13 BAB II TINJAUAN TEORI A. Strategi Penyesuaian Sosial 1

advertisement
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Strategi Penyesuaian Sosial
1. Pengertian Strategi Penyesuaian Sosial
Keberadaan manusia memiliki fungsi yang berbeda dengan makhluk
ciptaan Tuhan lainnya. Selain terlahir sebagai makhluk individu, manusia juga
merupakan makhluk sosial. Abraham Maslow (dalam Kartono, 1992)
menyebutkan ada lima macam kebutuhan manusia, yakni kebutuhan fisiologis,
kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri dan
kebutuhan aktualisasi diri. Dari tingkatan tersebut, kebutuhan sosial pada diri
manusia menempati urutan yang ketiga dari lima macam hirarki yang
disusunnya. Pada kebutuhan sosial, manusia memperolehnya dengan cara
berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ditempatinya.
Istilah strategi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) adalah
ilmu tentang siasat, atau rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk
mencapai sasaran khusus. Penyesuaian menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (1991) adalah proses, cara atau perbuatan menyesuaikan terhadap
suatu hal/keadaan. Sosial adalah berhubungan dengan masyarakat umum. Dari
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa strategi penyesuaian sosial
adalah rencana yang cermat mengenai proses menyesuaikan diri seseorang
terhadap sesuatu keadaan yang berhubungan dengan orang lain.
13
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
Menurut Chaplin (1995) strategi penyesuaian sosial adalah suatu cara
menjalin hubungan secara harmonis dengan lingkungan sosial, atau suatu
teknik yang digunakan untuk mempelajari pola tingkah laku yang diperlukan
untuk mengubah kebiasaan yang ada, sehingga sesuai bagi satu kehidupan
masyarakat tertentu.
Strategi penyesuaian sosial adalah suatu proses yang terus-menerus
berlangsung dan selalu berubah dalam kaitannya dengan interaksi individu
yang bersangkutan dengan orang lain, peristiwa-peristiwa yang dialami dan
kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi kehidupannya, seperti teman-teman,
keluarga, kondisi fisik dan proses penuaan dalam lingkungan. Faktor-faktor
ini secara berkesinambungan akan terus mengalami perubahan selama rentang
kehidupan. Dengan strategi penyesuaian sosial yang tepat maka seseorang
dapat menjalankan fungsinya dalam masyarakat, hubungan sosial, pelaksanaan
tugas-tugas, serta perasaan subyektif mengenai kepuasan dan kesenangan
hidupnya akan dapat berlangsung dengan baik (Dwiyanti, 2003).
Schneiders (1964) berpendapat "Social adjustment signifies the
capacity to react evvectively and wholesomely to social realities, situations so
that the requirements for social living are fulfilled in a acceptable and
satisfactory manner".
Pendapat tersebut bermakna bahwa di dalam penyesuaian sosial adalah
dilihat dari sejauh mana individu mampu menanggapi situasi, hubungan dan
realitas sosial secara sehat, efektif, oleh karena itu kemampuan ini dituntut
pada setiap individu sebagai suatu kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan
untuk memenuhi kepuasan di dalam kehidupan sosial. Dengan kemampuan
14
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
tersebut individu akan mampu mengadakan suatu strategi penyesuaian sosial
yang tepat tanpa menimbulkan konflik yang berarti.
Hal ini sependapat dengan yang dikemukakan oleh Gerungan (2000)
bahwa di dalam penyesuaian individu dituntut untuk mampu mengadakan cara
penyesuaian yang baik tanpa menimbulkan konflik bagi diri sendiri maupun
masyarakat. Hal senada diungkapkan oleh Walgito (1990) yang berpendapat
bahwa di dalam hubungan sosial ini individu satu dengan lainnya saling
mempengaruhi, sehingga setiap individu akan menerima nilai-nilai dan
menyesuaikan dengan norma sosial yang berlaku.
Menurut Hurlock (2000), penyesuaian sosial merupakan wujud
penyesuaian diri seseorang terhadap kehidupan sosialnya. Gerungan (2000)
mengartikan penyesuaian sosial dalam dua kategori, yakni mengubah diri
sesuai dengan keadaan lingkungan yang disebut autoplastis (dibentuk sendiri),
dan pengertian kedua mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau
keinginan diri yang disebut aloplastis (dibentuk oleh yang lain).
Proses penyesuaian sosial manusia dalam kelompok berperan sesuai
dengan
jenis
kelaminnya
merupakan
bagian
normal
dalam
proses
perkembangan, sehingga tidak seorang pun menganggapnya sebagai masalah.
Akibat dari proses tersebut terbentuklah stereotip jenis kelamin yang secara
tidak langsung disetujui oleh anggota kedua jenis kelamin dalam suatu
lingkungan, bergantung pada apa saja yang dihargai untuk lingkungan tersebut
(Hurlock, 1999).
15
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
Hurlock (2000) mengartikan strategi penyesuaian sosial sebagai
keberhasilan seseorang melakukan suatu cara untuk menyesuaikan diri
terhadap orang lain pada umumnya dan terhadap kelompoknya pada
khususnya. Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik mempelajari
berbagai keterampilan sosial seperti kemampuan untuk menjalin hubungan
secara diplomatis dengan orang lain (baik teman maupun orang yang tidak
dikenal), sehingga sikap orang lain terhadap mereka menyenangkan. Biasanya
orang yang dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik dapat
mengembangkan sikap sosial yang menyenangkan, seperti kesediaan untuk
membantu orang lain meskipun mereka sendiri tidak merasa kesulitan. Dalam
hal ini mereka tidak hanya peduli pada kepentingan dan kebutuhannnya
sendiri, melainkan lebih kepada orang lain.
