7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
2.1.1
Landasan Teori
Pengertian Analisis Biaya-Volume-Laba
Analisis Biaya-Volume-Laba merupakan instrumen perencanaan dan
pengendalian. Proses ini memerlukan sejumlah teknik dan prosedur pemecahan
masalah dengan berdasarkan pada pemahaman terhadap pola-pola perilaku biaya
perusahaan.
Henry Simamora (1999:160) menyatakan bahwa: ”Analisis biaya volume
laba adalah analisis pola-pola perilaku biaya yang mendasari hubungan-hubungan
antara biaya volume laba. Analisis biaya volume laba (cost Volume Profit
Analysis) sering disebut titik impas (Break Even Point)”.
Bambang Riyanto (1997:359) menyatakan bahwa: ”Analisis break even
adalah suatu teknik analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya
variabel, keuntungan dan volume kegiatan”.
Menurut Herman Wibowo (1997:405) menyatakan bahwa: ”Analisis
biaya-volume-laba adalah studi berkesinambungan antara biaya-biaya dan volume
serta bagaimana mereka mempengaruhi keuntungan”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa analisis biaya-volume-laba
merupakan salah satu faktor kunci dalam berbagai keputusan manajemen
khususnya dalam hal perencanaan laba yang melibatkan harga jual produk dan
7
jasa, volume atau tingkatan kegiatan, biaya variabel per unit dan total biaya tetap
serta komposisi produk atau jasa yang dijual.
2.1.2
Asumsi Penggunaan Analisis Biaya-Volume-Laba
Dalam perencanaan laba dengan teknik break even dan analisis hubungan
biaya-volume-laba akan tepat apabila variabel-variabel yang dipakai menghitung
tidak berubah.
Menurut Supriyono (1996:332) asumsi-asumsi yang mendasari analisis
biaya-volume-laba adalah sebagai berikut :
a.
Harga jual per unit (satuan) yang dianggarkan tetap konstan pada berbagai
tingkatan volume penjualan dalam periode yang bersangkutan apabila
anggapan ini tidak terpenuhi penghasilan penjualan tidak dapat digambarkan
dengan garis lurus.
b.
Semua biaya yang dianggarkan dapat dikelompokkan ke dalam elemen biaya
tetap dan biaya variabel yang mempunyai tingkat variabilitas terhadap
produk yang akan diproduksi atau dijual, bukan terhadap dasar kegiatan yang
lain.
c.
Harga dari atau masukan (misalnya upah langsung harga bahan baku dan
lain-lain) yang dianggarkan tetap konstan pada berbagai tingkatan kegiatan,
sehingga biaya dapat digambarkan ke dalam garis lurus.
d.
Kapasitas yang dimiliki perusahaan tidak berubah, misalnya karena adanya
ekspansi, karena perubahan kapasitas yang dimiliki ekspansi, karena
8
perubahan kapasitas yang dimiliki akan merubah pola hubungan biayavolume-laba.
e.
Tingkat efisiensi dari perusahaan tidak berubah karena program efisien yang
sangat berhasil atau terjadinya pemborosan yang luar biasa akan berpengaruh
pada pola hubungan biaya-volume-laba.
f.
Tingkat dan metode teknologi yang dimiliki perusahaan tidak berubah,
perubahan teknologi juga dapat mengubah pola hubungan biaya-volumelaba.
g.
Apabila perusahaan menjual beberapa macam produk, maka komposisi
produk yang dianggarkan pada berbagai tingkatan penjualan tidak berubah,
perubahan komposisi akan berakibat berubahnya persentase batas kontribusi.
2.1.3
Pengertian Laba
Salah satu ukuran prestasi perusahaan adalah laba yang dihasilkan sesuai
dengan kemampuan perusahaan.
Supriyono (1996:331) menyatakan bahwa: ”laba merupakan selisih antara
penghasilan penjualan di atas semua biaya dalam periode akuntansi tertentu”.
