UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL TEMUGIRING

advertisement
46
Universitas Hasanuddin, Makassar
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL
TEMUGIRING (Curcuma heyneana Val.)
SEBAGAI BAHAN TABIR SURYA
Aisyah Fatmawati, Ermina Pakki, Mufidah, dan Sartini
Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin
ABSTRAK
Temugiring (Curcuma heyneana Val) adalah satu bahan alam yang banyak
digunakan dalam ramuan tradisional untuk kesehatan kulit. Dalam upaya
memanfaatkan bahan alam sebagai tabir surya, telah dilakukan uji aktivitas ekstrak
etanol temugiring secara in vitro menggunakan spektrofotometer uv-vis. Pengujian
didasarkan pada kemampuan bahan mengabsorbsi sinar ultraviolet. Berdasarkan
perhitungan persentase eritema dan pigmentasi, konsentrasi 100 μg/ml ekstrak
etanol temugiring dapat memberikan perlindungan kulit dari radiasi UV dengan
persen transmisi eritema 0,90 dan persen transmisi pigmentasi 0,96 sehingga
dikategorikan sebagai sunblock total. Peningkatan konsentrasi ekstrak disertai
dengan peningkatan efek penyerapan sinar UV yang ditandai dengan semakin
kecilnya nilai persen transmisi eritema maupun pigmentasi.
Kata kunci : temu giring, tabir surya, ekstrak etanol, sinar UV
PENDAHULUAN
Sinar matahari yang mencapai permukaan bumi terdiri dari
cahaya tampak (panjang gelombang
antara 4000 dan 7400 Å), infra merah
(7500-53000 Å), dan sinar ultraviolet
(2800-4000 Å) (Jellineck, 1986).
Secara umum sinar matahari
sangat bermanfaat bagi kehidupan
makhluk hidup. Manfaat sinar matahari antara lain sebagai sumber cahaya dan energi, juga digunakan untuk
membantu fotosintesis tumbuhan berklorofil. Bagi manusia sinar matahari
digunakan sebagai sumber vitamin D,
juga untuk tujuan terapi. Namun salah
satu akibat pemaparan sinar matahari
yang terus-menerus dalam jangka
waktu yang lama adalah terjadinya
perubahan pada bentuk kulit yang
disebut dengan dermatoheliosis, yaitu
kulit menjadi barwarna pucat kekuningan, keriput, disertai dengan timbulnya bercak-barcak hitam yang
tidak merata pada permukaan kulit
yang terkena paparan sinar tersebut
(Wasitaatmadja, 1977).
Berbagai cara dapat dilakukan untuk melindungi manusia dari
sinar ultraviolet (UV). Namun perlin-
dungan tersebut kadang-kadang tidak
memadai karena alat pelindung masih
dapat ditembus sinar tersebut. Selain
itu, sinar UV dapat dipantulkan oleh
berbagai benda di permukaan bumi
sehingga kemungkinan besar pantulannya akan mencapai tubuh kita.
Pengaruh sinar UV pada wajah akan
merusak sel-sel kulit sehingga akan
menimbulkan kerutan, warna dan
tekstur kulit yang tidak sama, kulit
rusak dan rentan terhadap penyakit,
sehingga sangat dibutuhkan kosmetika yang dapat menyaring sinar
matahari (sunscreen) atau bahkan
yang dapat menahan seluruh sinar
matahari (sunblock) untuk mengurangi
efek buruk sinar matahari tersebut
(Wilkinson dan Moore, 1982).
Tabir surya mengandung
senyawa kimia yang melindungi kulit
dari sengatan sinar matahari atau
sinar UV dengan cara menghamburkan cahaya secara efektif atau
dengan mengabsorbsinya (Jellineck,
1986).
