BAB I PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan sebuah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
Negara Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan (archipelagic
state) yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau dengan kekayaan alam melimpah
di berbagai sektor sumber daya alam. † Selain negara kepulauan Indonesia
merupakan negara kelautan dan wilayah perairannya lebih luas daripada wilayah
daratannya. Indonesia sendiri mempunyai perairan laut seluas 5,8 juta km2 yang
terdiri dari perairan kepulauan dan teritorial seluas 3,1 juta km2 serta perairan
Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) seluas 2,7 juta km2 dengan potensi
lestari sumber daya ikan sebesar 6.11 juta ton per tahun. ‡ Perairan kepulauan,
perairan teritorial maupun zona Ekonomi Eksklusif memiliki banyak kekayaan
alam hayati maupun non hayati yang dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan suatu
bangsa untuk mencapai kesejahteraan warga negaranya.
Berdasarkan luas perairan laut tersebut di atas, maka secara langsung
Indonesia memiliki kedaulatan dan yurisdiksi atas wilayah perairannya serta
kewenangan dalam rangka menetapkan ketentuan yang berkaitan dengan
pemanfaatan sumber daya perikanan baik untuk kegiatan penangkapan maupun
pembudidayaaan ikan sekaligus meningkatkan kemakmuran dan keadilan guna
pemanfaatan sebesar-besarnya bagi kepentingan bangsa dan negara dengan tetap
memperhatikan prinsip kelestarian sumber daya perikanan dan lingkungan serta
kesinambungan pembangunan perikanan nasional. Potensi sumber daya laut
†
Muhammad Faiz Aziz, 2014, Presiden Baru Dan Penyelesaian Batas Kelautan (online),
http://pshk.or.id/site/?q=id/content/presiden-baru-dan-penyelesaian-sengketa-batas-kelautan
(10
Maret 2015).
‡
Siti
Puspita,
2014, Makalah
Ekosistem
Perairan( online),
0, http://sitipuspitas.wordpress.com/2014/03/ (10 Maret 2015).
Indonesia menjadi modal dasar dalam upaya mensejahterahkan rakyat termasuk
kekayaan sumber daya perikanan dan biota laut lainnya sebagai bahan pangan
atau untuk flora-fauna hias. Potensi lestari perikanan laut Indonesia ditaksir
sekitar 6,4 juta ton. Isu pokok dalam pengelolaan sumber daya kelautan dari
dahulu sampai sekarang masih berkutat pada persoalan yang sama, yakni
penangkapan ikan ilegal oleh nelayan asing, tindakan perusakan atau eksploitasi
berlebihan terhadap sumber daya kelautan baik oleh nelayan lokal maupun asing,
pencemaran laut, penyelundupan, perdagangan illegal di laut, dan sengketa batas
wilayah teritorial dengan negara tetangga maupun batas wilayah antar-provinsi
atau kabupaten §.
Konsep Indonesia tentang zona ekonomi eksklusif (ZEE) diawali dengan
paham wawasan nusantara yang termuat dalam Deklarasi Djuanda 1957 yang
kemudian dituangkan dalam UU No 4/Prp./1960 tentang Perairan, yang
menyatakan bahwa
Teritorriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie
1939 diganti dengan Wawasaan Nusantara atau Archipelago Principle. Paham ini
diperjuangkan dalam berbagai konferensi laut internasional antara lain dalam
Konferensi Jenewa tahun 1977. Konferensi ini berhasil menyusun konsep satu
paket persetujuan umum, yang dikenal sebagai Informal Compesite Negotiating
Text (ICNT). Walau bukan persetujuan resmi, namun ICNT menjadi referensi
penting dalam perundingan-perundingan selanjutnya mengenai hukum laut.
