UNIVERSITAS INDONESIA Gerakan Sosial Masyarakat Kota Dalam

advertisement
UNIVERSITAS INDONESIA
Gerakan Sosial Masyarakat Kota Dalam Memperjuangkan
Legalisasi Permukiman Liar Studi Kasus Pemukiman Kampung Tanah Merah Jakarta Utara
TUGAS KARYA AKHIR
CARLOS ROY FAJARTA
0606095885
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
DEPOK
JUNI 2013
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
UNIVERSITAS INDONESIA
Gerakan Sosial Masyarakat Kota Dalam Memperjuangkan
Legalisasi Permukiman Liar –
Studi Kasus Pemukiman Kampung Tanah Merah Jakarta Utara
TUGAS KARYA AKHIR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
CARLOS ROY FAJARTA
0606095885
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
DEPOK
JUNI 2013
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang Maha Pengasih dan
Maha Pengampun. Segala proses dan pencapaian yang penulis raih sampai detik ini dalam
penyusuna penelitian semua karena berkat dan anugerah daripadaNya yang selalu menyertai
saya setiap saat. Tugas Karya Akhir ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat
untuk mencapai gelar Sarjana Sosial di Jurusan Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Indonesia. Tugas Karya Akhir dengan tema gerakan sosial ini penulis
harapkan dapat memberikan sumbangsih dalam perkembangan penelitian dengan tema
serupa. Selama melakukan proses penelitian hingga penyusunan skripsi ini, banyak pihak
yang telahmemberikan dukungan dan bantuan kepada penulis. Oleh karena itu, penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Indera R.I Pattinasarany, MA ,selaku Ketua Departemen Sosiologi FISIP UI, yang
masih memberikan kesempatan bagi penulis dan tetap memberikan semangat untuk tetap
menyelesaikan tugas karya akhir ini;
2. Nanu Sundjojo, S.Sos, M.Si ,selaku dosen pembimbing yang membantu dan mendukung
serta mengarahkan penulis untuk menyusun karya ilmiah dengan baik dan benar;
3. Raphaella Dewantari Dwianto, MA., Ph.D , selaku dosen penguji ahli yang membantu
penulis dalam memperbaiki isi dan pemikiran-pemikiran penulis yang masih harus di
perbaiki;
4. Dr. Ida Ruwaida Noor, M.Si , selaku penasehat akademis penulis yang telah
memberikanpengetahuan, saran, dan mengenalkan kepada penulis tentang dunia kampus dan
tetap memantau progress akademis penulis selama menjalani masa perkuliahan;
5. Yosef Hilarius, S.Sos, M.Si , selaku sekretaris sidang dan juga dosen yang sangat peduli
terhadap perkembangan kemajuan karya akhir penulis dan memberikan cambuk semangat
agar penulis tetap konsisten dalam menyelesaikan studi ini;
6. Dr. Rosa Diniari, MA , selaku ketua sidang saat pengujian tugas karya akhir ini akan
dilangsungkan, terima kasih mba Dini atas ketersediannya mnjadi ketua sidang dan support
dan doanya untuk penulis;
4. Informan Sumber Penelitian yang telah memberikan sumber data sehingga proses
penelitian ini dapat berjalan dengan lancar sampai selesai nya penulisan karya akademis ini
v
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
5. Kepada kedua orang tua penulis yang telah mendukung secara penuh baik dari segi materil
dan moril sehingga penulis dapat menyelesaikan studinya
6. Kedua kakak penulis, yang selama ini terus mendukung penulis agar dapat menyelesaikan
studinya
7. Seluruh teman-teman Mahasiswa Sosiologi angkatan 2006 yang selama proses perkuliahan
banyak membantu penulis dalam menambah pengetahuan dan pemikiran-pemikiran baru
mengenai dunia perkuliahan.
8. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu, namun turut berkontribusi
dalam proses penyusunan Tugas Karya Akhir ini.
Penulis memiliki harapan semoga Tugas Karya Akhir ini dapat berguna bagi semua
pihak. Dan sebagai sebuah karya, Tugas Karya Akhir ini tidak lepas dari kekurangan dsn
keterbatasan. Oleh karena itu masukan dan kritik bagi penelitian ini sangat diterima bagi
penulis penelitian ini agar karya akademis ini bisa menjadi lebih baik lagi. Terima kasih.
Depok,
Penulis
vi
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
ABSTRAK
Nama
: Carlos Roy Fajarta
Program Studi : Sosiologi
Judul
: “Gerakan Sosial Masyarakat Kota Dalam Memperjuangkan Legalisasi
Permukiman Liar – Studi Kasus Permukiman Kampung Tanah Merah Jakarta Utara”.
Tugas Karya Akhir ini membahas tentang gerakan sosial yang terjadi di permukiman
liar perkotaan, dengan mengambil studi kasus pada permukiman kampung Tanah Merah
Jakarta Utara. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini merupakan jenis
penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai proses gerakan
sosial yang terjadi di dalam kelompok masyarakat tertentu. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa gerakan yang terjadi pada masyarakat yang bermukim di kampung tanah merah
berhasil melakukan pergerakan sosial dalam proses memperjuangkan hak-hak mereka
sebagai warga negara, yakni pemberian KTP dan pengesahan RT dan RW yang ada pada
permukiman kampung tanah merah tersebut. Dari proses gerakan sosial yang terjadi pada
masyarakat tanah merah tersebut secara konseptual sejalan dengan pemikiran dari Castell
mengenai aliansi organisasi yang membuat sebuah gerakan sosial dapat berlangsung atas
dasar prakarsa Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu (FKTMB), serta pemikiran Tilly
mengenai mobilisasi dan sumber daya yang membuat sebuah gerakan dapat eksis dan tetap
berlangsung.
Kata Kunci: Permukiman Liar, Gerakan Sosial, Kota.
viii
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
ABSTRAK
Name : Carlos Roy Fajarta
Study Program: Sosiologi
Judul
: “Social Movement of Urban Communities in Struggle of Illegal Settlement
Legalization - Case Study Tanah Merah Village in North Jakarta”.
The focus of this thesis discusses the social movements that occur in urban
settlements, with a case study on Tanah Merah village settlements in North Jakarta. By using
qualitative methods, this study is a descriptive research, which aims to provide an overview
of the social movements that occur in certain communities. The results showed that the
movement that occurs in people who live in Tanah Merah villages had succes did social
movements in the process of fighting for their rights as citizens, namely the provision of ID
card and validation RT RW and village settlements which exist on that settlement because of
Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu (FKTMB) organization. The social movements that
occurred in the red soil is conceptually in line with the thinking of the alliance Castell
organization that makes a social movement can take place, as well as thinking about Tilly and
the mobilization of resources to make a movement can exist and persist.
Kata Kunci: Illegal Housing, Social Movement, City.
ix
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................................................. i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS................................................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN JUDUL KARYA AKHIR
UNTUK KEAKURATAN DATA....................................................................................... iv
KATA PENGANTAR.......................................................................................................... v
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN ILMIAH.................................................... vi
ABSTRAK............................................................................................................................ viii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... x
DAFTAR TABEL................................................................................................................ xii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................................ xiii
BAB 1 PENDAHULUAN..................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah......................................................................................... 1
1.2 Permasalahan Penelitian......................................................................................... 7
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................................... 8
1.4 Signifikansi Penelitian............................................................................................ 8
1.5 Batasan Penelitian................................................................................................... 9
1.6 Sistematika Penelitian............................................................................................. 9
BAB 2 KERANGKA PEMIKIRAN................................................................................... 12
2.1 Tinjauan Pustaka...................................................................................................12
2.1.1 Penelitian Tentang Permukiman Liar.....................................................12
2.1.2 Penelitian Tentang Gerakan Sosial.........................................................18
2.2 Kerangka Konsep..................................................................................................24
2.1.1 Permukiman Kota...................................................................................24
2.1.2 Permukiman Liar.................................................................................... 26
2.1.3 Gerakan Sosial........................................................................................ 28
x
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
BAB 3 METODE PENELITIAN......................................................................................... 32
3.1 Pendekatan Penelitian........................................................................................... 32
3.2 Jenis Penelitian...................................................................................................... 33
3.3 Unit Analisis Penelitian......................................................................................... 34
3.4 Subyek dan Lokasi Penelitian............................................................................... 34
3.5 Metode Pengumpulan Data................................................................................... 35
3.6 Penentuan Informan Penelitian............................................................................. 35
3.7 Teknik Analisa Data............................................................................................. 36
3.8 Etika Penelitian..................................................................................................... 36
3.9 Periodesasi Penelitian........................................................................................... 37
3.10 Keterbatasan Penelitian...................................................................................... 37
BAB 4 GAMBARAN UMUM TENTANG PERMUKIMAN LIAR KAMPUNG TANAH
MERAH DAN PROSES GERAKAN SOSIAL YANG TERJADI DI DALAMNYA.... 38
4.1 Sejarah Tanah Merah............................................................................................. 38
4.2 Karakteristik Permukiman Liar Tanah Merah....................................................... 41
4.2.1 Karakteristik Fisik.................................................................................. 41
4.2.2 Karakteristik Sosial................................................................................ 43
4.3 Gerakan Masyarakat Tanah Merah Sebelum Pemberian KTP & Pengesahan
RT&RW ……………………………………………………………………………………. 45
BAB 5 ANALISIS GERAKAN SOSIAL MASYARAKAT TANAH MERAH............... 60
BAB 6 PENUTUP.................................................................................................................. 62
6.1 Kesimpulan Gerakan Sosial Di Permukiman Liar Tanah Merah Jakarta Utara.... 62
6.2 Saran...................................................................................................................... 62
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................ 64
xi
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1
Arus Migrasi Penduduk Daerah ke Kota Jakarta Pada Tahun 2010................ 1
Tabel 1.2
Pertumbuhan penduduk DKI Jakarta dari tahun 2000 ke tahun 2010 ............. 2
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1
Akses jalan menuju kampung tanah merah..................................................... 40
Gambar 1.2
Peta lokasi wilayah Tanah Merah................................................................... 42
Gambar 1.3
Demonstrasi Warga Tanah Merah ke Kemendagri......................................... 52
Gambar 1.4
Simbolisasi Unjuk Rasa Warga Tanah Merah................................................ 53
Gambar 1.5
Karnaval Sedekah Bumi.................................................................................. 55
Gambar 1.6
Kedatangan Gubernur Jakarta Jokowi dan Dinas terkait................................ 57
Gambar 1.7
Proses penerbitan KTP bagi Warga Tanah Merah oleh Dukcapil................... 57
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I
(Pedoman Wawancara).................................................................................. xiii
Lampiran II
(Foto Dokumentasi Penelitian)...................................................................... xiv
Lampiran III
(Transkrip Wawancara)................................................................................ xvii
xii
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia dan sebagai pusat perekonomian
negara Indonesia merupakan tempat utama dan tujuan bagi masyarakat untuk
mencari peluang dan kesempatan hidup yang lebih baik, sehingga membuat orang
ingin pergi ke kota seribu impian ini. Begitu banyaknya arus masyarakat yang
masuk ke dalam Jakarta membuat kota ini sudah didera banyak masalah sejak
dulu dalam berbagai aspek, terutama dalam aspek tempat tinggal yang layak bagi
masyarakatnya.
Pertambahan jumlah penduduk di Jakarta sendiri memang sangat besar dan
signifikan dalam setiap tahunnya, hal ini dikarenakan Jakarta memiliki daya
penarik yang sangat besar dan membuat masyarakat di pedesaan berbondongbondong pergi ke Jakarta untuk mencari kehidupan dan perekonomian yang lebih
baik. Arus masuk penduduk ke kota Jakarta ini didorong dengan adanya
pembangunan infrastruktur yang terpusat di Jakarta, selain itu kesempatan dan
peluang kerja yang disediakan kota ini juga cukup banyak dan melimpah,
sehingga banyak pandangan masyarakat jika ingin pasti dapat mencari pekerjaan
sebaiknya pergi ke Jakarta. Menurut Data BPS pada tahun 2010, arus migrasi dari
daerah menuju Jakarta mencapai 42% dan di dominasi oleh gender laki-laki.
Tabel. 1.1
Arus Migrasi ke kota Jakarta pada tahun 2010
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
2
Hal ini yang menyebabkan kota Jakarta mengalami kelangkaan tanah sebagai
tempat tinggal arus urbanisasi yang masuk ke dalam kota Jakarta. Dengan segala
pembangunan dan ekonomi, membuat lokasi tanah atau lahan yang masih kosong
memiliki nilai yang sangat tinggi, karena lokasinya berada didalam megahnya
pembangunan infrasturktur di Jakarta. Menurut Badan Pusat Statistik sendiri,
pertumbuhan penduduk di Jakarta dalam periode 10 tahun (2000 s/d 2010)
mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, hal ini dapat dilihat dari tabel
data statistik berikut:
Tabel. 1.2
Pertumbuhan penduduk DKI Jakarta dari tahun 2000 ke tahun 2010
Dari data BPS diatas, terlihat pertumbuhan penduduk di Jakarta mengalami
pertumbuhan dari 8.347.083 di tahun 2000 kemudian pada 10 tahun setelahnya,
yakni pada tahun 2010 penduduk di Jakarta mencapai 9.607.787. Atau bisa
dikatakan pertumbuhan penduduk di Jakarta dalam kurun waktu sepuluh tahun
mengalami peningkatan 15,1%. Pertumbuhan penduduk sebesar ini membuat
kepadatan penduduk melonjak tinggi, dan keterbatasan jumlah tanah dan rumah
yang ada menjadi permasalahan krusial yang menimpa Jakarta. Kelangkaan lahan
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
3
dan nilai guna tanah yang dekat dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial,
membuat tanah di Jakarta kian diburu oleh masyarakat menegah ke atas, sehingga
masyarakat pendatang yang perekonomiannya masih lemah terpaksa mencari
alternatif tempat tinggal. Kondisi dari kepadatan penduduk di kota Jakarta
terutama di daerah Jakarta Utara pada lokasi penelitian ini yakni di Tanah Merah
dilakukan memiliki kondisi yang sangat padat dan tata ruang nya masih belum
sempurna, hal ini terlihat dari jarak antara satu rumah warga dengan warga lain
yang saling menempel dan susunan rumah yang kurang beraturan, serta tata kelola
saluran air yang tidak terencana dengan baik, sehingga saat musim penghujan
akan menimbulkan genangan air di jalan perkampungan.
Harga tanah dan rumah yang kian melonjak di Jakarta dan sekitarnya
merupakan dampak dari pembangunan Infrastruktur dan Fasilitas Sosial dan
Fasilitas Umum serta berbagai tempat hiburan dan rekreasi yang berpusat di
Jakarta. Semakin banyak para pengembang properti yang membangun perumahan
bagi masyarakat di Jakarta, namun sebagian besar hanya terserap dan di tujukan
kepada segmen masyarakat golongan ke atas dan menengah, sedangkan untuk
golongan masyarakat kelas bawah masih sangat terbatas.
Hal tersebut seperti diungkapkan oleh Konsultan Properti Cushman &
Wakefield Indonesia pada tahun 2013 yang di kutip oleh Kompas.com, harga
rumah tapak dalam jangka waktu kurang lebih 3 tahun mengalami kenaikan harga
sampai dengan 100%. Dari tahun ke tahun harga rumah di jakarta mengalami
kenaikan yang sangat ekstrim dan cenderung tidak terkendali dikarenakan
pembagunan di Jakarta yang semakin pesat dalam setiap tahunnya.
Meski
demikian, hal tersebut tidak menyurutkan minat warga dalam memebeli dan
memiliki tanah dan rumah di jakarta, selain sebagai tempat tinggal, banyak warga
dari golongan ke atas melakukan pembelian tersebut sebagai investasi dalam
jangka panjang. Kategori pembagunan perumahan yang selama ini dibangun oleh
pihak pengembang perumahan juga pada umumnya merupakan segmen mengenah
ke atas, dimana harga rumah yang dibangun harganya bisa mencapai 500 juta
hingga bermilyar-milyar. Akibat dari dampak ini harga tanah semakin tidak
terkendali dan melonjak tinggi, sehingga masyarakat kelas bawah tidak mampu
untuk membeli rumah dengan harga tersebut. Kecenderungan para developer
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
4
membangun perumahan lebih ke arah segmen kelas pasar menengah ke atas
dengan harga mahal.
Terbatasnya pemukiman yang terjangkau bagi golongan masyarakat ke
bawah ini membuat masyarakat di kelas ini sering kali tidak mempunyai pilihan
lain selain tinggal di tanah yang sebenarnya bukan milik mereka secara sah di
mata hukum, yakni tanah milik negara, pribadi maupun swasta (perusahaan).
Namun demikian hal ini merupakan solusi paling logis dan alternatif satu satunya
bagi mereka yang masih bertahan hidup di Jakarta, karena ketidakmampuan
mereka secara ekonomi untuk membeli tanah dan rumah yang saat ini harganya
ratusan juta rupiah. Permasalahan pemukiman itu sendiri bukan merupakan topik
yang baru jika kita berbicara mengenai Jakarta, kota ini memiliki banyak
permasalahan pemukiman liar yang sifatnya illegal namun belum diselesaikan
permasalahannya karena keterbatasan anggaran APBD dan birokrasi saat dulu
masih belum begitu baik. Hingga akhir 2012 kemarin saat pemimpin Jakarta yang
baru, Joko Widodo (dikenal dengan sebutan akrab Jokowi) dan Basuki Tjahaja
Purnama terpilih hingga saat ini mereka bertugas, masih banyak masalah
pemukiman yang masih harus diselesaikan oleh mereka.
Tanah Merah adalah nama sebuah kawasan yang terletak di Kecamatan
Kelapa Gading dan Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Tanah Merah merupakan
lokasi yang kurang lebih hampir sama dengan lokasi-lokasi permukiman liar dan
kumuh lain nya di Jakarta yang muncul akibat dari urbanisasi yang sangat
meningkat tajam di Jakarta pada era tahun 1970 sampai dengan 1980an. Pada
periode ini Jakarta sedang dalam proses pembangunan besar-besaran, dan banyak
warga yang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Pada saat
itu banyak para penduduk yang menempati tanah merah merupakan pekerja di
sektor informal, seperti buruh bangunan, ataupun penggarap lahan, sehingga
pendapatan mereka yang tidak seberapa membuat mereka mau tidak mau harus
menempati tempat tinggal mereka yang mereka sendiri sadari bahwa tanah
tersebut merupakan tanah milik negara, dalam hal ini tanah merah merupakan
tanah milik pemerintah Jakarta, yang sebenarnya akan diberikan kepada
Pertamina untuk dikelola sebagai tempat pemrosesan bahan bakar minyak.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
5
Meskipun begitu tetap saja banyak warga yang datang dan menempati tanah
merah dikarenakan lahan tersebut saat dulu masih kosong.
Tanah Merah adalah sebuah wilayah yang muncul disebabkan karena
ketidak tegasan pemerintah dalam mengambil keputusan, dimana dari era tahun
1970 sampai 1985 pemerintah justru malah membiarkan banyak penduduk untuk
berpindah ke lokasi tersebut. Tempat tinggal warga yang sebelumnya merupakan
bangunan semi permanen, pada saat itu banyak dirubah menjadi bangunan
permanen. Selain itu masuk nya listrik pln yang saat itu masuk karena insiatif
warga maupun pembangunan-pembangunan jalan yang merupakan cikal bakal
dari kampung tanah merah saat ini pada era itu justru dibiarkan pemerintah.
Barulah pada akhir tahun 1988 ke atas pemerintah disaat itu baru mulai
menertibkan lokasi tersebut dengan melakukan pendaatan warga dan peneritban
bagi warga yang saat itu tidak membayar uang sewa kepada pemerintah setempat.
