meningkatkan nilai-nilai karakter anak usia dini melalui penerapan

advertisement
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
Halaman 21 – 37
MENINGKATKAN NILAI-NILAI KARAKTER ANAK USIA DINI
MELALUI PENERAPAN METODE PROYEK
(Penelitian Tindakan Kelas pada Anak Kelompok B di TK Negeri Centeh Kecamatan
Batununggal Kota Bandung Tahun Ajaran 2015-2016)
Mimin Hamidah
Pendidikan Anak Usia Dini SPs UPI
E-mail: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini dilakukan berdasarkan permasalahan yang terjadi di TK Negeri Centeh terkait dengan karakter
anak usia dini, terutama dalam nilai tanggung jawab, komunikatif dan kerjasama. Sebagian besar anak
mengalami kesulitan memunculkan perilaku terkait dengan ketiga nilai karakter tersebut. Adapun program
yang diasumsikan dapat meningkatkan nilai-nilai karakter bagi anak usia dini dan digunakan sebagai solusi
dalam penelitian ini adalah metode proyek. Hal tersebut menjadi alasan yang mendasari rumusan masalah
terkait bagaimana penerapan metode proyek dalam meningkatkan nilai-nilai karakter anak kelompok B di TK
Negeri Centeh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan desain penelitian
Elliot. Partisipan dalam penelitian ini yaitu anak di kelompok B TK Negeri Centeh dengan jumlah anak
sebanyak 15 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara
dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif dengan model Miles &
Huberman. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan respon positif yang ditunjukkan oleh anak ketika
pembelajaran dengan metode proyek dilaksanakan. Kemunculan perilaku anak dalam nilai tanggung jawab,
komunikatif dan kerjasama pada akhir siklus mengalami peningkatan yang cuckup baik. Sebagian besar anak
dapat mencapai indikator dengan kategori berkembang sesuai harapan dan berkembang sangat baik.
Rekomendasi yang dapat diberikan yaitu hendaknya pendidik mampu melaksanakan pembelajaran melalui
metode proyek secara konsisiten untuk menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak secara holistik,
termasuk dalam penanaman nilai-nilai karakter bagi anak usia dini.
Kata Kunci: Nilai-nilai Karakter, Metode Proyek
dianggap
Pendahuluan
sarana
karakter
dianggap
membentuk
yang
dapat
peserta didik,
belum
karakter
berorientasi
membentuk
siswa
pembentukan
pada
angka/nilai
semata.
Padahal, dalam UU Sisdiknas tahun 2003,
selama ini
maksimal
awal
karakter. Selama ini pendidikan hanya
Lembaga pendidikan sebagai salah
satu
sebagai
Bab II, pasal 3, jelas disebutkan bahwa:
dalam
“Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa,
bertujuan
untuk
berkembangnya potensi peserta
yang
diharapkan. Terdapat beberapa faktor
yang menyebabkan hal ini terjadi, salah
satu diantaranya ialah rendahnya tingkat
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang
21
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung
jawab”.
Halaman 21 – 37
Solehuddin (2000, hal 21) anak memiliki
karakteristik yang jauh berbeda dengan
orang dewasa. Anak cenderung lebih
aktif, dinamis dan memiliki semangat
yang tinggi untuk mencari tahu apa yang
ingin diketahuinya. Sebagai orang dewasa
Pendidikan usia dini merupakan
sudah sepantasnya kita menjadi fasilitator
fondasi awal dalam membentuk karakter
anak.
Namun
demikian,
untuk setiap apa yang menjadi keinginan
dalam
anak. Karena anak adalah individu yang
pelaksanaannya belum mampu berjalan
aktif
secara optimal. Pendidikan usia dini masih
bukan
1 butir 14 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, dijelaskan bahwa:
menyalahi hakikat pendidikan usia dini
mengembangkan
“Pendidikan usia dini adalah suatu
upaya pembinaan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai
dengan usia enam tahun yang
dilakukan melalui
pemberian
rangsangan pendidikan untuk
membantu
pertumbuhan
dan
perkembangan jasmani dan rohani
agar anak memiliki kesiapan dalam
memasuki
pendidikan
lebih
lanjut”.
bertujuan
semua
potensi
dan
kecerdasan dasar yang dimiliki setiap
anak. Adapun menurut Lickona dalam
J.Abdu
W
(2012,
hal
kita
dini. Dalam UU No. 20 Tahun 2003, pasal
perkembangan anak, sehingga hal ini jelas
seharusnya
sepantasnya
pedidikan yang layak kepada anak sejak
pada pengembangan karakter dan aspek
yang
dinamis
memfasilitasi anak dengan memberikan
berorientasi pada upaya pengembangan
kemampuan akademik semata,
dan
52-53)
mengemukakan bahwa “A child is only
known subtance from which a responsible
adult can be made” Anak-anak adalah
satu-satunya
diketahui
bahan
dapat
bangunan
menbentuk
Berdasarkan pada penjelasan di atas,
yang
secara eksplisit jelas bahwa pendidikan
seorang
usia dini merupakan suatu upaya dalam
dewasa yang bertanggung jawab.
mengembangkan
Anak usia dini adalah individu yang
sedang
menjalani
suatu
seluruh
aspek
perkembangan anak, baik itu jasmani
proses
maupun
pertumbuhan dan perkembangan sangat
rohani.
