bab ii dinamika konflik dan proses reunifikasi korea utara

advertisement
BAB II
DINAMIKA KONFLIK DAN PROSES REUNIFIKASI KOREA
UTARA-KOREA SELATAN
Pada bab II ini akan membahas mengenai sejarah awal mula konflik di
Semenanjung Korea hingga penolakan reunifikasi Korea Selatan oleh Presiden
Kom Jong-Un . Yang terdiri dari penjajahan Korea, konflik yang terjadi di
Semenanjung
Korea,upaya
reunifikasi
Semenanjung
Korea
pada
masa
pemerintahan Kim Jong-Il, transisi pemerintahan Kim Jong-Il ke masa
pemerintahan Kim Jong-Un serta akan membahas penolakan Kim Jong-Un
mengenai reunifikasi Korea oleh Presiden Korea Selatan Park Guen-hye.
A. SEJARAH KONFLIK KOREA
Pasca merdeka semenanjung korea dibawah kekuasaan jepang. Pada
awalnya Korea merupakan satu Negara dengan Nenek moyang yang memiliki
kebudayaan dan sejarah yang sama. Di semenanjung Korea terdapat beberapa
kerajaan salah satunya adalah kerajaan Choson dan Raja Sunjong sebagai
penguasa kerajaan tersebut. Jepang datang dan menduduki Korea karena adanya
perjanjian antara Jepang-Korea dan ini di umumkan raja Sunjong pada tanggal 29
Agurtus 1910. (seung-yoon, 2003) Pada masa Jepang menduduki Korea, rakyat
Korea merasakan siksaan dengan banyaknya dana yang dirampas serta larangan
penggunaan bahasa Korea hanya untuk membangun pemerintahan penjajahan
Jepang di Korea.
1
Dengan banyaknya penderitaan yang diciptakan Jepang rakyat Korea
melakukan perlawanan kepada pemerintahan penjajahan Jepang, mereka pun
membentuk pasukan untuk memperoleh kemerdekaan dan pasukan tersebut
bertepat di Cina dan juga Rusia untuk melakukan perjuangan. Rakyat Korea juga
membentuk pemerintahan Korea yang sementara di resmikan di Cina. Pada
tanggal 1 Maret 1919 puncak perjuangan rakyat Korea di mulai dengan
dibentuknya gerakan demonstrasi perdamaian, gerakan tersebut dinamakan
Gerakan Kemerdekaan 1 Maret yang dilakukan tanpa senjata.
Peluang kemerdekaan yang diinginkan rakyat Korea semakin terwujud
dengan adanya Perang Dunia II yang melibatkan Jepang sebagai aktor. Perhatian
Jepang mulai teralihkan, saat itu perhatian utama Jepang mempertahankan
pemerintahannya di Korea dan melindungi warga Negaranya disana. Pada tanggal
15 Agustus 1945, Jepang membebaskan rakyat Korea, memberikan pasokan
makanan selama 3 bulan, dan tidak ikut campur dalam kegiatan kemerdekaan.
Rakyat Korea pun segera membentuk Choson Kon-guk Junbi Wiwonhoe atau
Komite persiapan kemerdekaan Korea.(Setiawati, 2003) Selain itu, mereka juga
segera mempersiapkan pasukan yang berada di Luar Negeri untuk melakukan
kerjasama dan hubungan dalam merebut kemerdekaan Korea. Pada tanggal 15
Agustus 1945 secara resmi Korea menjadi Negara yang merdeka.
