UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS PSIKOLOGI AGRESI

advertisement
1
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
AGRESI ANAK YANG TINGGAL DALAM KELUARGA
DENGAN KEKERASAN RUMAH TANGGA
Disusun Oleh :
Nama
: Lili Hartini
NPM
: 10502140
Jurusan
: Psikologi
Pembimbing
: Siti Mufattahah, Psi
Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat
Dalam Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Jakarta
2009
2
JURNAL PENELITIAN
AGRESI ANAK YANG TINGGAL DALAM KELUARGA DENGAN KEKERASAN
RUMAH TANGGA
ABSTRAKSI
Agresi anak yang tinggal dalam keluarga dengan kekerasan rumah tangga
Kekerasan
dalam
rumah
tangga secara umum mengandung
pengertian bahwa sebagai suatu
tindakan yang dimiliki seseorang untk
melukai atau merusak benda milik
korbannya. Dalam hal ini termasuk
didalamnya segala bentuk ancaman,
penggunaan kata-kata kasar, ataupun
segala sesuatu yang mengakibatkan
penderitaan bagi korbannya (dalam
Su’adah, 2005). Adapun bentukbentuk kekerasan dalam rumah
tangga yang biasa terjadi seperti
kekerasan
fisik
yang
berakibat
langsung, kekerasan emosional atau
psikologis yang termasuk didalamnya
penggunaan
kata-kata
kasar,
kekerasan seksual biasanya terjadi
dalam
hubungan
suami
istri,
kekerasan
ekonomi
misalnya
menghambur-hamburkan penghasilan
istri, ataupun kekerasan sosial yang
membatasi pergaulan istri. Dalam hal
ini kekerasan yang terjadi biasa
dilakukan oleh seorang suami kepada
istri atau anaknya.
kejadian yang dialami anak sehingga
anak akan berperilaku sama seperti
orang tuanya.
Kekerasan
dalam
rumah
tangga tersebut akan memiliki dampak
diantaranya dampak fisik seperti
perbuatan yang mengakibatkan rasa
sakit, dampak secara psikologis
seperti
perbuatan
yang
mengakibatkan ketakutan, hilangnya
percaya diri dan atau penderitaan
psikis berat pada seseorang. Dari
beberapa dampak tersebut, maka
kemungkinan akan muncul perilaku
agresi pada anak, dimana perilaku
tersebut
didapat
dari
hasil
pengamatan
dan
pengalaman
Metode yang digunakan dalam
penelitian
ini
adalah
metode
pendekatan studi kasus dengan
subjek penelitian seorang anak
perempuan yang berperilaku agresi,
dimana anak tersebut tinggal dalam
keluarga dengan kekerasan rumah
tangga.
Agresi menurut Moore & Fine
(dalam, Koeswara 1988) adalah
tingkah laku kekerasan secara fisik
ataupun secara verbal terhadap
individu lain atau terhadap objekobjek. Agresi secara fisik meliputi
kekerasan yang dilakukan secara fisik,
seperti
memukul,
menampar,
menendang dan lain sebagainya.
Selain itu agresi secara verbal adalah
penggunaan kata-kata kasar seperti
bego, tolol.
Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan gambaran mengenai
kekerasan dalam rumah tangga dalam
keluarga
subjek,
dan
untuk
mengetahui gambaran perilaku agresi
pada anak yang tinggal dalam
keluarga dengan kekerasan rumah
tangga, selain itu untuk mengetahui
penyebab perilaku agresi anak
tersebut demikian.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa subjek dan significant other
sama-sama mengalami kekerasan
dalam rumah tangga antara lain
kekerasan
fisik
dan
kekerasan
emosional. Subjek setiap hari selalu
2
melihat
kedua
orang
tuanya
bertengkar seperti ketika ayahnya
sedang memukul dan menampar
ibunya, selain itu subjek juga sering
mendengar
bahwa
ayahnya
memanggil ibunya dengan kata-kata
kasar seperti bego atau tolol.
Kekerasan yang dialami subjek tidak
beda jauh dengan ibunya, dimana ia
sering dipukul dengan menggunakan
tangan, dilempari sapu, sendal atau
kaleng, subjek juga sering mendengar
ayahnya memanggil ia dengan katakata bego dan tolol saat ia tidak bisa
mengerjakan PRnya. Dalam hal ini
subjek setiap hari mengalami serta
mengamati kekerasan yang dilakukan
oleh ayahnya kepada ia dan ibunya,
maka hal ini akan berdampak
terhadap perilaku subjek karena anak
yang tinggal dalam keluarga dengan
kekerasan dalam rumah tangga
cenderung memiliki perilaku agresi
yang tinggi. Agresi yang dilakukan
oleh subjek berupa agresi verbal dan
non verbal. Agresi verbal seperti
penggunaan kata-kata kasar yaitu
bego, tolol, tai kucing. Agresi non
verbal seperti memukul. Faktor yang
menyebabkan
terjadinya
perilaku
agresi antara lain proses belajar,
imitasi, penguatan. Proses belajar
yang didapatkan oleh subjek tidak lain
karena seringnya ia melihat serta
mengalami
kekerasan,
sehingga
subjek mulai coba-coba melakukan
agresi. Perilaku agresi yang dilakukan
subjek tersebut, tidak lain meniru
seperti perlakuan ayahnya terhadap
subjek dan ibunya, ternyata perilaku
agresi bagi subjek membawa dampak
yang menyenangkan bagi dirinya,
dimana setiap subjek melakukan
agresi verbal maka teman dan adiknya
akan patuh atau tunduk kepada
dirinya.
