1 ASPEK HUKUM PENGADAAN TANAH UNTUK PELAKSANAAN

advertisement
1
ASPEK HUKUM PENGADAAN TANAH UNTUK PELAKSANAAN PEMBANGUNAN
JALAN RAYA CIAWI-SINGAPARNA DALAM RANGKA PENGEMBANGAN
WILAYAH KABUPATEN TASIKMALAYA
Oleh:
Armi Anggara
11020130043
ABSTRAK
Pembangunan terus meningkat dan persediaan tanah pun semakin terbatas. Keadaan
seperti ini dapat menimbulkan konflik, karena kepentingan umum dan kepentingan perorangan
saling berbenturan. Masalah pengadaan tanah sangat rawan dalam penanganannya, karena di
dalamnya menyangkut hajat hidup orang banyak, apabila dilihat dari kebutuhan pemerintah akan
tanah untuk keperluan pembangunan, dapatlah dimengerti bahwa tanah negara yang tersedia
sangatlah terbatas. Pembangunan Jalan Ciawi-Singaparna merupakan salah satu upaya
pengembangan wilayah dari Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dalam melaksanakan
pembangunan di Kabupaten Tasikmalaya. Pada kenyataannya dalam pelaksanaan pengadaan
tanah untuk pembangunan jalan raya Ciawi-Singaparna muncul beberapa persoalan yang
berkaitan dengan masalah pelepasan hak atas tanah, yaitu adanya penolakan oleh masyarakat
karena tidak mau di relokasi dan harga ganti rugi yang dinilai terlalu rendah, anggaran
pemerintah daerah yang terbatas. Adanya berbagai persoalan tersebut, menarik untuk dicermati
dan dikaji lebih mendalam mengenai pelaksanaan pengadaan tanah untuk jalan raya CiawiSingaparna di Kabupaten Tasikmalaya.
Kata Kunci : Pengadaan Tanah, Pembangunan Jalan Raya Ciawi-Singaparna, Pengembangan Wilayah Kabupaten
Tasikmalaya, Hak Atas Tanah, Ganti Rugi.
LEGAL ASPECTS LAND ACQUISITION FOR THE DEVELOPMENT
IMPLEMENTATION THE HIGHWAY CIAWI-SINGAPARNA IN ESTABLISHING
TASIKMALAYA DISTRICT
ABSTRACT
Development has steadily increased and supplies the ground is limited .This very situation it
could create conflicts , because the public interest and the interests of individuals conflicting
.Land acquisition problems extremely vulnerable to as well , because in it with regard to the
control life of the many , if seen from the needs of the government will ground for development
needs , yourself never possible to understand that state land available is very limited .Road
construction Ciawi-Singaparna was one effort to the development of the area of the district
government Tasikmalaya in executing development at the market .In fact in the implementation
of the land acquisition for the construction of a highway ciawi-singaparna appears some of the
issues that pertaining to the matter the release of land rights , is the refusal by the community
because he would not in relocation and the price of compensation that are undervalued , local
government budgets a limited number of. This problem, interesting to observed and examined
more in-depth on the implementation of the land availability for the highway ciawi-singaparna
in Tasikmalaya District.
Keywords : Land Acquisition, Ciawi-Singaparna’s Road Construction, Regional Development of Tasikmalaya
District, Land Rights, Restitution.
2
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan nasional yang dilaksanakan dalam rangka memenuhi amanat
Pembukaan Undang-Undang Dasar (selanjutnya disebut UUD) 1945 dari tahun ke
tahun terus meningkat. Jumlah penduduk terus bertambah dan sejalan dengan
semakin meningkatnya pembangunan dan hasil-hasilnya, maka semakin meningkat
dan beragam pula kebutuhan penduduk di Indonesia.
Pembangunan terus meningkat dan persediaan tanah pun semakin terbatas.
Keadaan seperti ini dapat menimbulkan konflik, karena kepentingan umum dan
kepentingan perorangan saling berbenturan1. Masalah pengadaan tanah sangat rawan
dalam penanganannya, karena di dalamnya menyangkut hajat hidup orang banyak,
apabila dilihat dari kebutuhan pemerintah akan tanah untuk keperluan pembangunan,
dapatlah dimengerti bahwa tanah negara yang tersedia sangatlah terbatas.
