1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa musik
dan religi menjadi sesuatu yang menarik
untuk diteliti. Perkembangan religi di Indonesia khususnya
Sumatera
Utara
juga
memberikan
warna
yang
baru
bagi
masyarakatnya. Warna maksud penulis di sini tentang perubahan
konsep maupun perkembangan masyarakat secara besar-besaran
terhadap budaya dan sosial kultural. Religi selalu hadir dimana
ada sekelompok manusia yang menyadari keberadaannya dan
penciptanya. Dalam berbagai bentuk religi diekspresikan sebagai
sesuatu yang sakral dan suci. Dalam bentuk-bentuk ekspresi religi
banyak digunakan media-media salah satunya adalah musik.
Musik menjadi sesuatu yang penting dan berfungsi dalam proses
ritual religi.
Masyarakat yang difokuskan dalam penelitian ini adalah
Batak Toba yang berada di dataran tinggi Sumatera Utara
mengelilingi danau Toba dan secara khusus jemaat HKBP
Sudirman Jakarta. Menurut antropolog sosial Edward M. Bruner
yang membuat studi rinci masyarakat Batak Toba tradisional
maupun modern, adat adalah istilah yang digunakan oleh orangorang
untuk merujuk
prosedur
1
seremonial, hukum adat,
2
kekerabatan,
nilai-nilai
sistem
dan
norma-norma
perilaku
terhadap kerabat di Batak Toba. Adat adalah konseptualisasi
masyarakat Batak dalam bersosial dan dalam mengorganisasi
upacara. Dua komponen yang paling penting dari setiap upacara
adat adalah musik Batak yang disebut gondang /gendang dan
tarian tradisi/tortor, keduanya sangat terkait dengan adat Batak.1
Gondang sabangunan merupakan sebuah ansambel musik
yang terdiri dari taganing (lima gendang berkepala, kerucut, tuned
drum bernama tingting, paidua ni tingting, painonga, paidua odap
dan odap-odap, tergantung dari kayu balok dan dipukul dengan
sepasang tongkat kayu), dua drum, bass (gondang [drum bersisi
dan odap [drum bersisi dua]), empat gong ditangguhkan
satu
(Oloan, ihutan, Panggora dan Doal), sarune sebuah alat musik tiup
(doublereed) dan hesek (sebuah logam atau kaca idiophone yang
dimainkan dengan dipukul dengan tongkat kayu.2
Pada waktu misionaris Protestan Jerman dari Rheinische
Missions gesellschaft mulai menyebarkan Injil di daerah Batak,
Edward Bruner M, International Tourism: Identity and Change,
(University of Illinois, Urbana, 1995: 110-125)
1
2 Mauly Purba, “Result Of Contact Between The Toba Batak People,
missionaries, and Dutch Goverment Official: Music and Social Change”, Jurnal
Etnomusikologi, Vol 1 no.2, (Universitas Sumatera Utara, 2005: 118-148.)
3
misionaris yang sukses di bidang agama Kristen juga berupaya
untuk menghapuskan musik ritual tradisional dan upacara adat.
Usaha penghapusan gondang oleh misionaris tidak mampu
memisahkan gondang dari kehidupan masyarakat Batak. Hal ini
terjadi karena upacara adat yang ditujukan untuk pemujaan
leluhur
serta
upacara
keagamaan
lama
masih
memainkan
peranan penting dalam kehidupan orang Batak. Demikian juga
pada kewajiban yang kuat tanpa kompromi yang disebut adat.
Adat dikenakan kepada perilaku setiap anggota masyarakat Batak,
yang diperintah oleh hubungan yang dekat antara tiga kelompok
kekerabatan Batak (dalihan natolu).
Kekuatan fungsi sosial gondang menjadikannya tidak dapat
dipisahkan dari masyarakat Batak. Gondang memiliki makna yang
dalam bagi setiap penganut adat Batak, ini merupakan alasan
gondang bertahan walaupun cenderung mengalami pembaharuan.
Upaya yang telah dilakukan oleh para missionaris dan bahkan
oleh masyarakat Batak kristen ortodok dalam melarang atau
menghapuskan gondang dan keberadaannya dalam upacaraupacara, tidak menjadikan orang Batak bisa lepas dari gondang.
Awalnya misionaris Jerman Ludwig Ingwer Nommensen dan
Johannsen mencoba untuk menggabungkan gondang ke dalam
upacara
ritual
Kristen,
namun
mayoritas
misionaris
dan
pemerintahan kolonial pada waktu itu pelan pelan melarang dan
4
larangan tersebut berlangsung sampai pertengahan tahun 1920.
