Gerakan Perempuan dan Representasi Perempuan di

advertisement
Gerakan Perempuan dan Representasi Perempuan di Kota Tasikmalaya
Fitriyani Yuliawati, Noneng Masitoh
Universitas Siliwangi
[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana Gerakan Perempuan dan
Representasi Perempuan di Kota Tasikmalaya. Penelitian ini didasari dari berbagai
problem lemahnya peran perempuan di yang berdampak pada diskriminasi dalam
berbagai aspek kehidupan yang diterima oleh perempuan. Penelitian yang dilakukan di
Kota Tasikmalaya ini diharapkan mampu menggambarkan gerakan perempuan mulai
dari akar rumput dan bagaimana aktor aktor gerakan perempuan merepresentasikan
kepentingan perempuan, baik gerakan perempuan yang berasal dari akar rumput
maupun yang muncul karena bentukan negara. Gerakan Perempuan yang dikaji dalam
penelitian ini adalah organisasi-organisasi yang konsentrasinya pada kepentingan
perempuan di Tasikmalaya. Organisasi yang dimaksudkan harus merupakan organisasi
yang dapat mewujudkan keterwakilan ide, gagasan dan emosional yang mampu merubah
dan memberdayakan perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode penelitian Kualitatif deskriptif. Paradigma ilmu politik yang digunakan
menggunakan teori kritik sosial menggunakan feminisme sebagai pendekatan penelitian.
Sedangkan tekhik analisis menggunakan metode interaktif dan data digali secara
mendalam lewat syarat utama pengetahuan informan akan fokus penelitian (purpose
methode). Penelitian ini menemukan organisasi perempuan di Kota Tasikmalaya sebagai
motor gerakan perempuan sekaligus sebagai wadah representasi perempuan dalam
berbagai aspek terutama representasi politik. Aisyiyah, Persistri, Muslimat NU, Fatayat,
Wanita Katolik dan Wanita PUI merupakan organisasi perempuan yang cukup aktif
menyuarakan kepentingan perempuan dan mampu memberdayakan perempuan meskipun
masih terbatas pada komunitasnya. Diharapkan akan muncul gerakan perempuan yang
efektif menyuarakan suara perempuan dan mampu merevitalisasi peran -peran
perempuan dalam ranah publik.
Kata Kunci: Gerakan Perempuan, Representasi Perempuan.
ABSTRACT
This study aims to determine how the Women's Movement and Women's Representation
in Tasikmalaya. This research is based on the various problems of the weak role of
women in the impact on discrimination in many aspects of life that is acceptable to
women. Research conducted in Tasikmalaya is expected to describe the women's
movement from the grassroots and the women's movement how actors represent women's
interests, women's movement that comes from the grass roots as well as appearing for the
formation of the state. Movement of Women examined in this study are organizations
whose concentration in the interests of women in Tasikmalaya. Organizations that are
intended to be an organization that can realize the representation of ideas, ideas and
emotionally able to transform and empower women. The method used in this research is
descriptive qualitative research methods. The paradigm of political science who used to
use the theory of social critique use feminism as a research approach. While technique
analysis using interactive methods and data be explored in depth through the main
requirement of knowledge of informants will be the focus of research (purpose method).
The research found women's organization in the city of Tasikmalaya as the motor of the
women's movement as well as a forum for the representation of women in various
1
aspects, especially political representation. Aisyiyah, Persistri, NU's Women, Fatayat,
Catholic Women and Women PUI is a women's organization that was active voice the
interests of women and able to empower women, though still limited to the community. Is
expected to emerge the women's movement that effectively amplifying the voices of
women and is able to revitalize the roles of women in the public sphere.
Keywords: Women's Movement, Women's Representation.
PENDAHULUAN
Women Movement atau sering disebut sebagai gerakan perempuan pada
sejarahnya di Indonesia lahir untuk merepresentasikan kepentingan perempuan
dan meningkatkan derajat perempuan Indonesia yang terpuruk karena budaya
patriarki yang melekat pada sebagian besar masyarakat Indonesia telah membuat
perempuan Indonesia banyak sekali yang terpinggirkan dan hanya menjadi
subordinasi dari laki-laki, peran kaum perempuan dalam segala bidang masih
sangat kurang bahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya sendiri. Kendala
utama
disebabkan
oleh
laki-laki dan perempuan dalam memandang dan
memperlakukan perempuan. Budaya patriarkhi di kalangan masyarakat mengakar
dan mendominasi dalam kehidupan. Bahkan dalam lingkungan terkecil seperti
keluarga, nuansa dominasi laki-laki sangat kuat. Hal ini telah terjadi pada wilayah
pedesaan maupun perkotaan, label dan cap yang diberikan pada sosok perempuan
sangat
kental
sebagai
orang
lemah,
tidak
bermanfaat
dan
terbelenggu
ketergantungan telah di doktrin secara turun temurun.
Sebagai kota yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, Tasikmalaya
sejak dahulu sangat memuliakan kedudukan perempuan di masyarakat. Ruang
publik
sangat
perempuan.
terbuka
lebar
dalam memperjuangkan
Gerakan perempuan yang berwujud
hak-hak
dan suara
dalam Ormas-ormas dan
Lembaga swadaya perempuan cukup menjamur, seperti Ikatan Pelajar Putri
Nahdatul Ulama (IPPNU), Aisyiah, Institut Perempuan, Persatuan Islam Istri
Cabang Tasikmalaya, Jamiyyatul Wasliyah, Muslimat NU, Fatayat, Korps HMIWati Kota Tasikmalaya, Perwari dan lainnya. Diantara organisasi-organisasi
tersebut ada yang berbasiskan agama, perjuangan identitas, perkumpulan, dan
lainnya. Organisasi-organisasi
tersebut
dapat dikategorikan sebagai gerakan
2
perempuan yang memainkan peran-peran politik, baik sebagai interest groups,
maupun pressure groups.
Selain
lembaga-lembaga
politik
informal,
tidak
kalah
pentingnya
representasi perempuan dalam lembaga politik formal seperti pejabat publik dan
lembaga pemerintah
lainnya. Namun di Tasikmalaya kondisi tersebut masih
belum terasa sangat signifikan. Selain secara kuantitas perempuan masih sangat
terbatas dalam lembaga legislatif, juga posisinya di Kota Tasikmalaya masih
dianggap hanya sebagai “penghias”.
