bab ii tinjauan pustaka

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Signaling Theory
Brigham dan Houston (2011) menyatakan bahwa signal merupakan
suatu keputusan atas tindakan manajemen perusahaan sehingga dapat
memberikan esensi berupa petunjuk untuk investor mengenai bagaimana
suatu manajemen itu memandang prospek kinerja manajemen perusahaan.
Teori signaling juga menjelaskan alasan perusahaan perlu menyediakan
informasi kepada pihak eksternal perusahaan, baik itu informasi yang
secara langung berhubungan ataupun informasi yang sifatnya tidak secara
langsung berhubungan dengan keuangan suatu perusahaan tersebut.
Perusahaan akan terdorong untuk menyediakan informasi dikarenakan
keberadaan asymmetry information antara pihak yang berkepentingan dan
manajemen perusahaan melalui informasi tersebut.
Tingkat kepatuhan mandatory disclosures IFRS ini penting sebab
tingkat kepatuhan tersebut dapat memberikan pernyataan yang cukup
informatif serta dapat memberikan sinyal mengenai probabilitas seberapa
patuhnya suatu perusahaan dalam pengungkapan informasi yang telah
diatur dalam standard yang ditetapkan. Pengungkapan wajib tersebut dapat
meningkatkan kredibilitas laporan keuangan sehingga
investor akan
tertarik untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. Struktur
8
9
modal juga tak kalah pentingnya karena informasi mengenai struktur
modal berarti juga akan memberikan sinyal mengenai seberapa besar
tingkat rasio hutang suatu perusahaan dibandingkan dengan aset.
Suwardjono (2005) menyatakan bahwa manajemen perusahaan
akan mengumumkan informasi yang berdasarkan pertimbangannya
informasi tersebut dapat meningkatkan kesuksesan serta kredibilitas
perusahaan meskipun informasi yang diungkapkan tidak diwajibkan.
Informasi mengenai laba yang dipublikasikan kepada pasar guna
meningkatkan harga suatu saham merupakan salah satu upaya manager
dalam meningkatkan kemakmuran stakeholder. Laporan laba yang
dipublikasikan adalah suatu signal mengenai laba di masa depan, sehingga
para pemakai laporan keuangan tersebut dapat memprediksikan atas laba
yang dilaporkan untuk digunakan di masa yang akan datang melalui signal
yang tersedia dalam informasi laba perusahaan yang dilaporkan (Brigham
dan Houston, 2011).
Besaran untuk menunjukkan hubungan antara return dan laba
saham perusahaan yang digunakan guna mengukur seberapa besar reaksi
pasar yang diberikan terhadap informasi tentang perusahaan terefleksi
melalui laporan keuangan yang telah dikeluarkan oleh perusahaan,
khususnya informasi mengenai laba yang disebut dengan istilah Earnings
Respons Coefficient (ERC). Tiap sekuritas memiliki ERC yang bervariasi
dikarenakan banyak faktor mempengaruhi ERC tersebut misalnya seperti
tingkat kepatuhan dan struktur modal.
10
Suatu bentuk kegiatan pendanaan oleh manajer yang dipercaya
mampu merefleksikan harga dari saham suatu perusahaan merupakan
salah salah satu signal bagi investor. Pada dasarnya pendanaan
menggunakan hutang dianggap
signal yang positif sehingga manajer
mempercayai bahwa harga saham akan undervalued. Contoh seorang
manajer
menemukan
sebuah
peluang
investasi
yang
cukup
menguntungkan dimana hal tersebut membutuhkan adanya tambahan
modal. Manajer optimis bahwa perusahaan memiliki prospek sangat bagus
kedepannya, hal ini diindikasikan melalui harga saham perusahaan saat ini.
Situasi ini akan menguntungkan
para stockholder
untuk memilih,
daripada menerbitkan saham lebih baik menggunakan hutang karena
penggunaan hutang dianggap sebagai sebuah signal yang positif.
Sedangkan apabila dengan penerbitan saham dapat mengakibatkan harga
dari sebuah saham akan menurun, underwriting cost yang tinggi sehingga
pendanaan dengan penerbitan saham baru akan membutuhkan biaya yang
sangatlah mahal dibandingkan menggunakan hutang. Oleh sebab itu,
pihak manajemen mempercayai saham akan overvalued, sehingga dengan
adanya penerbitan saham baru dianggap sebagai signal yang negatif.