Diawal tahun 1990an, Pertamina mensosialisasikan kepada warga melalu
pemerintah Jakarta Utara, bahwa di daerah permukiman warga yang ditempati
akan dijadikan sebagai ruang perluasan dari depo Pertamina yang pada saat itu
direncakan bahwa Pertamina akan melakukan perluasan. Namun perundingan
antara Pertamina dengan warga tanah merah serta pemerintah jakarta utara pada
saat itu berjalan dalam jangka waktu yang lama, hal ini dikarenakan tidak
ditemukannya kesepakatan harga tanah yang akan diserahkan warga kepada
Pertamina, dan ada pula proses pembodohan warga dengan hanya menghitung
bangunan dan jumlah warga yang tinggal dalam satu rumah. Karena tidak
menemukan kesepakatan diantara pihak warga dengan pihak pemerintah dan
Pertamina, maka hingga akhir 1992 kesepakatan tersebut tidak membuahkan
hasil.
Persengkataan yang terjadi antara Pertamina dengan warga tanah merah
pada intinya disebabkan karena perbedaan pemahaman mengenai status
kepemilikan tanah tersebut. Warga tanah merah merasa mereka berhak menempat
tanah negara karena pada tahun 1980an, pemerintah sendiri yang mengijinkan
warga untuk membangun tempat tinggal di lokasi tersebut. Namun Pertamina
menganggap bahwa lokasi tanah merah yang sekarang diduduki warga sebenarnya
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
6
merupakan tanah yang mereka miliki dengan dasar diperbolehkan oleh pemerintah
Jakarta Utara untuk digunakan sebagai perluasan pembangunan depo. Seringkali
banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah jakarta dan Pertamina untuk
merelokasi warga ke lokasi lain, namun hal ini ditolak oleh warga karena beragam
alasan.
Permasalahan yang muncul di tanah merah pada umumnya adalah
terlantarnya warga dalam mengakses atas fasilitas sosial dan fasilitas umum yang
disediakan oleh pemerintah. Hal ini dikarenakan semenjak permasalahan dengan
warga dan Pertamina pada tahun 1992 tidah membuahkan hasil, dan justru
pengadilan disaat itu memenangkan warga tanah merah dan memberikan
peringatan bagi pertmaina dan pemerintah jakarta utara untuk menghentikan
penggusuran yang mereka lakukan, maka hubungan antara pemerintah jakarta
dengan warga tanah merah menjadi sangat renggang. Bahkan warga tanah merah
sendiri merasa bahwa diri mereka sudah tidak dianggap oleh pemerintah Jakarta,
hal ini ditandai dengan permasalahan-permasalahan yang muncul dikarenakan
masalah administrasi dalam mengurus pendidikan anak, akses ke puskesmas
setempat, saat proses akan mencari pekerjaan dimana warga tidak memiliki kk
dan KTP, serta disaat proses kelahiran dan kematian, dimana warga tidak dapat
dilayani oleh dinas terkait dalam mengurus akte kelahiran ataupun akte kematian.
Pada era pergantian pemerintahan jakarta di tahun 2012, dimana pada saat itu
terjadi pergantian pemimpin dari yang tadinya dipimpin oleh Fauzi Bowo
kemudian berganti dipimpin oleh Joko Widodo, warga mendapatkan apa yang
mereka impikan selama ini. Di saat proses pergantian pemerintahan tersebut,
bapak Gubernur Jakarta yang baru saat itu me-realisasikan permintaan warga agar
mereka diakui sebagai bagian dari warga jakarta dengan memberikan KTP dan
mengesahkan RT dan RW yang ada.
Namun demikian meski mereka telah mendapatkan hak administratif mereka
(KTP dan Pembentukan RT & RW) bukan berarti perjuangan masyarakat tanah
merah berhenti di situ. Karena secara esensial permasalahan yang mereka hadapi
tidak hanya permasalahan administratif semata, kepastian dalam menempati tanah
yang mereka tempati sekarang di masa yang akan datang membuat gerakan sosial
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
7
di Masyarakat Tanah merah terus berlanjut sebagai antisipasi apabila muncul
ancaman penggusuran dari Pertamina.
1.2 Permasalahan Penelitian
Meski memang permasalahan secara administratif kependudukan seperti
pembagian KTP dan pembentukan RT dan RW sudah dilakukan di Kampung
Tanah Merah Jakarta Utara, namun sebenarnya masih ada masalah fundamental
mengenai pemukiman abu-abu (status kepemilikan tanah nya masih ilegal) ini,
yakni mengenai bagaimana jaminan tempat tinggal mereka di masa yang akan
datang, karena mengingat tanah yang mereka tempati saat ini sifat nya masih
sengketa dengan Pertamina, dan pemberian KTP & Pembentukan RT dan RW
bukan berarti mereka sudah sah memiliki tanah tersebut di mata hukum. Selain
masalah kepemilikan tanah yang masih abu-abu, masalah per-ekonomian di
kampung Tanah Merah masih mengalami permasalahan yang biasa terjadi di
permukiman kumuh lainnya, yakni tingkat perekonomian mereka masih rendah
dan hal ini berdampak langsung terhadap kehidupan mereka sehari hari, karena
akses ke fasos dan fasum sebelum pembuatan KTP dan rt/rw oleh Jokowi, mereka
masih harus membayar ekstra untuk mendapatkan fasos dan fasum.
Ke depannya sendiri, masyarakat tanah merah memang memiliki potensi
untuk tetap tinggal di lokasi yang sekarang mereka tinggal, asalkan permasalahan
sengketa dengan pihak Pertamina dapat dimusyawarahkan, dimana menurut
Kepala Dinas dan Kependudukan Dan Catatan Sipil Purna Hutapea, langkah awal
untuk membuat semacam zona penyangga antara Depo Pertamina dengan
pemukiman warga harus menjadi prioritas utama sebagai syarat pembentukan RT
& RW yang sah. Selain itu pula akses fasilitas sosial dan fasilitas umum di
pemukiman tanah merah setelah disahkannya RT & RW serta pembuatan KTP
berdampak positif bagi kegiatan warga tanah merah, yakni mereka dapat lebih
mudah mengakses fasilitas fasilitas seperti pelayanan kesehatan, pendidikan
gratis, dan layanan layanan sosial lainnya.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
8
Segala alasan – alasan di ataslah yang menarik penulis untuk mengangkat
kasus tentang pemukiman Tanah Merah. Dari berbagai macam sudut dan aspek
yang ada di dalam kehidupan masyarakat di Tanah Merah tersebut, maka fokus
dan permasalahan yang diangkat dari kasus pemukiman ilegal khususnya yang
dikaitkan dengan pemukiman Tanah Merah adalah:
Bagaimanakah gerakan masyarakat Tanah Merah untuk mendapatkan
pengakuan hukum dari pemerintah DKI Jakarta atas permukiman mereka
dalam kurun waktu 1990 sampai dengan tahun 2012?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang diajukan, maka penelitian ini bertujuan
untuk memberikan gambaran tentang bagaimana proses gerakan sosial yang
terjadi di kampung tanah merah jakarta utara sebelum berlangsungnya pembagian
KTP dan pengesahan RT dan RW di kampung tanah merah Jakarta Utara. Selain
itu penelitian ini juga berusaha melihat bagaimana pergerakan yang selama ini
dilakukan warga tanah merah dapat terus berlanjut dan konsisten sehingga bisa
mencapai tujuan yang ingin dicapainya.
1.4 Signifikansi Penelitian:
Penelitian yang dilakukan oleh penulis memposisikan penulis selain
sebagai outsider yang berupaya untuk mendalami mengenai kondisi sosial yang
ada di tempat penelitian penulis dan dalam proses interaksinya, peneliti berusaha
agar tetap memposisikan netral sebagai pendengar dan pengamat yang cermat dan
berusaha membangun rapor yang baik kepada informan dalam penelitian ini.
Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pengetahuan tentang gerakan sosial dari sudut pandang sosiologi perkotaan,
sehingga diharapkan dapat membantu bagi para peneliti lain yang ingin
mempelajari lebih jauh mengenai gerakan sosial dari golongan masyarakat kelas
bawah dengan karakteristiknya masing-masing yang unik dan khas. Selain itu
diharapkan dengan adanya tulisan ini pemaknaan dari ruang bagi masyarakat
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
9
miskin di permukiman liar di perkotaan dapat ditelaah lebih lanjut secara
sosiologis.
Secara praktis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan
bagi masyarakat maupun organisasi gerakan yang selama ini berjuang membela
kepentingan warga tanah merah dalam proses melakukan gerakan sosial supaya
tetap terus berlangsung dan tidak stagnan di tempat. Selain itu bagi pemerintahan
DKI Jakarta untuk lebih mendalami permasalahan kependudukan di Jakarta,
terutama di tanah merah yang memiliki nilai historis yang sangat luas, sehingga
dalam mengambil sebuah kebijakan atau keputusan dapat mempertimbangkan
aspek-aspek yang ada di dalam masyarakat tanah merah. Lebih lanjut, penelitian
ini juga di harapkan dapat menjadi bahan refleksi dan referensi untuk melakukan
penelitian-penelitian sejenis dan membuka kemungkinan lanjutan penulisan
proses setelah tercapainya tujuan gerakan sosial di tanah merah ini.
1.5 Batasan Penelitian
Penulis membatasi fokus pembahasannya dari sisi masyarakat, dimana
wujud konkrit gerakan sosial yang terjadi di perkampungan tanah merah dari sisi
warga masyarakat dan organisasi yang ada di wilayah tersebut, karena yang akan
menjadi fokus dan inti dari permasalahan yang terjadi di daerah tersebut hampir
secara keseluruhan merupakan gerakan aktif dari masyarakatnya.
1.6 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut:
BAB 1 Pendahuluan
Pada bab pendahuluan dalam karya tulis ini terdapat penjelasan mengenai
latar belakang masalah yang diangkat dalam penelitian, selain itu pada
bagian ini juga menjelaskan tentang permasalahan penelitian yang menjadi
dasar dari pertanyaan penelitian yang ada. Terdapat pula penjelasan lain
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
10
yang mencakup tujuan penelitian, signifikasni penelitian, serta batasan
dalam peneliitian
BAB 2 Kerangka Pemikiran
Dalam bab ini akan diisi dengan tinjauan pustaka dan kerangka konsep
yang digunakan sebagai alat analisis dalam penelitian ini. Pada bagian
tinjauan pustaka terdiri dari beberapa referensi penelitian sejenis yang
dirasa dapat membantu menajamkan dan memperkaya permasalahanpermasalahan sejenis pada tulisan ini. Sedangkan pada kerangka konsep
yang digunakan adalah konsep permukiman liar dan konsep gerakan
sosial.
BAB 3 Metode Penelitian
Pada bab ketiga ini akan menjelaskan mengenai metodologi penelitian
yang akan digunakan, yakni terdiri dari metode penelitian, jenisi
penelitian, unit analisis penelitian, subyek dan lokasi penelitian, teknik
analisis data, periodesasi peneltian, etika penelitian dan keterbatasan
penelitian
BAB 4 Gambaran Gerakan Sosial Warga Tanah Merah Sebelum
diberikannya KTP dan pengesahan RT & RW
Pada bab ke empat ini akan dijelaskan tentang gambaran pelaksanaan
Gerakan Sosial yang dilakukan oleh warga Kampung Tanah Merah Jakarta
Utara dalam memperjuangkan hak mereka sebagai warga negara yang sah,
dan perjuangan mereka dalam memperoleh pengakuan secara administratif
oleh pihak pemerintah DKI Jakarta, yakni dalam wujud konkrit pemberian
KTP dan pengesahan RT & RW yang ada di pemukiman tersebut.
BAB 5 Analisis Gerakan Sosial yang terjadi di permukiman Tanah
Merah, yang dilakukan oleh warga sekitar dan diorganisir oleh
organisasi setempat
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
11
Pada bagian bab ini akan dijelaskan mengenai analisis penulis terhadap
gerakan sosial yang terjadi di permukiman tanah merah Jakarta Utara.
Proses analisis ini dilakukan dengan merujuk konsep-konsep yang ada
tentang Permukiman Liar dan Gerakan Sosial. Analisis pada bab ini juga
terdiri dari dua bagian, yakni gerakan sosial sebelum pemberian KTP &
pengesahan RT & RW dan gerakan sosial sesudah pemberian KTP &
pengesahan RT & RW. Lebih lanjut dalam bagian ini juga di jelaskan
bagaimana dampak dari gerakan sosial ini bagi masyarakat tanah merah
pada khususnya dan bagi masyarakat luas secara umumnya.
BAB 6 Penutup
Dalam bagian terakhir bab penulisan ini akan dimuat mengenai
kesimpulan dan saran yang diajukan penulis terhadap gerakan sosial yang
terjadi di permukiman Tanah Merah. Pada bagian saran menjelaskan
tentang masukan-masukan perihal gerakan sosial di permukiman tanah
merah baik terhadap warga tanah merah itu sendiri, organisasi yang
mengorganisir gerakan sosial tersebut, dan untuk pemerintah.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
12
BAB 2
KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Penelitian Tentang Pemukiman Liar
A. Studi Eksploratif Tentang Perkampungan Liar di Jakarta (1981)
Penelitian yang meneliti tentang perkampungan liar ini merupakan skripsi
sosiologi Universitas Indonesia yang ditulis oleh Saraswati Sunindyo. Penelitian
ini bertujuan untuk menggali dan memahami persoalan perkampungan liar dan
kehidupan masyarakatnya. Diadakan di kampung sawah yang terletak di
kelurahan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Sebuah perkampungan yang dianggap
liar oleh pemerintah setempat, dan telah diancam penggusuran, karena daerah
tersebut akan segera di bangun sesuai dengan perencanaan kota.
Dalam Penelitian ini dipergunakan metode survei dengan menggunakan
daftar pertanyaan. Dengan mewawancarai seluruh kepala keluarga (566) yang ada
di kampung sawah. Wawancara dalam survei ini dibantu oleh empat orang
penduduk setempat yang telah dilatih terlebih dahulu. Penelitian ini dilengkapi
dengan pengamatan menggunakan teknik partisipasi terbatas. Juga diadakan
wawancara mendalam terhadap sembilan orang kepala keluarga guma menyusun
riwayat kehidupan mereka.
Dari hasil penelitian, diperoleh gambaran bahwa Kampung Sawah didirikan
oleh para penggarap pada tahun 1955. Semula daerah ini merupakan rawa-rawa,
diolah menjadi areal persawahan dan kemudian berkembang menjadi daerah
permukiman yang padat. Penduduk kampung sawah tekah merupakan satu
kesatuan masyarakat yang berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan kota.
Dalam kehidupan bersama tersebut terdapat kemampuan untuk menyerap
penderitaan sesamanya. Status sebagai penduduk liar, mengakibatkan tidak
adanya akses pelayanan sosial dan administrasi. Seringkali status tersebut
menyebabkan semakin bertambahnya kesulitan hidup yang harus dihadapi.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
13
Daerah liar seperti Kampung Sawah harus menghadapi resiko penggusuran
setiap saat. Namun menggusur dan mengusir penduduk dari pemukiman liar
semacam itu tidak menyelesaikan persoalan secara tuntas. Tanpa memberi
pemecahan masalah perumahan bagi mereka, maka mereka akan hanya berpindah
ke daerah-daerah serupa atau mendirikan tepat pemukiman baru. Aspek-aspek
kehidupan mereka pentung untuk diteliti lebih lanjut secara dalam dan terperinci.
Daerah atau perkampungan yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah
sebuah perkampungan yang biasa disebut perkampungan liar, yang dimaksud
dengan perkampungan liar ialah sebuah kampung yang didirikan oleh para
pendatang berpenghasilan rendah tanpa menempuh formalitas resmi yang
ditetapkan oleh peraturan yang berlaku. Kampung yang dipilih sebagai sasaran
penelitian ini adalah Kampung Sawah, yang terletak di Kelurahan Tanjung Duren,
Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Pada tahun 1980 Kampung
tersebut telah diancam penggusuran, suatu hal yang sering terjadi di Jakarta.
Munculnya daerah-daerah permukiman liar adalah suatu hal yang tidak
dapat dielakan, pemukiman liar itu menempati tanah milik pemerintah maupun
swasta. Usaha untuk menertibkan daerah-daerah tersebut, seringkali hanya
bersifat pengusiran atau penggusuran. Penduduk daerah tersebut tetap tidak dapat
menemukan jalan keluar dari masalah perumahan yang dihadapi. Pemecahan yang
lazim hanyalah dengan berpindah dari satu daerah hunian liar ke daerah hunian
liar yang lain. Di pemukiman liar yang baru mereka bisa tinggal sampai satpol pp
mengusir mereka dari tempat pemukiman liar yang mereka baru tinggali tersebut.
Daerah hunian liar muncul sebagai akibat dari derasnya arus urbanisasi ke
Jakarta,
dimana
para
pendatang
miskin
tersebut
berusaha
memenuhi
kebutuhannya akan perumahan dengan jalan membangun rumah atau gubukgubuk di daerah-daerah yang kosong. Daerah-daerah semacam itu muncul di
tempat yang lebih memungkinkan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang
sesuai dengan kemampuan mereka.
Daerah hunian liar muncul di lokasi yang strategis, dimana para
penghuninya dapat dengan mundah mencari pekerjaan dan tidak terlalu jauh dari
tempat tinggalnya, sehingga biaya hidup dapat ditekan seminimal mungkin.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
14
Pertambahan penduduk di tempat tersebut tetap terjadi walaupun kondisi
lingkungan yang sangat buruk dan adanya perasaan tidak aman karena akan
digusur,
Pemukiman liar adalah sebuah gejala yang tidak dapat dihindari
mengingat bahwa tidak sedikit diantara para penduduk yang menempati daerahdaerah tersebut adalah pendatang yang sudah lama tinggal di Jakarta, dan selama
tidak ada solusi jangka panjang, maka mereka akan berpindah-pindah saja ke
lokasi lain.
Tujuan Penelitian dari skripsi ini: Pertama, Melihat segi sosial ekonomi
penduduk miskin di Jakarta, yang bertempat tinggal di Kampung Sawah, yang
dimana kebanyakan dari penghuninya adalah pendatang dari luar Jakarta, dimana
mereka moncoba bertahan dalam kehidupan kota Jakarta. Kedua, menggali secara
mendalam bagaimana Kampung Sawah sebuah perkampungan yang di bangun
oleh para pendatang miskin tersebut dapat beridiri, berkembang dari hari kehari
hingga membentuk suatu kesatuan masyarakat yang boleh dikatakan telah mapan.
Ketiga, memperhatikan dan mencari pemahaman akan masalah masalah yang
dihadapi oleh keluarga yang tinggal di daerah liar tersebut dan usaha yang di
jalankan dalam mengatasinya, serta bagaimana mempertahankan kehidupan
mereka di Jakarta. Keempat, memberi gambaran dan pemahan tentang penduduk
miskin di Jakarta, khususnya dalam masalah perumahan an hunian liar, sebagai
suatu titik pandangan yang lain bagi para pengambil keputusan di dalam
mengatasi persoalan-persoalan yang timbul karenanya.
Dari data yang diperoleh kesan yang paling mendalam adalah bahwa bagi
penghuni Kampung Sawah yang tinggal di pemukiman liar merupakan salah satu
cara yang harus ditempuh dalam rangka mempertahankan kehidupan mereka.
Akses terhadap pelayanan sosial dan administrasi dan pelayanan umum lainnya
sangat terbatas. Sedangkan sebagian pekerjaan yang mereka miliki bersifat
informal seperti berdagang di pinggir jalan atau menarik becak yang rawan
ditertibkan juga.