Kata kunci : agresi, kekerasan dalam
rumah tangga.
2
BAB I
A. Latar Belakang Masalah
Kekerasan
dalam
rumah
tangga yang tertuang dalam UU RI No
23 Tahun 2004 tentang penghapusan
kekerasan dalam rumah tangga pasal
1 ayat 1 mengatakan bahwa,
kekerasan dalam rumah tangga
adalah setiap perbuatan terhadap
seseorang terutama perempuan, yang
berakibat timbulnya kesengsaraan
atau penderitaan secara fisik, seksual,
psikologis, dan/atau penelantaran
rumah tangga termasuk ancaman
untuk
melakukan
perbuatan,
pemaksaan,
atau
perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum
dalam lingkup rumah tangga. Menurut
Davies (1994) kekerasan dalam rumah
tangga adalah suatu bentuk kekerasan
fisik maupun mental yang dilakukan
oleh pria terhadap pasangannya atau
istrinya yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan baik
secara fisik, seksual, psikologis, atau
penelantaran dalam rumah tangga.
Adapun kekerasan dalam rumah
tangga yang terjadi terhadap anak
menurut Gelles (dalam Newberger,
1982) adalah kondisi klinis dimana
anak mengalami kekerasan dengan
sengaja
melalui
verbal
seperti
penggunaan kata-kata kasar dan non
verbal seperti penyerangan fisik oleh
keluarga atau orang terdekat dari anak
tersebut.
Adapun
bentuk-bentuk
kekerasan dalam rumah tangga yang
biasa terjadi seperti kekerasan fisik
yang berakibat langsung, kekerasan
emosional atau psikologis yang
termasuk didalamnya penggunaan
kata-kata kasar, kekerasan seksual
biasanya terjadi dalam hubungan
suami istri, kekerasan ekonomi
misalnya
menghambur-hamburkan
penghasilan istri, ataupun kekerasan
sosial yang membatasi pergaulan istri.
Dalam hal ini kekerasan yang terjadi
biasa dilakukan oleh seorang suami
kepada istri atau anaknya. Pada kasus
kekerasan dalam rumah tangga,
banyak keluarga yang mengalami
kekerasan dalam rumah tangga tidak
melaporkan kepada pihak yang
berwajib atau pihak yang menangani
kasus tersebut.
Dari keterangan diatas, maka
kekerasan dalam rumah tangga
tersebut akan memiliki dampak
diantaranya dampak fisik seperti
perbuatan yang mengakibatkan rasa
sakit, dampak secara psikologis
seperti
perbuatan
yang
mengakibatkan ketakutan, hilangnya
percaya diri dan atau penderitaan
psikis berat pada seseorang. Dari
beberapa dampak tersebut, maka
kemungkinan akan muncul perilaku
agresi pada anak, dimana perilaku
tersebut
didapat
dari
hasil
pengamatan serta kejadian yang
dialami anak sehingga anak akan
berperilaku seperti orang tuanya.
Agresi menurut Moore & Fine
(dalam, Koeswara 1988) adalah
tingkah laku kekerasan secara fisik
ataupun secara verbal terhadap
individu lain atau terhadap objekobjek. Agresi secara fisik meliputi
kekerasan yang dilakukan secara fisik,
seperti
memukul,
menampar,
menendang dan lain sebagainya.
Selain itu agresi secara verbal adalah
penggunaan kata-kata kasar seperti
bego, tolol. Selain bentuk agresi
tersebut,
ada
faktor
yang
mempengaruhinya dalam perbuatan
agresi diantaranya faktor belajar,
faktor imitasi, faktor penguatan. Agresi
pada anak dapat terbentuk karena
setiap hari anak sering melihat dan
menyaksikan kekerasan dalam rumah
tangga baik secara langsung atau
tidak langsung yang dilakukan ayah
2
terhadap ibu dan anaknya, maka
dalam hal ini anak mengadopsi
perilaku agresinya dari hasil belajar
melalui pengamatan anak kepada
orang tua serta anak dapat meniru
semua tingkah laku orang tua yang
didapatnya dari kekerasan tersebut. Di
lain pihak orang tua tidak menyadari
bahwa pada kenyataannya anak dapat
berperilaku agresi tidak lain dari
tingkah
laku
orang
tua
yang
dipaparkannya setiap hari, akan tetapi
tidak
menutup
kemungkinan
lingkungan tempat tinggal juga dapat
berpengaruh terhadap perkembangan
perilaku agresi anak.
