“STRATEGI MULTI TRACK DIPLOMACY

advertisement
“STRATEGI MULTI TRACK DIPLOMACY DALAM KERJASAMA
EKONOMI INDUSTRI KOREA SELATAN (ROK) TERHADAP
INDONESIA TAHUN 2006-2012”
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh:
Mahyar Diani
NIM: 1110083000015
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Skripsi yang Berjudul:
"STRATEGI MUT TI TRACK DIPLOMACY D ALAM KERJASAMA
EKONOMI INDUSTRI KOREA SELATAN (ROIq TERIIADAP
INDONESIA TAHUN 2006-2012'
1.
Merupakan hasil karya asli saya yang diajukan tmtuk memenuh salah satu
persyaratan memperoleh gelm Strata
I di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Semua sumber yang saya gunakan dalarn penulisan ini telah saya canfumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta3. Jika
di kemudian hari rerbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku
di
Universitas Islam Negeri
QIN)
Syarif
Hidayanrllah Jakarta.
Jakartu 26 September 201 4
6C4BgACF534i'
,61r@l
Mahyar Diani
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI
Dengan
ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:
Nama
NIM
Program
Studi
:
Mahyar Diani
:1110083000015
: Hubungan Intemasional
Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul:
*STRATEGI MULTI TRACK DIPLOMACY DALAM KERJASAMA
EKONOMI IIYDUSTRI KOREA SELATAI\I (ROK) TERIIADAP
INDONESIATAHUN2OM-2oI2"
dan telah memenuhi persyaratan untuk
:
diuji.
Jakart4 26 September 20 I 4
Menyetujui,
Pembimbing,
Mengetahui,
Ketua Progmm Studi,
1.,
+-uL
r"rJoi.erotr." ilbu"o, M.M
Debbie Alfianty, M.Si
1l
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI
SKRIPSI
*STRATEGI MUZTI TMCK DIPLOMACYDN-AM KEzuASAMA EKONOMI
INDUSTRI KOREA SELATAN (ROK) TERHADAP INDONESIA TAHLIN
2006-2012"
oleh
Mahyar Diani
1110083000015
Telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada
tanggal.....Sepember 2014. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat
memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Hubungan
Intemasional.
Sekretaris,
Ketua"
tt/\
Zl^e:
Debbie A.ffianty, M.Si
NIP.
NIP.
Penguji I,
Penguji II,
'w
\
V7
Tauliq Rahman' MA
NIP.
Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulusan pada 6 Oktober 2014
Ketua Program Studi,
Debbie Aflianty, M.Si
111
ABSTRAKSI
Skripsi ini menganalisis strategi multi track diplomacy dalam kerjasama
ekonomi industri Korea Selatan (ROK) dengan Indonesia pada tahun 2006-2012.
Penelitian ini menemukan bahwa hubungan kerjasama ekonomi Korea Selatan
dengan Indonesia sudah cukup lama terjalin sejak tahun 1971, bahkan hubungan
kedua negara cenderung dikatakan semakin meningkat sejak dibentuknya
deklarasi bersama kemiraan strategis (Joint Declaration on Strategic Partnership)
yang kemudian difokuskan kedalam Indonesia-Korea Joint Task Force on
Economic Cooperation (JTF-EC) pada Desember 2006. Melalui strategi multi
track diplomacy maka kesepakatan kerjasama ekonomi industri antara kedua
negara dapat lebih mudah dijalankan. Strategi multi track diplomacy
dilatarbelakangi oleh kepentingan Korea Selatan untuk meningkatkan
perekonomian Korea Selatan, mempertahankan posisinya sebagai negara industri
maju dengan mobilisasi industri Indonesia, dan menyebarkan citra “global
Korea”. Penelitian ini menjelaskan bahwa pelaksanaan strategi multi track
diplomacy yaitu melalui diplomasi government, diplomasi business, diplomasi
communications and media yang dilakukan Korea Selatan terhadap Indonesia
salah satunya diwujudkan dengan keterlibatan perusahaan industri besar Korea
Selatan seperti POSCO dan Arirang World (After School Club).
Kerangka pemikiran yang digunakan dalam skripsi ini adalah konsep
Kepentingan Nasional, Kerjasama Internasional, dan Multi Track Diplomacy
dengan mengutip dari berbagai sumber. Konsep Kepentingan Nasional digunakan
untuk menganalisis kepentingan ekonomi industri Korea Selatan menggunakan
strategi multi track diplomacy, konsep Kerjasama Internasional digunakan untuk
menganalisis sejauh mana kestabilan dan keadaan ekonomi industri Korea Selatan
beserta peluang dan ancaman terhadap keadaan ekonomi industri Korea Selatan
terhadap Indonesia melalui soft power, sedangkan Multi Track Diplomacy
digunakan untuk menganalisis strategi diplomasi soft power dan langkah yang
dilakukan Korea Selatan terhadap pencapaian kepentingan nasionalnya dalam
kerjasama ekonomi industri terhadap Indonesia. Metode penelitian yang
digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan sumber data skunder
dan pustaka. Dari hasil analisis dengan menggunakan tiga konsep tersebut dapat
disimpulkan bahwa strategi multi track diplomacy merupakan kebijakan diplomasi
soft power yang tepat bagi Korea Selatan terhadap Indonesia dalam kerjasama
ekonomi industri tahun 2006-2012 untuk menyebarkan perdamaian dan
mewujudkan kepentingan nasionalnya di abad ke-21, yaitu meningkatkan
pertumbuhan ekonomi industrinya dan memperkuat posisi Korea Selatan sebagai
negara industri maju dunia melalui peran industri besar Korea Selatan di
Indonesia seperti POSCO dan After School Club melalui program Arirang World.
Kata Kunci: Multi track diplomacy, Kepentingan Nasional, Kerjasama
Internasional, Korea Selatan, Indonesia, Joint Declaration, Ekonomi, Industri,
Citra Global Korea, POSCO, Arirang World.
iv
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi ALLAH SWT atas segala nikmat-Nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Strategi Multi Track
Diplomacy Dalam Kerjasama Ekonomi Industri Korea Selatan (Rok)
Terhadap Indonesia Tahun 2006-2012. Skripsi ini dikerjakan demi memenuhi
salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar sarjana pada program studi
Hubungan Internasional.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak mungkin selesai
dengan hasil karya penulis sendiri tanpa ada bantuan baik secara materi, bantuan
bimbingan penulisan, saran, motivasi, tenaga, waktu, dan doa dari berbagai pihak.
Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini:
1. Kepada kedua orang tuaku yang terkasih dan tercinta, ayahanda dan ibunda
(Najamuddin dan Yustuti Erlina S.H) untuk setiap doa, kasih sayang, perhatian,
didikan, ajaran, semangat, motivasi dan segalanya yang tak terbatas
disepanjanng hidup saya. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan mengasihi
kedua malaikat penolongku.
2. Kepada abang saya dan istri (M. Reza Akmal S.H dan Sri Rani Putri Am.Keb),
keponakan cantik Raissa Anindita Akmal, atok H.Ibnu Hajar, andong alm.Hj.
Fauziah, kakek alm.sudin, nenek alm.Surti, dan semua keluarga ku tersayang.
3. Bapak Febri Dirgantara Hasibuan, M.M selaku dosen pembimbing skripsi saya.
Terima kasih atas semua pengetahuan, motivasi, nasihat, dan kesabaran beliau
yang sangat luar biasa dalam membimbing saya menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Armein Daulay, M.Si juga Papa Herman dan Mama Eva atas doa dan
perhatian, semoga Allah SWT selalu menjaga mereka sebagai orang tua ku.
5. Ibu Debbie Affianty, M.Si dan Bapak Agus Nilmada Azmi, M.Si selaku ketua
dan sekretaris program studi Hubungan Internasional UIN Jakarta.
6. Dosen program studi Hubungan Internasional: Bapak Nazaruddin Nst S.H,
M.A, Bapak Adian Firnas, Bapak Faisal Nurdin, Ibu Eva Mushofa, Kak
v
Mutiara Pertiwi, Ibu Dina Afriyanti, Ibu Rahmi Fitriyanti. Terima kasih atas
ilmu yang diberikan selama penulis menuntut ilmu di UIN Jakarta.
7. Sahabat Hubungan Internasional 2010 (Detty, Peni, Uun, Lydia, Defa, Yuri,
Mai, Isti, Zakiya, Dienny, Uni Puput, Rossa, Tisa, Oya, Reza, Nindy, Retno,
Murdok Aulia, Uda Alva, Bg Wahyu, Rian, Rami, Ode, Navis, Edo, Yoga,
Viqry, Dhani, Adam, Farhan, Rafsan, Herman, Aldy, Malo, Rachmad) tidak
satupun kenangan bersama kalian yang akan penulis lupakan. Terima kasih
untuk kebersamaan kita, sukses untuk kita dan seluruh angkatan 2010.
8. Sahabat HMJ HI UIN Jakarta periode 2012-2013, BEM FISIP UIN Jakarta
periode 2012-2013, PMII Komisariat FISIP, Komunitas Mahasiswa Sumatera
Utara (KMSU), HI-A 2010, HI 2008/2009 Indra Ramadhan, Ardhy Dinata,
Dimas Juniarto, Imam Rhozali, Imam Baihaqi, Bagus Aulia, M.Eka, Rajif
Amar, Muhibin, Rizky.A, Affan Akbar, Khairunnisa Lbs, Andi Dian, Nyimas
Diah, Andini, Hudaf.M, Derry.A, Majid Aswaja. Terima kasih kakak senior
atas doa, bantuan, saran, serta motivasi selama ini, sukses selalu untuk kakak.
9. Sahabat cantik kost Griya Aini (Mbak Ar, Mbal Lis, Uni Resti, Nourma, ka
Findri, tata Mutya, teh Icha, amal, ka Hikma, ka Harum, ka Ummu, Ka Aini,
Asmi, Ega, Rahmah, Ka Desi, Nita, Vizel,Vina, Anjar, Bibil).
10. Terkhusus untuk sahabat “Adventure” (R.S Ayu Ramadhana, Alfi Fadli, Edi
Syaputra, M.Rajiv Syarif, Trihilman Hasbi, alm.Reza Hendrik) terima kasih
atas persahabatan yang begitu indah, semoga kita bisa terus saling
mendukung dan meraih masa depan bersama-sama.
11. Sahabat perjuangan MAN Binjai 2010 dan Sahabat kompak KKN GARUDA18 tahun 2014 UIN Jakarta terima kasih untuk kebersamaan kita.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan,
untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi
perbaikan mendatang. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan
menambah ilmu pengetahuan bagi pembacanya, semoga Allah SWT meridhoi dan
dicatat sebagai ibadah disisi-Nya, amin.
Jakarta, 26 September 2014
Mahyar Diani
vi
DAFTAR SINGKATAN
BUMN : Badan Usaha Milik Negara
CES: Consumer Electronik Show
FDI : Foreign Direct Investment
GDP: Gross Domestic Product
GFK: Growth for Knowledge
HAM: Hak Asasi Manusia
IMF: International Monetary Fund
JCC: Joint Commission on Cultural
Cooperation
JSG: Joint Study Group
JTF-EC: Joint Task Force on Economic
Cooperation
JUMP: Job Upgrading and Maturing
Program
IK-CEPA: Indonesia Korea
Conprehensive Economic
Partnership Agreement
KFF: Korean Freedom Federation
KHIS: Korean House for International
Solidarity
KOICA: Korea International
Cooperation Agency
KS : Krakatau Steel
MOFAT: Ministry of Foreign Affairs
and Trade
MOTIE: Ministry of Trade, Industry
and Energy
MoU: Memorandum of Understanding
MNC: Multinational Corporation
OECD: Organization for Economic
Cooperation and Development
PHK: Pemutusan Hubungan Karyawan
POSCO: Pohang Iron and Steel
Company
RI: Republik Indonesia
ROK : Republic of Korea.
SDA: Sumber Daya Alam
SDM: Sumber Daya Manusia
UMR: Upah Minimum Rakyat.
UNESCO:
United Nations Educational,
Scientific, and Cultural Organization
USA: United State of America
UWI: United Way International
WG: Working Group
WLTFM: Working Level Task Force
Meetting
WRC: Worker‟s Rights Consortium
vii
DAFTAR GAMBAR, GRAFIK DAN TABEL
Gambar I.I .............................................................................................................. 6
Gambar IV.2 ......................................................................................................... 65
Gambar IV.3...........................................................................................................74
Grafik I.1 ................................................................................................................. 4
Grafik II.2 .............................................................................................................. 31
Grafik II.3 ..............................................................................................................32
Grafik II.4 ...............................................................................................................35
Grafik II.5 ...............................................................................................................37
Grafik III.6 .............................................................................................................49
Grafik III.7 .............................................................................................................49
Grafik III.8 .............................................................................................................50
Grafik IV.9 .............................................................................................................68
Grafik IV.10 ...........................................................................................................76
Tabel II.I................................................................................................................ 28
Tabel IV.2 ............................................................................................................. 60
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Joint Statement Between The Republic of Indonesia and The
Republic of Korea
Lampiran 2 Joint Study Group IK-CEPA
Lampiran 3 Siaran Pers ke-Presidenan Kedutaan RI di Seol “Indonesia dan
Korea Tentang JTF
Lampiran 4 Perusahaan Korea Selatan Yang Menjalankan Industri Di Indonesia
Tahun 2010-2012
Lampiran 5 Pemantauan Impor 31 Kelompok Hasil Industri Korea Selatan di
Indonesia
Lampiran 6 Steel Plant-Overseas Steel Mill-POSCO
Lampiran 7 Negara Asal Impor Terbesar Untuk Produk Hasil Industri
Lampiran 8 Laporan Kegiatan Sidang Pertama Komisi Bersama Kebudayaan
ix
DAFTAR ISI
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME .......................................................... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ......................................................ii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI.....................................................iii
ABSTRAK.............................................................................................................iv
KATA PENGANTAR ........................................................................................... v
DAFTAR SINGKATAN ..................................................................................... vii
DAFTAR GRAFIK, GAMBAR, TABEL ........................................................ viii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ ix
DAFTAR ISI .......................................................................................................... x
BAB.I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................1
1.2 Pertanyaan Penelitian .........................................................................................9
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................................................................10
1.4 Tinjauan Pustaka ..............................................................................................10
1.5 Kerangka Teori.................................................................................................13
1.5.1 Konsep Kepentingan Nasional ...............................................................13
1.5.2 Konsep Kerjasama Internasional ...........................................................16
1.5.3 Multi Track Diplomacy ..........................................................................17
1.6 Metodelogi Penelitian ......................................................................................21
1.7 Sistematika Penulisan ......................................................................................22
BAB.II. HUBUNGAN BILATERAL EKONOMI KOREA SELATANINDONESIA
2.1 Kondisi Ekonomi Korea Selatan-Indonesia ...................................................24
2.1.1 Gambaran Umum Perekonomian Korea Selatan Pasca Krisis ............24
2.1.2 Perekonomian Korea Selatan Sebagai Negara Industri Maju .............27
2.1.3 Gambaran Umum Perekonomian Indonesia Dalam
Kerjasamaa Kemitraan Strategis dengan Korea Selatan ....................36
2.2 Bentuk Kerjasama Ekonomi Korea Selatan-Indonesia ...................................38
2.2.1. Kerjasama Kemitraan Strategis Korea Selatan-Indonesia (MoU
Joint Declaration on Strategic Partnership between RI and ROK) ...38
2.2.2. Indonesia-Korea Joint Task Force on Economic Cooperation
(JTF-EC) ............................................................................................40
2.2.3. Peluang dan Hambatan citra “global Korea” di Indonesia .................42
BAB.III. PERAN PENTING STRATEGI MULTI TRACK DIPLOMACY
DALAM KERJASAMA EKONOMI INDUSTRI KOREA
SELATAN-INDONESIA 2006-2012
3.1 Latar Belakang Penggunaan Strategi Multi Track Diplomacy........................45
3.2 Multi Track Diplomacy Sebagai Strategi Untuk Meningkatkan
x
Ekonomi Korea Selatan ..................................................................................47
3.3 Multi Track Diplomacy sebagai Strategi Untuk Mobilisasi Industri
Indonesia ........................................................................................................52
3.4 Multi Track Diplomacy Sebagai Strategi Untuk Membangun
Citra “global Korea” ......................................................................................53
BAB.IV. LANGKAH MULTI TRACK DIPLOMACY DALAM KERJASAMA
EKONOMI INDUSTRI KOREA SELATAN-INDONESIA 20062012
4.1 Aktor Multi Track Diplomacy dalam Kerjasama Ekonomi Industri
Korea Selatan Indonesia..................................................................................57
4.2 Strategi Multi Track Diplomacy Korea Selatan Terhadap Indonesia..............58
4.2.1 Diplomasi Government Korea Selatan Terhadap Indonesia
(Perwujudan Perdamaian melalui Diplomasi) ......................................58
4.2.1.1 Kepala Negara dan Kedutaan Korea Selatan ..........................58
4.2.1.2 Ministry of Foreign Policy and Trade-MOFAT......................62
4.2.2 Diplomasi Business Korea Selatan Terhadap Indonesia
(Perwujudan Perdamaian melalui Perdagangan, Ekspor, FDI) ............67
4.2.2.1 Perusahaan Industri Baja POSCO (Pohang Iron and
Steel Company) Korea Selatan................................................69
4.2.3 Diplomasi Communications and the Media Korea Selatan
Terhadap Indonesia (Perwujudan Perdamaian melalui Media
dan Informasi) ......................................................................................74
4.2.3.1 Arirang World TV (Program After School Club) ....................76
BAB.V. KESIMPULAN
Kesimpulan ............................................................................................79
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... xii
LAMPIRAN-LAMPIRAN ......................................................................................
xi
BAB. I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Abad ke 21 ditandai sebagai abad yang sangat menentukan dalam
meningkatkan eksistensi Korea Selatan di kancah internasional. Hal tersebut
dikarenakan, Korea Selatan dinilai telah berhasil dalam menyebarkan pengaruh
budaya Hallyu/Korean Wave ke berbagai wilayah di dunia,1 dan berhasil meraih
“Memory of the World Heritage” UNESCO.2 Bahkan Korea Selatan juga berhasil
dalam membangun hubungan kerjasama ekonomi di bidang industri dengan
berbagai negara salah satunya Indonesia. Hubungan kerjasama ekonomi industri
yang dilakukan oleh Korea Selatan tersebutlah yang pada akhirnya mendorong
Korsel sebagai negara ekonomi industri maju dunia. Keberhasilan hubungan
kerjasama ekonomi industri tersebut, tidak terlepas dari beberapa pihak, seperti:
pemerintah, bisnis, dan media.
Sejarah mencatat bahwa hubungan bilateral ekonomi antara Korea Selatan
dengan Indonesia telah lama terjalin, hal tersebut dibuktikan dengan adanya
penandatanganan
kerjasama
ekonomi
dan
teknik
serta
pengembangan
perdagangan antara Republik Indonesia dan Korea Selatan pada bulan April 1971
di Jakarta.3 Pada tahun sebelumnya juga terdapat beberapa kerjasama ekonomi
yang telah dijalankan kedua negara seperti penanaman FDI petama Korea Selatan
Lee, S.J, “The Korean Wave: The Seoul of Asia‟, The Elon Journal of Undergraduate Research in Communications Vol.
2(1), 2011, 85.
2
UNESCO, “UNESCO Memory Of The World -Training Workshop In The Asia-Pasific Region”, [Pdf online], (Incheon,
Republic of Korea, 2009).
3
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, “Korea Republic (Korea Republik)”, [data online]; tersedia di:
http://kemlu.go.id/Daftar%20Perjanjian%20Internasional/korea%20selatan.htm ;internet; diunduh pada 6 Agustus 2014.
1
1
berupa perusahaan pengembangan tambang senilai USD 2,85m dan pabrik
pengolahan kayu di Kalimantan pada tahun 1969, dan sebagainya.4 Kemudian,
hubungan kedua negara terutama dalam aspek ekonomi semakin intens
dilaksanakan
setelah
ditandatanganinya
deklarasi
bersama
pembentukan
kemitraan strategis (Joint Declaration on Strategic Partnership to Promote
Friendship and Cooperation between the Republic of Indonesia and the Republic
of Korea in the 21st Century) oleh kedua kepala negara pada tanggal 4 Desember
2006.5 Terkait dalam aspek kerjasama ekonomi, kedua negara memfokuskan
kedalam FDI, ekspor dan perdagangan.6
Kerjasama ekonomi antara kedua negara ini memberikan peluang bagi
Korea Selatan untuk memperluas industrinya ke Indonesia melalui FDI maupun
ekspor atau perdagangan. Salah satu kerjasama tersebut dibuktikan dengan
masuknya perusahaan industri besar Korea Selatan seperti POSCO di Indonesia
yang menanamkan FDI nya dan melakukkan kerjasama joint venture agreement
dengan perusahaan negeri Indonesia (BUMN) Indonesia PT.Krakatau Steel
menjadi PT.Krakatau Posco pada Agustus 2010.7
Keberhasilan Korea Selatan sebagai negara ekonomi maju dan industri
maju dunia, memberikan inspirasi yang baik bagi rekan kerjasama ekonomi
negara berkembang seperti Indonesia. Sebagai negara bekas penjajahan Jepang,
konflik perang saudara dan negara yang pernah dilanda krisis 1997 dan 2008,
Jaisohn Eau, “Crisis, Contradiction and Contingency: An Ethnography of Corporate Capitalism in Korea and Indonesia”,
Dissertation, (eScholarship, University of California, 2010),h.20.
5
Diplomasi Indonesia 2012, “Republik Korea”, Jakarta: Perpustakaan Departemen Luar Negeri Ali Alatas, 2012, h.36.
6
Kedutaan Republik Indonesia, Seoul, Korea Selatan, “Kerjasama Ekonomi,” Indonesia Embassy Seoul 2014. [Artikel online]; tersedia di: http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/2013-01-07-15-02-52/ekonomi ;Internet; diunduh pada 20
Februari 2014
7
PT.Krakatau
Posco,
“Perusahaan-Latar
Belakanng”
[Data
online];
tersedia
di:
http://www.krakatauposco.co.id/company/brief_background ;internet; diunduh pada 8 Oktober 2014.
4
2
pertumbuhan ekonomi Korea Selatan tergolong sangat dinamis dan kuat. Hal
tersebut terbukti dari perubahan besar Korea Selatan
sebagai negara
perekonomian agraris, menjadi salah satu negara industri maju di dunia dengan
pendapatan perkapita saat ini melebihi US$ 20.000 pertahunnya.8 Selanjutnya hal
tersebut mendorong adanya penurunan tingkat pengangguran Korea Selatan yang
saat ini sebesar 3.5% dari total 196 negara dunia.9
Saat ini, isu ekonomi telah menjadi concern hampir di seluruh negara di
dunia. Modernisasi pada abad ke-21 membawa masyarakat internasional kearah
yang lebih beragam, sehingga diplomasi yang dilakukan juga ikut berubah kearah
yang lebih modern, salah satunya multi track diplomacy. Melalui multi track
diplomacy inilah, Korea Selatan mencoba untuk melangsungkan hubungan
kerjasama ekonomi industri dengan Indonesia dan seolah menggambarkan bahwa
telah adanya sebuah kesatuan yang kuat di internal Korea Selatan dan memiliki
power yang mampu mempengaruhi lingkungan internasional. Sehingga, multi
track diplomacy dapat dikatakan sebagai langkah yang dapat memberi jalan
kemudahan bagi Korea Selatan untuk meningkatkan eksistensi dan pengaruhnya
terhadap Indonesia.
Jika dilihat berdasarkan pada perkembangan hubungan kerjasama ekonomi
Korea Selatan dengan Indonesia hingga saat ini, maka tidak terlepas dari adanya
peran pengaruh budaya Korea Selatan.10 Pengaruh budaya Korea Selatan pada
Asian info, “Korea's Economy,” [artikel on-line]; tersedia di http://www.asianinfo.org/asianinfo/korea/economy.htm ;
internet; diunduh pada 10 Februari 2014
9
Trading Economic, “Indocators for 196 Countries”; [data oline]; tersedia di: http://id.tradingeconomics.com/ ;internet;
diunduh pada 15 Mei 2014.
10
Hallyu atau Korean Wave (gelombang Korea), merupakan suatu fenomena budaya pop Korea, yang berawal dari drama
televisi, musik pop Korea, film, industri hiburan yang disebarluaskan melalui media massa dan popularitasnya menyebar ke
seluruh kawasan Asia, terutama Indonesia, Taiwan, Jepang, Hong Kong, Filipina, Thailand, Vietnam, sebagian Rusia, serta
Meksiko
8
3
abad ke-21 dapat dikatakan cukuplah kuat di Indonesia, hingga berhasil
memberikan pengaruh besar kepada masyarakat Indonesia.
Grafik.I.1. View of South Korea’s Influence in 2010
Sumber: BBC Cuntry Polling-View of South Korea‟s Influence
Sumber:http://www.worldpublicopinion.org/pipa/pipa/pdf/apr10/BBCViews_Apr10_rpt.pdf
Data grafik analisis diatas berdasarkan survey yang dilakukan oleh BBC
pada tahun 2010, menjelaskan bahwa dunia internasional memiliki pandangan
yang berbeda-beda terhadap pengaruh Korea Selatan dan menjelaskan bahwa
urutan paling teratas terhadap pengaruh positif Korea Selatan ialah negaranya
sendiri, kemudian disusul oleh Indonesia sebagai negara yang sangat menerima
dengan positif masuknya pengaruh kebudayaan Korea Selatan, selanjutnya disusul
oleh Ghana, Nigeria, USA, Australia, China Spanyol, Inggris, dan Chili,
sedangkan pada posisi terakhir adalah Germany.
Jika berbicara mengenai pengaruh budaya, maka dapat dikatakan terdapat
ekspansi budaya Korea Selatan yang menjadi fenomena global bersejarah ialah
ialah fenomena “Arirang”. Asal mula munculnya “Arirang” memiliki persfektif
yang berbeda antara Korea Utara dengan Korea Selatan, akan tetapi para peniliti
kedua negara setuju dengan satu pemahaman tentang keberadaan Arirang yaitu
4
berdasarkan dari cerita sebuah film yang berjudul “Arirang” pada tahun 1926
tentang kehidupan seorang pria Korea yang berjuang hidup dan membela hak
bangsa Korea saat imprealisme Jepang hingga ditangkap dan siksa. 11 Bukti
keberadaan “Arirang” sebagai fenomena internasional ialah pada masa Perang
Dunia I, ketika tentara Jerman melakukan rekaman riset berupa cerita juga lagulagu rakyat tahanannya terhadap tentara-tentara tahanan perangnya dan
menghasilkan 230 bahasa yang berbeda, kemudian salah satu hasil rekaman riset
tersebut berisi lagu ”Arirang” yang dinyanyikan oleh dua tahanan tentara Korea
dan tentara Rusia, rekaman disimpan dalam tempat penyimpanan data di
Universitas Humboldt Berlin.12
Saat ini berbagai peristiwa yang membuktikan simbol keberhargaan
“Arirang” diantaranya ialah pemerintah Korea Selatan membentuk stasiun
Arirang TV pada tahun 1996 dan masih bertahan hingga saat ini untuk
memperkenalkan bangsa Korea lebih jauh lagi ke dunia internasiona yaitu Arirang
World TV.13 Arirang World TV memberikan andil yang cukup besar dalam
pegaruh kebudayaan Korea Selatan ke dunia internasional termasuk Indonesia dan
salah satunya melalui program After School Club. Kebudayaan cukup
memberikan pengaruh positif terhadap industri Korea Selatan sehingga dapat
meningkatkan nilai FDI, ekspor dan perdagangan Korea Selatan terhadap
Indonesia. Berikut merupakan peresentasi pengaruh kebudayaan Korea Selatan
terhadap minat industri Korea Selatan:
Koreana, A Quarterly on Korean Culture & Arts, “Arirang”, [data online]; tersedia di:
http://www.koreana.or.kr/months/news_view.asp?b_idx=3162&lang=in&nt=&page_type=list ;internet; diunduh pada 9
Agustus 2014.
12
Koreana, A Quarterly on Korean Culture & Arts, “Arirang”,internet; diunduh 9 Agustus 2014.
13
Infotelevisi.com, “Arirang World”; [artikel online]; tersedia di: http://www.infotelevisi.com/9/info/tv/channel/ArirangWorld/ ;interner; diunduh pada 7 Agustus 2014.
11
5
Gambar.I.1
Purchased Korean Products After Experiencing Korean Wave in Asia
Sumber: KITA.org, News, Korean Wave Show a Way to Export
http://global.kita.net/_engapp/board_view.jsp?no=914&code=S2001
Data analisis gambar diatas menjelaskan bahwa berdasarkan survey yang
dilakukan oleh Lembaga Perdagangan Internasional Korea Selatan (KITA) pada
1.173 konsumen di Asia,
kebudayaan Korea Selatan salah satunya melalui
Hallyu/Korean Wave terbukti memberikan keuntungan terhadap industri Korea
Selatan saat ini dengan perbandingan sebesar 75,4% konsumen yang terpengaruh
dan 24,6 % konsumen yang menolak.
Hal tersebut seakan menjadi sebuah pintu bagi Korea Selatan untuk
meningkatkan berbagai langkah diplomasi seperti diplomasi multi track dalam
melangsungkan kerjasama ekonomi industri kedua negara. Terkait penulisan ini,
kerjasama ekonomi industri kedua negara melalui diplomasi multi track
dimainkan oleh berbagai aktor seperti pemerintah, bisnis, dan media yang
diperankan oleh POSCO dan After School Club dalam program Arirang World
TV.
Meneliti kerjasama ekonomi industri antara kedua negara tersebut, dapat
dilihat dari perspektif kepentingan nasional masing-masing negara. Artinya, jika
kedua negara menjalin hubungan kerjasama ekonomi industri maka akan
6
menghasilkan keuntungan bagi kedua negara. Dimana Korea Selatan merupakan
negara yang terus berinovasi dalam kemajuan teknologi dan informasi, sumber
daya manusia juga manajemen yang berkualitas, dan industri maju sedangkan
Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam melimpah, pasar domestik
yang besar dan strategis, juga sumber daya manusia yang sedang berkembang,
stabilitas politik (yang relatif), dan upah tenaga kerja yang tergolong rendah.14
Terkait hubungan ekonomi industri, Korea Selatan adalah partner dagang
yang penting bagi Indonesia dilihat sejak tahun 2006 hingga tahun 2012 yang
secara umum mengalami peningkatan dan pada tahun 2012 merupakan
peningkatan yang tergolong luar biasa dari pada tahun sebelumnya. Pada tahun
2006 total perdagangan kedua negara sebesar US$ 3,05 miliar, pada tahun 2007
total perdagangan sebesar US$ 3,40 miliar mengalami peningkatan sebesar
11,68% bila dibandingkan data tahun 200615 dan
pada tahun 2008 total
perdagangan sebesar US$ 19,25 miliar16. Selanjutnya pada tahun 2009 total
perdagangan kedua negara sebesar US$ 12,8 miliar, pada tahun 2010 total
perdagangan sebesar US$ 20,3 miliar mengalami peningkatan sebesar 57,36%
dibandingkan data tahun 2009 dan tahun 2011 total perdagangan mencapai US$
21,2 miliar17, sedangkan pada tahun 2012 nilai perdagangan kedua negara sebesar
Indonesia Investment, “Budaya-Ekonomi Indonesia”, [artikel online]; tersedia di: http://www.indonesiainvestments.com/id/budaya/ekonomi/item177 ;internet; diunduh pada: 8 Juni 2014.
