1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Penelitian
1. Permasalahan Penelitian
Pada tahun 1925 muncul sebuah gerakan filsafat baru yang dipelopori oleh
seorang filsuf sekaligus pula seorang fisikawan terkenal, yakni Moritz Schlik
(Ayer, 1987: 121). Gerakan filsafat baru ini memiliki pusat di Wina, Austria.
Gerakan ini belakangan hari dikenal dengan nama Lingkungan Wina (Vienna
Circle/
Der Wiener Kreis).
Lingkungan Wina
Schlick sendiri sebenarnya lebih suka bila
dinamai dengan Empirisme Konsisten/ Empirisme Logis
(Lacey, 1996: 262), namun karena nama ini telah dipergunakan untuk aliran
filsafat yang berkembang di Amerika, Inggris, dan Skandinavia, maka
dipergunakanlah nama Neo-Positivisme atau Positivisme Logis (Kaelan, 2006:
50). Banyak ahli dari pelbagai bidang yang pada setiap minggunya diundang
untuk melakukan diskusi. Terdapat ahli-ahli matematika seperti Kurt Goedel,
Hans Hahn, Karl Menger, Rudolf Carnap, Philipp Frank, ahli fisika Otto Neurath,
sosiolog Victor Kraft, dan para filsuf seperti Herbert Feigl dan Friedrich
Waismann (Ayer, 1956b: 70; Bertens, 2002: 182-183).
Lingkungan Wina sangat dipengaruhi oleh pemikiran Wittgenstein periode
pertama dengan bukunya Tractatus Logico-Philosophicus. Pengaruh ini terlihat
jelas dari slogan Lingkungan Wina bahwa ‘makna dari sebuah proposisi adalah
metode verifikasinya’ (the meaning of statement is the way in which it is verified)
1
2
(Van Peursen, 1969: 47). Pengaruh pemikiran Wittgenstein terhadap Lingkungan
Wina bersifat tidak langsung karena Wittgenstein sendiri tidak pernah secara
langsung ikut menghadiri diskusi-diskusi yang berlangsung di Lingkungan Wina.
Pikiran-pikiran Wittgenstein tersalurkan lewat Schlick dan Waismann yang
kerapkali bertemu dengannya dalam berbagai kesempatan (Bertens, 2002: 183).
Para anggota Lingkungan Wina sangat dipengaruhi oleh logika, matematika
dan ilmu alam yang bersifat positif dan empiris, sehingga kemudian dapat
dipastikan bahwa analisis logis mereka tentang proposisi-proposisi ilmiah ataupun
proposisi filsafat sangat ditentukan oleh metode ilmu positif dan empiris (Kaelan,
2002: 124-125).
Para anggota Lingkungan Wina menjelaskan bahwa suatu proposisi akan
bermakna bila secara prinsip dapat diverifikasi, memverifikasi berarti menguji
atau membuktikan secara empiris. Mereka kemudian memilah proposisi menjadi
dua bentuk, yakni proposisi formal dan proposisi empiris. Proposisi formal
validitasnya bergantung kepada suatu sistem simbol. Contohnya, logika dan
matematika, sementara proposisi empiris adalah suatu pernyataan yang didasarkan
pada pengamatan aktual dari mana secara logis proposisi dapat dihasilkan (Ayer,
1990: 18).
Prinsip verifikasi yang diusung oleh Lingkungan Wina di atas menghadapi
masalah. Para penganut Lingkungan Wina kesulitan untuk menemukan rumusan
yang memadai bagi prinsip verifikasi dimaksud. Kesulitan ini terjadi karena
mereka hanya mendasarkan prinsip verifikasinya kepada pengalaman empiris
secara langsung.
3
Berlainan dengan para anggota Lingkungan Wina yang hanya mengakui
verifikasi empiris secara langsung karena mereka menganggap prinsip verifikasi
sebagai sebuah teori mengenai makna, maka Ayer sebagai tokoh Positivisme
Logis yang belakangan memandang prinsip verifikasi sebagai sebuah kriteria
mengenai makna (Padinjarekutt, 1974: 2).
Ayer berusaha untuk meneruskan usaha Lingkungan Wina dalam
menemukan rumusan yang tepat bagi prinsip verifikasi dan berusaha pula untuk
mengatasi kesulitan yang mereka hadapi.
Ayer merumuskan prinsip verifikasi sebagai berikut:
…We say that a sentence is factually significant to any given person, if, and
only if, he knows how to verify the proposition which it purports to express
__
that is, if he knows what observations would lead him, under certain
conditions, to accept the proposition as being true, or reject it as being
false. If, on other hand, the putative proposition is of such a character, that
the assumption of its truth, or falsehood, is consistent with any assumption
whatsoever concerning tha nature of his future experience, then, as far as he
is concerned, it is, if not a tautology, a mere pseudo-proposition. The
sentence expressing it may be emotionally significant to him; but it is not
literally significant… (Ayer, 1954: 35).
Kutipan di atas menggambarkan secara jelas bahwa pada dasarnya prinsip
verifikasi adalah dimaksudkan untuk menentukan bermakna atau tidaknya suatu
proposisi dan bukannya untuk menentukan kriteria kebenarannya, karena suatu
proposisi yang bermakna dapat benar dan dapat pula salah.
Ayer, dalam usahanya untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi Lingkungan
Wina dan usahanya untuk memberikan batasan-batasan dalam prinsip verifikasi,
karena boleh jadi suatu proposisi sebenarnya dapat diverifikasi secara empiris,
namun tidak secara langsung melainkan secara prinsip saja, menetapkan bahwa
4
semua proposisi dapat diverifikasi dengan dua arti, yaitu dapat diverifikasi secara
ketat (strong) dan secara longgar (weak) (1954: 36-37).
Suatu proposisi atau apa yang dimaksud oleh suatu kalimat (Ayer, 1955:
97), dapat diverifikasi dalam pengertian ketat bila proposisi-proposisi tersebut
berkaitan langsung dengan pengalaman. Sementara itu, proposisi-proposisi juga
dapat diverifikasi dalam pengertian longgar bila terhadap proposisi-proposisi
dimaksud dimungkinkan bagi pengalaman untuk mewujudkannya (Ayer, 1954:
36-37).
