9 BAB II KAJIAN TEORI A. Landasan Teori 1. Penyusunan Rencana

advertisement
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
a. Pengertian RPP
RPP merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk
satu pertemuan (satu hari) (Kemendikbud, 2014:214). RPP dikembangkan
dari silabus dengan memperhatikan buku peserta didik dan buku guru yang
sudah disiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Silabus digunakan sebagai acuan dalam pengembangan rencana
pelaksanaan pembelajaran. Menyusun atau mengembangkan RPP adalah
langkah perencanaan yang harus dilakukan oleh setiap guru.
RPP disusun secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran
berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis
peserta didik (Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014).
b. Prinsip Penyusunan RPP
Menurut
Kemendikbud,
(2014:214)
prinsip-prinsip
dalam
menyusun RPP mencakup hal-hal sebagai berikut (1) Setiap RPP harus
memuat secara utuh memuat kompetensi sikap spiritual (KD dari KI-1),
sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari KI-3), dan keterampilan (KD
9
10
dari KI-4). (2) Memperhatikan perbedaan individual peserta didik misalnya
kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi
belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus,
kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan
peserta didik. (3) Mendorong anak untuk berpartisipasi secara aktif. (4)
Menggunakan prinsip berpusat pada peserta didik untuk mendorong
semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi
dan kemandirian. (5) Mengembangkan budaya membaca, menulis dan
berhitung. (6) Memberi umpan balik dan tindak lanjut untuk keperluan
penguatan, pengayaan dan remedial. (7) Menekankan adanya keterkaitan
dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu
keutuhan pengalaman belajar. (8) Mengakomodasi pembelajaran tematikterpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan
keragaman budaya. (9) Menekankan penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi secara integratif, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi
dan kondisi.
Komponen RPP terdiri atas: (a) identitas satuan pendidikan, (b)
identitas mata pelajaran atau tema/subtema; (c) kelas/semester; (d) materi
pembelajaran; (e) alokasi waktu yang
keperluan
untuk
pencapaian
KD
dan
ditentukan sesuai dengan
beban
belajar
dengan
mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan
KD yang harus dicapai; (f) kompetensi dasar dan indikator pencapaian
kompetensi; (h) materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan
11
prosedur yang relevan; (i) metode pembelajaran, yang disesuaikan dengan
karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai; (j) media dan
sumber pembelajaran yang digunakan untuk melaksanakan pembelajaran;
(k) langkah-langkah pembelajaran yang
dilakukan melalui tahapan
pendahuluan, inti, dan penutup; dan (l) penilaian hasil pembelajaran
memuat soal, kunci jawaban, pedoman skoring/rubrik. Komponenkomponen RPP secara operasional diwujudkan dalam bentuk format
berikut ini.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah
Mata pelajaran
Kelas/Semester
Materi Pembelajaran
Alokasi Waktu
: SDN 4 Karangrejo
: IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)
: VI / II
: Tata Surya
: 6 x 35 (3 x pertemuan)
A. Kompetensi Inti (KI)
B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI-1
2. KD pada KI-2
3. KD pada KI-3
4. KD pada KI-3
C. Indikator Pencapaian Kompetensi*)
1. Indikator KD pada KI-1
2. Indikator KD pada KI-2
3. Indikator KD pada KI-3
4. Indikator KD pada KI-4
D. Deskripsi Materi Pembelajaran (dapat berupa rincian, uraian, atau
penjelasan materi pembelajaran)
E. Kegiatan Pembelajaran
1. Pertemuan Pertama: (. . . JP)
a. Kegiatan Pendahuluan
b. Kegiatan Inti**)
12
1) Mengamati
2) Menanya
3) Mengumpulkan informasi
4) Menalar
5) Mengomunikasikan
c. Kegiatan Penutup
2. Pertemuan Kedua: (. . . JP)
a. Kegiatan Pendahuluan
b. Kegiatan Inti**)
1) Mengamati
2) Menanya
3) Mengumpulkan informasi
4) Menalar
5) Mengomunikasikan
c. Kegiatan Penutup
3. Pertemuan seterusnya.
F. Penilaian
1. Teknik penilaian
2. Instrumen penilaian dan pedoman penskoran
a. Pertemuan Pertama
b. Pertemuan Kedua
c. Pertemuan seterusnya
G. Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar
1. Media/alat
2. Bahan
Sumber Belajar
Keterangan:
*) Pada setiap KD dikembangkan indikator atau penanda.
Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-1 dan KI-2 dirumuskan
dalam bentuk perilaku umum yang bermuatan nilai dan sikap yang
gejalanya dapat diamati. Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-3
dan KI-4 dirumuskan dalam bentuk perilaku spesifik yang dapat
diamati dan terukur.
13
**) Pada kegiatan inti, kelima pengalaman belajar tidak harus muncul
seluruhnya dalam satu pertemuan tetapi dapat dilanjutkan pada
pertemuan berikutnya, tergantung cakupan muatan pembelajaran.
c. Langkah-langkah Penyusunan RPP
Tahapan pengembangan RPP pembelajaran tematik:
1) Memilah dan memilih Kompetensi Dasar Mata pelajaran pada Silabus
yang dapat dipadukan dalam tema tertentu untuk satu hari.
2) Memilah dan memilih kegiatan-kegiatan di dalam silabus yang sesuai
dengan KD
3) Kegiatan dalam silabus yang disiapkan untuk 3 atau 4 minggu
(tergantung dengan tema/subtema) perlu dipilah menjadi kegiatan untuk
satu minggu, kemudian dipilah dan dipilih lagi untuk kegiatan satu hari.
