komodifikasi upacara ngaben

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, TEORI,
DAN MODEL PENELITIAN
2.1 Kajian Pustaka
Berdasarkan studi pustaka yang telah dilakukan ada beberapa pustaka yang
relevan untuk dikaji dalam penelitian ini. Semuanya dijelaskan di bawah ini.
Wijaya (1991) dalam bukunya berjudul ”Pembangunan dan Sosial Budaya
Hindu
Perilaku
Keagamaan
Umat
Hindu
di
Denpasar
1980-1990”
mengungkapkan bahwa telah terjadi perubahan-perubahan sosial budaya akibat
pertumbuhan ekonomi masyarakat Denpasar. Berbagai perlengkapan upacara
keagamaan sudah biasa diperjualbelikan di antaranya: banten. lawar, sate, babi
guling, wadah atau bade, serta perlengkapan-perlengkapan lainnya. Bahkan ada
yang membeli seluruh upakara dalam bentuk jadi, lengkap dengan peralatanperalatan ritual lainnya, seperti penjor, tamiang lengkap dengan sulinggih.
Tulisan Wijaya tersebut menyiratkan telah terjadi komodifikasi berbagai
perlengkapan upacara keagamaan di Denpasar, tanpa dijelaskan bagaimana hal
tersebut terjadi dan berlangsung dengan analisis pendekatan sejarah. Penelitian
peneliti
tentang komodifikasi upacara ngaben di Desa Pakraman Sanur,
Denpasar hendak menunjukkan bagaimana bentuk komodifikasi upacara ngaben,
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya komodifikasi, dan dampak serta
makna komodifikasi upacara ngaben itu di era globalisasi. Selanjutnya, akan
diteliti pula proses produksi, proses distribusi, dan proses konsumsi dalam
23
24
komodifikasi upacara ngaben tersebut. Tulisan ini memberi inspirasi dan
membuka wawasan peneliti untuk meneliti lebih komprehensif.
Titib (2005) dalam disertasinya yang sudah diterbitkan menjadi buku
dengan judul ”Persepsi Umat Hindu di Bali terhadap Svarga, Naraka, dan Moksa
dalam Svargarohan Parva Perspektif Kajian Budaya” menyatakan bahwa terdapat
persamaan persepsi umat Hindu tentang Svarga, Naraka, Moksa (selanjutnya
disingkat SNM) dengan persepsi SNM dalam Svargarohanaparva, yakni
pengembangan tentang penggambaran SNM. Persepsinya tentang svarga
merupakan pahala perbuatan baik, naraka sebagai pahala dari perbuatan buruk,
serta moksa hanya dapat dicapai oleh orang yang baik dan suci. Selanjutnya,
dalam penggambaran svarga dan naraka terdapat berbagai perbedaan tetapi tidak
terlalu jauh dengan sumber-sumber Sanskerta dan Jawa Kuna. Di samping itu,
kurangnya
sosialisasi
upacara
nuntun
atau
ngalinggihang
Dewahyang
(Atmapratista) mengakibatkan umat Hindu yang melakukan upacara tersebut
tidak mengikuti ketentuan yang berlaku di Pura Besakih.
Lebih lanjut Titib menyinggung juga
upacara pitra yajña terutama
pelaksanaan upacara pitra yajña di Bali tidak jauh maknanya dengan upacara
pitra yajña di India. Di India, upacara bagi orang yang baru meninggal dan
langsung dikremasi namanya upacara antyesti atau ativahika. Upacara ini sangat
dekat maknanya dengan upacara ngaben, sedangkan upacara pitrapinda dekat
maknanya dengan upacara nyekah. Oleh karena dalam upacara nyekah atau
mamukur, persembahan inti juga berupa bubur beras yang disajikan tidak terlalu
banyak dan juga ditujukan kepada roh yang diupacarai dan yang tidak diketahui
25
disebut sange. Upacara sraddha dekat dengan upacara devapitrapratista (nuntun
setelah atau mamukur untuk distanakan di pamerajan). Upacara sraddha secara
besar-besaran dilaksanakan pada zaman Majapahit oleh raja Hayam Wuruk untuk
neneknya, yakni Tri Bhuvana Tunggadewi dan tempat pelaksanaan upacara kini
dikenal dengan Candi Penataran.
Dalam disertasinya tersebut, Titib melakukan wawancara dengan Ida
Pandita Mpu Mahabhirudaksa. Beliau mengatakan bahwa upacara atau sesajen
tidaklah mutlak harus besar, tetapi yang terpenting ketulusan yang punya keluarga
tersebut, kekhusukan pandita memuja dan karma baik yang bersangkutan
sehingga dapat mengantarkan roh orang yang diupacarai mencapai svarga atau
kedamaian.
Relevansi penelitian Titib dengan penelitian ini adalah walaupun Titib
melakukan penelitian teks
dengan metode penelitian kepustakaan dengan
intertektualitas, tetapi ada juga disinggung tentang upacara pitra yajña dengan
esensi upakaranya berupa bubur beras. Hal ini menambah wawasan penulis
tentang upacara pitra yajña, yaitu upacara ngaben merupakan salah satu bagian
dari upacara pitra yajña.
Sukarsa (2005) dalam disertasinya yang sudah diterbitkan menjadi buku
dengan judul “Pengaruh Pendapatan Keluarga dan Pemahaman Agama terhadap
Pengeluaran Konsumsi Ritual Masyarakat Hindu di Bali Ditinjau dari Berbagai
Dimensi Waktu” mengatakan bahwa ada sepuluh analisisnya tentang pengaruh,
baik itu signifikan maupun tidak, pendapatan keluarga terhadap pengeluaran
konsumsi ritual masyarakat Hindu di Bali.
26
1. Terdapat pengaruh signifikan
pendapatan keluarga terhadap filsafat
agama/tattwa. Besar kecilnya pendapatan keluarga akan mempengaruhi
pelaksanaan filsafat agama seperti melakukan pemahaman isi buku agama dan
lontar dimiliki. Logikanya dengan adanya kenaikan pendapatan akan terdapar
kemampuan daya beli yang bertambah untuk memiliki buku agama. Demikian
pula ada kemauan untuk melaksanakan isi dari buku peneliti.
2. Terdapat pengaruh, tetapi tidak signifikan pendapatan terhadap susila. Ini
berarti besar kecilnya pendapatan keluarga tidak ada pengaruh terhadap
kegiatan menghadiri undangan, kegiatan gotong royong, dan frekuensi denda
seseorang dalam perkumpulan banjar mereka.
3. Terdapat pengaruh, tetapi tidak signifikan pendapatan keluarga terhadap
upacara. Jumlah, tandingan banten yang dipakai persembahyangan rutin
tergantung dari jumlah bangunan/palinggih yang ada. Dalam kurun waktu
yang cukup lama (paling tidak lima tahun) jumlah ini relatif tetap. Dengan
demikian, jumlah tandingan banten relatif tetap selama kurun waktu tersebut.
Jadi, wajar perubahan pendapatan selama enam bulan tidak akan
mempengaruhi jumlah perlengkapan upacara.
4. Terdapat pengaruh signifikan pendapatan keluarga terhadap pengeluaran
ritual. Hasil studi ini memperkuat beberapa hasil temuan sebelumnya yang
mengatakan bahwa pendapatan mempunyai pengaruh positif dan langsung
terhadap pengeluaran konsumsi. Bedanya dalam penelitian ini jenis
pengeluaran konsumsi adalah konsumsi ritual. Di samping pendapatan
keluarga dominan dibentuk oleh indikator pendapatan transitory/sementara.
Dengan demikian banyak sedikitnya pendapatan transitori/sementara yang
diperoleh keluarga akan mempengaruhi besar kecilnya pengeluaran ritual di
Bali.
5. Terdapat pengaruh signifikan filsafat agama/tattwa terhadap susila. Ini berarti
pemahaman isi buku agama dan lontar serta kemampuan untuk
mempraktikkannya akan mempengaruhi pelaksanaan susila menjadi lebih
baik. Hal ini sesuai dengan dugaan semula, yaitu secara normatif memang
demikian adanya. Dengan demikian, pemahaman agama yang lebih baik
mempengaruhi prilaku masyarakat yang lebih baik pula.
6. Terdapat pengaruh susila terhadap upacara, tetapi tidak signifikan. Baik
buruknya pergaulan seseorang di masyarakat tidak mempunyai hubungan dan
pengaruh terhadap jumlah tandingan banten serta perlengkapan upacara orang
tersebut. Walaupun sangat jarang menghadiri undangan dan melakukan
gotong royong, tetapi hal ini tidak mempengaruhi besar kecilnya jumlah
tandingan banten dan jumlah pelinggih di pekarangannya.
7. Terdapat pengaruh, tetapi tidak signifikan filsafat agama/tattwa terhadap
upacara. Penguasaan filsafat agama yang ditandai dengan pemilikan buku
agama, lontar, serta kemampuan mempraktikkannya tidak mempunyai
hubungan dan pengaruh terhadap besar kecilnya upacara yang ditandai
dengan banyaknya tandingan banten dan perlengkapan upacara.
8. Terdapat pengaruh signifikan filsafat agama/tattwa terhadap pengeluaran
ritual. Penguasaan materi buku agama dan lontar mempunyai hubungan dan
pengaruh terhadap besar kecilnya pengeluaran ritual bagi keluarga di Bali,
27
tetapi pengaruhnya ini bersifat negatif atau mempunyai arah yang terbalik.
Seseorang yang penguasaan filsafat agamanya tinggi akan cenderung
mempunyai pengeluaran untuk ritual lebih sedikit.
9. Terdapat pengaruh, tetapi tidak signifikan susila terhadap pengeluaran ritual.
Baik buruknya pergaulan seseorang di masyarakat tidak mempunyai
hubungan dan pengaruh terhadap pengeluaran ritual orang tersebut. Walaupun
frekuensi menghadiri undangan sedikit dan jarang melakukan gotong royong,
hal ini tidak mempengaruhi besar kecilnya pengeluaran ritual atau hubungan
mereka dengan Tuhan.
10. Terdapat pengaruh, tetapi tidak signifikan upacara terhadap pengeluaran ritual.
Kelengkapan upacara seperti jumlah tandingan banten, jumlah pelinggih tidak
ada hubungannya dan tidak berpengaruh terhadap pengeluaran ritual.
Berdasarkan kesepuluh pengaruh di atas
dapat disimpulkan secara
terintegrasi bahwa pendapatan dan pemahaman agama secara langsung dan tidak
langsung berpengaruh secara nyata terhadap pengeluaran ritual. Kajian ini
memberi wawasan bahwa faktor pendapatan ikut menentukan kemegahan,
kelengkapan, dan tingkatan upacara keagamaan umat Hindu di Bali. Perbedaan
tulisan di atas dengan penelitian ini adalah penelitian ini ingin mendapatkan
tentang komodifikasi upacara ngaben di Desa Pakraman Sanur Denpasar dalam
era globalisasi yang menyangkut proses, faktor-faktor penyebab, dan dampak
serta makna komodifikasi tersebut.