Kesiapan perempuan untuk maju secara berani mengambil inisiatif dalam
segala kebijakan menyangkut hidupnya dan kebaikan masyarakatnya penting
diartikulasikan, penguatan hak sipil sebagai bangunan kokoh suatu tatanan negara
selayaknya menjadi konsentrasi para aktivis perempuan yang tergabung dalam
gerakan perempuan untuk mendampingi kalangan perempuan yang tertinggal,
karena kita tidak mungkin maju sendirian, sementara para perempuan yang lain
masih tertinggal pengetahuannya dan terbelenggu oleh mitosnya sendiri yang
membelenggu kiprahnya dalam berbagai bidang. Hasilnya saat ini, masih kita
saksikan
masih banyak perempuan terpuruk karena pencapaian mereka dalam
bidang pendidikan masih sangat kecil.
Terbatasnya modal pendidikan itu
membuat terbatasnya lapangan kerja bagi mereka dan ini menimbulkan rentannya
wanita terhadap kekerasan dan penindasan,
Fenomena tersebut
terjadi Kota Tasikmalaya sebagai kota yang terkenal
dengan sebutan Kota „santri‟ karena terkenal dengan keteguhan masyarakatnya
dalam memegang teguh nilai-nilai keagamaan menjadi sangat menarik apabila
diteliti bagaimana agar Pemerintah KotaTasikmalaya dapat lebih memperhatikan
kepentinagn perempuan melalui gerakan perempuan sehingga dapat dibuat suatu
formulasi
kebijakan yang berkeadilan gender sehingga dengan sendirinya akan
menghapus perempuan dari keadaan yang terpinggirkan dan perempuan maupun
laki-laki dapat bekerja/berkarya tanpa adanya sekat-sekat baik itu ruang privat
maupun ruang publik. Berangkat dari latar belakang penelitian di atas, peneliti
menganggap
pentingnya
untuk
mengetahui dan
mengkaji kembali gerakan
3
perempuan yang ada di kota Tasikmalaya bagaimana gerakan perempuan tersebut
berfungsi untuk memberdayakan perempuan itu sendiri.
Penelitian ini menekankn beberapa hal,
Pertama, pentingnya gerakan
perempuan untuk merepresentasikan Kepentingan perempuan dan meningkatkan
kesejahteraan
perempuan, sehingga
gerakan perempuan tidak hanya sebatas
dijadikan komoditas jargon-jargon kepentingan kampanye semata, tetapi ada
capaian-capaian yang akan diraih,
yakni membangun dan memberdayakan
perempuan agar mandiri, dan sejahtera.
Kedua,
Gerakan
perempuan
dengan
semua
kekuatannya
dapat
meminimalisir diskriminasi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, salah
atunya meminmalisir kekerasan terhadap perempuan yang marak terjadi di Kota
Tasikmalaya.
KAJIAN PUSTAKA
Gerakan Perempuan dan Representasi Kepentingan Perempuan
Dalam wacana gerakan sosial, gerakan perempuan dikategorikan sebagai
Gerakan Sosial Baru. Gerakan perempuan merupakan gerakan kebudayaan yang
ditandai oleh sebuah kritik dan transformasi citra perempuan dalam masyarakat
dan oleh lahirnya nilai-nilai etis baru. Menurut de Beaucoir dalam perjalanan
sejarah panjangumat manusia, perempuan dicitrakan sebagai sosok yang lain,
menjadi the second sex. Dan kekuasaan laki laki terhadap perempuan ini telah
diterima sebagai ideology yang hegemonis. Oleh karena itu pendidikan,kultur dan
kesadaran perempuan sebagai bagian Bari masyarakat sipil model Gramsci
menjadi sangat panting dalam memperjuangkan identitas dan hak hak azasi
mereka. Dengan kesadaran kritis ini pula gerakan perempuan terhindar dari
pengaruh dominasi Negara dan ekonomi pasar yang bisa dilihat dariberbagai
indicator yang muncul dalam berbagai interkasi dan hubungan yang dijalin para
aktor gerakan perempuan.
Secara konseptual terdapat empat model representasi yang paling sering
dipraktekan dalam politik
yakni : pertama trusteeship,
maksudnya model
representasi yang lebih menekankan pada pemahaman masalah kelompok tertentu.
4
Jadi siapapun dia, jika dianggap memahami persoalan A bisa dikategorikan
merepresentasikan si A. Kedua, delegation, model representasi yang formal dan
sudah ada panduan-panduan rinci dalam melakukan perwakilannya, contohnya
Duta Besar. Ketiga mandate model, yakni model representasi yang lebih pada
political will yang
dianggap
mampu merepresentasikan kelompok
tertentu,
misalnya Parpol yang dipilih konstituennya karena programnya yang mengena
kelompok tertentu. Keempat, resemblance model, yakni model perwakilan yang
hanya bisa dilakukan hanya oleh satu kepentingan yang sama, kelompok yang
sama, agama yang sama, budaya yang sama atau lainnya, misalnya hanya buruh
yang bisa mewakili buruh, hanya perempuan yang bisa mewakili perempuan.
(Heywood, 2002 : 224-229).
Demokrasi Indonesia selama ini hanya mengedepankan aspek sangat
procedural
bagaimana
dan
bersifat
keterwakilan
umum
keterwakilan
kepentingan
dan
masyarakat,
tidak
berupaya
golongan-golongan
minoritas
terakomodasi salah satunya kepentingan perempuan, meskipun dari segi kuantitas
perempuan lebih banyak jumlahnya dibandingkan laki-laki akan tetapi sedikit
sekali
kebijakan
yang
menyuarakan
kepentingan
perempuan.
Inilah
yang
menyebabkan demokrasi di Indonesia belum berhasil, karena belum mampu
mewakili individu maupun kelompok yang memiliki perbedaan karakter social.
Undang-undang baru tersebut menjadi babak baru mulai diakomodasinya entitas
individu maupun kelompok dalam masyarakat, terutama perempuan.
Salah satu perwujudan dari demokratisasi pada tingkat lokal diperlukan
adanya wadah bagi gerakan perempuan untuk merepresentasikan kepentingan
perempuan, yaitu dengan dibuatnya Pusat Kajian dan Pemberdayaan Perempuan
yang di dukung oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya. Sehingga, dapat menampung
kepentingan perempuan.