Berdasarkan penggunannya,
tabir surya dapat digolongkan menjadi
beberapa bagian, yaitu (Wilkinson dan
Moore, 1982) :
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 10, No. 2 – Juli 2006
a. Bahan yang mencegah sengatan
sinar matahari disebut tabir surya
yang mengabsorbsi 95% atau lebih
radiasi UV pada panjang gelombang
290-320 nm.
b. Bahan yang mencegah pigmentasi
disebut tabir surya yang mengabsorbsi kurang dari 85% radiasi
UV pada panjang gelombang 290
nm sampai 320 mn. Bahan ini akan
menghasilkan sedikit eritema tanpa
rasa sakit.
c. Bahan sunblok opak, memberikan
perlindungan maksimum dalam bentuk penghalang fisik.
Berbagai bahan alam juga
dapat digunakan sebagai bahan tabir
surya, antara lain rimpang kencur,
daun teh, rimpang temugiring dan
rimpang bangle. Minyak atsiri rimpang
kencur (Kaempferia galanga L.)
mengandung etil sinamat dan etil pmetoksisinamat yang berfungsi sebagai penyaring sinar UV (Kardono,
2003), minyak daun kayu manis
(Oleum Cinnamomi) mengandung
turunan asam sinamat, daun teh
(Camellia sinensis L.Kuntze) mengandung senyawa polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan, sedangkan rimpang temugiring (Curcuma
heyneana Val) mengandung flavonoid
dengan aktivitas antioksidan yang
cukup tinggi (Wijayakusuma, 2002
dan Hernani, 2002). Namun belum
ada laporan mengenai aktivitas temugiring sebagai tabir surya.
Aktivitas sebagai tabir surya
secara in vitro dapat ditentukan
dengan mengukur % transmisi eritema, % transmisi pigmentasi, serta
nilai sun protection factor (SPF)
secara spektrofotometri (Wilkinson
dan Moore, 1982). Berdasarkan hal
tersebut maka dilakukan penelitian
yang bertujuan untuk menguji apakah
ekstrak etanol temugiring mempunyai
aktivitas sebagai tabir surya.
METODE PENELITIAN
Pembuatan Ekstrak Temugiring
Rimpang temugiring yang
telah dicuci bersih, dipotong kecil-kecil
47
dan dikering-anginkan. Simplisia lalu
diserbukkan. Sebanyak 350 gram
serbuk dimasukkan ke dalam bejana
maserasi, lalu direndam dengan
etanol 70 % sampai semua simplisia
terendam dan didiamkan selama 5
hari sambil sesekali diaduk, kemudian
filtrat disaring. Ampas direndam lagi
dengan etanol 70 % dan dibiarkan
selama 2 hari, perlakuan ini diulangi
sebanyak 2 kali dan filtrat yang terkumpul dipekatkan dengan rotavapor
kemudian dilanjutkan di atas tangas
air hingga diperoleh ekstrak kental
sebanyak 50 gram.
Uji Aktivitas Ekstrak Temugiring
Sebagai Bahan Tabir Surya
a.Penentuan % transmisi eritema
(Balsam and Saragin, 1972)
Larutan ekstrak temugiring
dibuat dalam etanol 70 % dengan
kon-sentrasi 100, 150, 200, 250 dan
300 μg/ml, lalu masing-masing
diukur
serapannya
dengan
menggunakan spektrofotometer UVVis pada pan-jang gelombang yang
dapat menim-bulkan eritema yaitu
290 – 372 nm. Berdasarkan dari
nilai serapan (A) yang diperoleh,
maka transmisi (T) dihitung dengan
rumus :
A = - log T
Transmisi eritema (Te) dihitung
dengan rumus :
Te = T x Fe
dimana Fe adalah fluks eritema
yang nilainya pada panjang gelombang tertentu dapat dilihat pada
Balsam and Saragin (1972).
Banyaknya fluks eritema yang diteruskan oleh tabir surya (Ee) dihitung dengan rumus :
Ee =  (T x Fe).