Pemerintah dalam menentukan harga hanya berpatokan pada NJOP yang
besarnya ditentukan oleh Kantor Pajak Bumi dan Bangunan. Berdasarkan realita di
masyarakat jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan NJOP. Perbedaan NJOP
dengan harga pasaran masih menjadi masalah dalam penentuan harga ganti rugi
dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum2. Pihak pemerintah
dalam memberikan ganti rugi berpatokan pada NJOP, sedangkan masyarakat
berpatokan pada harga pasaran.
Pada kenyataannya dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan
jalan raya Ciawi-Singaparna muncul beberapa persoalan yang berkaitan dengan
masalah pelepasan hak atas tanah, yaitu adanya penolakan oleh masyarakat karena
tidak mau di relokasi dan harga ganti rugi yang dinilai terlalu rendah, anggaran
pemerintah daerah yang terbatas. Adanya berbagai persoalan tersebut, menarik untuk
dicermati dan dikaji lebih mendalam mengenai pelaksanaan pengadaan tanah untuk
jalan raya Ciawi-Singaparna di Kabupaten Tasikmalaya.
1
Abdurrahman, Masalah Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Pembebasan Tanah di Indonesia, Citra
Aditya Bakti, Bandung , 1991, hlm. 9.
2
Achmad Rubaie, Hukum Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, Bayumedia, Malang , 2007.hlm.
11.
3
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan yang telah diuraikan di atas, maka dirumuskan beberapa
petanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimana hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk
pembangunan jalan raya Ciawi-Singaparna di Kabupaten Tasikmalaya?
2. Bagaimana kebijakan Pemerintah Daerah dalam mengatasi terhambatnya
pembangunan jalan raya Ciawi-Singaparna terhadap pengembangan wilayah
Kabupaten Tasikmalaya?
C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah metode yuridis
normatif (metode hukum kepustakaan) dan sosiologis, yaitu penulisan karya tulis
dengan menggunakan dan meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang mencakup
bahan hukum primer, sekunder dan tersier.Bahan hukum primer yang berupa bahan
hukum yang terdiri atas peraturan perundang-undangan dan peraturan lain yang
berkaitan dengan Pengadaan Tanah. Bahan hukum sekunder, yakni bahan hukum
yang terdiri atas buku-buku teks (textbooks) yang ditulis para ahli hukum yang
berpengaruh, jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana, dan kasus-kasus hukum
yang terkait dengan judul tesis. Bahan hukum tersier, yakni bahan hukum yang
memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan-bahan hukum sekunder, seperti
kamus hukum, ensiklopedia, dan lain-lain, dalam penelitian ini, bahan hukum tersier
yang peneliti gunakan juga berupa berita-berita dan juga hasil yang peroleh dari
internet maupun media cetak. Penelitian Lapangan, penelitian lapangan dilakukan
untuk mengumpulkan data primer yang dapat menunjang atau melengkapi data
sekunder, dengan cara mendapatkan data secara langsung melalui wawancara dengan
narasumber yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan ini.
II.
HASIL PEMBAHASAN
A. Hambatan Pelaksanaan Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Jalan Raya
Ciawi-Singaparna Di Kabupaten Tasikmalaya
Pada dasarnya setiap pelaksanaan kegiatan tidak dapat dilepaskan dari
berbagai faktor yang menghambat kelancaran tugas. Demikian pula halnya dalam
pelaksanaan pengadaan tanah bagi pembangunan jalan Ciawi-Singaparna (selanjutnya
4
disebut Cisinga). Dalam proyek pembangunan jalan Cisinga, Pemerintah Kabupaten
Tasikmalaya sudah berusaha untuk dapat melaksanakan pembangunan Jalan Cisinga.