Berdasarkan uraian diatas,
maka penulis tertarik untuk meneliti
atas apa yang terjadi dalam keluarga
tersebut, yaitu meneliti tentang
perilaku agresi anak dalam keluarga
yang mengalami kekerasan rumah
tangga.
B. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran kekerasan
dalam
rumah
tangga
pada
keluarga subjek ?
2. Bagaimana gambaran perilaku
agresi pada subjek yang tinggal
dalam keluarga dengan kekerasan
rumah tangga ?
3. Mengapa perilaku agresi anak
tersebut demikian ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan
dari
diadakannya
penelitian
ini
adalah
untuk
mendapatkan gambaran mengenai
kekerasan dalam rumah tangga dalam
keluarga
subjek,
dan
untuk
mengetahui gambaran perilaku agresi
pada subjek yang tinggal dalam
keluarga dengan kekerasan rumah
tangga, selain itu untuk mengetahui
penyebab perilaku agresi anak
tersebut demikian.
D. Manfaat Penelitian
Pada penelitian ini diharapkan
memiliki dua manfaat yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberikan informasi yang
bermanfaat
terutama
bagi
perkembangan ilmu psikologi,
khususnya psikologi sosial dan
psikologi perkembangan serta
dapat dijadikan bahan referensi
bagi
penelitian
selanjutnya
terutama dalam mengkaji variabel
yang berkaitan dengan kekerasan
dalam keluarga ataupun perilaku
agresi.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat
memberikan
gambaran
kepada masyarakat khususnya
bagi seorang suami atau yang
suka
melakukan
tindakan
kekerasan dalam rumah tangga
terhadap anak dan istrinya agar
jangan
sampai
melakukan
tindakan kekerasan lagi, sebab
kemarahan atau emosi tidak harus
selalu diungkapkan secara fisik
atau dengan emosional, melainkan
berpikir dengan kepala dingin atau
yang lainnya asal tidak melakukan
kekerasan, sehingga diharapkan
dapat menjadi bahan evaluasi
tentang pola asuh yang diterapkan
dan kemungkinan dampaknya
terhadap perilaku anak.
3
BAB II
T INJAUAN PUSTAKA
A. Kekerasan Dalam Rumah Tangga
1. Pengertian kekerasan dalam
rumah tangga
Kekerasan secara umum dapat
didefinisikan sebagai suatu tindakan
yang dimiliki seseorang untuk
melukai atau merusak benda milik
korbannya. Dalam hal ini termasuk
didalamnya segala bentuk ancaman,
penggunaan
kata-kata
kasar,
ataupun segala sesuatu yang
mengakibatkan penderitaan bagi
korbannya (dalam Su’adah, 2005).
Dalam UU RI No 23 Tahun
2004
tentang
penghapusan
kekerasan dalam rumah tangga
pasal 1 ayat 1 mengatakan bahwa,
kekerasan dalam rumah tangga
adalah setiap perbuatan terhadap
seseorang terutama perempuan,
yang
berakibat
timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan
secara fisik, seksual, psikologis,
dan/atau
penelantaran
rumah
tangga termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan,
atau perampasan kemerdekaan
secara melawan hukum dalam
lingkup rumah tangga.
Sedangkan menurut Davies
(1994) kekerasan dalam rumah
tangga
adalah
suatu
bentuk
kekerasan fisik maupun mental yang
dilakukan
oleh
pria
terhadap
pasangannya atau istrinya yang
berakibat timbulnya kesengsaraan
atau penderitaan baik secara fisik,
seksual,
psikologis,
atau
penelantaran dalam rumah tangga.
Adapun
kekerasan
dalam
rumah tangga yang terjadi terhadap
anak
menurut
Gelles
(dalam
Newberger, 1982) adalah kondisi
klinis dimana anak mengalami
kekerasan dengan sengaja melalui
verbal seperti penggunaan kata-kata
kasar dan non verbal seperti
penyerangan fisik oleh keluarga atau
orang terdekat dari anak tersebut.
Berdasarkan
definisi-definisi
diatas, maka yang dimaksud dengan
kekerasan dalam rumah tangga dari
penelitian ini adalah suatu bentuk
kekerasan fisik maupun mental yang
dilakukan oleh pria terhadap istri
atau anaknya yang mengalami
kekerasan dengan sengaja melalui
verbal seperti penggunaan kata-kata
kasar dan non verbal seperti
penyerangan fisik oleh keluarga atau
orang terdekat dari anak tersebut,
yang
berakibat
timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan baik
secara fisik, seksual, psikologis, atau
penelantaran dalam rumah tangga
termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan,
pemaksaan,
atau
perampasan kemerdekaan secara
melawan hukum dalam lingkup
rumah tangga.