Gereja Huria Kristen Batak Protestan
sebagai gereja yang
dibentuk oleh para misionaris di tanah Batak juga melarang untuk
memainkan gondang, dan hal ini sudah menjadi rahasia bersama
dan berlaku dari waktu ke waktu.23
Orang Batak masih memiliki pengalaman sosial dalam
penyajian gondang dan memahami bahwa gondang memiliki
kedudukan yang terhormat secara sosial dalam budaya Batak.
Pengalaman penyajian gondang tersebut yang menjadi faktor lain
tradisi menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat Batak.
Pemaknaan gondang sebagai bunyi-bunyian yang bernilai tinggi
tersebut, menjadikan gondang mulai dipakai ke dalam perayaan
besar gereja. Pada masa sekarang, gondang mulai dimainkan di
depan gereja dalam acara jubileum (perayaan ulang tahun gereja)
dan dalam perayaan-perayaan lain. Penyajian gondang tersebut
belum digunakan sebagai musik liturgi dalam dalam ibadah setiap
minggu.
Masyarakat Batak menerima kedatangan agama Kristen dan
mengikuti ajarannya sampai pada masa sekarang.
Pembawa
agama kristen ke tanah Batak berasal dari Eropa, sehingga semua
Simon Artur, “Functional Changes in Batak Traditional Music and Its
Role in Modern Indonesian Society”, Jurnal Asian Music, Vol.15, No.2, (Texas
University, 1984: 58-66.)
3
5
upacara ritual dan
musik pengiring ibadah di Tanah Batak
menggunakan budaya Eropa. Alat musik yang digunakan biasanya
berupa organ, piano dan beberapa alat tiup lainnya. Sebagai bukti
yang tampak jelas sebagai pengaruh Eropa dalam gereja adalah
lagu-lagu dalam ibadah. Sebagian besar gereja yang ada di tanah
Batak
memiliki
perbedaannya
melodi
hanya
yang
terletak
sama
pada
dengan
lirik
diterjemahkan ke dalam bahasa Batak.
negara
lagu
yang
Eropa,
sudah
Budaya Eropa yang
melekat pada gereja membuat cara berpikir dan tingkah laku
masyarakat pendukungnya pun sangat erat dengan Eropa.
Mudji Sutrisno secara garis besar mengemukakan jika
rancangan budaya manusia ke depan ditopangkan pada nilai
“yang rohani”, yang suci, yang luhur, dan bukan pada yang materi
dari manusia, maka diinginkan pengembangan kesenian menuju
ke nilai yang religius. Cara yang digunakan agar nilai seni ini
berlaku, dibutuhkan rancangan budaya yang pas yang manusiawi,
artinya yang mampu mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan
yang paling hakiki (spiritual).4
Sejarah perkembangan kedatangan religi di masyarakat
Batak, salah satu komunitas paling besar adalah gereja Huria
Mudji Sutrisno, Estetika dan Religiositas, Teks-Teks Kunci Estetika:
Filsafat Seni, (Galang Press, Yogyakarta, 2005: 183-204)
4
6
Kristen Batak Protestan (HKBP). HKBP sangat banyak memberikan
kontribusi yang signifikan kepada masyarakat Batak, misalnya
pendidikan,
kesehatan
yang
digunakan
oleh
HKBP
dalam
pelayanannya. Orang Batak menilai bahwa kekristenan sebagai
suatu landasan pokok yang mendasari perkembangan peradaban
yang modern. HKBP juga merupakan institusi yang memiliki posisi
terbesar sebagai pembentuk indetitas Batak, dan pengaruhnya
menjadi penentu keberadaan identitas Batak secara umum. Unsur
apa saja yang ditampilkan dalam ritual HKBP akan mempengaruhi
konsep masyarakat Batak terhadap tradisi, khusunya musik
Batak (gondang ).