15
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia,”Laporan Atase Perdagangan-Perkembangan Perdagangan Indonesia
Korea Selatan 2007”; [data online]; tersedia di: http://www.kemendag.go.id/id/view/trade-attache-report/114/2007/3 ;
internet; 14 Mei 2014
16
Conference of Indonesian Students (CISAK) 2009, Astase perdagangan KBRI Seoul, “Perkembangan Perdagangan
Indonesia-Korea
Tahun
2008”;
[pdf
online];
tersedia
di:
http://cisak.perpika.kr/proceeding/CISAK2009/Proceeding_CISAK_2009-2.pdf ;internet; diunduh pada: 15 Mei 2014
17
Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Luar Negeri RI, ” Dampak Perjanjian Perdagangan Barang Asean-Korea FTA
(AKFTA) Terhadap Indonesia dan Korea Selatan”; [Artikel online]; tersedia di: http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/edefkonten-view.asp?id=20140206144410395532025 ;internet; diunduh pada 14 Mei 2014.
14
7
US$ 27,020 miliar.18 Data analisis tren menunjukkan nilai penurunan dan
peningkatan, namun secara umum menunjukkan kecenderungan meningkat.
Hubungan ekonomi kedua negara juga dapat dilihat dari besarnya FDI
Korea Selatan yang menempati urutan keempat selama dua tahun beturut-turut
yaitu pada tahun 2012 dengan nilai FDI sebesar US$ 1.949,7 juta, meningkat
sebesar 60% dibandingkan data tahun 2011 dengan nilai FDI sebesar US$ 1.218,7
juta.19 Besarnya keinginan Korea Selatan untuk menanamkan FDI di Indonesia,
membuat kedua pemerintah berencana untuk membuka sebuah kantor Indonesia
Investment Promotion Center di Seoul yang bertujuan untuk mempromosikan
keunggulan dan potensi-potensi yang dimiliki Indonesia agar lebih meningkatkan
minat FDI Korea Selatan di Indonesia.20
Secara konseptual dapat dikatakan bahwa, ekosistem multi track
diplomacy dalam pengembangan kerjasama ekonomi industri Korea Selatan
dengan Indonesia terdiri dari berbagai dimensi, seperti: adanya perubahan politik
dunia dalam sistem internasional, power yang dimiliki negara untuk mewujudkan
kepantingannya melalui soft power, perilaku masyarakat domestik ikut
mempengaruhi kebijakan yang nantinya akan dibuat oleh aktor negara dan non
negara, kemajuan dibidang ilmu pengetahuan teknologi dan informasi dalam
18
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, “Berita Industri-Karpet Merah Untuk Korea Selatan”; [artikel online];
tersedia
di:
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=rja&uact=8&ved=0CFYQFjAH&url=http
%3A%2F%2Fwww.kemenperin.go.id%2Fartikel%2F8814%2FKarpet-Merah-Untuk-Korea-Selatan&ei=icsgVMv_G4wuASXw4H4DA&usg=AFQjCNHCmPnA80Lrs7GM7vNTRsYukqRAQ&sig2=ZJk2MJ7D_jgajW_J1j97zg&bvm=bv.75775273,d.c2E ;internet; diunduh pada 15 Mei
2014.
19
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, “Pertemuan Komite Bersama Kerjasama Ekonomi
Indonesia Korea Selatan ke-3”; [Artikel on-line]; tersedia di: http://www.ekon.go.id/press/view/pertemuan-komitebersama.251.html#.U_zC96N8gmE ;internet; diunduh pada 14 Mei 2014.
20
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, “Pertemuan Komite Bersama Kerjasama Ekonomi
Indonesia Korea Selatan ke-3”; [Artikel on-line] diunduh pada 14 Mei 2014.
8
industri, keterbukaan terhadap aktivitas internasional, serta potensi SDA dan
SDM.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan adanya sebuah transisi dan
strategi baru dari sistem pemerintahan Korea Selatan yang mulai melakukan
perubahan signifikan untuk menyebarkan perdamaian melalui kerjasama ekonomi
industri terhadap Indonesia bahkan terhadap dunia internasional. Konsekuensi
transisi tersebut adalah memposisikan Korea Selatan sebagai negara yang tetap
survive di sistem internasional salah satunya dalam bidang ekonomi industri.
Melalui strategi inilah pada akhirnya Korea Selatan berhasil meraih sukses dalam
bidang ekonomi khususnya melalui sektor industri yang menjadi salah satu fokus
dalam kepentingan nasionalnya. Keberhasilan dari strategi tersebut membuat
penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai penggunaan strategi multi
track diplomacy dalam kerjasama ekonomi industri Korea Selatan (ROK)
terhadap Indonesia tahun 2006-2012.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian yang diangkat ialah: “Bagaimana strategi multi track
diplomacy dalam kerjasama ekonomi industri Korea Selatan (ROK) terhadap
Indonesia tahun 2006-2012?”
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Terkait dengan pembahasan diatas, tujuan dari penulisan ini adalah untuk:
1. Mengetahui alasan mengapa Korea Selatan semakin meningkatkan hubungan
kerjasamanya dengan Indonesia terutama dalam bidang kerjasama ekonomi
terkait industri.
9
2. Mengetahui dan menjelaskan bagaimana strategi multi track diplomacy dalam
kerjasama ekonomi industri Korea Selatan dengan Indonesia sehingga dapat
mewujudkan kepentingan nasional negara.
3. Mengetahui apakah strategi multi track diplomacy berhasil dalam mewujudkan
kerjasama ekonomi industri Korea Selatan dengan Indonesia periode 20062012.
Sedangkan manfaat dari penulisan ini ialah:
1. Diharapkan penulisan ini dapat menjadi salah satu bahan referensi dan
pengetahuan bagi pelajar studi Hubungan Internasional dalam hal kajian
mengenai multi track diplomacy, dan memahami pembangunan citra suatu
bangsa serta kemajuan perekonomian suatu bangsa melalui kerjasama ekonomi
industri.
2. Diharapkan penulisan ini dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat,
pelajar dan khususnya pemerintah terkait aspek ekonomi di bidang industri
melalui diplomasi multi track.
1.4 Tinjauan Pustaka
Tiga penelitian yang menjadi sumber referensi berkaitan dengan penulisan
ini adalah pertama, skripsi yang ditulis oleh Silvi Fitri Ayu (Universitas
Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Bahasa dan
Kebudayaan Korea, 2011) berjudul “Kebijakan Ekonomi Park Chung Hee Dalam
Industrialisasi Di Korea Selatan Periode 1961-1979”. Pada penelitiannya fokus
pembahasan ialah pada aspek ekonomi yaitu kebijakan ekonomi yang dilakukan
oleh Park Chung Hee sebagai Presiden Korea Selatan, yang mampu memberi
10
bentuk awal perekonomian Korea Selatan, sekaligus memberi sisi kelam bagi
masyarakat Korea Selatan saat itu.
Penelitian menggunakan tiga konsep yaitu pendekatan ekonomi oleh
David Hunt. Pertama, Neoklasik yaitu fokus pada sistem pasar bebas, menekankan
peran pemerintah dan pendekatan ketergantungan pada pengalokasian sumber
daya yang efisien, berhubungan dengan kekuatan pasar dan strategi pasar. Kedua
Development State yaitu keberhasilan perkembangan ekonomi Korea Selatan
berkat ketergantungan tinggi pada modal asing, teknologi, dan perdagangan
(Evans 1979, Kim 1988, Castley 1997, 1998). Ketiga, Dependency Approach
(pendekatan ketergantungan) yaitu keuntungan didapatkan dari faktor eksternal
yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara industri baru, seperti perang
dingin antara Blok Barat dengan Blok Timur.
Kebijakan Park Chung Hee untuk menjadikan negaranya sebagai negara
industri terbesar dunia saat itu masih belum efektif. Kegagalan tersebut
disebabkan karena kebijakan industrialisasi Park Chung Hee tidak sesuai dengan
keadaan masyarakat Korea Selatan yang mayoritas adalah petani dan merupakan
negara kecil yang masyarakatnya minim ilmu pengetahuan saat itu. Beliau juga
terlalu kuat memaksakan semangat kerja, berani mengadapi resiko untuk
mencapai tujuan, akibatnya membuat sebagian masyarakat Korea Selatan merasa
tertekan dan tertindas.
Sumber referensi kedua ialah skripsi oleh Adina Dwirezanti (Universitas
Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Departemen Hubungan
Internasional, 2012) berjudul “Budaya Populer Sebagai Alat Diplomasi Publik :
11
Analisa peran Korea Wave Dalam Diplomasi Publik Korea periode 2005-2010”.
Penelitian menguraikan tentang besarnya peran korean wave melalui industri
ferfilm-an Korea Selatan yang digunakan pemerintah dalam melakukan diplomasi
publik. Tiga konsep yang digunakan ialah pertama diplomasi pubik, adanya opini
publik dapat berperan dalam rangka mendukung kebijakan negara dan
mempengaruhi opini masyarakat negara lain terhap negara sendiri. Kedua
diplomasi kebudayaan merupakan strategi yang biasa dipakai negara-negara
berkembang. Ketiga Pop culture adalah salah satu efek terjadinya fenomena
globalisasi, dan aspek kebudayaan. Ketiga konsep tersebut saat ini tidak
sepenuhnya dapat dikontrol negara, keadaan dunia telah dihadapkan pada isu-isu
yang semakin kompleks. Melalui budaya populer Korean Wave adalah cara yang
efektif untuk mensukseskan diplomasinya dengan negara-negara lainnya.
Penelitian ketiga ialah penulisan Indonesia Journal of International Law
oleh Hikmahanto Juwana (Universitas Indonesia, Volume 1 Nomer 1 Oktober
2003) berjudul “Hukum Internasional Sebagai Instrumen Politik: Beberapa
Pengalaman Indonesia Sebagai Studi Kasus”. Penulisan menguraikan, fungsi
hukum internasional yang digunakan pemerintah suatu negara untuk mencapai
tujuan nasionalnya (international law as insrument of national policy) dapat
dilihat dari instrumen politik, ekonomi, dan keamanan.
Pada dasarnya hukum internasional dimanfaatkan sebagai instrumen
politik dan ekonomi oleh negara. Hal demikian terlihat dari bagaimana negara
asing juga organisasi internasional menggunakan hukum internasional pada
Indonesia untuk menuruti kehendak mereka, dan bagaimana Indonesia
12
memanfaatkan hukum tersebut untuk mencapai kepentingan nasional dan
keuntungan ekonomi. Permasalahan yang muncul ialah adanya ketergantungan
ekonomi, ketergantungan masalah pertahanan, dan hukum internasional untuk
menyampaikan halangan kedaulatan negara lain dalam mencapai Kepentingan
Nasionalnya. Sehingga fungsi hukum internasional selain sebagai instrumen
politik yang didasarkan pada realitas hubungan antar negara, juga untuk
kepentingan ekonomi suatu negara.
Terdapat beberapa hal yang membedakan penelitian di atas dengan
penelitian saat ini. Penelitian ini memfokuskan tak hanya pada peran kepala
negara atau pemerintah, sedangkan pada penelitian pertama memfokuskan pada
kebijakan ekonomi Park Chung Hee. Selanjutnya penelitian kedua dan ketiga,
penelitian tersebut memfokuskan pada peran pemerintah, nilai budaya, serta
hukum internasional yang prinsipnya bertujuan untuk mensukseskan kebijakan
yang telah disepakati antar pemerintah negara. Sedangkan penelitian ini
memfokuskan dalam ruang lingkup masalah penelitian pada peran dan strategi
multi track diplomacy Korea Selatan dengan Indonesia yang melibatkan berbagai
aktor melalui kerjasama ekonomi industri dengan interval waktu 2006-2012 untuk
meningkatkan perekonomian negara dan mewujudkan citra “global Korea”
Selatan.
1.5 Kerangka Teori
1.5.1
Konsep Kepentingan Nasional
Pada hakekatnya, negara memiliki kepentingan nasional masing-masing
yang bertujuan untuk membangun peningkatan derajat perekonominya dan posisi
13
negaranya di dunia internasional, dan hal tersebut yang saat ini sedang dilakukan
oleh Korea Selatan. Kepentingan nasional merupakan konsep yang penting dalam
penelitian ini, karena hal tersebut menjadi dasar kepentingan bagi Korea Selatan
dalam melakukan kerjasama ekonomi terkait industri dengan Indonesia yang
semakin intens dijalankan sejak tahun 2006 hingga 2012. Pada penelitian ini,
Korea Selatan memiliki kepentingan yang bertujuan untuk meningkatkan
perekonomian negaranya dan memperkuat posisinya sebagai negara industri maju
dunia melalui hubungan kerjasama dan menghindari konflik. Dengan demikian,
pada penelitian ini konsep kepetingan nasional akan difokuskan menurut
pandangan liberal.
Kepentingan nasional juga merupakan merupakan modal utama bagi setiap
negara untuk menentukan arah kebijakannya. Paul Seabury menjelaskan konsep
kepentingan nasional kedalam tiga definisi. Pertama, kepentingan nasional yang
bersifat normatif atau konsep umum yang biasa digunakan dalam kepentingan
nasional yaitu berkaitan dengan serangkaian cita-cita tujuan suatu bangsa yang
berusaha dicapainya melalui hubungan dengan negara lain atau hubungan luar
negeri. Kedua, kepentingan nasional bersifat deskriptif dimana kepentingan
nasional dianggap sebagai tujuan yang harus dicapai suatu bangsa secara tetap dan
gigih melalui kepemimpinan pemerintah. Ketiga, kepentingan nasional ialah apa
yang dijelaskan dan dikatakan oleh para pembuat kebijakan luar negeri sebagai
kepentingan nasional.21
21
K.J Holsti, ”Politik Internasional: Kerangka Untuk Analisis- Edisi keempat Jilid I”, (Jakarta: Erlangga, 1988), h.136-137.
14
Daniel
S.
Papp
juga
mengatakan
bahwa
dalam
kepentingan
nasional terdapat beberapa aspek, seperti ekonomi, ideologi, kekuatan dan
keamanan militer, moralitas dan legalitas.22 Kepentingan nasional dalam aspek
ekonomi bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dan keseimbangan
kerjasama perdagangan suatu negara, diantaranya dengan cara memperkuat sektor
industri.23
Kaum liberalis memandang bahwa, individu atau masyarakat dan perilaku
mereka dalam berbagai level masyarakat termasuk institusi dan jalur-jalur
komunikasi memiliki banyak kepentingan dan dengan demikian dapat terlibat
dalam aksi sosial yang kolaboratif dan kooperatif baik domestik juga
internasional, yang menghasilkan manfaat besar bagi setiap orang baik di dalam
negeri maupun luar negeri.24 Dengan demikia, keadaan masyarakat domestik
menjadi arah dan penjelas atas kebijakan nasional yang dilakukan sebuah negara,
karena ketika negara dengan masyarakat berada dalam keadaan yang baik maka
akan menghasilkan kebijakan luar negeri dan sistem internasional yang baik pula
dengan hubungan kerjasama dan mencapai perdamaian.
Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa, kepentingan nasional merupakan
kebutuhan domestik suatu negara yang dijalankan dengan menggunakan berbagai
macam mekanisme atau sistem dalam pencapaiannya melalui kebijakan luar
negeri. Untuk mencapai kepentingan nasional maka memerlukan strategi tertentu
dalam merumuskan kebijakan luar negeri yaitu dengan memperhitungkan
Daniel S. Papp, “Contemporary International Relation : A Framework for Understanding, Second Editions”; (New York:
MacMillan Publishing Company, 1988), h.29.
23
S. Papp, “Contemporary International Relation”, h.47.
24
Robert Jackson dan George Sorensen, “Pengantar Studi Hubungan Internasional”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2009),h.141.
22
15
berbagai aspek yang ada seperti potensi nyata yang dimiliki, peluang maupun
hambatan yang mungkin akan muncul, dan sebagainya. Kepentingan nasional juga
merupakan bagian penting dan mendasar dalam membentuk kebijakan luar negeri.
Holsti mengatakan bahwa kebijakan luar negeri merupakan serangkaian sikap,
tindakan atau ide yang dirancang oleh pembuat kebijakan yang ditujukan untuk
memecahkan suatu masalah atau perubahan yang terjadi di dalam maupun di luar
lingkungan negara tersebut.25
Oleh karena itu, untuk mewujudkan kepentingan nasional suatu negara,
maka dilakukan melalui serangkaian kebijakan luar negeri yang digunakan
sebagai
alat
untuk
mencapai
kepentingan
nasional
dan
kemudian
diimplementasikan melalui kerjasama internasional baik bilateral, regional,
maupun internasional. Kerjasama ini terealisasikan melalui strategi diplomasi
multi track dengan tujuan untuk mencapai perdamaian dunia dan mewujudkan
kepentingan nasional. Sehingga kepentingan nasional adalah kebutuhan dasar dan
pedoman bagi Korea Selatan dan Indonesia yang bersifat multidimensi untuk
mencapai kebijakan luar negeri melalui hubungan kerjasama bilateral.
1.5.2
Konsep Kerjasama Internasional
Kerjasama internasional dapat dikatakan merupakan sebuah hubungan
yang telah disepakati dan terjalin, baik secara bilateral, regional, maupun
multilateral untuk mengatasi isu atau keadaan yang sedang terjadi atau yang
sedang berkembang. Pada dasarnya kerjasama dapat menciptakan sebuah
keuntungan, perdamaian dan meminimalisisr terjadinya konflik antar negara.
25
Holsti, “Politik Internasional”, h.135.
16
Holsti menjelaskan beberapa alasan mengapa negara melakukan kerjasama
dengan negara lainnya:26
1. Untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya, sehingga negara tersebut
dapat mengurangi biaya yang harus ditanggung negara dalam memproduksi
suatu produk kebutuhan bagi rakyatnya karena adanya keterbatasan yang
dimiliki negara tersebut.
2. Untuk meningkatkan efisiensi yang berkaitan dengan pengurangan biaya.
3. Karena adanya masalah-masalah yang mengancam keamanan bersama.
4. Dalam rangka mengurangi kerugian negatif yang diakibatkan oleh tindakantindakan individual negara yang memberi dampak terhadap negara lain.
Terkait hal ini, kerjasama bilateral yaitu kerjasama ekonomi industri antara
Korea Selatan dengan Indonesia merupakan salah satu bentuk kebijakan luar
negeri dalam kerjasama internasional Korea Selatan yang dilakukan dengan
menggunakan strategi diplomasi khusus. Strategi diplomasi khusus tersebut yaitu
dalam bentuk teknik multi track diplomacy dan merupakan salah satu strategi
yang tepat digunakan Korea Selatan dengan Indonesia untuk kesuksesan
kerjasama ekonomi industri dan pemenuhan kepentingan nasional negara.
1.5.3 Multi Track Diplomacy
Louise Diamond dan John McDonald mengatakan bahwa, “multi track
diplomacy” adalah konsep diplomasi yang menjelaskan mengenai proses
terjadinya perdamaian dunia dalam sistem internasional melalui perpaduan dari
diplomasi jalur pemerintah, diplomasi jalur kelompok, dan diplomasi jalur
26
K. J. Holsti, “International Politik : A Framework For Analisys” (Englewood Cliffs : Prentice Hall International,Inc,
1995), h.362-363.
17
individu.27 Tujuan utama multi track diplomacy ialah demi terciptanya
perdamaian dunia hingga peacebuilding yang terintegrasi satu sama lain
menggunakan soft power.28 Penggunaan soft power dalam menciptakan
perdamaian tercermin dari adanya pelaksanaan soft diplomacy yaitu menjalin
hubungan kerjasama dengan negara lain di abad ke-21 dengan fokus terhadap isu
low politics salah satunya aspek ekonomi industri.
Multi track diplomacy terkait dengan perdamaian ialah mengambil
pendekatan sistem untuk memahami sifat internasional peacebuilding secara
struktural. Kegiatan struktur peacebuilding membuat struktur tingkat menengah
yaitu untuk menciptakan struktur sistem perilaku dan tindakan lembaga untuk
mendukung perwujudan atau pelaksanaan perdamaian, dan hal tersebut dengan
membangun ekonomi, militer, dan infrastruktur masyarakat yang memberikan
kekuatan dan realistis melalui sistem perdamaian.29
Struktur peacebuilding dalam multi track diplomacy ini sangat diperlukan,
karena pada dasarnya konflik apapun itu tidak dapat terselesai dengan sendirinya
untuk mencapai perdamaian, kecuali dibaringin dengan keterlibatan pembangunan
ekonomi.
Kegiatan
perdamaian
struktural
meliputi
program-program
pembangunan ekonomi, penguatan demokrasi dan pemerintahan, mendukung
terciptanya organisasi masyarakat dan adat yang mendukung perdamaian.30
Struktural Peacebuilding bukan terlibat kepada aktor pemerintah atau non-
27
Louise Diamond and Ambassador John Mc Donald, “Multi-Track Diplomacy : A Sistem Approach to Peace - Third
edition”; (United States of America: Kumarian press, 1996) h.1.
28
James Notter and Louise Diamond, “Building Peace and Transforming Conflict: Multi-Track Diplomacy in Practice”,
Occasional Paper Number 7, [The Institute For Multi Track Diplomacy, October, 1996)
29
Notter and Louise Diamond, “Building Peace and Transforming”, 1996.
30
Notter and Louise Diamond, “Building Peace and Transforming”, 1996.
18
pemerintah saja sehingga dapat lebih efektif dalam mengatasi permasalahan
dunia.
Hal tersebut mengartikan bahwa, dalam membangun perdamaian dan
mewujudkan perdamaian di abad ke-21 ini, tidak hanya dapat diwujudkan dengan
menggunakan instrumen militer pertahanan tetapi juga dapat diwujudkan dengan
instrumen lainnya seperti menjalin hubungan kerjasama ekonomi internasional
antara seluruh level dan multi aktor dengan soft power. Dengan demikian, strategi
multi track diplomacy dinilai sebagai strategi diplomasi yang cerdas dan tepat
untuk menjalankan kebijakan luar negeri melalui kerjasama internasional terutama
kerjasama ekonomi industri untuk mencapai kepentingan nasional. Dengan
demikian, strategi diplomasi multi track merupakan alat bagi Korea Selatan untuk
merealisasikan kerjasama ekonomi industri tahun 2006-2012 terhadap Indonesia.
Soft power yang dilakukan merupakan cara Korea Selatan untuk mengatasi
keterbatasan juga ketergantungan sumber daya alam dan perdagangan nya yang
kemudian membatasi hard power-nya
Konsep multi track diplomacy terdiri dari sembilan track diplomacy yang
merupakan gabungan dari berbagai aktor diplomasi yaitu Track One:
Government, Track Two: Nongovernment/Professional, Track Three: Business,
Track Four: Private Citizen, Track Five: Research, Training, and Education,
Track Six: Activism, Track Seven: Religion, Track Eight: Funding, Track Nine:
Communications and Media sehingga mudah untuk dapat memahami sistem
kegiatan perdamaian yang kompleks.31 Pada penelitian ini strategi multi track
31
Diamond dan Mc Donald, “Multi-Track Diplomacy”, h.4.
19
yang dilakukan ialah diplomacy track one “Goverenment”, diplomacy track three
“Business”, diplomacy track nine “Communications and the Media”.
Diplomasi government adalah proses tindakan peacebuilding maupun
peacemaking antar negara pada tingkat pemerintah yang berusaha untuk
membetuk, mengelola dan meningkatkan sistem hubungan internasional,
kepercayaan, keyakinan, mediasi, krisis intervensi, resolusi konflik, bahkan untuk
mencegah kekerasan dan mengamankan kepentingan nasional negara seperti
ekonomi, perdagangan, politik, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan, budaya, dan
akademis, karena saat ini masyarakat, budaya, kelompok identitas agama, etnis,
atau kelompok politik kepentingan, dan warga negara juga memiliki kedudukan
formal dalam sistem global.32
Diplomasi busines ialah proses tindakan yang dilakukan non pemerintah
untuk menghasilkan keuntungan ekonomi masyarakat dan negara juga menjaga
perdamaian dengan cara melalui perdagangan, dimana proses ini membuka pintu
hubungan antara sektor swasta dan sektor umum di hampir semua bangsa dengan
pertukaran dua arah atau komunikasi, sehingga mengurangi beberapa tekanan
kemiskinan ekonomi dan hal-hal yang dapat menimbulkan konflik.33 Sedangkan
diplomasi communication and media ialah tindakan untuk mencapai perdamaian
dengan menyampaikan informasi diberbagai media dan pada akhirnya merupakan
jalan terbentuknya opini publik hingga mampu mempengahuri pandangan suatu
negara terhadap negara lain.34
32
33
34
Diamond dan Mc Donald, “Multi-Track Diplomacy”, h.26.
Diamond dan Mc Donald, “Multi-Track Diplomacy”, h.57.
Diamond dan Mc Donald, “Multi-Track Diplomacy”, h.120
20
Melalui diplomasi government, diplomasi business dan diplomasi
Communications and the Media yang diusung oleh Korea Selatan dalam
kerjasama ekonomi industri terhadap Indonesia, telah tersusun dengan rapi dan
sistematis sehingga diperkirakan dapat menjadi jalan menuju terealisasinya
hubungan kerjasama ekonomi industri yang sukses antara Korea Selatan dan
Indonesia. Jika dilihat dari sisi tersebut, dapat dikatakan bahwa diplomasi multi
track yang bersifat soft power memegang peranan penting dalam memproteksi
kedaulatan dan keamanan sebuah negara untuk kemajuan ekonomi industrinya.
1.6 Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dan metode deskriptif
analisis. Metode kualitatif menurut Taylor dan Bogdan ialah sebuah upaya
penelitian untuk menghasilkan data deskriptif, baik berupa kata-kata yang ditulis
maupun diucapkan seperti perilaku-perilaku yang bisa diamati dari subjek itu
sendiri.35 Selanjutnya dalam metode kualitatif yang harus dilakukan ialah
menetapkan batas-batas untuk penelitian, mengumpulkan informasi melalui
pengamatan, dokumen, dan bahan-bahan visual, selanjutnya menetapkan protokol
untuk merekam informasi.36
Penelitian ini menggunakan data sekunder melalui metode dokumentar
dan penelusuran data online seperti bacaan dari buku-buku, jurnal ilmiah, literatur
majalah, artikel, koran dan situs-situs internet yang terpercaya dan dapat
dipertanggung jawabkan. Sumber-sumber referensi ini didapatkan melalui
S.J Taylor, “Introduction to Qualitative Research Methods: The Search for Meaning”; (New York, John Wileyand Sons,
1984), h.5.
36
John W. Creswell, Research Design: Qualitative and Quantitative Approache, (California: Sage Publication, 1994),
h.148.
35
21
sejumah tempat seperti Perpustakaan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Perpustakaan Prof. Dr. Ali Alatas Departemen Luar Negeri, Perpustakaan
Freedom Institute, Perpustakaan Nasional, Perpustakaan CSIS, Perpustakaan
Universitas Indonesia dan Perpustakaan Paramadina. Setelah melewati proses
pengumpulan data, langkah selanjutnya melakukan analisis data atau pembahasan
berdasarkan data-data yang telah terkumpul dan pada akhirnya ditampilkan dalam
bentuk kesimpulan-kesimpulan yang lebih sederhana berdasarkan hasil analisis.
1.7 Sistematika Penulisan
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR SINGKATAN
DAFTAR LAMPIRAN
BAB.I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Pertanyaan Penelitian
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4 Tinjauan Pustaka
1.5 Kerangka Teori
1.5.1 Konsep Kepentingan Nasional
1.5.2 Konsep Kerjasama Internasional
1.5.3 Multi Track Diplomacy
1.6 Metodelogi Penelitian
1.7 Sistematika Penulisan
BAB.II. HUBUNGAN BILATERAL EKONOMI KOREA SELATANINDONESIA
2.1 Kondisi Ekonomi Korea Selatan-Indonesia
2.1.1 Gambaran Umum Perekonomian Korea Selatan Pasca Krisis
2.1.2 Perekonomian Korea Selatan Sebagai Negara Industri Maju
2.1.3 Gambaran Umum Perekonomian Indonesia Dalam Kerjasamaa
Kemitraan Strategis dengan Korea Selatan
2.2 Bentuk Kerjasama Ekonomi Korea Selatan-Indonesia
2.2.1. Kerjasama Kemitraan Strategis Korea Selatan-Indonesia
(MoU Joint Declaration on Strategic Partnership between RI and ROK)
22
2.2.2. Indonesia-Korea Joint Task Force on Economic Cooperation (JTFEC)
2.2.3. Peluang dan Hambatan citra “global Korea” di Indonesia
BAB.III. PERAN PENTING STRATEGI MULTI TRACK DIPLOMACY
DALAM KERJASAMA EKONOMI INDUSTRI KOREA
SELATAN-INDONESIA 2006-2012
3.1 Latar Belakang Penggunaan Strategi Multi Track Diplomacy
3.2 Multi Track Diplomacy Sebagai Strategi Untuk Meningkatkan Ekonomi
Korea Selatan
3.3 Multi Track Diplomacy sebagai Strategi Untuk Mobilisasi Industri Indonesia
3.4 Multi Track Diplomacy Sebagai Strategi Untuk Membangun Citra “global
Korea”
BAB.IV. LANGKAH MULTI TRACK DIPLOMACY DALAM KERJASAMA
EKONOMI INDUSTRI KOREA SELATAN-INDONESIA 20062012
4.3 Aktor Multi Track Diplomacy dalam Kerjasama Ekonomi Industri Korea
Selatan- Indonesia
4.4 Strategi Multi Track Diplomacy Korea Selatan Terhadap Indonesia
4.4.1 Diplomasi Government Korea Selatan Terhadap Indonesia (Perwujudan
Perdamaian melalui Diplomasi)
4.4.1.1 Kepala Negara dan Kedutaan Korea Selatan
4.4.1.2 Ministry of Foreign Policy and Trade (MOFAT)
4.4.2 Diplomasi Business Korea Selatan Terhadap Indonesia (Perwujudan
Perdamaian melalui Perdagangan, Ekspor, FDI)
4.4.2.1 Perusahaan Industri Baja POSCO (Pohang Iron and Steel
Company) Korea Selatan
4.4.3 Diplomasi Communications and the Media Korea Selatan Terhadap
Indonesia (Perwujudan Perdamaian melalui Media dan Informasi)
4.4.3.1 Arirang World TV (After School Club)
BAB.V. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
23
BAB.II.
