dua prinsip keadilan sosial menurut john rawls

advertisement
KEADILAN SOSIAL MENURUT JOHN RAWLS
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Strata Satu (S.1)
Oleh:
Mawardi
NIM: 1030333127753
44
4
Universitas Islam Negeri
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
PROGRAM STUDI AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul “KEADILAN SOSIAL MENURUT JOHN RAWLS” ini
telah diujikan dalam sidang munaqasah di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, pada hari Kamis tanggal 16 September 2010. Skripsi
ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Strata
Satu (S1) pada Jurusan Aqidah Filsafat Faktultas Ushuluddin dan Filsafat UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 16 September 2010
Sidang Munaqasah
Ketua Merangkap Anggota
Sekretaris Merangkap Anggota
Drs. Agus Darmaji, M. Fils
NIP. 19610827 199303 1 002
Dra. Tien Rohmatin, MA.
NIP. 19680803 199403 2 002
Penguji I
Penguji II
Drs. Agus Darmaji, M. Fils
NIP. 19610827 199303 1 002
Dr. Sri Mulyati, MA
NIP.19560417 198603 2 001
Pembimbing
Drs. Fakhruddin, MA.
NIP. 19580714 198703 1 002
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan gelar Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua Sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarihi Hiadayatullah Jakarta
3. Jika di Kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi
yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Depok, 25 Agustus, 2010
Mawardi
KATA PENGANTAR
Dalam segala keterbatasan dan ke-dhaif-an penulis, tuntasnya skripsi ini
merupakan nikmat dan karunia terbesar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tanpa
kasih dan sayang, dan tanpa inayah dari-Nya, mustahil penulis mampu menulis,
berpikir, dan menyelesaikan skripsi ini di titik nadir masa studi. Maka, sudah
seharusnya pertama-tama penulis ucapkan rasa puji dan syukur kehadirat Allah
subhanahu wa ta’ala beserta Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian, tuntasnya skripsi pun merupakan totalitas harmoni kehidupan
sosial. Tanpa bantuan, dorongan, dan motivasi dari orang-orang di sekitar
penulis, mustahil skripsi ini dapat eksis dan tuntas. Kekuatan dan semangat untuk
dapat menuntaskan tugas akhir ini digerakkan oleh berbagai elemen dari hidup
penulis. Utamanya kedua orang tua, keluarga, teman, para dosen dan civitas
akademika fakultas dan UIN , sahabat, dan lain-lain. Maka sebagai rasa hormat
dari lubuk hati terdalam, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak
Drs. Fakruddin, MA., selaku pembimbing skripsi, yang telah
berkenan dan sabar membimbing, menasehati, dan mengarahkan penulis.
Dan juga terima kasih setinggi-tingginya atas kesediaannya menjadi
pembimbing penulis dalam mengerjakan tugas akhir ini.
2. Bapak Dr. Zainun Kamal, MA., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan
Filsafat, Bapak Drs. Agus Darmadji, M.Fils, selaku Ketua Jurusan, dan
Ibu Dra. Tien Rahmatin, selaku Sekretaris Jurusan Aqidah Filsafat.
Beserta seluruh staf pengajar di Jurusan Aqidah Filsafat, Fak. Ushuluddin
dan Filsafat UIN Syarih Hidayatullah Jakarta.
3. Kepada Bapak Penguji, Bapak Drs. Agus Darmadji, M. Fils., dan Ibu Dr.
Sri Mulyati,
yang telah berkenan dan bersedia untuk
meluangkan
waktunya menghadiri sidang ujian skripsi penulis. Utamanya, kepada Ibu
Sri Mulyati ditengah kondisi suaminya yang kurang sehat bersedia untuk
menjadi penguji.
Dan juga penulis haturkan terima kasih setinggi-
tingginya atas keikhlasan bapak dan ibu yang telah meluangkan waktunya
untuk membaca, mengkoreksi, mengkritik, dan memberi komentar yang
sangat berharga bagi perbaikan skripsi ini.
4. Kepada Ummi dan Abah, orang tua penulis. Keduanya adalah tiang utama
dan pokok dari eksistensi skripsi ini. Tanpa keduanya, skripsi ini tidak
pernah akan ada. Melalui keduanya, skripsi menjadi tidak sekedar
‘potensi’ melainkan bisa mewujud berkat kasih dan sayang dari keduanya
yang ‘tanpa syarat’ apa pun. Skripsi ini tidak akan pernah ada tanpa jasa
Ummi dan Abah. Semoga Allah selalu melindungi dan memberi kebaikan
kepada keduanya dengan kebaikan yang berlipat dan lebih besar.
5. Kepada Abang penulis: Irfan Fahmi beserta Ka’ Ita, dan juga Kakak
penulis: Hanna Maria beserta Bang Fadli, dan juga kepada adik penulis
Darul Qutni, yang telah memberi dorongan dan semangatnya dengan
caranya masing- masing.
6.
Kepada teman-teman forum kajian Piramida Circle Bung Alawi, Maman,
Hafidz, Ali, Ujang, Mbah Liem, Syauqi, Jenal, Rouf, Mukhlisin,
Nafi,
Faiq, Romo, Uci, Bdul, dan lain- lain.
7. Wabil
khusus,
meminjamkan
kepada
hardisk
Fakruddin
Mukhtar
yang
komputernya
untuk
penulis
telah
berkenan
pakai.
Tanpa
bantuannya, skripsi ini mungkin masih tetap dalam lembaran-lembaran
virtual dan tidak akan sampai ke meja munaqasah. Wabil khusus juga,
kepada Agus Santoso, yang telah mau memberi ruangan tinggalnya untuk
penulis berkontemplasi, mau berhujan-hujan ria menemani penulis ke
Karawaci dan Serpong,
dan bersibuk ria membeli hidangan untuk pada
waktu ujian. Dan juga kepada Bung Hafiz yang telah meminjam dua
bukunya yang amat berharga. Dengan dua buku itu, rimba belukar
pemikiran Rawls menjadi lebih mudah ditelusuri dan dijejak. Terima kasih
atas bantuan yang tulus dan ikhlas, semoga Allah memberi kebaikan yang
berlimpah kepadamu.
8. Kepada teman-teman Aqidah Filsafat 2003: Fakhrul, Ujang, Syamsudin,
Kusna, Tatang, Syamsul, Muni, Yanti, Nadia, Tri, Latifah, Ely, Syafei,
Dedi, Zakaria, Mohalli, Setiawan, dan lain- lain.
9. Juga kepada semua orang-orang yang telah mendorong dan memberi
semangat yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Depok, 16 September 2010
Mawardy
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………..………….. i
LEMBAR PERNYATAAN …………………………………………..…………… iv
DAFTAR ISI ………………………………………………………..……………… v
BAB I
PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah ………………………………….……… 1
B. Tinjauan Pustaka ………………………………………...……… 14
C. Batasan dan Rumusan Masalah …………………………..…….. 17
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………………………….……… 17
E . Metodelogi Penelitian ………………………………………….. 18
F . Sistematika Penulisan ……………………………………………19
BAB II
BIOGRAFI JOHN RAWLS ………………………………...…… 21
A. Riwayat Hidup dan Pendidikan ……………………………...… 21
B. Karya-Karya Ilmiah dan Pengaruhnya ……………………….. 29
C. Latar Belakang Tradisi Pemikiran ………………………...…… 34
BAB III
TINJAUAN UMUM KEADILAN SOSIAL …………………..... 39
A. Pengertian dan Hakikat Keadilan Sosial ……………….............. 39
B. Tiga Ciri Umum Keadilan ……………………………...……… 43
C. Pembagian Keadilan …………………………………………... 46
D. Sekilas Tiga Teori Keadilan ……………………………...……. 49
i
BAB IV
KONSEPSI KEADILAN SOSIAL MENURUT JOHN RAWLS
……………………………………………………………………….54
A. Lingkup Masalah Keadilan Sosial ………………………...…… 55
1. Timbulnya Masalah Keadilan Sosial ……………...…… 55
2. Subjek Utama Keadilan Sosial ………………………… 58
B. Dua Prinsip Keadilan Sosial …………………………………… 60
1. Konsepsi Umum ………………………………………. 60
2. Konsepsi Khusus ………………………………………. 64
a. Prinsip Pertama ……………………….……… 64
b. Prinsip Kedua ………………………………… 67
c. Hubungan antara Dua Prinsip Keadilan ..…… 70
C. Posisi Asali (Original Position) ……………………………….. 71
1. Legitimasi Prinsip Moral ……………………………… 72
2. Tabir Ketidaktahuan (a Veil of Ignorance) …………… 73
3. Rasionalitas dan Strategi Maximin ………………..…… 75
BAB V
PENUTUP ………………………………………………………… 81
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………82
ii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pokok pembahasan utama yang hendak penulis ungkapkan dalam skripsi
ini adalah tentang keadilan sosial berdasarkan teori keadilan yang dikembangkan
oleh John Rawls (1921-2002). Pada awalnya, ide awal penulis untuk mengangkat
pembahasan skripsi mengenai John Rawls bermula ketika pada pertengahan tahun
2009 penulis melihat video acara Justice with Michael Sandel di internet. Acara
ini merupakan kuliah umum yang banyak diminati dan diikuti oleh ribuan
mahasiswa Universitas Harvard setiap tahunnya. Materi-materi yang dibahas ialah
berkaitan dengan masalah-masalah keadilan dalam perspektif para filsuf dalam
bidang filsafat politik dan moral, dan kebetulan yang penulis lihat saat itu adalah
tentang pembahasan mengenai keadilan John Rawls.
Penulis sangat terkesan dengan kuliah umum tentang filsafat yang
berlangsung di sebuah auditorium besar Universitas Harvard dengan setting tata
cahaya dan lampu bak layaknya sebuah acara program talk show di televisi yang
penuh gemerlap. Penulis terkesan karena jarang sekali ada sebuah acara yang
membahas tentang filsafat dengan begitu mengasyikkan dan menghibur dan
menarik minat begitu banyak mahasiswa. Program yang dipandu langsung oleh
Michael Sandel, seorang profesor filsafat di Harvard, yang terkenal sebagai tokoh
Neo-Aristotelian Komunitarian, berlangsung interaktif dengan audiens, dialogis,
seru, dan menghibur. Ia membahas berbagai pemikiran para filsuf tentang
2
keadilan, di antaranya
John Rawls. Dari sinilah kemudian penulis terdorong dan
tertarik untuk memahami lebih lanjut tentang John Rawls.
Secara khusus, alasan pokok penulis pembahasan mengenai pemikiran
Rawls didasarkan pada arti penting pemikirannya bagi perkembangan kajian
filsafat politik normatif abad ke-20. Rawls, bisa dikatakan, merupakan salah satu
dari pemikir-pemikir penting dalam bidang filsafat politik yang terkemuka
sepanjang pertengahan abad ke-20 hingga sekarang.
Gagasan John Rawls
mengenai keadilan tertuang dalam karya utamanya,
A Theory of Justice, yang diterbitkan kali pertama pada tahun 1971. Buku ini oleh
banyak kalangan dianggap sebagai karya terpenting dalam bidang filsafat politik
selama seratus tahun terakhir. Sebelum terbitnya A Theory, kajian filsafat politik
tengah mengalami masa redup dan kelesuan serta tidak menunjukkan suatu
progres yang signifikan. Hal demikian dikarenakan tidak adanya lagi karya-karya
besar berpengaruh yang lahir dan muncul pasca karya John Stuart Mill pada
pertengahan abad ke-19. Akan tetapi, kondisi itu sontak berubah dengan
kehadiran A Theory yang mendorong dan membawa gairah serta semangat baru
dalam perkembangan kajian filsafat politik.
Pasca A Theory, berbagai diskusi, kajian, artikel-artikel dan mimbarmimbar ilmiah hingga karya-karya besar semisal Anarchy, State and Utopia karya
Robert Nozick; Liberal Theory of Justice karya Brian Barry, dan sebagainya,
bermunculan sebagai reaksi terhadap karya Rawls. Karya Rawls juga telah
melahirkan berbagai perdebatan filosofis di berbagai universitas, buku-buku
maupun jurnal-jurnal filsafat terkemuka. Di antara debat filosofis antara Rawls
3
dengan
para
kritikusnya
yang
paling
terkemuka
dan
riak-riaknya
masih
bergelombang hingga kini ialah debat yang dikenal dengan ―Debat LiberalKomunitarian‖. Debat ini melibatkan para filsuf dalam tradisi liberal yang
mewarisi filsafat Immanuel Kant (Neo-Kantian) dengan kelompok filsuf yang
dikenal dengan sebutan ―Komunitarian‖ yang sangat dipengaruhi oleh filsafatnya
Aristoteles, karena itu mereka juga disebut Neo Aristotelian, dengan tokohtokohnya seperti Michael Sandel, Charles Taylor dan lain- lain.
Pengaruh A Theory begitu luas. Selang sepuluh tahun sejak diterbitkannya,
karya Rawls ini telah diterjemahkan ke dalam
dua puluh tujuh (27) bahasa di
dunia (termasuk bahasa Indonesia), dan juga ada sekitar 2500 artikel yang
membahas tentang karya Rawls tersebut. Samuel Freeman, seorang profesor
filsafat Universitas Pennsylvania, mengatakan bahwa berbagai komentar atas A
Theory yang berlimpah ini menunjukkan betapa kuat dan luasnya pengaruh ide
dan gagasan Rawls yang merangsang berbagai kontroversi intelektual dan
filosofis.1
Secara umum, signifikansi pemikiran John Rawls dalam konteks filsafat
dapat disimpulkan ke dalam sebuah catatan sebagaimana diutarakan oleh Will
Kymlicka berikut ini:
―Rawls memiliki arti penting historis tertentu [pertama] dalam mendobrak
kebuntutan intusionisme dan utilitarianisme. Tetapi teorinya penting
karena alasan yang lain. [Kedua] Teori Rawls mendominasi filsafat
politik, bukan dalam arti disepakati secara luas, sebab hanya sedikit orang
yang setuju dengan seluruh teorinya, tetapi dalam arti bahwa para ahli
teori yang muncul belakangan telah mempertegas dirinya berlawanan
dengan Rawls. Mereka menjelaskan apa teori mereka dengan
1
Samuel Freeman (ed), The Cambridge Companion to Rawls, (New York: Cambridge
University Press, 2003), h. 1
4
membandingkannya dengan teori Rawls. Kita tidak akan memahami karya
tentang keadilan yang muncul belakangan ini jika kita tidak memahami
Rawls.‖2
Dari deskripsi mengenai arti penting teorinya keadilannya dalam kajian
filsafat politik
sebagaiman penjelasan penulis di atas,
maka hal tersebut
mendorong minat dan ketertarikan penulis untuk mengangkat dan membahas teori
keadilan Rawls. Hal demikian menjadi alasan mengapa penulis mengangkat
pembahasan keadilan sosial berdasarkan teori keadilan yang dikembangkan oleh
Rawls. Wacana keadilan sosial yang berkembang dewasa ini tidak dapat
dilepaskan dari pengaruh teori keadilan Rawls, sebagaimana dijelaskan Kymlicka
di atas. Maka penelitian mengenai pemikiran Rawls tentang keadilan menjadi
sebuah usaha dan upaya yang penting dan signifikan dalam rangka memahami
lebih lanjut karya-karya tentang keadilan dewasa ini.
Dalam rangka teori keadilan, ―keadilan sosial‖ sering disebut juga sebagai
―keadilan distributif‖, di mana keduanya seringkali digunakan secara bergantian.
Keadilan distributif berkenaan dengan pembagian nikmat dan beban dalam
kehidupan sosial. Jenis keadilan satu ini memiliki tradisi pemikiran panjang yang
ditemukan dalam teori keadilan Aristoteles. Keadilan distributif ini berhubungan
dengan masalah membagi yang adil. Keputusan dalam membagi yang adil
haruslah didasarkan pada prinsip-prinsip yang dapat dipertanggungjawabkan, baik
secara intuitif maupun rasional. Artinya, prinsip dalam membagi sesuai dengan
kesadaran intuitif seseorang tentang apa yang adil (sense of justice), sekaligus
sejalan dengan pertimbangan akal sehat (rasional).
2
Will Kymlicka, Pengantar Filsafat Politik Kontemporer: Kajian Khusus atas TeoriTeori Keadilan, terj. Agus Wahyudi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 70. Tanda kurung
dalam kutipan di atas berasal dari penulis.
5
Keadilan sosial dipahami sebagai keadilan
yang
berkaitan
dengan
bagaimana seharusnya hal-hal yang enak untuk didapatkan dan yang menuntut
pengorbanan, keuntungan (benefits) dan beban (burdens) dalam kehidupan sosial
dibagi dengan adil kepada semua anggota masyarakat. Dengan pengertian
sederhana ini, suatu kondisi sosial atau pun kebijakan sosial tertentu dinilai
sebagai adil dan tidak adil ketika seseorang, atau golongan/sekelompok orang
tertentu hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit dari apa yang seharusnya
mereka peroleh, atau beban yang begitu besar dari apa yang seharusnya mereka
pikul.3
Dalam hal ini, pengertian ―distribusi‖ tidak boleh dipahami secara literal,
yakni seolah-olah diandaikan adanya ‗agen‘ yang bertugas membagikan atau
mendistribusikan barang-barang.
Melainkan ―distribusi‖, pengertiannya
lebih
ditujukan pada ―cara‖ bagaimana lembaga-lembaga sosial utama menentukan hak
dan kewajiban, dan mengatur pembagian nikmat dan beban dengan layak.4
Pertautan makna keadilan sosial dengan keadilan distributif
menjadi
semacam cara praktis untuk membedakan batas lingkup kajian keadilan sosial
dengan keadilan hukum, atau keadilan retributif. Aristoteles
membagi tiga
macam keadilan: keadilan umum, keadilan distributif, dan keadilan retributif.
Secara umum, tiga macam keadilan itu bisa disederhanakan menjadi dua saja
3
David Miller, Principles of Social Justice, (London: Harvard University Press, 1999),
4
David Miller, Principles of Social Justice, h. 2
h. 1
6
ditinjau dari segi pokok persoalannya, yaitu: keadilan distributif dan keadilan
retributif.5
Keadilan retributif berkenaan dengan ―hukuman‖ (punishment). Masalah
pokoknya ialah bagaimana orang yang melakukan kesalahan dihukum dengan
adil. Keadilan retributif berkenaan dengan kontrol bagi pelaksanaan keadilan
distributif, lebih berhubungan dengan keadilan legal atau hukum. 6
Adapun
keadilan
Masalah
distributif berkenaan
dengan
―pembagian‖ (distribution).
pokoknya berkaitan dengan bagaimana membagi dengan adil. Kendati hakikatnya
berbeda, terdapat titik temu antara keduanya, yaitu setiap putusan untuk
menghukum maupun membagi haruslah didasarkan pada prinsip-prinsip yang
dapat dipertanggungjawabkan secara moral maupun akal sehat.
Dari keduanya, keadilan distributif termasuk jenis keadilan paling penting
karena terbilang banyak menimbulkan kesulitan. Soalnya, bagaimana seharusnya
membagi dengan adil kepada setiap orang, karena setiap orang ingin bagian yang
lebih banyak daripada bagian yang sedikit, sementara itu tidak tersedia barang
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Semakin terbatas dan
langka suatu barang atau nikmat maka ia semakin bernilai dan berharga. Barangbarang sosial yang berharga itu tidak sekedar yang bersifat immaterial semisal
kekayaan dan pendapatan, tapi juga immaterial seperti kekuasaan, kebebebasan,
kesempatan dan kehormatan, serta lain sebagainya. Barang-barang sosial itu harus
dibagi dengan adil kepada semua orang. Dalam arti, pokok persoalan keadilan
5
John Christman, Social and Political Philosophy: A Contemporary Introduction,
(London: Routledge, 2002), h. 60
6
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial: Pandangan Deontologis Ra wls dan Habermas. Dua
Teori Filsafat Politik Modern, (Jakarta: Gramedia, 2004), h. 6
7
sosial itu mencakup pembagian dalam tiga bidang, yang disebut juga sebagai
masalah standar dalam keadilan sosial: politik (kuasa), ekonomi (uang), dan sosial
(status). Tiga bidang ini dalam skripsi ini kelak akan disebut dengan ―nilai-nilai
primer sosial‖.
Secara garis besar, prinsip keadilan sosial dibagi menjadi dua macam. Dua
macam prinsip: prinsip formal dan prinsip substantif atau material. Kedua prinsip
ini juga bisa disebut dengan keadilan formal dan keadilan substantif. 7
Prinsip keadilan formal itu hanya ada satu saja, yakni prinsip persamaan.8
Prinsip
ini memiliki
tradisi pemikiran
panjang,
di mana
Aristoles
yang
merumuskannya. Prinsip formal berbunyi: ―equals ought to be created equally
and unequals may be treated unequally‖. Prinsip ini bisa dipahami sebagai
―orang-orang yang sama‖ atau ―hal-hal yang sama‖ harus diperlakukan secara
sama, sedang orang atau hal yang tidak sama boleh diperlakukan tidak sama.
