Analisa Media - Kalyanamitra

advertisement
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
Kekerasan Terhadap Perempuan=Pelanggaran HAM=Tindak Pidana
Kekerasan terhadap perempuan menjadi teror yang terus mengancam perempuan
sepanjang masa. Untuk mengingatkan umat manusia di seluruh dunia, maka setiap
tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.
Peringatan ini bermula tahun 1960, ketika tiga orang kakak beradik Mirabel
bersaudara (Mirabel, Patricia, dan Maria) dari Dominica, disiksa dan dibunuh oleh
penguasa diktator Rafael Trujillo. Mirabel bersaudara dibunuh tepat pada 25
November.
Tiga perempuan bersaudara itu merupakan aktivis yang tiada henti memperjuangkan
keadilan dan melawan kediktatoran yang menindas rakyat, termasuk perempuan.
Untuk mengenang dan menghormati mereka, maka hari kematiannya yang jatuh
pada 25 November dikenang sebagai hari Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
bagi seluruh perempuan di dunia. Peringatan ini sekaligus mengingatkan warga
dunia, bahwa kekerasan terhadap perempuan wajib bersama-sama dihapuskan.
Tanggal 25 November sekaligus dimulai kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap
Perempuan. Kampanye ini digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun
1991 yang disponsori Center for Women’s Global Leadership. Di Indonesia
kampanye diinisiasi oleh Komnas Perempuan bersama mitra-mitranya sejak tahun
2001, atau sepuluh tahun setelah Women’s Global Leadership Institute melakukan
kampanye tersebut. Dibutuhkan waktu 1 dekade untuk mengadopsi kampanye
tersebut, karena Komnas Perempuan baru berdiri tanggal 15 Oktober 1998,
berdasarkan Keputusan Presiden No. 181/1998 dan diperbaharui dengan Peraturan
Presiden No.65/2005.
Komnas Perempuan lahir dari tuntutan masyarakat sipil, terutama kaum perempuan,
kepada pemerintah untuk mewujudkan tanggung jawab negara dalam menanggapi
dan menangani persoalan kekerasan terhadap perempuan. Tuntutan itu berakar dari
tragedi kekerasan seksual yang dialami perempuan etnis Tionghoa dalam kerusuhan
Mei 1998 di berbagai kota besar di Indonesia.
Komnas Perempuan memaknai ‘Kekerasan terhadap Perempuan’ sesuai dengan
definisi dalam deklarasi yang dikeluarkan Konferensi HAM di Wina tahun 1993 dan
merupakan hasil konsensus internasional. Definisi ini mencakup kekerasan yang
dialami perempuan dalam keluarga, dalam komunitas maupun kekerasan oleh
negara. Pada konferensi internasional itu, juga ditegaskan bahwa kekerasan
terhadap perempuan adalah pelanggaran HAM, dan bahwa pemenuhan hak-hak
perempuan adalah pemenuhan hak-hak asasi manusia.
Fokus perhatian Komnas Perempuan saat ini adalah perempuan korban kekerasan
dalam rumah tangga; perempuan pekerja rumah tangga yang bekerja di dalam negeri
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
maupun di luar negeri sebagai buruh migran; perempuan korban kekerasan seksual
yang menjalankan proses peradilan; perempuan yang hidup di daerah konflik
bersenjata; dan, perempuan kepala keluarga yang hidup di tengah kemiskinan di
daerah pedesaan.
Sejak berdiri hingga sekarang, Komnas Perempuan selalu mengeluarkan catatan
tahunan tentang kekerasan terhadap perempuan. Dari catatan Komnas Perempuan
tersebut, kekerasan terhadap perempuan selalu mengalami peningkatan cukup
signifikan. Berdasarkan data Komnas Perempuan tahun 2011 tercatat 119.107 kasus
kekerasan terhadap perempuan. Data ini mengalami peningkatan dari tahun
sebelumnya, yang berjumlah 105.103 kasus. Dan jika dibandingkan data tahun 2007
misalnya, kasus tersebut mengalami peningkatan lebih dari 400%, karena tahun itu
Komnas Perempuan melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan masih
sekitar 25.522 kasus.
Data yang dihimpun Komnas Perempuan tentu bukan data keseluruhan kasus,
karena hanya kasus yang terlaporkan, tidak termasuk kasus yang dicabut
laporannya. Sementara masih banyak perempuan lain yang tidak berani melaporkan
kekerasan yang dialaminya, karena terkendala banyak hal, misalnya aib, tidak tahu
kemana harus melaporkan, engan melapokan kasusnya, dan sebagainya. Maka tak
heran data yang jumlahnya ratusan ribu tersebut hanya di permukaan es, belum
mencakup semua kekerasan yang terjadi pada perempuan.
Berdasarkan data Komnas Perempuan tahun 2011, Kasus kekerasan dalam rumah
tangga (KDRT) masih menjadi kasus yang paling banyak ditangani lembaga pengada
layanan, yakni 113.878 kasus (95,61%). Sebanyak 5.187 kasus (4,35%) terjadi di
ranah publik, dan sisanya 42 kasus (0,03%) terjadi di ranah negara. Perempuan
dalam rentang usia 25 hingga 40 tahun adalah yang rentan mengalami kekerasan,
meskipun data yang dihimpun menunjukkan ada korban berusia 13 hingga 40 tahun.