Menurut Ayer, apabila pemilahan ini tidak dilakukan, maka semua proposisi
tentang masa lampau akan menjadi tidak bermakna. Agar suatu proposisi menjadi
bermakna, maka tidak perlu proposisi tersebut dapat diverifikasi secara faktual,
sudah cukup kalau verifikasi itu mungkin dilakukan secara prinsip saja. Suatu
proposisi mungkin tidak pernah dapat diverifikasi, namun proposisi dimaksud
adalah benar dengan alasan seseorang tahu apa yang harus dilakukan untuk
memverifikasinya, meskipun
mungkin tidak mampu untuk melaksanakannya
(Bertens, 2002: 37).
Dalam buku yang sangat populer Language, Truth and Logic, dijelaskan
beberapa catatan mengenai prinsip verifikasi. Pertama, prinsip verifikasi tidaklah
ditujukan untuk menentukan kebenaran suatu ucapan, tapi maknanyalah yang
dicari. Suatu proposisi yang bermakna dapat benar atau salah. Kedua, hanya
proposisi yang menyangkut realitas empiris yang bermakna. Dengan demikian,
suatu proposisi yang bermakna adalah proposisi yang dilakukan berdasarkan
pengamatan, atau setidak-tidaknya memiliki hubungan dengan pengamatan.
5
Ketiga, selain proposisi yang berdasarkan data empiris, hanya proposisi yang
matematis dan logis yang bermakna. Kadang-kadang proposisi-proposisi jenis ini
tidak dapat diverifikasi secara empiris, karena kesemuanya bergantung pada
simbol-simbol yang dipergunakan. Proposisi-proposisi jenis ini dikenal dengan
tautologi. Keempat, tidak perlu bahwa suatu proposisi dapat diverifikasi secara
langsung, tapi cukup kalau verifikasinya dapat dilakukan secara tidak langsung,
misalnya melalui kesaksian orang yang dapat dipercaya (Bertens, 2002: 36-37).
Prinsip verifikasi yang diangkat Ayer mempunyai implikasi yang tidak
kecil. Siapapun yang menerima prinsip ini harus pula menerima bahwa semua
proposisi bahasa teologi, etika, estetika, aksiologi, ontologi, filsafat manusia pada
hakikatnya adalah omong kosong belaka atau tidak bermakna (Kaelan, 2002: 126,
141; 2006: 62).
Apabila orang berbicara tentang metafisika baik yang
membenarkan proposisi metafisik maupun yang menegasikan proposisi yang
sama pada hakikatnya adalah sia-sia karena tidak ada kemungkinan untuk
melakukan verifikasi.
2. Perumusan Masalah Penelitian
Objek material dalam penelitian berjudul Konsep Makna dalam Positivisme
Logis Alfred Jules Ayer: Implikasinya terhadap Perkembangan Filsafat dan Ilmu
ini adalah sebuah karya filsafat yakni konsep makna dalam Positivisme Logis
Ayer, sementara objek formalnya adalah filsafat analitik. Penting juga untuk
dikemukakan di sini bahwa tujuan akhir penelitian ini adalah untuk menemukan,
mendeskripsikan dan merefleksikan implikasi konsep makna dalam Positivisme
Logis Ayer terhadap filsafat dan ilmu.
6
Bertolak dari objek material, objek formal, dan tujuan akhir di atas, maka
pokok permasalahan dalam tulisan ini dapat dirumuskan ke dalam beberapa
pertanyaan berikut:
a. Bagaimana filsafat Alfred Jules Ayer?
b. Bagaimana jabaran konsep makna dalam Positivisme Logis Alfred Jules
Ayer?
c. Bagaimana implikasi konsep makna dalam Positivisme Logis Alfred Jules
Ayer terhadap filsafat dan ilmu?
d. Bagaimana kelemahan dan kekuatan konsep makna dalam Positivisme Logis
Alfred Jules Ayer?
3. Keaslian Penelitian
Sebatas kemampuan untuk menemukan dan menelusuri pelbagai literatur
atau hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, maka belum ditemukan
adanya literatur atau hasil penelitian yang secara khusus mengkaji karya filsafat
berupa konsep makna dalam Positivisme Logis Alfred Jules Ayer sebagai objek
materialnya dan filsafat analitik sebagai objek formalnya, terlebih lagi bila
kemudian melihat implikasinya terhadap perkembangan filsafat dan ilmu.
Skripsi Sindung Tjahyadi berjudul Teori Persepsi Alfred Jules Ayer secara
khusus mengkaji pemikiran Ayer, namun fokus utamanya lebih tertuju kepada
teori persepsi Ayer. Objek material yang dipergunakan adalah teori persepsi Ayer,
sementara objek formalnya adalah fenomenalisme modern.
M. Sukron Samsul Hadi dalam skripsi berjudul Tinjauan Analitik terhadap
Konsepsi Alfred Jules Ayer tentang Prinsip Verifikasi tahun 1991 juga mengkaji
7
pemikiran Ayer. Akan tetapi, seperti diakui sendiri oleh penulisnya bahwa skripsi
ini adalah sebuah usaha untuk mencermati bahasa dengan studi filosofis. Dengan
kata lain, objek materialnya adalah bahasa dan objek formalnya analisis filosofis.
Tambahan lagi skripsi ini tidak sampai berusaha untuk mengkaji implikasi
Positivisme Logis Ayer terhadap perkembangan filsafat dan ilmu.
Disertasi Joanne Padinjarekutt tahun 1974 di Facultate Philosophica
Pontificiae Universitatis Gregorianae yang berjudul The Principle of Verification:
A Historical Study in Logical Positivism menjadikan prinsip verifikasi sebagai
objek material, namun objek formalnya adalah sejarah filsafat. Penjelasan tentang
hal ini diakui sendiri oleh Padinjarekutt bahwa disertasinya adalah sebuah usaha
untuk menyelidiki asal usul dan perkembangan prinsip verifikasi dalam sejarah
filsafat.