HUBUNGAN BILATERAL EKONOMI KOREA SELATAN-INDONESIA
2.1 Kondisi Ekonomi Korea Selatan-Indonesia
2.1.1. Gambaran Umum Perekonomian Korea Selatan Pasca Krisis.
Untuk menuju pembangunan ekonomi Korea Selatan yang lebih baik
paska imprealisme Jepang dan Perang Saudara, maka Korea Selatan melakukan
berbagai kebijakan-kebijakan ekonomi dalam negeri dan luar negeri yang
bertahap dengan melewati hambatan yang berbeda-beda pula. Penanganan
dampak krisis yang terjadi di Korea Selatan, merupakan salah satu bentuk
kebijakan ekonomi dalam negeri dan ekonomi luar negeri yang dilakukan oleh
Korea Selatan dalam upaya pembangunan ekonomi industrinya.
Bergabungnya Korea Selatan dengan OECD pada Desember 1996 untuk
dapat menyesuaikan diri dalam perkembangan ekonomi dunia, adalah sebuah
prestasi ekonomi bagi Korea Selatan yang berhasil dalam proses melewati masa
sulit pembangunan ekonomi industri.37 Namun pada saat yang bersamaan juga
terjadi dampak krisis yang melanda Korea Selatan pada tahun 1997/1998. Krisis
moneter tahun 1997-1998 Korea Selatan ditandai dengan meningkatnya nilai US
dollar sehingga menyebabkan merosotnya nilai mata uang.38
Adanya kebijakan pemerintah untuk mengizinkan pelonggaran aliran
modal asing pada saat masuknya Korea Selatan sebagai anggota OECD memberi
peluang masuknya aliran modal uang asing dalam jumlah besar ke Korea Selatan,
Yang Seung-Yoon dan Mohtar Mas‟oed, “Politik Luar Negeri Korea Selatan: Penyesuaian Diri Terhadap Masyarakat
Internasional” (Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 2004), h.52.
38
Myung Oak Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea : Mengungkap Kebangkitan Ekonomi Korea Selatan”; (Jakarta: PT.
Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia, 2013), h.62.
37
24
salah satunya melalui bank-bank Korea Selatan yang meminjam uang kepada
bank pusat luar negeri seperti bank Hongkong.39 Pada akhirnya situasi inilah yang
melilit perekonomian dan cadangan devisa Korea Selatan hingga hampir habis,
akhirnya pemerintahan Kim Young-sam tidak mampu lagi untuk mengatasi krisis
tersebut kemudian ia mengumumkan akan mengambil pinjaman darurat dari IMF
sebesar US$ 57 biliun yang pada akhirnya menjadi pinjaman hutang mengerikan
terhadap IMF.40
Terpilihnya Kim Dea-jung pada 1998 menggantikan Kim Young-sam,
berhasil mengatasi dampak krisis moneter 1997/1998 melalui berbagai kebijakan
efektif yang dilakukannya. Kebijakan tersebut diantaranya, pertama reformasi
sektor keuangan seperti menerapkan kembali suku bunga normal yang dihapuskan
oleh IMF dan adanya transparansi dana, kedua reformasi tenaga kerja seperti
dibentuknya forum tripartite antara pengusaha-pemerintah-dan buruh juga
diberikannya uang tunjangan terhadap buruh yang terkena PHK karena reformasi
ekonomi yang dibuat oleh IMF, ketiga reformasi di bidang pemerintahan seperti
mengubah sistem negara menjadi demokratis dan pemberantasan korupsi, serta
reformasi di bidang korporasi seperti revolusi dibidang teknologi informasi dan
memantau penggunaan sumber modal perusahaan Korea Selatan.41
Kebijakan pemerintah lainnya ialah meminta kontribusi rakyat untuk
menyumbangkan koin emas atau perhiasan mereka dan secara keseluruhan
kontribusi yang diberikan rakyat terkumpul sebesar 225 ton emas, bernilai sekitar
Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.61
Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.60
41
Shinta R.I Soekarno, Anung Herlianto, M.Taufik Amrozy, dkk, “Bangkitnya Perekonomian Asia Timur-Satu Dekade
Setelah Krisis”, (Jakarta, Bank Indonesia, Kompas Gramedia),h.65-66.
39
40
25
US$ 1,8 biliun yang sebagian besar digunakan untuk membayar hutang negara.42
Akhirnya, dengan segala upaya dan kebijakan yang telah dilakukan oleh
pemerintah Korea Selatan beserta aktor penting lainya, dapat memberikan
pemulihan ekonomi bagi Korea Selatan yang terus berlanjut sampai terjadi krisis
ekonomi global tahun 2008.
Krisis tahun 2008 dikenal sebagai krisis ekonomi global, ditandai dengan
menurunnya nilai US dollar dimana Korea Selatan juga terkena dampak krisis
ekonomi tersebut yang dirasakan dengan menurunnya nilai won.43 Akan tetapi,
berkat upaya pemerintah yang kuat dalam menjaga stabilitas ekonomi termasuk
saat krisis ekonomi pada tahun 2008 dan pasca terjadinya krisis moneter tahun
1997/1998 membuat keadaan krisis ekonomi 2008 Korea Selatan jauh lebih
mudah diselesaikan dari pada krisis tahun 1997/1998.
Kebijakan yang diambil pemerintah Korea Selatan diantaranya ialah
memberi dana sebesar US$ 120 biliun pada mata uang dan pasar finansial untuk
mendukung won pada November 2008, Bank Korea dan Bank Sentral negara juga
melakukan penukaran sebanyak US$ 30 biliun dengan U.S Federal Reserve untuk
menstabilkan nilai won, dan dana pemerintah lainnya sebesar US$ 160 biliun
digunakan pada akhir tahun 2010 untuk menopang perekonomian, pemerintah
menciptakan lapangan pekerjaan, membuat akses “unemployetment benefits”
(tunjangan pengangguran), pelatihan kerja yang disebut JUMP dan job sharing
untuk peningkatan dan pematangan kerja juga untuk mengurangi angka
42
43
Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.7.
Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.68.
26
penganguran.44 Disamping itu etos kerja yang tinggi, semangat kesatuan bangsa
Korea, dan menjaga nilai ajaran Konfusianisme, juga ikut berperan dalam
menyelesaikan krisis ekonomi global 2008.
Sehingga dapat dikatakan bahwa, bagi Korea Selatan adanya reformasi
ekonomi pasca krisis moneter tahun 1997-1998 hingga krisis ekonomi pada tahun
2008, merupakan sebuah peluang bagi Korea Selatan untuk memperkenalkan
kegigihan dan kekuatannya dalam membangun perekonomian dan industrinya
yang kuat didunia internasional. Upaya inilah yang pada akhirnya membawa
Korea Selatan terbukti berhasil menjadi negara ekonomi industri maju.
2.1.2 Perekonomian Korea Selatan Sebagai Negara Industri Maju
Korea Selatan telah melakukan berbagai bentuk kebijakan ekonomi luar
negeri
untuk
meningkatkan
pembangunan
perekonomian
dan
industri
domestiknya. Pada proses pembangunan ekonomi industri Korea Selatan, salah
satu permasalahan yang dihadapi Korea Selatan ialah permasalahan perdagangan
internasional. Pada tahun 1970-an negara-negara industri memberikan hambatan
non tarrif atau batasan ekspor kepada Korea Selatan dalam bentuk global maupun
bilateral, kecuali ekspor industri berat dan industri kimia, sehingga hal ini
mengharuskan Korea Selatan berupaya sekuat mungkin untuk meningkatkan
industri berat dan industri kimia mereka, sehingga secara perlahan pada tahun
1970-an ekspor Korea Selatan telah meluas ke Timur Tengah dan Eropa.45
Korea Selatan terus berupaya dalam melakukan restrukturisasi dan
modernisasi ekonomi, juga teknologi dan informasi untuk meningkatkan
44
45
Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.69.
Seung-Yoon dan Mohtar Mas‟oed, “Politik Luar Negeri Korea Selatan”, h.54.
27
perindustrian Korea Selatan sejak tahun 1960-an hingga saat ini. Sebagai bukti
keberhasilan tersebut Korea Selatan mampu membangun fondasi industri yang
kuat, terutama di bidang semikonduktor, elektronik, juga peringkat kedua dalam
pembuatan kapal dunia yang memegang 32% pangsa pasar dunia, peringkat ke
lima dunia dalam produksi automobil dan otomotif, peringkat ke lima dunia dalam
produksi petrokimia, dan sebagainya.46 Korea Selatan juga berhasil membuktikan
bahwa mereka mampu bersaing dalam kebebasan ekonomi regional dan global.
Berikut merupakan hasil nilai economic freedom Korea Selatan dalam tingkat
regional Asia Pasifik:
Tabel.II.1 Regional Ranking-Index of Economic Freedom in Asia Pasifik
Sumber: The Heritage Foundation, In Partnership With Wall Street Journal
http://www.heritage.org/index/country/southkorea#
Data tabel analisis diatas menerangkan bahwa, ekonomi Korea Selatan
dinilai cukup bebas, Korea Selatan menempati peringkat ke-8 dalam kebebasan
ekonomi dari total 41 negara di wilayah Asia-Pasifik. Nilai rata-rata kebebasan
Asian-info.org,
“Korean
Mining
and
Manufacturing”,
[berita
online];
tersedia
http://www.asianinfo.org/asianinfo/korea/eco/mining_and_manufacturing.htm ;internet; diunduh pada 16 Juli 2014.
46
28
di:
ekonomi Korea Selatan adalah 71,2 dan mengalami peningkatan sebesar 0,9 dari
tahun sebelumnya. Peringkat ekonomi bebas ini dihasilkan dari keterbukaan pasar,
kebebasan perdagangan, kebebasan (kepercayaan) bisnis, kebebasan investasi,
kebebasan ekspor-impor, dan kebebasan finansial, kebebasan dari korupsi, dan
pengelolaan belanja publik. Selain itu, Korea Selatan juga telah berhasil menjadi
salah satu negara perdagangan terbesar di dunia dan juga menjadi pasar ekspor
dan impor penting bagi nega-negara industri maju seperti AS, Jepang, Australia,
Kanada.47
Kemajuan ekonomi dan industri Korea Selatan seperti sekarang, tidak
terlepas dari peran pemerintah Park Chung-hee (1963-1979) dan Kim Dae-jung
(1998-2003). Pemerintahan Park Chung-hee dikenal sebagai peletak dasar
pembangunan ekonomi dan modernisasi Korea Selatan pasca invasi Jepang dan
perang saudara, kebijakan dimasa itu dinamakan “Samuel Undong” (The new
community Movement), walaupun dimasa kepemimpinan ini usia negara masih
tergolong muda dan kepemimpinan rezim militer, pada akhirnya kebijakan
tersebut berhasil meningkatkan hasil panen, pendapatan pedesaan dan mengurangi
ketidak seimbangan hasil industri dalam standar hidup Korea Selatan.48
Sepanjang periode kepemimpinan Korea Selatan, pemerintah Kim Daejung (1998-2003) adalah titik dimulainya perubahan kepemimpinan Korea Selatan
yang sangat berbeda dari sebelumnya. Kim Dae-jung adalah pemimpin yang prodemokratis dan anti militer, sehingga kebijakan yang dikeluarkan oleh nya adalah
Seung Yoon dan Mohtar Mas‟oed, h.56.
Asian-info.org, “Korea‟s Economy- Korea's Heavy and Chemical Industry Promotion in the 1970s”; [artikel online];
tersedia
di:
http://www.asianinfo.org/asianinfo/korea/economy.htm#Heavy%20and%20Chemical%20Industry%20Promotion%20in%2
0the%201970s ;internet; diunduh pada 15 April 2014
47
48
29
kebijakan yang berorientasi perdamaian, reunifikasi Korea Selatan dan
Semenanjung Korea yang diimplemtasikan dengan kebijakan restrukturisasi dan
liberalisasi ekonomi, revolusi industri dan teknologi, kebebasan pers, dan lainlain, bahkan salah satu kebijakan dimasa pemerintahan Kim Dae-jung dikenal
dengan
kebijakan
“Sunsine
Policy”
(Kebijakan
Matahari)
memberikan
penerangan bagi Korea Selatan dan Korea Utara, yang menginspirasi Kim Daejung ialah proses reunifikasi Jerman tahun 1990 akibat perbedaan ideologi namun
akhirnya kembali bersatu dengan “Deklarasi Berlin”.49
Pemerintah Kim Dae-jung sebagai pemerintahan demokratis dan cinta
damai terbukti berhasil membawa Korea Selatan pada perubahan besar dalam
perekonomian, bahkan saat ini kerjasama-kerjasama yang digalang Kim Dae-jung
masih terus dijalankan pemerintah Korea Selatan. Kemajuan ekonomi industri
yang didapatkan Korea Selatan saat ini dapat dilihat diantaranya melalui
perubahan besar yang dilakukan Korea Selatan dari centrally planned
goverenment directed investment menjadi market oriented model (pemerintahan
yang bersandar pada investasi dan importir telah berorientasi pada model pasar
eksportir internasional dengan strategi kerjasama dan perdagangan, atau dikenal
dengan perubahan dari negara agraris menjadi negara industri maju), peningkatan
GDP perkapita pertahunnya, pemerataan distribusi pendapatan, stabilitas harga,
dan menempatkan Korea Selatan sebagai negara dengan perekonomian terbesar
ke-15 di dunia.50
Hendrawan F. R, “Sikap Jepang terhadap Rencana Reunifikasi Korea”, (Yogyakarta, UMY: 2004)
Kedutaan Republik Indonesia, Seoul, Korea Selatan, “Tentang Korea Selatan,” [Artikel on-line] diunduh pada 20
Februari 2014.
49
50
30
Korea Selatan bergerak melalui kontribusi pada perdagangan, perluasan
ekspor, dan perluasan FDI sehingga berhasil meningkatkan GDP perkapita setiap
tahunnya. Berikut perbandingan pertumbuhan GDP perkapita tahun 2006 hingga
2012:
Grafik II.2. GDP per capita Korea Selatan (US$ at Consistant Prices)
Sumber: Trading Economics, World Bank, Anna Fedec and Antonio Sousa
in New York City 2008
Berdasarkan data World Bank untuk GDP perkapita Korea Selatan dilihat
melalui trend grafik diatas, menunjukkan adanya peningkatan nilai setiap
tahunnya. Meningkatnya GDP perkapita Korea Selatan tahun 2006-2012 dari US$
17550.8538 di tahun 2006, menjadi US$ 18370.458 di tahun 2007, US$
1921.6294 pada tahun 2008, US$ 19519.3668 pada tahun 2009, US$ 19488.9626
pada tahun 2010, US$ 20625.0998 pada tahun 2011, dan US$ 21.562.4465 pada
tahun 2012. Data terakhir World Bank untuk GDP perkapita Korea Selatan senilai
US$ 21.562.45 tahun 2012, merupakan nilai tertingi sejak tahun 1960 hingga
31
tahun 2012 dan setara dengan 174% dari rata-rata dunia, PDB perkapita Korea
Selatan rata-rata US$ 8.688.58 dari tahun 1960 hingga tahun 2012.51
Disamping
itu,
meningkatnya
jumlah
industri
Korea
Selatan
menggambarkan adanya kerjasama perluasan ekspor ke berbagai negara. Aktivitas
ekspor adalah faktor penting dalam kerjasama ekonomi industri Korea Selatan
untuk pembangunan ekonomi sebagai negara industri. Berikut perbandingan
peningkatan nilai ekspor Korea Selatan pada tahun 2006 hingga tahun 2012:
Grafik II.3. South Korea Exports by Month (US$ Million)
Sumber: Trading Economics; Ministry of Trade, Industry and Energy (MOTIE); Anna Fedec and
Antonio Sousa in New York City 2008
Bedasarkan tren grafik tersebut, terlihat bahwa Korea Selatan memiliki
ekonomi yang berorientasi ekspor. Nilai ekspor Korea Selatan mengalami
peningkatan pesat pada tahun 2006 hingga tahun 2012. Pada kuartal pertama
tahun 2006 nilai ekspor Korea Selatan US$ 25.000 juta dan mengalami
peningkatan di kuartal selanjutnya hingga tahun 2007 diatas nilai US$ 30.000
juta, di tahun 2008 hingga 2009 nilai ekspor Korea Selatan kembali meningkat
diatas US$ 35.000 juta, pada tahun 2010 nilai ekspor Korea Selatan berada diatas
Trading Economics, “South Korea GDP per capita”, [Data on-line]; tersedia di: http://www.tradingeconomics.com/southkorea/gdp-per-capita ;internet; diunduh pada 15 Mei 2014.
51
32
US$ 40.000 juta, pada tahun 2011 nilai ekspor kembali meningkat diatas nilai
US$ 45.000 juta, hingga tahun 2012 nilai ekspor Korea Selatan berada diatas US$
45.000 juta.
Ekspor utama Korea Selatan adalah produk teknologi tinggi yang
diproduksi seperti minyak, semikonduktor (9%), mesin (9%), mobil (9%), kapal
(7%), perangkat LCD (5%) dan perangkat komunikasi nirkabel (4%), serta ekspor
lainnya termasuk: baja (7%) dan petrokimia (10%).52 Sehingga dengan
meningkatnya jumlah ekspor Korea Selatan, berarti menggambarkan adanya
peningkatan penjualan dan peningkatan anggaran Korea Selatan dan akhirnya
menghasilkan keuntungan ekonomi bagi Korea Selatan.
Keberhasilan ekonomi yang didapatkan Korea Selatan juga dihasilkan oleh
perdagangan melalui pemasaran yang baik oleh perusahaan MNC Korea Selatan.
Nilai perdagangan Korea Selatan saat ini dapat dikatakan berada pada nilai yang
meningkat setiap tahunnya pada tahun 2006-2012. MOTIE melaporkan bahwa
rata-rata nilai perdagangan Korea Selatan senilai US$ 515.23 juta dari tahun 1966
hingga 2014 dan dari seluruh periode waktu tersebut pada tahun 2006 hingga
tahun 2012 nilai perdagangan tertinggi yang dihasilkan Korea Selatan ialah
sebesar US$ 6.794.27 juta pada Juni 2010 dan nilai terendah US$ -4.043.46 juta
bulan Januari 2008 karena krisis ekonomi, namun perlahan memulih dan secara
umum perdagangan Korea meningkat hingga tahun 2012.53
Trading
Economics,
“South
Korea
Exports
by
Month”,
[Data
on-line];
http://www.tradingeconomics.com/south-korea/exports ;internet; diunduh pada 15 Mei 2014.
53
Trading
Economics,
“South
Korea
Balance
of
Trade”,
[Data
on-line];
http://www.tradingeconomics.com/south-korea/balance-of-trade; internet; diunduh 15 Mei 2014.
52
33
tersedia
di:
tersedia
di:
Beberapa strategi pemasaran Korea Selatan pada perluasan industrinya
ialah keikut sertaan Samsung Electronics dalam ajang CES tahun 2009. CES
merupakan sebuah pameran terbesar elektronik diseluruh dunia yang telah
dilaksanakan lebih dari satu dekade pada Januari di Las Vegas, dengan tujuan
konfrensi pers dan memasarkan produk terbaru perusahaan yang dikeluarkan
setiap tahunnya sebagai pendongkrak untuk penjualan di pasar domestik dan
internasional.54 Samsung berhasil menarik perhatian pengunjung, menjadi produk
favorit dengan produk terbaru TV plasma layar lebar memiliki tebal satu inci, dan
teknologi kamera auto focus, mengalahkan produk ternama Sony, Nokia, maupun
HP.55
Strategi pemasaran lainnya melalui North American Car for the Year
Award, sebuah ajang penghargaan industri mobil dan otomotif dunia diadakan
oleh sebuah kelompok yang terdiri dari 50 jurnalis otomitif terkemuka dunia.56
The new Hyundai Genesis untuk pertama kalinya, berhasil memenangkan
penghargaan North American Car for the Year Award 2009, dengan penjualan
yang relatif murah senilai US$ 40.000 berbeda jauh dengan pasar mobil mewah
seperti Lexus, Mercedes, dan BMW.57 Hyundai Genesis memiliki mesin 6 silinder
(ada juga model 4 silinder) yang dapat dipacu dari 0 hingga hingga 60 mil per jam
dalam waktu 5,7 detik, sistem navigasi builtnya juga dapat menampilkan film, dan
setiap mobil dilapisi kulit kursi, keseluruhan kualitas, kontrol, dan harga relatif
lebih terjangkau dengan perbedaan US$.20.000 dibandingkan Lexus dengan
Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.145.
Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.146.
56
Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.121.
57
Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.121.
54
55
34
stabilitas kemampuan hampir sama.58 Saat ini Hyundai berhasil menjadi ancaman
bagi perusahaan besar ternama seperti Ford, Volkswagen, Audi, Toyota, maupun
Honda.
Teknik pemasaran yang cerdas membuat Korea Selatan berhasil dengan
cepat meraih pasar global dalam industri dunia. Melalui peran industri besar
Korea Selatan terbukti berhasil menghantarkan Korea Selatan pada hubungan
kerjasama yang kompeten secara bilateral, regional dan internaisonal. Korea
Selatan juga bergerak melalui FDI yang semakin meningkat, berfokus terhadap
negara berkembang yang memiliki sumber daya alam melimpah untuk
menjalankan roda perindustriannya. Berikut perbandingan pertumbuhan nilai FDI
Korea Selatan pada tahun 2006 hingga tahun 2012:
Grafik.II.4. South Korea Foreign Direct Investment (current US$)
Sumber: Trading Economics, Ministry of Knowledge Economy, Anna Fedec and Antonio Sousa in
New York City 2008
Berdasarkan tren grafik diatas, terlihat bahwa secara general nilai FDI
Korea Selatan meningkat, pada tahun 2006 FDI Korea Selatan senilai US$
2000.000 juta, pada tahun 2007 dan tahun 2008 FDI berada diatas nilai US$
58
Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.122.
35
4000.000 juta, pada tahun 2009 dan tahun 2010 FDI berada diatas nilai US$
3000.000 juta, dan pada dekade terakhir tahun 2011 dan tahun 2012 FDI
mencapai US$ 5000.000 juta dan US$ 6000.000 juta. Meningkatnya FDI Korea
Selatan setiap tahunnya membuktikan bahwa Korea Selatan berhasil menjadi
negara ekonomi maju dunia yang dapat berkontribusi untuk perkembanga negara
lain dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang berkompeten dan produktif,
serta adanya transfer teknologi.
2.1.3. Gambaran Umum Perekonomian Indonesia Dalam Deklarasi Bersama
Kemitraan Strategis dengan Korea Selatan
Indonesia telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar
dikarenakan konsumsi domestik masyarakat yang tinggi, pertumbuhan ekspor
produk manufaktur dan komoditas, dan Indonesia juga dikatakan merupakan salah
satu negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara.59 Indonesia memiliki pasar
domestik yang besar dan strategis, serta deposit sumber alamnya yang melimpah,
sumber daya alam Indonesia berasal dari pertanian, kehutanan, kelautan dan
perikanan, peternakan, perkebunan serta pertambangan dan energi.60
Akan tetapi pada umumnya Indonesia belum sepenuhnya dapat
memanfaatkan SDA secara pribadi sehingga membutuhkan keterlibatan pihak
lain. Kebijakan pemerintah Indonesia menjalin hubungan deklarasi bersama
dengan Korea Selatan terbukti menghasilkan keuntungan bagi perekonomian
Indonesia dan pemanfaatan SDA. Sejak tahun 2006 hingga 2012 GDP perkapita
59
Trading
Economics,
“Indonesia
GDP
Growth”,
[Data
on-line];
tersedia
di:
http://www.tradingeconomics.com/indonesia/gdp-growth ;internet; diunduh pada 15 Mei 2014.
60
Indonesia.go.id - Portal Nasional Republik Indonesia, “Potensi Sumber Daya Alam”,
Portal Nasional Republik
Indonesia. [Artikel on-line]; tersedia di: http://indonesia.go.id/in/potensi-daerah/sumber-daya-alam ;internet, diunduh pada
13 Februari 2014.
36
dan FDI Indonesia terus meningkat. GDP perkapita Indonesia setara dengan 15%
dari rata-rata dunia.61 Berikut perbandingan pertumbuhan GDP perkapita
Indonesia tahun 2006-2012:
Grafik II.5. GDP per capita Indonesia (US$ at Consistant Prices)
Sumber: Trading Economics, World Bank, Anna Fedec and Antonio Sousa
in New York City 2008
Berdasarkan tren grafik diatas, nilai GDP perkapita Indonesia mengalami
peningkatan pertahunnya pada tahun 2006-2012, pada tahun 2006 sebesar US$
1273.47, tahun 2007 sebesar US$ 1324.47, tahun 2008 sebesar US$ 1388.61,
tahun 2009 sebesar US$ 1451.56, tahun 2010 sebesar US$ 1498.01, tahun 2011
sebesar US$ 1570.15, dan pada tahun 2012 terus meningkat senilai US$ 1650.63.
Peningkatan GDP perkapita Indonesia pertahunnya menggambarkan bukti adanya
peningkatan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat Indonesia.
Trading
Economics,
“Indonesia
GDP
Percapita”,
[Data
on-line];
http://www.tradingeconomics.com/indonesia/gdp-per-capita ;internet ;diunduh pada 15 Mei 2014.
61
37
tersedia
di:
2.2 Bentuk Kerjasama Ekonomi Korea Selatan-Indonesia
2.2.1 Kerjasama Kemitraan Strategis Korea Selatan-Indonesia (Joint
Declaration on Strategic Partnership between RI and ROK)
Korea Selatan dan Indonesia merupakan sebuah negara demokratis dan
pada umumnya negara demokratis memberikan ruang dan kebebasan terhadap
berbagai aktornya untuk melakukan berbagai bentuk interaksi dan hubungan
kerja. Hal tersebut bertujuan untuk kemajuan negara dalam aspek ekonomi, sosial
dan budaya, media komunikasi, politik, maupun ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu hal yang mendasar dalam kebijakan ekonomi luar negeri Korea
Selatan ialah pasokan sumber daya alam berupa bahan baku, mineral, dan energi
dari negara-negara yang kaya akan sumber daya alam.62 Pertumbuhan ekonomi
industri Korea Selatan yang terus meningkat menyebabkan pula peningkatan
terhadap konsumsi SDA baik itu batu bara, minyak, maupun gas alam cair lainnya
yang dibutuhkan Korea Selatan untuk terus menjalankan industrinya. 63 Hingga
kini, Korea Selatan telah mengamankan pasokan sejumlah 16,8 miliar barel migas
dari 32 negara mencakup sejumlah 121 ladang migas, dan mengimpor lebih
US$11,7 miliar untuk memenuhi kebutuhan mineralnya.64
Dengan demikian, kesadaran kedua negara terhadap kelemahan dan
kekuatan potensi yang dimiliki, menjadi pemicu menjalin hubungan kerjasama
ekonomi industri antar aktor-aktor penting kedua negara. Sejarah mencatat bahwa
hubungan kerjasama ekonomi industri antara Korea Selatan dengan Indonesia
Seung-Yoon dan Mohtar Mas‟oed, “Politik Luar Negeri Korea Selatan”, 55.
Neraca.co.id, “Hubungan Indonesia Dengan Korea Selatan,” 29 November 2011 [artikel on-line]; tersedia di:
http://www.neraca.co.id/article/6541/Hubungan-Indonesia-Dengan-Korea-Selatan ;internet; diunduh pada 14 februari 2014.
64
Neraca.co.id, “Hubungan Indonesia Dengan Korea Selatan,” [artikel on-line]; internet; diunduh pada 14 februari 2014.
62
63
38
sudah lama terjalin sejak tahun 1969 dengan adanya FDI petama Korea Selatan
berupa perusahaan pengembangan tambang senilai USD 2,85m dan pabrik
pengolahan kayu di Kalimantan, dan sebagainya.65 Selanjutnya pada April 1971
Korea Selatan melakukan kerjasama ekonomi dengan Indonesia, yaitu melalui
penandatanganan
kerjasama
ekonomi
dan
teknik
serta
pengembangan
perdagangan antara kedua negara.66
Selanjutnya, adanya keterbatasan potensi sumber daya yang dimiliki
maisng-masing negara, membuat kedua negara sepakat untuk membentuk
deklarasi bersama kemitraan strategis (Joint Declaration on Strategic Partnership
to Promote Friendship and Cooperation between the Republic of Indonesia and
the Republic of Korea in the 21st Century) oleh kedua kepala negara pada 4
Desember 2006.67 Joint declaration meliputi 32 item kerjasama yang
dikelompokkan kedalam bidang kerjasama ekonomi, sosial dan budaya, politik
dan pertahanan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan hukum.68 Kerjasama
kemitraan strategis tersebut merupakan gerbang bagi kedua negara dalam
memulai hubungan kerjasama dibidang ekonomi industri yang lebih intens.
Untuk mewujudkan kerjasama ekonomi industri, maka kedua negara
membentuk beberapa kesepakatan yang saling terintegrasi dalam kerjasama
kemitraan strategis “Joint Declaration” yaitu dibentuknya JTF-EC yang dikelola
kedalam WG. Kerjasama kemitraan strategis dalam bidang ekonomi industri ini
sangat terkait pada FDI, perdagangan dan ekspor. Oleh sebab itu, Indonesia sangat
Jaisohn Eau, “Crisis, Contradiction and Contingency”, h.20.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, “Korea Republic (Korea Republik)”, diunduh 6 Agustus 2014.
67
Diplomasi Indonesia 2012, “Republik Korea”, h.36.
68
Diplomasi Indonesia 2012, “Republik Korea”, h.36.
65
66
39
terbuka untuk FDI apa saja pada perusahaan industri Korea Selatan terutama
perusahaan industri besar atau perusahaan MNC Korea Selatan seperti POSCO.69
Sehingga dengan masuknya FDI Korea Selatan ke Indonesia maka akan
mendorong masuknya talenta-talenta berbakat dunia yang dapat meningkatkan
perekonomian domestik Indonesia sebagai bentuk transfer teknologi.
2.2.2. Indonesia-Korea Joint Task Force on Economic Cooperation (JTF-EC)
Menindak-lanjuti kesepakatan kerjasama deklarasi kemitraan strategis
“Joint Declaration on Strategic Partnership to Promote Friendship and
Cooperation in the 21st Century” pada Desember 2006 dalam kerjasama di
bidang ekonomi, maka dibentuklah JTF-EC yang bertujuan untuk lebih
meningkatkan hubungan yang saling menguntungkan dan mewujudkan pilar
kerjasama ekonomi, perdagangan dan FDI kedua negara. Pada pelaksanaanya
JTF-EC diselenggarakan selama lebih dari satu pertemuan dan JTF-EC
dilaksanakan setiap dua kali dalam tiga tahun.