Penulis telah melakukan observasi terhadap beberapa ritual
peribadatan di beberapa gereja HKBP dan pada umumnya
menggunakan sarana yang identik dengan budaya Eropa. Salah
satu bukti budaya Eropa yaitu dalam
peringatan momen
keagamaan yang sering menggunakan simbol-simbol seperti pohon
natal, lilin, pohon pinus, yang merupakan visualisasi dari “pohon
terang” merupakan bentuk penonjolan simbol identitas Kristen,
namun di sisi lain juga merupakan asosiasi dengan unsur simbol
identitas Eropa. Representasi simbol identitas Batak dalam ritus
pribadatan adalah minus (untuk menyatakan kosong atau tidak
ada). Peribadatan di HKBP biasanya hanya menggunakan identitas
7
bahasa Batak, selain itu tidak ada lagi unsur esensial dari
identitas Batak.
Fenomena
masuknya
musik
tradisi
ke
dalam
acara
peribadatan baru-baru ini terjadi di HKBP Sudirman Jakarta
Selatan. Kajian penelitian ini memfokuskan pada penggunaan
musik Batak (gondang) sebagai musik liturgi ibadah di HKBP
Sudirman. Beberapa perayaan dan peribadatan di HKBP Sudirman
menggunakan musik gondang sebagai pengiring ibadah, demikian
juga ulos Batak (kain tenun yang khas Batak). Masuknya gondang
ke dalam ritus ibadah merupakan salah satu wujud revitalisasi
identitas Batak dalam kehidupan masyarakat Batak. Gondang di
HKBP Sudirman tidak hanya berhenti pada perayaan besar, tetapi
juga
berlangsung
terintegrasi
dalam
pelatihan
permaninan
gondang kepada anak muda HKBP Sudirman.
Hal ini yang menjadi latar belakang adanya ketertarikan
penulis untuk meneliti lebih lanjut bagaimana proses revitalisasi
gondang
berjalan. Penelitian ini akan difokuskan dengan judul
“Revitalisasi Gondang Dalam Ibadah HKBP Sudirman Jakarta”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah
penelitian ini adalah :
1. Mengapa
gondang
Sudirman Jakarta?
dimainkan
dalam
ibadah
HKBP
8
2. Bagaimana proses revitalisasi
yang terjadi di HKBP
Sudirman?
3. Bagaimana bentuk gondang yang disajikan dalam ibadah
HKBP Sudirman?
4. Bagaimana relasi antara musik, religi, dan identitas
dalam kasus HKBP Sudirman Jakarta?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas,
penelitian ini bertujuan :
1. Mengetahui bagaimana proses
dilakukan
pada
gereja
HKBP
revitalisasi gondang
Sudirman.
Proses
revitalisasi gondang di HKBP Sudirman menjadi bukti
bahwa revitalisasi gondang dalam peribadatan dapat
dilakukan walaupun masih dalam tahap proses.
2. Mengetahui bagaimanana cara masyarakat atau umat
HKBP Sudirman menciptakan revitalisasi gondang ke
dalam ibadah gereja, dengan demikian hal ini menjadi
formula yang dapat diimplementasikan oleh budayabudaya lain dimana ada upacara peribadatan.
3. Tujuan
akademis
dari
penelitian
ini adalah
untuk
mengidentifikasi lebih cermat relasi antara agama dan
kesenian (musik).
9
D. Tinjauan Pustaka
Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan
mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literaturliteratur,
catatan-catatan
dan
laporan-laporan
yang
ada
hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.5 Dalam meneliti
penulis banyak menggunakan literatur sebelumnya yang berkaitan
dengan gondang dan orang Batak.
Lothar Schreiner
telah melakukan penelitian terhadap
orang Batak judul Adat dan Injil.6 Schreiner membahas secara
ekstensif peranan sosial gondang sabangunan bagi orang Batak
serta membicarakan repertoarnya setelah kristen datang ke tanah
Batak. Dijelaskan juga bagaimana
tanggapan para misionaris
yang bertugas pada masa era kristenisasi di Tanah Batak terhadap
pertunjukan-pertunjukan gondang Batak ditinjau dari perspektif
agama Kristen.
Mauly Purba juga menuliskan penelitian yang berjudul
Result of contact between the Toba Batak People, German
Missionaries, and Dutch goverment official: musical and social
7
Mauly menjelaskan bagaimana dampak sosial kultural dan
dampak religi selama kurang lebih depalan puluh tahun antara
5
6
Nazir, Metode Penelitian, Penerbit Ghalia Indonesia (Jakarta,1988: 111)
Lothar Schreiner, Adat dan Injil, BPK Gunung Mulia (Jakarta, 2008: 46-48)
10
suku Batak Toba dengan misionaris Jerman dan kolonial Belanda
pada
tahun 1860-1940. Mauly
menjelaskan
bahwa
adanya
perubahan besar tentang pertunjukan gondang dan pelaksanaan
adat secara mendalam. Tulisan lain dari Mauly yaitu
From
Conflict to Reconciliation: The Case of the "Gondang Sabangunan"
in the Order of discipline of the Toba Batak Protestant.8 Pada
penelitian ini Mauly mengeksplorasi sejarah dan konsekuensi
kebijakan
gereja
Batak
protestan
selama
140
tahun
dan
bagaimana hubungannya dengan kosmologi adat Toba, gondang
dan sistem kepercayaan yang ada pada masyarakat Batak Toba.