Felik M. Bak tahun 1970 di Academia Alfonsiana, Institum Theologiae
Moralis, Pontificia Universitas Lateranensis menulis disertasi berjudul Alfred
Jules Ayer‟s Criterion of Veriability mengangkat pemikiran Ayer tentang kriteria
veriabilitas sebagai objek material. Menurut pengakuan Bak sendiri meskipun di
bagian awal disertasi ini kelihatan mempergunakan objek formal filosofis, namun
di bagian akhir dan secara keseluruhan objek formal yang dipergunakan adalah
teologi.
Penelitian Rizal Mustansyir tahun 1989 berjudul Kelemahan Penerapan
Prinsip Verifikasi Positivisme Logis. Di dalamnya ditemukan bahasan tentang
pemikiran prinsip verifikasi Ayer, namun hanya sebagai salah satu bagian dari
penjelasan tentang prinsip verifikasi Positivisme Logis secara umum.
8
Abbas Hamami Mintaredja dalam buku berjudul Teori-teori Epistemologi
Common Sense (2003) memaparkan pemikiran Ayer, namun hanya secara ringkas
dan dengan objek formal epistemologi.
Beberapa
buku
Kaelan,
seperti
Filsafat
Bahasa:
Masalah
dan
Perkembangannya (2002); Perkembangan Filsafat Analitika Bahasa dan
Pengaruhnya terhadap Ilmu Pengetahuan (2006); Filsafat Bahasa, Semiotika dan
Hermeneutika (2009) juga menjadikan pemikiran Ayer sebagai objek material,
namun pemikiran dimaksud hanyalah salah satu bagian dari filsafat analitik secara
keseluruhan.
Setelah melakukan studi eksploratif atas pelbagai karya yang telah ada, baik
dari sisi objek material, objek formal, maupun pengaruhnyanya maka dapat
dikatakan bahwa karya berjudul Konsep Makna dalam Positivisme Logis Alfred
Jules Ayer: Implikasinya terhadap Perkembangan Filsafat dan Ilmu ini
merupakan tulisan pertama dengan karya filsafat berupa konsep makna dalam
Positivisme Logis Ayer sebagai objek materialnya dan filsafat analitik sebagai
objek formalnya. Diharapkan melalui penelitian ini akan dapat ditemukan sesuatu
yang baru dan berbeda dari penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya.
4. Manfaat Penelitian
Manfaat sebuah penelitian dapat dipilah menjadi dua macam manfaat, yakni
manfaat secara teoritis-normatif dan manfaat secara praktis-pragmatis (Kaelan,
2005: 235). Penelitian tentang konsep makna dalam Positivisme Logis Ayer ini
juga demikian, namun dalam penjabarannya tidak secara kaku hanya dalam dua
manfaat dimaksud.
9
Manfaat dalam penelitian ini dapat diuraikan ke dalam beberapa poin
berikut:
a. Manfaat bagi bidang ilmu; secara teoritis-normatif, penelitian ini bermanfaat
untuk memperkaya wacana makna dalam Positivisme Logis. Penelitian ini
tidak hanya akan mengulas makna dalam Positivisme Logis Ayer semata,
namun juga Positivisme Logis Lingkungan Wina. Selain itu, penelitian ini
juga bermanfaat untuk menjelaskan adanya implikasi konsep makna dalam
Positivisme Logis Ayer terhadap perkembangan filsafat dan ilmu. Lebih jauh,
secara praktis-pragmatis, manfaat tadi akan melahirkan sikap kreatif dalam
dunia ilmu yakni dengan penggunaan ilmu yang telah dikembangkan.
b. Manfaat bagi bidang penelitian; penelitian ini, secara teoritis-normatif,
bermanfaat untuk memperkaya metodologi penelitian dengan ilmu yang telah
dikembangkan. Dengan pengayaan ini, maka secara praktis-pragmatis, ilmu
tadi akan mempermudah para peneliti dalam melakukan penelitiannya.
c. Manfaat bagi masyarakat; penelitian ini tidak saja bermanfaat secara teoritisnormatif dengan tersedianya pelbagai karya berupa ilmu, namun juga secara
praktis-pragmatis dan secara langsung dapat menikmati hasil dari penggunaan
ilmu yang telah dikembangkan dimaksud berupa penerapannya dalam
pelbagai disiplin ilmu.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini terkait erat dengan usaha untuk menjawab
pelbagai pertanyaan dalam pokok permasalah penelitian. Oleh karenanya, poin-
10
poinnya pun mengikut kepada pelbagai pertanyaan tersebut. Tujuan-tujuan
penelitian dimaksud dapat dirumuskan ke dalam beberapa perkara berikut:
1. Menemukan dan mendeskripsikan filsafat Alfred Jules Ayer. Paparan berkisar
tentang latar belakang filsafat Ayer baik riwayat hidup dan karya-karya,
periodesasi perkembangan filsafatnya, maupun aliran atau pemikiran para
filsuf yang mempengaruhinya.
2. Menemukan dan mendeskripsikan jabaran konsep makna dalam Positivisme
Logis Alfred Jules Ayer di antaranya mengenai benih awal prinsip verifikasi
Ayer, proposisi empiris dan proposisi analitik Ayer, prinsip verifikasi Ayer
sebagai kriteria makna, rumusan prinsip verifikasi Ayer baik yang ketat
maupun yang longgar.
3. Menemukan dan mendeskripsikan implikasi konsep makna dalam Positivisme
Logis Alfred Jules Ayer terhadap perkembangan filsafat dan ilmu. Implikasi
dimaksud adalah terhadap metafisika, etika, agama, unifikasi ilmu, dan
metode ilmiah.
4. Menemukan, mendeskripsikan dan merefleksikan kekurangan atau kelemahan
konsep makna dalam Positivisme Logis Alfred Jules Ayer, serta kelebihan
atau kekuatannya.