Melalui Konferensi itu telah diakui prinsip wilayah laut teritorial yang lebarnya
12 mil ditambah 188 mil Zona Ekonomi, sehingga seluruhnya berjumlah 200 mil
dihitung dari garis dasar laut negara bersangkutan. Kemudian pengumuman
§
http://hallo-indonesia.blogspot.com/2012/09/strategi-maritim-indonesia.html Diakses
pada tanggal 23 Maret 2015 pukul 15.00 WIB
tentang zona ekonomi eksklusif Indonesia dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia
tanggal 21 Maret 1980. **
Wilayah laut Indonesia yang berada dalam
Zona Ekonomi Eksklusif
merupakan wilayah laut yang mempunyai potensi kekayaan yang terbesar bagi
Indonesia. Berdasarkan hal tersebut pentingnya potensi-pontensi sumber kekayaan
di laut pemerintah telah mengeluarkan berbagai jenis produk hukum dalam
mengatur, melindungi serta melakukan penegakan hukum di wilayah perairan
Indonesia khususnya di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1983 tentang ZEEI
serta produk-produk hukum terkait untuk melindungi wilayah ZEEI. Wilayah laut
Indonesia memiliki nilai strategis dalam segala bidang politik, hukum, ekonomi,
sosial budaya serta pertahanan dan keamanan. Menciptakan wilayah laut yang
aman, lestari, menjaga serta memanfaatkan segala potensi besar yang dimiliki
oleh laut Indonesia merupakan hal terpenting dan mutlak harus dilakukan oleh
pemerintah Indonesia untuk sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran
rakyat. Potensi-potensi kekayaan laut Indonesia yang ada di ZEEI sudah pasti
menarik pelaku-pelaku tidak bertanggung jawab untuk mengambil kekayaan
tersebut, ini dapat dirasakan dengan adanya kasus-kasus penyimpangan di wilayah
perairan Indonesia yang sering terjadi, salah satunya adalah meningkatnya kapal
penangkap ikan asing juga lokal yang tidak memiliki izin yang masuk ke wilayah
perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) yang tentu sangat merugikan
Negara Indonesia juga merugikan rakyat.
**
Agis Ardhiansyah, 2008, Pengelolaan Dan Pelestarian Sumber Daya Alam Di Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia (Online), https://ciils.wordpress.com/2008/04/20/pengelolaan-danpelestarian-sumber-daya-alam-di-zeei/ (11 Maret 2015).
Berdasarkan hal tersebut menuntut pemerintah untuk melaksanakan dan
melakukan perlindungan serta penegakan hukum untuk menjaga eksistensi
Indonesia sebagai negara maritim di mata dunia. Langkah apapun yang ditempuh
oleh Indonesia tentu saja harus mengacu pada sumber-sumber hukum yang
berlaku. Dikarenakan wilayah perbatasan Indonesia meliputi wilayah laut
(teritorial) maka dari itu sumber atau kaidah hukum yang dapat dijadikan acuan
atau landasan adalah hukum laut internasional yang diantaranya adalah Konvensi
Hukum Laut 1982 atau ketentuan-ketentuan hukum laut lainnya yang mengatur
tentang batas laut wilayah suatu negara .
Berdasarkan UNCLOS 1982 yang berlaku sejak 16 November 1994,
konsepsi archipelagic state yang diperjuangkan oleh bangsa Indonesia sejak
Deklarasi Juanda tahun 1957, dan kemudian dituangkan dalam UU No. 4 Prp
tahun 1960 dan akhirnya diakui oleh dunia internasional. UNCLOS juga menjadi
landasan hukum terkait penarikan lebar laut wilayah, zona tambahan, zona
ekonomi eksklusif dan landas kontinen. Persoalan banyaknya kapal asing yang
masuk ke wilayah perairan laut Indonesia tidak lepas dari potensi laut Indonesia.
Posisi Indonesia yang sangat strategis menjadi daya tarik bagi kekuatan asing
untuk memanfaatkan laut secara ilegal.
