Dilema Kepemilikan Asing Dalam Perbankan

advertisement
Dilema Kepemilikan Asing Dalam Perbankan
Kamis, 24 Mei 2012 00:38
Belakangan ini, diskursus perlunya mengatur batas kepemilikan asing dalam perbankan
nasional kembali menguat. Bahkan, Bank Indonesia (BI) disinyalir sedang menyiapkan
kebijakan agar pemodal asing berbagi kepemilikan sahamnya guna membatasi dominasi
kepemilikannya pada suatu bank. Berdasarkan pemberitaan Bisnis (30 April), rencana
kebijakan berbagi kepemilikan saham ini tetap dijalankan sesuai dengan peraturan pemerintah
(PP) yang berlaku yang membolehkan asing menguasai hingga 99 persen saham pada suatu
bank.
Belum jelas bagimana formulasi pengaturan kepemilikan asing ini. Apakah ini yang dimaksud
adalah kepemilikan asing yang kini mendominasi pada suatu bank nantinya akan dipecah ke
beberapa investor asing lainnya? Kalau betul seperti ini, apa filosofinya? Apakah sekedar
retorika pengaturan kepemilikan? Agar terjadinya pengendalian silang yang lebih efektif?
Ataukah untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi perekonomian nasional?
PP 29/1999 Versus API
“Kisruh” soal kepemilikan asing ini sejatinya sudah cukup lama. Terutama, sejak maraknya aksi
akuisisi bank-bank kecil oleh investor asing. Terlebih lagi, kini bank-bank yang sahamnya
mayoritas dimiliki asing tersebut sudah menguasai pangsa pasar lebih dari 40 persen.
Bandingkan dengan bank-bank BUMN yang pangsa pasarnya kurang dari 40 persen. Saat ini
ada sekitar 25 bank nasional yang sahamnya mayoritas dimiliki investor asing.
Salah satu regulasi yang ditengarahi menjadi penyebab maraknya kepemilikan asing dalam
industri perbankan kita adalah PP No. 29/1999 tentang Pembelian Saham Bank Umum. PP No.
29/1999 tersebut menyatakan investor asing dapat memiliki saham pada suatu bank hingga 99
persen, baik melalui pembelian secara langsung maupun melalui bursa efek. PP No. 29/1999
inilah yang dianggap sebagai “biang kerok” maraknya kepemilikan asing dalam industri bank
nasional.
1/4
Dilema Kepemilikan Asing Dalam Perbankan
Kamis, 24 Mei 2012 00:38
Saya kira, kita harus menempatkan PP No. 29/1999 ini secara proporsional dan kontekstual.
Perlu dilihat bagaimana latar belakang keluarnya PP No. 29/1999 tersebut. Bisa jadi, PP No.
29/1999 memang sudah tidak relevan dengan kebutuhan kita saat ini. Namun, ini tidak berarti
kehadiran PP No. 29/1999 pada saat itu dapat dipersalahkan. Ketika PP No. 29/1999 keluar,
kondisi perbankan kita sedang krisis luar biasa. Bank-bank lokal yang tidak sehat waktu itu
membutuhkan suntikan modal dan pada saat itu hanya investor asing yang mampu
membelinya. Bisa dibayangkan, bila tidak ada investor asing yang masuk. Biaya krisis yang
harus dibayar pemerintah melalui obligasi rekap bisa lebih besar lagi dari jumlah yang telah
dikeluarkan waktu itu yaitu sekitar Rp650 trilyun.
Saya berpendapat, dalam konteks saat itu, justru PP No. 29/1999 ini merupakan jalan keluar
yang cerdas untuk mengurangi biaya krisis. Dengan keluarnya PP No. 29/1999, investor asing
mulai berani masuk dengan membeli saham-saham bank di Indonesia. Mulailah bank-bank
seperti BCA, Danamon, Lippo, BII, Permata, dan Niaga dibeli oleh asing.
Sesungguhnya, maraknya akuisisi bank-bank lokal oleh asing justru terjadi dalam 5 tahun
terakhir ini, khususnya sejak Arsitektur Perbankan Indonesia (API) diluncurkan pada awal 2005.
Patut diduga, API turut mendorong percepatan kepemilikan asing dalam industri perbankan
kita. API menuntut bank-bank memiliki modal besar. Konsekuensinya, pemilik bank-bank kecil
merasa terdesak dan mencari investor baru yang bersedia membelinya.