Rica (2005) dalam tesisnya yang berjudul “Perubahan Pola Hubungan
Pasisiyan pada Masyarakat Hindu Etnis Bali-Lombok”
mengatakan
dalam
analisisnya bahwa pola hubungan pasisyan dikaitkan dengan landasan sastra
seharusnya simbolik antara Siwa sebagai perwujudan Tuhan dengan para Sisya
sebagai daksita, kenyataannya hubungan pasisyan terjadi perubahan. Terjadinya
perubahan struktur di pihak Siwa dan sisya, setidaknya akan berpengaruh terhadap
perubahan fungsinya masing-masing dan korelasi fungsional. Mencermati
perubahan hubungan simbolik merupakan suatu kebutuhan dalam usaha
28
mempertahankan nilai-nilai spiritual pemaknaan terhadap simbol-simbol, bersifat
vertikal dan horizontal seharusnya bersifat sakral sehingga fungsi tiap-tiap Siwa
maupun Sisya dan beberapa hal perlu diketahui arah perubahannya. Fungsi-fungsi
yang diperankan Siwa dan sisya ini antara lain: pertama
Siwa
berfungsi
memberikan perlindungan spiritual, pengetahuan, dan jasa keagamaan serta
dalam kasus tertentu memberikan perlindungan instrumental, bentuk hubungan
pasisyan menguatkan pemahaman dengan perlindungan spiritual dibuktikan
dengan adanya keterikatan sisya untuk memohon restu dalam bentuk simbolik
berupa tirtha dan jatu kepada Siwa. Terarahnya pola hubungan mewujudkan
perlindungan instrumen dapat dipahami adanya konsep
panjak yang berarti
pekerja. Perlindungan spiritual, pengetahuan keagamaan, dan praktik
hidup
beragama telah membentuk hubungan ketidaksamaan antara Siwa dan sisya.
Kedua, pengaruh pertukaran hubungan Siwa sisya secara simbolik dengan
beberapa faktor dalam perubahan pola hubungan pasisyan menjadi terwujud pola
hubungan yang baru. Dari struktural dan kultural menimbulkan perkembangan
berarti pada fungsi struktur dan fungsi pasisyan di antaranya sebagian tugas Siwa
mulai dilaksanakan oleh para walaka yang telah mawinten. Ketiga, terarahnya
pola hubungan pasisyan sebagai fungsi membentuk struktur baru yaitu primus
inter pares yang dimiliki oleh seorang peranda kemudian ditularkan kepada para
walaka sehingga dalam memerankan fungsi Siwa, walaka diperlakukan berbeda
dengan kedudukan anggota masyarakat biasa, dalam rangkaian proses adaptasi
kultural dengan terakomodasinya perubahan fungsi Siwa kepada walaka tanpa
29
harus menurunkan makna ideal Siwa itu sendiri. Hal ini untuk menstrukturkan
kebudayaan masyarakat Hindu etnis Bali di Kecamatan Cakranegara.
Penelitian Rica di Lombok tidak jauh berbeda dengan hubungan Siwa
Sisya yang ada di Bali. Pada dasarnya konsep hubungan ini dilandasi oleh
bhisama para leluhur mereka untuk menempatkan Siwa selaku Dewa pada Siwa
sekala di dunia ini. Peran Siwa sekala adalah sebagai pengayom bagi sisya yang
dilandasi rasa bhakti. Akan tetapi, perubahan terjadi karena ternyata hubungan
tersebut sekarang termasuk Siwa menyiapkan banten sesuai permintaan sisya dan
sebagai pengganti sebagai alat tukar adalah sisya membayar dengan harga tertentu
banten yang dibeli pada Siwanya.
Suweta (2006) dalam disertasinya yang berjudul ”Aksara pada Kajang
dalam Upacara Ngaben Masyarakat Hindu di Bali (Sebuah Kajian Linguistik
Kebudayaan)” mengatakan bahwa kajang adalah sejumlah tulisan bahasa Bali
ragam khusus dengan huruf Bali
dalam wujud wijaksara sebagai lambang
manifestasi Tuhan, yang ditulis dalam selembar kain blacu, tetoron, dan lain-lain
dengan ukuran tertentu, yang sering dilengkapi dengan rerajahan dan gambar,
yang digunakan untuk menutup jenazah pada saat upacara ngaben, agar atma
orang yang meninggal mendapat tempat bersatu dengan Tuhan (amor
ing
acintya).
Aksara Pada Kajang dalam penelitian ini selanjutnya disingkat APK.
Aksara suci yang ada dalam lukisan kajang merupakan tanda legisigns, karena
secara konvensional memiliki bentuk dan makna tertentu, yang dalam aktivitas
sosial religius (upacara ngaben) berfungsi sebagai simbol komunikasi, secara
30
immanent dan transendental yang dipedomani oleh masyarakat Hindu di Bali.
Bentuk aksara suci pada kajang dibedakan menjadi empat, yaitu (1) bentuk
aksara suci APK
berdasarkan kesejarahan aksara Bali (semua aksara APK
tergolong bulat/bundar); (2) bentuk aksara suci APK berdasarkan struktur aksara
(aksara suara, pengangge aksara suara, aksara pangangge aksara wyanjana); (3)
bentuk akasara suci APK
berdasarkan macam aksara wyanjana,dibedakan
menjadi delapan, yaitu ekaksara, dwyaksara, triaksara, panca brahma.panca
aksara, dasaksara, catur dasaksara, saddasaksara; (4) bentuk aksara suci APK
aksara sebagai singkatan; bentuk APK berdasarkan tata letak/komposisi.
Beberapa fungsi aksara suci APK. (1) Fungsi referensial yaitu fungsi
bahasa yang mereferensikan objek sebagai acuan makna. (2) Fungsi emotif/
ekspresif, yakni mengekspresikan bahasa sesuai dengan keinginan seperti
pembuat kajang (pendeta) dan pengguna kajang (orang yang mengadakan upacara
ngaben). Ada beberapa penggolongan kajang masing-masing memiliki aksara suci
sebagai ciri pembesda: Kajang Brahmana, Kajang Ksatrya, Kajang Wesya,
Kajang Sudra, Kajang Pasek, Kajang Pande. (3) Fungsi metalinguistik adalah
fungsi bahasa yang dikaitkan dengan faktior di luar bahasa, dalam APK secara
metalinguistik
fungsi bahasa dikaitkan
dengan hakikat kehidupan, manusia
sesuai keyakinan umat Hindu di Bali. Terlihat dari aksara suci yang dijadikan
kode/sandi terkait dengan badan manusia. (4) Fungsi magis, yaitu APK yang
dikaitkan dengan sesuatu yang sakral (aksara suci APK dikaitkan dengan namanama Dewa manifestasi Tuhan).
31
Makna akasara suci APK meliputi: (1) makna pemujaan kepada Tuhan:
Tuhan yang tunggal, Tuhan sebagai Purusa Pradana, Tuhan sebagai Tri Murt,
Tuhan sebagai Pancadewata, Tuhan sebagai Siwa, dan Tuhan sebagai Dewata
Nawa Sanga; dan (2) makna permohonan kepada Tuhan yaitu untuk mencapai
kesucian, mencapai kebahagiaan abadi, mendapat perlindungan Tuhan, kembali
ke alam asal, dan bersatu dengan leluhur yang suci.
Nilai APK dikelompokkan menjadi empat. (1) Nilai religius yaitu
penyadaran akan hakikat hidup sebagai manusia, penyucian diri, yakin kepada
Tuhan dalam berbagai manifestasi. (2) Nilai sosiologis, yaitu
memupuk
kebersamaan, menghormati perbedaan, menghormati pendeta. (3) Nilai didaktis
paedagogik yaitu meningkatkan keimanan, pengendalian diri, hormat kepada
leluhur. (4) Hubungan antara nilai dengan bentuk, fungsi, dan makna APK sangat
erat.
Tanpa adanya bentuk APK, tidak mungkin bisa melihat fungsi dan
maknanya.
Penelitian di atas mengkaji kajang sebagai salah satu bagian dari sarana
ngaben dari perspektif linguistik kebudayaan, sedangkan penulis meneliti kajang
sebagai sebuah komoditas yang tergolong ke dalam produk dalam sebuah
komodifikasi upacara ngaben. Penelitian di atas memberikan kontribusi sehingga
penulis mendapat tambahan wawasan dalam kajang.
Ningrat (2006) dalam tesisnya yang berjudul ”Banten Panjang Ilang
dalam Upacara Ngaben di Mataram (Kajian Bentuk Fungsi, dan Makna)”
mengatakan bahwa salah satu elemen dari aspek upacara yang belakangan ini
mendapatkan perhatian dalam aktivitas keagamaan adalah upakara. Fenomena
32
tersebut bertalian dengan wacana simplikasi
dalam tatanan upakara di
masyarakat Hindu khususnya di Mataram. Pada hakikatnya munculnya wacana
semacam itu sebagian besar diakibatkan oleh pemahaman masyarakat terhadap
fungsi dan makna sarana upacara tersebut. Dalam upaya
mewujudkan
dan
menyosialisasikan maksud tersebut, maka diteliti aspek sarana upacara pitra
yajña yaitu banten panjang ilang.
Bentuk banten panjang ilang secara fisik tidak ditemukan secara tepat.
Dalam penggunaannya disesuaikan dengan
banten setempat. Bentuk simbolik
budaya pembuatan
jenis-jenis
dalam banten panjang ilang menyiratkan
tinginya tingkat adaptasi budaya lokal terhadap ajaran Agama Hindu. Bentuknya
rumit, tetapi sangat indah kelihatannya. Realitas ini mengindikasikan betapa tinggi
nilai estetik yang terdapat dalam sarana upacara. Bertalian dengan nilai estetik
yang tinggi, maka pembuatannya memerlukan juga orang-orang yang berjiwa seni
dan terampil dalam bidang ini.
Adapun fungsi banten panjang ilang yang dipergunakan dalam upacara
ngaben adalah sebagai banten pengadang-adangan yang ditujukan kepada butha
kala yang menghambat perjalanan sang atma. Kesucian proses pembuatan banten
panjang ilang sangat berpengaruh
terhadap mereka yang diupacarai/di-aben.
Banten panjang ilang sangat penting dalam upacara ngaben walaupun tingkat
kanista.
Berkaitan dengan makna banten panjang ilang dalam upacara pitra yajña
di Mataram pada hakikatnya adalah sebagai oleh-oleh dari sang atma kepada
sang catur sanak untuk mempercepat proses perjalanan menemui kedua
33
orangtuanya. Panjang ilang sebagai persembahan kepada Sang Suratma dengan
kaki tangan beliau pada saat pembersihan atau pebaktian dan dipersembahkan
pada saat pengiriman. Selain itu sebagai media pembinaan moral dan budaya
Hindu yang menekankan pada kesusilaan dan bersumber pada nilai budaya yang
telah diwarisi secara turun-temurun yang masih berupa lontar atau dalam wujud
panjang ilang.
Dari tesis Ningrat tentang salah satu banten pitra yajña yaitu panjang
ilang yang digunakan umat Hindu di Mataram dalam upacara ngaben, ditemukan
adanya bentuk, fungsi, dan makna terhadap banten tersebut. Bentuknya yang
rumit dan indah berfungsi sebagai pengadang-adang yang ditujukan pada sang
butha kala dan maknanya sebagai oleh-oleh dari sang atma kepada catur sanak.
Asmyta Surbakti (2006) dalam tulisannya berjudul ”Komodifikasi dalam
Pariwisata Hegemoni Budaya Populer” dalam Jurnal Kajian Budaya Vol.3 No.6
mengungkapkan bahwa telah terjadi komodifikasi budaya populer dan hegemoni
pariwisata. Bali sebagai daerah tujuan pariwisata dunia berada dalam proses
komodifikasi sebagai bentuk-bentuk budaya populer, misalnya ”Nyepi di hotel”
melalui paket Nyepi. Tiga pilar yang menjadi pemicu proses komodifikasi ini,
yaitu negara, pengusaha, dan konsumen. Negara dan pengusaha di satu sisi,
bekerjasama
untuk mendapat pembagian keuntungan dan kepuasan ekonomi,
sedangkan di sisi lain, konsumen yaitu wisatawan mendapatkan layanan dan
suasana eksotis.
