7 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Budaya Organisasi

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Budaya Organisasi
Pengertian budaya organisasi pemahaman para pakar mengenai budaya
organisasi sebagai kesepakatan bersama mengenai nilai-nilai kehidupan yang
mengikat semua orang dalam organisasi mendasari arti penting pemahaman budaya
organisasi orang-orang yang tergabung di dalamnya.Robbins and Judge (2008:256)
kultur organisasi mengacu pada sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para
anggota yang membedakan organisasi tersebut dengan organisasi lainya sistem
makna bersama adalah sekumpulan karakteristik kunci diujung tinggi oleh
organisasi. Budaya organisasi merupakan pengendali dan arah dalam membentuk
sikap dan perilaku para anggota di dalam suatu organisasi. Secara individu maupun
kelompok seseorang tidak akan terlepas dari budaya organisasi dan pada umumnya
anggota organisasi akan dipengaruhi oleh beraneka ragamnya sumber daya yang ada.
Menurut Stoner (1996) dalam Waridin dan Masrukin (2006) budaya
merupakan gabungan kompleks dari asumsi, tingkah laku, cerita, mitos, metafora,
dan berbagai ide lain yang menjadi satu untuk menentukan apa arti menjadi anggota
masyarakat tertentu. Budaya organisasi atau
corporate culture sering diartikan
sebagai nilai-nilai,symbol-simbol yang dimengerti dan dipatuhi
bersama, yang
dimiliki suatu organisasi sehingga anggota organisasi selalu merasa satu keluarga
dan menciptakan suatu kondisi anggota organisasi tersebut berbeda dengan
organisasi lain.
Robbins (2006) menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan suatu system
makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi yang membedakan
organisasi itu dengan yang lain. Budaya organisasi adalah suatu system nilai yang
diperoleh dan dikembangkan oleh organisasi dan pola kebiasaan dan falsafah dasar
pendirinya, yang terbentuk menjadi aturan yang digunakan sebagai pedoman dalam
berfikir dan bertindak dalam mencapai tujuan organisasi. Budaya yang tumbuh
menjadi kuat mampu memacu organisasi kearah perkembangan yang lebih baik.
7
8
Mangkunegara (2005) menyimpulkan pengertian budaya organisasi sebagai
seperangkat asumsi atau system keyakinan, nilai-nilai, dan norma yang
dikembangkan dalam organisasi yang dijadikan pedoman tingkah laku bagi anggotaanggotanya untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal.
2.1.1 Pembentukan Budaya Organisasi
Menurut Robbins dan judge (2007), dibutuhkan waktu yang lama untuk
pembentukan suatu budaya organisasi. Sekali terbentuk, budaya itu cenderung
berurat berakar, sehingga sulit bagi para manajer untuk mengubahnya. Menurut
Agung (2007), ada tiga macam proses terbentuknya budaya perusahaan, yaitu :
1) Budaya diciptakan oleh pendirinya.
2) Budaya terbentuk sebagai upaya menjawab tantangan dan peluang dari
lingkungan internal dan eksternal.
3) Budaya diciptakan oleh tim manajemen sebagai cara untuk meningkat kan
kinerja perusahaan secara sistematis.
Menurut Robbins (2007), menyatakan bahwa peran atau fungsi budaya di
dalam suatu organisasi, yaitu :
1) Sebagai tapal batas yang membedakan secara jelas suatu organisasi dengan
organisasi yang lain.
2) Memberikan rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
3) Memudahkan penerusan komitmen hingga mencapai batasan yang lebih
4) luas daripada kepentingan individu.
5) Mendorong stabilitas system social, merupakan perekat social yang membantu
mempersatukan organisasi.
6) Membentuk rasa dan kendali yang memberikan panduan dan membentuk sikap
serta perilaku karyawan.
2.1.2 Dimensi dan indikator Budaya Organisasi
Dimensi-dimensi yang digunakan untuk membedakan budaya organisasi,
menurut Robbins dan Judge (2008:256) ada tujuh karakteristik primer yang secara
bersama-sama menangkap hakikat budaya organisasi, yaitu :
1) Inovasi dan pengambilan resiko. Sejauh mana para karyawan didorong untuk
inovatif dan berani mengambil resiko.
9
2) Perhatian ke hal yang rinci. Sejauh mana para karyawan diharapkan mau
memperlihatkan kecermatan, analisis, dan perhatian kepada rincian.
3) Orientasi hasil. Sejauh mana manjemen focus pada hasil bukan pada teknik dan
proses yang digunakan untuk mendapatkan hasil itu.
4) Orientasi orang. Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek hasil
pada orang–orang di dalam organisasi itu.
5) Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan dalam tim-tim
6) kerja, bukannya individu.
7) Keagresifan. Sejauh mana orang-orang itu agresif dan kompetitif, bukan
bersantai.
8) Kemantapan. Sejauh mana kegiatan organisasi menekanka dipertahankannya
status sebagai lawan dari pertumbuhan atau inovasi.
2.1.3 Nilai-nilai dalam Budaya Organisasi
Menurut Sigit (2003) nilai adalah keyakinan yang bertahan lama mengenai
suatu yang dianggap berharga, penting, mempunyai arti, diinginkan, dan
diprioritaskan sehingga diperjuangkan untuk direalisasikan. Menurut Hofstede yang
dikutip Wutun (2004), nilai-nilai yang terbentuk di dalam organisasi kerja,
sumbernya dari masyarakat yang kemudian dibawa ke dalam organisasi ketika
seseorang menjadi anggota organisasi tertentu. Nilai-nilai dari suatu masyarakat
diyakini dominan mempengaruhi budaya perusahaan tempat organisasi berbeda.