4) Dalam memilah dan memilih kegiatan dari silabus, guru perlu
memperhatikan keterkaitan antara berbagai kegiatan dari beberapa mata
pelajaran yang akan diintegrasikan sehingga pembelajaran berlangsung
sesuai dengan alur.
5) Menentukan Indikator pencapaian kompetensi berdasarkan kegiatan di
silabus yang sudah dipilih.
6) Di dalam menyusun RPP, selain menggunakan silabus, guru bisa
menggunakan buku teks pelajaran dan buku guru serta hasil analisis KD
dengan tema yang telah dilakukan.
7) Di dalam menyusun RPP, guru harus memperhatikan alokasi waktu
untuk setiap kegiatan dan kedalaman kompetensi yang diharapkan.
8) Apabila kompetensi yang akan diberikan dalam suatu tema memerlukan
kemampuan prasyarat yang belum pernah diajarkan, guru perlu
mengajarkan kompetensi prasyarat terlebih dahulu (Kemendikbud,
2014:216).
2. Pelaksanaan Pembelajaran
Pembelajaran merupakan proses kegiatan belajar mengajar yang juga
berperan dalam menentukan keberhasilan belajar siswa. Dari proses
pembelajaran itu akan terjadi sebuah kegiatan timbal balik antara guru dengan
siswa untuk menuju tujuan yang lebih baik. Oleh karena itu, proses
pembelajaran musik yang tepat di ekstrakurikuler band sangat dibutuhkan
dalam kegiatan berkesenian untuk menghasilkan sebuah karya musik (lagu)
14
melalui aransemen yang pada akhirnya lagu tersebut terkesan baru dan siswa
mampu untuk membawakan musik dengan baik. Untuk melakukan sebuah
proses pembelajaran, terlebih dahulu harus dipahami pengertian dari kata
pembelajaran.
Motah (2007) menyatakan bahwa “Learning is defined as actions under
the guidance of the teacher aiming at bringing some relatively permanent
change in the way students think, feel act” (Belajar didefinisikan sebagai
tindakan di bawah bimbingan guru yang bertujuan membawa beberapa
perubahan yang relatif permanen dalam cara siswa berpikir, merasa bertindak).
Proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat kegiatan
interaksi antara guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung
dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar (Rustaman, 2001:461).
Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa merupakan dua komponen yang
tidak bisa dipisahkan. Antara dua komponen tersebut harus terjalin interaksi
yang saling menunjang agar hasil belajar siswa dapat tercapai secara optimal.
Menurut pendapat Bafadal (2005:11), pembelajaran dapat diartikan
sebagai “segala usaha atau proses belajar mengajar dalam rangka terciptanya
proses belajar mengajar yang efektif dan efisien”. Sejalan dengan itu, Jogiyanto
(2007:12) juga berpendapat bahwa pembelajaran dapat didefinisikan sebagai
suatu proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi suatu
situasi yang dihadapi dan karakteristik-karakteristik dari perubahan aktivitas
tersebut tidak dapat dijelaskan berdasarkan kecenderungan-kecenderungan
reaksi asli, kematangan atau perubahan-perubahan sementara.
15
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsurunsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapi tujuan pembelajaran (Hamalik, 2008:55). Oleh karena
itu, di dalam pembelajaran terdapat komponen-komponen, yaitu: tujuan,
materi/bahan ajar, metode dan media, evaluasi, anak didik, dan adanya
pendidik.
a. Guru
Kata Guru berasal dari bahasa Sansekerta “guru” yang juga berarti
guru, tetapi arti harfiahnya adalah “berat” yaitu seorang pengajar suatu
ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Guru
merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai
guru (Usman, 2008:5).
b. Siswa
Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 1 ayat 4, bahwa siswa/peserta didik adalah anggota
masyarakat
yang
berusaha
mengembangkan
diri
melalui
proses
pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan
tertentu.
c. Tujuan Pembelajaran
Hamalik (2008:76) menyatakan tujuan (goals) adalah rumusan yang
luas mengenai hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Komponen tujuan
sangat berkaitan erat dengan hasil yang diharapkan. Tujuan pendidikan
16
diklasifikasikan menjadi empat, yaitu (a) Tujuan Pendidikan Nasional, (b)
Tujuan
Institusional/Lembaga,
(c)
Tujuan
Kurikuler,
(d)
Tujuan
Instruksional atau Tujuan Pembelajaran.
d. Materi
Bahan ajar materi pembelajaran atau adalah segala hal yang
digunakan oleh para guru atau para siswa untuk memudahkan proses
pembelajaran. Bahan ajar bisa berupa kaset, video, CD-Room, kamus, buku
bacaan, buku kerja, atau fotokopi latihan soal. Bahan juga bisa berupa
koran, paket makanan, foto, perbincangan langsung dengan mendatangkan
penutur asli, instruksi-instruksi yang diberikan oleh guru, tugas tertulis atau
kartu atau juga diskusi antar siswa.