Menurut Zaki Baridwan (1995:31) Laba adalah kenaikan modal atau
aktiva bersih yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang
terjadi dari suatu badan usaha, dan dari transaksi atau kejadian selama suatu
periode kecuali yang timbul dari pendapatan atau revenue atau investasi oleh
pemilik. Contohnya adalah laba yang timbul dari penjualan aktiva tetap.
9
Mulyadi (1997:231) menyatakan bahwa: ”Laba adalah sama dengan
pendapatan dikurangi dengan biaya”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa laba adalah
tujuan yang ingin dicapai perusahaan dengan cara mengurangi total penjualan
dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam suatu periode akuntansi tertentu.
2.1.4
Pengertian Perencanaan Laba
Agar suatu perusahaan mencapai laba yang maksimal maka disusun
perencanaan laba supaya kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk
mencapai tujuan tersebut.
Herman Wibowo (1996:3): ”Perencanaan laba merupakan rencana kerja
yang telah diperhitungkan dengan cermat dimana implikasi keuangannya
dinyatakan dalam bentuk proyeksi perhitungan laba rugi, neraca, kas, dan modal
kerja untuk jangka pendek dan jangka panjang”.
Supriyono (1993:331): ”Perencanaan laba adalah perencanaan yang
digambarkan secara kuantitatif dalam bentuk keuangan. Dimana ditentukan tujuan
laba yang ingin dicapai perusahaan”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan laba adalah
suatu rencana kerja dalam suatu perusahaan yang harus dicapai dalam bentuk
keuangan.
10
2.1.5
Pengertian Biaya
Biaya dalam suatu perusahaan merupakan komponen yang sangat penting
dalam menunjang pelaksanaan kegiatan perusahaan dalam mencapai tujuan.
Tujuan tersebut dapat dicapai apabila biaya yang dikeluarkan sebagai bentuk
pengorbanan oleh suatu perusahaan yang bersangkutan telah diperhitungkan
secara tepat.
Mulyadi (1993:10) mendefinisikan biaya dalam arti sempit dan dalam arti
luas, yaitu
Biaya dalam arti sempit sebagai harga pokok, yaitu pengorbanan
sumber ekonomi dalam mengolah aktiva atau persediaan bahan baku menjadi
aktiva lain atau persediaan produk jadi sedangakan dalam arti luas biaya
merupakan pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang
telah terjadi atau yang kemungkinan yang akan terjadi untuk tujuan tertentu.
Gudono (1993:16) Menyatakan bahwa: “Cost adalah kas atau lainnya yang
ekuivalen dengan kas yang bisa diukur yang dikorbankan untuk mendapatkan
barang dan jasa, yang diharapkan akan membawa manfaat bagi perusahaan di
masa yang akan datang”. Cost akan selalu timbul agar perusahaan memiliki
barang dan jasa yang kemudian akan digunakan untuk memperoleh penghasilan
dan laba. Cost yang habis atau hilang karena digunakan untuk memperoleh
penghasilan disebut expense.
Slamet Sugiri (1994:21) memberikan pendapat mengenai biaya, yaitu
”Pengorbanan sumber daya ekonomis tertentu untuk memperoleh sumber daya
ekonomi lainnya”. Cost yang masih melekat pada aktiva dilaporkan di neraca
karena masih memiliki manfaat di masa mendatang. Sebaliknya expense adalah
11
pengorbanan sumber daya ekonomi untuk memperoleh penghasilan atau revenue.
Expense dilaporkan dalam laba rugi sebagai pengurang penghasilan.
Berdasarkan uraian di atas perlu dibedakan pengertian cost (biaya) dan
expense (beban). Cost merupakan biaya yang memberi manfaat di waktu yang
akan datang dan pelaporannya akan muncul di neraca. Sedangkan expense adalah
pengorbanan yang dikeluarkan dalam satu periode penghansilan tertentu, yang
oleh karenanya tidak dapat lagi memberikan manfaat di masa mendatang sehingga
dibebankan pada laporan laba rugi.