Konsep Gender
Diskursus
gender
mempersoalkan terutama,
hubungan sosial,
kultural,
hukum dan politik antara laki-laki dan perempuan. Karena itu, satu hal yang harus
ditegaskan bahwa pemikiran tentang gender, pada intinya hanya ingin memahami,
mendudukkan dan menyikapi relasi laki-laki dan perempuan secara lebih
5
proporsional dan lebih berkeadilan dalam relasi antara keduanya sebagai hamba
tuhan. Seperti dalam hal berpartisipasi Politik dimana menurut Undang-undang
No. 10 tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif dan Undang-undang No. 2 tahun
2008 tentang Partai Politik (Parpol), kuota keterlibatan perempuan dalam dunia
politik adalah sebesar 30%, terutama untuk duduk di dalam parlemen. Bahkan
dalam Pasal 8 Butir d Undang-Undang No. 10 tahun 2008, disebutkan bahwa
penyertaan
sekurang-kurangnya
30%
keterwakilan
kaum perempuan
pada
kepengurusan partai politik pada tingkat pusat sebagai salah satu persyaratan
partai politik untuk selanjutnya dapat menjadi peserta pemilu.
Konsep gender sendiri sebenarnya sangat sederhana walau ia sering
dikaburkan
dengan
pengertian
jenis
kelamin.
Masyarakat
umumnya
mengidentifikasikan gender dengan jenis kelamin (sex). Sebagai langkah awal
perlu ditegaskan bahwa isu gender tidak dapat dipisahkan dari variabel jenis
kelamin; bahkan gender secara sosiologis berawal dari perbedaan jenis kelamin.
Jenis
kelamin
adalah
konsep
biologis
sebagai
identitas
kategorial
yang
membedakan laki-laki (jantan) dan perempuan (betina).
METODE PENELITIAN DAN ANALISIS
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan mendapatkan
data berupa deskripsi ucapan, tulisan, dan perilaku, serta penekanan pada aspek
subjektif yang dapat diamati dari orang-orang (subjek) itu sendiri, ketika temuantemuannya tidak bisa diperoleh dari statistik (kuantitatif). Alasan lain dengan
metode
ini adalah
kemantapan peneliti berdasarkan pengalaman penelitian
sebelumnya. Pendekatan yang dilakukan menggunakan pendekatan feminisme.
Metode ini berangkat dari teori Kritik Sosial yang mengkritik pandangan ilmu
sosial yang seksis dan pada akhirnya melahirkan penelitian yang bias gender.
Rosalind Sydie merumuskan agenda besar metodologi feminis sebagai cara untuk
mencari dasar-dasar keabsahan bagi pengalaman perempuan, dan merumuskan
jalan-jalan untuk mengkonstitusikan pengalaman ini kedalam proses “penemuan”
dan “pendefinisian” realitas (Sydie Rosalind, 1987)
6
Metode ini mengijinkan perempuan mempelajari perempuan dalam proses
interaktif tanpa ada kesenjangan
subjek/objek yang dimunculkan antara peneliti
dan yang diteliti.Judith Lorber menekankan bahwa satu-satunya cara untuk masuk
dan memahami kenyataan yang dialami perempuan adalah dengan peneliti feminis
harus mampu menjadi sahabat dan bukan orang asing bagi informan perempuan.
Agar peneltian yang bersifat sensitif dapat tergali dan mendapatkan jawaban
untuk penelitian.
7
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Sejarah Gerakan Perempuan
Gerakan perempuan di Indonesia dalam sejarahnya telah ada sejak sebelum
Indonesia merdeka, pada fase awal gerakan perempuan lebih bersifat individual
dan lokal. Kartini, Dewi Sartika, Nyi Ageng Serang dan Cut Nyak Dien
merupakan tokoh-tokoh perempuan yang menjadi pionir gerakan perempuan
Indonesia yang melakukan gerakan sosial dan politik melawan penindasan,
diskriminasi,
keterbelakangan
dan
kolonialisme.
Selain
itu,
para
tokoh
perempuan tersebut berusaha melawan monopoli penafsiran laki-laki tentang
kekuasaan. Mewakili sebuah generasi yang terkungkung oleh feodalisme jawa
(adat) dan kolonialisme, kartini mampu melakukan teriakan pertamanya untuk
melawan rasialisme, ekploitasi dan diskriminasi terhadap perempuan.
Dewi Sartika melalui Kautamaan Perempuan pun melakukan gerakan
perempuan untuk melawan kebodohan, dan keterbelakangan perempuan dalam
pendidikan,
poligami,
pernikahan
tidak
sederajat
yang
menimbulkan
penindasan terhadap perempuan padaa saat itu. Setelah fase awal tersebut
muncullah kesadaran kaum perempuan untuk berorganisasi dan berkoalisi pada
era kebangkitan
nasional, organisai perempuan pada masa ini awalnya masih
bersifat primordial dan sangat kental dengan aroma lokal, pada fase ini
organisasi perempuan dapat dikategorikan ke dalam beberapa kelompok,
pertama, gerakan perempuan berbasis keagamaan (islam) seperti kewanitaan
sarekat islam di Garut di bawah pimpinan Siti Fatimah, Wanodyo Oetomo di
Yogyakarta dan Aisyiyah di bawah pimpinan Nyi Ahmad Dahlan, Kedua,
gerakan perempuan berideologi sosialis seperti sarekat rakyat yang melahirkan
tokoh terkemuka seperti Raden Sukaesih dan Munapsih. Yang terakhir,
gerakan perempuan di luar dua gerakan perempuan tersebut yaitu, wanita
Katolik
yang
didirikan
oleh
Maria
Soelastri
Soejadi
Darmasepoetra
Sasraningrat di Yogyakarta.
Pada masa Orde Baru, satu-satunya kepentingan negara itu adalah
“pembangunan. Sambil terus menerus mengecam rejim Orde Lama dan
idiologi anti komunisme, Orba mengkonstruksikan sebuah idiologi gender
8
yang mendasarka diri pada ibusime, sebuah paham yang melihat kegiatan
ekonomi perempuan sebagai bagian dari peranannya sebagi ibu dan partisipasi
perempuan dalam politik sebagai tak layak. Politik gender ini termanifestasikan
dalam dokumen-dokumen negara, seperti GBHN, UU Perkawinan No.1/1974
dan Pnca Dharma Wanita. Organisasi-organisasi peremepuan baru (Dharma
Wanita,
Dharma Pertiwi dan PKK) adalah partner pemerintah dalam
menyebarluaskan ideologi gender ala Orba. Politik gender orde baru berhasil
menghomogenkan perempuan dalam sebuah komunitas apolitis.