Salah satu lokasi yang berpotensi besar dijadikan sebagai lokasi
masuknya kapal asing untuk melakukan pencurian terhadap hasil laut Indonesia
adalah perairan Anambas dan Natuna. Banyaknya kapal asing yang melakukan
pencurian ini mengakibatkan masyarakat Anambas yang 90% bekerja sebagai
nelayan merugi. Kapal asing yang digunakan dalam pencurian hasil laut tersebut
biasanya menggunakan kapal-kapal besar dengan pukat harimau sebagai alat
penangkap hasil laut tersebut. Pencurian ikan ini dilakukan secara besar-besaran
dan pukat harimau yang digunakan kapal asing tersebut dapat merusak kelestarian
bawah laut perairan tersebut dan mengakibatkan kerugian yang besar bagi Negara.
Melalui kasus ini penulis terdorong untuk meneliti permasalahan mengenai
pengaturan atas eksploitasi sumber daya perikanan di wilayah laut Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE) oleh kapal asing menurut hukum internasional dan menurut
hukum nasional serta penegakan hukum atas eksploitasi sumber daya perikanan di
wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) oleh kapal asing menurut hukum
nasional dan hukum internasional diikuti dengan upaya penyelesaian sengketa
hukum laut.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan
mengenai pengeksploitasian sumber daya alam di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
tersebut dengan mengangkat judul : TINDAKAN EKSPLOITASI SUMBER
DAYA
PERIKANAN
DI
EKSKLUSIF (ZEE) OLEH
WILAYAH
KAPAL
LAUT
ZONA
EKONOMI
ASING MENURUT
HUKUM
INTERNASONAL.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaturan atas eksploitasi sumber daya perikanan di wilayah
laut ZEE oleh kapal asing menurut Hukum Internasional ?
2. Bagaimana pengaturan atas eksploitasi sumber daya perikanan di wilayah
laut ZEE oleh kapal asing menurut Hukum Nasional ?
3. Bagaimana penegakan atas eksploitasi sumber daya perikanan di wilayah
laut ZEE oleh kapal asing menurut Hukum Internasional dan Nasional ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penulisan
Berdasarkan rumusan permasalahan diatas, tujuan yang ingin dicapai
dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaturan atas eksploitasi sumber daya perikanan di
wilayah laut ZEE oleh kapal asing menurut Hukum Internasional.
2. Untuk mengetahui pengaturan atas eksploitasi sumber daya perikanan di
wilayah laut ZEE oleh kapal asing menurut Hukum Nasional.
3. Untuk mengetahui penegakan atas eksploitasi sumber daya perikanan di
wilayah laut ZEE oleh kapal asing menurut Hukum Nasional.
2. Manfaat Penulisan
Seperti pada umumnya dalam setiap penulisan skripsi pasti ada manfaat
yang dapat diambil dari penelitian yang dilakukan dalam penulisannya. Manfaat
secara umum yang dapat diambil dalam penulisan skripsi ini terdiri dari manfaat
yang bersifat teoritis dan manfaat yang bersifat praktis.
a. Manfaat teoritis
Manfaat teoritis dari penulisan skripsi ini adalah untuk menambah
pengetahuan dalam mendalami dan mempelajari hukum internasional
khususnya hukum laut internasional serta dapat bermanfaat untuk
memperluas wawasan mengenai penegakan atas eksploitasi sumber daya
perikanan di wilayah laut ZEE oleh kapal asing menurut Hukum
Internasional.
b. Manfaat praktis
Manfaat praktis dari penulisan skripsi ini adalah menjadi acuan dalam
kerangka berpikir bagi upaya dan solusi penyelesaian di wilayah laut Natuna
Anambas, Riau.
D. Keaslian Penulisan
Judul skripsi ini ialah “Penegakan Hukum atas Eksploitasi Sumber Daya
Perikanan di Wilayah
Laut ZEE oleh Kapal Asing menurut Hukum
Internasional”. Penelitian difokuskan pada cara penegakkan hukum yang paling
tepat atas eksploitasi sumber daya alam di wilayah laut ZEE oleh kapal asing
menurut Hukum Internasional. Skripsi ini ditulis berdasarkan ide, gagasan, serta
pemikiran Penulis dengan menggunakan berbagai referensi, sehingga bukan dari
hasil penggandaan karya tulis orang lain dan oleh karena itu keaslian skripsi ini
dapat dipertanggungjawabkan. Penulisan skripsi ini juga diperoleh dari bukubuku, jurnal ilmiah, media cetak dan media elektronik. Jika ada kesamaan dan
kutipan, hal itu semata-mata digunakan sebagai referensi dan penunjang yang
Penulis perlukan dalam penyempurnaan penulisan skripsi ini.