Di sisi lain, ketentuan modal minimum sebesar Rp3 trilyun bagi pendirian bank baru dinilai
sangat tinggi sehingga tidak menarik bagi investor yang ingin memiliki bank di Indonesia.
Investor asing melihat ada peluang masuk dalam industri perbankan kita tanpa modal yang
besar melalui akuisisi bank-bank kecil. Kini, kita saksikan bahwa saham bank-bank kecil (modal
sekitar Rp200 milyar) mayoritas dimiliki investor asing. Yang perlu diantisipasi dari aksi akuisisi
bank-bank kecil ini adalah karakter investornya. Jangan-jangan, investornya hanyalah private
equity
yang sekedar memburu aset murah dan segera menjualnya setelah memperoleh keuntungan
besar.
Skenario Rekomposisi
2/4
Dilema Kepemilikan Asing Dalam Perbankan
Kamis, 24 Mei 2012 00:38
Kepemilikan pemodal dalam perbankan kita memang perlu ditata ulang. Dominasi kepemilikan
pada suatu bank oleh satu pihak, apakah itu asing ataupun lokal, bukanlah praktek yang sehat
dalam tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Di negara-negara
seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Korea Selatan, dan Australia, kepemilikan saham
perbankannya menyebar ke banyak investor, dan tidak ada satu investor yang menguasai
saham lebih dari 50 persen. Dengan kata lain, kalau BI menekan kepemilikan saham pada satu
investor maksimal 51 persen misalnya, saya kira tetap dalam kelaziman. Dan semestinya,
investor asing yang kini menjadi pemilik modal mayoritas tidak keberatan dengan kebijakan ini.
Jadi, BI sesungguhnya memiliki peluang untuk melakukan penyebaran kepemilikan saham di
perbankan.
Beberapa skenario dapat ditempuh dalam rangka rekomposisi kepemilikan asing dalam saham
perbankan di Indonesia. Pertama, BI bisa mengambil pendekatan melalui kewajiban penerbitan
saham di bursa efek (IPO maupun
right issue) dalam
prosentase tertentu sehingga nantinya tidak ada satu investor yang terlalu dominan. Melalui
cara ini, asing tetap berpeluang memiliki saham hingga 99 persen, namun kepemilikannya
menyebar. Perlu diketahui, pasar modal kita memang mayoritas dipenuhi oleh pemodal asing.
Jadi, sangat mungkin penyebaran saham bank ke banyak investor asing dapat terjadi.
Yang perlu diantisipasi adalah jangan sampai terjadi rekayasa pembelian saham oleh investor
yang sama melalui teknik pendirian SPV (special purpose vehicle). Karenanya, kerja sama
yang intensif antara BI dengan otoritas pasar modal penting dilakukan. Namun demikian,
tentunya ketentuan maksimal kepemilikan saham pada bank perlu dibedakan antara bank milik
pemerintah dengan swasta.
Kedua, cara yang paling elegan adalah merevisi PP No. 29/1999 sehingga memungkinkan
investor lokal (pemerintah, BUMN, dan swasta) dapat memiliki saham dari pemilik asing yang
kini mendominasi pada suatu bank. Tidak hanya PP No. 29/1999, Peraturan Presiden (Perpres)
No. 77/2007 yang merupakan penjabaran dari UU No. 25/2007 tentang Penanaman Modal juga
perlu diubah. Ini mengingat, Perpres No. 77/2007 juga mengatur kepemilikan investor asing
pada perbankan nasional hingga 99%. Oleh karenanya, pembahasan yang insentif antara
Pemerintah dan BI perlu dilakukan untuk mengubah ketentuan kepemilikan maksimal oleh
investor asing dalam industri perbankan.
Bila investor asing dibatasi maksimal hingga 51 persen, misalnya, investor lokal dapat memiliki
saham bank-bank yang kini didominasi oleh asing. Ini juga menjadi peluang bagi pemerintah,
3/4
Dilema Kepemilikan Asing Dalam Perbankan
Kamis, 24 Mei 2012 00:38
baik melalui BUMN maupun Pusat Investasi Pemerintah (PIP) untuk memiliki saham
diperbankan, sehingga terdapat “channel” untuk menjaga bisnis bank yang dimiliki investor
asing agar tetap
related dengan kegiatan
pembangunan ekonomi nasional.***
*Sunarsip adalah Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI). Analisis ini dimuat oleh K
ontan
, Jum'at, 18 Mei 2012.
4/4
Download