Namun demikian gerakan-gerakan bawah tanah mulai muncul dimasamasa akhir pemerintahan Orba. Krisis ekonomi yang akut, memberikan
tekanan yang semakin berat bagi kehidupan soial-ekonomi masyarakat.
Gerakan perempuan mulai muncul dijalan dalam bentuk aksi dan demonstrasi.
Perempuan semakin memperkokoh diri dalam sebuah organisasi sosial-politik,
dari organisasi buruh hingga LSM.
Jatuhnya rejim Orba membawa harapan baru bagi pergerakan perempuan
Indonesia. Sistem pemerintahan yang demokratis dianggap dapat memberikan
iklim baru yang lebih bebas bagi perjuangan perempuan. Di era Reformasi,
kwantitas dan kualitas organisasi perempuan mulai meningkat, demikian juga
dengan agenda dan wacana yang diusungnya. Organisasi perempuan tidak
hanya
menyuarakan
hak-hak
perempuan
tetapi bentuk-bentuk
advokasi
terhadap perempuan yang mengalami permasalahan sosial mulai dilakukan. Di
era ini, gerakan perempuan tak hanya menyuarakan agendanya sendiri seperti
kesataraan gender, poligami, kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah
tangga (KDRT), pelecehan seksual, kesehatan reproduksi tetapi juga mulai
meneriakan kepentingan yang lebih umum dari isu-isu aktual yang muncul di
dunia. Isu-isu seperti HAM, lingkungan atau Global Warming, dan penyebaran
virus HIV Aids telah menjadi agenda pokok gerakan perempuan Indonesia.
Gerakan perempuan pada lingkup internasional juga telah memberikan
perubahan paradigma gerakan perempuan di Indonesia. Hal ini, terjadi tidak
hanya secara nasional namun juga sampai pada daerah-daerah di Indonesia.
Perempuan (terutama yang berpendidikan sampai dengan Perguruan Tinggi)
9
saat ini semakin sadar dan terbuka matanya bahwa perempuan pun mempunyai
bargaining power untuk menyuarakan hak-haknya di hadapan pemerintah.
Gerakan
perempuan
tersebut
dapat
mendorong
pemerintah
untuk
mengeluarkan kebijakan yang pro dengan kaum perempuan terutama pada
masalah kesehatan, pendidikan dan pendapatan.
Studi Gerakan Perempuan di Kota Tasikmalaya
Organisasi Perempuan
Gerakan perempuan
dikategorikan sebagai gerakan sosial baru, gerakan
sosial baru pada tahun 1970-an menampilkan sejumlah ciri dengan kadar yang
baru. Berbeda dengan „politik lama‟ yang didominasi oleh isu kelas dan isu
distribusional, gerakan sosial baru menyoroti isu gender, seksualitas, ras, alam,
dan keamanan (Gaus. F Gerad dalam Handbook Teori Politik, 2012:608). Isu
mengenai gender sampai saat ini masih menjadi isu yang diperjuangkan oleh
perempuan di belahan dunia manapun, masih banyak terjadi ketimpangan dan
diskriminasi
terhadap
kaum
perempuan.
Ketimpangan
dan
diskriminasi
terhadap perempuan berwujud dalam banyak bentuk dan dalam hampir semua
aspek kehidupan. Bentuk diskriminasi yang paling sering terjadi adalah
pembagian peran perempuan yang hanya sebatas peran domestik, dikenal
dengan peran „dapur, sumur dan kasur‟.
Pembagian peran yang diskriminatif tersebut telah membuat perempuan
termarjinalkan dalam hampir semua aspek kehidupan, yaitu, sosial, ekonomi
dan politik. Sejarah berdirinya organisasi perempuan di Indonesia diawali oleh
munculnya kesadaran perempuan untuk tidak lagi berada dalam diskriminasi
dan intimidasi yang seringkali didapat oleh perempuan terutama pada era
penjajahan di Indonesia. Aisyiyah merupakan organisasi perempuan tertua di
Indonesia, organisasi ini didirikan oleh
Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Nyai
Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 19 Mei 1917 bertepatan dengan
peringatan hari Isra Mi‟raj Nabi Muhammad SAW. Kyai Haji Ahmad dahlan
dan istrinya merupakan penanam karakter dasar gerakan „Aisyiyah‟. Anakanak gadis yang baru berusia belasan dididik untuk tidak hanya paham
pengetahuan religius tetapi juga bagaimana peduli dan mengabdi kepada
10
masyarakat luas. Mereka juga dipersiapkan untuk menjadi para pengurus awal
organisasi (2010:18).
Aisyiyah di Kota Tasikmalaya memiliki Visi berikut ini:
1. Berkembangnya islam berkemajuan dalam kehidupan masyarakat khususnya
lingkungan umat islam dimana Aisyiyah berada.
2.
Berkembanganya gerakan pencerahan yang membaawa proses pembebasan,
pemberdayaan, dan pemajuan dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan.
3. Berkembangnya perempuan berkemajuan di lingkungan umat islam dan bangsa
Indonesia maupun ranah global sebagai insan pelaku perubahan menuju
peradaban utama yang cerah dan mencerahkan.
Islam yang berkemajuan menurut Aisyiyah dalam Visi yang pertama adalah jalan
islam yang membebaskan, memberdayakan dan memajukan kehidupan dari segala
bentuk keterbelakangan, ketertindasan, kejumudan dan ketidakadilan hidup manusia.
Aisyiyah di Kota Tasikmalaya melakukan gerakan sesuai dengan visi yang
telah ditetapkan oleh Aisyiyah Pusat, akan tetapi kegiatan yang dilakukan oleh
Aisyiah Kota Tasikmalaya disesuaikan dengan peramasalahan yang terjadi di
Kota Tasikamalaya, hal ini sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan
Hj. Suniawati Kartini, S.IP di bawah ini,
“Aisyiyah di Kota Tasikmalaya memiliki gerakan organisasi
perempuan yang sesuai dengan amanat Aisyiyah pusat kami
melakukan gerakan untuk pemberdayaan perempuan, salah satunya
melakukan pelatihan-pelatihan keahlian bagi para ibu-ibu rumah
tangga, baik itu anggota Aisyiyah maupun bukan, kami juga bekerja
sama dengan BKKBN Provinsi dengan membuat layanan konseling
bagi keluarga yang memerlukan untuk meminimalisir terjadinya
KDRT”
Hal ini sesuai dengan gerakan pencerah Aisyiyah dan gerakan perempuan
berkemajuan dari Aisyiyah, bahwwa yang dilakukan oleh Aisyiyah harus
berguna untuk manusia secara keseluruhan.