2.1.6
Penggolongan Biaya
Biaya
dapat
digolongkan
sesuai
dengan
tingkah
lakunya
dalam
hubungannya dengan volume kegiatan, yaitu biaya tetap, biaya variabel, dan biaya
semi variabel.
a.
Biaya Tetap
Slamet Sugiri (1994:45) menyatakan bahwa: “Biaya tetap (Fixed Cost)
adalah biaya yang jumlah besarnya tetap, tidak tergantung dari besar kecilnya
volume kegiatan. Semakin besar volume kegiatan, biaya per unitnya semakin
kecil, sebaliknya semakin kecil volume kegiatan biaya per unitnya semakin
besar”.
Bambang Riyanto (1997:360) menyatakan bahwa: “Biaya tetap adalah
biaya secara totalitas tidak mengalami perubahan meskipun ada perubahan
volume produksi”.
12
Menurut Mulyadi (1993:508) bahwa: “Biaya tetap dibagi menjadi dua, yaitu
commited fixed costs dan discretionary fixed costs”.
Commited fixed costs sebagian besar berupa biaya tetap yang timbul dari
pemilikan gedung, peralatan-peralatan, dan organisasi pokok. Perilaku commited
fixed costs dapat diketahui dengan jelas dengan cara mengamati biaya-biaya yang
dikeluarkan jika seandainya suatu perusahaan tidak melakukan kegiatan sama
sekali dan akan kembali normal (saat perbaikan peralatan). Dalam hal ini
commited fixed costs berupa semua biaya yang tetap dikeluarkan, yang tidak
dapat dikurangi guna mempertahankan kemampuan perusahaan di dalam
memenuhi tujuan-tujuan jangka panjangnya. Contoh biaya jenis ini adalah biaya
penyusutan, sewa, asuransi, gaji karyawan utama, dan bunga bank.
Discretionary fixed costs merupakan biaya yang timbul dari keputusan
penyediaan anggaran secara berkala (biasanya tahunan) yang secara langsung
mencerminkan kebijaksanaan manajemen tingkat atas mengenai jumlah
maksimum yang diijinkan untuk dikeluarkan; yang tidak dapat menggambarkan
hubungan yang optimum antara masukan (yang diukur dengan biaya) dan
keluaran (yang diukur dengan penjualan atau pendapatan atau volume produksi).
Jenis biaya ini tidak mempunyai hubungan tertentu dengan volume kegiatan
contoh biaya jenis ini adalah biaya promosi penjualan, biaya program latihan
karyawan, biaya riset dan pengembangan, dan biaya perjalanan dinas.
13
b.
Biaya Variabel
Slamet Sugiri (1994:50) menyatakan bahwa “Biaya variabel (Variable
costs) sebagai biaya yang totalnya berubah-ubah secara proporsional dengan
perubahan volume kegiatan, tetapi per unitnya tetap”.
Abdul Halim (1997:7) menyatakan bahwa: “Biaya variabel adalah biayabiaya yang selalu berubah secara proposional (sebanding) sesuai dengan
perbandingan volume kegiatan perusahaan”.
Mas’ud Machfoedz (1996:243) menyatakan bahwa “Biaya variabel adalah
biaya yang jumlah totalnya berubah-ubah secara proporsional dengan perubahan
kegiatan”.
Menurut Mulyadi (1993:510) menyatakan bahwa: “Biaya variabel dibagi
menjadi dua yaitu: Engineered Variable Costs dan Discretionary Variable Costs”.