Materi pembelajaran (instructional materials) dalam konteks
Indonesia kini mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
dikembangkan berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan
(SK), dan Kompetensi Dasar (KD). Materi pembelajaran secara garis besar
terdiri
dari
pengetahuan
(fakta,
konsep,
prinsip,
dan
prosedur),
keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai
standar kompetensi yang telah ditentukan (Sudrajat, 2008:1).
e. Metode
Rahman, Khalil, et al. (2011:2) menyatakan bahwa “Teaching
methods are patterns of teacher behavior that occur either simultaneously
or in sequence in a verified way. Choosing specific teaching methods that
best achieves course objectives is one of the most important decisions a
teacher faces. Knowing what methods are available and what objectives
17
each method is best suited for, help teachers make thi sdecision more
easily. (Metode pembelajaran adalah pola perilaku guru yang terjadi baik
secara simultan maupun secara berurutan dengan cara diverifikasi. Memilih
metode pengajaran khusus yang terbaik mencapai tujuan kursus adalah
salah satu keputusan yang paling penting yang dihadapi seorang guru.
pengetahuan metode apa yang tersedia dan apa tujuan dari setiap metode
yang paling cocok untuk membantu guru membuat keputusan yang lebih
mudah).
Metode pembelajaran merupakan cara yang dapat dilakukan untuk
membantu proses belajar-mengajar agar berjalan dengan baik, metodemetode tersebut antara lain ceramah, Tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan
eksperimen. Sanjaya (2008:147) metode adalah cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata
agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.
f. Media
Adekola (2010: 1) menyatakan bahwa ”Instructional media are
important elements of teaching and learning activities”. (Media
pembelajaran adalah elemen penting dari kegiatan belajar mengajar). Media
pembelajaran adalah media yangdigunakan dalam pembelajaran, yaitu
meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari
sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan
penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru
menyajikan informasi belajar kepada siswa. Suwardi (2007:76) media
18
pembelajaran adalah sesuatu hal yang berfungsi sebagai perantara
penyampaian pesan atau informasi dalam proses pembelajaran.
g. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran bersifat komperhensif yang didalamnya
meliputi penilaian dan pengukuran. Evaluasi pada hakekatnya merupakan
suatu proses membuat keputusan tentang nilai suatu objek tidak hanya
didasarkan kepada hasil pengukuran, dapat juga didasarkan kepada hasil
pengamatan yang pada akhirnya menghasilkan keputusan nilai tentang
suatu objek yang dinilai.
Dineen (2012) menyatakan bahwa “Assessment is closely linked to
teaching and learning and it is important that assessment be fair, valid,
and reliable, promotes deep learning, transparent and moderated(Penilaian
berhubungan erat dengan mengajar dan belajar dan penting bahwa
penilaian adil, valid, dan dapat diandalkan, mempromosikan belajar yang
mendalam, transparan dan dikelola).
Jinfa Cai (209: 3) menyatakan bahwa “An evaluation is defined as
formative of the primary goal is to provide information for program
improvement” (Evaluasi didefinisikan sebagai formatif tujuan utama adalah
untuk memberikan informasi untuk perbaikan program).
Hamalik (2008: 159) Evaluasi hasil belajar adalah keseluruhan
kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan,
penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat
haisl belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar
dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
19
Penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki fungsi untuk
memantau kemajuan belajar, memantau hasil belajar, dan mendeteksi
kebutuhan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan
(Permendikbud 104, 2014:4). Berdasarkan fungsinya penilaian hasil belajar
oleh pendidik meliputi:
1) Formatif yaitu memperbaiki kekurangan hasil belajar peserta didik
dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan pada setiap kegiatan
penilaian selama proses pembelajaran dalam satu semester, sesuai
dengan prinsip Kurikulum 2013 agar peserta didik tahu, mampu dan
mau. Hasil dari kajian terhadap kekurangan peserta didik digunakan
untuk memberikan pembelajaran remedial dan perbaikan RPP serta
proses pembelajaran yang dikembangkan guru untuk pertemuan
berikutnya; dan
2) Sumatif yaitu menentukan keberhasilan belajar peserta didik pada akhir
suatu semester, satu tahun pembelajaran, atau masa pendidikan di
satuan pendidikan. Hasil dari penentuan keberhasilan ini digunakan
untuk menentukan nilai rapor, kenaikan kelas dan keberhasilan belajar
satuan pendidikan seorang peserta didik.
Kompetensi Dasar (KD) yang akan dinilai pada penelitian ini adalah KD
mata pelajaran IPA pada Kompetensi Inti Pengetahuan (KI3) dan
Keterampilan (KI4). Akan dilaksanakan secara tertulis dan lesan untuk
pengetahuan, unjuk kerja atau praktik untuk keterampilan.
20
3. Metode Pembelajaran
Hamdani (2011: 80) metode pembelajaran adalah cara yang digunakan
guru untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Selain itu, menurut
Nasution (dalam Asmani, 2010: 19) metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu
methodos. Metodhos berasal dari kata “meta” dan “bodos”. Meta berarti
melalui, sedangkan bodos berarti jalan. Sehingga metode dapat diartikan
sebagai jalan yang harus dilalui atau cara untuk melakukan sesuatu atau
prosedur.
Menurut Soetopo (2005: 152) metode mengajar adalah cara yang
digunakan
guru
dalam
menyampaikan
materi
pembelajaran
dan
mendinamiskan proses belajar mengajar. Sedangkan menurut Abimanyu (2008:
2-5) metode adalah cara/jalan untuk menyajikan atau melaksanakan kegiatan
untuk mencapai tujuan.
Kata pembelajaran berarti segala upaya yang dilakukan oleh pendidik
agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Metode diartikan sebagai jalan atau
cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu, jadi “metode adalah
prosedur pembelajaran yang difokuskan pada pencapaian tujuan” (Suyatno,
2009: 26). Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara melakukan
pembelajaran, atau cara yang dilakukan oleh guru (pendidik, pengajar) untuk
membelajarkan siswa sehingga mampu mencapai tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan atau kompetensi yang diinginkan.
