BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Keluarga 2.1.1. Pengertian

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Keluarga
2.1.1. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting dalam masyarakat.
Secara historis, keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan
organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak
pada awalnya mengadakan suatu ikatan. Dengan kata lain, keluarga tetap merupakan
bagian dari masyarakat total yang lahir dan berada didalamanya, yang secara
berangsur-angsur akan melepaskan ciri-ciri tersebut karena tumbuhnya mereka
kearah pendewasaan.
Keluarga juga dapat dikatakan sebuah group yang terbentuk dari
perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan mana sedikit banyak berlangsung
lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak yang belum dewasa. Jadi
keluarga dalam bentuk yang murni merupakan satu kesatuan sosial yang terdiri dari
suami, istri dan anak-anak yang belum dewasa. Keluarga mempunyai tujuh sifat
khusus, yaitu :
1. Universalitas, artinya merupakan bentuk yang universal dari seluruh
organisasi sosial.
2. Dasar emosional, artinya rasa kasih sayanag, kecintaan sampai kebanggaan
suatu ras.
3. Pengaruh yang normatif, artinya keluarga merupakan lingkungan sosial yang
pertama-tama bagi seluruh bentuk hidup yang tertinggi, dan membentuk
watak daripada individu.
25
4. Besarnya keluarga yang terbatas.
5. Kedudukan yang sentral dalam struktur sosial.
6. Pertanggungan jawab daripada anggota-anggota.
7. Adanya aturan-aturan sosial yang homogen (Ahmadi, 2009: 222)
Keluarga juga dikenal sebagai dasar umat masia, karena itu keluarga
fundamental bagi kehidupan masyarakat. Tidak ada satupun lembaga masyarakat
yang lebih afektif membentuk kepribadian anak selain keluarga. Keluarga tidak
hanya membentuk kepribadian anak selain keluarga. Keluarga tidak hanya
membentuk anak secara fisik tetapi juga sangat berpengaruh secara psikologis.
Keluarga sebagai organisasi, mempunyai perbedaaan dari organisasiorganisasi lainnya. Salah satu perbedaan yang cukup penting terlihat dari bentuk
hubungan anggota-anggotanya yang lebih bersifat “gemeinschaft” dan merupakan
ciri-ciri kelompok primer, yang antara lain :
a. Mempunyai hubungan yang lebih intim
b. Kooperatif
c. Face to face
d. Masing-masing anggota memperlakukan anggota lainnya sebagai tujuan
bukannya sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Ciri-ciri yang dikemukakan oleh Paul H. Landis, adalah :
a. Intimate
b. Face to face
c. Warm hearted realitionship
Dengan demikian, keluarga mempunyai sistem jaringan interaksi yang lebih
bersifat hubungan interpersonal, dimana masing-masing anggota dalam keluarga
dimungkinkan mempunyai intensitas hubungan satu sama lain; antara ayah dan ibu,
26
ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antara anak dengan anak. Sistem interaksi
antar pribadi (interpersonal) tersebut dilukiskan sebagai berikut :
Gambar 2.1
Ayah
Ibu
Anak
Anak
Berdasarkan gambar 2.1. dapat kita lihat bahwa masing-masing anggota
mempunyai jumlah hubungan yang sama terhadap anggota lainnya (Khairuddin,
1997: 4).
Menurut Prof. DR. J. Verkuyl ada tiga tugas dan panggilan dari orang tua
yaitu:
1.
Mengurus keperluan materil anak-anak.
Merupakan tugas pertama dimana orang tua harus memberi makan, tempat
perlindungan dan pakaian kepada anak-anak. Anak-anak sepenuhnya masih
tergantung kepada orang tuanya karena anak belum mampu mencukupi
kebutuhannya sendiri.
2.
Menciptakan suatu “home” bagi anak-anak.
“Home” disini berarti bahwa di dalam keluarga itu ank-anak dapat dengan
subur, merasakan kemesraan, kasih sayang, keramah tamahan, merasa aman,
terlindungi dan lain-lain. Di rumahlah anak
merasa tenteram, tidak pernah
kesepian dan selalu gembira.
27
3.
Tugas pendidikan.
Tugas mendidik merupakan tugas terpenting dari orang tua terhadap anak.