Berdasarkan
beberapa
penelitian
tersebut,
dapat
menjelaskan sejarah keberadaan gondang dan persentuhannya
dengan kedatangan agama Kristen. Dengan demikian dapat
menjelaskan perubahan yang terjadi dalam gereja sebagai faktor
pertunjukan gondang yang terjadi di HKBP Sudirman Jakarta.
Sumandio Hadi dalam bukunya yang berjudul Seni Dalam
Ritual Agama,9 mengatakan bahwa agama yang berciri ritualistik
cenderung
mengadakan
berbagai
macam
upacara
dan
menghendaki kekayaan imaji dalam bentuk seni. Seni pada
8 Mauly Purba, ”From Conflict to Reconciliation: The Case of the "Gondang
Sabangunan" in the Order of discipline of the Toba Batak Protestant”, Journal of
Southeast Asian Studies, Vol. 36, No. 2, (Cambridge University Press, 2005: 207233)
9
Sumandiyo Hadi, Seni Dalam Ritual Agama, (Penerbit Pustaka, Yogyakarta,
2006: 288-290)
11
hakikatnya digunakan untuk mengungkapkan keindahan Tuhan.
Kajian yang sangat menarik dari buku ini adalah sejauh mana
pembentukan seni dalam ritual agama yang disesuaikan dengan
budaya lokal (inkulturasi) tidak menyimpang dengan kaidahkaidah agama. Kesimpulan penelitian Sumandiyo membuktikan
justru sebaliknya seni dalam ritual menggerakkan umat untuk
beribadah dan memperkuat kesadaran religiusitas penganutnya.
Buku berjudul Inkulturasi Gamelan Jawa, Studi Kasus di
Gereja Katolik Yogyakarta oleh Sukatmi Susantiana10 menuliskan
persentuhan antar budaya seringkali membuahkan hasil yang
menakjubkan. Diuraikan juga bahwa seni yang sarat etnisitas
seperti gamelan ternyata dapat berpadu dalam lingkup gereja
Katolik dan unsur tradisional dalam prosesi keagamaan bukannya
memberi
efek
destruktif
melainkan
memperkaya
nuansa
peribadatan.
E. Landasan Teori
Penelitian ini mengarah pada keterkaitan antara seni dan
religi. Sehubungan dengan itu, Mudji Sutrisno
mengemukakan
bahwa estetika itu menyatukan ungkapan rasa keindahan dengan
rasa religius. Kepekaan intuisi religius memiliki kesaman dengan
musik yang mampu menyentuh hati siapa saja, sehingga jika seni
10 Sukatmi Susantiana, Inkulturasi Gamelan Jawa: Studi Kasus di Gereja
Katolik, (Universitas Michigan, Philosophy Press, 2001: 82-90)
12
dihayati
ekspresinya
untuk
memuliakan
kehidupan,
maka
kedamaian akan terjadi.11
Mudji Sutrisno menjelaskan bahwa estetika tidak berhenti
pada seni dalam arti sempit, tetapi seluruh kemampuan manusia
dalam kebudayaan. Melihat estetika dalam hal religiositas adalah
upaya bagaimana
(meleluasakan,
melihat kapasitas estetika sebagai katarsis
melepaskan
seluruh
frustasi
manusia
yang
langsung estetis) juga berfungsi sebagai ekpresi perjuangan untuk
membahasakan
nilai-nilai
yang
diperjuangkan.