Menurut Djamarah (2006:85) menyatakan bahwa pemilihan metode
merupakan hal yang sangat penting perlu diperhatikan karena metode adalah
21
salah satu alat untuk mencapai tujuan. Dengan memanfaatkan metode secara
akurat, guru akan mampu mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Sagala (2006:68) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan
aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran, hal tersebut dibuat karena
adanya kebutuhan untuk menyakinkan 1) adanya alasan untuk belajar, 2) siswa
belum mengetahui apa yang akan diajarkan, oleh karena itu guru menetapkan
hasil-hasil belajar dan tujuan yang akan dicapai.
Dalam pembelajaran guru yang utama adalah mengkondisikan
lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik,
dan umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup 3 hal yaitu pre tes, proses
dan post tes (Mulyana, 2005:100).
Pemilihan dan penentuan metode dalam pembelajaran harus memiliki:
a. Nilai strategi dan metode
Didalam proses pembelajaran sering terjadi interaksi edukatif antara
anak didik dan guru. Pengalaman membuktikan bahwa kegagalan
pembelajaran salah satunya disebabkan oleh pemilikan metode yang kurang
tepat. Oleh karena itu metode adalah salah satu cara yang memilliki nilai
strategis dalam kegiatan belajar mengajar. Nilai strategis dari metode
adalah dapat mempengaruhi jalannya pembelajaran.
b. Efektivitas penggunaan metode
Penggunaan metode yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran
akan menjadikan kendala dalam mencapai tujuan yang dirumuskan, karena
itu, efektivitas penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian metode
dengan semua komponen pembelajaran yang telah diprogramkan.
22
c. Pentingnya pemilihan dan penentuan metode
Titik sentral yang harus dicapai oleh setiap pembelajaran adalah
tercapainya tujuan pembelajaran. Apapun yang termasuk perangkat
program pembelajaran dituntut secara mutlak untuk menunjang tercapainya
tujaun guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan
lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didk dikelas
Keberhasilan pembelajaran IPA diukur dari keberhasilan siswa yang
mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut dan dipengaruhi beberapa faktor
antara lain: faktor guru, faktor materi pelajaran, faktor lingkungan, faktor
metode pengajaran, dan faktor lainnya termasuk siswa itu sendiri. Keberhasilan
tersebut dapat diamati dari beberapa sisi banyaknya soal yang mampu
dikerjakan dengan betul, maka tingginya pemahaman dan penguasaan siswa
dalam suatu pelajaran dan makin banyak soal yang mampu dikerjakan dengan
benar diharapkan makin tinggi tingkat keberhasilan pembelajaran tersebut.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran
adalah suatu cara yang digunakan oleh guru dalam proses pelajaran IPA, maka
dengan metode pembelajaran yang sesuai siswa akan bersemangat dan suasana
kelas akan lebih hidup, sehingga prestasi yang akan dicapai memuaskan.
4. Model Pembelajaran Mind Mapping
Suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif apabila berhasil mencapai
tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang tinggi. Hal ini dapat dikaitkan
dengan simpulan seorang peneliti yang menyatakan “Indikator dari suatu
pembelajaran yang efektif adalah penguasaan siswa terhadap materi pelajaran
yang biasanya ditunjukkan dengan kemampuan menjawab soal, memecahkan
23
permasalahan
yang
relevan
dengan
pembelajaran,
dan
kemampuan
penyelesaian tugas-tugas dengan baik dan tepat waktu” (Kurniawan, 2011: 72).
Penguasaan siswa terhadap materi maupun konsep pembelajaran dapat
dipengaruhi oleh metode mengajar guru. Guru yang baik biasanya kreatif
dalam menemukan cara dan selalu berusaha agar anak didiknya terlibat secara
tepat dan optimal dalam proses pembelajaran. Salah satu metode yang
berupaya untuk melibatkan siswa secara tepat dan mengoptimalkan proses
pembelajaran adalah metode mind mapping (peta konsep).
Ozgul Keles (2012: 94) menyatakan bahwa “Elementary level science
and technology program was developed based on constructivist approach. For
students to achieve the objectives set by the program, student-centered
teaching methods and techniques should be employed.
Because of this
teachers utilize various instructional strategies to be effective in assisting
students‟ learning. One of the visual techniques that are used with the stated
objectives is mind mapping”. (Ilmu pengetahuan dan teknologi di tingkat SD
dikembangkan berdasarkan pendekatan konstruktivis. Agar siswa mencapai
tujuan yang ditetapkan, metode dan teknik pengajaran yang berpusat pada
siswa harus digunakan. Oleh karena itu, guru dapat menggunakan berbagai
strategi pembelajaran untuk membantu siswa dalam meningkatkan hasil
belajarnya. Salah teknik visual yang digunakan dengan tujuan yang dinyatakan
yang disebut dengan pemetaan pikiran).
Pada penggunaan metode mind mapping (peta konsep) siswa dilatih
untuk membuat kaitan dari suatu konsep yang sudah dimiliki dengan konsepkonsep yang baru dengan menggunakan gambar dan warna sehingga
24
memudahkan untuk mengingat. Hal tersebut sesuai dengan simpulan Nesbit &
Adesope (2006) “Mind maps help students learn information by forcing them
to organize it and add images and color to. These maps have been shown to
lower extrinsic cognitive load because students are creating a two-dimensional
space to tie in ideas and concepts that relate together” yang artinya “Peta
pikiran membantu siswa belajar informasi dengan mendorong mereka untuk
mengatur dan
menambahkan gambar
dan warna
pada pembuatan peta
tersebut. Peta-peta ini banyak digunakan untuk mengurangi beban kognitif
ekstrinsik karena siswa menciptakan ruang dua dimensi untuk mengikat ide
dan konsep yang berhubungan bersama-sama” (Jones, Ruff, Snyder, Petrich,
Koonce, 2012: 2).