Tujuan pendidikan disini adalah mengajar dan melatih orang-orang muda
sehingga mereka dapat memenuhi tugas mereka terhadap Tuhan, sesama
manusia dan sekeliling mereka sebagai anak kerajaan (Ahmadi, 2009: 227).
Menurut Ogburn fungsi keluarga tidak saja dalam lingkungan keluarga
sendiri tetapi juga di dalam masyarakat. Melihat pendapat tersebut nyata bahwa
tugas atau fungsi keluarga bukan merupakan fungsi yang tunggal tapi jamak.
Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa tugas orang tua adalah :
a. Menstabilisasi situasi keluarga: dalam arti stabilitasi situasi ekonomi rumah
tangga.
b. Mendidik anak.
c. Pemeliharaan fisik dan psikis keluarga, termasuk disini kehidupan religius
(Ahmadi, 2009: 228).
Selain fungsi di atas keluarga juga berfungsi sebagai unit sosial terkecil yang
memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Sedangkan lingkungan sekitar
dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Karena itu baik
buruknya pertumbuhan kepribadian anak. Dari penjelasan diatas dapat ditarik
kesimpulan tentang arti pentingnya keluarga dalam perkembangan anak baik secara
fisik maupun psikologis.
2.1.2. Ciri-ciri Keluarga
28
Keluarga pada dasarnya merupakan suatu kelompok yang terbentuk dari
suatu hubungan yang tetap untuk menyelenggarakan hal-hal yang berkenaan dengan
keorangtuaan dan pemeliharaan anak. Walaupun sulit untuk menentukan atau
mencari persamaan-persamaan dan ciri-ciri keluarga secara umum, yang akan
terdapat pada keluarga dalam bentuk dan tipe apapun. Untuk ini kita akan
menggolongkan ciri-ciri keluarga. Ciri-ciri keluarga antara lain seperti yang
dikemukakan oleh Page:
a. Keluarga merupakan hubungan perkawinan
b. Berbentuk perkawinan atau susunan kelembagaan yang berkenaan dengan
hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara
c. Suatu sistem tata nama, termasuk bentuk perhitungan garis keturunan.
d. Ketentuan-ketentuan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk
mempunyai ketentuan khusus terhadap kebutuhan-kebutuhan ekonomi yang
berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan
anak.
e. Merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga yang walau
bagaimanapun
tidak
mungkin
menjadi
terpisah
kelompok
keluarga
(Khairuddin, 1997: 5).
2.1.3. Karakteristik Keluarga
Burgess dan Locke mengemukakan, bahwa empat karakteristik keluarga
yang terdapat pada semua keluarga dari kelompok-kelompok sosial lainnya:
a.
Keluarga adalah susunan orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan
perkawinan, darah atau adopsi. Pertalian antara suami dan istri adalah
29
perkawinan; dan hubungan antara orang tua dan anak biasanya adalah darah, dan
kadangkala adopsi.
b.
Anggota-anggota keluarga ditandai dengan hidup bersama di bawah satu atap
dan merupakan susunan satu rumah tangga. Jika mereka bertempat tinggal,
rumah tangga tersebut menjadi rumah mereka. Kadang-kadang seperti masa
lampau, rumah tangga adalah keluarga luas, meliputi di dalamnya tiga, empat,
sampai lima generasi. Sekarang di Amerika Serikat rumah tangga tersebut
semakin kecil ukurannya, umumnya dibatasi oleh suami-istri tanpa anak, atau
dengan satu anak, dua, maupun tiga anak. Definisi mengenai rumah tangga
adalah merupakan kelompok orang-orang yang bertempat tinggal bersama dan
membentuk unit rumah tangga sendiri. Tempat kost dan rumah penginapan bisa
saja menjadi rumah tangga, tetapi tidak akan dapat menjadi keluarga karena
anggota-anggotanya tidak dihubungkan oleh darah, perkawinan atau adopsi.
c.
Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan
berkomunikasi, yang menciptakan peranan-peranan sosial bagi si suami dan
istri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan saudara perempuan.
Peranan-peranan tersebut dibatasi oleh masyarakat, tetapi masing-masing
keluarga diperkuat oleh kekuatan melalui sentimen-sentimen, yang merupakan
tradisi dan sebahagiaan lagi emosional, yang menghasilkan pengalaman.
d.