Nilai terbentuk mulai dari keluarga social, sekolah, dan universitas.Nilai-nilai budaya
merupakan gejala kolektif dan lebih mencerminkan gejala komunitas. Hofstede juga
menyimpulkan bahwa nilai-nilai para pendiri dan pemimpin kunci membentuk
budaya perusahaan. Menurut Tjitra (2007), untuk mencapai keberhasilan yang
permanen, organisasi perlu membangun core values yang
membentuk budaya
organisasi.Nilai-nilai ini akan memotivasi setiap orang dalam organisasi, berfungsi
memperjelas alasan organisasi untuk bertindak dan melakukan sesuatu. Nilai inti ini
juga menjadi ukuran dalam menentukan prioritas dalam pengambilan keputusan dan
menjadi pedoman perilaku anggota organisasi.Menurut Majer (2006) adalah menjadi
hal yang penting menemukan nilai-nilai yang merupakan nilai inti seluruh angota
organisasi untuk dihayati. Tidak ada batsan jumlah nilai yang dianut suatu organisasi,
namun mempunyai terlalu banyak nilai sama seperti mengabdi kepada terlalu banyak
tuan. Nilai-nilai yang dipegang teguh oleh anggota organisasi akan membentuk
10
keyakinan dan sikap anggota yang pada gilirannya akan menentukan bagaimana
mereka berperilaku.
2.1.4 Tipe Budaya Organisasi
Menurut Robert Kreitner dan Angelo Kinicki yang diterjemahkan oleh Erly
Suandy (2006:86) terdapat tiga tipe umum budaya organisasi yaitu: konstruktif,
pasif-defensif , dan agresif-defensif. Setiap tipe berhubungan dengan seperangkat
keyakinan normatif yang berbeda. Keyakinan normatif mencerminkan pemikiran dan
keyakinan individu mengenai bagaimana anggota dari sebuah kelompok atau
organisasi tertentu diharapkan menjalankan tugasnya dan berinteraksi dengan orang
lain.
1. Budaya konstruktif adalah budaya dimana para karyawan didorong untuk
berinteraksi dengan orang lain dan mengerjakan tugas dan proyeknya dengan
cara
yang
akan
membantu
mereka
dalam
memuaskan
kebutuhannya,
berhubungan dengan pencapaian tujuan aktualisasi diri, penghargaan yang
manusiawi, dan persatuan.
2.
Budaya pasif-defensif bercirikan keyakinan yang memungkinkan bahwa
karyawan berinteraksi dengan karyawan lain dengan cara yang tidak mengancam
keamanan kerjanya sendiri. Budaya ini mendorong keyakinan normatif yang
berhubungan
dengan
persetujuan,
konvensional,
ketergantungan,
dan
penghindaran.
3. Perusahaan dengan budaya agresif-defensif mendorong karyawannya untuk
mengerjakan tugasnya dengan keras untuk melindungi keamanan kerja dan status
mereka. Tipe budaya ini lebih bercirikan keyakinan normatif yang mencerminkan
oposisi, kekuasaan dan kompetitif.
Secara alami budaya organisasi sukar untuk dipahami, tidak berwujud, implisit,
dan dianggap biasa saja. Setiap perusahaan memiliki tipe budaya organisasi, sebuah
organisasi atau perusahaan mungkin dapat memiliki budaya organisasi dominan yang
sama, namun perusahaan memiliki keyakinan normatif dan karakteristik budaya
organisasi yang lain.
Secara lebih jelas tipe-tipe budaya organisasi dapat dilihat pada Tabel sebagai
berikut :
11
Tabel 2.1 Tipe – Tipe Budaya Organisasi
Tipe
Umum
Keyakinan
Budaya
Normatif
Karakteristik Organisasi
Organisasi
Konstruktif
Pencapaian tujuan Organisasi yang demikian, menilai anggotanya
yang dapat menetapkan dan meraih tujuannya
sendiri. Anggota diharapkan dapat menetapkan
tujuan
yang
menantang
membuat
rencana
tersebut,
dan
namun
untuk
realistis,
meraih
mengusahakannya
tujuan
dengan
antusias. (mengejar standar kesempurnaan)
Aktualisasi diri
Organisasi
yang
menghargai
kreatifitas,
kualitas melebihi kuantitas. Penyelesaian tugas
dan pertumbuhan individu anggota didorong
untuk
merasakan
kesenangan
dari
pekerjaannya, mengembangkan diri mereka
sendiri, dan mengerjakan aktivitas yang baru
dan menarik. (berpikir dengan cara yang unik
dan independen)
Penghargaan
Organisasi
yang
dikelola
dengan
cara
yang manusiawi
partisipatif dan berpusat pada pribadi. Anggota
diharapkan untuk bersikap sportif, konstruktif,
dan terbuka terhadap pengaruh saat mereka
berhadapan. (membantu orang lain untuk
tumbuh dan berkembang)
Persatuan
Organisasi yang menempatkan prioritas utama
dalam hubungan antar pribadi yang bersifat
konstruktif. Para anggota diharapkan untuk
bersikap ramah, terbuka, dan sensitif terhadap
12
kepuasan kelompok kerja mereka. (berhadapan
dengan orang lain dengan bersahabat)
Pasif-defensif Persetujuan
Organisasi dimana konflik dihindari dan
hubungan
antar
personal
menyenangkan-
setidaknya tampak dari luar. Para anggota
merasa bahwa mereka harus setuju, mendapat
persetujuan, dan
disukai oleh orang lain.
(bergaul dengan orang lain)
Konvensional
Organisasi
yang
dikendalikan
secara
konservatif, tradisional, dan birokratis. Para
anggota diharapkan untuk menyesuaikan diri,
mematuhi peraturan, dan memberikan kesan
yang baik. (selalu mengikuti kebijakan dan
kebiasaan yang berlalu)
Ketergantungan
Organisasi yang dikendalikan secara hierarkis
dan
bersifat
non-partisipatif.
Pembuatan
keputusan yang tersentralisasi menyebabkan
para anggota hanya melakukan apa yang
diperintahkan pada mereka dan menjalankan
seluruh keputusan atasan.