Selain
itu,
penting
dipahami bahwa setiap anak dilahirkan
pesat dan sangat fundamental bagi proses
membawa
perkembangan selanjutnya (Sudirjo, 2011,
potensinya
masing-masing
yang berbeda, karena setiap anak itu
hlm. 27). Hal senada di ungkapkan oleh
22
Vol.3 | No.1 | April 2017
memilliki
Tunas Siliwangi
keunikan
Halaman 21 – 37
masing-masing.
kesulitan mengungkapkan keinginannya
Potensi yang dimiliki anak sejak lahir
atau pendapatnya dan berbicara dengan
tentunya tidak akan berkembang pesat
suara keras dan nada tinggi kepada
tanpa adanya fasilitas yang menunjang
temannya,
untuk setiap potensi yang dimiliki.
pembelajaran maupun saat
Berkaitan dengan hal di atas, upaya
mengembangkan
potensi
anak
baik
saat
melakukan
bermain.
Selain itu, anak juga masih belum mampu
perlu
melakukan
kegiatan
secara
bersama,
adanya sebuah kesadaran secara kolektif,
mendominasi
suatu
kegiatan
dalam
khususnya guru
pembelajaran,
masih
terlihat
berebut
yang harus mampu
menjalankan peran dan fungsinya dengan
mainan, dan belum dapat bergiliran.
baik.
Keadaan ini sering terjadi hampir setiap
Dalam
hal
melaksanakan
ini
tugas
guru
perlu
profesionalnya
hari,
dan
salah
satu
penyebabnya
dengan mendesain pembelajaran yang
disebutkan dalam Sudarna (2014, hal, 9)
mampu
adalah muatan televisi yang banyak
mengakomodasi
memfasilitasi
berbagai
dan
potensi
yang
menyuguhkan
dimiliki anak, yang selanjutnya akan
kekerasan,
berimbas
Berdasarkan
pada
terbentuknya
karakter
adegan
yang
berbau
seksualitas
dan
mistis.
uraian di atas, salah satu
anak. Menurut Suyadi (2013, hal 3) di
faktor yang diungkapkan oleh ahli yaitu
Indonesia
pendidikan
masih belum optimalnya penanaman nilai
karakter saat ini di rasakan mendesak, hal
karakter dalam pembelajaran bagi anak
ini
maraknya
(Asnidar, 2016). Kondisi ini berdampak
pemberitaan tentang seperti narkotika,
pada pendidikan anak usia dini salah satu
tawuran,
diantaranya
pelaksanaan
dikarenakan
fenomena
protitusi,
pornografi
dan
berbagai penyimpangan lainnya
yang
dianggap
dimasyarakat.
karakter.
permasalahan
rendahnya
tingkat
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang
tidak sesuai dengan norma dan etika
Adapun
ialah
nilai-nilai
sebagai
awal
pembentukan
Permasalahan terkait karakter anak
karakter yang terjadi pada anak usia dini
seperti
berdasarkan hasil observasi penulis di
sebelumnya bukanlah hal yang bisa
lapangan adalah kurangnya kemampuan
dibiarkan begitu saja, mengingat bahwa
anak
anak usia dini
dalam
aspek
tanggung
jawab,
yang
telah
diungkapkan
adalah generasi penerus
komunikatif dan kerjasama. Hal ini dapat
bangsa yang perlu kita bina dan lindungi.
terlihat
Sejak zaman Plato menurut Lickona
dalam
perilaku
anak
ketika
23
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
Halaman 21 – 37
(2013, hal 7) masyarakat yang bijak
karakter pada anak usia dini, adalah salah
menempatkan pendidikan karakter atau
satu jawaban
moral sebagai tujuan sekolah, dengan
moral yang sedang melanda di negara
memberikan pendidikan intelektual seperti
kita. Menurut Damayanti (2014, hlm. 17)
pengetahuan
budi
apabila masa usia dua tahun pertama anak
pekerti dan kesusilaan. Hal inilah yang
sudah mendapatkan cinta, maka sangat
menjadi alasan pentingnya pendidikan
mudah anak tersebut dibentuk menjadi
karakter bagi anak usia dini.
manusia yang berakhlak mulia, dan masa
dibarengi
Kebutuhan
dengan
akan
penanaman
usia
pendidikan nilai bagi generasi bangsa
dirasakan
penting
(Lickona,
dini
untuk mengatasi krisis
adalah
masa
kritis
bagi
pembentukan karakter.