Pertemuan pertama JTF-EC, sekaligus ditandai dibukanya JTF-EC secara
resmi yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 30 April hingga 1 Mei 2007
dibuka oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.70 Pertemuan kedua JTF-EC
diselenggarakan di Seoul pada tanggal 25-26 Maret 2010.71 Pada JTF-EC kedua
juga diselenggarakan forum bisnis Indonesia-Korea Selatan yang dihadiri oleh
sekitar 200 pengusaha kedua negara, dimana dalam forum bisnis tersebut
Kedutaan Republik Indonesia, Seoul, Korea Selatan, “Kerjasama Ekonomi,” diunduh pada 20 Februari 2014.
Kementerian Luar Negeri RI, “Kunjungan Menko Perekonomian RI ke Korsel untuk Pertemuan Joint Task Force On
Economic Cooperation (JTF-EC)”, [Data on-line]; tersedia di: http://kemlu.go.id/_layouts/mobile/PortalDetailPressReleaseLike.aspx?l=id&ItemId=e508b8bf-0376-49c0-bbbc-66900758a5b8 ;internet, diunduh pada 6 Agustus 2014.
71
Kedutaan Besar Republik Indonesia-Seoul, Siaran Pers No.254/SOSBUD/III/2010, “Indonesia dan Korea Menghasilkan
Berbagai Kesepakatan Untuk Menigkatkan Perekonomian Kedua Negara” diunduh pada 6 Agustus 2014. (Lihat dalam
lampiran.I Kedutaa Besar Republik Indonesia-Seoul).
69
70
40
dilakukan interaksi bisnis one on one meeting dan membahas peluang serta
potensi investasi di Indonesia.72 Pada pertemuan ini dibentuklah WG yang
merupakan pengelompokan bidang-bidnag kerjasama bilateral ekonomi termasuk
dalam aspek industri ialah mencakup kerjasama Dukungan Kebijakan,
Perdagangan dan Investasi, Teknologi Informasi, Riset dan Pengembangan,
Energi dan Sumber Daya Mineral, Insfrastruktur dan Konstruksi, Industri
Pertahanan, Kehutanan dan Pertanian.73
Pada pertemuan JTF-EC tahun 2011, kedua negara sepakat merevitalisasi
JTF-EC yang diagendakan kedalam WLTFM untuk lebih memudahkan
mengakomodasi dan meningkatkan perkembangan yang signifikan dalam
kerjasama ekonomi industri kedua negara.74 Agenda WLTFM dilaksanakan dalam
dua kali setahun. Pertemuan pertama dilaksanakan di Bali pada tanggal 18-19 Mei
2011 membahas apa saja agenda WG yang akan dilaksanakan, pertemuan
selanjutnya dilaksanakan di Seoul pada Oktober 2011 dengan kesepakatan yang
telah dicapai WG, pertemuan ketiga ditahun kedua dilaksanakan di Jakarta pada
28 Februari 2012 dan saat itu didirikan sekretariat bersama WLTFM di Jakarta
untuk memantau perkembangan dan kesepakatan yang dicapai WG.75 Pertemuan
WLTFM di Jeju 11-12 Oktober 2012 dengan disepakatinya pembentukan Joint
Declaration of Jeju Initiative. Joint Declaration of Jeju Initiative bertujuan untuk
lebih memperkuat kerjasama ekonomi termasuk industri bilateral kedua negara
72
Kedutaan Besar Republik Indonesia-Seoul, Siaran Pers.(Lihat dalam lampiran.I Kedutaa Besar Republik IndonesiaSeoul).
73
Kedutaan Besar Republik Indonesia-Seoul, Siaran Pers.(Lihat dalam lampiran.I Kedutaa Besar Republik IndonesiaSeoul).
74
Kedutaan Besar Republik Indonesia, Seoul, Korea Selatan, “Kerjasama Ekonomi”, [Data on-line]; tersedia di:
http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/2013-01-07-15-02-52/ekonomi ;internet, diunduh pada 6 Agustus 2014.
75
Kedutaan Besar Republik Indonesia, Seoul, Korea Selatan, “Bilateral RI-Korsel”, [Data on-line]; tersedia di:
http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/indokor ;internet, diunduh pada 6 Agustus 2014.
41
dengan secara aktif mengkoordinasikan JTF-EC, WLTFM, dan Sekretariat
Bersama.76
Menindaklanjuti kesepakatan tersebut maka kembali dibentuk sebuah
kerjasama ekonomi yang juga terkait dalam bidang industri kedua negara yaitu
IK-CEPA pada tahun 2011 dan JSG sebagai pondasi kerjasama untuk mempererat
hubungan kerjasama ekonomi industri kedua negara yang dibentuk berdasarkan
tiga pilar yaitu akses pasar perdagangan barang dan jasa, fasilitas perdagangan
dan investasi, cooperation termasuk capacity building.77 Dengan demikian IKCEPA merupakan kesepakatan akhir yang dibentuk kedua negara dan masih
berlangsung hingga saat ini untuk melaksanakan kerjasama terkait ekonomi
industri yang tertuang didalam deklarasi bersama kemitraan strategis “Joint
Declaration” dan dirangkum dalam JTF-EC.
2.2.3 Peluang dan Hambatan Citra “Global Korea” di Indonesia
Indonesia sebagai negara multikultural dapat berbaur dan menerima
budaya luar yang masuk ke Indonesia, selain itu ciri khas masyarakat Indonesia
yang dikenal dengan sifat keramah-tamahannya juga menjadi nilai tambah bagi
keterbukaan Indonesia terhadap budaya asing. Hal ini dijadikan peluang bagi
Korea Selatan untuk mulai secara perlahan menyebarkan pengaruh citra “global
Korea” di Indonesia dengan berbagai cara hingga akhirnya pengaruh Korea
Selatan berhasil masuk ke Indonesia sampai saat ini.
Kedutaan Besar Republik Indonesia, “Kerjasama Ekonomi”, [Data on-line]; internet, diunduh pada 6 Agustus 2014.
Dirjen-Kementerian Perdagangan RI; “Indonesia-Korea Selatan, Joint Study Group For A Comprehensive Economic
Partnership Agreement” diunduh pada 6 Agustus 2014. (Lihat dalam: Lampiran II IK-CEPA).
76
77
42
Point penting yang harus dipahami bahwa, suksesnya citra “global Korea”
tersebut tidak terlepas dari peran penting industri kreatif Korea Selatan sebagai
jalan bagi masuknya industri-industri besar Korea Selatan di Indonesia. Industri
kreatif memiliki kekuatan melalui media yang berperan sebagai sarana sumber
rujukan untuk menikmati karya budaya dan industri Korea Selatan, sehingga
industri-industri besar Korea Selatan lainnya adalah pihak yang juga terlibat
dalam produksi kreatif Korea Selatan. Keterlibatan tersebut bertujuan sebagai alat
promosi dan menunjang peningkatan perekonomian Korea Selatan sebagai negara
industri maju dunia. Sehingga dapat dikatakan bahwa media memiliki peran yang
signifikan dan memiliki pengaruh dalam implementasi diplomasi multi track dan
kebijakan kedua negara terkait kerjasama ekonomi industri.
Selain peluang yang dimanfaatkan Korea Selatan dalam menyebarkan citra
“global Korea” yang berhasil membuka peluang kerjasama ekonomi industri
Korea Selatan di Indonesia, terdapat juga hambatan yang harus dihadapi seperti
demonstrasi pekerja buruh Indonesia terhadap beberapa perusahaan Korea Selatan
di Indonesia, Pertentangan privatisasi dan investasi asing yang dilakukan
peerintah terhadap KS dengan POSCO, serta persaingan industri antara Korea
Selatan dengan Jepang di pasar domestik Indonesia.
Demontrasi pekerja buruh Indonesia terhadap perusahaan Korea Selatan di
Indonesia dimulai pada masa demoktarisasi atau masa yang dikenal dengan rezim
militer dan kebanyakan perselisihan terjadi di perusahaan industri manufaktur
yang pada akhirnya menimbulkan mogok kerja dan demonstrasi, sehingga
menyebabkan terjadinya pemecatan, bahkan PHK masal terhadap buruh pekerja
43
Indonesia.78 Peristiwa tersebut menarik simpati media massa nasional Indonesia
dan dikenal dengan isu ”Ugly Korean”, sehingga kemudian mengundang aksi
bersama internasional seperti Global Alliance for Workers and Communities,
WRC (Konsorium Hak-hak Buruh), dan KHIS sebagai bentuk solidaritas.79
Penyebab
terjadinya
perselisihan
dikarenakan
sistem
manajemen
perusahaan Korea Selatan yang kasar masa itu hingga menimbulkan pelanggaran
ketenagakerjaan. Sedikitnya ada sebelas pelanggaran ketenagakerjaan dibeberapa
perusahaan Korea Selatan diantaranya berupa gaji dibawah UMR, tidak
mengizinkan waktu sholat bagi umat islam, memaksakan kerja lembur dan tidak
diberikan upah pekerjaan lembur, adanya pelecehan seksual, pemukulan serta
perkataan kasar dan menghina pekerja Indonesia, larangan untuk izin atau tidak
menjamin cuti saat hamil-kelahiran-maupun menstruasi, PHK tanpa alasan yang
jelas dan tanpa pesangon, penggelapan uang jaminan sosial dan sebagainya.80
Namun secara berangsur pemerintah Korea Selatan dan perusahaan
industri Korea Selatan berusaha memperbaiki perselisihan dengan merubah total
sistem manajemen perusahaan Korea Selatan menjadi lebih baik.81 Pemerintah
Indonesia juga mengeluarkan Undang - Undang Ketenagakerjaan yang disahkan
pada tahun 2003.82 Perselisihan tersebut secara bertahap berhasil terselesaikan,
hingga sampai saat ini kedua negara tetap menjalin hubungan diplomatik dan
hubungan kerjasama ekonomi industri bilateral dengan cukup baik.
Jeon dan Yuwanto, “Era Emas Hubungan Indonesia-Korea”, h.66.
Ugly Korean merupakan perilaku dan sikap orang-orang Korea yang berperanngai buruk terhadap pegawai atau buruh
pekerja Indonesia dalam menjalankan bisnis perusahaan.(Lihat dalam: Jeon & Yuwanto, “Era Emas Hubungan IndonesiaKorea”, h.74).
80
Jeon & Yuwanto, “Era Emas Hubungan Indonesia-Korea”, h.77.
81
Jeon & Yuwanto, “Era Emas Hubungan Indonesia-Korea”, h.64
82
Jeon & Yuwanto, “Era Emas Hubungan Indonesia-Korea”, h.66
78
79
44
BAB.III
PERAN PENTING STRATEGI MULTI TRACK DIPLOMACY DALAM
KERJASAMA EKONOMI INDUSTRI KOREA SELATAN-INDONESIA
2006-2012
3.1 Latar Belakang Penggunaan Strategi Multi Track Diplomacy
Multi-track diplomacy memberikan lebih banyak peluang dan keuntungan
dalam aktivitas hubungan kerjasama ekonomi industri Korea Selatan karena
menciptakan peacebuilding melalui soft power dengan menggunakan peran bisnis
dan media terhadap negara lain termasuk Indonesia. Hal tersebut karena diplomasi
ini tidak lagi merupakan tugas para diplomat atau pemerintah saja tetapi telah
melibatkan berbagai lingkup masyarakat dari berbagai negara sehingga
menciptakan power yang lebih kuat, menghasilkan ide-ide yang lebih kreatif,
memperluas hubungan persahabatan internasional, dapat mengatur strategi yang
tepat dalam pelaksanaan kebijakan luar negeri, dan efisiensi waktu dalam
mewujudkan hubungan kerjasama yang berlandaskan perdamaian.
Alasan yang mendasari Korea Selatan menggunakan multi track
diplomacy cukup beragam. Secara internal, tingginya minat masyarakat Korea
Selatan untuk menjadikan negaranya sebagai salah satu icon dunia dan
menjadikan negaranya jauh lebih baik dari Jepang. Keadaan masyarakat Korea
Selatan yang memiliki ciri menjunjung tinggi nilai sejarah bangsa mereka dan
ajaran konfusianisme, menjaga semangat persatuan Korea Selatan, kegigihan dan
semangat kerja, serta tingkat kedisiplinan yang cukup tinggi, membuat Korea
Selatan ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka mampu
45
bergerak dari penderitaan perang saudara, imprealisme Jepang, dan kemiskinan
menjadi salah satu negara yang memilliki power dan disegani dunia internasional.
Terkait peran dalam bidang industri antara Korea Selatan dengan
Indonesia, pada dasarnya perusahaan kedua negara tersebut memang saling
bersaing di Indonesia terutama dalam hal elektronik dan otomotif. Korea Selatan
menyambut ekspansi perdagangan dan investasi Jepang di Indonesia. Tapi
disamping itu, Korea Selatan dengan Jepang juga menjalin hubungan kerjasama
kerjasama di Indonesia, salah satunya proyek energi seperti kerja sama Mitsubishi
Corporation dan Korea Gas Corporation (Kogas) di blok gas alam cair Donggi
Senoro, Sulawesi Tengah Indonesia.83 Bahkan untuk saat ini Kim Young-Sun
menjelaskan bahwa pemerintahan Korea Selatan yang baru di bawah pimpinan
Presiden Park Geun Hye tidak akan mengubah kebijakan ekonomi luar negeri
Korea Selatan dengan Indonesia, meskipun ada potensi penguatan persaingan
dengan Jepang.84 Hal tersebut dikarenakan menurutnya saat ini, Pemerintah Korea
Selatan dan Indonesia fokus dalam menyelesaikan kerja sama kemitraan ekonomi
strategis atau IK-CEPA yang telah dimulai sejak 2012.85
Hal tersebut secara langsung ataupun tidak menuntut pemerintah Korea
Selatan dan seluruh aktor yang memiliki peran penting di Korea Selatan untuk
terus melakukan berbagai hubungan kerjasama dan berbagai strategi diplomasi
secara totalitas yang dikenal dengan multi track diplomacy. Sedangkan alasan
mendasar yang datang dari eksternal dikarenakan multi track diplomacy saat ini
Kementerin Perindustrian Republik Indonesia, “Korsel Siap Bersaing dengan Jepang”, [berita online]; tersedia di:
http://www.kemenperin.go.id/artikel/5764/Korsel-Siap-Bersaing-dengan-Jepang ;internet; diunduh pada 8 Oktober 2014.
84
Kementerin Perindustrian Republik Indonesia, “Korsel Siap Bersaing dengan Jepang”, 8 Oktober 2014.
85
Kementerin Perindustrian Republik Indonesia, “Korsel Siap Bersaing dengan Jepang”, 8 Oktober 2014.
83
46
sedang menjadi fokus penting dalam sistem hubungan internasional oleh sebagian
besar pemerintah negara didunia, untuk mewujudkan kepentingan masing-masing
pihak dan meningkatkan bargaining position di dunia internasional di abad ke-21
dalam situasi untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan.
Selain itu konflik antara Korea Utara dengan Korea Selatan yang hingga
saat ini belum terselesaikan sepenuhnya, juga menjadi salah satu fokus bagi Korea
Selatan dalam melakukan strategi multi track diplomacy.86 Perbedaan yang sangat
jelas diantara kedua negara terutama dalam bidang pemerintahan dimana Korea
Selatan menganut sistem negara demokratis dan Korea Utara menganut sistem
Komunis. Korea Selatan juga menjalin keterbukaan hubungan kerjasama dengan
berbagai negara dunia diberbagai bidang namun Korea Utara menutup diri dengan
negara lain kecuali hubungan kerjasama Kaesong Industrial Complex dengan
Korea Selatan dan China. Kedua hal tersebut jelas memberikan pengaruh besar
bagi perkembangan ekonomi, sosial, politik dan kesejahteraan masing-masing
negara. Sehingga Korea Selatan dirasa perlu melakukan perubahan terhadap
kebijakan di dalam negeri dan luar negerinya dalam berbagai aspek untuk
memberikan perubahan yang lebih baik lagi pada negaranya dan negara
saudaranya
3.2 Multi Track Diplomacy Sebagai Strategi Untuk Meningkatkan Ekonomi
Korea Selatan
Strategi multi track diplomacy dapat dinilai sebagai langkah dinamis yang
dapat dilakukan oleh pemerintah, individu, institusi atau suatu komunitas tertentu.
86
Myung Oak Kim dan Sam Jaffe, “The New Korea”, h.29.
47
Sehingga secara substansial dapat dikatakan kebijakan multi track diplomacy
dapat meminimalisir kerugian dan memberikan keuntungan pada perkembangan
ekonomi industri karena dapat meningkatkan pendapatan negara dari berbagai
aspek dan ruang lingkup. Implementasi dari strategi diplomasi tersebut telah
dijalankan sesuai dengan kesepakatan deklarasi kemitraan strategis kedua negara.
Keberhasilan multi track diplomacy sebagai strategi meningkatkan
perekonomian industri Korea Selatan dibuktikan dengan bertambahnya jumlah
perusahaan besar Korea Selatan yang menanamkan modalnya di Indonesia,
hingga tahun 2012 sebanyak 419 perusahaan industri salah satu diantaranya ialah
POSCO.87 BKPM Indonesia mengatakan bahwa sejak tahun 2008 hingga tahun
2012 POSCO telah menanamkan FDI di Indonesia yang bergerak dalam industri
besi dan baja senilai US$ 1,51 triliun yang berlokasi di Cilegon, Banten.88
Keberhasilan multi track diplomacy dalam meningkatkan ekonomi industri
Korea Selatan juga dibuktikan dengan pendapatan negara yang meningkat dari
kesuksesan hasil produk industri dan sektor pariwisata. Pada sektor industri,
kesuksesan ekonomi berasal dari meningkatnya penjualan dan minat terhadap
berbagai produk industri Korea Selatan yang sering digunakan masyarakat seperti
Samsung.
Samsung telah berkembang menjadi korporasi kelas dunia dengan bisnis
meliputi teknologi canggih, semikonduktor, konstruksi pencakar langit dan
87
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, jawaban pertanyaan publik (pertanyaan via online); tersedia di:
http://www.kemenperin.go.id/tanyajawab/detail.php?id=4732 ;internet. (Lihat dalam: Lampiran 4 “Perusahaan Korea
Selatan Yang Menjalankan industri di Indonesia Tahun 2010-2012).
88
Kompas.com, “10 Investor Korea Selatan Terbesar di Indonesia”; [artikel online]; tersedia di:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/03/28/13542033/Ini.10.Investor.Korsel.Terbesar.di.Indonesia
;internet;
diunduh pada 10 Juli 2014.
48
pabrik, petrokimia, busana, obat, keuangan, hotel, asuransi, dll.89 Sehingga dalam
implementasinya penjualan bersih, total aset, pendapatan bersih perusahaan
Samsung pada tahun 2008 hingga tahun 2012 rata-rata meningkat setiap tahunnya.
Artinya hal ini dapat memberikan kontribusi pada pendapatan negara dan
peningkatan citra nasional Korea Selatan.
Grafik III.6 Penjualan Bersih Samsung Tahun 2008-2012
Sumber:http://www.samsung.com/id/aboutsamsung/samsung/performance/performance.html
Grafik III.7 Total Aset Samsung Tahun 2008-2012
Sumber:http://www.samsung.com/id/aboutsamsung/samsung/performance/performance.html
Samsung, “Tentang Samsung”. Kepemimmpinan Samsung, Sebagai Perusahaan Kelas Dunia. [Data on-line]; tersedia di:
http://www.samsung.com/id/aboutsamsung/index.html ;internet; diunduh 1 Juni 2014.
89
49
Grafik III.8 Pendapatan Bersih Samsung Tahun 2008-2012
Sumber:http://www.samsung.com/id/aboutsamsung/samsung/performance/performance.html
Ketiga trend grafik diatas merupakan hasil dari penjualan bersih Samsung,
total aset Samsung, dan pendapatan bersih Samsung dalam satu perusahaan sejak
tahun 2008 hingga 2012 yang rata-rata mengalami peningkatan pertahunnya. Data
trend analisis penjualan bersih Samsung, pada tahun 2008 memperlihatkan nilai
penjulan bersih sebesar US$ 173,4 miliar. Tahun berikutnya penjualan bersih
terkoreksi menjadi US$ 172,5 miliar. Tahun 2010 berhasil meningkat sebesar US$
220,1 miliar. Pada tahun 2011 total penjualan bersih memuncak sebesar US$
247,5 miliar, hingga pendataan terakhir pada tahun 2012 total penjualan bersih
Samsung senilai US$ 268,8 miliar.
Data trend analisis total aset Samsung rata-rata mengalami peningkatan
nilai yang cukup signifikan setiap tahunnya mulai tahun 2008 hingga 2012. Pada
tahun 2008 total aset Samsung senilai US$ 252,5 miliar, ditahun 2009 total aset
Samsung senilai US$ 294,5 miliar, ditahun 2010 total aset Samsung kembali
meningkat senilai US$ 343,3 miliar, ditahun 2011 total aset Samsung meningkat
senilai US$ 384,3 miliar, dan terakhir tahun 2012 total aset Samsung meningkat
tajam senilai US$ 470,2 miliar. Total aset Samsung tersebut merupakan hasil
50
kekayaan yang dimiliki perusahaan Samsung berupa merk dagang, hak paten
teknologi, gedung dan sebagainya memiliki nilai ekonomi tinggi.
Data trend analisis pendapatan bersih Samsung tahun sejak 2008 hingga
2012 juga memperlihatkan peningkatan nilai yang signifikan. Pada tahun 2008
pendapatan bersih Samsung seniai US$ 10,7 miliar, ditahun 2009 pendapatan
bersih Samsung meningkat menjadi US$ 13,8 miliar, selanjutnya tahun 2010
pendapatan bersih Samsung meningkat tajam dengan nilai US$ 21,2 miliar, tetapi
ditahun 2011 pendapatan bersih Samsung menurun dengan nilai US$ 18,3 miliar,
pendapatan bersih Samsung di tahun 2012 kembali meningkat tajam dengan nilai
sebesar US$ 26,2 miliar. Pendapatan bersih Samsung tersebut didapat berdasarkan
sisa setelah penghasilan atau penjualan bersih dikurangi semua biaya dalam satu
periode termasuk biaya pajak, sehingga dapat dihasilkan total pendapatan bersih
Samsung yang berbeda pertahunnya.
Semakin bertambahnya nilai yang dihasilkan pada penjualan bersih, aset
total, dan pendapatan bersih Samsung secara rata-rata setiap tahunnya, maka
menggambarkan bahwa semakin bertambahnya juga minat masyarakat domestik
Korea Selatan maupun masyarakat internasional terhadap perusahaan Samsung.
Peran yang lebih proaktif dan efektif dari berbagai pihak melalui multi track
diplomacy telah berhasil memberikan kontribusi meningkatkan penjualan hasil
produksi perusahaan Samsung.
Sektor pariwisata juga menjadi industri favorit dalam ekonomi Korea
Selatan pada abad ke-21. Pariwisata menciptakan sebuah efek lingkungan yang
positif, menghasilkan efek ekonomi yang positif dan secara keseluruhan jumlah
51
devisa pariwisata ialah sebesar 85,5%.90 Kesuksesan diplomasi communications
and the media melalui pengaruh kebudayaan memberikan kesuksesan pada sektor
pariwisata Korea Selatan yang mengalami pertumbuhan 10% setiap tahun selama
beberapa tahun terakhir sehingga jumlah wisatawan internasional yang
ditargetkan mencapai 1,5 milyar pada tahun 2020 menjadi hal yang tidak mustahil
dapat dicapai.91 Pada tahun 2012, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke
Korea Selatan melonjak tercatat lebih dari 10 juta orang untuk pertama kalinya.92
3.3 Multi Track Diplomacy Sebagai Strategi Untuk Memperkuat Posisi
Korea Selatan Sebagai Negara Industri Maju Dunia.
Multi track diplomacy selain dapat meningkatkan perekonomian Korea
Selatan juga digunakan sebagai strategi untuk memperkuat posisi Korea Selatan
sebagai negara industri maju dunia dengan memobilisasi industri Korea Selatan di
Indonesia. Pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, diolah
semaksimal mungkin oleh kedua negara menjadi hasil industri yang beraneka
ragam sebagai upaya awal untuk memperkuat posisi Korea Selatan di Indonesia.
Impor kelompok hasil industri Korea Selatan di Indonesia saat ini telah
berada pada jenis yang beragam dan dengan jumlah yang terus meningkat
pertahunnya sejak tahun 2007. Beberapa hasil industri tersebut diantaranya hasil
industri besi baja, mesin dan otomotif dengan total sebesar 32,26 %; hasil industri
Korean Tourism Organization, “Economic Benefit of Tourism”. [Data on-line] tersedia di:
http://kto.visitkorea.or.kr/eng/tourismStatics/economicBenefits.kto ;internet; diunduh pada 30 Mei 2014.
91
KBS World Radio, Expo Pariwisata Korea 2012 Dibuka Pekan Lalu. [Data on-line];
tersedia di:
http://world.kbs.co.kr/indonesian/program/program_economyweekly_detail.htm?No=35355 ;internet; diunduh pada 20
Februari 2014.
92
KBS World Radio, “Isu Bisnis”, Status Terkini industri pariwisata Korea Selatan dan implikasi ekonominya. 7
November
2013.
[Data
on-line];
tersedia
di:
http://world.kbs.co.kr/indonesian/program/program_economyplus_detail.htm?no=4051 ;internet; diunduh pada 20 Februari
2014.
90
52
elektronik dengan total sebesar 47,69%; hasil industri musik, alat olahraga,
pendidikan dan mainan dengan total sebesar 58.96%; hasil industri tekstil dengan
total sebesar 77,07%; alat-alat listrik dengan total sebesar 25,72%; kulit, barang
kulit dan sepatu/alas kaki dengan total sebesar 41,46%; semen dan produk dari
semen dengan total sebesar 65,83%; Peng.emas, perak, logam mulia, perhiasan
dengan total sebesar 52,14%, kosmetika dengan total presentasi sebesar 52,31%,
dan hasil industri komoditi lainnya dengan total sebesar 37,13%; dan lain-lain.93
Sedangkan untuk jumlah investasi Korea Selatan di Indonesia berdasarkan
industri juga beragam sejak tahun 1968 hingga tahun 2010 seperti industri
manufaktur, real estate activities, konstruksi, agrikultur, wholesale and retail
trade, transportasi, dll.94 Besarnya jumlah hasil industri tersebut merupakan salah
satu bukti kesuksesan diplomasi multi track Korea Selatan melalui perusahaan
industri Korea Selatan yang disesuaikan dengan sumber daya alam indonesia juga
kebutuhan masyarakat Indonesia, hingga secara tidak langsung sampai kepada
mobilisasi industri Indonesia. Semaraknya aktivitas kerjasama ini membuktikan
bahwa Korea Selatan telah masuk sebagai salah satu negara industri maju dunia
yang berperan penting dalam kerjasama ekonomi industri terhadap Indonesia.
3.4 Multi Track Diplomacy Sebagai Strategi Untuk Membangun Citra “global
Korea” .
Korea telah menggunakan slogan-slogan "global Korea" dan "dynamic
Korea" untuk menciptakan citra positif dari Korea Selatan dalam masyarakat
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, “jawaban pertanyaan publik (pertanyaan via online)”;; tersedia di:
http://kemenperin.go.id/jawaban.php?id=14283-47015&q=3 ;internet; diunduh pada 28-05-2014. (Lihat dalam: Lampiran 5
“Pantauan Impor 31 Kelompok Hasil Industri Korea Selatan di Indonesia”.
94
Dirjen-Kementerian Perdagangan RI; “Indonesia-Korea Selatan, Joint Study Group For A Comprehensive Economic
Partnership Agreement” diunduh pada 6 Agustus 2014. (Lihat dalam: Lampiran II IK-CEPA)
93
53
internasional. Kebijakan mengkonsumsi produk merek nasional juga merupakan
bagian dari kampanye nasional untuk memimpin warga Korea Selatan untuk maju
dan memperbaiki kegagalan yang telah dimiliki Korea Selatan dimasa lalu.95
Dengan demikian untuk merumuskan kebijakan merek nasional tersebut sangat
dibutuhkan adanya partisipasi dan perhatian masyarakat sipil karena melalui
masyarakat sipil ini akan memperluas pengaruh citra “global Korea”. Hal tersebut
adalah salah satu alasan pemerintah Korea Selatan telah mulai membentuk
kemitraan dengan institusi pemerintah, organisasi-organisasi swasta dan
menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesannya.96
Keinginan dalam mewujudkan citra “global Korea” merupakan sebuah
kebijakan yang tidak dapat diwijudkan dalam periode singkat tetapi membutuhkan
waktu berkala cukup lama, karena tidak mudah membuat negara lain tertarik
terhadap nilai budaya asing negara lain. Hal tersebut dibuktikan dengan kebijakan
Presiden Lee Myung-bak dalam meningkatkan kemampuan masyarakat Korea
Selatan agar menjadi lebih kreatif, cerdas, dan kuat agar tercipta masyarakat
Korea Selatan yang dapat bersaing di dunia internasional dan mampu
berkontribusi untuk dunia internasional dalam isu internasional yang bersifat
multi nasional hingga tercipta perdamaian.97
Keinginan untuk menanamkan dan membangun citra “global Korea” di
dunia internasional sebenarnya sudah lama diterapkan pemerintah Korea Selatan.
Pemerintah beserta aktor penting lainnya telah menjalankan strateginya untuk
The Asan Institute For Policy Studies, ISSUE Brief-No.39, “Korea‟s Public Diplomacy: A New Initiative For The
Future”, 2012,[Pdf online], h.19.
96
The Asan Institute For Policy Studies, “Korea‟s Public Diplomacy, 2012, [Pdf online], h.20
97
Lee Myung-Bak, “The Lee Myung-Bak Administration‟s Foreign Policy and National Security Vision: “global Korea”
The National Strategy of the Republic of Korea”, (Cheong Wa Dae: Office of The President, 2009) h.12.
95
54
membangun citra “global Korea”. Citra “global Korea” yang disebarkan oleh
Korea Selatan di abad ini pada dasarnya dapat dikatakan bertujuan untuk
mempengaruhi pandangan dunia internasional terhadap Korea Selatan menjadi
citra positif dan negara demokratis. Namun pada akhirnya hal tersebut mengarah
pada peningkatan eksistensi Korea Selatan di dunia internasional yang bertujuan
untuk memajukan ekonomi industrinya dan menjadikan negara saudaranya sebuah
bangsa kooperatif dan modern.
Kebaradan kebudayaan Korea Selatan mencapai kepopuleran besar di
kancah internasional saat ini melalui Hallyu/Korean Wave telah ikut memberikan
perkembangan besar dan memperkaya citra budaya tradisional Korea Selatan.