Tulisan Surbakti di atas berbeda dengan
penelitian penulis. Tulisan
tersebut menjelaskan komodifikasi dalam dunia kepariwisataan yang melibatkan
34
tiga pilar utama dalam dunia kepariwisataan dengan mendapatkan keuntungan
masing-masing. Penelitian penulis menekankan pada komodifikasi dalam bidang
agama khususnya upacara ngaben yang melibatkan orang lokal (Bali) sebagai
produsen, distributor yang mendapatkan kepuasan dan keuntungan ekonomis,
konsumennya adalah orang lokal (juga orang Bali) yang menikmati kepuasaan
religius dan spiritual. Oleh karena Desa Pakraman Sanur menjadi salah satu
kawasan pariwisata, maka komodifikasi upacara ngaben ini dikonsumsi pula oleh
wisatawan yang dapat menikmati dalam pengalamannya di Bali upacara ngaben
tersebut. Dengan demikian, maka umat Hindu di Sanur akan berusaha untuk
tampil semaksimal-maksimalnya karena upacara ngaben ditonton oleh wisatawan.
Kedua tulisan ini memiliki persamaan terutama dalam penggunaan konsep dan
teori komodifikasi. Kegunaan tulisan ini dapat menambah dan mempertajam
konsep dan teori penelitian peneliti.
Penelitian tentang
komodifikasi dilakukan oleh Rahayu (2006) dalam
tesisnya yang berjudul ”Komodifikasi Kerajinan Patung Kayu dalam Konteks
Pariwisata di Desa Singakerta Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar. Rahayu
mengungkapkan bahwa terdapat beberapa jenis patung yang telah mengalami
komodifikasi yaitu patung rama shita, patung ganesha, patung oleg, patung janger,
patung garuda, patung singa, patung dolphin, dan patung naga. Komodifikasi
produksi kerajinan patung kayu di Desa Singakerta terdiri atas perubahan bentuk,
warna, dan bahan kayu yang digunakan. Saluran distribusi kerajinan patung kayu
saat ini didominasi oleh saluran distribusi tidak langsung dengan target market
pengusaha asing dan domestik. Pola konsumsi kerajinan patung kayu sebagian
35
besar
pola konsumsi massal. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
komodifikasi kerajinan patung kayu antara lain faktor internal dan eksternal.
Komodifikasi kerajinan patung kayu dapat menimbulkan dampak terhadap sosial
ekonomi dan sosial budaya masyarakat.
Tulisan Rahayu di atas memiliki perbedaan dengan peneliti dalam subjek
penelitian. Penulis menekankan subjek pada komodifikasi upacara ngaben di
Desa Pakraman Sanur sebagai salah satu kawasan wisata di Bali. Komodifikasi
terhadap upacara ngaben tersebut dilakukan, baik oleh umat Hindu di Sanur
maupun oleh umat Hindu yang berada di luar Sanur yang melakukan pemesanan
terhadap perlengkapan upacara ngaben tersebut dalam sebuah griya di Sanur.
Relevansi tulisan Rahayu dengan penelitian penulis adalah persamaan dalam
konsep dan teori komodifikasi yang tentunya bermanfaat bagi wawasan peneliti
dalam mengkaji komodifikasi upacara ngaben. Perbedaannya terletak dalam
perspektif atau tinjauan. Rahayu menganalis dalam perspektif parisiwisata,
sedangkan penelitian ini ditinjau dari perspektif kajian budaya dengan teori-teori
kritis.
Dalam orasi ilmiah dengan judul Pitra Sukta saat pengukuhan guru besar
tetap di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Titib (2007) mengatakan bahwa
bila diperhatikan dengan seksama, pemujaan kepada roh leluhur di Bali rupanya
lebih dominan dibandingkan dengan pemujaan kepada Tuhan yang Mahaesa,
Sang Hyang Widhi atau para Dewa manifestasi-Nya. Pemujaan kepada roh suci
leluhur tampak dari aktivitas umat Hindu yang melaksanakan upacara Pitra Yajña
dan di samping itu adalah tersebar banyak pura tempat memuja roh leluhur dalam
36
tingkatan yang terkecil yakni sanggah atau pemerajan yang juga sebagai hulunya
pekarangan (halaman rumah) dan dalam tingkatan yang lebih tinggi seperti pura
dadia, ibu, dadia agung, merajan agung, panti, dan pedharman.
Berbeda halnya dengan umat Hindu di India atau di belahan bumi lainnya,
pemujaan kepada roh leluhur tampak lebih sederhana dibandingkan dengan di
Bali. Para roh leluhur dipuja cukup melalui altar di rumah di samping arca devata
yang menjadi istadewata umat yang bersangkutan. Tradisi pemujaan roh leluhur
ternyata telah berlangsung sangat lama yakni sejak perkembangan agama Hindu
di India tertulis di dalam kitab suci Veda tepatnya dalam kitab Rgveda samhita.
Pemujaan itu ternyata berlangsung sampai ke Bali di samping dalam bentuk ritual
(upacara pitra yajna) ternyata beberapa mantra puja, stuti, stava para pendeta di
Bali ditemukan cukup banyak mantra pemujaan kepada roh leluhur yang
digunakan dalam rangka upacara pitra yajña. Selanjutnya tentang upacara dan
upakara yang dipersembahkan dalam upacara Pitra Yajña, baik di India maupun
di Bali terdapat perbedaan yang sangat bervariasi. Variasi atau perbedaannya
sangat tajam. Pelaksanaan upacara Pitra Yajña di Bali tidak jauh maknanya
dengan upacara Pitra Yajña di India. Di India upacara bagi orang yang baru
meninggal dan langsung diupacarai dekat maknanya dengan ngaben di Bali,
upacara pitrapinda dekat maknanya dengan upacara nyekah. Dalam upacara
nyekah atau mamukur, persembahan inti berupa bubur beras yang disajikan
sedemikian rupa tidak terlalu banyak dan juga ditujukan kepada roh leluhur yang
diupacarai.
37
Dalam orasi ilmiahnya tersebut, Titib membandingkan upacara pitra yajña
di Bali dengan di India. Pada dasarnya ada persamaan makna, tetapi upacara
tersebut di India dilakukan lebih sederhana. Inti upacara itu adalah adanya
pembuatan bubur pitara. Setelah upacara ngaben dilanjutkan pula dengan upacara
atma wadana atau di Bali disebut nyekah. Walaupun Titib tidak menyinggung
tentang komodifikasi, tetapi tulisan Titib menambah wawasan penulis tentang
upacara pitra yajña di India yang jauh lebih sederhana pelaksanaannya
dibandingkan di Bali.
Kajian Winarti (2007) dalam tesisnya yang berjudul ”Kremasi dalam
Upacara Pitra Yajña Tinjauan Sosioreligius” mengungkapkan bahwa saat ini
kremasi menjadi salah satu alternatif pilihan bagi sejumlah orang Bali sebagai
cara melaksanakan upacara ngaben. Dipilihnya cara ini karena (1) sang yajamana
mempunyai masalah dengan Banjar/Desa Pakramannya, (2) ketatnya aturan
banjar/desa pakraman sampai akhirnya menghambat orang yang ingin
melangsungkan upacara penguburan mayat atau ngaben, dan (3) karena pilihan
sendiri.
Kajian di atas menunjukkan bahwa telah terdapat pilihan dalam
melaksanakan upacara ngaben bagi umat Hindu yang ada di Bali karena mereka
telah melaksanakannya melalui kremasi dalam sebuah krematorium demi
terlaksananya
penghormatan kepada leluhur dan keharmonisan dengan desa
pakraman, sedangkan penelitian peneliti, upacara ngaben ini disebabkan karena
alasan praktis dan pragmatis.
38
Disertasi Pemayun (2009) yang berjudul ”Komodifikasi Patung Garuda
di Banjar Pakudui Desa Kedisan, Sebuah Kajian Budaya” menjelaskan bahwa
komodifikasi patung garuda terjadi karena ada proses sebagai produksi, ternyata
di dalamnya terdapat sistem produksi yang meliputi benda produksi, di dalamnya
terdapat sistem produksi yang meliputi sistem individu dan sistem berantai untuk
mengejar
produktivitas
agar
cepat mendapatkan
selanjutnya ditukar dengan uang. Selain
hasil produksi untuk
itu, tingkat produktivitas dengan
beragam material jenis kayu yang digunakan menyebabkan harga jual produk
patung garuda berbeda-beda. Di samping itu,
kebutuhan yang mendesak
menyebabkan para pematung melepas atau menjual produk patungnya dengan
harga murah. Pemasaran produk patung garuda mencakup pemasaran di tempat
kerja, pasar seni, gallery, kios seni, dan web-site internet.
Faktor- faktor yang mempengaruhi komodifikasi patung garuda di Banjar
Pakudui, Desa Kedisan, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
ada di dalam
tiap-tiap
pencipta produk komodifikasi patung garuda yang
meliputi munculnya imajinasi baru pembuat patung, motivasi untuk meningkatkan
kebutuhan hidup, aktualisasi diri, dan kreativitas untuk menciptakan yang baru
untuk menunjang kebutuhan hidup, aktualisasi, dan pencitraan diri. Kemudian,
faktor eksternal yang mempengaruhi komodifikasi
patung garuda mencakup
beragamnya permintaan konsumen, perkembangan selera pasar, kondisi
perkembangan pariwisata, dan kondisi ekonomi. Selain itu, tidak adanya standar
harga yang memadai dan
munculnya perantara penjualan patung, menjadi
ganjalan dalam distribusi produk patung garuda kepada konsumen.
39
Dampak komodifikasi patung garuda temuan penelitian ini, mencakup
rendahnya upah pelaku produksi patung, memberikan keuntungan kepada para
penjual, dan konsumen dalam menggunakan produk patung garuda sesuai
kehendaknya. Persaingan antara pematung garuda di sekitar Banjar Pakudui,
Desa Kedisan menyebabkan
munculnya varian-varian patung garuda yang
dihasilkan. Keberagaman ini mengidentifikasikan
bahwa pembuatnya ingin
mnampilkan identitas sebagai pematung yang pada akhirnya mereka berlombalomba membuat modifikasi patung garuda baru dengan imajinasi dan kreativitas
mereka masing-masing untuk menarik minat konsumen sehingga berdampak
kepada sosial budaya dan kebutuhan sosial ekonomi. Berkaitan dengan memaknai
komodifikasi patung garuda, ternyata makna estetika posmodern diterapkan
untuk memperoleh keuntungan individu bagi pemilik modal. Di samping itu,
muncul makna menciptakan peluang kerja bagi masyarakat. Kemudian makna
profan yang mengarah pada nilai jual produk untuk kebutuhan pasar dan makna
kesejahteraan personal yang pada akhirnya mengarah pada pelestarian tradisi
untuk identitas budaya.
Penelitian Pemayun di atas adalah dengan objek patung garuda sedangkan
penulis meneliti upacara ngaben yaitu sebuah upacara di dalam agama Hindu
untuk membakar jenazah. Jadi, penulis meneliti tentang produk religi yang
dikomodifikasi oleh sulinggih selaku produsen di Desa Pakraman Sanur. Tulisan
di atas memberi kontribusi kepada penulis tentang komodifikasi.