Gondang
merupakan ungkapan rasa keindahan masyarakat Batak dan
biasanya semua pendengar mengakui adanya sesuatu kekuatan di
dalam gondang yang dapat membuat orang senang, sedih, dan
merasa bersatu di dalam suasana kekeluargaan. Pertunjukan
gondang pada zaman dahulu selalu digunakan untuk ritual yang
bernilai tinggi dan sakral dalam masyarakat Batak. Keyakinan
orang Batak Toba pada waktu dulu, apabila gondang dimainkan
maka bunyinya akan kedengaran sampai ke langit dan semua
penari akan mengikuti gondang bahkan sebagian penari sampai
Mudji Sutrisno, Teks Teks Estetika: Filsafat Seni, (Galang
Yogyakarta, 2005: 178-188)
11
Press,
13
melompat-lompat seperti kesurupan di atas tanah (na tondol di
tano).12
Gondang
prosedur
dipandang sebagai musik sakral, oleh sebab itu
yang
Keseluruhan
mengatur
prosedur
penyajiannya
penyajain
harus
godang
diperhatikan.
biasanya
selalu
mengandung elemen adat. Prosedur dan peraturan tersebut tidak
saja
menjelaskan
bagaimana
gondang
dipersiapkan
dan
dipertunjukkan, tetapi juga menyiratkan bahwa tradisi gondang
merupakan alat penting untuk mengejawantahkan sesuatu yang
bernilai tinggi dalam kehidupan sosial orang Batak Toba.13
Religiositas merupakan kesadaran manusia bahwa nilai,
arah dan orientasi hidupnya ditentukan oleh hubungannya yang
damai dengan Yang Ilahi, Yang Suci. Tindakannya dalam hal ini
terutama ditampakkan dalam upacara (ritual), dengan kata lain
ritual merupakan religiousitas dalam tindakan. Penghadiran
kembali pengalaman religi dalam bentuk kultis adalah pokok bagi
kehidupan kelompok religi yang bersangkutan. Perwujudan dari
makna religius dan sarana untuk mengungkapkan sikap-sikap
religius biasanya menggunakan banyak simbol, simbol itu sendiri
12 http://www.silaban.net/2006/07/02/makna-atau-arti-yang-terdapat
pada-sistem-peralatan-gondang.
13 Mauly Purba, “Gereja dan Adat: Kasus Gondang Sabangunan dan
Tortor”, Jurnal Antropology Indonesia, (Universitas Indonesia Press, Jakarta,
2000: 25-29)
14
menjadi pokok ketegangan dan dilema yang terwujud dalam
religi.14
Religiositas masyarakat Batak sejak masuknya agama
Kristen tahun sejak tahun 1860 merupakan agama Kristen yang
dibawa oleh misionaris Eropa, tepatnya Rheinische Missions
Gesellschaft
(RMG).
Orang
Batak
yang
beragama
kemudian disebut gereja Batak Toba, yaitu gereja
kristen
terbesar di
Sumatera Utara atau Huria Kristen Batak Toba (HKBP). Ajaran
yang paling tinggi dari Kristiani adalah kelahiran, kematian dan
kebangkitan Kristus untuk penghapusan dosa dan penyelamatan
umat manusia. Hal ini yang disimbolkan dalam bentuk salip,
yakni hubungan manusia kepada Yang Maha Suci dan hubungan
kepada sesama umat manusia harus seimbang dan sejalan.15
Tindakan yang diwujudkan oleh masyarakat Batak dalam
hal ini adalah dengan mengadakan ibadah setiap hari Minggu
yang selalu menghadirkan nyanyian dan musik. Jemaat gereja
HKBP Sudirman
Jakarta
manusia dengan
Yang Ilahi dalam proses ibadah
menggunakan
musik
mengungkapkan hubungan
tradisional
peninggalan
antara
tersebut
leluhur
atau
14 Mariasusai Dhavamoniy, Fenomenologi Agama, (Kanisius, Yogyakarta,
1973: 174)
15 Aritonang, Sejarah Pendidikan Kristen di Tanah Batak ( BPK Gunung
Mulia, Jakarta, 1988: 78-80)
15
gondang. Gondang dipakai dalam liturgi peribadatan untuk
mengiringi nyanyian peribadatan.
Penelitian gondang dan religiositas dalam masyarakat Batak
akan menjelaskan proses penyatuan antara gondang sebagai
musik tradisional Batak dan peribadatan gereja HKBP Sudirman.
Dalam penyatuan tersebut memungkinkan masyarakat Batak
menghayati keimanannya kepada Yang Ilahi melalui karya seni
musik yang dekat dan melekat dengan sang diri. Dengan
penyatuan keindahan dan religiositas masyarakat Batak akan
menghasilkan pengalaman religi yang dalam bagi setiap orang di
HKBP Sudirman.