E. Tinjauan Kepustakaan
1. Pengertian Zona Ekonomi Eksklusif
Hubungan-hubungan internasional yang dilakukan antar negara tidak
selamanya berlangsung dengan baik. Seringkali hubungan menimbulkan
perselisihan di antara keduanya. Perselisihan dapat bermula dari berbagai hal
berupa perbatasan, eksploitasi sumber daya alam oleh kapal asing, kerusakan
lingkungan, dan lain-lain. Pada zona ekonomi eksklusif (ZEE) sering terjadi
eksploitasi sumber daya alam oleh kapal asing yang sangat merugikan negara,
oleh karena itu, penegakan hukum yang tegas dari hukum internasional dan
nasional sangat berperan penting di dalamnya.
Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) adalah suatu zona selebar tidak lebih dari
200 mil laut dari garis pangkal. Di zona ini negara pantai memiliki hak-hak
berdaulat yang eksklusif untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi sumber
kekayaan alam serta yurisdiksi tertentu terhadap :
a. Pembuatan dan pemakaian pulau buatan, instalansi dan bangunan;
b. Riset ilmiah kelautan;
c. Perlindungan dan pelestarian lingkungan laut; ††
2. Pengertian Sumber Daya Alam
Sumber daya adalah suatu nilai potensi yang dimiliki suatu materi atau
unsur tertentu dalam kehidupan. Sumber daya tidak selalu bersifat fisik tetapi
juga non-fisik.
Sumber daya ada yang dapat berubah (berubah ke bentuk yang lain, baik
menjadi semakin besar maupun hilang maupun ada pula sumber daya yang kekal
(selalu tetap). Sumber daya hayati adalah salah satu sumber daya dapat pulih
(renewable resources). Sumber daya hayati secara harafiah dapat diartikan
sebagai sumber daya yang mempunyai kehidupan dan dapat mengalami
††
Sefriani, Hukum Internasional suatu pengantar, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
2010. Hlm. 215-216
kematian. Jenis-jenis sumber daya non-hayati diantaranya adalah bahan mineral,
air dan udara.
Macam-macam Sumber Daya Alam
Sumber daya alam dapat dibedakan berdasarkan sifat, potensi, dan
jenisnya.
a. Berdasarkan sifat
Menurut sifatnya, sumber daya alam dapat dibagi 3, yaitu sebagai berikut :
1. Sumber daya alam yang terbarukan (renewable), misalnya: hewan,
tumbuhan, mikroba, air dan tanah. Disebut terbarukan karena dapat
melakukan reproduksi dan memiliki daya regenerasi (pulih kembali).
2. Sumber daya alam yang tidak terbarukan (non-renewable), misalnya :
minyak tanah, gas bumi, batu tiara dan bahan tambang lainnya.
3. Sumber daya alam yang tidak habis, misalnya : udara, matahari, energi
pasang surut, energi laut.
b. Berdasarkan potensi
Menurut potensi penggunaannya, sumber daya alam dibagi beberapa
macam, antara lain sebagai berikut :
1. Sumber daya alam materi, merupakan sumber daya alam yang
dimanfaatkan dalam bentuk fisiknya, misalnya : batu besi, emas, kayu,
serat kapas, rosela, dan sebagainya.
2. Sumber daya alam energi, merupakan sumber daya alam yang
dimanfaatkan energinya, misalnya : batu bara, minyak bumi, gas bumi, air
terjun, sinar matahari, energi pasang surut, kincir angin, dan lain-lain.
