
founding fathers Indonesia yang berpihak pada rakyat. Segi ekonomi yang dimaksud
dapat dilihat dari tingkat persaingan pasar antara modal yang berasal dari dalam
7
negeri atau modal lokal, dengan modal dari investor asing. Akan tetapi pada
penelitian yang dilakukan oleh penulis, yang akan dibahas adalah mengenai
pengaturan ekonomi dari aspek hukum tata negara, yaitu kewenangan lembaga
negara yang mengatur hubungan dan alur penanaman modal baik yang berasal dari
investor dalam negeri dan investor asing sesuai dengan cita-cita negara berdirinya
Indonesia.
Penulis menemukan setidaknya terdapat beberapa undang-undang dan
peraturan presiden yang mengatur tentang kegiatan ekonomi Indonesia berkaitan
dengan penanaman modal asing (selanjutnya disebut dengan PMA):
1. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1994 tentang Pemilikan Saham Dalam
Perusahaan Yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing.
3. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha Yang
Tertutup Dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang
Penanaman Modal.
4. Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 12 Tahun
2009 Tentang Pedoman Dan Tata Cara Permohonan Penanaman Modal.
Menko Ekonomi, Hatta Rajasa, mengatakan bahwa sektor investasi dari PMA
dalam bentuk Foreign Direct Invesment12 sangat mendorong perkembangan ekonomi
12
Foreign Direct Investment adalah penanaman modal yang dilakukan oleh orang atau badan hukum
berasal dari suatu negara dengan cara mengelola langsung perusahaan di negara lain.
8
Indonesia pasca reformasi.13 Namun beberapa kali Mahkamah Konstitusi mendapat
permohonan uji materiil undang-undang yang bergesekan dengan Pasal 33 UUD NRI
Tahun 1945 salah satunya adalah permohonana uji materiil Undang-undang Nomor
25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, permohonan uji materiil ratifikasi Piagam
Asean, dan baru-baru ini mengenai Badan Pelaksana Minyak dan Gas atau BP Migas
yang berakhir dengan dibubarkannya lembaga tersebut. Dalam hal ini kegiatan
penanaman modal pada sistem ekonomi globalisasi dan sistem ekonomi khas
Indonesia yaitu Demokrasi Ekonomi, dirasa belum mampu mengakomodir kegiatan
ekonomi internasional berupa foreign direct investment dengan saat yang sama
melindungi kepentingan nasional.
Sebagaimana diuraikan di atas terdapat putusan Mahkamah Konstitusi dalam
memutus permohonan judicial review terkait Undang-undang Penanaman Modal
tersebut, tepatnya pada Putusan Nomor 21-22/PUU-V/2007, petitum permohonan
menggugat mengenai klausul lamanya hak guna usaha pada bidang tanah yang
memiliki jangka waktu 95 tahun dan dapat diperpanjang hingga 60 tahun dan dapat
diperbaharui hingga 35 tahun, bagi penanam modal yang telah memohon izin
tersebut, yang pada akhirnya Mahkamah Konstitusi sendiri memutuskan bahwa
klausul tersebut inkonstitusional, karena penggunaan jangka waktu yang begitu lama
akan menimbulkan potensi membunuh usaha rakyat Indonesia akibat dari persaingan
yang tidak proporsional antara rakyat dengan investor.
13
http://www.antaranews.com/berita/326238/hatta-indonesia-pasar-potensial-bagi-investor-singapura,
“Hatta, Indonesia Pasar Potensial Bagi Investor Singapura”, diakses tanggal 8 Agustus 2012.
