1 MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK

advertisement
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK
MELALUI PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA
Oleh: Muh Yusuf
A. Pendahuluan
Gejala hedonisme pada masyarakat kita semakin meluas, aksi demo , tawuran,
dan berbagai tindak kekerasan, serta degradasi moral, kita dengar, kita baca, kita lihar
hampir setiap hari. Tidak hanya terjadi pada para buruh pabrik saja, tetapi menjalar
pada para siswa, SMP, SMA, mahasiswa, dan terjadi juga pada para politisi.
Keprihatinan terhadap fenomena degradasi moral dan karakter bangsa makin terasa
akut dari hari ke hari. Di kalangan masyarakat makin mewabah patologi sosial dan
penyalahartikan praktik kehidupan demokrasi dengan kebebasan tanpa aturan. Selain
itu juga ada perkembangan sentimen kedaerahan dan isu-kebangsaan yang makin
melunturkan semangat nasionalisme, maraknya kekerasan dan pelanggaran hak asasi
manusia, terhadinya degradasi lingkungan, radikalisme atas nama pluralitanisme dan
agama. Maraknya aksi unjuk rasa yang menghancurkan simbol-simbol negara
berimplikasi pada hilangnya wibawa kekuasaan yang ada di tangan pemerintah.
Menurut para ahli, hal ini sudah sangat mengkhawatirkan bagi kehidupan bangsa,
Dikalangan masyarakat kita difahami bahwa pedidikan memiliki andil besar
timbulnya problem multidimensional ini. Dengan kata lain masalah hedonisme seperti
gambaran diatas, harus dipikul oleh institusi pendidikan. Berbeda dengan peran
pendidikan di negara-negara maju yang lebih terbatas pada transfer ilmu pengetahuan,
pendidikan di Indonesia memikul beban ganda. Beban ganda itu ialah tidak saja
transformasi pengetahuan, tetapi ditambah lagi dengan en-kulturasi berbagai bidang
kehidupan, termasuk pembentukan karakter dan kepribadian dalam kerangka nation
and character building.
Didalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional
dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
1
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sedangkan Misi Pendidikan
Nasional ingin menghasilkan: insan Indonesia cerdas dan kompetitif. Sedangkan yang
dimaksud dengan insan cerdas adalah insan yang cerdas secara komprehensif, yang
meliputi cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan
cerdas kinestetis. Cerdas kenestetis
secara komprehensif dapat dimaknai
Beraktualisasi diri melalui olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat, bugar,
berdaya-tahan, sigap, terampil, dan trengginas. Aktualisasi insan adiraga.
Bagaimana mewujudkan misi Pendidikan Nasional tersebut? Dalam tulisan ini
dideskripsikan bahwa melalui pendidikan jasmani dan olahraga, yang selama ini
banyak dipandang sebelah mata, ternyata banyak nilai perilaku yang secara riil dapat
membentuk karakter bagi peserta didik, yang dapat menjadi dasar carakter nation
building.
B. Visi Pendidikan Nasional
Pembangunan Indonesia di masa depan bersandar pada visi Indonesia jangka
panjang, yaitu terwujudnya negara-bangsa (nation-state) Indonesia modern yang aman
dan damai, adil dan demokratis, serta sejahtera dengan menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, kemerdekaan, dan persatuan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam
kerangka visi jangka panjang yang termuat dalam dokumen ”Membangun Indonesia
yang Aman, Adil, dan Sejahtera” (Susilo Bambang Yudhoyono dan M. Jusuf Kalla,
2004), pembangunan Indonesia pada tahun 2005—2009 mengarah pada (a) terwujudnya
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang aman, bersatu, rukun, dan damai; (b)
terwujudnya masyarakat, bangsa, dan negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan,
dan hak asasi manusia; dan (c) terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan
kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan fondasi yang kokoh
bagi pembangunan berkelanjutan, yang dilandasi keimanan, ketakwaan, dan akhlak
mulia.
Pembangunan pendidikan nasional ke depan didasarkan pada paradigma
membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang berfungsi sebagai subyek yang memiliki
kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal.
Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar, yaitu (1) afektif yang
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
2
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur
serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang tercermin pada
kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada
kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi
kinestetis.
Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia
secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di
atas dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian, pendidikan seyogyanya
menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu,
sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai.
Selain itu, pembangunan pendidikan nasional juga diarahkan untuk membangun
karakter dan wawasan kebangsaan bagi peserta didik, yang menjadi landasan penting
bagi upaya memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Dalam hal ini, pemerintah mempunyai kewajiban
konstitusional untuk memberi pelayanan pendidikan yang dapat dijangkau oleh seluruh
warga negara. Oleh karena itu, upaya peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan
yang lebih berkualitas merupakan mandat yang harus dilakukan bangsa Indonesia sesuai
dengan tujuan negara Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu untuk
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan
kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
UUD 1945 mengamanatkan mengenai pentingnya pendidikan bagi seluruh warga
negara sebagaimana diatur dalam Pasal 28C Ayat (1) bahwa setiap orang berhak
mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan
pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan
budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia, dan
Pasal 31 Ayat (1) bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
3
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa
untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi
manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan
zaman yang selalu berubah.
Sejalan dengan Visi Pendidikan Nasional tersebut, Depdiknas berhasrat untuk
pada tahun 2025 menghasilkan: INSAN INDONESIA CERDAS DAN
KOMPETITIF (Insan Kamil / Insan Paripurna)
Sesuai Ketentuan Umum Penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Departemen Pendidikan Nasional berkewajiban
untuk mencapai Visi Pendidikan Nasional sebagai berikut.
Yang dimaksud dengan insan Indonesia cerdas adalah insan yang cerdas secara
komprehensif, yang meliputi cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas
intelektual, dan cerdas kinestetis. Tabel berikut ini memberikan deskripsi yang lengkap
tentang yang dimaksud dengan insan cerdas komprehensif dan kompetitif. Perhatikan tabel
berikut
Insan Cerdas Komprehensif dan Kompetitif
Makna Insan Indonesia Cerdas Komprehensif
Cerdas
spiritual
Cerdas
emosional
& sosial
Beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu
untuk menumbuhkan dan memperkuat
keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia
termasuk budi pekerti luhur dan
kepribadian unggul.
• Beraktualisasi diri melalui olah rasa
untuk meningkatkan sensitivitas dan
apresiasivitas akan kehalusan dan
keindahan seni dan budaya, serta
kompetensi untuk mengekspresikannya.
• Beraktualisasi diri melalui interaksi
sosial yang:
– membina dan memupuk hubungan
timbal balik;
– demokratis;
– empatik dan simpatik;
– menjunjung tinggi hak asasi manusia;
Makna
Insan
Indonesia
Kompetitif
• Berkepribadian
unggul
dan
gandrung akan
keunggulan
• Bersemangat
juang tinggi
• Mandiri
• Pantang
Kompetitif
menyerah
• Pembangun dan
pembina
jejaring
• Bersahabat
dengan
perubahan
• Inovatif
dan
menjadi
agen
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
4
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
Makna Insan Indonesia Cerdas Komprehensif
– ceria dan percaya diri;
– menghargai
kebhinekaan
dalam
bermasyarakat dan bernegara; serta
berwawasan
kebangsaan
dengan
kesadaran akan hak dan kewajiban warga
negara.
• Beraktualisasi diri melalui olah pikir
untuk memperoleh kompetensi dan
Cerdas
kemandirian dalam ilmu pengetahuan
intelektual
dan teknologi.
Aktualisasi insan intelektual yang
kritis, kreatif dan imajinatif.
• Beraktualisasi diri melalui olah raga
untuk mewujudkan insan yang sehat,
Cerdas
bugar, berdaya-tahan, sigap, terampil,
kinestetis
dan trengginas.
Aktualisasi insan adiraga.
Makna
Insan
Indonesia
Kompetitif
perubahan
• Produktif
• Sadar mutu
• Berorientasi
global
• Pembelajar
sepanjang hayat
Visi Depdiknas lebih menekankan pada pendidikan transformatif, yang menjadikan
pendidikan sebagai motor penggerak perubahan dari masyarakat berkembang menuju
masyarakat maju. Pembentukan masyarakat maju selalu diikuti oleh proses transformasi
struktural, yang menandai suatu perubahan dari masyarakat yang potensi kemanusiannya
kurang berkembang menuju masyarakat maju dan berkembang yang mengaktualisasikan
potensi kemanusiannya secara optimal. Bahkan di era global sekarang, transformasi itu
berjalan dengan sangat cepat yang kemudian mengantarkan pada masyarakat berbasis
pengetahuan (knowledge based society).