Kedua hal tersebut telah sukses dalam membantu menyebarkan citra “global
Korea” secara perlahan ke dunia internasional termasuk Indonesia. Instrumen
dalam citra “global Korea” selain memperkenalkan kemajuan teknologi dan
informasi mutakhir dalam industrinya serta budaya modern Korea Selatan, ialah
juga memperkenalkan aspek lain yaitu Hangeul/한글 (alfabet Korea),
Hanbok/한복 (pakaian tradisional Korean), Hansik/한식 (makanan Korea),
Hanok (rumah tradisional Korea), Hanji (kertas tradisional Korea), dan Hanguk
Eumak (musik tradisional Korea) keenam simbol budaya leluhur tradisional Korea
Selatan itu secara kolektif disebut Han Style.98
Stategi ekspor budaya tersebut terlebih dulu diperkenalkan sejak masa
pemerintahan Kim Dae-jung (1998-2003). Bukti atas dukungan penuh beliau
98
Korean Tourism Organization,Imagine Your Korea-Visit Korea, “Culture-Hanstyle”; [artikel online]; tersedia di:
http://asiaenglish.visitkorea.or.kr/ena/CU/CU_EN_8_3.jsp ;internet; diunduh pada 9 September 2014.
55
terhadap strategi tersebut ialah gelar informal yang diperoleh beliau sebagai
President of Culture dan meraih nobel perdamaian serta dibuatnya Basic Law for
the Cultural Industry Promotion (hukum dasar untuk promosi industri budaya)
pada tahun 1999, beliau juga memberikan bantuan sebesar US$.148.5 juta untuk
mensukseskan kebijakan tersebut.99 Disamping itu sejak tahun 2006, MOFAT
juga mendukung visi membangun dan menyebarkan citra “global Korea” dengan
membangun jaringan global agar pemerintah Korea Selatan dapat menjangkau
lebih banyak kerjasama dengan negara lain dan menciptakan citra positif di mata
dunia.
Saat ini keberhasilan Korea Selatan melalui aktor pemerintah, bisnis dan
media dalam penyebaran citra “global Korea” ialah dengan adanya 830 klub
penggemar Hallyu/Korean Wave di lebih dari 80 negara dengan total lebih dari
6,7 juta members.100 Bahkan saat ini lebih dari 640 Universitas dan 2100 sekolah
di seluruh dunia menawarkan program bahasa Korea.101
99
Sung Sang-Yeon, “Why are Asians Attracted to Korean Pop Culture?, The Korea Herald (eds). Korean wave”, ( Seoul:
Jimoondang, 2008), h.16-17.
100
Sung-hwan Kim, “Diplomacy Out in Public,” Joongang Daily , 20 Agustus 2012.
101
Hong-jin Kim, “The Growing Popularity of the Korean Language,” Joongang Daily, [berita online]; tersedia di:
http://english.chosun.com/site/data/html_dir/2009/09/11/2009091100859.html ;internet; diunduh pada 1 Oktober 2014.
56
BAB.IV.
LANGKAH MULTI TRACK DIPLOMACY DALAM KERJASAMA
EKONOMI INDUSTRI KOREA SELATAN-INDONESIA 2006-2012
4.1 Aktor Multi Track Diplomacy dalam Kerjasama Ekonomi Industri
Korea Selatan- Indonesia
Korea Selatan dalam pelaksanaan politik luar negerinya memiliki dua
kebijakan nasional utama yakni, mengembangkan ekonomi nasional sambil
memperkuat kekuatan pertahanannya.102 Berdasarakan pada kebijakan nasional
tersebut, maka Korea Selatan harus lebih mengoptimalkan setiap kebijakannya
secara seimbang baik itu kebijakan dalam negeri maupun luar negeri melalui multi
track diplomacy untuk menciptakan perdamaian.
Multy track diplomacy yang dilakukan Korea Selatan melibatkan aktor:
1) Pemerintah Korea Selatan dalam hal ini ialah MOFAT
Aktor pemerintah ini merupakan aktor pertama yang berperan penting
untuk menciptakan awal kesepakatan kerjasama ekonomi industri yang legal
antara Korea Selatan dan Indonesia. Kerjasama tersebut dikhususkan pada
perdagangan, FDI, dan ekspor dengan melibatkan industri besar Korea Selatan
seperti POSCO dan Arirang World TV (After School Club). Industri tersebutlah
yang nantinya memiliki kekuatan untuk mempengaruhi masyarakat Indonesia.
Implementasi dari kebijakan tersebut nantinya akan dilaksanakan oleh aktor-aktor
102
Seung-yoon dan Mohtar Mas‟oed. 8.
57
penting lain Korea Selatan yaitu aktor bisnis juga aktor media dan komunikasi,
yang bekerjasama dan berada dibawah tanggung jawab MOFAT
2) Aktor bisnis atau perusahaan bisnis Korea Selatan ialah: POSCO
3) Aktor media dan komunikasi Korea Selatan ialah: Arirang World TV dengan
salah satu program menariknya yaitu After School Club.
4.2 Strategi Multi Track Diplomacy Korea Selatan Terhadap Indonesia
Strategi multi track diplomacy yang dilakukan ketiga aktor Korea Selatan
tersebut dalam mewujudkan kesuksesan kerjasama ekonomi industri ialah:
4.2.1
Diplomasi Government (Perwujudan Perdamaian melalui Diplomasi
Pemerintah)
Strategi government ini bekerja pada level pemerintah untuk menciptakan
dan menjaga kepercayaan antara Korea Selatan dengan Indonesia, serta awal
dibangunnya
hubungan
kerjasama
dan
kesepakatan
untuk
menciptakan
perdamaian antar kedua negara negara melalui diplomasi pemerintah. Strategi
diplomasi government Korea Selatan tidak mengusung atas kepentingan pribadi
ataupun kelompok namun atas kepentingan pemerintahan, negara dan masyarakat
yang diwakilinya untuk kesejahteraan bersama. Strategi diplomacy government
dijalankan oleh badan-badan atau isntitusi khusus pemerintah agar proses
kerjasama dapat berjalan dengan efektif, diantaranya:
4.2.1.1 Kepala Negara dan Kedutaan Republik Korea di Indonesia (G to G):
Strategi dilomacy government yang dilakukan oleh Kepala Negara dan
Kedutaan Republik Korea Selatan terhadap Indonesia dengan pemerintah
58
Indonesia ialah dengan dibuatnya berbagai kesepakatan kerjasama ekonomi
industri yang pada akhirnya untuk meningkatkan volume hubungan kerjasama
ekonomi industri kedua negara. Berbagai kesepakatan dan kerjasama yang
berhubungan dengan ekonomi industri antara Korea Selatan terhadap Indonesia
yang kemudian memberikan peningkatan volume dan intensitas ekonomi industri
terhadap Korea Selatan, dapat dibuktikan dengan:
 Kesepakatan digelarnya “Koren Indonesia Week 2009”. Duta Besar Korea
Selatan untuk Indonesia, Kim Ho-young meresmikan “Pekan budaya Korea”
(Korean Cultural Week) pada tanggal 9-18 Oktober 2009, di Jakarta.103 Korean
Week sukses mendapat respon positif dari masyarakat Indonesia juga member
kontribusi dalam penyebaran kemajuan teknologi informasi, budaya, dan nilai
keidupan Korea Selatan.
 Diresmikannya kantor KCC Jakarta dan KTO Jakarta tahun 2011, seperti yang
telah terdapat dibeberapa negara lain.
 Berdirinya kantor cabang Korea Selatan di Indonesia yang berjumlah sekitar
1.300 kantor, serta menyediakan 500.000 lapangan pekerjaan, dan nilai total
Korea Selatan dalam Ekspor luar negeri ke Indonesia sebesar 7% atau 96
triliun.104
 Posisi Korea Selatan sebagai rekan dagang terbesar keenam bagi Indonesia,
dan Indonesia merupakan rekan dagang terbesar kesepuluh bagi Korea Selatan,
bahkan terdapat sekitar 23.000 orang Indonesia di Korea Selatan turut
KCC, “Korean Culture Week in Jakarta” [data on-line]; tersedia di: http://koreanindo.net/2009/10/10/korean-cultureweek-in-jakarta/ ;internet; diunduh pada 11 Juli 2014
104
Korean Cultural Center, “Tentang Korea”, Hubungan Internasional Korea Indonesia. [Data on-line]; tersedia di:
http://id.koreanculture.org/navigator.do?siteCode=null&langCode=null&menuCode=201105180021&promImg=1309399369724.gif&men
uType=CH&subImg=1309399369724.gif ;internet; diunduh pada 12 Mei 2014.
103
59
memberikan kontribusi penting bagi kemajuan ekonomi Korea Selatan, dan
terdapat sekitar 31.000 orang Korea Selatan serta 1.200 perusahaan Korea
Selatan di Indonesia.105
 Hingga tahun 2012, realisasi kerjasama perdagangan antara Indonesia dan
Korea Selatan mencapai US$ 26,9 miliar, nilai ekspor produk Indonesia ke
Korea Selatan adalah US$15 miliar, dan nilai ekspor Korea Selatan ke
Indonesia adalah US$ 11,9 miliar. 106
Berikut merupakan hasil nilai ekspor, FDI Korea Selatan ke Indonesia yang
secara umum meningkat mulai dari tahun 2006-2012:
Tabel IV.2 Nilai Ekspor Perdagangan dan FDI Korea Selatan ke Indonesia
Tahun 2007-2013 (Hitungan Komulatif 1968-2013)
Korea ke Indonesia
105
Kedutaan Besar Republik Korea Untuk Indonesia, “Sambutan dari Duta Besar”, Ministry of Foreign Affairs and Trade,
[Artikel on-line] tersedia di: http://idn.mofat.go.kr/worldlanguage/asia/ind/mission/greetings/index.jsp ;internet, diunduh
pada 20 Februari 2014.
106
VOA News Indonesia,“Korea Selatan Tingkatkan Investasi di Indonesia” 1 Oktober 2013, [Berita on-line] tersedia di:
http://Korea/Selatan/Tingkatkan/Investasi/di/Indonesia_voaindonesia_com.htm ; internet, diunduh pada 31 Desember 2013.
60
Sumber: Kedutaan Besar Republik Korea Untuk Indonesia; Perdagangan dan FDI;
http://idn.mofa.go.kr/worldlanguage/asia/idn/bilateral/ekonomi/dan/index.jsp
Berdasarkan data analisis tabel diatas perkembangan ekspor dan FDI
Korea Selatan ke Indonesia sejak tahun 2007 hingga tahun 2012 secara umum
dapat dikatakan meningkat. Pada tahun 2012 jumlah ekspor Korea Selatan senilai
US$ 13,946 juta, yang diawali senilai US$ 5,771 pada tahun 2007. Nilai FDI
Korea Selatan ke Indonesia mengalami pasang surut namun secara umum dapat
dikatakan bahwa nilai FDI Korea Selatan ke Indonesia masih dalam jumlah yang
tinggi sejak tahun 2007 hingga tahun 2012. Pada data analisis tabel diatas,
hubungan kerjasama bilateral dalam aspek ekonomi industri semakin intens antar
kedua negara dan dapat dilihat melalui sudut pandang FDI Korea Selatan di
Indonesia yang meningkat dengan nilai US$ 271 juta dengan 276 proyek pada
tahun 2007, bertambah sebesar US$ 1.376 juta dengan 448 proyek FDI pada tahun
2012.
Keterlibatan berbagai masyarakat internasional dalam mewujudkan
hubungan kerjasama bilateral Korea Selatan dengan Indonesia, membuka peluang
bagi aktor non negara Korea Selatan untuk ikut meningatkan intensitas
perdagangan internasional Korea Selatan. Hal tersebut terbukti dari penanaman
FDI Korea Selatan di Indonesia bukan hanya berasal dari pemeritah, tetapi juga
aktor business melalui diplomasi business nya di berbagai sektor industri, aktor
media dan komunikasi melalui diplomasi communications and media nya, juga
aktor seni budaya. Karena pada dasarnya ukuran untuk menilai kesuksesan
ekonomi dan perdagangan internasional mereka, ialah produk dalam negeri harus
menguasai local market untuk selanjutnya global market.
61
4.2.1.2 Ministry Of Foreign Affairs and Trade (MOFAT).
Keseriusan Pemerintah Korea Selatan dalam mewujudkan kerjasam
ekonomi industri dengan Indonesia, ditindak lanjuti oleh pemerintah Korea
Selatan melalui upayanya dengan menggabungkan beberapa aspek yang memiliki
pengaruh besar dalam perekonomian Korea Selatan melalui citra “global Korea”
seperti bidang bisnis dan media. Dalam hal ini pemerintah memberikan tanggung
jawab kepada MOFAT, karena kementerian tersebut diberikan tangung jawab
oleh pemerintah Korea Selatan untuk menyebarkan citra “global Korea”, MOFAT
bekerjasama dengan aktor non state untuk mendukung segala kebijakan yang
dapat memperkenalkan citra “global Korea” pada masyarakat internasional dan
ekonomi industri maju Korea Selatan.
MOFAT merupakan kementerian Korea Selatan yang membawahi segala
hal yang berkaitan dengan kepentingan luar negeri dan perdagangan Korea
Selatan salah satunya melalui kerjasama ekonomi industri. Sebagai bagian dari
upaya untuk membangun kemitraan strategis, maka MOFAT memegang forum
tahunan dengan perwakilan non government di mana mereka berbagi pengalaman
dan kegiatan mereka di seluruh dunia. Terkait dengan tanggung jawabnya, maka
MOFAT lebih memfokuskan kebijakan luar negerinya yaitu dibidang ekonomi
industri yang dikemas kedalam strategi business juga strategi media komunikasi
yaitu dalam hal FDI, perdagangan dan ekspor yang dibantu dengan KOICA.
62
MOFAT juga membangun komunitas cyber non government yang akan
memungkinkan semua non government yang terdaftar untuk bertukar informasi.107
KOICA merupakan lembaga kerjasama internasional pemerintah Korea
Selatan yang berada dibawah MOFAT, didirikan untuk memaksimalkan
efektivitas bantuan Korea Selatan pada negara-negara berkembang termasuk
Indonesia dan bantuan itu bisa berupa hibah maupun program kerjasama teknis
seperti industri dan energi, pendidikan, bantuan kesehatan, bantuan pemerintahan,
agrikultur, kehutanan dan perikanan, serta bantuan bencana alam untuk kerjasama
pembangunan Indonesia dan Korea.108
Kebijakan MOFAT berkerkasama dengan KOICA bertujuan untuk
mempermudah perusahaan-perusahaan Korea Selatan yang berbisnis di Indonesia
sebagai bentuk tanggung jawab sosial Korea Selatan kepada masyarakat
Indonesia. KOICA telah memberi bantuan kepada Indonesia berupa bantuan
tehnik dan pelatihan, pembangunan fisik dan pengadaan peralatan, selain itu
bantuan tehnik dan pelatihan yang dikelola KOICA mempunyai keunggulan
dibandingkan dengan donor lain karena sangat menekankan aspek keberlanjutan
serta penguatan kelembagaan.109
Berikut merupakan beberapa langkahh yang dilakukan oleh pemerintah
Korea Selatan untuk meningkatkan perekonomian industri melalui Hallyu/Korean
Wave bersama dengan aktor bisnis dan media terhadap Indonesia, diantaranya:
1. Dilaksanakan “Korean Indonesian Week (Korean Cultural Week) Indonesia:
The Asan Institute For Policy Studies, ISSUE Brief-No.39, “Korea‟s Public Diplomacy, 2012, h.14
KOICA,
“About
KOICA-Industri
and
Energy”.
[Data
on-line];
tersedia
di:
http://www.koica.go.kr/english/aid/industry/index.html; internet; diunduh pada 17 Mei 2014.
109
Kementerian PPN/BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), “Delegasi Parlemen Korea Untuk
Mempererat Hubungan Kerjasama RI-Korea”. [Data on-line]; tersedia di: http://www.bappenas.go.id/berita-dan-siaranpers/delegasi-parlemen-korea-untuk-mempererat-hubungan-kerjasama-ri-korea/; internet; diunduh pada 12 Mei 2014.
107
108
63
 “Korean Indonesian Week
2009” diselenggarakan pada tanggal 9-18
Oktober 2009, di Jakarta seperti: Balai Kartini, Grand Indonesia,
Blitzmegaplex Pacific Place, Ballroom Intercontinental Hotel, Museum
Nasional Indonesia, Usmar Ismail Hall, Universitas Indonesia. Rangkaian
acara yang dilaksanakan ialah: Pertunjukkan seni Korea, tarian, musik dan
istrumen, Korean Film Festival, Pameran 100 jenis kerajinan bordir khas
Korea Selatan, Pameran produk-produk agrikultur Korea, seperti ginseng,
pir, apel, got-gam, produk kehutanan Korea seperti jamur, jat, dan kenari,
Pameran Korean food, pertunjukkan seni musisi Korea Selatan di Indonesia
dan musisi jazz Indonesia, dan diskusi pendidikan di Korea Selatan dan di
Indonesia.110
 “Korean Indonesian Week 2010”. Dilaksanakan pada tanggal 11-16
Oktober 2010 di Jakarta yaitu Grand Balroom-The Ritz Carlton Hotel,
Senayan Indoor Tennis Stadium, Balai Kartini, Gandaria Mall,
Blitz
Megaplex Grand Indonesia, Pacific Place Mall, Tennis court, Senayan,
Gedung Basket Stadium. Rangkaian acara yang dilaksanakan ialah:
Welcome dinner and Batik Hanbok Fashion Show, Korean Film Festival, KPop singer and dancing, Indonesia – Korea Friendship Sharing Concert
2010 (Korea artist and Indonesia artist performance), Korean Indonesia
2010 Cultural Exchange Festival, Culture Performance, Promotion of
AT&D Korea (Advanced Technology & Design Korea), Job Fair,
Koreanindo, “Korean Culture Week Iin Jakarta”; [data online]; tersedia di; http://koreanindo.net/2009/10/10/koreanculture-week-in-jakarta/ ; internet; diunduh pada 15 Agustus 2014.
110
64
Taekwondo
Exhibition
and
Competition,
Badminton
Friendship
Competition, Taste of Korea Food Festival.111
 “Korean Indonesia Week 2011”. Dilaksanakan pada pada 28 September-3
Oktober 2011, Gandaria City Mall Jakarta. Rangkaian acara yang
dilaksanakan ialah Hallyu Concert Korean Artist Performance, Korean Film
Festival, Korean Food Festival, Korean Traditional Painting Exhibition, The
Beauty of Korean Embroidery Exhibition, Photo Contest.112
 “Korean Indonesia Week 2012”. Dilaksanakan pada tanggal 3-7 Oktober
2012, Mall Taman Anggrek, Jakarta. Rangkaian acara yang dilaksanakan
ialah: K-POP Festival, Korea Winter Travel Fair, K-Food Festival, Korean
Film Festival, Taekwondo Performance, Korean Culture Performance.113
Gambar.IV.2. Festival Korea - Indonesia Week in Indonesia (2009-2012)
Sumber: Korenindo.net – Korean Indonesia Week
Koreanindo, “Korean Culture Week Iin Jakarta”; [data on-line]; ; internet; diunduh pada 15 Agustus 2014.
Koreanindo, “all about Korea-Indonesia Week 2011; [data on-line]; tersedia di http://koreanindo.net/2011/09/20/allabout-korea-indonesia-week-2011/ ; internet; diunduh pada 10 Agustus 2014.
113
KCC,
“Korean
culture
Indonesia
Week“;
[data
on-line];
tersedia
di:
http://id.koreanculture.org/navigator.do?siteCode=&menuCode=201105180015&page=8&pageDown=0&minSeq=33981&maxSeq=5643
4&action=VIEW&seq=44654 internet; diunduh pada 7 Agustus 2014.
111
112
65
2. Diselenggarakan berbagai kegiatan promosi budaya internasional seperti Korea
Travel Fair, Hi Seoul, Busan Travel Fair, Busan Film Festival di berbagai kota
di Korea Selatan, promosi kebudayaan ini dimanfaatkan oleh sejumlah
kelompok seni tari dan budayawan Indonesia untuk berpromosi di Korea
Selatan.114
3. Dibentuk program “Touch Korea” sejak 2010 oleh MOFAT bersama dengan
KTO sebagai kampanye interaktif yang berusaha untuk menggambarkan dan
memperkenalkan Korea Selatan secara virtual kepada para wisatawan untuk
meningkatkan jumlah wisatawan Indonesia ke Korea Selatan.115
Selain itu bentuk keberhasilan strategi diplomasi government MOFAT
juga dapat dibuktikan dengan:
1. Meningkatnya jumlah ekspor produk budaya Korea Selatan. Berdasarkan data
statistik Bank Of Korea, bidang ekspor budaya dan jasa hiburan juga industri
musik Korean-pop, telah menghasilkan keuntungan sebesar US$ 794 juta tahun
lalu, dan mengalami peningkatan 25% dari US$ 637 juta di tahun 2010 seiring
Korean-pop semakin diminati oleh masyarakat internasional.116
2. Masuknya beberapa warisan budaya Korea Selatan dalam daftar warisan dunia
UNESCO “Memory of the World Heritage” ialah Kuil Bulguksa dan Gua
Seokguram tahun 1995; Istana Changdeokgung dan Benteng Hwaseong tahun
1997; situs-situs dolmen di Gochang, Hwasun dan Ganghwado, tempat
114
Kedutaan Besar Republik Indonesia, “Kerjasama Sosial Budaya, [data on-line]: tersedia
http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/2013-01-07-15-02-52/sosbud ;internet; 15 Agustus 2014.
115
Noh Hyun-gi. 2011. “KTO offers virtual dates with K-Pop stars”. [Data on-line]; tersedia
http://www.koreatimes.co.kr/www/news/art/2012/05/201_101202.html; internet; diunduh pada 2 Mei 2014.
116
ChosunMedia, “K-Pop Leads Record Earnings from Cultural Exports,” ChosunMedia-The
Cholsunilbo,
7
Februari
2012.
[Artikel
on-line];
tersedia
http://english.chosun.com/site/data/html_dir/2012/02/07/2012020700892.html ; Internet; diunduh
pada 22 Februari 2014.
66
di:
di;
di
bersejarah Gyeongju, juga ibu kota Kerajaan Silla kuno tahun 2000; pulau
vulkanik Jejudo dan pipa-pipa lavanya tahun 2007, dan sebagainya.117
Dengan demikian seluruh kebijakan yang dibentuk oleh MOFAT,
kemudian diimplementasikan bersama dengan aktor-aktor penting Korea Selatan
melalui strategi business perusahaan industri POSCO juga media dan komunikasi
Arirang World (After School Club), yang nantinya akan diawasi oleh Inspector
General MOFAT. Sehingga adanya keterlibatan kerjasama MOFAT pada
akhirnya juga dapat menjadi aspek yang lebih luas lagi untuk peningkatan
pendapatan ekonomi Korea Selatan dan kemajuan industri Korea Selatan.
4.2.2 Diplomasi Business Korea Selatan Terhadap Indonesia (Perwujudan
Perdamaian melalui Perdagangan, ekspor, dan FDI)
Sebagian besar negara didunia yang tergolong kedalam negara maju
maupun negara berkembang termasuk Korea Selatan dengan Indonesia melakukan
strategi diplomasi business sebagai salah satu cara efektif untuk memperlancar
hubungan kerjasama ekonomi industri kedua negara. Hal ini terlihat jelas dalam
peran yang dimainkan oleh POSCO bersama dengan PT.Krakatau Steel Indonesia.
Sehingga pelaku bisnis merupakan salah satu kelompok kepentingan Korea
Selatan yang bergerak melalui strategi industrinya untuk meningkatkam ekonomi
negara dan memperkuat posisi mereka sebagai negara industri maju dunia saat ini.
Upaya Korea Selatan yang kuat dalam membangun dan meningkatkan
citra bisnis yang sukses didunia internasional terbukti dengan peringkat yang
Korean Cultural Center, “Budaya Korea”, UNESCO, 2014 [Data on-line]; tersedia di: http://id.koreanculture.org/navigator.do?siteCode=null&langCode=null&menuCode=201105180026&promImg=1309399446704.gif&men
uType=CH&subImg=1309399446704.gif ;internet; diunduh 1 Juli 2014.
117
67
didapatkannya sebagai “Business Freedom” di lingkup regional Asia-Pasifik
mengungguli China dan Jepang. Berikut grafik perbandingan tingkat business
global dalam lingkup regional Asia-Pasifik sejak tahun 2005-2014:
Grafik.IV.9 Regional Ranking, Business Freedom-Index of Economic
Freedom in Asia Pasifik
Sumber: The Heritage Foundation, In Partnership With Wall Street Journal
http://www.heritage.org/index/visualize?countries=southkorea|china&src=ranking
Data grafik analisis diatas menerangkan bahwa sejak tahun 2005 hingga
2014 di lingkup Asia Pasifik, Korea Selatan saat ini merupakan negara yang lebih
unggul dan memiliki kebebasan dalam aktivitas bisnis yang lebih tinggi diantara
Jepang dan China yang dikenal sebagai negara dengan kemajuan ekonomi dunia.
Pada tahun 2005 Korea Selatan berada diatas China sebagai negara bebas bisnis
dan menempati nilai yang sama dengan Jepang pada ukuran negara dengan
intensitas diatas moderately free, pada tahun 2006 nilai bisnis Korea Selatan
meningkat diatas intensitas mostly free, pada tahun 2007 dan 2008 nilai bisnis
Korea Selatan tetap pada posisi diatas mostly free, kemudian pada tahun 2009
hingga 2014 nilai bisnis Korea Selatan meningkat tajam dengan intensitas
68
freedom mengungguli Jepang dengan intensitas mostly fee dan China dengan
intensitas mostly unfree. Ukuran business freedom adalah sebuah kerangka
peraturan yang kompetitif dalam memfasilitasi pembangunan atau pembentukan
bisnis dan inovasi, sehingga semakin tinggi nilai kebebasannya menggambarkan
bahwa adanya perkembangan aktivitas bisnis disuatu negara yang semakin maju
dalam hal inovasi, tidak ada kekakuan dalam peraturan bisnis, stabilitas buruh,
pasar tenaga kerja yang dinamis, pembangunan bisnis, dan perluasan bisnis secara
domestik dan internasional.
Kemajuan teknologi yang terus bersaing didunia internasional membuat
Korea Selatan terus berusaha memperbaharui industrinya menjadi lebih kreatif,
inovatif dan menjadi lebih maju didunia internasional agar menjadi negara
industri yang disegani dunia. Hal ini berhasil dicapai POSCO sebagai salah satu
perusahaan industri baja terbesar Korea Selatan dan nomer 6 di dunia, juga
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Korea Selatan yang mutahir dan
mampu menghasilkan tenaga kerja yang kreatif dalam mengembangkan potensi
industri kreatif seperti Arirang World TV (After School Club) hingga berhasil
menempatkan Korea Selatan sebagai negara populer dunia saat ini.
Saah satu bentuk strategi diplomasi business melalui perusahaan industri
besar Korea Selatan terhadap Indonesia diantaranya ialah melalui:
4.2.2.1 Industri Baja Korea Selatan POSCO
POSCO merupakan perusahaan industri baja terbesar Korea Selatan,
bahkan industri baja nomer 6 di dunia, the world’s most competitive steelmaker,
global 100 most sustainable, top 200 global company, dan sebagai world-class
69
technology, selain itu POSCO memproduksi 30,5 juta ton per tahun.118 Melalui
strategi diplomasi business, POCSO bertujuan untuk dapat memperkenalkan
keunggulan dan kemajuan teknologi juga kemajuan industri Korea Selatan yang
berkembang pesat sehingga dikenal dengan julukan “Miracle of the Han River”.119
Untuk memperluas kekuatan ekonomi industrinya didunia internasional,
maka salah satu strategi yang dilakukan POSCO ialah melakukan kerjasama
dengan negara-negara pemilik potensi bahan mentah sumber daya alam salah
satunya Indonesia. POSCO pada akhirnya berhasil menandatangani joint venture
agreement pada bulan Agustus 2010 dengan perusahaan pemerintah Indonesia
yaitu PT.Krakatau Steel dan berubah menjadi nama PT.Krakatau Posco yang
terletak di Cilegon.120
KS memiliki kapasitas produksi baja kasar sebesar 2,45 juta ton per tahun,
KS memiliki sepuluh anak perusahaan, KS juga sanggup melakukan diversifikasi
usaha yang menunjang operasional Perusahaan, seperti produk baja bernilai
tambah tinggi (pipa spiral, pipa ERW, baja tulangan, baja profil), industri utilitas
(air bersih, tenaga listrik), industri infrastruktur (pelabuhan, kawasan industri),
industri jasa teknik (konstruksi, rekayasa), teknologi informasi, serta layanan
kesehatan (rumah sakit), bahkan produk-produk baja KS ini tidak hanya ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan baja nasional, tetapi juga dipasarkan secara
internasional.121
PT. Krakatau Posco, “Company”, [data online]; tersedi di: http://www.krakatauposco.co.id/company/our_company
;internet; diunduh pada 19 September 2014.
119
The Asan Institute For Policy Studies, “Korea‟s Public Diplomacy”, 2012, [Pdf online], h.5.
120
PT.
Krakatau
Posco,
“Background”,
[data
online];
tersedia
di:
http://www.krakatauposco.co.id/company/brief_background ;internet; diunduh pada 19 September 2014.
121
Krakatau Steel, “Sejarah Singkat”, [data online]; 10 September 2014.
118
70
Sebelum kesuksesan menuju joint venture agremeement antara Korea
Selatan dengan Indonesia, telah terjadi konflik perdebatan didalam domestik
Indonesia antara kaum elit lokal, politisi, birokrat ataupun pemerintahan pusat dan
pemerintah daerah juga masyarakat bahkan terjadi demonstrasi kecil dalam hal
privatisasi mendatang PT.Krakatau Steel dan investasi asing yang ditetapkan
pemerintah.122
Beberapa
alasan
yang
melatarbelakangi
masyarakat
dan
pemerintah daerah menentang privatisasi dan investasi tersebut ialah: 123
 Pertama, KS memiliki nilai simbolis dimana kehadirannya membuat kota
Cilegon dikenal sebagai kota baja, pembangunan perusahaan dan kota Cilegon
juga tumbuh secara bersama-sama.
 Kedua, KS dianggap menjadi aset bagi Indonesia dan sejak bertahun-tahun
telah menjadi mesin perekonomian daerah Cilegon bahkan Indonesia.
 Ketiga, adanya kekhawatiran bahwa proyek patungan KS kepada investor asing
akan memiliki efek negatif pada prospek lapangan kerja bagi masyarakat
setempat karena dapat mengurangi jumlah pekerja yang tersedia bagi pekerja
Indonesia, sehingga semua alasan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa
liberalisasi ekonomi dan privatisasi akan membuat sifat perusahaan-perusahaan
ini jauh lebih eksploitatif dari penduduk setempat.
Selain itu beberapa hal yang menjadi konflik perdebatan dan menghambat
joint venture agreement PT.Krakatau Steel dengan POSCO sehingga tertundanya
FDI POSCO senilai US$ 6 miliar ialah:
122
Suzanne Naafs, “Youth, Work and Lifestyles in an Indonesian Industrial Town”, (International Institute of Social
Studies:Netherlands, 2012), h.71.