Ross (1977) dalam Pasaribu (2009) mengembangkan teori ini yang
mana Ross menyarankan agar perusahaan dengan tingkat leverage yang
tinggi dapat dipakai oleh manajer perusahaan sebagai sinyal optimis untuk
masa depan perusahaan. Teori signaling timbul karena adanya suatu
permasalahan yang sering disebut dengan asimetri informasi. Asimetri
11
informasi adalah suatu kondisi yang mana seorang manajer lebih
mengatahui informasi mengenai masa depan dan prospek perusahaan
daripada investor luar (Wisnumurti, 2010). Kondisi dari asimetri informasi
inilah yang menyebabkan suatu perusahaan harus tetap menjaga kapasitas
dari cadangan pinjaman yakni dengan tetap mempertahankan tingkat
pinjaman rendah. Dengan adanya suatu cadangan sangat memungkinkan
manajer dapat mengambil keuntungan melalui kesempatan suatu investasi
tanpa menjual saham perusahaan pada harga yang rendah (Brigham dan
Houston, 2011). Dengan demikian hal tersebut akan dapat mengirimkan
sebuah sinyal yang sangat berpengaruh terhadap harga sebuah saham.
Tidak semua informasi itu dapat terefleksi dalam pasar keuangan
terutama informasi yang tidak tersedia di publik. Jadi tidak menutup
kemungkinan untuk seorang manajer memilih menyampaikan informasi
yang belum tersedia di pasar, salah satunya adalah informasi mengenai
penggunaan dalam kebijakan pendanaan.
2. Teori Pasar Efisien
Pasar efisien merupakan pasar dimana harga seluruh sekuritas yang
diperjualbelikan telah mencerminkan seluruh informasi yang tersedia.
Fama (1970) dalam Hartono (2000) telah mengemukakan konsep pasar
efisien yang mana dalam konteks ini pasar yang dimaksud adalah pasar
modal.
Pasar dapat dikatakan efisien apabila tidak ada seorangpun, baik itu
investor institusi maupun investor individu, akan mampu memperoleh
12
abnormal return, sesudah disesuaikan dengan risiko yang ada, dengan
strategi perdagangan. Artinya, harga- harga yang telah terbentuk di pasar
adalah refleksi dari informasi yang tersedia atau dapat dikatakan “stock
prices reflect all available information”. Ekspresi lainnya juga
menyebutkan bahwa di pasar efisien harga-harga sekuritas secara utuh dan
cepat merefleksikan semua informasi yang ada mengenai sekuritas atau
aset tersebut.
Kondisi pasar efisien terjadi apabila pasar bereaksi secara cepat
atas informasi yang tersedia dan seberapa cepat pula informasi tersebut
dapat mempengaruhi pasar yang terefleksi dalam intensitas perubahan
harga saham. Fama (1970) dalam Hartono (2000) membagi katagori
informasi menjadi tiga, yaitu informasi masa lalu (information in past
stock prices), seluruh informasi sekarang yang dipublikasikan (all public
information), dan informasi privat (all available information including
inside or private information). Masing-masing katagori informasi tersebut
dapat mengindikasikan sejauh mana kadar efesiensi suatu pasar. Harga
saham saat ini mencerminkan dua tipe informasi, yakni informasi yang
telah diketahui dan informasi yang memerlukan dugaan. Informasi yang
telah diketahui adalah informasi masa lalu (seperti laba kuartal atau laba
tahun yang lalu) dan informasi sekarang (current information) seperti
peristiwa
atau
kejadian
yang
sudah
diumumkan
namun
masih
memungkinkan terjadi (misalnya rencana untuk melakukan stock split).
Contoh informasi yang masih memerlukan dugaan yakni apabila banyak
13
investor yang percaya bahwa informasi suku bunga segera turun,
pergerakan harga saham ini lah yang akan merefleksikan kepercayaan ini
sebelum penurunan sesungguhnya terjadi.
Fama (1970) dalam Hartono (2000) mengkatagorikan macam
bentuk pasar efisien menjadi tiga efficient market hypothesis (EMH),
antara lain:
1. Weak form (Efisiensi Pasar Bentuk Lemah)
Pasar akan dikatakan efisien bentuk lemah apabila harga surat
berharga sekarang mencerminkan secara penuh informasi dimasa lalu.
Informasi masa lalu dalam hal ini adalah informasi yang sudah terjadi.