C. Tinjauan Pustaka
Positivisme Logis atau Neo-Positivisme seringkali juga dikenal dengan
nama Empirisme Logis dan Empirisme Ilmiah (Jorgensen, 1951: 6). Positivisme
Logis berusaha untuk melanjutkan pelbagai kerja yang pernah dilakukan oleh
11
Russell dan Moore terutama berkaitan erat dengan kritik terhadap Idealisme
(Warnock, 1969: 34). Positivisme Logis digerakkan oleh para tokoh dari
Lingkungan Wina, maka tidak mengherankan bila Sluga (1996: 14) pernah
menyebutkan bahwa Lingkungan Wina merupakan kumpulan para filsuf dan
ilmuwan yang berpikiran positif.
Lingkungan Wina berpusat di Wina, Austria. Kemunculannya digagas oleh
seorang filsuf sekaligus ahli fisika, Schlik, tahun 1925 (Ayer, 1987: 121). Dia
lebih suka bila Lingkungan Wina ini dinamai dengan Empirisme Konsisten atau
Empirisme Logis (Lacey, 1996: 262), namun karena nama ini telah biasa dipakai
untuk nama aliran filsafat yang berkembang di Amerika, Inggris dan Skandinavia,
maka
disepakatilah
untuk
mempergunakan
nama
Neo-Positivisme
atau
Positivisme Logis (Kaelan, 2006: 50).
Schlik mengundang banyak ahli dari pelbagai bidang dan setiap minggunya
mereka melakukan diskusi mengenai masalah-masalah filosofis yang menyangkut
ilmu. Di antara para ahli ini terdapat ahli-ahli matematika seperti Goedel, Hahn,
Menger, Carnap, Frank, ahli fisika Neurath, sosiolog Kraft, dan para filsuf seperti
Feigl dan Waismann (Ayer, 1956b: 70; Bertens, 2002: 182-183). Tidak seorang
pun dari banyak ahli ini yang merupakan seorang ‘filsuf asli’ atau ’filsuf
profesional’ (Williams, 2006: 1). Pandangan ini mungkin benar bila filsafat masih
dipandang secara sempit dalam pengertian filsafat tradisional yang abstrak dan
belum merambah ke wilayahnya yang lain, yakni ke wilayah subjek jenis kedua (a
second-order subject) ketika filsafat merupakan bicara tentang bicara.
12
Perkembangan Lingkungan Wina mendapatkan pengaruh dari tiga arah.
Pertama, pengaruh dari Empirisme dan Positivisme terutama dari Hume, Mill dan
Mach. Kedua, pengaruh dari metodologi ilmu empiris yang dikembangkan oleh
para ilmuwan sejak abad kesembilan belas, seperti dari Helmholtz, Mach,
Poincare, Duhem, Boltzmann dan Einstein. Ketiga, pengaruh dari perkembangan
logika simbolik dan analisis logis yang dikembangkan terutama sekali oleh Frege,
Whitehead, Russell dan Wittgenstein (Verhaak dan Imam, 1989: 154).
Pengaruh Wittgenstein, sebagai contoh, sangat terasa bila dirujuk kepada
buku Tractatus Logico-Philosophicus. Pengaruh ini dapat dilihat ketika para filsuf
dari Lingkungan Wina mengaklamasikan sebuah slogan tentang prinsip verifikasi
bahwa ‘makna dari sebuah proposisi adalah metode verifikasinya’ (the meaning of
statement is the way in which it is verified). Sebuah slogan yang jelas dipengaruhi
oleh pandangan Wittgenstein (Van Peursen, 1969: 47).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa Wittgenstein memiliki pengaruh
yang besar terhadap formulasi prinsip verifikasi. Lantaran itulah Padinjarekutt
(1974: 1-2) sampai berani menyimpulkan bahwa baik Wittgenstein maupun
Lingkungan Wina merupakan pihak-pihak yang menjadi tokoh bagi munculnya
prinsip verifikasi.
Meskipun Wittgenstein memiliki pengaruh yang sangat jelas terhadap
Lingkungan Wina, namun pengaruh ini tidak bersifat langsung karena
Wittgenstein sendiri tidak pernah menghadiri diskusi-diskusi Lingkungan Wina
secara langsung. Pikiran-pikiran Wittgenstein tersalurkan lewat Schlick dan
Waismann yang sering kali bertemu dengannya dalam pelbagai kesempatan
13
(Bertens, 2002: 183). Schlick, misalnya, adalah seorang pengagum buku
Tractatus Logico-Philosophicus Wittgenstein. Schlick sendiri yang kemudian
memperkenalkan buku tersebut ke dalam Lingkungan Wina dan menetapkannya
sebagai doktrin dalam pengembangan ilmu (Ayer, 1985: 8).
Pemikiran para anggota Lingkungan Wina sangat dipengaruhi oleh logika,
matematika dan ilmu alam yang bersifat positif dan empiris, sehingga kemudian
dapat dipastikan bahwa analisis logis tentang proposisi-proposisi ilmiah atau pun
proposisi-proposisi filsafat sangat ditentukan oleh metode ilmu positif dan empiris
tadi termasuk prinsip verifikasi tentunya (Kaelan, 2002: 124-125).
Lingkungan Wina memilah proposisi menjadi dua bentuk, yakni proposisi
formal dan proposisi empiris. Proposisi formal validitasnya bergantung kepada
suatu sistem simbol. Contohnya, logika dan matematika. Sementara proposisi
empiris adalah suatu pernyataan yang didasarkan kepada pengamatan aktual dari
mana secara logis proposisi dapat dihasilkan (Ayer, 1990: 18).
Dalam pandangan Lingkungan Wina, suatu proposisi akan menjadi
bermakna
ketika
secara
prinsip
proposisi
tersebut
dapat
diverifikasi,
memverifikasi berarti menguji atau membuktikan secara empiris. Setiap ilmu dan
filsafat senantiasa memiliki suatu proposisi, baik berupa aksioma, teori maupun
dalil.
Proposisi ini baru akan dipandang bermakna bila secara prinsip dapat
diverifikasi. Oleh karena itu, arti suatu proposisi adalah sama dengan metode
verifikasinya yang didasarkan kepada pengalaman empiris (Beerling, 1966: 108).