Disertasi Kebayantini (2010) berjudul ” Komodifikasi Upacara Ngaben
Gotong Royong di Gerya Tamansari Lingga, Kelurahan Banyuasri, Kabupaten
40
Buleleng” menjelaskan bahwa upacara ngaben gotong royong adalah sebuah
wacana yang diproduksi oleh sulinggih Gerya Tamansari Lingga sebagai sebuah
bentuk pelaksanaan upacara ngaben secara bersama-sama dengan biaya murah
sehingga dapat dijangkau oleh warga masyarakat yang kurang mampu. Upacara
ngaben ini sengaja digagas, diproduksi,
kemudian didistribusikan
diperkenalkan kepada umat secara meluas agar dapat menarik minat
atau
dan mau
mengonsumsinya. Diproduksi dan dilangsungkan di Gerya Tamansari Lingga,
dipimpin (dipuput) langsung oleh sulinggihnya, dan terbuka untuk umum, artinya
siapa saja dapat dan boleh mengonsumsi. Agar dapat mengonsumsi, setiap
konsumen dikenakan biaya yang penghitungannya berdasarkan setiap sawa
(jasad) yang akan diaben. Bentuk komodifikasi upacara ngaben gotong royong
di Gerya Tamansari Lingga dipahami dari kegiatan produksi, distribusi, dan
konsumsi. Berbagai perlengkapan
yang dibutuhkan dalam upacara ngaben
gotong-royong diproduksi atas hubungan-hubungan produksi. Berkenaan dengan
itu setiap objek dianggap sebagai komoditas diproduksi dengan tujuan dijual atau
nilai tukar, bukan semata-mata untuk nilai guna. Para pekerja bekerja dengan
manajemen dan teknologi yang telah diregulasikan dengan tujuan efisiensi dan
efektivitas produksi. Upacara ngaben gotong-royong sebagai komoditas harus
didistribusikan
agar diketahui dan
dapat menarik minat orang lain untuk
mengonsumsi. Berkenan dengan itu, ada beberapa cara yang telah ditempuh,
yaitu melalui dharma wacana, media elektronik, media massa
cetak, dan
komunikasi lisan. Konsumsi upacara ngaben gotong royong menunjukkan
konsumennya yang beragam. Mengonsumsi
upacara ngaben gotong-royong
41
berarti terjadi pembentukan identitas, mengomunikasikan kebersamaan dan
kesederhanaan.
Hasil penelitian juga menunjukkan setidaknya ada tiga faktor penyebab
terjadinya komodifikasi upacara ngaben gotong-royong. (1) Faktor habitus, yaitu
kebiasaan/kecenderungan orang Bali-Hindu melaksanakan upacara ngaben karena
dalam struktur kognitifnya tersimpan pandangan dan kepercayaan bahwa upacara
ngaben adalah sebagai upacara kematian, sebagai simbolisasi penyucian atman,
dan sebagai bentuk sradha-bhakti kepada orang tua/leluhur yang telah meninggal
dunia. (2) Faktor modal, yaitu modal budaya dan simbolik yang dikuasai
sulinggih Gerya Tamansari Lingga, seperti
benda-benda/kode-kode budaya,
pengetahuan ilmiah, pengetahuan keagamaan, status sulinggih, dan legitimasi
serta kewenangan di bidang keagamaan. Melalui ngaben gotong royong sulinggih
dapat merebut dan mengonversi modal lainnya. Pemilikan dan penguasaan atas
sejumlah modal, menempatkan
sulinggih Gerya Tamansari Lingga di posisi
hierarkhis tertinggi dan kekuasaannya terejawantahkan.
(3) Faktor ranah, antara lain
modernitas sosial, terdapat
di Singaraja terjadi perkembangan
individu-individu yang memiliki keterbatasan
ketrampilan dan pengetahuan tentang upacara ngaben, keterbatasan ekonomi,
waktu, tenaga, dan pengaruh ideologi pasar menyebabkan mereka memilih
mengonsumsi upacara ngaben gotong royong.
Komodifikasi upacara ngaben gotong royong dapat dimaknai melalui dan
di dalam simbol-simbol atau tanda yang ada di dalamnya. Ada makna pendalaman
42
nilai-nilai religius, makna pelemahan tradisi, makna egalitarian, makna efisiensi,
dan makna kesejahteraan
Disertasi di atas
menjelaskan tentang komodifikasi upacara ngaben
gotong-royong di sebuah griya di Singaraja sedangkan penelitian penulis adalah di
sejumlah griya di Desa Pakraman Sanur yang melaksanakan komodifikasi
upacara ngaben. Karakteristik dan habitus yang berbeda di dua lokasi tersebut
menyebabkan penelitian penulis berbeda pula karena di Desa Pakraman Sanur
para konsumen adalah para sisya griya itu sendiri. Hubungan Siwa sisya yang
demikian erat menyebabkan sisya terhegemoni oleh Siwanya.
Berdasarkan kajian terhadap beberapa pustaka yang telah disebutkan,
belum ada yang meneliti tentang komodifikasi upacara ngaben di Desa Pakraman
Sanur Denpasar dalam era globalisasi. Dengan demikian, penelitian tersebut
menjadi penting untuk dilaksanakan dengan pendekatan kajian budaya.
2.2 Konsep
Dalam sebuah penelitian konsep sangat penting agar dapat membangun
teori. Ahimsa Putra (2001:6) mengatakan bahwa sebuah teori dapat dibangun
apabila telah ada pemahaman dengan baik tentang konsep-konsep analitis serta
diketahui cara penerapannya dalam penelitian.
Dalam penelitian ini
akan
dikemukakan tiga konsep yang mendukung peneltian, yaitu konsep komodifikasi
upacara ngaben, konsep Desa Pakraman Sanur, dan konsep era globalisasi.
43
2.2.1 Komodifikasi Upacara Ngaben
Piliang (2006:21) mengatakan bahwa komodifikasi (comodification)
adalah sebuah proses menjadikan sesuatu
sehingga kini menjadi
yang sebelumnya bukan komoditi
komoditi. Sementara itu Barker (2005: 517)
mendefinisikan komodifikasi
adalah proses
yang diasosiaikan dengan
kapitalisme. Objek, kualitas, dan tanda dijadikan sebagai komoditas
dan
komoditas adalah sesuatu yang tujuan utamanya adalah untuk dijual di pasar.
Marx memberi makna, apa pun yang diproduksi dan untuk diperjualbelikan.
Produk dari kerja yang dibuat bukan untuk dipergunakan, tetapi untuk
diperjualbelikan. Sebagai komoditas ia tidak hanya penting untuk berguna, tetapi
juga berdaya jual ( Smith & Evans, 2004:32-33).
Komodifikasi tidak lain adalah menjadikan sesuatu secara langsung dan
sengaja, dengan penuh kesadaran dan penghitungan matang, sebagai sebuah
komoditas belaka. Dengan komodifikasi, setiap hal dapat menjadi produk yang
siap untuk dijual, mulai dari benda-benda konkret sampai keabstrakankeabstrakan yang tersembunyi, dari kapal terbang sampai bagian-bagian “tubuh
privat” (Mudana, 2005).
Komodifikasi memiliki makna yang luas dan tidak hanya menyangkut
masalah produksi komoditas tentang barang dan jasa yang diperjualbelikan.
Permasalahan bagaimana barang dan jasa tersebut didistribusikan dan dikonsumsi
termasuk juga di dalamnya. Menurut Fairclough (1995: 207) komodifikasi adalah
proses. Domain-domain dan institusi-institusi sosial yang perhatiannya tidak
hanya memproduksi komoditas dalam pengertian ekonomi yang sempit mengenai
44
barang-barang yang akan dijual, tetapi bagaimana diorganisasikan dan
dikonseptualisasikan dari segi produksi, distribusi, dan konsumsi komoditas.
Secara operasional, komodifikasi yang dimaksud adalah menjadikan
upacara ngaben sebagai komoditas yaitu dijual kepada konsumen (masyarakat
umum dan sisya) oleh Pedanda di sebuah griya. Pedanda selaku produsen dengan
perhitungan matang telah mengorganisasikan produk yang akan didistribusikan
kepada konsumen untuk memenuhi pola konsumsi masyarakat.
Upacara ngaben terdiri atas kata upacara dan ngaben. Menurut Keputusan
Pesamuhan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat di Denpasar tanggal
4 Nopember 2007 upacara berasal dari bahasa Sanskerta suku kata “upa” yang
berarti “hubungan” dan “car” yang berarti ’gerak’ atau ’action’ mendapat akhiran
’a’ menjadi kata benda ”cara” yang berarti ’gerakan’. Jadi, upacara
adalah
sesuatu yang ada hubungannya dengan gerakan (pelaksanaan) dari suatu yajña
(tindakan). Sejalan dengan itu, Titib (1998: 147) menjelaskan bahwa secara
harfiah tata pelaksanaan suatu yadnya
disebut upacara. Kata upacara dalam
bahasa Sanskerta berarti mendekati. Dalam kegiatan upacara agama diharapkan
terjadinya suatu upaya untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi Wasa,
kepada sesama manusia, kepada alam lingkungan, pitara dan resi. Pendekatan itu
diwujudkan dengan berbagai bentuk persembahan dan tata pelaksanaan
sebagaimana yang telah diatur dalam ajaran agama Hindu. Kesucian adalah sifat
Tuhan. Orang harus suci lahir dan batin bila ingin memanjatkan doa dan
mendekatkan diri kepada Tuhan. Upacara memberikan identitas tersendiri bagi
45
agama-agama tertentu yang membedakannya dengan agama yang lainnya. Tiaptiap agama memiliki aturan dalam tata pelaksanaan upacaranya.
Dalam melaksanakan upacara yadnya, umat Hindu (di Bali) menggunakan
sarana yang disebut upakara. Kata upakara berasal dari bahasa Sansekerta suku
kata “upa” yang artinya ’hubungan dengan’, “kara” yang artinya ’pekerjaan
tangan’. Jadi, upakara berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan
tangan yang pada umumnya berbentuk pengolahan materi, seperti daun, kembang,
buah, kayu, air, dan api (Keputusan Pesamuhan Agung PHDI Pusat, 2007).
Pada umumnya upakara adalah berbentuk materi. Bentuk materi upakara
itulah yang disebut banten (Surayin, 1992:4). Oleh karena banten di Bali
merupakan ciri khas yang unik yang mengaitkan daya cipta yang religius yang
mengandung magis, yang mengandung budaya seni dan adat, yang berciri desa,
kala, dan patra serta nista, madya, dan utama, maka terungkaplah suatu nilai luhur
yang tiada tandingannya. Banten membuat orang
terpesona dan memburu
keinginan orang yang mempunyai daya seni dan keagungan yang luhur sehingga
memberi andil untuk menjadikan Bali terkenal di seluruh dunia.
Pemeluk agama Hindu di Bali
mengenal sarana-sarana sebagai
perlengkapan upacara agama Hindu. Sarana upacara agama Hindu terdiri atas
berbagai jenis lambang yang mencakup tataran aksara, gambar lambang, dan
berbagai jenis bentuk sesaji di dalam banten. Sarana upacara tersebut diyakini
memiliki kekuatan yang berhubungan dengan religiusitas dan dianggap sebagai
sesuatu yang sakral oleh pemeluk agama Hindu. Upacara diimplementasikan
pelaksanaannya melalui yajña. Pengertian yajña menurut Titib (1998:147) berasal
46
dari kata ”yaj” (bahasa Sanskerta)
yang berarti ”pemujaan, memuja,
mengorbankan, memberi”. Yajña berarti mengorbankan, berkorban. Sebagai suatu
pemujaan yang memakai korban suci, maka yadnya memerlukan dukungan sikap
mental
yang
suci
pula,
di
samping
adanya
sarana
yang
akan
dipersembahkan/dikorbankan. Makna dan tujuan pelaksanaan yadnya adalah
sebagai pengejawantahan ajaran Veda, sebagai cetusan rasa terima kasih, untuk
meningkatkan kualitas diri, sebagai salah satu cara untuk menghubungkan diri
dengan Tuhan yang dipuja dan untuk menyucikan.