Engineered Variable Costs adalah biaya yang mempunyai hubungan fisik
tertentu dengan ukuran kegiatan tertentu. Hampir semua biaya variabel
merupakan Engineered Variable Cost, karena antara masukan dan keluarannya
mempunyai hubungan yang sebanding. Contoh dari biaya ini adalah biaya bahan
baku. Sedangkan Discretionary Variable Costs” adalah biaya yang masukan dan
keluarannya mempunyai hubungan yang erat namun tidak nyata. Jika keluaran
berubah maka masukan akan berubah sebanding dengan perubahan keluaran
tersebut. Jika masukan berubah, keluaran belum tentu berubah dengan adanya
perubahan masukan tersebut, karena manajemen memutuskan demikian,
contohnya ialah biaya iklan.
14
c.
Biaya Semi Variabel
Gudono (1993:21) menyatakan bahwa: “Biaya semi variabel adalah biaya
yang mengandung unsur campuran biaya variabel dan biaya tetap, sehingga sesuai
dengan namanya, jumlah total biaya semi variabel akan berubah jika volume
kegiatan juga berubah, hanya saja perubahannya tidak proporsional”.
Mas’ud Machfoedz (1996:244) menyatakan bahwa: “Biaya semi variabel
adalah biaya yang jumlah totalnya akan berubah dengan adanya perubahan
kapasitas kegiatan tetapi perubahan jumlah biaya tersebut tidak proposional
dengan perubahan kapasitas kegiatan”. Contohnya adalah biaya listrik, biaya
pemeliharaan.
Jadi biaya variabel berubah sesuai dengan volume kegiatan perusahaan
tetapi perubahan yang dialami tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan
perusahaan. Oleh karenanya analisis biaya volume laba hanya diperhitungkan
biaya variabel dan biaya tetap saja, maka biaya semi variabel tersebut harus dapat
secara tegas dimasukkan dalam biaya variabel atau biaya tetap.
Dari penggolongan biaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa:
a.
Biaya Tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap tidak dipengaruhi oleh
volume kegiatan perusahaan dalam periode akuntansi tertentu.
Contohnya : biaya gaji karyawan, biaya sewa, asuransi, biaya bunga bank, biaya
program latihan karyawan.
b.
Biaya Variabel adalah biaya yang jumlahnya selalu mengalami perubahan,
yaitu sesuai dengan perubahan volume kegiatan perusahaan.
15
Dalam analisis biaya volume laba dinyatakan bahwa perubahan biaya sebanding
atau proposional dengan perubahan volume produksi atau penjualan sehingga
biaya variabel per unit barang bersifat tetap. Contohnya : harga pokok penjualan
c.
Biaya Semi Variabel adalahg biaya yang mengandung unsur campuran biaya
variabel dan biaya tetap, dimana perubahannya tidak sebanding dengan volume
kegiatan perusahaan. Contohnya : biaya listrik, biaya telepon, dan biaya air.
2.1.7
Pemisahan Biaya Semi Variabel
Untuk analisis titik impas (BEP), biaya semi variabel harus dipisahkan agar
bisa diketahui berapa biaya tetap dan biaya variabel.
Menurut Supriyono (1993:424) biaya semi variabel dapat dipisahkan dengan
menggunakan beberapa teknik, yaitu :
a.
Metode titik tertinggi dan titik terendah
Metode titik tertinggi dan titik terendah memisahkan biaya variabel dan
biaya tetap dalam periode tertentu dengan berdasarkan kapasitas dan biaya pada
titik tertinggi dengan titik terendah, perbedaan biaya antara kedua titik tersebut
disebabkan adanya perubahan kapasitas dan besarnya tarif biaya variabel satuan.
b.
Metode biaya bersiap
Metode biaya bersiap adalah metode pemisahan biaya tetap dan biaya
variabel dengan cara menghitung besarnya biaya pada keadaan perusahaan atau
pabrik ditutup untuk sementara tetapi dalam keadaan siap berproduksi. Besarnya
biaya pada keadaan perusahaan tutup untuk sementara disebut biaya bersiap.
16
c.