(menguntungkan mereka yang menduduki
posisi kekuasaan)
Penghindaran
Organisasi yang gagal menghargai sukses
namun sebaliknya menghukum kesalahan.
Sistem
penghargaan
menyebabkan
para
tanggungjawab
dengan
menghindari
yang
negatif
anggota
orang
kemungkinan
ini
bertukar
lain
dan
dipersalahkan
karena berbuat salah.
(menunggu orang lain bertindak dulu)
Agresifdefensif
Oposisi
Organisasi dimana pandangan negatif dan
konfrontasi diberi penghargaan. Para anggota
memperoleh status dan pengaruh dengan
13
bersikap
kritis
sehingga didukung untuk
menentang ide orang lain. (menyoroti cacat
atau kekurangan)
Kekuasaan
Organisasi non-partisipatif yang dibangun
berdasar
kekuasaan
yang
melekat
pada
kedudukan anggotanya. Para anggota yakin
bahwa
mereka
melaksanakan
akan
perintah,
dihargai
karena
mengendalikan
bawahan, dan pada saat yang sama, bersikap
responsif
terhadap
permintaan
atasan.
(membangun kekuasaan seseorang)
Kompetitif
Kemenangan dihargai dan para anggota diberi
penghargaan
karena
prestasinya
melebihi
orang lain. Para anggota bekerja dalam
kerangka ”menang-kalah” dan yakin bahwa
mereka
harus
bekerja
melawan
(bukan
bersama) rekan sekerja. (mengubah pekerjaan
menjadi sebuah kontes)
Perfeksionis
Organisasi dimana perfeksionisme, ketekunan,
dan kerja keras dihargai. Para anggota merasa
bahwa mereka harus menghindari kesalahan,
terus menelusuri segala hal, dan bekerja dalam
waktu lama untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
(melakukan hal-hal dengan sempurna )
Sumber: Robert Kreitner dan Angelo Kinicki yang diterjemahkan oleh
Erly Suandy (2003:86)
2.2
Pengembangan Karyawan
Pengembangan karyawan menurut
Noe, atall (2008) sebagai akuisisi
pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang meningkatkan kemampuan karyawan
untuk memenuhi perubahan persyaratan kerja dan klien dan permintaan pelanggan.
Sebagai contoh Washington Group International menggambarkan, pengembangan
karyawan merupakan kontributor kunci untuk keunggulan kompetitif perusahaan,
14
membantu mengembangkan bakat manajerial, dan memungkinkan karyawan untuk
mengambil tanggung jawab untuk karir mereka.
Sementara Hameed & Waheed (2011) dijelaskan bahwa Pengembangan
Karyawan berarti untuk mengembangkan kemampuan karyawan individu dan
organisasi secara keseluruhan, jadi Pengembangan Karyawan terdiri dari
pertumbuhan individu atau karyawan dan keseluruhan karyawan ketika karyawan
organisasi akan berkembang organisasi, organisasi akan lebih berkembang dan
kinerja karyawan akan meningkat. Definisi lain dari pengembangan karyawan
dijelaskan oleh Costen et al (2010) sebagai proses di mana organisasi memberikan
kesempatan kepada karyawan untuk berkembang dalam suatu organization.ini
mungkin mempengaruhi hasil karyawan kunci yang paling penting seperti kepuasan
kerja, komitmen dan niat untuk tinggal. Pengembangan karyawan adalah
pertumbuhan pribadi dan profesional individu dalam suatu organisasi. Programprogram pembangunan menyediakan karyawan dengan keterampilan, pengetahuan
dan kemampuan untuk mempersiapkan mereka untuk pekerjaan di masa depan.
Pengembangan karyawan adalah integrasi peluang organisasi dan dukungan atasan
untuk memudahkan karyawan dalam mencapai hasil yang diinginkan.
Pengembangan karyawan
merupakan cara yang efektif untuk menghadapi
beberapa tantangan, termasuk keusangan atau ketinggalan karyawan, diversifikasi
tenaga kerja domestic dan international. Dengan dapat teratasinya tanangan-tangan
(affirmative action) dan turnover karyawan, employee development dapat menjaga
atau mempertahankan tenaga kerja yang efektif:
1. Keusangan karyawan
Keusangan terjadi ketika seorang karyawan tidak lagi memiliki
pengetahuan dan kemamuan yang diperlukan untuk bekerja secara baik .Dalam
bidang-bidang tertentu yang mengalami perubahan sangat cepat, dan kemajuan
teknologi yang tinggi seperti dibidang engineering (teknik mesin) dan keehatan,
maka keusangan dapat terjadi secara cepat dikalangan manajer peruahan itu
terjadi mungkin relative lambat dan lebih sulit untuk menentukanya. Para
karyawan lain dalam perusahaan mungkin tidak dapat melihat terjadinya
keusangan hingga ada orang tertentu yang menunjukan tanda-tandanya,seperti
ketidak cocokan sikap dan buruknya kinerja itu kelihatan secara nyata.
Keusangan dapat disebabkan oleh kegagalan karyawan untuk menyesuaikan diri
dengan teknologi baru,prosdur, budaya baru, atasan baru dan perubahan lainya.
15
Makin cepat terjadi perubahan lingkungan, maka makin cepat dan banyak
terjadinya keusangan.