Jenis atau penggolongan yadnya
yang telah umum dikenal adalah
berdasarkan tujuan atau sasaran yadnya itu dipersembahkan. Di bawah ini dipetik
penjelasan Agastya Parwa tentang jenis dan penggolongan yadnya.
”Kunan ikan yajña lima pratekanya, lwirnya: deva yajña, rsi yajña,
pitra yajña, bhuta yajña, menusa yajña; nahan tan panca yajña rin
loka. Deva yajña naranya taila pwa krama ri bhatara siwagni
makagelaran in mandala rin bhatara, yeka deva yajña naranya, rsi
yajña naranya, kapujan san pandita mwan san wruh ri kalinganin
dadi wwan ya rsi yajña naranya. Pitra yajña naranya tilemin bwat
hyan siwasraddha, yeka pitra yajña naranya. Butha yajña naranya
tawur wwan kapujan in tuwuh ada pamuwan kunda wulan makadi
walikrama, ekadasa dewata mandala, ya bhuta yajña naranya. Aweh
amanan rin kraman ya ta manusa yajña naranya; ika ta liman wiji i
sdennin lokacara manabhyasa ika makabheda lima.”
Terjemahannya:
’Adapun yang disebut yadnya lima bentuknya, yaitu dewa yadnya,resi
yadnya, pitra yadnya, bhuta yadnya, manusa yadnya semuanya disebut
panca yadnya. Dewa yadnya adalah upacara persembahan kepada api
suci Siwa (Siwagni) dengan membuat mandala yadnya, resi yadnya
adalah pemujaan kepada para pendeta dan orang-orang yang
memahami makna hakikat hidup, pitra yadnya adalah pemujaan
kepada roh suci leluhur, bhuta yadnya adalah tawur dan upacara
kepada tumbuh-tumbuhan, antara lain dalam bentuk upacara
47
walikrama dan Eka Dasa Rudra dan memberi makanan kepada
masyarakat itu disebut manusa yadnya; itulah disebut panca yadnya,
lima jumlahnya, pelaksanaannya berbeda satu sama lain.’
Kelima yadnya tersebut
dilaksanakan melalui
upacara dan upakara
sebagai dasar pengembalian tiga hutang manusia (Tri Rna). Umat Hindu di Bali
menganut kepercayaan adanya roh masih hidup setelah badan kasar takbergerak
dan terbentang kaku. Untuk itu dilaksanakan upacara yang khas yaitu upacara
penyelenggaraan jasat yang berpulang yang disebut Pitra yadnya (Surayin,
2002:1).
Menurut Wiana (2004: 25-27; Purwita, 1992:4) ) upacara ngaben
termasuk ke dalam upacara pitra yajña Ngaben berasal dari bahasa Bali dari asal
kata “api” mendapat prefiks nasal “ng” dan sufiks “an” sehingga menjadi
“ngapian”, kemudian mengalami sandi sehingga menjadi “ngapen”. Terjadi
perubahan bunyi konsonan “p” menjadi “b” menurut hukum perubahan bunyi “p,
b, m, w (rumpun huruf bilabial) sehingga kata “ngapen” berubah menjadi
“ngaben”. Kemudian kata ngaben diberi arti ’menuju api’. Dalam ajaran agama
Hindu api adalah lambang kekuatan Dewa Brahma, jadi ”ngaben” berarti ’menuju
Brahma’. Maksud dan tujuan ngaben adalah melepaskan atma dari unsur Panca
Maha Butha dan mengantarkan sang atman menuju alam Brahman atau alam
ketuhanan
Dilihat dari keadaan jasat orang yang di-aben, maka upacara ngaben itu
dapat dibagi menjadi tiga jenis. Ada yang disebut sawa wadana, asti wadana, dan
swasta. Perbedaan jenis ngaben tersebut terletak pada pangawak. Dalam ngaben
sawa wadana ada jasat (sawa) orang yang baru meninggal sebagai pangawak.
48
Ngaben asti wadana adalah upacara ngaben yang menggunakan tulang belulang
orang yang sudah lama meninggal dan sudah lama dikuburkan. Tulang belulang
itu diangkat dari kuburan dan tulang belulang yang tersisa itulah yang dijadikan
pangawak. Ngaben swasta adalah upacara ngaben yang
tidak ditemukan
jenazahnya, pangawaknya menggunakan simbol dalam bentuk Tirtha atau Kusa
( daun alang-alang).
Dalam lontar Sundarigama (Wiana, 2004:27)
pe-ngaben-an dalam
upacara pitra yadnya dapat dibedakan menjadi lima tingkatan yang disebut Panca
Wikrama. Lima jenis ngaben tersebut dari yang paling utama sampai yang
upacaranya sederhana. (1) Sawa prateka, upacara ngaben ini dari segi bentuk
upacaranya merupakan ngaben yang paling besar secara sekala. Ngaben sawa
prateka ini arah surga yang dituju disebutkan ring daksina artinya ’di Selatan’.
Dewatanya Dewa Brahma, wikunya Bhagawan Rama Parasu, tirtanya Merta
Kamandalu, bidadarinya Dewi Gagar Mayang. Menggunakan wadah atau bade
dan damar kurung, patulangan, gamelan gambang, menggunakan banten teben,
panjang ilang yang lengkap. (2) Sawa wedana, menggunakan damar angenan,
pengawak kayu cendana, surganya ring pascima (Barat), dewatanya Dewa
Mahadewa, bidadarinya Dewi Sulasih, wikunya Bhagawan Kanwa, tirtanya Merta
Kundalini, gamelan gong trompong, boleh memakai wadah atau bade dan damar
kurung. (3) Pranawa, boleh menggunakan wadah dan juga boleh tidak, memakai
banten teben, damar kurung dan patulangan, pangawak tirta. Cukup memakai
bale salunglung, surganya ring uttara dewatanya Dewa Wisnu, bidadarinya Dewi
Tunjung Biru, wikunya Bhagawan Jenaka, tirtanya Merta Pawitra. Gamelannya
49
Saron. (4) Ngaben swasta, tidak menggunakan wadah atau bade, tidak
menggunakan damar kurung, tanpa banten teben, dan tanpa patulangan. Saji
lengkap dengan nasi angkeb, caru ayam putih lima ekor, sorganya ring wetan
(Timur), dewatanya Sang Hyang Iswara, bidadarinya Dewi Supraba, wikunya
Bhagawan Bhrgu. Menggunakan tirta Maha Merta dan gamelan Turas. (5)
Ngaben mitra yajña, dari segi bentuk ngaben inilah yang paling sederhana, tetapi
dari segi spiritual paling utama. Ngaben ini jarang dianjurkan oleh para pendeta
kecuali Ida Pedanda Made Sidemen dari Griya Taman Sanur. Setelah beliau tiada
penggunaan ngaben mitra yajña yang paling sederhana ini hampir-hampir tidak
terdengar lagi dianjurkan oleh para Pandita. Ngaben ini dengan pangawak
Daksina, sorganya ring madhya (tengah), dewatanya Dewa Siwa, bidadarinya
Dewi Supini, wikunya Bhagawan Wararuci, tirtanya Sanjiwani, cukup memakai
saji lengkap dan nasi angkeb.
Yang dimaksud upacara ngaben dalam penelitian ini adalah upacara
pembakaran jenazah yang dilengkapi dengan
sarana banten, dipimpin oleh
yajamana (Pandita) yang dlaksanakan oleh manggala upacara (keturunan) yang
akan di-aben baik ngaben itu dilaksanakan dengan ngwangun maupun
mapranawa.
Jadi, yang dimaksud komodifikasi upacara ngaben dalam penelitian ini
adalah suatu proses
menjadikan sarana upacara ngaben
sebagai barang
dagangan, diperjualbelikan. Perwujudan upacara ngaben dalam era globalisasi
merupakan suatu upaya sadar dengan perhitungan matang seperti griya-griya di
Desa Pakraman Sanur memproduksi suatu rangkaian upacara ngaben menjadi
50
sebuah komoditi yang kemudian diperjualbelikan kepada sisya dan umat Hindu
pada umumnya. Sebagai konseptor dan organisator griya di Sanur mempunyai
tujuan untuk mencari keuntungan. Dengan demikian
upacara ngaben yang
dilaksanakan, baik ngaben perorangan maupun dengan ngiring di griya sudah
dimasuki unsur-unsur ekonomi karena hampir semua upakara tersebut diperoleh
dengan membelinya di griya tersebut. Di samping itu, karena Desa Pakraman
Sanur merupakan bagian dari kawasan wisata Sanur, maka upacara ngaben itu
pun menjadi dikomersialisasikan kepada wisatawan. Dengan demikian, upacara
ngaben tersebut dikemas untuk memenuhi selera pasar dalam konteks popularitas,
pencitraan diri, kelompok, lembaga, dan kegiatan pariwisata yang pada
hakikatnya bersifat sebagai komoditas.
2.2.3 Desa Pakraman Sanur
Raka
(Gorda, 1999:2)
mengatakan bahwa Desa Adat adalah suatu
kesatuan wilayah yang warga negaranya secara bersama-sama mengonsepsikan
dan mengaktifkan upacara keagamaan untuk memelihara kesucian desa. Rasa
kesatuan sebagai warga Desa Adat terikat karena adanya karang desa (wilayah
teritorial), awig-awig Desa Adat (sistem aturan desa dengan peraturan
pelaksanaannya). Di samping itu, adanya Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa
sebagai suatu sistem tempat persembahyangan bagi warga Desa Adat).
Dari deskripsi Desa Adat tersebut di atas, terungkap bahwa fungsi utama
Desa Adat adalah mengonsepkan dan mengaktifkan upacara keagamaan untuk
memelihara kesucian desa. Pura Kahyangan Tiga merupakan unsur yang mengikat
51
rasa kesatuan warga Desa Adat. Swellengrebel (1960) dan Covarrubias (1972)
dalam Gorda (1992:2) mengatakan bahwa kesatuan pemujaan di Pura Kahyangan
Tiga merupakan unsur pengikat sebuah Desa Adat. Dengan demikian, Desa Adat
merupakan organisasi khusus orang Bali yang beragama Hindu.
Sejak dikeluarkannya Perda Propinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang
Desa Pakraman, sebutan ”Desa Adat” diganti menjadi ”Desa Pakraman. Desa
Pakraman adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Propinsi Bali yang
mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan masyarakat umat
Hindu secara turun temurun dalam ikatan kahyangan tiga atau kahyangan desa
yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak
mengurus rumah tangganya sendiri.
Dengan memperhatikan pengertian di atas, maka secara sederhana dapat
dikatakan bahwa Desa Adat atau Desa Pakraman merupakan organisasi
masyarakat Hindu di Bali yang berdasarkan kesatuan wilayah tempat tinggal
bersama dan spiritual keagamaan yang paling mendasar bagi pola hubungan dan
pola interaksi sosial masyarakat Bali. Sebuah Desa Adat/Pakraman, terdiri atas
tiga unsur, yaitu (1) unsur parahyangan (berupa pura atau tempat suci agama
Hindu), (2) unsur pawongan ( warga desa yang beragama Hindu), dan (3) unsur
palemahan (wilayah desa yang berupa karang ayahan desa dan karang
gunakaya).