Di dalam masyarakat berbasis pengetahuan, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi
sangat dominan. Masyarakat Indonesia yang indeks teknologinya masih rendah belum secara
optimal memanfaatkan Iptek sebagai penggerak utama (prime mover) perubahan masyarakat.
Pendidikan memfasilitasi peningkatan indeks teknologi tersebut, namun demikian,
peningkatan indeks teknologi tidak semata-mata ditentukan oleh pendidikan, melainkan juga
oleh transfer teknologi yang biasanya menyertai investasi. Oleh karena itu, kebijakan
pendidikan harus sinkron dengan kebijakan investasi.
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
5
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
Untuk itu, pendidikan harus terus-menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian
dengan gerak perkembangan ilmu pengetahuan modern dan inovasi teknologi maju, sehingga
tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan zaman. Pendidikan bertugas untuk
menyiapkan peserta didik agar dapat mencapai peradaban yang maju melalui perwujudan
suasana belajar yang kondusif, aktivitas pembelajaran yang menarik dan mencerahkan, serta
proses pendidikan yang kreatif.
Pendidikan juga menciptakan kemandirian baik pada individu maupun bangsa.
Pendidikan yang menumbuhkan jiwa kemandirian menjadi sangat penting justru ketika dunia
dihadapkan pada satu sistem tunggal yang digerakkan oleh pasar bebas. Bangsa Indonesia
sulit bertahan jika tidak memiliki kemandirian karena hidupnya semakin tergantung pada
bangsa-bangsa yang lebih kuat. Selain itu, pendidikan harus menjadi bagian dari proses
perubahan bangsa menuju masyarakat madani, yakni masyarakat demokratis, taat, hormat,
dan tunduk pada hukum dan perundang-undangan, melestarikan keseimbangan lingkungan,
dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
C. Karakteristik Pendidikan Jasmani
1. Definisi Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang
didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik,
pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi.
Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif tiap siswa.
Pendidikan
jasmani
memiliki
tujuan
antara
lain,(1).Mengembangkan
keterampilan
pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola
hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih,(2).Meningkatkan
pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik,(3). Meningkatkan kemampuan
dan keterampilan gerak dasar,(4).Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui
internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
(5).Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri
dan demokratis,(6).Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri
sendiri, orang lain dan lingkungan,(7). Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
6
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang
sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
Materi mata pelajaran Pendidikan jasmani pasa peserta didik yang meliputi:
pengalaman mempraktikkan keterampilan dasar permainan dan olahraga; aktivitas
pengembangan; uji diri/senam; aktivitas ritmik; akuatik (aktivitas air); dan pendidikan luar
kelas (outdoor) disajikan untuk membantu siswa agar memahami mengapa manusia bergerak
dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisien, dan efektif. Adapun
implementasinya perlu dilakukan secara terencana, bertahap, dan berkelanjutan, yang pada
gilirannya siswa diharapkan dapat meningkatkan sikap positif bagi diri sendiri dan
menghargai manfaat aktivitas jasmani bagi peningkatan kualitas hidup seseorang. Dengan
demikian, akan terbentuk jiwa sportif dan gaya hidup aktif.
2. Materi Pendidikan Jasmani
Struktur materi Penjas dikembangkan dan disusun dengan menggunakan model
kurikulum kebugaran jasmani dan pendidikan olahraga (Jewett, Ennis, & Bain, 1995).
Asumsi yang digunakan kedua model ini adalah untuk menciptakan gaya hidup sehat dan
aktif, dengan demikian manusia perlu memahami hakikat kebugaran jasmani dengan
menggunakan konsep latihan yang benar. Olahraga merupakan bentuk lanjut dari bermain,
dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keseharian manusia. Untuk dapat
berolahraga secara benar, manusia perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang
memadai. Pendidikan jasmani diyakini dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk: (1)
berpartisipasi secara teratur dalam kegiatan olahraga, (2) pemahaman dan penerapan konsep
yang benar tentang aktivitas-aktivitas tersebut agar dapat melakukannya secara aman, (3)
pemahaman dan penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam aktivitas-aktivitas tersebut agar
terbentuk sikap dan perilaku sportif dan positif, emosi stabil, dan gaya hidup sehat.