Para organisasi sebenarnya enggan untuk mengambil tindakan tegas dan
memecat para karyawan yang dianggap usang, terutama para karyawan yang
sudah cukup lama bekerja pada perusahaan tersebut. Oleh karena itu,para
karyawan yang dianggap usang tersebut ditempatkan pada tempat-tempat jika
terjadi keusangan tidak menimbulkan masalah yang berarti sebagai contoh,
ketika Top Eksekutif bekerja tidak memuasakan, mereka kadang-kadang
dipromosikan menjadi vice president pada suatu divisi tertentu dimana mereka
mungkin dapat berperan sebagai pemberi sara atau menghadiri kegiatan-kegiatan
seremonial,eperti jamuan pesta pelepasan karyawan.untuk karyawan level ang
lebih rendah sebagai solusinya adalah diadakanya program pengembangan
tambahan. Upaya menghindari keusangan merupakan suatu tantangan utama bagi
employee development dengan penilaian kebutuhan karyawan dan memberikan
kepada mereka suatu pelatihan untuk mengembangkan keahlian baru,maka
employee
development
secara
proaktif
dapat
memanfaatkan
program
pengembangan karyawan. Jika program dirancang bersifat reaktif, setelah
terjadinya keusangan,program itu adalah kurang efektif dan besar biayanya
Ketika seorang karyawan mengalami career plateu ( kariernya tidak dapat
naik lagi ) ,maka keusangan itu mungkin lebih sering terjadi. Career plateu
terjadi ketika seorang karyawan bekerja cukup baik sehingga tidak dpat
dilakukan demosi atau pemecatan tetapi juga tidak cukup baik untuk dilakukan
promosi. Ketika karyawan itu mengetahui bahwa dirinya dalam posisi career
plateu, maka motivasi untuk tetap bekerja secara baik akan turun.untuk
menangulangi ini beberapa perusahaan menerapkan pendidikan berkelnjutan bagi
para personil manajemen menegah keatas untuk mengatasi masalah keusangan.
2. Diversifikasi Tenaga Kerja Domestik dan International
Trend dan persaingan bisnis global dan diverfikasi tenaga kerja juga
merupakan tantangan bagi employee development. Sebagai contoh, suatu sikap
budaya mengenai tenaga kerja wanita yang menyebabkan beberpa perusahaan
harus merancang ulang program pengembangan karyawan dan menempatkan
wanita pada suatu pekerjaan yang sudah sebagian besar ditangani oleh kaum pria.
Perbedaan tingkat pendidikan diantara para karyawan menuntut perusahaan
16
untuk
menyediakan
pendidikan
tambahan
terutama
dalam
hal
membaca,menulis,aritmatika dan berbagai bahasa pada beberapa perusahaan.
Materi pelatihan kadang-kadang diterjemahkan kedalam kedua bahasa atau
bahasa ketiga dan seterusnya.
Di sini employee development secara proaktif memperluas programnya
untuk memasukan pelatihan yang berbeda-beda.perhatiaan utama disini
dicurahkan dengan teknik yang lebih sedikit,seperti role playing atau behavior
modeling.
3. Perubahan Teknologi
Perubahan yang serba cepat dalam bidang teknologi mensyaratkan
perusahaan yang berbasis teknik untuk selalu melakukan pengembangan terus
menerus. Dua puluh lima tahun yang lalu IBM menguasai bisnis computer dan
peralatan kantor, sedangkan AT&T ketika itu berada dalam bisnis telepon
sekarang dengan terjadinya perubahan teknologi membuat kedua perusahaan
raksasa tersebut menjadi pesaing utama dalam industri informasi perbaikan
dalam penangan informasi dan transmisi teknologi telah berhasil membuka pasarpasar baru bagi dua perusahaan raksasa ini.perubahan-perubahan ini mempunyai
dampak besar dalam kegiatan pelatihan dan pengembangan,meningkatnya
kebutuhan untuk menerima persyaratn-persyaratan yang terus berkembang dari
para manajer,para professional dan para tenaga teknik.
4. Pengembangan EEO&Tindakan Tegas (affirmative action
Peraturan perundang-undangan hak-hak sipil (the civil rigts act ) melarang
diskriminasi, kondisi atau hak istimewa dalam pekerjaan. Hasilnya adalah bahwa
kegiatan dalam pelatihan dan pengembangan harus dilaksanakan tanpa
melanggar kelompok-kelompok yang dilindungi. Ketika dilaksanakan dalam
rangka persyaratan pekerjaan atau promosi, misalnya employee development
harus dapat menunjukan bahwa pelatihan tersebut berubungan dengan
kesuksesan pekerjaan.jika tidak, maka perusahaan dapat dituntut.
Program pelatihan pengembangan itu sendiri dapat menjadi diskriminasi
bila ternyata tidak berhubungan dengan keberhasilan kerja. Misalnya wanita
tidak dapat mengikuti pelatihan untuk posisi luar pada industry mobil Toyota,
karena peralatan pelatiihan dirancang untuk laki-laki dengan tubuh yang lebih
17
besar wanita dan laki-laki yang kecil akan gagal masalah lain akan terjadi jika
nilai pelatihan digunakan sebagai dasar keputusan penempatan dimasa
depan.dalam keadaan ini employee development harus dapat membuktikan bahwa
kriteria diatas tersebut valid.
5. Turnover-nya pekerjaan
Turnover, keinginan pekerja untuk berhenti dari perusahaan karena
pindah ke lain perusahaan, menciptakan tantangan bagi employee development.
Karena tidak dapat diprediksi, aktivitas pengembangan harus mempersiapkan
pencegahanya meskipun hasil riset menunjukan bahwa banyak eksekutif
perusahaan besar menghabiskan hidupnya hanya pada satu perusahaan saja,
tetapi angka mobilitas lebih tinggi pada manajer-manajer lain yang mungkin
relative
lebih
muda
kadang-kadang
perusahaan
yang
punya
program
pengembangan yang baik,justru menjadi penyebab/pemicu seseorang untuk
pindah bekerja. Beberapa perusahaan enggan menginvestasikan waktu dan uang
bagi pekerja yang mungkin membawa keahlian arunya kepekerjaan barunya
dengan bayaran yang lebih tinggi pelatihan akan berhasil bila semua perusahaan
dalam bidang yang sama atau seluruh perusahaan dalam wilayah tertentu bekerja
sama,seperti yang biasa di praktika perusahaan yang berasal dari jepang (
Toyota),amerika serikat(Citibank),dan tentu banyak lagi yang lain.