Hurlock (1999) menambahkan bahwa untuk melakukan penyesuaian
sosial yang baik bukanlah hal yang mudah. Akibatnya banyak individu yang
kurang dapat menyesuaikan diri, baik secara sosial maupun pribadi.
Perkembangan pribadi, sosial dan moral yang dimiliki seseorang menjadi
dasar untuk memandang diri dan lingkungannya di masa-masa selanjutnya.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan strategi penyesuaian sosial adalah sejauh mana individu
bereaksi secara sehat dan efektif terhadap kenyataan dan situasi sosial serta
terhadap hubungan sosial dengan orang lain dan dapat menyusun rencana
yang cermat untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosial dalam
usaha mencapai keharmonisan dengan lingkungannya. Dan dapat dipahami
16
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
juga bahwa di dalam melakukan strategi penyesuaian sosial individu
mengadakan interaksi dengan lingkungan masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan berhubungan dengan orang lain yang merupakan sifat dan kodrat
manusia. Di dalam hubungan sosial tersebut individu satu dengan lainnya
saling mempengaruhi sehingga setiap individu akan menerima nilai-nilai dan
menyiapkan strategi yang tepat untuk dapat menyesuaikan diri dengan normanorma sosial yang berlaku.
2. Kriteria Penyesuaian Sosial
Schneiders (1964) mengatakan bahwa individu dikatakan memiliki
penyesuaian yang baik bila mampu menyesuaikan diri dalam lingkungan
keluarga dan masyarakat secara baik. Kegagalan melakukan penyesuaian
akan berakibat satu sama lain. Ada lima kriteria yang digunakan untuk
mengungkap penyesuaian sosial yang baik yaitu :
a. Bersedia mengakui dan menghormati hak orang lain.
b. Belajar untuk hidup bersama dan menumbuhkan persahabatan dengan
orang lain.
c. Bersedia berpartisipasi dalam aktivitas sosial.
d. Memperhatikan kesejahteraan orang lain.
e. Menghormati nilai hukum, kebiasaan dan tradisi sosial yang ada di
masyarakat.
17
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
Hurlock (1999) menyatakan bahwa untuk menentukan sejauh mana
penyesuaian sosial seseorang dapat diterapkan empat kriteria, dan penerapan
salah satu kriteria saja tidak akan memadai. Keempat kriteria tersebut adalah :
a. Penampilan nyata.
Bila perilaku sosial seseorang seperti yang dinilai berdasarkan
standar kelompoknya memenuhi harapan kelompoknya, maka dia akan
menjadi anggota yang diterima di kelompoknya.
b. Penyesuaian diri dalam berbagai kelompok.
Seseorang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap
berbagai kelompok, secara sosial dianggap sebagai orang yang dapat
menyesuaikan dirinya dengan baik.
c. Sikap sosial.
Seseorang harus menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap
orang lain, terhadap partisipasi sosial, dan terhadap perannya dalam
kelompok sosial, bila ingin dinilai sebagai orang yang dapat menyesuaikan
diri dengan baik secara sosial.
d. Kepuasan pribadi.
Untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik secara sosial,
seseorang harus merasa puas dengan kontak sosialnya dan terhadap peran
yang dimainkannya dalam situasi sosial, baik sebagai pemimpin maupun
sebagai anggota.
Menurut uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut
bahwa kriteria penyesuaian sosial yang baik adalah mau mengakui dan
18
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
menghormati hak orang lain, belajar untuk hidup bersama dan menumbuhkan
persahabatan dengan orang lain, mau berpartisipasi dalam aktivitas sosial,
memperhatikan kesejahteraan orang lain, dan menghormati nilai hukum,
kebiasaan dan tradisi sosial yang ada di masyarakat. Sedangkan kriteria
penyesuaian sosial adalah penampilan nyata, penyesuaian diri dalam berbagai
kelompok, sikap sosial, dan kepuasan pribadi.
3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian Sosial
Menurut Hurlock (1999) penyesuaian sosial merupakan sebuah proses
panjang yang dilalui oleh tiap individu untuk mendapatkan keseimbangan
dalam lingkungan sosialnya. Banyak faktor yang mempengaruhi proses
penyesuaian sosial, diantaranya:
a. Tingkat Pendidikan dan Intelegensi.
Individu yang mempunyai tingkat pendidikan dan intelegensi yang
tinggi cenderung dapat melakukan kemampuan komunikasi yang baik. Dan
seseorang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, biasanya diikuti
dengan tingkat pendidikan dan intelegensi yang tinggi pula. Calvin (dalam
Arifah, 2005) juga menyebutkan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.
Suatu penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang diterima oleh
lingkungan sosialnya mempunyai ranking tertinggi (25% dari nilai yang
tertinggi) di sekolah atau dikantornya, sedangkan orang yang ditolak adalah
19
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
25% ke bawah, dengan catatan bahwa orang yang ditolak mempunyai
hubungan dengan orang lain yang tidak begitu baik (Hurlock, 1999).