3. Sumber daya alam ruang, merupakan sumber daya alam yang berupa
ruang atau tempat hidup, misalnya : area tanah (daratan) dan angkasa.
c. Berdasarkan Jenisnya
Menurut jenisnya, sumber daya alam dibagi dua sebagai berikut :
1. Sumber daya alam non-hayati (abiotik); disebut juga sebagai sumber daya
alam fisik, sumber daya alam yang berupa benda-benda mati, misalnya :
bahan tambang, tanah, air, dan kincir angin.
2. Sumber daya alam hayati (biotik); merupakan sumber daya alam yang
berupa mahluk hidup, misalnya : hewan, tumbuhan, mikroba, dan
manusia. ‡‡
3. Pengertian Kapal Asing
Pasal 1 Angka 39 UU Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran
menyatakan bahwa kapal asing adalah kapal yang berbendera selain bendera
Indonesia dan tidak dicatat dalam daftar kapal Indonesia. §§ Pada kapal asing
terdapat aturan Hak lintas damai yang harus dipatuhi oleh setiap kapal. Hak lintas
damai sesuai dengan Pasal 18 dan 19 UNCLOS 1982 memiliki pengertian sebagai
berikut:
Lintas berarti navigasi melalui laut teritorial untuk keperluan melintasi laut tanpa
memasuki perairan pedalaman atau singgah di tempat berlabuh di tengah laut
(roadstead) atau fasilitas pelabuhan di luar perairan pedalaman.
Lintas harus dilaksanakan secara terus menerus, langsung serta secepat
mungkin, namun demikian lintas mencakup berhenti dan buang jangkar, tetapi
‡‡
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/196006151988031JUPRI/SUMBER_DAYA_ALAM_Drs._Jupri,_MT.pdf Diakses pada tanggal 26 April 2015
pukul 18:00 WIB.
§§
http://penelitihukum.org/tag/pengertian-kapal-asing/ Diakses pada tanggal 28 Maret
2015 pukul 17.05 WIB
hanya sepanjang hal tersebut berkaitan dengan navigasi yang lazim atau perlu
dilakukan karena force majeure atau mengalami kesulitan atau guna memberikan
pertolongan kepada orang, kapal atau pesawat udara yang dalam bahaya atau
kesulitan.
4. Pengertian Hak Lintas Damai
Suatu lintas disebut lintas damai sesuai dengan Pasal 19 UNCLOS 1982
adalah sepanjang tidak merugikan bagi kedamaian, ketertiban atau keamanan
Negara pantai.
Bentuk bentuk lintas yang merugikan bagi kedamaian, ketertiban atau
keamanan Negara Pantai terdiri dari:
1. setiap ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan, keutuhan
wilayah atau kemerdekaan politik Negara pantai, atau dengan cara lain
apapun yang merupakan pelanggaran asas hukum internasional sebagaimana
tercantum dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa;
2. setiap latihan atau praktek dengan senjata macam apapun;
3. setiap perbuatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang
merugikan bagi pertahanan atau keamanan Negara pantai;
4. setiap perbuatan propaganda yang bertujuan mempengaruhi pertahanan atau
keamanan Negara pantai;
5. peluncuran, pendaratan atau penerimaan setiap pesawat udara di atas kapal;
6. peluncuran, pendaratan atau penerimaan setiap peralatan dan perlengkapan
militer;
7. bongkar atau muat setiap komoditi, mata uang atau orang secara bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan bea cukai, fiskal, imigrasi atau saniter
Negara Pantai;
8. setiap perbuatan pencemaran dengan sengaja dan parah yang bertentangan
dengan ketentuan Konvensi ini;
9. setiap kegiatan perikanan;
10. kegiatan riset atau survey;
11. setiap perbuatan yang bertujuan mengganggu setiap sistem komunikasi atau
setiap fasilitas atau instalasi lainnya Negara pantai;
12. setiap kegiatan lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan lintas
Pelaksanaan lintas damai ada ketentuan khusus bagi kapal selam yaitu
lainnya diharuskan melakukan navigasi di atas permukaan air dan menunjukkan
benderanya sesuai dengan Pasal 20 UNCLOS 1982.