Keluarga adalah pemelihara suatu kebudayaan bersama, yang diperoleh dari
kebudayaan umum, tetapi dalam suatu masyarakat yang kompleks masingmasing keluarga empunyai ciri-ciri yang berlainan dengan keluarga lainnya.
Berbedanya kebudayaan dan setiap keluarga timbul melalui komunikasi
anggota-anggota keluarga yang merupakan gabungan dari pola-pola tingkah laku
individu (Khairuddin, 1997: 3).
30
2.1.4. Fungsi-Fungsi Pokok Keluarga
Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi pokok, yakni fungsi yang
sulit diubah dan digantikan oleh orang lain. Sedangkan fungsi-fungsi lain atau
fungsi-fungsi sosial, relatif lebih mudah berubah atau mengalami perubahan, di
antaranya:
a. Fungsi biologik
Keluarga merupakan tempat lahirnya anak-anak, fungsi biologik orang tua
ialah melahirkan anak. Fungsi ini merupakan dasar kelangsungan hidup
masyarakat.
b. Fungsi afeksi
Dalam keluarga terjadi hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan
afeksi. Hubungan afeksi ini tumbuh sebagai akibat hubungan cinta kasih yang
menjadi dasar perkawinan dari hubungan cinta kasih ini lahirlah hubungan
persaudaraan, persahabatan, kebiasaan, identifikasi, persamaan pandangan
mengenai nilai-nilai.
c. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi ini menunjuk peranan keluarga dalam membentuk
kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga itu anak
mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita, dan nilainilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya
(Khairuddin, 1997: 48).
Menurut Martono dalam bukunya fungsi keluarga lima fungsi keluarga, yaitu:
a. Fungsi Reproduksi
Fungsi ini berkaitan erat dengan fungsi pemenuhan kebutuhan biologis.
Reproduksi digunakan untuk menjamin kelangsungan generasi dan
31
kelangsungan hidup masyarakat. Setiap individu menginginkan memiliki
keturunan untuk meneruskan budaya, nilai, serta statusnya. Dalam
masyarakat modern misalnya, keturunan juga digunakan untuk kebutuhan
ekonomi, misalnya: meneruskan usaha orang tua, atau mengurus harta orang
tuanya.
b. Fungsi Psikologis ini dimaknai sebagai tempat untuk menyalurkan kasih
sayang antar anggota keluarga, menyalurkan perhatian. Keluarga juga sering
menjadi tempat untuk menuangkan perasaan ketika seseorang sedang dilanda
masalah, atau ketika seseorang sedang mengalami peristiwa yang sangat
menyenangkan. Memberikan rasa aman juga menjadi fungsi keluarga.
c. Fungsi Sosial
Ada beberapa fungsi sosial keluarga, yaitu: sebagai tempat sosialisasi
pertama bagi anak. Anak akan menerima nilai-nilai dan peran-peran sosial
pertama kali dalam lingkungan keluarga sehingga keluarga juga difungsikan
untuk meneruskan nilai, tradisi, atau budaya tertentu. Anak juga mengenal
peran, tugas dan kewajibannya sebagai seorang anak.
d. Fungsi Ekonomi
Pada masyarakat tradisional, keluarga menjadi unit produksi. Artinya
anggota keluarga dapat difungsikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan
keluarga ketika setiap anggota keluarga terlibat didalam kegiatan ekonomi.
Keluarga difungsikan untuk menyalurkan berbagai ilmu pengetahuan,
keterampilan yang nantinya akan digunakan ketika sang anak beranjak
dewasa (Martono, 2013: 240).
32
2.2.Pengasuhan Berbasis Keluarga (Keluarga Pengganti)
Pengasuhan berbasis keluarga adalah sebuah bentuk pengasuhan alternatif
untuk anak, yang kurang lebih bentuknya sama dengan keluarga pada umumnya.
Dalam hal ini, termasuk juga bentuk lain pengasuhan, seperti keluarga asuh (foster
care). Bentuk pengasuhan berbasis keluarga bertujuan menciptakan lingkungan
keluarga pengganti yang mampu memberikan pengasuhan yang layak dan aman
sehingga anak-anak bisa mendapatkan kembali kehangatan keluarga yang penuh
perhatian dan masa kanak-kanakan yang membahagiakan.