Metode grafik statistikal
Metode grafik statistikal adalah metode pemisahan biaya tetap dan biaya
variabel dengan cara menggambarkan biaya setiap bulan pada sebuah grafik dan
menarik suatu garis di tengah titik-titik biaya tersebut.
d.
Metode garis regresi sederhana
Metode garis regresi atau metode kuadrat terkecil adalah metode pemisahan
biaya variabel dan biaya tetap dengan cara menentukan hubungan variabel
tergantung dengan variabel bebas dari sekumpulan data.
2.1.8
Pengertian Titik Impas (Break Event Point)
Gudono (1993:75) menyatakan bahwa: ”Titik impas adalah perbatasan
antara laba dan rugi atau sama denga volume penjualan pada saat laba perusahaan
sama dengan nol”.
Mas’ud Machfoedz (1996:296) : “Titik impas adalah suatu keadaan
dimana perusahaan dalam kondisi tidak mendapatkan laba atau menderita rugi”.
Kondisi ini bisa dinyatakan sebagai berikiut : total penjualan perusahaan sama
besar dengan total biaya atas penjualan tersebut, dan laba perusahaan sama
dengan nol.
Mulyadi (2001:232): ”Titik impas adalah keadaan suatu usaha tidak
memperoleh laba dan tidak menderita rugi”.
Sedangkan menurut Henry Simamora (1999:163): ”Titik impas adalah
volume penjualan dimana jumlah pendapatan dan jumlah bebannya sama, tidak
terdapat laba maupun rugi bersih”.
17
Berdasarkan beberapa uraian di atas maka titik impas adalah keadaan
dimana perusahaan tidak memperoleh laba ataupun menderita kerugian dengan
kata lain volume penjualannya sama dengan biaya yang dikorbankan.
2.1.9
Analisis Titik Impas (Break Even Point) untuk Mix Product
Analisis break even ini pada umumnya diterapkan pada perusahaan yang
memproduksi dan menjual satu macam produk. Tetapi pada salah satu asumsi
dalam analisis ini juga disebutkan jika perusahaan memproduksi atau menjual
lebih dari satu macam produk, maka komposisi produk yang dianggarkan pada
berbagai tingkat penjualan atau produksi adalah tetap sama atau perimbangan
antara masing-masing produk (sales mix) adalah konstan.
Dalam mempelajari analisis
break even
pada perusahaan
yang
menghasilkan atau menjual lebih dari satu macam produk, perlu dianalisis
hubungan setiap jenis produk yang dihasilkan. Analisis ini penting untuk
mengetahui seberapa jauh biaya dapat dipisahkan dengan teliti dan adil untuk
setiap jenis produk. Rincian biaya tetap dan biaya variabel untuk setiap jenis
produk sulit dilakukan apabila hubungan antar produk adalah produksi bersama,
karena semua elemen biaya produksi dinikmati bersama-sama oleh semua jenis
produk, begitu pula apabila jenis produk relatif banyak maka perlu
menggolongkan jenis produk tersebut ke dalam kelompok-kelompok tertentu.
Sedangkan menurut Henry Simamora (1999:178) menyatakan bahwa
volume penjualan yang diperlukan untuk mencapai titik impas atau meraih laba
sasaran tertentu bagi perusahaan yang menjual lebih dari satu lini produk
18
sangatlah tergantung pada bauran penjualan. Bauran penjualan (sales mix)
tersebut adalah menggambarkan persentase dari setiap penjualan lini produk
terhadap total penjualan yaitu dihitung dengan membagi biaya tetap dengan rasio
marjin kontribusi. Dengan rumusnya yaitu:
Titik Impas
Biaya Tetap
=
(Rp)
____________________________________
Rasio Marjin Kontribusi (%)
2.1.10 Pengertian Margin Kontribusi (Contribution Margin)
Marjin kontribusi sangat berguna dalam pengambilan keputusan biaya dan
penghasilan jangka pendek. Berikut ini beberapa pengertian marjin kontribusi.