11
Selain Aisyiyah, terdapat Organisasi Perempuan yang cukup besar di Kota
Tasikmalaya, yaitu Muslimat NU. Muslimat NU di Kota Tasikmalaya diketuai
oleh Hj. Ai Muhamad. Muslimat NU memiliki Visi dam Misi di bawah ini:
Visi Muslimat NU
Terwujudnya masyarakat sejahtera yang dijiwai ajaran Islam Ahlusunnah wal
jamaah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkemakmuran dan
berkeadilan yang diridloi Allah SWT.
Misi Muslimat NU
1. Mewujudkan masyarakat
Indonesia khususnya perempuan, yang sadar
beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
2. Mewujudkan
masyarakat
Indonesia
khususnya
perempuan,
yang
berkualitas, mandiri dan bertaqwa kepada Allah SWT.
3. Mewujudkan masyarakat
Indonesia khususnya perempuan, yang sadar
akan kewajiban dan haknya menurut ajaran Islam baik sebagai pribadi
maupun sebagai anggota masyarakat.
4. Melaksanakan tujuan Jam‟iyyah NU sehingga terwujudnya masyarakat
adil dan makmur yang merata dan diridhoi Allah SWT.
Sejarah pergerakan wanita NU memiliki akar kesejarahan panjang dengan
pergunulan yang amat sengit yang akhirnya memunculkan berbagai gerakan
wanita baik Muslimat, fatayat hingga Ikatan pelajar putri NU.
Dalam kongres itu, untuk pertama kalinya tampil seorang muslimat NU di
atas podium, berbicara tentang perlunya wanita NU mendapatkan hak yang
sama dengan kaum lelaki dalam menerima didikan agama melalui organisasi
NU. Verslag kongres NU XIII mencatat : “Pada hari Rebo ddo : 15 Juni ’38
sekira poekoel 3 habis dhohor telah dilangsoengkan openbare vergadering
(dari kongres) bagi kaoem iboe, …Tentang tempat kaoem iboe dan kaoem
bapak jang memegang pimpinan dan wakil-wakil pemerintah adalah terpisah
satoe dengan lainnja dengan batas kain poetih.” Sejak kongres NU di Menes,
wanita telah secara resmi diterima menjadi anggota NU meskipun sifat
keanggotannya
hanya
sebagai
pendengar
dan
pengikut
saja,
tanpa
12
diperbolehkan
menduduki
kursi
kepengurusan.
Hal
seperti
itu
terus
berlangsung hingga Kongres NU XV di Surabaya tahun 1940. Dalam kongres
tersebut terjadi pembahasan yang cukup sengit tentang usulan Muslimat yang
hendak menjadi bagian tersendiri, mempunyai kepengurusan tersendiri dalam
tubuh NU. Dahlan termasuk pihak-pihak yang secara gigih memperjuangkan
agar usulan tersebut bisa diterima peserta kongres. Begitu tajamnya pro-kontra
menyangkut
penerimaan
usulan
tersebut,
sehingga
kongres
sepakat
menyerahkan perkara itu kepada PB Syuriah untuk diputuskan.
Kemudian salah satu organisasi perempuan yang cukup
Aktif dalam
gerakan perempuan di Kota Tasikmalaya terdapat Wanita Katolik Republik
Indonesia Cabang Kota Tasikmalaya, Organisasi yang bersifat sosial aktif,
mandiri,
memiliki kekuatan moral dan kemampuan yang handal dalam
menjalankan
karya-karya
pengabdian
untuk
mewujudkan
kesejahteraan
bersama serta menegakkan harkat dan martabat manusia. sebagai salah satu
golongan minoritas di Kota Tasikmalaya hal ini tidak menyurutkan para
anggota Wanita Khatolik RI untuk menjalankan Visi dan Misi organisasinya,
yaitu berikut ini:
Visi
Wanita Katolik RI adalah:
Organisasi yang bersifat sosial aktif, mandiri,
memiliki kekuatan moral dan kemampuan yang handal dalam menjalankan
karya-karya pengabdian untuk
mewujudkan kesejahteraan bersama serta
menegakkan harkat dan martabat manusia
Misi
Wanita Katolik RI adalah:
a. Mengembangkan kemampuan serta memberdayakan seluruh jajaran Wanita
Katolik RI, guna meningkatkan kualitas pengabdian dalam masyarakat.
b. Menghimpun aspirasi dan mengaktualisasikan potensi Wanita Katolik RI
agar karya pengabdian terwujud secara optimal dan berkesinambungan,
13
c. Memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender dalam seluruh dimensi
kehidupan
d. Mengupayakan lingkungan hidup yang seimbang.
Sejarah Wanita Katholik RI diawali oleh perjuangan ibu-ibu pada zaman
Belanda di tahun 1924. Pada waktu itu sekelompok Ibu, yang bukan
perempuan
biasa
tapi
perempuan-perempuan
alumni
Sekolah
Mendut,
memperjuangkan harkat dan martabatnya dengan menunjukkan kepedulian dan
bela rasa terhadap nasib para perempuan buruh pabrik rokok – pabrik cerutu di
wilayah Yogyakarta. Zaman itu perempuan „priyayi‟ dipingit pada usia sangat
muda – tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi apalagi
melakukan tindakan-tindakan di luar batas-batas kesopanan menurut zaman itu.
Akan tetapi Ibu-ibu kita sudah sangat menyadari pentingnya memperjuangkan
nasib para buruh (perempuan). Mereka berjuang dengan mengacu pada Rerum
Novarum, Ensiklik pertama Ajaran Sosial Gereja yang diterbitkan oleh Paus
Leo XIII pada 15 Mei 1891. Ensiklik ini adalah surat terbuka kepada semua
uskup yang diantaranya membahas kondisi kelas pekerja dengan mendukung
hak-hak
buruh
untuk
membentuk
serikat
buruh,
kesejahteraan
umum,
persaudaraan antara yang kaya dan miskin, serta tugas Gereja dalam
membangun keadilan sosial. Demikianlah awal perjuangan dan terbentuknya
Organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia dengan misi yang jelas yaitu
memperjuangkan harkat dan martabat manusia, persis seperti Ajaran Sosial
Gereja pertama tersebut.