Sedangkan % transmisi eritema dihitung dengan rumus :
Ee
 (T  Fe)
% trans eritema =

Fe

 Fe
b.Penentuan % transmisi pigmentasi
Larutan ekstrak temugiring
dibuat dalam etanol 70 % dengan
konsentrasi 300 μg/ml, lalu serapannya diukur dengan spektrofotometer
48
Universitas Hasanuddin, Makassar
UV-Vis pada panjang gelombang
yang dapat menimbulkan eritema
dan pigmentasi yaitu 292,5 – 372,5
nm.
Transmisi pigmentasi (Tp) dengan
rumus :
Tp = T x Fp
dimana Fp adalah fluks pigmentasi
yang harganya pada panjang
gelombang tertentu dapat dilihat
pada Balsam and Saragin (1972).
Banyaknya fluks pigmentasi yang
diteruskan oleh tabir surya (Ep) dihitung dengan rumus :
Ep =  (T x Fp)
Sedangkan % transmisi eritema
dihitung dengan rumus :
konsentrasi 100, 150, 200, 250 dan
300 μg/ml untuk perhitungan %
eritema dan % pigmentasi disajikan
dalam tabel 2 dan 3.
Tabel 1. Kategori penilaian aktivitas bahan
tabir surya *)
Rentang sinar UV yang
ditransmisi (%)
%
%
eritema
pigmentasi
Sunblock
<1
3-40
Proteksi ekstra
1-6
42-86
Suntan standar
6-12
45-86
Fast tanning
10-18
45-86
*) Sumber : Balsam and Saragin, 1972
Kategori
penilaian
Sesuai dengan hasil perhitungan yang tertera pada tabel 3,
ekstrak temugiring memberikan harga
% Te dan % Tp yang dapat dikategorikan sebagai sunblock total menurut kriteria penilaian Tabel 1. Dengan
demikian secara teoritis ekstrak temugiring pada konsentrasi 100 μg/ml
sudah dapat memberikan perlindungan terhadap radiasi sinar UV
pada kulit. Meskipun demikian masih
diperlukan uji SPF (sun protecting
factor), uji efektivitas secara in vivo
serta usaha formulasinya dengan
paduan bahan alam lainnya.
%transmisi pigmentasi
Ep
 (T  Fp)
=

 Fp
 Fp
Kategori aktivitas bahan tabir
surya kemudian dinilai berdasarkan
% eritema dan % pigmentasi seperti
yang terlihat pada Tabel 1.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan serapan
ekstrak etanol temugiring pada
Tabel 2. Hasil Pengamatan Uji Efektivitas Ekstrak Temugiring Sebagai Tabir Surya
Serapan (A)
Panjang Gelombang
290
292
298
300
302
308
312
318
322
328
332
338
342
348
352
358
362
368
372
100
μg/ ml
0,1959
0,1817
0,1468
0,1376
0,1290
0,1083
0,0983
0,0881
0,0820
0,0747
0,0706
0,0652
0,0619
0,0576
0,0552
0,0520
0,0501
0,0461
0,0444
150
μg/ ml
0,4183
0,3867
0,3100
0,2896
0,2701
0,2249
0,2033
0,1795
0,1669
0,1506
0,1409
0,1278
0,1202
0,1102
0,1044
0,0971
0,0927
0,0870
0,0834
200
μg/ ml
0,3840
0,3553
0,2870
0,2686
0,2510
0,2100
0,1909
0,1695
0,1584
0,1434
0,1354
0,1238
0,1174
0,1090
0,1041
0,0997
0,0956
0,0918
0,0880
250
μg/ ml
0,8264
0,7628
0,7062
0,5671
0,5285
0,4368
0,3931
0,3456
0,3203
0,2873
0,2686
0,2430
0,2283
0,2090
0,1980
0,1860
0,1772
0,1676
0,1598
300
μg/ ml
0,8156
0,7548
0,6079
0,5682
0,5306
0,4422
0,4003
0,3534
0,3286
0,2953
0,2762
0,2498
0,2348
0,2151
0,2038
0,1917
0,1828
0,1736
0,1658
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 10, No. 2 – Juli 2006
49
Tabel 3. Persen transmisi eritema (%Te) dan persen transmisi pigmentasi (%Tp) serta
kategori penilaian
Konsentrasi (μg/ ml)
% Transmisi
Kategori Penilaian
eritema
pigmentasi
Sunblock total
100
0,90
0,96
Sunblock total
150
0,61
0,67
Sunblock total
200
0,56
0,65
Sunblock total
250
0,28
0,35
Sunblock total
300
0,27
0,34
KESIMPULAN
Ekstrak etanol temugiring
bersifat sunblock total berdasarkan
metode pengujian persen transmisi
eritema dan persen transmisi pigmentasi.