123
Suzanne Naafs, “Youth, Work and Lifestyles “, h.72
71
 Adanya sengketa pertentangan lahan antara pemerintah daerah Cilegon dengan
pemerintah pusat Jakarta, dimana KS dan POSCO berencana untuk
membangun pabrik baja baru di industri arca di Cilegon sedangkan proyek dari
pemerintah daerah Cilegon berencana untuk membangun pelabuhan baru di
Kubang Sari.124
 Penjualan awal pada tahun 2010 yang menghasilkan sebesar 20% saham untuk
KS.125
 Keberadaan pemimpin KS yang menganggap privatisasi diperlukan untuk
memodernisasi perusahaan, memperbarui fasilitas produksi dan menjamin daya
saing internasional, tokoh-tokoh kuat lainnya tidak bersedia untuk menyerah
pada perusahaan yang selama bertahun-tahun telah menjadi sumber
menguntungkan bagi mereka.126
Untuk mengatasi ketegangan konflik dan perselisihan maka salah satu
strategi diplomasi business yang dilakukan POSCO ialah dengan melakukan
teknik lobi, karena industri baja raksasa asal Korea Selatan ini sangat tertarik
untuk memasuki pasar baja lebih luas dengan melakukan FDI di Asia Tenggara
salah satunya Indonesia. Beberapa lobi diplomasi business yang dilakukan
POSCO untuk mensukseskan joint venture agrement nya diantaranya: pada
tanggal 6 November 2009, President and Chief Investment Officer POSCO Lee
Dong Hee dan Vice President POSCO Sung Kwan-Baek berkunjung ke empat
124
125
126
Suzanne Naafs, “Youth, Work and Lifestyles“, h.73.
Suzanne Naafs, “Youth, Work and Lifestyles“, h.73.
Suzanne Naafs, “Youth, Work and Lifestyles“, h.72.
72
menteri Indonesia, yakni Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri
ESDM, dan Menteri Negara BUMN.127
Perselisihan atau konflik sengketa akhirnya terselesaikan pada akhir tahun
2011 dan kerjasama proyek patungan industri baja POSCO dengan PT.Krakatau
Steel akan segera terealisasi yang didukung oleh parlemen dan kementerian
BUMN nasional dan difasilitasi oleh keringanan pajak.128 Parlemen, Pemerintah
dan kementerian BUMN Jakarta melanjutkan kebijakan privatisasi dan investasi
asing untuk melakukan joint venture agreement antara PT.Krakatau Steel kepada
POSCO, dikarenakan terbatasnya pasokan jumlah subsidi dari pemerintah dan
kurangnya pendanaan dari tingkat nasional pada PT.Krakatau Steel untuk
memproduksi baja industri nasional, sehingga dengan bergabungnya bersama
POSCO akan memberikan keringanan biaya produksi industri baja untuk
Indonesia dan perluasan lapangan pekerjaan sebagai penunjang kemajuan ekonmi
industri.129
PT.Krakatau Posco yang merupakan perusahaan patungan (Joint Venture
Company) antara POSCO Korea Selatan dan PT.Krakatau Steel, telah memulai
kontruksi pembangunan pada tanggal 1 juli 2011 dan aktif memulai produksinya
pada tahun 2013 dan tahun 2014.130 FDI yang ditanamkan POCSO dalam proyek
patungan industri terpadu di Indonesia tersebut memberikan keuntungan ekonomi
industri yang besar bagi Korea Selatan. Hal tersebut terbukti dari presentasi tahap
127
Viva News, “Krakatau Steel-Posco Korsel Teken Perjanjian,” [berita online]; tersedia di:
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/110548-krakatau_steel_posco_korsel_teken_perjanjian ;internet; diunduh pada 7
Oktober 2014.
128
Suzanne Naafs, “Youth, Work and Lifestyles“, h.73.
129
Suzanne Naafs,“Youth, Work and Lifestyles“, h.71.
130
PT.Krakatau Posco, “about company”, [artikel online]; tersedia di: http://www.krakatauposco.co.id/ ;internet; diunduh
pada 20 September 2014.
73
awal yang didapatkan dari kepemilikan saham antar kedua perusahaan, dimulai
dengan 70% untuk POSCO dan 30% untuk PT Krakatau Steel, kemudian akan
bertambah menjadi 45% satu tahun setelah Final Acceptance Certificate (FAC)
dengan cara membeli 15% saham dari POSCO, sehingga kepemilikan saham
menjadi 55% untuk POSCO dan 45% untuk KS.131 Hingga saat ini, BKPM
Indonesia mengatakan bahwa sejak tahun 2008 hingga tahun 2012 POSCO telah
menanamkan FDI di Indonesia yang bergerak dalam industri besi dan baja senilai
US$ 1,51 triliun yang berlokasi di Cilegon, Banten.132
4.2.3
Diplomasi Communications and the Media Korea Selatan Terhadap
Indonesia ( Perwujudan Perdamaian melalui Media dan Informasi)
Dalam perkembangan dunia, media menjadi pelaku utama yang
mempengaruhi keadaan dunia global khususnya terhadap Korea Selatan. Saat ini
komunikasi dan pertukaran informasi seluruh negara di dunia dapat berlangsung
dengan cepat melalui akses media televisi, radio, telepon, dan internet. Kemajuan
teknologi dan informasi melalui seluruh penggunaan media komunikasi telah
dimanfaatkan Korea Selatan semaksimal mungkin.
Gambar.IV.3 Media do Usually Use to Experience ROK
Sumber: KITA.org, News, Korean Show a Way to Export.
Krakatau Steel, “PT Krakatau Steel & POSCO Mendirikan Perusahaan Patungan Pabrik Baja Terpadu di Indonesia”,
[data online]; tersedia di: http://www.krakatausteel.com/?page=viewnews&action=view&id=1462 ;internet; diunduh pada
10 September 2014.
132
Kompas.com, “10 Investor Korea Selatan Terbesar di Indonesia”; [artikel online]; tersedia di:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/03/28/13542033/Ini.10.Investor.Korsel.Terbesar.di.Indonesia
;internet;
diunduh pada 10 Juli 2014.
131
74
Data analisis gambar diatas menjelaskan bahwa dari keseluruhan media
yang digunakan untuk mengamati Korea Selatan, media massa TV memiliki
pengaruh yang paling besar terhadap penyebaran informasi mengenai Korea
Selatan dengan presentasi yang berbeda-beda mulai dari penayangan TV, internet,
radio, performance, dan lain-lain. TV menempati posisi tertinggi dengan
presentasi 50,8%, disusul dengan internet sebesar 37,3%, performance 7,8 %,
radio 1,5 %, bentuk lainnya 2,5%.
Melalui media massa, industri-industri Korea Selatan memiliki wadah
yang
tepat
untuk
dapat
memperkaya
pengetahuan
masyarakat
dan
mempromosikan atau menyebarkan hasil karya atau produksi mereka dalam
berbagai bentuk yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi peningkatan
ekonomi industri Korea Selatan. Artinya media komunikasi memiliki peran
penting dalam mensosialisasikan atau mentransfer nilai-nilai tertentu dalam
masyarakat di suatu negara.
Bagi Korea Selatan media memiliki peran penting dalam bentuk kebijakan
yang dilakukan oleh Korea Selatan untuk mewujudkan kepentingannya. Media
tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai strategi untuk
membentuk opini publik, sebagai jalan tengah dalam membuka hubungan
kerjasama antar aktor, dan untuk memunculkan ciri khas citra positif terhadap
Korea Selatan bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional. Sehingga
media dijadikan sebagai strategi diplomasi Korea Selatan dengan Indonesia
melalui diplomasi communications and the media terhadap pemerintah Indonesia,
kelompok, individu atau masyarakat Indonesia. Hal tersebut terlihat dari
75
meninggkatnya secara umum jumlah ekspor program TV Korea Selatan terhadap
sejak tahun 2000-2007:
Grafik.IV.10 Ekspor dan Impor Program TV Korea
Sumber: Korean Ministry of Culture and Tourism (MCT)
Data grafik analisis ekspor program TV Korea Selatan dapat dilihat bahwa
Korea Selatan juga fokus terhadap media komunikasi salah satunya ekspor
program TV. Sejak tahun 2000 hingga tahun 2007 ekspor program TV Korea
Selatan memperlihatkan jumlah nilai yang terus memuncak yang diawali dengan
nilai US$ 13 juta pada tahun 2000, meningkat menjadi US$ 162 juta pada tahun
2007. Saah satu bentuk strategi diplomasi communications and media melalui
Korea Selatan terhadap Indonesia diantaranya ialah melalui:
4.2.3.1 Arirang World TV (program After School Club)
Arirang World TV merupakan lembaga penyiaran internasional Korea
Selatan dengan bantuan satelit multi-guna luar angkasa Korea Selatan dengan
resolusi tinggi untuk menyebarkan informasi ke berbagai wilayah dunia.133
KBS World Radio, ” Satelit Arirang-3 sukses diluncurkan pada tgl. 18 Mei”; [berita online]; tersedia di:
http://rki.kbs.co.kr/indonesian/news/news_newsthema_detail.htm?lang=i&id=news_newsthema&No=41332&current_page
=4 ;internet; diunduh pada 20 September 2014
133
76
Strategi diplomasi communications and the media merupakan langkah efektif
yang dipilih Arirang yang awal keberadaanya dibangun oleh The Korea
International Boradcasting Foundation. Tujuan dasar dari Arirang World TV
adalah berusaha untuk mendekati dunia internasional dengan kelembutan dan
kehangatan bangsa Korea Selatan, semangat sejati Korea, dan kemajuan teknologi
dan informasi Korea, juga berusaha untuk membawakan perdamaian di seluruh
dunia, memperkenalkan tradisi
dan
budaya Korea
Selatan, membantu
melestarikan alam dengan memastikan bahwa semua aset di bidang sejarah,
budaya, seni, ilmu pengetahuan dan obat-obatan dapat dibagi dengan semua
masyarakat diseluruh dunia melalui satelit.134
Arirang World TV merupakan saluran penyiaran global dengan berbagai
program yang mewakili Korea Selatan untuk menyampaikan lebih baik lagi nilainilai positif Korea Selatan. Saluran global ini juga sebagai jalan untuk
memperkenalkan dan mengembangkan industri-industri Korea Selatan di lingkup
global. Salah satu program Arirang World TV yang menarik banyak perhatian
dunia internasional dan generasi muda ialah program After School Club.
After School Club adalah program live permintaan acara musik untuk para
penggemar K-Pop di seluruh dunia dengan dihadiri oleh bintang tamu sesuai
permintaan penonton, selain itu After School Club tidak hanya dapat dilihat
melalui televisi, tetapi juga dapat terhubung langsung melalui video chat Google
Hangouts, twitter, dan Facebook.135
134
Asia‟s
Heartbeat
Arirang,
“CEO
Message”,
[artikel
online];
tersedia
di:
http://www.arirang.co.kr/prroom/CEO_Message.asp ;internet; diunduh pada 7 September 2014.
135
Arirang
World
TV,
“About
After
School
Club”;
tersedi
di:
http://arirang.co.kr/Tv2/Tv_About_Content.asp?PROG_CODE=TVCR0688&MENU_CODE=101718&code=Po3&sys_la
ng=Eng ;internet; diunduh pada 9 September 2014.
77
Tujuan After School Club merupakan salah satu program yang khusus
dibuat Korea Selatan melalui satelit 24 jam sehari untuk meningkatkan citra
“global Korea” dan pengaruhnya di dunia internasional.136 Schedule penayangan
After School Club pada pukul 15.00, seolah terkesan sengaja untuk buat untuk
menarik perhatian dan mempengaruhi pemikiran generasi muda terhadap citra
positif Korea Selatan sepulang beraktifitas dari sekolah.137
After School Club merupakan salah satu program yang sukses dalam
mempengaruhi masyarakat internasonal, termasuk Indonesia. Hal tersebut
dikarenakan saat ini program After School Club melalui Arirang World TV telah
disaksikan di lebih dari 188 negara dan dilihat oleh masyarakat global yang
berjumlah 112,85 milliar di setiap benua melalui siaran delapan satelit termasuk
Indonesia.138 Selain itu keberhasilan pengaruh citra “global Korea” melalui After
School Club, juga dapat dibuktikan melalui situs jejaring sosial yaitu Google+
After School Club yang berhasill menarik minat masyarakat sebanyak 913.749
pengikut.139
Asia‟s
Heartbeat
Arirang,
“About
Arirang”,
[artikel
online];
tersedia
di:
http://www.arirang.co.kr/prroom/About_ArirangN1.asp ;nternet; diunduh pada 5 September 2014.
137
Arirang TV, “Schedule”; [data online]; tersedia di: http://arirang.co.kr/Tv/Tv_Index.asp?MType=S&sys_lang=Eng
;internet; diunduh 17 September 2014.
138
Asia‟s
Heartbeat
Arirang,
“How
to
Watch”,
[artikel
online];
tersedia
di:
http://www.arirang.co.kr/prroom/HowToWatch1.asp?sys_lang=Eng ;internet; diunduh pada 5 September 2014.
139
Arirang TV, “After School Club”, https://plus.google.com/+ArirangAfterSchoolClub/about ;internet; diunduh pada 7
Oktober 2014.
136
78
BAB V.
KESIMPULAN
Terjadinya perubahan arah politik dunia di abad ke-21 kearah yang lebih
kontemporer, seolah menggamarkan bahwa seluruh negara saat ini sedang
bersaing tak hanya dalam hal politik dan militer tetapi juga bersaing dalam
kemajuan ekonomi, industri, sosial budaya, bahkan bersaing dalam kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi mutakhir untuk meningkatkan bargaining position
mereka didunia internasional. Hal tersebut juga menggambarkan bahwa seolah
tidak ada batas (borderless) bagi setiap negara untuk mewujudkan kepentingannya
dalam melaksanakan kebijakan dalam negeri dan luar negerinya, padahal tidak
semua negara didunia internasional memiliki power yang sama untuk survive dan
mewujudkan kepentingannya. Keadaan sistem internasional tersebut memicu
negara-negara dunia baik itu negara maju maupun negara berkembang untuk
menjalin hubungan kerjasama internasional diberbagai bidang baik secara
bilateral, regional bahkan internasional sebagai salah satu cara meningkatkan
potensi negara di dunia internasional.
Korea Selatan dalam hal ini bersama dengan Indonesia telah berupaya
untuk menjalin hubungan kerjasama internasional dalam bidang ekonomi industri.
Pada abad ke 21 kerjasama ekonomi industri kedua negara tertuang dalam
Deklarasi Besama Kemitraan Strategis “Joint Declaration on Strategic
Partnership” pada Desember 2006, dan selanjutnya diperkuat lagi dengan
dibentuknya kerjasama “Indonesia-Korea Joint Task Force on Economic
Cooperation (JTF-EC) pada April 2007”.
79
Kerjasama aspek ekonomi dengan cara memperkuat sektor industri
diimplementasikan dalam bentuk perdagangan, FDI, dan ekspor yang dilakukan
melalui peran industri besar Korea Selatan salah satu diantaranya industri baja
POSCO, juga perusahaan industri besar MNC Korea Selatan dan peran media
komunikasi melalui Arirang World TV (After School Club). Keberhasilan Korea
Selatan sebagai negara ekonomi industri maju dunia saat ini tidak terlepas dari
peran pemerintah, bisnis, dan media, serta pembelajaran masyarakat Korea
Selatan dari pengalaman sejarah dimasa invasi Jepang dan perang saudara,
pembelajaran masyarakat Korea Selatan pasca krisis moneter dan krisis ekonomi
global, juga kebijakan pemerintah Korea Selata yang efektif untuk menjaga
stabilitas ekonomi.
Untuk mensukseskan kerjasama ekonomi industri Korea Selatan dengan
Indonesia maka diperlukan sebuah konsep modern dengan cara soft power yang
dapat melibatkan seluruh aktor-aktor baik negara dan non negara dalam sistem
internasional tanpa menggunakan instrumen hard power yaitu Multi Track
Diplomacy yang mengusung perdamaian antar aktor. Diplomasi multi track Korea
Selatan terhadap Indonesia dimainkan oleh multi aktor yang dapat dikatakan
memiliki peran besar dalam perkembangan ekonomi industri Korea Selatan yaitu
diplomasi government, diplomasi business, dan diplomasi communications and
the media.
Pada proses diplomasi government terhadap Indonesia, kerjasama ekonomi
industri dijalankan oleh kedua kepala negara terlebih dahulu karena berhubungan
dengan perumusan kebijakan kerjasama yang legal, dan pada akhirnya
80
kesepakatan-kesepakatan kerjasama ekonomi industri tersebut akan dilaksanakan
oleh masing-masing pihak yang terlibat didalamnya seperti MOFAT. MOFAT
selanjutnya mengejar kebijakan tersebut dengan melakukan berbagai langkah
yang pada akhirnya berhasil berkontribusi untuk peningkatan ekonomi industri
Korea Selatan seperti melalui KOICA.
Sedangkan diplomaasi business terhadap Indonesia memainkan perannya
pada perluasan perdagangan dalam industri besar Korea Selatan dan hal tersebut
ialah POSCO. Keberadaan POSCO dalam menanamkan FDI nya di Indonesia
secara langsung atau tidak memberikan kontribusi besar bagi peningkatan
ekonomi industri Korea Selatan. Hal tersebut dapat dilihat dari joint venture
agreement PT.Krakatau Posco, dimana kepemilikan saham oleh POSCO jauh
lebih besar senilai 70% dari PT.Krakatau Steel senilai 30%.
Selanjutnya pada
diplomasi communications and the media terhadap
Indonesia, dalam membentuk opini publik citra positif terhadap Korea Selatan
ialah melalui Arirang World TV dengan salah satu program terfavorit After School
Club. After School Club sengaja dibuat untuk memberikan citra positif dan
pengaruh terhadap masyarakat internasional khususnya generasi muda melalui
live music K-Pop. Seluruh strategi diplomasi dan aktor Korea Selatan yang telah
berperan dalam kerjasama ekonomi industri ini telah berhasil diwujudkan. Hal
tersebut dibuktikan dengan meningkatnya volume perdagangan, ekspor, dan FDI
Korea Selatan terhadap Indonesia hingga tahun 2012, dan meningkatnya pengaruh
citra positif Korea Selatan di Indonesia yang menempati volume tinggi
81
dibandingkan dengan negara-negara dunia lainnya seperti China, Inggris, USA,
Jepang, dll.
Apapun betuk karya yang dihasilkan oleh aktor-aktor Korea Selatan dalam
strategi diplomasinya untuk meningkatkan kekrjasama ekonomi industri harus
mencerminkan ciri khas Korea Selatan sebagai negara modern yaitu negara
industri maju dunia, kemajuan teknologi dan komunikasi mutakhir, semangat
memajukan perusahaan dan negara, kredibilitas generasi muda, dan sebagai
negara kultural yaitu negara yang melestarikan ajaran konfusianisme, menjunjung
tinggi nilai sejarah, semangat kesatuan bangsa Korea, dan menjaga semangat
tradisional Korea. Sehingga pada implementasinya seluruh strategi diplomasi
multi track yang dijalankan antar aktor tersebut saling berkaitan.
Strategi multi track diplomacy yang dilakukan oleh multi-aktor Korea
Selatan dalam kerjasama ekonomi industri berhasil mewujudkan kepentingan
nasional Korea Selatan. Pertama, untuk meningkatkan perekonomian Korea
Selatan, dimana keuntungan ekonomi tersebut dicapai dengan meningkatkan
volume perdagangan, FDI dan ekspor Korea Selatan terhadap Indonesia melalui
cara memperkuat sektor industri dan hal ini terbukti dengan keterlibatan POCSO
dan perusahaan MNC lainnya.
Kedua, memperkuat posisi Korea Selatan sebagai negara industri maju
dunia dengan cara mobilisasi industri Indonesia. Industri Korea Selatan saat ini
telah menjadi ancaman dan kompetitor bagi Jepang, China, dan Amerika
disebabkan oleh meningkatnya persaingan intensitas perdagangan bebas saat ini.
Ketekunan industri Korea Selatan yang terus berinovasi dan berkualitas dalam
82
produknya yang berteknologi tinggi, berhasil menempatkan industri Korea Selatan
baik itu industri berat atau industri ringan pada kesuksesan pasar global termasuk
mobilisasi pasar industri Indonesia. Banyaknya jumlah perusahaan dan kelompak
impor hasil industri Korea Selatan di Indonesai menggambarkan bahwa industri
Indonesia secara langsung ataupun tidak telah dimobilisasi oleh Korea Selatan.
Ketiga untuk membangun dan menyebarkan citra “global Korea” salah
satunya melalui Arirang World TV dengan ide kreatif untuk menarik perhatian
generasi muda yaitu program After School Club. After School Club sukses dengan
meningkatnya ketertarikan dan minat masyarakat Indonesia melalui K-Pop. Hal
tersebut tercermin dari antusiasme masyarakat Indonesia yang terpengaruh pada
hal-hal yang terkait dengan Korea Selatan seperti musik, fashion, acara hiburan
(drama, film, variety show), makanan, pariwisata, pendidikan dan sebagainya.
Dengan demikian, strategi multi track diplomacy merupakan instrumen
penting bagi Korea Selatan untuk mencapai kepentingan nasionalnya melalui
hubungan kerjasama ekonomi industri dengan Indonesia. Salah satu kepentingan
nasional sebuah negara adalah mencapai peningkatan ekonomi dan kemajuan
industri. Ketika ketiga kepentingan Korea Selatan tersebut terwujud, maka pada
akhirnya akan meningkatkan bargaining position Korea Selatan di dunia
internasional. Perkembangan Korea Selatan yang dinamis dalam berbagai hal di
Indonesia juga menjelaskan bahwa multi track diplomacy melalui berbagai aktor
Korea Selatan ternyata berhasil dan sangat diterima oleh masyarakat Indonesia.
Sehingga srategi multi track diplomacy Korea Selatan terhadap Indonesia dalam
kerjasama ekonomi industri tahun 2006-2012 berhasil dilaksanakan.
83
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Cummings, Milton C, Cultural Diplomacy and the United States Government,
Center fo Art and Culture,Center,2003.
Creswell, John W. Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches.
California: Sage Publication, 1994.
Diamond, Louise, dan Ambassador John Mc Donald. Multi-Track Diplomacy : A
Sistem Approach to Peace – Third Edition. United States of America:
Kumarian press, 1996.
Hendrawan, F. R, Sikap Jepang terhadap Rencana Reunifikasi Korea,
Yogyakarta, UMY,2004.
Holsti, K.J. Politik Internasional: Kerangka Untuk Analisis - Edisi keempat-Jilid
satu. Jakarta: Erlangga, 1988.
Holsti, K. J, International Politik : A Framework For Analisys, Englewood Cliffs
: Prentice Hall International,Inc, 1995.
Jackson Robert dan George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Jeon, Je Seong, dan Yuwanto. Era Emas Hubungan Indonesia – Korea :
Pertukaran Kultural Melalui Investasi dan Migrasi. Jakarta: Kompas
Media Nusantara, 2014.
Kim, Myung Oak, dan Sam Jaffe. The New Korea : Mengungkap Kebangkitan
Ekonomi Korea Selatan. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, Kompas
Gramedia, 2013.
Lee Myung-Bak, Administration’s Foreign Policy and National Security Vision:
“global Korea” The National Strategy of the Republic of Korea, Cheong
Wa Dae: Office of The President, 2009.
Mas‟oed, Mochtar. Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi.
Jakarta: LP3ES, 1990.
Myung-Bak, Lee, The Lee Myung-Bak Administration’s Foreign Policy and
National Security Vision: “global Korea” The National Strategy of the
Republic of Korea. Cheong Wa Dae,Office of The President, 2009.
xii
Naafs, Suzanne, Youth, Work and Lifestyles in an Indonesian Industrial Town,
International Institute of Social Studies:Netherlands, 2012.
Notter James and Louise Diamond, Building Peace and Transforming Conflict:
Multi-Track Diplomacy in Practice, Occasional Paper Number 7, The
Institute For Multi Track Diplomacy, Oktober, 1996.
Nye, Joseph.S. Soft power : The Means to Succes in World Politics. New York:
Public Affairs, 2004.
Papp, D.S. Contemporary International Relation : A Framework for
Understanding, Second Editions. New York: MacMillan Publishing
Company, 1988.
Soekarno, Shinta R.I, Anung Herlianto, M.Taufik Amrozy, dkk, Bangkitnya
Perekonomian Asia Timur-Satu Dekade Setelah Krisis, (Jakarta, Bank
Indonesia, Kompas Gramedia, 2013.
Sung Sang-Yeon, Why are Asians Attracted to Korean Pop Culture?, The Korea
Herald (eds). Korean wave, Seoul,Jimoondang, 2008.
Taylor, S.J, Introduction to Qualitative Research Methods: The Search for
Meaning; New York, John Wileyand Sons, 1984.
Yoon, Yang Seung dan Mohtar Mas‟oed, Politik Luar Negeri Korea Selatan:
Penyesuaian Diri Terhadap Masyarakat Internasional , Yogyakarta,
Gadjah Mada University Press, 2004.
Disertasi, Skripsi:
Ayu, Silvi Fitri. Kebijakan Ekonomi Park Chung Hee Dalam Industrialisasi di
Korea Selatan Periode 1961-1979. Depok: Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Bahasa dan
Kebudayaan Korea, 2011.
Dwirezanti, Adina. Budaya Populer Sebagai Alat Diplomasi Publik: Analisa
peran Korea Wave Dalam Diplomasi Publik Korea periode 2005-2010.
Depok: Universitas Indonesia - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Departemen Hubungan Internasional, 2012.
Eau Jaisohn, “Crisis, Contradiction and Contingency: An Ethnography of
Corporate Capitalism in Korea and Indonesia”, eScholarship-University of
California, 2010.
xiii
Jurnal:
Doobo, Shim, "Hybridity and Rise of Korean Popular Culture in Asia," Media
Culture and Society Vol.28(1), 2006 [jurnal on-line]; tersedia di
http://ruraleconomics.fib.ugm.ac.id/wp-content/uploads/Doobo-ShimHybridity-and-the-rise-of-Korean-popular-culture-in-Asia.pdf
internet;
diunduh pada 20 Januari 2014
Juwana, Hikmahanto. “Hukum Internasional Sebagai Instrumen Politik: Beberapa
Pengalaman Indonesia Sebagai Studi Kasus,” Indonesia Journal of
International Law Vol: 1 No 1 Universitas Indonesia, Oktober 2003.
Kaurow, Mareta Chairani. “Strategi Korea Selatan dalam ekspor produk Korean
Waves ke Jepang,” eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Vol:1, Nomor
3:605-614, ISSN 0000-0000,ejournal.hi.fisip-unmul.org, 2013 [jurnal online]; tersedia di http://ejournal.hi.fisipunmul.ac.id/site/wpcontent/uploads/2013/08/hi_mareta_korean_waves_jap
an%20%2808-30-13-07-25-40%29.pdf ; internet; diunduh pada 20 Januari
2014.
S.J Lee, “The Korean Wave: The Seoul of Asia‟, The Elon Journal of
Undergraduate Research in Communications Vol. 2(1), 2011.
Publikasi, Surat Kabar,Majalah, Artikel:
Asian info, “Korea's Economy,”
http://www.asianinfo.org/asianinfo/korea/economy.htm (diakses 10
Februari 2014).
Conference of Indonesian Students (CISAK) 2009, Astase perdagangan KBRI
Seoul, “Perkembangan Perdagangan Indonesia-Korea Tahun 2008”; [pdf]
http://cisak.perpika.kr/proceeding/CISAK2009/Proceeding_CISAK_20092.pdf (diakses 15 Mei 2014).
ChosunMedia, “K-Pop Leads Record Earnings from Cultural Exports,”
ChosunMedia-The Cholsunilbo, 7 Februari 2012.
http://english.chosun.com/site/data/html_dir/2012/02/07/2012020700892.h
tml ; (diakses 22 Februari 2014)
Diplomasi Indonesia 2012, “Republik Korea”, Jakarta: Perpustakaan Departemen
Luar Negeri Ali Alatas, 2012.
Global Finance Magazine - South Korea, Global Data – “South Korea, Anuual
Survey: World‟s Best Banks 2014” Data on GDP & Economic
Information-Largest Companies in Korea, South. 7 Mei 2014.
xiv
http://www.gfmag.com/global-data/country-data/south-korea-gdp-countryreport ;(diakses 1 Juli 2014).
Guoliang, Z-Cheong Wae Da Office of the president, “Toward the New Era of
East Asian Culture through emerging of Korean wave. and China Wind”.
http://english.president.go.kr/cwd/en/archive/archive_view.php?meta_id=f
or_your_info&m_def=3&ss_def=4&id=923b8c455dd8de7fbd228f6c
(diakses 20 September 2014).
Indonesia Investment, “Budaya-Ekonomi Indonesia”. http://www.indonesiainvestments.com/id/budaya/ekonomi/item177 (diakses 8 Juni 2014).
Joongang Daily, Hong-jin Kim, “The Growing Popularity of the Korean
Language”,
http://english.chosun.com/site/data/html_dir/2009/09/11/2009091100859.h
tml (diakses 1 Oktober 2014).
Joseph S. Nye, “Soft Power and Higher Education,” Forum for the Future of
Higher Education (2005): 12.
http://www.educause.edu/Resources/SoftPowerandHigherEducation/15867
6; (diakses 20 Januari 2014)
Kim, J. Y, “Rethinking Media Flow Under Globalisation: Rising Korean Wave
and Korean TV and Film Policy Since 1980s”, Warwick Research Archive
Portal, Welcome to Warwick Research Archive Portal-Warwick Research
Archive Portal. http://wrap.warwick.ac.uk/1153/ (diakses 15 September
2014).
Korean National Commission for UNESCO, Ministry for Health, Welfare and
Family Affairs, Cultural Haritage Administration of Korea, “UNESCO
Memory Of The World -Training Workshop In The Asia-Pasific Region”,
Incheon, Republic of Korea, 2009.
KOMPAS.com, “Gelombang Korea dan gaya menunggang kuda ala Psy”,
http://tekno.kompas.com/read/2012/09/28/06141280/gelombang.korea.dan
.gaya.menunggang.kuda.ala.psy ; (diakses 9 Agustus 2014).
KOMPAS.com“10
Investor
Korsel
Terbesar
di
Indonesia”.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/03/28/13542033/Ini.10.Inves
tor.Korsel.Terbesar.di.Indonesia. (diakses 15.September 2014).
KOMPAS.com,
“Indonesia
Diminati
Mahasiswa
Korea”.
http://edukasi.kompas.com/read/2012/01/24/0952418/Indonesia.Diminati.
Mahasiswa.Korea (diakses 25 Juni 2014).
xv
Koreanntimes, Noh Hyun-gi. 2011. “KTO offers virtual dates with K-Pop stars”.
http://www.koreatimes.co.kr/www/news/art/2012/05/201_101202.html ;
(diakses 2 Mei 2014).
Koreana.or.kr, Koreana, A Quarterly on Korean Culture & Arts, “Arirang”,
http://www.koreana.or.kr/months/news_view.asp?b_idx=3162&lang=in&
nt=&page_type=list (diakses 9 Agustus 2014).
