BUKU AJAR - SK Stikom Surabaya

advertisement
BUKU AJAR
“FISIKA”
Pengarang:
Ira Puspasari, S.Si.,M.T.
Ir. Henry Bambang Setyawan, M.M.
INSTITUT BISNIS & INFORMATIKA STIKOM SURABAYA
PRAKATA
Buku “Fisika” digunakan untuk buku ajar sebagai penunjang dalam perkuliahan
fisika di Prodi S1 Sistem Komputer. Buku ini berisikan materi dasar, ringkasan
dan contoh soal yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga tepat untuk
mahasiswa semester awal. Materi yang terdapat di dalam buku ini diantaranya:
besaran dan satuan yang merupakan teori dasar belajar fisika, dinamika,
kinematika dari gerak benda, hingga teori tentang fisika dasar listrik yaitu
penerapan Hukum Ohm, Hukum Kirchoff, serta pengenalan beberapa komponen
listrik diantaranya resistor dan kapasitor yang akan berguna sebagai dasar mata
kuliah rangkaian listrik serta elektronika. Untuk lebih memahami konsep, pada
setiap akhir bab diberikan latihan – latihan soal.
Ucapan Terima kasih
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan kesehatan, pikiran, dan
rahmatNya,
sehingga
buku
ajar
“Fisika”
dapat
terselesaikan.
Penulis
mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Kabag Penelitian Akademik, Bapak Tutut Wurijanto, M.Kom. (terimakasih atas
kesempatan yang diberikan)
2. Kepada Reviewer, yang telah mereview, memberikan saran dan masukan
sehingga buku ini menjadi lebih baik.
3. Rekan – rekan dosen.
4. Terhadap semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan buku materi ini.
Sebagai penutup, penulis menyadari bahwa penyusunan buku ini masih banyak
kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan masukan, supaya buku
berikutnya menjadi buku yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Amin.
Surabaya, Agustus 2015
Penulis.
i
Daftar Isi
Prakata
i
Daftar isi
ii
Daftar Gambar
iii
Daftar Tabel
iv
GBPP
v
1. Besaran dan Satuan
1
1.1.
Pendahuluan
1
1.2.
Dimensi Besaran
3
1.3.
Awalan dan Lambang Bilangan Sepuluh Berpangkat
5
1.4.
Klasifikasi persamaan difernsial
3
Ringkasan
7
Latihan Soal
8
2. Vektor
9
2.1.
Skalar
9
2.2.
Vektor
9
2.2.1. Notasi dan penggambaran Vektor
10
2.2.2. Penjumlahan Vektor
11
2.2.3. Pengurangan Vektor
15
2.2.4. Perkalian Dua Vektor
22
2.2.5. Vektor Satuan
24
Ringkasan
27
Latihan Soal
28
3. Kinematika
31
3.1.
Perpindahan, Kecepatan, dan Percepatan
31
3.2.
Gerak Lurus Beraturan (GLB)
33
3.3.
Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)
34
ii
3.4.
Gerak Jatuh Bebas (GJB)
35
3.5.
Gerak Peluru
39
Ringkasan
45
Latihan Soal
47
4. Dinamika
49
4.1.
Hukum Newton
49
4.2.
Gaya Gesek
50
4.3.
Pemakaian Hukum Newton
52
Ringkasan
57
Latihan Soal
58
5. Usaha, Energi dan daya
5.1.
61
Usaha
61
5.1.1. Usaha positif
62
5.1.2. Usaha negatif
63
5.1.3. Usaha dengan nilai nol
63
5.2.
63
Energi
5.2.1. Energi Potensial Gravitasi
64
5.2.2. Energi Kinetik
65
5.2.3. Energi Mekanik
65
5.2.4. Hukum Kekekalan Energi
65
5.2.5. Hubungan antara Usaha dan Energi
66
5.2.6. Daya
67
Ringkasan
70
Latihan Soal
71
6. Muatan Listrik dan Hukum Coulomb
72
6.1.
Pendahuluan Muatan Listrik
72
6.2.
Hukum Coulomb
76
Ringkasan
90
iii
Latihan Soal
7. Medan dan Potensial Listrik
91
92
7.1.
Medan Listrik
92
7.2.
Potensial Listrik
94
Ringkasan
101
Latihan Soal
102
8. Hukum Ohm, Energi dan Daya Listrik
103
8.1.
Hukum Ohm
103
8.2.
Energi
109
8.3.
Daya
111
Ringkasan
116
Latihan Soal
118
9. Resistor, Hukum Kirchoff, dan Kapasitor
120
9.1.
Resistor
120
9.2.
Hukum Kirchoff
127
9.3.
Kapasitor
131
Ringkasan
137
Latihan Soal
138
Daftar Pustaka
139
Indeks
140
iv
Daftar Gambar
Gambar 2.1. Metode Jajaran Genjang
12
Gambar 2.2. Ilustrasi segitiga
12
Gambar 2.3. Ilustrasi tegak lurus
13
Gambar 2.4. Uraian Vektor
15
Gambar 2.5. ResultanVektor
16
Gambar 2.6. Pengurangan Vektor
16
Gambar 2.7. Vektor mengapit sudut 45o
17
Gambar 2.8. Vektor mengapit sudut 135o
18
Gambar 2.9. Vektor saling tegak lurus
19
Gambar 2.10. Vektor searah
19
Gambar 2.11. Vektor berlawanan arah
20
Gambar 2.12. Vektor a-b
20
Gambar 2.13. Penguraian vektor
21
Gambar 2.14. Vektor a terhadap vektor b memutar ke kanan
23
Gambar 2.15. Vektor a terhadap vektor b memutar ke kiri
24
Gambar 2.16. Vektor c = -4i – 6j + 2 k
25
Gambar 3.1. Ilustrasi GLB
33
Gambar 3.2. Grafik perpndahan, kecepatan, dan percepatan untuk GLB
33
Gambar 3.3. Ilustrasi GLBB
34
Gambar 3.4. Grafik perpndahan, kecepatan, dan percepatan untuk GLBB
35
Gambar 3.5. Gerak Jatuh Bebas
36
Gambar 3.6. Gerak Peluru
39
Gambar 4.1. Keadaan benda dari segi gerak
52
Gambar 4.2. Posisi benda soal no.1
53
Gambar 4.3. Posisi benda soal no.2
53
Gambar 4.4. Penguraian gaya soal no.3
54
Gambar 4.5. Penguraian gaya soal no.4
55
Gambar 4.6. Penguraian gaya latihan soal no.2
58
Gambar 4.7. Posisi benda latihan soal no.4
59
v
Gambar 4.8. Posisi benda latihan soal no.5
59
Gambar 4.9. Posisi benda latihan soal no.6
59
Gambar 4.10. Posisi benda latihan soal no.7
60
Gambar 4.11. Posisi benda latihan soal no.8
60
Gambar 6.1. Fenomena petir
73
Gambar 6.2. Fenomena listrik statis
73
Gambar 6.3. Gaya tarik dan tolak pada dua muatan
75
Gambar 6.4. Charles-Augustin de Coulomb
76
Gambar 6.5. Gaya Coulomb antara dua muatan
77
Gambar 6.6. Partikel dengan posisi segaris
78
Gambar 6.7. Partikel dengan posisi tidak segaris
79
Gambar 6.8. Partikel dengan posisi membentuk segitiga
79
Gambar 6.9. Dua partikel tolak menolak
80
Gambar 6.10. Tiga muatan
80
Gambar 6.11. Interaksi antara tiga buah muatan
81
Gambar 6.12. Penguraian gaya pada partikel muatan soal 3.
83
Gambar 6.13. Penguraian gaya pada partikel muatan soal 4.
84
Gambar 6.14. Penggambaran posisi muatan soal no.7
86
Gambar 6.15. Penggambaran posisi muatan soal no.10
88
Gambar 7.1. Medan listrik pada satu muatan
93
Gambar 7.2. Medan listrik pada dua satu muatan
93
Gambar 7.3. Analogi Mekanika dengan Listrik
95
Gambar 7.4. Soal nomor 1
97
Gambar 7.5. Soal nomor 5
97
Gambar 7.6. Posisi muatan latihan soal no.1
102
Gambar 7.7. Posisi muatan latihan soal no.3
102
Gambar 7.8. Posisi muatan latihan soal no.4
102
Gambar 8.1. Rangkaian Listrik
105
Gambar 8.2. Resistor
106
Gambar 8.3. Rangkaian Listrik Sederhana
107
Gambar 9.1. Contoh susunan resistor dalam sebuah rangkaian
121
Gambar 9.1. Tegangan
121
vi
Gambar 9.2. Resistor
121
Gambar 9.3. Sumber tegangan bebas
121
Gambar 9.4. Sumber tegangan tak bebas
121
Gambar 9.5. Arus bebas
122
Gambar 9.6. Arus tak bebas
122
Gambar 9.7 Contoh susunan seri resistor
122
Gambar 9.8. Contoh susunan paralel resistor
123
Gambar 9.9. Susunan paralel dua resistor
123
Gambar 9.10. Rangkaian seri
124
Gambar 9.11. Rangkaian seri
125
Gambar 9.12. Rangkaian kombinasi seri dan parallel
125
Gambar 9.13. Rangkaian pembagi arus
127
Gambar 9.14. Arus masuk dan arus keluar
128
Gambar 9.15. Rangkaian loop tertutup
128
Gambar 9.16. Rangkaian pembagi arus
129
Gambar 9.17. Rangkaian Loop tertutup
129
Gambar 9.18. Rangkaian Loop tertutup
130
Gambar 9.19. Simbol kapasitor non polar
132
Gambar 9.20. Simbol kapasitor polar
132
Gambar 9.21. Kapasitor yang disusun secara seri
132
Gambar 9.22. Kapasitor yang disusun secara paralel
133
Gambar 9.23. Kapasitor yang disusun kombinasi
134
Gambar 9.24. Kapasitor yang disusun kombinasi
134
Gambar 9.25. Rangkaian latihan soal no.1
138
Gambar 9.26. Rangkaian latihan soal no.3
138
Gambar 9.27. Rangkaian latihan soal no.4
139
Gambar 9.28. Rangkaian latihan soal no.5
139
Gambar 9.29. Rangkaian latihan soal no.6
129
vii
Daftar Tabel
Tabel 1.1. Tujuh besaran pokok dalam SI
2
Tabel 1.2. Contoh Besaran Turunan dan Satuannya
2
Tabel 1.3. Lambang Dimensi Besaran Pokok
3
Tabel 1.4. Contoh Dimensi Besaran Turunan
4
Tabel 1.5. Beberapa istilah bilangan sepuluh berpangkat
5
viii
1
BESARAN & SATUAN
Materi
: Pendahuluan
Sub Materi
: Besaran dan Satuan
Dimensi Besaran
Istilah dan Lambang Bilangan Sepuluh Berpangkat
Tujuan
: Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu
menjelaskan pengertian besaran, satuan, besaran pokok, dan besaran turunan,
memahami besaran pokok dan satuan yang digunakan dalam Sistem Internasional,
mampu menjelaskan tentang dimensi dari suatu besaran, mampu mengonversi
dimensi besaran turunan ke dalam dimensi besaran pokok, memahami istilah dan
lambang bilangan sepuluh berpangkat serta mengimplementasikan dalam
perhitungan-perhitungan.
1.1. Pendahuluan
Dalam ilmu fisika, terdapat banyak sekali besaran dan banyak pula satuan
yang digunakan untuk mengukur besaran tersebut. Besaran adalah segala sesuatu
yang dapat diukur atau dihitung, dinyatakan dengan angka, dan mempunyai
satuan. Satuan didefinisikan sebagai pembanding dalam suatu pengukuran
besaran.
Sebagai contoh sehari-hari, besaran panjang bisa mempunyai satuan
centi meter, meter, killo meter, inci, feet, dan lain-lain, besaran waktu bisa
mempunyai satuan sekon atau detik, menit, jam, dan lain-lain, dan besaran suhu
bisa mempunyai satuan derajat Celsius, derajat Kelvin, dan lain-lain. Jadi terdapat
banyak sekali besaran dan banyak sekali satuan yang digunakan untuk
pengukuran
suatu
benda
atau
zat.
Besaran-besaran
tersebut
kemudian
dikelompokkan menjadi dua macam yaitu besaran pokok dan besaran turunan.
Besaran pokok adalah besaran yang satuannya didefinisikan atau
ditetapkan terlebih dahulu, dapat berdiri sendiri, dan tidak tergantung pada
besaran lain. Dalam Sistem Internasional (SI) terdapat tujuh besaran pokok, yaitu
panjang, massa, waktu, kuat arus listrik, suhu, jumlah zat, dan intensitas cahaya,
Buku Ajar “Fisika”
1
dengan satuan
masing-masing adalah: meter untuk panjang, kilogram untuk
massa, sekon atau detik untuk waktu, ampere untuk kuat arus listrik, derajat
Kelvin untuk suhu, mol untuk jumlah zat, dan kandela untuk intensitas cahaya.
Besaran pokok, simbol besaran, satuan, dan simbol satuan tersebut dapat dilihat
pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1. Tujuh besaran pokok dalam SI
Besaran Pokok
Panjang
Massa
Waktu
Kuat arus listrik
Suhu
Jumlah zat
Intensitas cahaya
Simbol Besaran
Satuan
L
meter
M
killogram
S
sekon
I
ampere
T
derajat kelvin
N
mol
Iv
kandela
Simbol Satuan
m
kg
s
A
0
K
mol
cd
Besaran turunan adalah besaran yang dapat diturunkan atau didefinisikan
dari besaran pokok, dan satuan besaran turunan disesuaikan dengan satuan
besaran pokoknya. Contoh besaran turunan yang sederhana adalah besaran luas
yang diturunkan dari besaran pokok panjang, karena luas merupakan hasil kali
dari dua besaran panjang yaitu panjang dan lebar, sehingga dalam SI luas
mempunyai satuan m2. Contoh besaran turunan yang lain adalah kelajuan, yang
diturunkan dari besaran panjang dan besaran waktu, karena kelajuan adalah
besaran panjang (jarak) dibagi dengan besaran waktu, sehingga dalam SI kelajuan
mempunyai satuan m/s. Contoh beberapa besaran turunan dan satuannya dapat
dilihat pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2. Contoh Besaran Turunan dan Satuannya
Besaran turunan Satuan
Luas
Volume
Kelajuan
Percepatan
Buku Ajar “Fisika”
meter
persegi
meter kubik
meter
per
detik
meter
per
detik kuadrat
Simbol
satuan
Satuan dalam
besaran pokok
m2
m2
m3
m/s
m3
m/s
m/s2
m/s2
2
Massa jenis
Gaya
Usaha dan energi
Tekanan
Daya
Muatan listrik
Hambatan listrik
Potensial listrik
killogram
kg/m3
per
meter
kubik
Newton
N
Joule
J
Pascal
Pa
Watt
W
Coulomb
C
Ohm
Ω
Volt
V
Dan lain-lain
kg/m3
kg.m/s2
kg.m2/s2
kg/m.s2
kg.m2/s3
A.s
kg.m2/A2.s3
kg.m2/A.s3
1.2. Dimensi Besaran
Dimensi adalah cara penulisan suatu besaran dengan menggunakan simbol
(lambang) besaran pokok. Hal ini berarti bahwa dimensi suatu besaran
menunjukkan cara besaran itu tersusun dari besaran-besaran pokok. Apapun jenis
satuan besaran yang digunakan, tidak akan berpengaruh terhadap dimensi besaran
tersebut. Misalnya besaran panjang yang mempunyai satuan yang berbeda-beda,
seperti cm, m, km, inci, dan lain-lain, dimensinya tetap sama, yaitu L.
Dalam ilmu mekanika, besaran pokok panjang, massa, dan waktu
merupakan besaran yang berdiri bebas satu sama lain, sehingga besaran pokok
panjang, massa, dan waktu dapat berperan sebagai dimensi. Dimensi besaran
panjang dinyatakan dengan L, besaran massa dinyatakan dengan M, dan besaran
waktu dinyatakan dengan T. Dimensi besaran yang dinyatakan dengan lambang
huruf tertentu, biasanya diberi tanda [ ], sehingga besaran panjang mempunyai
lambang dimensi [L], besaran massa mempunyai lambang dimensi [M], dan
besaran waktu mempunyai lambang dimensi [T]. Tabel 1.3. menunjukkan
lambang dimensi besaran pokok.
Tabel 1.3. Lambang Dimensi Besaran Pokok
Besaran pokok
Panjang
Massa
Waktu
Kuat arus listrik
Suhu
Jumlah zat
Buku Ajar “Fisika”
Satuan
meter (m)
killogram (kg)
sekon atau detik (s)
ampere (A)
derajat Kelvin (oK)
mol (mol)
Dimensi
[L]
[M]
[T]
[I]
[o]
[N]
3
Intensitas cahaya
kandela (cd)
[J]
Dimensi besaran turunan dapat disusun dari dimensi-dimensi besaran
pokok, dengan cara menganalisis hubungan antara besaran turunan terhadap
besaran pokok, berdasarkan rumus yang berlaku. Contoh dimensi besaran turunan
dapat dilihat pada Tabel 1.4.
Tabel 1.4. Contoh Dimensi Besaran Turunan
Besaran Turunan
Luas
Volume
Kelajuan
Percepatan
Massa jenis
Gaya
Usaha
Tekanan
Daya
Analisis
panjang x panjang
panjang x panjang x panjang
panjang / waktu
kelajuan / waktu
massa / volume
massa x percepatan
gaya x panjang
gaya / luas
usaha / waktu
Dan lain-lain
Dimensi
[L]2
[L]3
[L][T]-1
[L][T]-2
[M][L]-3
[M][L][T]-2
[M][L]2[T]-2
[M] [L]-1[T]-2
[M][L]2[T]-3
Contoh Soal:
1. Tentukan dimensi untuk besaran Berat Jenis
Penyelesaian:
Dimensi besaran dapat ditentukan dengan cara mencari hubungan antara besaran
tersebut dengan besaran panjang, besaran massa, dan besaran waktu, sehingga
dimensi besaran tersebut dapat dapat dinyatakan dalam [M], [L], dan/atau [T].
Berat jenis adalah perbandingan antara berat dengan volume (Rumus: BJ = W/V).
Berat adalah gaya tarik bumi (Rumus: W=mg). Massa mempunyai dimensi [M]
dan percepatan gravitasi bumi mempunyai dimensi [L] [T]-2, sedangkan volume
mempunyai dimensi [L]3, sehingga dimensi berat jenis adalah:
[berat jenis] = [M][L][T]-2/[L]3 = [M][L]-2[T]-2
Contoh Soal:
2. Tentukan dimensi untuk besaran Energi Kinetik
Penyelesaian:
Buku Ajar “Fisika”
4
Energi kinetik adalah setengah dari perkalian massa dengan kuadrat dari kelajuan
(Rumus: Ek=1/2 mv2). ½ adalah bilangan konstan sehingga tidak mempunyai
dimensi, massa mempunyai dimensi [M], dan kelajuan mempunyai dimensi [L/T],
sehingga dimensi Energi Kinetik adalah:
[Energi Kinetik] = [M] [L/T]2 = [M] [L]2[T]-2
1.3. Awalan dan Lambang Bilangan Sepuluh Berpangkat
Dalam perhitungan-perhitungan yang menggunakan bilangan yang besar
dan bilangan yang kecil, serta untuk mempermudah penulisan dan pembacaannya,
sering kali digunakan istilah yang menyatakan bilangan sepuluh berpangkat.
Tabel 1.5 menunjukkan beberapa istilah yang sering dipakai untuk menyatakan
bilangan sepuluh berpangkat.
Tabel 1.5. Beberapa istilah bilangan sepuluh berpangkat
Istilah
kilo
mega
giga
tera
peta
exa
centi
milli
mikro
nano
pico
femto
atto
Lambang
k
M
G
T
P
E
c
m
µ
N
P
F
A
Nilai
103
106
109
1012
1015
1018
10-2
10-3
10-6
10-9
10-12
10-15
10-18
Contoh Soal:
1. Sebuah pembangkit listrik dapat menghasilkan daya sebesar 2.500
MWatt. Berapa besar daya tersebut bila dinyatakan dalam Watt, kWatt,
dan GWatt?
Penyelesaian:
2.500 MW = 2.500 x 106 W = 25 x 108 W
Buku Ajar “Fisika”
5
= 25 x 108 x 10-3 kW = 25 x 105 kW
= 25 x 108 x 10-9 GW = 2,5 GW.
2. Sebuah partikel mempunyai muatan listrik sebesar 240 µCoulomb
(µC). Berapa Coulomb muatan partikel tersebut?
Penyelesaian:
240 µC = 240. 10-6 = 24. 10-5 C.
3. Seorang anak mengendarai sepeda dengan kelajuan 12 m/s. Berapa
kelajuan sepeda tersebut bila dinyatakan dalam km/jam.
Penyelesaian:
Kelajuan = 2 m/s = 2 x 10-3 km/1/3.600 jam = 7,2 km/jam.
4. Peralatan listrik memerlukan daya 700 watt untuk mengoperasikannya.
Berapa kWh energi yang diperlukan untuk mengoperasikan peralatan
tersebut selama 10 jam?
Penyelesaian:
kWh adalah satuan energi, yang artinya kilo watt hour (kilo watt jam).
Dari soal di atas, energi yang diperlukan = daya x waktu = 700 watt x
10 jam
= 7.000 watt jam = 7.000 x 10-3 kilo watt jam = 7 kWh.
Buku Ajar “Fisika”
6
RINGKASAN
1. Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur
atau dihitung,
dinyatakan dengan angka, dan mempunyai satuan.
2. Satuan didefinisikan sebagai pembanding dalam suatu pengukuran
besaran.
3. Besaran pokok adalah besaran yang satuannya didefinisikan atau
ditetapkan terlebih dahulu, dapat berdiri sendiri, dan tidak tergantung pada
besaran lain.
4. Dalam Sistem Internasional (SI) terdapat tujuh besaran pokok, yaitu
panjang, massa, waktu, kuat arus listrik, suhu, jumlah zat, dan intensitas
cahaya, dengan satuan
masing-masing adalah: meter untuk panjang,
kilogram untuk massa, sekon atau detik untuk waktu, ampere untuk kuat
arus listrik, derajat Kelvin untuk suhu, mol untuk jumlah zat, dan kandela
untuk intensitas cahaya.
5. Besaran turunan adalah besaran yang dapat diturunkan atau didefinisikan
dari besaran pokok, dan satuan besaran turunan disesuaikan dengan satuan
besaran pokoknya.
6. Dimensi adalah cara penulisan suatu besaran dengan menggunakan simbol
(lambang) besaran pokok.
7. Dimensi besaran turunan dapat disusun dari dimensi besaran pokok,
dengan cara menganalisis hubungan antara besaran turunan terhadap
besaran pokok, berdasarkan rumus yang berlaku.
8. Dalam perhitungan-perhitungan yang menggunakan bilangan yang sangat
besar dan bilangan yang sangat kecil, serta untuk mempermudah penulisan
dan pembacaannya, dapat menggunakan istilah dan lambang yang
menyatakan bilangan sepuluh berpangkat.
Buku Ajar “Fisika”
7
LATIHAN SOAL
1. Tunjukkan bahwa usaha dan energi mempunyai dimensi yang sama.
2. Sebuah mobil dikendarai dengan kecepatan sebesar 80 km/jam. Berapa
kecepatan mobil tersebut bila dinyatakan dalam m/s? (22,22 m/s)
3. Suatu benda mempunyai massa jenis 9.600 kg/m3. Nyatakan massa jenis
tersebut dalam satuan g/cm3. (9 g/cm3).
4. Foot (kaki) dan inc adalah satuan panjang, dimana 1 foot = 30,48 cm dan 1
inch = 2,54 cm. Bila lebar sebuah trotoar adalah 5 kaki, berapa lebar tersebut bila
dinyatakan dalam meter dan dalam inch? (1,52 m), (60 inch).
5. Tekanan adalah gaya per satuan luas, dan satuan dalam SI adalah
Newton/m2 (N/m2). Bila 1 N = 105 dyne, nyatakan tekanan yang dialami oleh
sebuah benda sebesar 135 N/m2 ke dalam satuan dyne/cm2. (1.350 dyne/cm2).
6. Angstrom (Ǻ) adalah satuan besaran panjang yang pertama kali
didefinisikan oleh J.A. Bearden pada tahun 1965 (1 Ǻ = 10-10m). Bila suatu
preparat panjangnya 0,4 Ǻ, berapakah panjangnya bila dinyatakan dalam
mikrometer dan dalam nanometer? (4.10-5 µm), (4.10-2 nm).
7. Panjang gelombang cahaya yang dipancarkan oleh sebuah lampu adalah 4
x 10-8m. Nyatakan panjang gelombang tersebut dalam satuan Angstrom. (400 Ǻ).
8. Sebuah flashdisk
mempunyai kapasitas penyimpanan data sebesar 8
gigabytes. Nyatakan kapasitas penyimpanan data tersebut dalam megabytes dan
dalam terabytes. (8.103 Mbytes), (8.10-3 Terabytes).
Buku Ajar “Fisika”
8
2
Materi
VEKTOR
: Vektor
Sub Materi: - Skalar
-
Pengertian Vektor
-
Notasi dan Penggambaran Vektor
-
Penjumlahan Vektor
-
Pengurangan Vektor
-
Perkalian Vektor
-
Vektor Satuan
Tujuan
Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan dan
membedakan
besaran skalar dan besaran vektor , memahami operasi vektor
(penjumlahan, pengurangan, dan perkalianvektor), dan memahami vektor satuan
serta operasinya.
Pada Bab I telah dibahas tentang besaran dan satuan, di mana dalam ilmu
fisika terdapat banyak sekali besaran dan satuan yang digunakan untuk analisis,
implementasi, dan perhitungan-perhitungan. Ditinjau dari segi besar dan arah,
besaran-besaran tersebut dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu besaran yang
hanya mempunyai nilai besaran saja, disebut dengan skalar, dan besaran yang
mempunyai nilai besaran serta arah, disebut dengan vektor.
2.1. Skalar
Skalar adalah besaran yang mempunyai nilai besaran saja dan tidak
mempunyai arah. Contoh skalar adalah panjang, volume, massa, waktu, kelajuan,
dan lain-lain. Sebagai contoh, panjang tali = 5 m, volume air = 10 m3, massa
benda = 12 kg, waktu tempuh = 6 jam, dan kelajuan mobil = 50 km/jam, yang
kesemuanya hanya mempunyai nilai besaran saja dan tidak ada arahnya.
2.2. Vektor
Buku Ajar “Fisika”
9
Vektor adalah besaran yang mempunyai nilai besaran dan mempunyai
arah. Contoh vektor adalah perpindahan, gaya, kecepatan, percepatan, tekanan,
dan lain-lain. Sebagai contoh: a. Sebuah benda mengalami perpindahan sejauh 2
m, arah ke utara. b. Seoarang anak mendorong meja dengan gaya 10 Newton, arah
ke depan. c. Mobil berjalan dengan kecepatan sebesar 50 km/jam, arah ke timur
(besarnya kecepatan = kelajuan). d. Sebuah benda bergerak dipercepat dengan
percepatan sebesar 10 m/s2, arah ke sumbu-X positif. e. Tekanan air sebesar 5
Newton/m2, arah ke atas. Contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa vektor
mempunyai besar dan mempunyai arah.
2.2.1. Notasi dan penggambaran Vektor
Vektor digambarkan dengan anak panah yang mempunyai titik pada
pangkalnya. Panjang anak panah menyatakan besarnya vektor, arah anak panah
menyatakan arah vektor, dan titik pangkal anak panah menyatakan titik dimana
vektor tersebut bekerja.
PQ
Pada gambar vektor PQ, panjang PQ menyatakan besarnya vektor PQ, arah anak
panah menyatakan arah vektor PQ, dan titik P adalah titik dimana vektor PQ
bekerja.
Jadi apabila vektor PQ yang besarnya 3 Newton digambarkan dengan anak
panah sepanjang satu satuan, maka vektor AB yang besarnya 6 Newton
digambarkan dengan anak panah sepanjang dua satuan.
Catatan:
a. Dua vektor dikatakan sama apabila dua vektor tersebut besarnya sama
dan arahnya sama (searah).
a=b
b. Dua vektor dikatakan tidak sama apabila:
-
Buku Ajar “Fisika”
Besarnya sama, arahnya tidak sama
10
a≠b
-
Besarnya tidak sama, arahnya sama.
a≠b
-
Besarnya tidak sama, arahnya tidak sama
a≠b
c. Suatu vektor dikatakan negatif dari vektor yang lain, apabila kedua vektor
tersebut besarnya sama dan arahnya berlawanan.
`
a=-b
2.2.2. Penjumlahan Vektor
Dua vektor atau lebih dapat dijumlahkan sehingga menghasilkan jumlahan dari
beberapa vektor tersebut, yang disebut dengan resultante vektor (resultan).
Beberapa metode dapat digunakan untuk menjumlahkan beberapa vektor, yaitu:
Metode Jajaran Genjang, Metode Segi Siga, Metode Polygon, dan Metode Uraian.
A.
Metode Jajaran Genjang
Metode jajaran genjang ini digunakan untuk menjumlahkan dua vektor,
dan akan menghasilkan resultan dari kedua vektor tersebut. Perhatikan gambar
2.1.