Dalam tulisan Bungaran Antonius Simanjuntak dikatakan
bagi orang Batak Toba, perubahan sosial budaya tersebut
tercermin dalam tahapan sejarah berdasarkan esensi dan fungsi
sosial kultural yang terjadi, yang dibagi dalam tahap (1) pra
Kristen yang terdiri dari pra Hindu dan pengaruh hindu; (2)
pengaruh agama kristen; (3) kemandirian Batak Toba sampai
dengan sekarang. Melalui proses tahapan perubahan tersebut,
masyarakat Batak Toba terbagi atas tiga kelompok pola pikir yang
berhadapan dengan budayanya sendiri terutama mengenai adat
tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang yaitu :
1. Kelompok yang masih melaksanakan secara utuh adat dan
kepercayaan nenek moyang, walaupun menjalani salah satu
16
dari lima agama yang ada di Indonesai, namun ibadah yang
dijalankan sesuai dengan kepercayaan nenek moyang.
2. Kelompok yang sudah beragama Kristen (bahkan fanatik)
yang menganggap semua adat tradisi nenek moyang yang
berhubungan
dengan
warisan
nenek
moyang
yang
berhubungan dengan roh para leluhur (hasipelebeguon)
harus dijauhi.
3. Kelompok
dengan
jalan
menyesuaikan
kondisi
yakni
mencoba mengambil (mengadopsi) hal-hal yang sesuai
dengan ajaran agama sehingga dapat mewujudkan sebagai
sarana dalam kehidupan masyarakat.16
Dalam proses perubahan ke arah modern orang Batak Toba
di kota tetap memegang teguh suatu ragam sistem nilai adat lama.
Gejala tersebut dapat dilihat dari tulisan Bruner yaitu banyaknya
orang Batak telah berpindah ke kota dengan mempertahankan
sistem kampungnya sama sekali secara utuh di kalangan
kelompoknya,
mereka
dikumpulkan
bersama-sama
melalui
perasaan solidaritas keluarga sebagai suatu minoritas etnis dan
kristen, mereka tidak mempunyai contoh-contoh perubahan
sebagai alternatif lain dan berpendapat bahwa adat berfaedah
Bungaran Antonius simanjuntak, Konsepku Membangun Bangso Batak:
Manusia, Agama dan Budaya, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2012: 66-70.
16
17
sebagai suatu dasar untuk mengatur susila dalam masyarakat.17
Adat juga memelihara hubungan-hubungan yang erat dengan
saudara-saudara di desa asal, sehingga komunitas Batak Toba di
perantauan dan di daerah asal menjaga jaringan komunitas dan
sistem sosial. Jaringan komunitas di perantauan memungkinkan
masyarakat Batak dapat mempertahankan adat serta paham
mengenai
identitas
pribadi
dan
identitas
kultural
sebagai
masyarakat urban yang merupakan identitas yang mereka miliki.
Menurut Bruno Nettl budaya urban yang pluralis dapat
mempengaruhi budaya, khususnya musik dan masing-masing
unsur-unsur musik dapat saling bercampur menjadi sintesis baru
ataupun
keduanya
masing-masing
hidup
berdampingan.
Berdasarkan pernyataan Nettl yang mengatakan dalam sejarah
musik dunia hal ini sudah berlangsung dua atau tiga abad
terakhir.
“if we view the history of world music in the last two or three
centuries, there seems to be two events of such magnitude that
they must be considered the dominant cause of change, and
musical technology througout the world, including the isolated
parts of the west as well as almost all non Europen culturers,
and the rise of a mass-industrial culture of the west”. 18
17 Edward Bruner, “Urbanization and Ethnic Identity in North Sumatra”,
Jurnal American Anthropologist, New Series, Vol. 63, No. 3, (Wiley Press, 1961:
508-521)
18 Bruno Nettl, The Study of Ethnomusicology, (University of Illinois Press,
1983/2005: 165-170)
18
Nettl
menjelaskan
bahwa
perubahan
konsep
dalam
penggunaan musik di seluruh dunia disebabkan menyebarnya
gaya-gaya musikal barat, gagasan musiknya dan teknologi musik
di seluruh dunia. Perubahan tersebut juga
didukung oleh
menyebarnya media yang diorientasikan pada gaya musik populer
yang
pada
akhirnya
mendominasi
pada
industri
budaya
masyarakat urban. Demikian juga masyarakat Batak yang sedang
mengalami perubahan konsep tentang gondang, tidak bisa lepas
dari pengaruh media dan teknologi perkotaan yang semakin
membuka pemahaman tentang orang Batak mengalami diaspora
yang mendorong untuk mencari dan menjaga jati diri sebagai
orang Batak. Adanya pencarian identitas dalam masyarakat Batak
di perantauan, menjadikan peletarian gondang sebagai musik yang
dapat mendekatkan masyarakat Batak
kepada fungsi semula
gondang, yaitu alat pengiring dalam pengalaman religius.