2. Bentuk-bentuk kekerasan dalam
rumah tangga
Dalam Sua’dah (2005) terdapat
5 kategori bentuk kekerasan dalam
rumah tangga: fisik, emosional atau
psikologis, seksual, ekonomi, dan
sosial.
a. Kekerasan
fisik:
biasanya
berakibat langsung bisa dilihat
mata seperti memar-memar di
tubuh atau goresan-goresan luka.
b. Kekerasan
emosional
atau
psikologis: tidak menimbulkan
akibat langsung tapi dampaknya
bisa
sangat
memutus-asakan
apabila berlangsung berulangulang. Termasuk dalam kekerasan
emosional ini adalah penggunaan
4
kata-kata kasar, merendahkan,
atau mencemooh.
c. Kekerasan seksual: lebih sulit lagi
dilihat karena tempat kejadiannya
yang sangat tersembunyi, yaitu
dalam hubungan intim suami istri.
Antara lain dalam hubungan seks.
d. Kekerasan ekonomi: misalnya
menjual atau memaksa istri
bekerja sebagai pelacur, atau
menghambur-hamburkan
penghasilan istri untuk bermain
judi,
minum
alkohol,
dan
sebagainya.
e. Kekerasan
sosial:
misalnya,
dengan membatasi pergaulan istri.
Istri dilarang mengikuti kegiatankegiatan di luar rumah.
3. Faktor-faktor terjadinya kekerasan dalam rumah tangga
Beberapa
faktor
pencetus
terjadinya
kekerasan
menurut
Scanzoni (dalam Sua’dah, 2005)
ialah :
a. Faktor
masyarakat:
1)
Kemiskinan, 2) Urbanisasi yang
terjadi disertainya kesenjangan
pendapatan diantara penduduk
kota 3) Masyarakat keluarga
ketergantungan
obat
4)
Lingkungan dengan frekwensi
kekerasan dan kriminalitas tinggi.
b. Faktor keluarga: 1) Adanya
anggota keluarga yang sakit yang
membutuhkan
bantuan
terus
menerus seperti misalnya anak
dengan kelainan mental, orang
tua, 2) Kehidupan keluarga yang
kacau tidak saling mencinta dan
menghargai,
serta
tidak
menghargai peran wanita, 3)
kurang
ada
keakraban
dan
hubungan jaringan sosial pada
keluarga, 4) Sifat kehidupan
keluarga inti bukan keluarga luas.
c. Faktor Individu, Di Amerika
Serikat mereka yang mempunyai
resiko lebih besar mengalami
kekerasan dalam rumah tangga
ialah 1) Wanita yang single,
bercerai atau ingin bercerai, 2)
Berumur 17- 28 tahun, 3)
Ketergantungan obat atau alkohol
atau
riwayat
ketergantungan
kedua zat itu, 4) Sedang hamil,
dan 5) Mempunyai partner dengan
sifat
memiliki
dan
cemburu
berlebihan.
B. Agresi
1. Definisi agresi
Agresi, menurut Baron (dalam
Koeswara, 1988) adalah tingkah laku
individu yang ditujukan untuk melukai
atau mencelakakan individu lain yang
tidak menginginkan datangnya tingkah
laku tersebut. Definisi agresi dari
Baron ini mencakup empat faktor:
tingkah laku, tujuan untuk melukai
atau
mencelakakan
(termasuk
mematikan atau membunuh), individu
yang menjadi pelaku dan individu
menjadi korban, dan ketidakinginan si
korban menerima tingkah laku si
pelaku.
Menurut, Moore & Fine (dalam
Koeswara,
1988)
mendefinisikan
agresi sebagai tingkah laku kekerasan
secara fisik seperti memukul ataupun
secara verbal berupa penggunan katakata kasar terhadap individu lain atau
terhadap objek-objek.
Sedangkan menurut Baron &
Richardson (dalam Krahe, 2005)
agresi segala bentuk perilaku yang
dimaksudkan untuk menyakiti dan
melukai mahluk hidup lain yang
terdorong
untuk
menghindari
perlakuan.
(dalam
Sementara itu, menurut Myers
Sarwono,
2002)
5
mendefinisikan agresi sebagai perilaku
fisik ataupun lisan yang disengaja
dengan maksud untuk menyakiti atau
merugikan orang lain.
Berdasarkan uraian diatas,
maka agresi adalah tingkah laku
kekerasan secara fisik ataupun secara
verbal terhadap individu lain atau
terhadap objek-objek dengan maksud
untuk menyakiti atau merugikan orang
lain.
2. Tipe-tipe dan
perilaku agresi
bentuk-bentuk
Menurut Buss (dalam Myers,
1983), agresi dapat berbentuk verbal
maupun fisik, langsung maupun tidak
langsung, dan aktif maupun pasif.
a. Bentuk verbal dari agresi :
melibatkan usaha untuk menyakiti
orang lain melalui kata-kata, bukan
perbuatan.
b. Bentuk
fisik
dari
agresi
:
melibatkan perilaku tampak (overt)
yang dimaksudkan untuk menyakiti
korban dengan cara tertentu.
c. Bentuk langsung dari agresi :
mengarah perilaku langsung ke
korban.
d. Bentuk tidak langsung dari agresi :
mengarah perilaku melalui sarana
lain atau melebihi serangan
terhadap orang lain atau benda
yang berharga bagi korban.
e. Bentuk aktif dari agresi : Menyakiti
korban
melalui
pelaksanaan
tindakan tertentu.
f. Bentuk pasif dari agresi : Menyakiti
korban
melalui
penahanan
tindakan tertentu.