Menurut Branca (dalam Sunarni, 2000) intelegensi adalah kecakapan
untuk menyesuaikan diri secara memadai dengan lingkungan, kecakapan
tersebut meliputi kecakapan menggunakan simbol, berhitung, mempelajari
konsep baru, mengingat dan menyimpan hal-hal yang telah dipelajari juga
kecakapan mengadakan interaksi sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa
intelegensi seseorang memegang peranan penting dalam proses penyesuaian
sosial.
b. Keadaan Fisik.
Keadaan fisik sangat mempengaruhi penyesuaian sosial seseorang.
Adanya cacat fisik atau penyakit tertentu sering menjadi latar belakang
terjadinya hambatan-hambatan sosial. Matches dan Kahn (dalam Hurlock,
2000) mengatakan bahwa dalam interaksi sosial, penampilan fisik yang
menarik merupakan potensi yang menguntungkan dan dapat dimanfaatkan
untuk memperoleh berbagai hasil yang menyenangkan bagi pemiliknya. Salah
satu keuntungan yang sering diperoleh ialah orang tersebut mudah berteman.
Orang-orang yang menarik lebih mudah diterima dalam pergaulan dan dinilai
lebih positif oleh orang lain dibandingkan orang yang kurang menarik. Karena
banyak hal positif yang disebabkan oleh penampilan yang menarik ini, maka
orang tersebut lebih mudah menyesuaikan diri daripada yang kurang menarik.
20
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
c. Karakteristik Kepribadian.
Karakteristik kepribadian seseorang akan dapat mempengaruhi dalam
melakukan penyesuaian sosial, antara lain tipe kepribadian, motivasi dari
dalam
dirinya,
menambahkan
dan
bahwa
penerimaan
penerimaan
dirinya
diri
(Hurlock,
seseorang
1999).
turut
Hurlock
menentukan
keberhasilan penyesuaian sosial seseorang, karena seseorang yang menolak
dirinya atau
tidak
menyukai dirinya
akan menjadi kurang
mampu
menyesuaikan diri secara baik dan merasa tidak bahagia.
d. Jenis Kelamin.
Selain itu lingkungan masyarakat yang memberikan stereotip tertentu
pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang menyebabkan terjadinya
perbedaan status sosial, misalnya sikap laki-laki yang menentang peraturan
cenderung lebih diterima dibanding jika dilakukan oleh perempuan. Lebih
lanjut Ashmore (dalam Sears, 1994) menyebutkan bahwa stereotip jenis
kelamin merupakan keyakinan tentang sifat kepribadian laki-laki dan
perempuan, yang memberikan gambaran mengenai ciri-ciri dari anggota suatu
kelompok sosial.
Dalam segi psikologis, Suryabrata (dalam Sunarni, 2000) mengatakan
bahwa laki-laki biasanya lebih bersifat intelektual dan abstrak, sedangkan
perempuan lebih bersifat pasif, menerima dan minatnya lebih tertuju pada halhal yang bersifat emosional dan konkret. Perempuan mempunyai tendensi
neurotis yang lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki, walaupun telah
diberikan kesempatan yang sama.
21
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
Suryabrata (dalam Untari, 2001) menyatakan bahwa dalam lingkungan
sosial pada umumnya, laki-laki mendapat kebebasan lebih banyak. Laki-laki
cenderung lebih bebas, lebih berkuasa, lebih berani menentang segala
peraturan yang ada. Sebaliknya, perempuan lebih banyak terikat pada keluarga
dan mempunyai kecenderungan lebih patuh dan menerima aturan yang
berlaku. Perempuan juga lebih mudah menghayati perasaan orang lain dan
merasa lebih senang bersama dan menciptakan hubungan yang erat dengan
teman-temannya.
e. Pengalaman Sosial Pada Masa Kanak-kanak.
Freud (dalam Hurlock, 1999) menyatakan bahwa pengalaman sosial
awal (masa kanak-kanak) memegang peranan penting dalam membentuk
penyesuaian sosial yang baik pada masa remaja dan masa selanjutnya.
Penyesuaian sosial tersebut merupakan suatu proses yang berkesinambungan,
di mana keberhasilan individu dalam melakukan penyesuaian sosial pada fase
sebelumnya berpengaruh terhadap keberhasilan penyesuaian sosial individu
pada fase berikutnya.
f. Kondisi Psikologis.
Individu yang sehat dan matang secara psikologis akan dapat
menyelaraskan dorongan-dorongan internalnya dengan tuntutan-tuntutan yang
berasal dari lingkungan. Bahkan tidak hanya itu, individu tersebut akan
berusaha memenuhi tuntutan tersebut (Hurlock, 1999).
22
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
g. Kondisi Keluarga.
Hurlock
(1999)
menyatakan
bahwa
kondisi
keluarga
yang
menimbulkan kesulitan bagi seseorang dalam penyesuaian sosial adalah
sebagai berikut:
(a) Pola Perilaku Sosial Yang Buruk Di rumah.
Bila pola perilaku sosial yang buruk dikembangkan di rumah,
seseorang akan menemui kesulitan untuk melakukan penyesuaian sosial
yang baik di luar rumah, meskipun dia diberi motivasi kuat untuk
melakukannya.
(b) Kurangnya Model Perilaku Yang Ditiru.
Bila rumah kurang memberi model perilaku untuk ditiru, individu
akan mengalami hambatan yang serius dalam penyesuaian sosialnya di
luar rumah. Individu yang ditolak oleh keluarganya akan mengembangkan
kepribadian yang tidak stabil, agresif, yang mendorong mereka untuk
melakukan tindakan yang penuh dendam atau bahkan kriminalitas.