SARAN
Diperlukan uji aktivitas lanjut
yaitu uji SPF (sun protecting factor)
dan uji efektivitas secara in vivo serta
usaha formulasinya menjadi bentuk
sediaan kosmetika yang cocok.
DAFTAR PUSTAKA
1. Michael and Irene A., 1977, A
Formulary of Cosmetic Preparation,
Chemical Publishing Co, New York.
2. Wasitaatmadja,S.M., 1977, Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
3. Wilkinson, J.B., 1982, Harry’s Cosmeticology, 7th Edition, Chemical
Publishing, New York.
4. Kardono, L.B.S., 2003, Selected
Indonesian Medical Plants Monographs & Descriptions, Volume I,
PT. Grasindo, Jakarta.
5. Wijayakusuma, H., 2002, Tumbuhan
Berkhasiat Obat Indonesia : Rempah, Rimpang dan Umbi, Milenia
Populer.
6. Hernani., 2002, Tanaman Berkhasiat Antioksidan, Penebar Swadaya,
Jakarta.
7. Windono, T., Wulansari, E.D., dan
Avanti, C., 2001, Kombinasi etil-pMetoksisinamat dan Rutin sebagai
Bahan Tabir Surya, dalam Sinaga,
E., dkk. (Ed.), Kumpulan Makalah
Kongres Ilmiah XIII ISFI, Jakarta.
8. Jellineck, S., 1986, Formulation and
Function Of Cosmetic, Wiley
Interscience, New York, 322, 323.
50
Universitas Hasanuddin, Makassar
UJI LETAL LARVA UDANG FRAKSI-FRAKSI DARI
EKSTRAK ETANOL TANAMAN KINCA
(Feronia Elephantum CORREA)
Mufidah1, Marianti A.Manggau1, Syaharuddin Kasim 1, Mustofa2, Subagus Wahyuono3
1 Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin
2 Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
3 Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada
ABSTRAK
Kinca (Feronia elephantum Correa) adalah tanaman yang banyak ditemui di
Bima, Nusa Tenggara Barat dan oleh masyarakat digunakan untuk mengobati
penyakit infeksi dan tumor. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ketoksikan fraksifraksi yang diperoleh dari ekstrak etanol daun, batang dan buah tanaman kinca
terhadap larva udang Artemia salina. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa
ekstrak etilasetat batang kinca lebih aktif dibandingkan dengan ekstrak lainnya dan
difraksinasi lebih lanjut. Fraksi-fraksi hasil kromatografi kolom ekstrak etilasetat
batang kinca diuji kembali terhadap Artemia salina. Fraksi F btC adalah fraksi batang
yang memiliki toksisitas paling tinggi dengan LC50 30 µg/ml.