Walaupun terdapat bermacammacam bentuk perilaku agresi, Murray
(dalam
Hall&Lindzey,
1993)
mengelompokkannya menjadi empat
bentuk, yaitu :
a. Bentuk emosional verbal, meliputi
sikap membenci, baik yang
diekspresikan dalam kata-kata
maupun tidak seperti : marah,
terlibat
dalam
pertengkaran,
mengkritik di depan umum,
mencemooh,
mencaci
maki,
menghina,
menyalahkan,
menertawakan
dan
menuduh
secara jahat.
b. Bentuk fisik bersifat sosial, meliputi
perbuatan
berkelahi
atau
membunuh
dalam
rangka
mempertahankan
diri
atau
mempertahankan
objek
cinta,
membalas
dendam
terhadap
penghinaan,
berjuang
dan
berkelahi untuk mempertahankan
negara, dan membalas orang yang
melakukan penyerangan.
c. Bentuk fisik bersifat anti sosial
(fisik asosial), meliputi perbuatan
perampokkan,
menyerang,
melukai,
membunuh
orang,
berkelahi
tanpa
alasan,
menentang otoritas resmi melawan
atau menghianati negara dan
perilaku
kekerasan
secara
seksual.
3.
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi perilaku agresi.
Menurut Sears dkk (1994) ada
beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi perilaku agresi,
diantaranya :
a. Proses Belajar.
Proses belajar merupakan
mekanisme
utama
yang
menentukan
perilaku
agresi
manusia. Bayi yang baru lahir
menunjukkan perasaan agresi
yang sangat impulsif, tetapi akan
semakin
berkurang
dengan
bertambahnya usia, sehingga akan
mengendalikan dorongan impuls
agresinya secara kuat dan hanya
melakukan agresi dalam keadaan
6
tertentu saja. Perkembangan ini
terutama disebabkan oleh proses
belajar. Menurut teori belajar,
perilaku agresi didapatkan melalui
proses belajar. Belajar melalui
pengalaman, coba-coba (trial and
error), pengajaran moral, instruksi,
dan pengalaman terhadap orang
lain. Oleh karena itu, mempelajari
kebiasaan melakukan perilaku
agresi dalam beberapa situasi dan
menekankan amarah dalam situasi
yang
lain,
bertindak
agresi
terhadap beberapa orang tertentu,
dan tidak terhadap yang lain,
adalah
penting
untuk
mengendalikan perilaku agresi.
b. Penguatan (reinforcement).
Dalam proses belajar atau
pembentukkan suatu tingkah laku,
penguatan
atau
peneguhan
memainkan peranan penting bila
perilaku tertentu diberi ganjaran,
kemungkinan besar individu akan
mengulangi
perilaku
tersebut
dimasa mendatang; bila perilaku
tersebut diberi hukuman, kecil
kemungkinan bahwa ia akan
mengulanginya; begitu pula yang
terjadi
dalam
pembentukan
perilaku agresi. Agresi terbentuk
dan dilakukan berulang kali oleh
individu karena dengan agresinya
itu individu tersebut mendapatkan
hasil
atau
efek
yang
menyenangkan, tindakan agresi
biasanya merupakan reaksi yang
dipelajari,
dan
penguatan
merupakan penunjang agresi yang
utama.
c. Imitasi.
Imitasi adalah proses menuju
tingkah laku model, sehingga
sering disebutkan juga sebagai
modeling. Imitasi yang terjadi
setiap jenis perilaku, termasuk
perilaku agresi. Semua orang, dan
anak
khususnya,
mempunyai
kecenderungan kuat untuk meniru
orang lain. Anak tidak melakukan
imitasi secara sembarangan, tetapi
anak lebih sering meniru tertentu
daripada orang lain. Semakin
penting,
kuasa,
berhasil
seseorang, dan paling sering
ditemui,
semakin
besar
kemungkinan anak dan perilaku
orang tualah yang memenuhi
kriteria
tersebut,
sehingga
merupakan model utama bagi
seorang anak pada masa awal
kehidupannya.
Orang
tua
merupakan sumber penguatan dan
objek imitasi utama, maka perilaku
agresi anak dimasa mendatang
sangat tergantung pada cara
orang tua memperlakukan anak
dan pada perilaku anak itu sendiri.
7
a. Wawancara
konservasional
yang informal.
b. Wawancara dengan pedoman
umum.
c. Wawancara dengan pedoman
standar terbuka.
Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan
tipe
wawancara
dengan menggunakan pedoman
umum.
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dalam bentuk
studi kasus (case study).