Prinsip verifikasi yang diusung oleh Lingkungan Wina di atas menghadapi
masalah. Para penganut Lingkungan Wina kesulitan untuk menemukan rumusan
14
yang memadai bagi prinsip verifikasi dimaksud. Kesulitan ini terjadi karena
mereka hanya mendasarkan prinsip verifikasi kepada pengalaman empiris
langsung. Contoh tentang hal di atas dapat ditemukan pada pemikiran Schlick
tentang prinsip verifikasi.
Schlick, dalam buku General Theory of Knowledge, mempertahankan
bahwa setiap proposisi ilmiah harus dapat diverifikasi empiris secara langsung
dalam artian bahwa proposisi dimaksud harus terkait dengan fakta empiris (Ayer,
1987: 122). Baginya, verifikasi harus dilakukan dengan pengamatan empiris
secara langsung, karena hanya proposisi yang dapat diverifikasi secara langsung
dari objek yang dapat diamati yang mengandung makna (Kaelan, 2002: 126).
Berbeda dengan Schlick dan para penganut Lingkungan Wina lainnya yang
hanya mengakui verifikasi empiris langsung karena mereka menganggap prinsip
verifikasi sebagai sebuah teori mengenai makna (a theory of meaning), maka Ayer
memandang prinsip verifikasi sebagai sebuah kriteria mengenai makna (a
criterion of meaning) (Padinjarekutt, 1974: 2), sehingga tidak hanya proposisi
yang dapat diverifikasi secara empiris langsung saja yang bermakna, tapi juga
proposisi-proposisi lainnya yang dapat diverifikasi secara tidak langsung atau
secara prinsip saja.
Ayer (1954: 36-37) menetapkan bahwa semua proposisi dapat diverifikasi
empiris dengan dua pengertian, yaitu dapat diverifikasi empiris secara ketat
(strong) dan dapat diverifikasi empiris secara secara longgar (weak). Suatu
proposisi dapat diverifikasi empiris dalam artian ketat bila proposisi-proposisi
tersebut berkaitan langsung dengan pengalaman. Sementara itu, proposisi-
15
proposisi juga dapat diverifikasi empiris dalam artian longgar bila terhadap
proposisi-proposisi
dimaksud
dimungkinkan
bagi
pengalaman
untuk
mewujudkannya.
Pemilahan atas dua bentuk verifikasi empiris ini merupakan usaha Ayer
untuk memberikan batasan-batasan dalam prinsip verifikasi, karena boleh jadi
suatu proposisi sebenarnya dapat diverifikasi secara empiris, namun tidak secara
langsung melainkan secara prinsip saja.
Apabila pemilahan ini tidak dilakukan, maka menurut Ayer semua proposisi
tentang masa lalu menjadi tidak bermakna. Agar suatu proposisi menjadi
bermakna, maka tidak perlu proposisi itu dapat diverifikasi secara faktual, sudah
cukup kalau verifikasi itu mungkin secara prinsip saja. Selain itu, suatu proposisi
mungkin tidak pernah dapat diverifikasi, namun proposisi dimaksud bermakna
dengan alasan seseorang tahu apa yang harus dilakukan untuk memverifikasinya,
meskipun mungkin tidak mampu untuk melaksanakannya (Bertens, 2002: 37).
Proposisi ‘di luar hujan turun’, misalnya, dapat diketahui bahwa pengamatan
empiris secara langsung dapat menerima atau menolaknya. Akan tetapi,
sebenarnya tidak perlu diadakan verifikasi terhadap proposisi ini atau bahkan
tidak perlu mampu untuk melakukan verifikasi atasnya, karena cukup secara
prinsip diketahui verifikasi seperti apa yang harus dilakukan (Kattsoff, 2004:
117).
Dalam buku yang sangat populer Language, Truth and Logic, Ayer
menjelaskan beberapa catatan mengenai prinsip verifikasi. Pertama, prinsip
verifikasi tidak ditujukan untuk menentukan kebenaran suatu ucapan, tapi
16
maknanya yang dicari. Suatu proposisi yang bermakna dapat benar atau salah.
Kedua, hanya proposisi yang menyangkut realitas empiris yang bermakna.
Dengan demikian, suatu proposisi yang bermakna adalah proposisi yang
dilakukan berdasarkan pengamatan, atau setidak-tidaknya memiliki hubungan
dengan pengamatan. Ketiga, selain proposisi yang berdasarkan data empiris,
hanya proposisi yang matematis dan logis yang bermakna. Kadang-kadang
proposisi-proposisi jenis ini tidak dapat diverifikasi secara empiris, karena
kesemuanya bergantung pada simbol-simbol yang dipergunakan. Proposisiproposisi jenis ini dikenal dengan tautologi. Keempat, tidak perlu bahwa suatu
proposisi dapat diverifikasi secara langsung, tapi cukup kalau verifikasinya dapat
dilakukan secara tidak langsung, misalnya melalui kesaksian orang yang dapat
dipercaya (Bertens, 2002: 36-37).
Prinsip verifikasi yang diangkat Ayer mempunyai konsekuensi yang tidak
kecil. Siapa pun yang menerima prinsip ini harus pula menerima bahwa proposisiproposisi metafisik menjadi tidak bermakna karena tidak dapat diverifikasi secara
empiris. Bahkan Ayer cenderung lebih radikal dibandingkan dengan para filsuf
Lingkungan Wina lainnya karena baginya semua proposisi bahasa teologi, etika,
estetika, aksiologi, ontologi, filsafat manusia pada hakikatnya adalah omong
kosong belaka atau tidak bermakna (Kaelan, 2002: 126, 141; 2006: 62). Apabila
orang berbicara tentang metafisika, baik yang membenarkan proposisi metafisik
maupun yang menegasikan proposisi yang sama pada hakikatnya adalah sia-sia
karena tidak ada kemungkinan untuk melakukan verifikasi.