2013)
Lebih lanjut Damayanti (2014, hlm.
terutama setelah melihat dan mencermati
21)
berbagai bentuk penyimpangan tersebut
karakter adalah pendidikan budi pekerti
di atas. Berangkat dari hal tersebut maka
yang
pendidikan karakter sebaiknya masuk
(kognitif), sikap dan perasaan (afektif),
pada ranah terkecil dan dimulai sedini
dan tindakan (aksi). Tanpa ketiga aspek
mungkin agar lahir generasi penerus yang
ini maka pendidikan karakter tidak akan
memilki
kepribadian
dan
efektif. Untuk itu pendidikan karakter
paripurna
sehingga
menjadi
merupakan suatu usaha yang direncanakan
penopang bagi
berkualitas
mampu
bangsa yang hebat,
secara
menyatakan
melibatkan
bahwa
aspek
bersama
pendidikan
pengetahuan
yang
tangguh dan mampu berperan untuk masa
menciptakan
yang akan datang. Melalui pendidikan,
memiliki dasar-dasar pribadi yang baik,
anak
mendapatkan
baik dalam pengetahuan, perasaan dan
kecerdasan intelektual semata, akan tetapi
tindakan. Sedangkan menurut Megawangi
adanya kecerdasan lain yang jauh lebih
(2010, hlm. 23) usia dini merupakan masa
penting,
kritis
bukan
hanya
sehingga
kejujuran,
disiplin,
dalam
generasi
bertujuan
penerus
pembentukan
yang
karakter
tanggung jawab, kerja sama, sosial,
seseorang. akan membentuk pribadi yang
hingga keshalehan akan diperoleh dari
bermasalah dimasa dewasa kelak. Oleh
pendidikan. Oleh karena itu diperlukan
karena itu pendidikan karakter menjadi
salah satu metode
dan strategi yang
hal yang krusial saat ini, dalam upaya
digunakan untuk mencapai tujuan mulia
pecegahan (preventif) untuk bekal anak di
tersebut.
masa yang akan datang.
Adapun
pengembangan
tujuan
penanaman
dari
nilai-nilai
24
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
Halaman 21 – 37
Dalam mengembangkan nilai-nilai
Pelaksaan metode proyek dalam
karakter pada anak usia dini, bukanlah
beberapa penelitian di atas memberikan
perkara
pengalaman
yang
mudah,
selain
harus
belajar
dengan
memperhatikan tumbuh kembang anak
menghadapkan anak dalam persoalan
juga harus memperhatikan karakteristik
sehari-hari yang dapat dipecahkan secara
dan
lain
berkelompok maupun individu dimana
diperlukan suatu metode yang mampu
bahan yang digunakan diorganisasikan
memberikan kesempatan belajar bagi anak
sedemikian rupa sehingga lebih bermakna.
sekaligus
menstimulasi
diharapkan dapat membangun karakter
perkembangan karakter dalam diri anak.
anak, baik itu karakter bekerjasama,
Adapun metode yang disumsikan mampu
disiplin, komunikatif,
menstimulasi
karakter
dll. Hal tersebut sejalan dengan pendapat
proyek.
Masitoh, dkk (2005, hlm. 2000) yang
Penelitian yang telah dilakukan oleh
mengemukakan bahwa tujuan metode
Hasanah
evektifitas
proyek adalah untuk mengembangkan
metode Proyek dan Discovery dalam
kemampuan anak dalam bersosialisasi,
mengembangkan karakter anak usia dini
bekerjasama, tolong menolong, disiplin
didapatkan hasil bahwa pembelajaran
dan aspek moral anak.
melalui
lebih
diperkuat dengan pendapat dari beberapa
memunculkan karakter prilaku berbagi,
ahli bahwa metode proyek merupakan
mengucapkan
bermain
metode yang sejalan dengan kurikulum
bersama, menunggu giliran, menyapa,
yang di anjurkan oleh pemerintah saat ini,
menawarkan bantuan, mengucapkan kata
yakni Kurikulum PAUD 2013.
minat
anak
maaf,
anak,
dengan
mampu
antara
kata
perkembangan
lain
(2012)
metode
tentang
metode
proyek
terima
kasih,
dan mengucapkan kata tolong
dibandingkan pembelajaran
tanggung jawab,
Hal inipun
Berdasarkan penelitian yang telah
Discovery.
di
paparkan
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh
diasumsikan
Yuliana (2013) tentang metode Project
penanaman
Based
diatas
metode
mampu
karakter
proyek
membantu
yang
baik
dan
Learning
pada
pembelajaran
berguna bagi masa yang akan datang,
tematik integratif
dalam
implementasi
seperti
mengenal
rasa
ingin
disiplin,
nilai-nilai karakter, menunjukkan bahwa
tanggung
karakter anak lebih berkembang dalam
kemandirian dan bagaimana mereka harus
pembelajaran tematik integratif melalui
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
penggunaan metode proyek.