Sementara kasus kekerasan seksual adalah bentuk kekerasan yang paling mencuat
dalam Catatan Tahunan 2011, terutama di ranah domestik dan publik. Dari 113.878
kasus di ranah domestik, lebih dari 97% (110.468 kasus) adalah kekerasan terhadap
istri, dan ada 1.405 kasus kekerasan dalam pacaran. Teridentifikasi bahwa dalam
ranah domestik, kekerasan psikis paling banyak dialami (103.691 kasus), dan
berturut-turut jenis kekerasan ekonomi (3.222 kasus), kekerasan fisik (2.790 kasus),
serta kekerasan seksual (1.398 kasus). Sementara jenis kekerasan terhadap
perempuan di ranah negara mencakup kekerasan yang dilakukan oleh aparat (31
kasus), pengambilalihan lahan (6 kasus), pelayanan publik berkaitan dengan
kewarganegaraan (2 kasus), penahanan (2 kasus), dan penembakan (1 kasus).
Lantas, apa sebenarnya kekerasan terhadap perempuan di Indonesia? Berbagai
peristiwa kekerasan yang dialami perempuan sepanjang bulan November 2012 yang
dihimpun dari dunia media online (www.kompas.com) dan (www.detik.com)
memberikan gambaran seperti apa kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi.
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
a. Perkosaan dan Pencabulan (Sexual violence and harassment)
Media massa Indonesia masih mencampur-adukan antara perkosaan dan
pencabulan. Sering peristiwa perkosaan ditulis perbuatan pencabulan, karena dalam
KUHP perkosaan masuk pada pasal kesusilaan (pencabulan).
Kata pencabulan sendiri memiliki berbagai definisi. Bila melihat pencabulan yang
diambil dari pandangan Amerika Serikat, maka definisi pencabulan oleh The National
Center on Child Abuse and Neglect US ialah: “sexual assault”, artinya “Kontak atau
interaksi antara anak dan orang dewasa di mana anak tersebut dipergunakan untuk
stimulasi seksual oleh pelaku atau orang lain yang berada dalam posisi memiliki
kekuatan atau kendali atas korban”. Dalam hal ini, termasuk kontak fisik yang tidak
pantas, yang membuat anak melihat tindakan seksual atau pornografi, menggunakan
seorang anak untuk membuat pornografi atau memerlihatkan alat genital orang
dewasa kepada anak-anak.
Di Belanda, pengertian yang lebih umum untuk pencabulan, yakni “persetubuhan di
luar perwakinan yang dilarang yang diancam pidana”. Di Indonesia tidak memiliki
pengertian kata “pencabulan” yang cukup jelas. Bila mengambil rumusan buku
Kejahatan Seks dan Aspek Medikolegal Gangguan Psikoseksual maka pencabulan
adalah “semua perbuatan yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan seksual
sekaligus mengganggu kehormatan kesusilaan”. Namun tidak ada definisi hukum
yang jelas mengenai istilah pencabulan itu sendiri, baik dalam KUHP, UU
Perlindungan Anak maupun UU anti KDRT. Karena tidak ada definisi yang jelas,
maka media sering mencampur istilah pencabulan dengan perkosaan, karena bisa
jadi pencabulan yang dialami korban dalam bentuk perkosaan.
Perkosaan adalah tindakan kriminal yang berwatak seksual yang terjadi ketika
seorang manusia (atau lebih) memaksa seseorang atau manusia lain untuk
melakukan hubungan seksual dalam bentuk penetrasi penis ke vagina atau penis ke
anus atau menggunakan anggota tubuh lainnya, seperti tangan atau dengan bendabenda tertentu, secara paksa baik dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.
Definisi lain perkosaan adalah kejahatan seksual yang berupa hubungan seksual
paksa yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan dengan kondisi: (1) tidak
atas kehendak dan persetujuan perempuan, (2) dengan “persetujuan” perempuan
namun di bawah ancaman/tekanan, (3) dengan “persetujuan” perempuan namun
melalui penipuan/muslihat. Dalam KUHP (Pasal 285) disebutkan bahwa “perkosaan
adalah kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa seseorang perempuan
bersetubuh dengan dia (laki-laki) di luar pernikahan”. Apabila ada perempuan yang
mengalami tindak kekerasan seksual, namun tidak memenuhi isi pasal 285 KUHP,
tetap bisa melaporkannya dan menuntut si pelaku dengan mempergunakan pasalpasal lain yang berkaitan dengan kejahatan kesusilaan lainnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengartikan pemerkosaan sebagai "penetrasi
vagina atau anus dengan menggunakan penis, anggota-anggota tubuh lain atau
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
suatu benda--bahkan jika dangkal--dengan cara pemaksaan baik fisik atau non-fisik."
Mahkamah Kejahatan Internasional untuk Rwanda tahun 1998 merumuskan
pemerkosaan sebagai "invasi fisik berwatak seksual yang dilakukan kepada seorang
manusia dalam keadaan atau lingkungan yang koersif".