Menurut Mas’ud (1996:299): ”Marjin kontribusi adalah sisa hasil
penjualan dikurangi dengan biaya variabel. Jumlah marjin kontribusi akan bisa
digunakan untuk menutup biaya tetap dan membentuk laba”.
Henry Simamora (1999:161) mengemukakan bahwa: ”Marjin kontribusi
adalah perbedaan antara harga jual per unit dan biaya variabel per unit”.
Sedangkan menurut Mulyadi (1997:228) : ”Marjin Kontribusi adalah
kelebihan pendapatan penjualan diatas biaya variabel. Semakin besar laba
kontribusi, semakin besar kesempatan yang diperoleh perusahaan untuk menutup
biaya tetap dan menghasilkan laba. Laba kontribusi per unit merupakan laba
kontribusi dibagi dengan volume penjualan”.
Dari pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa margin
kontribusi adalah total penjualan dikurangi dengan semua biaya variabel.
Informasi mengenai laba kontribusi bermanfaat bagi manajemen dalam
19
mempertimbangkan pengaruh serta dalam membuat keputusan yang berhubungan
dengan perubahan harga jual, biaya, dan volume terhadap laba perusahaan.
2.1.11 Pengertian Margin of Safety
Menurut Mas’ud (1996:339) : ”Margin of safety adalah selisih antara
jumlah penjualan yang ditargetkan dengan jumlah penjualan pada keadaan
impas”.
Menurut Mulyadi (2001:254) : ”Margin of safety adalah selisih antara
volume penjualan yang dianggarkan dengan volume penjualan impas”.
Menurut Henry simamora (1999:169) : ”Margin of safety adalah kelebihan
penjualan yang dianggarkan diatas volume penjualan impas”.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa margin of safety
memberikan informasi berapa maksimum volume penjualan yang direncanakan
tersebut boleh turun, agar perusahaan tidak menderita rugi atau dengan kata lain
margin of safety memberikan petunjuk jumlah maksimum penurunan volume
penjualan yang direncanakan, yang tidak mengakibatkan kerugian.
2.1.12 Pengertian Operating Leverage
Pengertian operating leverage menurut A. Totok Budisantoso (2000:229)
menyatakan ukuran sensitivitas laba bersih terhadap persentase perubahan
penjualan. Operating leverage bertindak sebagai multiplier. Operating leverage
menjadi semakin tinggi jika perusahaan beroperasi di sekitar titik impas dan
persentasenya kecil itu disebabkan peningkatan penjualan.
20
Tingkat operating leverage pada tingkat penjualan tertentu dapat dihitung
dengan cara sebagai berikut:
Marjin Kontribusi
Tingkat operating leverage =
Laba Bersih
Tingkat operating leverage adalah ukuran bagaimanakah pengaruh
perubahan volume penjualan terhadap laba. Perusahaan dengan operating
leverage tinggi bersifat sangat peka terhadap perubahan penjualan. Kenaikan
penjualan dalam persentase yang relatif lebih kecil dapat menghasilkan persentase
kenaikan laba yang lebih besar.
% Perubahan laba = Tingkat operating leverage x % Perubahan penjualan
2.2
Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya
Penelitian ini berkaitan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh:
1. L.G. Emy Pratamanita (2004) dengan judul “Perencanaan Penjualan Untuk
Memenuhi Pencapaian Target Laba Dengan Analisis Biaya-Volume-Laba
Pada CV Mama & Leon Sanur”. Berdasarkan analisis data dapat diketahui
bahwa titik impas CV Mama & Leon terletak pada saat penjualan sebesar
Rp 1.857.853.010,7. Apabila perusahaan merencanakan laba sebesar 30% dari
penjualan sebelumnya maka penjualan yang harus dicapai pada periode
Januari-Desember 2003 adalah Rp 40.180.128.774,2. Toleransi batas aman
penurunan penjualan (MOS) adalah 55,5% artinya perusahaan belum
mengalami kerugian apabila nantinya realisasi penjualan 55,5% berada di
bawah target penjualan yang ditetapkan.