Pengadaan tanah dalam rangka pembangunan jalan raya Ciawi–Singaparna
pada pelaksanaannya timbul beberapa hambatan, diantaranya :
1. Penggantian Lokasi
Pada tahap persiapan ini langkah awal yang dilakukan adalah menentukan
lokasi pengadaan tanah. Penetapan lokasi disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang
Wilayah (selanjutnya disebut RTRW) Kabupaten Tasikmalaya, penetapan lokasi
pengadaan tanah ini dituangkan dalam bentuk Surat Keputusan Penetapan Lokasi
yang ditandatangani oleh Bupati. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 4 Peraturan
Presiden Nomor 36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk
Kepentingan Umum.
Dari ketentuan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa pelaksanaan
pembangunan jalan Cisinga harus didasarkan pada Perda RTRW No. 2 Tahun 2005
Kabupaten Tasikmalaya. Berdasarkan RTRW tersebut dapat ditentukan lokasi mana
saja yang dapat dilalui untuk pembangunan jalan raya.
Berdasarkan penetapan lokasi pembangunan jalan Cisinga yang terletak di
sebagian Desa Sukaratu Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya, masyarakat
tidak sepakat memberikan tanah dan bangunan untuk dijadikan jalan yang
menghubungkan jalan Cisinga, karena banyak permukiman padat penduduk yang
harus direlokasi. Panitia Pengadaan Tanah (selanjutnya disebut PPT) telah beberapa
kali memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat jalan tersebut, namun
masyarakat tetap tidak sepakat untuk dijadikan lokasi pembangunan jalan Cisinga.
Setelah tidak adanya kesepakatan lokasi antara Pemerintah dengan masyarakat yang
ada di sebagian Desa Sukaratu, maka penetapan lokasi jalan tersebut dipindahkan ke
lokasi lain.
Menurut Penulis, jika proses pemindahan Jalan Cisinga masih mungkin
dilakukan demi menghindari terjadinya konflik dengan warga, maka Pemerintah
Daerah Kabupaten Tasikmalaya dapat memilih langkah tersebut daripada melakukan
langkah hukum dengan mencabut hak atas tanah. Pencabutan hak atas tanah tidak
5
mutlak harus dilakukan untuk setiap upaya pembebasan lahan dalam rangka
pembangunan oleh Pemerintah.
2. Ganti Rugi
Kesepakatan mengenai besarnya ganti rugi pengadaan tanah jalan Cisinga
belum tercapai karena pemilik tanah menginginkan ganti rugi yang lebih tinggi atau
besar dari jumlah ganti rugi yang ditawarkan oleh PPT. Desa Sukasetia sendiri,
terdapat 2 (dua) orang yang bersikeras tidak menyepakati harga yang ditawarkan Tim
Pembebasan Tanah. Dua warga yang tinggal di Desa Sukasetia itu, terus menerus
meminta perpanjangan waktu untuk menandatangani tawaran tersebut. Tercatat
hingga 5 (lima) kali negosiasi diadakan antara PPT dengan pemegang hak atas tanah,
sehingga menghambat proses ganti rugi kepada masyarakat yang telah menyepakati
harga ganti rugi tersebut.
Apabila kesepakatan tentang bentuk dan besarnya ganti kerugian tidak
tercapai, panitia pengadaan tanah menetapkan bentuk dan besarnya ganti kerugian
dengan melampirkan Berita Acara Penaksiran dan Notulen Rapat Musyawarah.
Penulis berpendapat bahwa dalam setiap pelaksanaan pengadaan tanah untuk
kepentingan umum terdapat dua kepentingan yang selalu berbeda pendapat yaitu
antara pemerintah sebagai yang memerlukan tanah dengan masyarakat sebagai
pemegang hak atas tanah. Untuk mencari titik temu antara dua kepentingan tersebut,
ketentuan yang mengatur besarnya ganti rugi dari aspek yuridis harus dilakukan
penyempurnaan yang mengarah kepada pendekatan dua kepentingan secara sosiologis
yuridis, baik kepentingan pemerintah sebagai calon pengguna tanah maupun
kepentingan para pemegang hak atas tanah sebagai pemilik hak atas tanah. Pada
dasarnya para pemilik hak atas tanah menginginkan kelangsungan kehidupannya dari
hasil penggantian pelepasan hak atas tanahnya.