Keluarga Pengganti adalah orang tua asuh, orang tua angkat, dan wali yang
menjalankan peran dan tanggung jawab untuk memberikan pengasuhan alternatif
pada anak. Pengasuhan berbasis keluarga atau keluarga pengganti ini biasanya di
lakukan di yayasan dan panti sosial.
Keluarga Yayasan, lembaga atau panti sosial yang menggunakan program
keluarga pengganti ini tinggal dalam satu rumah yang berisi 8 sampai 10 anak
dengan seorang ibu asuh (foster mother). Saudara kandung tetap dipertahankan
bersama dalam satu rumah keluarga atas dasar prinsip yang terbaik untuk anak.
Keluarga Yayasan atau panti sosial yang terdiri dari anak-anak yang berbeda usia
dan jenis kelamin yang secara alami berlaku sebagai adik-kakak seiring dengan
tumbuhnya pertalian keluarga. Selain itu, pengasuhan anak di Yayasan, lembaga atau
panti sosial dilaksanakan atas dasar persamaan agamanya, agar mereka sedini
mungkin dapat memperoleh pendidikan agamanya di bawah pimpinan seorang
pengasuh
yang
seagama,
yang
menjadi
pengganti
ibunya
(http://www.sos.or.id/diakses pada tanggal 31 Oktober 2015 pukul 07.00 WIB).
Dalam usaha kesejahteraan anak, baik fisik, mental maupun sosial. Pelayanan
kesejahteraan sosial anak termasuk asuhan bagi anak di dalam keluarganya sendiri,
33
di dalam keluarga pengganti (substitute family homes), atau di dalam lembaga.
Ketika seorang individu berada dalam usia anak-anak, ia memerlukan kebutuhan
akan kasih sayang. Kebutuhan ini dapat dipenuhi oleh anggota keluarga yang lain,
terutama kedua orang tuanya. Hal ini tidak dapat berlanjut secara terus-menerus
sampai ia menginjak usia dewasa. Peran orang tua telah berkurang jika kedua atau
salah satu orang tua meninggal dunia, mengalami kemampuan fisik atau tidak
mampu untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Pada masa ini lah individu
memerlukan “pengganti” orang tua atau keluarga seperti saat dia ditemani orang tua
nya ketika masih kanak-kanak (Martono: 2013).
2.3. Standar Pengasuhan Anak
Untuk mengatur kualitas pelayanan panti asuhan, Kementrian Sosial bekerja
sama dengan Save the Children, telah menyusun Standar Pengasuhan Nasional
Pengasuhan untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak/Panti Asuhan yang telah
ditetapkan menjadi Peraturan Menteri Sosial No. 30/HUK/2011 tentang Standar ini
merupakan instrumen paling dalam kebijakan pengaturan pengasuhan alternatif
untuk anak dan ditujukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan panti/lembaga
asuhan. Standar mengatur tata cara dan prosedur pengasuhan yang diberikan panti
sejalan dengan kebijakan pengasuhan berbasis keluarga. Hal tersebut merupakan
dasar yang sangat strategis bagi upaya pelaksanaan pengasuhan dan perlindungan
bagi anak-anak yang berada di luar pengasuhan keluarga.
Standar Nasional Pengasuhan anak mengandung komponen-komponen
utama pengaturan aspek-aspek antara lain ;
a. Prinsip-prinsip pengasuhan anak termasuk tentang sistem pengasuhan
alternatif;
34
b. Pemenuhan semua aspek-aspek hak-hak anak baik kebutuhan dasar,
kebutuhan pengasuhan anak, perlindungan maupun partisipasi anak;
c. Transformasi peran Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak/lembaga untuk
mendukung pengasuhan keluarga dan pengasuhan alternatif berbasis
keluarga;
d. Tahapan untuk melakukan pelayanan terkait kebutuhan pengasuhan anak
mulai dari proses rujukan, assesmen, perencanaan pengasuhan dan pelayanan
lainnya, implementasi, terminasi dan evaluasi; dan
e. Peran pelaksana pengasuhan di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak.
Selain mengatur pengasuhan berbasis keluarga termasuk oleh keluarga
alternatif, standar mengatur dengan jelas pengasuhan berbasis Lembaga
Kesejahteraan Sosial Anak yaitu ;
1.