Akhirnya efektifitas pelatihan dan pengembangan tergantung pada
intergritas karyawan dengan kegiatan-kegiatan SDM lainya. Pemberian
kompensasi insentif seperti saham opsi serta manfaat tambahan,seperti rencana
pension yang menarik adalah cara ampuh sementara ini untuk mengurangi
turnover(berhenti kerja),terutama dikalangan eksekutif.
2.2.1 Pengembangan Karier
Pengembangan karier adalah proses peningkatan kemamuan kerja individu
yang dicapai dalam rangka mencapai karir yang diinginkan.tujuan dari seluruh
program pengembangan karir adalah untuk menyesuakan anara kebutuhan dan tujuan
karyawan dengan kesempatan karier yang tersdia di perusahaan saat ini dan dimasa
mendatang.karena itu, usaha pembentukan sistem pengembangan karier yang
dirancang secara baik akan dapat membantu karyawan dalam memnentukan
kebutuhan karier mereka sendiri, dan menyesuaikan antara kebutuhan karyawan
18
dengan tujuan perusahaan komitmen dalam program pengembangan karier dapat
menunda
keusangan
dari
SDM
yang
memberatkan
perusahaan.walaupun
perencanaan karier penting dalam fase sebuah karier, namun terdapat 3 poin dalam
perjalan karier yang juga cukup krusial. Pertama, pada saat karyawan mulai
dikontrak pengalaman kerja diawal-awal pekerjaan memiliki pengaruh yang penting
dalam membentuk karier mereka kedua, mid-career
( pertengahan karier ), yaitu
kondisi dimana karyawan sudah mulai menghadapi tekanan dan tanggung jawab
yang berbeda pada saat yang bersangkutan mulai dikontrak. Namun, pada
pertengahan karier ini aryawan berada pada turning point, yaitu posisi dimana
kemandekan karier menjadi perhatian yang serius. Ketiga, masa pra-pensiun pekerja
menghadapi ketidakpastian akibat kondisi ekonomi, sosial dan hubungan antar
personal.
Kinerja,
pengalaman,pendidikan,dan
kadang-kadang
keberuntungan
berpengaruh pada pencapaiaan karier individu. Dengan demikian, pengembangan
karier merupakan tindakan seseorang karyawan untuk mencapai rencana kariernya
tinakan ini bisa disponsori oleh departemen SDM,manajer atau pihak lain.
a. Pengembangan karier individu
Setiap karyawan harus menerima tanggung jawab atas perkembangan
karier atau kemajuan karier yang dialami. Beberapa hal yang berkaitan dengan
pekembangan karier seseorang karyawan adalah :
•
Prestasi kerja ( job performance )
Prestasi kerja merupaka faktor yang paling penting untuk menngkatkan
dan mengembangkan karier seorang karyawan.kemajuan karier sebagian
besar tergantung pada prestasi kerja yang baik dan etis.asumsi kinerja yang
baik melandasi seluruh aktifitas pengemngan karier.ketika kinerjanya
dibawah standart dengan mengabaikan upaya-upaya karier lain,bahkan tujuan
karier yang paling sederhanda sekli pun biasanya tidak bisa dicapai.kemajuan
karier umumnya terletak pada kinerja dan prestasi.
•
Eksposur (exposure)
Kemajuan karier juga dapat dikembangkan melalui eksposure .
Eksposure ( dan diharapkan dapat dipertahanka setinggi mungkin).
Mengetahui apa yang diharapkan dari adanya promosi, pemindahan ataupun
kesempatan berkarier lainya dengan melakukan kegiatan yang kondusif.
19
Tanpa
eksposure,maka
karyawan
yang
baik
kemungkinan
tidak
mendapatkanpeluang-peluang yang diperlukanguna mencapai tujuan karier
mereka. Manaje memperoleh eksposure utamanya melalui kinerja dan
prestasi mereka,laporan tertulis , prestasi lisan,pekerjaan komite, dan jam-jam
yang dihabiskan.
•
Jaringan kerja ( networking )
Jaringan kerja berarti perolehan eksposure diluar perusahaan kontak
pribadi dan professional utamanya melalui asosiasi profesi akan memberikan
kontak kepada seseorang yang bisa jadi penting dalam mengidentifikasi
pekerjaan-pekerjaan yang lebih baik kemudian ketika karier seorang
karyawan mencapai jalan bntu ata pemecatan mendorong seseorang masuk
dalam kelompok paruh waktu maka kontak-kontak ini bisa membantu tujuan
seseorang menuju pada peluang-peluang pekerjaan.diantara beberapa
paradoks yang cukup mengenaskan pada era 1980-an dan 1990-an adalah
para karyawan yang loyal yang bermaksud baik dan tekun yang
mendedikasikan diri pada sebuah perusahaan , hanya mendapati bahwa diri
mereka ada pada daftar PHK.bagi sejumlah orang,dedikasi terhdap
perusahaan,bukan
terhdap
karier
mereka
mendapati
bahwa
mereka
mengabaikan peluang untuk bersoialisasi diluar perusahaan melelui konfensi,
asosiasi dagang dan kelompok profesi.
•
Pengunduran diri ( resignations)
Apabila
perusahaan
tempat
seorang
karyawan
bekerja
tidak
memberikan kesempatan berkarier yang banyak dan ternyata diluar
perusahaan terbuka kesempatan yang cukup besar untuk berkarier, untuk
memenuhi tujuan kariernya karyawan tersebut akan mengundurkan diri ebuah
karyawan professional dan manajer pada khususnya beralih keperusahaan
lain sebagai bagian strategi karier yang disengaja. Jika dilakukan secara
efektif,
pengunduran
diri
tersebut
akan
menguntungkan
karyawan
tersebut,yaitu memperoleh pekerjaan yang lebih bagus atau mendapatkan
promosi dengan penghasilan yang meningkat serta memperoleh pengalaman
kerja yang baru.