Perkosaan dan pencabulan menjadi salah satu bentuk kekerasan yang terus
mengancam perempuan dan anak perempuan di ruang privat dan juga terjadi di
ruang publik. Pelakunya pun makin beragam, tidak lagi orang-orang yang tidak kenal
tapi yang dekat dengan korban, seperti saudara, pacar, paman, kakek, bapak,
tetangga, saudara laki-laki, ayah tiri, dan sebagainya. Demikian dengan korbannya,
tidak hanya perempuan dewasa, tetapi juga dialami anak balita dan juga neneknenek.
Sepanjang November 2012, (www.detik.com) dan (www.kompas.com) mencatat
kasus pencabulan dan perkosaan terhadap perempuan dan anak perempuan:
-
-
-
Di Cengkareng, anak perempuan berusia 7 tahun diperkosa oleh ayah tirinya.
Pemerkosaan dilakukan sebanyak empat kali. Pelaku melakukan aksinya
ketika ibu anak tersebut sedang tidak ada. Korban juga mendapatkan
ancaman akan dipukul, jika mengadu. Saat melakukan aksinya yang keempat,
ibu korban memergokinya, lantas membawanya ke Puskesmas, namun alihalih menolong korban, mengetahui anaknya diperkosa oleh suaminya, ibu
korban justru mengajak pelaku untuk kabur dan meninggalkan anaknya di
Puskesmas.
Di Singkil, Aceh, seorang ayah tiri berusia 52 tahun tega mencabuli dua anak
gadisnya yang masih berusia 15 tahun dan 16 tahun.
Di Menado, seorang anak berusia 12 tahun diperkosa oleh ayahnya sejak usia
8 tahun.
Di Deli Serdang, Medan, seorang anak perempuan kelas 4 SD menjadi korban
perkosaan. Untuk memperdayai korban, pelaku mengaku orang suruhan orang
tuanya untuk menjemput korban dari sekolah.
Di Depok, Jawa Barat, anak perempuan berusia 6 tahun dicabuli oleh lelaki
berusia 45 tahun. Pelaku melancarkan aksinya dengan mengiming-imingi
korban imbalan permen dan uang tiga ribu rupiah. Menurut ibu korban, dalam
dua minggu terakhir pelaku diduga sudah tiga kali melakukan perbuatannya
tersebut.
Di Madiun, Jawa Timur, siswi SMP kelas IX mengalami perkosaan oleh
pemalsu identitas hingga hamil satu bulan. Mengetahui korban hamil atas
perbuatannya, pelaku bukan menikahinya, justru menikahi orang lain.
Di Ambon, Maluku, seorang guru sekolah dasar memperkosa muridnya yang
masih berusia 11 tahun sebanyak 2 kali. Korban mengakui bahwa pencabulan
tersebut berawal dari korban sering curhat dengan pelaku, tentang kehidupan
kesehariannya di rumah maupun di sekolah. Dari kedekatan itulah, pelaku lalu
mengirim pesan singkat kepada korban untuk mengajak jalan ke Pantai
Natsepa dengan menggunakan sepeda motor. Tawaran dari pelaku disetujui
korban yang bertempat tinggal di kawasan Kapaha, Ambon.
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
-
-
-
-
-
-
-
-
Di Situbondo, Jawa Timur, laki-laki berusia 19 tahun yang tengah pisah
ranjang dengan istrinya, mengaku bujangan, memperkosa remaja perempuan
berusia 15 tahun. Perbuatan tersebut sudah dilakukan pelaku sebanyak 3 kali
di rumahnya.
Di Gowa, Makassar, seorang guru sekolah dasar ditangkap aparat penegak
hukum karena melakukan pencabulan terhadap salah seorang muridnya yang
duduk di bangku kelas V. Akibat dugaan pencabulan itu, sang murid dua hari
tidak masuk sekolah karena malu
Seorang anak baru gede (ABG) berumur 13 tahun asal Awipari, Kota
Tasikmalaya, Jawa Barat, diduga dicabuli seorang kakek berumur 80 tahun
sekaligus tetangganya berinisial Sar. Korban diiming-imingi uang Rp 5.000
oleh pelaku untuk menuruti permintaan pelaku. Setelah berada di rumah
pelaku, korban dibekap dengan lakban. Saat tak berdaya itulah, pelaku
mencabuli korban beberapa kali.
Di Cirebon, Jawa Barat, polisi menangkap seorang karyawan sebuah toko
mainan karena telah memperkosa seorang anak dibawah umur. Pelaku
mengaku sudah melakukan perbuatannya sebanyak 3 kali dan mengaku
perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama suka.
Di Medan, elaki berusia 25 tahun dituding melakukan pencurian dan sempat
mencoba memperkosa seorang perempuan. Aksi tersebut dapat digagalkan
oleh korban, karena ia melakukan perlawanan dengan menepis tangan pelaku.
Mengetahui korban melawan, pelaku menempelkan pisau belatinya ke tubuh
putrinya sambil memaksa korban agar membuka pakaiannya, kalau tidak,
anaknya akan dibunuh. Walaupun mendapat ancaman, ternyata korban tak
takut malah sempat bergumul dengan pelaku. Dalam pergumulan itu, sebo
yang menutupi wajah terbuka sehingga korban mengenali wajahnya. Pelaku
langsung melarikan diri, sedangkan korban segera melapor ke Mapolsekta.