Apabila pasar efisien dalam bentuk lemah ini, maka semua nilai-nilai
masa lalu tidak dapat lagi digunakan untuk memprediksikan harga saat
ini / sekarang. Hal ini menandakan bahwa untuk kondisi ini investor
tidak dapat menggunakan semua informasi masa lalu tersebut untuk
mendapatkan keuntungan tidak normal atau abnormal return.
2. Semistrong Form (Efesiensi pasar bentuk setengah kuat)
Pasar akan dikatakan efisien apabila harga-harga secara penuh
dapat mencerminkan seluruh informasi yang terpublikasi termasuk
juga informasi yang ada di laporan-laporan keuangan semua emiten.
Informasi yang dapat dipublikasikan antara lain:
a. Informasi yang dipublikasikan merupakan informasi yang dapat
mempengaruhi
harga
sekuritas
perusahaanyang
telah
14
mempublikasikan semua informasi tersebut. Misalnya informasi
yang dipublikasikan berupa pengumuman laba, pengumuman
inovasi produk, pengumuman dividen, pengumuman merger dan
akuisisi, dll.
b. Apabila sejumlah perusahaan dapat terpengaruh oleh harga-harga
sekuritas maka informasi tersebut akan dipublikasikan. Contoh
informasi yang dapat dipublikasikan adalah pemerintah atau
peraturan langsung dari regulator yang mana informasi tersebut
dapat berdampak pada harga-harga sekuritas perusahaan yang
terkena aturan atau regulasi tersebut. Misalnya regulasi guna
meningkatkan kebutuhan cadangan yang harus terpenuhi oleh
seluruh bank-bank. Informasi tersebut akan dapat mempengaruhi
harga sekuritas secara langsung bukan hanya bank saja, namun
dapat juga mempengaruhi seluruh emiten yang ada dalam industry
perbankan.
c. Informasi yang akan dipublikasikan dapat mempengaruhi hargaharga sekuritas seluruh perusahaan yang tercatat di pasar saham.
Informasi yang dipublikasikan ini dapat berupa peraturan dari
relator atau peraturan pemerintah yang akan berdampak ke seluruh
perusahaan
emiten.
Misalnya,
peraturan
akuntansi
untuk
mencantumkan laporan laba rugi yang harus dijalankan oleh
seluruh
perusahaan
tanpa
terkecuali.
15
3. Strong form (Efesiensi pasar bentuk kuat)
Pasar akan dapat dikatakan efisien dalam bentuk strong apabila
harga-harga sekuritas secara keseluruhan dapat mencerminkan seluruh
informasi yang tersedia termasuk juga informasi yang sifatnya privat.
Apabila pasar efisien berada pada bentuk kuat ini, maka tidak aka nada
individual investor ataupun kelompok dari investor yang akan
memperoleh abnormal return karena memiliki informasi privat.
3. Earnings Response Coefficient (ERC)
Earnings Response Coefficient adalah respon pasar terhadap
informasi mengenai laba akuntansi yang dapat dilihat melalui sensitivitas
berubahnya harga saham (Nofianti, 2014). ERC merupakan perkiraan dari
perubahan harga saham yang terjadi akibat adanya pengumuman laba
perusahaan yang masuk ke dalam pasar. ERC yang tinggi dapat
mencerminkan bahwa informasi laba memiliki reaksi pasar yang kuat.
Demikian sebaliknya, Rendahnya ERC dapat pula mencerminkan
lemahnya reaksi pasar terhadap informasi laba, tinggi rendahnya ERC
inilah yang dapat menunjukkan bahwa laba yang telah di laporkan
berkualitas atau tidaknya. Maka dari itu, tinggi rendahnya respon terhadap
laba tergantung pada informasi yang terkandung dalam laba akuntansi
tersebut. Penelitian ini mengasumsikan bahwa investor akan memberikan
respon yang berbeda-beda terhadap informasi laba berdasarkan kualitas
informasi laba yang di publikasikan. Respon investor akan tinggi apabila
16
laba yang dihasilkan suatu perusaahaan berkualitas. Jadi dapat di
simpulkan bahwa laba yang di laporkan memiliki kekuatan respon (power
of response) laba yang di publikasikan dapat memberikan respon yang
berbeda-beda, yang dapat memperlihatkan bahwa adanya reaksi pasar
terhadap informasi laba. ERC yang tinggi memperlihatkan kuatnya reaksi
pasar terhadap informasi laba.