R  A B
Buku Ajar “Fisika”
11

P
θ
A
θ1

R
θ2

B
Gambar 2.1. Metode Jajaran Genjang
Untuk mencari besarnya R atau R, digunakan rumus trigonometri.
R  A2  B 2  2 AB cos 


dimana θ adalah sudut apit antara kedua vektor yang dijumlahkan ( A dan B ).
Arah resultan R ditentukan dengan menggunakan rumus sinus:
A
B
R


sin  2 sin 1 sin 
Rumus tersebut diperoleh dari:
A
B
R


sin  2 sin 1 sin(180 0   )
karena sin (1800-θ) = sin θ, maka
A
B
R


sin  2 sin 1 sin 
Lihat gambar 2.2, ilustrasi perolehan rumus di atas:
θ1
θ2
1800-θ
Gambar 2.2. Ilustrasi segitiga
Dari rumus tersebut, θ1 (sudut apit antara A dan R) atau θ2 (sudut apit antara B
dan R) dapat dihitung, dan dapat digunakan untuk menentukan arah R, terhadap
vector A atau terhadap vektor B.
Keadaan khusus:
Buku Ajar “Fisika”
12
Apabila vektor A tegak lurus dengan vektor B, pada gambar 2.3. maka:
R  A2  B 2  2 AB cos 90
R  A2  B 2  2 AB.0
R
A2  B 2

A
P

R

B
Gambar 2.3. Ilustrasi tegak lurus
Apabila vektor A searah dengan vektor B, maka:
R  A2  B 2  2 AB cos 0
R  A2  B 2  2 AB.1
R  A B

A

B
Apabila vektor A berlawanan arah dengan vektor B, maka:
R  A2  B 2  2 AB cos 180
R  A2  B 2  2 AB.  1
R  A B
B.
Metode Segi Tiga
Metode segi tiga digunakan untuk menjumlahkan dua vektor secara grafis,
dengan cara menempelkan titik pangkal vektor yang satu (A) ke ujung vektor
yang lain (B). Resultan kedua vektor tersebut (R) diperoleh dengan cara menarik
anak panah dari titik pangkal B ke ujung vektor A.
Buku Ajar “Fisika”
13


A
B
B
A
+
C.


menghasilkan resultan:
p
R
Metode Polygon
Metode polygon digunakan untuk menjumlahkan lebih dari dua vektor
secara grafis, dengan cara menempelkan titik pangkal vektor yang satu (B) ke
ujung vektor yang lain (A), kemudian titik pangkal vektor yang lainnya lagi
ditempelkan pada ujung vektor B, dan seterusnya.. Resultan kedua vektor-vektor
tersebut (R) diperoleh dengan cara menarik anak panah dari titik pangkal A ke
ujung vektor yang terakhir dijumlahkan.



B
A
D

C
+
+


menghasilkan resultan:
+
B
A

C
P

D

R
D.
Metode Uraian
Metode uraian digunakan untuk menjumlahkan dua vektor atau lebih
dengan menggunakan koordinat, dan dalam hal ini akan digunakan koordinat
sumbu-x dan sumbu-y atau dua dimensi. Caranya adalah dengan menguraikan
masing-masing vektor ke arah sumbu-x dan ke arah sumbu-y, atau menjadi
komponen sumbu-x dan komponen sumbu-y, kemudian masing-masing
dijumlahkan, sehingga menghasilkan resultan untuk vektor-vektor komponen
sumbu-x
(Rx)
dan
vektor-vektor
komponen
sumbu-y
(Ry).
Dengan
menjumlahkan Rx dan Ry maka akan diperoleh resultan (R), yang merupakan
hasil akhir dari penjumlahan vektor-vektor. Arah resultan dapat ditentukan dengan
Buku Ajar “Fisika”
14
mencari sudut apit (θ) antara R dengan sumbu-x, dengan menghitung tangen θ,
yaitu tg θ = Ry/Rx, θ = arc tg Ry/Rx.
Komponen arah sumbu-x: ∑ Rx = ax – b – dx
Komponen arah sumbu-y: ∑ Ry = ay – c – dy
, sedangkan arah dari R bisa diperoleh dari tg 
R=
 Ry
 Rx
Perhatikan gambar 2.4. uraian vektor berikut ini:
y
 Ry
 Rx
  arc

a
ay

a

dx
θ1
θ

ax
x


dy
d

c
Gambar 2.4. Uraian Vektor
Perhatikan tanda positif dan tanda negatif dari penjumlahan vektor-vektor pada
sumbu-x dan pada sumbu-y. Pada umumnya vektor yang ke arah kanan sumbu-x
diberi tanda positif dan vektor yang ke arah kiri sumbu-x diberi tanda negatif.
Demikian pula vektor yang ke arah atas sumbu-y diberi tanda positif dan vektor
yang ke arah bawah sumbu-y diberi tanda negatif.
2.2.3. Pengurangan Vektor
Pengurangan vektor prinsipnya sama dengan penjumlahan vektor, tetapi
karena vektor adalah besaran yang mempunyai arah maka tanda minus (-) pada
vektor menunjukkan penjumlahan (+) namun arahnya berlawanan. Jadi A - B = A
+ (-B). Perhatikan gambar 2.5 resultan vektor, dan pengurangan vektor 2.6..
Buku Ajar “Fisika”
15

θ
P
A
θ1

R
θ2

B
Gambar 2.5. ResultanVektor


R  A B

A
180o-θ

B
θ
P
Gambar 2.6. Pengurangan Vektor
R
A2  B 2  2 AB cos(180  0)
R
A2  B 2  2 AB ( cos  )
R
A2  B 2  2 AB (cos  )
Contoh Soal:
1.
Vektor a dan b besarnya masing-masing 30 N dan 40 N. Tentukan besar dan
arah resultan a dan b, apabila kedua vektor tersebut adalah:
a. Mengapit sudut 45o
b. Mengapit sudut 135o
c. Saling tegak lurus
d. Searah
e. Berlawanan arah
f. Tentukan besar dan arah a - b
Buku Ajar “Fisika”
16
Penyelesaian:
a. Apabila kedua vektor mengapit sudut 45o, maka:
a = 30 N
b = 40 N
θ = 450


a
R
1
 2
P

b
Gambar 2.7. Vektor mengapit sudut 45o
R
A2  B 2  2 AB (cos  )
R  30 2  40 2  2.30.40. cos 450
R  900  1600  2400.0,7
R  64,78 N
Arah R:
a
R

sin  2 sin 
30
64,78

sin  2
sin 
30.(sin 45 0 )
64,78
sin  2  0,32
sin  2 
 2  18,92 0
Maka arah R terhadap vektor B adalah 18,920
b. Apabila kedua vektor mengapit sudut 135o, maka:
a = 30 N
b = 40 N
θ = 1350
Buku Ajar “Fisika”
17

R
a
1

2

b
Gambar 2.8 Vektor mengapit sudut 135o
R
A2  B 2  2 AB (cos  )
R  30 2  40 2  2.30.40. cos 1350
R  900  1600  2400.(0,7)
R  28,34 N
Arah R:
a
R

sin  2 sin 
30
28,34

sin  2
sin 
30.(sin 135 0 )
28,34
sin  2  0,75
sin  2 
 2  48,59 0
Maka arah R terhadap vektor B adalah 48,590
c. Apabila kedua vektor saling tegak lurus, maka:
a = 30 N
b = 40 N
θ = 900
Buku Ajar “Fisika”
18

a
R
1
2


b
Gambar 2.9 Vektor saling tegak lurus
R
A2  B 2  2 AB (cos  )
R  30 2  40 2  2.30.40. cos 90 0
R  900  1600
R  50 N
Arah R:
a
R

sin  2 sin 
30
50

sin  2 sin 
30.(sin 90 0 )
50
sin  2  0,6
sin  2 
 2  36,87 0
Maka arah R terhadap vektor B adalah 36,870
d. Apabila kedua vektor searah, maka:
a = 30 N
b = 40 N
θ = 00


a
b
Gambar 2.10 Vektor searah
R  ab
R  30  40  70 N
Arah R ke kanan
Buku Ajar “Fisika”
19
e. Apabila kedua vektor berlawanan arah, maka:
a = 30 N
b = 40 N
θ = 1800


b
a
Gambar 2.11 Vektor berlawanan arah
R  ab
R  30  40  10 N

R  10 N
Tanda negatif berarti arah R ke kiri
f. a - b
a = 30 N
b = 40 N

R

a

b


b
Gambar 2.12 Vektor a-b
R
A2  B 2  2 AB (cos  )
R  30 2  40 2  2.30.40. cos 450
R  900  1600  2400.0,7
R  64,78 N
2.
Pada koordinat sumbu-x dan sumbu-y terdapat vektor-vektor sebagai
berikut: vektor a sebesar 4 N arah ke sumbu-y positif, vektor b sebesar 6 N
Buku Ajar “Fisika”
20
arah ke sumbu-x negatif, vektor c sebesar 8 N membentuk sudut 30o
dengan sumbu x-positif, dan vektor d sebesar 6 N membentuk sudut 135o
dengan sumbu x-positif. Tentukan besar dan arah resultan dari keempat
vektor tersebut.
y

a


cy
c
2


b
dx
1

cx


d
dy
x
Gambar 2.13 Penguraian vektor
a=4N
b=6N
c=8N
d=6N
θ = 300
θ = 1350
Arah sumbu x:



 Rx  c  d  b
 Rx  c. cos   d . cos   b
 Rx  8. cos 30  6. cos 135  6  5,17 N
x
x
1
2
o
o
Arah sumbu y:



 Ry  a  c  d
 Ry  4  c.sin   d .sin 
 Rx  4  8 sin 30  6.sin 135
y
y
1
2
o
Buku Ajar “Fisika”
o
 6  3,76 N
21
R  Rx  R y
2
2
R  5,17 2  3,76 2  6,39 N
Arah R:
tg 
 Rx  5,17  0,81
 Ry 6,39
  38,98 o
Maka arah R adalah 38,98o
2.2.4. Perkalian Dua Vektor
Dalam pembahasan perkalian dua vektor ini, akan dibahas
perkalian dua vektor untuk dua dimensi. Dalam perkalian dua vector, dikenal dua
jenis, yaitu Perkalian Skalar antara dua vektor dan Perkalian Vektor antara dua
vektor.
A.
Perkalian Skalar
Jika terdapat dua vektor a dan b, dengan sudut apit antara kedua vektor
tersebut adalah θ, maka perkalian skalar antara vektor a dan b besarnya adalah:
a.b = a b cos θ
Hasil dari perkalian skalar antara dua vektor adalah besaran skalar,
sehingga hanya mempunyai besar saja dan tidak mempunyai arah. Perkalian
skalar antara dua vektor disebut juga dengan Perkalian Titik (Dot Product).
B.
Perkalian Vektor
Jika terdapat dua vektor a dan b, dengan sudut apit antara kedua vektor
tersebut adalah θ, maka perkalian vektor antara vektor a dan b besarnya adalah:
a x b = a b sin θ
Hasil dari perkalian vektor antara dua vektor adalah besaran vektor,
sehingga selain mempunyai besar, juga mempunyai arah. Perkalian vektor antara
Buku Ajar “Fisika”
22
dua vektor disebut juga dengan Perkalian Titik (Cross Product). Vektor hasil
perkalian a x b mempunyai arah sesuai dengan arah putar sekrup, sebagai berikut:
-
Jika vektor a terhadap vektor b memutar ke kanan (searah jarum jam),
maka hasil a x b adalah vektor yang arahnya tegak lurus ke bawah
(besarnya adalah ab sin θ). Demikian pula sebaliknya, hasil b x a
adalah vektor yang arahnya tegak lurus ke atas (besarnya adalah ba sin
θ). Perhatikan gambar 2.14.


b x a



a
b


a x b
Gambar 2.14 Vektor a terhadap vektor b memutar ke kanan
-
Jika vektor a terhadap vektor b memutar ke kiri (berlawanan arah
jarum jam), maka hasil a x b adalah vektor yang arahnya ke atas
(besarnya adalah ab sin θ). Demikian pula sebaliknya, hasil b x a
adalah vektor yang arahnya ke bawah (besarnya adalah ba sin θ).
Buku Ajar “Fisika”
23


a x b


b

a


b xa
Gambar 2.15 Vektor a terhadap vektor b memutar ke kiri
2.2.5. Vektor Satuan
Vektor Satuan adalah vektor yang menunjukkan satu satuan dan
menunjukkan arah dari vektor dalam sistem koordinat x,y, dan z.. Dalam system
koordinat x,y, dan z, dikenal tiga vektor satuan, yaitu i, j, dan k. Vektor satuan i
menunjukkan bahwa arah vektor adalah ke sumbu-x, vektor satuan j menunjukkan
bahwa arah vektor adalah ke sumbu-y, dan vektor satuan k menunjukkan bahwa
arah vektor adalah ke sumbu-z.
Sebagai contoh, apabila dituliskan a = 6 i, artinya adalah bahwa vektor a
besarnya 6 satuan dan arahnya ke sumbu-x positif. Bila dituliskan b = 6 i + 10 j,
artinya adalah bahwa b tersusun dari komponen sumbu-y ang besarnya 6 satuan,
arah ke sumbu sumbu-x, dan komponen vektor yang besarnya 10 satuan, arah ke
sumbu-y positif. Bila dituliskan c = -4i – 6j + 2 k, artinya adalah bahwa c tersusun
dari komponen vektor yang besarnya 4 satuan, arah ke sumbu-x negatif,
komponen vektor yang besarnya 6 satuan, arah ke sumbu-y negatif, dan
komponen vektor yang besarnya 2 satuan, arah ke sumbu-z positif. Perhatikan
gambar 2.16.
Buku Ajar “Fisika”
24
y