Di Bikomi Selatan, Timor Tengah Utara Nusa Tenggara Timur, pemuda
berusia 24 tahun yang tengah mabuk memperkosa seorang nenek yang telah
memiliki 5 orang cucu. Korban berhasil meloloskan diri setelah lebih dari satu
jam dicabuli.
Di Purworejo, Kotagajah, Lampung Tengah, seorang lelai yang telah memiliki
tiga orang anak, tega menyetubuhi salah satu anak kandungnya. Perbuatan
tercela tersebut terungkap setelah korban melapor ke polisi.
Di Rangkui, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka-Belitung (Babel), perempuan
berusia 32 tahun, pekerja pijat refleksi tak kuasa melawan seorang pria bugil
mengenakan penutup kepala masuk ke kamarnya.
Di Palopo, Sulawesi Selatan, polisi meringkus dua pria, Knd dan Mt karena
diduga telah memperkosa R, gadis belia yang masih duduk di bangku SMP.
Belakangan diketahui, Knd dan Mt memerkosa R bersama dengan 6 rekannya
secara bergiliran. Sementara itu, R mengaku diperkosa 8 pria di sebuah rumah
kosong, Jalan Sungai Rongkong pada Jumat, 23 November 2012.
Di Medan, remaja berusia 17 tahun mengalami perkosaan yang dilakukan oleh
seorang polisi. Pelaku melancarkan aksinya seusai memberhentikan
kendaraan korban saat melintas tanpa helm dan melanggar lampu merah di
persimpangan Jalan AR Hakim-Panglima Denai, kawasan Pasar Sukaramai,
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
-
Sabtu (17/11) lalu. Saat itu, korban berboncengan dengan temannya
mengendarai Honda Scoopy dan dimintai "uang damai" oleh RC. Karena tak
punya uang, korban minta izin untuk pulang ke rumahnya di Jalan Selamat
Ketaren, Kecamatan Percut Sei Tuan. Namun, RC malah menawarkan diri
mengantarkan korban ke rumahnya. Korban kemudian pindah tumpangan ke
mobil Honda Jazz milik RC. Dalam perjalanan tersebut, pelaku melancarkan
aksinya.
Di Ambon, seorang kakek berusia 64 tahun, harus berurusan dengan pihak
kepolisian karena mencabuli seorang gadis di bawah umur.
Di Malang, jawa Timur, seorang remaja yang masih duduk di bangku SMP
diperkosa hingga pingsan oleh 6 orang laki-laki. Korban diperkosa di rumah
teman korban, saat dia sedang bermain di rumah temannya. Korban dan
keluarganya kemudian melaporkan hal itu ke polisi. Tak lama setelah
menerima laporan, polisi meringkus keenam pelaku.
Perkosaan tak hanya dialami perempuan Indonesia di dalam negeri, tetapi juga oleh
mereka yang sedang mengadu nasib di negeri jiran sebagai buruh migran. Selama
November 2012 ada dua kasus perkosaan yang dialami oleh buruh migran
perempuan di Malaysia. Kasus pertama, TKW berusia sekitar 25 tahun diperkosa
oleh 3 polisi di kantor polisi, di Bukit Mertajam, Penang, Malaysia. Setelah mencuat
kasusnya, kasus serupa juga terjadi di Negeri Sembilan. Seorang TKW diperkosa
majikannya. Sang majikan kini buron dan diburu polisi negara bagian itu.
Pemerkosaan terjadi pada 5 November 2012 lalu. Pihak KBRI baru dilaporkan Polisi
Negeri Sembilan pada 12 November 2012 malam.
b. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Domestic violence)
Kekerasan dalam rumah tangga terus dialami perempuan dan juga-anak-anak.
Beberapa kasus perkosaan dan pencabulan yang dipaparkan di atas ada juga yang
merupakan kasus kekerasan dalam rumah tangga, yang pelakunya adalah orang
tuanya sendiri, baik ayah kandung atau ayah tiri. Selain dialami perempuan,
kekerasan dalam rumah tangga juga dialami oleh laki-laki. Hal tersebut menunjukkan
bahwa siapapun dapat melakukan kekerasan tidak tergantung jenis kelaminnya,
hanya sampai kini perempuan menjadi korban paling banyak mengalami kekerasan
itu.
Beberapa kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi sepanjang November
2012 antara lain:
-
Di Duren Sawit, Jakarta Timur, seorang suami membakar tubuh istrinya. Api
tidak hanya membakar tubuh korban, namun juga menyebabkan kebakaran
dan malahap puluhan rumah lainnya. Akibat kejadian itu, korban dan anaknya
mengalami luka bakar, sementara pelaku langsung melarikan diri.
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
-
-
Di Kupang, seorang suami tega membunuh istrinya dengan memukul leher
bagian kanan korban dan kemudian dibuang ke WC. Peristiwa itu berlangsung
pada 29 Oktober 2012 namun korban baru diketemukan tanggal 20 November
2012.
Di Polimandar, Sulawesi Barat, seorang suami tega menghajar istrinya karena
kepergok sedang selingkuh.
Di Denpasar, Bali, seorang istri yang menusuk suaminya karena selingkuh
terancam 5 tahun penjara.