Dalam mengkaji gondang di HKBP Sudirman Jakarta,
penulis akan banyak menggunakan perspektif etomusikologi dari
Allan P Merriam yang menyatakan musik itu memiliki arti yang
luas dan dilihat sebagai gejala manusia dalam tiga tingkatan yaitu
konseptualisasi tentang musik, tingkah laku dalam hubungannya
dengan musik dan wujud musik itu sendiri. Tingkah laku yang
dimaksud berupa aspek-aspek fisik, sosial, verbal dan aspek
belajar.
Tingkah
laku
itu
sendiri
memiliki
konsep
yang
19
mendasarinya, sehingga tanpa konsep tentang musik
tingkah
laku tidak akan ada dan tanpa tingkah laku suara musik tidak
akan dapat dihasilkan.19
F. Metode Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini,
penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.
Penelitian
melaporkan
deskriptif
mengumpulkan
yang
menurut
ada
data,
menentukan
kenyataan.
Sifat
dan
kualitatif
penelitian akan mengarah pada mutu dan kedalaman uraian,
yakni pembahasan tentang revitalisasi gondang Batak di gereja
HKBP Sudirman.
Pendekatan kualitatif memusatkan perhatian pada prinsipprinsip umum yang mendekati perwujudan suatu gejala-gejala
yang ada dalam kehidupan manusia atas pola-pola.20 Suatu
penelitian dengan pendekatan kualitatif memungkinkan untuk
memahami masyarakat secara personal atau memandang mereka
secara umum, mereka sendiri mangungkapkan secara alami.
Teknik pengumpulan data atau bahan yang relevan, akurat dan
terandalkan ini bertujuan untuk menciptakan hasil penelitian
19 Allan P.Merriam, The Anthropology of Music, (Northwestern University
Press, USA, 1964: 32-33)
20 Robert Bogdan and Steven J.Taylor, Intriduction to Qualitative Research
Methods, (Wiley, New York, 1975: 4-5)
20
yang sesuai dengan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data
yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
1. Observasi
Observasi
adalah
cara
pengambilan
data
dengan
menggunakan berbagai indera tanpa pertolongan alat standar
untuk keperluan tersebut. Metode observasi atau pengamatan
meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek
dengan menggunakan seluruh alat indera.21 Penulis lebih banyak
mengamati objek penelitian secara langsung dalam ritual ibadah
di HKBP Sudirman Jakarta. Penulis juga banyak tinggal di antara
pionir-pionir budaya yaitu pelatih gondang di HKBP Sudirman,
kemudian memperhatikan pengalaman mereka dalam proses
revitalisasi gondang.
Spradley menjelaskan bahwa peran dalam observasi dapat
dibagi menjadi 1) tak berperan sama sekali, 2) berperan pasif, 3)
berperan aktif, dan berperan penuh, dalam arti peneliti benarbenar menjadi warga anggota kelompok yang sedang diamati.22
Jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
observasi non partisipan, artinya peneliti tidak langsung terlibat
pada situasi yang sedang diamati, dengan kata lain peneliti tidak
berinteraksi atau mempengaruhi objek yang diamati. Setelah
21 Suharsemi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi,
(Sinar Baru, Bandung, 1992:123)
22 James P. Spradley, Ethnography, Cultural Experience: Ethnography in
Complex Society, ( Waveland Press, USA, 2005: 3-12)
21
melakukan pengamatan, penulis mengambil beberapa data yang
diungkapkan secara langsung oleh setiap anggota yang tergolong
dalam komunitas HKBP Sudirman Jakarta.
2. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu
dimana di dalamnya dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara
(interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai
(interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan.23 Tehnik
wawancara yang dilakukan penulis adalah wawancara berfokus
(focused interview) dan wawancara bebas (free interview). Sebelum
melakukan wawancara penulis terlebih dahulu menentukan pada
siapa
wawancara
wawancara
yang
akan
hasilnya
dilakukan,
ditulis
kemudian
dalam
catatan
melakukan
lapangan.