Pengasuhan berbasis Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak merupakan
alternatif terakhir dari pelayanan pengasuhan alternatif untuk anak-anak
yang tidak bisa diasuh di dalam keluarga inti, keluarga besar, kerabat
atau keluarga pengganti;
2.
Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak berperan dalam memberikan
pelayanan bagi anak yang membutuhkan pengasuhan alternatif melalui:
a)
Dukungan langsung ke keluarga atau keluarga pengganti (family
support).
b)
Pengasuhan sementara berbasis Lembaga Kesejahteraan Sosial
Anak dengan tujuan menjamin keselamatan, kesejahteraan diri dan
terpenuhinya kebutuhan permanensi anak.
35
c)
Fasilitasi dan dukungan pengasuhan alternatif berbasis keluarga
pengganti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Penempatan anak dalam Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak
a.
Penempatan anak dalam Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak
harus di review secara teratur dengan tujuan utama untuk segera
mengembalikan anak pada keluarganya, atau ke lingkungan
terdekatnya (keluarga besar atau kerabat);
b.
Jika
untuk
kepentingan
terbaik
anak,
anak
tidak
dapat
dikembalikan ke keluarga atau kerabatnya, maka penempatan anak
di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak tetap merupakan solusi
sementara sambil mengupayakan solusi pengasuhan alternatif
berbasis keluarga pengganti.
3.
Bayi dan anak sampai umur lima tahun harus selalu ditempatkan dalam
pengasuhan laternatif berbasis keluarga dan hanya ditempatkan di dalam
Lembaga Kesejahteraan Sosial Anakuntuk periode orang tua asuh atau
orang tua angkat yang tepat (http://www.pksa-kemensos.com/diakses
pada 31 Oktober 2015 pada pukul 06.00 WIB).
Rekomendasi ini diharapkan untuk menanggapi kebutuhan mencegah
penempatan anak di panti asuhan yang tidak perlu dan meningkatkan kualitas
pelayanan dan pengasuhan yang diberikan oleh panti asuhan-panti asuhan, yaitu;
a.
Adanya kebijakan pemerintah yang jelas untuk memperkuat pengasuhan
berbasis keluarga untuk anak-anak yang rentan. Untuk anak-anak yang
memerlukan
pengasuhan
dan
perlindungan
prioritas
pengasuhan
alternatif di keluarga besar atau di keluarga pengganti.
36
b.
Departemen Sosial, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama,
dan instansi penting lainnya perlu bekerja bersama untuk memastikan
bahwa keluarga-keluarga miskin dan rentan bisa mendapatkan bantuan
langsung keuangan dan bentuk lain untuk menjamin pendidikan anak-anak
mereka.
c.
Pengaturan yang jelas bagi panti asuhan harus dibentuk. Pengaturan tersebut
harus mencakup standar-standar tentang pendirian panti asuhan, kualitas
pelayanan yang harus disediakan, serta persyaratan operasional termasuk
sistem perizinan (licensing).
d.
Adanya sistem pengumpulan data yang efektif tentang anak tinggal di panti
asuhan untuk memberikab informasi yang akurat tentang keadaan anak-anak
di panti asuhan.
e.
Mereview skema bantuan pemerintah ke panti asuhan termasuk sistem
subsidi BBM (bahan bakar minyak) untuk memastikan bahwa ini tersedia
bersama dengan bantuan teknis agar panti asuhan mampu menerapkan
standar pengasuhan anak (http://www.kemsos.go.id/ diakses pada tanggal
31 Oktober 2015 pukul 09.00 WIB).
2.4. Anak
2.4.1. Pengertian Anak
Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 pasal 1
Tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum
berusia 18 tahun termasuk anak yang ada di dalam kandungan. Sedangkan menurut
Undang-Undang Kesejahteraan Anak di dalam pasal 1 ayat (2) menyatakan bahwa
anak adalah seseorang yang berusia 21 tahun atau anak yang belum menikah.
37
Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan yang Maha Esa, yang
senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hakhak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian
dari hak asasi manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan
Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Hak-hak anak. Jika dilihat dari sisi
kehidupan berbangsa dan benegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi
penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,
tumbuh dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindakan
kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.