17
Paparan di atas membawa kepada pemahaman bahwa konsep makna dalam
Positivisme Logis Ayer merupakan sesuatu yang menarik dan penting untuk
diteliti lebih jauh. Ayer dengan prinsip verifikasi longgarnya mampu mengatasi
kesulitan Lingkungan Wina dalam merumuskan prinsip verifikasi. Ia juga ikut
serta memopulerkan prinsip verifikasi dimaksud di Inggris. Selain itu, prinsip
verifikasi Ayer juga memiliki implikasi terhadap ilmu.
Adanya implikasi konsep makna dalam Positivisme Logis Ayer terhadap
ilmu berangkat dari asumsi bahwa ketika Ayer mengakui adanya batas-batas yang
berlaku untuk prinsip-prinsip verifikasi, yakni: (1) tidak perlu bahwa suatu ucapan
dapat diverikasi secara langsung, tapi cukuplah kalau verifikasinya dapat
dilakukan secara tidak langsung, misalnya, melalui kesaksian orang yang dapat
dipercaya; (2) supaya suatu ucapan bermakna, tidak perlu ucapan itu dapat
diverifikasi secara faktual, sudah cukuplah kalau verifikasi itu mungkin secara
prinsipial saja; (3) tidak perlu juga suatu ucapan dapat diverifikasi secara lengkap,
cukuplah jika ucapan itu dapat diverifikasi untuk sebagian saja (Bertens, 2002:
37), maka batas-batas ini menjadikan pelbagai disiplin ilmu seperti ilmu sejarah,
ilmu astronomi, dan ilmu fisika bermakna dalam pandangan Ayer. Sesuatu yang
sebelumnya sempat menimbulkan perdebatan di antara para anggota Lingkungan
Wina ketika Schlick hanya meletakkan prinsip verifikasi pada peristiwa yang
dapat dialami secara langsung.
18
D. Landasan Teori
Devitt dan Sterelny dalam buku Language & Reality: An Intoduction to the
Philosophy of Language mencatat bahwa para filsuf pengusung filsafat analitik
menaruh perhatian kepada bahasa. Jadi dalam hal ini filsuf tidak lagi menaruh
perhatian kepada moral, namun kepada bahasa moral. Atau tidak lagi menaruh
perhatian kepada ilmu, tapi kepada bahasa ilmu.
“According to this movement, briefly, philosophers should be concerned
simply with language. It is characteristic of the movement, therefore, to be
concerned not with moral, but with the language of morals; not with
science, but with the language of science; and so on…” (Devitt dan
Sterelny, 1989: 229-230).
Charlesworth dalam buku Philosophy and Linguistic Analysis memaparkan
keyakinan para filsuf analitik dalam kutipan berikut:
…the task of philosophy to be not that of making statements of a special
kind, but of „dissolving‟ the problems or „puzzles‟ which arise through
missunderstanding of „the logis of our language‟” (Charlesworth, 1959: 12).
Alston dalam buku Philosophy of Language berusaha untuk menjelaskan
keterkaitan antara filsafat dengan bahasa. Bagi Alston (1964: 5) bahasa
merupakan laboratorium filsafat yang dipergunakan untuk menguji dan
menjelaskan konsep-konsep dan problema-problema filosofis bahkan untuk
menentukan kebenarannya.
Russell juga pernah menjelaskan bahwa tugas filsafat adalah untuk
menganalisis fakta. Filsafat harus melukiskan jenis-jenis fakta yang ada, seperti
zoologi yang bertugas untuk menentukan jenis-jenis hewan. Fakta sendiri
merupakan ciri-ciri atau relasi-relasi yang dimiliki oleh benda-benda, sehingga
tidak dapat bersifat benar atau salah, karena yang dapat bersifat benar atau salah
19
adalah proposisi-proposisi yang mengungkapkan fakta (Bertens, 2002: 29). Bagi
Russell, proposisi adalah simbol bukan fakta. Oleh karenanya, apabila seseorang
menginventarisir dunia, maka proposisi tidak akan ditemukan di dalamnya
(Passmore, 1972: 234).
Wittgenstein
dalam
buku
Tractatus
Logico-Philosophicus
pernah
mengungkapkan bahwa:
The proposition is a picture of reality.
The poposition is a model of the reality as we think it is [4.01].
(Wittgenstein, 1951: 63).
Wittgenstein kemudian mengungkapkan lagi dengan beberapa kalimat
berikut:
The proposition is a picture of reality, for I know the state of affairs
presented by it, if I understand the proposition. And I understand the
proposition, without its sense having been explained to me [4.021]
(Wittgenstein, 1951: 67)
Wittgenstein mengungkapkan bahwa realitas dunia terumuskan dalam
proposisi- proposisi, maka terdapat suatu kesesuaian logis antara struktur bahasa
dengan struktur realitas dunia. Dan karena proposisi-proposisi terungkap melalui
bahasa, maka bahasa pada hakikatnya adalah suatu gambaran tentang dunia
(Kaelan, 2006: 43). Pandangan Wittgenstein inilah yang lebih jauh kemudian
dikenal dengan teori gambar (picture theory).
E. Metode Penelitian
1. Materi Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Oleh karenanya, dalam
penelitian ini dibutuhkan pelbagai karya kepustakaan yang dipergunakan sebagai
20
materi penelitian. Karya-karya kepustakaan dimaksud terdiri atas karya-karya
yang merupakan hasil tulisan Ayer, karya-karya yang membahas tentang sosok
Ayer atau pemikirannya, karya-karya yang berkenaan dengan masalah makna
dalam Positivisme Logis, dan karya-karya yang berkaitan dengan ilmu.
a. Karya-karya yang merupakan hasil karya Ayer.
Karya-karya Ayer yang dipakai sebagai materi penelitian ini di antaranya:
1) Language, Truth and Logic.
2) The Foundations of Empirical Knowledge.
3) The Problem of Knowledge.
4) Philosophy and Language.
5) Philosophical Essays
b. Karya-karya yang membahas tentang sosok Ayer atau pemikirannya.
Karya-karya yang membahas sosok Ayer atau pemikirannya yang dipakai
sebagai materi penelitian di antaranya:
1) Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman karya K. Bertens.
2) Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya karya Kaelan.