Setelah Korea memperoleh kemerdekaanya, munculah dua kekuatan
ideologi besar yang masuk ke dalam Korea, yaitu pemenang Perang Dunia II
Amerika Srikat dan Uni Soviet. Para kekuatan asing pemenang Perang Dunia II
ini melakukan intervensi dengan membagi jatah wilayah kemenangan mereka,
2
termasuk wilayah Semenanjung Korea yang dimana Uni Soviet mempengaruhi
wilayah Utara dan Amerika Srikat mempengaruhi wilayah Selatan dengan
pemahaman dan ideologi masing-masing. Hingga terbentuklah pemerintahan
administrasi masing-masing wilayah yang akhirnya tercipta dengan Democratic
People of Republic Korea yang dikenal dengan Korea Utara dan Republic of
Korea yang dikenal dengan sebutan Korea Selatan.(Raisamaili, 2011) Amerika
Srikat memilih Rhee Syngman sebagai pemimpin Korea Selatan dan Uni Soviet
mendukung Kim Il-Sung untuk menjalankan pemerintahannya atas Korea Utara.
Dengan terbentuknya masing-masing pemerintahan di Semenanjung
Korea, pemisahan di Semenanjung
Korea semakin nyata. Hal ini semakin
membuat keadaan kedua Negara tersebut tegang dan memanas ditambah dengan
perbedaan ideologi yang bertentangan akan membawa dampak besar terhadap
hubungan kedua Negara. Pada tanggal 25 Juni 1950, Korea Utara mendapatkan
bantuan dan dukungan militer besar-besaran dari Uni soviet dan melakukan invasi
militer ke Korea Selatan. Akibat serangan yang dilakukan Korea Utara, PBB
mencab Korea Utara sebagai agresor, dan PBB segera mengirimkan pasukan dari
beberapa Negara untuk membantu Korea Selatan menghadapi serangan Korea
Utara.
Keikutsertaan pasukan yang dikirimkan PBB dalam perang Korea telah
berhasil mengubah kedudukan Korea Selatan dan mengundang pasukan Cina
untuk membantu Korea Utara mengimbangi pasukan Korea Selatan. Banyaknya
campur tangan pihak luar menyebabkan parang antar bangsa Korea semakin
tegang. (Raisamaili, 2011) Perang tersebut berlangsung selama 3 tahun dari tahun
3
1950-1953, pada bulan Juli 1953 kedua Korea akhirnya menyetujui untuk
menandatangani perjanjian genjatan senjata dan mengakhiri perang Korea.
Setelah berakhirnya perang selama 3 tahun, hubungan bangsa Korea mulai terlihat
harmonis kembali. Demi mewujudkan kebahagiaan bangsa, Korea Utara dan
Korea Selatan mencari cara untuk dapat mewujudkan reunifikasi nasional yang
akan menyatukan kembali bangsa Korea. Untuk mewujudkan keinginan tersebut,
Korea Utara dan Korea Selatan menerabkan kebijakan penyambungan saluran
telefon antara komite pengawasan antar Korea dan menyelenggarakan pertemuan
Komite Kerja Antar Korea secara bergantian di Seoul maupun Pyongyang.
Namun, keharmonisan tersebut tidak berlangsung lama, karena Korea Utara
menghentikan usaha penyatuan yang tengah mereka lakukan dengan alasan yang
tidak dapat di terima oleh Korea Selatan. Meskipun demikian, Korea Selatan tidak
menyerah demi mewujudkan reunifikasi Korea. (mas'ud, 2005)
Perang antara Korea Utara dan Korea Selatan berlangsung selama 3 tahun
dan berakhir di tahun 1953, namun hal itu belum dapat menormalkan hubungan
antara Korea Utara dan Korea Selatan. Disebabkan masih banyaknya konflikkonflik skala kecil masih sering terjadi saat ini. Konflik yang terjadi di
Semenanjung Korea ini memberikan dampak pada perekonomian kedua Negara
terutama Korea Utara. Pada tahun 1970 perekonomian kedua belah pihak mulai
seimbang, akan tetapi dalam merorientasikan perekonomian Negara, Korea Utara
lebih memprioritaskan pada kepentingan militer dibandingkan kebutuhan
rakyatnya.(Aji, 2015) Korea Utara sering kali mengalami kekurangan makanan
dan kelaparan hingga menyebabkan tingginya tingkat kematian penduduk di
4
Korea Utara. Tak heran jika Korea Utara sering meminta bantuan dari Luar negeri
tak terkecuali dari Korea Selatan.