Anak merupakan makhluk sosial, yang membutuhkan pemeliharaan. Kasih
sayang, dan tempat bagi perkembangannya, anak juga mempunyai perasaan, pikiran,
kehendak tersendiri yang kesemuanya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat
serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangan pada masa kanakkanak (anak). Perkembangan pada suatu fase merupakan dasar fase selanjutnya
(http://www.RumahKemuning.com diakses pada tanggal 2 November 2015 pukul
11.00 WIB).
2.3.2. Hak Anak
Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 6 tahun 1974 Tentang
Kesejahteraan Anak disebutkan bahwa anak adalah suatu tata kehidupan dan
penghidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan dengan
wajar, baik secara jasmani, rohani, maupun sosial. Sementara usaha kesejahteraan
anak adalah kesejahteraan sosial yang ditujukan untuk menjamin terwujudnya
kesejahteraan anak terutama terpenuhinya kebutuhan anak-anak.
38
Dalam hal ini anak yang perlu mendapatkan perhatian adalah anak yang tidak
mempunyai orang tua dan ibu kandung dan anak yang tidak mampu karena suatu
sebab tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya baik secara rohani, jasmani,
sosial dengan wajar. Meskipun Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia telah mencantumkan tentang Hak Anak, pelaksanaan kewajiban dan
tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara untuk
memberikan perlindungan pada anak masih memerlukan suatu Undang-undang
mengenai perlindungan anak sebagai landasan yuridis bagi pelaksanaan kewajiban
dan tanggung jawab tersebut. Orang tua, keluarga dan masyarakat bertanggung
jawab menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi anak terutama dalam menjamin
pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal dan terarah. Hak-hak anak
menurut Undang-undang perlindungan anak antara lain:
a.
Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan
berdasarkan kasih sayang yang baik dalam keluarganya maupun didalam
asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar.
b.
Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan
kehidupan sosialnya, sesuai dengan negara yang baik dan berguna.
c.
Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam
kandungan maupun sesudah dilahirkan.
d.
Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat
membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya
dengan wajar.
Berdasarkan Undang-undang nomor 6 Tahun 1974 tentang ketentuan pokok
kesejahteraan sosial bahwa, setiap warga Negara berhak atas taraf sosial yang sebaikbaiknya, maka kesejahteraan anak merupakan hal yang perlu mendapat perhatian,
39
karena masih banyak anak-anak yang tidak dapat menikmati masa kanak-kanaknya
yang menyenangkan karena kondisi yang dihadapinya dan keadaan orang tuanya
(http://www. fatayat. or. Id diakses tanggal 15 Janurai 2016 pukul 16: 30 WIB).
2.5 Fungsi Sosial
Fungsi sosial berarti proses sosialisasi telah memungkinkan seseorang tumbuh
dan berkembang menjadi orang dewasa dan dapat menjalankan:
a. Berbagai peranan sosialnya sesuai dengan kedudukan sosial yang
dicapainya dalam bermacam lingkungan sosial di mana dia menjadi
warganya.
b. Kemamapuan menjalankan multi status dan multi peranan tersebut
dibentuk melalui proses pembelajaran di lingkungan budaya di mana
nilai-nilai dan norma-norma sosial berlaku di lingkungan tersebut.
Kemampuan untuk menjalankan multi peranan dalam bermacam
kedudukan sosial, sesuai dengan tuntutan lingkungannya, menunjukkan
keberfungsian sosial manusia. Disamping itu keberfungsian sosial juga
mencakup pemenuhan kebutuhan dasar dirinya dan orang-orang yang
menjadi tanggungannya. Kebutuhan dasar manusia itu mencakup aspekaspek kenutuhan:
1. Fisik
2. Pengembangan diri
3. Emosional
4. Konsep diri yang memadai
40
2.6 Keberfungsian Sosial
Keberfungsian sosial (social functioning) adalah suatu konsep kunci untuk
memahami kesejahteraan sosial, dan merupakan konsep yang penting bagi pekerjaan
sosial. Keberfungsian sosial merupakan sebuah konsep pembeda antara profesi
pekerjaan sosial dengan profesi lainnya (Fahrudin, 2012: 42).
Konsep keberfungsian sosial tidak terlepas dari karakteristik seseorang dalam
konteks lingkungan sosialnya. Siporin mengemukakan bahwa: keberfungsian sosial
merujuk pada cara-cara individu-individu maupun kolektivitas dalam rangka
melaksanakan tugas-tugas kehidupannya dan memenuhi kebutuhannya. Oleh karena
itu keberfungsian seseorang sangat berkaitan dengan peranan-peranan sosialnya.