3. Musyawarah
Sulitnya menentukan waktu untuk melaksanakan proses sosialisai serta
musyawarah menyebabkan waktu pengadaan tanah menjadi cukup lama. Hal ini
dikarenakan sebagian pemilik hak atas tanah tidak tinggal di wilayah tersebut.
Musyawarah dilakukan untuk membahas bentuk dan besarnya ganti kerugian. Dalam
musyawarah ini yang diinginkan adalah titik temu keinginan antara pemegang hak
6
atas tanah dengan pihak yang instansi pemerintah yang memerlukan tanah, untuk
selanjutnya memperoleh kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti kerugian.
Ditegaskan dalam Pasal 8 Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005 tentang
Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
Menurut penulis pada masyarakat desa, peran kepala desa sangat penting
dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi warganya. Persoalan yang menyangkut
warga desa dimusyawarahkan terlebih dahulu dalam rapat desa atau dibicarakan
dengan sesepuh desa untuk memperoleh pemecahan yang tepat dan memuaskan bagi
semua pihak. Melihat kondisi yang demikian, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya
melalui Tim yang dibentuknya lebih memprioritaskan penyelesaian melalui
musyawarah daripada jalur hukum, karena upaya penyelesaian sengketa melalui
musyawarah merupakan cerminan corak khas tata kehidupan masyarakat adat
tradisonal yang memiliki sifat kebersamaan, gotong-royong dan kekeluargaan.
Penyelesaian sengketa dengan cara musyawarah diharapkan menjadi solusi
yang saling menguntungkan dalam mengatasi suatu masalah. Penulis memandang
bahwa cara yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya dengan
menyelesaikan
sengketa
dengan
mengutamakan
jalur
musyawarah
dalam
menyelesaikan permasalahan atau sengketa pembebasan lahan untuk pembangunan
Jalan Cisinga dapat menjadi acuan dalam melakukan langkah selanjutnya, terutama
jika pembangunan tersebut melibatkan atau menyangkut kepentingan warga sekitar.
B. Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Mengatasi Terhambatnya Pembangunan
Jalan Raya Ciawi-Singaparna Terhadap Pengembangan Wilayah Kabupaten
Tasikmalaya
Ada beberapa faktor terhadap terhambatnya pembangunan jalan raya Cisinga
setelah pengadaan tanah selesai, pada awal pembangunan jalan Cisinga dilaksanakan
oleh PT. Gelinding Mas dengan dasar perjanjian kontrak dengan Pemerintah
Kabupaten Tasikmalaya. Saat itu PT. Gelinding Mas menyepakati untuk membangun
jalan raya sepanjang 24 km, perjanjian awal setelah pembangunan jalan selesai maka
pihak pelaksana proyek menyerahkan kepada Pemerintah untuk selanjutnya dibayar
biaya pengerjaannya.
7
Pada Tahun 2006 terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang
mengakibatkan kenaikan bahan baku mengalami kenaikan secara signifikan. Nilai
kontrak yang sudah disepakati antara pihak Pemerintah dengan pelaksana proyek
tidak serta merta mengalami kenaikan anggaran, karena ketersediaan anggaran
terbatas. Oleh karena itu pihak pelaksana proyek tidak mau melanjutkan proyek
pembangunan jalan raya Cisinga, sehingga proyek pembangunan jalan raya Cisinga
terhenti cukup lama yang mengakibatkan terhambatnya pengembangan wilayah yang
di rencakan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Terhambatnya pembangunan jalan
Cisinga juga disebabkan oleh kekurangan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan
jalan masih kurang dalam pelaksanaannya.
Menurut penulis tidak lancarnya pembangunan jalan Cisinga mengakibatkan
terhambatnya kemudahan akses masyarakat untuk mencapai dua wilayah tersebut
dengan jalan pintas. Secara garis besar terhambatnya pembangunan Jalan Cisinga
akan menghambat proses pembangunan dan perkembangan di wilayah sekitar. Hal
tersebut tentu cukup merugikan baik dari sisi materil maupun non-materil, sebab
banyak kalangan masyarakat terutama masyarakat sekitar yang sehari-hari melakukan
perjalanan antara Ciawi ke Singaparna dan sekitarnya harus menunda menggunakan
jalur tersebut dan menggunakan akses lama yang lebih jauh sehingga memakan waktu
lama dan biaya lebih besar.