Penelitian-penelitian tersebut dijadikan
25
jawab,
aturan,
tahu,
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
Halaman 21 – 37
sebagai landasan awal dalam penerapan
stimulasi terhadap perkembangan karakter
metode proyek, namun perbedaannya
anak.
terletak dari aspek kaakter yang ingin
PAUD
ditingkatkan dan juga metode penelitian
kekeliruan dalam pembelajaran bagi anak.
yang digunakan. Dalam penelitian ini
Salah satu contoh kekeliruan yang terjadi
metode proyek dijadikan sebagai solusi
di
untuk mengatasi permasalahan karakter
pembelajaran yang lebih menekankan
anak
jawab,
pada pengembangan akademik seperti
komunikatif dan kerjasama yang terjadi di
membaca, menulis, dan berhitung tanpa
TK Negeri Centeh tahun Ajaran 2015-
memperdulikan tahapan perkembangan
2016.
anak
dalam
aspek
tanggung
Sayangnya,
masih
lembaga
dan
beberapa
melakukan
PAUD
lebih
lembaga
beberapa
yaitu
jauh
lagi
kegiatan
tanpa
memperhatikan pentingnya pembentukan
karakter pada anak yang justru akan
KAJIAN LITERATUR
1. Pentingnya Penanaman Nilai-nilai
Karakter bagi Anak Usia Dini
memberikan dampak yang buruk bagi
anak kelak (Yusuf, 2012).
Montessori
menyatakan
(Megawangi,
bahwa
2004)
Lickona (2012)
tahapan
tiga aspek komponen karakter dalam diri
perkembangan anak yang paling penting
individu. Adapun komponen tersebut
adalah pada usia enam tahun pertama
dapat digambarkan dalam diagram 1.1
dan usia tersebut merupakan masa paling
tepat
bagi
pembentukan
sebagai berikut:
karakter
seseorang. Hal senada juga diungkapkan
oleh Yaumi (2014) bahwa pada masa usia
dini hal terpenting yang perlu dilakukan
dan merupakan jantung pembelajaran bagi
anak sebagai inti dasar membangun
kesehatan mental/motivasi anak untuk
belajar adalah pembentukan karakter.
Uraian di atas menekankan betapa
pentingnya pembentukan karakter pada
anak
sejak
dini,
dengan
kata
menggambarkan
lain
pembelajaran yang diberikan [ada anak
usia dini hendaknya mampu memberikan
26
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
Halaman 21 – 37
Moral Feeling
Moral Knowing
1. Moral awerennes
2. Knowing moral
Values
3. Perspective-taking
4. Moral reasoning
5. Decision-making
6. Self-knowladge
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Conscience
Self-esteem
Emathy
Loving the good
Self-control
Humility
Moral Action
1. Competence
2. Will
3. habit
Gambar 1.1
Component of Good Character
(Lickona, 2012, hlm. 84)
Berdasarkan
diagram
di
atas
bangsa Indonesia (Direktorat Pembinaan
Pendidikan Anak Usia Dini, 2011). Nilai-
seseorang
dapat
dikatakan
memiliki
karakter
baik,
jika
mampu
nilai
karakter
memanifestasikan tiga komponen karakter
dideskripsikan
di atas, yaitu Moral Knowing, Moral
berikut.
Feeling dan Moral Action. Anak panah
pada
diagram
masing-masing
yang
menghubungkan
komponen
karakter
lainnya dimaksudkan untuk menekankan
sifat
saling
berhubungan
salingmempengaruhi
antara
dan
dapat
masimg-
masimg komponen tersebut. Selain uraian
di atas, terdapat 18 nilai-nilai karakter
yang akan dikembangkan atau ditanamkan
kepada anak-anak dan generasi muda
27
tersebut
dalam
tabel
dapat
sebagai
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
Halaman 21 – 37
Tabel 1.1
Nilai-nilai Karakter pada Individu
No
1
Nilai
Religius
2
Jujur
3
Toleransi
4
Disiplin
5
Kerja Keras
6
Kreatif
7
Mandiri
8
Demokratis
9
Rasa Ingin
Tahu
10
Semangat
Kebangsaan
11
Cinta Tanah
Air
12
Menghargai
Prestasi
13
Bersahabat/
Komunikatif
Cinta Damai
14
15
16
17
Gemar
Membaca
Peduli
Lingkungan
Peduli sosial
Deskripsi
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah
agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
Perilaku yang dilaksanakan pada upaya menjadikan dirinya
sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan,
tindakan, dan pekerjaan
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku,
etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda
dari dirinya.
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada
berbagai ketentuan dan peraturan.
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam
mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta
menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau
hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang
lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak
dan kewajiban dirinya dan orang lain.
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui
lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya,
dilihat, dan didengar
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan
kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan
kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap
bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan
politik bangsa.
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk
menghasilkan sesuai yang berguna bagi masyarakat, dan
mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.
Tindakan yang memperhatikan rasa senang berbicara, bergaul,
dan bekerja sama dengan orang lain.
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain
merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai
bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan
pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan
upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah
terjadi.