2. Subjek Penelitian
a. Karakteristik Subjek
Subjek adalah seorang anak
perempuan yang berumur 10 tahun
yang masih duduk di bangku
sekolah dasar di daerah Pisangan
Timur,
yang
melihat
atau
menyaksikan
serta
mengalami
langsung kekerasan dalam rumah
tangga, sehingga muncul perilaku
agresi karena ia mengalami proses
belajar serta imitasi dari orang
tuanya.
b. Jumlah Subjek
Dalam penelitian ini jumlah
subjek sebanyak satu orang siswa
sekolah dasar dan didukung dengan
satu orang significant other.
Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
a. Observasi Partisipan
b. Observasi Non Partisipan
Berdasarkan jenis - jenis
observasi yang disebutkan di atas,
maka peneliti memutuskan untuk
menggunakan metode observasi
langsung – non partisipan dimana
peneliti
secara
langsung
mengamati dalam kegiatan kegiatan yang dilakukan oleh
subjek yang diteliti walaupun
begitu peneliti tidak melakukan
atau
ikut
berperan
dalam
keseharian subjek ketika diamati
(non partisipan)
2. Wawancara
Alat Bantu Penelitian
Peneliti
menggunakan
beberapa
alat
bantu
dalam
mengumpulkan data penelitian, yaitu:
1.
2.
3.
4.
Panduan wawancara.
Panduan observasi.
Alat perekam.
Alat-alat tulis, seperti pulpen,
pensil, dan kertas untuk mencatat
observasi.
Keakuratan Penelitian
Dalam penelitian ini teknik yang
digunakan adalah teknik pemeriksaan
dengan triangulasi yang memiliki
empat
macam
sebagai
teknik
pemeriksaan
untuk
mencapai
keabsahan, yaitu :
1. Triangulasi data
Menggunakan berbagai sumber
data seperti hasil wawancara, hasil
observasi,
data
sekunder,
significant other, atau juga dengan
mewawancarai lebih dari satu
subjek yang dianggap memiliki
sudut pandang berbeda.
2. Triangulasi pengamat
Adanya pengamat diluar peneliti
yang turut memeriksa
hasil
pengumpulan
data.
Dalam
penelitian ini, Dosen Pembimbing
bertindak
sebagai
pengamat
(expert
judgement)
yang
memberikan masukan terhadap
hasil pengumpulan data.
8
3. Triangulasi teori
Penggunaan berbagai teori, telah
dijelaskan yaitu berbagai teori
tentang kekerasan dalam rumah
tangga
dan
perilaku
agresi
sebagaimana teori ini telah
dijelaskan pada bab II untuk
digunakan
dan
menguji
terkumpulnya data.
4. Triangulasi metode
Penggunaan berbagai metode
untuk meneliti suatu hal seperti
metode Analisis Intra Kasus
(Within-case), seta penggunaan
metode observasi dan wawancara
untuk mengumpulkan data.
9
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS
Berdasarkan hasil penelitian
pada subjek dapat disimpulkan
beberapa hal sebagai berikut :
1. Gambaran kekerasan dalam
rumah tangga pada keluarga
subjek.
Dalam kasus ini yang
mengalami kekerasan dalam
keluarga subjek adalah subjek
dan significant other, kekerasan
fisik yang dialami subjek antara
lain subjek sering dipukul oleh
ayahnya
dibagian
kakinya
dengan menggunakan sapu lidi.
Subjek juga pernah dipukul
dengan menggunakan tangan
dan
dilempari
dengan
menggunakan sendal, sapu dan
kaleng. Hal ini biasa terjadi
ketika ayah subjek sedang
marah. Sedangkan kekerasan
fisik yang dialami ibu subjek
adalah ditampar, selain itu
subjek juga pernah melihat
ibunya dilempar sapu oleh
ayahnya.
Kekerasan
fisik
yang
dialami oleh significant other
adalah kekerasan emosional,
dimana ayah subjek selalu
memanggil subjek dan significant
other dengan sebutan bego dan
tolol ketika ayahnya marah dan
ketika
subjek
tidak
bisa
mengerjakan Prnya, disamping
bicara kasar ayah subjek juga
memanggil
significant
other
dengan nada suara yang keras,
karena hal itu membuat ibu
subjek merasa sakit hati. Selain
itu juga bila ayah subjek marah
maka significant other akan
dimarahin terus-menerus.
2. Gambaran perilaku agresi pada
subjek yang tinggal dalam
keluarga dengan kekerasan
rumah tangga.
Perilaku
agresi
yang
dilakukan subjek antara lain,
subjek suka bicara kasar serta
subjek suka memukul. Dalam hal
ini
perilaku
agresi
subjek
tersebut biasa dilakukannya
ketika dan setiap kali subjek
marah atau kesal terhadap
teman atau adiknya, dalam hal
ini terdapat kesamaan ketika
mengobservasi terlihat bahwa
perilaku subjek saat sedang
bermain
dengan
teman
sebayanya,
dimana
subjek
terlihat sedang berbicara kasar
dengan suara agak keras saat
memanggil temannya dengan
kata-kata bego.
Adapun bentuk perilaku
agresi
subjek
yang
biasa
dilakukan seperti agresi verbal
yaitu penggunaan
kata-kata
kasar
yang
biasa
subjek
ucapkan antara lain bego, tolol,
tai
kucing.