Pada tahun 2002, di Korea Utara telah dibangun kawasan industrial
Kaesong yang merupakan bagian dari Kaesong Directly Governed City. Ada
beberapa perusahan dari Korea Selatan yang menjalankan pabrik dikawasan
perbatasan tersebut. Namun, melihat kondisi di Semenanjung Korea yang tidak
membaik, Korea Utara memutuskan untuk menutup kawasan industrial kaesong.
(Aji, 2015) Korea Utara juga menutup semua akses karyawan Korea Selatan di
wilayah Kaesong, sehingga pada tanggal 8 April 2013 pemerintah Korea Utara
menarik semua pekerjanya di kawasan industrial Kaesong dan kegiatan disana
benar-benar dihentikan. Hal tersebut dilakukan karna adanya ketegangan diantara
kedua Korea akibat dari peluncuran rudal yang dilakukan Korea Utara terhadap
Korea Selatan.
Keputusan pemerintah Korea Utara menutup industrial Kaesong selain
adanya ketegangan di antara kedua Korea juga disebabkan ketidak setujuan
pemerintah Korea Utara dengan adanya sanksi baru dari Dewan Keamanan PBB,
berupa Resolusi DK PBB No 2094 dikeluarkan pada tanggal 7 April 2013 secara
substansi mengutuk program nuklir Korea Utara dan memberlakukan sanksi
keuangan terbaru. ( Aji, 2015) Ketidak setujuan Korea Utara mengenai sanksi
tersebut ditunjukan dengan sikap Korea Utara yang semakin keras dengan
melakukan provokasi uji coba nuklir yang dimilikinya sehingga membuat
khawatir masyarakat internasional terutama Korea Selatan.
5
B. SIKAP
KOREA
UTARA
TERHADAP
REUNIFIKASI
SEMENANJUNG KOREA
Semenanjung Korea terbagi menjadi dua Negara yaitu Korea Utara dan
Korea Selatan. Perpecahan yang terjadi di Korea disebabkan perbedaan ideologi
diantara keduanya yang menyebabkan konflik sejak tahun 1950-1953. Setelah
berakhirnya perang selama 3 tahun, pada tahun 1970 Korea Utara dan Korea
Selatan mulai tampil dikalangan masyarakat internasional karena keberhasilannya
dalam pertumbuhan ekonomi dan menghilangkan kemiskinan dalam waktu yang
cukup singkat. (Fatimatuzzahra, 2012) Tidak hanya dari segi Ekonomi,
pertentangan dan persaingan antara Korea Utara dan Korea Selatan yang semakin
tajam dan saling memperkuat sistem pertahanan masing-masing juga menjadi
syorotan masyarakat internasional.
Sejak pertempuran yang terjadi di Semenanjung Korea sepanjang tahun
50-an dan 60-an menjadikan Semenanjung Korea sangat bermusuhan, hal tersebut
semakin tidak menormalkan hubungan Korea Utara dan Korea Selatan. Beberapa
upaya reunifikasi telah dilakukan namun belum dapat mendamaikan hubungan
mereka. Pada tanggal 1998, pemerintah Korea Selatan Presiden Kim Dae Jung
memiliki visi mencapai proses reunifikasi secara damai melalui dialog dan
bantuan ekonomi. Presdien Kim Dae Jung adalah aktivis gerakan pro-demokrasi
dan anti-militerisme, dilantik sebagai presiden Korea Selatan pada tahun 1998,
selalu beritikad baik dalam memimpin maupun dalam mengambil segala
kebijakan, dan telah melakukan banyak perubahan dalam kepemimpinanya di
Korea Selatan.
