Kiai, Oase Gerakan di tengah Gurun Oligarki Politik dan Ekonomi.1

advertisement
Kiai, Oase Gerakan di tengah Gurun Oligarki Politik dan Ekonomi. 1
Oleh: Mohammad Didit Saleh2
Di tengah runtuh-nya kepercayaan ummat terhadap para kiai dengan tertangkap tangannya K.H. Fuad Amin –Ketua DPRD Kabupaten Bangkalan, yang di periode sebelumnya
menjabat sebagai mantan Bupati Bangkalan– oleh lembaga anti rasuah dalam kasus suap
senilai kurang lebih tujuh ratus juta atas proyek gas di Bangkalan. Berita tentang Halaqoh
kebangsaan (Kompas,30 Maret 2015), dengan tema pesantren dan pemberantasan korupsi,
yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dengan peserta para
pengasuh pondok pesantren –Kiai– se Jawa Timur membangkitkan rasa optimisme bagi
gerakan masyarakat sipil di Indonesia bahwa para kiai masih tetap mengambil bagian
dalam mengawal konslidasi demokrasi di daerah maupun nasional.
Ada lima catatan hasil Halaqoh Kebangsaan di Tebuireng tersebut yang patut untuk
dipertimbangkan oleh pemerintah dalam menjalankan roda pemerintah. Pertama, seluruh
penyelenggara negara di semua tingkatan harus menunjukkan komitmennya sebagai
pelopor pemberantasan korupsi. Kedua, presiden harus bersikap tegas dalam penanganan
urusan korupsi dengan melakukan upaya-upaya politik nyata yang mengarah pada
penyamaan persepsi dan penguatan institusi-institusi hukum seperti Polri, KPK, MA,
Kejaksaan, dan penegak hukum lain-nya. Ketiga, presiden harus menolak segala bentuk
intervensi politik pihak manapun yang mengarah pada pelemahan atau mencari-cari
kesalahan terhadap lembaga maupun pegiat anti korupsi yang berpihak dan
memperhatikan aspirasi rakyat. Keempat, mengusulkan hukuman seberat-beratnya,
pemiskinan, sanksi sosial bagi koruptor serta menolak pemberian remisi dan pembebasan
bersyarat bagi mereka. Kelima, mendorong pemerintah dan parlemen untuk memberikan
dukungan politik bagi penguatan lembaga anti korupsi.
Lima poin hasil Halaqoh di atas, yang telah dirumuskan oleh para kiai, tentu tidak
berangkat dari realitas sosial yang semu. Rumusan rekomendasi di atas muncul atas asumsi
dasar bahwa oligarki politik dan ekonomi tengah menguat dan memperluas dominasi baik
di level daerah maupun nasional. Asumsi dasar rumusan ini tidak jauh berbeda dengan
data yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri [Kemendagri]3 terdapat enam puluh
tiga orang kepala daerah dari 524 daerah di Indonesia yang terlibat dinasti politik dengan
patut diduga motif-nya untuk kepentingan ekonomi, sumber daya alam, maupun potensi
ekonomi lain-nya. Data ini lebih dari cukup untuk menggambarkan demokrasi di Indonesia
Catatan ini merupakan refleksi penulis paska kegiatan Halaqoh Kebangsaan: Pesantren dan Pemberantasan
Korupsi, yang diselenggarakan atas kerjasama Pondok Pesantren Tebuireng, ICW, Transparancy International
Indonesia (TII), Malang Corruption Watch, Gusdurian, Robithoh Ma’had Al-Islamiyah (RMI), Kontras, Yappika,
LBH Surabaya, dan LBH Jakarta, di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, 29 Maret 2015.
2Peneliti di Institute for Strengthening Transition Society Studies (In-trans Institute) dan kandidat master
Literature and Culture Studies Program at Airlangga University.
3
Yossihara, Anita.2014. Melepas Belenggu Oligarki Politik.Kompas, 21 September 2014.
1
telah dibajak oleh sekelompok elit politik, ekonomi, mampun elite massa. Ini menjadi data
penting yang menggambarkan proses promosi dan demosi dalam Pilkada sudah
bertransformasi menjadi tempat sirkulasi elit keluarga untuk meraih kekuasan. Situasi ini
berdampak pada kebijakan yang tidak beorientasi kepada kepentingan ummat dan
menjadikan hukum hanya sebagai alat untuk kepentingan mempertahankan kekuasaan.