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada
28
Vol.3 | No.1 | April 2017
No
Nilai
18
Tanggung
Jawab
Tunas Siliwangi
Halaman 21 – 37
Deskripsi
orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri
sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya),
negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.
mengerjakan proyek untuk menghasilkan
2. Penerapan Metode Poyek untuk Meningkatkan Nilai-nilai Karakter
Anak
sebuah produk (Abidin, 2014, hlm.167).
Pendapat serupa dinyatakan oleh Katz
Metode proyek merupakan salah
satu
bentuk
pembelajaran
menghadapkan
anak
pada
(1994)
yang
proyek
persoalan
secara individu. Dalam referensi berbeda,
menurut Moeslichatoen (2004, hlm. 137)
Katz
berasal dari gagasan Jhon Dewey tentang
dikembangkan
by
oleh
lingkungan mereka sendiri. Dalam proses
metode proyek
belajar
penyelidikan
ini
kesempatan
dengan
anak-anak
untuk
memiliki
mengajukan
pertanyaan, merumuskan teori-teori dan
menghadapkan anak dengan persoalan
memprediksi
sehari-hari yang harus dipecahkan secara
tentang
kemungkinan
jawaban, mencari jawaban atas pertanyaan
kelompok.
mereka, mewawancarai para ahli untuk
Senada dengan uraian di atas Boss
mendapatkan informasi yang relevan,
dan Kraus (2007) dan Simkins, dkk. 2003)
serta mengumpulkan informasi.
mendefinisikan metode proyek sebagai
sebuah
bahwa
fenomena dan peristiwa yang terjadi di
merupakan salah satu cara pemberian
pengalaman
menjelaskan
anak dalam melakukan penyelidikan pada
H.
Killpatrich dalam metode proyek, dan di
jelaskan pula bahwa
(1996)
pembelajaran proyek melibatkan anak-
doing”
William
penyelidikan
kecil, maupun kelompok besar ataupun
(Masitoh dkk, 2005: 200). Metode proyek
learning
merupakan
bahwa
yang dipelajari oleh anak dalam kelompok
baik secara individu maupun berkelompok
“
mengungkapkan
mendalam tentang suatu topik tertentu
sehari-hari yang ada dan harus dipecahkan
konsep
yang
model
pembelajaran
Katz dan Chard (1989, hlm. 21)
yang
digunakan
sebagai
sarana
yang
menkankan
aktivitas
siswa
untuk
bahwa tujuan the Project Approach terdiri
dari empat katagori yaitu, a) memperoleh
pengetahuan
memecahkan berbagai permasalahan dan
mengaplikasikan
pengetahuan
dengan
29
dan
ketrampilan,
b)
meningkatkan kompetensi sosial,
c)
mengembangkan
d)
karakter,
dan
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
Halaman 21 – 37
mengembangkan perasaan yang berkaitan
masng, 3) memupuk semangat gotong
dengan pengalaman sekolah. Agar tujuan
royong diantara anak yang terlibat, 4)
pengajaran
memberikan kesempatan kepada anak
tercapai
dalam
kegiatan
proyek, Moeslichatoen (2004, hal
144)
untuk
mengembangkan
sikap
dan
perlu memperhatikan hal-hal berikut:
kebiasaan dalam melaksanakan pekerjaan
a. Merupakan kegiatan yang bersumber
dengan cermat, 5) mampu mengeksplorasi
dari pengalaman anak sehari-hari
bakat, minat dan kemampuan anak, 6)
dalam lingkungan keluarga.
memberikan peluang kepada setiap anak
b. Kegiatan itu merupakan kegiatan
kompleks,
yang
tidak
baik individual maupun kelompok untuk
mungkin
mengembangkan kemampuan yang telah
dilakukan anak secara perseorangan
dimiliki.
dalam jangka waktu yang telah
Katz
ditetapkan.
pelaksanaan
c. Kegiatan itu merupakan kegiatan
yang
dapat
juga
kegiatan
membagi
proyek
terbagi
kedalam tiga tahapan, yaitu:
membantu
mengembangkan
(1994)
a. Tahap persiapan
kemampuan
Pada tahap persiapan, anak-anak
berpikir dan menalar, kemampuan
dan guru berdiskusi dan memilih topik
bekerja sama dengan anak lain, dan
yang akan diselidiki. Topik dapat
memperluas wawasan anak.
diusulkan oleh anak atau oleh guru.
d. Kegiatan itu cukup menantang bagi
Setelah
topik
telah
dipilih,
guru
anak dalam pengembangan kesehatan
memulai dengan membuat peta konsep,
fisik dan kesejahteraan.
berdasarkan "brainstorming" dengan
e. Kegiatan
itu
dapat
memberikan
anak-anak. Peta konsep dari topik dan
kepuasan masing-masing anak.
subtopik yang terkait digunakan untuk
diskusi. Selama diskusi awal guru dan
Berkaitan
Rachmawati
dengan
(2010,
hal
di
hlm.
atas,
anak-anak berbagi pengetahuan yang
61)
telah
dimiliki,
mengusulkan
mengemukakan bahwa terdapat manfaat
pertanyaan-pertanyaa yang berkaitan
metode proyek bagi anak usia dini
dengan
diantaranya
memberikan
merancang jenis kegiatan yang akan
pengalaman kepada anak dalam mengatur
dilakukan sesuai dengan pertanyaan
dan mendistribusikan kegiatan, 2) belajar
yang diajukan, mengumpulkan media
bertanggung jawab atas pekerjaan masing-
dan sumber belajar yang diperlukan
adalah:
1)
30
topik.
bersama
guru
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
sesuai dengan topik yang dipilih.