Pelaksanaan Hak Lintas Damai ini, suatu Negara pantai, tanpa
diskriminasi formil atau diskriminasi nyata di antara kapal asing, dapat
menangguhkan sementara dalam daerah tertentu laut teritorialnya lintas damai
kapal asing apabila penangguhan demikian sangat diperlukan untuk perlindungan
keamanannya, termasuk keperluan latihan perang /senjata. Namun harus ada
pemberitahuan terlebih dahulu sebagaimana diatur dalam Pasal 25 UNCLOS
1982. ***
F. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
***
http://ranggiwirasakti.blogspot.com/2014/07/perbedaan-antara-hak-lintas-damaidan.html Diakses pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 22:39 WIB
Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif. Pendekatan
yuridis normatif adalah pendekatan yang melakukan analisa hukum atas peraturan
perundang-undangan dan keputusan hakim dalam penulisan ini pendekatan
yuridis normatif digunakan untuk meneliti norma-norma hukum yang berlaku
yang mengatur tentang kedaulatan suatu negara di wilayah laut dan upaya
penyelesaian sebagaimana yang terdapat dalam perangkat hukum internasional
maupun perjanjian internasional.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian bersifat deskriptif yaitu metode
penelitian yang menggambarkan semua data yang kemudian dianalisis dan
dibandingkan berdasarkan kenyataan yang sedang berlangsung dan selanjutnya
mencoba memberikan pemecahan masalahnya.
2. Sumber Data
Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat yang
merupakan landasan utama yang digunakan dalam penelitian ini. Bahan
hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah Piagam PBB 1945,
Konvensi Hukum Laut 1982.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang menunjang dan memberi
penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti buku-buku, jurnal ilmiah
dan pendapat para ahli hukum internasional.
c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan yang memberi petunjuk maupun
penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, misalnya kamuskamus (hukum), ensiklopedia, indeks kumulatif, dan sebagainya. Agar
diperoleh informasi yang terbaru dan berkaitan erat dengan permasalahannya,
maka kepustakaan yang dicari dan dipilih harus relevan dan mutakhir. †††
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode Library
research (Penelitian Kepustakaan) yakni dengan melakukan penelitian dari
berbagai sumber bacaan seperti buku-buku, majalah-majalah, pendapat para
sarjana dan juga bahan-bahan kuliah maupun bahan bacaan lainnya yang
berhubungan dengan penulisan skripsi ini, yang merupakan data sekunder.
Adapun data skunder yang digunakan dalam penulisan skripsi ini antara lain
berasal dari buku-buku milik pribadi maupun pinjaman dari perpustakaan,
artikel-artikel baik yang diambil dari media cetak maupun elektronik,
dokumen-dokumen pemerintah, termasuk Peraturan Perundang-undangan.‡‡‡
Tahap-tahap pengumpulan data melalui studi pustaka adalah sebagai berikut:
a. Melakukan inventarisasi hukum positif dan bahan-bahan hukum lainnya
yang relevan dengan objek penelitian.
b. Melakukan penelusuran kepustakaan melalui artikel-artikel media cetak
maupun elektronik, dokumen-dokumen pemerintah dan peraturan
perundang-undangan.
c. Mengelompokkan data-data yang relevan dengan permasalahan.
d. Menganalisa data-data yang relevan tersebut untuk menyelesaikan
masalah yang menjadi objek penelitian.
4. Analisis Data
†††
Sunggono Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2003. hlm 117.
‡‡‡
Burhan Ashofa, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rieneka Cipta, 1996, hlm.59.
Data yang terdapat dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif.
Analisis data kulitatif adalah proses kegiatan yang meliputi, mencatat,
mengorganisasikan, mengelompokkan, dan mensitesiskan data selanjutnya
memaknai setiap kategori data, mencari dan menemukkan pola, hubunganhubungan, dan memaparkan temuan-temuan dalam bentuk deskriptif naratif,
bagan, flow chart, matriks maupun gambar-gambar yang bisa dimengerti dan
dipahami oleh orang lain.