Winter4 dan Richard Robinson5 serta Vedi Hadiz mengistilahkan kondisi pemerintahan di
atas merupakan sebuah bentuk oligarki. Oligarki merupakan politik mempertahankan
kekayaan oleh mereka yang kaya. Oligarki, bagi Winters, tidak selalu merujuk kepada
tindakan politik yang dilakukan oligark. Dengan kata lain, dalam koridor pemikiran
Winters, seorang oligark tak selalu mesti punya motif politik. Sementara itu, Robison dan
Hadiz lebih cair mendefinisikan oligarki. Oligarki bagi mereka adalah suatu sistem yang
dibangun oleh aliansi yang cair. Berbeda dengan Winters, bagi Robison dan Hadiz, oligarki
membaurkan motif politik dengan bisnis. Oleh sebab itu, posisi politik seorang oligark
mestilah digunakan untuk menunjang kepentingan ekonomi. Begitu pula sebaliknya,
kekuatan ekonomi menunjang pengajaran posisi politik.
Teladan Gerakan
Berita, data, dan hasil rumusan Halaqoh di atas tentu mengingatkan kita pada semangat
anti korupsi sosok alm. KH. Ach. Fawaid As’ad, pengasuh Pondok Pesantren SalafiyahSyafi’iyah Asembagus Situbondo dan seorang putra mediator NU –K.H As’ad Syamsul
Arifin– yang melakukan aksi blokade jalur pantura Situbondo-Banyuwangi atas kasus
korupsi kasdagate senilai Rp. 45,750 miliar yang dilakukan oleh Bupati Situbondo,
Ismunarso (Kompas6,28-30 Oktober 2008). Aksi yang terjadi selama tiga hari berhasil
mendesak Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) untuk segera mengeluarkan surat izin
pemeriksaan Bupati Situbondo sebagai tersangka.
Kisah lain yang hari ini masih terus bergulir dan diperjuangkan di Jawa Tengah adalah
kasus penolakan pembangunan pabrik semen di Rembang. Penolakan ini pula salah satunya
dimotori oleh K.H. Ach. Mustofa Bisri, nama lengkap Gus Mus. Gus Mus sebagai sosok kiai
yang punya pengaruh kuat dikalangan nahdhiyyin pun angkat suara tentang pentingnya
penyelamatan lingkungan dan penolakan terhadap pertambangan semen di kawasan
Kendeng. Penolakan yang dilakukan oleh Gus Mus ini tentu tidak hanya dibaca sebagai
penolakan terhadap pembangunan pabrik semen, akan tetapi secara mendasar merupakan
perlawanan terhadap bentuk oligarki ekonomi dan politik penguasa yang tidak berpihak
pada ummat-nya.
Narasi kisah tentang perjuangan dua kiai di atas lebih dari cukup memberikan inspirasi
bagi para kiai atau resi lainnya untuk berbuat pada ummat-nya. Kiai sebagai tokoh panutan
ummat tidak hanya lagi sibuk duduk berkhutbah di atas mimbar dan bersolek di depan
layar kamera dengan mengajarkan ummat-nya tentang dalil-dalil “kesabaran”. Ummat
Winter.2011.Oligarki (terj). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Robinson, Richard and Hadiz, Vedi. 2004. Reorganizing Power In Indonesia: The Politics of Oligarchy in Age of
Markets. London: Routledge.
6 Ono.2008. Liputan Khusus: Jalur Pantura Diblokade, Penyeberangan Ketapang Lumpuh.Kompas, 28-30 Maret 2008.
4
5
sebagai pengikut para kiai sudah sangat sabar menghadapi kehidupan yang tak berpihak
kepadanya.