6
Sikap Kim Dae Jung yang demokratis tercermin dalam segala tindakan
dalam pemerintahannya seperti melakukan perombakan politik demokrasi
kebebasan pers melepaskan para tahanan perlakuan buruh yang distandarkan
internasional serta dihapuskan larangan demonstrasi. Perjuangan dan pengalaman
hidup yang keras mampu membentuk Presiden Kim Dae Jung memjadi figur
pemimpin yang keras hati dengan segala upayanya agar segala kebijakannya dapat
terealisasikan seperti halnya reunifikasi Korea. Untuk merealisasikan reunifikasi
dengan Korea Utara Presiden Kim Dae Jung mengeluarkan kebijakan Sunshine
Policy(Kebijakan Matahari) dilakukan dengan cara yang konsisten mengajak
Pyongyang untuk berdamai dengan ketulusan hati dan mengurangi segala
kekhawatiran situasi yang ada.
Dalam mengeluarkan kebijakannya Presiden Kim Dae Jung juga
melakukan serangkaian usaha-usaha yang dapat menguntungkan Korea Selatan,
seperti dibidang ekonomi dan juga keamanan. Visi mengadakan reunifikasi
dengan Korea Utara yang diinginkan Presiden Korea Selatan ini didasari oleh
keyakinan yang positif dan akan menghasilkan hal yang positif juga. Proses
reunifikasi di Jerman pada tahun 1990 menginspirasi Presiden Kim Dae Jung
reunifikasi
tersebut
agar
dapat
terealisasikan
di
Semenanjung
Korea.
Keinginannya melakukan reunifikasi dengan Korea Utara disampaikan juga dalam
berbagai forum internasional, pada bulan Maret 2000 ketika Kim Dae Jung
mengunjungi Jerman, Kim Dae Jung juga menyerukan kepada pihak Pyongyang
agar mau mulai membuka dialog dengan pihak Seoul.
7
Dalam reunifikasi Semenanjung Korea yang disiasati Presiden Korea
Selatan ada beberapa faktor pendukung dan juga penghambat untuk menyatukan
kedua Korea ini, faktor pendukungnya yaitu dengan adanya kepentingan ekonomi
dan kepentingan politik. Pihak Korea Selatan memandang bahwasnya banyak
peluang usaha yang dapat digali di Korea Utara, seperti daerah Geomdeok yang
terdapat bermacam-macam logam dan juga pengembangan sumber daya alam.
Adapun daerah Najin dan Seonbong merupakan salah satu zona ekonomi yang
patut dikembangkan sebagai pusat transportasi dan tujuan turis. Selain itu yang
menjadi faktor pendukung eksternal reunifikasi Semenanjung Korea, adanya
dukungan dari empat negara besar yaitu, Amerika Srikat, Jepang, China dan
Rusia. Faktor penghambat ataupun penghalang reunifikasi seperti perbedaan
sistem politik dan ancaman militer Korea Utara. Sejak terpisahnya Korea Utara
dan Korea Selatan, selama perkembangannya memiliki beberapa perbedaan.
Perbedaan pertama dibidang pemerintahan, Korea Selatan telah mengalami
beberapa kali perubahan pemimpin sehingga telah mendapatkan banyak
pengalaman mengenai penanganan krisi politik, seadangkan Korea Utara tidak
mengalami perubahan dalam pemimpin karena menganut sistem The Founding
Father. Kedua dibidang hubungan dengan Negara lain, dibawah kekuasaan
Amerika serikat Korea Selatan telah menjalin hubungan dan kerjasama dengan
masyarakat internasional sehingga Korea Selatan telah menjadi negara yang
berkembang dan maju, sedangkan Korea Utara dengan politik isolasinya yang
tertutub untuk mengadakan hubungan dengan dunia luar sehingga Korea Utara
sulit untuk berkembang. (Fatimatuzzahra, 2012)
8
Keadaan Korea Utara yang semakin memprihatinkan, membuat Presiden
Korea Selatan Kim Dae Jung berusaha terus untuk membujuk Kim Jong-Il
menerima kebijakannnya untuk mencapai reunifikasi. Sikap acuh pihak Korea
Utara dan tidak menanggapi positif ajakan Kim Dae Jung tidak mematahkan
semangatnya untuk terus merangkul Korea Utara. Upaya untuk membuat
hubungan kedua Korea ini semakin membaik, Kim Dea Jung menyusun strategi
Sunshine Policydengan memisahkan antara ekonomi dan politik. Kim Dae Jung
juga mengidzinkan perusahaan perorangan untuk menanamkan usahanya di Korea
Utara. Korea Selatan juga membrikan bantuan berupa beras, pupuk kimia, obatobatan dan lain-lainnya untuk dapat melunakan pemerintahan Pyongyang.