Pengalaman yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah bahwa banyak
praduga tentang ciri ciri sosial dan perilaku yang tidak selalu sesuai dengan
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
15
kenyataan. Dan kebijkan pemerintah seringkali tidak memperhatikan esensi
permalasahan yang paling inti, sehingga permasalahan tersebut seringkali terjadi
berulang-ulang.
Hasil peneltian tersebut membantu penulis melihat skripsi ini sebagai
pintu masuk awal yang menggambarkan deskripsi dan contoh bagaimana
permasalahan permukiman liar dapat terjadi dan pokok permasalahan yang
dijelaskan dari hasil penelitian tersebut, membantu penulis untuk merumuskan
permasalahan yang terjadi pada penelitian penulis di tanah merah.
B. Proses Pemukiman Liar, Dinamika Sosial Dibalik Keberadaannya
(2006)
Thesis Universitas Indonesia yang dilakukan oleh Muhamad Gauzal ini
mendeskripsikan tentang dinamika di dalam proses terjadinya permukiman liar.
Keberadaan pemukiman liar telah menjadi kontradiksi di kalangan pemerhati kota
dan bagaimana masa depannya masih merupakan tanda tanya yang besar.
Permukiman ini seringkali terletak pada lokasi-lokasi yang berada di luar
peruntukannya. Letak lokasi dan kualitas ruang yang tercipta memberikan dampak
negatif pada ekologi perkotaan, pencitraan sebuah kota, sekaligus keselamatan
penghuni permukiman itu sendiri. Namun pula pada sisi lain disadari bahwa
keberadannya telah memberikan kontribusi dalam penyediaan perumahan murah
yang hingga kini belum dapat diakomodasi oleh otoritas kota.
Kontradiksi
ini
akan
senantiasa
menimbulkan
kerancuan
yang
menyebabkan kebingungan dalam bagaimana menyikapi keberadaannya di
perkotaan. Oleh karena itu, suatu cara pandang yang melihat formasi fisik
sebagian bagian dari proses diperkenalkan untuk dapat memberikan pemahamanpemahaman baru mengenai permasalahan ini. Dalam cara pandang ini pemukiman
liar
terkonstruksi
oleh
dan
sekaligus
mereproduksi
dinamika
sosial
masyarakatnya. Suatu kerangka teoritis multidisipliner yang melibatkan konsep
reproduksi sosial, habitus, dan vita aktiva digunakan untuk mengungkap dinamika
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
16
sosial yang tersirat dari data yang ditangkap melalui observasi partisipan di
kontrakan Marpaung, Situ Rawa Besar, Depok.
Dengan analisa ditemukan bahwa praktik pemukiman liar merupakan hasil
pergumulan agen-agen dengan kuasa tertentu dimana pihak pemukim liar itu
sendiri lebih menjadi yang terdominasi oleh pihak-pihak lainnya dalam sistem
sosial mikro maupun makro. Kemudian, praktik-praktik lain (sektor informal)
yang muncul dari dualisme kota dalam konteks lokal secara langsung berkaitan
erat dengan formasi ruang yang terbentuk. Habitus pemukim liar itu sendiri
terwujud dalam praktik bertinggal masyarakat miskin yang membentuk subbudaya yang khusus yang membedakannya dengan kelompok masyarakat yang
lain.
Dari situ, kontradiksi dapat dikatakan timbul oleh derajat pencitraan yang
berbeda-beda dari tiap agen yang berkepentingan. Citra dapat dilihat sebagai suatu
hal yang memicu perubahan kepentingan agen yang kemudian berdampak pada
reproduksi sosial. Reproduksi sosial itulah yang kemudian memberi jalan pada
apropriasi ruang pemukiman liar. Pemahaman mengenai ini akan mengajak semua
pihak untuk mereflesi realitas-realitas yang tercerap, sehingga perumusan solusi
(apropriasi ruang) dapat sejalan dengan dinamika sosial masyarakat terdominasi.
Pada tulisan ini yang dijadikan objek analisis adalah pemukiman liar.
Alasan utama penggunaan istilah liar, agar tidak disalahpahami, mengacu pada
makna kata tersebut yang multidimensi. Liar berarti tidak jinak, tidak terpelihara,
tidak sopan, jalang, dan ganas. Liar mewakili citra perumahan rakyat miskin
dalam berbagai aspek, dan yang paling utama adalah keberadaannya yang
menganggu sebagian besar masyarakat perkotaan. Liar juga memiliki makna
tumbuh dengan sendirinya, tidak terkontrol oleh aturan-aturan yang diberlakukan
oleh sistem. Kesimpulannya, liar mewakili keberadaan yang tidak diinginkan
kecuali tentu saja oleh selain penghuninya itu sendiri. Permukiman liar dalam hal
ini memiliki makna suatu ruang yang dihuni oleh sekelompok masyarakat miskin
perkotaan dengan karakteristik sesuai dengan makna yang timbul dari istilah liar.
Keberadaan permukiman liar di kota-kota telah memunculkan pandangan
yang berbeda-beda dalam masyarakat. Pandangan konservatif umumnya melihat
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
17
gejala ini sebagai sebuah praktik atau tindakan yang bertentangan dengan hukum
yang berlaku sehingga harus disingkirkan. Pandangan ini diperkuat oleh adanya
penelitian yang memunculkan stereotipe para pemukim liar seperti halnya kaum
kelas menengah sebagai oportunis yang berusaha mencari keuntungan maksimal
dari kondisi seminimal mungkin. Argumentasi ini muncul dengan adanya
perumahan yang disediakan oleh pemerintah namun diperjualbelikan guna
mendapatkan keuntungan ekonomi. Pandangan-pandangan ini telah lazim
digunakan oleh pihak otoritas dalam melegitimasi penggusuran-penggusuran
perumahan semacam ini. Berbagai pandangan lain melihat sisi positif dari
keberadaan permukiman liar, yang seringkali berkarakteristik memiliki kehidupan
sosial dan kekerabatan tinggi sehingga menjadikannya sebuah wadah sistem sosial
yang menarik untuk diamati ditengah-tengah individualistis yang menjadi ciri
kehidupan kota modern. Pandangan ini mendukung paham neo liberal yang
beranggapan bahwa pemerintah mempunyai obligasi untuk menyediakan
perumahan bagi setiap kebutuhan masyarakatnya khususnya yang lemah secara
ekonomi.
Memfokuskan pada aspek internal permukiman liar, pola kegiatan
keruangan yang terlihat pada permukiman liar menunjukkan suatu budaya yang
khusus yang tercakup dalam suatu habitus yang berbeda dengan agen-agen lain di
perkotaan. Suatu habitus kolektif dapat diturunkan menyangkut persepsi mereka
tentang tempat tinggal.makna tempat bertingga bagi komunitas ini lebh
meruapakan suatu tempat yang dapat mewadahi aktivitas bertahan hidup di
perkotaan. Pemahaman mengenai habitus pemukiman liar akan mengoptimalkan
suatu perumusan kebijakan mengenai masa depan mereka di perkotaan.
Penelitian ini dirasa menambah wasawasan penulis mengenai dimanika
yang terjadi dalam permukiman liar, selain itu berbagai macan temuan yang
terdapat dalam penelitian tersebut, membantu penulis untuk lebih luas dalam
melihat aspek-aspek yang membuat permukiman liar dan bagaimana proses yang
terjadi di dalam permukiman tersebut, sehingga penulis dapat lebih dengan mudah
memahami secara garis besar kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di dalam
permukiman liar.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
18
2.1.2 Penelitian Tentang Peran Gerakan Sosial
A. Gerakan Sosial Di Kabupaten Mimika - Studi Kasus Tentang Konflik
Pembangunan Proyek Pertambangan Freeport (2002)
Penelitian Disertasi Universitas Indonesia yang dilakukan oleh Ngadisah
ini melihat tentang bagaimana sebuah gerakan sosial dapat terjadi di Mimika.
Benih-benih konflik pembangunan sesungguhnya sudah mulai tumbuh semenja
awal tahun 1990-an, dimana masyarakat mulai berani melakukan protes atu unjuk
rasa terhadap rencana pembangunan proyek. Beberapa proyek yang diprotes pada
saat itu antara lain: pembagunan pelabuhan peti kemas (Jakarta), Waduk Kedung
Ombo (Jateng), Waduk Nipah (Jatim), PLTA Danau Lindu (Sulteng). Disamping
itu, protes terhadap masalah tanah akibat pembangunan juga terus meningkat. Hal
ini merupakan indikasi bahwa ada ketidakpuasaan masyarakat terhadap proses
perencanaan pembagunan di berbagai daerah.
Proyek lain yang mendapatkan perlawanan adalah proyek pertambangan
Freeport di Kabupaten Mimika – Irian Jaya (Papua). Proyek ini ditentang sejak
awal berdirinya sampai sekarang. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk diteliti
mengapa proyek itu diprotes, mengapa protes berkepanjangan dan bagaimana
protes bisa berkembang menjadi gerakan sosial, serta apakah gerakan-gerakan
masyarakat disana bisa dikategorikan sebagai gerakan sosial.
Hasil penelitian ini menunjukan, bahwa salah satu gerakan rakyat yang
tergabung dalam lembaga adat suku Amungme (Lemasa) memenuhi syarat untuk
disebut sebagai gerakan sosial. Sumber atau akar masalah yang melatarbelakangi
lahirnya gerakan sosial adalah konflik. Mula-mula ada konflik antar suku,
kemudian dengan Freeport, pendatang pada umumnya dan perkembangan terakhir
adalah konflik masyarakat dengan pemerintah. Ini berarti terjadi eskalasi konflik
dari konflik horizontal ke konflik pembangunan dan akhirnya menjadi konflik
vertikal.
Kehadiran Freeport di Mimika, di samping sebagai sumber konflik baru,
uga menjadi pemicu terjadinya protes. Protes adalah manifestasi dari adanya
konflik, terutama dalam hubungannya dengan institusi kekuasaan. Melalui protes,
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
19
masyarakat berharap dapat menciptakan perubahan-perubahan dari keadaan yang
kurang menguntungkan ke arah yang lebih baik. Protes dilakukan dalam berbagai
bentuk, mulai dari perlawanan fisik sampai melakukan pemberontakan
(perlawanan politik).
Protes atas proyek pertambangan Freeport berlangsung lama karena:
Tuntutan masyarakat berkembang terus (dari tuntutan pengakuan hak atas tanah
sampai merdeka), Pemenuhan hanya dari sudut pendekatan ekonomi yaitu
pemberian dana, padahal tuntuannya yang paling dalam adalah pengakuan
eksistensi dan kesederajatan, Banyaknya pihak yang terlibat dalam perilaku
kolektif protes, dengan motivasi yang berbeda-beda, Konflik tidak pernah
diselesaikan secara tuntas.
Oleh karena tuntutan-tuntutan tidak dipenuhi secara memuaskan, maka
protes itu berkembang menjadi gerakan sosial. Kemudian karena pengaruh faktorfaktor
politik,
teknis,
kepemimpinan,
dan
lingkungan strategis global,
berkembanglah gerakan sosial itu menjadi gerakan politik. Jadi, gerakan politik
itu sesungguhnya adalah kelanjutan dari konflik-konflik yang tidak tertangani.
Konflik itu sendiri sumbernya adalah kebijakan pembangunan yang
mengabaikan keberadaan dan peran masyarakat lokal. Mereka sesungguhnya
berkeinginan untuk menjadi subjek pembangunan, merencanakan apa yang
terbaik bagi dirinya bersama-sama pemerintah dan dihargai adat-istiadatnya,
duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Namun perlakuan yang diberikan
Freeport maupun pemerintah sangat berbeda, oleh karena itu, gerakan sosial yang
terbentuk hakekatnya adalah sebuah bentuk perlawanan atau protes terhadap
kebijakan pemerintah, terutama dalam melaksanakan pembangunan.
Pembangunan proyek besar seperti PTFI mempunyai dampak lingkungan
fisik dan sosial yang sangat besar. Namun masyarakat sekitarnya tidak disiapkan
lebih dulu untuk menghadapi perubahan-perubahan itu. Perencanaan proyek
hanyalah mencakup aspek-aspek teknis dan finansial, tanpa memperhitungkan
biaya sosial yang akan ditanggung. Termasuk dalam biaya sosial adalah
hancurnya adat kebiasaan, penghidupan, nilai-nilai spiritual dan hak-hak
masyarakat. Pengabaian atas itu semua menyebabkan masyarakat tidak siap
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
20
menghadapi kontak dengan budaya baru, sehingga mereka merasa terpinggirkan.
Didalam ketidakberdayaan itu muncul keberanian untuk menolak. Oleh karena itu
untuk mempersiapkan masyarakat yang dalam pelaksanaan pembangunan, perlu
dikembangkan perencanaan sosial yang dilakukan lebih dahulu sebelum
perencanaan fisik, atau dipadukan dengan perencanannya, dengan catatan
pelaksanaannya lebih awal agar masyarakat siap dan mampu berpartisipasi dalam
pembangunan di daerahnya.
Masyarakat kecil atau masyarakat lokal atau masyarakat lapisan bawah
tidak bisa diabaikan keberadaannya, karena menyimpan potensi yang luar biasa.
Seberapapun julahnya, mereka harus tetap dihargai hak-hak dan martabatnya. Bila
ini diabaikan maka negara akan menuai badai karena dianggap disfungsional,
tidak mampu menjadi pengayom dan penyelenggara kesejahteraan sosial, dan
ancamannya adalah disintegrasi bangsa, negara dilawan oleh rakyatnya.
Pelaksanaan pembangunan akhirnya akan diprotes atau ditentang
masyarakat kalau tidak memberi manfaat bagi mereka. Oleh karena itu orientasi
pembangunan seharusnya bukan untuk mengejar pertubuhan ekonomi yang
akhirnya menciptakan ketidakadilan tetapi menciptakan kesejahteraan, artinya
pemenuhan lebutuhan lahir dan batin bagi sebanyak-banyaknya orang atau
pendekatan pemerataan.
Mempersiapkan sebelum sebuah proyek dibangun adalah sutu keharusan,
karena pelaksanaan pembagunan yang meninggalkan masyarakatnya akan
berakibat kontra produktif bagi pembangunan itu sendiri. Hasil-hasil pembagunan
fisik dapat dihancurkan dalam waktu singkat bila masyarakat marah karena
mereka tidak dapat terlibat dalam proses pembangunan. Keterlibatan masyarakat
sangat penting bukan hanya agar mereka dapat menikmati hasil, tetapi keterlibatan
dalam setiap proses memberikan kebanggaan, harga diri, dan rasa memiliki.
Untuk itu, maka perencanaan sosial harus ada secara nasional maupun pada setiap
perencanaan proyek.
Penelitian ini secara signifikan membantu dan menambah referensi penulis
mengenai apa yang dimaksud dengan gerakan sosial dalam sebuah masyarakat.
Dan secara esensi meski lokasi dan segmennya yang berbeda, namun esensi
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
21
perjuangan gerakan sosial yang ditemukan pada penelitian Ngadisah tersebut
kurang lebih dapat penulis temukan dan manfaatkan sebagai pedoman dalam
penulisan penelitian penulis.
B. Berjuang Melawan Diskriminasi: Studi Kasus Pada Gerakan Sosial
Orang Indonesia Keturunan Tionghoa (2002)
Thesis Universitas Indonesia yang ditulis Johanes Herlijanto ini membahas
tentang bagaimana diskriminasi yang terjadi pada kelompok masyarakat tertentu.
Meskipun orang-orang Tionghoa seringkali digambarkan sebagai entitas tunggal
yang bersifat statis, namun pengamatan-pengamatan yang dilakukan terhadap
tingkah laku mereka justru menghasilkan kesimpulan yang sebaliknya.
Serangkaian penelitian terhadap orang-orang Tionghoa yang menyebar di
berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memperlihatkan bahwa
mereka ternyata bukan hanya beragam, namun juga memiliki potensi untuk
beradaptasi,
berubah, dan mengusahakan suatu perubahan. Berdasarkan
pengalaman semacam itu pulalah, maka ketika akhir-akhir ini orang-orang
Tionghoa di Indonesia (atau lebih tepatnya, orang-orang Indonesia keturunan
Tionghoa) membangun suatu gerakan sosial untuk melawan berbagai diskriminasi
yang mereka alami, usaha untuk menguak kembali keberagaman identitas,
pandangan, dan pola dalam gerakan inilah yang dilakukan di dalam penelitian ini.
Pemahaman terhadap suatu gerakan sosial seyogyanya dimulai dari sebuah
upaya penelusuran kembali hal-hal yang menjadi dasar dari berbagai keresahan
dan ketidakpuasan yang memunculkannya. Dan mengingat gerkana orang
Tionghoa ini mengusung tema diskriminasi, maka patutlah ‘dicurigai’ bahwa
diskriminasi inilah yang menjadi basis dari merebaknya ketidakpuasan mereka.
Kecurigaan ini semakin menguat ketika penelusuran sejarah melalu berbagai
literatur yang ada memperlihatkan bahwa orang-orang Tionghoa pun menjadi
korban dari sistem yang diskriminatif yang dibangun oleh pemerintahan kolonial
belanda dan yang dikembangkan secara lebih sistematik semasa tiga dasawarsa
pemerintahan orde baru. Dalam kurun waktu itulah hak-hal sosial, politik, dan
budaya orang Tionghoa digolongkan sebagai sebuah cultural genocide.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
22
Diskriminasi dalam bidang sosial, politik, dan budaya inilah yang agaknya
mendasari munculnya gerakan sosial ini, sebuah gerakan yang bukan berbasis
kepentingan kelas ataupun ekonomi.
Namun keresahan dan ketidakpuasan ini barulah berkembang menjadi
perlawanan setelah situasi yang kondusif tercipta. Situasi ini adalah berakhirnya
perang dingin menyusul bubarnya negara Uni Soviet, perkembangan situasi pasca
peristiwa Mei, serta berakhirnya pemerintahan orde baru. Selain itu adanya
jaringan yang telah lama berkembang, yaitu gerakan pro demokrasi dan jaringan
tradisional Tionghoa yang berlandaskan guanxi pun turut mendukung penyebaran
gerakan ini.
Yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa gerakan yang dihasilkan
oleh ketidakpuasan di atas ternyata tidak seragam. Ada orang-orang Tionghoa
yang memahami masalah diskriminasi ini sebagai masalah entnik Tionghoa dan
mengharapkan penyelesaian melalu penghidupan kembali identitas dan budaya
Tionghoa. Kelompok ini tampaknya dapat dikategorikan sebagai kelompok yang
berorientasi lebih banyak ke dalam dan sangat rentan terhadap pengaruh
etnosentrisme.
Namun adapula sekelompok orang Tionghoa yang menganggap masalah
diskriminasi ini semata-mata sebagai salah satu kasus dari intervensi negara yang
berlebihan, dan oleh sebab itu penyelesainnya harus dilakukan dalam kerangka
yang lebih luas: hengkangnya negara dari wilayah-wilayah sipil dan pembentukan
civil society yang kuat, yang merupakan akar dari suatu masyarakat yang
demokratis. Kelompok ini tampaknya lebih dikategorikan sebagai kelompok yang
berorientasi keluar. Perbedaan pandangan diantara kelompok-kelompok ini pada
giliriannya menghasilkan berbagai variasi pula pada pola-pola gerakan yang
mereka
kembangkan,
yang
menyebakan gerakan
ini
dipenuhi
dengan
keberagaman. Dengan demikian fenomena gerakan sosial ini sekali lagi
memperkuat pemahaman yang ditampilkan pada awal tulisan ini, yaitu bahwa
masyarakat Tionghoa adalah masyarakat yang beragam.