Variabel ERC digunakan sebagai pengukur kualitas laba walaupun
secara tidak langsung memberi kritik atas efektifitas laporan keuangan
yang disajikan sehingga dapat memberi nilai guna yang lebih bagi
sebagian besar pemakainya. Hal tersebut disebabkan dengan penggunaan
ERC, laba yang telah disajikan oleh perusahaan akan secara langsung di
bandingkan dengan ekspektasi penilaian publik pada nilai perusahaan yang
melakukan transaksi jual beli. Sehingga pada akhirnya dapat mendorong
investor guna memilah perusahaan yang akan dijadikan sebagai ladang
berinvestasi dengan predikat kinerja lebih baik.
4. Tingkat Kepatuhan Mandatory Disclosure IFRS
Mandatory Disclosure adalah pengungkapan minimal yang
disyaratkan dalam standar akuntansi yang berlaku (Suwardjono, 2005).
Menurut Suhardjanto (2012), pengungkapan terbagi atas dua sifat yaitu,
pengungkapan yang sifatnya sukarela (voluntary disclosure) dan
pengungkapan yang berdasarkan pada suatu ketentuan tertentu (mandatory
disclosure). Mandatory disclosure memiliki tujuan menyediakan informasi
guna memenuhi kebutuhan pemakai laporan keuangan, memberi kepastian
17
dalam pengendalian kinerja melalui kepatuhan terhadap hukum serta
standar akuntansi dan memberikan gambaran mengenai kejelasan
kesehatan keuangan pada suatu perusahaan dan mengestimasi beban masa
yang akan datang sehingga investor dapat mengestimasi aliran kas keluar
dalam suatu bisnis juga dapat memutuskan growth opportunity jangka
panjang (Al – Akra et al., 2010). Widiastuti (2004) juga menyatakan
apabila tingkat pengungkapan tinggi maka ketidakpastian akan masa
depan yang dihadapi investor akan berkurang.
Mandatory disclosure adalah hal yang sangat penting bagi
perusahaan manufaktur yang semakin berkembang pesat seiring dengan
tuntutan global agar perusahaan lebih meningkatkan kualitas informasi
keuangan. Perlunya peraturan mengenai mandatory disclosures pada
laporan keuangan guna melindungi stakeholder yang memiki kepentingan,
sebab tanpa adanya peraturan ini dapat memberikan celah bagi perusahaan
untuk menyembunyikan informasi penting yang harusnya diungkapkan.
5. Struktur Modal
Struktur modal adalah struktur yang bersumber dari beberapa
hutang jangka panjang antara lain hutang, saham umum bahkan saham
biasa yang tergabung menjadi satu kesatuan. Ross (1977) dalam Pasaribu
(2009) juga mengungkapkan pernyataan yang serupa bahwa perusahaan
dalam pembiayaan kegiatan operasionalnya, perusahaan menggunakan
gabungan sekuritas dan juga hutang jangka panjang. Lain halnya dengan
definisi yang diungkapkan oleh Wild et al, (2005) struktur modal
18
didefinisikan sebagai suatu komposisi modal yang berasal dari gabungan
utang dan pendanaan ekuitas pada perusahaan. Sangat penting untuk
perusahaan dalam membuat kebijakan yang tepat terkait pendanaan,
sehingga keputusan yang diambil perusahaan terkait dengan pendanaan
tidak salah arah tetapi justru sebaliknya yakni dapat membuat nilai
tersendiri bagi perusahaan karena keputusan pendanaan yang diambil oleh
perusahaan adalah termasuk aspek yang dapat berkontribusi besar dalam
terciptanya nilai suatu perusahaan. Manajer keuangan ini bertanggung
jawab untuk mengatur penggunaaan dana dan merencanakan sumber dana
tersebut sehingga dapat memaksimalkan nilai dari sebuah perusahaan itu
sendiri. Keputusan yang terdapat dalam manajemen keuangan terbagi
menjadi tiga bagian antara lain :
a. Keputusan dalam sebuah investasi terdapat pada bagian sisi kiri
neraca. Dalam hal ini manajemen keuangan memiliki peran dalam
penentuan investasi misalkan seperti perusahaan akan berinvestasi
pada jenis aset yang seperti apa.
b. Bagian kedua adalah kewajiban dan sekuritas yang ada pada bagian
sisi kanan neraca. Peran yang dimiliki oleh manajemen keuangan
yaitu bagaimana cara mendapatkan sumber dana untuk membiayai
investasi yang dilakukan oleh perusahaan.
c. Bagian ketiga adalah mengenai keputusan manajerialnya berupa
pendanaan dan investasi yang telah diputuskan perusaahaan
berdasarkan day-to-day misalnya seberapa jauh perkembangan
19
perusahaan dan sebesar apa ukuran perusahaan serta secepat apa
perusahaan itu tumbuh.