Akan tetapi,
prinsip formal ini hanya menyajikan ―bentuk‖ dan tidak mempunyai
―isi‖.9 Memang disebutkan bahwa pada orang-orang atau hal-hal yang sama harus
diperlakukan dengan cara yang sama, tetapi prinsip ini tidak menjelaskan apa
yang harus dimengerti dengan ‗orang-orang yang sama‘, dan ‗hal-hal yang sama‘.
Prinsip ini tidak menerangkan pada segi apa manusia atau hal-hal dan kasus-kasus
tertentu harus dianggap sama atau tidak sama.
7
Morris Ginsberg, Keadilan dalam Masyarakat, (Yogyakarta: Pondok Edukasi, 2003), h.
vii.
8
Dalam etika sering dikatakan, ada tiga hal umum yang selalu berkaitan dengan keadilan.
(1) Keadilan selalu tertuju kepada orang lain, (2) Keadilan menuntut untuk ditegakkan
(kewajiban), dan (3) Keadilan menuntut persamaan.
99
Morris Ginsberg, Keadilan dalam Masyarakat;
8
Oleh karena itu, prinsip formal sulit dijadikan pegangan untuk membagi
dengan adil, maka perlu ada prinsip-prinsip substantif yang melengkapi prinsip
formal. Prinsip-prinsip substantif merujuk pada salah satu aspek yang relevan
yang bisa dijadikan untuk membagi hal-hal yang dicari oleh pelbagai orang. Jika
prinsip formal (bentuk)
hanya ada satu, ―prinsip persamaan‖, maka prinsip
substantif selalu masih dalam perdebatan dan proses. Kendati begitu, ada
pandangan yang dominan dan menjadi pandangan umum yang melandasi berbagai
teori-teori keadilan
kontemporer
ini ialah
―egalitarianiasme‖.
Egalitarianisme
adalah nilai dasar bagi wacana keadilan sosial. Dalam hal ini kita patut
mencermati
apa
yang
dikatakan
oleh
Will
Kymlicka
mengenai
teori
egalitarianisme berikut ini:
―…Setiap teori memiliki nilai utama yang sama, yaitu persamaan
(equalitiy). Semuanya merupakan teori-teori ‗egalitarian‘. Pernyataan
semacam ini jelas tidak benar, jika yang kita maksudkan adalah dengan
‗teori egalitarian‘ adalah teori yang mendukung distribusi pendapatan yang
merata. Namun ada gagasan lain, yang lebih abstrak dan fundamental,
tentang persamaan dalam teori politik, yaitu gagasan mengenai
memperlakukan orang ‗secara sama‘. Ada banyak cara untuk mengungkapkan gagasan tentang persamaan yang lebih mendasar ini. Sebuah
teori adalah egalitarian menurut pengertian ini jika teori tersebut menerima
bahwa kepentingan tiap-tiap anggota masyarakat itu penting dan samasama penting. Dengan kata lain, teori egalitarian mensyaratkan bahwa
pemerintah memperlakukan warga negara dengan pertimbangan yang
sama…Jadi, gagasan tentang persamaan yang bersifat abstrak dapat
ditafsirkan dengan berbagai cara, tanpa harus mendukung persamaan
dalam bidang khusus tertentu, apakah itu pendapatan, kekayaan,
kesempatan, atau kebebasan. Mana bentuk khusus persamaannya yang
diminta oleh gagasan memperlakukan orang secara sama yang lebih
abstrak, itu merupakan masalah yang menjadi perdebatan berbagai
teori...‖10
10
Will Kymlicka, Pengantar Filsfat Politik Kontemporer, h. 5-6
9
Dengan demikian, prinsip persamaan adalah nilai dasariah dari keadilan
sosial.11 Gagasan persamaan tidak dipahami sebagai persamaan dalam distribusi
atau pembagian, tetapi persamaan dalam memperlakukan manusia dengan sama.
Manusia itu pada hakikatnya sama, dalam arti martabatnya.
Pandangan egalitarianisme ini mendapat simpati luas. Semua manusia
pada hakikatnya memang sama dari segi martabat. Tidak ada martabat manusia
satu lebih tinggi daripada manusia lainnya. Pemikiran ini merupakan keyakinan
umum sejak zaman modern, artinya sejak Revolusi Perancis menumbangkan
monarki absolut dan feodalisme. Dalam artikel pertama dari ―Deklarasi Hak
Manusia dan Warga Negara‖ (1789) yang dikeluarkan pada waktu Revolusi
Perancis dapat dibaca: ―manusia dilahirkan bebas serta sama haknya, dan mereka
tetap tinggal begitu‖.
Dalam konteks filsafat, pandangan ini umumnya didasarkan pada paham
deontologis dalam etika Immanuel Kant. Kant beranggapan bahwa manusia itu
menduduki wilayah ciptaan yang istimewa. Menurut pandangannya, manusia
mempunyai
―nilai
instrinsik‖,
yakni
martabat,
yang
membuatnya
bernilai
―mengatasi segala harga‖. Manusia adalah tujuan pada dirinya sendiri, tidak boleh
diperlakukan
deontologis
sebagai
tidak
alat.12
mengijinkan
Dalam
konteks
martabat
keadilan
manusia
sosial,
pandangan
dikorbankannya
demi
kepentingan atau pun manfaat ekonomi, politik dan lainnya. Hal inilah yang
membuat prinsip utilitarianisme ditolak sebagai landasan bagi konsep keadilan
11
Agus Wahyudi, ―Filsafat Politik Barat dan Masalah Keadilan: Catatan Kritis atas
Pemikiran Will Kymlicka‖ dalam Jurnal Filsafat, April 2004, Jilid 36, Nomor 1
12
Onora Oneil, ―Catatan Sederhana Tentang Etika Kant‖, dalam Etika Terapan I, ed.
Lary May, dkk, terj. Sinta Carolina, dkk, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), 51-54
10
sosial, karena menempatkan mengorbankan hak dan martabat manusia demi
kepentingan umum.
Lebih lanjut, kesepakatan bersama mengenai apa yang tidak
adil,
ketidakadilan sosial, lebih sering tercapai ketimbang sebaliknya. Masyarakat
umumnya memiliki perasaan keadilan (sense of justice) yang cukup peka untuk
menilai suatu hubungan-hubungan sosial atau kondisi sosial tertentu sebagai tidak
adil. Tapi berbeda halnya untuk menentukan kondisi atau hubungan sosial
sebagai adil.
Karena kesadaran keadilan masyarakat bukan sesuatu yang sudah
jadi melainkan terus berproses dalam kerangka dialogis.
Dalam arti, keadilan sosial, secara negatif, relatif mudah ditentukan,
namun penentuan positif mengenai kondisi sosial dan hubungan-hubungan sosial
mana yang dapat disebut adil seringkali sulit dicapai kesepakatan. Untuk itu,
kesadaran intuitif masyarakat mengenai apa yang adil dan tidak adil saja tidak
cukup dalam membangun konsep keadilan sosial, maka kita perlu teori untuk
memperjelas kesadaran moral atau sentimen moral mengenai apa yang adil
tersebut dalam bentuk yang lebih jelas. Inilah tugas teori keadilan.
Sebagaimana penulis jelaskan bahwa putusan moral mengenai pembagian
yang
adil
itu
haruslah
didasarkan
pada
prinsip-prinsip
yang
dapat
dipertanggungjawabkan, baik secara intuitif maupun rasional. Inilah peran teori
keadilan untuk menyelaraskan apa yang secara intuitif disebut adil,
mempertanggungjawabkan,
membenarkan
atau
menjustifikasinya
di
kemudian
hadapan
argumen rasional. Dalam teori keadilan Rawls, hal ini disebut dengan reflective
equilibrium, keseimbangan antara argumen intuitif dengan argumen rasional.
11
Itulah poin-poin penting yang penulis anggap patut dicermati dalam
analisis keadilan sosial di dalam skripsi ini.
Bagi Rawls, kesepakatan bersama mengenai keadilan sosial, atau apa yang
adil dan tidak adil, dalam kehidupan sosial masyarakat modern yang pluralistik
adalah sesuatu hal yang menjamin integritas sosial, stabilitas, dan keberlanjutan
sebuah masyarakat. Prinsip keadilan sosial dibutuhkan untuk mengatur cara
bagaimana lembaga-lembaga sosial utama mendistribusikan hak dan kewajiban,
nikmat dan beban hasil kerja sama sosial masyarakat itu dengan adil kepada
semua anggota masyarakat. Prinsip-prinsip keadilan sosial itu hanya dapat secara
efektif mengatur masyarakat hanya apabila ia dapat diterima oleh semua orang.
Akseptabiltias publik atau penerimaan semua orang terhadap prinsip keadilan
sosial yang akan mengatur mereka apabila prinsip-prinsip itu mampu menjamin
dan mengakomodasi kepentingan semua orang, khususnya orang-orang yang
lemah secara ekonomi dan sosial.
Bagi
Rawls,
prinsip
keadilan
sosial
bagi
Rawls
tidak
sekedar
mendistribusikan nilai-nilai sosial primer dengan adil, melainkan juga bagaimana
prinsip-prinsip distributif itu bisa diterima oleh semua orang. Lebih jauh, prinsipprinsip keadilan sosial Rawls diposisikan landasan dasar bagi sebuah kerja sama
sosial sebuah masyarakat yang tertata dengan baik (well-ordered society).
Masyarakat tertata dengan baik dalam studi filsafat politik merupakan sebuah
konsepsi ideal mengenai bagaimana seharusnya masyarakat diatur dengan baik.
Sebagaimana diketahui, filsafat politik menuntut agar segala klaim atas hak untuk
12
mengatur masyarakat dipertanggungjawabkan pada prinsip-prinsip moral dasar.
Dalam hal ini, keadilan adalah prinsip moral dasar.
Rawls adalah seorang pendukung egalitarianisme. Dalam arti, ia setuju
bahwa nilai dasariah keadilan sosial adalah prinsip persamaan. Kendati begitu,
Rawls bukan seorang egalitarian radikal dalam arti ia juga menerima prinsip
ketidaksamaan.
Prinsip persamaan baginya bukan persamaan dalam distribusi
atau pembagian, melainkan persamaan manusia dari segi martabatnya. Hal ini
menunjukkan bahwa prinsip keadilan sosialnya menempatkan manusia sebagai
tujuan utama, bukan sekedar alat. Hal ini dapat dipahami karena ia merupakan
seorang Neo-Kantian. Dengan ini, utilitarianisme ditolak olehnya sebagai basis
bagi keadilan sosial, karena sifatnya yang teleologis –yang-manfaat (the good)
prioritas
yang-hak
(the
right)—
konsekuensinya
utilitarianisme
meletakkan
manusia sebagai alat dan sarana belaka untuk mencapai kesejahteraan dan
kebahagian. Karena itulah keadilan sosial tidak dapat dijamin oleh utilitarianisme.
Sementara itu, basis keadilan sosial Rawls sendiri didasarkan pada landasan
deontologis, yakni yang-hak prioritas atas yang manfaat. Manusia adalah tujuan
pada dirinya sendiri. Martabat manusia itu harus dihormati, tapi martabat
manusia itu ditandai dari segi apa? Tegasnya
Rawls berusaha mereflesikan inti
persamaan itu dalam kehidupan sosial. Karena itu, prinsip keadilan sosial adalah
prinsip substantif, bukan prinsip formal.
Dengan demikian, Rawls mengakomodasi prinsip persamaan sebagai nilai
dasariah
bagi
keadilan
sosial,
tapi
juga
sekaligus
menerima
prinsip
ketidaksamaan. Tegasnya konsep keadilan sosialnya menyusur pada dua tepi:
13
kesamaan dan ketidaksamaan.
Akan tetapi, apa yang harus dibagi secara sama,
dan juga apa yang boleh dibagi dengan tidak sama. Yang paling penting ialah
sebatas mana ketidaksamaan itu diperbolehkan. Lalu, hal-hal apa saja yang harus
dibagi dengan adil kepada semua orang. Apakah terbatas pada nikmat-nikmat
sosial, atau juga mencakup nikmat alamiah semisal, kecerdasan, kepintaran dan
sebagainya. Kemudian, juga penting ialah bagaimana ia menemukan prinsipprinsip keadilan sosial itu? Karena sebagaimana diketahui, prinsip keadilan sosial
adalah prinsip moral. Dalam arti, prinsip keadilan adalah perkara moral, jadi tidak
dideduksi dari prinsip yang terbukti benar begitu saja, sebagaimana prinsip
Cartesian.
Tegasnya, prinsip moral itu harus sesuai dengan kesadaran moral intuitif
(subjektif), tapi bagaimana prinsip keadilan sosialnya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional (objektif) tanpa harus bertentangan dengan intuisi. Ini
tak lepas dari tujuannya bahwa integritas sosial dan stabiltas masyarakat hanya
tercapai apabila prinsip keadilan sosial itu adalah manifestasi kehendak umum,
hasil kesepakatan bersama. Ini mengungkapkan gagasan utamanya teorinya yang
disebut dengan justice as fairnees. Maksudnya, prinsip-prinsip keadilan sosial
merupakan hasil kesepakatan orang-orang yang rasional, bebas, dan setara dalam
situasi awal persamaan yang fair.
Alhasil,
dengan berbagai latar belakang masalah dan pertimbangan yang
ada, maka skripsi ini penulis beri judul: ―Konsep Keadilan Sosial Menurut John
Rawls”. Pijakan sederhananya, keadilan sosial adalah keadilan yang berkaitan
dengan pembagian nikmat dan beban dalam masyarakat sebagai sebuah bentuk
14
kerja sama sosial, di mana manifestasi kerja sama sosial itu termanifestasi dalam
lembaga yang disebut negara. Konsep keadilan sosial berkaitan dengan prinsipprinsip yang mengatur pembagian tersebut. Dengan demikian, teori keadilan
berusaha merumuskan prinsip-prinsip dasar bagi terwujudnya masyarakat yang
adil, di mana nilai-nilai sosial primer bisa terbagi dengan adil kepada semua
anggota masyarakat. Bagi Rawls, hal demikian sama dengan mempertanyakan apa
prinsip-prinsip dasar bagi terwujudnya masyarakat yang adil.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Pemikiran John Rawls memiliki pengaruh besar dan arti penting dalam
memengaruhi perkembangan wacana filsafat abad ke-20. Maka tak heran apabila
ada banyak karya atau buku-buku yang juga mengupas dan menjelaskan
pemikiran Rawls. Di antara penulis Indonesia yang telah mengupas pemikirannya
antara lain: (1) Bur Rasuanto dengan bukunya yang berjudul Keadilan Sosial:
Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas (2004); dan (2) Andre Ata Ujan
dengan bukunya, Keadilan dan Demokrasi: Telaah Filsafat Politiik John Rawls
(2001).
Buku pertama, Keadilan Sosial: Pandangan Deontologis Rawls dan
Habermas, merupakan disertasi Bur Rasuanto yang diterbitkan oleh penerbit
Gramedia. Pokok kajian dalam buku ini kajian komparatif antara teori keadilan
kontrak John Rawls dan teori diskurus Jurgen Habermas. Rasuanto menggunakan
istilah ―keadilan sosial‖ sebagai judul bukunya, namun ia menerangkan bahwa
istilah ―keadilan sosial digunakan sebagai istilah umum‖. Lebih lanjut, buku ini
berusaha
menjelaskan
perbandingan
kedua
teori
tersebut
dalam
upaya
15
membangun persetujuan konsensus bersama tentang prinsip-prinsip dasar bagi
masyarakat modern. Titik tekan buku ini ialah mengelaborasi titik persamaan dan
perbedaan serta posisi antara teori diskursus Habermas dalam hubungannya
dengan teori keadilan kontrak Rawls. Dalam hasil penelitiannya itu, Rasuanto
menjelaskan bahwa teori keadilan kontrak Rawls merupakan justifikasi bagi teori
diskursus Habermas.
Dalam menerangkan teori keadilan Rawls, Rasuanto berpegang dan
bertolak
dari pertanyaan yang diajukan Rawls dalam bukunya,
Political
Liberalism (1993). Rasuanto menulis rumusan masalah bukunya, ―bagaimanakah
suatu masyarakat stabil dan adil yang warganya bebas dan sederajat namun
secara mendalam terpecah dalam doktrin-doktrin moral, filsafat, dan agama yang
saling berkonflik bahkan tidak dapat didamaikan itu mungkin‖.13 Pertanyaan ini
adalah pertanyaan dasar yang diajukan Rawls dalam Political Liberalism (1993).
Buku Rawls ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari ide-ide dan gagasan
yang dikemukakannya dalam A Theory of Justice (1971), di mana ia melihat
toleransi merupakan salah satu ciri atau nilai yang harus ada dalam masyarakat
modern. Jadi, Rasuanto membicarakan teori keadilan Rawls berikut pergeseran
pemikirannya dari dalam A Theory of Justice ke konsepsi keadilan politik dalam
Political Liberalism.
Sementara buku kedua, Keadilan dan Demokrasi: Telaah Filsafat Politik
John Rawls, merupakan karya tesis Andre Ata Ujan yang diterbitkan oleh penerbit
Kanisus tahun 2001. Di buku ini, Ata Ujan mengelaborasi teori keadilan Rawls
13
Bur Rasuanto, Keadilan Sosia, h. 21.
16
dalam hubungannya dengan masalah demokrasi, dan juga bagaimana implikasi
teori tersebut dalam penataan politik dan ekonomi. Kajian buku ini berusaha
mencari dan menemukan elemen-elemen fundamental dari teori keadilan Rawls
yang dapat diterapkan pada masalah- masalah dalam masyarakat demokrasi.
Dalam kaitannya dengan skripsi ini,
mengelaborasi
masalah-masalah
yang
pembahasan skripsi ini tidak
diungkapkan
Rawls
dalam
bukunya
Political Liberalism, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasuanto. Kemudian,
penulis juga tidak membahas bagaimana implikasi dan penerapan teori Rawls
dalam penataan ekonomi dan politik dalam masyarakat demokrasi. Penulis dalam
dalam hal ini, membatasi pembahasan skripsi ini lebih kepada teorinya yang
dikembangkan oleh Rawls dalam A Theory of Justice (1971), dan juga tidak
berusaha
membahas
mengenai
pergeseran
pemikirannya
dalam
Political
Liberalism. Hal ini dikarenakan masalah yang berusaha penulis kaji di sini fokus
pada bagaimana Rawls merefleksikan substansi keadilan sosial. Penulis juga lebih
condong menggunakan logika pembahasan yang digunakan Rawls sendiri dalam
menerangkan teorinya dalam A Theory of Justice, di mana ia membagi teori
keadilan-nya menjadi dua bagian, isi (content) dan metode (method). Menurut
Paul Graham, teori keadilan Rawls membagi teorinya menjadi dua bagian. Bagian
pertama membahas mengenai metode (method)
Rawls menemukan prinsip-
prinsip keadilan sosial. Bagian kedua membahas mengenai ―isi‖ atau ―substansi‖
dari prinsip-prinsip keadilan sosial. Dua bagian ini bukan dua hal yang terpisah,
17
melainkan satu kesatuan yang membentuk konsepsinya tentang keadilan sosial
ideal.
14
C. BATASAN DAN RUMUSAN MASALAH
Dari uraian dalam latar belakang masalah dan tinjauan pustaka di atas,
maka agar pembahasan mengenai keadilan sosial di sini tidak terlalu melebar,
penulis akan membatasi pembahasan ini pada konsepsi keadilan sosial yang
ditawarkan
John
Rawls
dengan
mengurai teorinya
dan
perspektif
yang
diajukannya.
Dengan pembatasan masalah seperti ini, maka permasalahan yang akan
menjadi objek dan fokus penulisan ini adalah bagaimana konsepsi keadilan sosial
menurut John Rawls.
D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dan memahami secara lebih
jelas konsepsi ideal yang ditawarkan oleh John Rawls mengenai keadilan sosial.
Serta melakukan analisis kritis terhadapnya. Sementara kegunaan penelitian ini
adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:
1. Mengetahui bagaimana timbulnya masalah keadilan sosial, sumber
ketidakadilan sosial, dan apa saja yang harus dibagi dengan adil
kepada semua anggota masyarakat?
2. Mengetahui prinsip-prinsip dasar bagi terwujudnya sebuah masyarakat
yang adil
14
Paul Graham, Rawls, (Oxford: OneWorld Publication, 2007), h. 15
18
3. Mengetahui metode dalam membangun sebuah konsensus rasional
dalam merumuskan prinsip-prinsip keadilan substantif.
4. Mengetahui konsepsi ideal mengenai keadilan sosial bagi terciptanya
sebuah masyarakat yang
tertata dengan
baik,
atau
mengetahui
bagaimana seharusnya masyarakat diatur dengan baik dan benar?
E. METODOLOGI PENELITIAN DAN TEKNIK PENULISAN
Dalam menyusun skripsi ini,
penelitian,
yaitu
studi
kepustakaan.
penulis menggunakan satu
Studi
kepustakaan
metodelogi
bertujuan
untuk
memperoleh data melalui sumber bacaan meliputi buku-buku dan artikel yang
ditulis oleh John Rawls, khususnya buku A Theory of Justice15 yang memuat
secara lengkap teorinya. Selain itu studi kepustakaan ini akan diperkaya dengan
sejumlah data yang ditulis oleh penulis lain mengenai Rawls atau mengenai
teorinya, atau juga mengenai keadilan sosial secara umum dan lain sebagainya
yang berkenaan dengan pembahasan skripsi.