b  6 i  10 j



c  4 i  6 j  2 k
a  6i
x
z
Gambar 2.16 Vektor c = -4i – 6j + 2 k
Dari uraian di atas dapat dirumuskan perkalian skalar dan perkalian vektor
antara dua vektor satuan sebagai berikut:
i.i = j.j = k.k = 1.1 cos 00 = 1
i.j = j.k = k.i = 1.1 cos 900 = 0
i x i = j x j = k x k = 1.1 sin 00 = 0
i x j = 1.1 sin 900 = 1, arah ke ke sumbu-z sehingga i x j = k
j x k = 1.1 sin 900 = 1, arah ke ke sumbu-x sehingga j x j = i
k x i = 1.1 sin 900 = 1, arah ke ke sumbu-y sehingga k x i = j
Jadi:
ixj=k
jxk=i
jxi=-k
dan
kxi=j
kxj=-i
ixk=-j
Bila:
a = a1i + a2j + a3k
b = b1i + b2j + b3k
di mana a1, a2, a3, b1, b2, dan b3 adalah bilangan konstan, maka:
a x b = (a1i + a2j + a3k) x (b1i + b2j + b3k), bila dihitung dengan
menggunakan rumus perkalian vektor satuan, akan diperoleh hasil sebagai
berikut:
Buku Ajar “Fisika”
25
a x b = (a1i x b1i + a1i x b2j + a1i x b3k) + (a2j x b1i + a2j x b2j + a2j x
b3k) + (a3k x
b1i + a3k x b2j + a3k x b3k)
= ( 0 + a1b2k + (-a1b3j) + ((-a2b1k) + 0 + (a2b3i)) + (a3b1j + (a3b2i) + 0)
= (a2b3i – a3b2i) + (-a1b3j + a3b1j) + (a1b2k - a2b1k)
= (a2b3 – b2a3) i – (a1b3 – b1a3) j + (a1b2 – b1a2) k
Hasil di atas jika disusun dalam bentuk determinan, akan diperoleh sebagai
berikut:
axb=
i
j
k
a1 a2 a3
= i
a2 a3 + j a1
b2
b3
b1
a3 + k a1
a2
b3
b2
b1
b1 b2 b3
Buku Ajar “Fisika”
26
RINGKASAN
1. Skalar adalah besaran yang mempunyai nilai besaran saja dan tidak
mempunyai arah.
2. Vektor adalah besaran yang mempunyai nilai besaran dan mempunyai
arah.
3. Pada vektor-vektor dapat dilakukan operasi penjumlahan, pengurangan,
dan perkalian vektor.
4. Penjumlahan vektor dapat dilakukan dengan metode jajaran genjang,
metode segitiga, metode polygon, dan metode uraian pada sistem
koordinat X dan Y.
5. Pengurangan vektor adalah sama dengan penjumlahan vektor, tetapi
dengan vektor negatifnya.
6. Perkalian vektor ada dua, yaitu perkalian skalar (dot product) dan
perkalian vektor (cross product), dimana hasil perkalian skalar adalah
besaran skalar dan hasil perkalian vektor adalah besaran vektor.
7.
Vektor Satuan adalah vektor yang besarnya satu satuan dan menunjukkan
arah vektor dalam sistem koordinat X, Y, dan Z. Dalam sistem koordinat
X, Y, dan Z, dikenal tiga vektor satuan, yaitu i, j, dan k.
8. Vektor satuan i menunjukkan bahwa arah vektor adalah ke sumbu-X,
vektor satuan j menunjukkan bahwa arah vektor adalah ke sumbu-Y, dan
vektor satuan k menunjukkan bahwa arah vektor adalah ke sumbu-Z.
9. Pada vektor satuan i,j, dan k berlaku operasi perkalian vektor yaitu dot
product dan cross product.
10. Hasil dot product vektor satuan adalah: i.i = j.j = k.k = 1 dan i.j = j.k = k.i
= i.i = 0
11. Hasil cross product vektor satuan adalah: i x i = j x j = k x k = 0 dan i x j =
k, j x j = i, dan k x i = j
Buku Ajar “Fisika”
27
LATIHAN SOAL
1. Vektor p dan vektor q terletak pada sebuah bidang datar, sebagai berikut:
a.
Berapa besar p x q, dan ke mana arahnya?
b.
Berapa besar q x p, dan ke mana arahnya?
2. Pada koordinat x, y, dan z terdapat vektor a, vektor b, dan vektor c,
sebagai berikut:
a.
Berapa besar a x b, dan ke mana arahnya?
b.
Berapa besar b x c, dan ke mana arahnya?
c.
Berapa besar c x a, dan ke mana arahnya?
3. Terdapat vektor a dan vektor b sebagai berikut:
a = 3i + 4j
b = 3j + 6k
Hitunglah berapa a x b?
4. Terdapat vektor p dan vektor q sebagai berikut:
p = 4i + 5j – 10k
q = 3i - 4j + 3k
Hitunglah berapa p x q
5. Dua vektor besarnya masing-masing 100 satuan dan 100 satuan. Tentukan
besar dan arah resultan kedua vektor tersebut, apabila kedua vektor
tersebut adalah:
a. Mengapit sudut 60o
b.
Mengapit sudut 120o
c. Saling tegak lurus
d. Searah
e. Berlawanan arah
Tentukan pula besar dan arah untuk hasil pengurangan kedua vektor
tersebut.
Buku Ajar “Fisika”
28
6. Bila diketahui vektor a = 2 satuan, vektor b = 4 satuan, vektor
c =6
o
satuan, α = 60 , tentukan besar dan arah resultan ketiga vektor tersebut.
(2,54 N), arah ke sb Y+
7. Bila diketahui vektor a = 20 satuan, vektor b = 6 satuan vektor
c=2
satuan, dan α = 60o, tentukan besar dan arah resultan ketiga vektor
tersebut.
8. Pada koordinat sumbu-x dan sumbu-y terdapat vektor-vektor sebagai
berikut: vektor p sebesar 20 N arah ke sumbu-x positif, vektor q sebesar 16
N arah ke sumbu-x positif, vektor r sebesar 10 N membentuk sudut 45o
dengan sumbu x-positif, vektor s sebesar 10 N membentuk sudut 180o
dengan sumbu x-positif, dan vektor t membentuk sudut 315o dengan
sumbu x-positif. Tentukan besar dan arah resultan dari kelima vektor
tersebut.
9. Gambar berikut menunjukkan vektor a dan vektor b yang keduanya
terletak pada bidang buku (kertas) ini. Tentukan besar dan arah dari a x b
dan b x a. Berapa besar dari dot product antara kedua vektor tersebut?
10. Pada koordinat x, y, dan z terdapat vektor p, vektor q, dan vektor r, sebagai
berikut:
a.
Berapa besar q x p, dan ke mana arahnya?
b.
Berapa besar r x q, dan ke mana arahnya?
c.
Berapa besar p x r, dan ke mana arahnya?
d.
Berapa besar p x p, dan ke mana arahnya?
e.
Berapa besar p . r?
f.
Berapa besar p . p?
11. Terdapat vektor a dan vektor b sebagai berikut:
Buku Ajar “Fisika”
29
p = 4i + j
q = 5j - 2k
r = -5i – 4k
a.
Berapa p x q dan berapa p . q
b.
Berapa q x r dan berapa q . r
c. Berapa r x p dan berapa r . p
12. Terdapat vektor a dan vektor b sebagai berikut:
a = i - 10j – 20k
b = -5i - 2j + k
Hitunglah berapa hasil p x q, dan berapa hasil p . q?
Buku Ajar “Fisika”
30
3
KINEMATIKA
Materi
: Kinematika
Sub Materi
: - Perpindahan
-
Kecepatan
-
Percepatan
-
Gerak Lurus Beraturan
-
Gerak Lurus Berubah Beraturan
-
Gerak Dengan Percepatan Konstan
-
Gerak Jatuh Bebas
-
Gerak Peluru
Tujuan
: Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu
menjelaskan pengertian kinematika, mampu menjelaskan pengertian perpindahan,
kecepatan, dan percepatan, memahami gerak lurus beraturan. gerak lurus berubah
beraturan, gerak dengan percepatan konstan, gerak jatuh bebas, dan gerak peluru.
Kinematika adalah bagian dari ilmu mekanika yang mempelajari tentang gerak
tanpa memperhatikan penyebab gerak
tersebut. Partikel adalah benda yang
ukurannya amat kecil, diasumsikan hanya bergerak translasi tanpa rotasi,
dan
akan digunakan sebagai suatu model yang akan diamati pada pembahasan
kinematika ini
3.1. Perpindahan, Kecepatan, dan Percepatan
Perpindahan, Kecepatan, dan Percepatan, semuanya adalah besaran vektor
sehingga masing-masing mempunyai besar dan arah. Tetapi kalau besarnya
perpindahan, yang biasa disebut dengan jarak tempuh adalah besaran skalar.
Demikian pula, besarnya kecepatan yang biasa disebut dengan kelajuan adalah
besaran skalar.
- Perpindahan
Buku Ajar “Fisika”
31
Apabila suatu partikel bergeser dari posisi 1 (posisi awal) ke posisi 2
(posisi sekarang), maka perpindahan adalah perubahan posisi yang dialami oleh
partikel tersebut, tanpa memperhatikan lintasan atau jalan yang dilalui oleh
partikel tersebut. Posisi suatu titik dinyatakan dengan suatu vektor terhadap titik

pusat koordinat. Jika posisi titik awal dinyatakan dengan vektor r1 dan posisi titik

sekarang dinyatakan dengan vektor r2 , maka perpindahan didefinisikan sebagai


r2  r1 . Gerak benda dalam suatu ruang dinyatakan dengan vektor perpindahan
sebagai berikut:




r  x i  y j z k
- Kecepatan
Kecepatan partikel P adalah perpindahan yang dilakukan oleh partikel P
tersebut dibagi dengan waktu yang diperlukan oleh partikel P untuk melakukan
perpindahan. Dengan demikian kecepatan rata-rata partikel P selama selang waktu
∆t, adalah:

Vrata rata
r

t
Kecepatan sesaat pada saat waktu t dapat dituliskan:

Vins

r d r
 lim

t 0 t
dt
- Percepatan
Percepatan yang dialami oleh partikel P, adalah perubahan kecepatan
dibagi dengan waktu yang diperlukan oleh partikel P untuk perubahan kecepatan
tersebut. Dengan demikian percepatan rata-rata yang dialami partikel P, adalah:

a ratarata
v

t
Percepatan sesaat pada saat waktu t dapat dituliskan:
Buku Ajar “Fisika”
32

ains

v d v
 lim

t 0 t
dt
3.2. Gerak Lurus Beraturan (GLB)
Gerak lurus beraturan (GLB) adalah gerak benda titik yang membuat
lintasan berbentuk garis lurus dengan jarak yang ditempuh tiap satu satuan waktu
tetap, baik besar dan arahnya. Oleh karena itu, pada GLB ini percepatan benda
yang bergerak adalah nol. GLB dapat diilustrasikan pada gambar 3.1. dan gambar
3.2.
x0
t1
x1
x2
t2
t1=t2
0
Gambar 3.1. Ilustrasi GLB
v
x
t
a
t
t
Gambar 3.2. Grafik perpndahan, kecepatan, dan percepatan untuk GLB
Karena partikel bergerak lurus dengan percepatan a = 0, maka diperoleh
persamaan:
Buku Ajar “Fisika”
33
a
dv
0
dt
berarti v adalah suatu bilangan konstan.
dx
Dari persamaan:
dt
dx  vdt
v
Jika pada saat t = 0, posisi partikel berada pada x0, dan pada saat t = t, posisi
partikel berada pada x(t), maka dapat dituliskan persamaan:
dx  vdt
xt
t
x0
0
 dx   vdt
x(t )  x0  vt
x(t )  x0  vt
3.3. Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)
Adalah gerak benda titik yang membuat lintasan berbentuk garis lurus
dengan jarak yang ditempuh tiap satu satuan waktu tidak sama besar karena
adanya percepatan yang tetap, sedangkan arah gerak tetap. Oleh karena itu, pada
GLBB ini percepatan benda yang bergerak tetap, bisa positif (dipercepat) dan bisa
negatif (diperlambat). GLBB dapat diilustrasikan pada gambar 3.3 dan gambar
3.4.
x0
0
t1
x1
t2
x2
t1≠t2
Gambar 3.3. Ilustrasi GLBB
Buku Ajar “Fisika”
34
v
x
a
t
t
t
Gambar 3.4. Grafik perpndahan, kecepatan, dan percepatan untuk GLBB
Gerak partikel dengan kecepatan konstan
Apabila suatu partikel bergerak lurus dengan percepatan konstan (a bilangan
konstan), maka:
dv
dt
dv  adt
a
Bila pada saat t = 0, kecepatan awal partikel adalah V0, dan pada saat t = t,
kecepatan partikel adalah v(t), maka:
dv  adt
vt
t
v0
0
 dx   adt
vt  vo  at
v(t )  v0  at
dx
Dari persamaan:
dt
dx  vdt
v
Jika pada saat t = 0, posisi partikel berada pada x0, dan pada saat t = t, posisi
partikel berada pada x(t), maka dapat dituliskan persamaan:
dx  vdt
xt
t
t
x0
0
0
 dx   vdt   v0  a.tdt
1 2
at
2
1
x(t )  x0  v0 t  at 2
2
x(t )  x0  v0 t 
3.3. Gerak Jatuh Bebas (GJB)
Buku Ajar “Fisika”
35
Gerak jatuh bebas dapat dianggap sebagai kondisi khusus dari gerak lurus
pada sumbu-y. Pada gerak jatuh bebas diperoleh kondisi: vo = 0, karena benda
jatuh bebas (tanpa kecepatan awal), a = percepatan gravitasi bumi (g) dan arahnya
menuju ke pusat bumi (ke bawah).
A

v 0

ag
B
h
C
Gambar 3.5. Gerak Jatuh Bebas
Gambar 3.5 adalah benda jatuh bebas dari ketinggian h di atas tanah, maka
diperoleh persamaan gerak lurus berubah beraturan untuk gerak jatuh bebas,
sebagai berikut:
Titik A
Pada titik A(titik awal jatuh), kecepatan benda adalah nol, percepatan (a) =
percepatan gravitasi bumi (g), arah ke pusat bumi (ke bawah).
Titik B
Pada titik B (antara titik awal dengan tanah), maka percepatan, kecepatan,
dan posisi benda adalah sebagai berikut:
Percepatan: a=g, arah ke bawah.
Kecepatan: VB  g.t B
Posisi: AB  V0 .t B 
AB  0 
Buku Ajar “Fisika”
1 2
gt B
2
1 2
gt B
2
36
Jadi posisi benda berada pada jarak
1 2
gt B dari titik awal jatuh bebas,
2
dimana tB adalah waktu yang diperlukan benda sampai ke titik B.
Titik C
Pada titik C (titik dipermukaan tanah), maka waktu tempuh, percepatan,
kecepatan, dan posisi benda adalah sebagai berikut:
Waktu tempuh:
Waktu tempuh untuk mencapai permukaan tanah:
h  V0 t  1 gt 2
2
2h
t c2 
g
2h
g
tc 
dimana tc adalah waktu yang diperlukan benda dari titik awal jatuh bebas
sampai ke tanah dan h adalah jarak titik awal jatuh bebas dengan permukaan
tanah.
Percepatan:
a= g, arah ke bawah
Kecepatan:
VL = g.tc = g
2h
g
Posisi:
h
1 2
gt c
2
Apabila waktu tc bisa diukur, maka h bisa diketahui nilainya.
Mari kita lihat beberapa contoh soal berikut ini:
1. Bola jatuh bebas dari ketinggian 50 m.
Buku Ajar “Fisika”
37
a. Berapakah laju bola sesaat sebelum sampai di tanah? (31,4 m/s).
b. Berapakah waktu yang diperlukan bola untuk mencapai tanah? (3,2
s). Diketahui (g=9,8 m/s2).
Jawab:
t=
2h / g = (2 (50)/9,8)1/2 = 3,2 s
v = gt = 9,8 (3,2) = 31,4 m/s.
2. Seorang pemain ski dari keadaan diam meluncur ke bawah sejauh 9 m
dalam waktu 3 detik.
Setelah berapa waktu orang itu mencapai
kecepatan 24 m/s. Anggaplah orang itu mengalami percepatan tetap.
(12 s).
Jawab:
x = vot + ½ at2
9 = 0 + ½ a 32
a = 2 m/s2
v = vo + at
24 = 0 + 2t
t = 12 s.
3. Batu dilempar ke atas dengan kecepatan 20 m/s, dan ditangkap lagi
sewaktu turun di titik 5,0 m di atas titik awalnya.
a. Hitunglah kecepatan batu pada saat ditangkap. (17,3 m/s).
b. Hitung juga waktu perjalanan batu. (3,8 s).
Pada saat batu sampai titik tertinggi, kecepatannya = 0, sehingga:
0 = vo – gt
0 = 20 – 10t, sehingga diperoleh t = 2 s.
Saat dilempar ke atas, ketinggian batu mencapai:
h = vot – ½ gt2 = 20 (2) – ½ (10) 22
= 40 – 20 = 20 m.
a. Pada saat ditangkap lagi, batu berada di titik 5,0 m di atas titik
awalnya, berarti posisi batu berada pada jarak 15 m dari titik
tertinggi, sehingga:
Buku Ajar “Fisika”
38
15 = 0 + ½ (g) t2 atau 15 = 5 t2
t = 1,73 s
Kecepatan batu saat ditangkap: v = vo + gt = 0 + 10 (1,73) = 17,3 m/s.
b. Waktu yang diperlukan batu dari titik tertinggi sampai titik awal:
h = vot + ½ g t2
20 = 0 + 5 t2 atau t =
20
 2s
5
3.4. Gerak Peluru
Gerak peluru merupakan gerak dalam dua dimensi (bidang). Gerak peluru
terjadi apabila sebuah benda dilempar dengan kecepatan yang besarnya tertentu,
dan membentuk sudut dengan sudut tertentu dengan arah horizontal, yang disebut
sudut elevasi. Karena lintasan yang terbentuk adalah lintasan parabola, maka
gerak peluru disebut juga dengan gerak parabola, seperti pada Gambar . . .
Gambar 3.6. Gerak Peluru
Pada Gambar 3.6., sebuah benda dilempar dari titik awal A di permukaan tanah
dengan kecepatan awal Vo dan sudut elevasi α. Selanjutnya benda akan bergerak
melalui titik P (titik sebelum benda mencapai titik tertinggi lintasan), titik B (titik
tertinggi lintasan), titik Q (titik setelah benda mencapai titik tertinggi lintasan),
dan titik C (titik dimana benda kembali ke tanah). Berikut akan ditinjau keadaan
benda pada saat berada pada masing-masing titik tersebut (massa benda dan
gesekan benda dengan udara diabaikan).
Buku Ajar “Fisika”
39
Titik A.
Pada titik A (titik awal ini, keadaan benda adalah sebagai berikut:
-
Kecepatan
Kecepatan benda pada saat benda berada di titik A adalah Vo, yang
dapat diuraikan menjadi Vo cos  (arah sb-x) dan V sin  (arah sb-y)
-
Posisi
Posisi benda pada saat berada pada titik A adalah (0,0).
Titik P.
Pada titik P (titik sebelum benda mencapai titik teratas) ini, keadaan benda adalah
sebagai berikut:
-
Kecepatan
Kecepatan benda pada saat benda berada di titik P adalah sebagai
berikut:
Vpx  Vo cos 
Vpy  Vo sin   gt p (gerak diperlambat oleh percepatan gravitasi
bumi)
Vp  Vp x  Vp y
2
2
Arah Vp:
tg 
Vpy
, sehingga:
Vpx
  arctg
-
Vpy
Vpx
Posisi
Posisi benda pada saat berada pada titik P adalah sebagai berikut:
Xp  Vo cos  .t p
Yp  Vo sin  .t p 
1
2
gt p
2
dimana t p adalah waktu yang diperlukan benda untuk mencapai titik
P, sehingga koordinat titik P adalah (Xp, Yp).
Buku Ajar “Fisika”
40
Titik B.
Pada titik B (titik tertinggi lintasan) ini, keadaan benda adalah sebagai berikut:
-
Waktu Tempuh
Pada saat benda mencapai titik B, maka kecepatan ke arah sb-Y (ke
atas) adalah nol, karena benda berhenti sejenak. sehingga:
Vy B  0
Vo sin  .  gt B  0
tB 
Vo sin 
g
Jadi waktu yang diperlukan benda untuk mencapai titik tertinggi B
adalah:
tB 
-
Vo sin 
g
Kecepatan
Kecepatan benda pada saat benda berada di titik B adalah sebagai
berikut:
VBx  Vo cos 
VBY  0 , sehingga kecepatan benda pada saat berada di titik B adalah:
VBx  Vo cos 
-
Posisi
Posisi benda pada saat berada pada titik B adalah sebagai berikut:
X B  Vo cos t B
X B  Vo cos 
Vo sin 
g
X B  Vo 2
cos  sin 
g
X B  Vo 2
2 cos  sin 
2g
Buku Ajar “Fisika”
41
XB 
Vo 2 sin 2
g
YB  Vo sin t B 
1
2
gt B
2
Vo sin  1  Vo sin  

YB  Vo sin 
 g 
g
2  g 
YB 
Vo 2 sin 2  1  Vo 2 sin 2  

 
g
2
g

YB 
Vo 2 sin 2 
2g
2
 Vo 2 sin 2 Vo 2 sin 2  

,
Jadi koordinat titik B (titik tertinggi) adalah 
g
2g


Titik Q.
Pada titik Q (titik setelah benda melewati titik tertinggi) ini, keadaan benda adalah
sebagai berikut:
-
Kecepatan
Kecepatan benda pada saat benda berada di titik Q adalah sebagai
berikut:
VQX  Vo cos 
VQy  Vo sin   gt Q
(gerak dipercepat oleh percepatan gravitasi bumi)
VQ  VQ x  VQ y
2
2
Arah VQ :
tg  
VQ y
VQ x
  arctg
-
, sehingga:
VQ y
VQx
Posisi
Posisi benda pada saat berada pada titik Q adalah sebagai berikut:
Buku Ajar “Fisika”
42
VQ  Vo cos  .t Q
YQ  Vo sin  .t Q 
1
2
gt Q
2
dimana tQ adalah waktu yang diperlukan benda untuk mencapai titik Q.
Jadi koordinat titik Q adalah (XQ, YQ).
Titik C.
Pada titik C (titik terjauh lintasan) ini, keadaan benda adalah sebagai berikut:
-
Waktu Tempuh
Pada saat benda mencapai titik C, maka ketinggian benda terhadap
permukaan tanah adalah nol, sehingga:
YC  0
Vo sin  .t C 
1
2
gt C  0
2
Vo sin  .t C 
1
2
gt C
2
tC 
2Vo sin 
g
Hal tersebut berarti bahwa waktu tempuh untuk mencapai titik terjauh
(titik C) adalah dua kali waktu tempuh untuk mencapai titik tertinggi
(titik B).
-
Kecepatan
Kecepatan benda pada saat benda berada di titik C adalah sebagai
berikut:
Vx  Vo cos  .t C
Vx  Vo cos  .
Vx 
2Vo sin 
g
Vo 2 sin 2
g
Vy  Vo sin  .t c 
Buku Ajar “Fisika”
1 2
gt c
2
43
2Vo sin  1  2Vo sin  

Vy  Vo sin  .
 g 
g
2 
g

2
2Vo 2 sin 2 
Vo 2 sin 2 
Vy 
2
g
g
Vy 
-
4Vo 2 sin 2 
g
Posisi
Posisi benda pada saat berada pada titik C adalah sebagai berikut:
Xc  Vo cos  .t C
Xc  Vo cos  .
Xc 
2Vo sin 
g
2Vo 2 sin 2
g
Yc  0
 2Vo 2 sin 2 
,0 
Jadi koordinat titik C adalah 
g