Mind mapping adalah suatu peta pikiran dengan menggunakan cara
termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil
informasi ke luar dari otak, mind mapping adalah cara mencatat yang kreatif,
efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran kita. Mind mapping
adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan
mengambil informasi ke luar dari otak, yang merupakan cara mencatat yang
kreatif dan efektif.
Penggunaan mind mapping dengan cara menuliskan tema utama sebagai
titik sentral atau tengah dan memikirkan cabang-cabang atau tema-tema
turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara
tema
turunan.
Adanya
keterkaitan
antara
cabang-cabang
pemikiran
memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk
informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal.
25
Michael Gelb dalam Buzan (2007:179-181) menyatakan Mind Mapping
dapat diartikan sistem revolusioner dalam perencanaan dan pembuatan catatan
yang telah mengubah hidup jutaan orang di seluruh dunia. Pembuatan Mind
Mapping didasarkan pada cara kerja alamiah otak dan mampu menyalakan
percikan-percikan kreatifitas dalam otak karena melibatkan kedua belahan otak
kita.
Menurut Porter & Hernacki (2008:152-159) menyatakan bahwa Mind
Mapping juga dapat disebut dengan peta pemikiran. Mind Mapping juga
merupakan metode mencatat secara menyeluruh dalam satu halaman. Mind
Mapping menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik dalam suatu
pola dari ide-ide yang berkaitan. Peta pikiran atau Mind Mapping pada
dasarnya menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk
membentuk kesan pada otak.
Jones, et. al. (2012) menyatakan bahwa “Mind mapping activities
require students to actively engage in their learning, often by connecting their
prior knowledge to new information. When creating a mind map, a student
frequently interacts with a textbook, notes from class, an instructor, classmate,
or study group. (Kegiatan pemetaan pikiran mengharuskan siswa untuk secara
aktif terlibat dalam pembelajaran mereka, sering dengan menghubungkan
pengetahuan mereka sebelum informasi baru. Ketika membuat peta pikiran,
siswa sering berinteraksi dengan buku teks, catatan dari kelas, instruktur, teman
sekelas, atau kelompok studi).
Mind Mapping bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara
visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan
26
mengingat kembali informasi yang telah dipelajari. Mind Mapping adalah satu
teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual. Mind Mapping
memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam
diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan
memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk
informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna,
simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi
yang diterima.
Mind Mapping yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi pada setiap
materi. Hal ini disebabkan karena berbedanya emosi dan perasaan yang
terdapat dalam diri siswa setiapsaat. Suasana menyenangkan yang diperoleh
siswa ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar akan mempengaruhi
penciptaan peta pikiran. Dengan demikian, guru diharapkan dapat menciptakan
suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses
pembuatan Mind Mapping. Proses belajar yang dialami seseorang sangat
bergantung kepada lingkungan tempat belajar. Jika lingkungan belajar dapat
memberikan sugesti positif, maka akan baik dampaknya bagi prosesdan hasil
belajar, sebaliknya jika lingkungan tersebut memberikan sugesti negatif maka
akan buruk dampaknya bagi proses dan hasil belajar.
Menurut Warseno dan Kumorojati (2011: 81) mind map (peta konsep)
bisa dikatakan sesuai dengan kerja alami otak karena pembuatannya
menggunakan prinsip-prinsip manajemen otak (brain management), yang
meliputi:
27
a. Menggunakan Kedua Belahan Otak
Pencatatan dengan metode mind map (peta konsep) tidak hanya
menggunakan belahan otak kiri, tetapi juga otak kanan. Hal ini terbukti dari
adanya penambahan simbol-simbol atau gambar yang disukai. Selain
simbol atau gambar, ada juga penggunaan warna-warna pada bagian cabang
mind map (peta konsep) yang berguna untuk menjelaskan adanya makna
tertentu.
b. Mempelajari Bagaimana Belajar yang Baik
Metode mind mapping (peta konsep) dalam kegiatan pembelajaran
memberikan cara belajar yang baik dengan membuat kaitan dari berbagai
macam konsep yang akan dipelajari dengan pengetahuan yang sudah
dimiliki, sehingga konsep yang akan dipelajari lebih mudah dipahami.
c. Menggunakan Otak Secara Alami
Perlu diketahui bahwa bahasa alami otak adalah gambar. Sebuah
gambar bisa mempunyai seribu arti dan dapat mendorong seseorang untuk
berimajinasi serta memunculkan ide maupun gagasan. Dalam hal ini proses
pencatatan dengan metode mind map (peta konsep) banyak menggunakan
gambar, warna, simbol, dan bentuk visualisasi lainnya, yang kesemuanya
merupakan bahasa alami otak. Dengan demikian, penggunaan metode mind
map (peta konsep) akan memudahkan otak dalam memahami informasi dan
mengingatnya lebih lama.
Dalam membuat Mind Mapping juga diperlukan keberanian dan
kreativitas yang tinggi. Variasi dengan huruf capital, warna, garis bawah atau
28
simbol-simbol yang menggambarkan poin atau gagasan utama. Menghidupkan
Mind Mapping yang telah dibuat akan lebih mengesankan.