Menurut penulis bahwa terhambatnya pembangunan akses Jalan Cisinga akan
berdampak luas pada sektor lain jika dibiarkan dan tidak ada alternatif dalam
menyelesaikan pembangunan akses jalan tersebut. Hal tersebut dapat menimbulkan
preseden buruk dari masyarakat atas kinerja dan keseriusan Pemerintah Daerah
Kabupaten Tasikmalaya dalam membangun akses Jalan Cisinga yang sudah lama
terbengkalai yang disebabkan masalah yang berlarut-larut.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Guslatif mantan Kasi Tata
Ruang Bappeda Kabupaten Tasikmalaya, setelah tidak ada perusahaan yang mau
melaksanakan pembangunan jalan Cisinga yang terhenti cukup lama dan
mengakibatkan terhambatnya pengembangan wilayah yang telah direncanakan dalam
RTRW. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mengeluarkan kebijakan untuk
8
melanjutkan proyek jalan Cisinga dengan menganggarkannya di APBD tahun
selanjutnya.
Secara umum, program Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya salah satunya
pembangunan jalan diarahkan pada kebijakan untuk peningkatan akses pelayanan
perkotaan yang merata dan berhierarki, antara lain meliputi menjaga keterkaitan
antarkawasan perkotaan, antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan,
mendorong kawasan perkotaan agar lebih kompetitif dan lebih efektif dalam
pengembangan wilayah disekitarnya, kebijakan peningkatan kualitas dan jangkauan
pelayanan jaringan prasarana transportasi yang merata, meliputi peningkatan kualitas
dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana dengan meningkatkan kualitas jaringan
prasarana.
Arahan pembangunan yang tercantum dalam RTRW Kabupaten Tasikmalaya,
kawasan sepanjang jalan Cisinga dan sekitarnya difungsikan sebagai kawasan Pusat
Kegiatan Lokal (PKL) yaitu Desa Cipakat Kecamatan Singaparna, Desa Cilampung
Hilir Kecamatan Padakembang dan Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) untuk
Kecamatan Sukaratu dan Kecamatan Padakembang.
Menurut pendapat penulis, pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan
Jalan Raya Cisinga tersebut sudah cukup baik terbukti dengan terpenuhinya beberapa
asas pengadaan tanah yaitu :
1. Asas Kemanfaatan, dimana pengadaan tanah untuk pembangunan Jalan Raya
Cisinga tersebut mendatangkan dampak positif bagi pihak yang memerlukan
tanah, masyarakat yang terkena dampak dan masyarakat luas;
2. Asas Keadilan, warga masyarakat yang terkena dampak diberikan ganti kerugian
yang dapat memulihkan kondisi sosial ekonominya atau setara dengan keadaan
semula dengan memperhitungkan kerugian terhadap faktor fisik maupun non
fisik;
3. Asas Keterbukaan, dalam proses pengadaan tanah tersebut masyarakat yang
terkena dampak diberikan informasi tentang proyek dan dampaknya, kebijakan
ganti kerugian, jadwal pembangunan, rencana pemukiman kembali dan lokasi
pengganti serta hak masyarakat untuk menyampaikan keberatan;
9
4. Asas Keikutsertaan/Partisipasi, adanya peran serta seluruh pemangku kepentingan
(stakeholder) dalam setiap tahap pengadaan tanah (perencanaan, pelaksanaan,
evaluasi).
Landasan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dalam mengambil
kebijakan perlu diadakan identifikasi terhadap berbagai kebutuhan masyarakat,
pusat perhatiannya, stratifikasi sosial, pusat kekuasaan maupun saluran
komunikasi. Dari hasil identifikasi ini kemudian disusun suatu perencanaan
dengan berorientasi jauh kedepan, sehingga dapat dijadikan bahan acuan untuk
pelaksanaan, baik untuk waktu sekarang maupun waktu yang akan datang. Pada
pembangunan jalan Cisinga pemerintah sudah mempersiapkan perencanaan
berdasarkan RTRW yang sudah ada.