Oleh sebab itu keberfungsian sosial dapat pula diartikan sebagai kegiatan-kegiatan
yang dianggap penting dalam menampilkan beberapa perananan yang diharapkan
atau yang seyogianya ditampilkan oleh setiap orang karaena keanggotaanya dalam
kelompok-kelompok sosial. Sebagian ahli berpendapat bahwa konsep keberfungsian
sosial terfokus pada keserasian antara kapasitas individu dengan tindakan dan
permintaan, harapan, sumber-sumber serta kesempatan dalam lingkungan sosial dan
ekonominya.
Barlett menyatakan bahwa keberfungsian sosial merupakan fokus utama
pekerjaan sosial. Menurut Barlett keberfungsian sosial adalah kemampuan mengatasi
(coping) tuntutan (demands) lingkungan yang merupakan tugas-tugas kehidupan.
Dalam kehidupan yang baik dan normal terdapat keseimbangan antara tuntutan
lingkungan
dan
kemampuan
mengatasinya
oleh
individu.
Kalau
terjadi
ketidakseimbangan antara keduanya maka terjadi masalah, misalnya tuntutan
lingkungan melebihi kemampuan mengatasi yang dimiliki individu. Dalam hal ini
41
pekerjaan
sosial
membantu
menyeimbangkan
tuntutan
lingkungan
dengan
kemampuan mengatasinya oleh individu (Fahrudin, 2012: 62).
Pekerjaan sosial berhubungan dengan keberfungsian sosial semua orang tapi
prioritasnya
yaitu
pada
masalah
pemenuhan
kebanyakan
anggota-anggota
masyarakat yang rentan. Pada dasarnya masyarakat yang rentan ini adalah korban
dari situasi pengabaian, ketidakadilan sosial, diskriminasi dan penindasan. Termasuk
juga di dalamnya anak-anak dan remaja, lansia, perempuan, individu yang hidup
dalam kemiskinan, individu yang mempunyai keterbatasan fisik, orang yang sakit
mental dan emosional, gay dan lesbian dan kelompok minoritas.
Dalam melaksanakam komitmen untuk meningkatkan keberfungsian sosial
orang, pekerja sosial menangani penyediaan intervensi sosial bagi mereka yang
mempunyai keterbatasan kapasitas dan kesempatan untuk berfungsi secara penuh.
Pelayanan intervensi sosial mungkin menjadi penanganan yang paling menolong.
Akhirnya, karena orang mungkin ingin meningkatkan keberfungsian sosialnya ketika
dia sedang menghadapi masalah yang membelitnya, maka pekerja sosial perlu
memberikan dan meningkatkan pelayanan kepada orang tersebut. Fokus atau pusat
perhatian pekerjaan sosial yaitu social functioning atau keberfungsian sosial.
Pekerjaan sosial berusaha untuk memperbaiki, mempertahankan atau meningkatkan
keberfungsian sosial orang, kelompok atau masyarakat (Fahrudin, 2012: 43)
Gambar 2.2
Tuntutan (demands)
kemampuan mengatasi (coping)
Keberfungsian sosial menunjukkan keseimbangan pertukaran, kesesuaian,
kecocokan dan penyesuaian timbal balik antara orang secara individual atau secara
kolektif, dan lingkungan mereka. Keberfungsian sosial dinilai berdasarkan apakah
42
keberfungsian sosial tersebut memenuhi kebutuhan dan memberikan kesejahteraan
kepada orang dan komunitasnya, dan apakah keberfungsian sosial itu normal dan
dibenarkan secara sosial ( Fahrudin, 2012: 62).
2.7 Kerangka Pemikiran
Adakalanya seorang anak tidak lagi mempunyai orang tua, yang menyebabkan ia
harus kehilangan pengasuhan dari orang tuanya. Berbagai macam alasan yang
melatarbelakangi seorang anak tidak mempunyai keluarga, di antaranya perceraian
orang tua, yatim piatu, kemiskinan dan lain sebagainya. Dimana hal tersebut
mengakibatkan anak tidak dapat memperoleh haknya atau dengan kata lain anak
kehilangan haknya dan memungkinkan terjadinya ketelantaran terhadap anak.