(c) Kurangnya Motivasi Untuk Belajar.
Kurangnya motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial
sering timbul dari pengalaman sosial awal yang tidak menyenangkan baik
di dalam maupun di luar rumah. Sebagai contoh, individu yang selalu
diganggu oleh orang lain, atau diperlakukan sebagai orang yang tidak
dikehendaki dalam kehidupan mereka, tidak akan memiliki motivasi kuat
untuk melakukan penyesuaian sosial yang baik di luar rumah.
23
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
(d) Kurangnya Bimbingan dari Orang Tua / Orang Dewasa Lainnya.
Meskipun memiliki motivasi yang kuat untuk belajar melakukan
penyesuaian sosial yang baik, namun tidak memperoleh dukungan dan
bantuan yang cukup dalam proses belajar ini, maka individu tersebut
mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosialnya.
h. Keadaan Lingkungan.
Keadaan lingkungan yang baik, damai dan penuh penerimaan dan
memberikan
perlindungan
kepada
anggota
masyarakatnya
merupakan
lingkungan yang akan memperlancar proses penyesuaian individu (Hurlock,
1999). Dalam aliran empirisme yang dikembangkan oleh John Locke (dalam
Untari, 2001) juga diterangkan bahwa segala sesuatu memerlukan proses
belajar, yakni dari lingkungan yang turut membentuk karakter dan
perkembangan individu.
i.
Kebudayaan dan Agama.
Hurlock (1999) menyatakan bahwa kebudayaan secara langsung atau
tidak langsung berpengaruh pada pembentukan tingkah laku individu.
Kebudayaan memudahkan atau bahkan menyulitkan penyesuaian sosial
individu. Individu yang dapat bertingkah laku sesuai dengan budaya yang
berlaku akan mudah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut.
Demikian halnya dengan agama, sebagai sarana untuk mengurangi konflik,
frustrasi dan ketegangan psikis lainnya akan memberi rasa aman bagi individu
dalam penyesuaiannya.
24
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
Jalaludin (dalam Arifah, 2005) juga menyebutkan bahwa semakin kuat
tradisi keagamaan dalam suatu masyarakat akan semakin besar pengaruh
dominannya dalam kebudayaan.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa ada sembilan faktor
penting yang mempengaruhi penyesuaian sosial seseorang, yaitu tingkat
pendidikan dan intelegensi, keadaan fisik, karakteristik kepribadian, jenis
kelamin, pengalaman sosial pada masa kanak-kanak, kondisi psikologis,
kondisi keluarga, kondisi lingkungan, dan kebudayaan dan agama.
4. Kriteria Strategi Penyesuaian Sosial
White (dalam Watson, 1989) menjelaskan bahwa ada tiga kriteria
strategi penyesuaian sosial, yaitu ;
a. Mendapatkan cukup informasi tentang lingkungan. Artinya individu
harus memiliki cukup informasi tentang lingkungan agar dapat
mengadakan respon yang memadai. Jika tindakan yang dilakukan hanya
berdasarkan informasi yang terlalu kecil, maka hal tersebut dapat
mengacaukan atau merugikan beberapa pihak. Terlalu banyak informasi
akan mengakibatkan kebingungan yang individu tidak dapat bergerak
dengan bebas.
b. Memelihara atau mempertahankan kondisi internal yang diperlukan
individu untuk melakukan tindakan serta untuk memproses informasi.
Seperti perasaan tenang dalam menghadapi suatu permasalahan.
25
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
c. Menjaga kebebasan bertindak. Ini merupakan hal yang
paling
fungsional, yang terpenting tindakan yang dilakukan tidak mengganggu
kriteria yang lain.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kriteria strategi
penyesuaian sosial diantaranya adalah bahwa individu harus mendapatkan
cukup informasi tentang kondisi lingkungan, mampu mempertahankan kondisi
internal dalam dirinya, serta menjaga kebebasan diri dalam bertindak agar
tidak berakibat buruk.
5. Macam Strategi Penyesuaian Sosial
Watson (1989) menjelaskan bahwa pada intinya, setiap pilihan yang
potensial dapat dilihat sebagai suatu strategi penyesuaian sosial. Ada beberapa
macam strategi penyesuaian sosial yang dapat dilakukan oleh individu dalam
menghadapi masalah kehidupan bermasyarakat, antara lain:
a. Dengan mendekati langsung ke masyarakat tersebut. Resikonya adalah
kemungkinan dapat terjadi konfrontasi mendadak dengan masyarakat
tersebut. Strategi yang baik dalam hal pemenuhan informasi karena
individu tampak tenang, juga merupakan strategi yang buruk karena
cenderung membatasi daripada memperluas kebebasan gerak.
b. Mendekati dan mendengarkan benar-benar untuk mencari tahu sekaligus
menjaga jarak agar memperkecil kemungkinan munculnya permasalahan
mendadak. Strategi yang baik karena ketiga kriteria bertemu, yaitu
26
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
individu mendapatkan informasi yang dibutuhkan, tetap tenang dan masih
memiliki alternatif lain.
c. Berbalik dan melarikan diri untuk menghindari permasalahan. Yaitu
individu tersebut pergi dengan prasangka buruk, menarik diri dari
pergaulan masyarakat atau melakukan sesuatu hal yang sama sekali baru
dan tidak berhubungan dengan masyarakat, sebagai pelampiasan dan cara
menghindari permasalahan. Ini merupakan strategi yang buruk karena
individu tidak mendapatkan informasi, dan juga individu dalam keadaan
panik.