Halaman 21 – 37
c. Tahap Kulminasi
Pertanyaan-pertanyaan akan dijawab
melalui
penyelidikan
tahap
atau kegiatan penutup dari proyek.
persiapan
Pada tahap kulminasi ini juga anak
proyek ini, anak-anak juga mengingat
dalam kelompok kecilnya masing-
pengalaman
masing
selanjutnya.
Pada
pada
Kulminasi adalah tahap akhir
tahap
mereka
sendiri
yang
terkait dengan topik.
mengkomunikasikan
pengetahuan dan kemampuan yang
b. Tahap Kerja Lapangan
telah
Tahap kerja lapangan terdiri dari
mereka
mempelajari
peroleh
topik
selama
proyek
kepada
penyelidikan langsung, yaitu dengan
teman kelompok lainnya, guru, anak
kunjungan lapangan untuk menyelidiki
dari kelas lain dan orang tua. Yang
situs, benda, atau peristiwa. Menurut
termasuk dalam tahap ini
Chard
penyusunan dan penyajian laporan,
(Katz
merupakan
1994),
jantung
tahap
dari
ini
kegiatan
dalam
bentuk
adalah
mengkomunikasikan
proyek, dimana anak-anak melakukan
pengetahuan dan kemampuan yang
penyelidikan,
telah mereka peroleh bisa dengan
menggambar
pengamatan,
mengamati
membangun
merekam
mengeksplorasi,
dari
model,
presentasi dramatisasi.
temuannya,
memprediksi,
dan
Metode
membahas pemahaman baru mereka.
Penelitian ini menggunakan metode
Kegiatan ini merupakan tahap kegiatan
penelitian
pemecahan masalah (problem solving)
untuk
menjawab
pertanyaan
(action
research)
model Elliot (Hopkins, 2011). Adapun
yang
jenis
diajukan anak pada tahap sebelumnya.
penelitian
penelitian
Kegiatan yang dilakukan pada tahap
ini
tindakan
menggunakan
kelas.
Penelitian
Tindakan Kelas (PTK), merupakan suatu
ini, yaitu:
1) Kegiatan
tindakan
tindakan untuk memperbaiki suatu proses
penyelidikan
melalui
pembelajaran yang sudah ada agar peroses
observasi, wawancara dengan nara
pembelajaran terjadi peningkatan dan
sumber, dan eksperimen sederhana
mendapatkan
2) Kegiatan konstruksi atau membuat
hasil
yang
optimal.
Tindakan ini dilakukan melalui beberapa
hasil karya yang sesuai dengan
siklus,
topik proyek
mulai
dari
perencanaan
pembelajaran, pelaksanaaan, dan refleksi
3) Dramatisasi atau bermain peran
31
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
hingga mencapai tujuan pembelajaran
yang efektif.
Penelitian
dilaksanakan
di
tindakan
TK
kelas
Negeri
ini
Centeh
Bandung yang beralamat di Jalan Pacar
Nomor 5 Kelurahan Samoja, Kecamatan
Batununggal
Kota
Bandung.
Alasan
pemilihan lokasi penelitian tersebut adalah
karena TK Negeri Centeh Bandung adalah
tempat peneliti bertugas, yang sedikitnya
peneliti sudah mengenal karakteristik
lokasi penelitian, mulai dari lingkungan
sekolah,
anak
didik
maupun
tenaga
pengajar, sehingga proses pelaksanaan
penelitian
diharapkan
dapat
berjalan
optimal. Partisipan dalam penelitian ini
adalah anak pada kelompok B di TK
Negeri Centeh Tahun Ajaran 2015-2016.
Penelitian ini dilaksanakan dalam
tiga siklus, adapun prosedur penelitian
tindakan kelas untuk memperoleh data
tentang proses dan hasil yang dicapai
dalam penelitian ini dilakukan dalam
beberapa tahapan, diantaranya langkah
pertama
adalah
tahap
perencanaan,
implementasi tindakan, observasi,
dan
reffleksi. Prosedur penelitian tersebut
dapat
digambarkan
pelaksanaan
menurut
dengan
siklus
alur
masing-
masing sebagai berikut:
32
Halaman 21 – 37
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
Halaman 21 – 37
Identifikasi Masalah &
Gagasan Umum
Perencanaan Siklus I
(Tindakan 1, 2, dan 3, dst)
Implementasi Siklus I
(Tindakan 1, 2, dan 3, dst)
Observasi Pelaksanaan
Siklus I
Perencanaan Siklus II
(Tindakan 1, 2, dan 3, dst)
Refleksi Siklus I
Observasi Pelaksanaan
Siklus II
Implementasi Siklus II
(Tindakan 1, 2, dan 3, dst)
Perencanaan Siklus III
(Tindakan 1, 2, dan 3, dst)
Refleksi Siklus II
Observasi Pelaksanaan
Siklus III
Pelaksanaan Siklus III
(Tindakan 1, 2, dan 3, dst)
dst.