Wanita Katholik RI di Kota Tasikmalaya sering melakukan kegiatankegiatan yang bersifat pemberdayaan perempuan, seperti yang diungkapkan
oleh ibu Dewi Untari selaku Ketua Wanita Katholik RI pada tanggal 9 Agustus
2016:
“kami sering melakukan pelatihan-pelatihan keahlian bagi anggota Wanita
Katholik RI agar lebih mandiri, terutama dapat menghasilkan atau
14
menambah penghasilan keluarga. Selain itu, kami sering mengadakan bakti
sosial baik itu yang dilakukan di Panti-Panti Sosial maupun Gereja”
Pernyataan Ketua Wanita Katholik RI tersebut sesuai dengan visi dan
misi dari organisasi Wanita Katholik RI.
Persatuan Islam Istri atau biasa disebut Persistri merupakan organisasi
perempuan selanjutnya di Kota Tasikmalaya yang tidak tegabung dalam
Gabungan Organisasi Wanita Kota Tasikmalaya, Persistri memiliki Visi dan
Misi berikut ini,
Visi
Terciptanya masyarakat perempuan yang berpegang teguh pada syariat islam
berlandaskan Al-Qur‟an dan Assunah.
Misi
Mendidik muslimah hidup berjama‟ah, berimamah, berimarah, tunduk dan taat
kepada nizham jam’iyyah yang sejalan dengan Al-Qur‟an dan Assunah.
Persistri tidak mengikuti Gabungan Orgnisasi Wanita Kota Tasikmalaya
karena menurut Ketua Persistri, yaitu Hj. Ai Kurniasih paada tanggal 7 Agustus
2016:
“kami tidak mengikuti GOW karena kami merasa ada yang tidak sesuai dengan
visi dan misi kami sebgai organisasi perempuan, akan tetapi, hal tersebut
bukan berarti kami mengabaikan gerakan perempuan yang ada di Kota
Tasikmlaya, kami pun sering melakukan kegiatan dan bek erja sama dengan
organisasi perempuang yang lainnya seperti, Aisyiyah kami pun sering
mengadakan kegiatan yang bersifat pemberdayaan perempuan”
Hal ini mempelihatkan gerakan perempuan di Kota Tasikmalaya masih
belum mempunyai arah dan tujuan yang merngkul semua golongan,
bahkan penolakan datang dari bagian golongan yang cukup berpengaruh
di Kota Tasikmalaya.
15
2.2 Representasi Perempuan di Kota Tasikmalaya
Persoalan representasi bukanlah persoalan yang sederhana, karena tentu
banyak pertanyaan kemudian yang terkait dengan kepentingan apa yang
direpresentasikan,
siapa
yang
merepsentasikan
dan
siapa
yang
direpresentasikan. Dalam konteks politik negara-bangsa (nation-state), akan
menjadi tidak sederhana, bahkan mungkin problematik membicarakan 3 unsur
dalam representasi tadi, karena akan terkait dengan kontestasi kepentingan,
pergulatan politik antara yang diwakili dengan yang mewakili dan seterusnya.
Kajian penelitian ini akan banyak membahas tentang keterwakilan perempuan,
baik secara kuantitas pelakunya maupun secara substansi lewat keterwakilan
isu, gagasan, perubahan cara fikir, dalam kerangka untuk memperjuangkan
aspirasi, problematika secara utuh tentang keperempuanan dalam lembagalembaga politik, baik formal maupun informal di Kota Tasikmalaya.
Representasi perempuan dalam lembaga politik formal seperti pejabat
public dan lembaga pemerintah lainnya. Berbagai upaya untuk “melecut”
partisipasi perempuan dalam lembaga politik formal telah ditempuh oleh
pemerintahan seperti melalui upaya kuota 30 % perempuan di kepengurusan
Parpol, dan lembaga politik lainnya. Namun di Tasikmalaya kondisi tersebut
masih belum terasa sangat signifikan. Selain secara kuantitas perempuan masih
sangat terbatas dalam lembaga legislatif, juga posisinya di Kota Tasikmalaya
masih dianggap hanya sebagai “penghias”.
Saat ini di legislatif terdapat 5 anggota dewan periode 2014-2015 yang
merupakan representasi perempuan yakni : Hj, Yoke Yulianti, Eti Guspitawati,
Imas Farmawati, Sri Puspitawati, dan Sindi Wijayanti. Namun dari 5 anggota
dewan tersebut suaranya dianggap banyak kalangan kurang intens dalam
memperjuangkan isu-isu keperempuanan di level Tasikmalaya.
Budaya politik masyarakat Tasikmalaya memang belum percaya penuh
kepada kepemimpinan perempuan.
Walaupun keinginan dan kemampuan
perempuan dalam politik sudah terpenuhi, jika tidak adanya dukungan dari
masyarakat untuk memilihnya pasti tidak akan berhasil. Dukungan dari
16
keluarga, masyarakat dan partai politik bagi perempuan sangat berpengaruh.
Apalagi banyak masyarakat memandang sebelah mata pada kaum perempuan,
perempuan selalu dinomorduakan baik dari segi kemampuan ataupun dari segi
posisi. Hal ini, menjadi tugas gerakan perempuan di Kota Tasikmalaya agar
lebih berperan aktif.
Banyak para caleg perempuan berpendapat bahwa tidak ada kendala dalam
pencalonan, partai politik mereka sangat memudahkan dan mendukung. Tapi
ada juga salah satu caleg perempuan yang mempunyai kendala dari keluarga
dan masyarakat. Sementara dari partai sendiri sangat mendukung sekali, namun
hambatan justru berasal dari keluarga dan masyarakat, karena berprofesi
sebagai mubaligoh jadi banyak masyarakat kurang setuju mencalonkan diri jadi
anggota dewan katanya lebih baik berdakwah saja.
Keterwakilan dalam konteks kajian ini didalamnya menyangkut dua hal
penting,
yakni
:
pertama,
keterwakilan
secara
kuantitas
dan
kedua,
keterwakilan secara substantif. Keterwakilan secara kuantitas dimaknai bahwa
ada pihak dari perempuan yang secara langsung terlibat dalam lembaga politik
dan
menjadi
bagian
dalam
pembuatan
kebijakaan.
Sedangkan
secara
substantive, bagaimana isu-isu permpuan dapat mengemuka, bahkan menjadi
isu utama yang dibicarakan dalam setiap pengambilan kebijakan, baik itu
disuarakan oleh perempuan itu sendiri, mapun laki-laki yang sensitive terhadap
isu-isu kesetaraan gender.