Sementara teknik penulisan dalam karya tulis ini, analisis data yang
digunakan bersifat kualitatitf dengan teknik pembahasan deskriptif analitis yang
bertujuan menggambarkan konsep keadilan sosial ideal menurut John Rawls.
Tentu saja, pengumpulan data, pembahasan masalah, dan penulisan dalam
skripsi ini disesuaikan dengan Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis,
Dan Disertasi) yang diterbitkan Center for Quality Development and Assurance
(CeQDA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
15
Dalam skripsi ini penulis menggunakan A Theory of Justice edisi terjemahan bahasa
Indonesia, dengan judul Teori Keadilan: Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan
Kesejahteraan Sosial dalam Negara, terj. Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2001)
19
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Setelah penulis
memaparkan
latar belakang
masalah,
pokok-pokok
masalah, tujuan, metode, serta sistematika penulisan, pada bab BAB II penulis
mencoba memaparkan dengan jelas riwayat hidup, latar belakang pendidikan,
karya-karya tulis ilmilahnya, dan latar belakanng tradisi pemikirannya.
Pada
BAB III, penulis akan menyajikan tinjauan umum atas teori
keadilannya. Penjelasan pada ini bertujuan memberikan pemahaman umum
mengenai teorinya sebelum memasuki konsepsinya mengenai keadilan sosial. Di
BAB III ini, penulis sudah mulai memasuki bagian teorinya. Kendati demikian,
poin-poin yang dijelaskan lebih pada pokok-pokok atau gambaran besar dari
teorinya. Dengan demikian, tidak ada terjadi tumpang tindih dengan bab
setelahnya, dan justru menjadi batu pijakan awal yang lebih mudah dalam
memahami pembahasan bab selanjutnya. Pokok-pokok teorinya yang akan
dibahas adalah tujuan dan latar belakang teorinya, gagasan utama teorinya,
―Justice as Fairness‖, dan metode yang digunakan dalam teori keadilannya.
Uraian dalam BAB IV dibagi menjadi tiga bagian. Pada bagian pertama
penulis menguraikan lebih dahulu mengenai lingkup masalah keadilan sosial.
Pembahasan ini mencakup timbulnya masalah keadilan sosial, subjek utama
keadilan sosial, dan nilai-nilai sosial primer, yakni hal-hal yang harus dibagi
dengan adil kepada semua orang.
Lalu bagian kedua menguraikan mengenai isi dari prinsip-prinsip keadilan
sosial yang dikemukan secara intuitif oleh Rawls, yakni dua prinsip keadilan
sosial. Uraian di sini meliputi prinsip pertama, prinsip kedua, dan hubungan atau
20
aturan prioritas antara kedua prinsip tersebut. Dan bagian ketiga, uraiannya
mengenai syarat prinsip keadilan sosial yang harus disepakati oleh semua orang.
Dalam hal ini penulis menjelaskan posisi asali, yakni metode yang digunakan
dalam menjustifikasi prinsip keadilan sosialnya.
21
BAB II
BIOGRAFI JOHN RAWLS
A. Riwayat Hidup Dan Pendidikan John Rawls
John (Jack) Bordley Rawls lahir pada 21 Februari
1921 di Balltimore,
Maryland, Amerika Serikat. Dia anak kedua dari pasangan William Lee
dan
Anna Abell Stump. William Lee dan Anna Rawls memiliki lima orang putra:
William Stowe (Bill), John Bordley (Jack), Robert Lee (Bobby), Thomas
Hamilton (Tommy), dan Richard Howland (Dick).
dari keluarga yang mapan.
Kedua orang tuanya berasal
Kakek-nenek Rawls dari garis ibunya adalah keluarga
kaya yang tinggal di Greenspring Valley, sebuah daerah elit pinggiran kota
Balltimore. Kekayaan yang begitu banyak itu berasal harta warisan,
seperti
tambang minyak dan batubara di Pennsylvania. Mereka dikaruniai empat orang
putri: Lucy, Anna (ibu Rawls), May, dan Marnie. 1
Keluarga Rawls berasal dari Utara, dimana nama „Rawls‟
lazim digunakan.
masih cukup
Kakek dari garis ayahnya, William Stowe Rawls, adalah
seorang bankir di sebuah kota kecil dekat Greenville, Carolina Utara. Karena
menderita penyakit TBC (tuberculosis), William Stowe pindah bersama istri
beserta ketiga anaknya ke Balltimore pada tahun 1895 agar lebih dekat dengan
Rumah Sakit Universitas Johns Hopkins. Pasca pindah ke Balltimore, Ayah
Rawls, William Lee menderita TBC selama beberapa tahun, dan kesehatannya
yang tidak baik itu terus berlanjut hingga masa mudanya. Karena tidak cukup
1
Thomas Pogge, John Rawls: His Life and Theory of Justice, transl. Michlle Kosch,
(New York: Oxford University Press, 2007), h. 4
22
biaya, William Lee terpaksa putus sekolah. Di usia 14 tahun, ia telah bekerja
sebagai pembantu di sebuah kantor hukum. Pekerjaannya itu pun membuka jalan
kesempatan bagi William Lee muda untuk membaca buku-buku hukum yang ada
di situ pada malam harinya. Ia mendidik dirinya sendiri dengan cukup baik
sehingga berhasil lulus ujian pengacara tanpa pendidikan formal apa pun. Dan ia
pun akhirnya menjadi seorang pengacara kondang, memiliki kantor hukum sendiri
dan terpilih menjadi ketua asosasi pengacara di Balltimore pada tahun 1919. 2
Kedua orang tua Rawls memiliki minat yang kuat terhadap politik.
Ayahnya merupakan pendukung
Liga Nasional, dan kawan akrab sekaligus
penasehat pribadi Albert Ritchie, seorang Gubernur Maryland dari Partai
Demokrat (1924-1936). Ia juga pernah menjadi penasehat hukum Franklin D.
Roosevelt. Adapun ibu Rawls adalah perempuan pendukung0020gerakan
feminisme. Ia pernah menjabat sebagai presiden dari League of Women Voters di
daerah kediamannya. Karena latar belakang kedua orang tuanya itu, Rawls
disebut memiliki “darah biru” oleh sebagian sahabatnya. Hal itu membuat Rawls
memiliki sense of noblese oblige. 3
Pengalaman tragis di masa kecil Rawls yang sangat menggoncang keadaan
jiwanya adalah ketika ia harus kehilangan dua orang adiknya, Bobby dan Tommy
, akibat tertular penyakit yang diderita oleh Rawls. Bobby –usianya lebih muda
21 bulan- meninggal pada tahun 1928 setelah tertular penyakit diphteria dari
Rawls yang saat itu justru kondisinya justru semakin berangsur pulih. Sementara
itu, Tommy meninggal pada tahun berikut, tepatnya di bulan Febuari 1929, juga
2
3
Thomas Pogge, John Rawls, h. 4-5
Thomas Pogge, John Rawls..
23
setelah tertular penyakit pheunomia yang diderita oleh John Rawls. Sebagaimana
yang terjadi pada Bobby, Tommy juga meninggal ketika Rawls tengah berangsur
pulih dari penyakitnya. Menurut penuturan ibunya, kejadian tragis itu telah
mengoyak batin Rawls dan „memicu‟ bicara Rawls menjadi tidak lancar (gagap),
dan hal itu semakin bertambah parah di masa tuanya. 4 Demikian riwayat masa
kecilnya.
Di samping itu, ada beberapa pengalaman masa kecil Rawls yang
memengaruhi kesadarannya akan keadilan. Kepekaan Rawls terhadap masalah
keadilan dan sesamanya tidak terlepas dari berbagai pengalaman masa kecilnya.
Pengaruh itu antara lain berasal dari ibunya yang merupakan seorang pejuang hakhak kaum perempuan. Selain itu, semasa kecil ia mengalami secara langsung
berbagai bentuk diskriminasi ras dan kelas sosial, di kota tempat ia tinggal.
Hampir 40 persen kota Balltimore itu penduduknya adalah orang-orang berkulit
hitam.
Rawls melihat langsung perlakuan yang membeda-bedakan manusia dari
warna kulitnya. Perlakuan berbeda atas para warga kulit hitam tampak jelas
baginya. Anak-anak berkulit hitam belajar di sekolah yang berbeda dan terpisah
dari anak-anak berkulit putih. Bahkan ibunya sendiri pun melarang dirinya
bergaul dengan anak-anak kulit hitam. Ibunya sempat marah besar kepadanya
ketika ia bermain ke rumah temannya yang berkuli hitam di daerah perkumuhan.
Hal itu karena Rawls sering bermain ke rumah anak itu yang berada di daerah
4
Thomas Pogge, John Rawls., h. 5-6
24
perumahan kumuh dan sempit yang menjadi ciri khas tempat tinggal orang-orang
berkulit hitam. 5
Di samping itu, masih ada lagi peristiwa yang membuka kesadarannya
akan keadilan, yakni ketika ia melihat langsung kehidupan kaum miskin kulit
putih di desa Brooklin, tidak jauh dari rumah singgahnya selama musim panas.
Hampir kebanyakan masyarakat desa tersebut berprofesi sebagai nelayan dan
penjaga dari rumah-rumah musim panas yang banyak di daerah itu.
Pergaulannya yang luas dengan anak-anak miskin setempat membuka
kesadarannya bahwa kemiskinan yang dialami sebagian besar mereka telah
mempersempit peluang mendapat pendidikan dan masa depan yang lebih baik.
Kondisi yang amat berbeda dengan kota di mana ia tinggal. 6 Pengalaman masa
kecilnya tersebut meninggalkan kesan yang begitu kuat sehingga telah
menggoreskan dan membangkitkan serta menumbuhkan sense of justice dalam
dirinya.
Lebih lanjut, mengenai pendidikan Rawls. Pendidikan
dasar Rawls
dimulai di sekolah umum di kota Balltimore, tempat tinggalnya. Selesai di
sekolah itu, ia pun melanjutkan sekolah menengahnya di Kent, sebuah lembaga
pendidikan swasta di Connecticut, yang terkenal dengan mutu dan disiplinnya
yang tinggi. Di Connecticut ini pula Rawls memasuki suatu fase religius dalam
pengalaman hidupnya. Meski fase ini tidak berlangsung lama dan juga tidak
mendorong Rawls untuk menjadi seorang religius dalam arti konvensionalnya.
Kendati begitu, fase ini telah membawa pengaruh yang besar di dalam hidupnya.
5
6
Thomas Pogge, John Rawls, h. 6-7
Thomas Pogge, John Rawls, h. 7
25
Nilai-nilai religius bahkan cukup kuat tertanam di dalam dirinya. Oleh karena itu,
Rawls dikenal memiliki kepekaan religius yang relatif lebih tinggi dibanding
dengan rekan-rekannyanya sesama liberal. 7
Pada tahun 1939, Rawls melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas
Princeton. Disini ia bertemu dan berkenalan dengan Norman Malcolm salah
seorang sahabat dan pengikut Wittgenstein. Perkenalannya dengan tokoh inilah
yang menimbulkan minat Rawls terhadap filsafat. Rawls menyelesaikan studinya
di Universitas Princeton dalam waktu singkat.
Selepas itu, ia masuk wajib militer dan ikut terlibat pertempuran pertama
kali dalam Perang Pasifik. Rawls juga sempat ditempatkan di Papua Nugini,
Filipina, dan Jepang. Selama masa tugas milter ini Rawls mengalami pengalaman
paling buruk sepanjang hidupnya. Tujuh belas temannya satu angkatan di
Universitas Princeton mati terbunuh, dan dua puluh tiga orang lainnya dari
angkatan di bawahnya juga meninggal karena keganasan perang.
Inilah mungkin, menurut kesaksian teman-temannya, alasan kenapa Rawls
tidak pernah mau bercerita mengenai pengalamannya sebagai tentara. Masa
perang, khususnya peristiwa pengeboman kota Hiroshima pada bulan Agustus
1945, telah menggoreskan pengalaman yang mengerikan bagi Rawls. Ketika
pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat menjatuhkan bom untuk mengakhiri
perlawanan Jepang, Rawls tengah bertugas di Pasifik. 8
Selama kariernya,
Rawls
hampir tidak pernah menulis
tentang
pengalamannya pada masa perang dunia tersebut. Setelah lima puluh tahun
7
Andre Ata Ujan,: Keadilan dan Demokrasi: Telaah Filsafat Politik John Rawls,
(Yogyakarta: Kanisius, 2001), h.14
Andre Ata Ujan,: Keadilan dan Demokrasi., h.15
26
kemudian, Rawls menulis artikel dalam jurnal politik Amerika, Dissent, terkait
pengalaman buruknya semasa perang. Dalam artikel tersebut, Rawls mengecam
keras penguasa Amerika Serikat atas keputusannya mem-bom atom Jepang. Ini
adalah satu-satunya artikel yang pernah ditulis Rawls sebagai tanggapannya atas
situasi politik konkret. 9
Menurutnya, keputusan yang pada akhirnya membawa akibat jatuhnya
banyak korban dari warga sipil itu adalah suatu kesalahan terbesar yang tidak
pernah bisa diterima. Pada waktu itu, sesungguhnya tidak ada krisis sedemikian
gawat yang dapat dijadikan dasar. Meski demikian, bom atas kota Nagasaki dan
Hiroshima sesungguhnya membawa nasib baik juga bagi Rawls. Seandainya
keputusan membom atom kota tersebut tersebut tidak diambil, Rawls bersamasama temannya besar kemungkinan juga akan segera dikirim untuk berperang di
Jepang. Dan Rawls sendiri pun mungkin akan menjadi salah satu korban
keganasan perang. 10
Pengalaman perang bagi Rawls sedemikian buruknya hingga ia lebih
memilih mundur ketika pangkatnya akan dinaikkan menjadi perwira. Ia bahkan
menjadi sangat benci pada perang. Pada tahun 1946, Rawls keluar dari dinas
militer dan memilih menjadi orang sipil. Rawls pun kemudian ikut bergabung
dengan kelompok Harvard yang menentang perang Vietnam, dan menolak
pengiriman mahasiswa untuk ikut wajib militer.
Kemudian, Rawls akhirnya menjalani hidupnya dengan kembali ke dunia
kampus untuk belajar kembali di almamater sebelumnya. Ia menulis disertasi
9
Joe Mandle, Rawls’s ‘A Theory of Justice‟ an Introduction, (New York: Cambridge
University Press, 2009) , h. 6-7
10
Joe Mandle, Rawls’s ‘A Theory of Justice‟.
27
untuk menjadi doktor dalam bidang filsafat moral. Pada tahun 1945-1950, tahun
terakhir kuliahnya, Rawls sempat mengambil mata kuliah teori politik.
Pengetahuannya dalam bidang inilah yang kemudian mendorongnya lebih jauh
untuk menulis sebuah risalah mengenai keadilan. Oleh karena itu, apabila dihitung
dari tahun pertama munculnya ide untuk menulis risalah tersebut, maka boleh
dikatakan bahwa Rawls memerlukan 20 tahun untuk mempersiapkan lahirnya A
Theory of Justice.11
Pasca studi doktoralnya, ia mengajukan diri untuk menjadi pengajar.
Meski Rawls adalah seorang yang brilian, tetapi Princeton rupanya tidak terarik
untuk meliriknya. Karena itu, Rawls akhirnya menerima tawaran untuk memberi
kuliah di Oxford. Di universitas inilah Rawls mulai merumuskan konsep “the
original position”, meskipun konsep tersebut secara matang baru muncul ketika ia
memperbaiki gagasannya mengenai "the veil of ignorance”. Di Universitas
Oxford, Rawls setahun memberi perkuliahan. Pada tahun 1953, Rawls menulis
artikel “Justice as Fairness” yang merupakan gagasan inti teori keadilannya.
Ketika itu, Rawls berusia 30-an tahun dan artikel tersebut merupakan
artikelnya yang ketiga.
Pada tahun
1960,
draft
A
Theory of
Justice
diperkenalkannya di dalam sebuah seminar. Draft awal teori keadilan ini terus
digumulinya secara tekun sampai pada akhirnya siap diterbitkan sebagai bukunya
pada tahun 1971. Pada awal tahun 1960-an, Rawls mendapat sebuah kedudukan
penting di Massachussets Institute of Technology (MIT). Akan tetapi, dua tahun
kemudian ia pindah ke universitas Harvard dan menjadi guru besar di universitas
11
Joe Mandle, Rawls’s ‘A Theory of Justice‟, h. 16
28
tersebut hingga akhir hidupnya. Setelah terbit A Theory of Justice, Rawls masih
terus rajin menulis berbagai artikel. Dalam arti tertentu, artikel-artikel
ini
menjelaskan lebih lanjut bahkan mengoreksi sebagian gagasannya di dalam A
Theory of Justice, sebuah master piece yang telah menghantarnya menjadi filsuf
terkemuka di dalam bidang filsafat moral dan politik. Pelbagai karangan itulah
yang kemudian di-edit dan diterbitkan dalam bukunya Politcal Liberalism,
1993.12
Rawls menikah dengan Margaret Fox, seorang pelukis yang baru lulus dari
bangku Universitas Brown, pada tahun 1949. Rawls sendiri juga dikenal sebagai
seorang pengamat dan kritikus seni, khususnya seni Amerika. Pandangannya
mengenai seni ini juga banyak membantu karya seni istrinya. Sebaliknya, istrinya
pun sangat mendukung kariernya. Pada saat menghabiskan bulan madunya,
mereka bersama-sama menyusun indeks sebuah buku mengenai Nietzsche yang
ditulis oleh Walter Kauffman.
Hingga menjelang masa pensiunnya, Rawls masih mengajar di Universitas
Harvard. Aktivitas itu akhirnya berhenti setelah ia terkena serangkaian stroke
yang membuat diri makin lemah hingga tidak lagi mampu mengajar. Dan pada
tahun 2002, Rawls meninggal dunia akibat gagal jantung di rumahnya di
Lexington, Mass. Dia meninggalkan istrinya, Margaret Warfield Fox Rawls,
empat anak - Anne Warfield, Robert Lee, Alexander Emory, dan Elizabeth Fox dan empat cucu.13
***
12
Joe Mandle, Rawls’s ‘A Theory of Justice‟.
Ken Gewertz, “John Rawls, Influental Political Philosopher Dead at 81”, artikel diakses
pada 1 Maret 2009 dari http://www.news.harvard.edu/gazette/2002/11. 21/99- rawls.html
13
29
B. Karya-Karya Ilmiah Dan Pengaruhnya
Rawls adalah seorang pemikir yang produktif dalam menuangkan
gagasannya ke dalam tulisan. Gagasan Rawls tersebar dalam bentuk artikel ilmiah
maupun buku. Artikel-artikel tersebar di berbagai jurnal filsafat terkemuka seperti
Philosophical Review,dan Journal Philosophy, maupun di dalam buku-buku yang
membahas tema-tema tertentu. Oleh karena itu, karya-karya Rawls disini dibagi
dalam dua bagian: buku dan artikel. Karya-karya Rawls yang berupa artikel antara
lain:
1. “Review of An Examination of The Place of Reason in Ethics”, artikel
dalam jurnal Philosophical Review, 1951
2. “Justice as Fairness”, 1954. Artikel Rawls dalam jurnal Philosophical
Review yang merupakan gambaran dan ide dasar awal tentang gagasan
utama tentang keadilan yang kemudian secara komprehensif dijelaskan
dalam bukunya A Theory of Justice. 14
3. “Replay to Lyon and Teitleman”, artikel dalam Journal of Philosophy,
1972
4. “Fairness to Goodness”. Artikel dalam jurnal Philosophical Review,
1975.15
“Kantian Constructivism in Moral Theory”. Artikel Rawls dalam Journal
5.
of Philosophy, 1980.
“Basic Liberties and Their Priority. Artikel Rawls dalam buku Liberty,
6.
Equality and Law, 1987.
14
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial,Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas: (Jakarta,
Gramedia, 2004), h. 25
15
Andre Ata Ujan, Keadilan dan Demokrasi, h. 11
30
“Themes in Kant‟s Moral Philosophy”, artikel Rawls dalam buku Kant’s
7.
Trancendental Deductions: The Three Critiques and Opus Postumum,
1989.16
“Roderick Firth, His Life and Work”, artikel Rawls dalam buku
8.
Philosophy and Phenomenological Research, 1991.
9. “Reconciliaton through The Public Use of Reason” (Reply to Jurgen
Habermas), artikel Rawls dalam Journal Philosophy, 1992. 17
Sedangkan karya-karya Rawls yang berbentuk buku antara lain:
1. A Study in the Ground of Ethical Knowledge, Considered with Reference
to Judgement on the Moral Worth of Character. Ini merupakan disertasi
Rawls untuk meraih gelar Phd.
2. A Theory of Justice, 1971
3. Political Liberalism, 1993
4. The Law of Peoples, with”The Idea of Public Reason Revisen ”, 1999
5. Collected Papers, buku ini merupakan kumpulan 27 artikel yang ditulis
oleh Rawls dari tahun 1951 hingga 1998.
6. Lectures on History of Moral Philosophy, buku ini merupakan kumpulan
perkuliahan Rawls yang dikumpulkan oleh Barbara Herman, 2001.