3) Perkembangan Filsafat Analitika Bahasa dan Pengaruhnya terhadap Ilmu
Pengetahuan karya Kaelan.
4) 20 Karya Filsafat Terbesar karya James Garvey.
5) The Encyclopedia of Philosophy Volume 1 karya Paul Edwards (Editor in
chief).
21
c. Karya-karya yang berkenaan dengan masalah Positivisme Logis.
Karya-karya yang berkenaan dengan masalah Posivisme Logis yang dipakai
sebagai materi penelitian di antaranya:
1) Alfred Jules Ayer‟s Criterion of Veriability karya Felik M. Bak.
2) The Principle of Verification: A Historical Study in Logical Positivism karya
Joanne Padinjarekutt.
3) Philosophy and Linguistic Analysis karya Maxwell John Charlesworth.
4) Language & Reality: An Intoduction to the Philosophy of Language karya
Michael Devitt dan Kim Sterelny.
5) A. J. Ayer Memorial Essays karya A. Phillips Griffiths (ed.).
d. Karya-karya yang berkaitan dengan ilmu.
Karya-karya yang berkaitan dengan masalah ilmu yang dipakai sebagai
materi penelitian di antaranya:
1) Realitas dan Objektivitas: Refleksi Kritis Atas Cara Kerja Ilmiah karya
Irmayanti M. Budianto.
2) Filsafat Ilmu Pengetahuan karya C. Verhaak dan R. Haryono Imam.
3) Susunan Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu karya C. A. Van
Peursen.
4) Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer karya Jujun S. Suriasumantri.
5) Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan: dari David Hume sampai Thomas
Kuhn karyo Donny Gahral Adian.
22
2. Cara/Alat Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan objek material
karya filsafat berupa konsep makna dalam Positivisme Logis Ayer. Oleh karena
itu, pengumpulan data dilakukan dengan pengkartuan, yakni membaca pada
tingkat simbolik dan semantik kemudian menyimpan data dengan parafrase pada
kartu-kartu data dengan kode tertentu. Penelitian dilakukan dengan cara peneliti
langsung melakukan pengumpulan data dari sumber data yang ada sekaligus
melakukan analisis data.
3. Jalan Penelitian
a. Tahap pengumpulan data penelitian
Pengumpulan data penelitian terdiri atas tiga tahap yakni persiapan
pengumpulan data penelitian, pelaksanaan pengumpulan data penelitian, dan
pengorganisasian dan pengolahan data penelitian.
1) Persiapan pengumpulan data penelitian
Tahap persiapan pengumpulan data penelitian terdiri atas langkah-langkah
sebagai berikut:
a) Penentuan dan pengenalan lokasi pengumpulan data, seperti perpustakaan,
toko buku, koleksi pribadi, atau warung internet.
b) Penentuan dan penyiapan instrumen pengumpulan data, seperti foto copy dan
kartu data.
c) Penentuan klasifikasi sumber data yang relevan sesuai ciri dan kategori,
misalnya klasifikasi ke dalam data primer dan data sekunder.
23
2) Pelaksanaan pengumpulan data penelitian
Tahap pengumpulan data penelitian terdiri atas langkah-langkah sebagai
berikut:
a) Pembacaan pada tingkat simbolik. Pembacaan dilakukan untuk menangkap
sinopsis dari isi buku, bab yang menyusunnya, sub bab sampai pada bagianbagian terkecil dalam buku.
b) Pembacaan pada tingkat semantik. Pembacaan dilakukan dengan lebih terinci,
terurai dan menangkap esensi buku sebagai sumber data. Pembacaan juga
disertai dengan analisis. Pembacaan juga terlebih dahulu ditujukan kepada
sumber primer lalu dilanjutkan pembacaan sumber sekunder.
c) Pencatatan pada kartu data. Pencatatan didasarkan kepada analisis, sehingga
diketahui mana data yang hanya diambil intisarinya, dan mana pula yang
harus diambil secara utuh. Pencatatan dapat dilakukan secara quotasi,
parafrase, sinoptik atau precis.
d) Pengkodean pada kartu data. Pengkodean ini dilakukan untuk mencegah
terjadinya
penumpukan
dan
pencampuradukan
catatan.
Pengkodean
disesuaikan dengan masalah penelitian, misalnya sumber proposisi ditulis SP
pada sudut kiri kartu. Pengkodean tidak hanya ditujukan pada data tapi juga
sumber kepustakaan.
3). Pengorganisasian dan pengolahan data penelitian
Setelah data terkumpul maka dilakukan pengorganisasian dan pengolahan
data yang terdiri atas empat alur yakni reduksi data, klasifikasi data, penyajian
24
data, dan penafsiran data (Kaelan, 2005: 68). Alur-alur ini berlangsung secara
bersamaan (Miles dan Huberman, 1992: 16-21).
a) Reduksi data penelitian
Semua data yang telah dikumpulkan kemudian disederhanakan, dirangkum
dan dipilih hal-hal pokok yang difokuskan pada hal-hal yang penting, baik data
tentang makna dalam Positivisme Logis atau ilmu. Alur reduksi data ini nantinya
akan memberikan kemudahan kepada peneliti untuk melihat gambaran tentang
hasil penelitian, dan sekaligus mempermudah peneliti untuk mencari data kembali
bila dirasakan data yang tersedia belum memadai.
b) Klasifikasi data penelitian
Setelah dilakukan reduksi data, maka dilanjutkan dengan klasifikasi data
yakni dengan mengelompokkan data berdasarkan ciri khas masing-masing sesuai
dengan objek formal penelitian. Contohnya, data mana saja yang berkaitan dengan
Positivisme Logis.
c) Penyajian data penelitian
Penyajian data dijalankan dengan menyusun data yang telah diklasifikasi
sesuai objek formal dan tujuan penelitian. Dengan begini, maka masalah yang
makna data yang terdiri atas berbagai konteks dapat dikuasai.
d) Penafsiran data
Data penelitian yang tersedia, yang sedari awal telah dimulai dipahami,
dicari keteraturannya, dicari pola-polanya, dicari alur kausalitasnya, dan
sebagainya.