Okezone Techno, “Fitur keunggulan smartphone
Samsung”.http://techno.okezone.com/read/2014/07/24/92/1017564/tigafitur-keunggulan-smartphone-samsung
(diakses 8 Agustus 2014).
The Asan Institute For Policy Studies, ISSUE Brief-No.39, “Korea‟s Public
Diplomacy: A New Initiative For The Future”, 2012.
The
Heritage Foundation, In Partnership With Wall Street Journal.
http://www.heritage.org/index/country/southkorea# (diakses 9 September
2014)
The Heritage Foundation, In Partnership With Wall Street Journal
http://www.heritage.org/index/visualize?countries=southkorea|china&src=
ranking (diakses 9 september 2014)
Neraca.co.id, “Hubungan Indonesia dengan Korea Selatan,” 29 Oktober 2011.
http://www.neraca.co.id/article/6541/Hubungan-Indonesia-Dengan-KoreaSelatan (diakses 22 Februari 2014).
Republik Korea,”Diplomasi Indonesia 2012.” Jakarta: Perpustakaan Departemen
Luar Negeri Ali Alatas, 2012.
Viva
News,
“Krakatau
Steel-Posco
Korsel
Teken
Perjanjian”,
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/110548krakatau_steel_posco_korsel_teken_perjanjian (diakses 7 Oktober 2014)
Viva News-Bisnis, “Demam Gangnam Style dan K-Pop, Produk Korsel Makin
Laris”. http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/358452-demam-gangnamstyle-dan-k-pop--produk-korsel-makin-laris (diakses 20 Mei 2014).
VOA News Indonesia,“Korea Selatan Tingkatkan Investasi di Indonesia”.
http://Korea/Selatan/Tingkatkan/Investasi/di/Indonesia_voaindonesia_com
.htm (diakses 31 Desember 2013).
xvi
Website:
AsiaCalling,
Jason
Strother.
2009.
“Korea‟s
Image
Problem”.
http://www.asiacalling.kbr68h.com/ur/news/south-korea/805-koreasimage-problem; (diakses 10 Mei 2014).
Asia‟s Heartbeat Arirang, “CEO Message”.
http://www.arirang.co.kr/prroom/CEO_Message.asp (diakses 7 September
2014).
Asia‟s Heartbeat Arirang, “Arirang TV”.
http://www.arirang.co.kr/Tv/Tv_Index.asp (diakses 5 September 2014).
Asia‟s Heartbeat Arirang, “Home”.
http://www.arirang.co.kr/Index.asp?sys_lang=Eng (diakses 3 September
2014).
Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Luar Negeri RI, ” Dampak Perjanjian
Perdagangan Barang Asean-Korea FTA (AKFTA) Terhadap Indonesia dan
Korea
Selatan”.
http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/edef-kontenview.asp?id=20140206144410395532025 (diakses 14 Mei 2014)
BBC Cuntry Polling-View of South Korea‟s Influence.
http://www.worldpublicopinion.org/pipa/pipa/pdf/apr10/BBCViews_Apr1
0_rpt.pdf (diakses 19 Agustus 2014)
Hyundaimobil, “Home”. http://www.hyundaimobil.co.id/ (diakses 20 September
2014).
Indonesia.go.id - Portal Nasional Republik Indonesia, “Potensi Sumber Daya
Alam”, Portal Nasional Republik Indonesia.
http://indonesia.go.id/in/potensi-daerah/sumber-daya-alam (diakses 13
Februari 2014).
Infotelevisi.com, “Arirang World”; [artikel online]; tersedia di:
http://www.infotelevisi.com/9/info/tv/channel/Arirang-World/ ;interner;
diunduh pada 7 Agustus
Kementerian PPN/BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional),
“Delegasi Parlemen Korea Untuk Mempererat Hubungan Kerjasama RIKorea”. http://www.bappenas.go.id/berita-dan-siaran-pers/delegasiparlemen-korea-untuk-mempererat-hubungan-kerjasama-ri-korea/;(diakses
12 Mei 2014).
KBS (Korean Broadcasting System); “ASEAN Broadcasters Join KBS for “One
Vision” Documentary Co-
xvii
Production”.http://english.kbs.co.kr/about/Latest_at.html (diakses 10
September 2014).
KBS World Radio, “Isu Bisnis”, Status Terkini industri pariwisata Korea Selatan
dan
implikasi
ekonominya.
7
November
2013.
http://world.kbs.co.kr/indonesian/program/program_economyplus_detail.h
tm?no=4051 (diakses 20 Februari 2014).
KCC.org, “Korean Culture Week in Jakarta”.
http://koreanindo.net/2009/10/10/korean-culture-week-in-jakarta/ (diakses
11 Juli 2014)
KCC.org
“Korean
culture
Indonesia
Week“.
http://id.koreanculture.org/navigator.do?siteCode=&menuCode=201105180015&page=8
&pageDown=0&minSeq=33981&maxSeq=56434&action=VIEW&seq=4
4654 (diakses 7 Agustus 2014).
KCC.org “Korean Cultural Center, “Budaya Korea”, UNESCO-2014
http://id.koreanculture.org/navigator.do?siteCode=null&langCode=null&menuCode=201
105180026&promImg=1309399446704.gif&menuType=CH&subImg=13
09399446704.gif; (diakses 1 Juli 2014)
Kedutaan Republik Indonesia, Seoul, Korea Selatan, “Kerjasama Sosial Budaya”.
http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/2013-01-07-15-02-52/sosbud
(diakses 20 Juni 2014).
Kedutaan Besar Republik Indonesia, “Kerjasama Sosial Budaya.
http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/2013-01-07-15-02-52/sosbud
(diakses 15 Agustus 2014).
Kedutaan Besar Republik Korea Untuk Indonesia, “Sambutan dari Duta Besar”,
Ministry
of
Foreign
Affairs
and
Trade.
http://idn.mofat.go.kr/worldlanguage/asia/ind/mission/greetings/index.jsp
(diakses 20 Februari 2014).
Kedutaan RI di Seol, “Indonesia dan Korea menghasilkan berbagai kesepakatan
untuk
meningkatkan
perekonomian
kedua
Negara”.
http://www.kemlu.go.id/seoul/_layouts/mobile/PerwakilanDetailPressReleaseLike.aspx?l=id&ItemId=28386605-36d6-4a70-9c3768bd880c2259 (diakses 5 Agustus 2014)
Kedutaan Republik Indonesia, Seoul, Korea Selatan, “Kerjasama Ekonomi,”
Indonesia
Embassy
Seoul
2014.
http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/2013-01-07-15-02-52/ekonomi
(diakses 20 Februari 2014).
xviii
Kedutaan Besar Republik Indonesia, Seoul, Korea Selatan, “Bilateral RIKorsel”.http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/indokor
(diakses
6
Agustus 2014).
Kedutaan Besar Republik Indonesia, Seoul, Korea Selatan, “Kerjasama
Ekonomi”. http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/2013-01-07-15-0252/ekonomi (diakses 6 Agustus 2014).
Kementerian Luar Negeri RI, “Kunjungan Menko Perekonomian RI ke Korsel
untuk Pertemuan Joint Task Force On Economic Cooperation (JTF-EC)”.
http://kemlu.go.id/_layouts/mobile/PortalDetailPressReleaseLike.aspx?l=id&ItemId=e508b8bf-0376-49c0-bbbc66900758a5b8 (diakses 6 Agustus 2014).
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, “Pertemuan
Komite Bersama Kerjasama Ekonomi Indonesia Korea Selatan ke-3”.
http://www.ekon.go.id/press/view/pertemuan-komitebersama.251.html#.U_zC96N8gmE (diakses 14 Mei 2014).
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, “wawancara pertanyaan emailpertanyaan
masyarakat”;
[data
online];
tersedia
di:
;internet;
http://kemenperin.go.id/jawaban.php?id=14283-47015&q=3
diunduh pada 28-05-2014.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia,”Laporan Atase PerdaganganPerkembangan Perdagangan Indonesia Korea Selatan 2007”.
http://www.kemendag.go.id/id/view/trade-attache-report/114/2007/3
(diakses 14 Mei 2014)
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, “Berita Industri-Karpet Merah
Untuk Korea
Selatan”.http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=we
b&cd=8&cad=rja&uact=8&ved=0CFYQFjAH&url=http%3A%2F%2Fw
ww.kemenperin.go.id%2Fartikel%2F8814%2FKarpet-Merah-UntukKorea-Selatan&ei=icsgVMv_G4wuASXw4H4DA&usg=AFQjCNHCmPnA80Lrs7GM7vNTRsYukqRAQ&sig2=ZJk2MJ7D_jgajW_J1j97zg&bvm=bv.757
75273,d.c2E (diakses 15 Mei 2014).
KITA.org, News, “Korean Wave Show a Way to Export”
http://global.kita.net/_engapp/board_view.jsp?no=914&code=S2001
(diakses pada 9 Agustus 2014)
KOICA, “About KOICA-Industri and Energy”.
xix
http://www.koica.go.kr/english/aid/industry/index.html; (diakses 17 Mei
2014).
Koreanindo, “Korean Culture Week Iin Jakarta”;
http://koreanindo.net/2009/10/10/korean-culture-week-in-jakarta/ (diakses
15 Agustus 2014)
Koreanindo, “all about Korea-Indonesia Week 2011;
http://koreanindo.net/2011/09/20/all-about-korea-indonesia-week-2011/
(diakses10 Agustus 2014).
Korenindo-Kerean Waves in Indonesia, “Psy „Gangnam Style‟ Akan Menggelar
Konser Di Jakarta”.http://koreanindo.net/2012/11/09/psy-gangnam-styleakan-menggelar-konser-di-jakarta/; (diakses 17 April 2014).
KTO
(Korean
Tourism
Organization),
“About
Jakarta
http://asiaenglish.visitkorea.or.kr/ena/OO/OO_EN_13_11_1.jsp
25 Agustus 2014).
Office”.
(diakses
KTO, Korean Tourism Organization, “Economic Benefit of Tourism”.
http://kto.visitkorea.or.kr/eng/tourismStatics/economicBenefits.kto
(diakses 30 Mei 2014).
KTO, Korean Cultural Center, “Budaya Korea”, UNESCO, 2014. http://id.koreanculture.org/navigator.do?siteCode=null&langCode=null&menuCode=201
105180026&promImg=1309399446704.gif&menuType=CH&subImg=13
09399446704.gif (diakses 1 Juli 2014).
MCST (Ministry of Culture, Sports and Tourism), “About MCST-Minister”.
http://www.mcst.go.kr/english/ministry/minister/greetings.jsp (diakses 9
Agustus 2014).
MCST (Ministry of Culture, Sports and Tourism), “About MCST-Functions”.
http://www.mcst.go.kr/english/ministry/organization/deptIntro.jsp
(diakses 9 Agustus 2014).
.
Neraca.co.id, “Hubungan Indonesia Dengan Korea Selatan,” 29 November 2011.
http://www.neraca.co.id/article/6541/Hubungan-Indonesia-Dengan-KoreaSelatan (diakses 14 februari 2014).
Neraca.co.id, “Hubungan Indonesia Dengan Korea Selatan,” 29 November
2011.http://www.neraca.co.id/article/6541/Hubungan-Indonesia-DenganKorea-Selatan (diakses 14 februari 2014).
xx
PT.Krakatau Posco, “Perusahaan-Latar Belakanng”,
http://www.krakatauposco.co.id/company/brief_background (diakses 8
Oktober 2014).
Ruang Pers - Presiden Rep.Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono,
”Pernyataan Pers Bersama dengan Presiden Republik Korea Selatan”.
http://www.presidenri.go.id/index.php/pers/presiden/2013/10/12/761.html
(diakses 6 Agustus 2014).
Samsung.com, “Aset Samsung”,
http://www.samsung.com/id/aboutsamsung/samsung/performance/perform
ance.html (diakses 1 Juni 2014)
Samsung, “Tentang Samsung”. Kepemimmpinan Samsung, Sebagai Perusahaan
Kelas Dunia. . http://www.samsung.com/id/aboutsamsung/index.html
(diakses 1 Juni 2014).
Trading Economic, “Indocators for 196 Countries”.
http://id.tradingeconomics.com/ (diakses 15 Mei 2014).
Trading Economics, “South Korea GDP per capita”.
http://www.tradingeconomics.com/south-korea/gdp-per-capita ;internet
(diakses 15 Mei 2014).
Trading Economics, “South Korea Exports by Month”.
http://www.tradingeconomics.com/south-korea/exports (diakses 15 Mei
2014).
Trading Economics, “South Korea Balance of Trade”.
http://www.tradingeconomics.com/south-korea/balance-of-trade; (diakses
15 Mei 2014).
Trading Economics, “Indonesia GDP Growth”.
http://www.tradingeconomics.com/indonesia/gdp-growth (diakses 15 Mei
2014).
TradingEconomics, “Indonesia GDP
Percapita”.http://www.tradingeconomics.com/indonesia/gdp-per-capita
(diakses 15 Mei 2014).
xxi
KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
SEOUL
55 Youido dong Youngdeungpo ku Seoul 150 896
Telp: +82-2-7835675 Fax: +82-2-7804280
=============================================================
Siaran Pers
No : 254/SOSBUD/III/2010
INDONESIA DAN KOREA MENGHASILKAN BERBAGAI KESEPAKATAN UNTUK
MENINGKATKAN PEREKONOMIAN KEDUA NEGARA
Pada tanggal 25-26 Maret 2010, telah diselenggarakan pertemuan kedua Joint Task
Force on Economic Cooperation antara Republik Indonesia dan Republik Korea (JTF-EC RI-ROK).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Hatta Rajasa, telah memimpin sekitar 160 anggota
Delegasi Indonesia pada pertemuan tersebut. Sedangkan delegasi Korsel dipimpin oleh Menteri
Ekonomi Pengetahuan, Choi Kyung Hwan. Delegasi kedua negara terdiri dari pejabat
pemerintahan dan juga para pengusaha.
Pertemuan kedua JTF-EC RI-ROK Seoul telah membahas upaya untuk meningkatkan
kerjasama ekonomi di berbagai sektor. Pertemuan dibagi ke dalam delapan Kelompok Kerja (KK)
yaitu KK Dukungan Kebijakan, KK Perdagangan dan Investasi, KK Energi dan Sumber Daya
Mineral, KK Insfrastruktur dan Konstruksi, KK Teknologi Informasi, KK Industri Pertahanan, KK
Kehutanan dan Pertanian, dan KK Riset dan Pengembangan.
Pertemuan delapan KK tersebut telah menghasilkan berbagai kesepakatan mengenai
proyek-proyek yang baru dan menyelesaikan proyek-proyek yang sedang berjalan sebagai hasil
kesepakatan JTF yang pertama yang diselenggarakan di Indonesia pada tahun 2007. Hasil yang
disepakati kedua negara antara lain kesepakatan untuk peningkatan hubungan perdagangan,
eksplorasi minyak dan bahan bakar alternatif, pembaruan skema kerjasama pembangunan melalui
hibah dan pinjaman lunak, pertukaran teknologi, pembangunan infrastruktur, penghijauan,
kerjasama di bidang nuklir dan nano teknologi, serta pengembangan peralatan militer.
Kedua menteri mengungkapkan rasa puasnya terhadap kemajuan hubungan ekonomi
bilateral kedua negara yang telah berlangsung selama ini, dan menegaskan kembali komitmen
kedua negara untuk semakin memperluas dan memperdalam cakupan serta memajukan proyekproyek kerjasama pembangunan kedua negara. Pertemuan JTF berikutnya disepakati akan
diselenggarakan di Indonesia pada tahun 2011.
Pada kesempatan JTF kedua ini telah ditandatangani dua kesepakatan yaitu Business
Agreement on the Research Project to Assess Indonesian Shipbuilding Industry and Recommend
Changes for Improvement yang ditandatangani pada saat pertemuan Kelompok Kerja, serta MOU
tentang Kerjasama Standarisasi antara Badan Standarisasi Nasional kedua negara yang
disaksikan langsung oleh kedua Menteri.
Dalam kesempatan kunjungan ke Seoul tersebut, Menko Perekonomian juga telah
mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Korsel, HE. Chung Un Chan. Dalam pertemuan
tersebut baik Perdana Menteri Korsel maupun Menko Perekonomian memiliki kesamaan
pandangan untuk peningkatan hubungan bilateral dengan mendorong kerjasama lebih erat peopleto-people dan business-to-business.
Di tengah-tengah kegiatan JTF Kedua telah dilaksanakan pula Forum Bisnis IndonesiaKorea yang diselenggarakan bersama oleh KADIN dan KCCI (Korea Chambers of Commerce and
Industry) yang dihadiri oleh sekitar 200 pengusaha kedua negara. Dalam forum tersebut telah
disampaikan peluang dan potensi investasi di Indonesia yang utamanya di sektor infrastruktur serta
pertukaran informasi bisnis kedua negara di bidang green energy dan pengembangan kawasan
berikat.
Seoul, 26 Maret 2010
Perusahaan Korea Selatan Yang Menjalankan Industri Di Indonesia
Tahun 2010-2012
No.
Nama Perusahaan
Bidang usaha
1
Accupix Indonesia
Industri kaca mata serta radio, televisi, alat-alat
rekaman suara, gambar dan sejenisnya
2
Ace Over
Industri pencetakan kain
3
Acro Korin International
4
Afpro Nice Indonesia
Industri pemintalan dan penyempurnaan benang
jahit
Industri barang plastik lainnya
5
Agape Indah Jaya
Industri mainan
6
Agb Pelabuhan Ratu
Industri pembekuan ikan dan biota perairan
lainnya serta perdagangan ekspor dan impor.
7
Agro Parkim Indonesia
Industri kemasan plastik
8
Aneka Boga Nusantara
Industri bumbu masak dan penyedap masakan
serta pengolahan kopi dan teh
9
Ansung Prima Indonesia
Jasa industri untuk berbagai pengerjaan khusus
logam dan barang dari logam
10
Archinet Indonesia
Industri furnitur dari logam dan plastik
11
Arisu Plastic (Tentative)
Industri Kemasan dari Plastik
12
Art Wire
Industri wadah dari logam dan mesin/peralatan
untuk pengolahan/pengerjaan logam
13
Aura Insan Jaya
Industri sepatu olahraga dan komponennya
14
Baroco
Industri furnitur dari kayu
15
Baskara Cipta Pratama
Industri alas kaki
16
Bay Industrial Indonesia
Industri perahu
17
Belcat Indonesia
18
Besi Tech Indoko
19
Betso Tech Indonesia
20
Bigindo Inti Mandiri
Industri komponen elektronik, alat-alat rekaman
suara dan sejenisnya serta perdagangan ekspor
dan impor
Industri penempaan dan pengepresan, industri
mur dan baut, serta industri barang-barang dari
kawat
Industri
mesin/peralatan
untuk
pengolahan/pengerjaan logam dan komponen
elektronika
Industri tali temali
21
Bintan Power Plant
Pembangkit Tenaga Listrik dan Penyalur
22
Bintang Baru Indonesia
Industri pakaian jadi dari tekstil
23
Bio Industry Indoco
Industri pelet kayu (wood pellet)
24
Bio Inti Agrindo
Perkebunan kelapa sawit dan industri minyak
kasar (minyak makan) dari nabati
25
Blue By Yoo Indonesia
Industri pakaian jadi dari tekstil
26
Blue Sea Global
Industri pakaian jadi dari kain rajut/bordir dan
perdagangan impor
27
Blue Sky Biotech
Industri farmasi
28
Bna Indonesia
Industri pakaian jadi dari tekstil
29
Bo Kyung
Industri alas kaki untuk keperluan sehari-hari
30
Bo Myoeng Jaya Indonesia
Industri kimia dasar organik yang bersumber dari
hasil pertanian
31
Bo Myung Indonesia
32
Bo Myung Indonesia
Industri alat-alat rekaman suara dan sejenisnya
serta barang-barang dan peralatan teknik/industri
dari plastik
Industri barang dari plastik untuk pengemasan,
suku cadang dan aksesori kendaraan bermotor
roda empat atau lebih, komponen dan
perlengkapan sepeda motor roda dua dan tiga
33
Boditech Cakra Indonesia
Industri pembuatan peralatan dan perlengkapan
laboratorium klinik
34
Boditech Cakra Indonesia
Industri produk farmasi
35
Boo Young Indonesia
Industri sepatu olah raga, alat olah raga, pakaian
jadi (konveksi) dari tekstil
36
Boram Electronics
Industri komponen elektronika
37
Boram Electronics
Industri tabung elektron dan konektor elektronik
38
Boram Electronics
Elektron gun (komponen tabung TV)
39
Boyang Industrial
Industri rambut palsu
40
Boyang Industrial
Industri pengolahan lainnya ytdl
41
Bu Kwang Medical
42
Bu Kyung Indonesia
Perdagangan besar (distributor utama dan
ekspor)
Industri alas kaki untuk keperluan sehari-hari
43
Bum Woo Heavy Industry
Indonesia
Industri tangki, tandon air dan wadah dari logam
44
Busana Perwira Gemilang
Industri pencetakan kain, bordir dan pakaian jadi
dari tekstil.
45
Busana Prima Global
Industri pakaian jadi dari tekstil dan pembordiran
46
Busung Global
Industri pakaian jadi dari tekstil
47
C & G Biotech
Industri kimia dasar organik yang bersumber dari
hasil pertanian, minyak atsiri serta perdagangan
ekspor dan impor
48
Cassava Plantation Raya
Industri pati ubi kayu
49
Chang Shin Indonesia
Industri sepatu olah raga dan asesorisnya.
50
Charmin Tech International
Industri barang dari logam bukan aluminium siap
pasang untuk bangunan
51
Charming Nails Indonesia
Industri barang dari plastik lainnya
52
Cheil Jedang Superfeed
Industri pakan ternak dan pakan ikan
53
Chemindo Jaya Abadi (Tentative)
Industri barang dari plastik, perdagangan besar
(ekspor dan impor)
54
Choeunindo
Industri alat musik bukan tradisional
55
Cipta Dwi Busana
Industri pakaian jadi (koveksi) dari tekstil dan
pakaian jadi dari rajutan
56
Cj Feed Jombang
Industri ransum pakan ternak/ikan
perdagangan besar (distributor utama)
57
Cj Photo Indonesia
Industri album foto
58
Cooling Automotive Indonesia
Industri oil cooler dan radiator untuk kendaraan
bermotor
59
Cort Indonesia
Industri alat musik non tradisional
60
Cosmo Metal
Jasa industri untuk berbagai pekerjaan khusus
logam dan barang dari logam
61
Cosmos Indo Ink
Industri tinta
62
Crevis Tex Jaya
Industri pakaian Jadi dari tekstil
63
C-Site Texpia
Industri pakaian jadi dari tekstil
64
Dada Indonesia
Industri pakaian jadi dari tekstil
65
Dae Baek
Industri Mesin/Peralatan
Pengerjaan Logam
66
Dae Kwang Indonesia
67
Dae Young Textile Indonesia
68
Daejin Decal Indonesia (Tentative)
Industri mesin dan perkakas untuk pengerjaan
logam
Industri pertenunan, penyempurnaan kain dan
kain rajutan
Industri pencetakan label dan barang-barang
plastik lainnya
69
Daenong Global
Industri pakaian jadi dari tekstil
70
Daesung Eltec Indonesia
Industri komponen elektronika
71
Daewoong Pharmaceutical
Company Indonesia
Industri farmasi
72
Daewoong Riasima Indonesia
Industri farmasi
73
Dai Back Indonesia
Industri Mesin/Peralatan
Pengerjaan Logam
74
Dalim Fideta Kornesia
Industri rambut palsu
75
Damai Indah
Industri penyempurnaan benang
76
Dasan Pan Pacific Indonesia
Industri Pakaian Jadi dari Tekstil
77
Dasarang
Industri Moulding dan Komponen
Bangunan serta Furnitur dari Kayu
78
Dawee Electronic Indonesia
Industri komponen elektronik
79
Dawoo International
80
Daya Utama Tehnik
Industri bahan baku plastik dan barang dari
plastik
Industri
barang-barang
dan
peralatan
teknik/industri dari plastik serta mesin/peralatan
untuk pengolahan/pengerjaan logam
81
Decal World
82
Deerfos Indonesia
untuk
untuk
dan
Pengolahan/
Pengolahan/
Bahan
Industri barang dari kertas dan papan kertas
lainnya
Industri abrasive
83
Dess Mode International
Industri pakaian jadi
84
Dewu Textile Indonesia
Industri Pakaian Jadi dari Tekstil
85
Dinamika Pan Asia
Industri alas kaki untuk keperluan sehari-hari dan
sepatu olahraga
86
Dong - Ah Chemindo
87
Dong Jung Indonesia
Industri kimia dasar organik yang menghasilkan
bahan kimia khusus dan remiling karet serta
perdagangan besar
Industri barang plastik lembaran
88
Dong Kwang Printing
Industri pencetakan kain dan bordir (embroidery)
89
Dong Sung Techno
Industri barang dari plastik untuk pengemasan
dan barang plastik lainnya
90
Dong Yang Nisusindo
Industri pencetakan kain dan kain label
91
Dong Yo Embroidery Indonesia
Industri bordir
92
Dong Young Tress Indonesia
Industri rambut palsu
93
Dong-A Decal
Industri pakaian jadi dari tekstil
94
Dongbu Jaya
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
95
Dongseo Sts
Industri pembuatan pipa
96
Doo Seung Global
Industri pakaian jadi rajutan
97
Doori Lestari Garment
Industri pakaian jadi dari tekstil
98
Dream Sentosa Indonesia
Industri barang jadi tekstil lainnya
99
Dunia Kayu Jaya
Industri moulding, furnitur dari kayu, komponen
alat-alat musik dan perdagangan ekspor dan
impor
100
Dunia Press Indonesia
101
E1-Pertagas
Industri kemasan dan kotak dari kertas dan karton
serta industri barang dari plastik untuk
pengemasan
Industri pemurnian dan pengolahan gas bumi
102
Ecole Jaya Indonesia
Industri penyamakan kulit dan barang dari kulit
dan kulit buatan untuk keperluan pribadi
103
Eins Trend
Industri pakaian jadi dari tekstil
104
Eins Trend Global
Industri pakaian jadi dari tekstil
105
E-Jade Global
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
106
Elbeka Sewing Thread
Industri pemintalan benang jahit
107
Electron Parts Technology
Indonesia
Industri peralatan lainnya dari logam
108
Electronic Technology Indoplas
Industri
Barang-Barang
Teknik/Industri Dari Plastik
109
Elite
Industri pakaian jadi dari tekstil dan kulit
110
En3 Green Energy
Industri ransum pakan ternak/ikan
111
En3 Green Energy
112
E-S Indonesia
Industri tepung dari umbi-umbian dan makanan
ternak
Industri pengolahan dan pengawetan lainnya
untuk
buah-buahan
dan
sayuran
serta
perdagangan ekspor dan impor
dan
Peralatan
113
Eunsun Design World
Industri kain rajut
114
Euttem Global
Industri kain rajut
115
Eva Chemical
Industri busa
116
Eye Rich
Industri mata palsu
117
Fashion Land
Industri pakaian jadi dari tekstil
118
Feelux Indonesia
Industri lampu tabung gas
119
Flexo Plate Digital
Industri plates untuk percetakan
120
Ga Indonesia
Industri pakaian jadi dari tekstil
121
Gaon Indonesia
Industri pakaian jadi dari tekstil
122
Gee San Indonesia
Industri non woven
123
Gerin Trend
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil dan
industri mainan
124
Geum Cheon Indo
Industri peralatan umum, industri barang logam
lainnya, industri komponen dan perlengkapan
sepeda motor roda dua dan tiga dan industri
mesin dan perkakas mesin untuk logam
125
Ghe Sang Indo
Industri barang jadi dari tekstil
126
Global Hanstama Jaya
Industri polystyrene
127
Global Hanstama Jaya
Industri styrofoam
128
Global Total Plastics Industry
"Industri kimia dasar anorganik pigment "
129
Golden Garments Indonesia
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
130
Good Guys Indonesia
Industri pakaian jadi
131
Grace Textile Indonesia
Industri penyempurnaan dan pencetakan kain
serta perdagangan ekspor dan impor
132
Green Gloves Indonesia
Industri barang dari kulit dan kulit buatan
133
Green Indonesia
Industri komponen elektronik
134
Green Sports Glove
Industri sarung tangan dari kulit dan kulit sintetis
serta perdagangan besar
135
Greenbe
Industri sabun dan bahan pembersih keperluan
rumah tangga, kosmetik dan sejenisnya
136
Gunung Salak Sukabumi
Industri pakaian jadi dari tekstil
137
Ha Eon Indah Jaya
Industri pengolahan kopi
138
Hak Lim Indonesia
Industri
mesin/peralatan
pengolahan/pengerjaan logam
139
Han Kook Bioenergy Indonesia
Industri minyak kasar (minyak makan) dari nabati
140
Hana Ahn Technology
Industri barang-barang dari karet
141
Hana Embroidery
Industri pakaian jadi bordir
142
Hana Engineering
Industri alat pengangkat dan alat pemindah serta
mesin/peralatan untuk pengolahan/pengerjaan
logam
untuk
143
Hana Indah Electro Plating
Jasa industri untuk berbagai pekerjaan khusus
terhadap logam dan barang-barang dari logam
144
Handsome
Industri pakaian jadi dari tekstil
145
Hanjin Metal Tech
Industri untuk berbagai pekerjaan khusus
terhadap logam dan barang-barang dari logam
146
Hanjung Bio Energy
Industri pati ubi kayu
147
Hankook Machinery Indonesia
Industri mesin keperluan khusus lainnya
148
Hankook Tire Indonesia
Industri ban luar dan ban dalam
149
Hanmi Hair International
Industri rambut palsu
150
Hansa Pratama
Industri pengecoran besi dan baja
151
Hansae Indonesia Utama
Industri pakaian jadi dari tekstil
152
Hansung Tex Jaya
Industri pertenunan (kecuali pertenunan karung
goni dan karung lainnya)
153
Hanyoung Electronic Indonesia
Industri peralatan pengontrol dan pendistribusian
listrik
154
Harapan Busana Apparel
Industri pakaian jadi
155
Harindo
Industri pakaian jadi dari tekstil.