Di Pondok Aren, Tangerang Selatan, seorang ibu tiri tega menyiksa anaknya
hingga meninggal dunia.
c. Kekerasan Dalam Pacaran (Dating violence)
Demikian pun kasus kekerasan dalam pacaran. Perempuan selalu menjadi korban
tak hanya kekerasan psikis, tetapi juga kekerasan fisik bahkan harus kehilangan
nyawa. Dalam bulan November 2012 ini bentuk kekerasan lain yang dialami
perempuan dalam hubungan berpacaran ialah ingkar janji, karena sering dijanjikan
akan dinikahi sehingga mau diajak berhubungan seks. Tetapi kerap pula mereka
dibohongi dan sang pacar tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, bahkan
setelah si perempuan mengandung. Beberapa persoalan ingkar janji dalam relasi
berpacaran yang terjadi sepanjang November 2012 di antaranya:
-
-
-
-
Di Pangkal Pinang, Riau, seorang remaja berumur 18 tahun diamankan jajaran
Polres Pangkal Pinang karena telah menghamili anak dibawah umur. Saat
ditangkap, pelaku mengaku siap menikahi korban yang masih duduk di kelas
satu SMA, tetapi terkendala uang.
Di Lampung, seorang pelajar SMA, DK (16) dituntut lima tahun penjara karena
melakukan hubungan intim dengan pacarnya, Bunga (15). Tuntutan itu
disampaikan jaksa penuntut umum (JPU) Desi Dyah pada sidang di
Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Bandar Lampung, Kamis, 29/11/2012. Desi
meyatakan terdakwa DK terbukti melakukan tindak pidana dengan tipu
muslihat, kebohongan, dan bujuk rayu sehingga memperdayai anak di bawah
umur agar mau melakukan hubungan badan.
Gara-gara menghamili dua gadis, seorang oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS)
berinisial RAA (25) yang bekerja di kantor Badan Ketahanan Pangan dan
Pelaksanan Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa
Tenggara Timur (NTT), terancam sanksi berat dari pemerintah daerah
setempat.
Di Medan, seorang mahasiswa dberusia 21 tahun dilaporkan ke polisi karena
telah menghamili pacarnya.
Di Bogor, seorang remaja perempuan berusia 16 tahun dicabuli hingga hamil
oleh tetangganya, seorang pria yang telah memiliki istri. Karena seringnya
bertemu, korban berhasil menerima pelaku sebagai pacarnya. Korban sendiri
sempat bertanya tentang status pelaku yang telah memiliki istri. Namun, atas
tipu daya dan rayuan si pelaku, korban akhirnya percaya jika pelaku belum
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
memiliki istri dan mau menjadi pacarnya. Pelaku kemudian mengajak korban
ke rumah temannya untuk berkunjung. Karena keadaan rumah sepi, pelaku
menyetubuhi korban di rumah temannya itu, hingga beberapa kali. Atas
perbuatannya, kini korban hamil 5 bulan. Korban yang mengetahui dirinya
tengah hamil, mencoba menutupi kehamilanya dari keluarganya hingga 5
bulan. Karena ibu korban melihat ada keanehan dengan korban, akhirnya ibu
korban mengetahui bahwa anaknya tengah mengandung 5 bulan.
Beberapa kasus ingkar janji tersebut memang ada yang dibawa ke ranah hukum
untuk diproses, namun sering aparat penegak hukum tidak mau memprosesnya.
Solusi yang diberikan ialah dengan menikahkan kedua pasangan tersebut, padahal
sebuah pernikahan yang tidak direncanakan sebenarnya membawa persoalan baru
bagi pasangan itu sendiri.
Sementara bentuk kekerasan fisik yang dialami perempuan dalam relasi ini ialah
sebagai berikut:
-
-
-
Di Palembang, lantaran tidak mampu menahan rasa cemburu, seorang calon
pendeta Jesayas Hutapea (25) membunuh Rizka Manurung (27) dengan pisau
sangkur. Dua di dada, dua di perut, dan satu di punggung. Pembunuhan yang
menggemparkan para pendeta di Palembang itu terjadi di mess penginapan
sebuah gereja di kawasan Kecamatan Sako Palembang, Kamis (08/11/2012),
sekitar pukul 07.30 WIB.
Di Baguala Ambon, seorang gadis dirampok dan dianiaya oleh mantan
pacarnya. Kejadian tersebut berawal saat korban bertemu dengan pelaku, N
(20), warga Galunggung, Desa Batu Merah, Sirimau Ambon, di atas kapal feri
penyeberangan dari Galala menuju Poko pada Rabu (31/10/2012) sekitar
pukul 22.00 WIT. Ketika itu, pelaku lalu menghampiri korban, lalu
menodongkan sebilah pisau dari arah belakang. Korban langsung disuruh
masuk ke mobil Toyota Avanza yang dibawanya. Di dalam mobil, pelaku
mengikat kedua kaki dan tangan korban.