Menurut Tony Buzan (2009:6), indikator Mind Mapping sebagai
berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
Merencanakan,
Berkomunikasi,
Menjadi lebih kreatif,
Menyelesaikan masalah,
Memusatkan perhatian,
Menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran,
Mengingat dengan lebih baik
Belajar lebih cepat dan efisien,
Melatih “gambar keseluruhan”.
Untuk membuat peta pikiran, diperlukan beberapa hal, yaitu kertas
kosong tak bergaris, pena atau spidol berwarna, otak dan imajinasi. Tony
Buzan (2009: 17) mengungkapkan bahwa ada tujuh langkah yang perlu
dilakukan dalam membuat Peta pikiran:
a. Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya di
letakkan mendatar,
b. Gunakan gambar atau foto untuk ide sentral, karena gambar
melambangkan seribu makan dan dapat mengaktifkan daya
kreatifitas otak,
c. Gunakan warna, karena bagi otak warna sama menariknya dengan
gambar sehingga peta pikiran lebih hidup,
d. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan hubungkan
cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua.
e. Buatlah garis hubung yang melengkung,
f. Gunakan satu kata kunci untuk setiap cabang atau garis,
g. Gunakan gambar, karena setiap gambar bermakna seribu kata.
5. Keaktifan Belajar
Keaktifan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keaktifan belajar
siswa di kelas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 24 – 25), aktif
adalah giat (bekerja, berusaha), sedangkan keaktifan adalah suatu keadaan atau
29
hal dimana siswa aktif. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku kearah
yang lebih baik dan relatif tetap, serta ditunjukkan dalam berbagai bentuk
seperti berubahnya pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, ketrampilan,
kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu
yang belajar.
Menurut Sriyono (2003:75),”Keaktifan adalah pada waktu guru
mengajar ia harus mengusahakan agar murid-muridnya aktif jasmani maupun
rohani. ”
Jadi keaktifan belajar siswa adalah suatu keadaan dimana siswa aktif
dalam belajar. Keaktifan belajar siswa dapat dilihat dari keterlibatan siswa
dalam proses belajar mengajar yang beraneka ragam seperti saat mendengarkan
penjelasan guru, diskusi, membuat laporan pelaksanaan tugas dan sebagainya.
Menurut Sagala (2006:124-134), keaktifan jasmani maupun rohani itu
meliputi antara lain:
a. Keaktifan indera: pendengaran, penglihatan, peraba dan lain-lain.
Murid harus dirangsang agar dapat menggunakan alat inderanya
sebaik mungkin.
b. Keaktifan akal: akal anak-anak harus aktif atau diaktifkan untuk
memecahkan masalah, menimbang-nimbang, menyusun pendapat
dan mengambil keputusan.
c. Keaktifan ingatan: pada waktu mengajar, anak harus aktif menerima
bahan pengajaran yang disampaikan guru dan menyimpannya dalam
otak, kemudian pada suatu saat ia siap mengutarakan kembali.
d. Keaktifan emosi: dalam hal ini murid hendaklah senantiasa
berusaha mencintai pelajarannya.
Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran IPA sangat penting,
karena dalam IPA banyak kegiatan pemecahan masalah yang menuntut
kreativitas siswa aktif. Siswa sebagai subjek didik adalah yang merencanakan
dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. Untuk menarik keterlibatan siswa
30
dalam pembelajaran guru harus membangun hubungan baik yaitu dengan
menjalinan rasa simpati dan saling pengertian. Membina hubungan baik bisa
mempermudahkan pengelolaan kelas dan memperpanjang waktu.
Keaktifan siswa dalam belajar dapat dilihat dari:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
Perhatian siswa terhadap penjelasan guru
Kerjasamanya dalam kelompok
Kemampuan siswa mengemukakan pendapat dalam kelompok ahli
Kemampuan siswa mengemukakan pendapat dalam kelompok asal
Memberi kesempatan berpendapat kepada teman dalam kelompok
Mendengarkan dengan baik ketika teman berpendapat
Memberi gagasan yang cemerlang
Membuat perencanaan dan pembagian kerja yang matang
Keputusan berdasarkan pertimbangan anggota yang lain
Memanfaatkan potensi anggota kelompok
Saling membantu dan menyelesaikan masalah (Aries, 2009: 4).
Keaktifan belajar siswa dapat dilihat dari keterlibatan siswa dalam
proses belajar mengajar yang beraneka ragam. Paul B. Diedrich dalam Oemar
Hamalik (2005: 172) membagi kegiatan belajar siswa dalam 8 kelompok, yaitu:
a. Visual activeties (kegiatan-kegiatan visual) seperti membaca,
mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati
orang lain bekerja atau bermain.
b. Oral Activities (kegiatan-kegiatan lisan) seperti mengemukakan
suatu fakta, menghubungkan sutu kejadian, mengajukan pertanyaan,
memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan
interupsi.
c. Listening Activities (kegiatan-kegiatan mendengarkan) seperti
mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato, dan
sebagainya.
d. Writing activities (kegiatan-kegiatan menulis) seperti menulis cerita
karangan, laporan, tes, angket, menyalin, dan sebagainya.
e. Drawing activities (kegiatan-kegiatan menggambar) seperti
menggambar, membuat grafik, peta, diagaram, pola, dan
sebagainya.
f. Motor activities (kegiatan-kegiatan motorik) seperti melakukan
percobaan, membuat konstruksi, model bermain, berkebun,
memelihara binatang, dan sebagainya.
g. Mental activities (kegiatan-kegiatan mental) seperti merenungkan,
mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan,
mengambil keputusan, dan sebagainya.