9
Dari sistem ekonomi globalisasi yang sedang mendominasi politik
perekonomian di dunia, dan dengan komitmen pemerintah yang bergerak di bidang
perekonomian, membuka kesempatan terhadap kegiatan penanaman modal usaha
tertentu menjadi usaha ekonomi makro yang penting di Indonesia. Atas besarnya
pengaruh usaha ekonomi penanaman modal tersebut, maka sebagai negara hukum,
harus ditetapkan suatu rumusan kebijakan (beleid), termasuk melakukan pengaturan
(regelendaad),
melakukan
pengurusan
(bestuurdaad),
melakukan
pengelolaan(beheerdaad) dan melakukan pengawasan (toezichthoudendaad) untuk
tujuansebesar-besar kemakmuran rakyat.14
Dalam teori hierarki perundang-undangan Hans Kelsen, dan Hans
Nawianskyyaitu theorie von stufenufbau der rechtsordnung, UUD NRI Tahun 1945
sebagai Staatsgrundgezets dapat diaplikasikan pada tingkatan pemerintahan bila
terdapat formele gezets. Menurut Attamimi formele gezets tersebut adalah Undangundang. Sejak Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 disahkan, terdapat jenis
peraturan perundang-undangan baru yang masuk ke dalam hierarki peraturan
perundang-undangan di Indonesia yaitu Ketetapan MPR. Oleh karena itu, dalam
melaksanakan amanah Pasal 33 UUD NRI Tahun 1945 terdapat Tap. MPR No.
XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi Dalam Rangka Demokrasi Ekonomi sebagai
breakdown produk hukum dalam melaksanakan ekonomi berdasarkan Pasal 33 UUD
NRI Tahun 1945. Jimly Assidiqie dalam bukunya mengatakan bahwa muatan UUD
14
Ismail Suny, ketika menjadi saksi Ahli dalam permohonan uji materiil Mahkamah Konstitusi nomor
21-22/PUU-V/2007 25 Maret 2008.
10
NRI Tahun 1945 disempurnakan dari kekurangan beberapa negara-negara lain yang
menjadikan konstitusi hanya sebagai konstitusi politik. Oleh sebab itu UUD NRI
Tahun 1945 tidak hanya mengatur dalam bidang politik saja akan tetapi dalam
konstitusi ekonomi, serta konstitusi sosial yang sesuai dengan cita-cita kolektif
bangsa.15
Pelaksanaan amanah konstitusi dalam bidang ekonomi, sosial dan politik
adalah fungsi utama dari negara sebagai organisasi politik yang ditunjuk oleh social
contract yang disepakati rakyat. Negara agar dapat mewujudkan cita-cita bangsa,
tidak dapat dilakukan secara sewenang-wenang, artinya setelah ada tatanan hukum
yang disepakati, perlu ditunjuk individu yang memiliki hak untuk menjalankan fungsi
negara tersebut. Kelsen dalam bukunya General Theory of Law and State,
menguraikan tentang siapa saja yang menjalankan suatu fungsi yang ditentukan oleh
legal order (tata hukum) adalah suatu lembaga negara.16
Lembaga negara yang berwenang khususnya dalam melaksanakan penanaman
modal, adalah badan koordinator yang mengatur pelaksanaan penanman modal yaitu
Badan Koordinasi Penanaman Modal (yang selanjutnya disebut BKPM) yang
langsung bertanggung jawab kepada Presiden.17 Beberapa kewenangan lembaga
tersebut salah satunya dilaksanakan melalui Keputusan Kepala BKPM. Mengenai
15
Jimly Asshiddiqie, 2005, Konstitusi dan KonstitusionalismeIndonesia, Sekjen Kepaniteraan MKRI,
Jakarta, hlm. 37.
16
Ni’matul Huda, Op. cit., hlm. 77.
17
Penjelasan Atas Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman
Modal.
11
kewenangan lembaga BKPM tersebut secara mutatis mutandis dijelaskan pada Pasal
28 Undang-undang Penanaman Modal dan selanjutnya pada bagian penjelasan
mengenai kewenangan lembaga BKPM salah satunya sebagai berikut:
a. Menetapkan norma, standar, dan prosedur pelaksanaan kegiatan dan
pelayanan penanaman modal;
b. Membuat peta penanaman modal Indonesia;
Selain tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2),
Badan Koordinasi Penanaman Modal bertugas melaksanakan pelayanan penanaman
modal berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan tersebut
dijelaskan dalam penjelasan umum Undang-undang Penanaman Modal mengenai
BKPM:
Badan Koordinasi Penanaman Modal dipimpin oleh seorang kepala yang
bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Jabaran tugas pokok dan fungsi
Badan Koordinasi Penanaman Modal pada dasarnya memperkuat peran badan
tersebut guna mengatasi hambatan penanaman modal, meningkatkan
kepastian pemberian fasilitas kepada penanam modal, dan memperkuat peran
penanam modal. Peningkatan peran penanaman modal tersebut harus tetap
dalam koridor kebijakan pembangunan nasional yang direncanakan dengan
tahap memperhatian kestabilan makroekonomi dan keseimbangan ekonomi
antarwilayah, sektor, pelaku usaha, dan kelompok masyarakat, mendukung
peran usaha nasional, serta memenuhi kaidah tata kelola perusahaan yang baik
(good corporate governance).18
Dalam membentuk usaha di bidang penaman modal Undang-undang
Penanaman Modal pun mengatur mengenai beberapa kriteria usaha yang tertutup dan
18
Penjelasan umum Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman
Modal.