(Mas’ud & Yang, 2005)
Dengan adanya kebijakan Sunshine Policyatau kebijakan matahari Kim
Dae Jung yakin akan dapat mengurangi situasi perang dingin di Semenanjung
Korea. Presiden Korea Selatan ini pun telah berani membantu Korea Utara untuk
lebih terbuka dan bergabung dengan komunitas internasional.
Negara dan
masyarakat Korea Utara dikenal oleh dunia luar sebagai tanah yang membeku.
Presiden Kim Dae jung tak henti-hentinya ingin mencoba menyinari Korea Utara
dengan sinar matahari. Melalui kebijakan sinar matahari yang didukung Presiden
Kim Dae Jung, Chung Ju-Young, ketua umum Grup Bisnis Hyundai
untuk
pertama kalinya membuka pintu air. Chung menginjakan kakinya sambil
mengemudikan sejumlah 500 ekor sapi melewati jalan darat antara Korea Utara
dan Korea Selatan yang telah lama tertutup ketat. Sebagian besar usaha Chung di
Korea Utara terbatas pada proyek-proyek kerjasama bidang ekonomi. Chung
9
bertemu dengan banyak pemimpin Korea Utara, termasuk presiden Kim Jong-Il.
Melalui kunjungannya ke Pyongyang, Chung mengetahui bahwasannya para
pemimpin Korea Utara sangat menginginkan kerjasama dalam segala bidang
dengan pihak Korea Selatan karena mereka sudah cukup lama mengalami
penderitaan dan kesulitan yang sangat besar, seperti kekurangan pangan dll.
Kunjungan Chung Ju-Young ke Korea Utara membawa hasil nyata,
Presiden Kim Dae Jung mengirimkan banyak pengusaha untuk mencari
kesempatan dalam membuka dan melakukan kerjasama dengan rekannya di Korea
Utara. Walaupun belum cukup banyak, sejak saat itu sudah mulai terdapat kontak
dalam berbagai bidang non politik. Keberhasilan kerjasama ini menjadi tanda
keberhasilan pelaksanaan Kebijakan Sinar Matahari yang dipelopori Presiden Kim
Dae Jung. ( Mas’ud & Yang, 2005) Presiden Korea Selatan Kim Dae jung
mengadakan kunjungan ke Pyongyang pada tanggal 14-16 Juni 2000 sebagai
bentuk wujud keberhasilan kebijakan sinar matahari yang dilaksanakn dengan
sangat sabar. Pada tanggal 15 Juni 2000 Presiden Korea Selatan Kim Dae Jung
dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il mencetuskan deklarasi bersama antar
Korea sebagai hasil pertemuan puncak untuk melakukan reunifikasi di
Pyongyang, ibukota Korea Utara. Pertemuan puncak antar Korea sangat
mengandung arti penting dalam sejarah Korea, sebab pertemuan itu untuk pertama
kali diselenggarakan setelah Semenanjung Korea terbagi dua sejak tahun 1945.
Hadiah Nobel Perdamaian untuk tahun 2000 pun diserahkan kepada presiden Kim
Dae Jung.
10
C. TRANSISI
PEMERINTAHAN
KIM
JONG-IL
KE
MASA
PEMERINTAHAN KIM JONG-UN
Pertemuan bersejarah antara Presiden Kim Dae Jung dari Korea Selatan
dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il merupakan titik balik memasuki era baru.