31
h. Emotional activities (kegiatan-kegiatan emosional) seperti menaruh
minat, merasa bosan, gembira, berani, tenang, gugup, dan
sebagainya.
Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan
mengembangkan bakat yang dimilikinya, siswa juga dapat berlatih untuk
berpikir kritis. Menurut Gagne dan Brings (dalam Martinis 2007: 84) faktorfaktor yang dapat menumbuhkan timbulnya keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran yaitu:
a. Memberikan motivasi atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka
berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
b. Menjelaskan tujuan instruksional (kemampuan dasar kepada siswa).
c. Memberikan stimulus (masalah, topik, dan konsep yang akan
dipelajari).
d. Memberi petunjuk siswa cara mempelajarinya
e. Memunculkan aktifitas, partisifasi siswa dalam kegiatan
pembelajaran.
f. Memberi umpan balik (feed back).
g. Melakukan tagihan-tagihan terhadap siswa berupa tes, sehingga
kemampuan siswa selalu terpantau dan terukur.
h. Menyimpulkan setiap materi yang akan disampaikan diakhir
pembelajaran.
6. Prestasi Belajar
Setiap kegiatan belajar diharapkan ada perubahan pada diri pembelajar.
Perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari
belum terampil menjadi terampil. Perubahan ini merupakan bentuk hasil
belajar yang diperoleh melalui pengalaman belajar siswa. Perubahan sebagai
hasil belajar dapat bertahan relatif lama. Hasil belajar dapat diukur dengan
menggunakan tes prestasi belajar yang dapat mengukur tingkat hasil belajar.
Prestasi belajar adalah puncak hasil belajar yang dapat mencerminkan
hasil keberhasilan belajar siswa terhadap tujuan belajar yang sudah ditetapkan
32
(Olivia, 2011:73). Prestasi belajar dapat meliputi kognitif (pengetahuan),
afektif (sikap), keterampilan (Psikomotorik). Salah satu tes yang dapat
digunakan untuk melihat prestasi belajar siswa adalah tes prestasi belajar.
Hal senada disampaikan oleh Akbar (2006:168) menyatakan bahwa
prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidik terhadap proses belajar dan
hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan instruksional yang menyangkut isi
pelajaran dan perilaku yang diharapkan dari siswa. Prestasi belajar merupakan
hasil pengukuran yang dilakukan guru untuk mengetahui ketercapaian tujuan
pembelajaran oleh siswa.
Ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu
kemampuan intelektual dan kepribadian siswa (Anita Lie, 2008:68).
Kemampuan intelektual meliputi kemampuan memahami hubungan yang lebih
kompleks, semua proses berfikir abstrak, menyesuaikan diri dalam pemecahan
masalah dan kemampuan memperoleh kemampuan baru. Kepribadian siswa
tercermin pada sikap siswa atau bagian dari diri manusia yang hakiki dan
sangat unik karena memiliki kecenderungan untuk merespon sesuatu.
Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa guru melaksanakan tes
prestasi belajar siswa. Tes prestasi belajar dapat mengukur kemampuan
kognitif, afektif, maupun intelektual siswa. Namun dalam hal ini hanya dibatasi
dalam kawasan kognitif dengan penekanan pada bentuk tes tertulis. Menurut
Azwar (2013:9) tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terencana
untuk mengungkap performansi subjek dalam menguasai bahan-bahan atau
materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan formal di kelas, tes prestasi belajar
33
dapat berbentuk ulangan-ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan
ebtanas, dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi.
Masih menurut Azwar (2013) fungsi tes prestasi belajar bermaacammacam. Sebagai contoh tes formatif berfungsi untuk melihat sejauhmana
kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program
pembelajara. Dalam hal ini hasil ts prestasi merupakan umpan balik (feedback)
kemajuan belajar dan karena itu biasanya tes diselenggarakan di tengah jangka
suatu program yang sedang berjalan. Tes sumatif berfungsi untuk memperoleh
informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah direncanakan sebelumnya
dalam suatu program pelajaran. Tes sumatif merupakan pengukuran akhir suatu
program dan hasilnya digunakan untuk menentukan kelulusan siswa dalam
program tersebut.
Prinsip-prinsip pengukuran prestasi belajar menurut Azwar (2013:1822) antara lain:
a. Tes prestasi harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi secara
jelas sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Tes prestasi harus mengukur suatu sampel yang representasit dari
hasil belajar dan dari materi yang dicakup oleh program
pembelajaran.
c. Tes prestasi belajar harus berisi item-item dengan tipe yang paling
cocok guna mengukur hasil belajar yang diinginkan.
d. Tes prestasi harus dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan
tujuan penggunaan hasilnya.
e. Reliabilitas tes prestasi harus diusahakan setinggi mungkin dan hasil
ukurnya harus ditafsirkan dengan hati-hati.
f. Tes prestasi harus dapat digunakan untuk meningkatkan belajar para
anak didik.
Dengan demikian untuk mengukur kemampuan prestasi belajar siswa
dalam hal ini pada aspek kognitif dapat menggunakan tes prestasi belajar. Tes
34
prestasi belajar yang dilaksanakan adalah tes formatif untuk mengukur
ketercapaian kompetensi dasar pada siswa.
B. Penelitian Yang Relevan
Gunadi (2011) dalalm penelitiannya yang berjudul “Penerapan Metode
Mind Mapping Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Aksara Jawa Siswa
Kelas XA SMA Negeri 4 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012. Hasil penelitian
menunjukkan
bahwa
hasil
pembelajaran
menulis
aksara
jawa
dengan
menggunakan metode mind mapping terbukti dapat meningkatkan kualitas proses
pembelajaran dan meningkatkan kemampuan siswa menulis dengan aksara Jawa.