Jadi manajemen keuangan inilah yang membuat investor percaya
pada perusahaan karena adanya jaminan tingkat pengembalian yang tinggi
dengan tingkat risiko kecil sehingga investor akan merespon dalam bentuk
mempercayakan dana mereka untuk berinvestasi pada perusahaan dan
dengan adanya manajemen keuangan dapat dipastikan bahwa dana yang
digunakan untuk perusahaan merupakan biaya modal terendah.
B.
Hipotesis
1. Tingkat kepatuhan Mandatory Disclosure dan Earnings Response
Coefficient
Pengungkapan wajib merupakan pengungkapan minimum yang
disyaratkan oleh standar akuntansi yang berlaku (Suwardjono, 2005).
Investor akan menilai informasi yang dihasilkan dari standar IFRS
lebih value relevant, yang dibuktikan dengan merespon secara positif.
Selain itu secara tidak langsung kualitas informasi laba mengalami
peningkatan. Karena tidak semua informasi itu dapat terefleksi dalam
pasar keuangan terutama informasi yang tidak tersedia di publik.
Dalam hal ini tingkat kepatuhan tersebut dapat memberikan
pernyataan yang cukup informatif serta dapat memberikan sinyal
mengenai probabilitas seberapa patuhnya suatu perusahaan dalam
pengungkapan informasi yang telah diatur dalam standar yang
ditetapkan.
Pengungkapan
wajib
tersebut
dapat
meningkatkan
20
kredibilitas laporan keuangan karena dengan meningkatnya kredibilitas
laporan keuangan secara otomatis laba yang terkandung dalam laporan
tersebut juga akan semakin berkualitas. Brigham dan Houston (2011)
laporan laba yang dipublikasikan adalah suatu signal mengenai laba di
masa depan, sehingga para pemakai laporan keuangan tersebut dapat
memprediksikan atas laba yang dilaporkan untuk digunakan di masa
yang akan datang melalui signal yang tersedia dalam informasi laba
perusahaan yang dilaporkan. Melalui sinyal tersebut investor akan
tertarik untuk menanamkan modalnya di suatu perusahaan. Selain itu
investor juga akan memperoleh informasi tambahan, dimana informasi
mandatory disclosure IFRS yang pada nantinya akan digunakan oleh
investor untuk menilai dan menganalisis prospek laba di masa datang
lebih akurat dan kredibel. Widiastuti (2004) juga menjelaskan apabila
tingkat pengungkapan tinggi maka ketidakpastian akan prospek
perusahaan di masa depan juga akan berkurang.
Logikanya adalah Investor akan berasumsi bahwa laporan
keuangan perusahaan yang patuh dan memenuhi mandatory disclosure
IFRS
akan memiliki tingkat kredibilitas dan kualitas yang tinggi.
Artinya semakin tinggi tingkat pengungkapan mandatory disclosure
IFRS, maka semakin tinggi pula kualitas informasi laba yang
dihasilkan. Ketidakpastian akan prospek perusahaan di masa depan
juga akan berkurang karena investor secara akurat dapat menilainya
melalui informasi tersebut, sehingga respon pasar terhadap informasi
21
laba tersebut akan semakin tinggi pula. Respon laba yang tinggi akan
ditunjukkan nilai ERC yang tinggi pula. Pernyataan tersebut juga
diperkuat oleh penelitian Widiastuti (2004) yang menyatakan bahwa
ketidakpastian akan prospek perusahaan di masa datang akan
berkurang apabila investor dapat menilai secara akurat tentang prospek
laba perusahaan tersebut. Seperti halnya Osesoga and Jin-Yang (2015),
yang meneliti tentang pengaruh IFRS terhadap kualitas laba yang
diukur dengan ERC,
yang menggunakan
sampel perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEJ tahun 2009-2014. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa IFRS berpengaruh positif terhadap kualitas laba
dan mempunyai respon yang tinggi terhadap ERC. Penelitian serupa
juga dilakukan oleh Rahayu (2008) yang meneliti pengaruh tingkat
ketaatan pengungkapan wajib dan pengungkapan sukarela terhadap
kualitas laba yang diukur dengan ERC. sampel yang digunakan adalah
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2005. Hasil
penelitian Rahayu (2008) membuktikan bahwa tingkat pengungkapan
wajib berperngaruh positif terhadap ERC. Berdasarkan teori diatas
maka hipotesis penelitian ini adalah :
H1
:
Tingkat kepatuhan mandatory disclosure IFRS berpengaruh
positif terhadap Earnings Response Coefficient.