G. Sistematika Penulisan
Penulis dalam memudahkan penyusunan dan pemahaman skripsi ini,
membuat suatu sistematika penulisan ini secara teratur dari berbagai hal dan
bagian yang semuanya mempunyai hubungan satu dengan yang lainnya.
Sistematika penulisan tersebut dibagi dalam beberapa bab dan diantara bab-bab
ini terdiri pula atas sub-sub bab. Skripsi ini dirancang dengan tujuan agar
terhindar
dari
kesimpangsiuran
sehingga
tidak
terjadi
tumpang
tindih
(overlapping) antar satu hal dengan yang lain sehingga karenanya disusun secara
sistematis dalam bentuk sebagai berikut:
BAB I
: Pendahuluan
Merupakan kerangka yang terdiri dari latar belakang penulisan,
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan,
tinjauan kepustakaan, metode penulisan (jenis penelitian, sumber data,
metode pengumpulan data, analisis data), sistematika penulisan.
BAB II
: Pengaturan Atas Eksploitasi Sumber Daya Perikanan Di Wilayah
Laut ZEE Oleh Kapal Asing Menurut Hukum Internasional.
Dalam Bab II ini dibahas mengenai konsep pengaturan eksploitasi
sumber daya perikanan di wilayah laut ZEE oleh kapal asing
menurut Hukum Internasional yang didalamnya juga di bahas
mengenai batas-batas, zona, wilayah/kawasan maritim untuk lebih
memahami batasan-batasan dalam wilayah laut. Bab ini juga
membahas mengenai pandangan hukum internasional mengenai
eksploitasi, sumber daya alam laut serta pengaturannya dalam
Hukum Internasional.
BAB III
: Pengaturan Atas Eksploitasi Sumber Daya Perikanan Di Wilayah
Laut ZEE Oleh Kapal Asing Menurut Hukum Nasional.
Dalam Bab III ini dibahas mengenai pengaturan eksploitasi
sumber daya perikanan di wilayah laut ZEE oleh kapal asing
menurut Hukum Nasional. Selain itu bab ini juga membahas
mengenai pandangan hukum nasional mengenai eksploitasi,
sumber daya alam laut, pengaturannya dalam Hukum Nasional
serta efektivitas pengaturan eksploitasi sumber daya perikanan di
wilayah laut ZEE oleh kapal asing dalam hukum internasional.
BAB IV
: Penegakan Hukum Atas Eksploitasi Sumber Daya Perikanan Di
Wilayah Laut ZEE Oleh Kapal Asing Menurut Hukum Nasional
Dan Internasional.
Dalam Bab IV ini berisi mengenai penegakan hukum atas
eksploitasi sumber daya perikanan oleh kapal asing, bagaimana
tanggung jawab hukum oleh negara Indonesia dan Hukum
Internasional yang diberlakukan bagi yang melanggarnya serta
pembahasan mengenai kasus pelanggaran yang terjadi di wilayah
Indonesia atau pun di negara lain. Bab ini juga berisi tentang
upaya yang dilakukkan untuk menyelesaikan sengketa yang
dihadapi.
BAB V
: Penutup
Bab ini terdiri dari kesimpulan serta penutup dan saran.
Merupakan bagian akhir dari skripsi, maka dalam bab ini
dirangkum intisari dari penelitian yang telah dilakukkan, serta
memberikan
saran
terhadap
penegakkan
hukum
terhadap
eksploitasi yang dilakukan oleh kapal asing di wilayah ZEE.
BAB II
PENGATURAN ATAS EKSPLOITASI SUMBER DAYA PERIKANAN DI
WILAYAH LAUT ZEE OLEH KAPAL ASING MENURUT HUKUM
INTERNASIONAL
A. Batas-Batas, Zona dan Wilayah/Kawasan Maritim
1. Perairan Pedalaman
Lebar laut teritorial diukur dari apa yang disebut “garis pangkal” dan
perairan yang berada pada arah darat dari garis tersebut dinyatakan sebagai
perairan pedalaman. Artinya, batas laut teritorial pada arah ke darat merupakan
Download