Struktur materi penjas dari TK sampai SMU dapat dijelaskan sebagai berikut. Materi
untuk TK sampai kelas 3 SD meliputi kesadaran akan tubuh dan gerakan, kecakapan gerak
dasar, gerakan ritmik, permainan, akuatik (olahraga di air) bila memungkinkan), senam,
kebugaran jasmani dan pembentukan sikap dan perilaku.
Materi pembelajaran untuk kelas 4 sampai 6 SD adalah aktivitas pembentukan tubuh,
permainan dan modifikasi olahraga, kecakapan hidup di alam bebas, dan kecakapan hidup
personal (kebugaran jasmani serta pembentukan sikap dan perilaku). Materi pembelajaran
untuk kelas 7 dan 8 SMP meliputi teknik/keterampilan dasar permainan dan olahraga,
senam, aktivitas ritmik, akuatik, kecakapan hidup di alam terbuka, dan kecakapan hidup
personal (kebugaran jasmani serta pembentukan sikap dan perilaku). Materi pembelajaran
kelas 9 SMP sampai kelas 12 SMU adalah teknik permainan dan olahraga, uji diri/senam,
aktivitas ritmik, akuatik, kecakapan hidup di alam terbuka dan kecakapan hidup personal
(kebugaran jasmani serta pembentukan sikap dan perilaku). Struktur materi yang telah
diterangkan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
7
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
Gambar Struktur Materi Pendidikan Jasmani
(Wuest dan Lombardo, 1994: 65)
Aktivitas Sepanjang Hayat
Gaya Hidup Aktif
12
11
Olahraga
Kebugaran
Jasmani
1. Komponen
Tim Perorangan
10
K
E
C
A
K
A
P
A
N
Pengenalan
9
Nn
Olahraga
8
Permainan
Inisiatif
I
Kerjasama
D
U
P
Aktivitas Pengondisian Jasmani
Kepemimpinan/
Bawahan
Olahraga
Ritmik
Permainan
(Games)
Akuatiks (bila
mungkin)
Senam
kelas
dan
Tarian
P
E
R
S
O
N
A
Pengambilan
Resiko
Keselamatan
L
Kesadaran akan Tubuh dan Gerakan, Kecakapan Gerak Dasar
ebas
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
3
Sikap dan
perilaku
H
6
4
keterampilan
Menghargai
Kecakapan
Hidup di Alam
Bebas
Modifikasi
5
2. Komponen
Mempercayai
dan
7
Kesehatan
8
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
3. Manajemen Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Guru perlu membedakan antara kegiatan pengajaran dan manajemen kelas. Kegiatan
pengajaran/pembelajaran meliputi (1) mendiagnosa kebutuhan kelas, (2) merencanakan dan
mempresentasikan informasi, (3) membuat pertanyaan, (4) mengevaluasi kemajuan. Kegiatan
manajemen kelas terdiri dari (1) menciptakan dan memelihara kondisi kelas, (2) memberi
pujian terhadap perilaku yang baik, dan (3) mengembangkan hubungan guru-siswa.
Keterampilan manajemen kelas merupakan hal yang penting dalam pengajaran yang
baik. Praktik manajemen kelas yang baik yang dilaksanakan oleh guru akan menghasilkan
perkembangan keterampilan manajemen diri siswa yang baik pula. Ketika siswa telah belajar
untuk mangatur diri lebih baik, guru akan lebih mudah berkonsentrasi untuk meningkatkan
efektivitas pembelajaran.
Teknik manajemen kelas harus diupayakan agar tidak mengganggu aspek
pembelajaran dalam pelajaran. Bila direncanakan dengan baik, pembelajaran akan bergerak
dengan cepat dan lancar dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Manajemen kelas yang efektif
akan dapat terwujud dengan melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Menetapkan aturan kelas
Salah satu bagian penting dalam manajemen kelas adalah penetapan aturan kelas.