Sehingga mereka kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang seharusnya
mereka peroleh dari keluarga, mereka tidak bisa merasakan pendidikan, bahkan
harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Berdasarkan hal tersebut yayasan sosial SOS Children’s Village Medan
menyelenggarakan pelayanan sosial untuk menangani masalah kesejahteraan anak
terlantar dan kurang beruntung dengan pola “pengasuhan anak jangka panjang
berbasis keluarga”. Pelayanan yang diberikan adalah pelayanan sosial bagi anak
dengan menciptakan keluarga baru (orang tua/saudara) di dalam sebuah rumah
(home) dengan suasana lingkungan sosial berupa desa (village), tempat dimana anakanak dibentuk ke dalam kelompok kecil yang identik sebagai keluarga, yang
didalamnya terdiri dari 6-10 orang anak. Selain itu juga ada taman bermain,
bimbingan dan kasih sayang, tumbuh dalam kasih sayang dan cinta dan rasa dihargai,
rasa aman, dan disana anak-anak yang dahulunya terlantar dan kurang beruntung
43
mendapatkan keluarga baru dan memiliki ibu asuh tetap, kakak adik, rumah yang
nyaman dan desa sebagai lingkungan sosialnya.
Salah satu usaha untuk memelihara anak terlantar sekaligus mengembalikan
keberfungsian sosialnya agar dapat menjalankan perannya di masyarakat dengan
baik adalah melalui program pelayanan sosial berbasis keluarga yang dilakukan oleh
yayasan SOS Children’s Village Medan bertujuan untuk memberikan dan
melindungi hak anak-anak terlantar yang telah disebutkan sebelumnya dengan
harapan agar anak dapat memperoleh haknya kembali sebagai mana layaknya
seorang anak, agar anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar. Hal
ini sangat bertolak belakang terhadap hak-hak dan peranan yang seharusnya diterima
dan dijalankan oleh anak.
Melalui program keluarga pengganti ini diharapkan dapat berperan sebagai orang
tua pengganti sementara bagi anak-anak dan bertanggung jawab untuk memenuhi
pemenuhan hak-hak mereka, keluarga pengganti menjamin pemenuhan kebutuhan
makan dan pakaian anak, dengan pola makan yang teratur, makanan yang terjaga
baik dari kualitas gizi dan nutrisi dengan waktu yang fleksibel sesuai dengan
kebutuhan anak, memastikan pemenuhan hak dan akses anak terhadap pendidikan
dan kesehatan, memberikan perlindungan bagi anak dari segala bentuk kekerasan
dan hukuman fisik. Sehingga anak-anak bisa menjalankan fungsi-fungsi sosial sesuai
dengan perannya sebagai seorang anak, yaitu bersekolah, mendapatkan kasih sayang
dari orang tua dan keluarga, mendapatkan rasa aman, mendapatkan kebutuhan seperti
makanan yang bergizi, pakaian, buku sekolah, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Berdasarkan rumusan diatas penulis merumuskan kerangka pemikiran kedalam
bagan alur pikir sebagai berikut:
44
Bagan 2.3 Bagan Alur Pikir
Faktor-faktor ketelantaran anak, meliputi:
1. Perceraian
2. Yatim Piatu
3. Kemiskinan
4. Bencana Alam
Anak mengalami gangguan sosial seperti :
1.Kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian
2. Tidak bisa merasakan bangku pendidikan
3. Tidak mendapatkan rasa aman
4. Merasakan dirinya tidak berharga dan diterima
5. Tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal
Yayasan SOS Children’s Village Medan
Pelayanan Sosial Anak Berbasis Keluarga melalui Program
Keluarga Pengganti
Program Keluarga Pengganti, meliputi:
1. Menciptakan keluarga baru (orang tua/saudara).
2. Memberikan tempat tinggal (home).
3. Memberikan bimbingan dan kasih sayang dari ibu asuh.
4. Mendapatkan pemenuhan kebutuhan makanan.
5. Mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan dan hukuman
fisik.
Mengembalikan Keberfungsian Sosial Anak
meliputi:
1. Mendapatkan pendidikan
2. Mendapatkan kasih sayang keluarga
3. Rasa aman
4. Bermain
45
Download