d. Bersembunyi diam-diam dan tidak menampakkan diri, menerima serta
membiarkan masyarakat tersebut menceritakan dirinya sebagai cara lain
untuk menghindari konfrontasi. Ini adalah strategi yang buruk karena
setelah individu mendapatkan informasi justru menjadi lumpuh total dan
tidak melakukan tindakan apapun.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan ada empat strategi
penyesuaian sosial yang dapat dilakukan individu dalam menghadapi
permasalahan, yaitu: mendekati langsung ke sumber masalah, mendekati dan
mendengarkan sekaligus menjaga jarak, melarikan diri dari masalah, atau
bersembunyi. Dari keempat strategi penyesuaian sosial tersebut, masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan; namun pada umumnya yang
merupakan strategi yang baik adalah strategi pertama dan kedua, sedangkan
strategi yang buruk adalah strategi ketiga dan keempat.
27
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
B. Tindik dan Tato
1. Pengertian Tindik dan Tato
Tindik atau piercing adalah menusuk suatu bagian anggota tubuh
dengan alat sejenis jarum untuk dipasangi perhiasan yang dijadikan sebagai
aksesoris atau suatu tanda (simbol) pada bagian tubuh tertentu yang memiliki
makna tertentu (http://www.indonesiasubculture.com/pa01.html).
Di Indonesia, tradisi tindik biasa dilakukan warga Suku Asmat di
Kabupaten Merauke dan Suku Dani di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Lelaki
Asmat menusuk bagian hidung dengan batang kayu atau tulang belikat babi
sebagai tanda telah memasuki tahap kedewasaan. Suku Dayak di Kalimantan
mengenal tradisi penandaan tubuh melalui tindik di daun telinga sejak abad ke
17, tak sembarang orang bisa menindik diri. Hanya pemimpin suku atau
panglima perang yang mengenakan tindik di kuping. Sedangkan kaum wanita
Dayak mengenakan anting-anting pemberat untuk memperbesar cuping atau
daun telinga, semakin cantik dan tinggi status sosialnya di masyarakat
(Anggraeni, 1997).
Sekitar lima ribu tahun lampau, di Mesir, tindik di pusar menjadi
ritual, tentara Romawi menindik putingnya untuk menunjukan kejantanannya,
Suku Maya menindik lidah sebagai ritual spiritual, dan anggota kerajaan
Victoria dahulu memilih menindik puting dan alat genitalnya. Model primitif
inilah yang akhirnya banyak ditiru komunitas piercing di dunia. Keberadaan
piercing di Indonesia hingga kini masih dianggap sebagai seni pinggiran.
Penggemar tindik pun terkadang dianggap aneh. Namun, sejumlah pemuda di
28
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
kota-kota besar menjadikan piercing sebagai jalan hidup (Hatib Abdul Kadir
Olong, 2006).
Kata tato berasal dari bahasa Tahiti, “tatu” yang berarti tanda. Tato
yang merupakan bagian dari body painting adalah suatu produk dari kegiatan
menggambar pada kulit tubuh dengan menggunakan alat sejenis jarum atau
benda dipertajam yang terbuat dari flora dan hasil gambar tersebut dihias
dengan pigmen berwarna-warni (Hatib Abdul Kadir Olong, 2006).
Tato (tatto) atau body painting atau rajah adalah simbol dari kulit
tubuh yang digambar dengan menggunakan alat sejenis jarum, biasanya
gambar atau simbol tersebut kemudian dihiasi dengan pigmen warna-warni
dengan motif tertentu (http://www.indonesiasubculture.com/pa01.html).
Walaupun bukti-bukti sejarah tato ini tidak begitu banyak, tetapi para
ahli mengambil kesimpulan bahwa seni tato ini sudah ada sejak 12.000 tahun
SM. Jaman dahulu, tato semacam ritual bagi suku-suku kuno seperti Maori,
Inca, Ainu, Polynesians, dan lain-lain. (Anggraeni, 1997).
2. Sebab-Sebab Tindik dan Tato
Penyebab suku bangsa di dunia memakai tindik dan tato menurut (Ady
Rosa, 2006):
a. Bangsa Yunani kuno memakai tindik dan tato sebagai tanda pengenal para
anggota dari badan intelijen mereka, alias mata-mata perang pada saat itu.
Di sini tindik dan tato menunjukan pangkat dari si mata-mata tersebut.
29
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
b. Bangsa Romawi memakai tindik dan tato sebagai tanda bahwa seseorang
itu berasal dari golongan budak, dan tato serta tindik juga dirajahi ke setiap
tubuh para tahanannya.
c. Suku Maori di New Zealand membuat tindik dan tato berbentuk ukiranukiran spiral pada daun telinga, wajah dan pantat. Menurut mereka, ini
adalah tanda bagi keturunan yang baik.
d. Di kepulauan Solomon, tato ditorehkan di wajah perempuan sebagai ritus
untuk menandai tahapan baru dalam kehidupan mereka, sedangkan untuk
tindik ditorehkan pada bagian sudut alis mata sebelah kiri.
e. Hampir sama seperti di atas, orang-orang Suku Nuer di Sudan memakai
tindik dan tato untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki.
f. Orang-orang Indian melukis (tato) tubuh dan mengukir (tindik) kulit
mereka untuk menambah kecantikan atau menunjukan status sosial
tertentu.