Siswa adalah insan yang memiliki kebiasaan. Aturan kelas mencakup bagaimana
pelajaran dimulai, apa tanda yang dipakai untuk mengumpulkan perhatian siswa, apa
yang diharapkan saat siswa mendengarkan dan mengikuti perintah, bekerjasama, saat
menggunakan ruangan untuk kegiatan tertentu, dan penggunaan yang lainnya. Aturan
perilaku tetap ini harus diketahui oleh siswa pada awal pertemuan.
2) Memulai kegiatan tepat waktu
Pemberian suatu tanda mulai segera dilakukan bila kegiatan sudah siap untuk
dilaksanakan. Banyak waktu akan terbuang bila aturan ini tidak ditetapkan. Aba-aba
untuk melaksanakan kegiatan jangan sampai membingungkan siswa. Contohnya,
jangan memberikan perintah dengan tanda-tanda yang mirip untuk dua kegiatan yang
berbeda.
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
9
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
Guru berupaya membawa siswa secara tepat menuju ke suatu kegiatan. Guru perlu
mengarahkan siswa untuk segera melakukan kegiatan secara tepat agar pelajaran
berlangsung secara efektif. Pelajaran harus dimulai tepat pada waktunya. Ketika
siswa masuk ruanganau lapangan, pelajaran segera dimulai.
3) Mengatur pelajaran
Guru harus tetap menjaga kegiatan tetap berlangsung dan tidak terganggu oleh
kegiatan yang tak terduga. Pergantian antartopik harus dilakukan oleh guru secara
cermat dan penuh kesadaran. Guru perlu memaksimalkan kesempatan keikutsertaan
setiap siswa dalam proses pembelajaran. Guru perlu memaksimalkan penggunaan
peralatan dan mengorganisasikan kelompok agar siswa sebanyak mungkin bergerak
aktif sepanjang pelajaran. Bila peralatan yang ada terbatas jumlahnya, gunakan
pendekatan stasion/learning centers, dan modifikasi aktivitas.
4) Mengelompokkan siswa
Guru perlu mengelompokkan siswa agar pembelajaran berlangsung secara efektif.
Dengan pengelompokkan yang tepat siswa memiliki: peluang melakukan aktivitas
lebih banyak, bermain dengan jenjang kemampuan dan keterampilan yang seimbang.
5) Memanfaatkan ruang dan peralatan
Guru perlu merencanakan penjagaan dan pemanfaatan peralatan dan ruang secara
efisien. Peralatan yang akan digunakan dalam pembelajaran harus dipersiapkan
dengan baik. Selain hal di atas, siswa perlu dibiasakan untuk ikut bertanggung jawab
terhadap peralatan yang dipergunakan dalam pembelajaran.
6) Mengakhiri pelajaran
Setiap pertemuan pelajaran di dalam maupun di luar kelas harus diakhiri tepat pada
waktunya dan diupayakan memberikan kesan mendalam bagi siswa. Dengan kesan
yang baik, setiap episoda pelajaran akan menjadi lebih bermanfaat dan bermakna.
Dengan demikian, siswa akan selalu mengingat kegiatan yang dilakukan, dan
memperoleh pengalaman yang menyenangkan.
Berdasarkan uraian di atas, karakteristik pendidikan jasmani
SMP/SMA dapat
dirumuskan sebagai berikut.
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
10
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
1. Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di SMP/SMA,
yang mempelajari dan mengkaji gerak manusia secara interdisipliner. Gerak
manusia adalah aktivitas jasmani
yang dilakukan secara sadar untuk
meningkatkan kebugaran jasmani dan keterampilan motorik, mengembangkan
sikap dan perilaku agar terbentuk gaya hidup yang aktif. Aktivitas jasmani yang
dilakukan berupa aktivitas bermain, permainan, dan olahraga.
2. Pendidikan jasmani menggunakan pendekatan interdisipliner, karena melibatkan
berbagai disiplin ilmu seperti anatomi, fisiologi, psikologi, sosiologi, dan ilmuilmu yang lain. Pendukung utama pendidikan jasmani adalah ilmu keolahragaan
yang mencakup filsafat olahraga, sejarah olahraga, pedagogi olahraga, sosiologi
olahraga, fisiologi olahraga, dan biomekanika olahraga.