Desa Pakraman Sanur merupakan satu dari tiga Desa Pakraman yang
terdapat di Kelurahan Sanur. Dua Desa Pakraman lainnya adalah Desa Pakraman
Intaran dan Penyaringan. Keunikan Desa Pakraman di Sanur adalah keterikatan
52
sebagai krama desa di Pura Kahyangan Tiga yang ternyata setiap upacara
piodalan di pura-pura tersebut krama desa tidak mengeluarkan biaya. Yang
mengeluarkan biaya upacara piodalan adalah Desa Pakraman dan Griya Jro Gede
Sanur. Jadi, dari segi finansial krama Desa Pakraman tidak mengeluarkan biaya
hanya tenaga untuk ngayah di Pura Kahyangan Tiga tersebut.
2.2.4 Era Globalisasi
Era berarti suatu masa, zaman atau periode tertentu, yang dalam penelitian
ini adalah masa atau zaman globalisasi. Istilah globalisasi berasal dari kata globe
atau global yang artinya dunia atau mendunia. Istilah globalisasi
kemudian
menjadi fenomena para pakar dalam pengkajian berbagai disiplin termasuk dalam
kajian budaya. Konsep ini dibicarakan dalam ruang dan waktu dan dimaknai
berbeda-beda, tetapi cenderung kepada konsep ekonomi karena salah satu wujud
globalisasi adalah kapitalisme
Tilaar (2003:190) mengatakan bahwa globalisasi merupakan suatu proses
yang dinamis dari berbagai sektor dalam sejarah manusia. Dari segi proses
globalisasi ditandai dengan pesatnya perkembangan kapitalisme, yakni kian
terbukanya pasar global yang dalam sistem ekonomi
hanya mengakui satu
hukum, yaitu hukum tawar menawar di pasar. Salah satu wujud globalisasi adalah
kapitalisme. Kapitalisme adalah ekonomi bebas tidak ada pembatasan, orang
boleh membeli dan menjual bebas dari pembatasan produksi artinya orang bebas
memproduksi apa pun yang dikehendakinya, untuk mncari keutungan yang lebih
besar. Hukum yang lain dari kapitalisme adalah persaingan dan itu berarti
53
menurut Abdullah (2006: 165) memerlukan strategi pengumpulan kekayaan bagi
berbagai kelompok masyarakat.
Banyak proses globalisasi berciri ekonomi dan globalisasi mengacu pada
sekumpulan aktivitas ekonomi sebagai praktik-praktik kapitalisme. Bukan saja
masalah ekonomi, tetapi terkait juga dengan isu-isu makna kultural dengan adanya
proses-proses kultural global (Barker, 2005:150-151).
Menurut Putra (1998:3-4) globalisasi dalam arti yang nyata berarti
kegiatan yang mengabaikan batas-batas negara. Globalisasi, yaitu suatu gerakan
internasional yang mengarah pada kerjasama untuk mewujudkan tujuan-tujuan
bersama. Akan tetapi, materi globalisasi sesungguhnya bukanlah kerjasama
melainkan kompetisi secara jujur, terbuka, dan nondiskrimimatif. Globalisasi
melahirkan paham globalisme atau isme tentang kepentingan bersama serta usahausaha bersama yang memandang manusia sebagai masyarakat universal.
Ritzer dan Godman (2007:598) mengatakan bahwa
globalisasi adalah
satu kata yang menjadi pusat ketertarikan, tetapi juga kecemasan publik.
Kecemasan
itu
berkaitan
dengan
sifat
karakteristik
globalisasi
yang
mendramatisasi seluruh aspek kehidupan manusia di seluruh dunia, tetapi tidak
dirasakan.
Kemudian
kalau mengacu pada konsep
Appadurai,
globalisasi
terkait
dengan
etnoscape
globalisasi menurut
(pergerakan
manusia),
mediascape (pergerakan media), technoscape (pergerakan teknologi), financscape
( pergerakan uang), dan ideoscape (pergerakan ideologi).
Secara umum Waspodo ( 2004:88-91) membagi era globalisasi dalam tiga
fase atau tahapan-tahapan perkembangan. Fase pertama dimulai sejak abad ke-15
54
yang dimulai dengan ekspansi negara-negara Eropa ke beberapa wilayah Asia,
Afrika, dan Amerika Latin. Fase kedua disebut sebagai era pembangunan atau era
developmentalisme. Era ini ditandai dengan masa kemerdekaan Negara-negara
yang dikoloni. Kemudian fase ketiga terjadi menjelang
abad ke-21 atau
penghujung abad ke-20 ditandai dengan liberalisasi di segala bidang dan
dipaksakan melalui transnasional, lembaga-lembaga keuangan global.
Era globalisasi yang dimaksud di sini adalah
fase abad ke-21
atau
penghujung abad ke-20 yang ditandai dengan kecenderungan kehidupan pada
konsep ekonomi yang terwujud dalam kapitalisme. Hal ini dapat dirujuk pada
masyarakat Desa Pakraman Sanur yang mulai melaksanakan komodifikasi saat
booming pariwaisata pada era 1980-an dan lebih kompak melaksanakan mulai
tahun 1990-an sampai keberadaannya pada abad ke-21 ini.
2.3 Landasan Teori
Pada dasarnya yang disebut teori adalah asas, konsep dasar, pendapat yang
telah menjadi hukum umum sehingga dipergunakan untuk membahas suatu
peristiwa atau fenomena dalam kehidupan manusia. Menurut Kerlinger (2004:1617) sebuah teori adalah seperangkat konstruk atau konsep, batasan, dan proposisi
yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan merinci
hubungan-hubungan antara variabel dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi
fenomena itu.
55
Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori-teori kritis
cultural studies. Adapun teori-teori yang digunakan, yaitu (1) teori komodifikasi ;
(2) teori hegemoni; (3) teori praktik ; dan (4) dekonstruksi.
2.3.1 Teori Komodifikasi
Teori komodifikasi gejalanya dapat dirujuk dari pemikiran Karl Marx dan
George Simmel (Turner, 1992: 115-132) yang sepakat bahwa akibat ekonomi
uang yang berdasarkan semangat menciptakan keuntungan yang sebanyakbanyaknya mengakibatkan munculnya gejala komodifikasi di berbagai sektor
kehidupan. Komodifikasi merupakan suatu konsep yang luas, tidak hanya
menyangkut masalah produksi komoditas dalam pengertian perekonomian yang
sangat sempit tentang barang-barang yang diperjualbelikan. Permasalahannya
juga menyangkut pendistribusian barang-barang tersebut dan barang tersebut
dikonsumsi.
Komodifikasi memunculkan budaya populer yang berawal dari konsumsi
massa,
masyarakat
komoditas
atau
masyarakat
konsumenlah
sebagai
penyebabnya. Lebih lanjut menurut Piliang (1999: 245-246) bahwa perkembangan
masyarakat postindustri dan kebudayaan postmodern tidak dapat dipisahkan dari
perkembangan konsumerisme dalam diskursus kapitalis mutakhir. Dalam
pengertian masyarakat posindustri juga masyarakat konsumen, berkenaan dengan
masyarakat konsumen, mereka lebih menyenangi hasil produksi pabrik atau
massal dibandingkan dengan yang mereka hasilkan sendiri.
56
Menurut Adorno ( Piliang, 2003: 94-95) komodifikasi tidak saja menunjuk
pada barang-barang kebutuhan konsumerisme, tetapi telah merambat ke bidang
seni dan kebudayaan pada umumnya. Apa yang dilakukan oleh masyarakat
kapitalisme terhadap kebudayaan adalah menjadikannya patuh pada hukum
komoditi kapitalisme. Masyarakat seperti ini hanya menghasilkan kebudayaan
industri (culture industry) satu bentuk kebudayaan yang ditujukan untuk massa
dan produksinya berdasarkan mekanisme kekuasaan sang produser dalam
penentuan bentuk, gaya, dan maknanya.
Perkembangan
masyarakat
konsumen
mempengaruhi
cara-cara
pengungkapan nilai estetik. Perkembangan tentang model konsumsi baru dalam
konsep nilai estetik sangat penting karena terjadi perubahan mendasar terhadap
cara dan bentuk hasil produksi. Produsen penghasil suatu produk dituntut
kreativitasnya untuk merekayasa dan menyesuaikan dengan selera pasar. Dalam
membentuk masyarakat konsumen yang mengarah pada budaya populer,
setidaknya ada tiga kekuasaan yang mempengaruhinya yaitu: kekuasaan kapital,
produser, dan media massa (Piliang, 1999:246).
Dalam kaitan dengan tema penelitian ini, upacara ngaben dengan berbagai
peralatannya telah muncul menjadi barang dagangan atau diperdagangkan dengan
suatu jaringan antara elemen-elemen yang berkepentingan. Di sini peralatan
upacara tidak lagi dikerjakan secara gotong royong seperti sebelumnya, tetapi
muncul dalam bentuk-bentuk jasa yang diperdagangkan
Komodifikasi upacara ngaben di Desa Pakraman Sanur telah dikemas
oleh Pedanda di griya yang melakukan kemasan
komoditi terhadap upacara
57
tersebut. Mereka dengan perhitungan matang telah mengorganisasikan dan
memenejemennya sehingga menjadi satu paket upacara ngaben, antara upakara,
upacara, dan pemimpin upacara yaitu Pedanda itu sendiri.
Dalam penelitian ini teori komodifikasi diposisisikan sebagai teori payung
dan digunakan sebagai landasan kajian untuk membedah rumusan masalah yang
telah ditetapkan. Upacara ngaben dapat dikomersialisasikan untuk kepentingan
konsumen yaitu masyarakat Sanur dan masyarakat Bali akibat budaya instan
dapat memesan (made to order ) sarana upacara ngaben di Griya para Pedanda.
2.3.2 Teori Hegemoni
Gramsci dengan teorinya ini menyatakan bahwa hegemoni merupakan
sistem kekuasaan yang didasarkan pada konsensus yang diciptakan atau diajarkan
oleh penguasa dalam suatu Negara. Kekuasaan Negara menurut Gramsci dapat
dikaji dari dua hal pokok, yaitu (1) oposisi kekuasaan yang berorientasi pada
kekuasaan yang pernah eksis sebelumnya, (2) oposisi masyarakat baru yakni
kelompok masyarakat yang kepentingannya sudah sejalan dengan kekuasaan
atau penguasa. Dalam teori hegemoni ini disebutkan bahwa ada kecenderungan
lembaga Negara (penguasa) melakukan kekuasaan di luar wilayah privat yakni
adanya campur tangan pemerintah (penguasa) di luar wilayah kekuasaannya.
Teori Hegemoni dikenalkan oleh filsuf Marxis Italia Antonio Gramsci
(1891-1937). Hegemoni yang berasal dari bahasa Yunani “Hegeisthai” artinya
’pemimpin atau kepemimpinan’, pertama kali digunakan dalam buku Antonio
Gramsci berjudul Selections from Prison Notebooks. Menurut Simon ( 1999:20)
58
penggunaan kata hegemoni dalam pengertian Gramsci harus dibedakan dari
makna asalnya dalam bahasa Yunani, yaitu penguasaan satu bangsa atas bangsa
lain. Mengutip pendapat Gramsci dalam buku tersebut, (Sugiono, 2007:31;
Barker,2005 467) mengemukakan bahwa teori hegemoni Gramsci dibangun di
atas premis pentingnya ide-ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka
dalam kontrol sosial politik. Di mata Gramsci agar pihak yang dikuasai mematuhi
penguasa,
yang
dikuasai
tidak
hanya
harus
merasa
mempunyai
dan
menginternalisasi nilai-nilai dan norma penguasa, tetapi lebih dari itu mereka juga
harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah yang dimaksudkan
dengan hegemoni atau menguasai dengan kepemimpinan moral dan intelektual
secara konsesual. Dalam konteks ini, Gramsci secara berlawanan mendudukkan
hegemoni satu bentuk supremasi satu kelompok atau beberapa kelompok atas
yang lainnya, dengan bentuk supremasi lain yang dinamakan “dominasi”, yaitu
kekuasaan yang ditopang oleh kekuatan fisik.