Pertemuan puncak itu memiliki arti yang sangat penting bagi Semenanjung Korea
karena didasari saling pengertian antara kedua belah pihak, dimna bangsa Korea
akan bersama-sama dapat menciptakan perdamaian. Dengan dimulainya
hubungan kerjasama maka perang dingin yang ada diseluruh dunia ini akan
mencair. Negara dan bangas Korea akan memegang peranan yang besar untuk
memberikan sumbangan bagi masyarakat internasional. Sejak adanya reunifikasi
yang telah terjalin di Semanjung Korea telah banyak kerjasama ekonomi antar
Korea yang terus berlanjut dan menguntungkan, kerjasama tersebut akan
meningkatkan kepercayaan diantara keduanya dan dapat meningkatkan kerjasama
ekonomi internasional yang sejahtera. . ( Mas’ud & Yang, 2005 )
Kebijakan Sinar Matahari yang dipropokatori Presiden Kim Dae Jung
berhasil membuat hubungan kedua Korea menjadi lebih baik, akan tetapi
keberhasilan dan perdamaian yang terjalin diantara keduanya tidak berlangsung
lama. Pada tanggal 17 Desember 2011 Presiden Korea Utara Kim Jong-Il wafat
disebabkan adanya serangan jantung dan juga kelelahan fisik serta mental karna
beratnya mengemban tugas Negara. Pemerintahan Korea Utara pun segera
digantikan oleh Putra bungsu Presiden Kim Jong-Il yaitu Kim Jong-Un. Menurut
berita yang didapat, sebelum wafat Presiden Kim Jong-Il telah menunjuk Putra
bungsunya Kim Jong-Un untuk menggantikannya memerintah Korea Utara. Kim
11
Jong Un adalah Presiden yang masih sangat muda saat baru menjabat, yaitu
berusia 28 tahun saat menjadi Presiden Korea Utara. Kim Jong-Un memiliki
karakter sangat fasis, nasionalis, dan emosinya seringkali meletup-letup dalam
memimpin Korea Utara.
Sejak tahun 2010 Presiden Kim Jong-Il telah mempersiapkan putra
bungsunya Kim Jong-Un untuk mengambil alih dan memimpin militer Korea
Utara, yang merupakan tulang punggung dari Negara Komunis ini. Kim Jong-Un
telah diberi pangkat Jendral Bintang 4 dan telah menjabat sebagai Wakil Direktur
Komisi Pusat Militer Korea Utara. Semenjak kecil Kim Jong-Un mengenyam
pendidikan di Swiss, bersekolah di Sekolah Internasional
bahasa inggris
menggunakan nama samaran “Pak-chol” dan digambarkan sebagai seorang siswa
yang ambisius.(Murtiaja, 2010) Terpilihnya Kim Jong-Un sebagai Presiden Korea
Utara menimbulkan kecemasan atas situasi Semenanjung Korea dan melihat
nasib bangsa Korea Utara dibawah kepemimpinan Kim Jong-Un, terbukti bahwa
dirinya merupakan sosok pemimpin yang tergolong masih sangat muda yang
masih membutuhkan banyak pengalaman didalam perpolitikan eksternal maupun
internal. Namun, Presiden Kim Jong-Un masih tetap melakukan konsolidasi
sebagai pembuktian bahwa dirinya adalah seorang Pemimpin yang dapat
dihandalkan dengan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya.
Bahkan Presiden baru Korea Utara ini nampak lebih terbuka kepada dunia dalam
menciptakan stabilitas di kawasan Asia Timur khususnya di Semenanjung Korea.
(Ariyadi, 2013) Berbeda dengan Ayah dan juga Kakeknya yang lebih tertupu dan
otoriter.