Subjek
akan
mengeluarkan kata-kata tersebut
setiap kali ia kesal atau marah
dan apabila ada orang yang
kasar atau jahil terhadapnya. Hal
ini dilakukan oleh subjek karena
ia beranggapan bahwa setiap
orang
marah
pasti
akan
berperilaku
seperti
dirinya.
Agresi lainnya yang dilakukan
subjek adalah agresi fisik,
dimana subjek sering memukul
kepada adiknya, bila adiknya
nakal dan tidak mau menuruti
perintahnya.
Selain
sering
memukul adiknya, subjek juga
akan
memukul
temannya,
apabila temannya itu membuat ia
kesal dan sebal, tetapi dalam hal
ini subjek hanya akan memukul
temannya yang laki-laki karena
bila teman perempuan yang ia
10
pukul maka kemungkinan akan
menangis, dalam hal ini terdapat
kesamaan pada saat observasi
berlangsung
subjek
sedang
memukul punggung temannya
sambil
bercanda
dan
mengatakan bahwa pakaiannya
terlihat kotor.
3. Perilaku agresi anak dapat
terjadi karena adanya faktor
yang mempengaruhinya antara
lain :
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi agresi subjek
diantaranya : 1) Faktor belajar;
subjek sering melihat ayahnya
bertengkar di rumah, maka sejak
dari itu subjek suka bertingkah
laku sama seperti dengan
ayahnya
ketika
di
rumah
contohnya seperti bicara kasar
dan memukul. Selain melihat
perilaku orang tua di rumah,
perilaku agresi subjek dilakukan
karena melihat dari lingkungan
sekitar
rumahnya
yang
kebanyakan
suka
berbicara
kasar. 2) Faktor penguatan;
selama ini perilaku agresi yang
biasa dilakukan oleh subjek
seperti
bicara
kasar
atau
memukul, dirasakan dampaknya
sangat
menyenangkan
bagi
subjek, karena biasanya setelah
ia bicara kasar dan bersikap
tegas
kepada
teman
dan
adiknya, maka mereka akan
tunduk dan patuh sehingga mau
mengikuti
apa
saja
yang
diperintahkan oleh subjek. 3)
Faktor imitasi; subjek meniru
tingkah laku dari orang tua
terutama ayahnya seperti bicara
kasar dan memukul lantaran
subjek sering melihat kedua
orang
tuanya
bertengkar
dirumah. Selain sering melihat
orang tuanya, subjek juga
meniru orang dewasa di sekitar
rumahnya yang bicara kasar. Hal
ini sesuai dengan pendapat yang
dikemukakan oleh Sears dkk
(1994) ada beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi perilaku
agresi, diantaranya : 1) Proses
belajar merupakan mekanisme
utama
yang
menentukan
perilaku agresi manusia. Menurut
teori belajar, perilaku agresif
didapatkan melalui
proses
belajar.
Belajar
melalui
pengalaman, coba-coba (trial
and error), pengajaran moral,
instruksi,
dan
pengalaman
terhadap orang lain ; 2)
Penguatan, dalam proses belajar
atau
pembentukkan
suatu
tingkah laku, penguatan atau
peneguhan memainkan peranan
penting bila perilaku tertentu
diberi ganjaran, kemungkinan
besar individu akan mengulangi
perilaku
tersebut
dimasa
mendatang;
bila
perilaku
tersebut diberi hukuman, kecil
kemungkinan bahwa ia akan
mengulanginya ; 3) Imitasi,
semua
orang,
dan
anak
khususnya,
mempunyai
kecenderungan
kuat
untuk
meniru orang lain. Anak tidak
melakukan
imitasi
secara
sembarangan, tetapi anak lebih
sering meniru tertentu daripada
orang lain. Semakin penting,
kuasa, berhasil seseorang, dan
paling sering ditemui, semakin
besar kemungkinan anak dan
perilaku orang tualah yang
memenuhi
kriteria
tersebut,
sehingga
merupakan
model
utama bagi seorang anak.
11
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian
pada subjek dapat disimpulkan
beberapa hal sebagai berikut :
1. Gambaran
kekerasan
dalam
rumah tangga dalam keluarga
subjek antara lain kekerasan fisik
yang dialami subjek adalah ia
dipukul dengan tangan dan
dilempar dengan menggunakan
sapu lidi, sendal dan kaleng. Hal
ini biasa terjadi ketika ayah subjek
sedang
marah.
Kekerasan
emosional yang dialami subjek dan
ibunya adalah dipanggil oleh ayah
subjek dengan kata-kata kasar
seperti bego dan tolol dengan
nada suara yang keras dan ini
membuat significant other merasa
sakit hati. Hal ini biasa dilakukan
oleh ayah subjek, bila subjek tidak
bisa mengerjakan PRnya. Selain
itu, ayah subjek akan memarahi
ibu subjek terus-menerus ketika ia
sedang marah.