g. Di Indonesia, orang-orang Mentawai di kepulauan Mentawai, suku Dayak
di Kalimantan, dan suku Sumba di Nusa Tenggara Barat, sudah mengenal
tindik dan tato sejak jaman dulu. Bahkan bagi suku Dayak, seseorang yang
berhasil “memenggal kepala” musuhnya, dia mendapat tato ditangan serta
aksesoris tindik tambahan. Begitu juga dengan suku Mentawai, tatonya
tidak dibuat sembarangan, sebelum pembuatan tato dilaksanakan, ada
panen Enegaf alias upacara inisiasi yang dilakukan di Puturkaf Uma
(galeri rumah tradisional suku Mentawai). Upacara ini dipimpin oleh suku
30
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
Sikerei (Dukun). Setelah upacara ini selesai, barulah proses penatoan
dilaksanakan.
3. Dampak Tindik dan Tato Terhadap Individu
Erik H Erikson (dalam Hatib Abdul Kadir Olong, 2006) menjelaskan
banyak permasalahan yang terjadi sebagai dampak yang harus dihadapi oleh
individu karena bertindik dan bertato. Diantaranya adalah:
a. Masalah Praktis
Sebelum bertindik dan bertato individu mempunyai peluang pada
beberapa pekerjaan di tingkat formal, tetapi setelah bertindik dan bertato
semua pekerjaan formal menjadi minor untuk dijadikan pilihan.
b. Masalah Psikologis
Individu yang bertindik dan bertato cenderung merasa tidak
menentu dan identitasnya kabur setelah mendapatkan respon perlakuan
serta penerimaan yang kurang baik dalam lingkungan masyarakatnya.
c. Masalah Sosial
Individu yang bertindik dan bertato cenderung akan tersisih karena
kehidupan sosial mereka hanya terbatas dengan teman sesama pengguna
tindik dan tato dalam komunitas saja.
d. Masalah Kesehatan Fisik
Dampak yang dapat ditimbulkan dari tindik dan tato secara fisik
cukup berbahaya, mulai dari infeksi kronis, pendarahan (blooding). Bekas
luka, hepatitis B dan hepatitis C, tetanus, hingga penyakit yang belum
31
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
dapat disembuhkan yaitu HIV-AIDS. Menurut Asosiasi Dokter Gigi seAmerika Serikat, dalam (Anthony Reid dalam, Kirik Ertanto, 2002)
sendiri menolak tindik di lidah, bibir, pipi, dan menyebutnya sebagai
pelanggaran terhadap kesehatan. Tindik dan tato dapat menyebabkan
infeksi kronis, pendarahan yang lama, parut luka (bekas luka), hepatitis B
dan C, tetanus, HIV, alergi terhadap perhiasan yang dikenakan, abses atau
bisul bernanah.
e. Masalah Perubahan Konsep Diri
Tanpa
mengesampingkan
tentang
siapa
yang
menimbulkan
masalah sehingga bertindik dan bertato dapat terjadi, individu tersebut
merasa bersalah karena satu sisi bertindik dan bertato bukan merupakan
pilihan yang tepat dalam hidupnya. Namun perasaan yang tidak
menyenangkan tersebut dapat dihindari tetapi akan selalu mewarnai
konsep diri dan dapat mengakibatkan perubahan kepribadian.
Dari beberapa permasalahan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
setelah bertindik dan bertato, individu mengalami beberapa kesulitan dalam
menjalani kehidupan sosialnya. Masalah penyesuaian sosial termasuk dalam
masalah praktis, psikologis, sosial, kesehatan fisik, dan perubahan konsep diri.
C. Strategi Penyesuaian Sosial Pada Individu Yang Bertindik dan Bertato
Menurut Erik H Erikson (dalam Hatib Abdul Kadir Olong, 2006)
Individu biasanya agak mengalami kesulitan dalam melakukan berbagai
aktivitasnya setelah bertindik dan bertato. Bagi individu tersebut, perubahan
32
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
status dari individu yang bertindik dan bertato menjadi seorang pelaku seni
tubuh tindik dan tato khususnya karena sebagai bentuk estetika tubuh, tidaklah
mudah. Disamping kecerdasan, dibutuhkan juga kepribadian yang kuat, rasa
percaya diri, dan keberanian untuk mampu bertahan hidup, (Nurseha dalam
Sudarto, 2000) apalagi di dalam masyarakat kita, begitu banyak tekanan
tradisi yang mengecam bertindik dan bertato sebagai perilaku yang
menyimpang.
Sosiolog Talcott Parsons (1990-an) mengungkapkan bahwa individu
atau anak muda adalah konstruksi sosial yang terus-menerus berubah sesuai
dengan waktu dan tempat. Parsons menambahkan, ada empat tahap
penyesuaian setelah individu mempunyai pilihan untuk merekonstruksi
tampilan fisiknya, pertama menyangkal bahwa adanya perilaku yang
menyimpang dalam masyarakat, kedua timbul pemahaman bahwa konsep
anak muda bukanlah kategori boilogis yang bermakna universal dan tetap,
ketiga dengan alasan pertimbangan bahwa anak muda sebagai usia dan
sebagai masa transisi yang tidak mempunyai karakteristik umum yang dapat
digeneralisasikan dan diuniversalkan, keempat akhirnya mereka setuju untuk
merubah tampilan fisiknya (bertindik dan bertato).