7. Justice as Fairness: A Restatement, 2001.
16
17
Thomas Pogge, John Rawls, h. 199-200
Thomas Pogge, John Rawls.
31
8. Lectures on Political Philosophy, buku ini juga merupakan kumpulan
perkuliahan Rawls ketika ia menjadi dosen yang dikumpulkan oleh
Samuel Freeman.18
Di antara sekian karya-karya John Rawls tersebut, A Theory of Justice terbit pertama kali pada tahun 1971- adalah master piece yang membuat Rawls
dikenal sebagai pemikir terkemuka dalam bidang filsafat politik pada abad ke-20.
Buku ini merupakan salah satu buku paling berpengaruh dalam filsafat moral dan
filsafat politik sepanjang seratus tahun terakhir. Buku ini tidak hanya dibaca oleh
para pengkaji dan peminat filsafat, tetapi juga oleh orang-orang yang bekerja di
berbagai bidang, semisal ilmu politik, hukum, dan kebijakan sosial.19 Tidak
mengherankan apabila A Theory of Justice yang tebalnya mencapai 600 halaman
hingga saat ini telah diterjemahkan ke 23 bahasa dari berbagai macam bahasa di
dunia.
Buku ini dianggap telah membangkitkan dan mensemarakkan kembali
gairah kajian filsafat politik yang sebelumnya sempat meredup. Sampai lebih
separuh pertama abad ke-20, filsafat politik tidak mengalami perkembangan
istimewa karena tidak ada lagi karya-karya besar yang lahir sejak karya John
Stuart Mill. Keadaan itu berubah setelah terbit A Theory of Justice, 1971. A
Theory segera mendapat sambutan luas, dan dibicarakan di berbagai jurnal filsafat
dan mimbar akademi, khususnya di wilayah berbahasa Inggris. Buku ini telah
melahirkan sejumlah tanggapan, sambutan dan perdebatan di berbagai jurnal
18
Untuk semua sumber informasi pada bagian karya berbentuk buku yang ditulis Rawls,
penulis merujuk seluruhnya pada buku Thomas Pogge sebagai telah disebut diatas. Thomas
Pogge, John Rawls, h.200
19
Paul Graham, Rawls, (Oxford: OneWorld, 2007), h. vii
32
maupun mimbar akademik. Setelah A Theory terbit, wacana filsafat politik
mengalami perkembangan dan orientasi baru, bahkan bergerak meluas dari tema
sentral keadilan sosial ke masalah hak, kebebasan, human subject, komunitas, dan
teori moral sendiri, memperkaya tema-tema tradisional seperti masalah legitimasi,
kekuasaan, hakikat hukum dan lainnya.
Arti penting A Theory of Justice dalam kajian filsafat setidaknya
mencakup
dua
hal,
sebagaimana
diutarakan
Will
Kymlicka.
Kymlicka
mengatakan A Theory memiliki dua arti penting. Pertama, Rawls memiliki arti
penting historis
Sebagaimana
tertentu dalam mendobrak
diketahui,
utilitarianisme
intusionisme
adalah
dan
pandangan
utilitarianisme.
moral
yang
mendominasi seluruh periode filsafat modern, sekaligus menjadi doktrin moralitas
politik paling dominan. Berbagai kritik ditujukan kepada utiltarianisme karena
dianggap tidak mampu menjamin keadilan sosial, dan menempatkan manusia
sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan.
Sejumlah pandangan dan teori muncul dari berbagai pemikir untuk
mengatasi pandangan utilitarianisme. Satu di antaranya adalah John Rawls. Teori
keadilannya
salah
satu
tujuannya
adalah
mengatasi
dan
membersihkan
utilitarianisme dari teori-teori keadilan. Kedua, teori Rawls mendominasi filsafat
politik, bukan dalam arti disepakati secara luas, tetapi dalam arti bahwa para ahli
teori yang muncul belakangan harus mempertegas dirinya sebagai dirinya
berlawanan dengan Rawls atau tidak. Mereka menjelaskan apa teori mereka
dengan membandingkannya dengan
teori Rawls.
“Kita
tidak
akan
dapat
33
memahami karya tentang keadilan yang muncul belakang ini jika kita tidak
memahami Rawls”, kata Kymlicka.20
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Will Kymlicka,
buku
Rawls
membawa
dampak
positif
dalam
merangsang
polemik sekitar
dilakukannya
penelitian-penelitian luas dan mendalam dalam filsafat praktis, baik dari sisi
filsafat politik maupun dari sisi filsafat moral. Hal itu juga diikuti suburnya karyakarya baru baik berupa artikel di jurnal-jurnal dan rangkaian publikasi besar yang
langsung maupun tidak
langsung membahas tema-tema di atas.
Publikasi-
publikasi filsafat praktis setelah terbitnya A Theory of Justice umumnya bertolak
dari, mengacu kepada, dirangsang oleh, atau bahkan mengarahkan sasaran
terhadap tesis Rawls.
Karya Rawls lainnya yang juga penting adalah Political Liberalism, terbit
pertama kali pada tahun 1993. Isi buku ini di samping mengoreksi beberapa aspek
teori yang sudah dikemukakannya, juga memperjelas pikiran-pikiran pokok yang
mendasari status teorinya justice as fairness sebagai konstruktivisme politik. Di
buku ini, Rawls mengemukakan bahwa teori keadilannya berada dari latar tradisi
politik tertentu, yakni tradisi politik liberalisme. Hal ini menegaskan bahwa
prinsip keadilannya didasarkan pada landasan politik bukan landasan metafisis
dari nilai atau kepercayaan tertentu dalam kelompok masyarakat.
Lalu ada Law of Peoples yang terbit pada tahun 1996. Buku ini membahas
mengenai pandangan Rawls tentang masalah keadilan dalam konteks hubungan
internasional. Di sini Rawls membahas mengenai prinsip-prinsip keadilan dalam
20
Will Kymlicka, Pengantar Filsafat Politik Kontemporer: Kajian Khusus Teori -Teori
Keadilan, terj. Agus Wahyudi, cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 70
34
kontek hubungan internasional. Hal ini merupakan perluasan dan
kelanjutan dari
gagasannya sebelumnya mengenai prinsip-prinsip keadilan bagi struktur dasar
masyarakat.
C. Latar Belakang Tradisi Pemikiran
Lingkup pemikiran ataupun teori seorang filsuf tidak lahir begitu saja dari
ruang
hampa.
Seringkali
teori
ataupun
pemikiran
lahir
sebagai
kritik,
pengembangan, perluasan dan sebagainya, atas teori ataupun tradisi pemikiran
yang telah ada sebelumnya. Begitu juga halnya dengan pemikiran John Rawls. Di
sini, penulis hanya menulis secara singkat tradisi-tradisi pemikiran yang berkaitan
dengan teori keadilannya. Antara lain, tradisi politik liberalisme egalitarian, tradisi
kontrak sosial semisal John Locke, JJ. Rousseau, dan pandangan utilitarianisme.
Pertama, tradisi politik liberalisme. Liberalisme adalah doktrin moralitas
politik normatif, atau filsafat politik normatif, yakni seperangkat argumen moral
mengenai
justifikasi
tindakan
politik
dan
institusi-institusi.
Rawls
sendiri
memahami liberalisme sebagai produk zaman Reformasi abad ke-16 di Eropa
yang melahirkan pluralitas
agama,
berkembangnya
negara modern
dengan
administrasi pusat yang menggeser kekuasaan raja, dan berkembangnya sains
modern pada abad ke-17.21
Liberalisme menuntut masyarakat ditata secara netral dan adil, tanpa acuan
pada nilai dan kepercayaan masing-masing kelompok. Masyarakat yang tertata
dengan baik ialah masyarakat yang diatur dengan adil. Dalam arti, masyarakat
tertata baik atau gambaran mengenai masyarakat ideal ialah apabila ia didasarkan
21
xxii-xxiii
John Rawls, Political Liberalism, (New York: Columbia University Press, 1993), h.
35
pada prinsip moral dasar. Dan keadilan adalah prinsip moral dasar. Para filsuf
yang berada dalam tradisi ini antara lain Jurgen Habermas, John Rawls, Karl Otto
Apel, dan sebagainya. Dalam tradisi Immanuel Kant, mereka mencari prinsipprinsip moral dasar kehidupan masyarakat. Dan karena prinsip moral dasar adalah
keadilan, maka mereka mencari pendasaran suatu prinsip universal.
22
Karena itu,
filsuf ini juga sering disebut filsuf Neo-Kantian.
Dengan demikian, teori keadilan Rawls yang dikembannyak berasal dalam
tradisi liberalisme. Konsekuensinya, teorinya hanya cocok diterapkan dalam
masyarakat yang tradisi politiknya adalah demokrasi liberal, atau demokrasi
konstitusional. Tetapi perlu dilihat bahwa liberalisme Rawls berbeda dengan
liberalisme klasik yang justru dikritik olehnya. Bahkan bisa dikatakan liberalisme
Rawls melampaui titik perjuangan liberalisme itu sendiri dan juga sosialisme.
Karena teorinya berhasil menyatukan dua nilai dasar, kebebasan dan
kesamaan, yang selama ini sulit disatukan, bahkan seolah mustahil. Dalam prinsip
keadilannya, Rawls menempatkan persamaan dalam kerangka persamaan hak-hak
dan kebebasan fundamental. Oleh karena itu, liberalisme Rawls harus dililhat
“liberalisme egalitarian”,
bukan dalam kerangka liberalisme klasik.
Karena
masyarakat yang diatur menurut prinsip kebebasan saja, justru yang terjadi adalah
ketidakbebasan, sementara jika didasarkan pada prinsip kesamaan saja, yang
terjadi justru ketidaksamaan.
Kedua, tradisi kontrak sosial. Tujuan Rawls menggunakan teori kontrak
sosial karena, menurutnya, masyarakat tertata dengan baik (well-ordered society)
22
Franz Magnis Suseno, Pijar-Pijar Filsafat: dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan,
dari Adam Muller ke Postmodernisme, (Yogyakarta, Kanisius, 2005) h.198
36
apabila ada kesepakatan bersama dari semua orang mengenai apa yang adil dan
tidak adil dalam masyarakat. Secara tradisional, teori kontrak sosial dilihat
sebagai alat konseptual untuk menjelaskan munculnya masyarakat, atau untuk
melegitimasi kekuasaan negara. Tapi bagi Rawls, kontrak sosial digunakan Rawls
untuk melegitimasi prinsip-prinsip keadilan sosial yang akan mengatur struktur
dasar masyarakat. Agar pengaturan bisa efektif maka prinsip-prinsip itu harus
diterima semua orang.
Oleh karena itu, ia menggunakan pendekatan kontrak sosial untuk
menjustifikasi
prinsip-prinsip
keadilannya.
Prinsip-prinsip
keadilan
Rawls
didasarkan pada dua argumen dasar, intuitif dan teoritik atau rasional. Nah, teori
kontrak sosial itu digunakan sebagai argumen rasional Rawls dalam membenarkan
argumen intutif. Kontrak sosial yang telah dimodifikasi oleh Rawls dalam
teorinya dikenal dengan nama “original position”, atau kira-kira sama “state of
nature” pada kontrak tradisional.
Tetapi ada perbedaan antara kontrak sosial Rawls dengan kontrak
tradisional. Rawls bersifat hipotetis, lainnya bersifat historis; kontraktor Rawls
adalah setara, bebas, dan rasional, lainnya justru kontraktornya tidak dalam
keadaan sama, semisal pada Hobbes yang kesepakatan agar tidak terjadi “perang
semua lawan semua”. Orang-orang dalam kontrak Rawls adalah „mahluk moral‟,
yakni tahu mana yang baik bagi dirinya, dan tahu apa yang adil sehingga
kesepakatan mengenai apa yang adil sebagai dasar kerja sama sosial masyarakat
mereka menjadi mungkin.
37
Ketiga, Utilitarianisme dan Intusionisme. Secara khusus, Rawls melihat
teorinya sebagai suatu kritik terhadap teori-teori keadilan sebelumnya yang
menurutnya gagal memberikan suatu konsep keadilan sosial yang tepat bagi kita.
Kegagalan teori-teori terdahulu itu, disebabkan oleh substansinya yang sangat
dipengaruhi oleh utiltarianisme atau oleh intusionisme. Utilitarianisme sebagai
dicatat pada kata pengantar A Theory of Justice,23 telah menjadi pandangan moral
yang sangat dominan pada seluruh periode filsafat moral modern.
Secara
umum,
utilitarianisme
mengajarkan
bahwa
benar
salahnya
peraturan atau tindakan manusia tergantung pada konsekuensi langsung dari
peraturan atau tindakan tertentu yang dilakukan. Dengan demikian, baik buruknya
tindakan manusia secara moral sangat tergantung pada baik buruknya konsekuensi
tindakan tersebut bagi manusia. Tegasnya, apabila akibatnya baik, maka sebuah
peraturan atau tindakan dengan sendirinya akan menjadi baik. Demikian pula
sebaliknya.
Utilitarianisme
ditolak
karena
dianggap
gagal untuk
menjamin
keadilan sosial. Karena kegagalan ini, maka utiltiarianisme tidak tepat bila
dijadikan basis untuk membangun konsep keadilan sosial. 24
Rawls
memadai pada
juga
mengkritik
asas
intusionisme
rasionalitas.
karena
Intusionisme
tidak
dalam
memberi
proses
tempat
pengambilan
keputusan (moral) lebih mengandalkan kemampuan intuisi manusia. Oleh karena
itu, pandangan ini juga tidak memadai apabila dijadikan pegangan dalam
mengambil keputusan, terutama ketika terjadi konflik di antara norma-norma
moral. Di sini, prioritas nilai akan menjadi problem yang sulit ditemukan
23
John Rawls, Teori Keadilan: Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan
Kesejahteraan dalam Negara, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. v
24
Andre Ata Ujan, Keadilan dan Demokrasi, h. 21
38
pemecahannya apabila setiap orang cenderung menggunakan intuisi daripada akal
sehat
dalam
melakukan
pertimbangan
dan
mengambil
keputusan.
Dalam
perspektif itu juga, pelbagai generalisasi etis dapat disebut benar meskipun tidak
didukung oleh argumen yang sungguh-sunguh dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan
demikian,
pertimbangan-pertimbangan
dan
keputusan
moral
akan
menjadi subjektif atau kehilangan objektivitas. 25
Dari latar belakang tradisi pemikiran singkat sebagaimana penulis jelaskan
di atas, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut. Belajar dari teori-teori
keadilan sebelumnya, maka Rawls berusaha membangun teori keadilan yang
mampu menegakkan dan menjamin keadilan sosial (kritik atas utilitarianisme) dan
sekaligus dapat dipertanggungjawabkan secara objektif (kritik atas intusionisme).
Tegasnya, Rawls hendak membangun sebuah konsep keadilan sosial dalam
perspektif demoraksi (tradisi politik liberalisme). Oleh karena itu, teori keadilan
yang memadai harus dibentuk dengan pendekatan kontrak (tradisi kontrak sosial),
di mana prinsip-prinsip keadilan sosial yang dipilih sebagai pegangan bersama
sungguh-sungguh merupakan hasil kesepakatan bersama dari semua person yang
bebas, sederajat, dan rasional
Demikian ini pembahasan dalam bab kedua yang membahas mengenai
riwayat hidup dan pendidikan, karya-karya dan pengaruhnya serta latar tradisi
pemikiranya yang
memengaruhi pemikirannya,
khususnya
teori keadilannya.
Sebagaiman hal itu akan kita lihat pada bab ketiga yang hendak memberikan
gambaran umum atas teorinya.
25
Andre Ata Ujan, Keadilan dan Demokrasi;
39
BAB III
TINJAUAN UMUM KEADILAN SOSIAL
A. Pengertian dan Hakikat Keadilan
Banyak definisi tentang keadilan yang telah dikemukakan oleh para
pemikir dalam kajian filsafat moral. Bahkan diskursu mutakhir filsafat politik
bermuara pada
masalah ini sesuai dengan kecenderungan
dasar
pemikir
bersangkutan. Namun setiap definisi tentang keadilan selalu terjebak pada
persoalan yang sama, yaitu pembatasan atau penyempitan keadilan itu sendiri.
Sementara keadilan merupakan wilayah yang sangat luas bahkan tersembunyi –
karena berkenaan dengan nilai—sehingga nyaris tak dapat didefinisikan. Pada
posisi ini, menentukan atau menunjukkan ketidakadilan relatif lebih mudah
daripada mendefinisikan keadilan. Oleh sebab itu, kebanyakan para pemikir lebih
berkonsentrasi pada
prinsip-prinsip
yang
menentukan
terwujudnya
keadilan
ketimbang mendefinisikannya.
Dalam al-Qur‘an,
misalnya,
tidak
ada
definisi yang
komprehensif
mengenai keadilan kecuali hanya disebutkan kata adil (adl) saja. Hal ini menuntut
penelusuran lebih jauh untuk mengetahui keadilan dan penerapannya dalam
konteks kehidupan bermasyarakat. Menurut Muhammad Baqir al-Shadr, intuisi
dan pikiran dapat mengetahui nilai-nilai umum yang akan memerintah setiap
tindakan seseorang. Melalui itu, perilaku benar dan salah, baik dan buruk dapat
ditemukan, demikan pula keadilan. Ia menyatakan:
Ini (nilai-nilai umum yang diperoleh dari intuisi dan pikiran) adalah nilainilai yang menegaskan adalah kebenaran dan kebaikan, dan perbuatan
40
salah (ketidakadilan) adalah batil dan jahat. Kami juga percaya bahwa
barang siapa yang berurusan secara adil dengan orang lain layak dihormati
dan dipuji dan barang siapa yang berbuat kesalahan dan pengkhianatan
layak mendapat sebalik.1
Lebih lanjut, dalam literatur filsafat politik, keadilan sosial secara umum
seringkali didefinisikan sebagai keadilan yang berkaitan dengan pembagian
nikmat dan beban dari kerja sama sosial, khususnya yang termanifestasi dalam
lembaga yang disebut negara. Keadilan sosial adalah pokok persoalan filsafat
politik, yakni bagian dari filsafat praktis yang mengkaji dimensi moral yang
mengendalikan tindakan-tindakan politik.
Konsep
keadilan sosial berkenaan
dengan prinsip-prinsip yang mengatur pembagian nikmat dan beban. Dan teori
keadilan merupakan teori yang berusaha merumuskan prinsip-prinsip keadilan
sosial atau lebih khusus lagi,
prinsip-prinsip bagi pembagian yang adil, dalam
konteks keadilan distributif.2
Adapun hakikat keadilan itu sendiri memilliki memiliki tradisi yang
panjang. Keadilan adalah salah satu keutamaan yang menjadi tujuan manusia.
Keadilan, bisa dikatakan, merupakan keutamaan terpenting yang mendasari
seluruh dimensi kehidupan sosial dan politik. Keadilan adalah salah satu topik
yang sejak lama hampir selalu mengiringi sejarah peradaban manusia. Salah satu
peradaban tua yang menjunjung tinggi keadilan adalah Imperium Romawi Kuno.
Di mana Justicia, Sang Dewi Keadilan yang kita kenal dewasa ini sebagai
lambang keadilan merupakan warisan dari peradaban kuno tersebut.
1
Muhammad Baqir al-Shadr, The Revieveler, the Messanger, the Message, terj.
Mahmoed M Ayoub. (Tehran: Word Organization for Islamic Service, 1986), h. 75
2
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial: Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas.Dua
Teori Filsafat Politik Modern, (Jakarta: Gramedia, 2004), h. 8
41
Suatu definisi keadilan sederhana sudah diberikan sejak di zaman Romawi
Kuno dan malah mempunyai akar-akar lebih tua lagi. ―Definisi‖ keadilan
digambarkan dengan singkat sekali sebagai ―tribuere cuique suum‖. Atau kalimat
Latin itu juga dalam bahasa Inggris bisa diartikan sebagai : ―to give everybody his
own‖, atau dalam bahasa Indonesia: ―memberikan kepada setiap orang yang
menjadi miliknya‖.3
Definisi
keadilan kuno itu bisa diterjemahkan juga sebagai memberikan
kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Sebagai terjemahan, kalimat
terakhir ini sebenarnya tertalu bebas dan mengandung semacam anakronisme,
karena ‗hak‘ merupakan suatu pengertian modern yang belum dikenal dalam teksteks kuno. Istilah ‗hak‘ mengalami suatu perkembangan yang berbelit-belit dan
baru diterima dalam arti seperti kita kenal sekarang pada akhir abad ke-18. tetapi
apa yang belum bisa dikatakan oleh ahli hukum Roma itu karena belum
mempunyai pengertiannya, sebetulnya sudah dmaksudkan olehnya. Dalam hal ini,
titik tolak
refleksi tentang keadilan memang sebaiknya menjadi demikian:
keadilan adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya.