Oleh karena itu, sudah seharusnya para kiai atau resi mendatangi ummatnya untuk
melakukan misi-misi pembebasan, transformasi sosial, dan mengawasi pemerintah yang
dhalim terhadap ummat-nya. Sebagaimana petuah seorang resi Lao Tse 6 abad sebelum
masehi, datanglah kepada rakyat (ummat-pen), hiduplah bersama mereka, belajarlah dari
mereka, cintailah mereka, mulailah dari apa yang mereka tahu, dan bangunlah dari apa
yang mereka punya. Apabila ummat sudah bisa melakukannya dengan mandiri, maka
tugas seorang resi sudah cukup saja mengantarkan. Dititik ini diharakpan memunculkan
para kiai organik, dalam istilah Antonio Gramsci disebut intelektual organik7, sebagai oase
panutan gerakan di saat ummat-nya hidup diantara gurun kemiskinan dan ketidak adilan.
Sinergi Gerakan
Muncul-nya tesis karang-karang frutasi dan pesimisme dikalangan para aktivis dan
akademisi akan orientasi gerakan masyarakat sipil yang terfragmentasi. Seperti sederet
tantangan yang ditulis oleh Hizkia Yosie Polimpung8 tentang demokrasi yang tersabotase
oligarki, birokratisme dan teknokratisme politik, korupsi partai politik dan politisinya,
politik transaksional nir-idiologi, mahasiswa pragmatis, korporasi membeli negara,
kongkalingkong dengan korporasi asing, tunduknya kedaulatan di hadapan kapital dan
negara besar, Ornop dan akademisi yang sibuk dengan aktivitas proyek masing-masing,
maka cerita perjuangan dua kiai dan hasil rumusan kegiatan Halaqoh Kebangsaan di
Pondok Pesantren pimpinan K.H Sholaduddin Wahid di atas penting untuk dijadikan
peluang oleh Ornop, Ormas, dan kelompok masyarakat sipil lainnya untuk membangun
gerakan bersama dan bekerlanjutan.
Kiai yang mempunyai modal sosial dan menjadi panutan ummat bisa dilibatkan oleh aktivis
anti korupsi, demokrasi, penyelamatan lingkungan, dan isu sosial lainnya untuk
membangun satu peta jalan (road map) dalam mengawal kebijakan pemerintah baik di level
nasional maupun daerah. Sinergi gerakan ini sebagai salah satu momentum untuk
memperkuat gerakan masyarakat sipil yang mengalami kebuntuan dalam mendobrak
sistem ekonomi, hukum, dan politik yang korup. Misalnya, salah satunya membangun
forum bersama dengan memaksimalkan peran kiai dan pesantrennya untuk mengawal
Pemilukada yang akan diselanggarakan serentak pada 2015 di 204 daerah, terdiri atas 8
propinsi, 170 kabupaten, dan 26 kota, dari prilaku koruptif, politik uang, tidak transparan,
dan akuntabel.
7
Intelektual organik merupakan para intelektual yang tidak sekedar menjelaskan kehidupan sosial dari luar
berdasarkan kaidah-kaidah saintifik, tapi juga memakai bahasa kebudayaan untuk mengekspresikan perasaan
dan pengalaman real yang tidak bisa diekspresikan oleh masyarakat sendiri . Lihat Kolakowski, Leszek.1978.
Main Current of Marxism, Vol. III.Oxford: Clarendom Press.hal.240.
8
Hizkia Yosia Polimpung, Di antara Karang-Karang Frustrasi dan Korupsi :Nafas Aktivisme dan Transformasi Sosial
hari-hari ini, makalah disampaikan dalam pembukaan Sekolah Ideologi dan Gerakan Sosial, Malang, 14 Februari
2015.
Dengan demikian, ini menjadi peluang bagi para aktivis dan pegiat sosial untuk tidak
hanya melibatkan kelompok-kelompok warga, akan tetapi penting pula untuk melibatkan
para kiai dan pesantren-nya dalam mempercepat rencana aksi gerakan. Sebaliknya ini pula
menjadi tantangan bagi para kiai sebagai salah satu tulang punggung gerakan masyarakat
sipil di Indonesia, untuk tidak menjadi bagian dari prilaku politik koruptif yang tidak
membebaskan bagi ummat-nya. Penting bagi para kiai untuk segera mentransformasikan
gerakan moral menjadi gerakan sosial. Gerakan yang menjadi harapan bagi ummat di
Indonesia untuk melawan arus kecenderungan menguatnya dominasi oligarki ekonomi dan
politik yang terjadi di nasional maupun daerah. [MDS]
Download