Meskipun demikin secara garis besar, majunaya lima anggota dewan
perempuan daerah Kota Tasikamalaya di atas dalam kancah politik pada
dasarnya ada yang memang sudah dirintis dari organisasi perempuan yang
pernah dijabat hal ini terlihat bahwa munculnya sosok perempuan maju
menjadi
anggota
dewan
karena
para
anggota
dewan
tersebutmemiliki
kesadaran bahwa seorang perempuan pun dapat untuk ikut aktif ambil bagian
berkecimpung dalam bidang politik. Meskipun ada dikotomi antara ruang
privat dan ruang publik bagi kaum perempun yang membuat mereka terpaksa
memilih ruang pivat sebagi pilihan utama karena beranggapan sudah menjadi
kodratnya. Akan tetapi tidak berlaku bagi para anggota dewan perempuan
17
tersebut. Sebagai peremuan mereka tetap dapat eksis membina karir politiknya
demi ikut menjadi pembuat keputusan politik. Mengapa? Karena baginya
perempuan memiliki kebutuhan– kebutuhan khusus yang hanya dapat dipahami
paling baik oleh perempuan sendiri. Kebutuhan – kebutuhan ini meliputi:
a.
Isu-isu kesehatan reproduksi, seperti cara KB yang aman.
b.
Isu-isu kesejahteraan keluarga, seperti harga sembilan bahan pokok
yang terjangkau, masalah kesehatan dan pendidikan anak.
c.
Isu-isu kepedulian terhadap anak, kelompok usia lanjut dan tuna
daksa ( cacat tidak bekerja)
d.
Isu-isu kekerasan seksual.
Keikutsertaan
perempuan
sebagai
pembuat
keputusan
politik
dapat
mencegah diskriminasi terhadap perempuan yang selama ini terjadi dalam
masyarakat, seperti:
a.
Diskriminasi di tempat kerja yang menganggap pekerja laki-laki
lebih tinggi nilainya daripada perempuan. Misalnya penetapan upah yang
berbeda antara laki-laki dan perempuan untuk beban kerja yang sama.
b.
Diskriminasi di hadapan hukum yang merugikan posisi perempuan
misalnya : kasus perceraian.
Budaya patriarki yang melekat pada sebagian besar masyarakat Kota
Tasikmalaya pada gilirannya telah membuat peran perempuan cenderung
terpinggirkan. Hal ini banyak disebabkan oleh konstruksi sosial yang sangat
kuat seperti halnya masyarakat di Indonesia pada umumnya. Konstruksi yang
membentuk
perempuan ada di bawah kontrol laki-laki dengan segala
kelemahan yang ditonjolkan. Label dan cap yang diberikan pada sosok
perempuan sangat kental sebagai sosok yang lemah, tidak bermanfaat dan
terbelenggu ketergantungan telah di doktrin secara turun-temurun sebagai
kebiasaan masyarakat Sunda, khususnya Kota Tasikmalaya.
Dari data di atas dapat dilihat bahwa banyak faktor mengapa kaum
perempuan tertinggal sekali dalam kepengurusan Parpol di Kota Tasikmalaya :
pertama, dalam kancah perpolitikan dalam partai, kaum pria memang jauh
lebih banyak memiliki pilihan untuk menjadi SDM yang bermutu, ketimbang
18
kaum perempuan. Kultur sosial kita masyarakat Kota Tasikmalaya yang
memang masih patriarki dikuatkan dengan kultur pesantren yang lebih
mengangkat posisi laki-laki. Kedua, kaum perempuan dengan perannya sebagai
ibu dan pengurus rumah tangga, dianggap tidak selalu “siap pakai” dalam
mengurusi organisasi, apalgi lembaga-lembaga politik, seperti LSM yang
concern dengan peran-peran Negara, legislative, Parpol dan lembaga politik
lainnya.
Adanya orientasi pemikiran yang berbeda antara laki-laki dan
perempuan, perempuan pola pikirnya lebih internal-eksklusif, sedangkan lakilaki eksternal-inklusif1 . Ketiga, sifat nature dari perempuan dianggap kurang
mendukung dalam urusan politik dan pemerintahan seperti hamil, menyusui,
mengurus anak, menstruasi sehingga harus pikir-pikir dahulu bagi perempuan
masuk dalam institusi politik yang “serba keras”. Keempat, direduksinya isu
nurture sebagai isu nature, artinya masih adanya pandangan bahwa perempuan
berpolitik praktis sebagai sesuatu yang janggal dan diluar kebiasaan, sehingga
tidak
jarang
menimbulkan
minder
dan
menurunkan
semangat
kaum
perempuan. Kelima, superioritas laki-laki yang dalam dataran tertentu akan
merasa tidak nyaman jika istrinya berperan di luar rumah tangga, atau dalam
hal tertentu merasa tersaingi.
Menurut kami sebagai peneliti hak perempuan adalah hak asasi manusia,
karena itu perempuan memiliki hak dan akses yang tidak boleh diperkecil dan
dipinggirkan dari segala hak yang telah ada, terutama dalam berperan di
masyarakat.
Affirmatif
action
jangan
dipahami
sebagai
merendahkan
perempuan, atau menganggap kaum perempuan harus “diberi sesuatu” baru
bisa maju. Pemberian perlakuan khusus tersebut adalah sebagai bentuk upaya
keadilan dan pemberian proporsi pembagian peran, demi kebersamaan dan
kebahagiaan manusia. Perempuan dan laki-laki memang memiliki perbedaan
fisik, di mana laki-laki memiliki fisik yang cenderung lebih kuat, dan wanita
cenderung lebih lemah, namun semua itu diciptakan untuk saling melengkapi
1Internal
ekslusif maksudnya orientasi perempuan setelah menikah lebih cenderung bercita -bcita
jadi istri yang baik, mengurusi rumah tangga, anak, tanpa ada orientasi lebih seperti berkiprah
dalam social-kemasyarakatan. Sedangakan eksternal-inklusif, maksudnya orientasi laki-laki yang
biasanya lebih punya keinginan memiliki peran dan berguna di masyarakat.
19
dan membahagiakan keduanya. Namun kemudian kelemahan fisik wanita tidak
bisa direduksi lewat pengekangan di bidang sosial-kemasyarakatan.
Ada kesan keterwakilan perempuan dalam politik adalah pemberian.
Menurut penulis, istilah “pemberian kesempatan” dan kedudukan yang sama
seperti pada penjelasan Pasal 46 UU No. 39 tahun 1999 tidak pantas dalam
koridor hak asasi manusia. Istilah pemberian berkonotasi tidak natural dan
hakiki terhadap pengertian utuh dari hak asasi manusia. Hak perempuan
bukanlah pemberian atau hadiah dari kaum laki-laki.