Di Kendal, seorang perempuan warga Desa Banyuringin RT 03/VI, Kecamatan
Singorojo, dijadikan umpan oleh kekasihnya Riko, warga Singorojo, Kendal,
Jawa Tengah. Rubaikah diancam. Jika menolak, maka aib keluarganya akan
dibeberkan kepada orang banyak. Akibatnya, Rubaikah mau melakukan apa
yang diingini oleh kekasihnya tersebut
d. Perdagangan manusia (Human trafficking)
Tubuh dan seksualitas perempuan merupakan sasaran empuk yang kerap diperjualbelikan. Modusnya berbagai cara, ada yang dijanjikan mendapatkan pekerjaan
kemudian rela dibawa ke suatu tempat dan akhirnya apa yang dijanjikan tidak sesuai,
atau terang-terangan menjual tubuh perempuan dengan ancaman, misalnya jerat
hutang dan lainnya. Ada pula yang mengabdi kepada orang tua. Pelakunya pun
berbagai macam, bisa teman sendiri, tetangga, bahkan orang tua sendiri. Seperti
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
yang dialami seorang gadis berusia 12 tahun di Cengkareng, ia mengaku dijual ayah
kandungnya sendiri untuk melayani pria hidung belang. Korban kemudian berhasil
kabur dan melaporkan kasusnya kepada Komnas Perlindungan Anak. Namun dalam
perjalanannya, korban dianggap membuat laporan palsu karena kemudian kedua
orang tuanya yang melihat berita tersebut tidak merasa menjual anaknya dan anak
tersebut dianggap membuat laporan palsu. Demikian dengan Komnas Perlindungan
Anak, melihat kasus tersebut juga merasa si anak membuat laporan palsu. Namun
terlepas dari itu, perdagangan perempuan dan anak terus mengancam perempuan
Indonesia. Berdasarkan data yang dirilis International Organization for Migration
(IOM) tahun 2011, Indonesia menempati peringkat teratas dengan jumlah 4.067
korban perdagangan manusia.
Maraknya perdagangan manusia (human trafficking) salah satu sebabnya ialah masih
dominannya kultur patriakhal yang membuat perempuan sebagai korban
perdagangan tak dapat berbuat banyak melawan dominasi laki-laki. Faktor lainnya,
yakni rendahnya pendidikan korban sehingga mereka mudah ditipu pelaku
perdagangan orang. Banyak korban yang enggan melapor karena malu atau takut.
Mereka takut karena memiliki ketergantungan ekonomi pada para pelaku.
Beberapa kasus perdagangan perempuan yang terjadi selama november 2012
antara lain:
-
-
-
Di Cengkareng, seorang anak usia 12 tahun dipaksa melayani nafsu bejat pria
hidung belang atas perintah ayah kandungnya. Sementara sang ibu sudah
meninggal dunia, sejak korban duduk di kelas 1 SD.
Di Malang, seorang ABG berusia 15 tahun yang dilaporkan hilang ditemukan
di sebuah lokalisasi di Kutai Kartanegara, Kaltim. Polisi telah mengamankan
seorang yang diduga menjerumuskannya ke tempat tersebut. Dari korban,
diperoleh keterangan kepergiannya dari Malang, dengan iming-iming
mendapatkan pekerjaan di Kalimantan. Setelah berada di lokalisasi di
Tenggarong Seberang, korban kemudian sadar telah dijebak pelaku.
Di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, dua siswi diperdagangkan oleh teman
sekolahnya. Sebut saja Bunga (16) dan saudaranya Mawar (15), pelajar salah
satu SMP ternama di Kota Palopo. Mereka sudah merelakan tubuhnya
dinikmati lelaki hidung belang yang mau membayarnya. Jika ingin berkencan
dengan kedua gadis belia ini, maka calon pelanggan terlebih dulu harus
menghubungi teman Bunga yang menjadi mucikari, sebut saja Melati (16).
Fitri (23), seorang pembantu rumah tangga (PRT) yang ditemukan tewas di
pinggir Jalan Lingkungan Kampung Baru, Kelurahan Bulutempe, Taneriattang
Barat, ternyata merupakan korban pembunuhan oleh kekasihnya sendiri.
Awalnya, korban tewas diduga akibat kecelakaan lalu lintas pada Selasa pagi.
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
Analisa Masalah
Perkosaan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam
pacaran, perdagangan perempuan dan sebagainya adalah kekerasan yang sering
dialami perempuan. Berbagai undang-undang yang ada, seperti UU Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga No. 23 tahun 2004, UU Perlindungan Anak No. 23
tahun 2002, UU PTPPO No. 21 tahun 2007, dan lainnya ternyata belum mampu
memberikan perlindungan maksimal kepada perempuan. Bahkan undang-undang
tersebut tidak digunakan oleh aparat penegak hukum untuk menindak pelaku
kekerasan. Naasnya banyak aparat penegak hukum yang tidak tahu bahwa
Indonesia telah memiliki banyak undang-undang yang dapat menjerat pelaku
kekerasan terhadap perempuan, misalnya kasus kekerasan dalam rumah tangga.
Akhirnya, kerap aparat penegak hukum menggunakan KUHP yang notabene tidak
tegas dan kadaluwarwa. Alhasil, keadilan pun tak pernah diperoleh perempuan yang
menjadi korban kekerasan. Bahkan aparat penegak hukum itu sendiri juga menjadi
pelaku kekerasan terhadap perempuan.