Terdapat karakter yang kurang lebih sama dalam beragam definisi
mengenai Gerakan Sosial, yakni pada aspek keterorganisiran, aspek kebersamaan,
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
23
aspek usaha menentang sistem yang ada, aspek kesinambungan, dan aspek
kepemimpinan informal. Rajendra Singh memberi penekanan pada situasi sosial
yang tidak setara, dimana terdapat dominasi dari suatu pihak pada pihak lainnya.
Apabila situasi semacam ini dipertahankan secara paksa oleh institusi-institusi dan
agen-agen sosial, mka akan terciptalah situasi yang kontra yang biasanya bersifat
menolak, melawan, dan memberontak terhadap sistem dominasi tersebut. Singh
mendefinisikan gerakan sosial sebagai suatu fenomena yang mengekspresikan
usaha-usaha kolektif dari orang-orang untuk menuntut persamaan dan keadilan
sosial, dan yang merefleksikan perjuangan orang-orang tersebut dalam
mempertahankan identitas budaya dan simbolik, serta warisan budaya leluhur
mereka. Mobilisasi yang dilakukan gerakan sosial diarahkan untuk memperbaiki
situasi-situasi yang mereka keluhkan dan berjuang bagi tujuan dan target-target
tertentu.
Upaya penahaman terhadap gerakan sosial ini dumulai dengan menelusuri
kembali apa yang menjadi dasar bagi berbagai keresahan, ketidakpuasan, dan
persepi mengenai ketidak adilan di kalangan orang-orang Tionghoa yang menjadi
aktor-aktor dari gerakan ini. Ini dilakukan mengingat ketidakpuasan, yang
seringkali dianggap sebagai salah satu penyebab bagi munculnya gerakan sosial
tampaknya masih tetap memiliki peran yang signifikan pada masa-masa kini,
meskipun sumber dari ketidakpuasan itu telah mengalami perubahan. Usaha
pencarian ini menghasilkan temuan yang mendukung kecurigaan yang ada bahwa
salah satu sumber dari ketidakpuasan yang berkembang adalah diskriminasi yang
selama ini dialami, kesimpulan ini diambil setelah mencermati berbagai data
mengenai diskriminasi-diskriminasi yang mereka alami selama ini, khususnya
pada periode pemerintahan orde baru, dan juga berdasarkan pengamatan terhadap
pemahaman-pemahaman di kalangan aktor mengenai masalah ini.
Pengamatan terhadap pemahaman ini memperlihatkan bahwa orang-orang
Tionghoa, khususnya para aktor gerakan ini, bukan hanya ‘menerima’ perlakuan
yang diskriminasi ini, tetapi juga ‘menyadari’ adanya perlakuan ini dan
menganggap bahwa praktik-praktik semacam ini perlu untuk ditentang. Kesadaran
ini sekali lagi memperkuat dugaan bahwa ada hubungan yang erat antara praktikpraktik diskriminasi dengan munculnya gerakan sosial orang Tionghoa ini.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
24
Penelitian ini membantu penulis untuk secara lebih kaya mendeskripsikan
bagaimana sebuah gerakan sosial dapat terbentuk dan bermula dari diskriminasi
yang terjadi, sehingga membuat kelompok yang didiskriminasikan tersebut
merasa tidak dianggap dan kecewa sehingga memulai munculnya gerakan sosial.
Dalam konteks peneltian penulis, diskriminasi dan pengacuhan yang terjadi pada
masyarakat Kampung Tanah Merah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah
Jakarta secara tidak langsung merupakan bentuk diskriminasi dan penghilangan
hak-hak warga negara sebagai warga negara Indonesia yang sah.
2.2 Kerangka Konsep
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai konsep-konsep yang digunakan
sebagai alat analisis dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis. Penulis
menggunakan beberapa konsep terkait dengan permukiman liar dan gerakan
sosial. Pemilihan konsep yang ada mengacu pada tujuan serta permasalahan
penelitian yang dilakukan di bagian awal tulisan ini, selain itu pemilihan konsep
juga didasarkan pada pertimbangan untuk menyesuaikan terhadap data-data yang
didasarkan pada temuan di lapangan selama penulisan ini berlangsung
2.2.1 Permukiman Kota
Secara teoritis dan ideal, rancangan dalam pembangunan perkotaan di
negara-negara maju seperti di Eropa dan di Amerika sudah memiliki rencana tata
ruang kota yang sudah mapan dan tersusun dengan segala fungsi nya yang
kompleks, sehingga setiap bagian dari tata ruang kota di negara tersebut memiliki
aspek rasionalitas. Misalnya: kawasan sektor industri memiliki kompleks nya
sendiri, kawasan tempat tinggal sudah memiliki ruang dan lokasinya masingmasing, sehingga tidak memungkinkan adanya sebuah lokasi di kota tersebut yang
di bangun tidak sesuai dengan tata ruang awalnya.
Dalam konsep permukiman kota, lokalisasi menjadi landasan utama dalam
memberikan akses bagi masyarakat miskin yang tidak memiliki modal untuk
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
25
memiliki lahan di daerah perkotaan. Selain sumber daya modal yang dimiliki oleh
masyarakat kelas atas, terdapat pula kohesi sosial kelompok diantara masyarakat
miskin di area perkotaan yang muncul sebagai kekuatan sosial baru dalam
menempati ruang perkotaan. Kohesi sosial pada kelompok masyarakat miskin ini
terbentuk karena adanya persamaan kondisi mereka yang tidak memiliki tempat
tinggal yang legal, dan persamaan tujuan untuk memiliki tempat tinggal di
perkotaan yang meski tidak legal namun mereka dapat hidup dan dapat aktif
menjadi pekerja meski sebagian besar berada dalam sektor informal. Kota tidak
otomatis sebagai pusat modernisasi dan belum tentu pula menghimpun semua
struktur modernitas. Castells menyebut tentang “Kota Ganda” yang didiami
bersama oleh orang miskin dan kaya, masyarakat maju dan masyarakat dunia
ketiga. (Hans-Dieter:2002,13).
Dalam menciptakan lokalitas dan kohesi sosial yang nanti nya akan
berujung kepada gerakan sosial, maka di butuhkan sebuah kreatifitas sosial.
Kreatifitas sosial adalah kondisi di dalam masyarakat yang mengkoordinasi
sumber daya yang mereka miliki berdasarkan interaksi dan pengetahuan yang
merupakan wujud dari refleksi dan konseptualisasi dari kondisi mereka di
perkotaan, sehingga masyarakat tersebut dapat bereaksi dan beradaptasi dengan
perubahan yang terjadi di perkotaan. Namun yang paling penting dengan adanya
reaksi dan adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat ini dapat menciptakan suatu
baru yang menjadi kekuatan baru di area perkotaan. Kreatifitas sosial di area
perkotaan menciptakan lokalitas, di mana kebiasaan selama ini dalam sektor
industri untuk mendapatkan keuntungan harus melauli proses produksi barang
dapat dicapai tidak melulu dengan produksi dan modal, namun dengan kreatifitas
dalam lokalitas, maka produksi ruang dan ilmu pengetahuan atau informasi yang
menghasilkan kelas sosial dan gerakan sosial, yang menjadi kekuatan utama bagi
masyarakat miskin di area perkotaan (Hans-Dieter:2002, 25).
Namun tidak demikian yang terjadi di negara-negara berkembang di
negara dunia ketiga. Pembangunan dan pemanfaatan ruang tata kota di negaranegara tersebut tidak sepenuhnya mengikuti pandangan teoritis diatas, setiap lahan
di ruang kota yang kosong bisa di bangun menjadi apa saja tanpa harus mengikuti
tata ruang kota yang sudah dirancangkan sebelumnya, hal ini dikarenakan adanya
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
26
kekuatan dan kepentingan kelompok-kelompok tertentu (bisa dari pemerintah,
masyarakat, maupun pemegang modal – pengusaha) yang mempengaruhi dan
mengintervensi pengelolaan di lokasi lahan tersebut.
2.2.2 Permukiman Liar / Illegal Settlement
Menurut Basundoro (2004) permukiman liar adalah suatu tempat atau
wilayah tertentu yang dijadikan tempat hunian oleh sekelompok orang secara
ilegal.
Permukiman liar adalah suatu wilayah hunian yang telah berkembang
tanpa meminta ijin kepada otoritas yang terkait untuk membangun; merupakan
permukiman yang tidak sah atau semi-legal status, infrastruktur dan jasa pada
umumnya tidak cukup (Suyogo, 2009). Permukiman liar berbeda dengan
permukiman kumuh. Permukiman kumuh belum tentu permukiman liar karena
ada di beberapa daerah dimana permukiman kumuh yang ada di wilayah tersebut
berdiri secara legal. Menurut Suyogo (2009), terdapat tiga karakteristik yang bisa
membantu kita memahami permukiman liar:
1. Physical ( Phisik )
Kurangnya pemaksimaksimalan fasilitas dan infrastruktur. Seperti halnya rumah
yang didirikan semipermanen atau hanya sekedar gubuk, kurang layak atau tidak
memiliki fasilitas kamar kecil, tidak memiliki RT dan RW yang jelas.
2. Social ( Sosial )
Kebanyakan penghuni liar mempunyai pendapatan tergolong lebih rendah,
diantaranya bekerja sebagai tenaga kerja upah atau dalam perusahaan sektor
informal. Kebanyakan mendapat gaji atau upah minimum atau dapat juga
pendapatan tinggi karena bekerja sambilan. Penghuni liar sebagian besar orang
pindah. Tetapi banyak juga penghuni liar dari generasi ke generasi secara turun temurun.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
27
3. Legal ( undang – undang)
Penghuni liar adalah ketiadaan kepemilikan lahan padahal diatasnya mereka sudah
membangun rumah. Ini bisa jadi merupakan tanah pemerintah lowong atau
daratan publik, parcels tanah pinggiran seperti pinggiran rel kereta api atau tanah
kesultanan (sultan ground).
Permukiman liar di perkotaan menjadi masalah tersendiri bagi kota atau
wilayah yang bersangkutan. Keberadaan permukiman liar dianggap mengganggu
pemandangan kota yang berisi gedung-gedung megah. Keberadaan permukiman
liar juga memberikan masalah tersendiri terhadap proses registrasi penduduk di
wilayah tempat permukiman liar tersebut berada. Keberadaan mereka secara ilegal
diwilayah tempat tinggal mereka menyulitkan mereka untuk memperoleh KTP
yang nantinya akan berpengaruh terhadap proses regristrasi penduduk diwilayah
setempat. Registrasi penduduk adalah proses yang pelaporan dan pencatatan
kelahiran, kematian, dan migrasi (Rusli, 2005).
Bentuk lain dari permukiman perkotaan adalah pemukiman liar, yang
terwujud dari hasil pendudukan dan penggunaan secara tidak sah atas bidangbidang tanah milik negara, milik perorangan atau perusahaan negara atau swasta.
Pendudukan secara tidak sah umumnya dilakukan di daerah-daerah perkotaan
adalah pendudukan di bidang-bidang tanah sepanjang rel kereta api, sepanjang
bantaran sungai, di kolong jembatan, atau di sepanjang jalan raya, atau di tanahtanah kosong milik pemerintah yang terdapat di sekitar persimpangan jalan raya.
Pemukiman liar di Jakarta juga menduduki daerah berawa-rawa di bagian Jakarta
Utara, menimbunnya dan menjadikannya sebagai pemukiman. Pada umumnya
pemukiman liar mempunyai tingkatan kepadatan dan kesemrawutan yang tinggi
walapun ada juga yang tertata rapi dan baik.Ciri-ciri transien dan anomi (warga
tidak merasa sebagai penghuni tetap tetapi transien, sehingga masing-masing
merasa masa bodoh dengan lingkungan tetangga dan warga lainnya) dari warga
pemukiman liar sebenernya sama dengan yang terjadi di pemukiman kumuh,
hanya bedanya kehidupan di pemukiman kumuh masih secara langsung atau tidak
langsung berada di bawah pengendalian pejabat kelurahan, sedangkan di
pemukiman liar pengendalian sosial dan keamanan dari lokasi pemukiman dari
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
28
pemukiman dapat dikatakan tidak ada sama sekali. Kehidupan di pemukiman liar
dan kumuh memperlihatkan adanya keteraturan sosial di pemukiman tersebut
karena adanya tokoh-tokoh jagoan sesepuh di sana (Parsudi Suparlan:1996, 3-50).
2.2.3 Gerakan Sosial / Social Movement
Gerakan Sosial adalah suatu kolektivitas yang bertindak dengan sebentuk
keajegan untuk mendorong atau mencegah terjadinya perubahan dalam
masyarakat atau kelompok di mana mereka menjadi bagian daripadanya. Gerakan
Sosial merupakan suatu tindakan yang telah membentuk pola tingkah laku,
identitas, kepentingan yang khas sebelum
mengorganisasikan diri dan
memobilisasi sumber daya untuk mencapai tujuannya. Para pelaku gerakan sosial
merupakan individu-individu atau kelompok rasional dan penuh integritas yang
tengah mengembangkan strategi untuk memenuhi kepentingan-kepentingan
mereka. Hubungan antara perasaan “ketidakadilan” dan “keterabaian” bersifat
tidak langsung, dan hanya dapat menjadi gerakan sosial apabila terdapat sumber
daya yang memadai untuk mobilisasi dan ada peluang untuk aksi kolektif
(Darmawan Triwibowo:2006, 157).
Gerakan sosial adalah sebuah aktifitas yang terorganisir yang mendorong
atau mencegah terjadinya sebuah perubahan sosial. Di mana di dalam nya terdapat
teori Deprivasi yang mengatakan bahwa tujuan dari gerakan sosial yang ingin di
capai muncul karena banyak orang yang tidak merasa puas dengan kondisinya,
misalkan orang yang memiliki pendapatan yang terbatas dan kurang dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari, kondisi pekerjaan yang tidak memuaskan, hak
politik, dan sifat alamiah dari manusia dalam melakukan sebiah gerakan sosial
demi mencapai keadilan sosial (John Macionis:2008, 615)
Gerakan diklasifikasikan sebagai suatu bentuk perilaku kolektif tertentu
yang diberi nama gerakan social (social movement) dimana ditekankan pada segi
kolektif, segi kesengajaan, organisasi dan kesimanbunan. Jary dan Jary
mendefiniskan gerakan sosial sebagai suatu aliansi sosial sejumlah besar orang
yang berserikat untuk mendorong ataupun menghambat suatu segi perubahan
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
29
sosial dalam suatu masyarakat. Gerakan sosial ditandai dengan adanya tujuan
jangka panjang, yaitu untuk mengubah ataupun mempertahankan masyarakat atau
institusi yang ada di dalamnya. Giddens dan Light, Keller dan Calhoun
menyebutkan ciri gerakan sosial yaitu penggunaan cara yang berada di luar
institusi
yang
ada.
Kornblum
mengatakan
gerakan
yang
berupaya
mempertahankan nilai dan institusi masyarakat disebut gerakan konservatif.
Orang melibatkan diri dalam gerakan sosial karena menderita deprivasi
(kehilangan, kekurangan, penderitaan), misalnya di bidang ekonomi (seperti
hilangnya peluang untuk dapat memenuhi kebutuhan pokoknya: sandang, pangan,
papan). Perubahan Sosial memerlukan pengerahan sumber daya manusia maupun
alam, tanpa adanya pengerahan sumber daya suatu gerakan sosial tidak akan
terjadi, meskipun tingkat deprivasi tinggi. Keberhasilan suatu gerakan sosial
bergantung pada faktor manusia seperti kepemimpinan, organisasi, dan
keterlibatan, serta faktor sumber daya lain seperti dana dan sarana. Gerakan sosial
merupakan perilaku kolektif yang ditandai kepentingan bersama dan tujuan
jangka panjang, yaitu mengubah ataupun mempertahankan masyarakat atau
institusi yang ada didalamnya. Ciri gerakan sosial ialah penggunaan cara yang
berada di luar institusi yang ada (Kamanto Sunarto:2004, 195-199).
Perasaan komunitas adalah perasaan di antara anggota masyarakat bahwa
mereka saling memerlukan dan bahwa tanah yang mereka tinggali memberikan
kehidupan kepada semuanya. Unsur-unsur perasaan Komunitas yakni: Pertama,
Seperasaan, yakni dimana seseorang berusaha mengidentifikasikan dirinya dengan
sebanyak mungkin orang dalam kelompok tersebut. Kedua, Sepenanggungan,
dimana setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan
masyarakat membut peran dia dalam kelompok dapat berjalan. Faktor ketiga
adalah saling memerlukan, dimana individu memili rasa ketergantungan pada
komunitasnya
yang meliputi kebutuhan fisik dan psikologis (Soerjono
Soekanto:1990, 164).
Secara sosiologis di tingkat kemasyarakatan pembagunan kota besar di
Indonesia sangat dikuasai oleh pemilik modal, menghasilkan masyarakat yang
secara sosial tidak sehat (social unhealthy society). Karakteristik masyarakat ini
sebagian besar menetap di pinggiran kota, kelompok strata menengah ke bawah
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
30
dan sangat bergantung pada pekerjaan di pusat kota. Pembagunan mengakibatkan
harga lahan tidak dapat dijangkau oleh kelompok masyarakat ini, sehingga konflik
lahan di daerah perkotaan cenderung meningkat (Budhy Thahjati Sugijanto
Soegijoko:2005, 200)
Peran akar rumput politik dan gerakan sosial perkotaan dalam proses
perubahan perkotaan telah menjadi isu sentral dalam teori perkotaan. Castell
memulai pemikirannya dengan definisi urbanisasi sebagai 'produksi sosial bentuk
spasial'. Dalam hal ini, proses sosial tidak hanya menjadi terkonsentrasi dalam
ruang yang terbatas, tetapi juga tertanam dalam bentuk seperti budaya dan
ideologi. Gerakan sosial perkotaan merupakan sebuah gerakan sosial dan politik
berbasis lokal yang timbul dalam menanggapi meningkatnya isu politisasi seputar
penyediaan pelayanan sosial perkotaan, termasuk perumahan, transportasi, dan
pendidikan. Gerakan ini dianggap mampu menghasilkan perubahan signifikan
perkotaan jika mereka dalam praktiknya melakukan tiga jenis tuntutan: konsumsi
kolektif, aspirasi budaya, dan kontrol politik pemerintah. Mereka juga bisa
berhasil mencapai tujuan mereka jika mereka meminta dukungan dari struktur
kelembagaan seperti media massa, profesional, dan partai politik. Dengan
demikian, Castells menyimpulkan bahwa kesadaran dan aksi sosial dapat
memainkan peran kunci dalam mengubah kondisi dasar kehidupan perkotaan
sehari-hari. Selain keberadaan 'kelompok strategis’ (pengembang swasta,
kelompok politik, dll), lawan dari kelompok strategis tersebut seperti LSM sering
muncul dan memainkan peran kunci dalam proses protes sosial perkotaan
(Gumilar Soemantri:2007, 28-31)
Mobilisasi Sumber Daya merupakan faktor penting yang memungkinkan
gerakan sosial untuk bertahan terhadap tuntutan mereka adalah mobilisasi sumber
daya.
Secara sosiologis dari pengertian ini adalah
pengumpulan dan
pengorganisasian sumber daya seperti waktu, uang, informasi, orang keterampilan
dan kemampuan untuk mendapatkan perhatian dari media massa, dimana pada
saat ini sumber daya utama ter-ekspose nya gerakan sosial adalah melalui
teknologi komunikasi melalui media massa (James M Henslin:2008, 646).
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
31
Castells mengaku bahwa informasi memainkan sebuah peran penting
dalam pengorganisasian aktivitas ekonomi di masyarakat kontemporer. Castell
berargumen bahwa penerapan dari teknologi informasi ini membawa peningkatan
pada produktivitas dan efisiensi (John Scott:2012, 349-351).