Buku Ajar “Fisika”
44
RINGKASAN
1.
Kinematika adalah bagian dari ilmu fisika yang mempelajari tentang gerak
tanpa memperhatikan penyebab gerak tersebut.
2.
Perpindahan adalah perubahan posisi yang dialami oleh partikel, tanpa
memperhatikan lintasan atau jalan yang dilalui oleh partikel tersebut.
Perpindahan merupakan besaran vektor, sedangkan jarak tempuh (lintasan)
adalah besaran skalar.
3.
Kecepatan adalah perpindahan yang dilakukan oleh partikel dibagi dengan
waktu yang diperlukan oleh partikel
untuk melakukan perpindahan.
Kecepatan merupakan besaran vektor, sedangkan kelajuan
(besarnya
kecepatan) adalah besaran skalar.
4.
Terdapat dua macam kecepatan yaitu kecepatan rerata dan kecepatan sesaat,
dimana kecepatan rerata adalah perubahan posisi dibagi dengan selang waktu,

sedangkan kecepatan sesaat adalah Vins

r d r
 lim

(merupakan turunan
t 0 t
dt
pertama dari perpindahan yang merupakan fungsi waktu).
5.
Percepatan adalah perubahan kecepatan dibagi dengan waktu yang diperlukan
oleh partikel untuk melakukan perubahan kecepatan.
6.
Terdapat dua macam percepatan yaitu percepatan rerata dan percepatan
sesaat, dimana percepatan rerata adalah perubahan kecepatan dibagi dengan

selang waktu, sedangkan percepatan sesaat adalah ains

v d v
 lim

.
t 0 t
dt
(merupakan turunan pertama dari kecepatan dan turunan kedua dari fungsi
posisi, yang merupakan fungsi waktu).
7.
Gerak lurus beraturan (GLB) adalah gerak benda yang membuat lintasan
berbentuk garis lurus dengan jarak yang ditempuh tiap satu satuan waktu
tetap, baik besar dan arahnya. sehingga pada GLB percepatan benda yang
bergerak adalah nol.
Buku Ajar “Fisika”
45
8.
Gerak Lurus Beraturan (GLBB) adalah gerak benda yang membuat lintasan
berbentuk garis lurus dengan jarak yang ditempuh tiap satu satuan waktu
tidak sama besar karena adanya percepatan yang tetap, sedangkan arah gerak
tetap. Oleh karena itu, pada GLBB ini percepatan benda yang bergerak adalah
tetap.
9.
Gerak jatuh bebas adalah GLBB dipercepat oleh percepatan gravitasi bumi
arah ke bawah, sedangkan kecepatan awalnya nol.
10. Gerak peluru adalah gerak yang terdiri atas GLB (arah horizontal) dan GLBB
(arah vertikal) sehingga membentuk lintasan peluru (lintasan parabola).
Buku Ajar “Fisika”
46
LATIHAN SOAL
Soal Gerak Jatuh Bebas
1.
Sebuah bola jatuh bebas dari ketinggian 80 m di atas lantai. Setelah sampai
di lantai, bola memantul
kembali ke atas. Karena lantai kasar maka
besarnya kecepatan saat memantul hanya sebesar 50 % dari besarnya
kecepatan waktu bola jatuh di lantai. Bila percepatan gravitasi di tempat
tersebut adalah 10 m/s2 dan massa bola diabaikan, hitunglah:
a. Kecapatan bola saat jatuh di lantai dan saat memantul dari lantai. (40
m/s, 20 m/s)
b. Ketinggian bola 1,50 detik setelah memantul. (5 m/s)
2.
Sebuah bola jatuh bebas dari titik A di atas lantai dan sepuluh detik
kemudian bola tersebut sampai di lantai. Bila massa bola diabaikan dan
percepatan gravitasi=10 m/s2, tentukan:
a. Besar kecepatan bola saat jatuh di lantai.
b. Jarak titik A dari lantai
3.
Sebuah bola jatuh bebas dari ketinggian 20 m di atas lantai. Setelah sampai
di lantai, bola memantul
kembali ke atas. Karena lantai kasar maka
besarnya kecepatan saat memantul hanya sebesar 75 % dari besarnya
kecepatan waktu bola jatuh di lantai. Bila percepatan gravitasi di tempat
tersebut adalah 10 m/s2 dan massa bola diabaikan, hitunglah:
a. Kecapatan bola saat jatuh di lantai dan saat memantul dari lantai.
b. Ketinggian bola setelah memantul selama satu detik, dan berapa besar
kecepatannya.
Soal Gerak Peluru
1.
Sebuah bola dilempar dengan kecepatan awal 10 m/s sehingga membentuk
lintasan parabola. Bila g=10 m/s2 dan sudut elevasi adalah 60o tentukan:
a. Waktu yang diperlukan bola untuk mencapai titik tertinggi. (0,685 s)
b. Berapa tinggi titik tersebut pada soal a? (3,75 m)
c. Waktu untuk mencapai titik terjauh lemparan tersebut (1,73 s).
Buku Ajar “Fisika”
47
d. Berapa jauhnya titik tersebut pada soal c.? (8,65 m)
2.
Sebuah benda kecil dilempar dengan sudut elevasi 30o dan benda tersebut
memerlukan waktu dua detik untuk mencapai titik tertinggi. Bila g=10m/s2,
hitunglah:
a. Besarnya kecepatan awal lemparan tersebut. (40 m/s)
b. Tentukan koordinat titik tertinggi lemparan tersebut. (138,4 m, 20 m).
3.
Sebuah robot melempar bola kecil dengan sudut elevasi 45o. Bila titik
tertinggi yang harus dicapai adalah 2,5 m, tentukan berapa besar kecepatan
awal yang dilakukan robot pada saat melempar. Diketahui g=10m/s2. (10
m/s). Tentukan pula jarak terjauh lemparan tersebut. (5 m).
4.
Sudut elevasi suatu lintasan peluru adalah 30o, kecepatan awalnya adalah
40m/s. Tentukan besar dan arah kecepatan benda tersebut pada saat satu
detik setelah dilempar. Diketahui g=10m/s2. (36 m/s, arc tg 0,29).
5.
Sebuah meriam memuntahkan peluru dan mencapai sasaran di tanah setelah
10 s. Bila g=10 m/s2 dan sudut elevasi adalah 30o, hitunglah:
a. Besar kecepatan awal peluru (100 m/s)
b. Tinggi maksimum yang dicapai peluru tersebut (125 m)
6.
Sebuah benda dilempar dengan sudut elevasi 30o , sehingga membentuk
lintasan parabola. Bila percepatan gravitasi di tempat tersebut adalah 10
m/s2, dan benda mencapai titik tertinggi setelah empat detik, tentukan titik
terjauh dan titik tertinggi benda tersebut.(553,6 m dan 80 m).
7.
Sebuah peluru ditembakkan dengan kecepatan awal sebesar 100 m/s dan
sudut elevasinya 30o . Bila percepatan gravitasi di tempat tersebut adalah 10
m/s2, tentukan posisi peluru setelah empat detik (ketinggian peluru dan
jauhnya peluru dari titik awal).
Buku Ajar “Fisika”
48
4
DINAMIKA
Materi
: Dinamika
Sub Materi
: - Dinamika partikel
Tujuan
-
Hukum Newton I
-
Hukum Newton II
-
Hukum Newton III
-
Gaya gesek statis
-
Gaya gesek kinetis
-
Pemakaian Hukum Newton
: Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu
menjelaskan pengertian dinamika, memahami Hukum Newton I, Hukum Newton
II, Hukum Newton III, mampu menjelaskan pengertian gaya gesek statis dan gaya
gesek kinetis, dan memahami pemekaian Hukum Newton dalam gerak.
4.1. Hukum Newton
Hukum Newton I
Suatu benda yang diam akan tetap dalam keadaan diam, dan suatu benda
yang bergerak lurus beraturan akan tetap bergerak lurus beraturan, kecuali pada
benda tersebut bekerja gaya dari luar. Dari Hukum Newton I tersebut dapat
disimpulkan bahwa suatu benda mempunyai sifat untuk mempertahankan
terhadap gerakan. Sifat benda untuk mempertahankan terhadap gerakan tersebut
disebut dengan sifat inersia atau sifat kelembaman, sehingga Hukum Newton I
disebut pula dengan Hukum Inersia atau Hukum Kelembaman.
Hukum Newton II
Bila suatu gaya bekerja pada benda, maka benda tersebut akan mengalami
percepatan yang besarnya sebanding dengan gaya tersebut dan berbanding terbalik
dengan massa benda. Secara umum Hukum Newton II dapat dituliskan sebagai
berikut:
Buku Ajar “Fisika”
49
 F  m.a
dimana:
F = resultan gaya yang bekerja pada benda (N)
m = massa benda (kg)
a = percepatan benda (m/s2)
Apabila gaya yang bekerja searah dengan arah gerak benda (misalnya gaya
dorong), maka gaya tersebut diberi tanda positif dan percepatannya juga diberi
tanda positif, atau dengan kata lain gerak benda tersebut dipercepat.
Apabila gaya yang bekerja berlawanan arah dengan arah gerak benda
(misalnya gaya tarik yang berlawanan dengan arah gerak benda), maka gaya
tersebut diberi tanda negatif dan percepatannya juga diberi tanda negatif, atau
dengan kata lain gerak benda tersebut diperlambat.
Hukum Newton III
Bila dua benda berinteraksi satu sama lain, maka kedua benda tersebut
akan saling memberikan gaya, yang disebut dengan gaya aksi dan gaya reaksi.
Kedua gaya tersebut terjadi secara bersamaan, besarnya sama, dan arahnya
berlawanan. Secara umum Hukum Newton III dapat dituliskan:


F aksi   F reaksi
Contoh dari Hukum Newton III adalah apabila sebuah benda terletak pada
suatu bidang datar, maka benda tersebut akan memberikan gaya berat kepada
bidang datar (gaya aksi), dan sebaliknya bidang datar akan memberikan gaya
kepada benda (gaya reaksi). Gaya reaksi ini biasa disebut dengan gaya normal.
Apabila benda terletak pada bidang miring, maka arah gaya normal adalah
belawanan arah dengan komponen gaya berat yang menekan bidang miring
tersebut secara tegak lurus.
4.2. Gaya Gesek
Bila seuatu benda berada pada suatu bidang datar yang permukaannya
kasar, maka pada permukaan benda yang bersinggungan dengan bidang datar tadi
akan terjadi gaya gesek. Dalam hubungannya dengan gerak, gaya gesek bersifat
Buku Ajar “Fisika”
50
menahan atau memperlambat gerak benda. Gaya gesek yang terjadi pada suatu
benda yang terletak pada suatu bidang datar dibedakan menjadi dua, yaitu gaya
gesek statis (pada umumnya diberi notasi fs) dan gaya gesek kinetik (pada
umumnya diberi notasi fk).
Gaya gesek statis terjadi apabila posisi benda masih dalam keadaan diam
atau belum bergerak, sedangkan gaya gesek kinetik terjadi untuk benda yang
sudah bergerak. Besar kecilnya gaya gesek tergantung pada keadaan dua
permukaan benda yang bersinggungan tadi.
Semakin kasar permukaannya,
semakin besar gaya gesek yang terjadi. Demikian pula sebaliknya, semakin halus
atau semakin licin permukaannya, semakin kecil gaya gesek yang terjadi. Besar
kecilnya gaya gesek tersebut, baik gaya gesek statis maupun gaya gesek kinetik
dinyatakan dengan koefisien gesek antara dua permukaan benda yang
bersinggungan tadi (koefisien gesek umumnya diberi notasi µ). Dengan demikian
terdapat dua koefisien gesak yaitu koefisien gesek statis (µs) untuk benda yang
masih dalam keadaan diam atau belum bergerak, dan koefisien gesek kinetik (µk)
untuk benda yang sudah dalam keadaan bergerak.
Besarnya gaya gesek yang terjadi, selain dipengaruhi oleh koefisien gesek,
juga sebanding dengan gaya normal yang terjadi pada benda (pada umumnya
diberi notasi N), yang arahnya tegak lurus terhadap permukaan. Gaya normal
timbul sebagai akibat adanya gaya aksi dan gaya reaksi antara dua permukaan
yang bersentuhan, yaitu akan ada gaya dari permukaan benda yang satu ke
permukaan benda yang kedua dan sebaliknya (Hukum Newton III). Besar gaya
normal dapat dihitung dari persamaan Hukum Newton, bila besar gaya-gaya yang
lain diketahui. Setelah gaya normal diketahui dari nasil perhitungan, maka besar
gaya gesek statis dan gaya gesek kinetis dapat dihitung dengan menggunakan
rumus:
fs = µs N,
fk = µk N
dimana:
fs = Gaya gesek statik (N)
Buku Ajar “Fisika”
51
fk = Gaya gesek kinetik (N)
µs = Koefisien gesek statik
µk = Koefisien gesek kinetik
N = Gaya Normal (N)
4.3. Pemakaian Hukum Newton
Apabila suatu benda dengan posisi mula-mula diam, terletak pada bidang
datar yang permukaannya kasar, dan kemudian benda tersebut ditarik ke kanan
dengan gaya F, maka keadaan benda dari segi geraknya dapat ditinjau pada
gambar 4.1., sebagai berikut:
N
F
fs
w  mg
Gambar 4.1. Keadaan benda dari segi gerak
- Bila F < fs, maka benda tetap dalam posisi diam.
- Bila F = fs, maka benda dalam posisi tepat akan bergerak
- Bila F > fs, maka benda bergerak, berlaku Hukum Newton II, dan
gaya gesek yang bekerja pada benda adalah gaya gesek kinetis.
Contoh Soal:
1. Pada gambar 4.2., bila massa benda adalah 10 kg, percepatan grafitasi
bumi = 9,8 m/s2, dan koesien gesek statis antara dua permukaan adalah
0,5, bagaimana keadaan gerak benda bila F = 40 N, F = 49 N, dan F = 60
N?.
Buku Ajar “Fisika”
52
N
F
fs
w  mg
Gambar 4.2. Posisi benda soal no.1
Penyelesaian:
Dari keseimbangan arah vertikal diperoleh persamaan: N = mg = 10 x 9,8
= 98 N, sehingga diperoleh besarnya gaya gesek statis fs, yaitu fs = µs N =
0,5 x 98 = 48 N.
Jadi bila F = 40 N, maka F < fs, benda tetap dalam posisi diam. Bila F = 49
N, maka F = fs, benda dalam posisi tepat akan bergerak. Bila F = 60 N,
maka F > fs, benda bergerak.
2. Pada gambar 4.3, bila massa benda adalah 40 kg, percepatan grafitasi bumi
= 9,8 m/s2, dan koesien gesek statis antara dua permukaan adalah 0,2, dan
θ = 60o, bagaimana keadaan gerak benda bila F = 40 N, F = 49 N, dan F =
60 N?.
N
fs
m.g. cos 

mg sin 
w  mg
Gambar 4.3. Posisi benda soal no.2
Penyelesaian:
Gaya-gaya yang bekerja pada benda dapat digambarkan sebagai berikut:
Buku Ajar “Fisika”
53
Dari keseimbangan arah tegak lurus bidang diperoleh persamaan: N = mg
cos θ = 40 x 9,8 x cos 60o = 196 N, sehingga diperoleh besarnya gaya
gesek statis fs, yaitu fs = µs N = 0,5 x 196= 98 N.
Dari gambar 4.2, dapat dilihat bahwa selain fs, ada gaya lain yaitu mg sin
θ yang bersifat menahan benda untuk tidak bergerak karena gaya F. Besarnya mg
sin θ = 40 x 9,8 x sin 60o = 196 N.
3. Sebuah benda yang massanya 10 kg, semula diam berada di atas bidang
horizontal, kemudian ditarik dengan gaya horizontal F sebesar 60 N dan berakibat
benda tersebut bergerak. Bila g = 10 m/s2 dan koefisien gesek kinetis antara benda
dengan permukaan bidang adalah 0,40, hitung:
a. Percepatan gerak benda (2 m/s2).
b. Jauhnya benda bergerak setelah sepuluh detik (100 m).
Penyelesaian:
Penguraian gaya gambar 4.3:
N
F
fs
w  mg
Gambar 4.4. Penguraian gaya soal no.3
N = m.g
N = 10.10 = 100 N
fk  k .N
fk  0,4.100
fk  40 N
a. Mencari percepatan:
Buku Ajar “Fisika”
54
 F  ma
60  40  10a
20  10a
a  2m / s 2
b. Dari rumus GLBB:
x(t )  v0 t 
1 2
at
2
1
x(t )  0  .2.10 2  100m
2
4. Pada soal no. 3, bagaimana bila gaya F membentuk sudut 30o dengan
horizontal? (a. 2,4 m/s2, b. 120 m).
Penyelesaian:
Perhatikan penguraian gaya untuk menyeelesaikan soal nomor 4.
Gambar 4.5. Penguraian gaya soal no.4
N  F sin   mg
N  mg  F sin 
N  100  60 sin 30 o
N  100  30
N  70 N
a. F  m.a
F cos   fk  ma
60 cos 30 o  0,4.70  10.a
51,96  28  10a
a  2,4m / s 2
Buku Ajar “Fisika”
55
b.x  vo.t  1 / 2.a.t 2
 0  1 / 2.2,4.100  120m
Buku Ajar “Fisika”
56
RINGKASAN
1. Hukum Newton I:
Suatu benda yang diam akan tetap dalam keadaan diam, dan suatu benda
yang bergerak lurus beraturan akan tetap bergerak lurus beraturan, kecuali pada
benda tersebut bekerja gaya dari luar. Hukum Newton I disebut pula dengan
Hukum Inersia atau Hukum Kelembaman.
2. Hukum Newton II:
Bila suatu gaya bekerja pada benda, maka benda tersebut akan mengalami
percepatan yang besarnya sebanding dengan gaya tersebut dan berbanding terbalik
dengan massa benda.
 F  m.a
3.
Bila dua benda berinteraksi satu sama lain, maka kedua benda tersebut
akan saling memberikan gaya, yang disebut dengan gaya aksi dan gaya reaksi.
Kedua gaya tersebut terjadi secara bersamaan, besarnya sama, dan arahnya
berlawanan.