Ideologi memegang peranan penting dalam teori hegemoni karena teori
hegemoni ingin merevisi kelemahan ideologi Marxisme yang berkaitan dengan
kebudayaan sebagai sebuah ideologi. Menurut Gramsci kehidupan manusia tidak
ditentukan oleh keadaan individual, tetapi oleh kesadaran sosial. Individu tidak
mendahului kondisi sosial, setiap subjeknya hanya berfungsi sebagai agen dari
sistem sosial yang sedang berlangsung.
Konsep inilah yang pada akhirnya
mengarah pada (1) ide kelas yang berkuasa, jelas yang merupakan kekuatan
material dan dengan demikian merupakan kekuatan intelektual, ide dominan
59
diciptakan demi kepentingan kelas yang berkuasa dan (2) dikotomi yang sangat
terkenal yang disebut model superstruktur ideologis dan infrastruktur material.
Gramsci membedakan dominasi (kekuasaan) dengan kepemimpinan moral
dengan intelektual. Menurut Gramsci suatu kelompok sosial bisa bahkan harus
menjalankan kepemimpinan sebelum merebut kekuasaan pemerintahan (hal ini
jelas merupakan syarat utama untuk memperoleh kekuasaan tersebut), kesiapan
itu pada gilirannya menjadi sangat penting ketika kelompok itu menjalankan
kekuasaan bahkan seandainya kekuasaan tetap berada di tangan kelompok, maka
mereka harus tetap memimpin.
Dengan demikian, hegemoni
melainkan
hubungan
persetujuan
bukanlah dominasi dengan kekuasaan
dengan
menggunakan
pendekatan
kepemimpinan politik dan ideologi. Hegemoni adalah organisasi konsensus
(Simon, 2004:19).
Dikaitkan dengan tema penelitian ini bahwa kepercayaan kepada pandita
(pedanda) yang mampu menyelesaikan segala macam upacara, dengan adanya
pandangan bahwa semua itu dapat dibayar dengan uang telah menghegemoni
pikiran masyarakat di Desa Pakraman Sanur atau para sisya dari Griya tersebut
Dalam penelitian ini teori hegemoni digunakan untuk membedah masalah
kedua karena Pedanda dengan kekuasaannya dapat menghegemoni masyarakat
yang memesan banten di Griya
dari mulai nunasang banten sehingga upacara
ngaben menjadi semakin mahal dan upacaranya adalah upacara besar.
Dalam era globalisasi ini
negara-negara besar memiliki kekuasaan di
bidang politik, ekonomi, dan budaya yang dominan sehingga
mempengaruhi
60
prilaku masyarakat di negara berkembang secara tidak terkendali. Pengaruhnya
yang besar terutama ditunjukkan dari kekuatan modal yang bersumber dari dunia
internasional dalam pembangunan di bidang pariwisata
yang akhirnya
mempengaruhi gaya hidup masyarakat (Ratna, 2007:185).
Abdullah (2006:17) mengatakan bahwa perubahan gaya hidup masyarakat
khususnya di perkotaan memberikan dampak yang luas terutama ditinjau dari
kenyamanan hidup. Tidak semua masyarakat menikmati manfaat kapitalisme
global, hanya sebagian kecil sehingga yang mendapatkan manfaat akan meraih
keuntungan dari arus modal global sehingga dominasi terjadi antara kelompok
kaya terhadap kelompok miskin.
Dalam konteks komodifikasi upacara ngaben di Desa Pakraman Sanur
dalam era globalisasi, Griya-griya yang memiliki Pedanda dengan modal
simbolik yang dimiliki telah melakukan praktik hegemoni terhadap sisya atau
masyarakat umum. Oleh karena dengan kekuasaan kapital sebagai Siwa dan
Pedanda dengan leluasa mereka memainkan pasar dalam hal upacara ngaben.
Sisya akan menerima dengan persetujuan apa pun kata Siwa karena hubungan
yang dibina sejak laluhurnya dulu membawa keterikatan mereka dalam sebuah
Griya terutama dalam hal upacara termasuk dalam hal ini upakara-nya.
Berdasarkan teori hegemoni, komodifikasi upacara ngaben di Desa
Pakraman Sanur Denpasar akan ditelaah secara mendalam untuk memahami
hegemoni Pedanda di sebuah griya dalam memanfaatkan peluang pasar yang
dikaitkan dengan ideologi dominan yang dibawa oleh arus globalisasi seperti
materialisme, konsumerisme, dan hedonisme yang mempengaruhi gaya hidup
61
masyarakat. Dengan demikian, maka teori hegemoni digunakan sebagai landasan
kajian untuk mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan komodifikasi upacara
ngaben.
2.3.3 Teori Praktik
Pierre Bourdieu mengemukakan secara singkat tentang teori praktik
(practise) dan keterlibatan si subjek dalam proses konstruksi budaya. Teori
praktik tersebut menggugat subjektivisme yang meletakkan subjek intelektual
pada peran utama pembentukan dunia tanpa memperhitungkan konteks ruang dan
waktu yang melatarbelakanginya dan objektivisme yang dianggap tidak
memperhitungkan peran dan posisi subjek intelektual sosial dalam pembentukan
struktur dan praktik sosial. Dalam rumusannya tentang teori praktik tersebut
Bourdieu menyatakan bahwa
praktik sosial sebagai hasil dinamika dialektis
antara internalisasi eksterior dengan eksternalisasi interior, atau dinamika dialketis
antara internalisasi yang dialami dan diamati dari luar diri pelaku sosial dengan
pengungkapan dari segala sesuatu yang telah terinternalisasi dan menjadi bagian
dari diri pelaku sosial.
Apabila interior itu adalah pelaku sosial dan semua yang melekat pada
dirinya dibentuk oleh habitus, maka eksterior adalah struktur objektif yang ada di
luar diri pelaku sosial, yaitu arena. Dengan demikian, praktik sosial dengan
sendirinya tidak otonom karena merupakan produk interaksi antara pelaku sosial
dan stuktur sosial, produk interaksi dialektis antara habitus dan struktur (Rusdiati,
2003:33-34).
62
Bourdieu dalam teori praktiknya menunjukkan bagaimana tindakan
(praktik) merupakan produk relasi antara habitus (yang merupakan
produk
sejarah) dan ranah yang juga merupakan produk sejarah. Habitus dan ranah juga
merupakan produk dari medan daya-daya yang ada dalam masyarakat. Habitus
adalah struktur kognitif yang memperantarai individu dengan relasi sosial.
Habitus merupakan struktur subjektif yang terbentuk dari pengalaman individu
berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur objektif yang ada
dalam ruang sosial. Habitus diindikasikan oleh skema-skema yang merupakan
perwakilan konseptual dari benda-benda dengan realitas hidup. Melalui skemaskema tersebut individu mempersepsi, memahami, menghargai, dan mengevaluasi
realitas sosial. Itulah sebabnya habitus dapat dikatakan sebagai ketidaksadaran
kultural. Menurut Fashri (2007: 83) habitus adalah kebiasaan-kebiasaan,
merupakan hasil pembelajaran secara halus, takdisadari dan tampil sebagai hal
yang wajar sehingga seolah-olah sesuatu yang alamiah, seakan-akan diberi oleh
alam, atau ’sudah dari sananya’.
Menurut Fashri (2007: 96) dalam suatu ranah terdapat pertaruhan,
kekuatan-kekuatan, dan orang, baik yang memiliki maupun yang tidak memiliki
modal, sehingga di sini modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan. Ranah
adalah hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisi-posisi
individu dan kelompok dalam tatanan masyarakat yang terbentuk secara spontan.
Bourdieu menggunakan ranah sebagai metafora untuk menggambarkan kondisi
masyarakat yang terstruktur dan dinamis dengan daya-daya yang dikandungnya.
63
Modal adalah suatu kekuatan yang spesifik yang beroperasi di dalam
ranah. Setiap ranah menuntut individu
untuk memiliki modal-modal khusus
untuk dapat secara baik dan bertahan di dalamnya (Takwin, T.Th.:xx). Menurut
Bourdieu (Fashri, 2007-98-99) modal dapat digolongkan menjadi empat.
Pertama, modal ekonomi adalah mencakup alat-alat produksi (mesin, tanah,
buruh), materi (pendapatan dan benda-benda), dan uang yang dengan mudah
digunakan dengan segala tujuan serta diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Kedua, modal budaya adalah keseluruhan kualifikasi intelektual yang
bisa diproduksi, baik melalui pendidikan formal maupun warisan keluarga.
Termasuk modal budaya antara lain, kemampuan menampilkan diri di depan
publik, pemilikan benda/kode budaya bernilai tinggi, pengetahuan dan keahlian
tertentu dari hasil pendidikan, dan sertifikat (gelar kesarjanaan). Ketiga, modal
sosial menunjuk pada jaringan sosial yang dimiliki pelaku (baik individu maupun
kelompok) dalam hubungannya dengan pihak lain yang memiliki kuasa. Keempat,
modal simbolik adalah segala bentuk prestise, status, otoritas, dan legitimasi.
Hubungan
habitus, ranah,
dan modal bertautan secara langsung dan
bertujuan menerangkan praktik sosial. Berdasar atas ketiga konsep tersebut,
Bourdieu menyususn teorinya ke dalam rumus (Habitus x Modal) + Ranah =
Praktik (Fashri, 2007: 100).
Teori praktik dari Bourdieu seperti dipaparkan di atas menjelaskan bahwa
terjadinya praktik komodifikasi upacara ngaben tidak lepas dari faktor habitus,
yaitu kebiasaan-kebiasaan yang terjadi sudah sejak lama yang merupakan hasil
pembelajaran secara halus, melaksanakan upacara ngaben berdasarkan ajaran
64
acara, susila, dan tattwa agama Hindu. Kepemilikan dan penguasaan modal
budaya dan simbolik oleh Pedanda di Desa Pakraman Sanur merupakan faktor
munculnya komodifikasi upacara ngaben. Di dalam ranah ada perkembangan
modernitas sosial, karena beberapa orang menjatuhkan pilihan untuk mengikuti
ngaben ngirng di sebuah Griya. Jadi komodifikasi upacara ngaben di Desa
Pakraman Sanur terjadi karena faktor habitus, modal, dan adanya ranah yang
dihadapi oleh sebagian warga masyarakat Hindu. Teori praktik digunakan untuk
mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan komodifikasi upacara ngaben.
2.3.4 Dekonstruksi
Dekonstruksi adalah sebuah kata yang terbentuk dari kata : ”de” dan
”constructio” (bahasa Latin). Prefik “de” berarti ke bawah, pengurangan, atau
terlepas/melepaskan dari. Sementara kata benda constructio berasal dari kata kerja
dasar : co dan structure. "Co" berarti bersama dengan, menyertai, atau
bekerjasama dengan. Struere artinya membentuk, menyusun, mengatur dan
membangun. Jadi construere artinya : membentuk, menyusun, mengatur dan
membangun sesuatu secara bersama-sama dan seterusnya. Dari kata kerja ini
terbentuklah constructum, constructio yang berarti : bentuk, susunan, bangunan,
hal menyusun, hal mengatur dan membangun sesuatu secara bersama-sama.