Pada tahap pelaksanaan, selain melaksanakan hal hal yang telah dibuat dalam
perencanaan, juga perlu diadakan penyorotan terhadap kekuatan sosial dalam
masyarakat dan perubahan sosial yang terjadi, sehingga pelaksanaan dapat
berjalan dengan baik. Tahap pelaksanaan ini pemerintah harus lebih selektif
dalam memilih pelaksana proyek agar tidak terjadi keterlambatan pembangunan
jalan Cisinga yang sampai saat ini belum selesai.
Pada tahap evaluasi diadakan analisis terhadap efek dari pelaksanaan. Kiranya
sulit membayangkan keberhasilan dari pelaksanaan apabila tidak diadakan
evaluasi terhadap apa yang telah dicapai. Sebab dalam pelaksanaan tidaklah
cukup apabila hanya dilandasi itikad baik dan semangat saja. Usaha lainnya
sangat diperlukan untuk mengidentifikasi apa yang mundur, dan apa yang telah
merosot. Hal hal tersebut memerlukan pengadaan, pembetulan, penambahan,
pelancaran dan peningkatan secara proporsional.
III.
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hambatan yang terjadi dalam pengadaan tanah untuk pembangunan Jalan CiawiSingaparna (Cisinga) sebagian besar terjadi disebabkan tidak tersepakatinya relokasi
antara Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya dengan warga atau pemilik lahan
yang terkena rencana awal proyek pembangunan Jalan Cisinga di sebagian Desa
Sukaratu. Sulitnya negosiasi mengenai biaya ganti rugi dalam proses pengadaan tanah
10
dengan warga, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya mengambil hingga
5 (lima) kali negosiasi yang diadakan antara Panitia Pengadaan Tanah dengan
pemegang hak atas tanah, sehingga menghambat proses ganti rugi kepada masyarakat
yang telah menyepakati harga ganti rugi tersebut.
2. Terhentinya pembangunan jalan raya Cisinga berdampak terhadap pengembangan
wilayah yang direncanakan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, sehingga merugikan
baik dari sisi materil maupun non-materil. Penyebabnya adalah karena pengembang
jalan Cisinga tidak diberikan anggaran yang cukup setelah banyak terjadinya
kenaikan harga bahan baku akibat kenaikan harga bahan bakar minya (bbm) sehingga
pembangunan terhenti cukup lama. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Daerah
Kabupaten
Tasikmalaya
akhirnya
mengeluarkan
kebijakan
dengan
menganggarkannya dalam APBD tahun berikutnya sehingga proses pembangunan
dapat berjalan secara bertahap.
B. SARAN
1. Secara umum pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan jalan Cisinga
Kabupaten Tasikmalaya berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan meskipun
terhambat dengan adanya masyarakat di sebagian Desa Sukaratu yang tidak ingin di
relokasi dan hambatan ganti rugi yang tidak sesuai dengan keinginan sebagian
masyarakat, oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya perlu segera
merealisasikan dan mempercepat pembangunan fisik jalan Cisinga.
2. Dalam
mengeluarkan
kebijakan
Pemerintah
Kabupaten
Tasikmalaya
perlu
mencermati masalah-masalah yang timbul akibat terhambatnya proses pembangunan
jalan Cisinga. Konsentrasi kepadatan dan aktivitas pada satu kawasan saja akan
berdampak pada tidak efisien dan tidak optimalnya mekanisme kehidupan kawasan
tersebut. Pengembangan wilayah yang cenderung linier perlu diantisipasi dengan
membuat konsep pengembangan pusat-pusat kawasan di sepanjang jalan Cisinga.
IV.
UCAPAN TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. Ida Nurlinda, S.H., M.H sebagai Ketua Komisi Pembimbing
2. Dr. Zainal Muttaqin, S.H., M.H. sebagai Anggota Komisi Pembimbing
11
Download