•
Kesetian terhadap organisasi ( organizational loyality )
20
Pada sejumlah perusahaan, orang menempatkan loyalitas pada karier
diatas loyalias perushaan.level loyalitas perushaan rendah merupakan hal
yang umum terjadi dikalangan lulusan perguruan tinggi terkini (yang
ekspektasi tingginya sering kali menyebabkan kekecewaan perusahaan
pertama tempat mereka bekerja) dan para professional (yang loyalitas
pertamanya sering kali mengarah pada profesi.dedikasi karier yang besar
padaperusahaan yang sama melengkapi sasaran sdm dalam mengurangi
turnover karyawan.
•
Pembimbing dan sponsor ( mentors and sponsor)
Banyak karyawan dengan segera mempelajari bahwa mentor bisa
membantu pengembangan karier mereka.pembimbing adalahorang yang
memberikan nasihat-nasihat atau saran-saran kepada karyawan didalam
upaya mengembangkan kariernya. Pembimbing tersebut berasal dari dalam
perusahaan itu sendiri.sedangkan sponsor adalah seseorang didalam
perusahaan yang dapat menciptakan kesempatan bagi karyawan untuk
mengembangkan kariernya.
•
Bawahan yang mempunya peranan kunci ( key subordinal test )
Manajer-manajer yang berhasil bersandarkan pada bawahan-bawahan
yang membantu kinerja mereka.bawahan bisa mempunyai pengetahuan dan
keterampilan yang sangat khusus sehingga manajer bisa belajar darinya,atau
bawahan bisa melaksanakan perananan kunci daam membanu manajer
didalam menjalankan tugas-tugasnya bawahan seperti ini mempunyai peranan
kunci.mereka memperlihatkan loyalitas kepada manajer mereka dengan
standar etis yang tinggi mereka mengumpulkan dan menafiskrkan informasi,
memberika keterangan yang melenkapi keterampilan manajer mereka dan
bekerja koeperatif untuk mengembangkan karier manajer mereka.
•
Peluang untuk tumbuh ( growth opportunies )
Karyawan
hendaknya
diberi
kesempatan
untuk
meningkatkan
kemampuanya, misalnya melalui pelatihan-pelatiahan, kursus dan juga
melnjutkan jenjang pendidikanya.hal ini membeikan kesempatan kepada
karyawan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan rencana kariernya
21
disamping itu, kelompok-kelompok diluar perusahaan bisa membantu karier
seseorang.
Aktivitas
layanan
komunita
meberikan
banyak
peluang
bagi
pertumbuhan dan pengakuan seperti kadin, organisasi seni, dan kelompok
komunitas lain. Bahkan layanan komunitas memberikan kepada para manajer
junior sejumlah peluang untuk menggunakan keterampilan kepemimpinan
mereka
2.2.2
Manfaat Program Pengembangan Karyawan
Jehanzeb dan Bashir (2013, p4) membagi manfaat pelatihan karyawan dan
Program pembangunan menjadi dua kelompok, Manfaat Individu dan Manfaat
Organisasi.
2.2.2.1 Manfaat Individu
1. Karir Kompetensi
Karyawan mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan karyawan dan
program pembangunan. Mereka belajar soft skill dan teknis yang dibutuhkan oleh
pekerjaan mereka. Karyawan program pembangunan membantu karyawan untuk
bertahan hidup di masa depan dan mengembangkan kemampuan mereka untuk
mengatasi dengan teknologi baru.
2. Kepuasan Karyawan
Perusahaan yang menyediakan program pelatihan dan pengembangan bagi
karyawan mereka mencapai tingkat tinggi kepuasan karyawan dan perputaran
karyawan yang rendah (Wagner, 2000 di Jehanzeb & Bashir (2013).
3. Kinerja Karyawan
Pelatihan dan pengembangan efek pada perilaku karyawan
dan
keterampilan kerja mereka yang mengakibatkan kinerja karyawan ditingkatkan
dan perubahan lebih lanjut konstruktif (Satterfield dan Hughes, 2007). Succes
atau kegagalan organisasi tergantung pada kinerja karyawan (Hameed dan
Waheed, 2011).
2.2.2.2 Manfaat organisasi
1. Pertumbuhan pasar
22
Program pengembangan karyawan adalah penting bagi setiap organisasi
untuk tetap pelarut dan kompetitif di market.Though itu mahal untuk
organisasi untuk menghabiskan uang pada karyawan mereka, tetapi investasi ini
positif bagi organisasi untuk memegang tempat di pasar.
2. Kinerja Organisasi
Pelatihan dan pengembangan telah didefinisikan sebagai terutama
kontribusi faktor untuk efektivitas organisasi (Schuler dan MacMillan 1984)
.Exploration hal ini topik merekomendasikan bahwa investasi dalam program
pelatihan dan pengembangan dapat dibenarkan oleh dampak itu menciptakan
untuk mengembangkan individu dan organisasi efektivitas (Bartel, 2000).
3. Retensi Karyawan
Beberapa organisasi telah mengungkapkan bahwa salah satu karakteristik
yang membantu untuk mempertahankan karyawan adalah dengan menawarkan
mereka kesempatan untuk meningkatkan pembelajaran mereka
(Logan, 2000). Oleh karena itu, telah dijelaskan bahwa ada hubungan yang
kuat antara pelatihan karyawan dan pengembangan, dan retensi karyawan.
Perusahaan harus menyadari bahwa karyawan yang berpengalaman merupakan aset
penting dan perusahaan harus menderita tantangan untuk mempertahankan mereka.
Oleh
karena
pengembangan
itu,
perusahaan
untuk
yang
karyawan
menyediakan
mereka
program
mendapatkan
pelatihan
kesuksesan
dan
dalam
mempertahankan mereka (Garger, 1999).