Dekonstruksi
lalu
diartikan
sebagai
pembongkaran,
perlucutan,
penghancuran atau penolakan terhadap struktur, susunan serta bangunan. Dalam
hubungan dengan akar kata di atas, dekonstruksi diartikan sebagai pengurangan
atau penurunan intensitas konstruksi itu (Ratna, 2007 : 244). Jadi, dekonstruksi
65
mengandung arti mengurangi, rnelepaskan, membongkar suatu bagian atau
keseluruhan dari suatu susunan, bangunan, dan struktur yang telah dibangun
bersama sehingga intensitasnya berkurang, menyusut, dan sebagainya.
Menurut Hoed (2008: 14-15) proses dekonstruksi memahami tanda tidak
sesederhana menemukan makna. Suatu hal yang dimaknai adalah suatu proses
dengan cara membongkar (to dismantle) dan menganalisis secara kritis (critical
analysis) tidak bersifat tetap melainkan dalam kenyataannya dapat bersifat
’ditunda’ untuk memperoleh hubungan yang lain atau baru. Apa yang terjadi
dalam proses differance penundaan ini, untuk menemukan makna lain atau makna
baru itulah proses dekonstruksi. Struktur makna suatu tanda bukan sesuatu yang
objektif dan bukan sesuatu yang subjektif. Tanda yang terdiri atas penanda dan
petanda adalah suatu struktur yang dinamis, yang berkehidupan sendiri. Makna itu
dihasilkan dari suatu proses yang menghasilkan makna yang berbeda-beda
menurut setiap individu.
Oleh Jaques Derrida (Barker, 2005: 79) mendekonstruksi berarti
memisahkan, melepaskan, dalam rangka mencari dan membeberkan asumsi dari
suatu teks. Dekonstruksi melibatkan perlucutan/pembongkaran, terhadap oposisi
biner hirarkis seperti tuturan/tulisan, realitas/kenampakan, alam/kebudayaan,
nalar/kegilaan, dan lain-lain yang berfungsi menjamin kebenaran dengan cara
mengesampingkan dan mengevaluasi bagian "inferior" oposisi biner tersebut.
Derrida
sebagai
seorang
pemikir
posmodern
sebenarnya
dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran irasional Nietzhe dan Heidgger.
sangat
Teori
dekonstruksi Derrida bermain bebas dalam pertandaan dan menghancurkan tapal-
66
tapal disiplin yang ketat. Teori dekonstruksi, sistem kerjanya bersifat subversif,
merusak dan terkesan tidak bertanggung jawab yang secara ideologis lebih dekat
dengan anarkisme, menghancurkan segala sesuatu yang dibangun oleh sejarah dan
peradaban (Piliang, 2006: 221-222). Selanjutnya, Ratna (2007:246-247) menyebut
teori dekonstruksi sebagai teori yang radikal dan revolusioner. Lubis (2004:103)
menyebut Derrida sebagai posmodernis garis keras (strong postmodernist).
Dekonstruksi (deconstruction) menurut Piliang (2004 : 16), adalah suatu
teori atau metode analisis yang dikembangkan oleh Derrida dengan membongkar
struktur dan kode-kode bahasa, khususnya struktur oposisi biner sedemikian rupa
sehingga menciptakan satu permainan tanda yang tanpa akhir dan tanpa makna
akhir. Di sini dekonstruksi berusaha mengekspos ruang-ruang kosong dalam teks
akibat adanya oposisi biner, berupa asumsi, ideologi, yang tidak disadari dan
menjadi landasan kerja mereka.
Jadi dekonstruksi yang dikembangkan Derrida adalah penyangkalan
terhadap oposisi ucapan atau tulisan, ada atau tidak ada, murni atau tercemar, dan
akhirnya penolakan terhadap kebenaran tunggal atau logos itu sendiri. Secara
singkat dapat dikatakan bahwa penganut aliran dekonstruksi berpendapat ketika
membaca penanda (signifier) agar menjadi petanda (signified), maka penafsiran
harus ditunda agar mendapat makna yang berbeda (differance) dari petanda yang
sudah menjadi mitos. Oleh karena sifatnya yang mengaitkan tiga segi yakni
penanda, petanda, dan penafsiran (interpretasi), maka hal ini dikatakan bersifat
trikotomis.
67
Pemaknaan terhadap komodifikasi upacara ngaben dalam era globalisasi
di Desa Pakraman Sanur Denpasar dilakukan melalui asas-asas yang
dikembangkan Barthes (2007:xiii) yakni dengan membuka kemungkinan untuk
membaca peringkat-peringkat penandaan yang real dan yang hipotesis, baik yang
muncul di permukaan maupun yang ada di balik tanda, berupa petanda yang
mencerminkan makna yang sebenarnya. Makna komodifikasi upacara ngaben
dicermati dari adanya nilai-nilai oleh masyarakat tentang upacara ngaben, seperti
nilai-nilai berbakti pada leluhur yang dihubungkan dengan prilaku masyarakat
dalam melaksanakan upacara ngaben secara besar-besaran serta pengaruh
kapitalisme global terhadap dorongan prilaku yang mengabaikan filosofi religius.
Prilaku masyarakat
dalam melaksanakan upacara ngaben sangat
ditentukan oleh citra lingkungan yang mereka miliki. Menurut Lacan (2005:30)
pencitraan diri seseorang sangat dipengaruhi oleh hasrat diri yang bersangkutan
yang meliputi hasrat narsisistik, yakni seseorang berhasrat untuk menjadi objek
kekaguman, idealisasi atau pengakuan; hasrat narsisistik aktif, yakni seseorang
berhasrat sebagai bentuk pemujaan terhadap cinta, hasrat anaklitik aktif yakni
seseorang ingin selalu mendapatkan kepuasan dari apa pun yang dilakukan; dan
hasrat anaklitik pasif, yakni seseorang ingin menjadi objek dari sumber kepuasan.
Dalam kaitannya dengan tema penelitian ini dapat disebutkan bahwa
komodifikasi upacara ngaben telah dilakukan oleh kelompok Griya ( Pedanda dan
tukang banten) dengan aksi mayajña, membantu yang miskin, meringankan beban
pelaku upacara, tetapi di balik itu, tidak lepas bahwa prilaku itu dilakukan juga
demi kepentingan kelompok griya.
68
Teori dekonstruksi digunakan dalam penelitian ini untuk mengungkap
dampak dan makna upacara ngaben. Berkenaan dengan itu teori dekonstruksi
digunakan adalah untuk melihat, mengkritisi, membongkar, dan menafsirkan
kembali berbagai hal yang berhubungan dengan komodifikasi upacara ngaben. Di
samping itu dekonstruksi juga digunakan untuk memberikan makna baru terhadap
upacara ngaben itu sendiri. Demikian pula dengan dekonstruksi akan dibongkar,
ditafsirkan, dan dimaknai kembali konsep dan makna pola hubungan pasisyan,
pola hubungan di Desa Pakraman, pemahaman tentang upakara dalam sebuah
upacara. Berbagai wacana dan konsep yang muncul berhubungan dengan upacara
ngaben dicoba untuk dibongkar dan dimaknai sesuai dengan tempat, ruang,
waktu, dan orang yang memakainya.
2.4 Model Penelitian
Model penelitian adalah sintesis atau abstraksi yang dirumuskan
berdasarkan teori-teori terpilih dengan masalah penelitian. Dengan kata lain
model penelitian yang dibuat dalam bentuk diagram merupakan kerangka pikir
yang memuat arah yang jelas dari tema atau objek yang dibahas. Secara skematis
atau diagramatis model penelitian ini dapat digambarkan di bawah ini.
69
Tradisi Agama Hindu
dan Kebudayaan Bali
Globalisasi
Upacara Ngaben di
Bali
Upacara agama
hidup komunal
tata krama
kesenian
Pariwisata
Kapitalisme
Materialisme
Teknologi
Budaya konsumen
(pencitraan, gaya hidup)
Komodifikasi Upacara
Ngaben dalam Era
Globalisasi di Desa
Pakraman Sanur, Denpasar
Bentuk komodifikasi
Faktor-Faktor penyebab
komodifikasi
Dampak dan makna
komodifikasi
Komodifikasi Upacara
Ngaben dalam Rangka
Emasnsipasi Masyarakat
Sanur/Umat Hindu di
Era Global
Gambar 2.1
Model Penelitian
Keterangan :
:
:
Hubungan langsung satu arah
Hubungan langsung dua arah
Penjelasan Model
Dalam melaksanakan ajaran agama Hindu secara tradisi dalam
kebudayaan Bali, masyarakat di Bali hidup secara bersama-sama atau komunal.
Dalam kehidupan tersebut mereka melaksanakan upacara agama sebagai wujud
70
bakti baik kepada Dewa, Pitra, Manusia, Resi, dan Butha. Pada masyarakat
agraris ketika itu waktu luang diisi dengan berkesenian dan mereka hidup dalam
solidaritas terhadap sesama krama dalam sebuah desa pakraman. Akibat
globalisasi yang muncul akhir abad kedua puluh menyebabkan perubahan pada
masyarakat Bali. Oleh karena Bali menjadi daerah tujuan parwisata domestik dan
internasional, maka masyarakat sudah hidup lebih mementingkan diri sendiri atau
individualitas, masyarakat sudah diperbudak materi, hidup yang serba praktis dan
efisien, munculnya teknologi dan budaya pencitraan serta gaya hidup dalam
budaya konsumen. Semua itu memunculkan komodifikasi yaitu komodifikasi
upacara ngaben. Fenomena di atas akan dikaji secara kritis melalui kajian budaya
dengan berbagai konsep dan landasan teori untuk menjawab rumusan masalah
sebagai berikut: (1) Bagaimana bentuk upacara ngaben di Desa Pakraman Sanur
Denpasar dalam era globalisasi, (2) Apa faktor-faktor
yang menyebabkan
sehingga terjadi komodifikasi, (3) Apa dampak dan makna komodifikasi upacara
ngaben di Desa Pakraman Sanur Denpasar dalam era globalisasi.
Data akan dianalisis secara deskiptif kualitatif dengan teori yang
mendukung untuk menggambarkan realitas yang terjadi di lapangan relasinya
dengan komodifiksi upacara ngaben sehingga dengan metode dan metodelogi
yang jelas dalam domain kajian budaya. Dalam
era globalisasi
ini untuk
pelaksanaan upacara ngaben dengan upakara-nya hendaknya disertai dengan
peningkatan pemahaman akan makna upacara ngaben dengan upakara-nya.
Melaksanakan ritual bukan harus mewah atau besar-besaran, tetapi tidak
memahami makna yang terkandung di balik upacara tersebut. Walaupun dibuat
71
sederhana, tetapi dengan ketulusan hati dan perasaan yang halus (ekspresif) dan
memahami makna upacara tersebut, maka akan membawa perasaan estetis,
kedamaian, religius, dan spiritual.
Pemahaman
tentang hal tersebut
secara menyeluruh menimbulkan
emansipasi komodifikasi upacara ngaben. Maksud emansipasi di sini, yaitu
secara politis, masih tetap dapat menjaga identitasnya sebagai orang Bali-Hindu
dan secara religius, dapat melaksanakan kewajiban sucinya sebagai pelanjut
keturunan (pretisentana), yaitu menyucikan atman orang tua atau leluhurnya yang
telah meninggal dunia.
Download