Castells menekankan bahwa bentuk spasial masyarakat berhubungan erat
dengan seluruh mekanisme dari perkembangan dan kemajuan.Castells melihat
kota tidak hanya sebagai lokasi yang berbeda (sebagai daerah destinasi
urbanisasi), tetapi juga sebagai bagian integral dari proses konsumsi kolektif, yang
berubah merupakan aspek inheren dari industri kapitalisme. Castellls menekankan
pentingnya perjuangan kelompok kurang mampu untuk mengubah kondisi hidup
mereka. Masalah perkotaan merangsang berbagai gerakan sosial, berkaitan
dengan
memeperjuangkan
kondisi
perumahan
yang
layak
(Anthony
Giddens:2009, 216).
Menurut pemikiran Castells, Pembuatan Aliansi (yang kemudian
mendapatkan sekutu untuk mendukung perjuangan dan pergerakannya) dan
masuk serta menekan ke dalam sistem politik (yang kemudian juga mendapatkan
posisi kemenangan karena adanya bantuan dan dukungan dari dalam jaringan
kekuasaan partai yang berkuasa) akan menjadi syarat utama dari tekanan grass
root untuk menjadi kekuatan grass root dalam menentukan arah kebijakan
perkotaan yang ditetapkan oleh pemerintah kota (Manuel Castells:1977, 423).
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
32
BAB 3
METODE PENELITIAN
Dalam bagian ini akan dijelaskan mengenai metodologi penelitian yang
akan digunakan. Metodologi berguna sebagai alat yang mempermudah analisa
dari topik peneleitian yang akan dibahas kemudian. Dalam bagian metode
penelitian akan dijelaskan tentang pendekatan yang akan dipakai, jenis penelitian,
unit analisis penelitian, subyek dan lokasi penelitian, metode pengumpulan data,
penentuan informan, teknik analisis data, etika penelitian, dan keterbatasan
penelitian.
3.1 Pendekatan Penelitan
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif berupaya untuk menginterpretasikan data dengan cara
memberi arti dan analisis terhadap hasil data yang telah diperoleh selama
penelitian berlangsung (Neuman, 2003, p.148). Penggunaan studi kasus dalam
penelitian kualitatif berupaya untuk memahami fenomena yang terjadi dalam
objek penelitian yang diangkat.
Dalam penelitian ini, penulis berusaha untuk memberikan gambaran
tentang gerakan sosial yang terjadi di dalam masyarakat perkotaan, dengan
strategi studi kasus, penulis memilih untuk mengangkat kasus tanah merah, karena
dirasa gerakan sosial di tempat tersebut memiliki banyak unsur yang memenuhi
aspek-aspek
terjadinya
gerakan
sosial.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
menggambarkan bagaimana sebuah gerakan sosial dapat terjadi dari awal hingga
proses nya dari waktu ke waktu. Untuk memahami tentang pengalaman
masyarakat tersebut, penulis lebih memilih untuk menggunakan pendekatan
penelitian berbasis kualitatif, karena dirasa dapat lebih menjelaskan pengalaman
dan kejadian-kejadian yang terjadi selama gerakan sosial itu berlangsung baik saat
sebelum pemberian KTP dan pengesahan RT & RW maupun sesudahnya.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
33
3.2 Jenis Penelitian
Berdasarkan waktu, penelitian ini tergolong dalam penelitian case study.
Penelitian ini berusaha untuk memberikan gambaran mengenai proses gerakan
sosial yang terjadi di permukiman kampung tanah merah dari awal mula nya
gerakan tersebut terjadi hingga saat ini yang masih terus berjalan gerakan sosial
nya. Penelitian ini lebih memfokuskan pada bagaimana sebuah gerakan sosial di
tempat tersebut dapat berlangsung, dimana penulis menitikberatkan pada analisis
model pelaksanaan gerakan sosial yang dipimpin oleh para pengurus RT dan RW
bayangan selama belum di sahkan dan proses pengisian dan pengaturan
koordinasi sesudah di sahkannya RT dan RW tersebut. Penulis melihat gerakan
sosial yang terjadi di kampung tanah merah sudah terjadi semenjak era tahun
1990-an, dimana saat penulis sedang mengadakan observasi terhadap subjek
penelitian, gerakan sosial ini masih tengah berjalan, oleh karena itu di sini penulis
bermaksud untuk mengupas lebih jauh bagaimana gerakan sosial tersebut awal
mula terjadi, dan proses-proses serta hambatan yang terjadi selama proses gerakan
sosial tersebut hingga saat ini.
Berdasarkan tujuan penelitian, penelitian ini tergolong penelitian
deskriptif, karena penelitian ini berusaha untuk memberikan gambaran tentang
proses gerakan sosial yang terjadi di permukiman kampung tanah merah Jakarta
Utara. Proses tersebut di deskripsikan saat awal mula proses terjadinya, saat
sebelum di sahkan RT dan RW, dan saat sesudah di sahkan nya RT dan RW.
Berdasarkan manfaat, penelitian ini merupakan penelitian terapan, di mana
penelitian ini dapat secara langsung memberikan masukan bagi pemerintah terkati
tentang permasalahan yang terjadi di tanah merah Jakarta Utara, dan bagaimana
solusi atau penyelesaian masalah yang dapat membuat pihak-pihak yang terlibat
dalamnya dapat menemukan sebuah jalan keluar bersama yang tidak merugikan
pihak manapun dalam proses pengambilan kebijakan.
Berdasarkan teknik pengumpulan data, penelitian ini tergolong ke dalam
teknik field research, yakni bentuk penelitian studi kasus pada suatu kelompok
dalam kurun waktu tertentu. Terkait dengan penelitian yang dilakukan penulis,
penelitian ini mengambil studi kasus gerakan sosial yang terjadi di permukiman
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
34
liar tanah merah jakarta utara baik saat sebelum pengesahan RT dan RW dan
pembagian KTP maupun saat sesudahnya.
3.3 Unit Analisa Penelitian
Unit analisa penelitian ini adalah gerakan sosial, di mana penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan gerakan sosial yang terjadi di permukiman liar
kampung tanah merah Jakarta Utara. Penelitian ini berusaha untuk menfokuskan
analisis gerakan sosial berdasarkan pengalaman masyarakat dan pengurus
koordinasi lapangan gerakan sosial dan observasi mengenai bagaimana kegiatan
gerakan sosial tersebut masih dapat berjalan sampai saat ini.
3.4 Subyek dan Lokasi Penelitian
Subyek penelitian ini adalah pelaku gerakan sosial yang berkaitan
langsung dengan proses perjuangan masyarakat tanah merah dalam meraih hakhak nya sebagai warga negara Indonesia, yakni memiliki identitas resmi, dan
dapat mengakses fasilitas sosial dan fasilitas umum yang sudah disediakan negara.
Namun demikian penulis tidak hanya melihat bagaimana warga secara umum
melakukan perjuangannya, namun juga bagaimana para pemimpin gerakan warga
tersebut dapat terbentuk di tengah-tengah gerakan tersebut, dan dapat
mengkoordinasi gerakan tersebut menjadi sebuah gerakan yang sifatnya dapat
diatur dan terarah sesuai dengan tujuan awalnya.
Lokasi penelitian dalam tulisan ini mengambil di daerah Jakarta Utara,
tepatnya di Kampung Tanah Merah yang merupakan sebuah lokasi yang masuk ke
dalam 3 kelurahan secara administratif, yakni Kelurahan Tugu Selatan, Kelurahan
Rawa Badak Selatan, dan Kelurahan Kelapa Gading Barat. Penulis memilih lokasi
penelitian di lokasi ini karena beberapa alasan, pertama, gerkanan sosial yang
terjadi di tanah merah memiliki karakteristik khusus dan dalam cakupan skala
permukiman liar di Jakarta, tanah merah merupakan salah satu permukiman liar
terbesar di Jakarta pada umumnya, hal ini mejadikannya sebuah objek penelitian
yang menarik untuk melihat dinamikan bagaimana mungkin sebuah permukiman
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
35
liar yang sebegitu besarnya menempati lahan yang bukan untuk peruntukannya
dapat bertahan dari era 1990-an hingga saat proses penulisan tulisan ini
berlangsung. Alasan lainnya, dikarenakan waktu penelitian yang tidak banyak dan
panjang, sehingga penulis lebih memilih lokasi yang berjarak tidak terlalu jauh
dari jangkauan penulis, untuk memudahkan dan efisiensi waktu penulis dalam
mengobservasi langsung ke tempat penelitian.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Dengan pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data dalam penelitian
ini dilakukan dengan metode kegiatan wawancara mendalam dan observasi di
tempat pelaksanaan penelitian yang menjadi dasar dari data utama (primer),
sedangkan dat sekunder diperoleh melalui penelusuran dokumen dan karya
akademis terkait dengan penelitian yang dilakukan penulis.
Wawancara mendalam diperoleh melalui informan yang merupakan pihakpihak yang mengetahui secara mendalam tentang proses gerakan sosial yang
terjadi di permukiman liar tanah merah Jakarta Utara, yakni perwakilan pengurus
RW, perwakilan pengurus RT, dan perwakilan pengurus pengatur koordinasi
gerakan sosial.
Data sekunder diperoleh melalui dokumen-dokumen yang diberikan dari
pengurus gerakan sosial, foto-foto yang menunjang data primer, maupun kajian
literatur terkait dan berbagai artikel empirik yang dapat mendukung dalam proses
penyusunan penelitian. Data-data yang nantinya ditemukan dilapangan akan
dijabarkan dan kemudian dihubungkan dengan konsep-konsep yang berhubungan
dan kemudian dianalisis untuk menjadi sebuah kesimpulan tertentu.
3.6 Penentuan Informan Penelitian
Penentuan informan penelitian dilakukan dengan gate keeper dan
kemudian dilanjutkan dengan teknik snowballing. Gate keeper adalah pihak yang
memiliki otoritas formal maupun informal untuk mengakses lokasi penelitian
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
36
yang ada. Gate keeper berguna untuk membawa masuk peneliti kedalam situasi
dan kondisi lapangan, yang sebelumnya mungkin belum banyak diketahui oleh
penulis. Dalam penelitian ini penulis memiliki seorang gate keper, yakni salah
satu seorang warga yang ikut aktif dalam gerakan sosial, dan sudah tinggal lama
di lokasi penelitian penulis. Snowballing merupakan teknik penentuan informan
yang digunakan berdasar basis informasi dan rekomendasi atas pihak-pihak
tertentu yang dianggap lebih menguasai tentang permasalahan atau topik yang
diajukan dalam penelitian ini. Pemilihan informan pada penulisan ini di dasarkan
karena informan tersebut merupakan informan kunci dan dianggap paling
mengetahu sejarah dan proses yang terjadi selama ini di kampung Tanah Merah.
3.7 Teknik Analisa Data
Teknik analisa data dimulai dengan proses pengumpulan data, proses
interpretasi data, dan kemudian proses penulisan laporan. Pada awal data selesai
dikumpulkan, penulis berusaha membuat pengkodean (coding), sesuai dasar
penelitian kualitatif, yakni memisahkan informasi dan data ke dalam kategori atau
tema yang sesuai dengan konteks penelitian. Pengkodean dilakukan atas dasar
hasil temuan dari wawancara mendalam dan observasi yang kemudian
dikelompokan dengan dasar konsep yang digunakan dalam penelitian. Setelah
proses pengkodean, maka penulis membuat interpretasi dari data-data yang ada
dan kemudian menyimpulkannya.
3.8 Etika Penelitian
Etika penelitian yang digunakan oleh penulis berhubungan dengan
perlindungan penulis terhadap informa penelitian. Hal ini dilakukan agar nantinya
para informan tidak dirugikan atas terjadinya suatu hal dari penelitian yang
dilakukan. Aspek yang digunakan ini adalah informed consent, yakni kesediaan
yang disadari. Para informan penelitian menyadari dan mengetahui tujuan serta
diadakannya penelitian ini, hal ini akan mempermudah penulis dalam memperoleh
data dan informasi terkait subyek penelitian.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
37
3.9 Periodesasi Penelitian
Periodesasi penelitian dilakukan kurang lebih selama 6 bulan (Januari
sampai dengan Juni 2013) mulai dari proses awal tahan penyusunan RD sampai
proses penyusunan laporan skripsi ini.
3.10 Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih banyak memiliki
kekurangan. Kekurangan utama dalam penelitian ini adalah sangat terbatasnya
waktu yang dimiliki peneliti dalam proses penulisan ini yang berdampak
penulisan yang dilakukan penulis hanya melihat dari sudut pandang masyarakat,
dan tidak melihat dari sudut pandang pemerintah. Selain itu pencarian informan
lainnya yang berguna untuk memperjelas dan mendukung informasi yang diterima
dari informan utama sangat sulit karena banyak tokoh-tokoh pada masa itu yang
sudah pindah ke tempat lain. Dan yang terakhir penulis belum mampu
mendapatkan informasi yang lebih dalam lagi dari aktor-aktor yang berada di
belakang permukiman Tanah Merah.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
38
BAB 4
GAMBARAN UMUM TENTANG PERMUKIMAN LIAR KAMPUNG
TANAH MERAH DAN PROSES GERAKAN SOSIAL YANG TERJADI DI
DALAMNYA
4.1 Sejarah Tanah Merah
Tanah Merah, adalah sebuah lokasi sebuah tanah kosong yang pada tahun
1960an masih merupakan rawa-rawa, dimana masih sangat jarang sekali terdapat
permukiman penduduk disana. Semenjak awal munculnya Pertamina sebagai
pemegang hak milik disebagian lokasi tanah merah, maka perkembangan
kampung tanah merah kian pesat. Hal ini bermula disaat Pertamina memulai
membangun Depo nya di kawasan tersebut pada era tahun 1960-an. Dari proses
pembangunan tersebut, lahan-lahan yang berada di sekitar depo tersebut pun
berkembang dan menjadi lahan-lahan pertanian, yang digarap oleh orang-orang
tertentu yang memiliki tanah tersebut, kemudian perlahan-lahan semakin banyak
muncul bangunan rumah sebagai tempat tinggal disana.
Tanah Merah adalah sebuah lokasi yang sudah ditinggali oleh penduduk
dari masa penjajahan belanda, hampir sama seperti dengan kawasan-kawasan lain
di Jakarta. Pada masa sebelum masa kemerdekaan sendiri, bahkan sudah terdapat
beberapa permukiman yang kebanyakan di huni oleh orang Belanda dan etnis
Tionghoa. Seiring dengan berjalannya era kemerdekaan hingga tahun 1958
dimana pemerintah saat itu mengeluarkan undang-undang yang menghapus hak
milik tanah bagi warga negara asing, serta pada era tahun 1965 terjadinya
pemberontakan PKI, membuat penduduk etnis Tionghoa yang masih bertahan di
wilayah tersebut meninggalkan lokasi tersebut. Dan seiring berjalannya waktu
kebanyakan warga Tionghoa yang sudah berstatus warga negara indonesia,
berpindah ke lokasi yang dekat dengan kawasan Tanah Merah, yakni di Kelapa
Gading yang saat ini dikenal dengan pusat hiburan dan belanja di Jakarta Utara.
Pada tahun 1968 Pertamina meminta izin kepada Gubernur DKI Jakarta
pada masa itu untuk pembangunan Depo Pertamina, dimana yang pada awalnya
permintaan izin tersebut hanya mencakup lahan dengan luas 14 hektar, yang
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
39
nantinya akan digunakan untuk keperluan pembangunan instalasi pengolahan
bahan bakar minyak. Pada tahun 1974 sempat terjadi pengurukan besar-besaran
yang dilakukan pemerintah, dan pada saat itu pun sudah banyak ditemukan
beberapa areal persawahan dan beberapa bangunan yang digunakan sebagai
tempat tinggal bagi para penggarap persawahan. Pada awal tahun 1980,
pemerintah Jakarta Utara justru mendukung adanya penggarapan di lokasi tanah
merah yang sudah diuruk sebelumnya, hal ini dimaksudkan supaya lahan di tanah
merah dapat dimanfaatkan oleh warga Jakarta dan tidak terlantar. Kurang lebih
dalam kurun waktu 20 tahun (1970 sampai 1990) pemerintah Jakarta sendiri tidak
merasa keberatan dengan masuknya warga yang menggarap dan membangun
tempat tinggal di kawasan tanah merah tersebut.
Perkembangan utama lokasi tanah merah terjadi pada era tahun 1980
sampai tahun 2000, di mana di era tersebut, banyaknya penduduk yang masuk ke
Jakarta dan tidak tertampung, membuat masyarakat ini berbondong-bondong
menempati kawasan tanah merah dan kemudian mulai membangun tempat tinggal
mereka. Dari sinilah cikal bakal munculnya permukiman tanah merah, apalagi
dengan timbulnya sengketa dengan Pertamina yang tidak selesai dengan tuntas
dikarenakan Pertamina tidak memenuhi kewajibannya sesuai keputusan
pengadilan, maka penggusuran yang sempat terjadi yang dilakukan oleh pemkot
Jakarta Utara pada era awal 1990-an tidak dilanjutkan karena menurut pengadilan
tata usaha negara, baik Pertamina maupun pemerintah kota jakarta utara waktu itu
telah melakukan pelanggaran hukum dengan melakukan pengusiran paksa bagi
warga tanah merah yang sudah tinggal dan membangun rumah di sana.
Semenjak keputusan dari pengadilan itulah maka permukiman tanah
merah semakin kian ramai dengan bangunan-bangunan tempat tinggal dan jumlah
penduduk yang masuk ke kawasan tersebut semakin meningkat. Hingga dari
keputusan pengadilan tersebut hingga saat ini belum ada kembali proses
penggusuran yang dilakukan secara fisik, namun seiring berjalannya waktu
masyarakat tetap masih mengalami trauma karena penggusuran paksa yang pernah
dialami pada tahun 1990an tersebut. Arus masuk masyarakat pendatang yang
semakin membludak di tahun 1990an, membuat lahan-lahan yang tadinya masih
rawa-rawa kemudian diuruk oleh warga yang akan bertempat tinggal di situ,
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
40
kemudian mulai lah terbentuk permukiman-permukiman yang meski di bagian
terluarnya nampak teratur karena menghadap langsung jalan utama, namun pada
bagian dalam masuk ke gang-gang kecil, mulai tidak beratur pembangunannya.
Secara administratif sendiri tanah merah termasuk ke dalam tiga kelurahan
di jakarta utara, yakni kelurahan tugu selatan, kelurahan rawa badak selatan, dan
kelurahan kelapa gading barat. Memang sempat ada keinginan untuk membuat
kelurahan sendiri saat kampung tanah merah belum mendapatkan pengakuan dari
pemerintah kota, namun hal tersebut tidak dilakukan karena para pengurus RT dan
RW masih berkonsentrasi dan memprioritaskan bagaimana supaya warga di
kampung tanah merah mendapatkan pengakuan secara administratif dari
pemerintah kota Jakarta.
Tanah merah sendiri dilihat dari lokasi dan aksesnya, memang dirasa
cukup strategis, hal ini dikarenakan kampung tersebut berada di tengah-tengah
yang berbatasan langsung dengan kawasan Kelapa Gading yang selama ini
dikenal dengan permukiman mewah dan memiliki bangunan-bangunan mal dan
apartemen megah serta pusat ruko dan perkantoran, dan juga berbatasan langsung
dengan kawasan plumpang, lokasi perumahan menengah ke atas dan menengah ke
bawah yang hampir sebagian lokasinya memiliki tata ruang kota yang cukup baik.