Informan dalam wawancara ini yaitu pemimpin dari HKBP
Sudirman Jakarta tiga orang, pionir budaya yang memfasilitasi
revitalisasi gondang yaitu Martahan Sitanggang, anak muda HKBP
Sudirman dipilih sepuluh orang dan beberapa perwakilan jemaat
HKBP, dan yang terakhir adalah Profesor Mauly Purba sebagai
peneliti dan pemerhati gondang Batak di Sumatera Utara dalam
konteks peribadatan. Pada wawancara berfokus, pertanyaan
23
Lihat Spradley, 2005: 15-27.
22
berpusat
kepada
pokok
permasalahan,
sedangkan
pada
wawancara bebas pertanyaan tidak berpusat pada permasalahan
tetapi beralih pada permasalahan yang lain untuk memperoleh
data yang beraneka ragam.
3. Dokumentasi
Dokumentasi
adalah
teknik
pengumpulan
data
yang
berhubungan dengan dokumen baik dalam bentuk laporan, suratsurat resmi maupun catatan harian dan sebagainya. Penulis juga
menggunakan
lapangan
berbagai
diantaranya
macam
dokumentasi
buku-buku,
pada
foto-foto,
saat
di
arsip-arsip,
autobiografi. Hal ini bertujuan agar dokumen tersebut diharapkan
dapat memberikan uraian dan wujud tentang revitalisasi gondang
Batak di HKBP Sudirman Jakarta. Proses penelitian di HKBP
Sudirman juga akan dilakukan perekaman hasil wawancara
dengan pihak gereja HKBP Sudirman untuk dapat diolah secara
detail tanpa mengubah makna yang terkandung di dalamnya.
Dokumentasi digunakan untuk memperluas penelitian, karena
alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dokumentasi
ini diharapkan dapat membantu peneliti mempelajari dokumen
yang berhubungan dengan materi revitalisasi gondang Batak di
HKBP Sudirman Jakarta.
23
G. Sistem Penulisan
Dalam mengarahkan penelitian kepada topik permasalahan,
maka diperlukan suatu kerangka yang jelas dan terarah dan
saling berhubungan dalam pembentukan struktur pembuatan
laporan akhir penelitian. Sistematika penulisan dalam penelitian,
BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini berisikan tentang latar belakang, rumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori,
metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II LATAR BELAKANG SEJARAH SOSIAL HKBP SUDIRMAN
JAKARTA
Bab
ini berisikan tentang peta budaya, sosial, ekonomi dan
kesenian masyarakat Batak Toba Sumatera Utara sebagai latar
belakang sosial budaya HKBP Sudirman Jakarta,
falsafah
masyarakat Batak Toba, sistem kepercayaan, sistem kekerabatan,
kesenian, gondang, dan sejarah Huria Kristen Batak Protestan.
BAB III MASYARAKAT BATAK TOBA DI PERANTAUAN
Bab ini berisi tentang
bagaimana dilema identitas kultural orang
Batak Toba di perantauan, perubahan dan keberlanjutan gondang
dalam adat perkawinan di perantauan, HKBP dan tantangan
identitas, pesta Jubileum HKBP 2011: momen baru bagi gondang,
dan perayaan tahun remaja 2014.
24
BAB IV PROSES REVITALISASI DAN BENTUK GONDANG DALAM
PERIBADATAN
Bab ini membahas proses revitalisasi yang terjadi di HKBP
Sudirman meliputi: tahap sosialisasi, pelatihan gondang dan
festival taganing. Dilanjutkan dengan implementasi gondang dalam
musik liturgi, ibadah HKBP Sudirman dengan gondang, bentuk
gondang
dalam
ibadah
HKBP
Sudirman,
tanggapan
dan
pandangan jemaat, pengaruh gondang terhadap masyarakat HKBP
Sudirman: kontroversi gondang dalam ibadah, Kristen dan tradisi
revisited .
BAB V MUSIK, IDENTITAS, DAN RELIGI
Bab ini membahas tentang identitas, konteks diaspora, krisis
identitas, reformulasi identitas, negosiasi gondang di HKBP
Sudirman dengan pecinta budaya Batak,
gondang sebagai
identitas, reasi kuasa di HKBP Sudirman, gondang sebagai
ekspresi religious.
BAB VI KESIMPULAN
Bab ini berisi tentang kesimpulan hasil penelitian dan saran.
Download