4
Lebih lanjut, perdebatan mengenai hakikat keadilan secara rasional telah
menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah manusia, khususnya sejak
sekitar abad ke-5 SM. Hakikat keadilan diperdebatkan oleh para filsuf pada zaman
Yunani. Karena itu, sering disebut bahwa keadilan sebagai kajian filsafat boleh
dikatakan sudah sejak awal sejarah filsafat itu sendiri. Karya terkenal Plato
Republic bahkan biasa diberi anak judul Tentang Keadilan. Di sana Plato,
3
Morris Ginsberg, Keadilan dalam Masyarakat, (Yogyakarta: Pondok Edukasi, 2001),
4
Franz Magnis Suseno, Kuasa dan Moral, (Jakarta: Gramedi, 1987), h.54
h. 6
42
misalnya menampilkan perdebatan mengenai hakikat keadilan antara Socrates
dengan para tokoh antara lain seperti Thrasymachos dan Glaucon. 5
Thrasymachos, tokoh Sofis radikal, mengatakan keadilan adalah apa yang
menguntungkan yang lebih kuat. Lihatlah undang-undang dan peraturan, semua
dibuat sesuai dengan keperluan dan kepentingan yang lebih kuat. Socrates dengan
gayanya yang khas bereaksi kalau seorang atilit memerlukan banyak makan
daging agar tetap kuat, apakah itu artinya keadilan? Glaucon, adik Plato, tampil
dengan pendapat keadilan adalah kompromi. Dalam masyarakat ada yang mampu
berbuat tak adil lolos tanpa hukuman, dan ada pula mereka yang menderita
perlakuan tak adil tanpa dapat membela diri; keadilan letaknya di tengah antara
kedua eksterm itu. Pendapat hampir sejalan dikemukan oleh Chepalus, seorang
hartawan terkemuka Athena, bahwa adil tak lain dari apabila orang bersikap fair
dan jujur dalam membuat kesepakatan. Hasil kompromi ditaati bukan sebagai
yang secara moral bernilai baik atau buruk, melainkan sebagai keharusan menaati
kesepakatan namun menguntungkan, karena alternatifnya adalah, ‗perang semua
melawan semua‘, sebagai kata Thomas Hobbes.6 Pemikiran ini merupakan benih
teori kontrak sejak Thomas Hobbes.
Plato menolak konsep keadilan amoral atau non moral itu. Bagi Plato,
keadilan bukanlah konvensi melainkan konsep
yang dapat diperoleh dan
dirumuskan oleh rasio yang tercerahkan. Plato berkeyakinan bahwa negara ideal
apabila didasarkan atas keadilan, dan keadilan baginya adalah keseimbangan atau
harmoni. Harmoni di sini artinya bahwa warga hidup sejalan dan serasi dengan
5
6
Franz Magnis Suseno, Kuasa dan Moral.
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial, h. 7-8
43
tujuan negara (polis), di mana masing-masing warga menjalani hidup secara baik
sesuai kodrat dan posisi sosialnya. Raja memerintah dengan bijaksana, tentara
hanya memusatkan perhatian selalu siap untuk perang, budak mengabdi sebaikbaiknya sebagai buda. Negara akan jadi kacau kalau misalnya tentara ingin,
apalagi sudah, merangkap jadi pedagang, atau budak berusaha jadi tuan. Wawasan
mengenai perubahan sosial tidak dikenal di sini. Paham keadilan Yunani klasik
masih dalam kerangka etika keutamaan atau kebijaksanaan. 7
B. Tiga Ciri Umum Keadilan
Secara umum, ada tiga ciri khas yang selalu menandai keadilan : keadilan
tertuju pada orang lain, keadilan harus ditegakkan, dan keadilan menuntut
persamaan. Tiga unsur hakiki yang terkandung dalam pengertian keadilan ini
perlu dijelaskan lebih lanjut.
Pertama, keadilan selalu tertuju pada orang lain atau keadilan selalu
ditandai other directness. Corak
sosial ini sudah ditunjukkan Aristoteles.
Aristoteles menyebut keadilan sebagai kebajikan utama. Lebih dari itu ia
berpendapat bahwa keadilan begitu utamanya sehingga di dalam keadilan termua
semua kebajikan. Dengan demikian, keadilan merupakan kebajikan yang lengkap
dalam arti seutuhnya karena keadilan bukanlah nilai yang harus dimiliki dan
berhenti pada taraf memiliknya bagi diri sendiri. Melainkan keadilan keadilan
juga harus merupakan ―pelaksanaan aktif‖, dalam arti harus diwujudkan dalam
relasi dengan orang lain.8
7
Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat: Dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik
dari Zaman Kuno hingga Sekarang, cet. ke-2, terj., (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004 ), h. 241
8
Andre Ata Ujan, Keadilan dan Demokrasi: Telaah Filsafat Politik John Rawl ,s
(Yogyakarta: Kanisius, 2001), h. 23
44
Kedua,
keadilan
harus ditegakkan
atau dilaksanakan.
Tuntutan
ini
bermakna bahwa keadilan menuntut ketidakadilan dihapuskan, sekaligus juga
menuntut keadilan untuk ditegakkan. Dua dimensi makna ini: positif dan negatif
bukan dua hal terpisah, melainkan satu kesatuan. Umumnya, kesepakatan bersama
mengenai ketidakadilan atau apa yang tidak adil lebih mudah tercapai, ketimbang
menentukan
sebaliknya.
Tuntutan
keadilan
adalah
kewajiban
merupakan
pengertian modern tentang keadilan.
Paham keadilan dalam konteks Yunani Klasik masih dalam kerangka etika
keutamaan atau kebijaksanaan. Pertanyaan etika Yunani Klasik: apa yang harus
saya lalukan agar bernilai baik? Keadilan baru mendapat pendasaran normatifnya
pada etika deontologis Kant: hanya tindakan yang didasarkan atas kewajiban yang
bernilai moral. Bagi pemikiran Yunani, keadilan adalah kebaikan, tapi bagi
perspektif modern keadilan adalah kewajiban. Paham kewajiban atau tanggung
jawab dalam arti modern masih belum dikenal dalam etika Yunani klasik. 9
Jadi keadilan tidak diharapkan saja atau dianjurkan saja. Keadilan
mengikat individu sehingga individu mempunyai kewajiban.
Ciri kedua ini
disebabkan karena keadilan berkaitan dengan hak yang harus dipenuhi. Kalau ciri
pertama tadi mengatakan bahwa dalam konteks keadilan kita selalu berurusan
dengan orang lain, maka ciri kedua ini menekankan bahwa dalam konteks
keadilan selalu berkaitan dengan hak orang lain. Kita bisa memberikan sesuatu
pada orang lain karena rupa-ruap alasan. Kalau kita memberikan sesuatu karena
9
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial, h. 9
45
alasan keadilan, kita selalu harus atau wajib memberikannya. Sedangkan kalau
kita memberikan sesuatu karena alasan lain, kita tidak wajib memberikannya.
Misalnya, kita memberi minuman kepada tamu untuk menghormatinya.
Kita tidak wajib memberikannya. Atau kita memberi derma kepada pengemis
karena kemurahan hati. Satu kali kita berikan, lain tidak kita berikan. Kita tidak
mempunyai kewajiban untuk memberikan derma kepada pengemis tertentu.
Tetapi kalau memberikan karena alasan keadilan, kita wajib memberikannya.
Majikan harus memberikan gaji yang adil kepada karyawan. Apa yang dipinjam
harus dikembalikan kepada pemiliknya.
Karena itu dalam konteks keadilan bisa dipakai ―bahasa hak‖ atau ―bahasa
kewajiban‖, tanpa mengubah artinya. Bila dikatakan ―orang A berhak mendapat
benda X dari orang B‖, kalimat yang dirumuskan dalam bahasa hak ini bisa
diterjemahkan ke dalam bahasa kewajiban sebagai ―orang B wajib memberi benda
X kepada orang A‖. Dari segi tata bahasa, dua kalimat ini tidak sama, tapi dari
segi etika artinya persis sama, karena korelasi antara hak dan kewajiban
Ketiga, keadilan menuntut persamaan (equality).10 Atas dasar keadilan,
kita harus memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, tanpa
terkecuali. Kalau majikan memberikan gaji adil kepada 3000 karyawannya,
kecuali kepada satu orang, maka majikan itu tidak pantas disebut orang adil.
mungkin ada orang yang akan bertanya apakah artinya satu dibanding tiga ribu.
Tetapi dari segi etika, perbedaan itu justru menentukan. Majikan baru pantas
disebut orang yang adil, bila ia berlaku adil kepada semua orang. Dengan
10
John Christman, Social and Political Philosophy: a Contemporary Introduction,
(London: Routledge, 2002), h.62
46
demikian, keadilan harus dilaksanakan terhadap semua orang, tanpa melihat
orangnya siapa.
C. Pembagian Keadilan
Setelah membahas
mengenai hakikat
keadilan,
maka
penulis
akan
membahas mengenai jenis-jenis keadilan. Dalam hal ini, penulis mengungkapkan
pembagian
umum
keadilan
dilihat
dari
segi
pokok
persoalannyan,
dan
pengungkapan macam-macamnya lebih pada kebutuhan yang berkaitan dengan
kajian skripsi ini saja.
Menurut John
Christman,
teori-teori keadilan,
mengikuti pembagian
keadilan klasik Aristoteles, pada umumnya dapat dibagi menjadi tiga macam.
Antara lain sebagai berikut teori keadilan retributif, korektif, dan distributif. 11
Kendati demikian, secara umum dapat disederhanakan menjadi dua macam
keadilan saja, karena keadilan korektif bisa dimasukkan dalam kategori keadilan
retributif. Adapun penjelasannya sebagai berikut ini:
1. Keadilan Retributif dan Distributif
Keadilan retributif adalah keadilan yang berkaitan dengan terjadinya
kesalahan. Hukuman atau denda yang diberikan kepada orang yang bersalah
haruslah bersifat adil. Dasar etis untuk menghukum sudah lama dibicarakan dalam
filsafat dan menimbulkan diskusi-diskusi yang rumit. Pada keadilan ini terdapat
persoalan penting yang bersifat mendasar. Disini terdapat ketidaksepakatan
mengenai justifikasi atau pembenaran atas hukuman itu sendiri. Misalnya, dalam
persoalan hukuman mati, terjadi perbedaan pandangan yang sengit dalam etika
11
John Christman, Social and Political Philosophy, h. 60-61
47
mengenai apa
dasar
moral menghukum mati seseorang
yang
melakukan
kesalahan. Terlepas dari soal justifikasi hukuman itu, ada kesepakatan luas yang
berkembang mengenai syarat-syarat kriteria hukuman yang adil. Antara lain,
pertama, kesengajaan dan kebebasan. Yakni orang yang dihukum harus tahu apa
yang dilakukannya dan harus dilakukannya dengan bebas (tanpa paksaan). Dan
lain sebagainya.
Keadilan distributif adalah keadilan yang berkaitan dengan pembagian
nikmat (benefits) dan beban12 (burdens), hal-hal yang enak untuk didapat maupun
hal-hal yang menuntut pengorbanan. Di antara hal yang termasuk dalam kategori
pertama (benefits):perlindungan hukum, pelayanan kesehatan, pendidikan yang
layak, dan sebagainya. Sementara kategori kedua misalnya, besar kecilnya pajak,
wajib militer, dan lain-lain. Dalam keadilan distributif, terdapat ketidaksepakatan
berkenaan dengan isi (content) dari prinsip-prinsip keadilan yang mengatur
pembagian hak dan kewajiban, beban dan nikmat dalam masyarakat.13
Kemudian keadilan dapat dibagi juga menurut subjeknya atau dari segi
pelaksanaannya.
2. Keadilan Sosial dan Keadilan Individual
Pembagian keadilan kepada individual dan sosial lebih berkenaan dengan
subjek atau segi pelaksanaannya. Keadilan individual adalah keadilan yang
pelaksanaannya tergantung pada kehendak atau keinginan individu atau beberapai
individu saja. Subjek keadilan di sini adalah tindakan atau perbuatan individu
12
‗Beban‘ di sini pengertian ialah beban di luar pengertian hukuman, punishment.
Misalnya, wajib militer, pembayaran pajak, dan lain-lain.
13
David Miller, Principles of Social Justice, (London: Harvard University Press, 1999),
h. 1
48
dalam hubungannnya dengan individu lainnya. Sementara itu, keadilan yang
pelaksanaanya bergantung
lembaga-lembaga
pada
struktur-struktur
sosial masyarakat,
seperti
ekonomi, sosial, politik dan budaya lainnya. Subjek keadilan
sosial ialah praktik-praktik sosial dan hubungan-hubungan sosial. Jika domain
etika keadilan adalah penilaian moral atas tindakan. Sementara domain keadilan
sosial ialah berkenaan dengan masyarakat (institusi sosial), atau tepatnya struktur
sosial.14
Keadilan sosial sebagai kajian teoritik pengertiannya seringkali ditautkan
dengan keadilan distributif.15 Dengan pertautan ini, maka keadilan sosial perlu
dibedakan dari keadilan hukum yang hakikatnya adalah keadilan retributif.
Dilihat dari segi prinsip-prinsipnya, keadilan sosial dibagi menjadi dua macam.
Pertama keadilan formal, yakni keadilan yang didasarkan prinsip formal. Dan
kedua, keadilan substantif, yakni keadilan yang didasarkan pada prinsip material
atau substantif.
Prinsip formal hanya ada satu. Prinsip formal ini mempunyai tradisi yang
lama sekali, karena sudah ditemukan pada Aristoteles. Prinsip ini berbunyi:
―equals ought to be treated equally and unequals may be treated unequally‖.
Equals bisa dimengerti sebagai ‗orang-orang yang sama‘,
‗kasus-kasus yang
sama‘ harus diperlakukan dengan cara yang sama, sedangkan ‗hal-hal ataupun
kasus-kasus yang tidak sama‘ boleh saja diperlakukan tidak sama. Walaupun
bunyinya bagus, dalam praktek prinsip ini tidak begitu banyak membantu. Prinsip
ini disebut formal, karena hanya menyajikan ―bentuk‖ (form) dan tidak
14
15
Franz Magnis Suseno, Kuasa dan Moral, h. 56
David Miller, Principles of Social Justice, h. 2
49
mempunyai ―isi‖ (content). Memang dinyatakan bahwa kasus-kasus yang sama
harus diperlakukan dengan cara yang sama, tetapi tidak dijelaskan apa yang harus
dimengerti dengan ‗kasus-kasus yang sama‘. Prinsip ini tidak menunjukkan
menurut aspek apa kasus-kasus harus dianggap sama atau tidak sama. Karena itu,
prinsip formal saja tidak tidak cukup sebagai pegangan untuk membagi dengan
adil.16
Prinsip-prinsip
keadilan
material
atau
substantif
melengkapi
prinsip
formal. Prinsip-prinsip material menunjuk pada salah satu aspek relevan yang
bisa menjadi dasar untuk membagi dengan adil hal-hal yang dicari oleh pelbagai
orang.
Kalau pada prinsip formal cenderung disepakati secara luas, tapi lain
halnya dengan prinsip material atau substantif, di mana tidak ada kesepakatan
tentangnya. Dalam arti ada banyak teori yang mengemukan pandangannya yang
berbeda-beda.
Setidaknya
ada
satu
teori
keadilan
yang
mengemukakan
pandangannya mengenai prinsip material ini, teori itu adalah teori egalitarianisme.
D . Sekilas Tiga Teori Keadilan Sosial
1. Teori Egalitarianisme
Teori egalitarianisme didasarkan pada prinsip persamaan distribusi. Teori
ini berpandangan bahwa kita baru membagi dengan adil, bila semua orang
mendapat bagian yang sama (equal). Membagi dengan adil berarti membagi
secara sama. Jika karena alasan apa saja tidak semua orang mendapat bagian yang
sama, menurut egalitarianisme pembagian itu tidak adil betul. Egalitarianisme
mendapat banyak simpati luas. Semua manusia memang sama. Pemikiran ini
16
Morris Ginsberg, Keadilan dalam Masyarakat, h. 24
50
merupakan keyakinan umum sejak
zaman modern, artinya sejak
Revolusi
Perancis menumbangkan monarki absolut dan feodalisme. Dalam artikel pertama
dari ―Deklarasi hak manusia dan warga negara‖ (1789) yang dikeluarkan waktu
Revolusi Perancis dapat dibaca: ―Manusia dilahirkan bebas serta sama haknya,
dan mereka tetap tinggal begitu.‖
17
Maksud bahwa semua manusia sama, yang terutama dimaksudkan adalah
martabatnya. Kenyataan ini mempunyai konsekuensi besar di beberapa bidang,
misalnya, hukum. Supaya adil di hadapan hukum semua anggota masyarakat
harus diperlakukan dengan cara yang sama: orang kaya atau miskin, pejabat tinggi
atau orang biasa, kaum ningrat atau rakyat jelata. Mengapa begitu? Karena hukum
hanya memandang warga negara sebagai manusia dan martabat manusia selalu
sama, terlepas dari ciri-ciri yang tidak relevan, seperti kedudukan sosial, ras, jenis,
kelamin, agama, dan lain-lain. Di sini pembagian egalitarian memang satusatunya cara yang adil. contoh lain adalah pemilihan umum. Di semua warga
negara modern, pemilihan umum diatur dengan cara yang sungguh egalitarian,
atas dasar prinsip “one person one vote‖. Dalam hal ini profesor dalam ilmu
politik dan warga negara yang buta huruf diperlakukan dengan cara yang sama,
sekalipun tahanp pengertian tentang politik pada dua orang itu sangat berbeda.
Namun demikian, walaupun martabat manusia selalu sama, dalam banyak
hal manusia tidak sama. Intelegensi dan ketrampilannya, misalnya, sering tidak
sama. Kemampuannya untuk menghasilkan nilai ekonomis acap kali berbeda.
17
Morris Ginsberg, Keadilan dalam Masyarakat, h. 24.
51
Teori-teori keadilan sosial yang berkembang dewasa ini hampir sebagian
besar bertolak dan titik awalnya adalah egalitarianisme. Will Kymlicka dalam
bukunya tentang teori-teori keadilan bahwa nilai utama atau fundamental dari
teori-teori keadilan yang dikajianya adalah egalitarian. Dalam arti, teori-teori itu
titik
tolaknya
adalah persamaan,
tapi masing-masing
berbeda-beda
dalam
menafsirkan substansi persamaan. Terkait teori egalitarianisme, kutipan Will
Kymlicka berikut patut untuk kita simak:
―Setiap teori memiliki nilai utama yang sama, yaitu persamaan (equalitiy).
Semuanya merupakan teori-teori ‗egalitarian‘. Pernyataan semacam ini
jelas tidak benar, jika yang kita maksudkan adalah dengan ‗teori
egalitarian‘ adalah teori yang mendukung distribusi pendapatan yang
merata. Namun ada gagasan lain, yang lebih abstrak dan fundamental,
tentang persamaan dalam teori politik, yaitu gagasan mengenai
memperlakukan orang ‗secara sama‘. Ada banyak cara untuk mengungkapkan gagasan tentang persamaan yang lebih mendasar ini. Sebuah
teori adalah egalitarian menurut pengertian ini jika teori tersebut menerima
bahwa kepentingan tiap-tiap anggota masyarakat itu penting dan samasama penting. Dengan kata lain, teori egalitarian mensyaratkan bahwa
pemerintah memperlakukan warga negara dengan pertimbangan yang
sama…Jadi, gagasan tentang persamaan yang bersifat abstrak dapat
ditafsirkan dengan berbagai cara, tanpa harus mendukung persamaan
dalam bidang khusus tertentu, apakah itu pendapatan, kekayaan,
kesempatan, atau kebebasan. Mana bentuk khusus persamaannya yang
diminta oleh gagasan memperlakukan orang secara sama yang lebih
abstrak, itu merupakan masalah yang menjadi perdebatan berbagai
teori...‖18
2. Teori Sosialisme
Teori sosialistis tentang keadilan distributif memilih prinsip kebutuhan
sebagai dasarnya. Menurut mereka masyarakat diatur dengan adil, jika kebutuhan
semua warganya terpenuhi, seperti kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan.
18
Will Kymlicka, Pengantar Filsfat Politik Kontemporer: Kajian Khusus atas TeoriTeori Keadilan, terj. Agus Wahyudi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 5-6
52
Secara konkret, sosialisme terutama memikirkan masalah-masalah pekerjaan bagi
kaum buruh dalam konteks industrialisasi.
Dalam teori sosialisme
tentang
keadilan, terkenal adalah prinsip yang oleh Karl Marx (1818-1883) diambil alih
dari sosialis Prancis, Louis Blanc (1811-1882): ―from each according to his
ability, to each according to his needs‖.
Bagian pertama dari prinsip ini berbicara tentang bagaimana burdens
harus dibagi: hal-hal yang menuntut pengorbanan. Sedangkan bagian kedua
menjelaskan bagaimana benefits harus dibagi: hal-hal yang enak untuk didapat.
Hal-hal yang berat harus dibagi sesuai dengan kemampuan. Tidak adil bila orang
cacat, umpamanya diharuskan bekerja sama berat seperti orang yang utuh anggota
badannya. Kepada orang yang menyandang cacat badan harus diberi pekerjaan
yang cocok dengan kemampuannya. Hal-hal yang enak untuk diperoleh harus
diberikan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya pelayanan medis adalah adil bila
diberikan sesuai dengan kebutuhan orang sakit. Adil tidaknya gaji atau upah juga
harus diukur dengan kebutuhan.