Refleksi Siklus III
Gambar 1.2
Alur Penelitian Tindakan Kelas Model Elliot
(Hopkins, 2011, hlm. 93)
karakter yang terlihat dialami oleh anak di
Hasil Penelitian
1. Kondisi Awal Karakter Anak Usia
Dini Kelompok B TK Negeri Centeh
Tahun Ajaran 2015-2016 Sebelum
Penerapan Metode Proyek
Kelompok B TK Negeri Centeh antara
lain terkait dengan nilai tanggung jawab,
komunikatif dan kerjasama. Beberapa
Berdasarkan observasi awal yang
anak
dilakukan oleh penulis, permasalahan
terlihat
masih
belum
mampu
mengikuti kegiatan pembelajaran hingga
33
Vol.3 | No.1 | April 2017
selesai,
belum
Tunas Siliwangi
mampu
mengakui
Halaman 21 – 37
melalui
penggunaan
metode
proyek.
kesalahan yang ia perbuat dan terkadang
Proses pelaksanaan metode proyek dalam
masih belum mampu merapihkan kembali
penelitian ini terlebih dahulu diawali
benda yang telah digunakannya. Selain
dengan
itu,
pembelajaran,
dalam
aspek
komunikatif,
anak
penyusunan
rencana
kemudian
dilanjutkan
seringkali belum mampu mengemukakan
dengan proses pelaksanaan pembelajaran
pendapatnya, terkadang enggan menyapa
dan observasi, serta refleksi dari setiap
teman dan belum mampu bertutu kata
tindakan.
dengan santun. Sedangkan dalam aspek
dalam penelitian ini meliputi beberapa
kejasama, anak terkadang belum mampu
tahapan
berkerjasama dengan teman dalam suatu
diungkapkan
kegiatan,
dianataranya sebagai berikut:
beberapa
anak
terkadang
mendominasi kegiatan tertentu dan terlihat
a.
belum mampu menghargai hasil karya
teman.
Beberapa
kondisi
di
Adapun
sesuai
penerapan
dengan
oleh
teori
Katz
proyek
yang
(1994)
Tahap Persiapan
Pada tahap ini guru bersama
atas
anak berdiskusi memilih topik yang
menunjukkan adanya permasalahan terkait
akan dikaji secara mendalam. Terdapat
dengan nilai-nilai karakter anak, hal
tiga topik yaitu terkait berkebun (Tema
tersebut senada dengan penelitian yang
Tanaman), Membuat Makanan Sehat
dilakukan oleh Hasanah (2015) yang
(Tema Makanan) dan Membuat Parcel
menunjukkan bahwa permasalahan nilai-
(Tema Idul Fitri). Dalam tahap ini anak
nilai karakter yang seringkali dialami oleh
membuat peta pemikiran terkait dengan
anak usia dini, salah satunya meliputi
topik yang telah dipilih dan dilakukan
aspek disiplin, kerjasama, tanggung jawab
secara berkelompok.
dan toleransi.
b.
Tahap Kerja Lapangan
Pada tahap kerja lapangan guru
mengajak anak untuk melaksanakan
2. Penerapan Metode Proyek untuk
Meningkatkan Karakter Anak di
Kelompok B TK Negeri Centeh
Tahun Ajaran 2015-2016
Pembelajaran
sebagai
upaya
yang
untuk
kegiatan sesuai dengan rancangan yang
telah dibuat pada tahap persiapan.
Dalam tahap ini anak melakukan
dijadikan
kegiatan berkebun sayuran kacang
meningkatkan
pada tema sayuran, membuat gado-
karakter anak di Kelompok B TK Negeri
gado pada tema makanan dan membuat
Centeh Tahun Ajaran 2015-2016 adalah
parsel hingga berbagi pada anak yang
34
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
Halaman 21 – 37
kurang beruntung pada kegiatan charity
day dalam tema idul fitri.
c.
Tahap Kulminasi
Pada tahap ini anak bersama
dengan guru melakukan refleksi dan
evaluasi terhadap kegiatan proyek yang
telah dilaksanakan oleh anak. adapun
beberapa dokumentasi kegiatan rpoyek
yang
telah
terlaksana
antara
lain
sebagai berikut:
Gambar 1.4
Proyek Membuat Gado-gado
Gambar 1.5
Proyek Membuat Parcel
Gambar 1.3
Proyek Berkebun
3. Karakter Anak Usia Dini Kelompok
B TK Negeri Centeh Tahun Ajaran
2015-2016
Setelah
Penerapan
Metode Proyek
Berdasarkan
observasi
setelah
pelaksanaan metode proyek, karakter anak
di Kelompok B TK Negeri Centeh
mengalami peningkatan yang cukup baik.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
35
Vol.3 | No.1 | April 2017
sebagian
besar
anak
Tunas Siliwangi
berada
dalam
Halaman 21 – 37
mendominasi ketika menyelesaikan tugas
kategori berkembang sesuai harapan dan
bersama dan mampu membantu
berkembang
yang kesulitan.
sangat
baik.