12
Permasalahn demi permasalah timbul di Korea Utara sejak Presiden Kim
Jong-Un masih melanjutkan kebijakan Ayahnya yaitu Military Firstyang
menjadikan nuklir sebagai pertahanan diri dan juga alat politik dalam mencapai
kepentingan Korea Utara dalam hal bargaining positionselagi Korea Utara
memiliki nuklir, hal tersebut dibuktikan dengan meluncurkan roketnya dan
melakukan uji coba nuklir yang dapat menimbulkan ketegangan atas tindakan
yang dilakukan Presiden Kim Jong-Un. (Ariyadi, 2013) Presiden Kim Jong-Un
terkenal dengan sikapnya yang kejam, ketika Presiden Kim Jong-Il memenjarakan
musuh-musuhnya
akan
tetapi
Kim
Jong-Un
lebih
memilih
untuk
menghabiskannya. Meskipun mendiang Ayah dan Kakeknya Kim II Sung
dianggap kejam oleh banyak pihak internasional, Kim Jong-Un memerintah
dengan tingkat kekejaman yang lebih tinggi. Dalam tiga tahun pemerintahannya
sudah beberapa anggota elit Korea Utara telah dieksekusi, pejabat tinggi Korea
Utara tidak mengerti jalan pemerintahannya dan penderitaan rakyat Korea Utara
semakin dirasakan dengan turunya perekonomian Negara. (Indonesia, 2015)
Semenanjung Korea semakin memanas dengan adanya aksi uji coba nuklir
dari Korea Utara, uji coba rudal yang dilakukan Korea Utara menimbulkan
beberapa macam reaksi dari dunia internasional. Kebijakan nuklir Kim Jong-Un
yang pertama dilakukan pada tanggal 19 Desember 2011. Terlepas dari pro dan
kontra reaksi komunitas internasional, uji coba nuklir yang dilakukan Presiden
Kim Jong-Un merupakan bentuk diplomasi internasional untuk menyuarakan
kepentingan nasional Korea Utara agar didengar komunitas internasional.
Terutama dalam menghadapi sanksi ekonomi dari AS, terasing dari dinamika
13
politik internasional, dan kesulitan untuk berintegrasi dengan komunitas
internasional. Tentu saja hal ini membuat Korea Selatan mengalami “Security
delima” meskipun Korea Utara memberikan prioritas utama pada peningkatan
kekuatan militernya, akan tetapi tetap saja Korea Selatan meminta Amerika Srikat
untuk mengatasi hal tersebut. Aksi yang dilakukan Kim Jong-Un tidak lain
sebagai ancaman kepada Amerika Srikat dan Korea Selatan, dan Kim Jong-Un
terus menerus melakukan peluncuran rudal buatan Negaranya. (Fachri, 2015)
Pemerintahan Korea Utara dibawah ke Pemimpinan Kim Jong-un yang
semakin agresif dengan melakukan uji coba nuklir kembali pada tanggal 03 Maret
2014. Amerika Srikat dan Korea Selatan selalu waspada dengan aktivitas yang
dilakukan Korea Utara yang dapat mengganggu stabilitas keamanan global.
Amerika Srikat dan Korea Selatan mencari cara untuk mengatasi uji coba rudal
yang dilakukan Korea Utara dengan melakukan latihan gabungan militer
digunakan untuk mencegah dan menangkal aktivitas uji coba rudal Korea Utara.