Kata kunci : kinca, ekstrak etanol, Artemia salina, toksisitas
PENDAHULUAN
Kinca (Feronia elephantum
Correa) adalah salah satu tanaman
familia Rutaceae dengan kandungan
kimia antara lain 0,015% stigmasterol
pada buah mentah; 0,012% stigmasterol dan 0,01% bergapten pada
daun; 0,016% mermesin pada kayu,
sedangkan pada akar terdapat aurapten, bergapten, isopimpinellin, dan
kumarin lainnya (Morton, 1987). Daun
kinca juga mengandung minyak atsiri
terutama metil klavikol yang mampu
menghambat pertumbuhan beberapa
jenis bakteri dan jamur dengan
menggunakan metode difusi agar
(Garg, 2003). Uji aktivitas antimikroba
ekstrak metanol daun kinca 0,5%
telah dilakukan terhadap bakteri Vibrio
cholerae, Shygella bodii dan E. coli
serta jamur penyebab tinea dan
Candida albicans dengan metode KLT
bioautografi, dan identifikasi golongan
senyawa yang berefek antimikroba
adalah senyawa golongan terpenoid,
flavonoid dan alkaloid (Mufidah dkk.,
2003).
Efek tanaman kinca yang
belum diuji laboratorium maupun klinis
adalah efek antikanker. Pada skrining
toksisitas dengan metode brine
shrimp lethality test terhadap ekstrak
metanol daun kinca dan hasil partisinya menjadi fraksi larut dan tidak
larut n-heksan, diperoleh nilai LC50
berturut-turut 457,48 µg/ml, 371,08
µg/ml dan 40,38 µg/ml (Mufidah,
2004). Hasil ini menunjukkan bahwa
daun kinca memiliki potensi sitotoksik
yang dapat dikembangkan sebagai
bahan antikanker. Suatu bahan dikategorikan toksik apabila mampu
mematikan 50% larva Artemia salina
(LC50) pada konsentrasi kurang dari
1000 g/ml (McLaughlin, et al., 1993).
Tujuan penelitian ini adalah untuk
skrining aktivitas antikanker terhadap
beberapa ekstrak dari bagian-bagian
tanaman kinca dengan metode BST,
dan fraksinasi berdasarkan bioassay
guided isolation terhadap ekstrak
tanaman yang paling aktif terhadap
larva A. salina.
Fraksi aktif yang diperoleh
diharapkan dapat dimurnikan lebih
lanjut sehingga diperoleh senyawa
aktif. Karena pada penelitian ini selalu
diikuti dengan uji aktivitas (bioassay
guided isolation), hasil penelitian diharapkan memiliki nilai kemanfaatan
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 10, No. 2 – Juli 2006
bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan obat dari bahan alam, khususnya yang berkhasiat antikanker.
METODE PENELITIAN
Penyiapan Bahan
Bahan yang digunakan pada
penelitian ini adalah tanaman kinca
(F. elephantum) yang telah dideterminasi di Laboratorium Botani, Jurusan
Biologi, Fakultas MIPA UNHAS,.
Daun, buah dan batang dibersihkan
dan dikeringanginkan dan tidak langsung di bawah sinar matahari, kemudian diserbukkan.
Pembuatan Ekstrak
Bagian tanaman yang telah
diserbukkan diekstraksi secara maserasi dengan etanol selama 3 x 24 jam,
proses maserasi diulangi sebanyak 3
kali, filtrat dikumpulkan lalu diuapkan
dengan evaporator hingga diperoleh
ekstrak etanol kental. Ekstrak etanol
yang diperoleh difraksinasi dengan
menggunakan pelarut dengan tingkat
kepolaran yang berbeda.
Skrining Aktivitas dengan Metode
BST
Uji aktivitas antikanker dengan metode BST seperti yang dilakukan oleh McLaughlin (1993) dengan
menggunakan larva Artemia salina
Leach. Larutan stok dibuat dengan
konsentrasi 10 mg/mL dengan
melarutkan 50 mg sampel dalam 5,0
ml pelarut kloroform-methanol (1:1).
Seri konsentrasi yang dibuat selanjutnya adalah 1, 10, 100, dan 1000 g/ml
air laut. Pembuatan kontrol dilakukan
dengan memasukkan pelarut saja
dengan volume terbesar 500 l.
Pelarut dan sampel dalam vial
diuapkan pada suhu ruangan hingga
habis dan tidak berbau pelarut lagi.