Hal inilah yang membuat kampung tanah merah menjadi sangat strategis bagi
warga yang selama ini mata pencahariannya selain informal, dan juga lokasinya
mendukung untuk tempat tinggal sementara untuk bekerja, karena lokasinya yang
berdekatan dengan pusat bisnis dan hiburan tersebut.
Gambar. 1.1
Akses jalan dari kampung tanah merah menuju ke kelapa gading (kiri) dan akses menuju ke Plumpang (kanan) (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis, 2013)
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
41
Berdasarkan uraian sejarah diatas maka Tanah Merah merupakan daerah
abu-abu, atau biasa disebut tanah sengketa yang belum jelas kepastian hukum
pemilik sah nya. Semenjak pemerintah kota jakarta utara dan Pertamina kalah
banding dalam pengadilan pada era 1990an, maka bisa dikatakan permukiman
tersebut menjadi seperti duri di dalam daging bagi pemerintah kota jakarta selama
ini. Hal ini dikarenakan lokasi tersebut memang menjadi sebuah ironi jika
diberikan begitu saja kepada warga yang sudah puluhan tahun tinggal di sana, dan
karena hal tersebutlah semenjak kalah dari pengadilan, pemerintah Jakarta seperti
tidak mengacuhkan warga kampung tanah merah, atau tidak menganggap
penduduk tanah merah sebagai bagian dari penduduk Jakarta.
Pembangunan yang ada di tanah merah sendiri secara umum dilakukan
oleh warga sendiri secara swadaya dan gotong royong bersama-sama dengan
warga lain. Selama ini pembangunan yang ada di Tanah Merah semuanya adalah
hasil swadaya masyarakat Tanah Merah. Dimulai dari pembangunan jalan,
masuknya listrik, masuknya saluan air bersih, pembangunan saluran air buangan,
dan fasilitas-fasilitas pendidikan dan kesehatan yang ada di sana, hampir sebagian
besar dibangun dan di swadayakan oleh masyarakat sekitar, meski memang ada
banyak juga yayayasan dan organisasi sosial yang ikut membantu dalam keegiatan
dan pendanaan di sana.
4.2 Karakteristik Permukiman Liar Tanah Merah
4.2.1 Karakter Fisik:
Bila melihat dari karakter lingkungan pada awal sebelum munculnya
permukiman penduduk, tanah merah merupakan sebuah lokasi yang masih sangat
jarang penduduknya, kalaupun ada beberapa orang yang tinggal di sana pada
sebelum era 1980an, hal tersebut dikarenakan lokasi lahan tanah merah
merupakan lahan rawa-rawa, sehingga dapat dimanfaatkan untuk melakukan
garapan untuk dijadikan lahan untuk bercocok tanam.
Secara geografis, kampung tanah merah berbatasan langsung dengan depo
Pertamina Plumpang di bagian barat, Jalan Plumpang Semper di Sebelah Utara,
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
42
perlimaan Semper di sebelah timur dan Kelapa Gading di sebelah selatan, berikut
gambar kawasan tanah merah:
Gambar 1.2 Kawasan Tanah Merah (Sumber: Google Map)
Sedangkan jika melihat dari fisik bangunan yang ada di kampung tanah
merah, kecenderungan saat ini rumah-rumah yang ada di kampung tanah merah
sudah bersifat permanen, dimana secara garis besar jenis rumah yang ada
merupakan rumah sederhana, meski tidak menampik pula temuan dilapangan
bahwa ada pula rumah-rumah megah yang berada di kampung tanah merah
tersebut, meski jumahnya tidak banyak. Terdapat pula bangunan-bangunan semi
permanen yang lokasinya berada jauh dari jalan utama, dan berdekatan dengan
pembuangan sampah warga. Selain untuk dihuni oleh warganya, rumah dan lahan
yang ada juga kemudian banyak yang dikomersialisasikan untuk dibangun
menjadi kontrakan ataupun kost-kostan berharga ekonomis, dimana usaha ini
sangat menjanjikan, karena lokasinya yang berdekatan dengan pusat-pusat
hiburan dan perdangan di Kelapa Gading, Tanjung Priok, Sunter, dan Plumpang.
Apabila melihat dari susunan tempat tinggal penduduk di tanah merah,
kebanyakan tidak beraturan, antar satu rumah dan satu rumah yang lain saling
menempel dan berdekatan, sehingga rawan sekali permukiman di sini apabila ada
kebakaran langsung dapat menjalar dengan cepat ke rumah yang lain. Sepanjang
jalan yang ada saat ini pada awalnya merupakan bentuk awal dari jalan yang
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
43
dibentuk dari pemerintah Jakarta Utara dengan mendasarkan pada lokasi depo
Pertamina yang akan dibangun. Napak di sisi-sisi jalan dinding beton yang
membatasi antara depo dengan permukiman warga, dan terdapat semacam saluran
air yang dibuat untuk membatasi atau memisahkan dua tempat tersebut.
Saat ini di tanah merah selain sebagian besar terdiri dari permukiman
warga, banyak juga dapat ditemukan lokasi yang dijadikan sebagai gudang atau
tempat usaha, seperti gudang tempat menaruh barang-barang dari pelabuhan,
ataupun usaha barang bekas atau besi bekas yang memang sebagian besar usaha
yang dilakukan warganya adalah dalam hal mengumpulkan barang-barang bekas
tersebut.
4.2.2 Karakter Sosial:
Bila melihat dari segi perekonomian, karakteristik masyarakat yang
bertempat tinggal di tanah merah, hampir sebagian besar dapat dikatakan
memiliki status menengah ke bawah hingga masuk dalam kategori masyarakat
tidak mampu. Hal ini bukan tanpa sebab, dikarenakan sulitnya akses ke fasilitas
sosial dan fasilitas umum selama belum diakui oleh pemerintah kota, dan
persaingan yang semakin ketat dalam mencari pekerjaan di Jakarta, membuat daya
saing warga kampung tanah merah masih cukup rendah dan kalah bersaing
dengan warga lainnya. Namun demikian bukan berarti warga kampung tanah
merah berdiam diri dengan kondisi tersebut, karena mereka berinisiatif melakukan
usaha-usaha lain di sektor informal.
Hampir kebanyakan dari penduduk tetap dan sesepuh di kampung tanah
merah bekerja di sektor informal, hal ini terlihat jika anda mengunjungi kampung
tanah merah pada malam hari, maka anda akan disajikan dengan suguhan
pemandangan yang sangat khas dengan permukiman padat penduduk lainnya,
dimana permukiman yang sampai saat ini masih dianggap abu-abu dari sisi
kepemilikan tahanya berubah menjadi hingar bingar kesibukan dan aktivitas
masyarakat yang tinggal didalamnya. Banyak sekali ditemukan warung kelontong
dari yang ukurannya kecil hingga yang besar, lalu banyak pula terdapat usaha
warung-warung makan yang tersebar hampir di setiap pelosok gang di setiap
permukiman ini, belum lagi ditambah usaha-usaha penjualan alat elektronik dan
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
44
counter pulsa yang menjamur di sana sini, menambah kemeriahan malam di
kampung tanah merah yang penuh dengan lampu-lampu putih nya, yang
menandakan bahwa permukiman ini meruapakan permukiman yang sangat hidup
dan dinamis pergerakan sektor ekonominya.
Sedangkan bila melihat kampung tanah merah dari sis etnisitas dan juga
multi agama, warga di tanah merah ini berasal dari berbagai macam suku di
Indonesia, seperti Jawa, Batak, NTT, Ambon, Papua, serta ke lima agama pun
masing-masing terdapat dalam sistem kepercayaan warga tanah merah dan
kesemuanya itu dibungkus rapih dengan kerukunan diantar warga masyarakatnya.
Keberanekaragaman dan perbedaan yang ada pada warga tanah merah justru tidak
menimbulkan permasalahan berarti, hal ini disebabkan meski segala macam suku
bangsa dan agama yang berbeda-beda, namun semuanya tetap hidup rukun dan
memiliki tenggang rasa yang tinggi diantar warga masyarakatnya. Hal ini nampak
nyata dengan adanya tempat ibadah baik Gereja maupun Mushola yang
berdekatan lokasinya, namun mereka bisa hidup dengan rukun tanpa konflik yang
berarti. Kemajemukan masyarakat dan rasa kebersamaan yang sudah terpupuk
selama puluhan tahun menghadapi permasalahan bersama memang menjadi esensi
dasar mengapa masyarakat di kampung tanah merah bisa begitu bersatu padu
dalam perbedaan-perbedaannya. Namun demikian dari para pemimpin informal di
kampung tersebut tetap mengutamakan kepentingan bersama di atas dari
kepentingan individu, hal inilah yang membuat warga di kampung tanah merah
begitu kompak dan bersatu padu.
Apabila dilihat dari segi sosial, maka pola hubungan yang terjadi di
kampung tanah merah masih berpatokan kepada pemimpin-pemimpin informal
atau sesepuh yang sudah tinggal di lokasi tersebut hingga puluhan tahun.
Kepemimpinan informal ini memiliki dampak positif dan dampak negatif dalam
perkembangannya di tanah merah. Dampak positif nya antara lain sebagai
penggerak gerakan memperjuangkan tempat tinggal mereka dari era tahun 1990
sampai dengan sebelum terbentuknya sebuah wadah aspirasi melalui organisasi
yang akan dibahas pada bagian berikutnya.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
45
4.3 Gerakan Sosial Masyarakat Tanah Merah Sebelum Pemberian KTP dan
Pengesahan RT & RW
Gerakan tanah merah pada umumnya jika dilihat dari segi waktu dan
perjalanan terdiri dari dua generasi yang berbeda, namun memiliki satu tujuan
yang sama, yakni memperjuangkan tempat tinggal warga dan mengakomodasi
setiap bentuk aspirasi warga dan sebagai penggerak utama gerakan-gerakan warga
tanah merah. Pertama yakni generasi era tahun 1990-an dimana para penggerak
dari gerakan di era ini adalah warga-warga sesepuh yang sudah puluhan tahun
tinggal di lokasi tersebut, mereka inilah yang mempelopori perjuangan gerakan di
Tanah Merah dari proses penggusuran yang dilakukan oleh Pertamina melalui
persetujuan pemerintah kota Jakarta Utara.
Pak Sugianto adalah salah satu dari sesepuh yang sudah tinggal lama di
kampung tanah merah, dia mengalami langsung bagaimana pada saat era 1992,
proses penggusuran yang dilakukan pemerintah jakarta utara di saat itu terjadi.
Nama tanah merah sendiri berasal karena pada awalnya di lokasi tersebut
merupakan daerah rawa-rawa, yang kemudian di timbun dengan tanah berwarna
merah, sehingga pada saat proses penimbunan tersebut, sejauh mata memandang,
yang terlihat adalah hamparan tanah merah yang sangat luas, sehingga pada saat
itulah warga yang melihat hal tersebut menyebutnya Tanah Merah (Artikel
Internet: seputar marhaenis blogspot, Mei 2013).
Pak Sugianto sendiri sudah menempati tanah merah semenjak tahun 1985,
dimana di saat pak Sugianto baru akan menempati lokasi tersebut, sudah ada
kurang lebih dua ribu sampai dengan tiga ribu kepala keluarga sampai dengan
tahun 1990an. Selama menempati tanah merah, pak Sugianto dikenal oleh warga
lainnya sebagai penggerak dan tokoh yang paling vokal dalam memperjuangkan
keberlangsungan permukiman tanah merah. Hal ini dikarenakan pak Sugianto
sendiri adalah salah satu pejuang pada masa era kemerdekaan, dan merasakan
langsung bagaimana jajahan dari belanda dan jepang. Karena sifatnya yang selalu
membantu warga dan dapat mengkoordinasi warga meski tanpa membentuk
organisasi saat itu, maka pak Sugianto dipercaya oleh warga tanah merah sebagai
pemimpin informal di kampung tersebut dan menjadi kunci utama dari ide dan
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
46
pemikiran gerakan warga tanah merah pada saat era 1990an, yakni era dimana
warga tanah merah akan digusur oleh pemerintah Jakarta Utara dan Pertamina.
Pada saat itu berbagai macam cara di upayakan oleh pak Sugianto dan wargawarga lainnya, ia memerintahkan warga agar tetap tinggal dan menempati rumah
nya masing-masing, dan jangan ada yang mau menerima uang gusuran yang di
berikan oleh Pertamina saat itu yang hanya sebesar tiga puluh ribu per meter
persegi, sangat jauh lebih kecil dibandingkan tuntutan warga sebesar seratus lima
puluh ribu per meter persegi. Dan dalam berbagai macam perlawanan dengan
pemerintah di pengadilan, meski di saat terakhir sempat dikatakan kalau pihak
warga mengalami kurangnya jumlah penggungat yang hadir, namun kuasa hukum
warga tanah merah saat itu Almarhun H. M Dault SH mengganggap itu bukanlah
masalah selama secara fisik, warga tanah merah tetap menguasai dan tinggal di
rumah mereka masing-masing.
Gerakan generasi pertama ini pada awalnya tidak berstruktur karena masih
mengutamakan kepentingan individu meski dilakukan secara kolektif (misalnya
demonstrasi), namun seiring berajalannya waktu, gerakan ini menjadi lebih
berstruktur meskipun belum memiliki organisasi, dikarenakan tuntutan dan
ancaman yang mereka rasakan bersama dengan adanya keputusan penertiban dan
penggusuran tanah merah. Namun peran dari pak Sugianto di era 1990 sampai
tahun 2000an sebelum FKTMB berdiri memiliki peran yang sangat sentral dan
penting bagi warga tanah merah.
Pada saat melakukan gerakan yang ingin diperjuangkan oleh pak Sugianto,
langkah-langkah damai dan fisik dilakukan dengan koordinasi dan bantuan dari
perwakilan masyarakat di kampung lainnya, langkah tersebut yakni: perjuangan
dalam mempertahankan permukman mereka di tahun 1992 saat akan terjadi
penggusuran, dimana banyak warga Tanah Merah terlibat bentrok dengan aparat
yang bertugas menggusur wilayah tersebut, banyak warga dan termasuk pak
Sugianto sendiri pasang badan dalam mempertahankan permukiman mereka,
selain itu pak sugianto dan para pemimpin informal lainnya juga berjuang dan
mengkritisi kebijakan ganti rugi yang dilakukan Pertamina yang dilakukan dengan
diam-diam ke masyarakat dengan cara mengajak masyarakat tanah merah agar
jangan mau menerima sepeserpun uang dari Pertamina karena tuntutan nilai besar
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
47
ganti rugi atas permukiman mereka yang akan di gusur tidak sesuai dengan
permintaan warga. Hingga di atas era tahun 1992, pak Sugianto dikenal sebagai
pemimpin informal tanah merah yang paling vokal terhadap penderitaan warga
tanah merah karena ketidakmampuan dan ketidakberdayaan masyarakat tanah
merah dalam mendapatkan pelayanan sosial dan pendidikan, serta rasa aman
dalam menempati tempat tinggal mereka saat ini. Demonstrasi yang dilakukan
pak sugianto setelah era tersebut diantaranya menduduki bagian luar kantor
pemerintahan bersama warga-warga lainnya dan melakukan demonstrasi
menuntut hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh warga tanah merah.
Dilihat dari sisi historis gerakannya maka tanah merah memiliki banyak
sekali nilai sejarahnya, hal ini banyak dikemukakan oleh para sesepuh tanah
merah yang mengalami langsung proses dan suka duka selama tinggal dan
bermukim di kawasan tersebut.
Sebelum di sahkan nya RT dan RW serta penerbitan KTP bagi penduduk
tanah merah, perjuangan dan gerakan yang dilakukan oleh masyarakat tanah
merah sangat panjang, dari era 1990an hingga tahun 2012 masyarakat tanah
merah berjuang menuntut hak-haknya untuk tinggal di permukiman dan melawan
segala macam bentuk tindakan-tindakan penggusuran yang dilakukan represif
pada masanya.
Penduduk
tanah
merah
memiliki
permasalahan
krusial,
yakni
permasalahan sengketa tanah yang tidak kunjung habis peyelesaiannya. Bermula
dari reformasi agraria yang dicanangkan pemerintahan orde baru, kemudian
masyarakat penggarap masuk ke tanah merah, namun dikarenakan kepentingan
dari para pemilik modal yang menginginkan kawasan tanah merah untuk
dikomersialisasikan, maka terjadi konflik kepentingan antara para pemilik modal
dengan warga yang sudah menetap di kampung tanah merah semenjak era
1980an.
Perjuangan tersebut terutama terjadi pada saat era 1990an, dimana terjadi
upaya pembongkaran yang dilakukan pemerintah kota Jakarta Utara di bantu oleh
pihak aparat dalam mengusir para warga dan merobohkan rumah-rumah yang
mereka bangun di kawasan sengketa tersebut. Perjuangan di saat itu dipimpin oleh
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
48
para sesepuh yang sudah lama tinggal di kampung tanah merah, mereka
melakukan gerakan demonstrasi baik di kantor pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah, namun suara mereka tidak diacuhkan oleh pemerintah saat itu.
Segala usaha pun di tempuh baik dari jalur komunikasi formal maupun informal
dengan pejabat dinas terkait masalah kependudukan, hingga jalur hukum yang
menentang pembongkaran di era tahun 1990an tersebut. Bahkan para sesepuh
(pemimpin informal) atau biasa di kenal dengan istilah tokoh masyarakat ini
seringkali dihadapkan pada situasi-situasi genting yang mengancam keselamatan
jiwanya. Apalagi pada masa orde baru, pemerintah seringkali melakukan tindakan
represif untuk membungkam masyarakat atau organisasi yang tidak sejalan
dengan program dan kepentingan pemerintah saat itu. Namun banyak tokoh
tersebut yang selamat karena mereka meminta bantuan dan perlindungan dari
lembaga bantuan hukum pada saat itu.
Terlepas dari keputusan pengadilan yang memenangkan warga penduduk
tanah merah dari tindakan penggusuran yang dilakukan pemerintah jakarta utara
dan Pertamina di belakangnya, perjuangan yang dialami oleh warga tanah merah
belumlah usai. Karena kemenangan di pengadilan tersebut bukan berarti membuat
pemerintah jakarta utara mengaminkan keputusan pengadilan tersebut dan
memberi restu bagi warga kampung tanah merah untuk dengan sah menempati
tempat tinggal mereka tersebut. Perjuangan yang paling dirasakan masyarakat
tanah merah tersebut pada umumnya hal-hal yang berhubungan langsung dengan
sektor-sektro birokrasi pemerintahan, dimana karena statusnya yang dianggal
illegal oleh pemerintah, maka pelayanan kependudukan bagi warga tanah merah
dengan adanya konflik di tahun 1990an, maka selama kurang lebih 20 tahun
semenjak permasalahan tanah merah mencuat, praktis warga disana tidak ada
sama sekali mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah dki Jakarta.
Generasi perjuangan dari para pemimpin informal sebelumnya di era
1990-an mulai diturunkan kepada anak mereka, dan pada era tahun 2000an, di
bantu dengan dukungan dari para pemimpin informal sebelumnya dibentuklah
sebuah organisasi di kampung tanah merah yang dikenal dengan nama “Forum
Komunikasi Tanah Merah Bersatu (FKTMB)”, yang saat itu dipimpin oleh
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
49
seorang tokoh muda yang peduli dan prihatin dengan kondisi masyarakat tanah
merah saat itu yakni Moh. Huda.