F aksi   F reaksi
4.
Gaya gesek adalah gaya sentuh yang muncul jika permukaan dua benda
padat bersentuhan secara fisik, dimana arah gaya gesek sejajar dengan permukaan
bidang dan gaya gesek bersifat menahan atau memperlambat gerak benda
5.
Gaya gesek yang terjadi pada suatu benda yang terletak pada suatu bidang
dibedakan menjadi dua, yaitu gaya gesek statis dan gaya gesek kinetik .
Buku Ajar “Fisika”
57
LATIHAN SOAL
1.
Sebuah benda yang massanya 8 kg berada di atas bidang horizontal yang
kasar dengan koefisien gesek statis 0,40. Bila benda tersebut ditarik dengan
gaya horizontal F sebesar 25 N dan percepatan gravitasi di tempat tersebut
adalah 10 m/s2,
a. Cek keadaan gerak benda tersebut.
b. Cek bila gaya F diperbesar menjadi 32 N.
c. Cek bila gaya F diperbesar menjadi 40 N.
d. Cek untuk soal c, bila F
membentuk sudut 45o dengan arah
horizontal ke atas. (a. benda tidak bergerak, b. benda tepat akan
bergerak, c.
2.
benda bergerak, d. benda bergerak)
Sebuah benda semula diam, berada pada bidang horizontal kasar (µk=0,4).
Pada benda tersebut bekerja gaya F1 sebesar 40 N dan F2 sebesar 14 N (lihat
Gambar 4.5 ). Bila
g = 10 m/s2, dan benda bergerak ke kanan
dengan
percepatan 9 m/S2, hitung berapa massa benda tersebut (2 kg).
Gambar 4.6. Penguraian gaya latihan soal no.2
3.
Pada soal no. 2 di atas, gaya F2 ditambah sehingga percepatan benda
berkurang menjadi 4 m/S2. Berapa gaya yang ditambahkan pada F2? (10 N).
4.
Sebuah benda yang massanya 8 kg diletakkan pada bidang miring yang
kasar seperti gambar 4.6. Akibatnya benda bergerak ke bawah.
Buku Ajar “Fisika”
58
Gambar 4.7. Posisi benda latihan soal no.4
Bila sudut kemiringan α = 30o , tentukan:
a. Percepatan benda (0,675 m/s2)
b. Kecepatan benda setelah sepuluh detik (6,75 m/s).
(percepatan gravitasi bumi = 10 m/S2, fk = 0,5).
5.
Seperti soal no 4 tapi ada gaya F sebesar 4 N yang menarik benda seperti
pada gambar 4.7. (a. 1,175 m/s2 b. 11,75m/s).
Gambar 4.8. Posisi benda latihan soal no.5
6.
Sebuah benda yang massanya 10 kg berada pada bidang miring yang kasar
pada gambar 4.8
Gambar 4.9. Posisi benda latihan soal no.6
tentukan:
a. Percepatan benda (2,27 m/s2)
b. Kecepatan benda setelah sepuluh detik (22,7 m/s).
(percepatan gravitasi bumi = 10 m/S2, fk = 0,2).
7.
Tali dipasang pada katrol tanpa gesekan seperti gambar 4.9. Pada kedua
ujungnya digantungkan massa m1 = 7 kg dan m2 = 9 kg. Akibatnya benda
dengan massa m2 bergerak turun dan benda dengan massa m1 bergerak naik.
Buku Ajar “Fisika”
59
T1
T2
m1
m2
w1
w2
Gambar 4.10. Posisi benda latihan soal no.7
tentukan:
a. percepatan yang dialami benda-benda tersebut (1,23 m/s2)
b. tegangan tali. (77 N)
8.
Pada gambar 4.10, diketahui bahwa koefisien gesek kinetis antara benda
dan meja adalah 0,20, massa benda A = 25 kg dan massa benda B = 15 kg. Berapa
jauh benda B akan turun dalam waktu tiga setelah dilepas? (11,25 m). (diketahui g
= 10m/s2)
Gambar 4.11. Posisi benda latihan soal no.8
Buku Ajar “Fisika”
60
5
USAHA, ENERGI, & DAYA
Materi
: - Usaha
- Energi
- Daya
Sub Materi: - Usaha
-
Jenis-jenis usaha
-
Energi
-
Energi potensial gravitasi
-
Energi kinetik
-
Energi mekanik
-
Hukum kekekalan energi
-
Hubungan antara usaha dan energi
-
Daya
Tujuan: Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu
menjelaskan pengertian usaha, jenis usaha yaitu usaha potif, usaha negatif, dan
usaha dengan nilai nol, memahami pengertian energi, energi potensial gravitasi,
energi kinetik, dan energi mekanik, memahami pengertian hukum kekekalan
energi mekanik, memahami hubungan antara usaha dan energi, dan memahami
pengertian daya.
5.1 Usaha
Dalam kehidupan sehari-hari, usaha dapat diartikan sebagai aktifitas yang
dilakukan oleh manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya seorang anak
melakukan usaha belajar agar lulus dalam menempuh ujian semester, seorang
pengendara sepeda motor melakukan usaha mempercepat laju sepeda motornya
agar segera sampai ke tempat kerjanya. Apabila seorang anak mendorong sebuah
kotak di atas lantai maka anak tersebut dapat dikatakan melakukan usaha, dimana
besarnya usaha bergantung pada berapa besar gaya dorong yang diberikan dan
bergantung pada seberapa jauh kotak tersebut didorong oleh anak tersebut.
Buku Ajar “Fisika”
61
Dalam ilmu fisika, pengertian usaha adalah perkalian antara gaya konstan
yang diberikan pada suatu benda dengan besarnya perpindahan benda (jarak)
akibat adanya gaya tadi. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha
akan terjadi apabila gaya yang diberikan dapat mengakibatkan perpindahan dari
benda tersebut. Selain itu juga dipersyaratkan bahwa agar terjadi usaha, maka
gaya yang diberikan harus sejajar (paralel) dengan bidang di mana benda tersebut
berpindah. Dengan demikian apabila sesseorang mendorong tembok, atau
mendorong suatu benda yang sangat berat, dan benda tersebut tidak bergerak
maka dikatakan orang tersebut tidak melakukan usaha. Demikian pula apabila
seseorang memberikan gaya pada suatu benda dimana gaya tersebut membentuk
sudut dengan arah berpindahnya benda, maka gaya yang melakukan usaha adalah
komponen gaya yang sejajar (paralel) dengan arah berpindahnya benda tadi.
Dari uraian tersebut, secara umum dapat didefinisikan bahwa usaha
merupakan perkalian skalar (dot product) antara gaya dengan perpindahan, dan
dapat dituliskankan sebagai berikut:
W=F.s
dimana: W = usaha
F = gaya
s = perpindahan
Karena
usaha
merupakan
perkalian
skalar
antara
gaya
dengan
perpindahan, maka hasilnya adalah besaran skalar, dan besarnya usaha menjadi:
W = F s cos θ,
dimana θ adalah sudut antara gaya yang diberikan pada benda dengan arah
perpindahannya.
Dari uraian di atas maka apabila ditinjau dari arah gaya terhadap
perpindahan, usaha dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu usaha positif, usaha
negatif, dan usaha dengan nilai nol.
5.1.1 Usaha positif
Buku Ajar “Fisika”
62
Usaha positif adalah usaha yang nilainya positif. Hal ini bisa diproleh
apabila gaya yang melakukan usaha searah atau membentuk sudut 0o dengan arah
perpindahan, sehingga rumus usaha menjadi W = F s cos 0o = F s. Contoh usaha
positif misalnya seorang anak yang sedang mendorong meja, , usaha mengangkat
benda ke atas, dan lain-lain.
5.1.2 Usaha negatif
Usaha negatif adalah usaha yang nilainya negatif. Hal ini bisa diproleh
apabila gaya yang melakukan usaha berlawanan arah atau membentuk sudut 180o
dengan arah perpindahan, sehingga rumus usaha menjadi W = F s cos 180o = - F
s. Contoh usaha negatif misalnya usaha yang dilakukan oleh gaya gesek kinetik,
usaha yang dilakukan oleh gaya yang melakukan tarikan benda ke arah belakang,
dan lain-lain.
5.1.3 Usaha dengan nilai nol
Usaha dengan nilai nol adalah usaha yang nilainya nol. Hal ini bisa
diproleh apabila gaya yang melakukan usaha arahnya tegak lurus atau membentuk
sudut 90o dengan arah perpindahan, sehingga rumus usaha menjadi W = F s cos
90o = 0. Contoh usaha dengan nilai nol misalnya usaha yang dilakukan oleh gaya
berat benda yang bergerak pada bidang horisontal, usaha yang dilakukan oleh
gaya normal pada benda yang bergerak pada bidang horisontal, dan lain-lain.
Dalam SI, satuan F adalah Newton (N), satuan s adalah meter (m),
sehingga satuan F adalah Newton meter (Nm), yang disebut dengan Joule (J).
Jadi: 1 J = 1 Nm
= 105 dyne. 102 cm = 107 dyne cm.
Satuan usaha dyne cm disebut dengan erg, sehingga:
1 J = 107 erg.
5.2 Energi
Pengertian energi dalam ilmu fisika adalah kemampuan untuk melakukan
usaha. Oleh karena itu, energi adalah setara dengan usaha. Satuan energi juga
Buku Ajar “Fisika”
63
sama dengan satuan usaha, yaitu Joule (J) dalam Sistem Internasional. Satuan
energi yang lain adalah erg, kalori, dan kWh (kilowatt hours). Satuan kWh
biasanya digunakan untuk menyatakan besar energi listrik, sedangkan satuan
kalori biasanya digunakan untuk energi kimia atau energi panas. Hubungan satuan
energi:
1 J = 0,24 kalori atau 1 kalori = 4,2 J
1 kWh = 3,6 106 J.
Dalam ilmu fisika dikenal banyak sekali energi, misalnya energi potensial,
energi kinetik, energi listrik, energi panas, energi kimia, energi nuklir, dan lainlain. Pada bab ini energi yang akan dibahas adalah energi potensial gravitasi,
energi kinetik, dan energi mekanik yang merupakan jumlahan dari energi kinetik
dan energi potensial gravitasi.
5.2.1 Energi Potensial Gravitasi
Energi potensial gravitasi adalah energi potensial akibat adanya gravitasi
bumi. Energi potensial yang lain, misalnya adalah energi yang diakibatkan oleh
tarikan atau regangan pada karet atau pegas, yang disebut dengan energi potensial
pegas. Energi potensial gravitasi dimiliki oleh benda yang berada pada ketinggian
tertentu dari permukaan bumi, energi potensial pegas muncul akibat adanya
perbedaan kedudukan dari titik kesetimbangannya, yaitu titik keadaan awal
sebelum benda ditarik.
Besarnya energi potensial gravitasi sebanding dengan ketinggian (h) dan
massa benda (m).Selain kedua besaran tersebut, energi potensial gravitasi
dipengaruhi oleh percepatan gravitasi (g) di tempat tersebut, sehingga secara
matematis dapat dituliskan rumus energi potensial gravitasi sebagai berikut.
Ep = mgh,
dimana:
Ep = energi potensial (J)
m = massa benda (kg)
g = percepatan gravitasi bumi (m/s2)
h = ketinggian (m)
Buku Ajar “Fisika”
64
5.2.2 Energi Kinetik
Energi kinetik adalah energi yang dimiliki oleh benda yang sedang
bergerak, sehingga
secara matematis dapat dituliskan rumus energi kinetik
sebagai berikut:
Ek = ½ mv2
dimana:
Ek = energi kinetik (J)
m = massa (kg)
v = kecepatan (m/s)
5.3.3. Energi Mekanik
Energi mekanik merupakan penjumlahan dari energi potensial gravitasi
dengan energi kinetik, sehingga secara matematis dapat dituliskan rumus energi
potensial gravitasi sebagai berikut:
Em = Ep + Ek,
dimana:
Em = energi mekanik (J)
Ep = energi potensial gravitasi (J)
Ek = energi kinetik (J)
5.3.4 Hukum Kekekalan Energi
Sebuah bola dilemparkan vertikal ke atas sampai mencapai titik teratas,
kemudian bergerak ke bawah, dan jatuh lagi ke lantai. Ketika bola bergerak ke
atas, kecepatan bola semakin lama semakin melambat dan bola semakin tinggi.
Pada titik teratas, bola berhenti sesaat dan kembali lagi ke bawah dengan
kecepatan yang semakin besar. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa energi
gerak (energi kinetik) semakin lama semakin kecil sampai menjadi nol ketika
berhenti sesaat pada titik teratas.
Energi gerak tersebut ternyata berubah menjadi energi potensial gravitasi
(Ep) sampai akhirnya mencapai maksimum. Begitu pula sebaliknya, ketika bola
Buku Ajar “Fisika”
65
tersebut bergerak ke bawah, energi potensial gravitasi semakin kecil, dan menjadi
nol ketika sampai di lantai. Adapun energi geraknya semakin besar dan mencapai
maksimum ketika sampai di lantai, tetapi energi potensial gravitasinya menjadi
nol ketika bola sampai di lantai. Hal tersebut tersebut menunjukkan bahwa energi
bersifat kekal. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi
dapat diubah dari satu bentuk energi menjadi bentuk energi yang lain. Apabila
benda selama bergerak naik dan turun hanya dipengaruhi oleh gaya gravitasi,
maka besar energi mekanik selalu tetap. Dengan kata lain, jumlah energi potensial
dan energi kinetik selalu tetap. Pernyataan ini dikenal dengan Hukum Kekekalan
Energi, dan secara matematis dapat dituliskan Hukum Kekekalan Energi Mekanik
sebagai berikut:
Em1 = Em2
Ep1 + Ek1 = Ep2 + Ek2
mgh1 + ½ mv12 = mgh2 + ½ mv22,
dimana:
Em1 = energi mekanik benda ketika berada pada titik 1
Em2 = energi mekanik benda ketika berada pada titik 2
5.3.5. Hubungan antara Usaha dan Energi
Energi adalah kemampuan melakukan usaha, sehingga dapat disimpulkan
bahwa usaha memiliki kaitan yang erat dengan energi.
Ketika seseorang mengangkat sebuah balok, orang tersebut akan
memberikan gaya dorong terhadap balok. Pada saat ke atas, berlaku: Wtangan =
Ftangan . s = m g h, dan pada saat ke bawah: Wgravitasi = Fgravitasi . s = –m g h
Usaha yang dilakukan oleh gaya gravitasi bumi (benda yang bergerak
vertikal) sama dengan perubahan energi potensial gravitasi, dan secara matematis
dapat ditulis sebagai berikut:
W = Δ Ep
W = Ep2 – Ep1
W = m g (h2 – h1)
Buku Ajar “Fisika”
66
dimana:
W = usaha yang dilakukan terhadap benda (Joule)
ΔEp = perubahan energi potensial (Joule)
Ep1 = energi potensial awal (Joule)
Ep2 = energi potensial akhir (Joule)
Ketika seseorang berusaha mendorong mobil dengan suatu gaya sehingga
mobil bergerak, berarti telah terjadi perubahan energi dari energi yang dikeluarkan
orang tadi menjadi energi gerak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ketika gaya
melakukan usaha pada sebuah benda maka akan terjadi perubahan energi pada
benda tersebut. Usaha yang dilakukan pada sebuah benda yang bergerak
horisontal menyebabkan perubahan energi kinetik. Dengan demikian, besarnya
usaha sama dengan perubahan energi kinetik benda, dan secara matematis dapat
dituliskan sebagai berikut.
W = Δ Ek
W = Ek2 – Ek1,
dimana:
W = usaha yang dilakukan terhadap benda (Joule)
Δ Ek = perubahan energi kinetik (Joule)
Ek2 = energi kinetik akhir (Joule)
Ek1 = energi kinetik awal (Joule)
5.3.6. Daya
Besaran usaha menyatakan gaya yang menyebabkan perpindahan benda.
Namun, besaran ini tidak memperhitungkan lama waktu gaya itu bekerja pada
benda sehingga menyebabkan benda berpindah. Kadang-kadang usaha dilakukan
sangat cepat dan di saat lain usaha dilakukan sangat lambat. Misalnya, seseorang
mendorong lemari untuk memindahkannya dari pojok kamar ke sisi lain kamar
yang berjarak 3 m. Dalam melakukan usahanya itu, orang tersebut membutuhkan
waktu lima menit. Apabila lemari yang sama dipindahkan oleh orang lain,
dibutuhkan waktu 3 menit, sehingga dalam melakukan usaha yang sama, kedua
orang tersebut membutuhkan waktu yang berbeda. Besaran yang menyatakan
Buku Ajar “Fisika”
67
besar usaha yang dilakukan per satuan waktu dinamakan daya.Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa orang kedua tadi memiliki daya yang lebih besar daripada
orang yang pertama. Daya didefinisikan sebagai usaha per satuan waktu, dan
secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut.
P=W/t
dimana:
W = usaha (joule),
t = waktu (sekon), dan
P = daya (Joule/sekon atau watt).
Satuan daya yang lain adalah Horse Power (HP) yang diterjemahkan
dalam Bahasa Indonesia sebagai Daya Kuda, dimana 1 HP = 746 watt.atau sering
dibulatkan menjadi 750 watt.
Hubungan antara daya dan kecepatan dapat diturunkan sebagai berikut:
P = W/t = (F s)/t = F (s/t) = F v,
dimana:
P = daya (watt)
F = gaya yang menggerakkan benda (Newton)
V = kecepatan gerak benda (m/s).
Contoh soal:
1. Sebuah balok bermassa 1 kg di atas lantai licin. Jika gaya mendatar 2 N
digunakan untuk menarik balok, maka usaha yang dilakukan agar balok
berpindah sejauh 3 m sebesar…… joule (6 J).
Penyelesaian:
W = F.s = F s cos θ = 2 (3) cos 00 = 6 (1) = 6 Joule
2. Untuk menarik sebuah koper beserta isinya seperti pada gambar di bawah
diperlukan gaya sebesar 20 N. Berapakah usaha yang diberikan oleh gaya
itu, jika sudut antara gaya dengan perpindahan 60o dan balok bergeser
sejauh 4 m? (40 J).
Buku Ajar “Fisika”
68
Penyelesaian:
W = F.s = F s cos θ = 20 (4) cos 60o = 80 (0,5) = 40 Joule
3. Seorang anak menarik mobil mainan menggunakan tali dengan gaya
sebesar 20 N. Tali tersebut membentuk sudut 60o terhadap permukaan
tanah dan besar gaya gesekan tanah dengan roda mobil mainan adalah 2 N.
Jika mobil mainan berpindah sejauh 10 meter, berapakah usaha total? (80
J).
Penyelesaian:
W = ∑F.s = (F – fk) s cos θ = (20 – 2) (10) cos 60o = 90 Joule.
4. Berapa usaha yang diperlukan seorang pelari cepat dengan massa 74 kg
untuk mencapai kecepatan 2,2 m/s dari keadaan diam? (179,08 J).
Penyelesaian:
Usaha = perubahan energi, dalam hal ini adalah perubahan energi kinetik.
Jadi:
W = ∆Ek = ½ mv22 - ½ mv12 = ½ (74) (2,22 – 0) = 37 (4,84) = 179,08
Joule.
5. Seorang pekerja proyek yang massanya 50 kg menaiki tangga sebuah
tower yang tingginya 30 m dalam waktu dua menit. Jika percepatan
gravitasi di tempat tersebut adalah 10 m/s2, berapakah daya yang
dikeluarkan orang tersebut? (125 watt).
Penyelesaian:
Usaha yang dilakukan: W = mgh = 50 (10) (30) = 15.000 J.
Daya: P = W/t = 15.000 / 2 (60) = 125 watt.
Buku Ajar “Fisika”
69
RINGKASAN
1.
Usaha merupakan perkalian skalar (dot product) antara gaya dengan
perpindahan, dan dapat dituliskankan: W = F.s
2.
Ditinjau dari arah gaya terhadap perpindahan, usaha dapat dibedakan menjadi
tiga jenis, yaitu usaha positif, usaha negatif, dan usaha dengan nilai nol.
3.
Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha, oleh karena itu energi
adalah setara dengan usaha. Satuan energi juga sama dengan satuan usaha,
yaitu Joule (J) dalam Sistem Internasional.
4.
Energi potensial gravitasi adalah energi potensial akibat adanya gravitasi
bumi, dan dapat dituliskan: Ep = mgh.
5.
Energi kinetik adalah energi yang dimiliki oleh benda yang sedang bergerak,
dan dapat dituliskan: Ek = ½ mv2.
6.
Energi mekanik adalah penjumlahan dari energi potensial gravitasi dengan
energi kinetik, dan dapat dituliskan: Em = Ep + Ek
7.
8.
Hukum kekekalan energi mekanik: Ep1 + Ek1 = Ep2 + Ek2
Daya didefinisikan sebagai usaha per satuan waktu, dan secara matematis
dapat dituliskan: P = W/t.
Buku Ajar “Fisika”
70
LATIHAN SOAL
1. Sebuah truk bergerak dengan kecepatan 30 m/s dan memiliki energi
kinetik 18.105 Joule. Tentukan :
a.
massa truk (4 x 103 kg)
b.
jika kecepatannya diubah menjadi dua kalinya, menjadi berapa
kalikah energi kinetiknya? (4 X).
2. Sebuah benda A massa 5 kg berada di atas sebuah gedung dengan
ketinggian 20 m diatas tanah, sedangkan benda B berada 4 m dibawahnya.
Jika massa benda A adalah 0,5 kali massa B, maka tentukanlah besarnya
selisih energi potensial dari kedua benda itu. (600 J).
3. Air terjun setinggi 10 m mampu mengalirkan air sebanyak 10 m3 dalam 1
detiknya. Air tersebut digunakan untuk memutar sebuah kincir yang
dihubungkan dengan sebuah generator. Apabila g = 10 m/s2, berapakah
besarnya energi yang diterima generator setiap detik? (1000 J).
4. Benda A dengan massa 12 kg terletak pada bidang licin. Pada benda
tersebut dikerjakan gaya dengan arah mendatar sebesar 60 N. Setelah
benda menempuh jarak 40 m, berapa laju benda tersebut. (20 m/s).
Kerjakan dengan metode GLBB dan konsep kerja.
5. Hitunglah usaha yang diperlukan agar pompa dapat memompakan 100
liter minyak ke dalam tangki setinggi 20 m. Diketahui satu cc minyak
massanya 0,80 gram. (16.000 J).
6. Sebuah mesin pesawat terbang mampu memberikan gaya dorong sebesar
20.000 N. Berapakah daya yang dihasilkan mesin ketika pesawat
mengangkasa dengan kecepatan 250 m/s? (5.000.000 watt).
Buku Ajar “Fisika”
71
6
Materi
MUATAN LISTIK & HUKUM COULOMB
: Muatan Listrik
Hukum Coulomb
Sub Materi: - Pengertian Muatan Listrik
-
Partikel Listrik
-
Jenis Muatan Listrik
-
Hukum Coulomb
Tujuan: Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu
menjelaskan pengertian muatan listrik, partikel-partikel listrik, mengerti tentang
muatan dan massa partikel-listrik, memahami jenis dan sifat muatan listrik,
memahami hukum Coulomb, dan mampu mengimplementasikan dalam
perhitungan-perhitungan.
6.1. Muatan Listrik
Dalam melakukan aktivitas sehari – hari, tentunya kita tidak pernah
terlepas dari yang namanya kelistrikan. Sebelum jauh mempelajari tentang
kelistrikan, alangkah lebih baiknya kita mengenal apakah listrik itu?, apa sajakah
jenis-jenis listrik?. Kelistrikan adalah sifat dari sebuah benda yang muncul
dikarenakan adanya muatan listrik. Pengertian lain dari listrik adalah sebuah
sumber energi yang disalurkan melalui kabel, dimana arus listrik ditimbulkan
karena muatan listrik yang mengalir dari kutub positif mnuju kutub negatif.
Berbagai fenomena alam yang banyak kita lihat yang berhubungan dengan
kelistrikan antara lain: adanya petir, fenomena sisir digosok dengan rambut
kering, kemudian didekatkan pada potongan kertas-kertas kecil, ternyata sisir
dapat menarik potongan kertas kecil. Hal ini disebabkan karena sisir telah
bermuatan listrik negatif, karena mendapat tambahan muatan listrik dari rambut
kering. Contoh yang berkaitan dengan listrik statis adalah ketika kita mendekatkan
balon dengan kepala, maka seakan – akan rambut tertarik kearah balon. Contoh
Buku Ajar “Fisika”
72
lain, ketika kita mendekatkan punggung tangan ke layar TV yang sedang menyala.
Maka rasanya seakan bulu tertarik oleh sesuatu dari layar TV. Itulah yang
dinamakan muatan listrik. Beberapa percobaan menunjukkan bahwa muatan
listrik pada sisir belum tentu sama setiap kali penggosokkan, dan jumlahnya
merupakan kelipatan dari suatu muatan elementer “ e “.
Salah satu percobaan yang menunjukkan hal tersebut dikenal dengan
percobaan Tetes Millikan, dan besar muatan elementer e = 1,6 x10-19 C ( C adalah
satuan internasional untuk muatan yang merupakan singkatan dari Coulomb,
Charles Agustin Coulomb adalah orang yang dianggap paling berjasa dalam
melakukan penelitian tentang muatan listrik). Jadi muatan listrik (q) terkuantisasi
(merupakan kelipatan bilangan bulat dari muatan elementer e), q = ne dimana n =
…, -2,-1, 0, 1, 2,… Beberapa sifat partikel atomic ditunjukkan pada Tabel 68.1.
Tabel 6.1. Nilai muatan dan massa partikel
Beberapa contoh yang telah disebutkan di atas, dapat dilihat pada Gambar
6.1 dan Gambar 6.2.
Gambar 6.1. Fenomena petir
Buku Ajar “Fisika”
73
(sumber: http://physicsworld.com/)
Gambar 6.2. Fenomena listrik statis
(sumber: http://www.effinghamschools.com/Page/19940)
Benda-benda memiliki muatan listrik, terdapat dua jenis muatan, yaitu
muatan positif dan muatan negatif. Terdapat sifat tarik menarik atau tolak
menolak antara muatan. Jika muatan positif bertemu dengan muatan positif ,
muatan negative bertemu dengan muatan negatif, maka yang terjadi adalah tolak –
menolak (karena muatan sejenis). Jika muatan positif bertemu dengan muatan
negatif, maka akan tarik menarik (hal ini dikarenakan muatan berbeda jenis).
Besarnya gaya tarik atau tolak bergantung pada jarak antara kedua muatan. Jika
jaraknya besar, maka gaya listriknya akan kecil. Sedangkan jika jaraknya kecil,
maka gaya listriknya akan besar. Jadi gaya listrik berbanding terbalik dengan
jarak antara kedua muatan. Berikut ini (gambar 6.3) adalah ilustrasi yang terjadi
pada kedua muatan listrik jika didekatkan.
Buku Ajar “Fisika”
74
Gambar 6.3. Gaya tarik dan tolak pada dua muatan
(sumber: guweb2.gonzaga.edu)
Kejadian tarik atau tolak dua buah muatan merupakan salah satu penemuan
peneliti yang bernama Charles-Augustin de Coulomb (Perancis: [kulɔ] , 14 Juni
1736 - 23 Agustus 1806) adalah seorang fisikawan Perancis, foto ditunjukkan
pada gambar 6.4. Pada tahun 1784 sampai dengan 1789, dia terus meneliti
elektrostatika dan magnet. Pada tahun 1785 lahirlah Hukum Coulomb, dimana
daya tarik dan daya tolak kelistrikan antara dua buah muatan yang bermuatan
listrik sebesar perkalian muatannya dengan kaudrat terbalik jarak antara dua
muatan tersebut. Rumus ini jika dilihat sekilas hamper mirip dengan Hukum
gravitasi newton. Dalam percobaannya dia berhasil menemukan hubungan antara
besar gaya listrik dari dua buah muatan listrik dengan menggunakan neraca puntir.
Apabila bola kecil diberi muatan sejenis, maka kedua bola akan tolak menolak,
beasranya gaya tolak menolak sebanding dengan besar sudut puntiran kawat kecil
yang dapat dibaca pada skala. Percobaan Coulomb ini menunjukkna bahwa gaya
listrik antara dua muatan sebanding dengan muatan masing – masing dan
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak keduannya. Pernyataan ini biasa kita
kenal sebagai Hukum Coulomb.
Buku Ajar “Fisika”
75
Gambar 6.4. Charles-Augustin de Coulomb
(sumber: todayinsci.com)
6.2. Hukum Coulomb
Dalam dunia kelistrikan, tentunya kita tidak asing lagi dengan istilah
Hukum Coulomb.
Dari hasil percobaan Coulomb, menghasilkan sebuah
ketetapan yang disebut Hukum Coulomb, dan dituliskan dalam persamaan berikut
ini:
F  ke
q1q2
r2
Dimana:
F
: Gaya listrik (N)
ke
: Konstanta Elektrostatik besarnya
q1
: Besarnya muatan 1 (C)
q2
: Besarnya muatan 2 (C)
r
: Jarak antara dua muatan (m)
Buku Ajar “Fisika”
1
4 0
 9 x10 9 Nm 2 / C 2
76
Jika dua buah muatan berdekatan dan memiliki jarak, serta arah sehingga
dapat dikatakan vektor muatan 1, dan vektor muatan dua, maka dapat dicari
perhitungannya dengan menggunakan rumusan berikut ini:
F
: Gaya listrik (N)
ke
: Konstanta Elektrostatik besarnya
q1
: Besarnya muatan 1 (C)
q2
: Besarnya muatan 2 (C)
r
: Jarak antara dua muatan (m)
rˆ
: vektor satuan dari q1 ke q2
1
4 0
 9 x10 9 Nm 2 / C 2
Terdapat dua muatan yang digambarkan dalam vektor, yang ditunjukkan
pada gambar 8.5.
Gambar 6.5. Gaya Coulomb antara dua muatan
Buku Ajar “Fisika”
77
Gaya Coulomb bisa terjadi pada lebih dari dua muatan, hal ini bisa terjadi
diantara tiga muatan atau lebih. Jika interaksi terjadi pada tiga muatan atau lebih,
maka dapat digunakan resultan gaya. Terdapat beberapa keadaan muatan jika
dihitung resultannya berdasarkan posisi:
1. Partikel dengan posisi segaris
Jika partikel dalam keadaan segaris yang ditunjukkan pada gambar
8.6., maka dapat dihitung resultan atau jumlah vektor gayanya
dengan menggunakan persamaan:
Dimana Fr adalah penjumlahan gaya, F1 adalah besarnya gaya
pertama, F2 adalah besarnya gaya kedua, dan seterusnya. Jika arah
gaya kekanan maka dianggap positif, sedangkan jika arah gaya
kekiri maka dianggap negatif.
Gambar 6.6. Partikel dengan posisi segaris
2. Partikel dengan posisi tidak segaris
Jika partikel dalam keadaan tidak segaris yang ditunjukkan pada
gambar 6.7., maka dapat dihitung resultan atau jumlah vektor
gayanya dengan menggunakan persamaan:
Buku Ajar “Fisika”
78
Gambar 6.7. Partikel dengan posisi tidak segaris
F1  F12  F13  2F12 F13 cos 
2
2
Supaya lebih memahami tentang teori muatan listrik, perhatikan beberapa contoh
soal berikut ini:
1. Jika diketahui dua buah muatan berjarak R meter dan memiliki gaya tarik
menarik sebesar F newton. Jika jarak antara kedua partikel diubah menjadi 5R
meter dari keadaan semula. Tentukan perbandingan besarnya gaya tarikmenarik antara muatan yang berjarak R meter dengan 5R meter.
2. Perhatikan gambar 6.8 berikut ini:
Besarnya muatan Q1= +1 C, dan Q2= Q3= -9C dan k  9 x109 Nm 2 / C 2 ,
Tentukan besarnya resultan gaya pada Q1. Jika diketahui jarak antara muatan 1
cm.
Gambar 6.8. Partikel dengan posisi membentuk segitiga
3. Berapakah besarnya gaya tolak – menolak antara dua partikel berikut ini.
Perhatikan gambar 6.9.
Buku Ajar “Fisika”
79
Gambar 6.9. Dua partikel tolak menolak
Jika dua buah muatan digantung seperti gambar di atas, dan nilai tan  = 0,5,
dan besarnya tegangan masing – masing tali 0,2 N.
4. Berapakah besarnya resultan gaya F3 pada gambar 6.10 di bawah ini:
Gambar 6.10. Tiga muatan
Jika diketahui muatan 1 besarnya negatif 86 mikro Coulomb, muatan 2
besarnya positif 50 mikro Coulomb, dan muatan 3 besarnya positif 65 mikro
Coulomb. Jarak antara muatan satu dan dua sejauh 52 cm, jarak antara muatan
satu dan muatan tiga sejauh 60 cm, sedangkan jarak antara muatan dua dan
muatan tiga sejauh 30 cm.
5. Tentukan arah gaya dari muatan Q3 pada soal nomor 4.
6. Jika diketahui muatan listrik Q1 memiliki nilai sebesar 10 µC, dan muatan Q2
sebesar 40µC, dan Q3 (yang belum diketahui nilainya) terletak segaris dengan
jarak antara Q1 dan Q2 sejauh 4 cm dan jarak antara Q2 dan Q3 sejauh 8 cm.
Buku Ajar “Fisika”
80
Berapakah besarnya muatan Q3, supaya gaya listrik yang bekerja pada Q2 = 0?
(letak muatan segaris dengan Q2 berada diantara Q1 dan Q3)
7. Terdapat muatan q1= 10-3 C pada koordinat (0,3) dan q2=5.10-3 C pada
koordinat (4,0). Posisi dalam meter, tentukan gaya coloumb pada muatan q1
dan q2!
8. Terdapat 3 buah muatan yang berada pada ujung-ujung segitiga sama kaki
dengan panjang kaki a, seperti terlihat dalam Gambar 6.11, dimana
q1=q3=5µC, q2= -2 µC dan a=0,1 m. Tentukan berapa gaya yang bekerja pada
q3?
Gambar 6.11 Interaksi antara tiga buah muatan
9. Tentukan besar gaya listrik pada elektron dalam atom hydrogen yang
diberikan oleh satu proton (Q2 = +e) yang merupakan intinya. Jika
diasumsikan elektron mengorbit proton pada jarak rata-rata r = 0,5 x 10-10 m
10. Tiga partikel bermuatan terletak dalam satu garis. Tentukan gaya elektrostatik
total pada Q3 yang disebabkan oleh dua muatan yang lain, bila r12 = 20 cm, r23
= 10 cm, Q1 = -8.10-6 C, Q2 = 3.10-6 C, Q3 = -4.10-6 C.
Penyelesaian:
1. Untuk menghitung perbandingan gaya tarik menarik pada kondisi awal yaitu
R dengan kondisi akhir 5R, kita harus mengingat Hukum Coulomb tentang
hubungan gaya listrik dengan jarak muatan.
F k
Buku Ajar “Fisika”
q1 q 2
r2
81
Jika diketahui r1 = R dan r2 = 5R, maka:
gaya listrik berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya, sehingga bisa dituliskan:
F2  r1 
 