3. Materi pendidikan jasmani berupa kajian terhadap gerak manusia yang dikemas
dalam muatan yang esensial, faktual, dan aktual. Materi ini disampaikan dalam
rangka memberikan kesempatan bagi siswa untuk tumbuh dan berberkembang
secara proporsional yang mencakup ranah psikomotor, jasmani, kognitif, dan
afektif.
D. Nilai Dasar pendidikan Jasmani dan Olahraga
Dalam kehidupan sehari-hari olahraga sering disikapi sebagai media hiburan,
pengisi waktu luang, senam, rekreasi, kegiatan sosialisasi, dan meningkatkan derajat
kesehatan. Secara fisik olahraga memang terbukti dapat mengurangi risiko terserang
penyakit, meningkatkan kebugaran, memperkuat tulang, mengatur berat badan, dan
mengembangkan keterampilan. Sayangnya, nilai-nilai yang lebih penting dalam
konteks pendidikan dan psikologi, yaitu pembentukan karakter dan kepribadian,
masih kurang disadari. Kepribadian, sosialisasi, dan pendidikan kesehatan, serta
kewarganegaraan hakikatnya adalah agenda penting dalam proses pendidikan.
Sebagaimana pentingnya membaca, menulis, dan berhitung, saat ini perlu
ditambahkan lagi dengan respect and responsibility Mengapa? Sebab, sesungguhnya
dalam perspektif sejarah sudah sejak lama pendidikan jasmani dan olahraga dijadikan
andalan sebagai wahana yang efektif untuk pembentukan watak, karakter, dan
kepribadian. Bahkan pem-bentukan sifat kepemimpinan seseorang dapat dicapai
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
11
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
melalui media ini. Dalam ruang lingkup kehidupan masyarakat, orang tua
mengharapkan generasi baru memahami norma salah-benar, kearifan dalam hidup
bermasyarakat, memiliki sikap sportif, disiplin, serta taat asas dalam tata pergaulan.
Hidup bersama melalui aktivitas olahraga bagi anak-anak dapat memberi pelajaran
bahwa permainan dengan tata aturan tertentu dapat menguntungkan semua pihak dan
mencegah konflik perbedaan pandangan. Anak-anak juga dapat belajar bersosialisasi
melalui permainan-permainan, yang sayangnya fasilitas seperti ini nyaris luput dari
perhatian layanan publik. Padahal melalui aktivitas seperti ini, mereka yang memiliki
minat sejenis dapat berbagi pengalaman dalam common ground yang dapat
ditransformasikan melalui komunikasi dan interaksi yang kohesif.Peran olahraga kian
penting dan strategis dalam konteks pengembangan kualitas SDM yang sehat,
mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki sifat kompetitif yang tinggi. Selain itu juga
penting dalam pengembangan identitas, nasionalisme, dan kemandirian bangsa.
Olahraga yang dikelola secara professional akan mampu mengangkat martabat bangsa
dalam percaturan internasional. Sejarah telah mencatat bahwa olahraga dapat menjadi
media pendidikan atau menjadi ikon bisnis dan industri yang prospektif. Olahraga
secara potensial dan aktual dapat men-jadi rujukan yang efektif bagi pembentukan
watak kepribadian dan karakter masyarakat.
Olahraga dengan segala aspek dan dimensinya, lebih-lebih yang mengandung
unsur pertandingan dan kompetisi, harus disertai dengan sikap dan perilaku
berdasarkan kesadaran moral. Implementasi pertandingan tidak terbatas pada
ketentuan yang tersurat, tetapi juga kesanggupan mental menggunakan akal sehat.