Dan pada era tahun 2000an dimana organisasi FKTMB (Forum
Komunikasi Tanah Merah Bersatu) yang merupakan sebuah organisasi yang
memperjuangkan hak-hak warga tanah merah, yang dipimpin oleh Moh. Huda
sebagai Ketua dari organisasi tersebut. Proses pendirian FKTMB sendiri pada
awalnya didirkan oleh generasi pertama yakni Pak Sugianto, hal ini dikarenakan
mereka dalam kondisinya yang sekarang sudah tidak terlalu mampu melakukan
aksi-aksi fisik, namun meski begitu mereka tetap dapat berkontribusi ke
organisasi tersebut dengan pengaruhnya ke warga tanah merah dan pemikiranpemikiran yang didasarkan pada tujuan awal pergerakan dan mengutamakan
kepentingan warga tanah merah. Selama proses perjuangan setelah didirikannya
FKTMB, banyak berbagai macam halangan dari berbagai pihak, namun pak
sugianto dan Moh. Huda tetap saling bersinergi sehingga perjuangan mereka tidak
berhenti di tengah jalan.
FKTMB sendiri sebagai organisasi memiliki kepengurusan dan kegiatan
organisasi sama seperti organisasi-organisasi berbadan hukum lainnya. Selain itu
kepengurusan dari organisasi tersebut juga terdiri dari para perwakilan dari
kepengurusan masing-masing wilayah kampung tanah merah, serta dibantu oleh
para relawan dari anak muda yang peduli dengan perjuangan di kampung tanah
merah Jakarta Utara tersebut.
Dengan adanya FTKMB, maka perjuangan dan gerakan-gerakan yang
dilakukan oleh warga kampung tanah merah lebih mudah terorganisir dan dapat
dikontrol agar tidak lepas dari tujuan utamanya. FKTMB beserta jajarannya
sendiri semenjak awal didirikannya hingga saat ini, masih fokus dengan
permasalahan-permasalahan yang seringkali timbul di Tanah Merah. Karena
meski mungkin apabila dilihat dari luar sekilas, masyarakat di tanah merah
memang terlihat rukun dan bersatu, namun apabila dikupas satu demi satu bergai
macam konflik kepentingan atar sesama warga kampung tanah merah, maka dapat
dikatan kampung tanah merah memiliki interaksi yang sangat dinamis, yang tidak
luput juga dari permasalahan-permasalahan individu di dalamnya. Disinilah
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
50
fungsi dari organisasi FKTMB berperan dalam me-mediasi pihak-pihak yang
bertikai karena suatu hal, sehingga meskipun ada konflik yang sedang terjadi di
dalam warga kampung tanah merah sendiri, tujuan utama dan perjuangan yang
selama ini mereka bangun tidak terpecah begitu saja.
Selain fungsi mediasi yang dilakukan organisasi tersebut untuk masalahmasalah yang muncul antar warga, FKTMB juga memiliki fungsi lainnya yang
sangat membantu bagi masyarakat tanah merah dalam kehidupannya sehari-hari.
Fungsi tersebut adalah fungsi advokasi, yakni sebuah gerakan yang mereka
lakukan untuk menuntut hak-hak yang seharusnya di dapatkan warga sebagai
bagian dari negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hak tersebut diantara
lain hal untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan hidup dari pemerintah
sesuai dengan amanat undang-undang dasar 1945, dan juga hak untuk
mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang layak. Terutama pada sektor
kesehatan dan pendidikan bagi warga kampung tanah merah, yang dirasa selama
ini menjadi permasalahan sosial yang cukup krusial selain permasalahan status
tanah. Agar dapat mempermudah pelayanan dan gerakannya, FKTMB mendirikan
banyak posko yang lokasi nya menyebar di masing-masing RT yang ditempati
warga, dimana di posko tersebut dikelola oleh para pengurus RT dan RW masingmasing yang juga merupakan anggota dan relawan dari organisasi tersebut.
FKTMB pada umumnya selalu melihat kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh
pemerintah pusat, karena keberadaan mereka oleh pemerintah daerah pada waktu
itu dianggap tidak ada karena statusnya yang menempati tanah illegal, maka setiap
kali pemerintah pusat merancangkan sebuah program atau layanan bagi
masyarakat miskin di Indonesia, organisasi ini dengan aktif melakukan peninjauan
dari segi teknis dan hukum kebijakan pemerintah pusat tersebut. Salah satu hasil
yang terlihat dari kerja organisasi tersebut yakni program jaminan kesehatan
masyarakat yang dikeluarkan Menteri Kesehatan pada era tersebut sehingga dapat
dinikmati oleh warga penduduk Kampung Tanah Merah.
Semenjak itu segala macam permasalahan kesehatan yang dialami
penduduk kampung tanah merah sudah mulai dapat dilayani oleh puskesmas dan
rumah sakit negeri di lokasi sekitar tanah merah dimana dalam prosesnya fungsi
dari organisasi FKTMB beserta para relawan memiliki andil yang sangat penting
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
51
sehingga warga tanah merah dapat mengakses pelayanan kesehatan tersebut. Pada
bidang pendidikan organisasi ini juga membantu agar kesempatan meraih
pendidikan bagi anak-anak dari warga kampung tanah merah terhalang
permasalahan administrasi, dimana hanya karena permasalahan KTP dan KK
yang memang disaat itu masih barang yang sangat langka karena pemerintah kota
tidak mengakui keberadaan warga kampung tanah merah. Sedangkan di bidang
sosial, organisasi ini juga mendagakan kegiatan-kegiatan gotong royong ataupun
program pembangunan sarana dan prasarana di permukiman kampung tanah
merah dengan menggerakkan sumber dana yang diperoleh dari pengumpulan
swadaya warga kampung tanah merah.
RT & RW di Tanah Merah memang sudah terbentuk bahkan sebelum
FKTMB didirikan, namun seiring dengan kelahiran organisasi tersebut,
kepengurusan dalam RT & RW bayangan tersebut semakin dapat mencapai tujuan
bersama, karena organisasi FKTMB juga memiliki peran dan membantu dalam
mengorganisir para pengurus RT & RW bayangan yang nantinya menjadi RT &
RW yang sah. Hal ini dikarenakan kepengurusan warga yang selama ini menjadi
bagian dari organisasi tersebut juga dipimpin oleh para wakil dari masing-masing
kepengurusan di dalam wilayah-wilayah kampung tanah merah. Sehingga
pergerakan FKTMB praktis efektif karena mereka yang bergabung di organisasi
tersebut sudah dikenal oleh masyarakatnya masing-masing, sehingga lebih
memudahkan organisasi dalam mensosialisasikan program dan kegiatan-kegiatan
mereka dalam rangka mensejahterakan warga kampung tanah merah.
Organisasi ini juga melakukan kerja sama dengan organisasi-organisasi
lainnya yang bergerak dalam bidang yang sama, yakni perlindungan terhadap hak
tempat tinggal bagi masyarakat tidak mampu di daerah lainnya. FKTMB aktif
pula
dalam
melakukan
komunikasi
dengan
organisasi-organisasi
yang
berkecimpung di perjuangan yang sama, dan juga ikut solidaritas mendukung
perjuangan organisasi lain di lokasi mereka yang sedang bermasalah, sebagai
contoh kasus Mesuji di Lampung, ataupun penggusruan di Jatinegara Kaum, para
aktivis FKTMB ikut memperjuangkan hak-hak mereka dengan mengirimkan
perwakilan untuk turun langsung ke lokasi-lokasi tersebut pada masanya. Dengan
adanya kerjasama dengan organisasi-organisasi tersebut, FKTMB banyak
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
52
mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai pergerakan dan strategi agar
gerakan yang mereka bangun selama ini tetap dapat berjalan dan bahkan makin
kuat ke depannya. Bila dilihat dari struktur organisasi ini sendiri, secara umum
memiliki pembagian tugas per masing-masing divisi, sehingga proses pelaksanaan
kegiatan gerakan dapat berjalan lebih lancar dan semakin mudah diatur. FKTMB
sendiri juga merupakan kegiatan dan pergerakan yang sangat cair, hal ini akibat
dari bahwa seluruh warga tanah merah yang tinggal di lokasi tanah merah,
merupakan bagian dan anggota dari relawan FKTMB, sehingga setiap individu
yang tinggal di tanah merah, memiliki tujuan dan kepentingan bersama dalam
memperjuangkan dan bergerak melakukan gerakan secara bersama-sama dan
kompak. Hal ini dapat terlihat dari bagaimana demonstrasi besar-besaran yang
dilakukan dan diprakarsai oleh pengurus FKTMB saat itu, diikuti oleh ribuan
warga tanah merah yang turun langsung ke jalan dan melakukan demonstrasi
untuk menuntut tempat tinggal mereka supaya diperjuangkan pengakuan secara
administratif terhadap permukiman mereka saat itu.
Gambar. 1.3
Demonstrasi Besar-Besaran Warga Kampung Tanah Merah ke kantor Kementrian Dalam Negeri
(Sumber: Video Rekaman Anggota FKTMB)
Gerakan organisasi ini memegang peranan vital dalam keberhasilan
pengakuan oleh pemerintahan Jakarta baru yang dipimpin oleh Joko Widodo
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
53
sebagai Gubernur DKI Jakarta. Tepatnya pada tahun 2011 dan 2012, wacana
adanya hak KTP dari Kementrian Dalam Negeri menjadi sebuah pondasi bagi
FKTMB dalam bergerak dan melakukan perjuangan bagi warga tanah merah yang
ingin mendapatkan pengakuan dari pemerintah pusat akan KTP. Pada masa itu
Jakarta masih dipimpin oleh Gubenur sebelumnya, yakni pak Fauzi Bowo. Selama
era pemerintahan Fauzi Bowo terutama di puncak perjuangannya di tahun 2011
dan 2012, pemerintah Jakarta di saat itu seperti tidak mendengarkan tuntuan
warga Tanah Merah.
Namun sikap pemerintah daerah itu tidak menyurutkan api perjuangan
yang dinyalakan oleh organisasi FKTMB kepada warga Tanah Merah. Dengan
inisiatif dari organisasi tersebut, maka dilakukanlah demonstrasi besar-besaran ke
Kementrian Dalam Negeri dan Balai Kota Jakarta, dan dikarenakan jawaban dari
para pejabat yang terkait disaat bertemu dengan perwakilan FKTMB tidak
membuahkan hasil yang konkrit dan cenderung hanya memberikan sebuah
jawaban yang melemparkan masalah ke dinas lain yang berkaitan, maka FKTMB
melakukan demonstrasi dengan cara menduduki pelataran depan kementrian
dalam negeri. Di dalam menjalankan aksi demonstrasi damai warga Tanah Merah
selalu mengupayakan cara-cara damai dan tidak berbuat keributan atau anarkis.
Hal ini dikarenakan para pemimpin pergerakan di organisasi tersebut telah
mensosialisasikan kepada warga Tanah Merah yang ikut berdemonstrasi agar
tertib dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang berujung pada bentrok dan
merugikan warga lainnya.
Gambar. 1.4
Gerakan 1000 BH (kiri) dan Pembangunan WC Umum Permanen (kanan) di Kemendagri
(Sumber:Foto Jurnalis Detik.com)
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
54
Pada masa demonstrasi membuat kamp-kamp di luar kantor kementerian
dalam negeri tersebut, peran organisasi ini terlihat kembali dengan mengatur dan
mengorganisir warga untuk bergantian berdemonstrasi, selama 20 hari tinggal di
kamp tersebut, pendemo selain melakukan yel-yel menuntut hak mereka yakni
KTP, organisasi ini juga meluncurkan ide-ide yang kreatif dalam menyampaikan
tuntutan mereka, terutama karena selama 20 hari mereka melakukan demo siang
dan malam di depan kantor kementrian, tidak ada respon dari pemerintah, seperti
aksi seribu bra, dan juga membangun sebuah jamban, yang merupakan sebagai
simbol dari kepengecutan dan kekotoran pemerintah pada saat itu dalam
merespons tuntutan warga nya sendiri. Meski pada akhirnya demonstrasi ini
dibubarkan paksa oleh satpol pp dan bangunan wc umum dan tenda-tenda
dibersihkan, namun bukan berarti perjuangan warga tanah merah berhenti sampai
disitu.
Di era menjelang berakhirnya kepememimpinan Fauzi Bowo dan
kampanye Pilkada Gubernur 2012 lah warga Tanah Merah mendapatkan angin
segar dari salah satu bakal calon Gubernur DKI yakni Joko Widodo, disitu Joko
Widodo menjanjikan akan memperjuangkan tuntutan yang diperjuangkan warga
tanah merah selama ini, yakni dengan memberikan KTP bagi warga di kampung
tersebut. FKTMB selaku pemimpin gerakan dengan aktif mengikuti dan
mendukung Joko Widodo sebagai calon gubernur baru Jakarta saat itu,
dikarenakan program-programnya sangat pro rakyat.
Peran pak Sugianto sebagai sesepuh di kampung tersebut juga ikut
mengambil peran penting sehingga pak Joko Widodo mau menyuarakan
kepentingan masyarakat tanah merah. Hal ini dikarenakan pak Sugianto sendiri
sudah mengenal pak Joko Widodo jauh sebelum pak Jokowi mencalonkan diri
sebagai Calon Gubernur Jakarta, dan disaat ia meminta dukungan dari Jokowi di
GOR Jakarta Utara saat kampanye pemilihannya, pak Jokowi diberikan berbagai
macam data-data mengenai sejarah Tanah Merah, dan perjuangan yang selama ini
dilakukan pak Sugianto dan FKTMB, maka disaat itu pak Jokowi mulai memiliki
keyakinan untuk memperjuangkan permintaan warga tanah merah akan KTP dan
RT&RW yang sah.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
55
Namun sebagai penggerak dari gerakan masyarakat tanah merah selama
ini, anggota FKTMB tidak begitu mudah percaya dengan janji-janji pemimpin
selama ini, namun karena warga tanah merah dan masyarakat pada umumnya
telah mengenal karakter Jokowi dan keberpihakan Jokowi dengan rakyat miskin,
maka pada saat kampanye putaran kedua tersebut organisasi FKTMB ikut
membantu mensosialisasikan agar warga tanah merah memilih Jokowi dalam
pilkada putaran ke dua DKI Jakarta saat itu. Namun tentu saja FKTMB tentu akan
menuntut janji-janji manis yang didengungkan oleh Jokowi saat kampanye
pilkada putaran kedua tersebut.
Gambar. 1.5
Karnaval Sedekah Untuk Bumi yang menggambarkan Persatuan dalam Keberanekaragaman
budaya bangsa (Sumber: Jurnalis Merdeka.com & Jurnalis Antara)
Pada saat kampanye pilkada putaran kedua dimana saat itu tersisa dua
calon yakni Fauzi Bowo dan Joko Widodo, muncul kampanye negatif berbau
SARA dari salah satu bakal calon Gubernur, dan hal ini ditanggapi FKTMB
dengan serius. Isu-isu pemecah persatuan itu dimentahkan oleh FKTMB dengan
melakukan aksi Pawai Karnaval yang bertajuk “Sedekah Bumi” yang berisikan
kegiatan long march warga Tanah Merah dari depan koramil dekat dengan pintu
masuk kampung tanah merah dari Plumpang, menuju ke Jalan Yos Sudarso,
dimana warga yang melakukan long march menggunakan baju adat daerah
masing-masing dan melakukan syukuran dengan mengarak nasi tumpeng sebagai
bentuk rasa kebersamaan dan menolak dengan keras isu-isu yang ingin memecah
belah opini masyarakat. Hingga proses pilkada putarak kedua selesai organisasi
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
56
tersebut dengan sigap mengatur agar warga Tanah Merah semuanya memilih pak
Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta yang baru.
Setelah terpilihnya Gubernur DKI yang baru yakni Jokowi, warga tanah
merah yang diwakili oleh FKTMB segera menuntut janji-janji gubernur baru
mereka saat kampanye dulu. Organisasi ini kembali mengatur masyarakat agar
melakukan demonstrasi kembali ke balai kota untuk menagih janji sang gubernur.
Dalam setiap gerakan demonstrasi yang dilakukan warga tanah merah, pihak
koordinasi lapangan dari FKTMB selalu menngatur barisan demonstran warga
tanah merah agar selalu tertib dan damai dalam berdemonstrasi.
Dari pihak FKTMB sendiri juga ikut membantu proses pengesahan pada
saat pembentukan kepengurusan RT dan RW, namun mengenai pemimpin yang
akan memimpin masing-masing warga di wilayah masing-masing, organisasi
tersebut menyerahkan penuh pilihan dan aspirasi warga untuk memilih perwakilan
dari RT dan RW masing-masing wilayah, agar nantinya para pengurus yang
terpilih oleh warganya sendiri, benar-benar mengerti betul permasalahan yang
dihadapi warga di wilayah tersebut dan dapat berkoordinasi dengan baik dan
melakukan sosialisasi bagi warganya masing-masing. Dalam proses pendataan itu
sendiri bukan berarti tanpa hambatan, dikarenakan banyaknya warga yang masih
memiliki KTP lama yang menembak dan memiliki alamat yang tidak jelas, maka
banyak dari warga yang diminta untuk mengikuti dan membuat KTP kembali dari
awal memlaulu prosedur yang sudah disosialisasikan kepada para pengurus RT
dan RW di kampung tanah merah tersebut. Salah satu tantangan disaat proses
pendataan tersebut hingga saat ini adalah bagaimana caranya agar dapat
mengkoordinasi warga saat setelah tujuan bersama mereka sudah tercapai, dan
bagaimana agar setiap wilayah di kampung tanah merah meskipun memiliki
lokasi dan pemimpin wilayah yang berbeda sekalipun dan mempunyai
karakternya masing-masing, tetapi dapat bersatu mementingkan kepentingan
bersama.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
57
Gambar. 1.6
Gubernur DKI Jakarta Jokowi dan Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiono beserta Jajaran berkunjung ke
Kampung Tanah Merah perihal Pelaksanaan Pemberian KTP dan Pengesahan RT & RW Warga Tanah
Merah. (Sumber: Kompas.com (Kiri) & Media Online Jakarta Utara (Kanan)
Akhirnya saat yang dinanti puluhan tahun pun tiba, Pak Jokowi ditemani
oleh Walikota Jakarta Utara, dan Dinas Kependudukan, serta dinas-dinas terkait
datang ke kampung Tanah Merah dan membicarakan mengenai realisasi
pemberian KTP sekaligus pengesahan RT dan RW di kampung Tanah Merah. Hal
tersebut disambut dengan gembira dan positif warga tanah merah yang saat itu
langsung mengerumuni rombongan pak Jokowi sekedar mengucapkan terima
kasih dan bersalaman, namun ada pula yang mengutarakan uneg-unegnya selama
tinggal di kampung tanah merah.
Gambar 1.7
Warga Tanah Merah sedang mengantri dalam proses pembuatan KTP oleh dinas dukcapil
Jakarta. (Sumber: Lensa Indonesia.com)
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
58
Pada akhir 2012, dimulailah pendataan bagi warga tanah merah yang akan
mendapatkan KTP sah yang sesuai dengan alamat mereka sekarang. Selain itu
pada bulan Januari 2013 sudah dibentuk RT & RW yang sah dan dibentuk
kepengurusan secara formal yang dihadiri oleh pejabat-pejabat terkait baik dari
pemerintah kota Jakarta Utara, dari pihak kecamatan, maupun pihak kelurahan.
Hal ini menunjukkan secara administratif keberadaan warga tanah merah Jakarta
Utara sudah mendapatkan pengakuan dari pemerintah daerah DKI Jakarta.
Hingga penulisan ini berlangsung FKTMB masih tetap berjalan dan
melakukan kegiatan-kegiatan rutinnya, dimana salah satunya yakni melakukan
pertemuan rutin bagi para pengurus wilayah masing-masing Kampung Tanah
Merah, agar meski saat ini para pengurus RT & RW sudah mulai disibukkan
dengan pendataan warga yang akan menerima KTP, namun secara kesatuan visi
dan misi pengurus Kampung Tanah Merah tetap dapat disatukan dan terus
berjalan berdampingan ke depannya.