Dalam kasus perkosaan, Indonesia belum memiliki undang-undang yang tegas yang
dapat menjerat pelaku, sehingga kasus perkosaan sering dijerat dengan pasal
melanggar kesusilaan. Demikian juga kasus pelecehan seksual, hingga hari ini
Indonesia belum memiliki undang-undang yang melindungi perempuan dari
pelecehan seksual, terutama di ruang publik. Padahal, hampir setiap hari perempuan
mengalami pelecehan seksual, terutama di ruang publik, khususnya di transportasi
umum. Untuk mengantisipasi pelecehan seksual di transportasi umum, di Jakarta
kemudian dibuat ruang khusus buat perempuan di bis Transjakarta, yakni tempat
paling depan atau di kereta api ada dua gerbong khusus yang disediakan untuk
perempuan. Tindakan tersebut diambil pemerintah karena banyak kasus pelecehan
seksual di dalam transportasi tersebut. Pemisahan ini sebenarnya bukan solusi
karena akhirnya menimbulkan persoalan baru bagi perempuan itu sendiri. Sering
perempuan yang berjalan dengan pasangannya entah suami atau pacarnya akan
terpisah dengan keadaan itu, walaupun mereka bisa memilih untuk memasuki ke
wilayah laki-laki maupun perempuan.
Menyediakan transportasi yang aman dan nyaman, sebenarnya harus menjadi
perioritas bagi pemerintah, karena pelecehan seksual ditransportasi umum terjadi
akibat tidak memenuhi standar layanan, di mana dalam jam-jam sibuk kedua moda
transportasi ini sangat penuh. Dalam situasi demikian segala sesuatu bisa terjadi,
tidak hanya pelecehan seksual, tetapi juga pencopetan dan sebagainya. Akhirnya,
masyarakat pun tidak nyaman naik transportasi umum dan memutuskan untuk naik
mobil pribadi.
Dalam kampanye 16 hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang diperingati
setiap 25 November hingga tanggal 10 Desember, tema pelecehan seksual masih
diangkat oleh Komnas Perempuan. Tema “Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani”
pada Kampanye 16 Hari Anti kekerasan terhadap Perempuan berlangsung selama
lima tahun hingga tahun 2014, sebagai pernyataan sikap Komnas Perempuan
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
beserta mitranya untuk memperkenalkan isu kekerasan seksual kepada masyarakat
luas, dan komitmen menangani kekerasan itu serta memperjuangkan hak atas
kebenaran, keadilan dan pemulihan para perempuan korban kekerasan seksual.
Kekerasan seksual merupakan isu penting dan rumit dalam peta kekerasan terhadap
perempuan, karena memiliki dimensi yang sangat khas perempuan karena sering
dikaitkan dengan isu moral. Pemantauan Komnas Perempuan sejak tahun 1998
hingga tahun 2010 menunjukkan hampir sepertiga kasus kekerasan terhadap
perempuan ialah kasus kekerasan seksual, atau ada 91.311 kasus kekerasan
seksual dari 295.836 total kasus kekerasan terhadap perempuan.
Kekerasan seksual terjadi di semua ranah, yakni di ranah personal, publik dan
negara. Perempuan pembela HAM, perempuan penyandang cacat, yang hidup
dengan HIV/AIDs dan pekerja migran memiliki kerentanan khusus terhadap
kekerasan seksual. Perkosaan, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual,
pelecehan seksual dan penyiksaan seksual adalah empat jenis kekerasan seksual
terbanyak yang dicatat Komnas Perempuan. Berulangnya kekerasan seksual dan
penanganannya yang tidak tuntas membuat perempuan terampas hak
konstitusionalnya atas jaminan rasa aman, perlindungan hukum, dan bebas dari
kekerasan dan diskriminasi.
Kekerasan terhadap perempuan terjadi karena hingga kini perempuan dianggap
sebagai mahkluk yang lemah. Selain budaya patriarkhal yang selalu menomorsatukan laki-laki. Ada keyakinan di masyarakat yang selalu diajarkan selama
berabad-abad lamanya, bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Akibat
pemahaman ini, berkembang budaya laki-laki yang pantas mengatur kehidupan
perempuan. Bahkan di tiap agama diajarkan, bahwa perempuan boleh dipukul dan
sebagainya. Tafsir agama yang keliru ini menjadi salah satu akar persoalan yang
melanggengkan kekerasan terhadap perempuan. Dalam Islam banyak sekali ayatayat Al-Quran yang disalah-tafsirrkan untuk membenarkan kontrol bahkan tindak
kekerasan terhadap perempuan. Padahal Al-Quran secara jelas menerangkan
bagaimana laki-laki dan perempuan harus saling mendukung: “Orang-orang beriman,
laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong, pendukung, teman
atau pelindung bagi sebagian yang lain” (Quran: 9:71). Namun ada ayat-ayat tertentu
yang terus disalah-gunakan untuk membenarkan perlakuan tak setara terhadap
perempuan, seperti ayat: “Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datanglah ke
ladangmu kapan saja, atau dengan cara bagaimana saja, yang kamu suka” (Qur’an
2.223). Ayat itu disalah-tafsirkan oleh sebagian orang sebagai dalil sahnya kontrol
laki-laki terhadap tubuh perempuan.