Perlu diakui, kebutuhan dan kemampuan memang tidak boleh diabaikan
dalam melaksanakan keadilan distributif. Tetapi timbul kesulitan juga, bila prinsip
ini dipakai sebagai pegangan satu-satunya untuk mewujudkan keadilan distributif.
Terutama dua macam kritik dapat dikemukakan. Pertama, jika kebutuuhan
menjadi satu-satunya kriteria untuk melaksanakan keadilan di bidang pendapatan,
para pekerja tidak akan merasa termotivasi untuk bekerja keras. Gaji atau upah
yang
diperoleh
sudah
dipastikan
seelum
orang
mulai
bekerja,
karena
kebutuhannya sudah jelas. Bekerja keras atau malas-malas tidak akan mengubah
53
pendapatannya. Sistem imbalan kerja yang berpedoman pada kebutuhan saja akan
mengakibatkan
produktivitas
kerja
rendah
dan
ekonomi mandek.
Seperti
diketahui, di negara-negara komunistis dulu memang demikian.
Kritik kedua, menyangkut kemampuan sebagai satu-satunya alasan untuk
membagi pekerjaan. Terutama dalam sosialisme komunistis yang totaliter, prinsip
ini mengakibatkan orang yang berkemampuan harus menerima saja, bila negara
membagi pekerjaan padanya. Jika orang mempunyai kemampuan untuk menjnadi
pilot dan negara sedang membutuhkan profesional-profesional ini, ia harus
menerima pekerjaan ini sebagai profesinya. Tetapi belum tentu profesi pilot
menjadi pilihannya juga. Cara mempraktikkan keadilan sosial atau distributif ini
mengabaikan hak seseorang untuk memilih pekerjaannya sendiri.
3. Teori Liberalisme
Liberalisme justru menolak pembagian atas dasar kebutuhan seabgai tidak
adil. Karena manusia
adalah mahluk bebas, kita harus membagi menurut usaha-
usaha bebas dari individu-individu bersangkutan. Yang tidak berusaha tidak
mempunyai hak pula untuk memperoleh sesuatu. Liberalisme menolak sebagai
sangat tidak etis sikap free rider: benalu yang menumpang pada usaha orang lain
tanpa mengeluarkan air keringat sendiri. orang seperti itu tidak mengakui hak
sesamanya untuk menikmati hasil jerih payahnya. Dalam teori liberalistis tentang
keadilan sosial atau distributif digarisbawahi pentingnya prinsip
hak, usaha, tapi
secara khusus prinsip jasa/prestasi. Terutama prestasi mereka lihat sebagai
perwujudan pilihan bebas seseorang.
54
Salah satu kesulitan pokok dengan teori keadilan distributif ini adalah
bagaimana orang yang tidak bisa berprestasi karena cacat mental atau fisik, orang
yang menganggur
di luar
kemauannya
sendiri,
dan
sebagainya?
Mereka
sebenarnya ingin berprestasi juga, tapi tidak bisa. Karena itu mereka tidak
mendapat apa-apa? Apakah cara pengaturan masyarakat seperti itu bisa dianggap
adil.
54
BAB IV
PANDANGAN JOHN RAWLS TENTANG KONSEP KEADILAN SOSIAL
Pengantar
Konsepsi
keadilan
sosial
John
Rawls
dihubungkan
langsung
dari
pandangannya tentang masyarakat sebagai bentuk kerja sama sosial berkelanjutan
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ikatan kerja sama sosial didasarkan
pada
adanya
identitas
kepentingan
bahwa
kehidupan
yang
lebih
baik
dimungkinkan bagi semua orang daripada yang bisa didapatkan jika setiap orang
berusaha mencukupi kebutuhannya sendiri-sendiri.
Kendati ada kebutuhan dan kepentingan bersama yang memungkinkan
adanya kerja sama sosial yang saling menguntungkan, masyarakat biasanya juga
ditandai dengan
adanya
konflik
kepentingan.
Adanya
konflik
kepentingan
dikarenakan setiap orang berbeda pandangan atau tidak sepakat dalam hal
bagaimana hasil kerja sama sosial dibagi atau didistribusikan. Maka seperangkat
prinsip dibutuhkan untuk mengatur cara bagaimana lembaga-lembaga sosial
mendistribusikan hasil kerja sama sosial secara adil kepada para warga
masyarakat. Prinsip itu adalah prinsip keadilan sosial.
Hal yang perlu digarisbawahi ialah konsepsi keadilan sosial Rawls
dibangun sesuai dengan pandangannya tentang masyarakat ideal yang disebutnya
dengan masyarakat tertata baik
(well-ordered
society).
Masyarakat
ideal
menurutnya ialah masyarakat yang diatur secara efektif oleh sebuah konsep
keadilan sosial yang dapat diterima oleh semua pihak. Yakni masyarakat di mana
55
(1) setiap orang menerima dan mengetahui bahwa orang lain menganut prinsip
keadilan yang sama, serta (2) institusi-institusi sosial dasar yang ada sejalan
dengan prinsip-prinsip tersebut.1 Ini sejalan dengan gagasan utama teorinya yang
disebut dengan justice as fairness, yakni prinsip-prinsip keadilan merupakan
hasil kesepakatan dari orang-orang yang rasional, bebas, dan setara dalam situasi
awal yang fair.2
Dengan demikian, sejalan dengan pokok-pokok masalah yang telah
ditetapkan di bab pendahuluan, maka pembahasan dalam bab ini akan meliputi
tiga hal. Pertama, bagaimana lingkup masalah keadilan sosial Rawls. Kedua,
bagaimana inti atau substansi dari prinsip-prinsip keadilan sosial yang akan
mengatur masyarakat. Dan ketiga, bagaimana prinsip-prinsip keadilan sosial itu
dapat disepakati oleh semua orang?
A. LINGKUP MASALAH KEADILAN SOSIAL
1. Timbulnya Masalah Keadilan Sosial
Masalah keadilan sosial timbul dalam kondisi yang disebut oleh Rawls
dengan “kondisi keadilan‖, circumstances of justice. Kondisi ini bisa dijelaskan
sebagai kondisi di bawah mana kerja sama sosial itu dimungkinkan dan
diperlukan, atau syarat-syarat yang mengharuskan perlunya prinsip keadilan yang
mengatur pembagian hak dan kewajiban, keuntungan dan beban hasil kerja sama
1
John Rawls, Teori Keadilan: Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan
Kesejahteraan dalam Negara, terj. Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2006), h. 5
2
John Rawls, Teori Keadilan, h. 14
56
sosial secara adil kepada para warga masyarakat. 3 Dalam Justice as Fairness,
Rawls menerangkan juga kondisi keadilan sebagai refleksi historis di bawah mana
masyarakat modern itu eksis. Kondisi ini bisa dipilah menjadi dua: objektif dan
subjektif.4
Pertama, adanya situasi kelangkaan wajar. Kondisi ini bisa dijelaskan
sebagai kondisi di mana segala hal yang dibutuhkan manusia untuk hidup tidak
tersedia secara berlebihan dan berlimpah. Situasi kelangkaan wajar mendorong
orang-orang dalam suatu lingkungan teritori tertentu untuk saling bekerja sama
sehingga kehidupan yang lebih dan layak lebih dimungkinkan untuk didapat oleh
semua orang. Tegasnya, masalah keadilan sosial hanya berkaitan dengan situasi
kelangkaan di mana sumber daya yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan semua orang. Maka agar tidak ada yang mendapat lebih banyak dan
tidak ada yang mendapat sedikit, perlu diatur pembagian yang adil dan layak.
Kedua, adanya pluralitas doktrin komprehensif. situasi subjektif berkenaan dengan orang-orang yang bekerja sama. Yakni, ―…kendati berbagai pihak
punya kebutuhan dan dan kepentingan yang sama, sehingga kerja sama yang
sama-sama menguntungkan bisa dimungkinkan, bagaimana pun mereka punya
rencana hidup mereka sendiri. Rencana-rencana tersebut, atau konsepsi tentang
manfaat, menjadikan mereka punya tujuan dan sasaran yang berbeda, dan
memunculkan klaim-klaim yang saling bertentangan mengenai sumber daya alam
dan sosial…‖5 Rencana dan tujuan hidup seseorang tidak sekedar dilihat sebagai
3
John Rawls, Teori Keadilan, h. 153-154
John Rawls, Justice as Fairness: A Restatement, Erin Kelly (ed), (Cambridge: Harvard
University Press, 2001), h. 84
5
John Rawls, Teori Keadilan, h. 154-155
4
57
kepentingan semata, melainkan lebih dari itu, melainkan nilai-nilai hidup yang
patut diakui dan diklaim yang bersumber dari keyakinan agama, filsafat dan
moral, yang dihayatinya. Akibatnya, ―…individu tidak hanya punya rencana
hidup berbeda namun terdapat pluralitas doktrin komprehensif: agama, filsafat,
dan moral…‖6
Dengan demikian masalah keadilan sosial timbul akibat adanya konflik
kepentingan akibat perbedaan pandangan mengenai bagaimana hasil kerja sama
sosial dalam situasi kelangkaan didistribusikan. Di mana kepentingan di sini tidak
dilihat sebagai kepentingan semata, melainkan merupakan tujuan hidup orang
layak dan pantas untuk dikejar oleh setiap orang yang dihayatinya berdasarkan
keyakinan agama, filsafat, dan moral yang dianutnya. Maka itu, syarat-syarat
objektif dan subjektif ini juga merupakan fakta-fakta
dalam kehidupan sosial
modern, di mana konsepsi keadilan sosial Rawls bertumpu.
Tegasnya,
masyarakat
modern
tak
terealakkan
menjadi masyarakat
pluralistik dengan kepentingan dan anutan nilai hidup berbeda-beda, bahkan
mungkin bertentangan. Maka pengaturan masyarakat yang adil tidak boleh
didasarkan atas suatu anutan nilai hidup yang berbeda-beda itu, melainkan nilai
hidup bersama yang disebut
‗keadilan‘ haruslah didasarkan atas kesepakatan
bersama melalui prosedur tertentu yang diterima oleh semua orang. Maka
kesepakatan bersama tentang nilai hidup bersama yang disebut ‗keadilan‘ menjadi suatu hal yang penting dan urgen bagi kehidupan sosial masyarakat modern
pluralistik
6
155
58
―...Di tengah tidak adanya ukuran tertentu tentang kesepakatan mengenai
mana yang adil dan tidak, jelas lebih sulit bagi para individu untuk
mengoordinasikan rencana-rencana mereka secara efisien dalam rangka
menjamin
bahwa
tatanan
yang
saling
menguntungkan
tetap
dipertahankan‖7
Oleh karena itu, keadilan sosial, bagi Rawls, tidak dilihat sekedar sebagai
keadilan
distributif
semata.
Artinya
prinsip
keadilan
sekedar
berperan
menunjukkan hak dan kewajiban dasar, dan membagi keuntungan hasil kerja sama
sosial secara adil, melainkan lebih jauh dari itu, Keadilan sosial merupakan
prinsip keutamaan bagi landasan fundamental terwujudnya sebuah masyarakat
tertata baik (well-ordered society), visi masyarakat yang dicita-citakan oleh
Rawls.
2. Subjek Utama Keadilan Sosial
Subjek utama dari prinsip keadilan sosial adalah apa yang disebut oleh
Rawls dengan
basic structure, struktur dasar masyarakat, yakni tatanan
institusi-institusi/lembaga-lembaga
sosial utama dalam satu skema kerja sama.
Pengertian "institusi" dalam pengertian di sini tidak dipahami dalam arti umum
seperti umum digunakan sebagaimana artinya dalam: Universitas Islam Negeri,
Bank Indonesia, dan sebagainya. "Institusi" dalam contoh ini dimengerti sebagai
"kumpulan individu-individu yang terorganisir".8 Adapun pengertian "institusi "
yang dimaksudkan oleh John Rawls adalah
"Sistem aturan publik yang menentukan jabatan serta posisi dengan hak
dan kewajiban mereka, kekuatan dan kekebalan, dan lain-lain. Aturanaturan ini menggolongkan bentuk-bentuk tindakan yang diperbolehkan
7
Teori Keadilan, h. 5-7
Thomas Pogge, John Rawls: His Life and Theory of Justice, transl. Michelle Kosch,
(New York: Oxford University Press, 2007), h. 28
8
59
dan dilarang; dan memberikan hukuman dan pembelaan tertentu, dan lainlain, ketika pelanggaran terjadi…‖9
Alasan Rawls menempatkan ―struktur dasar‖ sebagai subjek
utama
keadilan sosialnya karena dalam struktur dasar masyarakat sudah terkandung berbagai posisi sosial. Manusia dilahirkan dalam masyarakatnya sudah dalam posisi
dan harapan masa depan yang berbeda-beda, ditentukan, sebagian oleh sistem
politik,
kondisi
sosial
dan
ekonomi.
Lembaga-lembaga
sosial
utama
mendefinisikan hak-hak dan kewajiban, dan memengaruhi masa depan hidup
setiap orang, cita-cita, impian serta kemungkinan tercapainya semua itu. dengan
demikian, lembaga-lembaga utama masyarakat sesungguhnya sudah merupakan
sumber berbagai ketimpangan dan kepincangan yang dalam, karena sudah
merupakan titik awal keberuntungan bagi yang satu atau kemalangan bagi yang
lain.10
Dalam Justice as Fairness, Rawls membedakan tiga tingkatan subjek
keadilan sosial berdasarkan penerapan prinsip-prinsipnya. Dengan urutan insideoutward,
ketiga tingkatan keadilan sosial itu adalah: (1) keadilan lokal (local
justice): prinsip-prinsip keadilan yang diterapkan secara langsung pada praktikpraktik sosial dan hubungan-hubungan sosial; (2) keadilan domestik (domestic
justice): prinsip-prinsip keadilan diterapkan pada struktur dasar masyarakat; (2)
keadilan global (global justice): prinsip-prinsip keadilan sosial yang diterapkan
pada hubungan atau hukum internasional, atau keadilan antar negara. 11
9
John Rawls, Teori Keadilan, h. 66-67
John Rawls, Teori Keadilan, h. 8
11
John Rawls, Justice as Fairness a Restatement, h. 10-11
10
60
Dengan demikian, prinsip keadilan sosial Rawls tidak berkaitan secara
langsung dengan praktik-praktik sosial yang begitu banyak, melainkan prinsip
yang diterapkan pada institusi-insitusi sosial utama yang menopang struktur
sosial, seperti konstitusi politik, prinsip ekonomi, dan tatanan sosial. Prinsip
keadilan sosial mengatur ―cara‖ bagaimana lembaga-lembaga sosial utama
mendistribusikan apa yang disebut oleh Rawls dengan ―nilai-nilai primer‖,
primary goods. Nilai-nilai primer itu antara lain: kebebasan dan kesempatan,
pendapatan dan kekayaan. Dengan demikian, masalah pokok keadilan sosial
Rawls mencakup tiga bidang: politik (kuasa), ekonomi (uang), dan sosial
(status).12
B. Dua Prinsip Keadilan Sosial
1. Konsepsi Umum
Konsepsi keadilan Rawls dengan dua prinsip keadilannya bertolak dari
konsepsi umum keadilannya. Oleh karena itu, kita perlu melihat terlebih dahulu
konsepsi umum keadilannya. Rumusan konsepsi keadilan umum
adalah sebagai
berikut:
―Semua nilai sosial primer –kebebasan dan kesempatan, pendapatan dan
kekayaan, dan dasar-dasar harga diri-- harus didistribusikan secara sama
(equally). Suatu distribusi yang tidak sama (unequal) sebagian atau
keseluruhan nilai-nilai sosial tersebut hanya apabila hal itu bermanfaat
menguntungkan semua orang.‖1
Konsepsi
umum
ini
mengungkapkan
elemen-elemen
pokok
dalam
keadilan sosial John Rawls, di mana konsepsi keadilan khususnya tak lain sebagai
bentuk penjabaran lebih lanjut dan solusi atas problem yang terdapat dalam
12
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial: Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas. Dua
Teori Filsafat Politik Kontemporer, (Jakarta: Gramedia, 2004), h. 14
61
konsepsi umum ini. Karena itu, ada beberapa hal dari konsepsi umum ini yang
patut dicermati sebagai berikut:
a) Prinsip pokok keadilan sosial Rawls adalah equality atau persamaan.
b) Persamaaan dalam distribusi nilai-nilai sosial primer
c) Ketidaksamaan dapat ditoleransi sejauh menguntungkan semua pihak.
Jelas bahwa konsepsi umum di atas menunjukkan Rawls sebagai
Egalitarian. Titik tolak prinsip keadilannya ialah ―persamaan‖ (equality). Tapi ia
bukan seorang Egalitarianisme radikal, di mana ia juga menerima prinsip
―ketidak-samaan‖ (unequality). Di satu sisi bahwa keadilan sosial adalah
penerapan prinsip persamaan dalam masalah distribusi nilai-nilai sosial primer. Di
sisi lain, diakui, ketidaksamaan dapat ditoleransi sejauh hal itu menguntungkan
semua orang terutama golongan yang paling tertinggal. Secara umum dapat
dikatakan, sekujur konsepsi keadilan Rawls pada dasarnya bergerak menyusur di
antara sisi persamaan dan ketidaksamaan tersebut.
Dengan mengangkat prinsip persamaan atau equality orang mungkin
segera mengira Rawls hanya menggabungkan diri ke dalam kubu sosialisme. Tapi
Rawls tidak
bermaksud
menambah pengikut
membangun teori alternatif bagi,
dan
sosialisme melainkan
sekaligus
mengungguli,
hendak
utilitarianisme
dalam konteks masyarakat demokratik konstitusional. Berbeda dari sosialisme
yang hanya menekankan penerapan prinsip kesamaan dalam distribusi ekonomi,
Rawls menerapkan prinsip persamaan dalam distribusi nilai-nilai primer atau
primary goods. Apa itu? nilai-nilai atau nikmat primer dirumuskan Rawls sebagai
semua nilai atau nikmat material maupun non-material, yang langsung maupun
62
tidak langsung dapat memengaruhi kondisi kehidupan dan masa depan seseorang,
nilai-nilai yang setiap manusia rasional diandaikan menghendakinya. Nilai-nilai
itu mencakup nilai ekonomi (pendapatan dan kekayaan), tapi juga hak-hak dan
kebebasan, kekuasaan dan kesempatan, kehormatan diri. Keadilan sosial berarti
kesamaan dalam distribusi pendapatan dan kekayaan, tapi juga kesamaan dalam
hak-hak,
kebebasan dan
kesempatan,
serta
kesamaan dalam dasar-dasar
kehormatan diri. Disimpulkan secara sederhana dan populer, keadilan sosial
Rawls melampaui apa yang menjadi titik perjuangan sosialisme dan liberalisme
digabung menjadi satu.13
Lebih lanjut, persamaan distribusi nilai-nilai sosial primer ini memberikan
suatu lukisan tentang kondisi hipotetis ideal, yakni kondisi di mana nilai-nilai
sosial primer dapat dibagi dengan sama kepada semua orang, tanpa terkecuali.
Dengan ini, masyarakat ideal ialah masyarakat di mana tidak ada kesenjangan dan
ketidaksamaan. Kondisi sosial ini dapat dijelaskan sebagai situasi di mana semua
orang punya hak dan kewajiban yang sama, pendapatan dan kekayaan dibagi
sama rata. Kondisi ideal ini memberikan standar untuk menilai perbaikan kepada
kehidupan sosial yang lebih baik.14 Jika ketimpangan dan ketidaksamaan
13
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial, h. 43
Kondisi ideal ini sejalan dengan perhatian teori keadilannya. Teori keadilan secara
intuitif bisa dipisahkan dalam dua bagian: bagian ideal dan bagian non -ideal. Bagian teori nonideal berkenaan dengan prinsip-prinsip menghadapi ketidakadilan yang sudah ada. Dalam konsepsi
umum sebagaimana diatas misalnya, bagian non-ideal adalah bagian mengenai ketidaksamaan atau
kesenjangan. Bagian teori ideal adalah pandangan mengenai masyarakat berkeadilan yang hendak
diapai kalau bisa. Dalam soal di atas, bagian ideal berkaitan dengan persamaan distribusi nilai-nilai
sosial primer. Itulah perhatian pokok konsepsi keadilan sosial Rawls. Karena itu sasarannya lebih
tertuju pada kelompok pertama. Konsep non-ideal tidak bekerja sebelum konsep ideal, melainkan
sesudahnya. Ukuran keadilan sosial tetap harus dilihat dari konsep keadilan secara keseluruhan.
Lembaga-lembaga sosial yang ada harus dinilai dari kacamata konsepsi ini dan dinyatakan tidak
adil sejauh mereka menyimpang dari konsepsi ini tanpa alasan yang cukup. Penjelasan lebih lanjut
14
63
distribusi nilai-nilai sosial primer justru membuat semua orang lebih baik
daripada kondisi awal hipotetis ini, maka kondisi ini sejalan dengan tuntutan
konsepsi keadilan umum.15
Will Kymlicka mengatakan bahwa konsepsi keadilan umum ini belum
sempurna. Konsep umum ini mengandung berbagai konflik di antara nilai-nilai
sosial primer yang bermacam-macam itu. Misalnya,
kita barangkali dapat
meningkatkan pendapatan seseorang dengan menghilangkan salah satu kebebasan
dasar
yang
dimilikinya.