Hak
perempuan
bersumber dari Tuhan. Hak perempuan ada dan tumbuh ketika ia dilahirkan ke
dunia sama dengan laki-laki.
``Dalam realitas politik lokal Tasikmalaya, kehidupan kepartaian dan politik
praktis bukanlah sesuatu yang sederhana, membutuhkan kecerdasan dan
ketajaman pemikiran,
juga kemahiran berorganisasi yang dipadu dengan
kebijakan dalam menyikapi segala dinamika yang terjadi dalam partai dan
parlemen (DPRD Kota Tasikmalaya). Konstruksi sosial memang diasosiasikan
perempuan terlalu beresiko jika berkiprah dalam institusi politik yang sarat
dengan
kontestasi dan benturan yang terkadang keras.
Namun,
inilah
kesempatan sekaligus tantangan untuk mampu membijaki tantangan yang ada
tersebut. Satu hal penting yang secepatnya harus dilakukan perempuan
Indonesia saat ini adalah “bersekolah”. “Bersekolah” sambil berkarya, berperan
menjadi aktor politik dalam partai dan parlemen. “Bersekolah” dengan
pelajaran memasuki persaingan (competitive prosess) yang ekstra.
Demokrasi Indonesia selama ini hanya mengedepankan aspek sangat
prosedural dan bersifat keterwakilan umum masyarakat, tidak berupaya
bagaimana
keterwakilan
terakomodasi2 .Inilah
yang
kepentingan
menyebabkan
dan
golongan-golongan
demokrasi
minoritas
di Indonesia
belum
2
Sebenarnya terkait asal usul perwakilan seperti disebut di atas, ada yang disebut Demokrasi Mayoritarian dan
Demokrasi Konsosiasional. Model mayoritarian diberlakukan di hampir keseluruhan negara dunia. Model ini berasumsi
masyarakat plural dan beragam, sehingga harus mampu terepresentasi, maka dibentuklah partai, yang menang dalam
persaingan mengelola kebijakan dengan mutlak (the winner take all). Model ini pada banyak kasus melahirkan Tirani
Mayoritas . Model Konsosiasional merupakan respon terhadap model mayoritarian yang cenderung tidak ‘merangkul’
golongan-golongan lainnya. Diaplikasikan di negara seperti Australia dan Swedia. Menurutnya ada jumlah -jumlah dan
perwakilan-perwakilan dalam anggota parlemen sesuai dengan sosio-kultural negara tersebut (representasi berdasarkan
proporsi), Pemilu adalah cara menetapkan representasi proporsi. Kalah atau tidaknya partai tertentu tetap akan
20
berhasil, karena tidak mampu mewakili individu maupun kelompok yang
memiliki perbedaan karakter sosial. Undang-undang baru tersebut menjadi
babak baru mulai diakomodasinya entitas individu maupun kelompok dalam
masyarakat, terutama perempuan.
KESIMPULAN
Dari kajian-kajian di atas terlihat untuk sementara bahwa : Pertama,
Organisaasi-organisasi
sepenuhnya
perempuan
memiliki wadah
yang
yang
ada
dapat
di
Kota
Tasikmalaya
belum
mempersatukan semua golongan,
sehingga gerakan masih dilakukan sendiri-sendiri oleh organisasi perempuan
masing-masing. secara kuantitas keterwakilan perempuan dalam lembaga politik
formal cukup terwakili dengan munculnya tokoh-tokoh yang menjadi representasi
perempuan dalam lembag politik vital seperti DPRD, lembaga pemerintahan,
beberapa menjadi pemimpin partai politik, baik ketua maupun top leader lainnya,
belum mereka yang aktif di LSM dan Ormas dengan posisi yang strategis,
walaupun secara kuantitas belum mencapai target 30 persen sebagaimana upaya
diskriminasi
substantif,
positif
yang
keberadaan
selama
mereka
ini digembar-gemborkan.
dalam
lembaga-lembaga
Kedua,
secara
tersebut
belum
memberikan implikasi positif yang sangat signifikan. Isu-isu kesetaraan general
mudah menguap dengan mudah. Secara isu, belum mampu menandingi isu
kesetaraan secara umum. Ketiga, keberadaaan GOW Kota Tasikmalaya sebagai
salah
satu
wadah
bersatunya
organisasi-organisasi
perempuan
di
Kota
Tasikmalaya belum maksimal dalam mengkoordinir gerakan perempuan di Kota
Tasikmalaya.
terepresentasi, walau proporsinya beda dengan yang menang, Kritik terhadap model ini melahirkan Tirani Minoritas,
hal ini terjadi keterwakilan ternyata tidak menyangkut keseluruhan dari semua konteks sosial -politik yang ada.
21
DAFTAR PUSTAKA
Anugerah,
Astrid,
2009,
Keterwakilan Perempuan dalam Politik,
Penerbit
Pancuran Alam, Cet II, Jakarta.
Andrew Heywood, 2002, Politics : Second Edition, Palgrave, NY.
Fakih, Mansour. 2010, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta
Fauzia, Amelia, dkk. 2004, Tentang Perempuan Islam: Wacana dan Gerakan,
Gramedia Pustaka Utama dan PPIM UIN, Jakarta.
Miles, Mathew dan A. Huberman. 1992. Analisa Data Kualitatif. UI Press.
Jakarta.
Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya,
Bandung.
Sen, Amartya, 1999, Development as Freedom, Oxford University Press, United
States Of America.
Sutopo, Heribertus, 1996, Metodologi Penelitian Kualitatif, UNS, Surakarta.
Sydie, Rosalind, 1987, Natural Women, Culture Men A Feminist Perspective on
Sociological Theory, Ontario Methanen Publications
Wolf, Naomi, 1993, Fire With Fire : The New Female Power and How to Use It,
Oxford University
22
Sumber Lain :
Agung, Subhan, Yuliawati, Fitriyani, 2013, Representasi Perempuan dalam
Lembaga Politik di Kota Tasikmalaya, Hasil Penelitian Dosen Pemula,
Universitas Siliwangi, Tasikmalaya.
Yuliawati, Fitriyani, Widiastuti, Wiwi, 2014, Gender dan Politik: Analisis
Kemenangan Ade UU Sukaesih dalam Pilkada Banjar 2013, Laporan
Penelitian Universitas Siliwangi, Tasikmalaya.
23
Download