Masing-masing kadar dipersiapkan
dalam 5 vial. Sepuluh ekor larva A.
salina yang diambil secara acak
dimasukkan dalam vial-vial yang telah
berisi sampel ekstrak ataupun kontrol
lalu ditambah air laut hingga volume 5
ml. Senyawa dikatakan aktif apabila
mampu membunuh 50% larva pada
51
konsentrasi uji kurang atau sama
dengan 1000 g/ml.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sampel yang digunakan pada
penelitian adalah daun, batang dan
buah kinca. Masing-masing bahan
dipotong-potong kecil kemudian dikeringkan dalam alat pengering, lalu
dihaluskan untuk memperbesar luas
permukaan sehingga kontak antara
cairan penyari dan sampel lebih
besar. Hal ini akan memudahkan proses penyarian komponen kimia dalam
sampel. Ekstraksi sampel pertama kali
dilakukan dengan pelarut etanol yang
selanjutnya difraksinasi dengan pelarut yang memiliki tingkat kepolaran
berbeda yaitu heksan, etil asetat dan
butanol untuk memisahkan kelompok
senyawa berdasarkan kepolarannya.
Hasil ekstraksi tersebut dapat dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1. Hasil Ekstraksi Daun, Batang dan
Buah Kinca sebagai Bahan Uji
Nama Bahan
Daun kinca
Ekstrak Etanol 96%
Fraksi n-Heksan
Fraksi etil asetat
Fraksi n-butanol
Batang kinca
Ekstrak Etanol 96%
Fraksi n-Heksan
Fraksi etil asetat
Fraksi n-butanol
Buah kinca
Ekstrak Etanol 96%
Fraksi n-Heksan
Fraksi etil asetat
Fraksi n-butanol
Bobot
serbuk
(g)
Bobot
ekstrak
(g)
1000
100
5,2
18,5
20,1
1500
45
2,4
4,1
0,3
2000
100
5,6
6,1
15,6
Masing-masing ekstrak lalu
diuji aktivitasnya terhadap larva udang
Artemia salina, hasilnya disajikan
dalam tabel 2.
Ekstrak etilasetat daun dan
batang kinca serta ekstrak n-butanol
buah kinca yang LC50nya lebih rendah
dibandingkan dengan ekstrak lainnya
kemudian difraksinasi menggunakan
kolom cair vakum.
52
Universitas Hasanuddin, Makassar
Tabel 2. Nilai LC50 masing-masing bahan
uji dari tanaman kinca
LC50
(µg/ml)
Nama bahan uji
Ekstrak Etanol daun kinca
Ekstrak n-Heksan daun kinca
Ekstrak etil asetat daun kinca
Ekstrak n-butanol daun kinca
246,3
198
45,25
92,74
Ekstrak Etanol batang kinca
Ekstrak n-Heksan batang kinca
Ekstrak etil asetat batang kinca
Ekstrak n-butanol batang kinca
183,6
131,99
40,52
55,24
Ekstrak Etanol buah kinca
Ekstrak n-Heksan buah kinca
Ekstrak etil asetat buah kinca
Ekstrak n-butanol buah kinca
71,75
102,46
55,07
28,13
penggabungan
fraksi
dilakukan
berdasarkan bercak yang ditimbulkan
oleh pereaksi cerium (iv) sulfat.
Penampak bercak khusus atau
spesifik dilakukan setelah diperoleh
fraksi paling aktif dengan gambaran
KLT lebih sederhana atau senyawa
murni hasil isolasi. Sehingga diperoleh
gabungan
fraksi
(FbtC1-6)
yang
masing-masing akan diuji lanjut
aktivitasnya untuk menentukan fraksi
mana yang harus diteruskan dengan
isolasi senyawa aktifnya.