2.3
Dimensi dan indikator pengembangan karyawan
Menurut Noe,at all (2008).Ada empat indikator yang terdapat pada employee
development yang terdiri dari:
•
Formal education : formal education yaitu karyawan ditugaskan perusahaan
untuk mengikuti pendidikan atau latihan, baik yang dilakukan perusahaan
maupun yang di laksanakan oleh lebaga-lembaga pendidikanatau pelatihan.
Pengembangan secara formal dilakukan perusahaan karena tuntutan pekerjaan
saat ini ataupun masa datang, yang sifatnya nonkarier atau peningkatanya karier
sorang karyawan.
23
•
Assessment adalah
Mengumpulkan informasi dan memberikan masukan
kepada karyawan tentang perilaku mereka , gaya komunikasi , atau keterampilan
. Untuk informasi dapat berasal dari penilaian para karyawan , teman-teman kerja
, para manajer , dan konsumen .Yang paling sering adalah untuk menggunakan
kajian iden-tifikasi karyawan dengan organisasi untuk mengukur potensial
kinerja saat ini dan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan.
•
Job experience: pembentukan pengetahuan atau keterampilan tentang metode
suatu pekerjaan karena keterlibatan karyawan tersebut dalam pelaksanaan tugas
pekerjaan.
•
Interpersonal
relationship
:
Karyawan
juga
dapat
mengembangkan
keterampilan dan meningkatkan pengetahuan mereka tentang organisasi dan
pelanggannya dengan berinteraksi dengan sebuah organisasi anggota lebih
berpengalaman .Dua jenis hubungan digunakan untuk pegawai perkembangan
secara pendampingan dan pembinaan ~
Empat pendekatan employee development
Gambar 2.1 Sumber : Noe,at all (2008)
24
2.4
Kinerja karyawan
Menurut bangun (2012:231) kinerja karyawan adalah hasil pekerjaan yang
dicapai seseorang berdasarkan persyaratan-persyaratan pekerjaan ( job requirement ).
Suatu pekerjaan mempunyai persyaratn tertentu untuk dapat dilakukan dalam
mencapai tujuan yang disebut juga sebagai standart pekerjaan ( job standard ).
Menurut Suwarto (2014:76) kinerja adalah tentang perilaku atau apa yang
dilakukan karyawan, bukan tentang apa yang dihasilkan atau diakibatkan dari kerja
mereka.sistem manajemen kinerja secara khas mencakup pengukuran kinerja dan
hasil (yakni, bagaimana pengeraanya dan apa hasil kerjanya). Kinerja bersifat
evaluatif (apakah membantu memajukan atau justru menghambat tujuan organisasi)
dan bersifat multi dimensional (yakni, diperlukan banyak perilaku untuk
mengambarkan kinerja karyawan).
Berdasarkan pengertian diatas, penulis menarik kesimpulan bahwa dengan
hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melakukan suatu pekerjaan
dapat dievaluasi tingkat kinerja pegawainya,maka kinerja karyawan harus dapat
ditentukan dengan pencapain target elama periode waktu yang dicapai organisasi.
2.4.1
Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja Karyawan
Penilaian kinerja merupakan proses yang dilakukan organisasi untuk
mengevaluasi
atau
menilai
keberhasilan
karyawan
dalam
melaksanakan
tugasnya.bagi semua perusahaan penilaian kinerja memiliki berbagai manfaat, yaitu
Bangun (2012) :
1. Evaluasi antar individu dalam organisasi
Penilaian kinerja dapat bertujuan untuk menilai kinerja setiap individu
dalam organisasi.tujuan ini dapat memberi manfaat jumlah dan jenis kompensasi
yang merupakan hak bagi setiap individu dalam organisasi.
2. Pengembangan diri setiap individu dalam organisasi
Penilaian kinerja pada tujuan ini bermafaat untuk pengembangan
karyawan.setiap individu dalam organisasi dinilai kinerjanya, bagi karyawan
yang memiliki kinerja rendah perlu dilakukan pengembangan baik melalui
pendidikan maupun pelatihan. Karyawan yang berkinerja rendah disebabkan
kurangnya pengetahuan atas pekerjaanya akan ditingkatkan pendidikanya,
25
sedengkan bagi kayawan yang kurang terampil dalam pekerjaanya akan diberi
pelatihan yang sesuai.
3. Pemeliharaan sistem
Berbagai sistem yang ada dalam organisasi, setiap subsistem yang ada
saling berkaitan antara satu sistem dengan subsistem lainya. Salah satu subsitem
yang tidk berfungsi dengan baik akan mengangu jalanya subsitem yang lain.oleh
karena itu,sistem dalam organisasi perlu dipelihara dengan baik.
4. Dokumentasi
Penilaian kinerja akan memberi manfaat sebagai dasar tindak lanjut dapat
posisi pekerjaan karyawan dimasa akan datang. Mafaat penilaian kinerja disini
berkaitan dengan keputusan-keputusan manajemen sumber daya manusia.
2.4.2
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Mangkuprawira mengmukakan (2007) bahwa kinerja dipengaruhi oleh faktor
intrinsik yaitu personal individu dan faktor ekstrinsik yaitu sistem, tim, situasional
dan konflik.
1. Faktor personal/individual, meliputi unsur pengetahuan, ketarampilan (skill),
kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, kepuasan kerja dan komitmen yang
membentuk kinerja karyawan.
2. Faktor tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan
satu kerja tim, kepercayaan terhadap semua anggota tim, kekompakkan keeratan
anggota tim.
3. Faktor sistem, meliputi sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang
diberikan oleh organisasi, proses organisasi dan kultur kerja dalam organisasi.
4. Faktor situasional, meliputi tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan
internal.
5. Konflik, meliputi konflik dalam diri individu/konflik peran, konflik antar
individu, konflik antar kelompok/orgnaisasi.