12
terbuka dengan syarat dalam melakukan penanaman modal. Ketentuan usaha tersebut
ditetapkan dalam Pasal 12 mengenai ketentuan bidang usaha mana saja yang
diizinkan bagi penanam modal, baik itu dalam negeri dan asing, yang berbunyi:
Pasal 12
1) Semua bidang usaha atau jenis usaha terbuka bagi kegiatan penanaman
modal, kecuali bidang usaha atau jenis usaha yang dinyatakan tertutup dan
terbuka dengan persyaratan.
2) Bidang usaha yang tertutup bagi penanam modal asing adalah:
a. produksi senjata, mesiu, alat peledak, dan peralatan perang; dan
b. bidang usaha yang secara eksplisit dinyatakan tertutup berdasarkan
undang-undang.
3) Pemerintah berdasarkan Peraturan Presiden menetapkan bidang usaha yang
tertutup untuk penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri, dengan
berdasarkan kriteria kesehatan, moral, kebudayaan, lingkungan hidup,
pertahanan dan keamanan nasional, serta kepentingan nasional lainnya.
4) Kriteria dan persyaratan bidang usaha yang tertutup dan yang terbuka dengan
persyaratan serta daftar bidang usaha yang tertutup dan yang terbuka dengan
persyaratan masing-masing akan diatur dengan Peraturan Presiden.
Pasal tersebut memberikan pendelegasian bagi presiden untuk menentukan
usaha-usaha yang terbuka untuk PMA. Pendelegasian diuraikan dalam Peraturan
Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Usaha-Usaha Yang Tertutup dan Terbuka
Dengan Syarat Untuk Penanaman Modal. Usaha yang dilampirkan dalam perpres
tersebut membuka peluang dalam melakukan kegiatan usaha di bidang-bidang
tertentu yang diharapkan dapat meningkatkan kegiatan penanaman modal di
Indonesia dan dalam rangka pelaksanaan komitmen Indonesia dalam kaitannya
dengan Association of Southeast Asian Nations/ASEANEconomic Community
13
(AEC).19 Perpres in casu membuka usaha-usaha di bidang yang menyangkut
kepentingan luas masyarakat Indonesia seperti bidang energi dan sumber daya
mineral, bidang kehutanan, bidang pekerjaan umum, perdagangan, komunikasi,
dengan persyaratan bagi kepemilikan investor asing maksimal 95 % (persen).
Berkaca kembali pada kegiatan penanaman modal di Indonesia, terdapat
haluan-haluan yang disepakati sebagai pilar utama kedaulatan negara, haluan tersebut
adalah konstitusi. Pengertian konstitusi Indonesia dewasa ini adalah UUD NRI Tahun
1945 yang dengan jelas dan tegas memuat haluan ekonomi baik makro ataupun
mikro. Haluan tersebut adalah Demokrasi Ekonomi yang terkandung di Pasal 33
UUD NRI Tahun 1945. Makna demokrasi ekonomi ini mengandung pengertian
kemandirian dan kekeluargaan dimana agregat kepentingan adalah untuk warga
negara Indonesia, rakyat Indonesia yang memiliki kedaulatan atas bumi, air dan
ruang angkasa yang terkandung di bumi pertiwi.20 Kedaulatan tersebut diamanahkan
kepada negara bukan sebagai penguasa akan tetapi negara sebagai pengurus yang
dapat membatasi kesewenang-wenangan sistem pasar bebas yang mendominasi
kekayaan alam Indonesia.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis, dalam penulisan hukum
yang berjudul ANALISIS PELAKSANAAN PENANAMAN MODAL DARI
19
Konsideran pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2010 Tentang Daftar
Bidang Usaha Yang Tertutup Dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang
Penanaman Modal.