Erikson (dalam Abercombie dan Warde, 1998) mengatakan bahwa
individu yang bertindik dan bertato mempunyai kondisi penyesuaian dengan
tiga ciri umum, antara lain:
a. Penyesuaian terhadap hubungan sosial subkultur generasi muda terjadi
di sekitar kelompok sebaya yang bersifat kolektif maupun individual
33
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
b. Penyesuaian terhadap perubahan yang berdasar pada kepedulian
mereka terhadap gaya yang bersifat estetik.
c. Penyesuaian terhadap hubungan dengan anggota keluarga, serta
pemahaman pada pandangan hidup yang berbeda dan khas dalam
ekspresi keyakinan yang unik.
Durkheim (dalam Hatib Abdul Kadir Olong, 2006) mengatakan bahwa
pengalaman pahit dari tindakan bertindik dan bertato dapat membawa
seseorang kepada penderitaan yang mendalam dan berkepanjangan. Di mana
ia harus menyesuaikan dengan berbagai tuntutan objektif dalam masyarakat
seperti norma-norma sosial, moral, adat, serta semua kebiasaan-kebiasaan
yang berlaku. Menyadari bahwa tindakan bertindik dan bertato merupakan
sebuah peristiwa eksistensial di mana individu akan mengalami berbagai
perenungan dalam kehidupannya, yang mungkin sangat menyakitkan jika
dihadapkan dengan kenyataan sosial pada penerimaan dirinya di lingkungan
masyarakat. Namun hal ini harus dialami karena penting untuk menerima
realita yang ada, baik dalam bentuk keyakinan maupun perasaan.
Penerimaan kenyataan ini sebagai pengalaman pahit yang telah dan
harus dilalui, sehingga akan memudahkan seseorang dalam meneruskan dan
menjalani hidupnya. Sebagian dari rasa menyesal, marah, sedih dan berbagai
perasaan buruk lainnya mungkin masih akan tertinggal. Yang terpenting
adalah bahwa seseorang telah menemukan jalan keluar untuk mengatasinya.
Dan pada akhirnya seseorang dapat melihat kembali ke masa depan dan
merencanakan kembali masa depannya (Mitchell, 2003).
34
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
Dari uraian tersebut jelas bahwa individu memerlukan usaha yang
cukup keras untuk dapat menentukan strategi penyesuaian diri dengan
kehidupannya yang baru setelah bertindik dan bertato. Jika individu tersebut
dapat mengatasi masalah dengan baik, maka artinya individu yang bertindik
dan bertato tersebut dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik, dan
demikian pula sebaliknya.
D. Peran Individu Sebagai Pelaku Seni Tubuh Tindik dan Tato
Menjadi pelaku seni tubuh tindik dan tato mungkin bukan pilihan
setiap orang, bagi sebagian orang ada kalanya status tersebut disandang karena
keadaan terpaksa atau terkondisikan. Namun, ada orang yang menyandang
predikat tersebut karena sebuah keharusan (seniman tindik dan tato). Secara
pribadi diperlukan energi yang besar dan matang untuk melakukan tugas
berkeseniannya dan menanggung beban emosional yang harus selalu stabil
untuk menjaga proses penuangan kreativitas dalam berkeseniannya meskipun
dipikul bersama komunitasnya. Pelaku seni tubuh tindik dan tato juga harus
lebih sabar dan kuat secara psikis terhadap penilaian serta tanggapan yang
beragam dari anggota keluarga dan lingkungan masyarakatnya (Hatib Abdul
Kadir Olong, 2006).
Seno Gumira Adjidharma (dalam Hatib Abdul Kadir Olong, 2006)
pelaku seni tubuh tindik dan tato adalah individu yang melakukan proses
kreatif dalam bidang seni tubuh tindik dan tato untuk menghasilkan sebuah
karya dengan landasan estetika tubuh (baik tubuh sendiri maupun orang lain).
35
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
Kondisi proses kreatif yang dilakukan pelaku seni tubuh tindik dan tato
tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: kepuasan terhadap karya
seni yang dihasilkan, tuntutan profesi, hobi sekaligus pekerja seni, atau karena
penuangan kreativitas seni dalam rangkaian ekspresi dalam keberadaan
komunitas. Seno menambahkan bahwa menjadi pelaku seni tubuh tindik dan
tato dapat menjadi suatu pilihan atau keterpaksaan. Sebagian besar yang
terjadi di masyarakat adalah pelaku seni tubuh tindik dan tato yang
terkondisikan, artinya karena bentukan dalam komunitas tindik dan tato.
Tetapi jika kemudian individu memilih untuk bertindik dan bertato dengan
alasan untuk mempelajari secara mendalam tentang seni tubuh tindik dan tato,
mungkin itulah pilihan. Diperlukan suatu keberanian yang lebih untuk
melakukan pendekorasian tubuh dengan tindik dan tato, terlebih lagi jika
disertai dengan komitmen untuk bertindik dan bertato dengan usia permanen.
Mayoritas para pelaku seni tubuh tindik dan tato adalah para laki-laki.
Pendapat Dwi Marianto (dalam Hatib Abdul Kadir Olong, 2006) menyatakan
bahwa laki-laki secara mental lebih kuat (cuek) dibanding perempuan ketika
dihadapkan dengan kenyataan sosial masyarakat.