Kepatutan tindakan itu bersumber dari hati nurani yang disebut dengan istilah fair
play. Dalam dua tahun terakhir, model kompetisi yang dijiwai fair play telah
diimplementasikan pada kompetisi nasional dalam forum Olimpiade Olahraga
Sekolah Nasional (O2SN) dan forum internasional, yaitu ASEAN Primary School
Sport Olympiade (APSSO). Hasilnya sungguh menggembirakan karena penerapan
tersebut berimplikasi pada perilaku peserta kompetisi yang lebih mencerminkan jiwa
sportivitas, kejujuran, persahabatan, rasa hormat, dan tanggung jawab dengan segala
dimensinya. Dalam kode fair play terkandung makna bahwa setiap penyelenggaraan
olahraga harus dijiwai oleh semangat kejujuran dan tunduk pada tata aturan, baik
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
12
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
yang tersurat maupun tersirat Setiap pertandingan harus menjunjung tinggi sportivitas,
menghormati keputusan wasit/juri, serta menghargai lawan, baik saat bertanding
maupun di luar arena pertandingan.Kemenangan dalam suatu pertandingan, meski
penting, tetapi ada yang lebih penting lagi, yaitu menampilkan keterampilan terbaik
dengan semangat persahabatan Lawan bertanding sejatinya adalah juga kawan
bermain.Tidaklah diragukan bahwa pendidikan olahraga adalah wahana yang sangat
ampuh bagi persemaian karakter dan kepribadian peserta didik apabila dikembangkan
secara sistematis. Olahraga mengandung dimensi nilai dan perilaku positif yang
multidimensional.Pertama, sikap sportif, kejujuran, menghargai teman dan saling
mendukung, membantu dan penuh semangat kompetitif. Kedua, sikap kerja sama,
team work, saling percaya, berbagi, saling ketergantungan, dan kecakapan membuat
keputusan bertindak. Ketiga, sikap dan watak yang senantiasa optimistis, antusias,
partisipasi!", gembira, dan humoris. Keempat, pengembangan individu yang kreatif,
penuh inisiatif, kepemimpinan, determinasi, kerja keras, kepercayaan diri, kebebasan
bertindak, dan kepuasan diri. Keunggulan pendidikan olahraga dalam pembentukan
karakter terletak pada konkretisasi nilai-nilai ke dalam perilaku sehari-hari. Hal ini
merupakan ciri yang tidak mudah dilakukan pada substansi yang lain dalam
kurikulum dan pembelajaran yang cenderung teo-restik, abstrak, dan verbalistik.
Untuk itu sebagai orang tua, guru pendidikan jasmani maupun sebagai orang tua
memiliki kewajiban menanamkan, budayakan, dan melestarikan pendidikan karakter
melalui aktivitas jasmani serta pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah untuk
para peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Depatemen Pendidikan Nasional. Jakarta (2010) Pembinaan pendidikan karakter di sekolah
menengah pertama, Jakarta
Depatemen Pendidikan Nasional. Jakarta (2003) Undang-undang Republik Indonesia Nomer
20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional.
Depatemen Pendidikan Nasional. Jakarta (2010) Rencana Induk Pengembangan Pendidikan
Karakter bangsa
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
13
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
(Muh Yusuf)
Depatemen Pendidikan Nasional. Penelitian dan pengembangan pusat Kurikulum Jakarta
(2007) Naskah Akademik Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Kementrian Pendidikan Nasional.Badan Penelitian dan pengembangan pusat Kurikulum 2010
Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Muh Yusuf. 2010 Membangun karakter peserta didik melelui pendidikan jasmani dan
Olahraga, Naskah Saplemen Seminar Nasional disajikan dalam rangka KKL
Universitas Tunas Pembangunan Surakarta 13 Mei 2011
Suara Karya, 15 juni 2010 Pembentukan karakter lewat olahraga.
Biodata Penulis
Nama
: Drs. H. Muh. Yusuf, M.Pd.
Pendidikan
: S1 FPOK IKIP Negeri Semarang
S2 Pendidikan Olahraga UNNES Semarang
Pengalaman Pekerjaan : Sebagai staf pengajar Dpk pada FKIP
UTP Surakarta sejak Tahun 1987- sekarang
Pernah Menjabat Pembantu Dekan 3, Pembantu Dekan 1
POK FKIP UTP Surakarta
Pernah Menjabat Pembantu Rektor III UTP Surakarta
Alamat Kantor
: FKIP UTP Surakarta Jl. M. Walanda Maramis No.31
Cengklik Surakarta Telp./Fac. : 0271854188
up sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahragapertumbuhan
fisik dan pengembangan psikis yang lebih baikgkatkan kemampuan
dan keterampilan gerak dasar
4.Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi
nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga
dan kesehatan
5.Mengembangkan sikap sportif, jujur, jasmani dan olahraga di
lingkPustakaungan yang berPPPsih sebagai informasi untuk
mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna,
Jurnal Ilmiah SPIRIT, ISSN; 1411-8319 Vol. 12 No. 1 Tahun 2012
14
Download