156
Harmoni Indah
Industri pakaian jadi dari tekstil
157
Heko Apparel Utama
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
158
Hg Global
Industri pakaian jadi dari tekstil
159
Hijau Indonesia
Industri pakaian jadi lainnya dari tekstil dan
kulit/kulit buatan
160
Hikor
Industri peralatan untuk pelindung keselamatan
161
Hit Electronics Indonesia
162
Hoja Indonesia
Industri media rekam dari plastik, komponen
elektronik, radio, televisi, alat-alat rekam suara
dan gambar dan sejenisnya serta perdagangan
ekspor dan impor
Industri penyempurnaan benang jahit
163
Hwa Sung International
Industri pertenunan dan penyempurnaan kain
164
Hwang So Engineering
165
Hwasan Engineering
166
Hyojin Tex
Industri pembuatan/peralatan untuk pengolahan/
pengerjaan logam serta perdagangan ekspor dan
impor
Industri barang dan peralatan teknik/industri dari
plastik
Industri benang
167
Hyokwang Indonesia
Industri pengeringan buah-buahan dan sayuran
168
Hyun Indonesia
169
Hyup Sung Indonesia
Industri moulding dan
bangunan
Industri bulu mata palsu
170
Ie Moto
Industri pakaian jadi dan sarung tangan dari
tekstil serta kulit
171
Ikhlas I S Indonesia
Industri bordir dan pencetakan kain selain batik
172
Ilsung Industry
Industri wadah dari logam dan mesin/peralatan
untuk pengolahan/pengerjaan logam
komponen
bahan
173
Iman Utama
Industri pakaian jadi dari tekstil
174
Indo Decal Abadi
Industri pencetakan
175
Indo Sung-Il Jaya
Industri tali-temali
176
Indoko
Industri ransum pakan ternak
177
Indoko Sejahtera
Industri pengolahan susu
178
Indonesia Pos Chosun Ref
179
Inko Hitech
Industri barang refraktori, barang tahan api dari
tanah liat / keramik, jasa pemasangan mesin dan
peralatan industri, reparasi mesin untuk keperluan
umum serta perdagangan besar dan pelayanan
purna jual
Industri barang-barang plastik lainnya
180
Inko T & F
Industri pakaian jadi dari tekstil
181
Inne Dongwha Development
Industri film faced plywood
182
Inne Dongwha Development
Industri bahan pengawet dan perekat/lem
183
Inno Tech Indonesia
Industri barang-barang dari karet buatan (rubber
compound) untuk keperluan industri
184
Inosia
Industri kayu lapis dan veneer
185
Inter Pack
Industri mesin pembungkus
186
International Beauty Professional
Indonesia
Industri barang dari plastik
187
International Beauty Professional
Indonesia
Industri furnitur dari kayu
188
Ire Tech
Industri
barang-barang
teknik/industri dari plastik
189
J Ekstrim Tech Indonesia
Industri komponen elektronik serta perdagangan
ekspor dan impor
190
J S Jakarta
Industri barang dari kulit dan kulit buatan untuk
keperluan pribadi
191
Ja Hoon Tekindo
Industri kimia dasar organik yang bersumber dari
hasil pertanian
192
Jeje Indah
193
Jeong In Tech Indonesia
194
Jinyoung
Industri barang-barang plastik lainnya, kemasan
dari plastik dan mesin/peralatan untuk
pengolahan/pengerjaan logam.
Industri
mesin/peralatan
untuk
pengolahan/pengerjaan logam dan industri
komponen elektronik serta perdagangan ekspor
dan impor
Industri roti dan sejenisnya
195
Jj Gloves Indo
Industri perlengkapan pakaian dari tekstil
196
Jkj Indonesia
197
Jmtech Busana Global
Industri pakaian jadi dari tekstil dan barangbarang dari kulit
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
198
Ju Hyun Plastic
Industri barang plastik
199
Ju Young Indonesia Prima
Industri alas kaki untuk keperluan sehari-hari,
furnitur dari logam dan mainan anak-anak
dan
peralatan
200
Juhan Coating Indonesia
Industri untuk berbagai pekerjaan khusus
terhadap logam dan barang-barang dari logam
201
Jukwang Abadi
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
202
Kairos Jaya Abadi
Industri kancing dari kulit kerang
203
Karya Tri Abadi
Industri komponen dan perlengkapan alas kaki
untuk keperluan sehari-hari
204
Kes Indonesia
Industri furnitur dari logam dan plastik
205
Keum Su Tech
Industri
penempaan,
pengepresan
dan
penggulungan logam, mur, baut, kawat logam
serta barang-barang dari kawat
206
Kg Fashion Indonesia
Industri pakaian jadi dari tekstil
207
Kgeo Electronics Indonesia
Industri radio, televisi, alat-alat rekaman suara
dan gambar, dan sejenisnya
208
Kia Textile Industries
Industri pertenunan tekstil
209
Kiho Bali Korin
Industri sarung tangan dari kulit
210
Kindo Makmur Jaya
Industri kulit buatan/imitasi
211
Kirin-Miwon Foods
Industri bumbu masak dan penyedap masakan
212
Kizone Indonesia
Industri pakaian jadi
213
Kk Label Indonesia
Industri kain pita (narrow fabric) dan barang dari
kertas lainnya
214
Knh Indonesia Jaya
Industri mainan anak – anak
215
Kodanarindo
Industri moulding dan komponen
bangunan serta furnitur dari kayu
216
Koform Indonesia
Industri barang dari plastik dan peralatan listrik
yang tidak diklasifikasikan ditempat lain
217
Koko Metal Industries
Industri kompor gas
218
Konona
Industri pakaian jadi rajutan
219
Korenesia
Industri bahan baku kosmetik
220
Korin Casting
Industri pengolahan lainnya
diklasifikasikan ditempat lain
221
Korin Metal Arts
Industri barang-barang logam lainnya berupa
pigura dari logam
222
Korin Mitra Jaya
Industri alat pengangkat dan alat pemindah
beserta komponennya
223
Korin P&C
Industri barang dari plastik untuk pengemasan
224
Koryo Hi-Tech Indonesia
Industri bahan kimia lainnya dan komponen
sepatu serta perdagangan besar.
225
Kosina Textile
Industri pertenunan
226
Krakatau Posco
Industri logam dasar besi dan baja
227
Krakatau Posco Chemtech
Calcination
Industri burnt lime dan burnt dolomite
228
Ks Trading Indonesia
Industri sepatu dan perdagangan besar
yang
bahan
tidak
229
Kum Kang Tech Indonesia
Industri komponan alas kaki untuk keperluan
sehari-hari dan olahraga serta perekat/lem
230
Kwang Jin Indonesia
Industri barang dari logam berupa scourer
231
Kwang Jin Textile Abadi
Industri pertenunan dan penyempurnaan tekstil
232
Kwang Sung Electronics
Industri komponen elektronik
233
Kwangduk Worldwide
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
234
Kyoung Hwa Indonesia
235
Le Baek Indonesia
Industri barang dan peralatan teknik/industri dari
plastik
Industri pakaian jadi dari tekstil
236
Leaders World
Industri pakaian jadi rajutan
237
Leo Metal Industry
Jasa industri untuk berbagai pekerjaan khusus
terhadap logam dan barang-barang dari logam
238
Lestari Busana Angun Mahkota
Industri pakaian jadi dari tekstil
239
Lg Electronics Indonesia
Industri peralatan rumah tangga dengan
menggunakan arus listrik, radio, televisi, alat-alat
rekaman suara dan gambar serta sejenisnya
240
Lg Innotek Indonesia
Industri komponen elektronik
241
Lg Innotek Indonesia
Industri tabung dan katup elektronik serta
komponen elektronik lainnya
242
Limantara Indah Makmur
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
243
Lotus World Lestari
Industri moulding dan komponen
bangunan serta furnitur dari kayu
244
Lp Displays Indonesia
Industri tabung dan katup elektronik serta
komponen elektronik lainnya
245
Macglo Steel Indonesia
246
Majuel
Industri mesin pembangkit listrik dan industri
pengubah tegangan (transformator) dan pengubah
arus (rectifier)
Ind pakaian jadi
247
Majuel Moulding Bra
Industri pakaian jadi dari tekstil
248
Menara Karya Unggul
Industri furnitur dari kayu
249
Menara Karya Unggul
Industri furnitur dari kayu
250
Midas Indonesia
Industri bulu mata palsu
251
Milan Indonesia
Industri rambut palsu (wig) dan asesoriesnya
252
Min-Gook Industry Kayu
Industri komponen bahan bangunan dari kayu
253
Mirio Indonesia
Industri komponen elektronika
254
Mitra Pratama Han Jaya
Industri alas kaki untuk keperluan sehari-hari
255
Miwon Indonesia
Industri bumbu dan penyedap masakan, pupuk
lainnya dan gypsum
256
Moving Tech
Industri
barang-barang
teknik/industri dari plastik
257
Mulia Jaya Sentosa Indah
Industri pakaian jadi lainnya dari tekstil dan kulit
serta komponen dan aksesoris sepatu olah raga
dan
bahan
peralatan
258
Multi Emb
Industri pencetakan kain dan pakaian jadi
(konveksi) dari tekstil
259
Myoung In Tech Indonesia
Industri
barang-barang
dan
peralatan
teknik/industri dari plastik serta mesin/peralatan
untuk pengolahan/pengerjaan logam
260
Namnam Fashion Industries
Industri tekstil lainnya
261
Namyoung Indonesia
Industri tali dan barang dari tali
262
Nara Summit Industry
263
Neo Star Metalindo
Industri
mesin/peralatan
untuk
pengolahan/pengerjaan logam dan rekondisi
mesin/peralatan berteknologi tinggi
Industri pembuatan logam dasar bukan besi
264
Neotech Indonesia
Industri peralatan listrik
265
New Sun
Industri sepatu
266
Nexco Indonesia
Industri mortar/beton siap pakai
267
Nne Energy
Industri Kimia Dasar Organik yang Bersumber
dari hasil Pertanian
268
Ns Bio Tec
Industri pupuk organik
269
Ns Bio Tec
Industri pupuk alam
270
Oh Sung Chemical
Industri pigment
271
Oh Sung Electronics Indonesia
272
Oh Sung Metal Indonesia
Industri sub assy, komponen elektronika, alat
pengangkat, alat pemindah dan mesin/peralatan
pengolah logam serta peralatan rumah tangga
dengan menggunakan arus listrik
Industri logam dasar bukan besi
273
Old & New Hybridtech
274
Optim Indo Jaya
275
Oriental Ceramic Indonesia
276
Oriental Plastic
Industri
barang-barang
teknik/industri dari plastik
277
Os Tec Indonesia
Industri Barang dari Plastik
278
P.A. Rubber Indonesia Jaya
279
Palma Indonesia
Industri barang-barang dari karet untuk keperluan
industri
Industri komponen mebel dari kayu pinus
280
Palma Indonesia
Industri komponen mebel dari kayu pinus
281
Pamir Medical
Industri barang-barang plastik lainnya
282
Pamir Medical
Industri barang-barang plastik lainnya
283
Pamir Medical
Industri barang-barang
perdagangan besar
284
Pampas Electric
Industri semi konduktor dan komponen elektronik
285
Paran International
286
Park Mumin
Industri percetakan kain dan pakaian jadi dari
tekstil
Industri ransum pakan ternak/ikan
287
Perta-Samtan Gas
Industri pemurnian dan pengolahan gas bumi
288
Petindo Jaya
Industri biji plastik
Industri pakaian jadi dari tekstil dan
perlengkapannya
Industri yang menghasilkan kain keperluan
industri
Industri komponen elektronik
dan
plastik
peralatan
lainnya
dan
289
Plavis Industry
Industri
barang-barang
teknik/industri dari plastik
dan
peralatan
290
Plavis Industry
Industri untuk berbagai pekerjaan khusus
terhadap logam dan barang-barang dari logam
291
Poly Ad Dunia
Industri barang dari plastik lainnya
292
Polytech Indonesia
Industri bahan baku plastik
293
Pony Garment
Industri pakaian jadi dari tekstil
294
Prima Jaya Indonesia
Industri kain bordir (embroidery)
295
Pse Prima Sukses
Industri alat musik bukan tradisional
296
Putra Pile Indah
Industri tekstil lainnya
297
Pyojoon Mold Indonesia
Industri dan perbaikan mesin/peralatan untuk
pengolahan/pengerjaan logam
298
Rc Grease & Lubricants
299
Recife
Industri kimia dasar organik yang menghasilkan
bahan kimia khusus dan perdagangan besar
(distributor utama)
Industri furnitur dari kayu
300
Rodaniaga Kokoh Nusantara
Industri kimia dasar organik yang bersumber dari
hasil pertanian
301
Roxy Music
Industri alat-alat musik non tradisional
302
Royal Fashion
Industri pakaian jadi dari tekstil
303
S Coil Indonesia
Industri komponen elektronik
304
Sadua Indo
Industri pakaian jadi dari tekstil
305
Sam Sam Jaya Garments
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
306
Samindo Electronics
Industri komponen elektronika
307
Samjin
308
Samku Glove Indonesia
Industri semi konduktor dan komponen
elektronik, peralatan komunikasi, audio, video
elektronik lainnya serta barang-barang dan
peralatan teknik/industri dari plastik
Industri sarung tangan dari kulit
309
Samsung Electronics Indonesia
Industri alat transmisi komunikasi
310
Samsung Print & Pack Indo
Industri kemasan kertas dan percetakan umum
311
Samwon Busana Indonesia
Industri pakaian jadi dari tekstil
312
Samwoo Indonesia
Industri penyamakan kulit
313
Sangil Indonesia
Industri komponen elektronik
314
Sarana Bintang Abaditex
Industri pertenunan
315
Sbc Prime Metal
Industri pembuatan logam dasar bukan besi serta
perdagangan ekspor dan impor
316
Sechang Orion
Industri alat pengangkat dan pemindah, industri
mesin dan perkakas mesin untuk pengerjaan
logam serta perdagangan besar
317
Seijin Indonesia
Industri pakaian jadi sulaman/bordir
318
Selim Elektro
Industri peralatan listrik lainnya
319
Selim Jaya Indonesia
Industri komponen elektronik dan perdagangan
impor
320
Semtec
Industri Barang dari Plastik
321
Semyung Prima
Industri perlengkapan kendaraan bermotor roda
empat, komponen electronika dan mold.
322
Semyung Prima
Industri perlengkapan kendaraan bermotor
323
Seng Dam Jaya Abadi
Industri sepatu olahraga
324
Seo Heung Indonesia
Industri komponen sepatu olahraga serta mesin
dan perkakas mesin untuk pengerjaan logam
325
Seo Joo Indonesia
Industri plastik lembaran
326
Seong Jin
Industri perhiasan imitasi dan barang sejenis
327
Serim Indonesia
Industri busa polyurethane
328
Sewon
Industri sepatu olahraga
329
Seyang Indonesia
Industri pakaian jadi dari tekstil
330
Shin Han Indonesia
331
Shin Han Indonesia
Industri komponen elektronik dan mesin
pendingin
Industri mesin pendingin bukan untuk keperluan
rumah tangga
332
Shin Heung Indonesia
333
Shin Hwa Engineering
334
Shin Won Chemical Products
Indonesia
Industri sepatu olahraga
335
Shin Won Hi-Tec
Industri pita perekat dan thermo start
336
Shin Young Hi-Tech
337
Shinhwa Techno Indonesia
Industri percetakan serta peralatan pengujian
dalam proses industri dan industri barang-barang
plastik lainnya
Industri
mesin/peralatan
untuk
pengolahan/pengerjaan logam
338
Shinta Woo Sung
Industri barang jadi tekstil untuk keperluan rumah
tangga dan kain rajut
339
Shinwon Indonesia
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
340
Shinwoo Abadi
Industri pakaian jadi dari tekstil
341
Shinwoo Masjaya
Industri percetakan stiker
342
Show Laser
Industri komponen elektronika
343
Shung Shin Indonesia
Industri alas kaki
344
Sigma Makmur Jaya
Industri komponen elektronik, barang-barang
logam siap pasang untuk bangunan, perlengkapan
dan komponen kendaraan bermotor roda empat
atau lebih serta sepeda motor dan sejenisnya
345
Sigma Metal Jaya
Industri barang perhiasan imitasi
346
Silla Engineering Indonesia
Industri
mesin/peralatan
pengolahan/pengerjaan logam
Industri perlengkapan mesin pengolah/pengerjaan
logam, sub assy dan komponen elektronika dari
logam dan plastik, barang plastik, serta komponen
kendaraan bermotor roda dua dan empat atau
lebih
Industri mold
untuk
347
Sin Jin Tech Indonesia
Industri komponen elektronik
348
Sinar Indo Raya
Industri penunjang percetakan
349
Sinar Kencana Makmurjaya
Industri sarung tangan dari kulit
350
Sinar Professional Indonesia
Industri kuku palsu dan bulu mata palsu
351
Sinar Timur Industrindo
Industri busa lembaran
352
Sinco Abadi
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
353
Sk Glove Indonesia
354
Sketch Electronics
355
Smart Jaya Garmindo
Industri perlengkapan pakaian dari tekstil dan
kulit
Industri
barang-barang
dan
peralatan
teknik/industri dari plastik dan komponen
elektronik
Industri pakaian jadi dari tekstil
356
Smt Solution Indonesia
Industri komponen elektronika untuk alat
komunikasi dan komponen elektronika lainnya
357
Sng Garmindo
Industri pakaian jadi dari tekstil
358
Solocone Industry
359
Ss Print And Package
Industri kemasan dari kertas dan perdagangan
impor
Industri yang menghasilkan kain pita dan pakaian
jadi dari tekstil
360
Starlink Indonesia
Industri wire harness
361
Strawland
Industri.barang plastik
362
Suil Mold Indonesia
Industri wadah dari logam dan mesin/peralatan
untuk pengolahan/pengerjaan logam
363
Suin Sentosa
Industri barang-barang dari kulit dan kulit buatan
untuk keperluan pribadi
364
Sumber Manis Indonesia
Industri kembang gula
365
Sun Jin Indah
Industri pakaian jadi dari bahan bordir
366
Sung Chang Indonesia
Industri rambut palsu
367
Sung Shim International
Industri kosmetik
368
Sung Sil Mitra Jaya
Industri pakaian jadi dari tekstil
369
Sungchang Indah
Industri kemasan dan kotak dari kertas dan
karton, barang dari kertas dan papan kertas
lainnya,serta kain pita (narrow fabric)
370
Sunglim Electronics Indonesia
Industri bahan baku plastik
371
Sungsan Global
Industri mesin pertanian
372
Sungwon Button Indonesia
Industri kancing pakaian
373
Sunshine Global
Industri bordir
374
Surya Moldtech
Industri
mesin/peralatan
untuk
pengolahan/pengerjaan logam dan komponen
elektronik
375
Tae Hang Indonesia
376
Tae Jong Indonesia
Industri peralatan rumah tangga dengan
menggunakan arus listrik, motor listrik,
komponen elektronik, alat transmisi komunikasi,
radio, televisi, alat-alat rekaman suara serta
gambar dan sejenisnya
Industri kemasan dari kertas dan karton
377
Taehan Textile
Industri pakaian jadi
378
Tanah Air Sentosa
Industri barang dari kulit dan kulit buatan untuk
keperluan pribadi
379
Tekarindo Sejahtera
Industri percetakan umum
380
Tekarindo Sejahtera
381
Top-Point Medical
Industri barang dari kertas dan papan kertas
lainnya
Industri peralatan kedokteran
382
Total Solution Electronic
Component
Industri komponen elektronik
383
Tranzer Indonesia
Industri barang dari kulit dan kulit buatan untuk
keperluan pribadi
384
Trend And Fashion
Industri pakaian jadi dari tekstil
385
Triple Circle Technology Indonesia
Industri komponen elektronik
386
Tunas Shoulders Pad
Industri barang-barang dari plastik lainnya
387
Twin Tek
Industri komponen elektronik
388
Tym Nusantara
Industri sepatu olahraga
389
Union Turbine Indonesia
Industri rekondisi (jasa pemeliharaan) turbin
390
Universe Design Indonesia
Industri
pencetakan,
penyempurnaan tekstil
391
Usaha Abadi
Industri sub assy dan komponen elektronika
392
Wildwood
Industri alat-alat musik non tradisional
393
Win Textile
Industri kain rajut
394
Won Jin Indonesia
Industri rambut palsu
395
Woneel Midas Leathers
Industri barang dari kulit dan kulit buatan untuk
keperluan pribadi.
396
Woo Il Indonesia
397
Woo Shin Garment Indonesia
Industri pembuatan mesin/peralatan
industri
Industri pakaian jadi dari tekstil
398
Woojin Sepatu
Industri sepatu olahraga
399
Woonam Music
Industri alat musik bukan tradisional
400
Woongjin Textiles
401
World Garment
Industri barang jadi tekstil untuk keperluan rumah
tangga
Industri pakaian jadi dari tekstil dan kulit
402
World Wear Global
Industri pakaian jadi dari tekstil
403
Yc Tec Indonesia
Industri komponen sepatu olahraga
404
Yeong Shin Indonesia
Industri komponen dan perlengkapan kendaraan
bermotor roda dua
pencelupan
dan
khusus
405
Yeongdo Sejati
406
Yh Pratama Indo
Industri moulding dan komponen bahan
bangunan
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
407
Yh Star Dua
Industri pakaian jadi dari tekstil
408
Yoo Kwang Indonesia
Industri barang plastik lembaran
409
You Young Indonesia
410
Youm Kwang Indonesia
Industri bordir serta perdagangan ekspor dan
impor
Industri penyempurnaan benang
411
Young Lim
Industri barang dari kertas dan papan kertas
lainnya serta industri pencetakan umum
412
Young Won Indonesia
Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil
413
Younghyun Star
Industri pakaian jadi dari tekstil
414
Youngil Leather Indonesia
Industri penyamakan kulit
415
Yu Won Lcd
Industri alat transmisi komunikasi serta
pengukuran, pengatur dan pengujian elektronik
416
Yulim Mold
Industri mesin untuk pengerjaan logam
417
Yuni International
Industri pakaian jadi dari tekstil
418
Yutu Leports Jaya
419
Zamoah
Industri pakaian jadi dan pakaian jadi lainnya dari
tekstil
Industri bahan baku plastik dan barang dari
plastik
Pemantauan Impor
31 Kelompok Hasil
Industri Korea
Selatan di
Indonesia
(Dalam Ribu US$)
No.
2.
Kelompok
Hasil Industri
Besi
Baja,
Mesin-mesin
dan Otomotif
Elektronika
3.
Kimia Dasar
4.
5.
Makanan
Minuman
Tekstil
6.
Alat-alat Listrik
7.
Pulp dan Kertas
8.
Pupuk
9.
Barang-barang
Kimia lainnya
Makanan Ternak
1.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
dan
Pengolahan
Tembaga,
Timah dll.
Pengolahan
Aluminium
Plastik
Pengolahan
Karet
Produk Farmasi
Kulit,
Barang
Kulit
dan
Sepatu/Alas
Kaki
Keramik,
Marmer
dan
Kaca
Pengolahan
Kayu
Alat Olah Raga,
Musik,
Pendidikan dan
Mainan
2007
2008
2009
2010
2011
Trend
20.500.72
9.703
39.924.820.
685
31.683.821.
523
43.218.634.7
65
52.471.706
.272
21,64
%
4.005.484
.355
7.105.086
.371
3.562.957
.959
1.192.047
.638
1.115.923
.248
1.692.597
.906
793.537.9
30
1.342.937
.451
1.149.492
.286
871.486.6
84
13.447.758.
863
10.554.556.
399
3.089.897.0
31
3.902.166.6
82
2.460.486.6
00
2.518.492.3
10
2.548.704.2
35
1.917.008.0
29
1.741.634.8
89
1.678.715.6
86
10.496.709.
385
8.095.115.8
25
2.810.632.3
38
3.396.922.7
65
2.105.815.3
24
1.883.208.1
72
929.140.98
2
1.661.883.1
44
1.679.128.5
76
1.027.136.2
08
14.176.235.3
34
11.431.491.5
32
4.514.181.41
8
5.031.223.89
3
3.142.833.71
3
2.731.779.58
1
1.509.190.28
5
2.199.293.11
0
1.871.564.36
2
1.822.079.35
7
16.116.570
.142
15.413.280
.076
6.851.930.
686
6.735.213.
076
3.769.056.
352
3.262.647.
857
2.706.978.
092
2.592.292.
795
2.220.456.
925
2.195.096.
443
32,81
%
17,69
%
18,38
%
45,03
%
30,72
%
14,96
%
21,29
%
15,64
%
14,90
%
21,28
%
830.797.0
79
526.536.0
75
539.006.6
72
605.056.0
38
221.837.1
81
1.274.371.6
66
1.155.442.9
89
899.448.91
1
673.936.74
2
567.462.14
0
894.596.07
9
1.034.028.6
01
765.147.77
6
702.685.09
6
415.336.32
6
1.398.162.62
1
1.525.087.44
6
1.090.427.10
1
872.837.421
1.936.647.
716
1.860.277.
638
1.388.319.
360
972.221.41
6
967.237.79
0
19,55
%
32,34
%
23,18
%
12,83
%
37,24
%
336.540.0
13
642.887.68
3
453.554.71
2
689.586.778
872.237.83
4
21,83
%
282.374.9
21
184.381.9
16
381.432.07
2
355.175.55
7
269.876.29
6
244.635.41
1
367.784.594
483.461.27
0
462.452.08
7
10,95
%
20,49
%
707.339.676
364.023.263
20.
Rokok
21.
Kosmetika
22.
Minyak Atsiri
23.
Kamera
dan
Alat-alat Optis
Semen
dan
Produk
dari
Semen
Peng.
Emas,
Perak, Logam
Mulia, Perhiasan
dll.
Pengolahan
Kelapa/Kelapa
Sawit
Barang-barang
Kerajinan
lainnya
Pengolahan
Tetes
Pengolahan
Hasil
Hutan
Ikutan
Pengolahan
Rotan Olahan
Komoditi
lainnya
TOTAL
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
233.313.8
11
183.504.3
22
252.051.9
26
65.811.56
9
99.321.05
7
321.325.44
3
243.348.12
2
312.539.98
6
313.159.82
3
135.376.02
9
302.762.62
4
214.934.24
4
300.205.50
0
230.368.60
1
146.088.42
9
381.760.908
444.137.51
6
392.580.63
9
359.959.72
4
302.987.28
8
227.347.81
0
15,72
%
18,46
%
8,69%
24.655.71
3
72.714.106
62.116.310
113.635.011
149.330.11
9
49,91
%
35.508.37
3
62.330.855
65.871.397
98.428.004
109.462.88
9
31,11
%
26.858.04
4
49.848.046
37.294.277
59.437.742
73.673.778
24,53
%
18.280.60
9
12.618.21
5
25.617.837
37.155.075
40.839.641
38.451.889
15.772.893
17.292.162
27.118.414
31.904.136
21,57
%
27,09
%
367.526
663.818
706.329
624.060
1.069.746
274.386.4
16
48.085.48
9.007
515.628.01
2
91.802.724.
139
433.918.45
7
72.398.087.
944
627.923.811
690.560.59
9
126.099.54
9.960
289.348.832
352.596.551
271.058.782
188.878.550
101.115.406.
556
33,77
%
22,01
%
23,06
%
22,67
%
22,44
%
30 Negara Asal Impor Terbesar Untuk
Produk Hasil Industri di Indonesia
(Dalam Ribu US$)
No.
Negara
2007
2008
2009
2010
2011
2.
Rep. Rakyat
Cina
Jepang
3.
Singapura
4.
Amerika
Serikat
Thailand
7.306.262.8
80
6.447.447.2
01
3.866.056.7
82
3.597.785.7
19
3.999.023.7
73
1.987.419.5
90
2.112.477.7
23
1.947.866.4
67
1.429.749.6
61
2.096.160.9
21
1.442.856.9
96
437.049.19
1
1.422.804.8
24
503.039.01
1
514.142.71
5
642.934.55
0
655.335.12
1
400.725.84
7
658.989.03
4
366.582.01
1
769.602.98
0
14.176.571.
155
14.754.153.
355
11.002.991.
250
5.998.872.8
71
6.050.944.2
72
4.774.530.8
56
3.849.366.7
97
3.019.294.3
59
2.697.284.0
20
2.662.900.8
04
2.170.056.3
80
2.355.425.9
27
1.655.239.1
76
1.022.925.2
01
506.549.356
12.739.070.
057
9.759.801.1
03
9.203.462.3
23
5.928.429.5
31
4.333.927.8
84
3.791.564.8
05
3.088.906.0
91
2.337.177.5
73
1.992.078.7
60
2.035.963.1
83
1.852.563.6
59
1.692.263.0
83
1.612.597.7
53
801.369.264
1.055.105.5
39
983.990.776
836.641.323
18.722.124.
134
16.842.531.
731
10.005.939.
924
7.898.873.6
89
7.221.136.8
16
5.579.318.6
02
4.380.103.5
87
2.951.354.4
53
2.929.860.4
86
2.435.375.5
54
2.299.512.6
33
1.852.931.1
86
1.304.908.5
93
1.196.205.2
61
1.022.011.7
84
931.377.124
715.598.177
894.454.602
1.219.292.6
59
1.293.809.8
51
555.010.421
369.680.137
885.476.830
613.787.918
833.856.413
457.000.795
733.847.622
24.333.313.
948
19.233.696.
123
10.495.257.
685
8.391.843.9
59
9.936.536.4
89
7.424.084.8
05
5.508.756.2
24
3.332.521.2
29
3.824.344.9
97
3.065.736.1
60
3.134.666.2
24
2.457.335.4
74
1.949.829.9
73
1.303.078.2
51
2.186.279.4
45
1.160.965.4
30
1.198.338.0
24
1.264.431.5
76
1.532.837.5
53
947.563.062
1.027.209.7
51
710.533.327
712.315.121
865.518.912
484.115.56
8
346.883.83
1
356.820.92
691.923.005
544.479.942
710.668.403
706.169.607
705.846.766
530.256.274
694.527.411
820.449.477
544.037.326
616.481.159
690.550.366
1.120.659.5
1.
5.
6.
7.
Korea
Selatan
Malaysia
8.
Jerman
9.
Taiwan
10.
Australia
11.
India
12.
Hongkong
13.
Perancis
14.
Brasilia
15.
Vietnam
16.
Inggris
17.
Italia
18.
Federasi
Rusia
Kanada
19.
20.
21.
22.
Saudi
Arabia
Swedia
23.
Selandia
Baru
Pilipina
24.
Argentina
417.783.921
Tren
d
30,79
%
26,09
%
20,95
%
21,76
%
22,11
%
32,20
%
22,70
%
11,08
%
22,76
%
6,94
%
17,47
%
37,90
%
4,00
%
22,88
%
43,29
%
11,15
%
11,76
%
21,88
%
13,30
%
24,34
%
1,30
%
8,13
%
18,60
%
28,75
2
25.
Belanda
26.
Ukraine
27.
Belgia
28.
29.
Rep. Afrika
Selatan
Swiss
30.
Finlandia
Lainnya
492.483.60
3
535.408.20
1
335.466.75
1
191.293.38
2
346.319.64
3
326.863.81
6
2.065.520.2
93
10
%
10,75
%
0,39
%
10,35
%
33,75
%
10,26
%
8,85
%
26,05
%
585.920.564
537.928.940
631.925.893
790.288.947
916.231.487
378.163.092
585.098.366
683.232.725
609.900.103
427.061.794
544.373.802
581.098.910
299.325.192
257.336.222
472.936.734
651.347.084
546.835.542
434.981.047
460.268.993
615.201.485
359.699.772
227.036.222
358.711.902
500.090.861
3.711.479.6
06
3.154.162.5
85
4.332.828.5
41
6.084.075.8
11
Download