Menurut Dwi Marianto (dalam Hatib Abdul Kadir Olong, 2006)
sesempurna apapun individu yang bertindik dan bertato, dia tidak akan bisa
tampil dalam dua karakter di hadapan masyarakat. Satu sisi memerankan
sosok pelaku seni tubuh tindik dan tato yang lengkap dengan aksesoris tindik
dan tato dalam komunitasnya, atau sebaliknya satu sisi memerankan sosok
individu secara umum yang harus bersosialisasi dengan masyarakat, harus
36
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
bekerja dan bergaul sesuai norma adat serta kebiasaan-kebiasaan yang berlaku
dalam masyarakat pada umumnya. Bila hubungan dengan anggota keluarga
dan masyarakat baik, masalah penerimaan diri dan penyesuaian sosialnya
tentu dapat sedikit teratasi. Namun jika hubungan dengan anggota keluarga
dan masyarakat kurang baik, dan tanpa adanya dukungan dari pihak komunitas
yang bersangkutan, maka individu tersebut tentunya harus siap menanggung
akibatnya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa individu yang bertindik
dan bertato serta berperan sebagai pelaku seni tubuh tindik dan tato sangat
berat. Di samping harus memikirkan penilaian yang kurang baik dari
masyarakat, penyeimbangan emosi dan perasaan agar tetap terjaga proses
kreativitas berkeseniannya, juga harus memikirkan kehidupan dan masa depan
pribadi dirinya sendiri dengan kondisi fisik bertindik dan bertato, baik dari sisi
psikologis maupun materiil. Serta harus mampu menerapkan strategi yang
tepat untuk dapat menghadapi kehidupan di lingkungan sosialnya.
37
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
E. Proses Strategi Penyesuaian Sosial
Individu yang Bertindik dan Bertato Sebagai
Pelaku Seni Tubuh Tindik dan Tato
Masalah yang muncul setelah menjadi
Pelaku Seni Tubuh Tindik dan Tato
Strategi Penyesuaian Sosial :
Mendekati Sumber Masalah
Mendekati, Mendengarkan dan Menjaga Jarak
Berbalik dan Melarikan Diri
Bersembunyi
Hambatan
HAMBATAN INTERNAL
Keterbatasan Kemampuan
Pengetahuan Individu
HAMBATAN EKSTERNAL
Tabu-tabu Sosial
Tekanan dari Keluarga
Peraturan Keras
FRUSTRASI – STRESS – KONFLIK
Batas Wajar
( Normal Behaviour )
Tidak Terselesaikan Berakibat :
Permusuhan
Agresi
Penolakan
Perasaan Terisolir
Gejala Perilaku Maladjusted
Ketidakstabilan Mental
STRATEGI PENYESUAIAN SOSIAL BAIK
STRATEGI PENYESUAIAN SOSIAL BURUK
38
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
Strategi penyesuaian sosial terjadi karena bertemunya kebutuhankebutuhan dan motif-motif yang ada di dalam diri individu dengan tuntutantuntutan yang berasal dari lingkungan seseorang (Schneiders, 1964).
Menurut Schneiders (1964) kebutuhan-kebutuhan individu, motif,
perasaan dan emosi merupakan kekuatan internal. Kebutuhan-kebutuhan ini
menurut Darajat (1985) seringkali menimbulkan pertentangan, karena tidak
jarang dorongan kebutuhan tersebut membutuhkan pemuasan pada saat yang
bersamaan.
Individu dalam memenuhi kebutuhannya dihadapkan pada hambatanhambatan yang berasal dari lingkungan, berupa penolakan orang tua, tabu-tabu
sosial, dan peraturan yang keras (menghukum). Kondisi yang demikian akan
membuat individu merasa tertekan, konflik, stress dan frustrasi (Schneiders,
1964). Selanjutnya individu yang merasa tertekan dan frustrasi tersebut akan
melakukan tindakan-tindakan seperti permusuhan, agresif, penolakan, serta
muncul perasaan terisolir.
Pada dasarnya individu akan menghindari adanya penolakan dari
kelompok sosialnya, oleh karena itulah individu melakukan strategi
penyesuaian sosial terhadap lingkungan sosialnya yang berbeda-beda. Bila
individu tersebut dapat mengatasi hambatan dan kenyataan yang terjadi pada
lingkungan sosialnya, maka individu tersebut dikatakan mampu menerapkan
strategi penyesuaian sosial yang cukup baik. Sehingga terjadi penyesuaian
antara dorongan kebutuhan dari dalam diri dengan tuntutan lingkungan yang
menimbulkan perilaku normal pada individu tersebut. Sebaliknya, bila
39
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
individu gagal menyelaraskan kebutuhan-kebutuhannya dengan tuntutan
lingkungan sosialnya, maka akan timbul konflik, frustrasi dan stress. Bila
tidak cepat teratasi, akan menimbulkan ketidakstabilan mental yang berakibat
strategi penyesuaian sosialnya menjadi buruk (Schneiders, 1964).
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dalam perjalanan
proses pelaksanaan strategi penyesuaian sosial seseorang akan mengalami
hambatan baik internal maupun eksternal, yang jika orang tersebut tidak dapat
menerapkan strategi yang tepat, maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut
tidak berhasil melakukan penyesuaian sosial. Sehingga kehidupannya
mengalami kesulitan. Dan begitu sebaliknya, jika orang tersebut dapat
menerapkan strategi yang tepat, maka orang tersebut dapat dikatakan berhasil
melakukan penyesuaian sosial, sehingga kesulitan hidupnya dapat teratasi.
40
Studi Tentang Strategi..., Mukhammad Ika Bayu Adji, Fakultas Psikologi UMP, 2012
Download