Peningkatan kualitas proses pembelajaran dapat dilihat dari keaktifan 59,3%
menjadi 90%; konsentrasi semula hanya 62,5% menjadi 100%; motivasi 56,2%
menjadi 93%. Sedangkan untuk peningkatan kemampuan siswa menulis dengan
aksara Jawa tercermin dari perolehan nilai rata-rata siklus pertama 68,2; siklus
kedua 77,2; siklus ketiga 80. Peningkatan dari siklus 1 dengan siklus 2 adalah 9,
sklus 2 dengan siklus 3 adalah 1,8. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan mulai
dari sklus 1 sampai siklus sebesar 10,8.
Chintami
Lupitasari
(2012)
dalam
penelitiannya
yang
berjudul
“Peningkatan Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (Ipa) Melalui Metode Mind
Map Dalam Pembelajaran Remedial Bagi Anak Tunarungu Kelas IV di SD N
Gejayan Yogyakarta”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
prestasi belajar IPA dari sebelum dilakukan tindakan dan setelah dilakukan
tindakan. Hal itu ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata siswa dari siklus I
dan siklus II.
35
Budi Arifin (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan metode
mind map dalam pembelajaran IPA tentang Sumber Daya Alam untuk
meningkatkan motivasi beljar peserta didik kelas IV di MI Wahid Hasyim Sleman
Tahun
Pelajaran
2012/2013”.
Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa
(1) Pembelajaran dengan menggunakan metode mind map dilaksanakan dengan
pembelajaran yang menyenangkan dan difokuskan terhadap kreativitas peserta
didik. Peserta didik dibiarkan menuangkan idea yang ada dalam pikiran mereka ke
dalam gambar-gambar menarik dan mudah diingat. (2) Berdasarkan observasi
motivasi pembelajaran IPA dengan penerapan metode mind map dapat
meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas IV. Pada siklus I persentase
motivasi sebesar 54% dengan kategori sedang, pencapaian rata-rata 53 dan SD 8.
Siklus II rata-rata persentase motivasi sebesar 100% dengan kategori tinggi,
pencapaian rata-rata 64 dan SD 5.
Tony Buzan dalam bukunya “Buku Pintar Mind Mapp”, Mind Mapping
adalah suatu cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan
memetakan pikiran-pikiran (Tony Buzan: 2009; 4).
Bobby De Porter, Mind Mapping (Peta Pikiran) adalah pemanfaatan
keseluruhan otak dengan menggunakan Citra Visual dan grafis lainya untuk
membentuk kesan antara otak kiri dan otak kanan yang ikut terlibat sehingga
mempermudah memasukkan informasi ke dalam otak. Dari pemaparan diatas dapat
kesimpulan bahwa metode Mind Mapping adalah suatu teknik mencatat yang dapat
memetakan pikiran yang kreatif dan efektif serta memadukan dan mengembangkan
potensi kerja otak baik belahan otak kanan atau belahan otak kiri yang terdapat
didalam diri seseorang (Bobby De Porter, Mike Hernacki: 2003; 153).
36
Mind mapping (peta pikiran) adalah suatu cara untuk menempatkan
informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar otak, yang merupakan
cara mencatat yang kreatif dan efektif (Suyatno, 2009:99). Selain itu, mind
mapping adalah suatu cara memetakan sebuah informasi yang digambarkan ke
dalam bentuk cabang-cabang pikiran dengan berbagai imajinasi kreatif
(Sulistiyaningsih, 2010). Menurut Indriyani (2010) mind mapping merupakan
suatu strategi pembelajaran yang mengembangkan kemampuan otak kiri dan otak
kanan dengan menggambarkan hal-hal yang bersifat umum kemudian baru ke halhal yang bersifat khusus dalam sebuah peta.
Mind Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang
terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak
maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk
informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna,
simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang
diterima.
Menurut Suyatno (2009:99) menjelaskan bahwa manfaat peta pikiran (mind
mapping), yaitu a) memberikan pandangan menyeluruh pokok masalah atau area
yang luas, b) memungkin kita merencanakan rute atau membuat pilihan-pilihan
dan mengetahui
ke mana kita akan pergi
dan dimana kita berada,
c) mengumpulkan sejumlah besar data di suatu tempat, d) mendorong pemecahan
masalah dengan membiarkan kita melihat jalan-jalan terobosan kreatif baru, dan
f) merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk dipandang, dibaca, serta
direnungkan dan ingat.
37
C. Kerangka Pikir
Pada permulaan sebelum memakai implementasi metode mind mapping
siswa kelas VI di SD N 4 Karangrejo Kecamatan Grobogan Kabupaten Grobogan
prestasi belajar siswa masih rendah, hal ini disebabkan pembelajaran masih
terpusat pada guru, siswa belum mengoptimalkan pembelajaran, dan siswa belum
aktif mengikuti pelajaran dari guru.
Berdasarkan uraian di atas dapat dibuat kerangka pikir sebagai
berikut:
Perencanaan penyusunan RPP
Pelaksanaan metode
mind mapping
Keaktifan Siswa
Hasil Dan Tindak Lanjut
Gambar 2.1. Kerangka Pikir
K E N D A L A
Prestasi Belajar Siswa
Rendah
- Pembelajaran masih
berpusat pada guru
- Siswa belum
mengoptimalkan
pembelajaran guru
- Siswa belum aktif
menerima pelajaran
dari guru
Download