Beberapa
teman
indikator nilai tanggung jawab pada anak
yang
terlihat
diantaranya
mampu
Kesimpulan
mengikuti kegiatan pembelajaran hingga
selesai,
mampu
hingga
selesai,
kesalahan
melaksanakan
mampu
yang
dia
Berdasarkan hasil penelitian dapat
tugas
disimpukan bahwa metode proyek dapat
mengakui
perbuat,
menstimulasi
tidak
karakter anak secara baik. Penerapan
menyalahkan teman atas kesalahannya
pembelajaran melalui
sendiri, mampu membereskan kembali
tanaman,
komunikatif nilai karakter komunikatif
metode khususnya dalam nilai tanggung
jawab,
kata dengan santun, mampu menyapa
nilai-nilai
berteman dengan orang lain, senang
Asnidar.
mampu
mengajak
merupakan
(2016). Penerapan Program
Parenting dalam meningkatkan
Penanaman Nilai-nilai Karakter
Anak Usia Dini. Tesis, UPI.
Tidak Diterbitkan.
bersama-sama,
Damayanti D,
(2014). Panduan
Implementasi
Pendidikan
Karakter
Di
Sekolah.
Yogyakarta. Araska.
mampu berbagi tugas dengan teman,
mampu
anak
karakter
teramati antara lain mampu mengerjakan
mainan
karakter
Daftar Pustaka
kerjasama anak usia dini yang dapat
membereskan
kerjasama,
proyek di TK Negeri Centeh.
teman-temannya.
bersama-sama,
dan
gambaran keberhasilan penerapan metode
mengajak temannya bermain bersama dan
tugas
komunikatif
sehingga dengan kata lain meningkatnya
teman dan guru dengan santun, senang
nilai
ramadhan.
mengalami peningkatan setelah diterapkan
temannya dengan baik, mampu bertutur
indikator
dan
anak yang pada awalnya belum optimal
dengan
santun, mampu mendengarkan pendapat
Sedangkan
makanan
Berdasarkan hasil penelitian, karakter
yang ditunjukkan anak antara lain mampu
oleh
dengan
siklusnya. Tema yang diambil yaitu tema
yang telah digunakan. Dalam aspek
disenangi
siklus
masing-masing lima tindakan untuk setiap
mampu membereskan kembali mainan
pendapatnya
metode proyek
dilakukan dalam tiga
tempat makan setelah digunakan dan
mengemukakan
perkembangan nilai-nilai
teman
untuk
melaksanakan tugas bersama, mampu
menghargai hasil kerja teman, tidak
36
Vol.3 | No.1 | April 2017
Tunas Siliwangi
Hasanah, (2015) Efektifitas
Metode
Proyek Dan Discovery Dalam
Pengembangan Karakter Anak
Usia
Dini
Di
Kabupaten
Sumedang. Jurnal Pedagogik
Pendidikan Dasar 2015, Nomor
3, September 2015
Moeslichatoen, R. (2004). Metode
Pengajaran di Taman Kanakkanak. Jakarta : Rineka Cipta.
Katz (1994). Engaging Children’s Minds:
The Project Approach, new
Jersey: ablex
Kemendiknas.
(2010).
Panduan
Pelaksanaan
Pendidikan
Karakter, [online] Diakses 12
Januari
2015,
dari
www.pendidikankarakter.com/Pa
nduan Pelaksanaan Karakter,pdf
Kesuma,
dkk. (2012). Pendidikan
Karakter Kajian Teori Dan
Praktik di Sekolah. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Kusuma, D. (2007). Pendidikan Karakter:
Strategi Mendidik Anak di Zaman
Global. Jakarta: Grasindo.
Lickona, T. (2012). Character Matters.
Persoalan
Karakter.
(Terjemahan
Juma
Abdu
Wamaungo).
Jakarta:
Bumi
Aksara.
Lickona, T. (2013). Educating
For
Character. Pendidikan karakter.
(Terjemahan Lita S). Bandung:
Nusa Media.
Masitoh,
Halaman 21 – 37
(2005). Pendekatan Belajar
Aktif di Taman Kanak-Kanak.
Jakarta: DEPDIKNAS, Ditjen
Dikti, Dit.PPTK & KPT.
Masitoh, (2007). Strategi Pembelajaran
TK. Jakarta: Univesitas Terbuka.
Megawangi R,
(2010).
Pendidikan
Karakter.
Depok: Indonesia
Heritage Foundation.
37
Download