Ketimpangan
distribusi
kebebasan
ini
akan
menguntungkan yang paling kurang kaya dalam sebuah acara (pendapatan), tapi
tidak dalam cara yang lain (kebebasan). Atau apa yang terjadi jika ketimpangan
distribusi pendapatan menguntungkan semua orang dalam pengertian pendekatan,
tetapi menciptakan ketimpangan dalam kesempatan yang merugikan mereka yang
memiliki pendapatan kurang? Apakah perbaikan dalam pendapatan ini lebih
penting
dibandingkan
kesempatan?
dengan
kerugian-kerugian
dalam
kebebasan
atau
16
Dengan demikian, prinsip-prinsip keadilan umum ini belum memberi
cukup petunjuk dalam mengatur distribusi nilai-nilai sosial primer yang adil
Karena itu, Rawls kemudian mengembangkan prinsip-prinsip umum ini lebih
lanjut dengan penjabaran dan sistem prioritas dalam sebuah konsepsi keadilan
sosial yang lebih khusus. Konsepsi khususnya ini dikembangkan dalam bentuk
berkaitan pandangan Rawls tentang pembagian teori keadilan: bagian ideal dan non -ideal, bisa
dilihat dalam, John Rawls, Teori Keadilan, pada halaman 9-10 dan 312-314
15
John Rawls, Teori Keadilan,. h. 74-75
16
Will Kymlicka, Pengantar Filsafat Politik Kontemporer: Kajian Khusus atas Teori Teori Keadilan, terj. Agus Wahyudi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 71
64
dua prinsip keadilan sosial, di mana hal ini termasuk bagian utama dari teori
keadilan yang paling utama.
2. Konsepsi Khusus:
John Rawls merumuskan konsepsi khusus keadilan ke dalam dua prinsip
keadilan sosial. Rumusan tersebut sebagai berikut:
Prinsip Pertama:
Setiap orang mempunyai hak yang sama atas kebebasan dasar yang paling
luas, seluas kebebasan yang sama bagi semua orang.
Prinsip Kedua:
Ketimpangan sosial dan ekonomi ditata sedemikian hingga mereka (a)
memberi keuntungan terbesar pada kelompok yang paling lemah, dan (b)
semua posisi dan jabatan terbuka bagi semua orang dalam kondisi
kesetaraan peluang yang fair .17
a. Prinsip Keadilan Pertama
Prinsip pertama ini disebut sebagai ―persamaan kebebasan-kebebasan
dasar‖. Dalam hal ini Rawls menganut egalitarianisme. Prinsip ini berkenaan
dengan masalah kebebasan-kebebasan dasar warga masyarakat. Kebebasankebebasan dasar yang dimaksudkan oleh Rawls tersebut antara lain meliputi:
―kebebasan politik (hak untuk memilih dan dipilih menduduki jabatan
publik) bersama dengan kebebasan berbicara dan berserikat; kebebasan
berkeyakinan dan kebebasan berpikir; kebebasan seseorang seiring dengan
kebebasan untuk mempertahankan hak milik (pribadi); dan kebebasan dari
penangkapan sewenang-wenang sebagaimana didefinisikan oleh konsep
rule of law.‖18
Prinsip keadilan pertama ini mengatur agar kebebasan-kebebasan ini dasar
ini diharuskan setara, karena warga suatu masyarakat yang adil mempunyai hakhak dasar yang sama. Kebebasan-kebebasan ini harus tersedia dengan cara yang
17
18
John Rawls, Teori Keadilan, h. 72
John Rawls, Teori Keadilan, h. 73
65
sama untuk semua warga masyarakat. Masyarakat tidak diatur dengan adil
apabila hanya satu golongan dalam masyarakat saja yang diperbolehkan,
misalnya, untuk mengemukakan pendapatnya, atau semua warga masyarakat
dipaksa untuk memeluk satu agama tertentu saja.
Rawls di sini tidak berbicara tentang teori umum kebebasan, melainkan
bagaimana
prinsip
keadilan
dapat
menjamin
kebebasan-kebebasan
dasar.
Perbincangan tentang kebebasan di sini dalam hubungan dengan batasan-batasan
konstitusional dan legal. Yakni, kebebasan yang dipahami sebagai sistem aturan
publik tertentu yang mendefinisikan hak dan kewajiban. 19 Hal penting yang perlu
diperhatikan ialah bahwa kebebasan berpikir dan kebebasan suara hati, kebebasan
person manusia dan kebebasan sipil, singkatnya apa yang kini dipahami sebagai
hak asasi, tidak boleh dikorbankan untuk kebebasan politik, untuk kebebasan
kesamaan partisipasi dalam politik. Dengan kata lain, kebebasan politik harus
didasarkan atas penghormatan terhadap kebebasan yang lebih dasar, yaitu
kebebasan suara hati.20
Lebih lanjut, Rawls menggarisbawahi bahwa kebebasan-kebebasan dasar
harus dinilai sebagai ―satu kesatuan, atau sebagai satu sistem‖21 Artinya,
kebebasan setiap orang tidak lepas begitu saja dari kebebasan orang. Dan juga
suatu bentuk kebebasan tertentu tidak bisa dihayati dan dilaksanakan terpisah
begitu saja dari pelaksanaan bentuk-bentuk kebebasan lainnya. Nilai dari masing-
19
John Rawls, Teori Keadilan, h. 254
John Rawls, Teori Keadilan, h. 259.
21
John Rawls, Teori Keadilan, h. 255
20
66
masing kebebasan
dasar
haruslah
dipahami dalam relasinya
serta
dalam
ketergantungannya pada keseluruhan kebebasan dasar sebagai suatu sistem. 22
Dengan kata lain, tuntutan untuk mendapatkan kebebasan dasar tertentu
yang lebih luas tidak dapat diterima kecuali apabila tuntutan itu memperkosa
kebebasan-kebebasan dasar sebagai suatu keseluruhan. Misalnya, setiap orang
mempunyai hak untuk bicara, dan kareanya setiap orang mempunyai hak untuk
menuntut pelaksanaan hak berbicara ini. Akan tetapi, tidak berarti bahwa setiap
orang mempunyai hak untuk memaksakan pikiran dan pendapatnya kepada orang
lain. Apabila itu terjadi, maka sesungguhnya di sini telah terjadi pemerkosaan dan
penghancuran terhadap kebebasan pihak lain dalam hal berpikir dan mengikuti
suara hatinya sendirinya.
Pertimbangan di atas memperlihatkan bahwa betapa pun mendasarnya
kebebasan sebagai nilai utama bagi manusia, tetap saja ada kemungkinan untuk
membatasi pelaksanaanya.23 Itu berarti bahwa tidak ada satu pun kebebasan bersifat absolut dan dengan itu juga memperlihatkan sifat prima facie24 dari setiap
bentuk kebebasan dasar. Dengan kata lain, kebebasan dasar merupakan nilai
fundamental bagi manusia, karenanya wajib dilindungi dan dibuka peluang
sebesar-besarnya untuk
22
mewujudkannya.
Akan tetapi,
kebebasan-kebebasan
John Rawls, Teori Keadilan;
Ada berbagai bentuk pembatasan, namun dalam konteks kehidupan bersama sebuah
anggota masyarakat dan yang berlaku sama secara sama bagi semua anggota masyarakat adalah
pembatasan konstitusional atau legal. John Rawls, h. 254
24
Prima facie: sejauh kebebasan-kebebasan itu dilihat pada dirinya sendiri kebebasankebebasan itu harus sepenuhnya dijamin, tetapi karena dalam kenyataan kehidupan masyarakat
kebebasan-kebebasan itu baik saling menunjang maupun saling membatasi, masing -masing justru
tidak boleh dimutlakkan melainkan haruslah dijamin dengan melihat kebebasan -kebebasan lain.
Dalam bahasa sederhana, antara kebebasan-kebebasan dasar yang dijamin harus ada
keseimbangan. Franz Magnis Suseno, Etika Politik : Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan
Modern,Cet. ke-5 (Jakarta: Gramedia, 1999), h. 132-133
23
67
dasar itu hanya dapat dilaksanakan sejauh pelaksanaan masing-masing tidak
membahayakan kebebasan secara keseluruhan sebagai sebuah sistem, di mana
setiap bentuk kebebasan saling terkait sebagai satu kesatuan.
b. Prinsip Keadilan Kedua
Prinsip keadilan sosial yang kedua berkenaan dengan masalah distribusi
sumber daya sosial dan ekonomi. Dalam hal ini, Rawls menegaskan bahwa
distribusi dalam bidang ini boleh dibagi secara tidak sama (unequality). Namun
ketidaksamaan
di
sini
tidak
boleh
dipahami
secara
mutlak,
melainkan
ketidaksamaan itu haruslah memenuhi dua unsur berikut. (a) posisi kekuasaan
dan jabatan publik harus bisa diakses oleh, atau terbuka untuk, semua orang; (b)
harus demi keuntungan semua orang, khususnya golongan yang paling lemah.
Dengan demikian, prinsip keadilan sosial yang kedua ini terdiri dari dua prinsip.
(1) persamaan kesempatan yang fair, (2) prinsip perbedaan atau biasa disebut
dengan difference principle. Keduanya harus dilihat sebagai satu kesatuan. Prinsip
perbedaan atau difference principle adalah salah satu bagian penting keadilan
sosialnya, bahkan konsepsi umum tak lain adalah penerapan difference principle.
Prinsip keadilan sosial yang kedua ini merupakan solusi dan jawaban
Rawls atas masalah ―persamaan kesempatan‖ dalam keadilan distributif, di mana
perspektif yang ada selama ini dianggap tidak cukup memuaskan. Perspektif
Rawls
atas
masalah
tersebut
–dengan
digabungkannya
prinsip
persamaan
kesempatan dengan prinsip perbedaan- disebutnya sebagai perspektif ―kesamaan
demokratis‖. Setidaknya, ada dua persepektif dalam menginterpretasi persamaan
68
kesempatan ditolak olehnya. Pertama interpretasi kesamaan kesempatan formal
dan persamaan kesempatan fair
Secara intutif, prinsip persamaan kesempatan diterima sebagai justifikasi
keadilan distributif. Berikan kesempatan yang sama, maka apa yang dicapai
masing-masing dianggap adil. pendapat seperti itu dilatari oleh anggapan bahwa
orang berhak menentukan pilihan hidupnya sendiri. Dan apa pun yang dicapainya tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah keadilan apabila hal itu bukan
karena keadaan melainkan karena pilihannya sendiri. Kesamaaan kesempatan
menyediakan peluang bagi masing-masing orang berusaha mencapai tujuan
hidupnya bukan atas dasar kemampuan ekonomi, klas sosial, warna kulit, jenis
kelamin.
Gagasan utama yang mendasari pandangan kesamaan kesempatan diatas
ialah,
―…justru fair bagi individu-individu untuk menerima bagian yang tidak
sama atas nilai-nilai sosial primer
jika ketimpangan tersebut didapatkan dan
diakui sebagai hak yang semestinya diterima oleh individu-individu, yaitu jika ini
adalah hasil tindakan-tindakan dan pilihan individu itu. Tetapi justru tidak fair
bagi individu-individu untuk diuntungkan atau diistimewakan menurut perbedaan
perbedaan dalam keadaan-keadaan sosialnya yang bersifat semena-mena, dan
yang tidak diakui sebagai hak yang semestinya diterima…‖25
Rawls mengakui daya
pikat
pandangan ini.
Tetapi ada
sumber
ketimpangan yang tidak semestinya yang lain yang diabaikan oleh pandangan ini.
Benar bahwa ketimpangan sosial adalah tidak semestinya, dan karena itu tidak
25
Will Kymlicka, Pengantar Filsafat Politik , h. 75
69
fair jika nasib seseorang menjadi lebih buruk gara-gara ketimpangan
tidak
semestinya itu. Ketimpangan itu adalah ketimpangan-ketimpangan dalam bakat
alamiah atau genetis. Dengan perspektif kesamaan demokratik Rawls
(persamaan
kesempatan fair + prinsip perbedaan), maka kesamaan kesempatan tidak hanya
terbebas dari kontingensi sosial dan historis, tapi juga terbebas dari kontingensi
genetis seperti kemampuan alami dan bakat.
Prinsip
difference
tidak
membenarkan
keunggulan
sosial
maupun
kemujuran kodrati dijadikan semacam titik-tolak begitu saja bagi seseorang dalam
mencapai nikmat-nikmat distributif dalam masyarakat. Itu tidak berarti prinsip
perbedaan bertujuan menghapus perbedaan atau ketidaksamaan. Kelebihan dan
kemampuan alami dan bakat memang harus dipandang sebagai karunia alami dan
manusia tidak
berhak mengubah atau mencampurinya. Orang tidak
minta
dilahirkan cacat, sebagai jenius, berbakat seni, sebagai anak pejabat tingg, anak
presiden ataupun menteri. Bahwa seseorang dilahirkan dalam masyarakat dalam
pada kedudukan sosial khusus, itu hanyalah fakta alamiah. Tidak ada masalah
adil atau tidak adil di sini. Apa yang tidak adil adalah cara institusi-institusi
menangani fakta itu.26
Dengan prinsip difference maka pandangan yang lazim
terhadap
karunia kodrati –kelebihan dalam bakan dan kemampuan alami—harus diubah:
kelebihan genetis jangan lagi dianggap sebagai aset pribadi melainkan harus
dipandang sebagai aset bersama. Kelebihan bakat atau kemampuan kodrati yang
dikaruniakan alam kepada seseorang bukanlah miliknya melainkan milik bersama
26
John Rawls, Teori Keadilan, h. 102
70
yang dititipkan kepadanya untuk dipelihara. Setiap keuntungan yang berasal dari
kelebihan alami/genetis,
nilainya ditentukan oleh apakah keuntungan semua
golongan terutama mereka yang paling lemah. Dengan ini Rawls mengangkat
solidaritas sosial sebagai salah satu kriteria masyarakat berkeadilan sosial.27
c. Hubungan Antara Dua Prinsip keadilan
Bagaimana hubungan antara prinsip-prinsip keadilan sosial yang telah
penulis sebelumnya. John Rawls menempatkan dua prinsip keadilan sosial dalam
urutan yang disebutnya dengan ―prioritas leksikal‖ (lexical priority). Prinsip
pertama mendahului prinsip kedua dalam urutan leksikal. Artinya urutan prinsip
persamaan kebebasan
sebagai prinsip pertama mendahului pengaturan kesamaan
ekonomi, dan ketidaksamaan sosial, seperti urutan kata dalam kamus yang tidak
boleh. Prinsip persamaan kebebasan-kebebasan dasar harus lebih dahulu daripada prinsip-prinsip
ekonomi dan sosial.
Prinsip
persamaan kebebasan-
kebebasan dasar tidak bisa dinegosiasikan, dikompromikan, atau digantikan, atau
bahkan dikorbankan untuk kepentingan dan keuntungan-keuntungan ekonomi dan
sosial yang lebih besar. Pada skala nilai dalam masyarakat adil yang dicita-citakan
Rawls, paling atas harus ditempatkan hak-hak kebebasan yang klasik, yang pada
kenyataan sama dengan dengan kini disebut sebagai Hak Asasi Manusia.
28
Prinsip kedua yang berkenaan dengan ketimpangan atau ketidaksamaan
distribusi dan kesempatan sosial dan ekonomi oleh Rawls dipecah lagi dalam dua
bagian: (2a) masalah ketidaksamaan distributif, (2b) kesamaan kesempatan yang
27
28
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial, h. 81-83
John Rawls, Teori Keadilan, h. 73
71
fair bagi posisi dan jabatan publik yang harus terbuka bagi semua pihak. Masalah
yang
berkenaan
dengan
kesamaan
kesempatan.
Distribusi
kekayaan
dan
pendapatan, serta posisi dan jabatan publik, harus sejalan dengan kebebasankebebasan dasar warga masyarakat dan kesamaan kesempatan. Urutan secara
serial atas prinsip-prinsip tersebut mengekspresikan pilihan dasar di antara nilainilai sosial primer.
29
C. Posisi Asali (Original Position)
Sebagaimana telah dijelaskan, Rawls menghubungkan langsung konsepsi
keadilannya dengan pandangannya tentang masyarakat sebagai suatu sistem kerja
sama sosial yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sedang
prinsip keadlan yang harus menjadi subjek struktur dasar masyarakat, harus
merupakan hasil persetujuan awal dalam situasi yang fair. Dengan dasar
pemikiran seperti itu, pilhan logis adalah kembali ke teori kontrak sosial yang oleh
Rawls disebut sebagai original position, posisi asali atau posisi awal. Dalam
posisi asali, original position ini dibayangkan orang-orang bebas dan rasional
yang menaruh minat memajukan kepentingan-kepentingannya akan mereima di
dalam posisi awal prinsip persamaan sebagai yang mendefinisikan syarat-syarat
fundamental ikatan mereka. Meskipun posisi asali dimaksudkan sebagai konsep
heuristik30 –konsep yang ibarat tangga yang diperlukan untuk memanjat naik dan
bisa dibuang
29
30
setelah tidak
diperlukan lagi—namun
John Rawls, Teori Keadilan, h. 74-75
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial, h. 53
Rawls
menganggapnya
72
sebagai interpretasi standar atas teori kontrak tradisional yang diterapkan dalam
teori moral.
1. Legitimasi Prinsip Moral
Teori kontrak biasanya dilihat semacam perjanjian saling menguntungkan.
Karena itu penggunaan konsep kontrak pada teori moral sering menjadi mangsa
empuk kritik. Tak terkecuali terhadap teori kontrak Rawls. Tapi Rawls memahami
kontrak di sini sebagai yang disebutnya ―suatu tingkat abstraksi tertentu‖31 dari
teori kontrak tradisional itu. ia menggunakan teori kontrak bukan sebagai cara
untuk melegatimasi negara, seperti misalnya pada Hobbes atau Locke, melainkan
untuk meligitimasi prinsip moral.32 Dalam hal ini isi perjanjian relevan kontrak
bukan untuk mengadopsi suatu bentuk pemerintahan, melainkan untuk menyetujui
prinsip-prinsip moral tertentu.
Argumen kontrak sosial Rawls hanyalah salah satu saja dari banyak teori
kontrak moral; yang paling ekstrem bahkan menggunakan argumen kontrak untuk
memahami keseluruhan isi moralitas. Tapi Rawls yakin interpretasi standar dan
paling tepat adalah original position. Meksi mengikuti tradisi kontrak sosial,
original position menurut Rawls, bukan situasi faktual historis ataupun keadaan
pra sosial dalam kehidupan manusia primitif, melainkan murni situasi hipotetis. 33
Untuk memahami original position, kita diminta
membayangkan suatu situasi
hipotetis di mana orang-orang yang akan mengadakan kerja sama sosial bertemu
untuk menentukan prinsip-prinsip yang akan mengatur ikatan kerja sama mereka
agar saling menguntungkan. Secara rinci Rawls melukiskan siapa dan mengapa
31
John Rawls, Teori Keadilan, h. 12
John Rawls, Teori Keadilan.
33
John Rawls, Teori Keadilan, h. 147
32
73
kumpulan orang-orang dalam original position atau posisi asali yang akan
mengadakan kontrak atau persetujuan itu:
―Mereka yang terlibat dalam kerja sama sosial memilih bersama prinsipprinsip yang akan memberikan hak dan kewajiban dasar, serta menetapkan
pembagian keuntungan sosial. Mendahului kerja sama itu mereka
memutuskan di muka bagaimana mereka mengatur klaim-klaim satu
terhadap yang lain, dan apa yang harus dijadikan prinsip masyarakat
mereka. Seperti juga masing-masing orang harus memutuskan dengan
refleksi rasional apa yang melahirkan yang-baik baginya…begitu juga
suatu kelompok orang harus memutuskan sekali dan untuk semua yang
mereka pandang sebagai yang adil dan tidak adil.‖34
Orang-orang dalam original position merupakan orang-orang rasional,
mahluk moral yang bebas dan sederajat. Namun tak boleh dilupakan bahwa meski
merupakan suatu bentuk kerja sama, bagaimanapun masyarakat ditandai oleh
konflik
kepentingan
yang
berbeda-beda.
Jika
dilepas
begitu
saja,
sukar
dibayangkan mereka akan mencapai perseteujuan apa pun. Misalnya, seorang
kaya akan merasa rasional mengajukan prinsip bahwa berbagai pajak untuk
kebijakan kesejahteraan adalah tidak adil; Di sisi lain, orang miskin akan
cenderung
mengusulkan
prinsip
yang
sebaliknya. 35
Intinya
adalah
dengan
kepentingan berbeda-beda dan di bawah pengaruh kontingensi sosial maupun
kodrati, bagaimana mungkin mereka membuat kontrak atau persetujuan? Jadi apa
yang harus dilakukan?