25
b. Tahap analisis data penelitian
1) Analisis pada waktu pengumpulan data penelitian
Objek material penelitian ini adalah karya filsafat berupa konsep makana
dalam Positivisme Logis Ayer. Oleh karenanya, sumber data penelitiannya berupa
buku-buku kepustakaan filsafat. Konsekuensinya dalam pengumpulan data
penelitian dipergunakan metode deskriptif. Selanjutnya mengingat data penelitian
yang dikumpulkan adalah data verbal deskriptif dalam bentuk uraian kalimat yang
panjang, maka metode analisis data yang dipergunakan adalah metode verstehen
dan metode interpretasi untuk menangkap esensi makna dalam Positivisme Logis
Ayer yang terumuskan dalam rumusan verbal kebahasaan. Selain itu,
dipergunakan juga metode analitika bahasa berupa analisis terhadap analysandum
dan analysans yang terkandung dalam data verbal kebahasaan konsep makna
dalam Positivisme Logis Ayer serta metode historis menyangkut perkembangan
pemikiran Ayer dan latar belakangnya. Analisis data ini merupakan analisis awal
karena analisis data secara keseluruhan baru dilakukan setelah proses
pengumpulan data.
2) Analisis setelah pengumpulan data penelitian
Unsur-unsur metode yang relevan dalam analisis data ini adalah sebagai
berikut.
a) Metode historis
Metode historis dipergunakan dalam penelitian ini karena objek material
penelitian yang ingin dicermati adalah konsep makna dalam Positivisme Logis
Ayer yang telah berlangsung di masa silam. Metode ini terperikan dalam dua
26
bentuk metode lainnya, yakni metode deskriptif historis dan metode rekonstruksi
biografis.
Metode deskriptif historis dipergunakan untuk melukiskan, menjelaskan dan
menerangkan peta sejarah, yakni terkait tentang apa, siapa, kapan, bagaimana, dan
di mana peristiwa sejarah terjadi. Dalam penelitian ini, metode deskriptif historis,
misalnya, dipergunakan untuk menerangkan aliran filsafat/pemikiran filsuf mana
saja yang telah mempengaruhi perkembangan pemikiran Ayer.
Metode rekonstruksi biografis dipakai dalam rangka untuk memahami dan
mendalami kepribadian seseorang yang menjadi objek penelitian. Dalam
penelitian ini seseorang dimaksud adalah Ayer. Dengan metode ini, misalnya,
akan didalami proses pendidikan Ayer.
b) Metode verstehen
Metode verstehen dipergunakan untuk memahami data sesuai dengan
kategori dan karakteristik masing-masing. Oleh karena dalam penelitian ini data
yang terkumpul merupakan data verbal, maka metode ini dipergunakan dalam
tahap pemahaman simbolik. Peneliti memahami bagian atau unsur makna yang
dikumpulkan
dalam
penelitian.
Dalam
penelitian
ini,
misalnya,
akan
diinventarisasi tulisan-tulisan yang berkenaan dengan Positivisme Logis.
Kemudian berusaha untuk dipahami data kebahasaannya agar diperoleh makna
yang dikandung di dalamnya.
c) Metode interpretasi
Metode interpretasi dipakai untuk menunjukkan arti, mengungkapkan, dan
mengatakan esensi pemikiran secara objektif. Apabila sumber data verbal dalam
27
bentuk bahasa asing, maka proses analisis interpretasi dilakukan dengan
menerjemahkan, yakni dengan mengalihkan makna dari bahasa asing ke bahasa
Indonesia. Dalam penelitian ini, misalnya, oleh karena karya-karya Ayer
dituliskan dalam bahasa Inggris, maka akan dialihmaknakan ke dalam bahasa
Indonesia.
d) Metode analitika bahasa
Metode analitika bahasa dipakai untuk menganalisis konsep pemikiran yang
sifatnya terminologis, yang maknanya kurang jelas, agar menjadi semakin jelas.
Analisis bertolak dari analysandum (pangkal urai) dan diuraikan menjadi
analysans (penguraian). Contohnya dalam penelitian ini adalah analisis terhadap
terminologi Positivisme Logis Ayer.
e) Metode hermeneutika
Metode hermeneutika dipergunakan untuk menangkap makna esensial yang
sesuai dengan konteksnya. Setelah data dikumpulkan, maka peneliti melakukan
interpretasi terhadap data, sehingga esensi data dapat ditangkap dan dipahami
sesuai konteksnya. Dalam penelitian ini prinsip verifikasi akan dipahami sesuai
dengan konteksnya di masa Ayer, atau dialihkan sesuai dengan konteks masa kini.
f) Metode komparatif
Metode komparatif di sini tidak dalam artian metode komparatif dalam
penelitian komparatif yang berusaha menemukan asas komparatif pada suatu
sistem filsafat. Metode komparatif di sini dipergunakan sekadar untuk melihat
komparasi dalam arti sederhana, seperti komparasi antara Positivime Logis Ayer
dengan Positivisme Logis Lingkungan Wina.
28
g) Metode induktif
Metode induktif dilakukan dilakukan dengan menyimpulkan berdasarkan
data yang telah dikumpulkan dan dianalisis. Oleh karenanya, penyimpulan
dilakukan dengan induktif-a posteriori. Akan tetapi, penyimpulan ini bukan untuk
merumuskan generalisasi, namun untuk mewujudkan suatu konstruksi teoritis,
dengan melalui pengetahuan intuitif, untuk menemukan suatu kejelasan
konstruksi logis.
h) Metode heuristika
Metode heuristika dipergunakan untuk menemukan dan mengembangkan
suatu jalan baru, baik berupa suatu pemikiran baru setelah melakukan
penyimpulan, kritik teoritis, atau menemukan suatu metode baru.
c. Tahap penyajian hasil penelitian
Sebagai tahapan terakhir dari penelitian adalah penyajian hasil dalam bentuk
disertasi. Penyajian hasil penelitian dilakukan dengan cara menuliskan hasil-hasil
penelitian secara sistematis dan utuh.
Download