2.4.3 Dimensi dan Indikator kinerja karyawan
Menurut Bangun (2012) standard pekerjaan dapat ditentukan dari isi suatu
pekerjaan,dapat
dijadikan
sebagai
dasar
penilaian
setiap
pekerjaan.untuk
26
memudahkan penilaian kinerja karyawan,standard pekerjaan harus dapat diukur dan
dipahami secara jelas.suatu pekerjaan dapat diukur melalui :
1. Jumlah pekerjaan
Dimensi ini menunjukan jumlah pekerjaan yang dihasilkan individu atau
kelompok sebagai persyaratan yang menjadi standart pekerjaan.setiap pekerjaan
memiliki persyaratan yang berbeda sehingga menuntut karyawan harus
memenuhi
persyaratan
tersebut
baik
pengetahuan,keterampilan,maupun
kemampuan yang sesuai. Berdasarkan persyaratan pekerjaan tersebut dapat
diketahui jumlah karyawan yang dibutuhkan untuk dapat mengerjakanya, atau
setiap karyawan dapat mengerjakan berapa unit pekerjaan.
2. Kualitas pekerjaan
Setiap pekerjaan mempunyai standart kualitas tertentu yang harus
disesuaikan oleh karyawan untuk dapat mengerjakanya sesuai ketentuan.
Karyawan memiliki kinerja baik bila dapat menghasilkan pekerjaan sesuai
persyaratan kualitas yang dituntut pekerjaan tersebut.
3. Ketepatan waktu
Setiap pekerjaan memiliki karakteristik yang berbeda untuk jenis pekerjaan
tertentu harus diselesaikan tepat waktu, karena memiliki ketergantungan atas
pekerjaan lainya. Jadi, bila pekerjaan pada suatu bagian tertentu tidak selesai
tepat
waktu
akan
menghambat
pekerjaan
pada
bagian
lain,sehingga
mempengaruhi jumlah dan kualitas hasil pekerjaan.oleh karena itu,karyawan
dituntut untuk dapat menyelesaikan tepat waktu.
4. Kehadiran
Suatu jenis pekerjaan tertentu menuntuk kehadiran karyawan dalam
mengerjakanya sesuai waktu yang ditentukan.ada tipe pekerjaan yang menuntut
kehadiran karyawan selama delapan jam sehari untuk lima hari kerja
seminggu.kinerja karyawan ditentukan oleh tingat kehadiran karyawan dalam
mengerjakanya.
27
2.5
Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu
Sumber
Judul
International
Effect
Journal
Metode
of Structural
of leadership
Business
Equation
and style,organizatio Model(SEM)
Banagement
nal culture and
Hasil Penelitian
Hasil
penelitian
menunjukan
bahwa adanya hubungan Budaya
yang
mampu
kinerja
meningkatkan
karyawan
melalui
Invention Vol.4 employees
pengembangan
rahmisyari 2015
development on
dapat terlihat dari adanya analisis
performance
hasil untuk menunjukkan bahwa
organisasi
karyawan
budaya
.ini
memiliki
pengaruh tidak langsung terhadap
kinerja
melalui
pengembangan
karyawan
Interdisciplinay
Journal
of Structural
of Organizational
Contemporary
Culture
Business,vol.3
Performance:
fakhar An overview
Equation
on Model(SEM)
in Organizational
Research
2012
Impact
Penelitian ini menunjukkan bahwa
. Berdasarkan kajian ini dapat
disimpulkan
bahwa
organisasi
budaya berdampak positif terhadap
kinerja
karyawan
.Penelitian
menunjukkan bahwa setiap orang
shahzad,Rana
dalam organisasi budaya yang
Adel
luqman,
berbeda dan mereka mencoba
Ayesha Rasyid
menyesuaikan diri dengan norma
Khan,Lalarukh
norma
syabbir
organisasi .penyesuaian budaya
nilai
nilai
di
dalam
organisasi ini berguna bagi para
karyawan
untuk
melakukan
pekerjaan secara efisien .
28
International
Journal
Business
Social
Vol.2
Abdul
Employee
Structural
Penelitian ini mengusulkan sebuah
of Development
Equation
model
and And Its Affect Model(SEM)
science On
hubungan
Employee
employee
2011 Performance A
employee
hameed Conceptual
Aamer waheed
Framework
yang
menjelaskan
antara
variabel
development
performance
menciptakan
bekerja secara
dan
untuk
Karyawan
yang
efektivitas untuk
organisasi .
2.6
Kerangka Pemikiran
Berdasarkan dukungan landasan teoritik yang diperoleh dari eksplorasi teori
yang dijadikan rujukan konsepsional variabel penelitian, maka dapat disusun
Kerangka Pemikiran sebagai :
Budaya organisasi (X1)
Kinerja Karyawan ( Y )
Pengembangan karyawan
( X2 )
Gambar 4.2 Kerangka Pemikiran
2.7
Hipotesis
Menurut Sugiyono (2009), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap
rumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara karena jawaban diberikan baru
pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh
melalui pengumpulan data.
29
Ha: Terdapat pengaruh antara variabel bebas dan terikat.
Ho: Tidak terdapat pengaruh antara variabel bebas dan terikat.
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, hipotesis penelitian ini ditetapkan
sebagai berikut:
•
Untuk T1
Ho: Tidak ada pengaruh antara budaya organisasi (X1) dan pengembangan
karyawan (X2) terhadap kinerja karyawan (Y).
Ha: Ada pengaruh antara budaya organisasi (X1) dan pengembangan karyawan
(X2) terhadap kinerja karyawan (Y).
•
Untuk T2
Ho: Tidak ada pengaruh antara budaya organiasi (X1) terhadap kinerja karyawan
(Y).
Ha: Ada pengaruh antara organizational culture (X1) terhadap kinerja karyawan
(Y).
•
Untuk T3
Ho: Tidak ada pengaruh antara budaya organisasi (X1) dan pengembangan
karyawan (X2) terhadap kinerja karyawan (Y).
Ha: Ada pengaruh antara budaya organisasi (X1) dan pengembangan karyawan
(X2) terhadap knerja karyawan (Y).
Download