Dalam agama Yahudi, posisi perempuan tak kalah meyedihkan, karena mereka
dipandang tidak berhak atas harta warisan. Jika umurnya sudah dewasa, sang ayah
berhak menjualnya. Ketika menikah, harta perempuan menjadi milik suami
seutuhnya.
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
Untuk melindungi perempuan, tahun 1993 Perserikatan Bangsa-Bangsa telah
memuat Deklarasi tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. Dalam
deklarasi tersebut, PBB juga menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan
merupakan pelanggaran terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan mendasar
perempuan dan melemahkan atau meniadakan penikmatan hak-hak dan kebebasankebebasan tersebut oleh mereka, dan mengkhawatirkan kegagalan yang telah
berlangsung lama dalam melindungi dan memajukan hak-hak dan kebebasankebebasan tersebut dalam hal kekerasan terhadap perempuan.
Kekerasan terhadap perempuan adalah wujud ketimpangan historis hubunganhubungan kekuasaan kaum laki-laki dan perempuan yang mengakibatkan dominasi
dan diskriminasi sehingga menghambat kemajuan. Kekerasan terhadap perempuan
juga salah satu mekanisme sosial yang krusial yang menempatkan perempuan dalam
posisi subordinasi terhadap laki-laki.
Dalam dekalarasi itu yang dimaksud dengan “kekerasan terhadap perempuan”
adalah tiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat
kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, atau psikologis,
termasuk ancaman tindakan-tindakan semacam itu, pemaksaan atau perampasan
kemerdekaan sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam
kehidupan pribadi.
Dalam pasal 2 dikatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan harus dipahami
mencakup (tak hanya terbatas pada hal sebagai berikut):



Tindak kekerasan secara fisik, seksual, dan psikologis terjadi dalam keluarga,
termasuk pemukulan, penyalahgunaan seksual atas perempuan kanak-kanak
dalam rumah tangga, kekerasan yang berhubungan dengan mas kawin,
perkosaan dalam perkawinan, pengrusakan alat kelamin perempuan, dan
praktik-praktik tradisional lain yang berbahaya terhadap perempuan,
kekerasan di luar hubungan suami istri, dan kekerasan yang berhubungan
dengan eksploitasi;
Kekerasan secara fisik, seksual, dan psikologis yang terjadi dalam masyarakat
luas, termasuk perkosaan, penyalahgunaan seksual, pelecehan dan ancaman
seksual di tempat kerja, dalam lembaga-lembaga pendidikan dan sebagainya,
perdagangan perempuan dan pelacuran paksa;
Kekerasan secara fisik, seksual, dan psikologis yang dilakukan atau
dibenarkan oleh negara, di mana pun terjadinya.
Sebelumnya dalam Sidang Komite CEDAW Sesi 11 tahun 1992, Komite
mengeluarkan Rekomendasi Umum No 19 tentang Kekerasan Terhadap Perempuan.
Dalam rekomendasi ini Komite mengatakan bahwa kekerasan berbasis gender
adalah bentuk diskriminasi serius yang menghalangi kesempatan perempuan
menikmati hak-hak dan kebebasannya atas dasar persamaan hak dengan laki-laki.
Komite juga memberikan saran kepada negara-negara peserta untuk melakukan
peninjauan atas hukum dan kebijakan mereka.
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Analisa Media
Edisi Kesebelas, November 2012
EdEEEEEE
Indonesia sebagai negara pihak yang telah meratifikasi konvensi CEDAW melalui
Undang-Undang No 7 tahun 1984 tentang Konvensi Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi Terhadap Perempuan harus menaati aturan yang direkomendasi Komite
CEDAW. Dengan demikian, negara dapat memberikan perlindungan yang maksimal
terhadap perempuan serta menjamin agar perempuan memperoleh hak-haknya
untuk bebas dari kekerasan.
Jika ditelisik lebih jauh, kasus kekerasan dalam realitas sosial bukanlah hal yang
mengejutkan. Dengan kata lain, kasus kekerasan telah menjadi mata rantai yang
entah kapan akan terputus. Istri yang menjadi korban kekerasan oleh suami biasanya
melakukan konpensasi dengan berlaku keras terhadap anak-anaknya. Anak dijadikan
korban pelampiasan si ibu yang mungkin tak bisa menandingi perlakuan keras si
suami. Untuk itu diperlukan peran laki-laki untuk menghapuskan kekerasan terhadap
suami. Pihak laki-laki harus berani introspeksi diri bahkan perlu mendekonstruksi
pemikiran terhadap eksistensi perempuan. Namun juga membuka kesadaran baru
bahwa perempuan juga manusia yang harus dihormati dan dilindungi. Membangun
kesadaran di pihak laki-laki sangat penting untuk memutus mata rantai kekerasan di
ranah publik dan privat. Perempuan adalah kawan sejajar setara laki-laki dalam
mengarungi kehidupan di muka bumi ini nan indah ini.
*****
Jl. SMA 14 No. 17, RT 009/09, Cawang, Jakarta Timur 13630
Tel. 021-8004712, Fax. 021-8004713
Email: [email protected]
Website: www.kalyanamitra.or.id
Download