Fraksinasi dan Uji Aktivitas Ekstrak
Etilasetat Batang Kinca
Fraksinasi ekstrak etilasetat
batang kinca dilakukan dengan kolom
cair vakum yang menggunakan fase
diam SiO2 dan seri fase gerak yang
dibuat bertingkat, dimulai dari heksan,
heksan-etilasetat dengan berbagai
perbandingan, etilasetat dan etil
asetat-metanol (1 : 1).
Masing-masing hasil fraksi
diuji kembali aktivitasnya terhadap
A.salina. Hasilnya adalah sebagaimana pada tabel 3 berikut ini.
KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :
1. Kinca (Feronia elephantum Correa)
memiliki aktivitas terhadap Artemia
salina Laech, ekstrak etilasetat
batang memiliki aktivitas yang lebih
tinggi dibandingkan dengan ekstrak
buah dan daun.
2. Fraksinasi kolom ekstrak etilasetat
batang menghasilkan 4 fraksi dan
fraksi yang diberi kode FbtC memiliki
aktivitas paling tinggi dengan LC50
30 µg/ml.
3. Fraksinasi kolom terhadap FbtC
menghasilkan 6 subfraksi yang
perlu diuji lebih lanjut aktivitasnya.
Tabel 3.
SARAN
Nilai LC50 Fraksi-Fraksi Batang
Kinca
LC50 (µg/ml)
Fraksi uji
terhadap A.salina
Fraksi FbtA
Fraksi FbtB
Fraksi FbtC
Fraksi FbtD
71,75
92,42
30,82
181,96
Karena Fraksi FbtC memiliki
LC50 terkecil maka difraksinasi lebih
lanjut menggunakan kromatografi
vakum cair.
Sebagian besar komponen senyawa
dalam fraksi ini meredam sinar uv254 nm
dan uv-366 nm. Untuk
melihat
kelengkapan
gambaran
senyawa, maka dilakukan visualisasi
dengan penampak serium (iv) sulfat
dipanaskan 110 0C. Dengan demikian
Perlu dilakukan isolasi lebih
lanjut terhadap subfraksi dari FbtC
hingga diperoleh senyawa aktif.
DAFTAR PUSTAKA
1. Atta-ur-Rahman,
Ciroudhary,
M.I., and Thomson, W.J. 2001.
Bioassay Techniques For Drug
Development. Harword Academic Publisher. Australia,
2. Garg, SC. 2001. Antimicrobial
Activity of The Essential Oil of
Feronia elephantum Correa.
Indian Journal of Pharmaceutical Medicines. 63(2) : 155-7.
3. McLaughlin, J.L., Chang, C.J.,
Smith, D.L., 1993, “Bench top”
bioassay for the discovery of
bioactive natural products: an
update, In: Studies in Natural
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 10, No. 2 – Juli 2006
Products Chemistry (Edited by:
AU Rahman) Elsevier, 383-409
4. McLaughlin, J.L., Rogers, L.L.,
dan Anderson, J.E., 1998, The
Use of Biological Assay to
Evaluate Botanical. Drug Information Journal. Vol. 32. 513524.
5. Meyer, B.N., Ferrigni, N.R.,
Putnam, J.E., Jacobson, L.B.,
Nichols, D.E., McLaughlin, J.L.,
1982, Brine shrimp : A convenient general bioassay for
active plant constituents, Plant.
Med., 45, 31-4
53
6. Mufidah, Sartini, dan Anisa,
N.U., 2003. Uji Daya Hambat
Pertumbuhan Beberapa Mikroba Oleh Ekstrak metanol daun
Kinca
Feronia
elephantum.
Tidak Dipublikasikan.
7. Mufidah, Anisa, N.U., Sartini,
Djide, M.N., dan Alam, G.
2004. Uji ketoksikan ekstrak
metanol, fraksi larut dan tidak
larut n-heksan Feronia elephantum terhadap larva Artemia salina Leach, Majalah Obat
Tradisional Vol. 9 No. 28, AprilJuni 2004.
Universitas Hasanuddin, Makassar
54
Download