21
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada obyek
penelitiannya dan pada penelitian sebelumnya tidak menghitung operating
leverage. Persamaan dengan penelitian sebelumnya adalah pada perhitungan
break even, sales budget dan margin of safety.
2. I Wayan Putra (2004) dengan judul Perencanaan Penjualan Untuk Mencapai
Target Laba Pada Perusahaan CV Kecak Denpasar Dengan Menggunakan
Analisis Biaya Volume Laba. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka
hasilnya dapat disimpulkan bahwa titik impas (break even) yaitu posisi yang
menunjang volume penjualan dan produksi dimana perusahaan tidak
meperoleh untung dan tidak mengalami kerugian terletak saat volume
penjualan sebesar Rp. 24.202.342.315. Jika perusahaan merencanakan
kenaikan laba sebesar 6% dari laba tahun 2003 maka volume penjualan yang
harus berhasil dicapai tahun 2004 adalah 29.342.228.417 sedangkan apabila
terjadi penurunan penjualan di perusahaan CV. Kecak Denpasar maka
penurunan penjualan yang bisa ditoleransi adalah sebesar 17, 5170 % dan Rp.
5.139.886.955 dari penjualan yang direncanakan.
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan
kualitatif dalam analisis kuantitatif, yang dipergunakan adalah pendekatan
biaya, volume, laba (BVL) yaitu break even point, rencana penjualan (SB),
margin of safety, operating leverage, dan contribution margin. Dalam analisis
kualitatif, yaitu analisis data yang dilakukan dengan memberikan penjelasan
dari hasil penelitian menjadi informatif dan kemudian ditarik suatu
kesimpulan.
22
Perbedaan dengan penelitian sebelumnya yaitu pada perhitungan titik
impas dimana pada penelitian sebelumnya menggunakan biaya variabel per
satuan sedangkan pada penelitian ini menggunakan biaya variabel total untuk
menghitung titik impas. Obyek penelitian juga berbeda dengan penelitian
sebelumnya. Persamaannya yaitu pada perhitungan break even, sales budget,
margin of safety, dan operating leverage.
3. Ni Nyoman Ayu Trisnawati (2006) dengan judul Analisis Biaya Volume Laba
dalam Perencanaan Laba pada Hotel Tamu Kami di Sanur Bali. Teknik analisis
yang digunakan adalah analisis kuantitatif, yaitu metode pemisahan biaya
semivariabel dengan menggunakan metode kuadrat terkecil, margin kontribusi,
break even point analysis, sales budget, margin of safety. Analisis kualitatif
yaitu teknik analisis data yang digunakan untuk memberikan penjelasan dari
hasil analisis kuantitatif. Berdasarkan analisis yang dilakukan maka dapat
disimpulkan bahwa penjualan kamar dalam posisi BEP di Hotel Tamu Kami
pada tahun 2006 adalah sebesar Rp 928.137.294, 85. Penjualan kamar yang
harus dicapai untuk tahun 2006 apabila pihak manajemen menginginkan
kenaikan, penjualan 20% dari tahun 2005 adalah sebesar 1.174.827.180. Dari
analisis MOS dapat diketahui bahwa batas aman penurunan penjualan kamar
dengan adanya rencana kenaikan laba 20% adalah apabila penurunan penjualan
kamar tidak melebihi 21% dari target yang telah ditetapkan oleh pihak
manajemen.
Perbedaan penelitian ini yaitu menghitung operating leverage sedangkan
pada penelitian sebelumnya tidak, penghitungan titik impas pada penelitian
23
sebelumnya dilakukan dengan biaya variabel per satuan dan obyek yang
diteliti juga berbeda. Persamaannya yaitu sama-sama menggunakan teknik
kuadrat terkecil untuk pemisahan biaya semivariabel serta penghitungan
margin of safety.
24
Download