Amerika Srikat mengerahkan 12.500 pasukan ke Korea Selatan sebagai salah satu
bentuk respon Amerika Srikat terhadap uji coba rudal yang dilakukan Korea Utara
pada pemerintahan Kim Jong-Un. Pasukan yang dikirim Amerika Srikat telah ikut
berpartisipasi dalam menjaga wilayah di Korea Selatan. (Fachri & Septia, 2015)
D. PENOLAKAN KIM JONG UN TERHADAP TUNTUTAN KOREA
SELATAN UNTUK REUNIFIKASI
Reunifikasi telah lama menjadi prioritas, baik untuk Seoul maupun
Pyongyang. Perang Korea yang terjadi antara 1950 sampai 1953 berakhir dengan
gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian.Artinya, hingga kini secara teknis
14
kedua Korea masih dalam status perang. Hubungan kedua Korea juga terbilang
turun naik, akibat provokasi yang kerap dilakukan Korut dan latihan perang
bersama yang dilakukan Korsel dengan Amerika Serikat.Sejak terpisahnya Korea
menjadi dua, Korea Utara dan Korea Selatan selalu menunjukan ketidak
akurannya, kedua pemimpin Negara tersebut hanya bertemu dua kali sejak perang
dunia II. Pertemuan terakhir diadakan antara pemimpin Korea Utara pada waktu
Presiden Kim Jong II dan Presiden Korea Selatan Kim Dae Jung. (VOAindonesia,
2015)
Kondisi di Semenanjung Korea di ketahui semakin memanas beberapa
dekade belakangan ini. Hal ini terkait dengan program nuklir yang diluncurkan
oleh Korea Utara. Terobsesi demi menciptakan perdamaian di Semenanjung
Korea, Presiden Korea Selatan Park Guen Hye menyatakan siap untuk duduk di
satu meja dan berdialog dengan Presiden Korea Utara Kim Jong-Un. Untuk
mengakhiri aksi saling melontarkan rudal antara Korea Utara dan Korea Selatan,
Park Guen Hye akan menggelar pertemuan dengan Presiden Kim Jong-Un. Park
Guen Hye membentuk sebuah komite yang bekerja dibawah kontrolnya guna
mewujudkan reunifikasi dengan Korea Utara. Komite tersebut akan mencakup
para ahli dari setiap sektor masyarakat untuk memperluas dialog antar Korea
dengan tujuan akhir reunifikasi antara Korsel dan Korut.(Maulana, 2014)
Keinginan Presiden Park Guen hye dan pembentukan komite untuk
menggelar pertemuan dan berdialog dengan Kim Jong-Un guna mewujudkan
reunifikasi kembali antar korea ditolak oleh Kim Jong-Un. Akhir Desember 2013
Juru Parlemen dari Seoul telah menyerukan peringatan pada tanggal 15 Agustus
15
sebagai tonggak untuk menawarkan pembicaraan dengan Korea Utara.
Kementrian Pertahanan Korea Selatan meminta Pyongyang untuk menghadiri
dialog pertahanan Seoul pada September, sebuah forum keamanan yang diikuti
oleh 30 Negara termasuk Amerika Srikat dan Tiongkok. Akan tetapi, Pyongyang
menolak pada kedua usulan itu dan menyebut itu sebagai usaha “tak tahu malu”
untuk
menyembunyikan
kebijakan
bermusuhan
Seoul
terhadap
Korea
Utara.(Marboen, 2015) Kementrian Univikasi Seoul mengutarakan penyesalannya
terhadap penolakan tawarannya dan meremehkan upaya Korea Selatan untuk
berdialog melakukan pembicaraan di berbagai tingkatan saat kedua negara itu
bersiap untuk memperingati ulang tahun ke-70 pembebasan Semenanjung Korea
dari penjajahan Jepang.
Penolakan proposal oleh Presiden Korea Utara Kim Jong-Un mengenai
reunifikasi yang diajukan Korea Selatan merupakan kegagalan bagi Semenanjung
Korea untuk kembali bersatu. Latihan perang militer Amerika Srikat dan Korea
Selatan yang tidak berhanti disebut-sebut sebagai alasan penolakan itu.
Kementerian
Reunifikasi
Korea
Selatan
merilis
sebuah
pernyataan
dari Pyongyang dengan mengatakan, perundingan, pertukaran dan kontak
dengan Korea Selatan tidak dapat dilakukan tanpa menyelesaikan isu-isu
sanksi.Korea Utara mengatakan Korea Selatan harus mencabut sanksi-sanksi
tersebut jika berminat
pada perundingan kemanusiaan. Sanksi-sanksi tadi
dikenakan oleh Seoul dalam bulan Mei 2010 setelah sebuah kapal selam. Korea
Utara dituduh menenggelamkan sebuah kapal patroli Korea Selatan, menewaskan
16
46 pelaut.Sanksi-sanksi tersebut menghentikan perniagaan, investasi, perjalanan
dan program-program bantuan.
17
Download