2. Perilaku agresi pada anak yang
tinggal dalam keluarga dengan
kekerasan rumah tangga antara
lain subjek suka berperilaku agresi
verbal seperti berbicara kasar
bego dan tolol setiap kali ia kesal
terhadap teman dan adiknya.
Setiap kali subjek menyadari
bahwa ia bicara kasar, maka ia
berjanji untuk tidak mengulanginya
kembali
dengan
cara
ia
menghindar seperti lari. Agresi fisik
seperti memukul yang dilakukan
subjek kepada temannya karena
sering melihat kedua orang tuanya
ketika bertengkar dirumah.
3. Perilaku agresi anak dapat terjadi
antara lain karena faktor belajar.
Subjek sering melihat tingkah laku
orang tua dan orang dewasa yang
berada disekitar rumah subjek.
Dari proses belajar tersebut, maka
subjek melakukan imitasi atau
meniru dari hasil yang ia lihat dari
kehidupan sehari-hari. Subjek juga
merasakan perilaku agresi verbal
yang dilakukannya selama ini
sangat menyenangkan, karena
teman atau adiknya menjadi
tunduk atau patuh terhadapnya.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian
diatas, maka peneliti memberi saran
antara lain :
1. Kepada subjek disarankan untuk
belajar menerima keadaan bahwa
kedua orang tuanya memang tidak
harmonis, disisi lain subjek agar
lebih bisa menjaga emosi serta
tingkah lakunya ketika sedang
kesal agar tidak lagi mengeluarkan
kata-kata kasar atau memukul
kepada siapapun. Subjek juga
harus memberikan contoh yang
baik buat adiknya.
2. Kepada keluarga subjek yang
melakukan kekerasan fisik seperti
memukul atau secara emosional
berbicara kasar agar jangan
melakukan hal tersebut di depan
anak-anak dan melihat dampak
yang terjadi bagi para korbannya,
karena luka fisik bisa disembuhkan
akan tetapi luka batin sulit untuk
disembuhkan. Sikap sabar yang
ditanamkan oleh ibu subjek harus
tetap dijaga dalam mengahadapi
suaminya dirumah.
3. Kepada penelitian selanjutnya,
agar
dapat
mengembangkan
penelitiannya terhadap agresi anak
yang tinggal dalam keluarga
dengan kekerasan rumah tangga
dengan menggali faktor lain,
misalnya pola asuh pada anak
yang tinggal dalam keluarga
dengan kekerasan rumah tangga.
12
DAFTAR PUSTAKA
Davies, M. (1994). Women
violence. London : Zed Books.
and
Hall, Calvin, S & Lindzey, G. (1993).
Psikologi kepribadian 2. Yogyakarta :
Kanisius.
Hidayat, S. (2002). Hubungan perilaku
kekerasan fisik ibu pada
anaknya terhadap munculnya
perilaku agresif pada anak
SLTP, Jurnal provitae volume :
1 Desember (2002). Jakarta :
Fakultas Psikologi Universitas
Taruma Negara & Yayasan
Obor Indonesia.
Heru Basuki, A.M. (2006). Penelitian
kualitatif
untuk
ilmu-ilmu
kemanusiaan dan budaya.
Jakarta:
Universitas
Gunadarma.
Koeswara, E.(1988). Agresi manusia.
Bandung : PT. Eresco.
Krahe, B. (2005). Perilaku agresif.
Jakarta: Pustaka Belajar.
Myers,
D.
G.,
(1983).
Social
psychology. Japan : Mc Graww Hill
Book.
Nevid, J. S, Rathus, S. A, & Grene. B.
(2003). Psikologi abnormal.
Edisi Lima. Jilid 2. alih bahasa:
Tim
Fakultas
Psikologi
Universitas Indonesia. Jakarta:
Erlangga.
Newberger. E. H. (1982). Child abuse.
London :
Harvard Medical
School.
Poerwandari,
E.
K.
(1998).
Pendekatan kualitatif dalam
penelitian psikologi. Jakarta:
Lembaga
Pengembangan
Sarana
Pengukuran
dan
Pendidikan Psikologi. Fakultas
Psikologi
Indonesia.
Universitas
Poerwandari,
E.
K.
(2001).
Pendekatan kualitatif untuk
penelitian perilaku manusia.
Jakarta:
Lembaga
Pengembangan
Sarana
Pengukuran dan Pendidikan
Psikologi. Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia.
Sarwono, S. W. (2002). Psikologi
sosial 2: Psikologi kelompok
dan psikologi terapan. Jakarta:
Balai pustaka.
Sua’dah. (2005). Sosiologi keluarga.
Malang : UMM Press.
Sears, D. O., Freedman, J. L dan
Peplau A. L., (1994). Psikologi
sosial Jilid 2. Jakarta Erlangga.
Undang Undang Republik Indonesia.
No 23 Tahun (2004). Tentang
Penghapusan
kekerasan
dalam
rumah
tangga.
Bandung. Citra Umbara.
Yin, R. K. (2003). Studi kasus dan
metode. Jakarta. PT. Raja
Grafindo Persada.
http://www.sekitarkita.com
Download