Pak Sugianto sebagai sesepuh bersama Moh. Huda juga akan
merencanakan berbagai macam gerakan yang akan dilakukan oleh FKTMB dan
warga tanah merah untuk memperjuangkan kembali wilayah mereka, meskipun
disaat langsung ditanyakan kepada Pak Sugianto disaat wawancara, beliau
menolak untuk memberitahu rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh FKTMB
dan warga lainnya, hal ini dikarenakan akan menjadi bias apabila pergerakan itu
diberitahu disaat sekarang, dimana para pengurus RT dan RW masih disibukkan
dengan proses pendataan administrasi warga tanah merah agar memiliki KTP
yang jelas.
Selain itu organisasi ini juga akan memperjuangkan berbagai macam akses
ke fasilitas sosial dan fasilitas umum yang ada secara bertahap melalui
kepengurusan RT & RW masing-masing, agar kehidupan warga Tanah Merah
lebih terjamin kesejahterannya. Meski dalam pelaksanaannya saat ini belum
terlalu terlihat secara nyata gerakannya, karena sebagian besar dari pengurus
masing-masing wilayah kampung tanah merah masih fokus dengan pendataan
warga, namun jika proses tersebut sudah selesai, maka secara bertahap FKTMB
dan jajaran pengurus RT dan RW akan mengadakan komunikasi yang intens
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
59
dengan dinas-dinas pemerintah terkait dalam hal pengadaan fasos dan fasum dari
pemerintah daerah untuk warga kampung tanah merah, yang dimana akses
infrastruktur jalan dibeberapa bagian dari lokasi tersebut yang masih berbatu dan
seringkali timbul genangan jika hujan datang. FKTMB akan terus menemani
perjuangan warga tanah merah selalu ke depannya.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
60
BAB 5
ANALISIS PROSES GERAKAN SOSIAL TANAH MERAH
Konsep permukian kota yang dijelaskan di kerangka konseptual, ternyata
memang betul dan nyata terjadi di kota-kota di Indonesia. Di Jakarta sendiri, tanah
merah merupakan salah satu contoh bentuk dari validasi bahwa adanya pengaruh
dari kepentingan beragam kelompok yang menempati tanah merah.
Sedangkan definisi dari permukian liar yang dijelaskan dari Parsudi
Suparlan dan Basundoro & Sugoyo dapat terlihat pada permukiman Tanah Merah.
Hal ini dikarenakan pada awal adanya tanah merah, lokasi ini merupakan lokasi
lahan kosong yang merupakan milik dari negara, namun dengan tingkat kepadatan
penduduk Jakarta yang sangat tinggi dan terbatasnya perumahan bagi warga kelas
bawah, memaksa warga tanah merah yang saat ini menempati lokasi tersebut
untuk masuk ke lahan kosong tersebut dan mendirikan bangunan tempat tinggal.
Juga ketiga aspek yang mencirikan permukiman liar yakni minimnya fasum dan
fasos, tingkat pendapatan penduduk nya yang rata-rata masih rendah, dan status
tanah yang merupakan milik negara, ada dan merupakan karakteristik dari
permukiman tanah merah. Tingkat kepadatan yang tinggi dan tata ruang yang
masih belum direncanakan dengan baik juga terdapat dalam kondisi fisik di
permukiman tanah merah.
Terkait dengan pemaparan konsep yang dijabarkan di bab sebelumnya
mengenai kerangka konseptual, maka sejatinya pendapat dari Manual Castells
mengenai Aliansi yang dilakukan dengan Grass Root Movement terbukti pada
kasus Gerakan Legalisasi Permukiman Tanah Merah Jakarta Utara. Hal ini terlihat
dari bagaimana gerakan masyarakat yang merasa terabaikan dan merasa tidak
puas dengan keberadannya melakukan sebuah gerakan sosial yang dilakukan di
luar institusi formal, dalam hal ini dengan membentuk organisasi informal
FKTMB sebagai garda terdepan dalam memimpin dan menyuarakan aspirasi
warga Tanah Merah. FKTMB sendiri memiliki fungsi yang sangat beragam dalam
keseharian aktivitasnya, yakni fungsi kontrol, fungsi mediasi, dan fungsi
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
61
advokasi, yang menjadi kunci dalam keberlangsungan gerakan warga tanah
merah.
Selain itu perubahan dari “grassroot pressure” menjadi “grasroot power”
dapat dilakukan dengan adanya strategi dari organisasi FKTMB untuk melakukan
pendekatan kepada calon pemimpin Jakarta dimana saat itu Jokowi masih
berstatus sebagai calon Gubernur Jakarta. Strategi ini sangat berhasil dalam
membantu warga tanah merah dan FKTMB dalam mencapai tujuan utamanya,
yakni mendpatkan pengakuan yang sah dari pemerintahan Jakarta baru di periode
kepemimpinan Joko Widodo dan Basuki yang akan memimpin Jakarta selama
lima tahun ke depan.
Proses kerja sama yang dibangun oleh FKTMB dengan organisasiorganisasi lain yang memiliki kesamaan pandangan mengenai perjuangan dan
perlindungan warga akan tempat tinggalnya juga sesuai dengan konsep dan
pemikiran Castells mengenai Aliansi. Menurut Castells, aliasni akan terjadi
apabila ada jalinan kerja sama dari sebuah organisasi dalam suatu masyarakat
dengan pihak dari luar, seperti: LSM, Organisasi sejenis, Yayasan, dll). Di tanah
merah sendiri FKTMB mendapatkan banyak manfaat dengan proses kerja sama
dan masuk ke dalam jaringan organisasi tersebut, karena mereka akan banyak
mendapatkan sumber daya yang sangat penting, seperti jaringan, informasi, dan
strategi dalam melakukan pergerakan di dalam masyarakat.
Mengenai konsep mobilisasi yang dipaparkan oleh Tilly yang merupakan
bagian dari tahapan social movement, benar teruji dan terbukti di lapangan,
dimana pergerakan warga tanah merah merupakan sebuah gerakan sosial yang
menginginkan adanya perubahan yakni dari penduduk yang selama ini dianggap
ilegal, sekarang dianggap legal secara administratif, meski memang masalah tanah
yang ditinggali oleh warga masih belum selesai. Konsep Mobilisasi ini menurut
Tilly selain dapat terjadi karena adanya pemimpin gerakan yang memperjuangkan
nilai-nilai dasar dari gerakan dalam masyarakat tersebut, juga terutama sangat
bergantung dari sumber daya manusia yang ada di dalam sebuah organisasi yang
akan menjadi penggerak dari gerakan sosial.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
62
BAB 6
PENUTUP
6.1 Kesimpulan Gerakan Sosial yang terjadi di Permukiman Liar Kampung
Tanah Merah
Dalam memobilisasi masyarakat tanah merah di era tahun 2000an hingga
saat ini, FKTMB memiliki peranan yang tidak tergantikan sebagai otak dan mesin
bagi munculnya gerakan sosial di kampung tanah merah. Dengan kepengurusan
yang terwaiki dari masing-masing wilayah, dan kaderisasi yang diambil dari
relawan-relawan generasi muda dari kampung tersebut, maka organisasi ini secara
praktis dan informal menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak
warga tanah merah.
Dari berbagai deksripsi dan analisa yang sudah dipaparkan diatas, maka
penulis menyimpulkan bahwa gerakan sosial yang terjadi di tanah merah
merupakan sebuah gerakan sosial yang murni datang dari warga yang bertempat
tinggal di sana, namun dalam proses perjuangannya, muncullah para pemimpinpemimin informal yang dianggap berpengaruh dan mampu mendapatkan suara
dari warganya yang kemudian diangkat menjadi pengurus RT dan RW setempat.
Selain itu gerakan sosial ini juga semakin dapat terorganisir dengan pembentukan
Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu (FKTMB) yang merupakan organisasi
perwakilan dari pengurus-pengurus Kampung Tanah Merah, yang berfunsi
mengatur jalannya gerakan sosial, dan melakukan pengadaan sumber dana yang
ditarik secara swadaya ke masing-masing warga tanah merah demi kepentingan
dan tercapainya tujuan bersama.
6.2 Saran
Bagi
masyarakat
tanah
merah,
yakni
agar
kedepannya
tetap
mengutamakan upaya-upaya komunikasi secara damai dengan pemerintah
setempat sebelum melakukan demonstrasi, agar apapun yang akan disuarakan
masyarakat dapat terserap dan diwakilkan ke pengurus-pengurus RT dan RW
masing-masing wilayah.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
63
Bagi pemerintah, agar dalam menangani permasalahan permukiman agar
lebih bijaksana dalam mengambil keputusan, dimana apabila suatu saat nanti
dilakukan penggusuran sekalipun, harus ada komunikasi secara mendalam dan
intens dengan warga, dan pemerintah harus siap menyediakan lokasi baru sebagai
tempat relokasi dari warga tanah merah di masa yang akan datang.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
64
DAFTAR PUSTAKA & LAMPIRAN
Buku:
Castells, Manuel. (1977). The Urban Question: A Marxist Approach. London:
The Pitman Press. hal 423.
Evers, Hans Dieter., & Korff Rudiger. (2002). Urbanisme Di Asia Tenggara,
Makna Dan Kekuasaan Dalam Ruang Ruang Sosial. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia. hal.13; 20.
Giddens, Anthony. (2009). Sociology 6th Edition. Polity Press: Cambridge. hal.
208; 216; 1012.
Henslin, M. James. (2008). Sociology, A Down To Earth Approach. Boston:
Pearson. hal 636; 646.
Macionis, J. John. (2008).
Sociology, Twelfth Edition. New Jersey: Person
Prentice Hall. hal. 615.
Ramli, Rusli. (1992). Sektor Informal Perkotaan Pedagang Kaki Lima. Jakarta:
Ind Hill.Co
Scott, John. (2012). Teori Sosial, Masalah-Masalah Pokok dalam Sosiologi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hal 349 – 351.
Soekanto, Soerjono. (1990). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada. hal 164.
Soemantri R, Gumilar. (2007).
Migration Within Cities, A Study of Socio-
economic Proecesses, Intra-city Migration, and Grass-roots Politics in Jakarta.
Depok: LP FEUI. hal. 28 – 31.
Sugijanto Soegijoko, Budhy Thahjati. (2005). Bunga Rampai Kota Indonesia
Dalam Abad 21, Konsep dan Pendekatan Pembangunan Perkotaan di Indonesia.
Jakarta: Urban and Regional Development Institute dan Yayasan Sugijanto
Soegijoko. hal 200.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
65
Sunarto, Kamanto. (2004). Pengantar Sosiologi Edisi Revisi. Depok: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. hal. 195 – 199.
Suparlan, Parsudi. (1996). Diktat Antroplogi Perkotaan. Antropologi FISIP UI.
Triwibowo, Darmawan. (2006). Gerakan Sosial, Wahana Civil Society Bagi
Demokratisasi. Jakarta: LP3ES. hal. 157.
Jurnal:
Ahsan, Reazul., & Quamruzzaman, & J.M. (2009). Informal Housing and
Approaches towards the Low Income Society In Developing Cuntries. Univesity
of South Australia.
Karya Akademis:
Danu Putra, Putu Jayan. (1999). Etnografi Keteraturan Kehidupan Sosial
Masyarakat Miskin Yang Tinggal Di Permukiman Kumuh Liar Di Wilayah Tanah
Merah Kampung Beting RW18 Kelurahan Tugu Utara Kecamatan Koja Jakarta
Utara. Program Studi Kajian Ilmu Kepolisian. Tesis Universitas Indonesia.
Gauzal, Muhamad. (2006). Proses Pemukiman Liar, Dinamika Sosial Dibalik
Keberadaannya. FT UI - Teknik Arsitektur. Tesis Universitas Indonesia.
Herlijanto, Johanes. (2002). Berjuang Melawan Diskriminasi: Studi Kasus Pada
Gerakan Sosial Orang Indonesia Keturunan Tionghoa. FISIP UI - Sosiologi.
Tesis Universitas Indonesia.
Ngadisah. (2002). Gerakan Sosial Di Kabupaten Mimika (Studi Kasus Tentang
Konflik Pembangunan Proyek Pertambangan Freeport. FISIP UI - Sosiologi.
Disertasi Universitas Indonesia.
Sunindyo, Saraswati. (1981). Skripsi: Kampung Sawah, Studi Eksploratif Tentang
Perkampungan Liar di Jakarta. FISIP UI - Sosiologi. Skripsi Universitas
Indonesia.
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
66
Situs Web Internet:
http://www.bps.go.id/
http://properti.kompas.com/index.php/read/2013/05/13/11071635/Ngeri.Harga.Ru
mah.Mulai.Tak.Terkendali.
http://seputar-marhaenis.blogspot.com/2012/04/perjuangan-rakyat-tanah-merahdari-aksi.html
http://urb.im/blog/rtjk/130418i
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
LAMPIRAN I
Pedoman Wawancara Untuk Pengurus RT & RW Tanah Merah:
1. Bagaimana proses gerakan yang selama ini terjadi di Tanah Merah?
2. Apa yang dilakukan kepengurusan RT & RW dalam proses gerakan sosial?
3. Permasalahan apa yang selama ini sering ditemui di dalam kehidupan warga tanah merah
sehari-hari?
4. Bagaimana Komunikasi yang dilakukan dengan pihak pemerintah jakarta baik dari tingkat
kelurahan, kecamatan dan walikota setelah pengesahan RT & RW serta penerbitan KTP bagi
warga tanah merah?
5. Bagaimana kerja sama dan koordinasi antara sesama pengurus RT dan RW di kampung
Tanah Merah?
Pedoman Wawancara Untuk Pemimpin Organisasi di Tanah Merah:
1. Bagaimana Sejarah awal terjadinya pegerakan di Tanah Merah?
2. Apa yang menjadi dasar dan tujuan didirikannya organisasi di tanah merah?
3. Mengapa Organisasi dibutuhkan di tanah merah?
4. Bagaimana kegiatan dan program yang dilakukan organisasi selama ini?
5. Siapa yang terpilih menjadi pengurus dari organisasi dan bagaimana struktur organisasi?
Pedoman Wawancara Untuk Masyarakat Warga Tanah Merah:
1.Apa yang menjadi tuntutan masyarakat selama ini?
2. Bagaimana upaya yang dilakukan oleh warga untuk mencapai tuntutan tersebut?
3. Apakah munculnya organisasi membantu warga dalam menyuarakan aspirasinya?
4. Apakah yang dirasakan warga saat sebelum dan sesudah diakui oleh pemda Jakarta?
5. Bagaimana harapan warga ke depannya mengenai tempat tinggal saat ini?
xiii
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
LAMPIRAN II
Kantor RW 07 Kampung Tanah Merah – Jakarta Utara
(Sumber: Dokumen Pribadi Penulis)
Pengunguman Mengenai Prosedur Untuk Pendataan KTP bagi warga Tanah Merah
(Sumber: Dokumen Pribadi Penulis)
xiv
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
Pak Sueb (Ketua RW 07 Kampung Tanah Merah – Kelurahan Tugu Selatan) saat selesai wawancara
(Sumber: Dokumen Pribadi Penulis)
Moh. Huda Ketua FKTMB (Tengah), Herman Sekretaris FKTMB (Kanan), MochtarDiv. Advokasi(Kiri)
(Sumber: Dokumen Pribadi Penulis)
xv
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
Posko Induk Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu
(Sumber: Dokumen Pribadi Penulis)
Pak Sugianto, Sesepuh Tanah Merah, Penggerak Gerakan Awal Tanah Merah, Ketua RW 8, Pendiri FKTMB
(Sumber: Dokumen Pribadi Penulis)
xvi
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
LAMPIRAN III
Transkrip Wawancara:
Informan 1:
Nama Informan: Sueb
Jenis Kelamin: Laki-Laki
Jabatan: Ketua RW 07 Tanah Merah
LokasiWawancara: Kantor RW 07
Waktu Wawancara: 28 Mei 2013 Pkl. 11.00 s/d 11.45
T: Permisi pak, selamat siang, saya dari UI sedang mengadakan penelitian mengenai tanah
merah, boleh minta waktunya untuk bertanya mengenai kampung tanah merah?
J: iya silahkan
T: bagaimana sih kalau bapak deskripsikan tentang gerakan sosial yang terjadi kampung
tanah merah selama ini?
J: iya jadi pertama-tama kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada
pemerintah DKI Jakarta, yang telah memberikan perhatian yang luar biasa kepada warga
kami, yang sudah lama menanti-nanti kesempatan ini. Artinya gerakan-gerakan atau
kebiasaan-kebiasaan yang sudah di lakukan oleh kawan-kawan masyarakat mendapatkan
respon yang baik dari pemerintah. Kami juga tetap melakukan komunikasi kepada
pemerintah sangat di sambut baik oleh pemda. Dan kami dari pengurus rt dan rw saat ini
berkomitmen dengan adanya peresmian rt dan rw dan juga diterbitkannya ktp tugas kami ini
ke depannya akan lebih berat. Kami akan melakukan suatu masukan kepada warga kita yang
selama ini dikatakan lepas dari kesapakatan atau aturan-aturan yang ditetapkan pemerintah,
dengan adanya peresmian rt dan rw serta diterbitkannya ktp, kita memiliki kewajiban untuk
mengikuti aturan-aturan yang sudah ada.
T: tanah merah ini secara administratif terdiri dari berapa wilayah pak?
J: jadi tanah merah ini terdiri atau masuk ke dalam 3 kelurahan, yakni kelurahan Tugu
Selatan, Kelurahan Rawa Badak Selatan, dan Kelurahan Kelapa Gading Barat. Kalau tugu
xvii
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
selatan sendiri terdiri terdiri dari 1 rw yang memiliki 22 rt, kemudian di rawa badak selatan
ada 3 rw yang sat ini sedang ada pemekaran, dan di rawa sengon ada satu rw.
T: selama proses penerbitan ktp apakah ada masalah di lapangan pak?
J: iya sejauh ini belum ada masalah yang terlalu signifikan, namun ada warga yang ber-ktp
daerah dan warga yang belum ber ktp. harus mengkuti prosedur dari dukcapil, dimana harus
mengisi blanko formulir sesuai dengan aturannya. Seringkali di lapangan ada warga yang
mengalami kesulitan dan kesalahpahaman. Tapi kami sudah komunikasikan, dan kami akan
berusaha memberikan pelayanan yang terbaik.
T: apakah prose pemberikaan ktp akan mengarah ke e-ktp?
J: sepertinya akan seperti itu karena memang program pemerintah akan menuju ke arah
tersebut, jadi memang sekarang ini ada beberapa warga yang sudah memiliki ktp namun
dengan alamat yang tidak benar karena proses nembak, maka harus membuat kembali ktp
sesuai dengan prosedur dan data yang benar.
T: bagaimana fungsi rt dan rw dalam menjembatani aspirasi warga, apakah di salurkan
melalui kepengurusan rt dan rw atau turun langsung dalam melakukan gerakan sosial?
J: jadi memang sebelumnya diresmikan rt dan rw, itu memang sudah terbentuk apa yang
namanya rt dan rw bayangan. Jadi memang pada masa itu aspirasi warga tentang
permasalahan tanah dan kependudukan diupayakan di selesaikan oleh organisasi yang ada
dan gerakan dari para tokoh masyarakat, sedangkan pengurus rt dan rw menyelesiakan
permasalahan yang sifatnya (06:45).
xviii
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xix
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xx
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xxi
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xxii
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xxiii
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xxiv
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xxv
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xxvi
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xxvii
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xxviii
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xxix
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
xxx
Universitas Indonesia
Gerakan sosial ..., Carlos Roy Fajarta, FISIP UI, 2013
Download