20
Jimly Asshiddiqie, Op. cit., Konstitusi Ekonomi, hlm. 354.
14
PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA (STUDI KEWENANGAN BADAN
KOORDINASI PENANAMAN MODAL TERHADAP ASAS DEMOKRASI
EKONOMI) ini melakukan kajian terhadap kegiatan penanaman modal bukan
semata-mata
menjadi
pembahasan
pro-kontra
terhadap
PMA,
melainkan
mengulasnya dari perspektif Hukum Tata Negara yaitu dari sifat lembaga pelaksana,
konsistensi asas ekonomi yang termaktub pada konstitusi, serta ide pelaksanaan
negara hukum sebagaimana tertuang pada UUD NRI Tahun 1945 Pasal 1 ayat (3).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah untuk
dibahas dalam penelitian ini yaitu;
1. Apakah yang dimaksud dengan Demokrasi Ekonomi pada UUD NRI
Tahun 1945?
2. Apakah kewenangan BKPM dalam penyelanggaraan penanaman modal
sesuai dengan asas demokrasi ekonomi?
3. Bagaimanakah pengawasan terhadap kewenangan lembaga BKPM?
C. Tujuan Penelitian
1) Tujuan Subjektif
a) Penelitian ini bertujuan bagi penulis untuk memperoleh data mengenai
konstitusionalisme pelaksanaan penanaman modal yang dilaksanakan oleh
BKPM, dan koordinasi kewenangan badan eksekutif tersebut dengan
lembaga negara yang mengatur tentang ekonomi nasional.
15
b) Penelitian ini merupakan syarat akademis penulis untuk mendapatkan
gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
2) Tujuan Objektif
a) Penelitian yang dilakukan oleh penulis bertujuan untuk mengetahui
konstitusionalisme ekonomi yang tertuang dalam konstitusi Indonesia.
b) Untuk mengetahui kewenangan BKPM sebagai lembaga pemerintah nonkementrian yang berada langsung di bawah koordinasi presiden serta
skema koordinasi terhadap lembaga-lembaga negara yang lain.
c) Untuk mengetahui tentang tata urutan peraturan perundang-undangan di
Indonesia, ruang lingkup, kewenangan, dan produk hukum dalam
menjamin kesejahteraan ekonomi di Indonesia.
D. Keaslian Penelitian
Selama yang ditelusuri oleh penulis dalam membuat penulitian ini, belum ada
penelitian sejenis yang meneliti mengenai pelaksanaan ekonomi nasional ditinjau dari
segi hukum tata negara. Adapun terdapat penulisan hukum yang meneliti mengkaji
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, dengan judul
ANALISIS UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG
PENANAMAN
MODAL
KAITANNYA
DENGAN
KONTRAK
ALIH
TEKNOLOGI DALAM RANGKA PENGEMBANGAN INDUSTRI oleh Wiwi Dwi
Astuti dari Universitas Sebelas Maret tahun 2009. Perbedaan antara penelitian
tersebut dengan penelitan yang dilakukan oleh penulis, adalah perspektif penulisan
16
hukum tersebut mengkaji kontrak alih teknologi. Sedangkan pada penelitian yang
ditulis akan mengkaji kewenangan dan kedudukan lembaga BKPM.
E. Kegunaan Penelitian
1) Kegunaan praktis
a) Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pedoman kewenangan
lembaga lintas sektoral yang menangani penanaman modal terhadap
permasalahan-permasalahan
yang
berpotensi
pada
perkembangan
penanaman modal di Indonesia.
b) Dapat dijadikan rekomendasi terhadap pemerintah dalam membuat naskah
akademis terhadap revisi Undang-undang Penanaman Modal.
c) Hasil Penelitian ini di masa yang akan datang dapat memperkuat
keikutsertaan ahli hukum, khususnya ahli hukum tatanegara dalam
membuat kebijakan pemerintah di bidang makro-ekonomi seperti
penanaman modal.
2) Kegunaan akademis
a) Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan akademis
terhadap
dalam
perkembangan
ilmu
hukum
khususnya
dalam
perkembangan ilmu hukum tata negara di bidang makro-ekonomi.
b) Dapat memberikan tambahan khasanah pengetahuan bagi mahasiswa
hukum agar memperkaya pustaka dalam teori konstitusionalisme nasional.
17
Download