2. Tabir Ketidaktahuan (Veil of Ignorance)
Rawls memberikan jawabannya bahwa mereka diisolasikan dari segala
informasi dengan mengandaikan mereka berada di balik ―tabir ketidaktahuan‖
34
35
John Rawls, Teori Keadilan, h. 14
John Rawls, Teori Keadilan, h. 21
74
yang disebut Rawls dengan veil of ignorance. Di balik ―tabir‖ tersebut
dibayangkan mereka yang berkumpul dalam posisi awal itu dibebaskan dari
segala kontingensi sosial dan historis, dibersihkan dari segala unsur yang
menyebabkan
persetujuan
tidak
bisa
dibuat
(karena
perbedaan
informasi
mengenai yang diketahui dan yang tidak diketahui, status, motivasi dan tujuan
berkumpul, rasionalitas). Seberapa terisolasinya mereka memang menimbulkan
perdebatan, karena seperti digambarkan Rawls,
―Tak seorang pun yang tahu tempatnya di dalam masyarakat, posisi kelas
atau status sosialnya, ia juga tidak tahu keberuntungannya dalam distribusi
aset-aset serta kecakapan alamiah, kecerdasan dan kekuatan, dan lain-lain.
Juga tak ada yang tahu soal konsepsinya tentang konsepnya sendiri
mengenai yang-baik, termasuk rencana hidupnya sendiri secara terperinci;
atau ia bahkan juga tidak mengenal secara pasti situasi psikologisnya,
seperti ketidaksukaannya mengembil resiko serta kecenderungan bersikap
optimis atau pesimis…Semua pihak juga tidak mengetahui situasi khusus
yang melingkupi masyarakat mereka. Artinya mereka tidak tahu situasi
ekonomi dan politiknya, atau taraf peradaban dan kebudayaan yang telah
dapat dicapai.‖36
Isolasi terhadap orang-orang di original position itu hampir sempurna
sampai-sampai diasumsikan mereka itu tidak tahu di generasi mana mereka hidup.
Tapi di lain pihak, harus dibayangkan mereka bukan orang-orang yang terkena
lupa ingatan sepenuhnya. Sebab mereka masih mengetahui bahwa masyarakat
merupakan subjek circumstances of justice, --kondisi di bawah mana kerja sama
sosial dimungkinkan dan diperlukan— tahu akan fakta-fakta umum mengenai
masyarakat manusia, paham akan politik dan prinsip-prinsip teori ekonomi, basis
organisasi sosial dan hukum psikologi manusia. Pendeknya mereka tahu faktafakta umum yang memengaruhi pilihan terhadap prinsip-prinsip keadilan. Dari
36
John Rawls, Teori Keadilan, h. 165
75
basis situasi yang fair itu, mereka akan memilih konsepsi keadilan yang secara
rasional paling menguntungkan. Itu sebabnya, Rawls pada mulanya beranggapan
teori keadilannya merupakan bagian, bahkan bagian terpenting, teori pilihan
rasional.37
Konsep veil of ignorance fundamental di sini karena menentukan apakah
kontrak atau persetujuan dapat dilakukan atau tidak. Dengan veil of ignorance,
orang-orang pada
informasinya,38
original position
konflik
dalam posisi setara,
kepentingan ditidurkan,
moral maupun
sehingga membuat
pemilihan
secara aklamasi konsepsi keadilan tertentu menjadi mungkin. Tanpa pembatasan
akses mereka terhadap berbagai informasi dan pengetahuan, tawar-menawar di
original position akan tak tertolong ruwetnya. Di balik cadar ketidaktahuan,
kumpulan orang-orang dalam original position berada dalam situasi fairness dan
memenuhi syarat keadilan proseduran murni: mereka punya harapan yang sama
untuk menang dan kemungkinan yang sama untuk kalah. Di balik ―tabir‖ itu
mereka dibebaskan dari segala pengaruh kontingensi sosial yang dapat membuat
ada di antara mereka berada pada posisi lebih beruntung dalam tawar menawar.
Veil of ignorance, dengan demikian, membedakan teori kontrak Rawls dari teori
kontrak tradisional: kontraktor Rawsl berada dalam posisi sederajat, sebaliknya
kontraktor Rawls.
2. Rasionalitas dan Strategi Maximin
37
38
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial, h. 56
Will Kymlicka, Pengantar Filsafat Politik , h. 84
76
Posisi asali adalah situasi khusus yang dirancang, bukan dikonstruksi,
untuk tujuan khusus, yaitu memilih dan menyepakati konsep keadilan sosial yang
memenuhi kriteria tertentu. Salah satu syarat formal konsep yang-hak. Hal
demikian
dikarenakan
konsepsi
keadilan
sosial
Rawls
mengambil
dasar
deontologis yang menganggap yang-hak prioritas atas yang baik. Ada beberapa
perbedaan penting antara kedua konsep fundamental ini teori moral ini. Pertama,
yang-hak haruslah diterima semua pihak, sementara yang baik tidak perlu. Prinsip
yang dipilih orang-orang dalam posisi asali diputuskan dengan suara bulat, tapi
tak perlu terjadi aklamasi untuk menentukan yang-baik. Kedua umumnya adalah
baik bahwa orang punya konsepsi berbeda-beda mengenai yang-baik, tapi tidak
begitu halnya bagi konsepsi yang-hak. Ketiga, dalam posisi asali, prinsip keadilan
berdasarkan nilai yang-hak dipilih di balik selubung ketidaktahuan atau veil of
ignorance, sebaliknya untuk menentukan yang-baik orang harus bersandar pada
pengetahuan dan informasi sepenuhnya atas fakta-fakta.
maka konsepsi keadilan yang akan dipilih dalam posisi asali, haruslah
memenuhi syarat-syarat formal konsepsi yang-hak, yaitu (1) prinsip itu haruslah
umum (general) bentuknya, (2) universal aplikasinya, (3) diakui secara publik
(publicity), (4) berurutan secara leksikal, (5) mahkamah terakhir bagi klaim-klaim
person moral. Dirangkum dalam satu rumusan: suatu konsepsi yang-hak adalah
suatu perangkat prinsip yang umum bentuknya dan universal aplikasinya, diakui
secara publik sebagai mahkamah terakhir bagi penyelesaian klaim-klaim moral
yang saling berkonflik.39
39
John Rawls, Teori Keadilan, h.158-163
77
a. Strategi Maximin
Tapi apa yang harus dipilih orang orang dalam posisi asali, original
position, bagaimana mereka harus memilih dan tahuh bahwa mereka membuat
pilhan yang benar. Meski terisolasi oleh veil of ignorance, orang-orang dalam
posisi asali bukanlah orang-orang yang kehilangan rasionalitas dan masih punya
perangkat preferensi koheren
Menurut
mereka
antara
pilihan-pilihan
yang
terbuka
baginya.
Rawls, mereka tahu bagaimana mengurutkan pilihan-pilihan, bahwa
melindungi kebebasan, meluaskan kesempatan, meningkatkan
cara
memajukan tujuan-tujuan.40
Bur Rasuanto memberi tamsil akan hal tersebut bahwa, adalah rasional
bahwa mereka akan memilih prinsip-prinsip yang sudah tersedia daripada
membuat usulan sendiri. Tapi sekiranya akan membuat usulan sendiri, adalah
rasional bahwa mereka tidak akan mengusulkan yang bukan-bukan karena tidak
ada insentifnya. Misalnya, adalah tidak rasional bahwa mereka akan mengusulkan
memberi hak-hak istimewa karena alasan etnis atau asal kelahiran. Atau usul
seperti misalnya yang sampai usia 15 tahun masih buta huruf tidak diizinkan
masuk kota. Orang-orang dalam posisi asali, original position juga tidak mungkin
mengambil prinsip yang secara eksplisit mengandung doktrin rasial misalnya,
karena bukan saja tidak adil tapi juga irrasional; doktrin seperti itu bukan konsepsi
moral melainkan alat penindasan.
Sebenarnya apa prinsip yang akan dipilih dalam posisi asali dapat dites
melalui pandangan salah seorang yang dipilih secara acak, mengingkat posisi
40
John Rawls, Teori Keadilan, h. 172-173
78
masing-masing anggota masing-masing orang dalam posisi asali itu setara.
Artinya apa yang diputuskan salah seorang dari mereka sudah akan mewakili
keseluruhan partai. Misalnya, mengenai distribusi nilai-nilai primer: adalah tidak
beralasan apabila ia mengharapkan mendapat lebih, sebaliknya adalah tidak
rasional bahwa ia akan menerima prinsip persamaan sebagai dasar distribusi nilainilai primer: persamaan kebebasan bagi semua, persamaan kesempatan dan
persamaan distribusi pendapatan dan kekayaan. Dan itu berarti, ia telah memilih
dua prinsip keadilan intuitif Rawls.
Tapi tes itu belum memastikan orang-orang dalam posisi asali akan
memilih konsepsi keadilan intuitif tersebut. Meski sama-sama rasional, tapi
mereka sama-sama di balik veil of ignorance, dan tidak bisa membayangkan
dengan cara bagaimana prinsip-prinsip yang akan mereka pilih itu nantinya
menguntungkan atau merugikan dirinya dan orang yang diwakilinya. Mereka
tidak tahu bagaimana berbagai alternatif akan mempengaruhi pertimbangan
masing-masing.
Mereka diharuskan menilai prinsip-prinsip
semata-mata atas
dasar pertimbangan-pertimbangan umum. Menghadapi ‗masa depan‘ yang tidak
pasti semacam itu, adalah rasional bahwa posisi asali hanya akan menentukan
strategi memilih dan bukan memilih prinsip keadilannya sendiri. Dan bagaimana
strategi memilih yang mereka ambil? Rawls percaya mereka akan menerapkan
prinsip ―dapatkan maksimum pada keadaan minimum‖. Inilah prinsip maximum
minimorum atau yang disingkat maximin. Perhatikan tabel yang dimodifikasi dari
tabel yang dibuat oleh Rawls.41
41
John Rawls, Teori Keadilan, h. 186
79
KEADAAN
PILIHAN
A
B
C
1
-4
9
12
2
-5
7
13
3
5
6
8
Apabila seluruh informasi diketahui sehingga keadaan yang akan terjadi
bisa diperhitungkan, orang tentu akan memilih alternatif 1 atau 2, tergantung pada
informasi yang diperolehnya dan kesimpulan yang dibuatnya. Kalau diramalkan
akan terjadi keadaan
C, pilhan 2 (nilai 13) yang paling menguntungkan; kalau
yang terjadi keadaan B maka yang paling menguntungkan pilihan 1 (nilai 9). Tapi
karena orang-orang dalam posisi asali tidak mengetahui informasi apa yang akan
terjadi karena tidak memiliki informasi, pilihan paling aman dan masuk akal
adalah 3 (nilai 5): memang tidak terlalu menguntungkan apabila terjadi keadaan B
maupun C, tapi justru paling menguntungkan kalau yang terjadi keadaan terrburuk
(A). Inilah pilhan dengan asas maximum minimorum atau maximin yang
digunakan kumpulan orang di orpos untuk memilih prinsip keadilan
dengan
argumen kontrak sosial. Asas maximin adalah memilih alternatif yang paling
menguntungkan jika terjadi keadaan paling buruk. Orang-orang dalam posisi asali
tidak akan memilih strategi spekulatif atau untung-untungan melainkan memilih
strategi aman yaitu solusi maximin. Berdasarkan asas maximin ini pilihan paling
menguntungkan adalah dua prinsip keadilan Rawls. 42
42
Bur Rasuanto, Keadilan Sosial, h. 60-61
80
Dengan demikian, uraian mengenai konsep keadilan sosial menurut John
Rawls telah penulis bahas. Konsep keadilan sosial Rawls didasarkan pada dua
prinsip keadilan yang diyakininya, akan, dipilih oleh orang-orang yang rasional,
bebas, dan setara dalam posisi awal yang fair. Hal ini sejalan dengan gagasan
besar teori Rawls, justice as fairness, yakni prinsip-prinsip keadilan merupakan
hasil kesepakatan bersama dalam posisi awal yang fair (original position).
BAB V
PENUTUP
Setelah melakukan penjelajahan secara singkat padat terhadap pemikiran
John Rawls di bab-bab terdahulu, pada momen ini sudah saat untuk menarik
kesimpulan dari berbagai gagasan Rawls menyangkut konsepsinya
tentang
keadilan sosial.
Konsepsi keadilan sosialnya bertolak dari masyarakat sebagai sebuah
sistem kerja sama sosial saling menguntungkan antar manusia. Di mana masalah
keadilan lahir akibat adanya konflik kepentingan dikarenakan masing-masing
orang tidak sependapat mengenai bagiamana hasil kerja sama sosial dibagi secara
adil kepada para warga masyarakat. Dalam situasi demikian, sebuah konsepsi
keadilan sosial bersama dinilai oleh Rawls merupakan tuntutan dasar dalam
memecahkan
konflik
dalam
masyarakat.
Kesepakatan
bersama
mengenai
mengenai apa yang adil dan tidak adil menjadi batasan sejauh mana setiap orang
dapat mengajukan klaimnya masing-masing.
Konsepsi keadilan sosial Rawls didasarkan pada dua prinsip keadilan
sosial yang diyakininya akan dipilih dalam original position. Dua prinsip ini tidak
hanya
sesuai
dan
selaran
dengan
rasa
keadilan,
namun
juga
dapat
dipertanggungjawabkan secara rasional. Karena itu, konsepsi keadilan sosial
Rawls dianggap
memiliki keunggulan dan kekuatan dibandingkan konsepsi
keadilan sosial lainnya.
81
82
Konsepsi keadilan sosial menampilkan pandangannya yang egalitarian,
tapi bukan seorang egalitarian radikal. Prinsip keadilan sosial mengusung prinsip
persamaan sebagai prinsip pokoknya. Ada sejumlah prinsip persamaan dalam
keadilan sosial, semisal persamaan distribusi, persamaan pendapatan, persamaan
nilai-nilai sosial primer, tapi Rawls mengusung prinsip persamaan kebebasan.
Dalam konsepsinya, kebebasan-kebebasan dasar atau fundamental mendapat
prioritas tertinggi dan tidak boleh dikorban oleh kepentingan ekonomi dan sosial
maupun politis.
Di samping, prinsip persamaan konsepsinya khususnya juga mengangkat
prinsip ketidaksamaan. Dalam bagian ini ketidaksamaan hanyalah diperbolehkan
dalam bidang sosial dan ekonomi, tapi dengan batasan bahwa ketidaksamaan
sosial dan ekonomi haruslah di bawah persamaan kesempatan yang fair bagi
semua orang tanpa terkecuali, sekaligus ketidaksamaan haruslah menguntungkan
orang yang paling lemah atau paling kurang beruntung.
Dalam hal ini, Rawls melalui prinsip difference menampilkan sebuah
terobosan baru dalam keadilan distributif yang selama ini hanya didasarkan pada
prinsip kesamaan kesempatan fair saja sehingga abai terhadap faktor-faktor
keberuntungan yang bersifat genetisi atau alamiah. Di perspektif kesamaan
demokratis, prinsip persamaan kesempatan fair yang selama ini menjadi justifikasi
bagi segala ketimpangan dan kesenjangan sosial ekonomi dikawinkan dengan
prinsip difference. Dengan demikian, Rawls benar-benar menjaga peluang dan
kesempatan bagi setiap untuk mencapai kesejahteraan bagi orang yang paling
kurang beruntung dari segi alamiah atau genetis.
83
Konsepsi keadilan Rawls harus dilihat lebih jauh tentang pandangannya
bahwa
keadilan
masyarakat yang
merupakan
diatur
kebajikan
oleh
utama
dalam
masyarakat.
sebuah konsepsi bersama
tentang
Sebuah
keadilan
digambarkan oleh Rawls sebagai suatu gambaran mengenai masyarakat yang
tertata baik, well-ordered society. Hal tersebut merupakan visi Rawls tentang
masyarakat ideal, di mana keadilan merupakan landasan fundamental kehidupan
bersama sebagai sebuah masyarakat untuk dapat berkelanjutan, stabil, dan bersatu.
Konsepsi
keadilan
sosial
John
Rawls
yang
didasarkan
nilai-nilai
persamaan, kebebasan dan solidaritas sesungguhnya merupakan suatu hal yang
tidak lagi asing dalam wacana filsafat politik Islam. Banyak di antara pemikirpemikir Muslim yang bahkan jauh lebih dulu berbicara tentang keutamaan
keadilan
sebagai
nilai prinsipil
bagi kehidupan
bersama
sebagai
sebuah
masyarakat dengan karakteristik pemikirannya. Di antaranya adalah Ibnu Khaldun
(1332), seorang filsuf Muslim yang dikenal dengan karyanya Muqaddimah. Ibnu
Khaldun menempatkan keadilan sebagai tolak punggung suatu negara.1 Di
samping itu, ada juga Baqir
al-Shadr yang menjelaskan bagaimana peran tauhid
dalam menciptakan sistem sosial ideal. Al-Shadr bahkan menegaskan bahwa
Islam sangat menjunjung tinggi persamaan.
Islam tidak
mengenal adanya
diskriminasi dalam memandang dan memerlakukan umatnya. Hal ini merupakan
konsekuensi logis pandangan tauhid di mana di hadapan Allah semuanya adalah
sama, yaitu sebagai hamba Allah. Tidak ada individu, kelompok, atau bangsa
yang lebih tinggi derajat dan kelasnya sehingga dapat mengeksploitasi, menjajah,
1
Hanik Yuni A lfiyah, “Ibnu Khaldun dan Tafsir Sosial” dalam Jurnal Paramedia, vol.
ke-7, No. 2, April 2006, h. 6
84
dan menundukkan yang lain. Bahkan Islam mengutuk tindakan tersebur serta
menegaskan bahwa kepatuhan terhadap perbuatanitu adalah syirk. Dan masih
banyak lainnya.
Terlepas dari semua itu, masing-masing memiliki kekhasan dan keunikan
tersendiri dalam menjelaskan bagaimana suatu bentuk tata sosial dan tata politik
yang ideal sesuai dengan konteks zamannya. Dalam hal ini, teori John Rawls
memang lebih relevan dalam konteks masyarakat zaman sekarang yang hampir
sebagian besar bersandar pada prinsip-prinsip demokrasi. Dan konsepsi keadilan
sosial Rawls sebagaimana ditegaskannya hanya dapat diterapkan dalam kultur
masyarakat demokrasi konstitusional, bukan lainnya.
85
DAFTAR PUSTAKA
Alfiyah, Hanik Yuni, “Ibnu Khaldun dan Tafsir Sosial” dalam Jurnal Paramedia,
vol. ke-7, No. 2, April 2006, h. 6
Christman, John. Social and Political Philosophy: A Contemporary Introduction,
London: Routledge, 2002.
Daniels, Norman (ed). Reading Rawls: Critical Studies on Rawls A Theory of
Justice, New York: Basic Books, 1980.
Graham, Paul. Rawls. Oxford: Oneworld, 2007.
Gewertz, Ken. “John Rawls, Influental Political Philosopher Dead at 81”, artikel
diakses
pada
1
Maret
2009
dari
http://www.news.harvard.edu/gazette/2002/11. 21/99- rawls.html
Ginsberg, Morris. Keadilan dalam Masyarakat. Yogyakarta: Pondok Edukasi,
2003.
Kaelan. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta: Paradigma,
2005.
Kymlica, Will. Pengantar Filsafat Politik Kontemporer: Kajian Khusus atas
Teori-Teori Keadilan. terj. Agus Wahyudi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2004.
Mandle, Joe. Rawls’s ‘A Theory of Justice’ an Introduction. New York:
Cambridge University Press, 2009.
Miller, David. Principles of Social Justice. London:
1999.
Harvard University Press,
Oneil, Onora. “Catatan Sederhana Tentang Etika Kant”, dalam Etika Terapan I,
ed. Lary May, dkk, terj. Sinta Carolina, dkk, Yogyakarta: Tiara Wacana,
2001.
Pogge, Thomas. John Rawls: His Life and Theory of Justice, trans. Michelle
Kosch, New York: Oxford University Press, 2007.
Rawls, John, Teori keadilan: Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan
Kesejahteraan Sosial dalam Negara. terj. Uzair Hamzah dan Heru
Prasetyo. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
86
-------, Political Liberalism. New York: Columbia University Press, 1993
-------, Justice as Fairness: A Restatement, Erin Kelly (ed). Cambridge: Harvard
University Press, 2001.
Rasuanto, Bur. Keadilan Sosial: Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas,
Dua Teori Filsafat Politik Modern, Jakarta: Gramedia, 2005
Russel, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik
Zaman Kuno Hingga Sekarang, cet. Ke-2, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2004.
Suseno, Franz Magnis. Kuasa dan Moral, cet.ke-2, Jakarta: Gramedia, 1988.
-------, Pijar-Pijar Filsafat dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam
Muller ke Posmodernisme. cet.ke-5, Yogyakarta: Kanisius, 2009.
-------, Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta:
Gramedia, 1987.
-------, Etika Dasar, Masalah-Masalah Pokok
Kanisius, 1987
Filsafat Moral. Yogyakarta:
Ujan, Andre Uta. Keadilan dan Demokrasi: Telaah Filsafat Politik John Rawls,
cet.ke-5, Yogyakarta: Kanisius, 2005.
Veger, K.J. Realitas Sosial. Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan IndividuMasyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi. Jakarta: Gramedia,
1986.
Wahyudi Agus, “Filsafat Politik Barat dan Masalah Keadilan: Catatan Kritis atas
Pemikiran Will Kymlicka” dalam Jurnal Filsafat, April 2004, Jilid 36,
Nomor 1
Download