F1  r2 
r
F2   1
 r2
2
2

 xF1

2
 R 
F2  
 xF1
 5R 
disederhanakan menjadi:
F2 
1
F1
25
Sehingga didapatkan perbandingan antara gaya pertama dan kedua adalah sebesar
25:1
2. Pada soal nomor 2, terlihat bahwa muatan tidak segaris dan membentuk
segitiga dengan sudut 60o. Langkah pertama yaitu kita mencari F12 dan F13,
selanjutnya hasilnya dimasukkan ke dalam rumusan resultan gaya.
Q1= +1 C, dan Q2= Q3= -9 C dan k  9 x109 Nm 2 / C 2
F12  k
q1 q 2
r12
2
F12  9.10 9
1.9
(1.10 2 ) 2
F12  9.10 9
1.9
 81.1013 N
4
10
F13  k
q1 q3
r13
2
F13  9.10 9
1.9
(1.10 2 ) 2
F13  9.10 9
1.9
 81.1013 N
4
10
Kita ingat rumus resultan gaya:
Buku Ajar “Fisika”
82
F1  F12  F13  2F12 F13 cos 
2
2
Maka penyelesaian resultan gaya:
F1  F12  F13  2F12 F13 cos 
2
2
F1  (81.1013 ) 2  (81.1013 ) 2  2(81.1013 )(81.1013 ) cos 600
F1  (6.561.10 26 )  (6.561.10 26 )  2(6.561.10 26 )(6.561.10 26 ).0,5
F1  (13.122.10 26 )  8,6.107.1052.0,5
F1  (13.122.10 26 )  4,3.1059  0,66.1030 N
30
Jadi resultan gaya pada muatan 1 sebesar 0,66.10 N
3. Untuk menyelesaikan soal ketiga ini, langkah awal harus menguraikan gaya.
Gambar 6.12 Penguraian gaya pada partikel muatan soal 3.
Dengan menngunakan prinsip kesetimbangan benda tegar, maka diperoleh
persamaan:
F  T sin 
F  0,2 sin 
jika diketahui tan  0,5 , maka
sudut depan
5
 , sehingga sudut miring
sudut samping 10
11,18. Untuk sudut sin dapat dicari dengan
sudut depan
5

 0,45
sudut miring 11,18
F  0,2 sin 
F  0,2.0,45
Buku Ajar “Fisika”
83
F  0,09 N
4. Langkah awal menyelesaikan soal ini adalah dengan mencari F31 dan F32,
yaitu:
Gambar 6.13 Penguraian gaya pada partikel muatan soal 4.
Untuk mencari nilai F31, maka kita perlu menguraikan gaya F32 terhadap
sumbu x dan terhadap sumbu y:

F32  k e
Q3 Q2
F32  k e
Q3 Q2
r 2 32
r 2 32
, pada F32 muatan tolak menolak
pada sumbu y
F32  0 pada sumbu x
Besarnya nilai F32  0 N ( pada sumbu x), dan F32  330 N ( pada sumbu y)

F31  k e
Q3 Q1
F31  k e
Q3 Q1
r 2 31
r 2 31
, pada F31 muatan tarik menarik
cos 
F31  120 N
Buku Ajar “Fisika”
84
F31  k e
Q3 Q1
r 2 31
sin 
F31  70 N
Resultan gaya pada sumbu x dan sumbu y:
F3 x   F31x  F32x  120 N  0 N  120 N
F3 y   F31y  F32 y  70 N  330 N  260 N
Besarnya gaya Total pada Q3 adalah 390 N
5. Arah gaya dari muatan Q3 pada soal nomor 4:
  tan 1
F3 y
F3 x
 tan 1
260
 tan 1 2,2  650
120
6. Langkah awal penyelesaian soal ini adalah dengan menghitung resultan gaya
listrik antara Q1 dan Q2 dengan gaya listrik antara Q2 dan Q3. Besarnya gaya
listrik antara Q1 dan Q2:
Besarnya Q1: 10 µC= 10.10-6 C
Besarnya Q2: 40 µC= 40.10-6 C
Jarak antara Q1 dan Q2 (r12) = 4 cm = 4. 10-2 m
Jarak antara Q2 dan Q3 (r23) = 8 cm = 8.10-2 m
∑F2 = 0 N
Besarnya gaya listrik antara Q2 dan Q3:
F23  k
q 2 q3
r23
2
(40.10 6 )(q3 )
F23  k
(8.10  2 ) 2
F23  k
(40.10 6 )(q3 )
64.10  4
Arah F12 ke kanan dan F23 ke kiri:
F23 - F12 = 0
F23 = F12
Buku Ajar “Fisika”
85
k
(40.10 6 )(q3 )
10.10 6.40.10 6

k
64.10  4
(4.10  2 ) 2
40.10 6 q3 400.10 6

64.10  4
16.10  4
640.10 10 q3  25600.10 10
256.10 8
6,4.10 8
q3  40C
q3 
Sehingga besarnya muatan Q3, supaya gaya listrik yang bekerja pada Q2 = 0
adalah 40 C.
7. Langkah pertama, gambarkan posisi muatan dalam koordinat:
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
0
1
2
3
4
5
Letak muatan (meter)
Gambar 6.14 Penggambaran posisi muatan soal no.7
Jika kita perhatikan dari gambar di atas, maka dapat diketahui bahwa jarak antara
dua buah muatan membentuk segitiga siku – siku, dimana panjang garis biru
didapat dengan:
r  32  4 2  5 meter
Besarnya gaya listrik antara dua buah muatan:
F12  k
q1 q 2
r12
2
F12  9.10 9
10 35.10 3
52
Buku Ajar “Fisika”
86
F12 
9.10 3
5
F12  1,8.10 3 N
8. Penyelesaian awal yang perlu diperhatikan adalah arah gaya yang dikeluarkan
oleh q1 dan q2 pada q3. Gaya F23 oleh q2 pada q3 adalah gaya tarik karena q2
dan q3 memiliki muatan yang berbeda. Sedang gaya F13 oleh q1 pada q3 adalah
gaya tolak karena keduanya sama-sama memiliki muatan negatif.
Besarnya Gaya F23 adalah:
F23  k
6
6
q 2 q3
9 2,0 x10 .5,0 x10

(
9
x
10
)
 9.10 2 N
2
2
a
(0,1m)
Besarnya Gaya F13 adalah:
F13  k
q1q3
( 2a ) 2
 (9 x10 9 )
5,0 x10 6.5,0 x10 6
 11.10 2 N
2.(0,1) 2
Gaya tolak F13 membuat sudut 45o dengan sumbu x. Oleh karena itu komponen
gaya F13 searah dengan sumbu x dan y sama yakni sebesar F13 cos 45o= 7,9
.10-2 N.
Dengan menjumlahkan F12 dan F23 dengan menggunakan aturan vektor maka
diperoleh komponen gaya yang bekerja pada q3 yang searah dengan sumbu x:
F3x = F13x + F23x = 7,9.10-2 N + (-9.10-2 N) = -1,1. 10-2 N
F3y = F13y + F23y = 7,9. 10 -2 N + 0 = 7,9.10-2 N
Sehingga besarnya gaya total yang bekerja pada q3 adalah:
Fr 
7,9.10 
2 2
 (1,1.10  2 ) 2
 62,6.10  4
 7,9.10  2 N
Jadi besarnya gaya total yang bekerja pada q3 sebesar 7,9. 10-2 N
9. Penyelesaian soal ini menggunakan hukum Coulomb, dengan r = 0,5 x10-10 m,
Q1= Q2 = 1,6x10-19 C, dan dengan mengabaikan tanda-tanda muatan
diperoleh:
F12  k
q1 q 2
r12
2
Buku Ajar “Fisika”
87
F12  9.10 9
F12 
1,6.10 191,6.10 19
(0,5.10 10 ) 2
23,04.10 38
25.10 22
F12  0,92.10 16 N
10. Arah gaya yang bekerja pada muatan Q3 dinyatakan seperti gambar di bawah.
Gaya total pada muatan Q3 merupakan jumlah vektor gaya F31 yang
diakibatkan oleh muatan Q1 dan gaya F32 yang diakibatkan oleh muatan Q2.
Gambar 6.15 Penggambaran posisi muatan soal no.10
Tanda positif dan negatif pada muatan tidak perlu dimasukkan dalam
perhitungan, tetapi tanda digunakan untuk menentukan arah setiap gaya. Dari
gambar tampak bahwa F32 tarik menarik dan berarah ke kiri sedangkan F31
tolak menolak dan berarah ke kanan.
q3 q1
F31  k
2
r31
F31  9.10 9
4.10 6.8.10 6
(30.10 2 ) 2
32.10 12
10 2
F31  3,2 N
F31  10 9
F32  k
q3 q 2
r32
2
4.10 6.3.10 6
F32  9.10
(10.10 2 ) 2
9
Buku Ajar “Fisika”
88
12.10 12
10 2
F32  1,2 N
Jika arah kanan F31 dianggap menunjuk ke arah x positif dan arah kiri F32
F32  10 9
menunjuk ke arah x negatif. Maka gaya total pada muatan Q3 adalah
F3 = F31 − F32 = 3,2 N – 1,2 N = 3N
Buku Ajar “Fisika”
89
RINGKASAN
1.
Kelistrikan adalah sifat dari sebuah benda yang muncul dikarenakan adanya
muatan listrik.
2.
Terdapat tiga partikel listrik yaitu proton, electron, dan netron.
3.
Elektron bermuatan negatif dengan muatan –1,6021917 x 10-19 C dan massa
9,1095 x 10-31 kg, proton bermuatan positif dengan muatan +1,6021917 x 1019
C dan massa 1,6726 x 10-27 kg, sedangkan netron tidak bermuatan (netral)
dengan massa 1,67492 x 10-27 kg.
4.
Terdapat dua jenis muatan listrik, yaitu muatan positif dan muatan negatif.
5.
Muatan yang sejenis bersifat saling tolak menolak dan muatan yang tidak
sejenis bersifat saling tarik menarik.
6.
Gaya tolak menolak atau gaya tarik menarik antara dua muatan listrik
besarnya sama, dan dirumuskan dengan Hukum Coulomb:
F12  k
7.
q1 q 2
r12
2
Besarnya gaya tersebut sebanding dengan besar masing-masing muatan,
berbanding terbalik dengan kwadrat jarak kedua muatan, dan bergantung
pada media di mana kedua muatan tersebut berada (untuk udara atau ruang
hampa, k = 9 x 109 N m2 C-2).
8.
Gaya Coulomb bisa terjadi pada lebih dari dua muatan, misalnya antara tiga
muatan atau lebih. Jika interaksi terjadi pada tiga muatan atau lebih, maka
dapat digunakan resultan gaya dari gaya Coulomb yang dihasilkan oleh
muatan-muatan tadi.
Buku Ajar “Fisika”
90
LATIHAN SOAL
1. Muatan listrik +q3 = 30 μC, +q2 = 10 μC dan q1 terpisah dengan posisi garis
lurus, dengan posisi q1, q2 di tengah dan q3 di paling kanan. Agar gaya
Coulomb yang bekerja pada muatan q2 = nol maka, berapakah muatan q1?
2. Tiga muatan listrik +q1= 15 μC, +q2 = 20 μC dan +q3 = 35 μC segaris. Bila a
= 30 cm maka berapakah besar dan arah gaya listrik yang bekerja pada muatan
q2 ? Lihat gambar 8.15. (k = 9 x 109 Nm2C-2)
Gambar 8.15. Posisi muatan latihan soal no.2
3. Diketahui dua buah benda bermuatan listrik tidak sejenis, tarik-menarik
dengan gaya sebesar F. Jika jarak kedua muatan dijauhkan menjadi 5 kali
semula, maka besarnya gaya tarik-menarik antara kedua muatan menjadi...F
4. Tiga buah muatan qA , qB , dan qC , masing-masing terletak pada titik sudut
segitiga sama sisi ABC dengan panjang sisi 5 cm. Apabila muatan-muatan qA,
qB, dan qC masing-masing besarnya +4 μ C, - 8 μ C, dan -20 μ C. Berapakah
besar dan arah gaya pada muatan -10 μ C yang berada pada titik C.
5. Diketahui muatan listrik q1 = -200 nC di titik A (2, 3, 4) cm , dan muatan q2 =
+200 nC dititik B (12, 6, 14) cm. Tentukan gaya listrik pada muatan pertama
dan kedua.
Buku Ajar “Fisika”
91
7
Materi
MEDAN DAN POTENSIAL LISTRIK
: - MedanListrik
-
Potensial listrik
Sub Materi : - Pengertian Medan Listrik
Tujuan
-
Definisi dan arah medan listrik
-
Rumus medan listrik
-
Pengertian energi potensial listrik
-
Definisi potensial listrik
: Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu
menjelaskan pengertian medan listrik, arah medan listrik, mengerti tentang
definisi besarnya medan listrik, memahami tentang rumus medan listrik, mampu
menjelaskan pengertian energi potensial listrik, dan memahami definisi potensial
listrik.
7.1. Medan Listrik
Pada bab sebelumnya telah dibahas tentang muatan listrik dan besarnya
gaya, pada bab ini kita akan mempelajari tentang medan listrik dengan muatan
pada satu titik dan menghitung besarnya medan listriknya. Pada umumnya gaya
bekerja karena adanya kontak antara dua benda, seperti gaya tekan atau gaya
dorong yang diberikan pada suatu balok, gaya pada raket tenis ketika memukul
bola tennis. Namun, sebaliknya gaya listrik timbul tanpa adanya persentuhan
antara ke dua benda, bahkan gaya listrik dapat dirasakan pada jarak tertentu,
konsep gaya seperti ini relatif sukar untuk dimengerti sehingga perlu dikenalkan
konsep medan (seperti halnya medan gravitasi Newton). Seorang fisikawan
Inggris Michael Faraday (1791-1867) adalah orang yang pertama kali
mengenalkan konsep medan listrik dengan menyatakan bahwa medan listrik
keluar dari setiap muatan dan menyebar ke seluruh ruang, seperti Gambar 7.1.
Ketika muatan ke dua diletakkan di dekat yang pertama, ia akan merasakan gaya
yang disebabkan oleh adanya medan listrik di tempat itu, misalnya titik P. Medan
Buku Ajar “Fisika”
92
listrik pada lokasi muatan ke dua dianggap berinteraksi langsung dengan muatan
ini untuk menghasilkan gaya. Bagaimana-pun, harus ditekankan bahwa sebuah
medan, bukan merupakan sebuah zat.
Gambar 7.1 Medan listrik pada satu muatan
Gambar a merupakan partikel bermuatan positif. Garis-garis yang keluar dari
partikel a disebut dengan medan listrik. Arah medan listrik pada gambar a keluar
dari partikel bermuatan positif. Perhatikan pada gambar b, pada gambar tersebut
merupakan partikel bermuatan negatif. sama dengan gambar a garis-garis yang
ada pada gambar b merupakan medan listrik. Bedanya dengan partikel bermuatan
positif, arah medan listrik pada partikel bermuatan negatif menuju pusat arah
partikel. Dari pembahasan ini kita dapat menjelaskan bagaimana dua partikel yang
sejenis tolak-menolak dan partikel yang lain jenis tarik menarik. Agar lebih jelas
perhatikan ilustrasi gambar 7.2 berikut ini.
Gambar 7.2 Medan listrik pada dua satu muatan
Buku Ajar “Fisika”
93
Gambar a merupakan interaksi dua partikel yang berlainan jenis. Perhatikan garis
medan listriknya, garis dari partikel postif menuju partikel negatif.Ini
menjeelaskan mengapa dua partikel tersebut dapat tarik menarik. Pada gambar b
dapat kita lihat partikel yang muatanya sama. Garis medan listrik pada partikel
tersebut saling menjauhi satu sama lain. Sehingga kedua partikel tersebut saling
tolak-menolak.
Besarnya medan listrik dapat didefinisikan sebagai besarnya gaya dibagi besarnya
muatan pada suatu titik:
E
F
q
Dimana:
E = besarnya medan listrik (N/C)
F = gaya listrik (N)
q = muatan listrik (C)
Dari rumus di atas, dapat diuraikan menjadi:
E
k
q1q 2
r2
q
dapat disederhanakan menjadi:
Ek
q
r2
E = besarnya medan listrik (N/C)
F = gaya listrik (N)
q = muatan listrik (C)
r = jarak muatan (m)
7.2. Potensial Listrik
Setelah mempelajari medan listrik, materi berikutnya adalah energi
potensial listrik. Energi potensial listrik, dapat kita analogikan dengan mekanika,
lihat gambar 7.3 di bawah ini:
Buku Ajar “Fisika”
94
Gambar 7.3. Analogi Mekanika dengan Listrik
Energi potensial listrik dari sebuah muatan qo disuatu titik adalah energi yang
diperlukan untuk membawa muatan tersebut dari tak hingga ke titik tersebut.
•
Benda bermassa mo bergerak dari posisi awal i menuju posisi akhir f dan
beda energi potensial yang terjadi adalah :
U  U f  U i  Wif
f
Wif   F  ds
i
Dapat dinyatakan dalam bentuk integral bahwa Usaha merupakan integral gaya
terhadap jarak.
•
Benda bermuatan qo bergerak dari posisi awal i menuju posisi akhir f, beda
energi potensial yang terjadi adalah juga :
U  U f  U i  Wif
•
Bila diambil posisi awal adalah di  yang energi potensialnya nol, maka :
U f  Wif
Keterangan:
∆U = Energi potensial (Joule)
Uf = Energi potensial di titik f (Joule)
Ui = Energi potensial di titik i (Joule)
Buku Ajar “Fisika”
95
W = Energi (Joule)
F = Gaya (N)
Belajar tentang energy potensial, tentunya kita harus mengetahui tentang potensial
listrik. Definisi dari potensial listrik adalah energi potensial listrik per muatan
listrik sehingga :
U
qo
V 
V 
U  U f  U i
U f Ui
qo

U f
qo

U i
 V f  Vi
qo
Keterangan:
∆U = Energi potensial (Joule)
Uf = Energi potensial di titik f (Joule)
Ui = Energi potensial di titik i (Joule)
q = Muatan Listrik (C)
V = Potensial Listrik (Volt atau J/C)
W = Energi (Joule)
Satuan potensial listrik adalah Joule/Coulomb, tetapi yang lebih sering digunakan
adalah satuan Volt. Bila sebagai acuan diambil potensial di tak hingga adalah nol,
maka:
Vf  
Wif
qo