2. Struktur Modal dan Earnings Response Coefficient
Menurut Novianti (2012), struktur modal adalah penggunaan
aset dan sumber daya oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap
22
dengan maksud agar meningkatkan keuantungan potensial pemegang
saham. Struktur modal diukur dengan menggunakan
rasio antara
jumlah hutang dengan jumlah aktiva. Konsep atas struktur modal
sangalah penting terlebih untuk memperlihatkan kepada para analis
keuangan, mereka memiliki pandangan dari tipe yang bermacammacam untuk melihat trade off antara tingkat keuntungan dan resiko.
Struktur modal suatu perusahaan yang di proksikan dengan memakai
leverage berpengaruh negatif terhadap Earnings Response Coefficient
(Dira dan Ida, 2014). Pada dasarnya struktur modal yang di proksikan
dengan leverage menyebabkan investor menjadi kurang percaya pada
laba yang dipublikasikan oleh perusahaan, pada nantinya hal tersebut
menjadikan respon pasar akan menjadi relatif rendah yang dapat
mencerminkan laba tidak atau kurang berkualitas (Widayanti, dkk,
2014).
Logikanya adalah perusahaan yang memiliki rasio hutang yang
tinggi dapat memicu perusahaan dalam penyediaan informasi yang
lebih banyak guna memenuhi semua tuntutan yang diajukan oleh
debtholder jangka panjang jika dibandingkan perusahaan yang
memiliki rasio rendah. Perusahaan dengan kepemilikan tingkat hutang
tinggi, saat laba mengalami peningkatan hanya akan meningkatkan
rasa keamanan bagi bondholder serta menguatkan posisi bondholder
daripada stakeholder (Susanto, 2012). Ratio yang tinggi mencerminkan
resiko keuangan perusahaan
yang tinggi
pula. Hal tersebut
23
mengindikasikan
bahwa
perusahaan
sedang
dilanda
kesulitan
keuangan dikarenakan tingkat kewajiban tinggi sehingga akan
mempengaruhi kondisi suatu perusahaan di muka publik.
Jadi setiap laba mengalami peningkatan yang diuntungkan
adalah pemberi pinjaman karena semakin terjamin keamanannya.
Maka dari itu peningkatan laba yang terjadi kurang direspon oleh
investor tetapi akan banyak direspon oleh debtholder. Jadi walaupun
kondisi laba pada suatu perusahaan semakin baik maka investor akan
semakin memberikan respon yang negatif, sebab investor beranggapan
bahwa perusahaan akan lebih mengutamakan pembayaran hutang
daripada
pembayaran
dividen
(Scott,
2009).
Sehingga
dapat
diasumsikan bahwa laba yang dihasilkan perusahaan kurang direspon
oleh pasar yang akan terefleksi melalui penurunan volume penjualan
dan harga sahamnya. Jadi, semakin tinggi nilai dari debt ratio pada
suatu perusahaan maka investor akan semakin merespon negatif,
respon yang negatif ditujukan dengan nilai ERC yang rendah.
Pernyataan diatas diperkuat oleh penelitian Susanto (2012) struktur
modal terhadap ERC pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di
BEI tahun 2007-2009 dan menyatakan hasil yang negatif dan
menunjukkan respon yang semakin kecil pada ERC.
Penelitian serupa juga dilakukan oleh Nofianti (2014) yang
meneliti pengaruh struktur modal terhadap ERC pada perusahaan
manufaktur dan menyatakan hasil yang negatif dan menunjukkan
24
respon yang semakin kecil pada ERC. Berdasarkan teori diatas maka
pengajuan hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H2 : Struktur modal berpengaruh negatif terhadap Earnings Response
Coefficient.
C.
Model penelitian
Variabel Independent
Tingkat Kepatuhan Mandatory
Disclosure IFRS (X1)
Struktur Modal (X2)
(Y)
ERC
Variable kontrol
Ukuran Perusahaan
Kualitas Auditor
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Konseptual
Download