Wf
qo
Satuan energi listrik 1eV=(1,6x10-19 C)(1 J/C)=1,6 x 10-19 J
Untuk lebih memahami materi tentang medan listrik dan potensial listrik, pelajari
beberapa contoh soal dan penyelesaiaannya berikut ini:
1. Terdapat dua buah muatan masing-masing sebesar + 5 C (sebelah kiri)
dan - 15 C (sebelah kanan) terletak pada satu garis lurus dengan jarak 4
meter. Tentukan letak titik-titik pada garis hubung keduanya dimana
potensial listriknya nol. Lihat gambar 7.4.
Buku Ajar “Fisika”
96
Gambar 7.4. Soal nomor 1
2. Tentukan potensial listrik di titik P, dimana titik P terletak di tengah
bidang bujur sangkar. Sisi bujur sangkar adalah d =1,3 m dan masingmasing muatan sebesar:
q1  12nC q2  24nC q3  31nC q4  17nC
3. Jika diketahui Titik P, Q, dan R terletak pada satu garis dengan PQ = 2 m
dan QR = 3 m. Pada masing-masing titik terdapat muatan 2 μC, 3 μC, dan
-5 μC. Tentukan besarnya energi potensial muatan di Q!
4. Sebuah elektron ( m= 9 x 10-31 kg dan q = -1,6 x 10-19 C) bergerak dari
katode dengan kecepatan awal nol menuju anode. Jika beda potensial
anode-katode 4.500 volt, Berapakah kecepatan elekton saat tiba di anode?
5. Dua muatan titik positif sama besarnya + 5 nC pada sumbu-x. Satu di
pusat dan yang lain pada x = 8 cm seperti ditunjukkan pada gambar 7.5.
Tentukan potensial di:
(a). Titik P1 pada sumbu-x di x=4 cm
(b). Titik P2 pada sumbu-y di y = 6 cm
Gambar 7.5. Soal nomor 5
Buku Ajar “Fisika”
97
PENYELESAIAN:
1. Langkah awal dari penyelesaian soal nomor satu adalah membuat
persamaan pertama:
5  15

0
x 4 x
20
 15 x  20  5 x  x 
 1m
20
V  V1  V2 
5
15

x 4 x
kQ1 kQ2

0 
x
4 x
Dari persamaan pertama kita mendapatkan hasil jarak x sejauh 1 m,
kemudian untuk mencari jarak y kita masukkan ke dalam persamaan:
5  15

0
y 4 y
20
 15 y  20  5 x  y 
 2m
10
V  V1  V2 
5
15

y 4 y
kQ1 kQ2

0 
y
4 y
Dari persamaan kedua diperoleh hasil bahwa jarak y sejauh 2 m.
2. Jika diketahui titik P berada pada titik tengah bujur sangkar, maka
potensial listrik dititik P sebesar:
4
V   Vi
i 1

q1  q 2  q3  q 4
4 o
r
1
 9 x10 9
(12  24  31  17) x10 9
1,3
2
2
 350 V
3. Berikut ini langkah – langkah menyelesaian soal nomor tiga:
Diketahui bahwa:
PQ = 2 m
Buku Ajar “Fisika”
98
QR = 3 m
qp = 2µC = 2.10-6 C
qq = 3µC = 3.10-6 C
qr = -5µC = -5.10-6 C
Jika dalam soal ditanyakan besarnya Epq, maka:
Ep1 
kq p q q
rpq
9.10 9 (2.10 6 )(3.10 6 )
2
3
Ep1  27.10 J
Energi potensial P-Q = Ep1 
Ep1 
kq p q q
rpq
9.10 9 (3.10 6 )(5.10 6 )
2
3
Ep1  45.10 J
Energi potensial Q-R = Ep1 
Jadi jumlah Ep dititik Q = Ep1 + Ep2
Ep q  (27.10 3 )  (45.10 3 )  72.10 3 J
 7,2.10 2 J
4. Perhatikan rumus energi:
E  q.V
E  1,6.10 19.4500
E  7,2.10 16 J
Energi yang telah dihitung dapat kita asumsikan sebagai energi kinetik
dari elektron:
Buku Ajar “Fisika”
99
E
1 2
mv
2
1
7,2.10 16  .9.10 31.v 2
2
16
7,2.10
v2 
4,5.10 31
v  1,6.1015
v  16.1014  4.10 7 m / s
5. Untuk menyelesaikan soal nomor 5, kita selesaikan terlebih dahulu
pertanyaan yang pertama:
a. Menghitung potesial listrik dengan menggunakan resultan:
V 
i
V 
kq
r
kq1 kq2

r1
r2
 9.10 9.5.10 9
V  2.
2
 4.10
V  2250V



b. Menghitung dengan menggunakan resultan:
V 
i
V 
kq
r
kq1 kq2

r1
r2
 9.10 9.5.10 9   9.10 9.5.10 9
  
V  
2
2
 6.10
  1.10
V  749  450  1200V
Buku Ajar “Fisika”



100
RINGKASAN
1.
Medan listrik keluar dari setiap muatan dan menyebar ke seluruh ruang.
2.
Arah medan listrik keluar dari partikel bermuatan positif, dan masuk menuju
partikel bermuatan negatif.
3.
Besarnya medan listrik dapat didefinisikan sebagai besarnya gaya dibagi
besarnya muatan pada suatu titik, dan dapat dituliskan: E 
Ek
q
r2
F
q
atau
(E dalam satuan N/C, k dalam satuan NC-2 m2, q dalam satuan
Coulomb, dan r dalam satuan meter).
4.
Energi potensial listrik dari sebuah muatan qo disuatu titik adalah energi yang
diperlukan untuk membawa muatan tersebut dari tak hingga ke titik tersebut.
5.
Potensial listrik adalah energi potensial listrik per muatan listrik.
6.
Satuan potensial listrik adalah Joule/Coulomb atau lebih dikenal dengan
satuan Volt.
Buku Ajar “Fisika”
101
LATIHAN SOAL
1.
Dua muatan – 25 Q dan + 4 Q terpisah pada jarak r seperti pada gambar 7.6.
Gambar 7.6. Posisi muatan latihan soal no.1
Dimanakah letak titik yang kuat medan listriknya nol ?
2.
Terdapat sebuah titik muatan berada pada jarak 5 cm dari muatan +20
mikro Coulomb. Berapakah besar dan arah medan listrik pada titik? (k = 9 x
109 Nm2C−2, 1 mikro Coulomb = 10−6 C)
3.
Dimanakah kuat medan listrik nol pada gambar 7.7?
Gambar 7.7. Posisi muatan latihan soal no.3
4.
Tiga muatan ditempatkan pada tiga sudut sebuah bujur sangkar seperti pada
gambar 7.8. Setiap sisi bujursangkar adalah 40 cm. Hitunglah E pada sudut
ke empat! Berapakah gaya yang diberikan oleh muatan 12μC pada sudut
yang kosong tersebut?
Gambar 7.8. Posisi muatan latihan soal no.4
Buku Ajar “Fisika”
102
8
HUKUM
OHM,
ENERGI
&
DAYA
LISTRIK
Materi
: - Hukum Ohm
- Daya listrik
- Energi listrik
Sub Materi: - Muatan listrik
-
Arus listrik
-
Hambatan listrik
-
Resistivitas dan konduktivitas
-
Resistor dan konduktor
-
Hukum Ohm dan implementasinya
-
Energi listrik dan implementasinya
-
Daya listrik dan implementasinya
Tujuan: Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu
menjelaskan pengertian muatan resistor, listrik, arus listrik, hubungan antara
muatan listrik dan arus listrik, hambatan listrik, resistivitas dan konduktivitas,
resistor dan konduktor, dan memahami Hukum Ohm dan implementasinya,
memahami daya listrik dan implementasinya, serta memahami energi listrik dan
implementasinya.
8.1. Hukum Ohm
Dalam mempelajari ilmu fisika tentunya kita tidak terlepas dari materi
fisika listrik, dalam kelistrikan tentunya sudah tidak asing lagi yang namanya
“arus listrik”, dimana pada bab sebelumnya telah dibahas mengenai muatan
listrik, gaya antar muatan listrik, jenis – jenis muatan dan sebagainya. Pada bab ini
kita akan mempelajari Hukum Ohm, hukum ini merupakan hukum yang mengatur
hubungan antara arus listrik, tegangan dan hambatan. Sebelum jauh membahas
tentang Hukum Ohm, kita akan membahas arus listrik.
Buku Ajar “Fisika”
103
Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang disebabkan oleh
pergerakan elektron – elektron yang mengalir melalui suatu titik dalam rangkaian
listrik tiap satuan waktu. Dalam kehidupan sehari – hari tentunya kita tidak
terlepas dari yang namanya listrik. Arus listrik bisa muncul dimana – mana
disekitar kita. Sebagai satuan untuk pengukuran arus listrik, diukur dengan satuan
“Coulomb/ detik” atau disebut ampere, dengan simbol “A”. Hampir segala macam
benda yang dimanfaatkan manusia saat ini mengandung arus listrik, baik yang
berkekuatan kecil hingga berkekuatan besar atau memiliki tegangan besar.
Tanpa kita sadari, sebenarnya tubuh manusia mengandung jutaan atom
kurang lebih 1028 atom, sehingga tubuh manusia secara otomatis mengandung
muatan dan tentunya arus listrik walaupun dengan tegangan yang sangat kecil.
Didalam ilmu fisika, arus listrik yang bergerak konstan disimbolkan dengan “I”,
sedangkan muatan listrik disimbolkan dengan “Q”, dan waktu disimbolkan
dengan “t”. Dituliskan dengan rumus:
I
Q
t
keterangan:
I = arus listrik (C/s) atau Ampere
Q = muatan listrik (C)
t = waktu (detik)
Sedangkan untuk menghitung jumlah arus listrik konstan dalam waktu
tertentu, maka menggunakan rumus:
I
dQ
dt
Terdapat hubungan antara arus listrik, tegangan dan hambatan yang disebut
dengan Hukum Ohm, yang dituliskan:
I
V
R
Keterangan:
I = arus listrik (A)
V = Tegangan (V)
Buku Ajar “Fisika”
104
R = Hambatan (Ohm)
Semakin besar tegangan yang diberikan, maka akan semakin besar arus
yang mengalir, demikian sebaliknya jika hambatan dalam rangkaian diberi nilai
yang besar, maka nilai arus akan menjadi kecil. Bentuk lain dari rumus di atas
dapat dituliskan menjadi:
V  I .R dan R 
V
I
atau biasa diilistrasikan sebagai berikut:
Jika digambarkan dalam rangkaian listrik sederhana sebagai berikut:
Gambar 8.1. Rangkaian Listrik
Sebelum menerapkan hukum Ohm, alangkah lebih baik jika kita mengenal
hambatan. Jika penghantar yang konduktansinya besar biasanya disebut
konduktor, sedangkan jika resistansinya yang besar sering disebut resistor.
Buku Ajar “Fisika”
105
Resistansi resistor dapat diukur dengan ohmmeter. Namun dapat pula diketahui
melalui kode warna yang berupa cincin warna yang tertulis pada badan resistor.
Arti kode warna tersebut dapat dilihat pada tabel 8.1.
Tabel 8.1. Kode warna resistor
Jika digambarkan maka cincin-cincin pada badan resistor tersebut seperti terlihat
pada gambar 10.2. Cincin ke 1 menunjukkan angka pertama, cincin kedua
menunjukkan angka kedua, cincin ketiga menunjukkan faktor perkalian, cincin
keempat menunjukkan toleransi.
Gambar 8.2. Resistor
Contoh pembacaan resistor:
Warna cincin ke 1 sampai ke 4 suatu resistor berturut-turut adalah : cokelat, hitam,
merah, emas.
Maka :
Angka ke 1 : 1
Angka ke 2 : 0
Faktor perkalian : 102
Toleransi : 5 %
Jadi besar resistansinya :
Buku Ajar “Fisika”
106
R = (10 x 102 ± 5 % ) ohm = (1000 ± 50) ohm .
Artinya nilai resistor berkisar antara 950 ohm sampai dengan 1050 ohm, dengan
harga rata-rata (terbaik) sebesar 1000 ohm.
Saat ini, terdapat resistor yang mempunyai 5 cincin. Kode warna untuk 5 cincin
sama dengan kode warna pada 4 cincin. Cincin ke 1 sampai ke 3 berturut-turut
menunjukkan angka pertama, kedua, dan ketiga. Sedangkan cincin ke 4 da ke 5
masing-masing menunjukkan faktor perkalian dan toleransi.
Contoh Soal Penerapan Hukum Ohm:
1. Jika diketahui Power Supply menghasilkan Output Tegangan 10V, dan
Nilai Potensiometer ke 5 kOhm. Berapakah nilai Arus Listrik (I)?
2. Perhatikan rangkaian listrik seperti pada gambar 10.3. Berapakah kuat arus
yang terukur pada amperemeter?
Gambar 8.3. Rangkaian Listrik Sederhana
3. Jika besarnya arus listrik 2 mA mengalir melalui seutas kawat penghantar
ketika beda potensial 12 V diberikan pada ujung-ujungnya. Tentukan
hambatan listrik pada kawat!
Penyelesaian:
1. Langkah awal menyelesaikan soal nomor satu adalah dengan menuliskan:
V = 10 V
R = 5KOhm = 5.103 Ohm
Maka nilai I = .......
I
V
R
Buku Ajar “Fisika”
107
I
10
5.10 3
I  2.10 3 A
Jadi besarnya arus yang mengalir sebesar 2.10-3 A
2. Dari soal nomor dua diketahui bahwa:
R = 1, 4 Ohm
V = 1,5 Volt
rd (hambatan dalam) = 0,1 Ohm
Ditanyakan berapakah arusnya?
V  I .R
1,5  I .(1,4  0,1)
1,5
I
1,5
I 1 A
Jadi besarnya arus yang mengalir sebesar 1 A
3. Dari soal nomor tiga diketahui bahwa:
I = 2 mA = 2.10-3A
V = 12 V
Ditanyakan hambatan...
R
V
I
R
12
2.10 3
R  6.103 Ohm
Jadi besarnya hambatan listrik pada kawat 6 KOhm.
Sebelum mempelajari daya, dalam kelistrikan juga dikenal yang namanya
resistivitas dan konduktivitas:
•
Resistivitas (ρ) didefinisikan dari: ukuran seberapa kuat material
menentang aliran arus listrik:
Buku Ajar “Fisika”
108
R = ρ L/A
Satuan SI dari ρ adalah Ω.m
•
Konduktivitas (σ) adalah kebalikan dari resistivitas, diberikan oleh :

1

Satuan SI dari σ adalah (Ω.m)-1
Dasar dari Hukum Ohm inilah yang akan kita gunakan untuk menghitung
daya, energi, dan satuan dasar listrik yang lain.
8.2. Energi
Jika arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar, diberi beda
potensial pada ujung – ujung penghantarnya, arus akan mengalir dari potensial
tinggi ke potensial rendah. Hal ini dikarenakan terdapat perpindahan muatan
listrik atau elektron dari potensial rendah ke potensial tinggi. Besar energi yang
digunakan untuk memindahkan muatan listrik tersebut bergantung pada potensial
dan jumlah muatan, yang dapat dituliskan:
W  q.V
Dimana:
W = energi (J)
q = muatan (C)
V = beda potensial (V)
Energi listrik erat kaitannya dengan daya. Hubungan ini dapat dituliskan dengan
rumus:
W
P
t
Dimana:
W = energi (J)
P = Daya (Watt)
t = waktu (s)
Buku Ajar “Fisika”
109
Satuan energi lain yang biasa kita dengan adalah Kilowatt jam (Kwh). Satuan ini
biasa digunakan untuk penggunaan listrik dalam skala besar, seperti dirumah –
rumah, pabrik dan sebagainya. Konversi dari Kwh adalah sebagai berikut:
1 Kwh = 1000 Watt. 1 Jam
1 Kwh = 1000 Watt. 3600 detik
1 Kwh = 3,6 x 106 Joule
Untuk lebih memahami tentang energi, dan penerapannya, perhatikan beberapa
contoh soal dan penyelesaiannya di bawah ini.
Contoh Soal:
1. Berapakah lamakah waktu untuk sebuah televisi 200-watt dapat menyala
sebelum menggunakan energi lebih besar dari 5 kWh?
2. Berapakah biaya total penggunaan peralatan rumah tangga, jika terdapat
peralatan dan penggunaan berikut ini, jika biaya per kilowattjam sebesar
Rp.500,- ?
a. sebuah microwave 1200-watt selama 30 menit
b. enam bohlam 30-watt selama 4 jam
c. sebuah mesin cuci 400-watt selama 45 menit
d. sebuah pengering rambut 100-watt selama 20 menit
3. Dalam sebuah rangkaian listrik terdapat 4 lampu, terdiri dari: 40W-120V;
3 lampu 30W-120V. Berapakah energi listrik yang terpakai selama 1 jam?
Penyelesaian:
1. Pada soal nomor satu diketahui:
P = 200 Watt
W = 5 Kwh
Ditanyakan t?
Maka kita gunakan rumus:
P
W
t
Buku Ajar “Fisika”
110
200 Watt 
t
5Kwh
t
5000 Watt . jam
200 Watt
t  25 Jam
Jadi dengan menggunakan energi sebesar 5 Kwh, TV tersebut mampu
menyala sampai dengan 25 Jam.
2. Proses menghitung biaya keseluruhan:
No.
1
2
3
4
Peralatan
Microwave
Bohlam
Mesin Cuci
Pengering rambut
Total
P (Watt) T (detik) W (Joule)
1200
1800
2160000
30
240
7200
400
2700
1080000
100
20
2000
1730
4760
3249200
Biaya per kilowattjam sebesar Rp.500,Total energi: 3249200 Joule/ 3,6.106 Kwh = 0,9 Kwh
Jadi biaya keseluruhan dalam Kwh adalah 0,9 Kwh x 500 = Rp. 450,3. Untuk menghitung energi listrik yang terpakai selama 1 jam:
No.
1
2
3
4
Peralatan P (Watt) Tegangan (V) t (detik) W (Joule)
Lampu
40
120
3600
144000
Lampu
30
120
3600
108000
Lampu
30
120
3600
108000
Lampu
30
120
3600
108000
Total
130
480
14400
468000
Jadi total energi listrik secara keseluruhan selama 1 jam sebesar 468KJ.
8.3. Daya
Dalam perhitungan kelistrikan ada kalanya kita harus mengetahui besarnya
daya yang diperlukan untuk sebuah perangkat listrik yang kita gunakan. Dalam
kehidupan sehari – hari, kita jumpai “daya listrik” yang tertera dirumah. Sebagai
contoh, suatu hari pernah terdapat kejadian padamnya listrik disebuah rumah yang
tanpa disadari hal ini dikarenakan beban listrik yang berlebih. Misalnya disebuah
rumah dipasang daya 900 W/ 1300 W, ketika kita menyalakan mesin cuci, AC,
Buku Ajar “Fisika”
111
setrika dan memasak nasi, padahal lemari es dan beberapa lampu masih menyala,
tiba – tiba listrik dirumah padam. Hal ini bisa terjadi karena daya yang kita
gunakan berlebih, melebihi yang terpasang oleh PLN dirumah. Itulah salah satu
penerapan daya listrik dalam kehidupan sehari – hari. Mari kita mengenal lebih
jauh lagi tentang daya listrik.
Pengertian daya adalah berapa banyak kerja (perubahan energi dari satu
bentuk menjadi bentuk yang lain) yang dapat dilakukan dalam waktu tertentu.
Karena energi yang diubah diukur dalam joule (J) dan waktu dalam detik (s),
maka daya diukur dalam joule/detik (J/s). Satuan pengukuran listrik untuk daya
adalah watt (W). Satuan ukuran watt, berasal dari nama keluarga James Watt,
orang yang membuat dan menetapkan standar-standar pengukuran daya. Ia
memperkenalkan daya-kuda (horsepower, hp) sebagai ukuran daya rata-rata
seekor kuda yang kuat yang bekerja seharian penuh. Kira-kira 50% lebih banyak
daripada yang diharapkan dari rata-rata kuda. Daya-kuda dan watt dihubungkan
dengan hubungan sebagai berikut: 1 daya kuda = 746 Watt.
Daya disimbolkan dengan huruf “P” untuk menghitung daya dapat menggunakan
rumus:
P
W
t
dimana:
P = Daya (Watt atau Joule/detik)
W = Energi (Joule)
t = waktu (detik)
Daya yang diberikan kepada, atau diserap oleh, sebuah piranti listrik atau sistem
dapat diperoleh dalam bentuk arus dan tegangan:
P
W
bentuk ini dapat diubah dengan mensubstitusi W = Q.V:
t
P
Q.V
, dikarenakan Q = I. t, maka bentuk lain yang dapat dituliskan:
t
P  V .I
Buku Ajar “Fisika”
112
dimana:
P = Daya (Watt atau Joule/detik)
V = Tegangan (Volt)
I = Arus (Ampere)
Seperti telah kita ketahui bahwa arus memiliki hubungan dengan tegangan dan
hambatan, maka:
P  V.
V
, sehingga bentuk lain dari rumus daya:
R
V2
P
R
dimana:
P = Daya (Watt atau Joule/detik)
V = Tegangan (Volt)
R= Hambatan (Ohm)
Bentuk tegangan dapat kita ubah menjadi perkalian antara hambatan dan arus,
sehigga rumus daya dapat kita tuliskan:
V2
R
( I .R ) 2
P
R
2
I .R 2
P
R
P
P  I 2R
dimana:
P = Daya (Watt atau Joule/detik)
I = Arus (Ampere)
R= Hambatan (Ohm)
Untuk lebih memahami tentang penggunaan rumus di atas, mari kita pelajari
beberapa contoh soal berikut ini:
Buku Ajar “Fisika”
113
1. Tentukan arus yang melalui sebuah tahanan 5 kOhm bila daya yang
diserap oleh elemen sebesar 40 mW.
2. Tentukan besarnya daya keluaran dalam tenaga-kuda (hp) sebuah motor
dengan efisiensi 80% dan arus masukan 4A pada tegangan 120 volt?
3. Sebuah kompor listrik setelah digunakan selama 10 menit ternyata
menyerap energi listrik sebanyak 20.000 joule. Berapakah besarnya daya
kompor listrik itu?
Penyelesaian:
1. Jika diketahui dari soal nomor satu:
R = 5KOhm = 5.103 ohm
P = 40 mWatt = 40. 10-3 Watt
Ditanyakan arus...
40.103  I 2 5.103
40.103  I 2 5.103
40.10 3
 I2
3
5.10
I 8
I  2,83
Jadi arus yang mengalir sebesar 2,83 A.
2. Efisiensi yang diketahui 80%, sehingga:

P0
x100%
Pi
P0
120.4.
P0  384 W
0,8 
Jika dijadikan dalam Hp:
384 x
1hp
 0,51hp
746
Jadi besarnya daya keluaran sebesar 0,51 Hp.
3. Diketahui bahwa:
W = 20.000 Joule
Buku Ajar “Fisika”
114
t = 10 menit = 10 x 60 detik = 600 detik
Ditanyakan P...
Maka:
P
W
t
20000
600
P  33.33 W
P
Jadi Daya kompor listrik tersebut sebesar 33,33 W
Buku Ajar “Fisika”
115
RINGKASAN
1. Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang disebabkan oleh pergerakan
elektron – elektron yang mengalir melalui suatu titik dalam rangkaian listrik
tiap satuan waktu. Secara rumus dituliskan: I 
Q
(I dalam satuan Ampere,
t
Q dalam satuan Coulomb, dan t dalam satuan sekon).
2. Resistansi listrik atau hambatan listrik atau tahanan listrik adalah ukuran
kecenderungan bahan untuk menahan aliran arus listrik, satuan dalam Ohm
(Ω).
3. Resistivitas (ρ) adalah ukuran seberapa kuat material menentang aliran arus
listrik, dan secara rumus dituliskan: R = ρ L/A (R dalam satuan Ω, ρ dalam
satuan Ω meter, L dalam satuan meter, dan A dalam satuan m2).
4. Konduktivitas (σ) adalah kebalikan dari resistivitas, dan secara rumus
dituliskan:

1

(σ dalam satuan Ω-1 m-1).
5. Penghantar yang konduktivitasnya besar disebut konduktor, sedangkan jika
resistivitasnya yang besar disebut resistor.
6. Resistansi resistor dapat diukur dengan ohmmeter, dan dapat pula diketahui
melalui kode warna yang berupa cincin warna yang tertulis pada badan
resistor.
7. Hubungan antara arus listrik, tegangan, dan hambatan yang disebut dengan
Hukum Ohm, dan secara rumus dituliskan: I = V/R (I dalam satuan Ampere,
V dalam satuan Volt, dan R dalam satuan Ω).
8. Energi listrik adalah energi yang digunakan untuk perpindahan muatan listrik
atau elektron dari potensial rendah ke potensial tinggi. Besar energi yang
Buku Ajar “Fisika”
116
digunakan untuk memindahkan muatan listrik tersebut bergantung pada
potensial dan jumlah muatan, yang dapat dituliskan: W = q. V (W dalam
satuan Joule, q dalam satuan Coulomb, dan V dalam satuan Volt).
9. Daya listrik adalah banyaknya energi listrik per satuan waktu, yang secara
rumus dapat dituliskan: P = V I (P dalam satuan Watt, V dalam satuan Volt,
dan I dalam satuan Ampere).
Buku Ajar “Fisika”
117
LATIHAN SOAL
1.
Terdapat sebuah alat pemanas listrik memakai arus 50 miliAmpere jika
dihubungkan dengan sumber tegangan 220 V. Berapakah hambatannya ?
2.
Sebuah perabotan listrik dengan hambatan 20 Ω memakai arus 5 A dalam
opeasinya. Berapakah beda potensial pada kedua ujungnya?
3.
Sebuah bola lampu menarik 200 mA dari baterai 4 V. (a) Berapa hambatan
bola lampu tersebut? (b) Jika tegangan turun sampai 1.5 V, apakah arus akan
berubah?
4.
Kawat tembaga berdiameter 0,01 m (resistivitas 1,7 x 10-9 Ωm), maka:
a. Hitunglah luas penampang kawat
b. Resistansi kawat sepanjang 25 m
5.
Sebuah kawat A berdiameter 2, 3 mm. Berapakah panjang kawat alumunium
B yang diperlukan agar mendapatkan resistansi 0,5 ohm jika diketahui
resistivitas alumunium 3,5 x 10-8 ohm meter ?
6.
Sebuah pemanas listrik menarik 4 A pada jalur 120 V, berapa daya yang
digunakannya dan berapa biaya per bulan (30 hari) jika pemanas listrik
beroperasi 5,0 jam setiap hari dan perusahaan listrik negara menghargai Rp.
200,- per kWh ?
7.
Sebuah petir memiliki variasi pada ledakan petir, tetapi pada umumnya
energi yang ditransfer sebesar 109 j, melalui beda potensial hampir sebesar
kurang lebih 5 x 107 V selama selang waktu 0,2 detik. Berapakah muatan
total yang ditransfer, arus, dan daya rata-rata selama 0,2 detik.
8.
Sebuah lampu memiliki spesifikasi 28 watt, 120 Volt. Lampu dipasang pada
tegangan 120 volt. Tentukan:
a) Energi yang digunakan selama 12 jam
b) Hambatan lampu
c) Kuat arus yang mengalir pada lampu
Buku Ajar “Fisika”
118
9.
Diketahui bahwa dinamo sebuah mobil dilalui arus 40 A. Jika beda potensial
Accu 12 Volt dan menghasilkan energi listrik sebesar 5K joule, berapakah
waktu yang diperlukan memindahlan energi listrik ke dinamo?
10.
Sebuah rumah memasang 10 lampu 10 watt dan menyala 8 jam sehari, 3
lampu 30 watt menyala 9 jam sehari, sebuah kulkas 200 watt menyala 24
jam sehari, pesawat TV 75 watt menyala 6 jam sehari dan sebuah setrika
listrik 350 watt yang dipakai 1 jam sehari. Jika tarif listrik adalah Rp 550 /
kwh, perkirakan biaya listrik rumah tersebut dalam satu hari, satu minggu (7
hari) dan satu bulan (30 hari)!
Buku Ajar “Fisika”
119
9
7
RESISTOR, HUKUM KIRCHOFF &
KAPASITOR
Materi
:
- Resistor
- Hukum Kirchoff
- Kapasitor
Sub Materi : - Rangkaian resistor
-
Hukum Kirchoff I
-
Hukum Kirchoff II
-
Pengertian kapasitor
-
Rangkaian kapasitor
Tujuan: Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu
memahami rangkaian resistor yang terdiri atas rangkaian seri, rangkaian paralel,
dan rangkaian gabungan seri paralel, mampu memahami Hukum Kirchoff I dan
implementasinya dalam rangkaian listrik, mampu memahami Hukum Kirchoff II
dan implementasinya dalam rangkaian listrik, mampu menjelaskan pengertian
kapasitor, dan mampu memahami rangkaian kapasitor yang terdiri atas rangkaian
seri, rangkaian paralel, dan gabungan seri paralel.
9.1. RESISTOR
Dalam sub bab ini kita tidak membahas tentang pendahuluan resistor,
karena telah dibahas pada bab sebelumnya. Tetapi kita akan mempelajari tentang
bagaimana merangkai resistor, serta rumus – rumus yang digunakan dalam
menyusun rangkaian resistor. Berikut ini, gambar 11.1 adalah berbagai contoh
rangkaian resistor dalam rangkaian listrik sederhana.
Buku Ajar “Fisika”
120
Gambar 9.1. Contoh susunan resistor dalam sebuah rangkaian
Dalam mempelajari rangkaian listrik sederhana, tentunya kita perlu mengetahui
beberapa symbol yang sering digunakan, diantaranya:
a.
Gambar 9.1. Tegangan
merupakan lambang tegangan, dimana garis panjang menunjukkan kutub
positif, dan garis pendek menunjukkan kutub negatif.
b.
Gambar 9.2. Resistor
merupakan lambang resistor dalam rangkaian listrik.
c.
Gambar 9.3. Sumber tegangan bebas
merupakan lambang sumber tegangan bebas pada rangkaian listrik
d.
Gambar 9.4. Sumber tegangan tak bebas
Buku Ajar “Fisika”
121
merupakan lambang sumber tegangan tak bebas dalam rangkaian listrik.
e.
Gambar 9.5. Arus bebas
gambar di atas merupakan lambang arus bebas dalam rangkaian listrik.
f.
Gambar 9.6. Arus tak bebas
gambar di atas merupakan sumber arus tak bebas dalam rangkaian listrik.
Beberapa lambang di atas, merupakan lambang yang biasa dipakai dalam
rangkaian sederhana. Dalam rangkaian listrik, resistor dapat disusun secara
seri dan parallel. Berikut ini susunan resistor secara seri, perhatikan gambar
9.7:
Gambar 9.7 Contoh susunan seri resistor
Rumus dalam susunan SERI adalah:
Req adalah R total atau hambatan total dalam sebuah rangkaian seri,
dimana nilainya adalah penjumlahan total dari keseluruhan resistor yang di
susun secara seri. Hal ini berlaku untuk tegangan yang disusun secara seri,
sehingga:
Buku Ajar “Fisika”
122
Dimana tegangan total adalah penjumlahan seluruh tegangan
yang
disusun secara seri, dimana nilai tegangan dapat kita peroleh dari nilai
perkalian antara hambatan dan arus, sebagai berikut:
Jika resistor dalam rangkaian disusun secara parallel, maka perhatikan
gambar 9.8:
Gambar 9.8. Contoh susunan paralel resistor
Rumus dalam susunan PARALEL adalah:
Besarnya hambatan equivalen adalah penjumlahan dari satu per tiap-tiap
hambatan. Terdapat kasus khusus dalam hambatan yang disusun secara
parallel, yaitu jika dalam rangkaian listrik hanya terdapat dua buah
hambatan saja, lihat gambar 9.9:
Gambar 9.9. Susunan paralel dua resistor
Buku Ajar “Fisika”
123
Dikarenakan dua resistor, maka dalam perhitungannya:
Dan rumus ini dapat dituliskan menjadi:
Rumus baku ini tidak berlaku jika dalam rangkaian parallel terdapat lebih
dari dua resistor:
Untuk lebih memahami tentang perhitungan resistor, baik dalam susunan
seri
maupun
parallel,
maka
pelajari
beberapa
contoh
soal
dan
penyelesaiannya berikut ini.
Contoh Soal:
1. Berapakah nilai hambatan total rangkaian pada gambar 9.10. berikut
ini:
Gambar 9.10. Rangkaian seri
Buku Ajar “Fisika”
124
2. Perhatikan gambar rangkaian 9.11. berikut ini:
Gambar 9.11. Rangkaian seri
Jika diketahui R1 = 10Ω, R2 = 15Ω, R3 = 25Ω, dan V= 22Volt
Dari gambar di atas, tentukan:
a. R total?
b. I yang mengalir?
c. V pada R1, R2 dan R3?
3. Perhatikan rangkaian kombinasi seri dan parallel gambar 9.12. di
bawah ini:
Gambar 9.12. Rangkaian kombinasi seri dan paralel
Tentukan:
a. Berapakah R total pada rangkaian tersebut?
b. Berapakan I total yang mengalir pada rangkaian?
Penyelesaian:
1. Penyelesaian untuk nomor satu gambar pertama:
Rtotal  R4  R5  R6  R7
Rtotal  18.10 3  18.10 3  18.10 3  18.10 3
Rtotal  72.10 3 
Penyelesaian untuk nomor satu gambar kedua:
Buku Ajar “Fisika”
125
Rtotal  R1  R2  R3
Rtotal  36.10 3  24.10 3  15.10 3
Rtotal  75.10 3 
2. Untuk mencari nilai R total, maka:
Rtotal  R1  R2  R3
Rtotal  10  15  25
Rtotal  50 
Jadi hambatan total rangkaian di atas sebesar 50Ω
Mencari nilai I total, menggunakan Hukum Ohm:
V
R
22
I
50
I  0,44 A
I
Mencari nilai tegangan:
V  I .R
V1  0,44.R1
V1  0,44.10
V1  4,4 V
V  I .R
V2  0,44.R2
V2  0,44.15
V2  6,6V
V  I .R
V3  0,44.R3
V3  0,44.25
V3  11V
3. Mencari nilai R total pada rangkaian:
1
1
1


Rp R1 R2
R parallel :
1
1
1


Rp 27 34
Buku Ajar “Fisika”
126
1
1
1


Rp 27 34
1
34
27


Rp 918 918
1
61

Rp 918
Rp  15,05 
R seri (total):
Rt  58  15,05  73,05
Sehingga nilai R total pada rangkaian tersebut adalah 73,05Ω
9.2. HUKUM KIRCHOFF
Jika dalam rangkaian listrik terdapat cabang, maka akan terdapat
percabangan arus, dimana percabangan arus ini bergantug pada besarnya
hambatan. Perhatikan gambar 9.13. rangkaian berikut ini yang memiliki
percabangan.
Gambar 9.13. Rangkaian pembagi arus
Dalam teorinya hukum kirchoff dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Hukum Kirchoff I -Kirchoff’s Current Law (KCL)
Jumlah arus yang memasuki suatu percabangan atau node atau
simpul samadengan arus yang meninggalkan percabangan atau node atau
simpul, dengan kata lain jumlah aljabar semua arus yang memasuki sebuah
percabangan atau node atau simpul sama dengan nol.
Secara matematis :
 Arus pada satu titik percabangan = 0
 Arus yang masuk percabangan =  Arus yang keluar percabangan
Buku Ajar “Fisika”
127
Perhatikan ilustrasi arus masuk dan keluar pada gambar 9.14. berikut ini:
Gambar 9.14. Arus masuk dan arus keluar
i  0
i2  i4  i1  i3  0
 arus  masuk   arus  keluar
i2  i4  i1  i3
b. Hukum Kirchoff II -Kirchoff’s Voltage Law (KVL)
Jumlah tegangan pada suatu lintasan tertutup sama dengan nol, atau
penjumlahan tegangan pada masing-masing komponen penyusunnya yang
membentuk satu lintasan tertutup akan bernilai sama dengan nol. Secara
matematis dapat dituliskan menjadi:
V  0
Penggunaan dalam rangkaian loop tertutup, digambarkan pada gambar
9.15.
Gambar 9.15. Rangkaian loop tertutup
Cara pembacaan dalam lintasannya:
Lintasan a-b-c-d-a :
Vab  Vbc  Vcd  Vda  0
 V1  V2  V3  0  0
V2  V1  V3  0
Buku Ajar “Fisika”
128
Dan jika kita membaca dari lintasan Lintasan a-d-c-b-a :
Vad  Vdc  Vcb  Vba  0
V3  V2  V1  0  0
V3  V2  V1  0
Untuk lebih memahami tentang penerapan Hukum Kirchoff, mari kita pelajari
beberapa contoh soal dan penyelesaian berikut ini:
Contoh Soal:
1. Perhatikan gambar 9.16., berikut ini:
Gambar 9.16. Rangkaian pembagi arus
Berapakah besarnya:
a. Arus total (IT)?
b. Arus (I1)?
c. Arus (I2)?
d. Arus (I3)?
2. Perhatikan gambar 9.17, berikut ini:
Gambar 9.17. Rangkaian Loop tertutup
Tentukan besarnya tegangan yang terdapat pada R3!
Buku Ajar “Fisika”
129
3. Perhatikan gambar 9.18. berikut ini:
Gambar 9.18. Rangkaian Loop tertutup
Dari rangkaian di atas, tentukan besarnya:
a. Vx
b. Ix
Penyelesaian:
1. Berdasarkan KCL:
 itotal  i1  i2  i3
Dikarenakan rangkaian parallel, maka semua cabang memiliki tengangan
yang besarnya sama dengan tegangan sumber yaitu: 9V, maka besarnya
tiap – tiap arus:
i1 
V
R1
i1 
9
 9.10  4  90.10 3 A
10 K
i2 
V
R2
i2 
9
 4,5.10 3 A
2K
i3 
V
R3
i1 
9
 9.10 3 A
1K
 itotal  i1  i2  i3
 itotal  90.10  4,5.10
3
3
 9.10 3  103,5.10 3 A
Jadi besarnya i1  90.mA, i2  4,5mA, i3  9mA, dan itotal  103,5mA
Buku Ajar “Fisika”
130
2. Dengan memperhatikan arah loop sesuai dengan arah jarum jam, maka:
Rumus KVL:
V  0
 250V  E  60V  30V  0
 250V  60V  30V   E
 220V   E
E  220V
Besarnya tegangan pada R3 sebesar 220V
3. Dengan menggunakan gabungan antara KVL dan Hukum Ohm, maka:
V  0
 5V  7V  Vx  0
Vx  12V
ix  V
R
ix  12
 0,12 A  120mA
100
Jadi besarnya Tegangan pada hambatan (Vx) adalah 12 V, dan arus yang
mengalir sebesar 120mA.
9.3. KAPASITOR
Dalam dunia elektronika, komponen dasar lain selain resistor adalah
kapasitor. Kapasitor merupakan sebuah komponen elektronika yang mampu
menyimpan dan melepaskan muatan dan energi listrik. Kemampuan untuk
menyimpan muatan listrik pada kapasitor disebut dengan kapasitansi atau
kapasitas. Diantara jenis-jenis kapasitor, dibedakan menjadi dua jenis antara lain
kapasitor bipolar dan non-polar. Kapasitor ini juga dapat dibedakan dari bahan
yang digunakan, sepertti keramik, mika, milar, kertas, polyester, film. Pada
umumnya kapasitor yang terbuat dari bahan yang tersebut dan nilainya kurang
dari 1 mikro farad. Gambar 9.19. adalah simbol kapasitor non polar.
Buku Ajar “Fisika”
131
Gambar 9.19. Simbol kapasitor non polar
Kapasitor elektrolit adalah kapasitor tetap, yang memiliki nilai lebih besar sama
dengan 1 mikro farad, dengan bahan dielektrikumnya terbuat dari cairan elektrolit.
Kapasitor elektrolit ini memiliki polaritas ( kutub + dan kutub -). Kapasitor
menggunakan satuan farad. Gambar 9.20. merupakan symbol kapasitor polar.
Gambar 9.20. Simbol kapasitor polar
Beberapa fungsi dari kapasitor:
a. Sebagai filter atau penyaring, biasanya digunakan pada sistem radio, tv,
amplifier dan lain-lain.
b. Sebagai kopling, kapasitor sebagai penghubung amplifier tingkat rendah
ketingkat yeng lebih tinggi.
Terdapat dua jenis susunan dalam menyusun beberapa kapasitor, seperti layaknya
resistor:
a. Rangkaian Seri
Gambar 9.21. Kapasitor yang disusun secara seri
Buku Ajar “Fisika”
132
Gambar 9.21. merupakan kapasitor yang disusun secara seri, dapat dihitung
dengan menggunakan rumus:
1
Ctotal

1
1
1
1


 .... 
C1 C 2 C3
Cn
dimana:
C total= Nilai gabungan kapasitor yang disusun secara seri (Satuan Farad).
b. Rangkaian Paralel
Gambar 9.22. Kapasitor yang disusun secara paralel
Gambar 9.22. merupakan kapasitor yang disusun secara paralel, dapat dihitung
dengan menggunakan rumus:
Ct otal  C1  C2  C3  ....  Cn
dimana:
C total = Nilai gabungan kapasitor yang disusun secara parallel (Satuan Farad).
Supaya lebih jelas tentang perhitungan kapasitor, perhatikan beberapa contoh soal
berikut ini.
Contoh soal:
1. Jika terdapat dua buah kapasitor masing-masing mempunyai kapasitas
3 μF dan 6 μF dipasang secara seri, jika diketahui beda potensial dari
kapasitor penggantinya adalah 20 Volt.tentukan:
a. kapasitas totalnya
b. muatan masing-masing kapasitor
c. beda potensial masing-masing kapasitor
2. Dengan melihat gambar 11.18, maka tentukan besarnya rangkaian
kapasitor penggantinya.
Buku Ajar “Fisika”
133
Gambar 9.23. Kapasitor yang disusun kombinasi
3. Lihat pada gambar 9.24, jika diketahui nilai: C1 = 2µF, C2 = 4µF, dan
C3 = 5µF, dan besarnya tegangan adalah 6V, maka tentukan besarnya:
a. Kapasitor pengganti
b. Muatan total pada rangkaian
Gambar 9.24. Kapasitor yang disusun kombinasi
Penyelesaian:
1. Untuk menghitung kapasitor total:
1
C total
1
C total

1 1

3 6

2 1

6 6
C total  2 F
Muatan masing – masing kapasitor:
Q1 = Q2 = Qs
Buku Ajar “Fisika”
134
Ct otal 
QT
VT
QT
20
Qt  40 C
Q1  Q2  Qt  40 C
2 F 
Beda potensial masing – masing muatan:
V1 
Q1
C1
40 F
3F
V1  13,33V
V1 
V2 
Q2
C2
40 F
6 F
V2  6,67V
V2 
2. Menghitung kapasitor gabungan:
Kapasitor parallel:
Cp = C2 + C3 = 2+4 = 6µF
Kapasitor seri:
1
1 1
 
Cs 6 3
1
1 2
 
Cs 6 6
6
Cs   2 F
3
Jadi besarnya kapasitor total adalah 2µF
3. Untuk menyelesaiakan rangkaian nomor 3, maka kita harus menghitug
kapasitor seri terlebih dahulu, baru kapasitor parallel.
Buku Ajar “Fisika”
135
1
1 1
 
Cs 2 4
1
2 1
 
Cs 4 4
4
Cs   1,33F
3
Kapasitor total:
Cp = 1,33µF +5µF = 6,33µF
Muatan total pada rangkaian:
Q  V .C
Q  6.6,33.10 6  37,98C
Jadi besarnya kapasitor pengganti pada rangkaian tersebut adalah
6,33µF dan muatan totalnya sebesar 37,98µC.
Pada pembahasan materi buku ajar fisika, untuk kelistrikan dasar tidak dibahas
sampai dengan materi antara gabungan resistor, kapasitor dan inductor atau biasa
disebut rangkaian RLC. Materi kelistrikan lebih lanjut akan dibahas pada materi
rangkaian listrik.
Buku Ajar “Fisika”
136
RINGKASAN
1. Dalam rangkaian listrik, resistor dapat disusun atau dirangkai secara seri,
paralel, dan gabungan seri paralel.
2. Rumus rangkaian seri untuk resistor adalah: Req = R1 + R2 + . . . . . . +
RN, sedangkan untuk rangkaian paralel adalah: 1/Req = 1/R1 + 1/R2 + . . .
. . . . + 1/RN.
3. Hukum Kirchoff I: Jumlah arus yang memasuki suatu percabangan atau
node atau simpul sama dengan arus yang meninggalkan percabangan atau
node atau simpul, dan dapat dituliskan: ∑ arus masuk = ∑ arus keluar.
4. Hukum Kirchoff II: penjumlahan tegangan pada
masing-masing
komponen penyusunnya yang membentuk satu lintasan tertutup akan
bernilai sama dengan nol, dan dapat dituliskan: ∑ V=0
5. Kapasitor merupakan sebuah komponen elektronika yang mampu
menyimpan dan melepaskan muatan dan energi listrik.
6. Dalam rangkaian listrik, kapasistor dapat disusun atau dirangkai secara
seri, paralel, dan gabungan seri paralel.
7. Rumus rangkaian seri untuk kapasitor adalah: 1/Ceq = 1/C1 + 1/C2 + . . . .
. . . + 1/CN, sedangkan untuk rangkaian paralel adalah: Ceq = C1 + C2 + .
. . . . . + CN.
Buku Ajar “Fisika”
137
LATIHAN SOAL
1. Tentukan besarnya R pengganti rangkaian berikut ini, jika diketahui
besarnya R1= 2KΩ, R2 = 3KΩ, R3 = 4KΩ, R4 = 5KΩ, R5 = 10KΩ, R6 =
12KΩ, R7 = 15KΩ.
Gambar 9.25. Rangkaian latihan soal no.1
2. Lihat gambar rangkaian soal nomor satu, tentukan nilai arus pada masing –
masing hambatan.
3. Dari gambar berikut ini tentukan i1 dan i2 nya:
Gambar 9.26. Rangkaian latihan soal no.3
Jika diketahui nilai R1 = 6KΩ, R2= 4KΩ, dan R3 = 8KΩ
4. Berapakah nilai V1 pada rangkaian dibawah ini:
Buku Ajar “Fisika”
138
Gambar 9.27. Rangkaian latihan soal no.4
5. Berapakah nilai pengganti kapasitor dari rangkaian di bawah ini?
Gambar 9.28. Rangkaian latihan soal no.5
6. Tentukan besarnya kapasitor pengganti serta muatan total yang ada pada
rangkaian berikut ini:
Gambar 9.29. Rangkaian latihan soal no.6
Buku Ajar “Fisika”
139
Download